• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ekonomika dan Bisnis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Ekonomika dan Bisnis"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ekonomika dan Bisnis

Journal homepage: https://journal.feb-uniss.ac.id/home ISSN Paper : 2356-2439, ISSN Online : 2685-2446

147 PENGENDALIAN KUALITAS PROSES PRODUKSI BESI BETON

MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA PT. RIA SARANA PUTRA JAYA

Ermayana Megawati (1) , Rieska Ernawati(2), Suhartono (3)

(1)Universitas Selamat Sri, (2)Universitas Islam Sultan Agung, (3)Universitas Selamat Sri

(1)[email protected]

I N F O A R T I K E L Riwayat Artikel:

Diterima pada 8 April 2021 Disetujui pada 19 April 2021 Dipublikasikan pada 24 April 2021

Kata Kunci:

Six Sigma, Kualitas, DMAIC

A B S T R A K

Kualitas menjadi sangat penting dalam suatu manufaktur terlebih bergerak dalam produksi billet dan besi beton, dimana harus bersaing dengan competitor. Begitupun pada PT. Ria Sarana putra Jaya (RSPJ) yang memproduksi sekitar 2500 – 3000 ton / bulan harus selalu meningkatkan kualitas, dengan metode Six Sgma melalui pendekatan DMAIC (Define Measure Analyze Improve dan Control). Pada tahap define ditemukan 3 (tiga) jenis produk yang cacat kemudian dihitung DMPO nya sebesar 35.832,34. Kemudian di analyze penyebab rusaknya produk ini dan di improve melalui diagram pareto yang kemudian dilakukan control pada lini bagian yang menyeabakan kerusakan tersebut.

PENDAHULUAN

PT. Ria Sarana putra Jaya (RSPJ) merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri besi baja, tahun 1991 hanya memproduksi Paku ,dan pada tahun 1996 mulai memproduksi billet dan Besi beton dengan kapasitas produksi 2500 ton / bulan. Dengan mulai diproduksinya Billet dan Besi Beton diharapkan pendapatan PT Ria Sarana Putra Jaya mengalami peningkatan. Hal itu terbukti dengan kapasitas yang dihasilkan yaitu 2500 ton / bulan Besi Beton dan 3000 Ton/bulan Billet yang nantinya diharapkan bisa dapat menyuplai kebutuhan besi beton diwilayah Jawa. Sehingga diperlukan untuk meningkatkan kualitas.

Pengertian kualitas merupakan salah satu faktor yang penting bagi setiap perusahaan industri. Dengan adanya pengendalian kualitas merupakan jaminan bagi perusahaan untuk mendapatkan mutu barang dengan hasil yang baik dan

(2)

148 memuaskan. Apabila di dalam perusahaan tidak melaksanakan pengendalian kualitas dengan baik, maka mutu barang yang dihasilkan tidak memuaskan

Proses produksi yang memperhatikan kualitas akan menghasilkan produk yang bebas dari kerusakan. Hal ini dapat menghindarkan pemborosan dan efisensi sehingga biaya produksi per unit dapat ditekan dan harga produk dapat menjadi lebih kompetitif. Sehingga penulis merumuskan masalah terhadap pelaksanaan pekerjaan di bagian Produksi terutama dibagian Quality Control PT Ria Sarana Putra Jaya adalah :

Bagaimana prosedur pekerjaan yang dilakukan di bagian Quality control dan Bagaimana standard operasional prosedur (SOP) untuk menghasilkan produk yang bebas dari kerusakan. Untuk membatasi masalah dalam kaitan dengan Produksi ini adalah terjadinya kegagalan produksi yang diakibatkan di Finishing Mill.

