SKRIPSI
OLEH
EGGY ANGGIA BATUBARA 170522028
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2022
PENGARUH SOSIALISASI PERPAJAKAN, PENERAPAN E-FILING, PELAYANAN FISKUS, DAN SANKSI ADMINISTRASI TERHADAP
TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PADA KPP PRATAMA MEDAN KOTA
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Penerapan E-Filing, Pelayanan Fiskus, Dan Sanksi Administrasi Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pada KPP Pratama Medan Kota ” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera UtaraMedan.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisanilmiah.
Apabila kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Agustus 2021 Yang membuatpernyataan
EGGY ANGGIA BATUBARA NIM :170522028
ABSTRAK
PENGARUH SOSIALISASI PERPAJAKAN, PENERAPAN E-FILING, PELAYANAN FISKUS, DAN SANKSI ADMINISTRASI TERHADAP
KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PADA KPP PRATAMA MEDAN KOTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sosialisasi perpajakan, penerapan e-filing, pelayanan fiskus, dan sanksi administrasi terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada KPP Pratama Medan Kota adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian ini berjumlah 100 orang wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Medan Kota.
Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sosialisasi perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Medan Kota.
Penerapan e-filing berpengaruh berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Medan Kota. Pelayanan fiskus berpengaruh berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Medan Kota. Sanksi administrasi berpengaruh berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Medan Kota. Sosialisasi perpajakan, penerapan e-filing, pelayanan fiskus, dan sanksi administrasi secara simultan berpengaruh berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Medan Kota.
Kata kunci : Sosialisasi Perpajakan, Penerapan E-filing, Pelayanan Fiskus, SanksiAdministrasi, Kepatuhan Wajib Pajak
ABSTRACT
THE EFFECT OF TAX SOCIALIZATION, APPLYING E-FILING, FISCUS SERVICES, AND ADMINISTRATIVE SANCTIONS TOWARDS TAXPAYER
COMPLIANCE AT KPP PRATAMA MEDAN KOTA
This study aims to determine the effect of tax socialization, application of e-filing, tax service services, and administrative sanctions on the level of compliance of individual taxpayers at KPP Pratama Medan City is an associative research with a quantitative approach. The sample of this study amounted to 100 individual taxpayers at KPP Pratama Medan City. The analysis technique used is multiple linear regression. The results of this study indicate that taxation socialization has a positive and significant effect on individual taxpayer compliance at KPP Pratama Medan Kota. The application of e-filing has a positive and significant effect on individual taxpayer compliance at KPP Pratama Medan Kota. Fiscal services have a positive and significant effect on individual taxpayer compliance at KPP Pratama Medan Kota. Administrative sanctions have a positive and significant effect on individual taxpayer compliance at KPP Pratama Medan Kota.
Socialization of taxation, application of e-filing, fiscus services, and administrative sanctions simultaneously have a positive and significant effect with individual taxpayer compliance at KPP Pratama Medan Kota.
Keywords : Socialization of Taxation, Implementation of E-filing, Fiscus Services, Administrative Sanctions, Taxpayer Compliance
KATA PENGATAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, anugrah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “ Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Penerapan E-Filing, Pelayanan Fiskus dan Sanksi Administrasi Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pada KPP Pratama Medan Kota”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratn dalam menyelesaikan pendidikan S1 dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi dan do’a dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada :
1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Rina Br Bukit, SE, M.Si, Ph.d, Ak, CA selaku Ketua Departemen S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ibu Risanty, SE., M.Si., Ak selaku sekretaris Departmen Program Studi Akuntansi Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Abdillah Arif Nasution, SE, M.Si, Ak selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran serta penuh perhatian dalam membimbing saya untuk menulis skripsi ini.
4. Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs.
Idhar Yahya, MBA, Ak selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan kritik dan saran membangun untuk perbaikan skripsi ini.
5. Teristimewa penulis sampaikan kepada kedua orang tua dan keluarga penulis yang telah memberikan doa dan dukungan dalam penelitian penulis dengan selalu bertanya setiap hari mengenai skripsi penulis.
6. Sahabat seperjuangan Annisa, Finka, Retno, Norman, Elma, Mifta, Adinda, serta teman-teman Akuntansi ekstensi kelas A stambuk 2017 yang telah memberikan semangat dan dukungan saat bertukar pikiran dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna dikarenakan keterbatasan penulis. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dalam penulisan kedepannya. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi banyak pihak yang membutuhkannya.
Medan,Agustus 2021 Penulis,
Eggy Anggia Batubara 170522028
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN...i
ABSTRAK... ii
ABSTRACT...iii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI...v
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR...ix
DAFTAR LAMPIRAN... x
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...8
1.3 Tujuan Penelitian...9
1.4 Manfaat Penelitian...9
BAB II TINJUAN PUSTAKA... 10
2.1 Tinjauan Teoritis...10
2.1.1 Kepatuhan Wajib Pajak... 10
2.1.2 Sosialisasi Perpajakan...12
2.1.3 E-filing...13
2.1.4 Pelayanan Fiskus... 14
2.1.5 Sanksi Administrasi...16
2.2 Penelitian Terdahulu...17
2.3 Kerangka Konseptual...22
2.4 Hipotesis... 23
BAB III METODE PENELITIAN...27
3.1 Jenis Penelitian... 27
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian...27
3.3 Batasan Operasional... 27
3.4 Definisi Operasional... 28
3.5 Skala Pengukuran Variabel...30
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian...30
3.6.1 Populasi... 30
3.6.2 Sample... 31
3.7 Jenis dan sumber data... 32
3.8 Metode Pengumpulan Data...32
3.9 Teknik Analisis Data... 32
3.9.1 Uji Instrument...32
3.9.2 Uji Asumsi Klasik... 34
3.9.3 Uji Regresi Linear Berganda... 36
3.9.4 Uji Hipotesis...37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...39
4.1 Gambaran Umum KPP... 39
4.2 Hasil Penelitian...44
4.2.1. Hasil Uji Keabsahan Data...44
4.2.2 Analisis Statistik Deskriptif...47
4.2.3 Hasil Uji Asumsi Klasik...53
4.2.4 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda...57
4.2.5 Hipotesis... 58
4.3Pembahasan... 62
4.3.1 Pengaruh Sosialisasi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak...62
4.3.2 Pengaruh Penerapan E-filing terhadap Kepatuhan Wajib Pajak...63
4.3.3 Pengaruh Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak... 64
4.3.4 Pengaruh Sanksi Administrasi terhadap Kepatuhan Wajib Pajak...64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...65
5.1 Kesimpulan...65
5.2 Saran... 65
DAFTAR PUSTAKA...67
LAMPIRAN...70
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Sumber Pendapatan Negara Indonesia...2
1.2 Tingkat Kepatuhan SPT Tahunan... 4
1.3 Research GAP... 7
2.1 Penelitian Terdahulu... 17
3.1 Definisi Operasional...28
4.2 Hasil Uji Validitas...45
4.3 Hasil Uji Reliabilitas... 46
4.4 Hasil Distribusi Kuesioner Kepatuhan Wajib Pajak... 47
4.5 Hasil Distribusi Kuesioner Sosialisasi Perpajakan...48
4.6 Hasil Distribusi Kuesioner Penerapan E-filing... 49
4.7 Hasil Distribusi Kuesioner Pelayanan Fiskus... 51
4.8 Hasil Distribusi Kuesioner Sanksi Administrasi...52
4.9 Hasil Uji Normalitas...53
4.10 Hasil Uji Multikolinearitas...55
4.11 Hasil Uji Uji Heteroskedastisitas... 56
4.12 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda... 57
4.13 Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 59
4.14 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)...60
4.15 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji �)... 61
DAFTAR GAMBAR
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual... 22
4.1 Wilayah Kerja Kanwil DJP Sumut I... 41
4.2 Struktur Organisasi Kanwil DJP Sumut I... 43
4.3 Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability Plot...54
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner penelitian...74
2 Hasil Distribusi Frequensi dan Presentase... 80
3 Uji Validitas Kepatuhan Wajib Pajak... 81
4 Uji Validitas Sosialisasi Perpajakan...82
5 Uji Validitas Penerapan E-filing...83
6 Uji Validitas Pelayanan Fiskus...84
7 Uji Validitas Sanksi Administrasi... 85
8 Uji Reliabilitas Kepatuhan Wajib Pajak...86
9 Uji Reliabilitas Sosialisasi Perpajakan...87
10 Uji Reliabilitas Penerapan E-filing...88
11 Uji Reliabilitas Pelayanan Fiskus...89
12 Uji Reliabilitas Sanksi Administrasi... 90
13 Uji Normalitas... 91
14 Uji Multikolinearitas... 92
15 Uji Heteroskedastisitas...93
16 Uji Analisi Regresi Linear Berganda... 94
16 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)...95
BAB I
PENDAHULUAN
4.1 Latar Belakang Masalah
Dalam mewujudkan pembangunan sebuah negara membutuhkan dana yang tidak sedikit. Peran perpajakan sangat penting bagi penerimaan negara untuk meningkatkan laju pertumbuhan. Pajak merupakan iuran wajib yang dipungut negara kepada wajib pajak, baik itu wajib pajak orang pribadi maupun badan dan bersifat memaksa. Iuran ini nantinya akan digunakan untuk membiayai semua keperluan negara, masyarakat tidak merasakan secara langsung manfaat dari pajak itu sendiri
Direktorat Jendral Pajak sebagai lembaga yang memiliki kewenangan terus menerus mencari berbagai cara dan melakukan banyak usaha agar dapat meningkatkann penerimaan pajak setiap tahunnya. Rata – rata penerimaan negara dari sektor pajak sendiri sebesar 80% dan 20% sisanya berasal dari sektor non pajak.
