40 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
PUZZLE IKATAN KOVALEN (PETALEN) KELAS X DI SMA NEGERI 2 SUNGAI RAYA
Nova Miola Anggreini1), Fitriani1) dan Dedeh Kurniasih1)
1)Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Muhammadiyah Pontianak Jalan Ahmad Yani No. 111 Pontianak Kalimantan Barat
email : [email protected]
ABSTRACT
The students problem in understanding the covalent bonds was caused by the ineffective learning instructional media which is used by the teacher didn’t fit the student’s characteristic. Therefore, it is important to develop instructional media of Petalen for covalent bonds class. The validation of the media is validated in three aspects. They were validity from the results of the game, practicality from the results of the questionnaire, and the effectiveness from the results of the pre and post tests. This study used a Research and Development (R & D) model of Borg and Gall conducted in seven stages. The study showed that instructional media of Petalen was suitable for teaching learning process. It can be seen from the results of the material and media aspects by 1,00 and 1,00 which were valid. The results of the practicality of the questionnaires on the small and main tryouts were 94,55% and 92,81% and were considered practical. The results of the effectiveness of the N-Gain on the small and main tryouts were 0,77 and 0,66 (high category). Therefore, instructional media of Petalen was valid and effective. It is suitable to be used as the learning instructional media in Chemistry class.
Keywords: Covalent bonds, Instructional media, Puzzle of covalent bonds,
PENDAHULUAN
Mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sarat dengan konsep, dari konsep sederhana sampai konsep pengetahuan yang lebih kompleks sehingga sangatlah diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar yang membangun konsep tersebut (Nugraha, 2013). Siswa sering kali memaknai konsep yang kompleks menjadi konsep yang membingungkan dan memunculkan rasa ketidaktertarikan terhadap materi kimia. Seperti materi ikatan kimia yang membutuhkan daya hafalan dan pemahaman konsep yang cukup karena siswa akan mulai mempelajari jenis-jenis ikatan, tetapi siswa hanya dituntut oleh guru untuk sekedar menghafal tanpa menuntut siswa memahami materi tersebut secara mendalam (Nugraha, 2013). Ikatan kimia adalah ikatan yang menyebabkan perubahan susunan elektron yang mengakibatkan terjadinya tarikan antara atom-atom yang memungkinkan terjadi ikatan antara atom satu dengan yang lain (Priscilla, 2007). Pembahasan mengenai ikatan kimia bersifat kasat mata, sehingga siswa sulit untuk memahami materi tersebut (Bahriah, 2016).
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap guru dan siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Sungai Raya menyatakan bahwa materi ikatan kimia sulit untuk dipahami. Hal ini mempengaruhi hasil belajar siswa yang rendah dan tidak
41 mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu sebesar 64. Kesulitan siswa dalam memahami materi ikatan kimia membuat siswa cenderung menghapal, dikarenakan siswa tidak dapat menempatkan elektron valensi untuk membuat struktur Lewis dengan benar khususnya pada sub materi ikatan kovalen. Selain itu, dalam menyampaikan materi ikatan kimia, guru cenderung menggunakan metode ceramah dengan buku paket sebagai pegangan.
Metode ceramah yang sering digunakan oleh guru memiliki kelemahan karena menempatkan siswa sebagai pendengar dan pencatat sehingga membuat kemampuan siswa menjadi rendah (Ismail, 2013). Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang membuat siswa termotivasi dalam belajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Pratiwi, 2012). Sekolah yang telah menggunakan kurikulum 2013 menuntut siswa untuk lebih aktif pada saat pembelajaran. Menurut Shafa (2014) kurikulum 2013 lebih menekankan keaktifan siswa belajar secara mandiri pada saat pembelajaran. Siswa diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Dari fakta di atas terlihat bahwa salah satu masalah yang menjadi faktor rendahnya ketuntasan hasil belajar siswa yaitu tidak adanya media pembelajaran sebagai alat bantu guru untuk menjelaskan materi. Peneliti mencoba untuk memberikan solusinya yaitu dengan mengembangkan media pembelajaran sebagai alat bantu guru.
Menurut Sanjaya (2013) media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan. Media pembelajaran dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungannya.
