BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Pada Penelitian yang berjudul Tindak tutur direkitf dan kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara daring di kelas Multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli tengah dapat disimpulkan hal pokok yang berkaitan dengan rumusan masalah. Pada dasarnya ini menjadi jawaban atas rumusan masalah dapat dilihat pada uraian berikut ini
1. Bentuk tindak tutur direktif guru kepada siswa
Tuturan langsung yang digunakan guru kepada siswa mengandung 8 macam tindak tutur direktif, yaitu tindak tutur direktif memaksa: 8 data, mengajak: 5 data, meminta: 6 data, menyuruh: 6 data, melarang: 3 data, memohon: 4 data, menyarankan: 12 data, memerintah: 6 data. Dari kedelapan jenis tindak tutur direktif tersebut yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah jenis tindak tutur direktif menyarankan yakni berjumlah 9 data.
2. Tindak tutur direktif siswa kepada guru
Berdasarkan hasil pengamatan tindak tutur direktif siswa dengan guru pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah peneliti menemukan adanya tindak tutur direktif yang dilakukan siswa kepada guru.
pada saat proses pembelajaran tuturan direktif yang lebih mendominasi yakni tuturan direktif meminta. Dalam pembelajaran daring ini tindak tutur siswa kepada guru sudah dikatakan baik. Karena dalam proses pembelajaran siswa dan guru bisa menempatkan diri ketika berbicara. Seperti saat guru menyuruh siswa maka siswa menjawab “iya bu”. Penggunaan tindak tutur direktif sudah dikatakan baik pada tingkatan sekolah menengah kejuruan khususnya. di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah. Pada saat proses pembelajaran guru lebih mendominasi jalannya pembelajaran, sedangkan siswa lebih pasif, hanya menerima tuturan dari guru saja.
Penggunaan tindak tutur direktif sudah dikatakan baik pada tingkatan sekolah menengah kejuruan khususnya. di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah.
Namun ada sedikit kendala karena proses pembelajaran saat ini berbeda, pembelajaran yang digunakan yaitu melaui daring zoom. Saat pembelajaran melalui zoom ini terdapat kendala seperti jaringan terkadang menghampat interaksi antara
guru dan siswa. Saat guru dan siswa berinteraksi akan kendala jaringan mengakibatkan siswa tidak kodusif dan membuat situasi menjadi tidak terkendali 3. Bentuk pematuhan prinsip kesantunan berbahasa
Wujud pematuhan prinsip kesantunan berbahasa antara guru dan siswa sebagai penutur dan mitra tutur dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara daring di kelas Multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli tengah dianalisis dengan menggunakan parameter kesantunan dari Leech. Adapun maksim-maksim prinsip kesantunan tersebut yaitu maksim kearifan 3 data, maksim kedermawanan 2 data, maksim pujian 6 data, maksim kerendahan hati 3 data, maksim kesepakatan 4 data maksim kesimpatian. Pada pematuhan prinsip kesantunan terdapat maksim yang dipatuhi yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim kesimpatian
B. Implikasi
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan pragmatik untuk mengupas permasalahan peneliti. Penelitian ini berfokus pada konteks atau makna yang diujarkan oleh penutur dan mitra tutur penelitian ini melibatkan konteks tuturan yang terjadi dalam interaksi guru dan siswa dengan latar belakang siswa yang berbeda-beda atau multikultur dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah. Penelitian ini mempunyai empat rumusan masalah yang telah di bahas pada bab sebelumnya, yaitu (1). Bagaimanakah tindak tutur direktif guru-siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara daring di kelas multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli Tengah, (2). Bagaimanakah tindak tutur direktif siswa-guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara daring di kelas multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli Tengah, (3 Bagaimanakah bentuk kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara daring di kelas multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli Tengah. Keempat pokok permasalahan dibahas dengan subkajian dalam ilmu pragmatik, yaitu tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa. Sesuai dengan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan. Penelitian memiliki beberapa implikasi yang dijelaskan sebagai berikut.
1. Implikasi Teoritis
Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan kajian ilmu pragmatik. Penelitian ini menggunakan dan subkajian dalam ilmu pragmatik, yaitu tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa. Interaksi dalam kegiatan pembelajaran tidak bisa terlepas dari adanya tindak tutur. interaksi pembelajaran melibatkan dua partisipan yang secara aktif memanfaatkan bahasa yaitu guru dan siswa. Tindak tutur direktif merupakan salah satu jenis tindak ilokusi yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.
Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang diujarkan oleh penutur yang memiliki maksud meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu yang diinginkan penutur. Guru merupakan orang yang menjadi panutan bagi siswa, baik dalam tingkah laku dan tutur katanya. Hal inilah yang mendasari bagaimana kesopanan merupakan salah satu sub kajian ilmu pragmatik yang digunakan untuk mengupas bagaimana guru dan siswa bertutur dengan sopan.
Interaksi yang terdapat pada pembelajaran pasti memuat tindak tutur yang melibatkan guru dan siswa menjadi partisipan aktif yang menggunakan tuturan dalam interaksi pembelajaran. Interaksi yang memuat tindak tutur juga terdapat dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah penelitian ini mengkaji tuturan yang diujarkan oleh guru sebagai pengajar. Tindak tutur terdiri dari beberapa jenis yang dikategorikan berdasarkan konteks tuturan yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Pada pnelitian ini fokus penelitian terdapat pada salah satu jenis tindak ilokusi yakni tindak tutur direktif tindak tutur direktif diujarkan oleh penutur kepada mitra tutur dengan maksud agar mitra tutur dapat melakukan sesuatu berdasarkan ujaran penutur pada intinya penggunaan tindak tutur direktif bertujuan untuk mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diinginkan penutur. Tindak tutur direktif yang terdapat dalam pembelajaran bahasa Indonesia digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan kondusif
Penelitian ini dilakukan secara daring mengikuti sistem pendidikan dimasa covid 19 saat ini, guru yang berada di SMA Negeri 1 Pinangsori menggunakan aplikasi zoom untuk melangsungkan pembelajaran. Didalam kelas pembelajaran bahasa Indonesia terdapat siswa dari berbagai suku yang berbeda-beda, ada suku Batak, Jawa dan Nias. Saat pembelajaran berlangsung guru menjadi seseorang yang dijadikan panutan bagi siswa. Oleh karena itu guru memiliki peran yang sangat penting dalam untuk mengatur kondisi pembelajaran agar tetap komdusif. Pemakaian tindak tutur direktif dapat dijadikan sarana untuk mengkondisikan pembelajaran dimana guru dan
siswa memiliki latar belakang suku yang berbeda. Guru yang mengajar di kelas suku Batak, akan tetapi dengan tindak tutur direktif yang kesantunan yang baik maka siswa yang dari suku Jawa dan Nias dapat memahami apa yang disampikan guru, karena siswa yang berlatar belakang suku yang berbeda sudah terbiasa dengan logat Batak yang digunakan guru saat menyampaikan tuturan. Yang membedakan adalah logat yang berbeda, guru dan siswa yang suku Batak cenderung bertutur dengan nada yang keras dan tinggi, siswa suku Jawa saat bertutur lebih lembut dan pelan, sedangkan siswa suku Nias nada berbicara lebih cepat tetapi masih lebih lembut daripada suku Batak.
Dari perbedaan suku yang dimiliki siswa di SMA Negeri 1 Pinangsori Tapanuli Tengah tidak terdapat tuturan yang sulit dimngerti walau berbeda suku, mereka saling memahami dan saling mengerti dengan suku yang berbeda-beda tersebut. Guru sebagai penutur juga tidak kewalahan menghadapi siswa yang berbeda suku karena mereka sudah terbiasa dengan logar Batak yang keras. Karena di SMA Negeri 1 Pinangsori suku Batak yang lebih mendominasi. Apabila situasi sudah konduif dengan tindak tutur direktif yang dituturkan guru kepada siswa tanpa terkendala dengan perbedaan suku maka pengusaan materi pembelajaran siswa akan lebih baikseain itu, kesantunan pemakaian bahasa juga perlu di perhatikan saat pembelajaran. Hal ini dikarenakan kesantunan berbahasa menjadi salah satu tolak ukur yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menghargai dan menghormati mitra tuturnya.
Penggunaan teori tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana guru bertindak tutur kepada siswa dan sebaliknya siswa kepada guru. tindak tutur direktif juga membedakan bagaimana fungsi yang berbeda dalam tindak tutur yang digunakan oleh guru kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Teori tentang kesantunan berbahasa dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana wujud kesantunan berbahasa yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Ada delapan bentuk tindak tutur direktif yang terdapat dalam penelitian ini yaitu Tuturan langsung yang digunakan guru kepada siswa mengandung 8 macam tindak tutur direktif, yaitu tindak tutur direktif memaksa: 8 data, mengajak: 5 data, meminta: 6 data, menyuruh: 6 data, melarang: 3 data, memohon: 4 data, menyarankan: 12 data, memerintah: 6 data. Dari kedelapan jenis tindak tutur direktif tersebut yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah jenis tindak tutur direktif menyarankan yakni berjumlah 9 data.
