• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA TAMAN SISWA PADA TAHUN 1959-1965

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DINAMIKA TAMAN SISWA PADA TAHUN 1959-1965"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

i

DINAMIKA TAMAN SISWA PADA TAHUN 1959-1965

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

Program Studi Ilmu Sejarah

Oleh :

Theodorus Yanzens

NIM : 064314007

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahan untuk:

(5)
(6)

vi

ABSTRAK

Theodorus Yanzens. 2011. Dinamika Taman Siswa Pada Tahun 1959-1965. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Skripsi dengan judul “ Dinamika Taman Siswa Pada Tahun 1959-1965”

memiliki 3 permasalahan yang diangkat. Pertama, Bagaimana Taman Siswa sebagai Organisasi Pendidikan. Kedua, Dinamika Organisasi Taman Siswa Pada Tahun 1959-1964. Ketiga, keadaan Taman Siswa di Tahun 1965. Ketiga permasalahan tersebut akan dijelaskan dalam beberapa bab. Penulisan ini bertujuan untuk mellihat Taman Siswa sebagai organisasi pendidikan pada tahun 1959-1965 yang bertepatan dengan masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Tulisan ini memuat pembahasan tentang dinamika yang terjadi dalam Taman Siswa baik itu berupa konflik maupun kebijakan-kebijakan dalam Taman Siswa saat itu.

Metode yang digunakan dalam melakukan penulisan ini ialah pengumpulan data dari berbagai sumber yang diantaranya sumber primer berupa lembaran organisasi, Majalah organisasi kemudian sumber sekunder yaitu dari buku-buku dan artikel di internet. Selanjutnya hasil dari pengumpulan data di analisis dan dideskripsikan dalam tulisan yang terdapat pada bab-bab sesuai dengan masalah yang dibahas.

(7)

vii

ABSTRACT

Theodorus Yanzens. 2011. Dinamika Taman Siswa Pada Tahun 1959-1965. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Thesis titled "Dynamics Of The Taman Siswa in years 1959-1965" has 3 issues raised. First, How the development of Taman Siswa as an Educational Organization. Second, the dynamics of the Taman Siswa Organization the Year 1959-1964. Third, Situation in the Year 1965 Taman Siswa. These three issues will be explained in several chapters. The study is aimed to see situation of Taman Siswa as an educational organization in the year 1959-1965 which coincided with the reign of Guided Democracy. This study discusses the dynamics that occur in Taman Siswa either in the form of conflicts or the policies in the Taman Siswa at that time.

The method used in conducting this study is collecting data from various sources including primary sources in the form of sheet organization, magazine and organization of secondary sources from books and articles on the internet. The results of data gathering will be analyzed and described in the certain chapters according to the problems discussed.

(8)

viii

LEMBARAN PENYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Sanata Dharma: Nama : Theodorus Yanzens

Nomor Mahasiswa : 064314007

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

“DINAMIKA TAMAN SISWA PADA TAHUN 1959-1965”

Berserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dan mengelolanya dalam bentuk pengakalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainnya untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 9 Desember 2011 Yang menyatakan

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Tidak terasa akhirnya selesai juga penantian dan usaha yang selama ini dilakukan. Usaha akan penyelesaian satu tahap jenjang ilmu telah dilalui bersamaan dengan selesainya penulisan skripsi ini. Dalam proses panjang tersebut banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh penulis tetapi semua itu dapat terlewati melalui kepercayaan diri yang tumbuh oleh karena dukungan, bantuan dan doa dari orang-orang dan kerabat yang ada disekitar penulis.

Untuk pertama kali puji dan syukur dipanjatkan oleh penulis kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Bapa Di Surga, karena atas rahmat dan karuniaNya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sangat yakin bahwa tanpa kehendak dan bimbingan-Nya skripsi ini tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Selain itu tidak lupa juga bahwa penyelesaian skripsi ini telah melibatkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan, bimbingan maupun doa kepada penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis ingin menngucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka dan tidak akan pernah melupakan apa yang telah diberikan selama ini.