Untuk memecahkan masalah tersebut akan digunakan metode Six sigma yang merupakan salah satu alternatif dalam prinsip-prinsip pengendalian kualitas yang merupakan terobosan dalam bidang manajemen kualitas . Tahap-tahap implementasi peningkatan kualitas six sigma terdiri dari lima fase yaitu menggunakan metode DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve dan Control). Semakin tinggi target sigma yang dicapai maka kinerja sistem industri semakin membaik. Six sigma merupakan proses disiplin tinggi yang membantu mengembangkan dan menghantarkan produk mendekati sempurna. Untuk metode ini diambil data produksi dan cacat produk untuk mengetahui jumlah jenis cacat produk ini.

METODE

Pada penelitian ini, yang diperlukan adalah data produksi besi beton diameter 12 mm, data produk cacat besi beton diameter 12 mm dan data penyebab kerusakan produk yang terjadi pada bulan Januari sampai bulan Desember 2019. Data tersebut diperoleh melalui pengamatan langsung pada mesin rolling mill, hasil kuesioner dan hasil brainstorming dengan orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal kualitas proses pembuatan besi beton di rolling mill serta data sekunder yang sudah tersedia pada perusahaan.

HASIL

 Tahap Define cacat dengan Mengidentifikasi Critical to Quality (CTQ), diperoleh :

Cacat Kuping

Permukaan besi baja tidak rata dan memiliki sirip di kedua ujung

(3)

149 Cerna

Luka padapermukaan besi baja yang terjadi akibat dari proses canai panas (Hot Rolling)

Retak Memiliki retakan yang dalam pada besi baja

 Tahap Measure

Measure merupakan tahap kedua dalam metode six sigma. Tahap pengukuran ini dilakukan melalui 2 tahap, yaitu: menentukan proporsi cacat yang paling dominan yang akan dikualifikasi sebagai Critical to Quality (CTQ) dengan menggunakan diagram pareto. Dari data produksi cacat produk Besi Beton (terlampir) diperoleh data produk yang cacat dan total produk yang diperiksa, maka diperoleh DPMO tiap minggu dengan rumus sebagai berikut :

=

x 1.000.000 ...(1)

=

x 1.000.000

= 35.832,34

 Tahap Analyze

Ternyata diketahui ada produk yang rusak yang berada di luar batas kontrol, maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah dan akibat dari kecacatan yang terjadi dengan menggunakan diagram sebab akibat, sehingga penyebab kecacatan produk tersebut dapat diketahui. Menurut Hidayat (2006), diagram sebab akibat digunakan sebagai pedoman teknis dari fungsi-fungsi operasional proses produksi.

Pedoman teknis ini untuk memaksimalkan nilai-nilai kesuksesan tingkat kualitas produk suatu perusahaan pada waktu bersamaan dengan memperkecil risiko-risiko kegagalan.

 Tahap Improve

(4)

150 Pada tahap improve ini digunakan metode FMEA (Failure Mode and Effects Analysis).

Acuan dasar untuk membuat FMEA berasal dari diagram sebab akibat. FMEA merupakan metodologi yang digunakan untuk mengevaluasi kegagalan dalam sebuah sistem, desain, proses dan pelayanan. FMEA juga dapat mengidentifikasi dan menilai risiko yang berhubungan dengan potensi kegagalan yang terjadi. Metode ini akan menentukan dan mengalikan tingkat keparahan (severity), kejadian (occurance) dan deteksi (detection) sehingga diperoleh Risk Priority Number (RPN). Nilai RPN tertinggi akan menjadi prioritas dalam melakukan tindakan korektif.

 Tahap Control

Tahap control merupakan tahap operasional terakhir dalam proyek peningkatan kualitas six sigma. Pada tahap ini hasil-hasil peningkatan kualitas didokumentasikan dan disebarluaskan, praktek-praktek terbaik yang sukses dalam meningkatkan proses distandarisasikan dan dijadikan pedoman kerja standar, serta kepemilikan dan penanggung jawab proses, yang berarti six sigma berakhir pada tahap ini.

