127
ANALISIS KESULITAN BELAJAR KIMIA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA SISWA KELAS XI IPA 1 MAN 2 PONTIANAK
Rita Dwi Purnama*, Mawardi dan Raudhatul Fadhilah Prodi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Muhammadiyah Pontianak
Jalan Ahmad Yani No. 111 Pontianak Kalimantan Barat
*Email: [email protected] ABSTRAK
Hasil belajar siswa yang masih rendah atau banyak siswa yang tidak mencapai ketuntasan maksimal pada materi larutan penyangga disebabkan oleh ketidakmampuan siswa dalam memahami soal. Saat pembelajaran berlangsung, siswa memiliki ketertarikan pada materi larutan penyangga namun saat ulangan atau pada latihan soal, siswa mengalami kebingungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan siswa pada materi larutan penyangga kelas XI IPA 1 MAN 2 Pontianak. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif studi kasus dengan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak 29 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik komunikasi tidak langsung (angket), komunikasi langsung (wawancara), dan teknik dokumentasi, sedangkan alat pengumpulan data yaitu tes hasil belajar, angket dan wawancara. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 68,3% siswa mengalami kesulitan belajar pada materi larutan penyangga yang bersifat perhitungan pH dan pOH. Sedangkan faktor internal yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada aspek motivasi dengan indikator perhatian siswa terhadap materi larutan penyangga sebesar 54,31%, aspek bakat yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa yaitu pada kemampuan angka dan gambar berturut-turut sebesar 48,6% dan 47% yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada materi larutan penyangga. Faktor eksternal keluarga pada indikator tempat belajar sebesar 56,03% dan faktor eksternal sekolah pada indikator fasilitas sekolah sebesar 56,56%. Dengan demikian diharapkan siswa lebih memperdalam pengetahuan tentang larutan penyangga dan melakukan diskusi baik dengan guru maupun sesama teman agar dapat mengatasi kesulitan belajar.
Kata Kunci: Analisis, Kesulitan Belajar Siswa, Larutan penyangga ABSTRACT
The low students’ learning outcomes and the failure in achieving the maximum mastery standard in Buffer Solutions material are caused by the students’ inability in understanding the questions.
Students tend to merely pay attention on the Buffer Solutions material when the learning process takes place. However, they face confusion when they have to answer the questions of the task and the test. This study aimed at discovering the difficulties and the factors related to the students’
difficulties on Buffer Solutions material at XI IPA 1 class of MAN 2 Pontianak. Using case study descriptive method and qualitative approach, this study employed 29 students as the samples. The data collection technique used were indirect communication (questionnaires), direct communication (interview), and documentation techniques. While the data collection tools used were achievement test, questionnaires and interview. The data analysis results indicated that 68.3%
students had difficulties on pH and pOH Buffer Solutions. On the other hand, the internal factors that affected the student learning difficulties were motivation aspect, that is, the students 'attention to the Buffer Solutions (54.31%), and talent aspect that influenced the student’s learning difficulties, that is, the students’ ability in recognizing numbers and figures respectively (48,6%) and talent aspect that influenced the student’s learning difficulties in Buffer Solutions materials (47%). In addition, the external factor that affected the student learning difficulties were family as the place to study (56%), and school as the facilitator (56,56%). Thereby, students are expected to further enhance the knowledge on the Buffer Solutions and have a discussion with both teachers and peers to cope with their learning difficulties.
Keywords: Analysis, Students’ Learning Difficulties, Buffer Solutions
128 PENDAHULUAN
Kimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang sifat, struktur materi, komposisi materi, perubahan, dan energi yang menyertai perubahan materi (Sudarmo, 2013: 5). Kesulitan siswa dalam mempelajari ilmu kimia menurut Arifin (2007: 53) bersumber pada kesulitan dalam memahami istilah, konsep kimia yang bersifat abstrak dan perhitungan angka.
Selain itu, dalam ilmu kimia banyak sekali konsep dasar kimia yang menjadi prasyarat dan mempengaruhi konsep selanjutnya yang harus diserap siswa dalam waktu yang relatif terbatas serta hukum-hukum yang mengaitkan satu ide dengan ide yang lain yang harus dimengerti oleh siswa.
Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dapat bersifat fisiologis maupun psikologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar (Djamarah, 2011:235).
