• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERUBAHAN KURIKULUM DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH KALOSI KAB.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PERUBAHAN KURIKULUM DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH KALOSI KAB."

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

KAB. ENREKANG

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam ( S.Pd.I ) pada jurusan Pendidikan

Agama Islam Unismuh Makassar Fakultas Agama Islam

ARMAN UNTUNG M 29 19 004 51

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436 H / 2015 M

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang” (di bimbing oleh Dra. Marjani Alwi, M.Ag. dan Dra Mustahidang Usman .M.Si.)

Tujuan penulisan skripsi ini adalah: untuk mengetahui perubahan kurikulum di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab.Enrekang, untuk mengetahui prestasi belajar siswa SMA Muhammadiyah Kalosi dan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab.Enrekang.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan(field research), dan dianalisa secara deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMA Muhammadiyah Kalosi sebagai lokasi penelitian. Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah perubahan kurikulum sebagai variable bebas dan prestasi belajar siswa variable terikat. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru dan siswa berjumlah 650 orang, adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah dari jumlah populasi kemudian diambil 10% dari jumlah populasi itu random sampling, maka yang dijadikan sampel adalah 650X10%=65 orang.

Sedangkan dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode induktif, metode deduktif, dan presentatif

Sebagai hasil dalam penelitian ini adalah perubahan kurikulum sangat ditentukan oleh dua pilar yaitu guru dan kepala sekolah, sehingga perubahannya sangat dibutuhkan dalam lembaga pendidikan. Prestasi belajar siswa di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang sangat dipengaruhi oleh penentuan kompetensi, tujuan dan indikator pencapaiaan hasil belajar, dan pengaruh yang signifikan dari perubahan kurikulum terhadap prestasi belajar siswa SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang dengan meningkatnya prestasi yang di capai siswa dari perubahan kurikulum tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian penulis yang dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2015 menyatakan bahwa perubahan kurikulum sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang. Dengan membuktikan bahwa 80% perubahan kurikulum 2006-2013 sangat berpengaruh pada guru dan siswa secara signifikan berdasarkan sampel dan angket, sedangkan 18,9% belum maksimal berpengaruh karna masih ada guru yang tidak kreatif.

(8)

PRAKATA ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7

A. PengertiandanPerubahankurikulum ... 7

B. KurikulumBerbasisKompetensi, Kurikiulum Tingkat SatuanPendidikandankurikulum 2013 ... 15

C. Prestasibelajarsiswa da faktorpengaruhnya ... 27

D. PengertiandanruangliangkupPendidikan Agama Islam 30 BAB III METODE PENELITIAN... 36

A. Jenis Penelitian ... 36

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 36

C. Variabel Penelitian ... 36

D. Definisi Operasional Variabel ... 38

E. Populasi dan Sampel ... 38

F. Instrumen Pengumpulan Data... 40

G. Teknik Pengumpulan Data ... 41

H. Teknik Analisis Data ... 42 BAB IV HASIL PENELITIAN

(9)

MuhammadiyahKalosi ... 61 D. Pengaruhsiknifikanantaraperubahankurikulumdenganpr

estasibelajar di SMA MuhammaiyahKalosi... 66 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA... 72 LAMPIRAN

(10)

2. Tabel II Keadaan Guru ... 50

3. Tabel III KeadaanSiswa... 53

4. Tabel IV KeadaanSarana ... 56

5. Tabel VPerubahanPrasarana ... 56

6. Tabel VI Kurikulum ... 58

7. Tabel VII PerencanaanSilabus ... 61

8. Tabel VIII PengumpulanReferensi... 62

9. Tabel IXperumusankompetensi ... 63

10. Tabel X IndikatorHasilBelajar ... 64

11. Tabel XI StrategiPembelajaran... 65

12. Tabel XII MetodePembelajaran ... 66

13. Tabel XIII Ujianakhir ... 67

14. Tabel XIV nilaihasilbelajar ... 69

15. Tabel XV PerubahanKurikulumterhadapPrestasibelajar... 70

(11)

A. Latar Belakang Masalah

Seiring perkembangan zaman yang terus maju, mengharuskan pendidikan di Indonesia terus mengalami perubahan yang mengarah pada peningkatan sumber daya manusia dan kualitas lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sebuah paradigma baru yang dapat mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang mampu mencetak generasi mudah yang berkualitas. Karena masa depan bangsa terletak dalam tenaga generasi muda.

Mutu Bangsa dikemudian hari bergantung pada pendidikan yang dijalani oleh anak-anak sekarang, terutama melaluli pendidikan formal yang diterima di sekolah maka perlu dipahami bahwa kurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dan dipegang oleh pemerintah suatu Negara. Munculnya berbagai persoalan dalam hal pendidikan diakibatkan oleh sistem yang ada di Negara ini adanya tuntutan zaman yang menurut adanya perubahan sebuah kurikulum.

Adapun persoalan yang paling mendasar yang dihadapi oleh negara adalah masalah pemerataan Kesempatan, Relevansi, Kualitas, Efesiensi dan Efektivitas pendidikan dan untuk menyelesaikan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang unggul, yaitu pendidikan yang bisa menjawab dan mengikuti perkembangan zaman yang mempunyai perkembangan potensi siswa yang optimal.

(12)

Perubahan kurikulum yang lama pada kurikulum yang baru menerapkan bukti bahwa perlu adanya suatu perubahan dalam lembaga pendidikan agar supaya para guru dan siswa tidak mengalami suatu keterbelakangan dalam hal pendidikan. Pada saat sekarang ini penerapan dari kurikulum Berbasis kompetensi (KBK) sudah dirasakan, diperkuat lgi dengan (KTSP) dan bahkan sampai dengan kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang baru itu sudah diterapkan oleh sekolah sekolah yang ada di Indonesia.

Satya Winara ( 2004: 1 ) mengemukakan bahwa:

“Kurikulum ini merupakan bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum ini berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran”.

Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogik yang mencakup strategi atau metode mengajar tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar, yang mencakup ujian. Tugas-tugas dan pengamatan.

Hal di atas ditujukan oleh kebijakan pemerintah menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi berdasarkan pada PP. No. 25 Tahun 2000 tentang pembagian kewenangan pusat Daerah pada. PP ini dalam bidang pendidikan dengan kebudayaan dinyatakan bahwa kewenangan pusat adalah dalam hal penetapan standar kompetensi pada peserta didik dan warga. Serta pengaturan Kurikulum Nasional dan penilaian hasil belajar secara Nasional. Serta pedoman pelaksanaan dan penetapan standar materi pembelajaran pokok.

