• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESAIN PENGKARYAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV DESAIN PENGKARYAAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

48 BAB IV

DESAIN PENGKARYAAN 4.1 Identitas Pengkaryaan

Gambar 1, Poster Film Dokumenter Dendam Kesumat

Film “Dendam Kesumat” merupakan salah satu karya film dokumenter yang mengulas problematika tentang isu di Banyuwangi pada tahun 1998 tepatnya berlokasi di Desa Gintangan. Dalam film dokumenter ini, pengkarya ingin menyampaikan sebuah perjalanan hidup dari anak korban pembunuhan dukun santet yang ikhlas atas tragedi pembunuhan kepada ayahnya dan mengedukasi penonton bahwa dendam untuk kepentingan pribadi yang berlarut-larut sangatlah berbahaya untuk masyarakat sekitarnya. Pengkaryaan ini diproduksi disaat pandemi Covid 19.

1. Judul : Dendam Kesumat 2. Kategori : Film Dokumenter 3. Durasi : 18.55 Menit

4. Genre : Dokumenter

5. Tema Karya : Problematika rasa dendam antara lingkup keluarga pada tragedi pembunuhan dukun santet 1998

(2)

49

(Sejarah)

6. Aspect Ratio : Full HD 16:9 7. Bahasa : Indonesia dan Jawa 8. Subtitle : Bahasa Indonesia 9. Media Tayang : Festival Film 4.2 Target Audiens

Usia : D17 (Peraturan Kementrian Pendidikan No. 429 Pasal 17 Tahun 2019)

SES : B - C

Pendidikan : Lulusan SMA, S1, S2 Geografi : Nasional

Dalam film dokumenter “Dendam Kesumat” menargetkan audiens untuk sineas festival film yang berusia D17 sesuai dengan rating lembaga sensor film yaitu konten film cocok untuk orang dewasa dengan batasan usia penonton minimal 17 tahun, karena film ini dasari pada kekerasan, perilaku menyimpang, dan elemen lainnya sehingga usia dibawah 17 tahun tidak disarankan untuk menonton film ini dengan alasan orang tua akan mempertimbangkan isi film yang terlalu dewasa untuk anak-anak berusia dibawah 17 tahun.

Pada film ini mengandung unsur sejarah untuk mengedukasi penonton agar tidak sembarangan dalam menstigmakan suatu peristiwa dengan satu sudut pandang saja yang diperoleh dari media sosial, mulut ke mulut, tanpa mengetahui kebenaran yang terjadi pada saat itu, karena di umur 17 tahun keatas adalah usia dimana mereka banyak mendapatkan pandangan, pengetahuan, dan informasi yang rentan mempengaruhi pola berpikirnya.

Harapan dari tujuan dan pesan dalam film ini dapat tersampaikan sesuai dengan target audiens yang sudah tentukan.

(3)

50 4.3 Breakdown Budgeting

Pada pengelolaan anggaran biaya pada pembuatan film dokumenter

“Dendam Kesumat” mengalami pembengkakan dana dari perencanaan anggaran biaya sebelumnya, hal ini bisa mempengaruhi kinerja kru selama produksi.

Pembengkakan dana terjadi karena adanya beberapa faktor yang membuat pengeluaran selama produksi melebihi batas perencanaan, seperti:

1. Adanya revisi footage yang mengharuskan seluruh kru kembali ke lokasi produksi sehingga produser harus merubah kembali perencanaan anggaran untuk pengeluaran kebutuhan selanjutnya selama proses produksi yang kedua untuk memenuhi kebutuhan footage yang direvisi.

2. Adanya revisi pengisi VO dan seringnya revisi untuk tambahan naskah VO sehingga produser harus mengeluarkan budgeting yang besar di revisan VO

ANGGARAN PRODUKSI FILM DOKUMENTER KESUMAT

PRA-PRODUKSI

No Deskripsi Jumlah

1 Konsumsi penghubung informasi Rp. 50.000,00

2 Tempat tinggal crew selama riset di

Banyuwangi Rp. 200.000,00

Sub Total Rp. 250.000,00

(4)

51 PRODUKSI

No Deskripsi Jumlah

1 Konsumsi narasumber Rp. 175.000,00

2 Property artistic Rp. 15.000,00

3 Uang saku narasumber Rp. 200.000,00

4 Transportasi Rp. 200.000,00

5 Baterai alkaline Rp. 50.000,00

Sub Total Rp. 640.000,00

PASCA PRODUKSI

No Deskripsi Jumlah

1 Ilustrasi Rp. 300.000,00

2 Musik Rp. 200.000,00

3 Voice Over RP. 400.000,00

Sub Total Rp. 700.000,00

(5)