PEMBAHASAN

Gambar 1. Diagram Sebab Akibat Cacat kuping (Overfill)

(5)

151 Pada diagram sebab akibat Gambar 4 dijelaskan bahwa terjadinya cacat overfill disebabkan beberapa hal di antaranya adalah: pada faktor mesin, yaitu pengesetan posisi roll stand yang menyebabkan kecepatan putar roll stand dari awal sampai akhir tidak sama sehingga terjadi miss roll. Kerusakan sistem mesin akibat perawatan mesin kurang optimal juga menyebabkan terjadinya cacat. Serta pemakaian roll stand yang terus-menerus sehingga roll stand tidak sempurna atau rusak. Pada faktor metode, yaitu Standard Operating Procedure (SOP) setting pada mesin rolling mill yang dijalankan tidak sesuai dengan standarisasi serta pengawasan kualitas kerja yang belum efektif atau tidak cermat pada saat proses yang menyebabkan besi beton mengalami kecacatan. Pada faktor manusia, yaitu kurangnya konsentrasi operator pada saat uji komposisi billet sehingga billet yang kurang pas bisa lolos.

Operator kurang memperhatikan SOP Sehingga saat setting ketepatan roll stand kurang pas.Serta kurangnya ketelitian dari operator pada saat pengesetan mesin yang menyebabkan terjadinya cacat overfill.

Gambar 2.Diagram Sebab Akibat Cacat Retak (Scratch)

Pada Gambar 5 dijelaskan bahwa terjadinya cacat scratch disebabkan beberapa hal diantaranya adalah: pada faktor mesin, yaitu kurangnya perawatan secara rutin pada rolling mill yang menyebabkan sisa scrap menempel pada roll stand sehingga roll stand kurang bersih. Pemakaian roll stand yang terus-menerus di luar kapasitas sehingga roll stand rusak.

Serta kondisi roll stand yang aus karena umurnya sudah tua yang menyebabkan besi beton mengalami cacat scratch. Pada faktor metode, yaitu terdapat kesalahan penerapan sistem

(6)

152 yang mengakibatkan proses mesin tidak optimal sehingga hasil pada permukaan besi beton menjadi kasar dan bergaris (baret). Sedangkan pada faktor manusia yang menyebabkan cacat antara lain, yaitu kurangnya ketelitian dari operator saat mengontrol mesin dan proses serta tingkat kejenuhan operator yang cukup tinggi akibat kerja yang monoton. Selain itu kurangnya skill operator karena minimnya pelatihan pengoperasian pada mesin roll stand juga menyebabkan terjadinya cacat scratch.

KESIMPULAN

1. Nilai DPMO dan level sigma saat ini dari data atribut yakni sebesar 10.787 defect per sejuta produk yang dihasilkan dengan nilai sigma 3.8 , nilai DPMO data variabel berat minim (0.985-0.989 kg/m) yakni sebesar 71.000 defect per sejuta produk yang dihasilkan dengan level sigma 2.9675 dan nilai DPMO data variabel tinggi sirip (0.7-1.3 mm) yakni sebesar 24.217 defect per sejuta produk yang dihasilkan dengan nilai sigma 3.47.

2. Penyebab kegagalan yang mengakibatkan produk cacat pada proses produksi besi beton adalah :

a. Kurangnya komunikasi operator produksi dengan operator BRF yang menyebabkan cacat berat minim (0,985-0,989).

b. Pekerja terlalu banyak menutup area roll stand 20 yang menyebabkan cacat berat minim (0,985-0,989).

c. Pass roll guide aus yang menyebabkan cacat overlap.

d. Roll guide miring yang menyebabkan cacat overlap.

e. Desain pass roll stand 19 terlalu besar yang menyebabkan cacat melintir.

f. Sirip roll stand 20 terlalu dalam yang menyebabkan cacat melintir

g. Terdapat cacat pada kondisi bahan bakuyang menyebabkan cacat bar pecah

h. Pekerja terlalu banyak membuka gap roll stand 20 yang menyebabkan cacat melintir

(7)

153 SARAN

1. Untuk meminimalisir jumlah defect produk overlap :

a. Memastikan kembali proses pemasangan roll guide sampai benar benar center.

b. Menjalankan fungsi cek list setiap hari, agar pemakaian roll guide bisa terpantau.

