Universitas Sanata Dharma di Kampus I Mrican Yogyakarta
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Ekonomi Manajemen
Disusun oleh:
Theresia Ratmawati SS
NIM: 012214197
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
ANALISIS HUBUNGAN PENILAIAN KONSUMEN TERHADAP
DAYA TARIK IKLAN SABUN LUX PADA MEDIA TELEVISI
DENGAN MINAT BELI KONSUMEN
Studi Kasus Pada Mahasiswa Angkatan 2005 dan 2006
Universitas Sanata Dharma di Kampus I Mrican Yogyakarta
Disusun Oleh :
Nama : Theresia Ratmawati SS NIM : 012214197
Telah disetujui oleh : Dosen Pembimbing I
Drs. Marianus Mochtar Modesir, MM Tanggal 9 Maret 2006
Dosen Pembimbing II
Drs. A. Triwanggono MS Tanggal 3 April 2007
JIWA PEKERJA KERAS TELAH BEKERJA KERAS
BAGI DIRINYA, KARENA MULUTNYA TELAH
MENDESAK NYA DENGAN KUAT. (
AMSAL 16 :26)
IA MEMBUAT SEGALA SESUATU INDAH PADA
WAKTUNYA. BAHKAN IA MENARUH WAKTU YANG
TIDAK TERTENTU DALAM HATI MEREKA, AGAR
MANUSIA TIDAK PERNAH DAPAT MEMAHAMI
PEKERJAAN YANG DIBUAT OLEH ALLAH YANG
BENAR SEJAK PERMULAAN SAMPAI AKHIR
.
(
PENGKOTBAH 3:11)Kupersembahkan skripsi ini untuk:
Yang terkasih Ibu,bapak Petrus Soedharno,
mas suppry-kak Happy;
mas Pudji and kak Moy;
mas Yatin-Mba Assich
serta pendamping hidupku Panji
tak lupa keponakanku yang manis
tegar, resya, Vianney, and teja
TELEVISI
DENGAN MINAT BELI KONSUMEN
Studi Kasus pada Mahasiswa angkatan 2005 dan 2006 Universitas Sanata Dharma di Kampus I Mrican
Yogyakarta
THERESIA RATMAWATI SS UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2007
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap iklan sabun Lux di televisi serta hubungannya dengan minat beli konsumen.
Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden dengan metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Skala yang digunakan adalah analisis Semantic Differential Scale untuk mengetahui daya tarik iklan sabun Lux di televisi serta minat beli konsumen, Analisis korelasi Product Moment digunakan untuk menganalisis hubungan antara daya tarik iklan sabun Lux dengan minat beli konsumen.
Hasil rata-rata skor daya tarik iklan menunjukkan bahwa daya tarik iklan sabun Lux di televisi adalah tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata analisis sebesar 3,74 yaitu masuk dalam range nilai 3,40-4,19. Selanjutnya dari hasil analisis korelasi product moment dapat diketahui bahwa daya tarik iklan sabun Lux di televisi memiliki hubungan atau korelasi yang positif dan signifikan dengan minat beli konsumen, dengan nilai korelasinya sebesar 0,418.
LUX SHOWER SOAP TELEVISION ADVERTISEMENT AND
PURCHASE INTENTION
A case study on students of Sanata Dharma University
Yogyakarta
THERESIA RATMAWATI SS SANATA DHARMA UNIVERSITY
YOGYAKARTA 2007
This research aimed to find out the relationship between evaluation towards the appeals of Lux shower soap television advertisement and purchase intention.
The research was conducted by giving questionnaires to 100 respondents using “purposive sampling” technique. The research used “Sementic Differential Scales” to find out the appeals of Lux shower soap television advertisement. “Product Moment” correlation analisis was used to analyze the relationship between the appeals of Lux shower soap commercial and consumers’ purchase intention.
The result of the study showed that the appeal of Lux shower soap adverstisement was high, with the value of 3.74. The product moment correlation analysis showed that the appeal of Lux shower soap television advertisement had a positive and significant correlation with the consumers’ purchase intention, with the value of 0.418.
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.
Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan serta bimbingan yang sangat berguna bagi penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin manyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.
Tuhan yesus Kristus
pembimbing jalanku yang tidak pernah lelah menemani dalam kehidupanku sekarang, dan selamanya.2. Romo Dr. Ir. P. Wiryono P., S.J. selaku rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
4. Bapak Drs. Marianus Mochtar Modesir, MM, selaku Dosen Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, dan memberikan pengarahan, dengan penuh kesabaran kepada penulis dalam menyusun skripsi ini. Tanpa bantuan dan bimbingan yang Bapak berikan dalam penulisan skripsi ini penulis tidak dapat menyelesikan dengan semaksimal mungkin.
Tanpa bantuan bapak untuk meluangkan waktu disela-sela kesibukan, mungkin skripsi ini jauh dari sempurna, trimakasih atas masukan-masukan yang sangat membangun.
6. Bapak Drs. P. Rubiyatno, M.M., selaku dosen penguji.
7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi prodi Manajemen yang telah memberikan bekal ilmu selama dibangku kuliah sampai dengan penulis menempuh ujian sarjana.
8. Seluruh Staf sekretariat Fakultas Ekonomi yang telah membantu dalam menyediakan berkas-berkas dalam penulisan skripsi ini.
9. Seluruh Karyawan Universitas Sanata Dharma yang telah menciptakan suasana belajar yang penuh dengan Humanitas.
10. Romo FX. Endra Wijayanta, Pr yang dengan sabar dan setia mengirimkan doa dan berkat, trimakasih banyak Romo.
11. Keluarga besar Agung Komari atas motivasinya dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Bapak dan ibu terkasih, trimakasih atas kesabaran, bimbingan, dukungan, motifasi, dan doa yang diberikan, terimakasih yang teramat sangat atas hangat peluk kasihmu
, [for my mom you’re my best inspiration].
13.
Mas Supri, Mba Assich, dan mas Pudji
thanks buat saran, dukungan dan doa selama penulisan skripsi.15. Yang selalu menyinari hari-hariku
My Soulmate mas Panji,
you
make me strong and have a good live.
16. K’ Happy, K’ Moy, and Ms Yatin trimakasih atas doanya.
17. My friends, Iin, Mamet, Hendra, Topan, Ndoer, Andit, Michael, Mas Dwi, Lila, Mbirut, Bitha, K’ Acid, Netta, and Nina Thanks ya buat pertemanan kita selama ini, buat dukungan, support, serta spirit dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
18. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah dengan senang hati membantu dan memberikan dukungan yang begitu besar.
Penulis menyadari betul bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan skripsi ini, karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semua.
Yogyakarta, Maret 2007
Penulis
Theresia Ratmawati SS
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... .v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN……….………….….…………... 1
A. Latar Belakang Masalah……….…….….………….. 1
B. Perumusan Masalah……….……..………. 3
C. Batasan Masalah……….………..……….. 3
D. Tujuan Penelitian……….….………….………. 3
E. Manfaat Penelitian……….……….…..……….. 4
F. Sistematika Penulisan………. 4
BAB II LANDASAN TEORI………6
A. Pengertian Pemasaran……….6
B. Komunikasi Pemasaran………...…7
C. Promosi ………..……... 8
D. Periklanan…..………..…... 10
E. Tujuan Periklanan………. 11
F. Pengaruh Iklan………. 12
G. Iklan dan Pemasaran………. 14
H. Televisi.………... 15
I. Teknik-teknik Visual Iklan di Televisi…..………16
M. Minat……….20
N. Minat Beli Konsumen……….. 21
O. Penilaian………21
P. Hipotesis……….. 22
BAB III METODE PENELITIAN……… 23
A. Jenis Penelitian……….... 23
B. Tempat dan Waktu Penelitian………... 23
C.Subjek dan Obyek Peneliltian……….. 23
D. Variabel Penelitian………...…... 24
E. Populasi dan Sampel……… 25
F. Teknik Pengujian Instrumen………. 26
G. Data………. 28
H. Metode Pengumpulan Data………. 28
I. Teknik Analisis Data……… 29
BAB IV GAMBARAN UMUM ...………... 35
A. Gambaran Umum Universitas Sanata Dharma…….………... 35
B. Gambaran Umum Iklan Sabun Lux ……….47
BABA V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN………49
A. Kuesioner……… 49
B. Pengujian Instrumen……….………51
1. Pengujian Validitas Kuesioner………51
2. Pengujian Reliabilitas Kuesioner……….………... 53
C. Teknik Analisis Data……….……….. 55
1. Analisis Persentase……….56
2. Analisis Data tarik iklan …………..……….…. 60
3. Analisis Minat beli sabun Lux ……….. 70
4. Analisis Hubungan Daya Tarik Iklan Dengan Minat Beli………. 74
C. Keterbatasan Penelitian……….………82
DAFTAR PUSTAKA ...83
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. Latar Belakang Masalah
Strategi komunikasi pemasaran yang menggunakan media periklanan seperti radio, televisi, majalah, internet, surat kabar, dan lain sebagainya selalu memberikan daya tarik yang luar biasa. Produk yang ditawarkan akan lebih hidup dengan banyaknya atribut komunikasi pemasaran. Menurut Harry Susianto, Psikolog Konsumen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, iklan dibuat agar produk tersebut dibeli oleh konsumen (Kompas, 6 Oktober
2003:11).