(13)

Kurikulum Berbasis Kompetensi yang belum lama ini diterapkan dapat dikatakan hasil belum maksimal. Ketidak maksimalan itu disebabkan oleh beberapa factor, apakah dari segi pendidik, peserta didik atau Kurikulum yang belum selesai untuk diterapkan.

Peralihan kurikulum 1994 menjadi KBK sebenarnya merupakan penghususan suatu kurikum, juga merupakan Kurikum yang harus disesuaikan secara keseluruhan dengan kata lain sekolah-sekolah harus menerapkan sesuai dengan Kurikulum yang ada. Kurikulum Berbasis Kompetensi memberikan peranan penuh kepada sekolah. Untuk menyesuaikan kurikulum yang ada diterapkan dengan kondisi siswanya.

Jadi Kurikulum yang harus disesuaikan dengan siswa dan bukan siswa yang harus disesuaikan dengan Kurikulum yang ada. Peranan penuh yang diberikan kepada sekolah untuk menyesuaikan kurikulum yang ada siswanya yang tidak menyalahi aturan Kurikulum secara nasional atau dalam hal ini. Tujuan Nasional hanya saja Kurikulum Berbasis sekolah.

Kurikulumnya ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan.

Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi, sekarang ini sudah ditetapkan oleh beberapa sekolah di Indonesia. Seperti disulawesi Selatan, khususnya di Daerah Enrekang dan slah satu sekolah yang menerapkan KBK tersebut adalah SMA Muhammadiyyah kalosi . Kab.

Enrekang. Penerapan KBK dengan asumsi bahwa sekolah-sekolah menerapkan kurikulum yang berdasar pada kondisi siswanya. Apa yang diharapkan oleh siswa atau lingkungan masyarakat. Maka dari itu

(14)

diharapakan agar tujuan khusus yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar tersebut dapat efektif dan efesien.Kurikulum Berbsis Kompetensi initidak bisa kita patok mati bahwa kurikulum inilah yang terakhir dan paling efektif penerapannya,karena kita tidak tahu seberapa jauh perkembangan masyarakat ke depan yang menuntut adanya perubahan, terutama dalam hal perubahan yang harus disesuaikan dengan zamannya.

Oleh karena itu berdasarkan dari permasalan yang ada di atas penulis mengangkat suatu judul skripsi dengan tema “ Analisis Perubahan Kurikulum dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di sma Muhammadiyah Kalosi, Kab. Enrekang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka untuk memudahkan peneliti, penulismerasa perlu merumuskan beberapa pokok permasalahan yang akan di bahas dalam skripsi ini antara lain:

1. Bagaimana perubahan kurikulumPendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah kalosi kabupaten Enrekang?

2. Bagaimana prestatsi belajar pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab Enrekang

3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan Kurikulum dengan Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang.

(15)

C. Tujuan penelitian

Sesuai dengan masalah yang hendak dikaji tersebut maka peneliti bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahuiperubahan kuriulum Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang.

2. Untuk mengetahuiprestasi belajar pendidikan Agama islam di SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang.

3. Untuk mengetahui pengaruh yang siknifikan antara perubahan kurikulum dan prestasi belajar pendidikan agama islam di SMA Muhammadiyah Kalosi Kab Enrekang

D. Manfaat dan kegunaan penelitian

Untuk memudahkan pembahasan proposal kami, maka ada baiknya penulis terlebih dahulu mengemukakan manfaat / kegunaan penelitian dari judul proposal kami, sehingga tidak menimbulkan kesimpangsiuran dalam pembahasan selanjutnya.

1. Dari hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru untuk lebih meningkatkan pelaksanaan analisis perubahan kuriulum dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah Kalosi kabupaten Enrekang.

2. Dapat menjadi masukan bagi guru-guru dan siswa di SMA Muhammadiyah Kalosi kabupaten Enrekang.

(16)

3. Hasil penelitian ini dapat menjadi komparatif atas hasil penelitian yang ingin dicapai sehingga memperoleh wawasan yang lebih luas.

(17)

A. Pengertian dan perubahan Kurikulum

Sebelum memahami bagaimana itu perubahan kurikulum dan factor-faktor yang kemudian menjadi penyebab terjadinya perubahan kurikulum, paling tidak harus terlebih dahulu diketahui apa itu kurikulum . Perkataan kurikulum dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan.

Sejak kurang lebih satu abad yang lampau dan timbul untuk pertama kalinya dalam kamus 1856.(S. Nasution, 2003: 01).

Istilah kurikulum berasal dari kata Yunani yaitu “currere” yang berarti “lari” dan dalam dunia atletik lazim pula diartikan “suatiu jarak yang harus ditempuh”.(H. Baego Ishak, 1998: 04) Dan kurikulum juga berarti

”chariot” semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa seseorang dari “start” sampai "finish".(S. Nasution, 2003: 02).

Dalam Q. S Al-Mujadilah (58) ayat 11 Allah SWT berfirman:





Terjemahnya:

(18)

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Departemen Agama RI, 2007: 543).

Namun dimana dilihat klasifikasi secara garis besar, maka dapat digolongkan menjadi dua kategori yakni:

1. Pengertian Kurikulum menurut pandangan lama (tradisional) 2. Pengertian Kurikulum menurut pandangan baru (modern)

Seperti yang diungkapkan (S. Nasution, 2003: 05) bahwa :

“Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh pada suatu jenjang pendidikan atau untuk mencapai sebuah titel.

Sedangkan menurut pandangan modern kurikulum atau sebagai pengalaman belajar peserta didik di bawah bimbingan Guru.

Pengertian kurikulum bukan lagi sebatas rencana pelajaran dan jumlah pelajaran yang harus diselesaikan oleh seorang guru dalam jangka waktu yang telah ditentukan, akan tetapi pengertian Kurikulum sudah mengalami perkembangan, berkat penilaian yang banyak oleh tokoh- tokoh pendidikan mengenai kurikulum salah satu diantara tokoh tersebut adalah Wina Sanjaya, menurut beliau bahwa kurikulum itu dapat dimaknai dalam tiga konteks, yaitu Kurikulum sebagai jumlah mata pelajaran, kurikulum sebagai mata pelajaran, dan Kurikulum sebagai Perencanaan program belajar.

(19)

Dengan begitu bentuk ragam pengertian Kurikulum yang dipolopori oleh Saylor Alexander and Lewis dalam M. Ali (1992: 2-3) antara lain sebagai berikut:

1. Kurikulum sebagai rencana tentang mata pelajaran atau bahan- bahan pelajaran.

2. Kurikulum sebagai rencana tentang pengalaman belajar.

3. Kurikulum sebagai rencana tentang tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

4. Kurikulum sebagai recana tentang kesempatan belajar.

Untuk lebih mempertajam pemahaman tentang kurikulum, maka penulis akan menguraikan beberapa pendapat ahli diantaranya:

J. Saylor dan William dalam Nasution (2003: 4):

The curriculum is the sun total ofschoolis offors to influence learning, whetherin the classroom an the play groun, or of school!” jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar apakah dalam rangka kelas, di dalam sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum juga meliputi kegiatan ekstra kurikuler.