Tabel 1.1
Sumber PendapatanNegara Indonesia (dalam Milyar Rupiah Rupiah) Sumber
Penerimaan 2015 2016 2017 2018 2019
I. Penerimaan
Dalam Negeri 1.496.04
7 1.546.94
6 1.654.74
6 1.928.11
0 2.029.41 1. Penerimaan 7
Perpajakan 1.240.41
8 1.284.97
0 1.343.52
9 1.518.78
9 1.643.08 3 a. Pajak Dalam
Negeri 1.205.47
8 1.249.49
9 1.304.31
6 1.472.90
8 1.603.29 PPh 602.308 666.212 646.793 749.977 818.5643
PPN 423.710 412.213 480.724 537.267 592.790
PBB 29.250 19.443 16.770 19.444 18.864
BPHTB 0.30 0.50 1.20 0 0
Cukai 144.641 143.525 153.288 159.588 165.760 Pajak
Lainnya 5.568 8.104 6.738 6.629 7.314
b. Pajak
Perdagangan Internasional
34.939 35.470 39.213 45.881 39.500
Bea Masuk 31.212 32.472 35.066 39.116 37.500
Pajak Ekspor 3.727 2.998 4.417 6.765 2.290
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
255.628 261.976 311.216 409.320 386.333
Penerimaan
SDA 100.971 64.901 111.132 180.592 152.214
Bagian Laba
BUMN 37.643 37.133 43.904 45.060 79.681
Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya
81.697 117.995 108.834 128.574 103.781
Pendapatan
BLU 35.315 41.945 47.345 55.093 50.657
II. Hibah 11.973 8.987 11.629 15.564 1.340
Jumlah 1.508.02
0 1.555.93
4 1.666.37
5 1.943.67
4 2.030.75 Sumber : www.bps.go.id(data diolah kembali oleh Penulis) 7
Dari table 1.1 menunjukkansektorpajak merupakan penerimaan terbesar dibanding penerimaan dari lainnya diIndonesia. Penerimaan pajak
terus meningkat setiap tahunnya merupakan salah satu bukti adanya peningkatan kesadaran wajib pajak di Indonesia. Dari data diatas dapat dilihat penerimaan pajak terus naik. Pajak Penghasilan (PPh), PPn, PBB, Cukai dan pajak lainnya merupakan jenis pajak yang diberlakukan sebagai penerimaan perpajakan.
Masih banyaknya masyarakat yang tidak senang untuk membayar pajak dikarenakan kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat mengenai pentingnya dalam membayar pajak dikarenakan masyarakat tidak merasakan manfaat dan imbalan yang dapat dirasakan secara langsung.
Indonesia menganut sistem Self assessment, yaitu pemerintah memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, menyetorkan, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan jujur dan benar.
Pemerintah juga terus melakukan berbagai cara agar memberikan kemudahan dan pengetahuan kepada masyarakat, salah satunya pada tahun 2014 Direktorat Jendral Pajak juga meluncurkan sistem e-filing. E-filing sendiri merupakan suatu sistem untuk melaporkan SPT secara online. E- filing sendiri diciptakan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk melaporkan SPT tanpa harus datang ke kantor pajak.
Kemudian dengan memberikan sosialisasi, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi, pengetahuan mengenai perpajakan dan peraturan perpajakan yang berlaku.Beberapa cara ini merupakan cara yang dilakukan pemerintah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat
sehinggamenimbulkan kepatuhan akan kewajiban perpajakannya.Kepatuhan ini dapat berjalan dengan baikkarena adanya kemudahan dalam penerapannya.
Pada akhir Desember 2018 terdata KPP Pratama Medan Kota memiliki Wajib Pajak Orang Pribadi baik itu wajib pajak orang pribadi karyawan dan non karyawan sebesar 145.910 dan terus meningkat dari tahun 2015 s/d 2019.
Secara rinci table dibawah ini akan menggambarkan tingkatkepatuhan seorang WPOP dalam penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) wajib pajak orang pribadi.
Tabel 1.2
Tingkat Kepatuhan SPT Tahunan WPOP KPP Pratama Medan Kota 2015 – 2019
Jenis Wajib
Pajak Tahun
Wajib Pajak
TerdaftarWP Wajib SPT Realisasi
Orang Pribadi (OP)
Karyawan
2015 86.621 36.014 22.844
2016 92.569 42.848 24.043
2017 98.290 38.585 22.324
2018 102.597 39.131 19.927
2019 175.693 130.895 44.798
Orang Pribadi (OP)
KaryawanNon
2015 39.701 12.320 7.974
2016 39.708 11.823 8.755
2017 41.829 11.060 9.787
2018 43.313 11.716 11.276
2019 42.454 11.332 12.243
Sumber :KPP Pratama Medan Kota 2020
Dari table diatas dapat dilihat bahwa presentasi kepatuhan dalam penyampaian SPT pribadi dari tahun ketahun tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan, tidak sebanding dengan jumlah wajib pajak yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ini menunjukkan masih rendahnya tingkat kepatuhan wajib pajak dalam menyampaikan SPT Tahunannya dibandingkan dengan wajib pajak orang pribadi yang terdaftar wajib SPT Tahunan.
Pada tahun 2014 Direktorat Jendral Pajak meluncurkan sebuah sistem penyampaian SPT secara online atau disebut e-filing.e-filing juga merupakan upaya yang dilakukan DJP untuk memberikan kemudahan kepada wajib pajak untuk menyampaikan SPT nya. Dengan semakin canggihnya teknologi dan sistem yang dibuat DJP dibutuhkannya kegiatan sosialisasi. Sosialisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui media cetak, elektronik dan penyuluhan yang dilakukan sehingga wajib pajak paham.
Sosialisasi perpajakan bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan dan informasi mengenai perkembangan kemajuan dalam perpajakan, sehingga semakin sering diberikan maka akan semakin banyak wajib pajak yang mengerti mengenai perpajakan . Hal ini juga didukung oleh penelitian Komang (2019)”Aktivitas sosialisasi pajak yang semakin rutin pelaksanaannya maka semakin tinggi pula kepatuhan wajib pajak”.