Dalam memasarkan suatu produk pasti selalu ada persaingan antar perusahaan, dan untuk memenangkan persaingan tersebut iklan dapat
digunakan sebagai sarana untuk memenangkan persaingan. Iklan merupakan salah satu bagian dari pemasaran yang menggunakan konsep pemuasan konsumen dengan memberikan jasa layanan yang terbaik, presentasi produk merupakan salah satu cara untuk menginformasikan pesan dan memotivasi konsumen. Setiap iklan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, dan masing-masing perusahaan berusaha menyampaikan produk yang diiklankan dengan baik dan seefektif mungkin.
Pemilihan media promosi yang tepat dalam menentukan penempatan iklan merupakan hal yang sangat penting. Televisi merupakan salah satu media promosi yang paling efektif dalam mengiklankan suatu produk.
Di Indonesia media iklan yang utama masih dikuasai oleh televisi, hal ini terbukti dengan dampak yang ditimbulkan lebih besar dibandingkan dengan media iklan lainnya. Dibanding dengan media lain televisi memiliki keunggulan, keunggulan tersebut antara lain adalah jangkauan yang luas, pasar yang disampaikan lebih mudah diekspresikan, bersifat hiburan dan menarik untuk dilihat, penetapan sasaran yang bersifat informasi dan persuasif dapat lebih tercapai, frekuensi pesan yang sering sehingga lebih mudah untuk diingat.
Iklan sabun Lux di media televisi memperoleh tanggapan yang beraneka ragam dari para konsumen dengan berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik tersebut meliputi jenis kelamin, usia, status, dan pendapatan. Konsumen ada yang memberikan tanggapan positif, karena mereka menganggap bahwa iklan tersebut memberikan informasi dan pengetahuan serta hiburan yang menarik. Ada pula yang memberikan tanggapan yang negatif, mereka menganggap bahwa iklan yang ditayangkan di televisi dapat menyesatkan konsumen dan dapat membuat orang membeli produk yang sesungguhnya tidak mereka inginkan.
Berdasarkan berbagai uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ”ANALISIS HUBUNGAN PENILAIAN KONSUMEN TERHADAP DAYA TARIK IKLAN SABUN LUX PADA
MEDIA TELEVISI DENGAN MINAT BELI KONSUMEN”,
Studi Kasus pada Mahasiswa Angkatan 2005 dan 2006 Universitas
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimana daya tarik iklan sabun Lux di televisi?
b. Apakah terdapat hubungan antara daya tarik iklan sabun Lux yang ditayangkan di televisi dengan minat beli konsumen?
C. Batasan Masalah
a. Konsumen yang diartikan disini adalah yang pernah melihat iklan sabun Lux di televisi dan belum pernah menggunakan produk tersebut.
b. Subyek penelitian adalah Mahasiswa dan Mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
D. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian “Analisis Hubungan Penilaian Konsumen Terhadap Daya Tarik Iklan Sabun Lux Pada Media Televisi” terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penulis. Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a. Untuk mengetahui daya tarik iklan sabun Lux yang ditayangkan di televisi.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi Perusahaan
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam menentukan kebijakan promosi agar lebih diminati oleh konsumen.
b. Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta merupakan kesempatan menerapkan teori-teori yang diperoleh dari bangku kuliah, dalam upaya untuk memecahkan masalah secara sistematis dan ilmiah.
c. Bagi Universitas Sanata Dharma
Diharapkan penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan acuan yang dapat membantu bagi penelitian sejenis yang lebih lanjut.
F. Sistematika Penulisan
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Landasan Teori
Bab ini mengemukakan secara terperinci studi pustaka yang berisi teori-teori yang mendukung penelitian yang dilakukan dan pemecahan masalah.
Bab III : Metodologi Penelitian
Bab ini meliputi jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, lokasi dan waktu penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, populasi dan teknik pengambilan sampel, teknik pengujian instrumen dan teknik analisis data.
Bab IV : Gambaran umum
Bab ini akan membahas mengenai gambaran umum Universitas Sanata Dharma dan Gambaran umum iklan sabun Lux.
Bab V : Analisis Data
Pada bab analisis data akan dijelaskan mengenai analisis data dan pembahasannya.
Bab VI : Kesimpulan, Saran, dan Keterbatasan Penelitian
A. Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain (Kotler, 1995:8).
Sedangkan pengertian pemasaran dari segi perusahaan adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiata-kegiatan bisnis yang bertujuan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Basu Swastha dan Irawan, 1985:5).
Kombinasi dari kegiatan pemasaran yaitu kegiatan penerapan produk, penetapan harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi disebut sebagai bauran pemasaran (marketing mix) (Stanton, 1986:38). Dari variabel bauran pemasaran ini, pemasaran harus memilih kombinasi terbaik yang sesuai dengan lingkungannya. Bauran pemasaran adalah inti dari kegiatan pemasaran, pemasaran harus menggunakan kombinasi yang mengacu pada hasil yang sinergis.
Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing variabel: 1. Produk
Perusahaan harus merencanakan, menetapkan, dan mengembangkan produk produk yang akan dipasarkan. Produk dapat berupa barang, jasa, atau ide.
2. Harga
Perusahaan harus menentukan harga yang tepat untuk produk-produknya. Penetapan harga adalah hal yang penting karena harga sangat terlihat oleh konsumen dan langsung berhubungan dengan keuntungan perusahaan.
3. Promosi
Promosi digunakan oleh perusahaan untuk memberi informasi tentang produk perusahaan dan membujuk pasar sasaran agar melakukan pembelian.
4. Distribusi
Kegiatan distribusi meliputi proses transportasi, penyimpanan di gudang dan pemilihan tempat untuk memasarkan produk.
B. Komunikasi Pemasaran
pembeli, dan merupakan kegiatan yang membantu dalam pengambilan keputusan di bidang pemasaran serta mengarahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik (Basu Swastha dan Irawan, 1985:345).
Pemasaran modern menghendaki lebih daripada mengembangkan produk yang baik, menetapkan harga yang bersaing, dan memungkinkan dijangkaunya pelanggan sasaran. Tetapi juga harus mampu mengkomunikasikan diri dengan pelanggan yang ada maupun yang potensial. Sebab tidak dapat dihindari bahwa setiap perusahaan haruslah dapat berperan sebagai komunikator dan promotor (Kotler, 1993:376).
C. Promosi
Promosi adalah berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya pada pasar sasaran (Kotler, 1995:114).
Berikut ini adalah definisi promotional mix menurut William J. Stanton: “Promotional mix adalah kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-variabel periklanan, personal selling dan alat promosi lain yang
semuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan” (Basu Swastha dan Irawan, 1985:349).
Definisi dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut: 1. Periklanan (Advertising)
Yaitu setiap bentuk penyajian dan promosi bukan pribadi akan gagasan, barang atau jasa yang dibayar oleh sebuah sponsor tertentu.
2. Promosi penjualan (Sales promotion)
Adalah insentif jangka pendek untuk meningkatkan pembelian atau penjualan produk atau jasa.
3. Publisitas (Publicity)
Adalah rangsangan permintaan bukan pribadi atas produk, jasa, atau satuan bisnis dengan memasang berita yang disignifikan secara komersial mengenai produk jasa atau satuan bisnis pada media cetak atau dengan memperoleh penyajian yang menarik melalui radio, TV, atau pentas yang tidak dibayar oleh sponsor.
4. Penjualan pribadi (Personal selling)
D. Periklanan (Advertising)
Dari keempat alat promosi yang telah dijelaskan, alat promosi yang paling banyak digunakan oleh perusahaan untuk mendorong komunikasi dengan audiens sasaran atau masyarakat dalam usahanya memasarkan suatu produk atau jasa adalah dengan periklanan (advertising).