(10)

x

Agus Purwanto dan Mbak Mur telah menjadi bagian terpenting dalam penyelesaian skripsi ini.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada staf-staf pengajar di Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan dukungan, bantuan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini. Kepada Bapak Drs. Ig. Sandiwan Suharso selaku pembimbing skripsi yang selalu memberikan motivasi dan dukungan serta dengan penuh kesabaran membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sangat berterima kasih sekali karena banyak perubahan dan kemajuan dan ilmu yang didapat dari beliau. Penulis juga yakin tanpa beliau penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik. Selanjutnya ucapan terima kasih diucapkan kepada Bapak Drs. Silverio R.L. Aji Sampurno, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah dan pembimbing akademik penulis yang selalu memotivasi penulis untuk cepat lulus dan fokus terhadap penulisan. Hal itu sangat berarti untuk penulis. Terima kasih juga diucapkan kepada Bapak Hb. Hery Santosa M.Hum. yang selalu memberikan dukungan dan kepercayaan diri bagi penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.

(11)

xi

Penulis akan selalu mengenang jasa beliau. Terima kasih juga diucapkan kepada Romo Dr. F.X. Baskara Wardaya., S.J atas pengetahuan dan ilmu-ilmu baru selama mata kuliah seminar dan mata kuliah lainnya. Banyak pengalaman dan pengetahuan yang penulis dapatkan dari beliau. Terima kasih juga Kepada Romo Dr. G. Subanar., S.J, Drs. H. Purwanta., M.A., Drs. Manu Joyoatmojo. Kepada semua dosen yang pernah mendidik penulis selama proses perkuliahan.

Selanjutnya ucapan terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada kedua orang tua tersayang. Kepada Bapak dan Mama yang selama ini terus mendukung, memberikan motivasi dan doa serta sabar membimbing secara moril kepada penulis. Kedua orang tua bagi penulis merupakan inspirasi dan sumber kekuatan. Dedikasi beliau berdua kepada anak-anaknya sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukan beliau berdua tidak akan pernah penulis lupakan dan akan selalu ada dihati. Kemudian kepada adik-adik tercinta yaitu Kristina Theresa Juetha dan Alberta Triana Silvia yang selalu mendukung sepenuh hati, memberikan doa-doanya. Semua itu menjadi pelecut sekaligus motivasi tersendiri bagi penulis.

(12)

xii

sebutkan satu persatu, terima kasih karena selalu memberikan dukungan dan pengalamannya.

Kemudian kepada Keluarga Besar Humas Universitas Sanata Dharma. Kepada Bapak Budi Setyahandana, S.T.,M.T., selaku Kepala Humas Universitas Sanata Dharma, kepada Mas Tjahjo, Mbak Atik. Kepada Teman-teman Se-angkatan Staf PMB Humas angkatan 2010 Universitas Sanata Dharma yaitu Agus, Karina, Berto, Jati, Anin, Lita, Celli, Mimi, Orpa, Rosa, Yenny yang telah berbagi pengalaman dalam suka dan duka saat menjadi Staf PMB. Penulis sangat merindukan kebersamaan lagi disaat expo diluar kota ataupun disaat hang out bersama. Tidak lupa juga terima kasih kepada adik tingkat di Staf PMB seperti Krisna, Tati, anggita, Agus. S, Daniel, Lusi, Adi, Clay dan lain-lainnya

Terima kasih diucapkan kepada keluarga besar karyawan di BAA Pusat Universitas Sanata Dharma seperti Bu Asih selaku Kepada BAA, Bu Luci, Bu Rut, Mas Krisna, Mas Heru, Mas Anton. Kepada Mas Devi yang selalu bertanya tentang perkembangan skripsi penulis. Hal ini bagi penulis merupakan dorongan yang sangat berarti. Kepada Mbak Wira yang selalu memberikan motivasi kepada penulis serta canda tawa ketika membantu di BAA. Semua itu akan selalu penulis kenang.