Harol B. Albetri CS. dalam S. Nasution ( 2003 : 4 ):

“All of the activites that are provided for student by the school!

Menurutnya kurikulum itu tidak hanya terdapat pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi banyak kegiatan-kegiatan lain, di dalam dan di luar kelas, yang berada dibawa tanggung jawab sekolah defenisi ini melihat manfaat kegiatan dan pengalaman siswa di luar mata pelajaran.

B. Othanel Smith, W.O Stanley dan J. Harold Shores dalan Nasution ( 2003 : 04):

(20)

“ asequence of potential experience set up in the school for the purpose of discip children and yout in group thinking and acting”

mereka melihat kurikulum sebagai jumlah pengalaman secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berfikir dan berbuat sebagai masyarakat lainnya.

Dari beberapa defenisi kurikulum di atas, memberikan semua pemahaman baru bahwa kurikulum bukan hanya sebatas kumpulan data pelajaran, akan tetapi meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah yakni segala pengalaman anak di bawah tanggung jawab sekolah.

Perubahan Kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial dan juga disebut sebagai pembaharuan atau inofasi Kurikulum untuk mencapai suatu perbaikan.(S. Nasution, 2003: 01).

Perubahan kurikulum biasanya dilakukan karena melihat kekurangan-kekurangan dari kurikulum yang berlaku atau yang sudah ada. Dengan begitu muncul ide-ide baru mengenai kurikulum dan bersedia untuk menerapkan di sekolah mereka untuk meningkatkan mutu pelajaran.

Perubahan Kurikulum yang terjadi bukan disebabkan oleh satu macam alasan saja, akan tetapi Perubahan kurikulum tersebut biasanya disebabkan oleh tuntutan masyarakat yang memang tidak lagi sesuai dengan Kurikulum yang ada, sehingga kurikulum tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Perubahan Kurikulum pada hakekatnya berarti mengubah manusia dan lembaga-lembaga karena untuk melakukan suatu perubahan harus dilakukan dengan

(21)

manusia yang menjadi subjek dari Kurikulum, dan lembaga diterapkan kurikulum itu. Akan tetapi perubahan Kurikulum yang ada terlaksana tidak akan lebih mudah, karena tidak semua lapisan masyarakat dan sekolah dapat menerima perubahan tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa sekolah dan masyarakat itu sangat sukar menerima pembaharuan, karena mengadakan sebuah perubahan, karena mengadakan perubahan atau pembaharuan memerlukan pemikiran dan tenaga yang lebih banyak. Pembaharuan Kurikulum biasanya terikat pada tokoh-tokoh yang mecetuskannya, sehingga apabila yang mencetuskannya sudah meniggal, maka lenyap pula peembaharuan kurikulum yang telah dimulainya itu. Dalam pembaharuan atau Perubahan Kurikulum, ternyata mencetuskan ide-ide yang baru itu lebih mudah dari pada menerapkannya dalam praktek, karena semua lapisan tidak menerima ide dari perubahan atau pembaharuan tersebut. Perubahan kurikulum mengenai perubahan dasar-dasarnya, baik itu tujuan, maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan pendidikan mengubah Kurikulum berarti turut mengubah manusia yang menerapkan Kurikulum tersebut, seperti guru, Pembina pendidikan dan seluruh lapisan pendidikan.

Sebenarnya, ada dua prosedur utama untuk mengubah Kurikulum yaitu administrative approach, yaitu yang direncanakan oleh pihak atasan atau dalam hal ini pemerintah pusat lalu diturunkan kepada bawahan, seperti para guru dan instansi-instansi pendidkan lainnya, dengan begitu

(22)

Kurikulum yang telah diberikan kepada mereka harus direalisasikan disetiap sekolah yang mereka tempati.

Prosedur yang kedua ialah gross roost approach yitu yang dimulai dari bawah, yang dimulai dari pihak guru atau sekolah secara individual dengan harapan agar meluas kesekolah-sekolah lain.(Muhibbin Syah, 2004: 223).

Perubahan Kurikulum ini harus diantisipasi dan dipahami oleh berbagai pihak, karena kurikulum sebagai rancangan pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran, yang akan menentukan proses dan hasil pendidikan.

Sekolah sebagai pelaksana pendidikan, baik kepala sekolah, guru maupun peserta didik yang sangat berkepentingan dan akan terkena dampaknya secara langsung secara langsung dari setiap perubahan Kurikulum. Disamping itu, orang tua, para pemakai lulusan dan para biokrat, baik di pusat maupun di Daerah akan terkena dampak dari perubahan Kurikulum tersebut, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hal yang perlu ditekankan di sini jangan sampai perubahan kurikulum saat ini akan mengalami nasib yang akan sama dengan kurikulum sebelumnya yang ditinggal begitu saja. Oleh karena itu, perubahan kurikulum ini harus disikapi secara positif dengan mengkaji dan memahami peranannya di sekolah.

Keberhasilan perubahan Kurikulum di sekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua pigur tersebut, baik buruknya

(23)

komponen sekolah yang lain sangat ditentukan oleh kualitas guru dan kepala sekolah tanpa mengurangi arti penting tentang kependidikan yang lain.(E. Mulyasa, 2005: 04).

Seperti yang di ketahui bersama bahwasanya di Negara ini.kurikulum yang ada sebagai acuan dalam sistem pendidikan kita itu kemudian sering diganti dengan beberapa pertimbangan dalam pengkajianyya yang merupakan faktor penyebab bergantinya kurikulum ..(Muhibbin Syah, 2004: 223).

1. Perkembangan Zaman

Perubahan perhatian dan perluasan bentuk pembelajaran harus mendapat perhatian.Perubahan praktek pendidikan di suatu Negara harus mendapan perhatian serius, agar pendidikan di Negara kita tidak ketinggalan zaman.Tetapi tentu perubahan kurikulum harus disesuaikan denga kondisi setempat, kurikulum Negara lain tidak sepenuhnya diadopsi karena adanya perbedaan-perbedaan baik ideologi, agama, ekonomi, sosial, maupun budaya.(E. Mulyasa, 2005: 04).