52 Total Keseluruhan Rp. 1.590.000,00

Table 8, Anggaran Biaya Produksi

4.4 Time Schedule Produksi

Rekrutmen Kru : 30 - 31Mei 2021

Pencarian Ide Cerita : 5 - 7 Juni 2021 Pengembangan Ide Cerita : 11 Juni – 6 Juli 2021

Riset Online : 8 - 9 Juni 2021

Penentuan Narasumber : 20 Juni 2021

Breakdown Budgeting : 24 Juni 2021 - 1 Juni 2022

Penentuan Lokasi : 29 Juni 2021

Pembuatan Draf Pertanyaan Wawancara : 25 Juni 2021 Riset Lapangan : 11 - 18 Juli 2021 Pembuatan Storyline :21 - 22 Juli 2021 Pembuatan Outline : 21 - 22 Juli 2021 Pembuatan Sinopsis : 1 - 7 Agustus 2021

Film Treatment : 8 Agustus - 4 Desember 2021 Pembuatan Breakdown Tim Kreatif : 20 September – 22 Oktober 2021

Produksi : 13 – 19 Desember 2021

Pasca Produksi : 26 Januari - 17 Juni 2022 Pendistribusian : 28 Juni 2022 - 2025 4.5 Film Statement

Dendam yang begitu lama di diamkan berlarut-larut akan memunculkan problematika di masyarakat luas, karena dendam tidak boleh ada di tengah- tengah masyarakat agar tidak memicu terjadinya perpecahan di masyarakat.

Banyak sekali kasus di masyarakat yang melibatkan rasa dendam, namun hal ini hanya dilakukan oleh oknum tertentu untuk mencapai tujuannya, apabila bertepatan dengan agenda politik maka akan sangat mudah seseorang atau sekelompok untuk dipengaruhi.

Pada film dokumenter “Dendam Kesumat” membahas tentang dendam diantara lingkup keluarga, karena menurut narasumber utama yaitu pak Edy

(6)

53 Mulyono selaku anak korban dukun santet di Desa Gintangan meyakini bahwa awal mula tragedi pembantaian dukun santet berasal dari dendam di lingkup keluarga sendiri yang merembet ke masyarakat sehingga menimbulkan rasa curiga dan fitnah dengan berakhirnya tindakan pembunuhan seperti kasus yang dialami ayah bapak Edy Mulyono yaitu almarhum bapak Kustari yang diduga sebagai dukun santet.

Untuk menjawab rasa ganjal yang dialami bapak Edy Mulyono akibat kasus pembunuhan ayahnya secara brutal, maka beliau sempat mencari tau informasi mengapa ayahnya dijadikan target pembunuhan dugaan dukun santet. Setelah sekian lama ditelusuri, ternyata dibalik itu semua disebabkan oleh rasa iri dan dengki pada beberapa saudara di keluarga almarhum bapak kustari dengan menyebarkan informasi buruk yang menimbulkan fitnah dengan tujuan mempengaruhi masyarakat sekitar, sehingga masyarakat memiliki pikiran atau stigma bahwa almarhum bapak Kustari adalah dukun santet.

Rasa iri dan dengki yang dimiliki oleh beberapa saudara dari keluarga almarhum bapak Kustari, kemungkinan muncul karena merasakan ketidakadilan, pengkhianatan, kecemburuan , kerakusan di masa lampau.

Menurut keterangan dari bapak Edy Mulyono, bapak kustari dulunya merupakan anak atau cucu kesayangan dari keluarga besarnya sehingga rasa simpati keluarga besarnya lebih menyorot pada almarhum bapak Kustari dari segi kasih sayang dan sikap pedulinya. Dengan begitu, tidak dipungkiri lagi rasa iri dan dengki oleh beberapa saudara dari keluarga beliau sudah tertanam sejak lama. Ketika terdapat tragedi pembantaian dukun santet di masa reformasi orde baru, beberapa saudara dari keluarga almarhum bapak Kustara menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan rasa dendamnya yang sudah terpendam sejak lama dengan memfitnah beliau di masyarakat sekitar.