(13)

xiii

inspirasi sekaligus pembangun kepercayaan diri bagi penulis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terima kasih atas semuanya, tanpa bantuannya penulisan skripsi ini tidak dapat berjalan dan terselesaikan. Akhir kata penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna sehingga sangat diharapkan kritik serta sarannya. Semoga tulisan ini dapat berguna dan menambah referensi pengetahuan dalam sejarah di Indonesia khususnya sejarah organisasi.

Yogyakarta, 21 November 2011

(14)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………...…...i

HALAMAN PERSETUJUAN………...ii

HALAMAN PENGESAHAN………...iii

HALAMAN PERSEMBAHAN………...iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………...…...v

ABSTRAK………...vi

ABSTRACT………...vii

LEMBARAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...viii

KATA PENGANTAR………...…....ix

DAFTAR ISI………...…...xiv

BAB I PENDAHULUAN………...1

1.1Latar Belakang………..…...1

1.2Identifikasi Masalah...5

1.3Rumusan Masalah………...8

1.4Tujuan Penelitian………...……...9

1.5Manfaat Penelitian………...…...9

1.5.1 Manfaat Akademik...10

1.5.2 Manfaat Praktis………...……...10

1.6Tinjauan Pustaka ………...………....11

(15)

xv

1.8Metode Penelitian ………...…...…...20

1.8.1 Pengumpulan Data...20

1.8.2 Analisis Data...21

1.9Sistematika Penulisan………... 21

BAB II TAMAN SISWA SEBAGAI ORGANISASI PENDIDIKAN...23

2.1 Taman Siswa Sebagai Organisasi………...23

2.1.1 Asas Pendidikan………...24

2.1.2 Tujuan……….…...27

2.1.3 Sistem Pendidikan………...…...28

2.2 Sistem Organisasi Taman Siswa………...……..…..30

2.2.1 Rapat Besar………...30

2.2.2 Majelis Luhur………...…31

2.2.3 Ibu Pawiyatan………...33

2.2.4 Organisasi Keluarga Taman Siswa………...……...34

2.2.5 Pemimpin Umum………...…....35

2.2.6 Keanggotaan………..…...35

2.3 Hubungan Taman Siswa Dan Pemerintah Indonesia………...…37

2.4 Latar Belakang Sosial Politik Tahun 1959-1965…………...…...41

BAB III DINAMIKA ORGANISASI TAMAN SISWA PADA TAHUN 1959-1964…...………...…...49

(16)

xvi

3.1.1 Politik Masuk Ke Taman Siswa ……….…...…...52

3.1.2 Persaingan Pemilihan Anggota Majelis Luhur Dalam Rapat Besar Persatuan Taman Siswa Ke-IX Pada Tahun 1960…...……...57