Pelayanan fiskus juga merupakan hal yang penting dalam menggali penerimaan negara dimana apparat pajak harus senantiasa melakukan perbiakan kualitas pelayanan pajak. Salah satu hasil penelitian terdahulu tentang kualitas pelayanan fiskus membenarkan bahwa kualitas pelayanan yang diberikan petugas pajak juga cenderung patuh dalam membayar kewajiban perpajakannya (Susmita & Supadmi, 2016). harapan dari kualitas pelayanan yang baik adalah wajib pajak dapat memperoleh kemudahan dalam menyelesaikan kewajiban pajaknya. Pada akhirnya, pelayanan yang baik akan mendorong kesadaran wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban pajaknya sehingga kualitas pelayanan berdampak pada meningkatnya kepatuhan wajib pajak (Trianto, 2013).
Sanksi dikenakan bagi wajib pajak yang melanggar. Dengan dikenakan sanksi perpajakan terhadap wajib pajak yang melanggar, sehingga dapat menimbulkan efek jera pada wajib yang melanggar. Arif dan Nanik (2014) melakukan penelitian dengan hasil sanksi pajak berpengaruh positif, semakin tinggi atau beratnya sanksi, maka akan semakin merugikan wajib pajak.
Tabel 1.3 Research GAP Kepatuhan Wajib Pajak Variabel
Dependen Variabel
Independen Peneliti Hasil Penelitian
Kepatuhan Wajib Pajak
Sosialisasi Pajak
Fernando (2018) Berpengaruh Suarni (2018) Berpengaruh RA Meiska (2017) Berpengaruh Komang Dewi (2019) Berpengaruh Stefani Siahaan (2019) Tidak
berpengaruh
E-Filing
Berliana (2017) Berpengaruh Yuliano (2018) Berpengaruh Ahmad Burhan (2019) Berpengaruh Gusti (2018) Berpengaruh Puput Solekhah (2018) Tidak
berpengaruh
Pelayanan Fiskus
RA Meiska (2017) Berpengaruh Indra Lestari (2018) Berpengaruh Arif (2014) Berpengaruh Stefani Siahaan (2019) Berpengaruh
Sanksi Administrasi
Komang Dewi (2019) Berpengaruh Muhammad Imam
(2018) Berpengaruh
Jenita (2017) Berpengaruh Nur Ghailina (2018) Berpengaruh Indra Lestari (2018) Tidak
berpengaruh
Berdasarkan dari Research GAP diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul “Pengaruh sosialisasi perpajakan, penerapan E-filing, pelayanan fiskus, dan sanksi administrasi terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Medan Kota”.
4.2 Perumusan Masalah
Setelah dilihat dari latar belakang di atas, diperoleh perumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah sosialisasi perpajakan secara parsial berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak orang pribadi?
2. Apakah penerapan E-filingsecara parsial berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak orang pribadi?
3. Apakah pelayanan fiskussecara parsial berpengaruh pada kesadaran wajib pajak orang pribadi?
4. Apakah sanksi administrasi secara parsial berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak orang?
5. Apakah sosialisasi perpajakan, e-filing, pelayanan fiskus, dan sanksi administrasi secara simultan berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak orang pribadi?
4.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh sosialisasi perpajakan, penerapan e-filing, pelayanan fiskus dan sanksi administrasi terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi baik secara parsial maupun simultan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota tahun 2015 – 2019
4.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis, ini bisa sebagai wadah dalam mengembangkan dan mengaplikasikan langsung ilmu pengetahuan yang didapat oleh peneliti 2. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai sebuah referensi.
3. Bagi Direktorat Jenderal Pajak sebagai masukan dan evaluasi untuk perbaikan serta informasi yang berhubungan dengan penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan wajib pajak adalah suatu keadaan dimana seorang wajib pajak sudah memenuhi semua kewajiban perpajakannya dan melaksanakan hak perpajakannya(Nurmantu 2010:148). Menurutnya kepatuhan wajib pajak terbagi menjadi dua yaitu :
1. Kepatuhan Formal, yaitu suatu keadaan dimana wajib pajak sudah memenuhi semua kewajiban perpajakannya sesuai dengan undang – undang yang berlaku, misalnya dalam hal menyampaikan SPT Tahunan WPOP, wajib pajak sudah melaporkan SPTnya sebelum berakhir tahun pajak dan tidak melewati batas waktu yang sudah ditentukan.
2. Kepatuhan Material, Kepatuhan dimana wajib pajak harus memenuhi kepatuhan material terlebih dahulu sebelum memenuhi kepatuhan formal. Misalnya wajib pajak sudah mengisi SPT Tahunan PPh dengan baik, benar dan jujur.
Erly (2014: 97) Kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasikan dari :
Patuh terhadap kewajiban intern
Patuh terhadap kewajiban tahunan
Patuh terhadap ketentuan material dan formal.
Kepatuhan Wajib pajak adalah kepatuhan dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk menyetor kembali SPT, kepatuhan dalam menghitung dan pembayaran pajak terutang, dan kepatuhan dalam menbayar tunggakan, Siti (2013: 139)
Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu, pengetahuan, masyarakat Indonesia masih berat untuk membayarkan pajak dikarenakan pengetahuan yang masih sedikit dan berpikir bahwa membayar pajak merupakan beban.
Kemudian ada faktor Fiskus, pelayanan yang diberikan oleh fiskus sangat berpengaruh, semakin baik informasi yang diberikan maka semakin paham juga masyarakat akan pentingnya melakukan kewajiban perpajakan.
Dan Faktor Hukum Pajak dan Sanksi Perpajakan, sanksi diberikan untuk memberikan efek jera bagi WPyang melakukan pelanggaran, sehingga menimbulkan efek jera dan tidak mengulangi kesalahannya kembali.
Setelah melihat dari penjelasan diatasIndikator yang dapat digunakan menurut Undang – undang no 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah :
1. Kepatuhan untuk mendaftarkan dirisebagai wajib pajakk 2. Kepatuhan untuk menghitung pajak dengan benar, jujur 3. Kepatuhan untuk membayar pajak dengan tepat waktu
4. Kepatuhan untuk menyampaikan mengisi dan menyampaikan SPT.
5. Wajib Pajak tidak memiliki tunggakan pajak dan melunasi pajak terutang.
6. Melaporkan SPT masa PPh dengan tepat waktu.
7. Melaporkan SPT Masa PPn dengan tepat waktu 2.1.2 Sosialisasi Perpajakan
Sosialisasi Perpajakan merupakan cara pemerintah dalam memberikan pemahaman, pengetahuan dan informasi mengenai perpajakan baik itu mengenai peraturan perpajakan, tata cara pelaporan pajak dan metode yang tepat dan benar.
Menurut Mustafa (2010: 10) Sosialisasi adalah satu konsep umum dimaknakan sebagai proses dimana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berfikir, merasakan dan bertindak dimana kesemuanya itu merupakan hal hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi.
Menurut Toly dan Herryanto (2012) terdapat dua cara kegiatan sosialisasi yang bisa dilakukan :
1. Sosialisasi secara langsung, dilakukan dengan langsung berinteraksi dan betemu langsung wajib pajak
2. Sosialisasi secara tidak langsung, sosialisasi ini bisa melalui media elektronik dan media cetak.
Setelah mengetahui informasi mengenai sosialisasi perpajakan dari penjelasan diatas, kita sudah dapat mengukur sosialisasi dengan indikator
1. Penyuluhan, metode ini harus disampaikan langsung oleh DJP itu sendiri dan sesuai peraturan yang berlaku.
2. Media Informasi, Sosialisasi perpajakan bisa dilakukan dengan berbagai cara sehingga masyarakat mudah dalam mendapatkan informasi, salah satunya melalu media cetak dan media elektronik, media social (website Ditjen pajak)
3. Cara Sosialisasi, cara yang digunakan disini bisa berupa sebuah seminar yang disampaikan langsung oleh DJP atau melalui iklan, billboard
4. Tempat penyelenggaraan dilakukannya sosialisasi perpajakan.
2.1.3 E-Filing
E-Filling atau Electronic Filling System merupakan suatu system administrasi modern yangdiluncurkan oleh Direktorat Jendral Pajak dengan Nomor Kep-88/PJ/2004 pada tanggal 14 Mei 2004, Sistem administrasi ini digunakan dalam menyampaikan SPT dan dilakukan secara online melalui sistem online melalui websiteDJP.