Sedangkan Syah (2012: 184) menyebutkan secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yakni faktor internal siswa dan eksternal siswa. Faktor internal siswa meliputi gangguan atau kekurangan- kekurangan fisik siswa, yakni yang bersifat kognitif, bersifat afektif, dan yang bersifat psikomotorik. Sedangkan faktor eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan perkampungan atau masyarakat, atau lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil
penelitian Sapuroh (2010) yang menggunakan angket tertutup bentuk check list menggunakan skala Likert menyimpulkan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari diri sendiri sebesar 79,34% dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri sebesar 77% dari lingkungan keluarga, serta sebesar 67% dari lingkungan sekolah.
Siswa mengalami kesulitan yang berhubungan dengan faktor internal yaitu kemampuan pada diri sendiri. Akibat dari kesulitan belajar tersebut menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam belajar.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam individu yang sedang belajar, yang meliputi faktor jasmaniah, psikologis, dan faktor kelelahan, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi yang datang dari luar siswa, faktor ini meliputi faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat (Slameto, 2003).
Hasil wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 14 Februari 2015 dengan 6 siswa kelas XI, 2 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang dan 2 siswa berkemampuan kurang, diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa mengatakan menyukai mata pelajaran kimia namun yang menjadi kendala pada mata pelajaran kimia, adalah konsep bersifat abstrak sehingga sulit dipahami. Siswa juga mengatakan bahwa pemahaman konsep sangat kurang pada pembelajaran kimia.
Saat guru menjelaskan siswa paham, namun ketika mengerjakan soal-soal latihan siswa mengalami kebingungan. Hal ini dapat dilihat bahwa faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa lebih kepada faktor internal siswa. Salah satu materi yang ketuntasannya rendah yaitu larutan
129 penyangga, hal ini diperlihatkan dari nilai ketuntasan ulangan harian siswa diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Ketuntasan Ulangan Harian Siswa pada Materi larutan Penyangga kelas XI IPA MAN 2 Pontianak Tahun Ajaran 2014/2015
Tabel 1. memperlihatkan bahwa 86% siswa pada kelas XI IPA 1, 65%
siswa pada kelas XI IPA 2, dan 51 % siswa pada kelas XI IPA 3 siswa belum mencapai ketuntasan hasil belajar pada materi larutan penyangga. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu sebesar 75. Tingginya ketidaktuntasan siswa pada materi larutan penyangga karena siswa kesulitan dalam memahami konsep dasar larutan penyangga seperti membedakan asamkuat dan basa kuat, dan pada persamaan reaksi.
Hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia di MAN 2 diperoleh informasi bahwa Larutan asam dan basa, larutan penyangga (buffer), dan hidrolisis
garam merupakan materi yang memiliki ketuntasan yang paling rendah. Karena pada materi ini mengharuskan siswa untuk memiliki pemahaman konsep yang cukup kuat, siswa juga diharapkan dapat benar-benar bisa mengaplikasikan rumus-rumus tidak hanya sekedar menghapal rumus saja. Guru kimia selalu memberikan motivasi pada awal pembelajaran dengan memberikan contoh materi pada kehidupan sehari- hari, manfaat mempelajari materi ini dan seringkali mengaitkan dengan nilai-nilai religius.
Pokok bahasan larutan penyangga pada mata pelajaran kimia kelas XI SMA/MA, materi larutan penyangga merupakan salah satu materi kimia yang banyak mengandung konsep yang kompleks. Untuk dapat memahami larutan penyangga, siswa dituntut untuk memahami konsep-konsep yang mendasarinya yaitu konsep asam basa dan kesetimbangan (Kurniawan, 2012:2).
Menurut Alimin (2006: 1) Setiap anak yang mengalami kesulitan belajar, akan menunjukkan fenomena yang beragam (heterogen), akan tetapi untuk memudahkan dalam memahami keragaman fenomena itu, kesulitan belajar dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu kesulitan belajar yang bersifat internal yang disebut learning disability dan kesulitan belajar yang bersifat eksternal berkaitan dengan faktor lingkungan yang disebut dengan learning problem.
METODE PENELITIAN
Metode dan Pendekatan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Nawawi, (2007:67)
130 metode deskriptif merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan mengambarkan atau melukiskan keadaan atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang nampak, atau sebagaimana adanya.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif studi kasus. Studi kasus adalah penelitian yang memusatkan diri secara intensif terhadap satu obyek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus (Nawawi, 2007:77). Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif merupakan bentuk penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dengan uraian. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka (Moleong, 1989:
11).
Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu siswa-siswi kelas XI IPA 1 MAN 2 Pontianak pada tahun ajaran 2014/2015 berjumlah 29 orang.
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian disusun secara sistematis, dengan beberapa tahap yang ditempuh dalam melakukan penelitian.
Adapun tahapan tersebut adalah:
Tahap Persiapan
1) Melakukan pra riset di MA Negeri 2 Pontianak antara lain pengumpulan data nilai siswa serta wawancara dengan siswa dan guru mata pelajaran kimia kelas XI IPA. 2) Menentukan subjek penelitian. 3) Menyiapkan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan angket faktor- faktor kesulitan belajar sebanyak 28
pernyataan. 4) Melakukan validasi instrumen penelitian melalui konsultasi dan persetujuan dosen Pendidikan Kimia FKIP Universitas Muhammadiyah Pontianak dan guru kimia MA Negeri 2 Pontianak. 5) Melakukan ujicoba angket faktor-faktor kesulitan belajar siswa. 6) Menghitung validitas per item angket.
Tahap Pelaksanaan
1)Memberikan angket kepada siswa kelas XI IPA 1 yang menjadi subjek penelitian. 2) Melakukan tes potensi akademik (tes bakat dan tes intelengensi) kepada siswa kelas XI IPA 1 yang menjadi subjek penelitian. 3) Memberikan wawancara kepada siswa kelas XI IPA 1 yang menjadi subjek penelitian. 4) Mengoreksi dan menganalisis jawaban hasil angket siswa untuk mengetahui penyebab terjadinya kesulitan pada materi larutan penyangga.
5) Menganalisis hasil wawancara. 6) Mengoreksi dan menganalisis hasil tes potensi akademik siswa. 7) Melakukan Member Check kepada subjek penelitian.
Tahap Akhir
1) Menarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. 2) Menyusun laporan penelitian.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik komunikasi langsung, teknik komunikasi tidak langsung, teknik pengukuran dan teknik dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu wawancara tidak terstruktur, angket, TPA dan lembar jawaban siswa. Untuk lembar angket peneliti menggunakan 3 orang validator yaitu 2 orang validator Dosen FKIP Kimia UMP dan orang Gutu Kimia MAN 2 Pontianak. Setelah peneliti
131 melakukan validasi lembar angket selanjutnya peneliti menggunakan validitas per item angket dan ujicoba angket (reliabilitas) . Hasil validasi dinyatakan valid dengan perolehan rtabel dengan taraf signifikan 0,05 yaitu 0,361.
Reliabilitas sebesar 0,748. Setiap item dikatakan valid apabila rhitung ˃ rtabel. Hal ini berarti butir soal dikatakan valid apabila rhitung ˃ 0,361.
Teknik Analisis Data
a. Teknik analisis data yang dilakukan untuk angket 1) Memeriksa dan menghitung skor dari setiap jawaban yang dipilih oleh siswa pada angket yang telah diberikan. 2) Merekapitulasi skor yang diperoleh tiap siswa. 3) Menghitung persentase faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa dengan menjumlahkan skor yang diperoleh siswa dibagi skor maksimal siswa dikalikan 100%. 4) Melakukan interpretasi skor angket dengan menggunakan skala Likert. 5) Membuat tabel yang berisi persentase faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa. 6) Membuat kalimat naratif yang berisi penjelasan mengenai faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa. Wawancara 1) Mengamati hasil wawancara dengan siswa. 2) Menganalisis hasil wawancara tersebut. 3) Membuat kalimat naratif yang berisi penjelasan mengenai faktor- faktor penyebab kesulitan belajar siswa.
Lembar jawaban siswa 1) mengamati sub materi yang mengalami kesulitan 2) menghitung presentase siswa dengan rumus jumlah siswa yang menjawab salah dibagi jumlah total siswa dikali 100%. 3) menganalisis lembar jawaban siswa. 4) membuat kalimat naratif.
Lembar TPA 1) mengoreksi jawaban
siswa. 2) menghitung passing grade. 3) mengkonversikan nestimasi nilai TPA 4)
mengkonversikan dengan
GMAT/GRE/IQ 5) menghitung % bakat siswa 6) menganalisis lembar jawaban siswa. 7) membuat kalimat naratif.
Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data yang digunakan adalah uji kredibilitas yaitu member check melalui forum diskusi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini merupakan gambaran mengenai kesulitan belajar siswa pada materi larutan penyangga jelas XI IPA 1 MAN 2 Pontianak semester genap tahun ajaran 2014/2015.
Siswa yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah 29 orang. Data hasil penelitian ini, diperoleh dari tahapan-tahapan berikut ini:
1. Lembar Jawaban Siswa
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data dari hasil ulangan harian siswa, diperoleh persentase yang disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Jawaban Siswa Menyelesaikan Soal-Soal Larutan Penyangga
Soal ∑ Siswa Salah
Persentase salah (%)
1. 4 13.7
2. 14 48.2
3. 19 65.5
4. 27 93.10
132 Tabel 2. menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan larutan penyangga baik pada soal nomor 2, nomor 3 , dan nomor 4. Hal ini dapat menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal larutan penyangga. Hasil penilaian tes ini menunjukkan suatu gejala kesulitan belajar siswa pada materi larutan penyangga. Hal ini sesuai dengan pendapat Sabri (2007:89) bahwa kesulitan belajar adalah suatu gejala yang tampak pada siswa yang ditandai dengan adanya bentuk perilaku yang menyimpang atau hasil belajar rendah dibandingkan dengan prestasi yang dicapai sebelumnya. Gejala ini berupa belum tercapainya hasil belajar seluruh siswa yang mengikuti ulangan harian pada materi larutan penyangga sesuai dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan MAN 2 Pontianak sebesar 75 pada mata pelajaran kimia.
Konsep pengertian larutan penyangga yang mencakup penentuan suatu larutan termasuk ke dalam larutan penyangga atau tidak pada soal nomor 1.
Sebagian besar yaitu sebanyak 25 siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep ini. Berdasarkan hasil wawancara, 4 siswa (kemampuan sedang) merasa bingung dalam menentukan larutan mana yang termasuk dalam larutan penyangga. Hal ini disebabkan oleh siswa lupa dengan konsep asam basa, yaitu dalam membedakan antara asam lemah dan asam kuat atau basa lemah.
Konsep perhitungan pH dan pOH dengan menggunakan prinsip
kesetimbangan kimia pada nomor 2 dan 3. Pada pertanyaan nomor 2 sebanyak 15 siswa dapat mengerjakan soal-soal pada konsep ini dengan benar dan 14 siswa ( berkemampuan tinggi 3, 6 siswa berkemampuan sedang dan 5 siswa berkemampuan rendah) menjawab kurang tepat. Pada soal nomor 3 sebanyak 19 siswa menjawab kurang tepat (4 siswa berkemampuan tinggi, 8 siswa berkemampuan sedang dan 7 siswa berkemampuan rendah). Setelah dilakukan wawancara pada beberapa siswa yang mengalami kesulitan pada konsep ini, bahwa siswa lupa dalam prinsip kesetimbangan kimia dan siswa tidak teliti dalam perhitungan
Dan pada soal nomor 4 sebanyak 27 siswa menjawab kurang tepat (8 siswa berkemampuan tinggi, 9 siswa berkemampuan sedang dan 10 siswa berkemampuan rendah). Hanya 2 siswa yang menjawab soal nomor 4 dengan benar (siswa berkemampuan tinggi).
Hal ini disebabkan siswa binggung ketika suatu larutan penyangga ditambahkan suatu larutan baik bersifat asam, basa atau pen genceran.
2. Lembar Angket
Analisis kesulitan belajar siswa melalui angket berdasarkan dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat penyajian tabel Hasil angket dalam Tabel 3.
Penentuan Kualifikasi angket ini berdasarkan :
Angka 0% - 20% = sangat kuat Angka 21%- 40% = kuat
Angka 41% - 60% = cukup Angka 61% - 80% = lemah
133
Angka 81% - 100% = sangat lemah (Riduwan, 2005).