Selain itu, media juga berperan untuk memvisualkan materi pembelajaran yang bersifat abstrak (Kharimah, 2014). Media pembelajaran yang digunakan harus menyenangkan, mampu membuat siswa menjadi aktif, lebih paham terkait materi, dan tetap memperhatikan ketercapaian tujuan pembelajaran serta memiliki konsep belajar sambil bermain agar membuat siswa tertarik untuk terus belajar. Alternatif media pembelajaran yang digunakan dapat berupa media Puzzle Ikatan Kovalen (Petalen) sebagai media pembelajaran.
Penelitian pengembangan media pembelajaran puzzle sebelumnya pernah dilakukan oleh Puspita (2016) yang mengembangkan permainan puzzle kimia sebagai Media Pembelajaran pada Materi Sistem Periodik. Pada Penelitian tersebut, nilai rata- rata kevalidan dari ketiga validator sebesar 0,83 dengan kategori kevalidan sangat tinggi dan diperoleh rata-rata dari angket respon guru dan siswa masing-masing sebesar 0,961 dan 0,867 dengan kategori kepraktisan sangat tinggi. Selain itu, penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Kurniati (2015) tentang penggunaan media Chem Puzzle dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Hidrokarbon di kelas X SMA Negeri 4 Pekanbaru. Melalui penggunaan media Chem Puzzle, prestasi belajar siswa meningkat, dengan melakukan uji N-gain ternomalisasi sehingga menghasilkan nilai N- gain sebesar 0,79 yang termasuk pada kategori tinggi.
Pengembangan media pembelajaran puzzle ikatan kovalen (Petalen) pada penelitian ini berbeda dari puzzle yang biasa digunakan. Pada penelitian ini, puzzle yang disajikan akan disusun secara berkelompok dengan menjawab pertanyaan pada potongan puzzle. Apabila siswa berhasil menjawab pertanyaan pada potongan puzzle tersebut, maka gambar yang ada di bagian belakang akan tersusun rapi membentuk struktur molekul. Dengan adanya media pembelajaran Petalen ini, diharapkan dapat
42 memudahkan siswa dalam mempelajari materi ikatan kimia khususnya pada sub materi ikatan kovalen.
METODE PENELITIAN
Pengembangan media pembelajaran Petalen merupakan penelitian pengembangan (Research and Development). Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model pengembangan Borg & Gall yang dibatasi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah meliputi pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba lapangan awal, revisi produk awal, uji coba lapangan utama dan revisi produk operasional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan media pembelajaran Petalen ada sub materi ikatan kovalen di SMA Negeri 2 Sungai Raya.
Populasi pada penelitian ini adalah siswa yang mempelajari kimia kelas X yaitu kelas X IPA 1, X IPA 2 dan X IPA 3 SMA Negeri 2 Sungai Raya yang berjumlah 103 orang. Sampel uji coba lapangan awal yang digunakan peneliti yaitu X IPA 1 dan 3 sebanyak 6 orang untuk uji lapangan utama kelas X IPA 2 yang berjumlah 34 siswa.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan dikehendaki peneliti (Sugiyono, 2016).
Teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik komunikasi tidak langsung menggunakan lembar validasi dan lembar angket, teknik pengukuran menggunakan soal pretest dan posttest serta teknik wawancara menggunakan pedoman wawancara. Lembar validasi digunakan untuk mengetahui kevalidan media pembelajaran Petalen yang diberikan pada 4 validator yaitu 2 validator ahli media dan 2 validator ahli materi. Lembar angket respon digunakan untuk mengetahui kepraktisan media pembelajaran Petalen yang dilakukan saat melakukan uji coba lapangan awal dan utama. Lembar validasi dan lembar angket respon siswa ini memodifikasi dari peneliti sebelumnya (Witantyo, 2017). Uji soal pretest dan posttest untuk mengetahui keefektifan media pembelajaran petalen yang dilakukan pada saat uji coba lapangan awal dan utama. Analisis kevalidan, kepraktisan dan keefektifan dilakukan untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran Petalen dalam proses pembelajaran. Saran atau masukan yang diperoleh melalui lembar validasi dan angket respon siswa pada uji coba lapangan awal dan utama serta angket respon guru pada uji coba lapangan utama digunakan untuk perbaikan media pembelajaran Petalen.