Dari pengkaryaan film dokumenter “Dendam Kesumat” diharapkan penonton dapat mengambil sisi positifnya peristiwa pembunuhan dukun santet pada tahun 1998 dari sudut pandang narasumber utama yaitu bapak Edy Mulyono anak korban dukun santet di Desa Gintangan Kec. Blimbingsari Kab. Banyuwangi

(7)

54 4.6 Identifikasi Permasalahan Kinerja Kru Saat Produksi

Pengindetifikasian dalam pembuatan film dokumenter “Dendam Kesumat”

dilakukan dengan menganalisis beberapa faktor permasalahan saat produksi yang dapat mempengaruhi kualitas kinerja kru dengan melakukannya pengamatan selama proses pembuatan film dokumenter berlangsung. Ada beberapa permasalahan yang produser dapatkan selama produksi sehingga mempengaruhi kinerja kru, yaitu:

1. Terdapat perubahan jadwal produksi untuk riset lapangan dikarenakan saat itu kasus Covid 19 melonjak tinggi sehingga Pemerintah Indonesia membuat peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM) untuk masyarakat, dengan adanya peraturan tersebut akhirnya pihak desa yang bersangkutan memberitahukan agar menunda keberangkatan produksi sampai kondisi kondusif.

Demi mencegah penyebaran Covid 19 dalam mendukung peraturan pemerintah, produser mengundur keberangkatan perjalanan produksi sampai kondisi kondusif dan mendapatkan izin dari pihak desa yang bersangkutan dengan reschedule jadwal produksi sesuai kesepakatan bersama dengan kru. Karena kesehatan kru dan masyarakat sangatlah penting sehingga jika dipaksakan akan mengganggu kinerja kru selama proses pembuatan film dokumenter.

2. Kurangnya informasi yang di dapat dari narasumber karena ada beberapa faktor penyebab mereka tidak mau untuk benar-benar terbuka saat diwawancarai dengan alasan takut peristiwa pembantaian dukun santet 1998 diusut dan dibahas kembali, sehingga membuat pengkarya sedikit kesulitan dalam mengolah data untuk menentukan film statement nya.

Agar mempermudah proses produksi, sebelumnya produser telah mencari seseorang yang dipercayai oleh masyarakat sekitar untuk menjadi penghubung antara pengkarya dengan narasumber, Namun pada saat itu kebetulan seseorang yang menjadi penghubung pengkarya dengan narasumber tidak dapat menemani hingga produksi selesai karena terdapat urusan yang tidak bisa ditinggalkan.

(8)

55 Dalam mencari solusi agar kinerja kru tetap stabil, maka produser meminta tolong kepada seseorang yang menjadi penghubung pengkarya untuk mencarikan penggantinya agar produksi tetap berjalan dengan lancar tanpa mengurangi hasil data yang didapatkan.

Walaupun sudah ada pengganti penghubung pengkarya, produser tetap meyakinkan sendiri narasumber agar saat diwawancarai dapat leluasa memberikan informasi dengan membuat kesepakatan bahwa data yang bersifat sensitif akan dijaga kerahasiaanya sehingga tidak mengancam keberadaan narasumber.

3. Resiko pembengkakan dana akibat banyaknya revisi footage yang kurang pas membuat pengkarya harus kembali lagi ke Banyuwangi untuk mengambil ulang beberapa footage yang kurang. Hal ini tentunya akan merubah rancangan anggaran dalam pengeluaran selama pembuatan film dokumenter. Anggaran yang akan dikeluarkan seperti penambahan anggaran uang saku narasumber, uang konsumsi narasumber, uang konsumsi penghubung, property artistik, transportasi dan masih banyak lagi printilan-printilan lainnya.

Dengan permasalahan seperti ini tentunya akan mempengaruhi kinerja kru karena boros tenaga, waktu dan mengeluarkan uang lagi untuk menutupi kekurangan anggaran produksi. Maka untuk mengantisipasi agar kinerja kru tetap stabil seperti awal produksi, produser mengkoordinasi ke seluruh kru untuk mengelist dan mempersiapkan apa saja yang harus direvisi setiap departemen dan memperbanyak pengambilan kebutuhan setiap departemen agar jika nanti ada revisi lagi tidak perlu kembali ke tempat lokasi produksi, sehingga produser bisa menyesuaikan lagi dalam pembuatan schedule jadwal produksi sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, sehingga seluruh kru tetap semangat dalam produksi susulan untuk melengkapi revision yang ada.

4. Terjadinya trobel di beberapa peralatan produksi seperti:

 body kamera dan lensa tidak konsisten sehingga menyulitkan kameramen untuk mensinkronisasikan visual film,

(9)

56

 Saat pengambilan gambar, tiba-tiba salah satu kamera yang dipakai berhenti di menit tertentu.