No. Faktor Aspek Indikator (%) Kualifika
si 1. Internal 1) Motivasi
2) Minat
a) Perhatian siswa terhadap pembelajaran larutan penyangga
b) Usaha siswa untuk belajar konsep larutan penyangga
a) Ketertarikan pada pembelajaran materi larutan penyangga
b) Sikap pada pembelajaran materi larutan penyangga
54.31%
71.97%
73.27%
79.30%
Cukup
Lemah
Lemah
Lemah 2. Eksternal
a. Keluarga
1) Saran/Prasara na
2) Kondisi keluarga
a) Alat-alat dan buku
b) Tempat belajar a) Kondisi ekonomi b) Kondisi sosial
83.62%
56.03%
79.31%
79.74%
Sangat Lemah Cukup Lemah Lemah b. Guru 1) Kualitas
2) Metode
a) Penguasaan materi
b) Kejelasan menerangkan
a) Penggunaan metode mengajar
b) Penggunaan alat peraga
82.32%
80.60%
79.74%
71.55%
Sangat lemah Sangat lemah Lemah Lemah
c. Sekolah 1) Fasilitas sekolah dan gedung sekolah
a) Fasilitas yang ada b) Letak gedung
56.56%
69.39%
Cukup Lemah
134 Tabel 3. memperlihatkan bahwa faktor internal penyebab kesulitan belajar siswa dengan kualifikasi sebesar 54,31%
yaitu pada aspek motivasi indikator perhatian siswa terhadap pembelajaran, sedangkan pada faktor eksternal mempunyai kualifikasi sebesar 56,03 % pada indikator tempat belajar dan kualifikasi sebesar 56,56% pada indikator fasilitas sekolah mempunyai kualifikasi cukup mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Hal ini sejalan dengan hasil jawaban angket siswa.
3. Tes Potensi Siswa
Analisis kesulitan belajar siswa melalui tes potensi siswa. Berdasarkan hasil tes potensi akademik siswa diperoleh hasil yaitu : kemampuan bahasa sebesar 67%, kemampuan logika sebesar 60%, kemampuan angka 48,6%
dan kemampuan gambar sebesar 47%.
Tes potensi akademik ini berupa pertanyaan sebanyak 60 soal yang berisi tes kemampuan verbal 15 soal, tes logika sebanyak 15 soal, tes angka sebanyak 15 lembar, dan tes gambar 15 soal. Data hasil yang diperoleh berasal dari subjek penelitian 29 siswa. Data yang diperoleh ini berupaya nilai intelektual siswa dan bakat siswa. Secara rinci, daftar nilai intelengsi dan bakat disajikan pada Lampiran B-3. Tes potensi akademik siswa ini digunakan untuk mengetahui bakat dan intelegensi siswa. Sehingga peneliti dapat mengetahui kesulitan belajar siswa.
Tes IQ (intelegensi) rata-rata siswa adalah sekitar 100-105 yang termasuk ke dalam tingkatan IQ normal atau rata-rata manusia. Namun ada siswa yang memiliki IQ paling tinggi yaitu IQ sebesar 120 termasuk ke dalam tingkat
IQ tinggi dalam kategori normal. IQ seseorang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa karna ini merupakan salah satu faktor internal siswa. Namun dilihat dari hasil tes potensi akademik siswa ternyata tidak terlihat bahwa salah satu faktor internal ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Namun, tes potensi akademik dapat memiliki angka yang tinggi apabila siswa sering mengerjakan soal-soal tes potensi akademik ataupun mengikuti lembaga- lembaga terkait untuk mengikuti pelatihan atau tes potensi akademik.
4. Hasil Member Check
Setiap akhir wawancara, hasil atau informasi yang telah diperoleh dicek kembali kepada siswa, tujuannya agar diperoleh kesepakatan mengenai informasi yang sesuai dengan yang dimaksudkan oleh siswa tersebut.
Pemeriksaan data kesulitan siswa tersebut dilakukan kepada guru bidang studi kimia dan 4 siswa yang tidak mengalami kesulitan pada materi larutan penyangga, tujuannya adalah agar data yang didapatkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan terdapat kesesuaian data antara pemberi data atau informasi.
Hasil pengecekan data dari 4 siswa tersebut adalah, mereka membenarkan apa yang disampaikan mengenai penyebab kesulitan yang dialami oleh teman-temannya bahwa memang ada beberapa siswa yang cenderung tidak memiliki motivasi ketika pembelajaran berlangsung. Sedangkan hasil yang didapatkan dari pengecekan data kepada guru bidang kimia adalah masih kurangnya motivasi dari masing-masing
135 siswa saat pembelajaran larutan penyangga berlangsung. Fasilitas laboratorium sekolah masih kurang lengkap sehingga guru tidak bisa mempraktikan secara langsung materi larutan penyangga hanya berupa flash materi larutan penyangga saja.