3.2 Konflik Dalam Tubuh Taman Siswa Tahun 1960-1964….…...60

3.2.1 Gagalnya Rapat Besar Pemuda Pelajar Taman Siswa Tahun 1961………...…...61

3.2.2 Konflik Dalam Perguruan Ibu Pawiyatan dan Majelis Luhur Taman Siswa..………...…...66

3.2.3 Perubahan Dalam Kepengurusan Majelis Luhur Taman Siswa Pada Tahun 1963………...…...73

3.3 Musyarawah Pimpinan Pusat Taman Siswa Tahun 1964...75

BAB IV TAMAN SISWA TAHUN 1965...…………...………...78

4.1 Situasi Umum di Indonesia Pada Tahun 1965…………...….…...78

4.2 Kebijakan Taman Siswa Terhadap Peristiwa Gerakan 30 September Tahun 1965….………...………...…...81

4.3 Dampak Dari Peristiwa Gerakan 30 September Terhadap Taman Siswa Pada Tahun 1965………...85

4.3.1 Kebijakan Menutup Sebagian Sekolah Taman Siswa...…...89

4.3.2 Kebijakan Sanksi Kepada Anggota Dan Pamong Taman Siswa………...92

BAB V PENUTUP………..………...95

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah Indonesia, organisasi muncul dan berkembang pertama kali di permukaan sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial dan penjajahan. Kondisi ini sering disebut dengan masa pergerakan nasional. Pada masa ini terdapat banyak organisasi bumiputera1 yang berdiri seperti Budi Utomo yang sering disebut sebagai organisasi pertama di tanah air kemudian Sarekat Islam, Indische partij, Indische Vereeniging, PNI dan sebagainya. Organisasi-organisasi ini memiliki tujuan dan cara perlawanannya masing-masing. Dalam perkembangannya sebagian dari organisasi yang berdiri saat itu kebanyakan merupakan organisasi politik walaupun begitu terdapat juga organisasi yang bersifat keagamaan, perdagangan ataupun pendidikan.

Pada abad ke-20 pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem politik etis di Indonesia yang salah satu isinya membangun kesejahteraan dan pendidikan formal untuk rakyat Indonesia. Tetapi pada kenyataannya rakyat Indonesia yang bersekolah dan mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda tetap diarahkan untuk mengabdi pada kepentingan penjajah.

1

(18)

Sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda memang diperuntukkan bagi masyarakat pribumi tetapi masih membedakan golongan. Sekolah Belanda tidak untuk memajukan bangsa Indonesia tetapi lebih untuk menciptakan tenaga-tenaga pekerja yang murah dan nantinya mengabdi pada kekuasaan Hindia Belanda. Pendidikan diciptakan Belanda untuk mencetak tenaga-tenaga yang digunakan sebagai alat untuk memperkuat kedudukan penjajah, mengabdi kepada kepentingan kolonial, sehingga isi pendidikan diarahkan kepada kepentingan kolonial, isi pendidikan itu pun hanya sekedar pengetahuan dan kecakapan yang dapat membantu mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi penjajahan.2

Situasi inilah yang menjadi alasan munculnya organisasi pendidikan ataupun lembaga sekolah di Indonesia sebagai lembaga atau sekolah pembanding dengan sekolah Belanda. Organisasi pendidikan atau lembaga sekolah memang sengaja dibentuk, sebagai salah satu cara melawan kaum kolonial yaitu dengan mendidik rakyat Indonesia menjadi manusia yang cerdas dan pintar, berpengetahuan yang luas serta menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi. Organisasi atau lembaga pendidikan yang berdiri saat itu diantaranya adalah Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Sekolah Kautamaan Istri, Wanita Susilo serta Taman Siswa.

2

(19)

Berbicara mengenai perkembangan pendidikan pada masa pergerakan nasional, maka tidak bisa lepas dari peran serta Taman Siswa dalam perjuangannya menyebarluaskan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara memberikan nama perguruan pendidikannya dengan nama Taman Siswa sebenarnya memiliki makna dan tujuan. Kata “Taman” diartikan sebagai tempat di mana orang bisa menikmati suasana yang damai, indah serta dapat belajar banyak hal disekelilingnya tanpa merasa terbebani. Sedangkan kata “Siswa” berarti murid atau anak didik. Maka, Taman Siswa adalah tempat para anak didik dapat belajar apapun juga dengan suasana yang tenang, damai dan menjadi diri sendirinya. Arti konsep dari nama Taman Siswa inilah yang ingin Ki Hajar Dewantara ciptakan dalam proses penyelenggaraan pendidikan dalam perguruan. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara menamakan perguruannya dengan nama Taman Siswa.

(20)

kebudayaan, kerakyatan, percaya pada kekuatan sendiri, menghidupi diri sendiri, dan ikhlas dalam mengabdi kepada anak didik.

Dalam perjalanannya sebagai sekolah dan lembaga pendidikan pada masa pergerakan nasional, Taman Siswa mengarahkan tujuan pendidikannya untuk mendidik rakyat Indonesia agar berjiwa kebangsaan dan berjiwa merdeka. Para murid di Taman Siswa diarahkan menjadi calon penerus bangsa yang dapat mengangkat derajat bangsa Indonesia agar dapat sebanding dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka. Tidak hanya itu, Taman Siswa juga memiliki visi dan misi memperluas pendidikan yang saat itu banyak sekali dibutuhkan oleh rakyat Indonesia, sementara jumlah sekolah yang disediakan oleh pemerintah Belanda sangat terbatas. Ki Hajar Dewantara juga memberi suatu mandat kepada para murid-muridnya untuk terjun ke dalam masyarakat dan mengabdi serta mengerakkan rakyat ke arah kemajuan.