Berikut adalah beberapa definisi periklanan: 1. Menurut Philip Kotler (Kotler, 1999: 627)
Periklanan adalah suatu presentasi dan promosi bukan pribadi atas ide-ide, barang-barang, dan jasa-jasa dari sponsor tertentu dengan imbalan tertentu.
2. Menurut Skinner Ivancevich (Kasali, 1992: 556)
Suatu bentuk komunikasi bukan pribadi ditujukan pada audiens pemasaran yang dilakukan melalui media massa. Seperti televisi, surat kabar, dan majalah dengan imbalan tertentu.
E. Tujuan Periklanan
Aspek penting dalam manajemen adalah menentukan tujuan (objektif). Tanpa tujuan yang baik, tidak mungkin mengarahkan dan mengendalikan keputusan. Tantangan dalam kegiatan periklanan dewasa ini adalah membawa konsep manajemen efektif pada proses periklanan dan kunci terpenting dari semua ini adalah penentuan tujuan. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan periklanan untuk meningkatkan penjualan yang menguntungkan (Kotler, 1998: 237). Adapun berbagai kemungkinan tujuan lain adalah:
1. Untuk menginformasikan
a. Memberitahukan pasar tentang suatu produk baru b. Mengusulkan kegunaan baru suatu produk
c. Memberitahukan pasar tentang perubahan harga d. Menjelaskan cara kerja suatu produk
e. Menjelaskan layanan yang tersedia f. Mengoreksi kesan yang salah g. Mengurangi kecemasan konsumen h. Membangun citra perusahaan 2. Untuk membujuk
a. Membentuk preferensi merek b. Mendorong alih merek
c. Mengubah persepsi konsumen tentang atribut produk d. Membujuk konsumen untuk membeli sekarang
3. Untuk mengingatkan
a. Mengingatkan konsumen bahwa produk tersebut mungkin akan dibutuhkan kemudian
b. Mengingatkan konsumen dimana dapat membeli produk tersebut
c. Membuat konsumen tetap ingat produk itu walaupun tidak sedang musimnya
d. Mempertahankan kesadaran puncak
F. Pengaruh Iklan
Begitu banyak terpaan iklan yang menyelimuti kehidupan kita, sehingga tidak mustahil bahwa iklan sedikit atau banyak dipastikan akan membawa dampak. Efek itu sangat beragam, merambah berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari tingkat individual, keluarga hingga masyarakat (Rendra Widyatama, 2005: 156). Pengaruh tersebut antara lain:
a. Pengaruh ekonomi
iklan memang lebih difungsikan untuk kepentingan ekonomi, yaitu pemasaran produk sekalipun tidak berarti semua difokuskan untuk itu. b. Pengaruh psikologis
Iklan ikut menentukan tingkat minat, kepercayaan, dan keyakinan kita terhadap produk. Minat masyarakat terhadap produk tumbuh karena iklan yang menarik, atau sebaliknya. Tingkat keyakinan tersebut, pada gilirannya juga ikut menjadi penentu keputusan seseorang dalam memilih produk yang hendak dibeli.
Dalam perspektif psikologis, kesetiaan terhadap merek merupakan fenomena yang menarik. Sebab, ketika konsumen dihadapkan pada sejumlah pilihan, dimana persaingan produk telah menyebabkan barang semakin baik dan murah, namun konsumen tidak mencoba berpaling pada produk tertentu. Produk yang berkualitas saja tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan dalam membangun kesetiaan.
Kesetiaan konsumen justru akan terbangkitkan bila psikologi konsumen direkayasa sedemikian rupa oleh rekayasa pesan melalui iklan. Dengan kata lain, iklan tampaknya mampu membangun pengaruh terhadap kesetiaan konsumen pada produk.
c. Pengaruh sosial budaya
waktu, namun pada waktu tertentu pula budaya tersebut hilang digantikan oleh budaya yang lain. Sekalipun timbul tenggelam, namun budaya-budaya pop tersebut mampu menjadikan masyarakat mengalami dinamika kebudayaan yang dinamis.
G. Iklan dan Pemasaran
Menurut Rendra Widyatama dalam bukunya Pengantar Periklanan, Dewasa ini membicarakan pemasaran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan periklanan. Sebaliknya, menggeluti bidang periklanan juga akan sulit bila tidak mengetahui pemasaran. Periklanan dan pemasaran merupakan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Iklan tidak pernah bisa lepas dari kegiatan pemasaran (marketing).
Dalam kegiatan pemasaran modern, periklanan merupakan bagian dari kegiatan promotion mix (bauran promosi), bersama-sama dengan kegiatan
personal selling, publisitas, dan promosi dagang. Sementara itu dalam perspektif komunikasi pemasaran dan ekonomi, promotion mix tersebut merupakan bagian dari kegiatan marketing mix (bauran pemasaran). Dengan kata lain, dalam perspektif ini periklanan sebenarnya adalah bagian kecil dari kegiatan pemasaran yang lebih luas.
Pada era modern seperti sekarang ini, pemasaran tidak sekedar membuat barang sebaik mungkin, lalu memasarkannya kepada konsumen, menetapkan harga yang sesuai, serta menata (mendisplay) pada tempat yang menarik. Perusahaan juga perlu melakukan komunikasi yang baik kepada calon konsumennya. Dalam perspektif ini perusahaan sebenarnya merupakan pihak komunikator yang menyampaikan pesan kepada komunikannya melalui barang dan jasa yang ditawarkannya. Untuk itu perusahaan perlu melakukan komunikasi yang efektif terhadap komunikannya.
Pemasaran tanpa beriklan bagaikan seseorang mempunyai produk bagus tetapi tidak pernah ditawarkan pada pembeli. Akibatnya, pembeli tidak pernah mengetahui ada barang semacam itu. Jadi bagaimana konsumen akan tertarik, melihat, memilih, memakai atau mengkonsumsi produk itu bila konsumen tidak pernah mengetahui apa, bagaimana dan dimana produk dapat ditemukan.
Oleh karena itulah, barang atau jasa yang dihasilkan perlu dikomunikasikan kepada publik. Semakin luas dikomunikasikan kepada masyarakat, semakin luas pula barang atau jasa tersebut dikenal.
H. Televisi
Pada tahun-tahun berikutnya, stasiun televisi swasta mulai bermunculan. Stasiun televisi swasta ini dimanfaatkan oleh pala pengiklan untuk menyampaikan pesan-pesan tentang produk yang akan ditawarkan. Dengan menggunakan indra penglihatan dan pendengaran serta kemampuan dalam menjangkau khalayak yang luas, televisi dianggap sebagai media yang paling efektif dalam mempengaruhi perilaku konsumen.
I. Teknik-teknik visual iklan di televisi
Dalam pembuatan iklan di televisi, teknik visual yang dapat digunakan adalah sebagai berikut (Kasali, 1992: 94-95):
1. Spokes person
Teknik ini menampilkan seseorang dihadapan kamera yang langsung membawakan iklan kepada pemirsa di televisi.
2. Testimonial
Teknik ini mempergunakan seseorang yang dikenal luas yang mampu memberikan kesaksian atau jaminan tentang suatu produk.
3. Demonstration
Teknik ini memberikan demonstrasi kepada konsumen tentang manfaat suatu produk.
4. Close up
5. Story line
Teknik ini mirip membuat sebuah film yang sangat pendek.
6. Direct product compatison
Teknik ini membuat produk secara langsung
7. Humor
Iklan yang disajikan dengan humor
8. Slice of life
Teknik ini mempergunakan penggalan dari adegan-adegan sehari-hari
9. Customer interview
Teknik ini menampilkan pewawancara dengan konsumen yang diwawancarainya.
10.Animation
Teknik ini menggunakan gambar atau tokoh kartun sebagai pengganti suasana atau manusia sebenarnya.
11.Stop mution
Teknik ini menampilkan iklan dengan gambar tidak bergerak atau rangkaian gambar berseri.
12.Rotoscope
Teknik ini menggabungkan teknik animasi dengan gambar nyata.
13.Combination
J. Kekuatan dan kelemahan televisi
Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki televisi adalah (Kasali,1992:121-122)
1. Kekuatan
a. Efisiensi biaya
Kemampuan dalam menjangkau khalayak sasaran yang sangat luas menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap kepala. b. Dampak yang kuat
Penekanan pada dua indera: penglihatan dan pendengaran dapat memberikan dampak yang kuat.
c. Pengaruh yang kuat
Kebanyakan calon pembeli lebih percaya kepada perusahaan yang mengiklankan produknya di televisi daripada yang tidak sama sekali. 2. Kelemahan
a. Biaya untuk memproduksi dan menyiarkan siaran komersial bisa menghabiskan jutaan rupiah.
b. Khalayak yang tidak selektif
Iklan-iklan yang disiarkan di televisi memiliki kemungkinan menjangkau pasar yang tidak tepat.
a. Kesulitan teknis
K. Pengertian sikap
Sikap dapat didefinisikan sebagai suatu evaluasi yang menyeluruh yang memungkinkan orang untuk merespon dengan cara yang menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan obyek atau alternatif yang diberikan (James F. Engel, Roger D. Blackwell dan Paul W. Miniardi, 1994: 53).
L. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan bagian dari kegiatan pemasaran. Perilaku konsumen akan berubah sesuai dengan pengaruh sosial yang semakin mendesak. Pemahaman tentang perilaku konsumen sangatlah dibutuhkan agar dapat mengembangkan produk baik barang maupun jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Definisi perilaku konsumen (Swastha, 1987:10) adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa yang termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Perilaku konsumen perlu dipahami agar perusahaan dapat mengetahui apa saja keinginan-keinginan dan kebutuhan pelanggan sehingga dapat mengetahui strategi pemasaran secara tepat.
mempergunakan barang atau jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penelitian kegiatan tersebut.
M.Minat
Banyak perusahaan yang telah menggunakan media iklan sebagai sarana untuk menunjang Pemasarannya, yaitu dengan mengeluarkan sejumlah biaya yang relatif besar. Kita juga sering dapat melihat bagaimana besarnya persaingan-persaingan yang ditampilkan dari sebuah iklan untuk menonjolkan sebuah produk, tetapi bagaimanapun juga sebuah iklan harus dapat memberikan perbedaan dari yang lain. Bagi konsumen ketertarikan pada sebuah produk memang dapat diawali dari sebuah iklan yaitu bagaimana sebuah iklan yang ditampilkan akan dapat memberikan minat (interest) yang besar terhadap calon konsumen sehingga mereka berminat dan ingin lebih jauh dan ingin tahu secara lebih rinci. (Kasali, 1993:84). Menurut Kotler ada beberapa elemen yang dapat digunakan untuk mengukur minat, yaitu keluarga, pekerjaan, masyarakat, rekreasi, mode, makanan, rumah, media, prestasi (Kotler, 1995:213)
N. Minat beli Konsumen (Purchase Intention)
perilaku. Feisbein dan Ajzen (1975) berpendapat bahwa, keyakinan menunjukkan informasi yang dimiliki seseorang tentang suatu obyek. Berdasarkan informasi, sikap dan perilaku terhadap suatu obyek merupakan sesuatu yang menguntungkan atau merugikan. Berbagai informasi yang diterima dan terkumpul pada diri seseorang inilah yang disebut dengan pengetahuan.
Aspek pengetahuan yang mempengaruhi sikap adalah aspek pengetahuan yang berisikan aspek positif atau negatif dari suatu permasalahan. Norma subyektif berisikan keputusan yang dibuat individual setelah mempertimbangkan pandangan orang-orang yang mempengaruhi norma subyektif tentang perilaku tertentu. Individual dapat terpengaruh atau tidak, tergantung pada kekuatan kepribadian individual yang bersangkutan dalam menghadapi kehendak orang lain.
O. Penilaian
Menurut Philip Kotler (1984:170) penilaian atau tanggapan konsumen terhadap suatu produk adalah suatu pendapat atau pandangan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
P. Hipotesis
a. Daya tarik iklan sabun Lux pada media televisi adalah tinggi.
A. Jenis penelitian
Karena banyaknya jenis penelitian yang biasa digunakan dalam suatu penelitian maka dalam penelitian ini, penulis hanya memfokuskan pada jenis penelitian yang berbentuk studi kasus, yaitu penelitian mengenai status obyek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.(Iqbal Hasan , 2002: 15).
B. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan November, tahun 2006
C. Subyek dan Obyek Penelitian
a. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah orang-orang yang terlibat dalam penelitian, dalam hal ini adalah mereka yang bertindak sebagai pemberi informasi yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Dalam hal ini adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang melihat iklan sabun Lux di televisi.
b. Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dalam penelitian ini yaitu iklan sabun Lux di televisi.
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian yaitu segala sesuatu yang dapat dijadikan obyek penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang diteliti sesuai dengan perumusan masalah. Dalam penulisan ini yang menjadi variabel penelitian adalah :
1. Variabel masalah 1:
Yang menjadi variabel masalah 1 adalah daya tarik iklan sabun Lux dilihat dari unsur-unsur yang mempengaruhi sikap konsumen untuk menarik perhatian calon konsumen, dimulai dari image iklan sampai dengan penyampaian iklan secara keseluruhan.
Setiap unsur daya tarik iklan diukur dengan item-item pertanyaan, dan masing-masing item pertanyaan diukur dengan skala likert 1 = sangat kurang menarik sampai 5 = sangat menarik.
2. Variabel masalah 2: a. Variabel independen
a. Variabel dependen
Yaitu variabel yang tidak mempengaruhi dan berhubungan dengan variabel yang lain. Dalam hal ini adalah minat beli mahasiswa. Definisi minat beli adalah keinginan konsumen sebelum melakukan pembelian terhadap suatu produk. Aspek-aspek minat beli yang akan diteliti meliputi: keluarga, masyarakat, mode, media, prestasi.
Minat beli diukur dengan menggunakan skala ordinal yang pilihan jawaban setiap item pertanyaan ada dalam kuesioner.
E. Populasi dan Sampel
Populasi yang dimaksud adalah jumlah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita. Baik orang, event, perusahaan, rumah sakit, toko, mahasiswa, dan lain-lain (Simamora, 2004:193). Populasi ini dipilih erat hubungannya dengan masalah yang akan diteliti, sehingga dalam hal ini populasi tersebut adalah mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sanata Dharma yang pernah melihat iklan sabun Lux di televisi dan belum pernah menggunakan produk tersebut.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dari jumlah populasi yang dianggap mewakili populasi. Sampel juga disebut sebagai subgroup populasi yang dipilih untuk dilibatkan dalam penelitian. Melalui sampel diharapkan peneliti mengetahui informasi tentang populasi (Bilson S, 2004:36) Sedangkan
tetapi hanya sebagian dari populasi saja (J. Supranto, 1983:63). Untuk mempermudah dalam kuesioner, maka digunakan metode purposive sampling
yaitu pemilihan subjek yang dijadikan sebagai sampel dengan didasarkan pada ciri-ciri atau sifat populasi tertentu yang dipandang memiliki sangkut paut dengan ciri-ciri populasi. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel sebanyak 100 orang responden. Responden dalam penelitian adalah mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sanata Dharma angkatan 2005 dan 2006 yang pernah melihat iklan sabun Lux di televisi namun belum pernah menggunakan produk tersebut.yang dapat penulis jumpai didalam kelas, diarea parkir, lingkungan kampus, perpustakaan, kos atau tempat tinggal responden.
F. Teknik Pengujian Instrumen
Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, maka untuk mengukur kevalidan dan keandalannya dilakukan pengujian terlebih dahulu.
1. Uji Validitas Konsumen
Untuk pengukuran validitas digunakan rumus Product Moment dari Karl Pearson (Simamora, 2004:65) sebagai berikut:
Keterangan:
rxy= Koefisien korelasi product moment
X = Nilai atau skor dari variabel Y = Nilai atau skor dari total variabel N = Jumlah responden
Besarnya r dapat dihitung dengan menggunakan korelasi dengan
taraf signifikansi
xy
( )
α = 5 %. Jika r rtabel, maka kuesioner yangdigunakan sebagai alat ukur dapat dikatakan valid.
xy ≥
2. Pengujian Reliabilitas Kuesioner
Uji reliabilitas dilakukan untuk memenuhi konsistensi atau keandalan kuesioner. Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dicoba secara berulang-ulang kepada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama pula (Simamora, 2004:63).
Untuk memperoleh koefisien reliabilitas digunakan rumus Spearman Brown(Singarimbun, 1989:144) yaitu sebagai berikut
Rumus Spearman Brown:
( )
xy xy xx
r r r
+ =
1 2
Keterangan:
rxy = koefisien korelasi antar item bernomor ganjil dan bernomor
genap
rxx = koefisien reliabilitas.
Dengan taraf signifikansi
( )
α = 5%, apabila r r , makakuesioner memenuhi syarat reliabilitas.