Wujud pematuhan prinsip kesantunan antara guru dan siswa sebagai penutur dan mitra tutur dalam pembelajaran bahasa indonesia secara daring di kelas Multikultur SMA Negeri I Pinangsori Tapanuli tengah dianalisis dengan menggunakan parameter kesantunan dari Leech. Adapun maksim-maksim prinsip kesantunan tersebut yaitu maksim kearifan 3 data, maksim kedermawanan 2 data, maksim pujian 6 data, maksim kerendahan hati 3 data, maksim kesepakatan 4 data maksim kesimpatian.
Pada pematuhan prinsip kesantunan terdapat maksim yang dipatuhi yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim kesimpatian Wujud kesantunan berbahasa yang meliputi makim Pada pematuhan prinsip kesantunan terdapat maksim yang dipatuhi yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim kesimpatian. Pada prinsipnya guru dan siswa saling mematuhi maksim pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Multikulur ini. Siswa dan guru harus tau bagaimana penerapan maksim ketika dalam proses pembelajaran. Interaksi pembelajaran yang berhasil dapat memberikan dampak positif bagi keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dapat tercapai.
Objek dalam penelitian ini adalah interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan siswa yang memiliki latar belakang suku yang berbda-beda.
Siswa yang terdapat dalam kelas multikultur berjumlah 100 siswa, Kelas XI IIS-1 33 siswa (Suku Batak 17 siswa, Nias 10 siswa, Jawa 6 siswa). Kelas XII IIS-2 34 Siswa (Suku Batak 20 Siswa, Nias 8 Siswa, Jawa 6 Siswa). Kelas XII IIS-3 33 siswa (Suku Batak 19 Siswa, Nias 7 Siswa, Jawa 7 Siswa). dalam pembelajaran Bahasa Indonesia hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitain ini memiliki implikasi pedagogis.
Hasil dari penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru untuk dimanfaatkan untuk mengembangkan kompetensi dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Guru bahasa dapat memberikan pemahaman kepada siswa tentang tindak tutur direktif dan bagaimana cara penerapannya. Kompetensi pragmatik yang terkait dalam penggunan tindak tutur derektif penting untuk dimiliki siswa. Siswa harus tau bagaimana cara penerapan yang sesuai ketika ingin menggunakan bentuk tindak tutur direktif.
Kajian mengenai tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa digunakan untuk memperoleh jawaban untuk permasalahan yang diteliti. Pengkajian tindak tutur direktif dilakukan untuk mengetahui bentuk tindak tutur direktif yang yang terdapat
dalam pembelajaran bahasa Indonesia adapun pengkajian kesantunan berbahasa dilakukan untuk mengetahui pematuhan prinsip kesantunan berbahasa tutura yang terdapat dalm pembelajaran dikelas secara tatap muka tentunya berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Penutur atau guru lebih mendominasi tuturan dan siswa lebih pasif hanya mengikuti apa yang di minta oleh guru.
pengkajian mengenai konteks tuturan dalam tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa menggunakan kajian ilmu pragmatik dapat memberikan kontribusi dalam kajian kebahasaan, selain itu hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti lain yang ingin mengkaji penggunaan bahasa pada pembelajaran bahasa Indonesia.
Penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan penjelasan teoretis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Teori-teri yang terdapat dalam penelitian ini dapat dijadikan landasan dalam menjelaskan masalah penelitian. Teori tersebut dapat menambah pemahaman dan pengetahuan mengenai kajian tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari pendapat para ahli, dan sumber yang dipercaya, penggunaan sumber yang terkini, dan relevan dengan variabel penelitian. Oleh karena itu teori yang terdapat dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan referensi pengajar, siswa, dan pembaca.
2. Implikasi Praktis
Permasalahan yang diteliti pada penelitian ini yakni tindak tutur direktif dan kesantunan berbahasa pada pembelajaran bahasa Indonesia secara daring di kelas multikultur. Penelitian tindak tutur direktif antara guru dan siswa sesuatu penelitian yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Tuturan guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa saat pembelajaran memiliki peran penting dalam pemahaman dan pemerolehan bahasa siswa. Terkadang pengajar masih kurang memperhatikan apa yang dituturkan kepada siswa sehingga siswa kurang mengerti dan memahami maksud dan tuturan pengajar apalagi dalam kelas pembelajaran terdapat siswa yang memiliki latar belakang suku yang berbeda-beda.
