Nama : Mhd Taufik NIM : 190403052
Kelas : Sistem Kendali Manusia Mesin
Ujian Tengah Semester
I. Tactile dan Olfactory Sense
Sistem indera adalah bagian dari sistem koordinasi yang terdiri dari lima alat indera yang berfungsi sebagai menerima rangsangan dari luar tubuh, lalu rangsangan tersebut diteruskan ke otak dalam bentuk impuls, sesampai di otak akan diterjemahkan dan akan diteruskan melalui saraf ke organ indera semula untuk memberikan tanggapan atas rangsang yang diterima.
A. Indera Peraba (Kulit)
Kulit merupakan salah satu organ yang paling luas permukaannya dan sangat penting bagi tubuh, yang membungkus seluruh tubuh bagian luar sehingga kulit berfungsikan melindungi tubuh terhadap bahan-bahan berbahaya seperti bahan-bahan kimia, cahaya matahari yang mengandung sinar ultraviolet, melindungi terhadap mikroorganisme (mikroba) serta menjaga keseimbangan antara tubuh terhadap lingkungannya. Selain itu, kulit juga mempunyai susunan serabut-serabut saraf yang teranyam secara halus yang berguna untuk merasakan sentuhan-sentuhan atau sebagai alat perasa dan peraba.
Kulit juga merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh kesan umum seseorang, yaitu dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit, misalnya menjadi pucat, kekuning-kuningan, kemerah-merahan atau untuk suhu kulit apakah meningkat atau tidak, dan sebagainya.
Kulit berfungsi menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Indera peraba yang terdapat di kulit sering disebut tangoreseptor. Selain sebagai alat ekskresi, kulit juga berfungsi sebagai indera perasa dan peraba. Kulit terdiri atas tiga lapisan yaitu epidermis, dermis dan hipodermis. Epidermis adalah lapisan terluar kulit yang berfungsi melindungi tubuh dari gesekan dan sinar matahari, dermis adalah bagian kulit yang di dalamnya terdapat ujung-ujung saraf yang peka
terhadap rangsangan, dan hipodermis berfungsi sebagai penyimpan lemak yang berlebih. kulit terdiri atas dua lapisan yaitu :
1. Epidermis tersusun atas epitelium berlapis dan terdiri atas sejumlah lapisan sel yang disusun atas dua lapis yang jelas tampak
2. Dermis tersusun atas jaringan fibrous dan jaringan ikat yang elastis.
Didalamnya terdapat ujung akhir saraf sensoris sebagai puting peraba, serta terdapat kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus.
Reseptor-reseptor yang terdapat pada kulit terdiri dari korpus meissner berfungsi untuk menerima rangsang sentuhan/rabaan, korpus pacini berfungsi menerima rangsang tekanan yang dalam (kuat), korpus ruffini berfungsi untuk menerima rangsang panas, korpus krause berfungsi untuk menerima rangsang dingin, dan lempeng merkel yang berfungsi sebagai ujung saraf peraba sentuhan dan perasa ringan.
B. Indera Pendengaran (Telinga)
Telinga manusia merupakan organ pendengaran yang menangkap dan merubah bunyi berupa energi mekanis menjadi energi elektris secara efisien dan diteruskan ke otak untuk disadari serta dimengerti, sebagai sistem organ pendengaran, telinga dibagi menjadi sistem organ pendengaran perifer dan sentral.
Gangguan pendengaran mengakibatkan seseorang kesulitan mendengar pembicaraan sehingga terjadi gangguan komunikasi yang dapat berdampak negatif terhadap pekerjaan, pendidikan dan hubungan sosial , hal tersebut dapat menimbulkan depresi. Gangguan pendengaran pada anak yang didapatkan sejak lahir akan menjadi penderita tuli dan bisu.
Sistem organ pendengaran perifer terdiri dari struktur organ pendengaran yang berada di luar otak dan batang otak yaitu telinga luar, telinga tengah, telinga dalam dan saraf kokhlearis sedangkan organ pendengaran sentral adalah struktur yang berada di dalam batang otak dan otak yaitu nukleus koklearis, nukleus olivatorius superior, lemnikus lateralis, kolikulus inferior dan kortek serebri lobus temporalis area wernicke.
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea,12 Proses mendengar melalui tiga tahapan yaitu tahap pemindahan energi fisik berupa stimulus bunyi ke organ pendengaran, tahap konversi atau tranduksi yaitu pengubahan energi fisik stimulasi tersebut ke organ penerima dan tahap penghantaran impuls saraf ke kortek pendengaran.