Analisis kevalidan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kevalidan media dan materi pada media pembelajaran Petalen yang dikembangkan. Hasil data perhitungan akan dianalisis menggunakan rumus Gregory seperti Persamaan 1 dengan kriteria kevalidan yang ditunjukkan pada Tabel 1. (Retnawati, 2016) :
Validitas = 𝐷
𝐴+𝐵+𝐶+𝐷 (1)
43 Tabel 1. Kriteria Kevalidan Instrumen Penelitian
Nilai Kriteria
0,80 – 1,00 Tinggi
0,40 – 0,79 Sedang
0,00 – 0,39 Rendah
Analisis kepraktisan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kepraktisan media pembelajaran Petalen yang dikembangkan. Hasil data yang diperoleh kemudian dihitung persentase nilai rata-rata kepraktisan dengan rumus perhitungan skala Likert Persamaan 2 dengan kriteria kepraktisan yang ditunjukkan pada Tabel 2. (Bintiningtiyas dan Lutfi, 2016).
P(%) = Jumlah skor total
skor kriteria x 100 % (2)
Tabel 2. Kriteria Persentase Angket Persentase (%) Kriteria
0 – 20 Tidak Praktis 21 – 40 Kurang Praktis 41 – 60 Cukup Praktis
61 – 80 Praktis
81 – 100 Sangat Praktis
Analisis keefektifan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan media pembelajaran Petalen dengan peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan antara sebelum dengan setelah menggunakan media pembelajaran Petalen.
Peningkatan hasil belajar siswa diukur menggunakan hasil pretest dan posstest menggunakan desain One-Group Pretest-Posttest Design kemudian dianalisis menggunakan rumus N-gain Persamaan 3 dengan kriteria N-Gain yang ditunjukkan pada Tabel 3. (Meltzer (2002).
(Spost - Spre)
(skor maksimal - Spre)
Tabel 3. Kriteria dari rumus N-gain Perolehan N-Gain Kategori
g ≤ 0,20 0,21 ≤ g ≤ 0,40 0,41 ≤ g ≤ 0,60 0,61 ≤ g ≤ 0,80 0,81 ≤ g ≤ 1,00
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, dilakukan
<g> = (3)
44 analisis terhadap kendala yang dialami guru dan siswa selama proses pembelajaran kimia berlangsung khususnya pada materi ikatan kimia. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini sebagai berikut:
a. Analisis Kebutuhan
Ikatan kimia adalah materi yang sering dianggap sulit bagi siswa, karena materi pada ikatan kimia tersebut bersifat abstrak. Adapun analisis kebutuhan yang dilakukan untuk mendapatkan data pendukung pengembangan media yaitu dengan melakukan analisis pada silabus Kimia Kurikulum 2013 kelas X semester ganjil pada materi ikatan kimia khususnya pada sub materi ikatan kovalen, dimana pada silabus tersebut terdapat Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa setelah proses pembelajaran. KI yang terdapat pada pengembangan media pembelajaran Petalen dalam penelitian ini adalah KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 3 dijabarkan ke dalam KD 3.5 Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam serta interaksi antar partikel (atom, ion, molekul) materi dan hubungannya dengan sifat fisik materi. KD 3.5 dijabarkan ke dalam beberapa indikator dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa setelah proses pembelajaran. Adapun indikator dan tujuan pembelajarannya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Indikator dan Tujuan Pembelajaran
No. Indikator Tujuan Pembelajaran
1. Memahami ikatan kovalen dan kovalen koordinasi
Siswa dapat memahami ikatan kovalen dan kovalen koordinasi
2. Menjelaskan proses
tebentuknya ikatan kovalen
Dapat menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen.
Dari hasil analisis, diperoleh hasil bahwa tujuan pembelajaran seringkali tidak tercapai. Siswa tidak dapat memahami dengan baik materi ikatan kimia khususnya sub materi ikatan kovalen.