E-Filing memberikan kemudahanpada semua wajib pajak dalam melaporkan SPT. Banyaknya manfaat dalam menggunakan e-filling salah satunya yaitu lebih cepat dalam melaporkan SPT kapan saja dan dimana saja asal terhubung dengan jaringan internet, data yang disampaikan WP selalu lengkap karena harus divalidasi terlebih dahulu, dan mengurangi penggunaan kertas dokumen dikarenakan data sudah terinput pada sistem.
Menurut Haryadi (2009: 53) komponen dasar dalam memilih E- Arsip yaitu kecepatan untuk memindahkan data kedalam sebuah sistem, keamanan dan kerahasian dalam menyimpan data sehingga membatasi siapa saja yang dapat mengakses arsip elektronik di dalam sebuah instansi atau lembaga.
Dari beberapa penjelasan diatas bisa digunakan sebagai indikator yang dapat digunakan sebagai pengukuran pada Penerapan E-filing, yaitu : 1. Kemudahan dalam penyampaian SPT dapat dilakukan dimana dan
kapan saja.
2. Menghemat biaya dalam pelaporan SPT
3. Data yang diisi selalu lengkap dikarenakan adanya proses validas 4. Keamanan data karena sudah menggunakan E-Arsip yang hanya bisa
diakses oleh pihak tertentu saja
5. Meminimalisir penggunaan kertas dalam pelaporan SPT 2.1.4 Pelayanan Fiskus
Undang-undang nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan Publik menyatakan bahwa pelayanan public adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga dan penduduk atas barang, jasa dan pelayanan administrasif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan adalah menyediakan atau memberikan suatu kebutuhan dengan baik, sedangkan fiskus adalah petugas pajak, jadi dapat disimpulakan bahwa pelayanan fiskus adalah cara
petugas pajak dalam memberikan, membantu atau menyiapkan segala yang dibutuhkan seseorang (wajib pajak).
Satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak adalah dengan memberikan pelayanan yang baik kepada wajib pajak sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan wajib pajak dalam mematuhi pelaksanaan perpajakan (Ningsih, 2015). Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kepada wajib pajak.
Pasuraman & Berry, 1985 menyatakan terdapat 5 jenis dimensi kualitas pelayanan, yaitu :
1. Kehandalan (Reability), kemampuan untuk memberikan pelayanan tepat, dan dapat dipercaya terutama dalam memberikan pelayanan secara tepat waktu.
2. Daya tanggap (Responsiveness), kemampuan atau keinginan karyawan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang dibutuhkan konsumen
3. Jaminan (Assurnace), memiliki pengetahuan, keramahan, dan kesopanan dan sifat dapat dipercaya untuk menghilangkan sifat keraguan konsumen sehingga merasa terbebas dari rasa bahaya dan resiko
4. Empati (Empathy), sikap karyawan maupun perusahaan utnuk perhatian dan memahami kebutuhan maupun kesulitan, komunikasi yang baik, kemudahan dalam berkomunikasi
5. Wujud nyata (Tangibles), meliputi tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan, dan sarana komunikasi dan lain – lain yang didapat dalam proses jasa.
Kepuasan wajib pajak atas kualitas pelayanan yang diberikan fiskus biasanya memberikan respon positif. Jika ketentuan perpajakan dibuat sederhana dan mudah dipahami oleh wajib pajak, maka pelayanan fiskus
atas hak dan kewajiban kepada wajib pajak dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien (Siregar dkk, 2012).
Semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan fiskus kepada wajib pajak maka semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
2.1.5 Sanksi Administrasi
Sanksi Administrasi merupakan hukuman yang didapat bagi wajib pajak yang melanggar dan tidak patuh akan kewajibannya. Sanksi diberikan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sudah sesuai dengan perundang-undangan perpajakan.
Menurut Mardiasmo, (2016: 62) sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan perundang – undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti, ditaati dan dipatuhi. Atau dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegahan agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.
Berikut ini beberapa sanksi administrasi yang didapat bagi wajib pajak yang melanggar :
1. Sanksi Pajak bunga, diberikan karena berhubungan dengan kewajiban pelaporan misalnya dikenakan terhadap yang tidak dan kurang bayar.
2. Sanksi Denda, sanksi ini merupakan sanksi yang diberikan karena terlambat menyampaikan SPT Pajak Penghasilan, tidak membuat atau tidak tepat waktu dalam membuat, mengisi, melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masanya.
3. Sanksi Kenaikan, sanksi ini diberikan karena tidak memberikan kebenaran akan data yang berhubungan dengan pembukuan, penyampaian data SPT tidak benar seperti Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Jabatan, ketika dilakukan pemeriksaan.
Tujuan dan manfaat dari sanksi adminstrasi ini untuk mengetahui apakah peraturan tersebut sudah ditaati, dipatuhi dan dilaksanakan. sanksi ini diberikan untuk mencegah agar tidak terjadi pelanggaranyang berlaku.
Sanksi dibuat untuk menciptakan kepatuhan dalam melaksanakan kewajibannya.
Dari penjelasan diatas mengenai apa saja yang termasuk dalam sanksi administrasi yaitu : sanksi berupa denda, bunga dan sanksi kenaikan yang dapat dijadikan sebagi indikator untuk melakukan pengukuran.
2.2 Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa referensi dari penelitian terdahulu anatra lain :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Nama Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Fernando Dan Anton Arisman (2018)
Variabel Dependen (Y) :
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Variabel Independen (X):
Sosialisasi Perpajakan (X1) Pengetahuan Perpajakan (X2) Sanksi Perpajakan (X3)
Variabel X1
berpengaruhterhadap variable Y, Variable X2 dan X3 tidak berpengaruh terhadap variableY.
Suarni Dan
Marlina Variabel Dependen (Y) :
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Variabel Independen (X):
Sosialisasi Perpajakan (X1) Kualitas Pelayanan Pajak (X2) Tarif Pajak (X3)
Variabel X1 berpengaruh positif terhadap variabel Y,
Variabel X2 danX3 tidak berpengaruh terhadap variable Y
R.A Meiska dan Dini Wahjoe (2017)
Variabel Dependen (Y) :
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Variabel Independen (X):
Pengetahuan Perpajakan (X1) Sosialisasi Perpajakan (X2) Pelayanan Fiskus (X3)
Secara parsial dan simultan variabel X1,X2, dan X3 berpengaruh positif terhadap Y
Komang dan Ni Luh (2019)
Variabel Independen (Y) Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Dependen (X) Penerapan e-filing (X1) Sosialisasi Perpajakan (X2) Sanksi Perpajakan (X3)
Secara parsial dan simultan X1, X2, X3 berpengaruh positif terhadap Y .
Stefani Siahaan danHalimatusyadiah (2018)
Variabel Independen (Y)
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)
Variabel Dependen (X) Kesadaran Wajib Pajak (X1) Sosialisasi Perpajakan (X2) Pelayanan Fiskus (X3) Sanksi Perpajakan (X4)
Variabel X1 dan X4
berpengaruh positif
terhadapvariable Y,
Variabel X2 dan X3 tidak berpengaruh terhadap Y
Berliana Ridhani
dan Fadjar
Harimurti (2017)
Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y) Variabel Independen (X):
Penerapan E-Filing (X1) Kesadaran Wajib Pajak (X2)
Secara parsial dan simultan variabel X1 dan X2 berpengaruh positif terhadap Y.