2. Faktor politik

Praktek politik kenegaraan memang memegang peranan penting dalam perubahan kurikulum yang ada, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pendidikan saat ini termasuk kurikulum tidak dapat lagi di pisahkan atau terlepas dari perpolitikan suatu bangsa, oleh karna itu politik suatu bangsa harus di arahkan pada pemantapan demokrasi yang sejatih, sehingga

(24)

sitem pendidikann akan berjalan dengan baik tanpa di bayangi oleh kekuatan dan kekuasaan sanag penguasa

3. Pandangan intelektual yang berubah

Selama ini pendidikan di Negara kita selalu di arahkan pada pencapaian materi sebanyak-banyaknya daripada mencapai suatu kemampuan atau kompetensi tertentu, sehingga outpunya kurang berkualitas di bandingkan dengan Negara lain. Untuk meningkatkan kualitas itu, maka pemerintah mengupayakan di laksanakanyya Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK) yang di rintis sejak tanggal 26 juni 2002, kemudian pada tahun 2006 di berlakukan kurikulum baru yaitu KTSP dan sekarang mulai lagi di rintis kurikulum terbaru yaitu kurikulum 2013 dengan basis yang sama dengan perubahan dan penekanan tertentu

4. Perubahan dalam masyarakat

Masyarakat adlah suatu komunitas yang dinamis dan akan selalu berubah, baik perubahan kearah positif ataupun perubahan negatiif, perubahan positif antara lain adalah kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan anak, terutama lagi kalangan menengah ke atas dengan menyediakan fasilitas yang memadai seperti alat komunikasi, transportasi computer dan internet, perubahan kearah negative sesungguhnya lebih bnyak terjadi akibat efek tidak baik karna kemudahan-kemudahan yang di alami oleh manusia modern, seperti

(25)

mudahnya berkomunikasi antar individu yang kemudian di slahgunakan untuk kejahatan

B. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dan Kurikulum 2013.

a. Kurikulum Berbasis kompetensi

Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan kompetensi tugas- tugas dengan standar performasi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tersebut.

Dengan demikian penerapan kurikulum dapat menumbuhkan tanggung jawab, dan partisipasi peserta didik untuk belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, serta memberanikan diri berperan dalam berbagai kegiatan di sekolah maupun masyarakat.

Berdasarkan pengertian kompetensi di atas, maka kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.

(26)

KBK memfokuskan pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik.Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa.Sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk prilaku atau keterampilan peserta didik sebagai sesuatu kriteria keberhasilan.Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) juga menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam rangkaian meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam hubungannya dengan pembelajaran memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar.

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa kurikulum berbasis kompetensi berorientasi pada kreativitas individu untuk melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran dan efek (dampak) yang diharapkan yang muncul dari peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan kompeten dalam kurikulum berbasis kompetensi ini merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan Madrasah, sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

1. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi

Karakteristik berbasis kompetensi antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran

(27)

Di samping itu KBK memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik.Penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demostrasi kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta didik, pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan individual personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan, peserta didik dapat dinilai kompetensinya.

Depdiknas (2002) dalam (E. Mulyasa, 2005: 04).mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi pesertadidik baik secara individual maupun klasikal

b. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman

c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi

d. Sumber belajar bukan guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif

e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Dari beberapa rumusan tentang karakteristik kurikulum berbasis kompetensi di atas jelaslah bahwa pada pencapaian kompetensi itu dilihat dari cara penyampaian materi oleh guru dan metode yang digunakan dalam pembelajaran lebih lanjut dikatan bahwa penilaian Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah dilihat dalam kompetensi guru dalam

(28)

persiapan mengajar, artinya ada upaya guru untuk menguasai materi yang memenuhi syarat atau unsur edukatif. Karena yang diinginkan dalam kompetensi ini adalah menekankan pada kualitas siswa, dan hasil belajar yang dicapai.

2. Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi

Sesuai dengan prinsip diversifikasi dan desentralisasi pendidikan maka pengembangan kurikulum ini digunakan prinsip dasar “kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan” prinsip kesatuan dalam kebijakan yaitu dalam mencapai tujuan pendidikan perlu ditetapkan standar kompetensi yang harus dicapai secara nasional, pada setiap jenjang pendidikan. Sedangkan prinsip keberagaman dalam pelaksanaan yaitu dalam menyelenggarakan pendidikan yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran penilaian dan pengelolaannya mengakomodasikan perbedaan yang berkaitan dengan kesiapan dan potensi akademik, minat lingkungan, budaya, dan sumber daya sekolah sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan masing-masing.

“Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kompleks, dan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait” (Mulyasa, 2002: 61).

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi menfokuskan pada kompetensi tertentu berupa pedoman pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang didemostrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya. Penerapan kurikulum berbasis kompetensi memungkinkan para guru menilai hasil belajar yang

(29)

mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajarinya. Secara rinci pengembangan KBK mempertimbangkan hal- hal berikut:

a. Keimanan, nilai-nilai dan budi pekerti luhur yang perlu digali, dipahami dan damalkan siswa.

b. Penguatan integritas nasional yang dicapai melalui pendidikan

c. Keseimbangan berbagai bentuk pengalaman belajar siswa yang meliputi etika, logika, estetika dan kinestetika

d. Penyediaan tempat yang memberdayakan semua siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan seluruh siswa dari berbagai kelompok

e. Kemampuan berfikir dan belajar dengan mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat beruibah dan penuh ketidakpastian merupakan kompetensi penting dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

f. Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif.

Sedangkan prinsip dasar kegiatan belajar mengajar yang dikembangkan dalam KBK adalah mengembangkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, bersikap dan bertanggung jawab pada kebiasaan dan prilaku sehari-hari melalui pembelajaran secara aktif

b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(30)

KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi dan karakteristik sekolah/ daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikumum tingkat satuan pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurukulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertugas di bidang pendidikan.

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kuriklum agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diarapkan memiliki tanggungjawab yang memadai.Penyempurnaan kurilulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistam pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Hal itu juga sejalan dengan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP PAsal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing- masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi

(31)

serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP)

KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut.

1. Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional

2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi.KTSP merupakan paradigm baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan potensi belajar mengajar di sekolah.

Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalolasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

1. Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk mendirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberikan kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong

(32)

sekolah tnuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

Secara khusus tujuan diterapkanya KTSP adalah untuk:

a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia

b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama

c. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Memahami tujuan di atas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan dewasa ini. Oleh karena itu, KTSP perlu dterapkan oleh setiap satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuan hal sebagai berikut:

a. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelamahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya

b. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan

(33)

dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

c. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yagn terbaik bagi sekolahnya d. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam

pengembangan kurikulum menciptakan transparasi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat

e. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran

f. Sekolah dapat melakukan persaingan yagn sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

2. Karakteristik kurikulum tingkat satuan pendidikan a. Berorientasi pada disiplin ilmu

b. Berorientasi pada hasil pembelajaran

c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan metode dan pendekatan yang bervariasi

(34)

d. Berorientasi pada pengembangan individu e. Kurikulum yang mengakses kepentingan daerah c. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan implementasi dari UU no. 32 tahun 2013.Kurikulum 2013 ini merupakan kelanjutan dan penyempurna dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan KTSP. Akan tetapi lebih mengacu pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang terdapat pada pasal 35,[3] dimana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang sedang dalam tahap perencanaan dan saat ini sedang dalam proses pelaksanaan oleh pemerintah, karena ini merupakan perubahan dari struktur kurikulum KTSP. Perubahan ini dilakukan karena banyaknnya masalah dan salah satu upaya untuk memperbaiki kurikulum yang kurang tepat.

Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.

(35)

Meskipun silabus sudah di kembangkan oleh pemerintah pusat , namun guru tetap dituntut untuk dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, kajian silabus tampak menjadi penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok sehingga diharapkan para guru dapat memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami seluruh isi silabus yang telah disiapkan tersebut.

Adapun penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) masih merupakan kewenangan guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.

1. Tujuan kurikulum 2013

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatifdan inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

2. karasteristik kurikulum 2013

a. Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam kompetensi dasar.

(36)

b. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari.

c. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran

d. Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif,psikomotorik dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran yang ditandai oleh banyaknya KD suatu mata pelajaran

e. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang beasal dari pendekatan “disciplinary-based curriculum” atau content-based curriculum”

f. Kompetensi dasar dikembangkan berdasarkan prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.

g. Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi. Yang mana pengetahuan merupakan konten yang bersifat tuntas (mastery).

Sedangkan kognitif dan psikomotorik merupakan kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan sikap merupakan kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit

(37)

dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung.

h. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi yang bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi.

C. Prestasi Belajar Siswa dan faktor pengaruhinya

Teori yang digunakan dalam prestasi belajar yaitu bahwa prestasi adalah kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.(Zaenal Arifin, 1991: 03). Sedangkan yang dimaksud belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perbuatan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.(Slameto, 1988: 02)..

Mas'ud Khasan Abdul Qahar dalam Syaiful Bahri Djamarah (1994: 20):

“Prestasi adalah apa yang telah diciptakan hasil pekerjaan hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja.belajar adalah suatu aktivitas yang dilaksanakan secara sadar untuk memperoleh sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Hasil dari suatu aktivitas membuat perubahan dalam diri individu, dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri indvidu.Belajar juga merupakan aktivitas yang sadar akan tujuan.

Tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu”.

Perubahan karena belajar dipengaruhi oleh pengembangan kecakapan kognitif, afektif dan psikomotorik.(Muhibbin Syah, 2003: 49).

Pengertian prestasi belajar sebagaimana yang diungkapkan

(38)

Nasrun harahab, dkk dalam Syaiful Bahri Djamarah(1994: 21) adalah:

"Penilaian pendidikan tentang perkembangan yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serrta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum".

Sedangkan menurut W.S Winkel(1993: 165) mengatakan bahwa :

“Prestasi belajar adalah "hasil maksimal yang telah dicapai seseorang berupa kecakapannyata setelah mengadakan usaha- usaha salah satu perbaikan kearah yang lebih baik dengan menggunakan alat pengukur tes evaluasi belajar".

Dari serangkaian teori-teori tersebut di atas maka dapat disimpulakan bahwa prestasi belajar adalah hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang di ajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu ddengan baik dalam berinteraksi dengan orang lain.Untuk lebih jelasnya ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Muhibbin Syah (2003: 64):

Faktor internal (factor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmaniah dan rohani siswa, Factor eksternal(factor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan sekitar, Factor pendekatan belajar(approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Penjelasan lain mengenai factor yang mempengaruhi prestasi siswa sebagai berikut:

1. Factor raw infut, yakni siswa itu sendiri dimana tiap individu mempunyai kondisi yang berbeda-beda dalam kondisi fisiologis dan kondisi psikologis.

(39)

a. Factor Psikologis, yaitu factor yang berhubungan dengan jiwa orang yang sedang belajar, seperti: sikap, minat, intelegensi, persepsi dan bakat.

b. Factor Fisiologis, yaitu factor yang berhubungan dengan kondisi jasmani individu yang sedang belajar, seperti:

kondisi indera, kondisi badan, tubuh, kelenjar syarafdan organ-organ dalam tubuh.

2. Factor enveromental infut, yakni factor lingkungan baik itu lingkungan alami maupun lingkungan social.

a. Lingkungan alami yaitu factor yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar yang berhubungan dengan lingkungan maupun alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti: keadaan suhu, udara, cuaca, waktu, tempat, alat peraga dan buku-buku alat tulis menulis..

b. Factor social yaitu factor-faktor yang berhubungan dengan manusia baik manusia itu hadir atau tidak hadir.

3. Factor instrumental infut, di dalamnya antara lain terdiri dari kurikulum, program/bahan pelajaran, sarana dan fasilitas dan guru. (Abu Ahmadi & Joko Tri Prasetyo, 1997: 103-104).

Factor tersebut saling berkait satu sama lain dalam memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar seorang siswa. Anak yang mempunyai intelegensi tinggi namun sarana dan prasarana belajarnya sangat minim maka prestasi belajarnyapun tentu tidak akan mencapai titik optimal.

(40)

D. Pengertian dan ruang linkup Pendidikan Agama Islam

Untuk memahami pengertian pendidikan Agama Islam ini secara mendalam, maka penulis akan mengemukakan beberapa pendapat tentang pendidikan agama Islam sebagai berikut:

Zakiah Daradjat. 1996., 2005: 04 mengatakan:

“Usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup”.

Ahmad D. Marimba mengatakan:

“Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terciptanya kepribadian utama menurut ukuran Islam”.

Dapat disimpulkan Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan menghasilkan orang-orang beragama, dengan demikian pendidikan agama perlu diarahkan ke arah pertumbuhan moral dan karakter.

Soejoeti memberikan pengertian secara lebih terperinci.Pertama, pendidikan Agama Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaranya didorong oleh keinginan dan semangat cita-cita untuk mengejawantahkan nilai-nilai islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya.

Kedua, pendidikan Islam adalah jenis pendidikan memberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran islam sebagai pengetahuan untuk progam studi yang akan diselenggarakannya. Ketiga, Pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian tersebut diatas.

(41)

Ditinjau dari beberapa definisi pendidikan agama Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:

a. Segala usaha berupa bimbingan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, menuju terbinanya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama Islam.

b. Suatu usaha untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam dalam proses kependidikan melalui latihan- latihan akal pikiran (kecerdasan, kejiwaan, keyakinan, kemauan dan perasaan serta panca indra) dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

c. Bimbingan secara sadar dan terus menerus yang sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah dan kemampuan ajarannya pengaruh diluar) baik secara individu maupun kelompok sehingga manusia memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam secara utuh dan benar. Yang dimaksud utuh dan benar adalah meliputi Aqidah (keimanan), Syari’ah (ibadah muamalah) dan akhlaq (budi pekerti).