Pada kurikulum 2013 siswa diharapkan untuk belajar lebih mandiri, dan bisa memahami materi dengan mudah. Namun, ketuntasan pada materi ikatan kimia di SMA Negeri 2 Sungai Raya rendah. Media pembelajaran yang digunakan di SMA Negeri 2 hanya buku pegangan guru dan siswa serta papan tulis. Sehingga siswa merasa bosan, mengantuk dan bersenda gurau dengan teman yang membuat kondisi kelas menjadi tidak kondusif. Untuk menjelaskan materi ikatan kimia dapat dibuat media pembelajaran di antaranya yang dapat membuat siswa belajar secara mandiri dan memahami materi dengan mudah yaitu melalui media pembelajaran Petalen.
31
45 b. Kajian Pustaka
Materi ikatan kimia merupakan materi yang bersifat abstrak dan berhubungan dengan bentuk molekul serta materi lainnya. Sub materi yang dijelaskan pada penelitian pengembangan media pembelajaran Petalen ini adalah sub materi ikatan kovalen.
Media pembelajaran Petalen dapat membantu siswa untuk belajar secara bersama dengan kelompok untuk menyusun puzzle, siswa menjadi aktif dalam pembelajaran, dan media pembelajaran Petalen juga mudah untuk digunakan. Berikut ini beberapa penelitian yang menunjukkan penggunaan media puzzle yang dapat membantu siswa untuk memahami materi dengan mudah.
1) Penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi dkk (2016) tentang Peningkatan Kemampuan Memori pada Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan Media Chem Puzzle. Penelitian yang dilakukan terdiri dari 2 siklus, dimana terdapat kenaikan persentase pada siklus ke-II, yaitu dari 51,4% menjadi 68,6%.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Ni’mah (2018) tentang Puzzle Ikatan Ionik untuk Membantu Mahasiswa Farmasi Menentukan Rumus Senyawa Ionik. Penelitian ini mengalami peningkatan nilai N-gain score, yaitu sebesar 85,71% termasuk dalam kategori sedang dan 14,29% mahasiswa mengalami peningkatan dalam kategori tinggi.
c. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor yang menimbulkan permasalahan sehingga perlu adanya pengembangan produk baru.
Adapun masalah dalam penelitian ini pada proses kegiatan pembelajaran siswa kelas X IPA di SMA Negeri 2 Sungai Raya meliputi:
1) Rendahnya angka ketuntasan siswa pada materi ikatan kimia dari 3 kelas X IPA SMA Negeri 2 Sungai Raya yaitu sebesar 21,55%.
2) Media pembelajaran yang digunakan adalah media papan tulis dan buku paket Kimia Kelas X sebagai buku pegangan.
3) Pada saat wawancara beberapa siswa menyebutkan bahwa pembelajaran yang dilakukan dengan media papan tulis membuat siswa menjadi bosan dan mengantuk ada juga siswa menyatakan tidak selalu mengantuk.
4) Wawancara yang dilakukan dengan guru, tidak pernah membuat dan menggunakan media permainan.
5) Pada materi ikatan kimia khususnya sub materi ikatan kovalen guru hanya menggunakan media papan tulis dan buku pegangan.
2. Perencanaan
Setelah melakukan indentifikasi masalah-masalah seperti di atas, kemudian peneliti menganalisis solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti pada perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a. Desain Media Pembelajaran Petalen
Seperangkat media pembelajaran petalen terdiri dari 1 bingkai puzzle, 2 tingkatan level potongan puzzle, dan 1 lembar aturan permainan. Desain media pembelajaran Petalen dapat dilihat sebagai berikut:
Sambungan tabel 2.1
46 1) Desain Potongan Puzzle
Desain potongan puzzle media pembelajaran Petalen ini menggunakan triplex berbentuk persegi panjang yang berukuran 21 x 14 cm, kemudian dipotong menjadi 6 bagian berukuran 7 x 7 cm. Potongan puzzle terdiri dari 2 warna background, yaitu warna hijau dan biru. Potongan puzzle yang berwarna hijau merupakan tingkat soal level 1 yang berisikan soal tentang teori ikatan kovalen sedangkan potongan puzzle yang berwarna biru merupakan tingkatan level 2 berupa soal yang berisikan tentang struktur Lewis.