Penelitian ini dapat dijadikan sebuah pemecahan masalah agar saat berkomunikasi tidak ada kesalah pahaman antara penutur dan mitra tutur. guru dan siswa dapat menggunakan tindak tutur direktif dengan memperhatikan kesantunan berbahasa sehingga menghasilkan tuturan yang santun dan saling menghargai antara satu sama lain. Guru dan siswa menjadi lebih akrab. Hasil penelitian ini dapat
digunakan guru untuk menghasilkan tuturan yang santun, meski guru berlatar belakang suku batak yang cenderung memiliki logat yang bernada tinggi dan cepat tetapi dengan adanya penelitian ini dapat mempengaruhi cara berinteraksi dengan siswa lebih lembut dan merendahkan nada tingginya. Siswa juga diharapkan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu guru perlu meningkatkan kompetensi pragmatik siswa agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Hasil penelitian ini bila dibandingkan dengan penelitian lain memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan penelitian lain yang sejenis. Penelitian mengenai tindak tutur biasaya menganalisis tindak tutur pada novel. Pada penelitian ini tuturan yang dianalisis terdiri dari tuturan guru dan siswa. Tindak tutur yang pernah dikaji dalam penelitian terdahulu menganslisis tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
Dalam pembelajaran secara langsung atau tatap muka. Penelitian ini lebih berfokus pada tindak tutur direktif pada pembelajaran secara daring di kelas multikultur sehingga analisis temuan data dan pembahasan lebih mendalam dibanding penelitian sebelumnya.
Pengkajian mengenai kesantunan berbahasa sudah banyak dilakukan oleh peneliti lain. Akan tetapi penelitian ini mengkaji kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara daring di kelas yang memiliki siswa berbeda suku. Tuturan dianggap santun apabila apabila mematuhi prinsip kesantunan berbahasa. Tujuan adanya penggunaan kesantunan dalam berkomunikasi untuk menghargai, menghormati, dan menerapkan norma-norma kesopanan yang terdapat dalam masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Tuturan yang dihasilkan oleh guru dan siswa dapat menjadi lebih santun dan saling mengerti antara suku yang berbeda-beda.
Siswa dapat lebih bertambah penguasaan kosa kata dalam bahasa Indonesia yang santun atau tidak santun saat berinteraksi dengan guru.
C. Saran
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kesalahan yang perlu diperbaiki dalam menyusun penelitian ini karena keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan.
Oleh karena itu penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut 1. Bagi Guru Bahasa Indonesia
Sebagai seorang penutur diharapkan dapat lebih memperhatikan dan mempertimbangkan tuturan yang akan disampaikan kepada mitra tutur yaitu siswa.seorang guru diharapkan agar selalu bertutur dengan santun agar siswa lebih nyaman dan menghargai guru sebagai penutur. Karena sejatinya siswa adalah cerminan dari gurunya, semakin baik tuturan dan santun tuturan seorang guru maka siswa akan semakin hormat dan santun dalam bertutur kepada guru.
oleh sebab itu penelitian ini bermaksud untuk memberi sumbangan pengetahuan serta pemahaman khususnya mengenai kesantunan dalam bertutur antara guru dan siswa.
2. Bagi Siswa
. Bagi Para siswa khususnya para pembelajar bahasa indonesia, hendaknya lebih meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang tuturan, khususnya tindak tutur direktif hal ini dimaksudkan agar dalam percakapan sehari-hari dan disekolh nantinya para siswa dapat menerapkan dan memakai tuturan yang baik dan lebih mempertimbangkan konteks dan situasi yang melatar belakangi suatu tuturan
3. Bagi Sekolah
Penggunaan tuturan tindak tutur direktif yang dituturkan guru dan siswa bisa lebih ditingkatkan untuk menciptakan interaksi belajar yang lebih baik dan aktif. Bagi sekolah Wabah covid-19 sudah menimbulkan perubahan kehidupan siswa saat ini. Penerapan Pembelajaran jarak jauh yang ditetapkan pemerintah hampir sepuluh bulan tentunya harus diimbangi dengan fasilitas penunjang agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sekolah dapat memberikan semua fasilitas, kepelatihan serta sosialisasi secara rutin yang harus disiapkan sebagai sarana untuk lebih meningkatkan pembelajaran secara daring ini untuk penerapan aturan belajar dari rumah bagi siswa dan guru.