G. Data
Menurut Widayat (2004:110), data terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengertian kedua jenis data tersebut adalah:
a. Data primer (primary data), adalah data yang secara khusus dikumpulkan untuk kebutuhan riset yang sedang berjalan. Data ini dikumpulkan secara langsung maupun tidak langsung oleh peneliti.
b. Data sekunder (secondary data), merupakan data yang dikumpulkan tidak hanya untuk keperluan suatu riset tertentu saja. Data ini telah dikumpulkan oleh pihak lain dan peneliti merupakan pihak kedua yang menggunakan data tersebut.
Data yang akan digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian. Data primer yang dikumpulkan dengan kuesioner terdiri dari 2 bagian:
a. Bagian I : Berisi daftar pertanyaan mengenai data pribadi responden b. Bagian II: Berisi daftar pertanyaan untuk memperoleh data yang
berhubungan dengan iklan sabun Lux pada media televisi.
H. Metode Pengumpulan Data
pengumpulan data. Selanjutnya data-data tersebut dianalisa dan disimpulkan secara induktif.
Bila dilihat dari segi teknik pengumpulan data, maka metode pengumpulan dapat dilakukan dengan observasi, survey, dan kuesioner (Widayat, 2004:113)
1. Observasi (pengamatan)
Dalam pengertian yang sederhana, observasi meliputi kegiatan pencatatan pola perilaku orang, objek, dan kejadian-kejadian dalam suatu cara sistematis untuk mendapatkan informasi tentang fenomena-fenomena yang diminati.
2. Wawancara
Metode wawancara merupakan metode yang memberi pertanyaan terstruktur kepada sampel dari populasi dan dirancang untuk memperoleh informasi atau data dari responden
3. Kuesioner (daftar pertanyaan tertulis)
Kuesioner merupakan kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan tertulis untuk mendapatkan informasi dari para responden.
I. Teknik Analisis Data
Menurut Bilson Simamora, (2004:223): Analisis kuantitatif
Adalah representasi realitas yang disimbolkan secara numerik (dengan angka-angka).
Analisis Kualitatif
Adalah data yang mempresentasikan realitas secara deskriptif melalui kata-kata, kalimat ataupun uraian. Adakalanya data kualitatif dapat diurutkan secara berjenjang, misalnya, sangat tidak baik, tidak baik, sedang, baik, dan sangat baik. Kemudian pilihan-pilihan berjenjang itu diberi angka, sehingga menjadi data kuantitatif.
Data yang diperoleh dari responden kemudian dianalisis dengan alat analisis sebagai berikut:
1) Analisis Presentase
Analisis ini digunakan untuk mengetahui profil responden iklan sabun Lux dengan cara membandingkan presentase jawaban yang menunjukkan karakteristik responden.
Rumusan perhitungan analisis presentase adalah sebagai berikut:
N nx P=
Dimana:
2) Analisis Semantic Differential Scales
Analisis ini digunakan untuk mengetahui daya tarik iklan sabun Lux ditelevisi. Hal ini ditujukan untuk menganalisis pertanyaan yang terdapat pada bagian II.. Skala pengukuran yang berbentuk Sementic differential dikembangkan oleh Osgood. Skala tersebut juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontium yang jawabannya sangat positif terletak di bagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristiktertentu yang dimiliki seseorang. Sermentic differential menggunakan skala yang disisipkan diantara dua kata bipolar (kata yang berlawanan). (Donald R. Cooper, 1996:198) maka jawaban responden menggunakan skala likert kemudian diubah pengertiannya menjadi kata yang bersifat bipolar sesuai dengan masing-masing item pertanyaan.
Rendah _:_:_:_:_:_ Tinggi SR = 1,00 - 1,79
Langkah-langkah yang dilakukan :
a. Tiap-tiap pertanyaan memiliki 5 jawaban yang diberi point 1 sampai dengan 5.
b. Setelah responden memiliki 1 jawaban, jumlah responden yang menjawab dikalikan dengan bobot dari tiap-tiap jawaban.
c. Skor dari tiap-tiap jawaban responden dijumlahkan dan diambil rata-ratanya, yaitu membaginya dengan jumlah responden yang menjawab.
Hasil final rata-rata skor daya tarik iklan sabun Lux diperoleh dengan cara = total skor: (total responden x total item kuesioner) misal: total skor 400, jumlah total responden 100, jumlah total item kuesioner 14.
Hasil final rata-rata daya tarik iklan sabun Lux adalah: Total rata-rata = 400 : (100x14)
400 : 1400 = 0,29
Dengan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui rata-ratanya yang akan dipakai dalam pembuatan grafik.
3) Analisis Korelasi Product-Moment
Korelasi Product-Moment, digunakan untuk menentukan hubungan dua gejala interval, dalam penelian ini yaitu hubungan antara daya tarik iklan sabun Lux di televisi dengan minat beli konsumen. (Suharsimi Arikunto, 2002:243).
Rumus:
rxy=
(
)
(
)
{
Ν∑Χ2 − ∑Χ 2}
{
(
Ν∑Υ2)
−( )
∑Υ 2}
Υ∑ Χ ∑ − ΧΥ ∑ Ν
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi
X : Nilai daya tarik iklan Y : Nilai Minat beli
N : Banyaknya responden
Ada tidaknya korelasi, dinyatakan dalam angka pada indeks. Betapapun kecilnya indeks korelasi jika bukan 0,0000 dapat diartikan bahwa antara dua variabel yang dikorelasikan, terdapat adanya korelasi. Interpretasi tinggi rendahnya korelasi dapat diketahui juga dari besar-kecilnya angka dalam indeks korelasi. Makin besar angka dalam indeks korelasi, makin tinggilah korelasi kedua variabel yang dikorelasikan.
4) Melakukan uji signifikansi uji t (t-test) untuk menetahui apakah korelasi tersebut signifikan atau tidak.
t =
2
1 2
− − N
r rxy
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi
N : Jumlah responden
t : Besarnya pengaruh satu variabel independen secara individu dalam menerangkan variasi variabel dependen (thitung)
Setelah thitung diperoleh lalu dibandinhkan dengan ttabel. Kriteria
yang digunakan untuk mencari ttabel adalah derajat kebebasan
df = n-3, dan tingkat signifikansi atau kepercayaan 5%. 5) Merumuskan hipotesis :
HO : rs = 0, artinya tidak ada hubungan antara daya tarik iklan
dengan minat beli konsumen.
HA : rs ≠ 0, artinya ada hubungan antara daya tarik iklan dengan
minat beli konsumen.
6) Mengambil keputusan tentang penerimaan atau penolakan hipotesis
Apabila diperoleh hasil thitung < ttabel, maka hipotesis nol (Ho)
diterima dan hiupotesis alternatif (HA) ditolak. Ini dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara daya tarik iklan dengan minat beli konsumen. Sedangkan apabila diperoleh hasil thitung > ttabel, maka hipotesis nol (HO) ditolak dan hipotesis
alternatif (HA) diterima. Ini dapat disimpulkan bahwa ada
A. Gambaran umum Universitas Sanata Dharma 1. Latar Belakang
Rencana mendirikan suatu Perguruan Tinggi Keguruan lahir ketika Prof. Moh. Yamin, SH. Menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sampai waktu itu, pendidikan khusus guru-guru SMTP/ SMU dilaksanakan oleh BI/ BII yang didirikan di berbagai kota di Indonesia. Tetapi sewajarnyalah pendidikan yang amat penting itu diangkat ketarah keguruan universitas dengan mempertahankan arah dan tujuannya sendiri, yaitu keguruan di sekolah menengah.
Inisiatif ini menarik bagi gereja, terutama di Jawa Tengah yang waktu itu, Ordo Sociates Jesu (Serikat Jesus sering disingkat SJ) telah membuka kursus-kursus BI diantaranya BI Mendidik (Yayasan De Britto) di Yogyakarta yang dikelola oleh Pater H. Loeff, S.J. dan BI Sejarah, dan BI Bahasa Inggris (Yayasan Loyola) di Semarang yang dilelola oleh Pater W.J. Van der Meulen, S.J. dan Pater H. Bastiaanse, S.J.
Selanjutnya kursus-kursus BI tersebut dianggap Crash Program sehingga Superior Misionaris Societas Jesu, yaitu Pater Kester berusaha mendirikan suatu perguruan tinggi. Kebetulan pada tahun 1954-1955, Prof. De Quelje, pejabat kementerian PP dan K, berkunjung ke Yogyakarta. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan oleh Pater Kester, Pater Ruding dan Pater H. Loeff
untuk menggali informasi tentang gagasan Prof. Moh. Yamin, SH untuk mendirikan PTPG.