2) Desain Bingkai Petalen
Desain bingkai media pembelajaran Petalen terbuat dari kaca dan kayu membentuk seperti bingkai photo, yang memiliki celah atas dan bawah berfungsi sebagai tempat memasukkan potongan-potongan puzzle. Celah atas dan bawah memiliki penutup yang dilengkapi dengan pita di ujung, pita yang ada diujung penutup berfungsi untuk membuka.
3. Pengembangan Draf Produk
Pada tahap ini, disusun rancangan awal produk media pembelajaran Petalen sesuai dengan materi yang diajarkan. Desain media pembelajaran Petalen sudah dibuat pada tahap perencanaan. Adapun media pembelajaran Petalen yang sudah dibuat dapat dilihat pada Gambar 1
Instrumen dan perangkat penelitian yang diperlukan pada penelitian ini yaitu, soal pretest dan posttest, Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), angket respon guru serta angket respon siswa. Setelah instrumen dan perangkat penelitian selesai, kemudian dilakukan validasi terlebih dahulu oleh ahli. Validasi dilakukan untuk mengetahui kekurangan pada instrumen dan perangkat tersebut. Kekurangan akan diperbaiki oleh peneliti sebelum melakukan uji coba. Setelah proses pengembangan produk selesai dilakukan validasi ahli materi dan ahli meida. Validasi dilakukan dengan memberikan skor penilaian pada media pembelajaran Petalen dari beberapa aspek penilaian.
a. Validasi Ahli Media
Hasil validasi media pembelajaran Petalen dapat digunakan untuk uji coba lapangan awal dengan syarat perbaiki sesuai masukan dan saran yang diberikan ahli media. Hasil akhir analisis penilaian ahli media menunjukkan nilai koefisien validitas sebesar 1,00 sehingga kriteria kevalidan penilaian ahli media menurut Gregory pada Tabel 1 (Retnawati, 2016) berada pada kategori tinggi.
(a) (b)
(a) (b)
Gambar 1 Media Pembelajaran Petalen (a) Bagian Depan dan (b) Bagian Belakang
47 Adapun uraian hasil validasi media oleh 2 validator, yaitu validator 1 memberikan nilai 4 untuk semua indikator, sedangkan validator 2 memberikan skor 3 pada indikator media pembelajaran Petalen yang dikembangkan kreatif dan inovatif. Selanjutnya untuk indikator yang lain diberikan nilai 4. Sehingga hasil akhir penilaian ahli media dari kedua validator menunjukkan koefisien validitas ahli yaitu memiliki skor penilaian total 1,00.
b. Validasi Ahli Materi
Validasi materi dilakukan pada instrumen dan perangkat penelitian. Instrumen dan perangkat dari penelitian yang divalidasi adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), soal evaluasi (pretes dan posttest). Hal ini dilakukan agar RPP dan soal evaluasi layak diajarkan atau diberikan kepada siswa. Validasi RPP dan soal evaluasi divalidasi menggunakan lembar validasi. Hasil akhir analisis penilaian ahli materi menunjukkan nilai koefisien validitas sebesar 1,00 sehingga kriteria kevalidan penilaian ahli materi menurut Gregory pada Tabel 1 (Retnawati, 2016) berada pada kategori tinggi.
Adapun penjabaran hasil validasi materi yaitu validator 1 memberikan nilai 3 pada indikator media pembelajaran Petalen yang dikembangkan interaktif sedangkan untuk indikator yang lain diberikan nilai 4. Selanjutnya validator 2 memberikan nilai 3 pada indikator materi yang disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi yang disampaikan sesuai dengan konteks sub materi ikatan kovalen, penyajian soal yang diberikan sesuai dengan materi atau konsep sub materi ikatan kovalen, dan media pembelajaran petalen yang dikembangkan menggunakan Bahasa yang komunikatif (Bahasa baik, benar dan mudah dipahami) sedangkan untuk indikator yang lain diberikan nilai 4. Sehingga skor penilaian untuk ahli materi menunjukkan koefisian validitas ahli materi yaitu sebesar 1,00.
4. Uji Coba Lapangan Awal
Uji coba lapangan awal merupakan tahap yang dilakukan untuk mengetahui apakah media pembelajaran Petalen yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran atau tidak. Uji coba lapangan awal dilakukan pada 6 siswa dari kelas X IPA 1 dan kelas X IPA 3 SMA Negeri 2 Sungai Raya. Dari kelas tersebut dipilih 2 orang berkemampuan tinggi, 2 orang berkemampuan sedang dan 2 orang berkemampuan rendah dalam mata pelajaran kimia.