Kelainan klinis pada telinga terdiri dari :
1. Meatus Auditorius Eksterna adalah daerah yang dapat terserang furunkulosis, sebuah bisul atau bisul-bisul multipel dalam liangnya, yang membawa rasa sakit hebat sekali
2. Otitis Media atau infeksi telinga tengah, dapat terjadi setelah seseorang diserang influenza, campak dan sinusitis
3. Labirinitis 4. Ketulian
II. Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja yang Terpapar Bising di Unit Spinning I PT. Sinar Pantja Djaja Semarang
Kebisingan di lingkungan kerja merupakan masalah utama pada kesehatan kerja di berbagai negara. Sedikitnya 7 juta orang (35% dari total populasi industri di Amerika dan Eropa ) terpajan bising 85 dB atau lebih. Ketulian yang terjadi dalam industri menempati urutan pertama dalam daftar penyakit akibat kerja di Amerika dan Eropa. Di Amerika lebih dari 5,1 juta pekerja terpajan bising dengan intensitas lebih dari 85 dB. Pengaruh utama kebisingan kepada kesehatan adalah kerusakan kepada indera pendengar, yaitu menyebabkan trauma akustik, ketulian sementara dan tuli permanen. Gangguan pendengaran akibat bising merupakan salah satu dari empat penyebab utama masalah ketulian yang terjadi di Indonesia selain otitis media supuratif kronik, tuli kongenital dan tuli pada usia lanjut.
PT. Sinar Pantja Djaja merupakan salah pabrik benang yang keseluruhan proses produksinya dilakukan dengan bantuan mesin, diantaranya mesin Blowing, Carding, Drawing, Flyer, Ring Spinning, Winding. Perusahaan ini memiliki lima
unit spinning, salah satunya adalah Unit spinning 1. Unit ini merupakan unit yang pertama kali didirikan dan paling lama beroperasi. Mesin-mesin yang digunakan pada unit ini juga terhitung cukup tua buatan tahun 1988 dengan kapasitas 3600 spindle. Unit ini memproduksi benang polyster. Berdasarkan hasi penyebaran kuesioner terdapat keluhan subjektif pada pekerja PT. Sinar Pantja Djaja berupa sebanyak 26 responden (52%) dari 50 responden mengaku telinganya sering berdengung. 18 responden (36%) mengaku merasa sering pusing, 30 responden (60%) mengaku sering diprotes orang lain karena volume suara TV atau radio terlalu keras, 7 responden (14%) mengaku merasa nyeri pada satu atau kedua telinga, dan 19 responden (38%) mengaku lawan bicaranya harus berteriak saat harus berkomunikasi.
Berdasarkan hasil analisis sejalan dengan teori yang disampaikan Bashirudin tentang semakin lama seseorang terpapar bising maka orang itu semakin rentan terkena gangguan pendengaran. Pekerja yang pernah atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu lima tahun atau lebih. Adanya hubungan antara masa kerja dan gangguan pendengaran dikarenakan telinga terpapar kebisingan maka mula mula telinga akan merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang akan kembali seperti semua (Temporary Threshold Shift). Tetapi lama-kelamaan telinga tidak lagi merasa terganggu karena suara tidak terasa begitu bising seperti awal pemaparan. Saat itu sudah terjadi kenaikan nilai ambang dengar yang merupakan akumulasi sisa ketulian dari TTS yang kemudian berubah sifat menjadi permanen.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari jurnal tersebut diperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan antara faktor usia, penempatan kerja, intensitas kebisingan, dan masa kerja pada kedua telinga terhadap kejadian gangguan pendengaran pada pekerja yang terpapar bising di unit spinning I PT. Sinar Pantja Djaja Semarang. Tidak ada hubungan antara penggunaan APT terhadap kejadian gangguan pendengaran pada pekerja yang terpapar bising di unit spinning I PT.
Sinar Pantja Djaja Semarang.
REFERENSI :
Rahayu, Pristi, dkk. 2016. Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja yang Terpapar Bising di Unit Spinning I PT.
Sinar Pantja Djaja Semarang. Journal Of Public Health. ISSN 2252-6781.
Endrianto, dkk. 2016. Indera Peraba. Makalah.
Nugroho, Puguh Setyo. 2009. Anatomi dan Fisiologi Pendengaran Ferifier.
Jurnal THT. 2(2). Hlm 76-85.