 Adanya kebocoran pada baterai kamera yang tak terduga.

Dalam mengatasi hal ini, produser mencari informasi tentang persewaan peralatan syuting yang berada di Banyuwangi, namun karena keterbatasan waktu dan jarak tempuh lokasi produksi dengan lokasi persewaan peralatan syuting yang berada di daerah perkotaan, maka produser memutuskan untuk memberikan waktu seluruh kru mengatasi kendala yang terjadi pada peralatan syuting dengan semaksimal mungkin sehingga terdapat pengunduran schedule jadwal produksi pada saat itu.

Jika troubel yang terjadi pada beberapa peralatan produksi tidak dapat di atasi, maka produser memutuskan untuk menggunakan peralatan cadangan atau peralatan yang ada walaupun hasil yang diperoleh tidak maksimal agar penundaan produksi tidak terlalu lama sehingga bisa efisien waktu dan tenaga.

5. Lokasi produksi yang berada di Banyuwangi membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama membuat pengkarya kesulitan dalam membawa peralatan syuting karena dengan kesepakatan bersama untuk meminimalisir budgeting perjalanan ditempuh dengan menggunakan sepeda motor, sehingga terdapat beberapa peralatan yang troubel saat digunakan waktu produksi.

Dengan waktu tempuh perjalanan yang jauh, produser memutuskan untuk pemberangkatan ke lokasi 1 hari sebelum schedule jadwal produksi, agar setelah sampai basecamp seluruh kru bisa istirahat terlebih dahulu dan keesokan harinya bisa memulai proses produksi dengan kondisi yang lebih baik, hal ini bertujuan untuk menghindari resiko yang tidak diharapkan.

6. Karena ada beberapa file yang belum di backup di laptop dan harddisk memunculkan beberapa masalah karena seluruh file hasil produksi terkena virus Ransomware saat proses editing offline yang

(10)

57 disebabkan karena berubahnya format file tiap kamera yang dipakai saat dipindahkan ke laptop sehingga membutuhkan waktu untuk mengconvert, namun setelah di convert ternyata file banyak yang hilang sehingga editor harus merecovery beberapa file agar file hasil produksi kembali. Hal ini sangat membutuhkan waktu yang lama sekitar 1 sampai 2 bulan karena dari seluruh kru baru mengetahui virus ini sehingga berdampak pada perubahan schedule jadwal pada tahap pasca produksi.

Pada permasalahan ini, produser tidak bisa banyak mengambil tindakan karena masalah ini memang membutuhkan seseorang yang paham akan virus Ransomware sehingga produser meminta bantuan seluruh kru untuk mencari seseorang yang bisa membantu menyelamatkan file hasil produksi film dokumenter “Dendam Kesumat”, namun editor pada film ini akhirnya bisa mengembalikan seluruh file hasil produksi walaupun suara pada rekaman footage tersebut tidak ada, sehingga produser dan sutradara sepakat untuk menutupi masalah ini menggunakan hasil file record-an dari departemen sound.

Adanya beberapa risiko selama pembuatan film dokumenter ini tentunya akan menurunkan kinerja kru seperti kurangnya rasa kenyamanan dan rasa semangat dalam produksi yang bisa membuat kualitas film menjadi tidak maksimal, sehingga peran produser dalam meningkatkan kinerja kru di saat produksi sangat dibutuhkan dalam manajemen produksi, menjaga mood kru, komunikasi yang baik dan tepat antara kru dan masih banyak lagi.

4.7 Standarisasi Kinerja Kru dalam Produksi Film

Dalam produksi film dokumenter “Dendam Kesumat” memiliki prinsip dasar dalam penentuan standarisasi kinerja kru film di situasi pandemi Covid 19 saat ini. Dengan minimnya kru produksi ada beberapa yang merangkap tugas (double job desk) untuk efektivitas pergerakan kru saat produksi.

Pengkarya melakukan berbagai upaya agar film dokumenter ini terselesaikan dengan hasil yang maksimal dengan penggabungan dari semua

(11)

58 unsur seni dari seni peran. seni merias wajah, seni penataan kamera, seni penyutradaraan, seni gambar, penataan cahaya dan seni manajemen.