Pater Kester berpendapat bahwa justru gagasan inilah yang selaras dengan karya-karya para Jesuit dan tidak melampaui batas-batas kemampuan ordo. Kemudian Pater Kester menjadi ”tukang sulap”. Tiga kursus BI milik Jesuit yang sudah ada digabungkan menjadi satu. Gabungan itu diperkuat dengan ”Bumbu”
US $ 150.000, hadiah dari Conggregation de Propaganda Fide. Dengan demikian lahirlah PTPG Sanata Dharma yang mulai pada tanggal 20 Oktober 1955 dan diresmikan oleh pemerintah tanggal 17 Desember 1955.
Pada awalnya PTPG Sanata Dharma memiliki 4 jurusan, yaitu (1) Bahasa Inggris, (2) Sejarah, (3) IPA, dan (4) Ilmu mendidik. Sedangkan nama Sanata Dharma sendiri diciptakan oleh Peter K Looymans, S.J., pejabat Departemen PP dan K di Kawali (Kantor Waligereja Indonesia). Aslinya, Sanata Dharma dibaca Sanyata Dharma. Nyata Dharma artinya ”kebaktian yang sebenarnya” atau ”pelayanan yang nyata”. Kebaktian itu ditujukan kepada tanah air, bangsa dan Gereja (Pro Patria et Eclesia).
Selanjutnya pembesar misi Societas Jesu menunjuk Pater Prof. Dr. Nicolaus Drijarkara, S.J. menjadi Dekan PTPG Sanata Dharma Sedangkan wakil Dekan dipercayakan kepada Pater H. Loeff, S.J.
2. Perkembangan Sanata Dharma
Sanata Dharma pada bulan November 1958 berubah menjadi FKIP Sanata Dharma dan merupakan bagian dari universitas Katolik Indonesia cabang Yogyakarta. Pada masa FKIP ini, Sanata Dharma berhasil memperoleh status DISAMAKAN dengan negeri berdasarkan SK Menteri PTIP No.1/1961 jo. No. 77/1962 tanggal 11 Juli 1962. Tetapi secara de facto FKIP-FKIP yang dibentuk dari PTPG tetap berdiri sendiri dan FKIP Sanata Dharma di Universitas Khatolik Indonesia Cabang Yogyakarta hanyalah nama di atas kertas saja.
Untuk mengatasi kerancunan ini akhirnya pemerintah kembali menetapkan agar FKIP berdiri sendiri menjadi IKIP. Karena itu, FKIP Sanata Dharma juga berubah menjadi IKIP Sanata Dharma berdasarkan SK Menteri PTIP No.237/BSwt/U/1965. Surat keputusan ini mulai berlaku tanggal 1 September 1965.
Pada tanggal 1 Januari 1973 dibuka pendidikan non gelar bagi lulusan SLTA, yaitu program Extension Course Bahasa Inggris. Program ini dilaksanakan dalam rangka pengabdian pada masyarakat.
Pada bulan Juli 1979, IKIP Sanata Dharma melaksanakan program S1 (sebelum IKIP Sanata Dharma melaksanakan program Sarjana Muda dan Sarjana). Pada saat yang sama Depdikbud juga mempercayakan kepada IKIP Sanata Dharma untuk mengelola program Diploma I, II, dan III. Pada berbagai jurusan seperti Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS dan PMP. Berbagai program Diploma ini ditutup pada tahun 1990, dan selanjutnya dibuka program Diploma II PGSD.
Pada akhirnya, untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta kemajuan zaman, tanggal 20 April 1993 sesuai dengan SK Mendikbud No.46/D/O/1993, IKIP Sanata Dharma dikembangkan menjadi Universitas Sanata Dharma atau lebih dikenal dengan nama USD. Dengan perkembangan ini USD diharapkan tetap dapat memajukan sistem pendidikan guru sekaligus berpartisipasi dalam memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Program Studi, 3 Program Pasca Sarjana, 1 Program Profesi, dan 3 Program Kursus Bersertifikat.
Sekarang ini banyak hal berkembang di Universitas Sanata Dharma. Perkembangannya meliputi berbagai aspek, baik sarana fisik (gedung, lab, perpustakaan, dan fasilitas fisik lainnya), administrasi (sistem1nformasi, manajemen, biro/lembaga/pusat/ serta unit pendukung), peningkatan mutu akademik, penelitian, pengajaran serta pengabdian pada masyarakat.
3. Tujuan Universitas Sanata Dharma
Pendidikan di USD bertujuan untuk membantu mencerdaskan putra-putri bangsa dan memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai humanistik yang berlandaskan nilai-nilai, nilai kristiani yang universal dan cita-cita kemanusiaan sebagaimana terkandung dalam pancasila sehingga memiliki kemampuan akademik sesuai dengan bidang studinya dan integritas kepribadian yang tinggi.
4. Visi dan Misi Sanata Dharma a. Visi USD
Universitas Sanata Dharma (USD) didirikan oleh Serikat Yesus Provinsi Indonesia bersama dengan rekan imam dan awam Katolik untuk berpartisipasi dalam usaha melindungi dan meningkatkan martabat manusia melalui perpaduan keunggulan akademik dan nilai kemanusiaan.
kebebasannya. Hal itu didasari pada pengakuan dan kebaikan hakiki dunia sebagai ciptaan Allah yang harus dipelajari, diselidiki dan direnungkan maknanya serta dibangun dan dilestarikan demi kesejahteraan umat manusia dan kemuliaan Allah yang lebih besar. 2) Menyadari peran penting generasi muda dalam mewujudkan masa
depan bangsa Indonesia. Universitas Sanata Dharma merasa terpanggil untuk memberikan sumbangan positif kepada usaha bersama dalam pengembangan pikiran, hati dan kehendak kaum muda dengan maksud mengembangkan potensi mereka untuk secara aktif dan kreatif ikut membangun masyarakat pluralistik yang adil, demokratis dan sejahtera.
3) Usaha pengembangan itu didasarkan pada nilai kebangsaan dan kebudayaan nasional seperti terungkap dalam Pancasila dan UUD 1945; pada misi kristiani mengenai martabat manusia sebagai ciptaan Allah, tanggung jawab sosialnya serta tujuannya yang luhur; dan pada spiritualitas Ignasian yang terwujud dalam arah pendidikan Serikat Yesus seperti ”menjadi manusia bagi sesama”
(men and women for and with others), perhatian pribadi (cura personalis), serta semangat keunggulan (magis) dan dialogis. b. Misi USD
2) Mengembangkan Universitas yang dapat menjadi hati nurani kritis masyarakat.
3) Menyelenggarakan penelitian terutama untuk lebih menggali secara kritis kebenaran manusiawi dan mengembangkan martabat manusia.
4) Mengembangkan kebebasan akademik dan otonomi keilmuan untuk dapat menemukan kebenaran berdasarkan pada etika keilmuan.
5) Menyelenggarakan pendidikan yang humanis dengan semangat dialogis yang mengembangkan segi intelektualitas, moral, emosional dan spiritual secara terpadu.
6) Membantu mahasiswa menjadi manusia yang utuh, kritis, dewasa, dan dapat berguna bagi masyarakat.
7) Memberikan pelayanan kepada masyarakat dan sekaligus membantu kepekaan sosial terhadap masyarakat.
Tabel IV.1
Keseluruhan Mahasiswa dalam dua tahun terakhir
No. Fakultas 2005/2006 2006/2007 1 FKIP 4.032 4.241
2 Ekonomi 2.389 1.796 3 MIPA 591 391 4 Sastra 1.262 951 5 Teknik 1.773 1.422 6 Farmasi 739 668 7 Psikologi 887 744 8 Teologi 300 312
Jumlah 11.973 9.842
9 S2 Teologi 29 35 10 S2 Ilmu Religi dan Budaya 37 36 11 S2 Kajian Bahasa Inggris 85 149
Jumlah 151 220
12 Extension Bahasa Inggris 456 419
Jumlah Total 12.580 10.481
Tabel IV.2
Jumlah pendaftar mahasiswa baru selama dua tahun terakhir
Tahun Jumlah 2005/2006 5.724
2006/2007 4.885
Tabel IV.3
Mahasiswa baru selama dua tahun terakhir
Tahun D2 D3 S1 S2 TEO
S2 IRB
S2
KBI EC Jumlah 2005/2006 141 49 1.585 12 12 48 152 1.999 2006/2007 156 36 1.556 11 15 52 154 1.980
5. Program Studi
a. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Itulah sebabnya mengapa diperlukan adanya FKIP. Universitas Sanata Dharma memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mendidik calon guru pada berbagai Program Studi yang memiliki keahlian profesional, meskipun tidak menutup kemungkinan lulusannya dapat bekerja di bidang non-kependidikan.