1. Dasar, Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Islam 1. Dasar pendidikan islam

Dasar adalah landasan tempat berpisah atau tegaknya sesuatu agar sesuatu tersebut tegak berdiri di suatu bangunan yaitu fondamen yang menjadi landasan bangunan tersebut agar bangunan itu tegak dan

(42)

kokoh berdiri, demikian pula dasar pendidikan islam yaitu fondamen yang menjadi landasan atau asas agar pendidikan islam dapat tegak berdiri agar tidak mudah roboh karena tiupan angin kencang berupa idiologi.

Dasar pendidikan Islam secara garis besar ada 2 yaitu : Al Quran, As- Sunnah.

a. Al Qur’an

Islam adalah agama yang membawa misi agar ummatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran Asal Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah berkenaan disamping masalah keimanan juga pendidikan dalam firman Allah SWT :

“Bacalah dengan (menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah yang paling pemurah yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui”. (Qs. Al-Alaq 1-5 )

Dari ayat ayat tersebut diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa seolah-olah tuhan berkata hendaklah manusia meyakini akan adanya adanya tuhan pencipta manusia. Selanjutmya untuk memperkokoh keyakinan dan memelihara agar tidak luntur hendaklah melaksanakan pendidikan dan pengajaran.

b. As- Sunnah

Rasulullah saw adalah juru didik dan beliau juga menjungjung tinggi terhadap pendidikan dan motivasi agar berkiprah kepada pendidikan dan pengajaran. Rosulullah saw bersabda artinya: “Barang siapa yang

(43)

menyembunyikan ilmunya maka Tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi.”

2. Fungsi pendidikan islam

Fungsi pendidikan Agama Islam adalah menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas-tugas pendidikan Islam tersebut tercapai dan berjalan dengan lancar.Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan yang bersifat structural dan institusional.

Menurut Kurshid Ahmad, yang dikutip ramatulis, fungsi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

a. Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan social, serta ide-ide masyarakat dan bangsa.

b. Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan ekonomi.

3. Tujuan pendidikan islam

Tujuan pendidikan agama Islam adalah Memahami ajaran-ajaran Islam secara sederhana dan bersifat menyeluruh, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan dan amalan perbuatan kita, baik dalam hubungan vertical dengan Allah swt , dengan diri sendiri dengan sesama manusia dan hubungan kita dengan alam lingkungan

(44)

serta dapat membentuk pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.

Berbicara tentang ruang lingkup dari pendidikan Agama Islam ,Setiap materi ajar selalu mempunyai karakteristik yang berkaitan erat dengan tujuan pengajaran, tidak terkecuali mata ajar pendidikan agama Islam.

Adapun karakteristik pendidikan agama Islam menurut Abd al- Rahman Shaleh Abdullah. 1991: 138-153 dalam Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, antara lain:

a. Pendidikan Islam mempunyai dua sisi kandungan, diumpamakan sebuah mata uang yang mempunyai dua muka. Pertama, sisi keyakinan yang merupakan wahyu Ilahi dan sunnah Rasul, berisikan hal-hal yang mutlak dan berada diluar jangkauan indra dan akal (keterbatasan akal dan indra).

b. Pendidikan islam bersifat doctrinal, memihak dan netral. Ia mengikuti garis-garis yang jelas dan pasti, tidak dapat ditolak atau ditawar. Ada keharusan untuk tetap berpegang pada ajaran selama hayat masi di kandung badan.

c. Pendidikan agama Islam merupakan pembentukan akhlak yang menekankan pada pembentukan akhlak yang menekankan pada pembentukan hati nurani dan penanaman sifat-sifat ilahiyah yang jelas dan pasti, baik dalam hubungan manusia dengan pencipta, dengan sesamanya maupun dengan alam sekitar.

(45)

d. Pendidikan agama Islam bersifat fungsional, terpakai sepanjang hayat manusia. Semakin bertambah umur seseorang, semakin dirasakan olehnya kebutuhan dan keperluan akan agama. Dalam situasi dan kondisi apapun.

e. Pendidikan agama diarahkan untuk menyempurnakan bekal keagamaan anak didik yang sudah terbawa sejak dari rumah.

Oleh karena itu simbol-simbol yang digunakan perlu dipahami benar artinya, agar dalam penyampaian materi dalam proses belajar mengajar dapat berhasil secara efektif dan efisien.

(46)

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dengan mengeksploitas data dilapangan dengan metode analisis deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran tentang analisis perubahan kurikulum dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar pendidikan Agama islam di SMA Muhammadiyah Kalosi . Kab. Enrekang.

B. Lokasi dan objek penelitian

Adapun lokasi penelitian ini adalah di SMA Muhammadiyah Kalosi, kab. Enrekang. Adapun yang menjadi objek penelitian ini yaitu guru dan siswa yang ada di SMA Muhammadiyah Kalosi, kab. Enrekang.

C. Variabel penelitian

Dengan melihat judul diatas analisis perubahan kurikulum dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah Kalosi, kab. Enrekang. Terdapat dua variable yaitu variable bebas (x) adalah perubahan kurikulum sedangkan variable terikat (y) adalah prestasi belajar siswa Pendidikan Agama islam.

D. Defenisi Operasional Variabel

Berdasarkan berbagai pengertian yang telah diuraikan sebelumnya maka penulis merumuskan defenisi operasional bahwa

(47)

Analisis perubahan kurikulum dan Pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

1. Perubahan kurikulum adalah suatu usaha yang di sengaja.

Perubahan kurikulum terjadi karena adanya perbedaan dalam satu komponen kurikulum atau lebih dalam dua periode waktu tertentu. Jadi, Perubahan kurikulum adalah suatu kegiatan atau usaha yang di sengaja untuk menghasilkan kurikulum baru secara lebih baik, yang di dasarkan atas perbedaan satu atau lebih komponen kurikulum dalam dua periode waktu yang berdekatan.

Dalam proses perubahan kurikulum, kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum relatif lebih terbatas daripada kurikulum riil. Kurikulum yang riil bukan hanya sekedar buku pedoma, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas, ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karyawisata, dan banyak yang lainnya, pendek kata mengenai seluruh kehidupan anak sepanjang bersekolah. Dapat dikatakan bahwa perubahan kurikulum berarti merubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru, murid, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah.

2. Prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa telah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan

(48)

dan pengetahuan dan kemudian akan diukur yang dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pertanyaan sedangakan Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan menghasilkan orang-orang beragama, dengan demikian

pendidikan agama perlu diarahkan ke arah pertumbuhan moral dan karakter.