Uji coba lapangan awal dilakukan dengan bentuk penelitian desain One-Group Pretest-Posttest Design dengan pretest dan posstest untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang signifikan antara sebelum menggunakan media pembelajaran Petalen dan setelah menggunakan media pembelajaran Petalen. Selanjutnya hasil pretest dan posttest pada uji coba lapangan awal digunakan untuk mengetahui hasil nilai keefektifan dengan menggunakan perhitungan skor N-gain. Hasil perhitungan menggunakan skor N-gain menunjukkan bahwa keefektifan media pembelajaran Petalen pada uji coba lapangan awal diperoleh N-gain sebesar 0,77 dengan kategori tinggi.
5. Revisi Hasil Uji Coba (Revisi II)
Hasil angket respon media pembelajaran Petalen yang telah diuji coba lapangan awal, tidak ada siswa dan guru yang memberikan saran yang terkait perbaikan dan komentar pada media pembelajaran Petalen. Sehingga media pembelajaran Petalen ini dapat langsung digunakan pada tahapan uji coba lapangan utama.
48 6. Uji Coba Lapangan Utama
Uji coba lapangan utama bermanfaat untuk melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. Uji coba lapangan utama ini dilakukan untuk memperoleh produk akhir dari media pembelajaran Petalen yang dikembangkan. Uji coba lapangan utama dilakukan pada seluruh siswa kelas X IPA 2 yang berjumlah 34 orang siswa. Uji coba lapangan utama diberikan soal pretest dan posttest serta diberikan angket respon pada saat proses pembelajaran. Proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah di buat.
Berdasarkan angket respon siswa dan guru uji coba lapangan awal,nilai kepraktisan yang diperoleh yaitu sebesar 92,81% dengan kategori sangat praktis. Pada sat uji coba lapangan awal tidak ada kritik/saran mengenai memperbaiki media pembelajaran Petalen. Sedangkan hasil pretest dan posttest pada uji coba lapangan awal untuk mengetahui hasil nilai keefektifan dengan menggunakan perhitungan skor gain. Hasil perhitungan menggunakan skor gain keefektifan media pembelajaran Petalen pada uji coba lapangan awal diperoleh nilai sebesar 0,66 dengan kategori tinggi.
7. Penyempurnaan Produk Hasil Uji Coba Lapangan
Penyempurnaan produk hasil uji coba ini bertujuan menyempurnakan media pembelajaran Petalen yang sudah diberikan kritik dan saran/masukan pada saat uji coba lapangan utama. Pada uji coba lapangan utama tidak ada kritik dan saran yang berkaitan dengan media, sehingga media langsung dapat dihasilkan produk akhir. Adapun produk yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu media pembelajaran Petalen sebagai media pembelajaran sub materi ikatan kovalen. Hasil produk akhir pengembangan pembelajaran Petalen terdapat di dalam penyimpanan 1 set Petalen, yaitu terdiri dari 6 kartu soal dan 6 bingkai serta potongan-potongan puzzle.
SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN
Media pembelajaran Petalen yang dikembangkan dalam penelitian ini telah layak digunakan sebagai media pembelajaran pada sub materi ikatan kovalen. Berdasarkan hasil kevalidan aspek materi dan aspek media pembelajaran Petalen masing-masing sebesar 1,00 dengan kategori sangat valid. Selanjutnya, rata-rata persentase kepraktisan angket respon siswa dan guru pada uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan utama masing-masing sebesar yaitu 94,55% dan 92,81%, dengan kategori sangat praktis. Keefektifan yang didasarkan pada analisis hasil belajar setelah menggunakan media pembelajaran Petalen diperoleh nilai gain dari uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan utama masing-masing sebesar 0,77 dan 0,66 dengan kategori tinggi.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan, berikut beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan:
1. Media pembelajaran Petalen dapat digunakan sebagai alternatif guru dalam pembelajaran khususnya pada sub materi ikatan kovalen, maka media
49 pembelajaran Petalen harus disiapkan oleh guru sebaiknya sebelum melakukan pembelajaran.