1) Program Studi Bimbingan dan konseling
Mendidik calon konselor yang kompeten menyelenggarakan program pelayanan bimbingan dan konseling bagi orang perorangan atau kelompok, baik disekolah maupun lembaga-lembaga luar sekolah, dengan tujuan membantu pihak yang dilayani untuk lebih memahami diri dan lingkungannya agar mampu memilih secara cerdas dan bertanggung jawab serta mampu menyesuaikan diri secara memadai.
2) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
3) Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Mendidik calon guru yang menguasai bahasa Indonesia secara aktif, lisan maupun tertulis, dan mengajarkannya kepada peserta didik, serta dapat bekerja di bidang jurnalistik. 4) Program Studi Pendidikan Ekonomi Koperasi
Mendidik calon guru yang menguasai bidang ilmu ekonomi dan manajemen sehingga dapat mengajarkannya kepada peserta didik, dapat juga bekerja di berbagai dunia usaha.
5) Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi
Mendidik calon guru yang menguasai prinsip dan sistem akuntansi serta dapat mengajarkannya kepada peserta didik, dapat juga bekerja dalam bidang-bidang usaha yang menurut keahlian akuntansi.
6) Program Studi Pendidikan Sejarah
Mendidik calon guru yang menguasai metode dan ilmu sejarah serta dapat mengajarkannya kepada peserta didik, dapat juga bekerja dalam bidang-bidang seperti penelitian, jurnalistik, penerbitan, dan pariwisata.
7) Program Studi Pendidikan Fisika
8) Program Studi Pendidikan Matematika
Mendidik calon guru menguasai ilmu matematika dan mampu mengajarkannya dengan perangkat-perangkat komputer. Lulusan program studi ini menjadi incaran sekolah-sekolah swasta.
9) Program Studi ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Mendidik calon guru yang mengajar agama, baik didalam maupun diluar sekolah.
10)Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
PGSD adalah program pendidikan non gelar (Diploma II) yang mendapat ijin dari Dirken Dikti, yang bertujuan mendidik calon guru yang menguasai bidangnya sebagai guru SD. c. Fakultas Ekonomi
1) Manajemen
2) Akuntansi
Menguasai bidang-bidang ilmiu Akuntansi yang dilandasi oleh pemahaman terhadap Ilmu Ekonomi sehingga mereka diharapkan mampu menyusun, menganalisis, dan memeriksa keuangan baik untuk kepentingan intern maupun ekstern. Bidang konsentrasi : Auditing, Sistem Informasi dan Kewirausahaan, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Keuangan, Sektor Publik dan Pemerintahan.
c.Fakultas Sastra 1) Sastra Inggris
Menghasilkan sarjana yang mampu berbahasa Inggris aktif maupun pasif, lisan maupun tertulis, memahami khasanah sastra dan bahasa Inggris serta bisnis, hubungan massa, kesekretariatan, penterjemah, media massa, dan penyuntingan. Lulusan Program Studi Sastra Inggris dapat bekerja dalam bidang pendidikan, jurnalistik, pariwisata, broadcasting, Public Relation dan lain-lain.
2) Sastra Indonesia
dosen, peneliti, wartawan, editor, public speaker, pekerja seni, penterjemah, leksikograf dan sebagainya.
3) Ilmu Sejarah
Menghasilkan sarjana yang menguasai metodologi penelitian sejarah dan perkembangannya, sehingga mampu melakukan analisis sosial, budaya, ekonomi, politik serta dapat bekerja dalam bidang profesi yang berkaitan dengan sejarah, seperti penelitian dan penulisan sejarah, jurnalistik, kearsipan, perawatan peninggalan sejarah dan pariwisata budaya.
B. Gambaran Umum Iklan Sabun Lux pada Media Televisi
Lux merupakan sabun mandi yang sangat fenomenal. Fenomenal karena selalu dibintangi model cantik papan atas. Pertama iklannya di bintangi oleh Ida Iasha yang kemudian berlanjut ke Desy Ratnasari,Vira Yuniar, Bella Saphira, dan Feby Febiolla. Kini di tahun 2007 semakin memukau dengan tema Lux Beauty gives You Super Powers yang dibintangi oleh bintang muda baru Luna Maya, setelah sebelumnya dibeberkan para artis muda berbakat lainnya seperti Dian Sastro dan Mariana Renatta. Dan pada tema yang diusung kali ini masih menggunakan model lawas yang tetap digunakan sebagai icon produk yang tak lain adalah wanita cantik Tamara Blezynski.
saja tidak hanya mendapatkan sensasi keharuman dalam kesegaran. Melainkan juga deretan model (artis) terkenal dalam setiap kemasannya, yang tentu saja hanya didapatkan pada setiap kemasan Lux baru atau dengan edisi terbatas.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik responden, untuk mengetahui daya tarik iklan sabun Lux yang ditayangkan di televisi dan untuk mengetahui hubungan antara daya tarik iklan sabun Lux dengan minat beli konsumen, khususnya mahasiswa atau mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Untuk memenuhi tujuan tersebut peneliti mengumpulkan data-data meliputi daya tarik iklan dimulai dari image iklan sampai dengan penyampaian iklan secara keseluruhan dan data minat beli. Data tersebut kemudian dianalisis dengan Analisis Semantic Differential Scales untuk mengetahui daya tarik iklan sabun Lux di televisi dan dengan Analisis Korelasi Tata Jenjang untuk mengetahui hubungan antara daya tarik iklan dengan minat beli.
Sebelum data dianalisis, dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap instrumen yang digunakan dan pengujian deskriptif. Pengujian instrumen untuk mengetahi validitas dan reliabilitatas kuesioner yang digunakan sehingga tidak ada keraguan terhadap hasil yang dicapai dalam penelitian, dan pengujian deskriptif untuk mengetahui profil konsumen.
A. Kuesioner
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling
untuk mendapatkan data dengan menyebar kuesinoer pada 100 responden (Mahasiswa/Mahasiswi angkatan 2005 dan 2006 USD di kampus I Mrican). Peneliti menemui responden di lingkungan kampus, lingkungan perpustakaan,
area parkir, kantin, kopma USD, kos/tempat tinggal responden, yang dapat peneliti temui untuk mendapatkan data. Kuesioner dibagikan pada responden dengan melihat ciri-ciri yang sesuai dengan sampel, responden ditemui peneliti dengan mengajukan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner dalam bentuk multiple choice, dimana responden hanya memilih jawaban-jawaban yang telah tersedia, yaitu dengan cara memberi tanda silang pada jawaban yang dirasa paling tepat dan sesuai dengan keadaan konsumen. Responden diberi kesempatan untuk mengisi kuesioner dengan memberi tanda centang (√) pada kuesioner yang disediakan. Dari hasil kuesioner atau jawaban responden kemudian didapat data-data yang kemudian diolah oleh peneliti dengan bantuan SPSS (Statistical Package for Social Sciences) versi 12,0 kemudian didapatkan hasil dan kesimpulan sesuai dengan jawaban responden. Kuesioner dapat dilihat pada lampiran
Dalam penyusunan kuesioner ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Bagian I terdiri dari 7 pertanyaan yang berisi pertanyaan mengenai data responden.
2. Bagian II berisi tentang bagaimana daya tarik iklan sabun Lux yang ditayangkan di televisi.
B. Pengujian Instrumen
Agar kuesioner dapat dipergunakan dalam penelitian, maka terlebih dahulu harus diuji tingkat validitas dan reliabilitasnya. Oleh karena itu, setelah kuesioner disusun harus diuji coba pada objek penelitian. Percobaan ini dimaksud untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan atau ketidakmampuan dalam mengungkapkan suatu gejala yang sedang diselidiki atau diteliti.
1. Pengujian Validitas Kuesioner
Kuesioner yang dipergunakan terlebih dahulu diuji validitasnya, karena apabila validitas suatu kuesioner tidak memenuhi syarat akan menyebabkan ketepatan alat pengukuran tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jadi validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Semakin tinggi validitas suatu alat ukur, maka semakin tepat pula alat pengukur itu mengenai sasarannya. Dan sebaliknya, semakin rendah validitas suatu alat ukur, maka semakin jauh pula alat ukur tersebut mengenai sasarannya.