Perkembangan pendidikan dalam Perguruan Taman Siswa terus berjalan pada masa pergerakan nasional. Pada akhir masa penjajahan kolonial Belanda, Perguruan Taman Siswa telah mempunyai 199 cabang dengan 207 perguruan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kurang lebih 20.000 orang murid dan 650 orang guru.3 Sedangkan ketika Indonesia dikuasai oleh Jepang, Taman Siswa sempat mengalami situasi sulit karena kebijakan Jepang yang membatasi gerak sekolah partikelir dan hanya memperbolehkan sekolah kejuruan misalnya sekolah pertanian ataupun

3

(21)

perkebunan. Keadaan ini membuat Taman Siswa sempat mengubah mata pelajarannya sesuai kurikulum Jepang. Walaupun begitu Taman Siswa tetap dapat berdiri dan berkembang hingga akhirnya negara Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 situasi politik di tanah air belum bisa dikatakan kondusif. Keadaan keamanan, politik dan ekonomi sangat mempengaruhi situasi di Indonesia. Taman Siswa sebagai sekolah dan organisasi pendidikan tetap berjalan sesuai dengan waktu dan keadaan nasional. Situasi jatuh bangun pernah dialami Taman Siswa di masa kolonial Belanda dan hal itu terus berlanjut hingga pendudukan Jepang. Setelah memasuki kemerdekaan Indonesia, Taman Siswa berusaha untuk tetap berdiri dan berkembang sampai akhirnya pada masa Demokrasi Terpimpin kembali lagi mengalami masa-masa sulit.

1.2 Identifikasi Masalah

(22)

bernegara oleh karena kebijakan pemerintah. Salah satunya ialah penetapan dan penerapan Manipol Usdek atau Manifesto Politik, Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia sebagai Garis Besar Haluan Negara Indonesia. Tidak hanya itu, dalam perkembangannya pada masa Demokrasi Terpimpin kebijakan mengenai pendidikan mulai diarahkan ke nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan politik negara seperti yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional, penetapan Pancawardhana4 pada tanggal 10 Oktober 1960 dan Penpres no.19/655.

4

Pancawardhana terdiri dari: (1). Perkembangan cinta bangsa dan tanah air, moral nasional, internasional/keagamaan. (2). Perkembangan intelegensi, (3). Perkembangan emosional, (4). Perkembangan keprigelan (kerajinan) tangan, (5). Perkembangan jasmani.

5

(23)

Sedangkan alasan yang kedua berasal dari faktor internal dalam organisasi Taman Siswa. Situasi dalam Taman Siswa pada masa Demokrasi Terpimpin mendapat banyak ujian dan tantangan salah satunya diawali dengan meninggalnya Ki Hajar Dewantara pada awal tahun 1959. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran Ki Hajar Dewantara sangat besar dalam kemajuan dan perkembangan Taman Siswa. Di sisi lain, Nyi Hajar Dewantara yang ditunjuk untuk mengantikan posisi Pemimpin Umum Perguruan Taman Siswa yang ditinggalkan Ki Hajar Dewantara mengalami situasi yang berat. Nyi Hajar Dewantara bukanlah seorang organisator, hal ini jelas mempengaruhi situasi Taman Siswa sendiri kedepannya.

Pada tahun 1959 sampai 1964 Taman Siswa berada dalam situasi penuh dinamika. Pengaruh politik mulai masuk dalam Taman Siswa. setelah itu sering terjadinya pertentangan yang disebabkan adanya kepentingan dari para anggota yang berakhir dengan konflik. Hal ini ditunjukan dengan peristiwa gagalnya pembentukan Pengurus Besar dalam Rapat Besar Pemuda Pelajar Taman Siswa pada tahun 1961, kemudian berlanjut dengan ricuhnya kepengurusan di Ibu Pawiyatan. Keadaan semakin diperburuk dengan perpecahan dalam tubuh kepengurusan Majelis Luhur. Keadaan Taman Siswa mulai kondusif setelah Nyi Hajar Dewantara mengambil semua alih pimpinan di organisasi sesuai dengan surat keputusan penertiban organisasi yang dikeluarkan Majelis Luhur saat itu.