Berdasarkan pemahaman standarisasi kinerja kru dalam industri perfilman dimana setiap kru memegang peranan sesuai dengan departemen masing- masing, maka dari itu kru pada film dokumenter “Dendam Kesumat”

memiliki peranan sebagai berikut:

a) Produser, bertanggung jawab atas perencanaan sebuah produksi film dalam penjadwalan produksi, perancangan anggaran biaya yang digunakan, mengkoordinasi dan mengawasi jalannya produksi, serta mengatur waktu untuk tahapan produksi film.

b) Sutradara, bertanggung jawab atas berjalannya produksi sebagai aspek yang sangat penting dibagi tim kreatif yang memiliki wewenang dalam memvisualisasikan kreativitas dalam sebuah film dan bertanggung jawab atas keberhasilan pada hasil film nantinya.

c) Penata Kamera (Direct of Photography), bertanggung jawab sebagai penentu dalam teknis pengambilan gambar mulai dari pendekatan gambar, jenis kamera atau lensa, lighting, tone warna, dan sebagainya.

Selain itu, seorang penata kamera (DoP) adalah penerjemah visi sutradara dalam pembuatan film.

d) Cameraman, bertugas mengoperasikan kamera sesuai dengan arahan penata kamera (DoP) yang sudah dipetakan dalam breakdown.

e) Soundman, bertanggung jawab mengoperasikan alat sound, termasuk memilih beberapa mikrofon, mengatur leveling, mixing, dan memantau rekaman audio yang dihasilkan dari set dialog.

f) Editor, bertanggung jawab untuk memilah-milah, memotong dan menyusun gambar atau footage dari hasil produksi, kemudian di edit dengan memberikan beberapa elemen seperti visual effect, colorist, sound designer, dialogue, composer, foley untuk menyempurnakan hasil video film.

g) Graphic Designer, bertugas untuk mendesain konsep grafis atau menggambarkan visual desain pada film untuk memenuhi kebutuhan visual efek yang ditampilkan.

(12)

59 h) Voice Over Artist, bertugas untuk membawakan kehidupan dan emosional pada naskah namun tetap mempertahankan intonasi nada yang benar agar dapat dipercayai oleh pendengar atau penonton.

i) Behind the Scene, bertugas mendokumentasikan kegiatan kru film selama produksi berlangsung sebagai kebutuhan laporan akhir.

Untuk meningkatkan akuntabilitas kinerja kru selama produksi, maka produser membuat SOP yang harus dipatuhi oleh seluruh kru film meliputi:

1. Mampu bertanggung jawab atas department masing-masing selama produksi.

2. Selalu menggunakan masker selama produksi, mencuci tangan setelah melakukan aktivitas, dan menjaga jarak untuk mengantisipasi tertularnya Covid 19.

3. Menyediakan hand sanitizer.

4. Wajib menjaga peralatan produksi dengan baik, sehingga tidak ditaruh di sembarang tempat untuk mengurangi resiko kerusakan dan kehilangan 5. Menjaga sopan dan santun saat produksi berlangsung atau saat di lokasi

pembuatan film dokumenter “Dendam Kesumat”.

6. Selalu menjaga kebersihan tempat tinggal selama produksi.

7. Mampu mengikuti jadwal yang sudah dibuat dengan tepat waktu.

8. Dilarang makan atau minum di depan narasumber pada saat produksi berlangsung.

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian dilakukan dengan cara yaitu menghitung waktu dari gelombang ultrasonik pada sensor tinggi yang dipancarkan sampai diterima kembali dan kemudian dihitung

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh rute distribusi dengan total waktu tempuh dan jarak tempuh yang optimal berdasarkan implementasi Algoritma Semut pada

Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa desain pier memiliki total jarak berjalan serta waktu tempuh yang lebih singkat dibandingkan dengan desain linear. Pada

Program akan melakukan perhitungan jarak, sebagai usulan rute transfer antar gudang yang dilakukan oleh DC atau depo, agar jarak tempuh, waktu dan biaya BBM yang minimum

Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa dengan jarak tempuh yang sama tetapi untuk beban yang berbeda akan mempengaruhi pada kecepatan dan waktu tempuh,

A.. Keterbatasan pengetahuan pelaksana proyek.. Alat, yang rusak Caus) sebelum waktunya... Peralatan yang tidak siap pada waktu

Berdasarkan hasil pembuatan jarak tempuh terpendek dan waktu tempuh tercepat dengan titik mulai dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP PBB) Bandung Satu ke 22 titik

Tugas Akhir ini membahas mengenai penentuan rute optimal pengangkutan sampah khususnya di Kecamatan Balikpapan Utara untuk meminimumkan jarak tempuh, biaya dan waktu tempuh truk