Adanya kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dirasakan oleh guru karena interpretasi siswa yang salah mengenai konsep tertentu pada materi larutan penyangga. Guru mengutarakan bahwa, selama pembelajaran berlangsung, apabila siswa diminta untuk bertanya, hanya siswa tertentu yang selalu bertanya dan yang lainnya hanya diam saja. Hal ini membuat guru mengira siswa tersebut sudah mengerti apa yang diajarkannya. Siswa yang pasif dapat menyebabkan siswa tersebut menentukan dan menyusun sendiri konsep apa yang masuk ke otaknya tanpa bertanya tentang apa yang tidak dipahaminya. Apabila konsep tersebut benar, tidak menjadi masalah, tetapi apabila konsep tersebut salah dan dipercaya kebenarannya oleh siswa tersebut, maka akan berakibat fatal baik bagi dirinya maupun orang lain.
2. Pembahasan Hasil Penelitian a) Analisis jawaban siswa dalam menyelesaikan soal-soal larutan penyangga
Persentase kesalahan siswa pada soal nomor 1 sebesar adalah 13.7%
dengan tafsiran kesulitan soal tergolong tidak sulit (Tabel 4.1). Sebanyak 25 siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep ini Berdasarkan analisis hasil jawaban siswa dan wawancara siswa, 4 siswa (kemampuan sedang) memiliki letak kesulitan pada konsep yang merupakan penentuan
larutan penyangga atau bukan adalah : (i) masih lemahnya konsep kesetimbangan kimia pada sistem larutan penyangga, (ii) kurang bisa membedakan antara asam lemah dan asam kuat atau basa lemah dan basa kuat, dan (iii) kurang siap menghadapi ulangan.
Persentase kesalahan siswa yang didapatkan pada soal nomor 2 dan 3secara berturut-turut adalah 48,2% dan 65,5% dengan tafsiran konsep tergolong sedikit sulit Tabel 4.1.). Pada pertanyaan nomor 2 sebanyak 15 siswa dapat mengerjakan soal-soal pada konsep ini dengan benar dan 14 siswa ( 3 siswa berkemampuan tinggi, 6 siswa berkemampuan sedang dan 5 siswa berkemampuan rendah) menjawab kurang tepat. Sedangkan soal nomor 3 sebanyak 19 siswa menjawab kurang tepat (4 siswa berkemampuan tinggi, 8 siswa berkemampuan sedang dan 7 siswa berkemampuan rendah). Akan tetapi setelah dilakukan analisis data, yang ternyata beberapa siswa mengalami kesulitan belajar pada konsep perhitungan pH dan pOH. Letak kesulitan tersebut antara lain : (i) kurang telitinya siswa dalam perhitungan sehingga banyak mengalami kesalahan, (ii) ada beberapa siswa salah menggunakan rumus antara larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa, dan (iii) kurangnya konsep tentang kesetimbangan pada materi larutan penyangga.
Persentase pada soal nomor 4 pada konsep perhitungan pH larutan penyangga pada penambahan sedikit asam atau basa berdasarkan Tabel 4.1.
didapat hasil sebesar 93.10% dengan tafsiran golongan sangat sulit. Sebanyak 27 siswa menjawab kurag tepat (8 siswa
136 berkemampuan tinggi, 9 siswa berkemampuan sedang dan 10 siswa berkemampuan rendah). Hanya 2 siswa yang menjawab soal nomor 4 dengan benar (siswa berkemampuan tinggi).
Secara keseluruhan kesulitan yang dialami siswa antara lain: (i) perhitungan jumlah mol asam basa konjugasi yang terkadang keliru, (iii) masih bingungnya siswa ketika ada penambahan asam, basa, ataupun pengenceran, dan (iii) kurang telitinya siswa dalam perhitungan.
Kesulitan siswa pada materi larutan penyangga ini pada perhitungan pH dan pOH dan juga pada penambahan larutan asam maupun larutan basa. Dapat dilihat pada konsep perhitungan ini siswa lebih banyak mengalami kesulitan untuk menjawab soal yang bersifat perhitungan daripada yang bersifat konsep larutan penyangga saja.
b) Analisis faktor-faktor kesulitan belajar siswa berdasarkan hasil angket dan tes potensi akademik siswa Data hasil penelitian dari 29 siswa pada angket meliputi dua faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar. Faktor- faktor tersebut dapat dibahas sebagai berikut:
Hasil angket merujuk pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa aspek motivasi merupakan aspek pertama faktor internal yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam mempelajari larutan penyangga. Aspek ini terdiri dari dua indikator, yaitu indikator perhatian siswa terhadap pembelajaran dan usaha siswa untuk belajar konsep larutan penyangga.
Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa indikator pertama 54,31% dengan kualifikasi cukup berpengaruh. Hal ini berarti
sebagian besar siswa tidak memiliki motivasi yang besar untuk menjawab pertanyaan atau tugas-tugas yang diberikan guru saat pembelajaran larutan penyangga atau dapat dikatakan ada siswa yang memiliki motivasi dan ada siswa yang tidak memiliki motivasi.
Kurangnya motivasi siswa berdasarkan hasil wawancara siswa merasa segan ketika bertanya atau menjawab pertanyaan yang di ajukan guru.
Sehingga cenderung hanya siswa berkemampuan tinggi yang aktif menjawab pertanyaan guru, mengerjakan tugas saat pembelajaran berlangsung.
Hal ini sesuai dengan penelitian Sapuroh (2010:58) menyatakan bahwa tidak adanya motivasi siswa untuk mempelajari konsep monera pada mata pelajaran biologi dengan perolehan persentase sebesar 22%.
Untuk kemampuan ketiga yaitu kemampuan angka, kemampuan ini berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa di bidang angka, dalam rangka berfikir terstruktur dan logis matematis.
Kemampuan ini memiliki persentase sebesar 48,6% yang cukup rendah dari ketiga kemampuan lainnya. Terdapat 25 siswa yang memiliki persentase kurang dari 60%. Padahal untuk jurusan IPA sebenarnya memerlukan kemampuan yang cukup tinggi pada kemampuan angka ini. Selanjutnya untuk kemampuan yang terakhir kemampuan gambar yang memiliki persentase sebesar 46%.
Terdapat 22 siswa yang memiliki persentase kurang dari 60%.
Kemampuan gambar ini bertujuan untuk menguji daya logika ruang yang dimiliki seseorang.
137 Selanjutnya indikator ruang belajar, memiliki persentase sebesar 56,03%
dengan kualifikasi cukup berpengaruh, artinya kenyamanan ruang belajar berpengaruh terhadap penyebab kesulitan belajar siswa dalam mempelajari larutan penyangga. Dan fasilitas sekolah memiliki persentase sebesar 56,56%
pada kualifikasi cukup berpengaruh. Hal ini karena masih kurangnya alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan praktikum.
Untuk indikator lainnya untuk faktor internal yaitu indikator usaha siswa, aspek minat, aspek intelegensi, kemampuan bahasa, kemampuan logika dan untuk faktor eksternal indikator alat- alat buku pelajaran, aspek kondisi keluarga, aspek guru dan letak gedung sekolah tidak mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Hal ini dikarenakan memiliki persentase di atas 60%.
KESIMPULAN
Kesulitan belajar yang dialami siswa kelas XI IPA dalam menyelesaikan soal- soal larutan penyangga MAN 2 Pontianak Tahun ajaran 2014/2015 yaitu, 13,7% sulit menentukan suatu larutan penyangga, 56,85% sulit dalam penentuan pH dan pOH dan 93,10% sulit pada penambahan sedikit asam atau basa.
Sedangkan untuk faktor-faktor kesulitan belajar siswa pada materi larutan penyangga untuk faktor internal yaitu motivasi, bakat masing-masing 54,31%
dan 55,4%. sedangkan faktor eksternal yaitu aspek tempat belajar di rumah dan fasilitas sekolah masing-masing sebesar 56,03% dan 56,56%.
DAFTAR PUSTAKA
Alimin, Z. (2006). Kesulitan Belajar Dalam Perspektif Pendidikan.
Skripsi. Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Universitas Pendidikan Indonesia.
Arifin, Z. (2010). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Djamarah, S.B. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Kurniawan, M.A. Menggali Pemahaman Siswa SMA Pada Materi Larutan Penyangga Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier.
Skripsi. Program Studi Pendidikan Kimia. Universitas Negeri Malang.
Moleong, L. J. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remadja Karya CV.
Nawawi, H. (2012). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Riduwan. (2005). Dasar-dasar Statistika.
Bandung : CV. Alfabeta.
Sabri, A. (2007). Psikologi Pendidikan.
Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Sapuroh, S. (2010). Analisis Kesulitan Belajar Siswa Dalam Memahami Konsep Monera. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
138 Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-
faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta : Rineka Cipta.
Syah, M. (2012). Psikologi Belajar.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.