Dengan demikian, bahwa yang dimaksud dengan Analisis perubahan Kurikulum dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa ini adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk mendorong siswa melakukan kegiatan dengan cara melalui perubahan kurikulum agar dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa kearah yang lebih baik dari yang sebelumnya.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Untuk mengetahui lebih jaelas mengenai populasi , terlebih dahulu penulis memberikan pengertian populasi berdasarkan rumusan yang dikemukakan oleh penulis, yaitu sebagai berikut:

Suharsimi Arikunto (1998:108) mengatakan bahwa:

“Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian,maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Populasi yang objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau lebih.

(49)

Berdasarkan defenisi yang telah dikemukakan diatas. Dalam hal ini yang menjadi populasi penelitian adalah, guru dan siswa yang ada di sekolah dengan jumlah guru 35 orang dan jumlah siswa 650 orang. Dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1: Keadaan Populasi

No. Guru dan Siswa Populasi Jumlah

1 Guru 35 35

2 Siswa 650 650

Jumlah 685

Sumber data: Data Awal:SMA Muhammadiyah Kalosi Kab.

Enrekang.2015 2. Sampel

Setelah melihat populasi dan penelitian ini, maka langka berikutnya adalah menentukan sampel. Penentuan sampel merupakan sebagian kecil yang diambil dari sebuah populasi penelitian. Jadi dalam penentuan penelitian tidak selamanya perlu meneliti secara keseluruhan populasi, karena hal tersebut membutuhkan dana, biaya dan anggaran yang relative banyak, memiliki waktu yang agak lama serta pertimbangan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti.

Sampel dalam pandangan Suharsimi Arikunto (1998: 131) sebagai bagian dari populasi yang diteliti, dan menyatakan pula bahwa:

“Sampel adalah memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi yang akan dijadikan subjek penelitian, sampel yang diteliti nantinya akan mewakili seluruh populasi sabagai hasil untuk semua populasi penelitian itu menjadi sampel penelitian. Populasi dari sebuah penelitian itu kurang dari seratus dan sedikit maka penelitian tersebut

(50)

dinamakan penelitian populasi dan populasi dari penelitian ini juga menjadi sampel penelitian”.

Berdasarkan landasan di atas maka sampel dari jumlah sampel Guru adalah 10% dari 35 orang, Sedangkan sampel siswa 10 % dari 650 siswa.

Tabel 2 : Daftar Distribusi Sampel Di Lokasi Penelitian No Guru dan Siswa Populasi Sampel Keterangan

1. Guru 35 35 Berdasarpenelitian

Populasi

2. Siswa 650 65

Berdasar 10%

Jumlah 685

Sumber data: Data Awal:SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang.2015

F. Instrumen Penelitian

Penilitian menggunakan instrument penelitian sebagai alat bantu agar kegiatan penelitian berjalan secara sistematis dan terstuktur, dalam pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagaimana yang dikatakan Suharsimi Arikunto (2002: 10-13) antara lain sebagai berikut:

1. Pedoman Angket Yaitu catatan pertanyaan dalam bentuk daftar pertanyaan dibarengi dengan sejumlah pilihan jawaban.

2. Pedoman ObserpasiYaitu catatan untuk mengamati secara langsung dengan sumber informasi tentang objek penelitian, keadaan Guru dan keadaan Siswa.

3. Pedoman Wawancara Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara/interview terhadap sampel secara langsung sehingga informasi-informasi mengenai peran penyuluh

(51)

agama dalam meningkatkan kegiatan keagamaan masyarakat dapat akurat dan tidak ada rekayasa didalamnya.

4. Catatan DokumentasiYaitu mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik dan metode untuk mengumpulkan data sebagai berikut yaitu:

1. Library research, yaitu pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian, pengkajian dan catatan terhadap literature atau buku-buku referensi yang sesuai dengan kebutuhan pembahasan dalam penelitian ini, karya ilmiah yang relevan terhadap masalah yang dibahas berupa konsep, teori, dan gagasan para ahlih sehubungan dengan objek yang dibahas. Metode pengumpulan data ini terbagi atas dua bagian yaitu:

a. Kutipan langsung, yaitu peneliti mengutip pendapat para ahli yang terdapat dalam buku-buku referensi yang berhubungan dengan pembahasan penulisan ini dengan tanpa merubah redaksi kalimatnya dan makna yang terkandung didalamnya.

b. Kutipan tidak langsung, yaitu kutipan pendapat-pendapat para ahlih yang terdapat dalam referensi dalam bentuk uraian yang berbeda dalam konsep aslinya, tetapi makna dan tujuannya sama.

(52)

2. Field research, yang suatu tehnik pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung dilokasi penelitian atau lapangan tentang objek yang akan diteliti untuk memperoleh data yang kongkrit yang ada hubunganya dengan masalah yang ada dalam penelitian ini dengan menggunakan metode-metode yang telah dipersiapkan yaitu:

a. Observasi, yaitu mengamati dan menggunakan komonikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek peneliti, keadaan guru dan siswa.

b. Interview, yaitu melakukan wawancara langsung terhadap guru dan siswa adalah objek yang akan diteliti dalam peningkatan prestasi belajar.

c. Angket, yaitu memberikan pertanyaan dalam bentuk daftar pertanyaan dibarengi dengan sejumlah pilihan jawaban.

d. Dokumentasi, yaitu mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek penelitian.

H. Teknik Analisis Data.

Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis beberapa metode teknik analisis data yaitu:

1. Metode induktif, yaitu tehnik analisis data dengan bertitik tolak dari suatu data yang bersifat khusus, kemudian dianalisis dan disimpulkan dengan bersifat umum.

(53)

2. Metode deduktif, yaitu suatu tehnik analisis data yang bertitik tolak dari data yang bersifat umum kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan yang bersifat khusus.

3. Metode komparatif, yaitu suatu tehnik analisis data dengan membandingkan antara data yang satu dengan data yang lain kemudian menarik sebuah kesimpulan.

Hermawan Wasito (1997: 58) rumus yang digunakan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:

P = X 100%

Keterangan : F : Frekunsi yang sedang dicari N : Jumlah frekuensi/responden P : Angka presentase

(54)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Objektif dan Lokasi Penelitian

Pada pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang hasil penelitian, atau gambaran singkat SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang:

1. Sejarah singkat lokasi penelitian

sejarah singkat SMA Muhammadiyah Kalosi. SMA Muhammadiyah Kalosi sebagai sekolah SMA SWASTA yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Enrekang Jalan poros Makassar Tator Belajen.Sekolah ini menggunakan Agama Islam sebagai pegangan utama pendidikan Agamanya.Riwayat singkat berdirinya SMA Muhammadiyah kalosi adalah pada tahun 1983 dimana pada saat itu masih mengikut disekolah SMAN 1 Alla atau Satu atap dengan SMAN 1 Alla.Kemudian berdiri sendiri pada tahun 1985.

SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang berdiri pada tahun 1985 yang didirikan oleh bapak Drs. H. Muslimin Bando yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah pertama.

SMA Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang pada dasarnya didukung oleh lokasi yang sangat strategis dan mudah dijangkau, karena terletak dijalan poros (Tator - Makassa). Selain itu SMA Muhammadiyah

(55)

kalosi Kabupaten Enrekang terletak ditengah-tengah desa dan dusun di kecamatan Alla maupun dikecamatan lainnya.

SMA Muhammadiyah Kalosi adalah sekolah yang mengintegrasikan perpaduan antara pengembangan ilmu pengetahuan sebagai satu kebutuhan pokok dalam menjawab tantangan zaman dan iman serta akhlak yang bermartabat agar lulusannya mampu berkompetensi di masyarakat dan berguna bagi diri dan orang lain.

Sebuah sekolah dipimpin oleh beberapa kepala sekolah yang silih berganti. Demikian pula halnya dengan SMA Muhammadiyah Kalosi, menurut Arsyad, S.Pd selaku kepala sekolah SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang sejak berdirinya telah di pimpin oleh:

1. Drs. H. Muslimin Bando,. ( Tahun 1990-2011 )

2. Drs. H. Sampe Lemang, M.Pd ( Tahun 2011-2014 ) dan 3. Arsyad, S.Pd. ( Tahun 2014 sampai sekarang )

Sedangkan nama-nama guru pengajar pertama:

1. Drs. H. Muslimin Bando,.M.Pd 2. Drs. H. Sampe Lemang, M.Pd 3. Drs. H. Sewali K

4. Drs. Ahmad Zain 5. Buhari S.Pd, M.Pd

(56)

Tabel

Daftar nama – nama Kepala sekolah Muhammadiyah KalosiKab. Enrekang

NO NAMA JABATAN PERIODE

1 Drs.H. Mslimin Bando Kepala sekolah 1985 - 2001

2 Drs.H. Sampe Lemang Kepala sekolah 2001 - 2014

3 Arsyad S.Pd, M.Pd Kepala sekolah 2014 - sekarang

2. Visi dan Misi SMA Muhammadiyah Kalosi a. Visi

Berdisiplin tinggi, berprestasi dan menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat guna, serta bernuansa religious.

b. Misi

1) Menyediakan layanan kesiapan belajar mengajar yang efektif untuk peningkatan pendidikan.

2) Menumbuhkan minat baca.

3) Menyediakan sarana dan prasarana untuk pembinaan dan pengembangan proses belajar mengajar.

4) Menyediakan sarana untuk pembinaan olahraga dan seni.

5) Mengkondisikan pembinaan keagamaan secara berkesinambungan.

(57)

3. Tujuan sekolah

a. Mempersiapkan peserta didik yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

b. Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian, cerdas, berkualitas dan berprestasi dalam bidang olahraga dan seni.

c. Membekali peserta didik agar memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi serta mampu mengembangkan diri secara mandiri.

d. Menanamkan peserta didik sikap ulet dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi dengan lingkungan dan mengembangkan sikap sportifitas.

e. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

(58)

4. Struktur organisasi SMA Muhammadiyah kalosi

5. Keadaan guru dan siswa

Guru dan siswa keduanya merupakan faktor pendidikan yang masing-masing punya subyek pendidikan. Masing-masing memainkan peranan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Guru merupakan subyek dalam pelaksanaan pendidikan yang bertindak sebagai pendidik karena jabatan Guru yang ada dalam tanggungannya.

Dengan demikian, Abdurrahman (2000;7) Mengemukakan bahwa:

KOMITE SEKOLAH

KEPALA SEKOLAH SMA MUH. KALOSI

KAUR TU

WAKASEK BID. KESISWAAN

WAKASEK BID. KURIKULUM

WAKASEK BID.SARANA

WAKASEK BID.HUMAS

WALI-WALI KELAS

BPBKS

GURU-GURU

PESERTA DIDIK

(59)

“Guru ialah seorang anggota masyarakat yang berkompeten (cakap.mampu dan wewenang) dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat atau pemerintah untuk melaksanakan tugas, fungsi peranan serta tanggung jawab guru baik dalam lembaga pendidikan jalur sekolah maupun lembaga luar sekolah. Guru sebagai salah seorang unsur tenaga pendidikan dan sumber belajar yang utama, mempunyai tugas, fungsi dan tanggung jawab untuk membimbing,mengajar dan melatih siswa atau warga belajar.

Sardiman ( 1999:26 ) juga mengemukakan bahwa :

“Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar. Yang ikut berperan dalam pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan. Oleh karena itu guru yang merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan yang berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.

Kita lihat pengertian diatas, berarti guru itu bukan semata-mata sebagai pengajar,tetapi juga sebagai pendidik dan sekaligus pembimbing,yang memberikan pengarahan dan penuntun siswa dalam belajar. Jadi guru itu sebenarnya memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks didalam proses belajar mengajar, dalam peranannya untuk mengantarkan anak didiknya ketaraf yang dicita-citakan.

Sedangkan siswa merupakan obyek pendidikan yang menjadi sasaran dari aktivitas pendidikan. Jadi siswa adalah pribadi yang unik, senantiasa mengalami proses perkembangan dengan potensi yang di milikinya, di mana selalu membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang dewasa guru melalui pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait

Sampell yang digunakan pada penelitian ini adalah daun kacapiring ( Gardenia jasminoides Ellis), sampel kemudian dikeringkan ditempat yang tidak terkena sinar

Untuk maksud di atas, maka pada tahun 2021 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, kembali akan

Deskripsi fokus dalam penelitian ini yaitu:Pemahaman bersama, bagaimana proses komunikasi yang terjaling antar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Sinjai

Pada PT Eka Timur Raya Purwodadi Pasuruan ditemukan bahwa praktiknya memiliki beberapa kekurangan dalam penerapan sistem informasi akuntansi penjualan yaitu pada

informasi tentang operasi kontrol tidak memberikan subtansi yang dapat digunakan manajemen untuk mengevaluasi efektivitas kontrol suatu perusahaan Variabel Dependen (Y)

Pelayanan kefarmasian tersebut meliputi pelayanan swamedikasi terhadap pasien, melakukan pelayanan obat, melaksanakan pelayanan resep, maupun pelayanan terhadap perbekalan

Hasil Penelitian: Kejadian rinitis alergi pada anak dengan riwayat pemberian ASI eksklusif lebih rendah dari pada anak dengan riwayat pemberian susu formula

• E-govt adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi E-govt adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi pada organisasi pemerintah, baik dalam bentuk jaringan