(24)

ternyata tidak sedikit para pamong dan orang-orang di Taman Siswa yang ditangkap karena dituduh terlibat dalam gerakan tersebut. Peristiwa ini menimbulkan dampak sosial yang sangat besar pada keberlangsungan Taman Siswa. Sekolah-sekolah banyak ditutup setelah peristiwa tersebut, kepercayaan masyarakat pun berkurang terhadap Taman siswa.6

Pada masa Orde Baru hingga saat ini, keberadaan Taman Siswa sebagai sebuah perguruan dan organisasi pendidikan masih tetap berjalan. Akan tetapi Taman Siswa yang dulunya memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, saat ini hanya menjadi sebuah yayasan pendidikan swasta biasa. Kontribusi terhadap dunia pendidikan sudah sangat jarang diperdengarkan lagi. Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa dan dinamika organisasi yang terjadi pada tahun 1959 hingga 1965 menjadi salah satu alasan terjadinya perubahan signifikan bagi Perguruan Taman Siswa menuju arah kemunduran.

1.3Rumusan Masalah

Sesuai dengan topik yang akan dibahas dalam penelitian ini dan untuk mengetahui bagaimana dinamika yang terjadi dalam Taman Siswa secara mendalam

6

(25)

khususnya pada awal hingga akhir dari tahun 1959 sampai 1965, maka ada beberapa permasalahan yang akan dibahas antara lain:

1. Bagaimana organisasi pendidikan Taman Siswa?

2. Apa saja dinamika yang terjadi dalam organisasi Taman Siswa pada tahun 1959 sampai 1964?

3. Bagaimana situasi organisasi Taman Siswa pada tahun 1965?

1.4 Tujuan Penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan dan manfaat. Tujuan dan manfaat tesebut meliputi ruang lingkup keilmuan dan praktis. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tentang Taman Siswa di tahun 1959-1965 adalah mendeskripsikan sekaligus menganalisis situasi dan kondisi Taman Siswa dari tahun 1959 sampai 1965. Mencakup beberapa hal seperti perisitwa-peristiwa penting yang terjadi dalam Taman Siswa pada awal tahun 1959 sampai pada akhir tahun 1965.

1.5 Manfaat penelitian

(26)

1.5.1 Manfaat Teoretis

Manfaat penelitian ini ialah memberikan informasi kepada masyarakat tentang situasi organisasi Taman Siswa di Tahun 1959 sampai 1965 yang menjadi salah satu alasan kemunduran Taman Siswa hingga saat ini. Selanjutnya ialah memberikan tambahan data kepustakaan sejarah tentang organisasi Taman Siswa. Diharapkan penelitian ini juga dapat bermanfaat dan berguna untuk kalangan masyarakat luas terutama untuk kalangan akademis, lingkup keilmuan sejarah dan pemerhati sejarah pendidikan khususnya Taman Siswa. Melihat perisitiwa-peristiwa khusus yang terjadi di tahun 1959 -1965 dalam Taman Siswa, kemudian bagaimana kebijakan pemerintah yang bersifat politik saat itu ternyata telah banyak mempengaruhi kebijakan-kebijakan dalam tubuh Taman Siswa. Hal ini penting sebagai pembelajaran bersama serta melihat salah satu penyebab perubahan yang terjadi di Taman Siswa saat ini.

1.5.2 Manfaat Praktis

(27)

masyarakat untuk melihat sebuah perubahan suatu keadaan dari masa lalu yaitu sejarah.