Yuliano dan M Budiantara
(2018)
Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi PNS (Y)
Variabel Independen (X):
Penerapan E-Filing (X1) Pemahaman Internet (X2)
Variabel X1 berpengaruh positif terhadap variabel Y,
Variabel X2 tidak berpengaruh terhadap variable Y.
Ahmad dan
Febrian (2019) Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Independen (X):
Penerapan E-Filing (X1) Pengetahuan Perpajakan (X2) Kesadaran Wajib Pajak (X3)
Variabel X1 dan X3
berpengaruh positif terhadap Y Variabel X2 tidak berpengaruh terhadap variable Y.
Gusti dan Ni
Ketut (2018) Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Independen (X):
E-Registration (X1) E-Billing (X2)
Penerapan E-Filing (X3)
Variabel X1, X2, dan X3 secara simultan berpengaruh positif terhadap variable Y
Puput Solekhah dan Supriono (2018)
Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)
Variabel Independen (X):
Penerapan E-Filing (X1) Pemahaman Perpajakan (X2) Kesadaran Wajib Pajak (X3) Sanksi Wajib Pajak (X4)
Variabel X3 dan X4
berpengaruh positif terhadap variabel Y,
Variabel X1 dan X2 tidak berpengaruh terhadap variabelY,
Komang dan Ni
Luh (2019) Variabel Independen (Y) Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Dependen (X) Penerapan e-filing (X1) Sosialisasi Perpajakan (X2) Sanksi Perpajakan (X3)
Secara parsial dan simultan
variabel X1, X2, X3
berpengaruh positif terhadap variabel Y .
Muhammad Imam dan Dedi (2018)
Variabel Independen (Y)
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)
Variabel Dependen (X) Administrasi Perpajakan (X1) Sanksi Perpajakan (X2)
Variabel X1 dan X2 secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Y
Arif dan Nanik
(2014) Variabel Independen (Y) Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Dependen (X) Sanksi Pajak (X1)
Pelayanan Aparat Pajak (X2)
Secara Signifikan X1 dan X2 berpengaruh positif terhadap Y
Indra Lestari
(2018) Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)
Variabel Independen (X) Kesadaran Wajib Pajak (X1) Sanksi Pajak (X2)
Sosialisasi Pajak (X3) Kualitas Pelayanan (X4)
Variabel X1, X2, X3 tidak berpengaruh terhadap variabelY, VariabelX4 berpengaruh positif terhadap variabel Y.
Warongan dan
Johanes (2017) Variabel Dependen (Y)
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)
Variabel Independen (X) Pemahaman Wajib Pajak (X1) Kesadaran Pajak (X2)
Sanksi Perpajakan (X3) Pelayanan Fiskus (X4)
Variabel X1, X2, X3
berpengaruh positif terhadap variabel Y,
Variaebl X4 tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
Jenita dan Joana
(2017) Variabel Dependen (Y) Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Variabel Independen (X) Kesadaran Wajib Pajak (X1) Sanksi Perpajakan (X2) Sikap Fiskus (X3)
Secara parsial dan simultan X1, X2, dan X3 berpengaruh positif terhadap Y
Nur Ghailina dan
Teguh (2018) Variabel Dependen (Y):
Kepatuhan WPOP (Y) Variabel Independen (X):
Pemahaman peraturan perpajakan (X1)Kualitas Pelayanan (X2)
Kesadaran Wajib Pajak (X3) Sanksi Pajak (X4)
Variabel X1 dan X4
berpengaruh positif terhadap variabel Y,
Variabel X2 dan X3 tidak berpengaruh terhadap variabel Y
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Dengan adanya kerangka ini untuk memberikan kemudahan kepada pembaca agar lebih mudah memahami bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh variabel. Ketiga variabel dalam penelitian ini ditunjukkan dalam kerangka berikut ini.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Sosialisasi Perpajakan (X1)
Penerapan E-Filing (X2)
Pelayanan Fiskus (X3)
Sanksi Administrasi
Kepatuhan Wajib Pajak
(Y) H4
H3
H2
H1
H5
2.4 Hipotesis
Hipotesis adalah hasil sementara yang masih harus dibuktikann kebenarannya, berikut hipotesis sementara :
2.4.1 Pengaruh Sosialisasi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Sosialisasi Perpajakan merupakan cara pemerintah dalam memberikan pemahaman, pengetahuan dan informasi mengenai perpajakan baik itu mengenai peraturan perpajakan, tata cara pelaporan pajak dan metode yang tepat dan benar
Menurut Sudrajat (2015) sosialisasi perpajakan berarti suatu upaya yang dilakukan untuk memberikan informasi mengenai perpajakan yang bertujuan agar seseorang paham. Jika seseorang diberikan pemahaman yang baik dan benar melalui sosialisasi, maka wajib pajak akan memiiki pengetahuan.
Hal ini kemudian didukung dengan Penelitian Fernando dan Anton Arisman (2018) menyimpulkan sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Semakin tinggi sosialisasi yang diberikan, maka kepatuhan wajib pajak makin tinggi.
H1: Sosialisasi perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap kepatuhan wajib pajak
2.4.2 Pengaruh Penerapan E-Filing terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
E-filing merupakan cara yang modern dalam menyampaikan surat pemberitahuan SPT secara online melalui website yang sudah disediakan oleh DJP. E-filing merupakan media yang disediakan utnuk mempermudah wajib pajak, dengan e-filing juga pelaporan pajak bisa dilakukan dimana saja asalkan terhubung dengan internet.
Penelitian Berliana, Fadjar dan Suharno (2017) membuktikan Penerapan E-filing berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak.
Dengan e-filing penyampaian SPT menjadi semakin cepat, dan praktis, dan dapat menciptakan sikap positif dan patuh.
H2: Penerapan e-filing berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap kepatuhan wajib pajak
2.4.3 Pengaruh Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Nisa (2002) menyatakan bahwa pelayanan yang baik kepada wajib pajak akan membangun image positf dalam diri wajib pajak, sehingga,mereka tidak jera berhubungan dengan apatur negara. Kualitas pelayanan fiskus merupakan sikap melayani petugas pajak kepada wajib pajak, dalam pelayanannya diharapkan wajib pajak terbantu dalam urusan perpajakannya. Semakin berkualitas sebuah pelayanan ditandai dengan kepuasan wajib pajak yang terpenuhi.
Penelitain terdahulu terkait dengan kualitas pelayanan fiskus dilakukan oleh Sari dan Findiana, 2017 menyatakan bahwa pelayanan
fiskus memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Fiskus yang memiliki kompetensi keahlian, pengetahuan, pengalaman dalam hal kebijakan perpajakan, administrasi pajak dan perundang – undangan perpajakan inilah yang diukur untuk melihat bagaimana fiskus dapat memberikan mutu pelayanan terbaik bagi wajib pajak
H3: Pelayanan Fiskus berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap kepatuhan wajib pajak
2.4.4 Pengaruh Sanksi Administrasi tehadap Kepatuhan Wajib Pajak Sanksi administrasi merupakan hukuman yang didapat bagi wajib pajak yang melanggar dan tidak patuh akan kewajibannya. Sanksi diberikan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sudah sesuai dnegan perundang-undnagan perpajakan.
Pendapat Mulder (2018) meyatakan bahwa pemberian sanksi yang lebih berat lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan.Hal ini didukung oleh Arif dan Ninik (2014) semakin tinggi dan berat sanksi yang diberikan maka akan semakin merugikan wajib pajak.