2. Media pembelajaran Petalen apabila digunakan di dalam kelas sebelum dibagikan pada siswa perlu ditambahkan sanksi/hukuman pada aturan permaianan, agar siswa lebih tertib dalam melakukan permainan.
3. Media pembelajaran Petalen sebaiknya menggunakan bahan yang yang lebih efektif dan efesien. Selain itu, media juga mudah untuk disimpan oleh guru serta memudahkan siswa dalam melakukan permainan.
DAFTAR PUSTAKA
Bahriah, E. S & Abadi, S. M. (2016). Motivasi Belajar Siswa pada Materi Ikatan Kimia Melalui Metode Praktikum. Jurnal Kimia dan Pendidikan. 1 (1).
Bintiningtiyas, N. & A. Lutfi. (2016). Pengembangan Permainan Varmintz Chemistry sebagai Media Pembelajaran pada materi Sistem Periodik Unsur (Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan 5 (2).
Ismail, M. W.(2013) Peningkatan Hasil Belajar Melalui Metode Ceramah Bervariasi dengan Model Pembelajaran Berkelompok Tipe NHT (Numbered Head Together) pada Mata Diklat Stenografi Kelas XI Bidang Administrasi Perkantoran SMK Nurul Ulum Lebaksiu Kabupaten Tegal. Laporan Tugas Akhir. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
Kharimah, R. F., Supurwoko., & Wahyuningsih, D. (2014). Pengembangan Media Pembelajaran Ular Tangga Fisika Untuk Siswa SMP/MTS Kelas VIII. Jurnal Pendidikan Fisika. 2 (1).
Kurniati, Sri., Erviyenni & Johni, A. (2016). Penggunaan Media Chem Puzzle untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Hidrokarbon di Kelas X SMA Negeri 4 Pekanbaru. Jurnal Pendidikan Kimia. 5 (1).
Meltzer, D. E. (2002). The Relationship Between Matematics Preparation And Conceptual Learning Gains In Physicn: A Possible “ Hidden Variable” In Diagnostic Pretest Score”. American Journal Of Physics. American journal of physics 70 (12).
Ni’mah, F. (2018). Puzzle Ikatan Ionik untuk Membantu Mahasiswa Farmasi Menentukan Rumus Senyawa Ionik. Jurnal Pendidikan Sains (JPS). 6 (1).
Nugraha, D. A., Susanti, E. VH & Masykuri, M (2013) Efektivitas Metode Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (Tps) yang dilengkapi Media Kartu Berpasangan (Index Card Match ) terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Materi Ikatan Kimia Kelas X Semester Gasal SMA N 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.
Jurnal Pendidikan Kimia (JPK).2 (4).
Pertiwi, Y. H. (2016). Peningkatan Kemampuan Memori pada Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan Media Chem Puzzle.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016.
Pratiwi, I. (2017). Pengembangan Media Pembelajaran Congklak Lumbung Cerdas untuk Meningkatkan Kerjasama Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKN Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal PGSD Indonesia 3 (1).
50 Puspita, D. S. (2016) Pengembangan Permainan Puzzle Kimia sebagai Media Pembelajaran untuk Materi Sistem Periodik. Skripsi. Universitas Negeri Padang.
Priscilla. (2007). Seribu Pena Kimia untuk Kelas X. Semarang: Erlangga.
Rahmanelli. (2007). Efektivitas Pemberian Tugas Media Puzzle dalam Pembelajaran Geografi Regional. Jurnal Pelangi Pendidikan. 2 (1).
Retnawati, H. (2016). Validasi Reabilitas Dan Kerakteristik Butir. Yogyakarta : Parama Publishing.
Sanjaya, W. (2013). Strategi Belajar Mengajar Akuntansi. Jakarta: Kencana.
Shafa. (2014). Karakteristik Proses Pembelajaran Kurikulum 2013. Dinamika Ilmu. 14 (1). Dosen STAIN Samarinda.
Witantyo, M. (2017). Pengembangan Media Pembelajaran Kartu Uno Akuntansi untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X Akuntansi 4 SMK YPKK 2 Sleman Tahun Ajaran 2016/2017. Universitas Negeri Yogyakarta.