2. Untuk meminimalisir jumlah defect produk berat minim:

a. Meningkatkan kembali komunikasi antara operator produksi dengan operator BRF (Gas fire)

b. Pekerja harus lebih teliti untuk menutup area di stand 2 FM 3 3. meminimalisir jumlah defect produk Melintir :

a. Mengurangi kedalaman sirip stand 2 Fm3 saat proses notching (bubut).

b. Memperkecil desain pass roll stand 2 Fm2 sebelum material masuk ke stand 2 Fm3.

DAFTAR PUSTAKA

Gaspersz, Vincent.2002. Pedoman Implementasi Six Sigma Terintegrasi dengan ISO 9001:2000, MBNQA, dan HACCP.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ghiffari,Ibrahim, Ambar Harsono dan Abu Bakar.2013 , “Analisis Six Sigma Untuk Mengurangi Jumlah Cacat Di Stasiun Kerja Sablon ( Studi Kasus: Cv.

Miracle)”,Jurnal.Teknik Industri Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

Ishikawa, Kaoru 1984, Quality Control Circles at Work : Japan, Asian Productivity Organization

(8)

154 Pande, P.S., Neuman, RP. Dan Cavanagh R.R. 2000.The Six Sigma Way. New York:

Mc Graw Hill.

Richey, Integrated Publisher 3982, Concepts Of Quality Assurance. Europe : Public Health, No.16 pp

Robson, Mike 1989, Total Quality Manajemen, MRA International

Shewart, Walter 2015, Economic Control of Quality of Manufactured Product, Martino fine Book

Strafford, Kenneth Norman, 1997, Quality Control and Assurance in Advanced Surface Engineering Institute of Materials.

Susetyo,Joko,Winamin dan Catur Hartanto.2011, “Aplikasi Six Sigma DMAIC dan Kaizen Sebagai Metode Pendelian dan Perbaikan Kualitas produk”.

Jurnal.Teknik Industri,Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Taylor. Fredrick Window 1911, Principles of Scientific Management, New York:

Cosimo

Windarti, Tantri.2014.”Pengendalian Kualitas Untuk Meminimasi Produk Cacat Pada Proses Produksi Besi Beton”.Jurnal.Teknik Industri Universitas Diponegoro.

https://majalahpendidikan.com/six-sigma-pengertian-tujuan-manfaat-dan-ontohnya/

(diakses tgl 22 Febuari 2020 Pkl 22.09 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa Baros Jaya Kecamatan Cinangka, Desa

ketentuan yang berlaku di Indonesia untuk menemukan perlindungan hukum bagi pengguna jasa rekening bersama dan dari perjanjian antara pembeli maupun penjual dengan

Dengan komposisi media tanam dalam lahan basah buatan yang terdiri dari tanah subur yang diberi kompos, pasir dan kerikil, dipastikan bahwa oksigen dapat masuk ke dalam

Anggun Raya menunjukkan bahwa tingkat fleksibilitas supply chain yang ada di perusahaan secara keseluruhan flesksibel (baik) dimana seluruh dimensi utama mencapai prosentase

BAGI JEMAAT YANG INGIN MENUNJANG PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA BAJEM CISEENG, DAPAT MENYALURKANNYA MELALUI : BANK MANDIRI KCP BOGOR ATC PARUNG NO.REK 133-00-1522029-6 A/N

Pada Tabel 2 dapat diketahui hasil perhitungan sidik ragam yang menunjukkan bahwa nilai F hitung lebih kecil dari nilai F tabel pada taraf 5 % dan 1 %, sehingga

atau pelarut lain yang sesuai ke dalam labu titrasi dan titrasi dengan. pereaksi sampai titik akhir secara elektrometrik atau visual

Karakteristik terbaik keju lunak (soft cheese) yang dihasilkan diperoleh pada perlakuan penggunaan kulit batang tanaman rampelas ukuran 5 cm 2 dengan karakteristik kadar air