H4: Penerapan Sanksi Administrasi berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap kepatuhan wajib pajak
2.4.5 Pengaruh Sosialisasi, Penerapan E-Filling, Pelayanan Fiskus dan Sanksi Administrasi Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan wajib pajak itu sendiri merupakan keadaan dimana seorang
kewajibannya sebagai wajib pajak. Kepatuhan wajib pajak ini dapat berjalan dengan baik karena adanya kemudahan dalam penerapannya.
Berdasakan pada penelitian I Putu dan Ketut Budiartha (2020) dengan variabel Independen e-filing, kualitas pelayanan, kesadaran wajib pajak, dan sanksi perpajakan dengan variabel dependen Kepatuhan wajib pajak, menunjukkan pengaruh positif dan signifikan.
H5: Sosialisasi Perpajakan, penerapan e-filing, pelayanan fiskusdan sanksi administrasi berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap kepatuhan wajib pajak
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian menggunakan penelitian data kuantitatif. Penelitian ini bermaksud mengkaji pengaruh diantara variabel bebas (Independen) mempengaruhi variabel terikat (Variabel Dependen).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan di KPP Pratama Medan Kota yang bertempat di Gedung Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I, Jl.Sukamulia No.17A, Kec.Medan Maimun, Kota Medan (20152). Dimulai pada bulan November sampai selesai.
3.3 Batasan Operasional
Dilakukan pembatasan operasional dengan tujuan agar variabel yang diukur lebih jelas dan terarah.
1. Penelitian dilakukan pada KPPP Pratana Medan Kota periode 2015 – 2019
2. Kepatuhan Wajib Pajak (Y) dijadikan sebagai variable terikat (dependen) .
3. Sosialisasi Perpajakan (X1), Penerapan E-Filing (X2), Pelayanan Fiskus (X3), dan Sanksi Administrasi (X4), pada penelitian ini sebagai Variabel Independen (bebas)
3.4 Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Variabel Definisi
Operasional Dimensi Indikator Skala
Variabel Dependen : Kepatuhan Wajib Pajak (Y)
Kepatuhan wajib
pajak adalah
kepatuhan dalam mendaftarkan,
menyetorkan,
menghitung dan membayar
tunggakan pajak (Siti Kurnia Rahayu 2013:139)
Kepatuhan
Formal Kepatuhan mendaftarkan diri sebagai wajib pajak
Kepatuhan untuk
menghitung pajak dengan benar, jujur
Kepatuhan untuk
membayar pajak dengan tepat waktu
Kepatuhan untuk
menyampaikan dan mengisi
SPTWajib pajak tidak memiliki tunggakan pajak dan melunasi pajak terutang
Melaporkan SPT masa PPH dengan tepat waktu
Melaporkan SPT Masa PPn dengan tepat waktu.
Likert
Variabel Independen : Sosialisasi Perpajakan (X1)
Sosialisasi adalah proses dimana kita belajar melalui interaksi, cara berfikir, merasakan dan bertindak dimana kesemua itu merupakan hal – hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi (Mustafa 2010)
Penyuluhan
Cara Sosialisasi
Tempat
Penyelanggaraan
Media
Penyuluhan untuk menyampaiakan peraturan yang berlaku
Cara sosialisasi bisa dengan
seminar, brosur,
penyuluhan
Tempat penyuluhan
Media yang digunakan bisa berupa media cetak dan elektronik.
Likert
Penerapan E-
filing (X2) E-filing merupakan cara penyampaian SPT yang dilakukan secara online yang real-time melalui
website DJP
(www.pajak.go.id)
Kepraktisan pelaporan SPT
Kualitas Sistem
Keamanan penyimpanan data
Penyampaian SPT dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja
Menghemat Biaya dalam pelaporan SPT
Kemudahan dalam mengisi
SPTData selalu lengkap
Keamanan data
Meminimalisisr penggunaan kertas
Likert
Pelayanan
Fiskus (X4) Pelayanan Fiskus adalah cara petugas
pajak dalam
membantu,
mengurus dan
menyiapkan atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan
seseorang (dalam hal ini adalah wajib pajak) (jatmiko, 2006).
Kehandalan (Reability)
Daya Tanggap (Responsiveness)
Jaminan (Assurnace)
Empati (Empathy)
Wujud Nyata (Tangibles).
Ketepatan waktu dan kemampuan petugas dalam pelayanan
Kesigapan, sikap, dan ketersedian petugas
Keramahan, kesopanan, perasaan aman serta pengetahuan petugas
Pemahaman dan perhatian petugas.
Skala Likert
3.5 Skala Pengukuran Variabel
Penelitian ini menggunakan dari Skala Ukur Sikap yaitu Skala Likert. Skala Likert yaitu : skala berdasarkan pada banyaknya jumlah responden dalam menjawab semua pernyataan pada kuesioner yang diajukan peneliti yang berdasarkan indikator. Skala Likert yang digunakan disini menggunakan empat jawaban dengan pilihan jawaban Setuju (S), Sangat Setuju (SS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STJ).
3.6 Populasi dan Sample Penelitian 3.6.1 Populasi
Menurut Sanusi (2016 : 87)”populasi menyeluruhi kumpulan elemen meliputi jumlah dan terdapat karakteristik tertentu pada kumpulan itu”.
Populasi pada penelitian ini merupakan Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Kota dan sedang melaporkan kewajiban perpajakannya.
Sanksi Administrasi (X4)
Sanksi Administrasi merupakan hukuman jaminan bahwa ketentuan perundang –undanganperpajakan akan dituruti, ditaati dan dipatuhi, atau
sebagai alat
pencegahan (Mardiasmo 2016)
Sanksi bunga
Sanksi Denda
Sanksi Kenaikan
Sanksi administrasi dikenakan kepada wajib pajak yang terlambat membayar
Meningkatkan kepatuhan wajib pajak
Menciptakan kedisiplinan terhadap wajib pajak
Sanksi yang diberikan atas pelanggaran tanpa toleransi
Sanksi harus diterapkan dengan tegas
Likert
3.6.2 Sampel
Sampel penelitian merupakan bagian dari jumlah populasi yang terdapat pada populasi dan sudah sesuai dengan karakteristik dari objek yang diteliti. Penelitian ini menggunakan accidental aampling dengan rumus Slovin dengan.
Accidental Sampling yaitu merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan secara kebetulan dan dapat digunakan sebagai sampel dan cocok sebagai sumber data. Berikut rumus slovin dalam menentukan jumlah sampel :
� = �
1 + �(���)2 Keterangan :
n = Jumlah Responden N = Ukuran Populasi
Moe = Margin of error (ditentukan 10%)
Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 145.910 wajib pajak orang pribadi yang terdaftar, tingkat kesalahan atau standar error yang bisa ditolerir dalam penelitian ini adalah 10% yang ditentukan peneliti, maka jumlah sample untuk penelitian ini adalah :
� = 145.910
1 + 145.910 10% 2
3.7 Jenis Dan Sumber Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan jenis data primer. Dengan data primer yaitu dengan survei langsung dari sumber aslinya yaitu wajib pajak yang terdaftar dan seadang melaksanakan kewajibannyadi KPP Pratama Medan Kota. Dengan membagikan sebuah angket atau kuesioner dan menerima jawaban dari responden.
3.8 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode angket (kuesioner). Menyebarkan kuesioner kepada wajib pajak yang sedang melaporkan kewajiban perpajakannya sehingga peneliti mendapat responden dari wajib pajak. Peneliti juga memanfaatkan internet dengan mengunjungi website yang mendukung, studi kepustakaan, dan artikel – artikel yang terkait masalah yang sedang diteliti.
3.9 Teknik Analisis Data
Untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang bisa mendeskripsikan tujuan dari penelitian maka dilakukan analisis dan diuji dengan beberapa metode. Untuk pengujian data agar memeperoleh hasil penelitian.