1.6 Tinjauan Pustaka

Situasi dan kondisi pendidikan pada masa awal kemerdekaan dan perjalanan pendidikan pada saat kepemimpinan Presiden Soekarno sebenarnya memiliki banyak sekali dinamika dan permasalahan yang menarik. Tetapi tidak banyak dari para sejarawan kita yang melihat dinamika-dinamika tersebut dan bila melihat karangan buku tentang Taman Siswa bisa dikatakan sangat minim bila dibandingkan dengan penulisan topik sejarah lainnya.

Terdapat beberapa buku yang membahas tentang Taman Siswa. Buku-buku tersebut diantaranya ialah kumpulan tulisan dan hasil pemikiran Soewardi Soerjaningrat mengenai pendidikan dan telah dibuat buku atau diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa dengan judul Karja Ki Hadjar Dewantara.7 Buku ini menjelaskan tentang pikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang sesuai dengan hakekat rakyat Indonesia. Buku ini juga berisikan pola atau sistem pendidikan yang baik untuk rakyat Indonesia. Buku ini menjelaskan bagaimana cara pandang Ki Hajar Dewantara dalam menggabungkan antara pola pendidikan asing dengan budaya Indonesia yang dituangkannya dalam sistem pendidikan dalam

7

(28)

perguruan Taman Siswa. Buku ini sangat penting jika ingin memahami dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam membangun Taman Siswa dan mendidik para murid serta para calon pamong. Walaupun begitu buku ini sedikitpun tidak membahas tentang perkembangan ataupun situasi Taman Siswa sebagai organisasi pendidikan.

Selanjutnya buku dengan Judul Menuju Manusia Merdeka8 yang merupakan karangan Ki Hajar Dewantara. Buku ini merupakan buku pembaharuan dari buku terdahulu yaitu buku Karja Ki Hadjar Dewantara. Isi dan tulisan buku ini hampir sama mirip dengan buku Karja Ki Hadjar Dewantara. Buku ini mengulas asas, tujuan serta sistem pendidikan Taman Siswa. Di bagian akhir, buku ini mencantumkan atau mengulas catatan pribadi Ki Hajar Dewantara tentang pendapatnya terhadap pendidikan Indonesia.

Kemudian buku dengan judul Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern karangan Abdurrachman Surjomihardjo.9 Buku ini mengulas tentang perjalanan Taman Siswa mulai dari berdiri, melakukan pergerakan untuk kemerdekaan, mencapai kemerdekaan hingga perjalanan Taman Siswa di era Kemerdekaan. Dalam buku ini juga ditulis perkembangan dan berbagai permasalahan yang dihadapi Perguruan Taman Siswa baik itu bersifat eksternal ataupun internal.

8

Hajar Dewantara, Ki. 2009. Menuju Manusia Merdeka. Editor Abdul Aziz Saefudin dan M. Solahudin. Yogyakarta: Leutika.

9

(29)

Saat Taman Siswa masih dalam masa pergerakan nasional hingga masalah setelah kemerdekaan. Selain itu dijelaskan juga tentang perkembangan masuknya politik dalam Taman Siswa yang berbuntut pada terjadinya konflik dalam Taman Siswa. Berkenaan dengan peristiwa politik tahun 1965 yang memakan banyak korban dari kalangan anggota dan pamong Taman Siswa, di buku ini tidak banyak diungkap dengan jelas.

Kemudian sebuah buku yang diterbitkan oleh Taman Siswa dengan percetakan Taman Siswa sendiri dengan judul 60 Tahun Taman Siswa 1922-198210 buku ini merupakan buku peringatan berdirinya Taman Siswa atau buku untuk memperingati perjalanan Taman Siswa dari tahun ke tahun. Buku ini merupakan buku edisi ke 2 setelah buku peringatan 30 Tahun Taman Siswa 1922-1952 yang pertama. Buku ini berisikan tentang pemikiran-pemikiran, tulisan dan penelitian dari para tokoh-tokoh Taman Siswa dan tokoh-tokoh pendidikan Indonesia saat itu mengenai perjalanan Taman Siswa dalam kurung waktu 60 tahun.