Pengukuran tingkat validitas kuesioner dapat dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi “Product Moment”. Apabila nilai rhitung yang
diperoleh lebih dari rtabel, berarti ada korelasi yang nyata, yang
menunjukkan bahwa alat ukur tersebut adalah valid. Sebaliknya, apabila nilai rhitung yang diperoleh kurang dari rtabel, berarti tidak terdapat korelasi
Sedangkan untuk proses perhitungan, penulis menggunakan bantuan program SPSS (Statistical Package for Social Sciences) versi 11,0 yang hasilnya adalah sebagai berikut :
(
)( )
(
)
{
}
{
( )
}
[
∑ ∑
∑ ∑
]
∑
−∑
∑
= 2 2 2 2 . Y Y N X X N Y X X Y N rxy Tabel V.1Pengujian Validitas Daya tarik iklan
Variabel Daya Tarik Iklan rxy r table Status
Informasi produk 0,2449 0,196 Valid
Tema cerita 0,2751 0,196 Valid
Pemeran/ tokoh iklan 0,4740 0,196 Valid
Mudah diingat 0,4889 0,196 Valid
Mampu mempengaruhi 0,5462 0,196 Valid
Menampilkan keunggulan produk 0,4776 0,196 Valid
Memberikan hiburan 0,4889 0,196 Valid
Mendidik konsumen 0,3328 0.196 Valid
Jelas dalam penyampaian pesan 0,3685 0,196 Valid
Menarik konsumen untuk membeli 0,3392 0,196 Valid
Mampu memberi kesan yang baik 0,4445 0,196 Valid
Informasi jujur dan dapat dipercaya 0,3226 0,196 Valid
Menarik perhatian konsumen 0,3757 0,196 Valid
Ditampilkan dengan baik 0,2748 0,196 Valid
Variabel Minat beli rxy r table Status
Keluarga 0,3872 0,196 Valid
Masyarakat 0,7247 0,196 Valid
Mode 0,4196 0,196 Valid
Media 0,4276 0,196 Valid
Prestasi 0,7247 0,196 Valid
Jadi rhitung lebih besar dari rtabel, yang berarti ada korelasi yang nyata
2. Pengujian Reliabilitas Kuesioner
Reliabilitas sebenarnya adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Semakin tinggi reliabilitas suatu alat ukur, maka semakin stabil juga alat ukur tersebut dalam mengukur suatu gejala. Dan sebaliknya, semakin rendah reliabilitas suatu alat ukur, maka semakin tidak stabil alat pengukur tersebut dalam mengukur suatu gejala.
Metode yang dipergunakan untuk menguji tingkat reliabilitas dari kuesioner adalah teknik belah dua yang menggolongkan pengukuran multi pertanyaan menjadi kelompok-kelompok yang sepadan dan mengkorelasikan respon-respon pertanyaan untuk mengestimasikan reliabilitas. Uji reliabilitas dapat dilihat pada lampiran. Untuk uji reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini dengan rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut :
a. Rumus Koefisien Korelasi “Product Moment”
(
)
(
∑
−∑
∑
∑ ∑
)
(
∑
−( )
∑
)
− = 2 2 2 2 Y Y N X X N Y X YX N rxy Keterangan xyr : Koefisien korelasi antara item ganjil dan genap X : Nilai item-item bernomor ganjil
b. Rumus Koefisien Korelasi “Spearman Brown”
( )
(
xy)
xy gg r r r + = 1 2 Keterangan : gg
r : Koefisien reliabilitas
xy
r : Koefisien korelasi product moment (antara nilai item ganjil dan nilai item genap) taraf nyata 5 %
Tabel V.2
Uji Reliabilitas Metode Spearman Brown
Variabel Daya Tarik Iklan rxy r table Status
Informasi produk 0,7748 0,196 Reliabel
Tema cerita 0,7712 0,196 Reliabel
Pemeran/ tokoh iklan 0,7538 0,196 Reliabel
Mudah diingat 0,7522 0,196 Reliabel
Mampu mempengaruhi 0,7451 0,196 Reliabel
Menampilkan keunggulan produk 0,7528 0,196 Reliabel
Memberikan hiburan 0,7522 0,196 Reliabel
Mendidik konsumen 0,7660 0.196 Reliabel
Jelas dalam penyampaian pesan 0,7631 0,196 Reliabel
Menarik konsumen untuk membeli 0,7655 0,196 Reliabel
Mampu memberi kesan yang baik 0,7557 0,196 Reliabel
Informasi jujur dan dapat dipercaya 0,7669 0,196 Reliabel
Menarik perhatian konsumen 0,7623 0,196 Reliabel
Ditampilkan dengan baik 0,7717 0,196 Reliabel
Variabel Minat beli rxy r table Status
Keluarga 0,7707 0,196 Reliabel
Masyarakat 0,6403 0,196 Reliabel
Mode 0,7512 0,196 Reliabel
Media 0,7442 0,196 Reliabel
Prestasi 0,6403 0,196 Reliabel
tercapainya reliabilitas, yang berarti bahwa kuesionernya tersebut telah memenuhi syarat reliabilitas. Setelah melakukan uji reliabilitas, kuesioner ini telah memenuhi syarat reliabilitas.
Nilai rhitung > r tabel (0, 196) maka terdapat hubungan antara pertanyaan
ganjil dan genap.
Nilai rhitung > r tabel (0, 196) maka kuisioner memenuhi syarat reliabilitas.
C. Teknik Analisis Data
Setelah syarat validitas dan reliabilitas kuesioner terpenuhi, maka kuesioner tersebut dapat digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya, Kuesioner dibagikan kepada responden, yaitu mahasiswa angkatan 2005 dan 2006 Universitas Sanata Dharma, kampus 1 Mrican Yogyakarta yang sudah pernah melihat iklan sabun Lux, tetapi belum pernah menggunakan produk tersebut. Pengambilan sampelnya menggunakan teknik purposive sampling, jumlah sampel yang diambil adalah 100 orang responden.
1. Analisis Persentase
a. Pengelompokan responden berdasarkan jenis kelamin
Tabel V.3
Menurut jenis kelamin Jumlah Jenis kelamin
Frekuensi Persentase (%) Laki-laki
Perempuan
32 68
32 68
Jumlah 100 100
Ditinjau dari jenis kelamin responden di Universitas Sanata Dharma di kampus I , terbanyak adalah laki-laki sebanyak 32 orang (38%), sedangkan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 68 orang (68%)
b. Pengelompokan responden berdasarkan Usia
Tabel V.4
Menurut usia
Jumlah Usia responden
Frekuensi Persentase (%) 17 – 20 tahun
21 -25 tahun
Lebih dari 25 tahun 44 51 5
44 51 5
Jumlah 100 100
c. Pengelompokan responden berdasarkan uang saku per bulan
Tabel V.5
Menurut uang saku per bulan
Jumlah Uang Saku per Bulan
Frekuensi Persentase (%) < Rp 500.000,00
Rp 500.000,00
> Rp 500.000,00
15 41 44
15 41 44
Jumlah 100 100
Berdasarkan uang saku responden ada 3 tingkatan uang saku, yaitu :
1) Yang mempunyai uang saku kurang dari Rp. 500.000 termasuk kategori responden yang memiliki uang saku rendah, yaitu terdiri dari 15 orang (15%).
2) Yang mempunyai uang saku Rp. 500.000 termasuk kategori responden yang beruang saku menengah, yaitu terdiri dari 41 orang (41%).
d. Pengelompokan responden berdasarkan Fakultas di Universitas
Sanata Dharma kampus I Mrican Yogyakarta
Tabel V.6
Menurut Fakultas di Universitas Sanata Dharma Jumlah
Fakultas di USD
Frekuensi Persentase (%) Ekonomi
Sastra FKIP
28 16 56
28 16 56
Jumlah 100 100
Ditinjau dari Fakultas responden di Universitas Sanata Dharma kampus I, diketahui dari 100 responden yang diteliti sebagian besar responden, yaitu 56 orang (56%) dari FKIP, sebanyak 28 orang (28%) dari Fakultas Ekonomi, dan 16 orang (16%) dari Fakultas Sastra.
e. Pengelompokan responden berdasarkan angkatan masuk di
Universitas Sanata Dharma
Tabel V.7
Menurut angkatan masuk di Universitas Sanata Dharma Jumlah
Angkatan
Frekuensi Persentase (%) 2005
2006
59 41
59 41
f. Pengelompokan responden berdasarkan frekuensi menonton iklan
Tabel V.8
Menurut frekuensi menonton iklan Jumlah Frekuensi
Frekuensi Persentase (%) 1-2 kali
> 2 kali Sering
27 25 48
27 25 48
Jumlah 100 100
Ditinjau dari frekuensi menonton iklan dari 100 responden yang diteliti sebagian besar responden, yaitu 48 orang (48%) sering menonton iklan sabun Lux, sebanyak 27 orang (27%) menonton iklan sebanyak 1-2 kali, dan 25 orang (25%) menonton iklan lebih dari 2 kali.