3.9.1 Uji Instrument 1. Uji Validitas
Uji Validitas ini merupakan sebuah alat untuk menentukan apakah data yang di dapat sudah sesuai. Suatu angket atau kuesioner valid apabila jawaban dari responden mampu memberikan informasi yang nantinya dapat diukur. Ini berarti jika sebuah instrument tersebut dapat mengukur apa yang harus diukur maka data tersebut valid. Untuk mengukur validitas
rumus yang digunakan untuk mencari nilai korelasi adalah Pearson Product Moment.
Pearson Product Moment adalah salah satu uji korelasi yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih dari dua.
Sebuah kuesioner dikatakan valid apabila r hitung > atau = r, sebaliknya apabila r hitung < maka data butir valid. Adapun rumus sebagai berikut :
� = � Σ�� −(Σ�Σ�) NΣX2− ∑X 2 NΣY2− ∑Y2
Keterangan :
r : Koefisien Korelasi N : Nilai Sample X : Skor Butir Y : Skor Total
∑XY :Perkalian Variabel XY
∑X2 : Jumlah Kuadrat Variabel X
∑Y2 : Jumlah Kuadrat Variabel Y 2. Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas ini berguna untuk mengukur dan melihat apakah responden konsisten dan stabil dalam menjawab pernyataan yang berkaitan dengannkuesioner yang berkaitan dengan variable – variable. Dalam
penelitian ini penulis menggunakan pengukuran Cronbanch’s Alpha, yaitu pengukuran ini dilakukan sekali dan kemudian dibandingkan dengan jawaban dari pertanyan yang lain, pengujian ini dilakukan dalam setiap pertanyaan dari variabel. Adapun rumusnya sebagai berikut
α = k
k − 1 1 −∑si2 st2 Keterangan :
α : Koefisien Alfa
k : Banyaknya Butir Kuesioner
∑st2 : Banyaknya Varian Kuesioner St2 : Jumlah Total Varian
N : Jumlah Responden 3.9.2 Uji Asumsi Klasik
Tujuan penggunaan uji asumsi klasik yyaitu memastikan bahwa hasil estimasi dari regresi lebih pasti, tidak bias dan memberikan perkiraan yang sesungguhnya. Pelanggaran asumsi-asumsi dan uji – uji yang akan dilakukan guna memenuhi kriteria asumsi klasik adalah dengan cara berikut.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk mengethaui apakah suatu data bernilai normal atau tidak.Uji normalitas ini merupakan syarat apakah data tersebut layak untuk dianalisis. Jika sebuah data bisa lolos dalam
pengujian uji normalitas maka data tersebut normal dan dapat digunakan pada statistic parametric, namun sebaliknya apabila data tidak normal maka data diuji dengan statistik nonparametric.
Uji Normalitas data dapat juga cara yaitu, uji Kolmogorov- Smirnov,untuk mengetahui suatu data residual berdistribusi dengan nilai normal atau tidak. Dengan pedoman pengambilan keputusan :
Nilai sig atau signifikansi atau nilai probabilitas <0,05 distribusi adalah tidak normal
Nilai sig atau signifikansi atau nilai profitabilitas >0,05 distribusi adalah normal
2. Uji Multikolinearitas,
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Independen) atau tidak. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas (Gozhali, 2006). Untuk mendeteksi adanya multikolonieritas dengan melihat nilai tolerance dan nilai variance inlation factor (VIF). Untuk mendeteksi adanya multikolonieritas dapat dilakukan dengan dua ketentuan.
Apabila tingkat tolerance diatas 0,1 dan VIFkurang dari 10 dapat ditarik kesimpulan tidak terdapat bebas dari multikolinearitas.
Apabila tingkat tolerane dibawah 0,10 serta VIF diatas 10 dapat ditarik kesimpulan terdapat multikolinearitas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini untuk mengetahui apakah ada ketidaksamaan varian dari satu pengamatan dengan lainnya. Pengujian ini dilakukan dengan uji Glejser.
4. Uji Lineritas,
Uji ini berguna untuk melihat apakah terdapat hubungan linear atau tidak secara signifikan. Uji ini digunakan sebagai syarat dalam analisis korelasi atau regresi linear.
3.9.3 Uji Regresi Linear Berganda
Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda.
Untuk mengetahui apakah satu atau lebih variabel X berpengaruh terhadap variabel Y. Persamaan yang diperoleh untuk mengestimasi nilai y adalah :
Y = α + β1X1+ β2X2+ β3X3 +β4X4+ e Keterangan :
Y : Kepatuhan wajib pajak Β : Konstanta
β1-β2 : Koefisien Regresi X1 : Sosialisasi Perpajakan X2 : Penerapan E-Filing X3 : Kesadaran Wajib Pajak X4 : Sanksi Administrasi e : Error
3.9.4 Uji Hipotesis
Uji ini digunakan untuk mengetahui penelitian akan dilakukan pengujian terhadap hipotesis. Pengujian ini untuk membuat keputusan apakah hipotesis bisa diterima atau tidak.
1. Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Menurut Gazali (2013) pengujian signifikasi secara simultan bertujuan untuk melihat signifikansi pengaruh seluruh variabel x (independen) secara bersama – sama terhadap variabel y (dependen). Dasar pengambilan keputusan yakni :
Jika probability F dibawah 0,05 maka seluruh variabel X secara simultan berpengaruh terhadap variabel Y.
Bila probability F diatas 0,05 maka seluruh variabel X secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
2. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Tujuan pengujian ini untuk mengukur berapa besar presentasi pengaruh besarnya dari seluruh variabel X terhadap variabel Y. Nilai maksimal koefisen ini adalah 1 dan terendah adalah 0. Apabila nilai adjusted R2mendekati 1 maka dapat dijadikan indikator sebagai variable independen yang dapat memprediksi dari variabel dependen.
Data silang biasanya memiliki nilai adjusted R2 yang lebih rendah dibandingkan dengan data time series (Ghozali, 2013). Jika nilai adjusted
variabel X pada taraf yang sangat rendah dan apabila nilai koefisiennya negatif itu akan dianggap 0(Ghozali,2013).
3. Uji Signifikansi Parsial (Uji T)
Untuk mengetahui pengaruh dari setiap variable X terhadap variable Y dapatdilakukan dengan uji parsial (uji t). Berikut dasar pengambilankeputusan uji t.
a. Apabila nilai t dari hasil regresi (t hitung) diatas nilai tyang tertera di tabel serta probability di bawah 0,05 maka variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
b. Apabila nilai t dari hasil regresi (t hitung) dibawah nilai t yang tertera di tabel serta probability di atas 0,05 makavariabel X tidak berpengaruh terhadapvariabel Y.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum KPP
4.1.1 Profil Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota
Kantor Pelayanan Pajak sebenarnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, Kantor Pelayanan Pajak disebut dengan Blasting.
Namun setelah kemerdekaan, sebutannya berubah menjadi Kantor Inspeksi Keuangan, lalu berubah lagi menjadi Kantor Inspeksi Pajak dengan induk organisasinya adalah Direktorat Jenderal Pajak Keuangan Indonesia.
Pada tahun 1976 di Sumatera Utara berdiri tiga kantor Inspeksi Pajak, yaitu :
a. Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan b. Kantor Inspeksi Pajak Medan Utara c. Kantor Inspeksi Pajak Pematang Siantar
Pada tahun 1978, Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan dipecah menjadi dua, yaitu Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan dan Kantor Inspeksi Pajak Kisaran. Selain itu untuk memudahkan pelayanan dan administrasi perpajakan bagi masyarakat, serta untuk memudahkan pelayanan dan administrasi perpajakan bagi masyarakat, serta untuk menambah besarnya penerimaan pajak, dibentuklah Kantor Inspeksi Pajak
juga diadakan perubahan secara menyeluruh pada Direktorat Jendral Pajak yang mencakup reorganisasi dan perubahan nama Kantor Inspeksi Pajak menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) melalui Keputusan Menteri Keuangan nomor 267/KMK.01/1978.
Berdasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan nomor 758/KMK.01/1978 tanggal 3 Agustus 1993, pada tanggal 1 April 1994 didirikan Kantor Pelayanan Medan Timur, sehingga Kantor Pelayanan Pajak berubah menjadi empat wilayah, yaitu:
a. Kantor Pelayanan Pajak Medan Selatan b. Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat c. Kantor Pelayanan Pajak Medan Utara d. Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor 62/KMK.01/2009 tentang organisasi dan tata kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, maka wilayah DJP Sumut I dibagi menjadi Sembilan Wilayah kerja, yaitu :
KPP Madya Medan Sebagian wilayah Provinsi sumateraUtara
KPP Pratama Medan Timur
KPP Pratama Medan Barat
Kecamatan Medan Timur
Kecamatan Medan Tembung
Kecamatan Medan Perjuangan
Kecamatan Medan Barat
KPP Pratama Medan Kecamatan Medan Petisah
Kecamatan Medan Sunggal
Kecamatan Medan Helvetia
KPP Pratama Medan Kota
Kecamatan Medan Kota
Kecamatan Medan Denai
Kecamatan Medan Area
Kecamatan Medan Amplas
KPP Pratama Medan
Kecamatan Medan Polonia
Kecamatan Medan Maimun
Kecamatan Medan Baru
Kecamatan Tuntungan
Kecamatan Medan Selayang
Kecamatan Medan Johor
KPP Pratama Medan Belawan
Kecamatan Medan Belawan
Kecamatan Medan Marelan
Kecamatan Medan Labuhan
Kecamatan Medan Deli
KPP Pratama Binjai Kota Binjai
Kabupaten Langkat
KPP Pratama Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Gambar 4.1
Wilayah Kerja Kanwil DJP Sumut I
Adapun sejarah singkat dari Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota adalah sebagai berikut :
Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota merupakan hasil perpecahan dari kantor Pelayanan Pajak Medan Timur yang berdasarkan kepada :
a. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 443/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001
b. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 58/KMK.02/2002 tanggal 26 Februari 2002.
Kantor pelayanan pajak mengalami perluasan bertujuan agar pelayanan kepada masyarakat dapat dijalani secara efektif dan efisiensi serta diharapkan dapat menambah penerimaan pajak negara.
Kantor Pelayanan Pajak Medan berganti namanya menjadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota pada tanggal 27 Mei 2008 sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan nomor 131/PMK.01/2006 tentang organisasi dan tata kerja Departmenen Keuangan sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan PMK nomor 54/PMK/01/2007 dan berdasarkan PMK no 132/PMK.01/2006 tentang organisasi dan tata kerja nstansi vertical DJP selanjutnya diubah dengan PMK nomor 67/PMK.01/2008. Dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota saat ini adalah Drs.Augus Hendra Simatupang, Ak.,M.Si,M.H.
4.1.2 Struktur Organisasi KPP Pratama Medan Kota
Struktur ini menggambarkan fungsi dan tugas oleh setiap jabatan yang ada sehingga masing-masing jabatan mengemban tanggungjawab dan wewenang yang diterima. Berikut adalah struktur organisasi pada KPP Pratama Medan Kota.
Gambar 4.2
Struktur Organisasi KPP Pratama Medan Kota KEPALA KANTOR
SEKSI PENGAWASAN DAN KONSULTASI
II SEKSI
PENGAWASAN DAN KONSULTASI
I
SEKSI PENGELOLAAN
DATA DAN INFORMASI SUB BAGIAN UMUM
DAN KEPATUHAN INTERNAL
SEKSI PENGAWASAN KONSULTASI IVDAN SEKSI
EKTENSIFIKASI PENYULUHANDAN
SEKSI
PELAYANAN SEKSI PENAGIHAN
SEKSI PENGAWASAN KONSULTASI IIIDAN
SEKSI PEMERIKSAAN
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
4.1.2 Visi dan Misi KPP Pratama Medan Kota 1. Visi
Menjadi Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota menjadi KPP Pratama tercepat mencapai target 100%.
2. Misi
Melalui sinergi, kerja keras, kerja cerdas, kerja ringkas, dan kerja ikhlas kita capai target penerimaan.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Hasil Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah uji ketepatan atau ketelitian suatu alat ukur (kuesioner) yang digunakan dalam pengumpulan data yang diperoleh dengan cara mengkorelasi setiap skor variabel jawaban responden dengan total skor masing-masing variable. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Corelation.
Suatu butir pertanyaan dikatakan valid apabila nilai korelasi Rhitung>
Rtabel. Pada item kuesioner penelitian ini menggunakan tingkat signifikan adalah α = 5% atau 0,05, sehingga diperoleh nilai rtabel sebesar 0,361.
Hasil dari pengujian tersebut sebagai berikut :
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas
Variabel Item
Kuesioner Rhitung Rtabel Keterangan Kepatuhan Wajib Pajak
(Y) Y1.1 0,764 0.361 Valid
Y1.2 0,616 0.361 Valid
Y1.3 0,738 0.361 Valid
Y1.4 0,808 0.361 Valid
Y1.5 0,809 0.361 Valid
Y1.6 0,921 0.361 Valid
Sosialisasi Perpajakan
(X1) X1.1 0,833 0.361 Valid
X1.2 0,769 0.361 Valid
X1.3 0,712 0.361 Valid
X1.4 0,83 0.361 Valid
X1.5 0,617 0.361 Valid
X1.6 0,741 0.361 Valid
X1.7 0,745 0.361 Valid
Penerapan e-filling (X2) X2.1 0,825 0.361 Valid
X2.2 0,756 0.361 Valid
X2.3 0,85 0.361 Valid
X2.4 0,809 0.361 Valid
X2.5 0,824 0.361 Valid
X2.6 0,555 0.361 Valid
X2.7 0,835 0.361 Valid
X2.8 0,778 0.361 Valid
Pelayanan Fiskus (X3) X3.1 0,727 0.361 Valid
X3.2 0,682 0.361 Valid
X3.3 0,643 0.361 Valid
X3.4 0,658 0.361 Valid
X3.5 0,554 0.361 Valid
X3.6 0,646 0.361 Valid
Sanksi Administrasi (X4) X4.1 0,718 0.361 Valid
X4.2 0,609 0.361 Valid
X4.3 0,619 0.361 Valid
X4.4 0,776 0.361 Valid
X4.5 0,713 0.361 Valid
Sumber: Data SPSS yang Diolah Peneliti, 2021
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa besarnya koefisien korelasi dari
maka dapat disimpulkan bahwa seluruh butir pertanyaan pada penelitian ini dinyatakan valid yang berarti layak untuk digunakan sebagai instrument dalam pengukuran data penelitian.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabitas digunakan sebagai alat untuk mengukur konsistensi dari sebuah instrument penelitian. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel apabila jawaban seorang responden terhadap pertanyaan yang diajukan konsisten atau stabil. Pada penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan uji statistic Cronbach Alpha. Menurut kriteria Ghozali (2006), variabel atau konstruksi dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha> 0,60, sedangkan cronbach alpha<0,60 maka instrument tersebut tidak reliabel.
Hasil pengujian reliabilitas pada kuesioner penelitian ini sebagai berikut : Tabel 4.3
Hasil Uji Reliabilitas
Sumber: Data SPSS yang Diolah Peneliti, 2021
Berdasarkan hasil dari tabel diatas menunjukkan bahwa seluruh instrument kuesioner dalam pengujian reliabilitas tersebut memiliki nilai
Variabel Nilai Cronbach alpha Keterangan
Kepatuhan Wajib Pajak (Y) 0,917 Reliabel
Sosialisasi Perpajakan (X1) 0,917 Reliabel
Penerapan e-filling (X2) 0,935 Reliabel
Pelayanan Fiskus (X3) 0,858 Reliabel
Sanksi Administrasi (X4) 0,865 Reliabel