Dalam buku ini terdapat tulisannya Moesman Wiryosentomo dengan judul Sejarah Perjuangan Taman Siswa Sejak Kemerdekaan (1952-1982). Dalam tulisannya ini, Moesman menjelaskan tentang asas-asas Taman Siswa 1922 yang pada Kongres Taman Siswa tahun 1947 dirumuskan menjadi lima Dasar yang disebut Dasar Pancadharma dan sistem pengajaran pendidikan Taman Siswa. Setelah itu Moesman

10

(30)

juga menjelaskan tentang perkembangan Taman Siswa dalam mengisi Kemerdekaan. Tulisan Moesman Wiryosentomo tentang perjalanan Taman Siswa pada tahun 50an hingga 1965 juga menyoroti tentang keterlibatan anggota Taman Siswa yang aktif dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selanjutnya ialah buku dengan judul Himpunan Catatan Kecil Ki Nayono “Damar” Menyingkap Tabir Memori lebih Setengah Abad Sebagai Wong Taman Siswa Mengabdi Pada Perguruan, Masyarakat dan Pemerintah ”11

. Buku ini berisikan perjalanan Ki Nayono dari seorang murid di Taman Siswa hingga pada pengabdiannya terhadap perguruan ini. Banyak polemik dalam Taman Siswa yang Ki Nayono alami, dari kepemimpinan Ki Hajar Dewantara sampai pada masa Demokrasi Terpimpin saat Nyi Hajar Dewantara yang menjadi Pemimpin umum hingga masa Orde Baru. Meskipun begitu, bila dikaitkan dengan penelitian ini, buku ini masih terlalu umum dalam mengulas seputar tahun 1959-1965 karena isinya lebih banyak melihat sisi kehidupan tokoh yang dibahas.

Beberapa buku yang ada di atas merupakan buku-buku yang mengulas tentang Taman Siswa. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ulasan yang dibahas khususnya yang berhubungan dengan organisasi Taman Siswa pada tahun 1959-1965 masih terlalu sedikit. Peristiwa di Taman Siswa pada Periode 1959 sampai 1965 tampak

11

(31)

terkesan “tabu” untuk dibahas. Selain itu, jika adapun, ulasannya masih bersifat umum dan ada beberapa buku masih terkesan “tidak netral” karena kebanyakan

mengikuti alur politik dan rezim saat buku tersebut diterbitkan. Hal ini khususnya dalam melihat peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965. Penelitian ini mencoba untuk menyajikan sebuah pandangan yang berbeda dan mengkaji lebih mendalam tentang Taman Siswa khususnya pada periode 1959-1965. Mengangkat fakta-fakta yang terjadi dari awal 1959 hingga akhir 1965 yang selama ini tidak diketahui oleh masyarakat pada umumnya. Selain itu juga, penelitian ini mencoba untuk menjelaskan kondisi sosial, pendidikan dan politik nasional saat itu yang pada akhirnya membawa pengaruh yang cukup besar pada keadaan Taman Siswa.

1.7Landasan Teori

Organisasi merupakan sebuah kumpulan individu-individu yang memiliki tujuan, madsud dan keinginan yang sama. Menurut Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.12

Organisasi ialah suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama yang dilakukan secara teratur dan berulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu

12

(32)

tujuan.13 Unsur-unsurnya ialah sistem, pola aktivitas, sekelompok orang, dan tujuan.14 Lembaga pendidikan dan pembinaan manajemen mendefinisikan organisasi sebagai kumpulan orang yang mengadakan pembagian pekerjaan yang dikoordinasikan untuk mencapai tujuan bersama dengan unsur-unsur sebagai berikut :15

1. Tujuan yang disepakati oleh anggota-anggota organisasi, tujuan ini menjadi “jiwa” organisasi.

2. Proses yang mengubah masukan atau sumber daya yang dimiliki menjadi keluar sebagaimana yang diinginkan.

3. Pembagian kerja pekerjaan diantara anggota, termasuk disini adalah pembagian tugas dan wewenang secara horinzontal maupun vertikal.

4. Kerjasama dan koordinasi supaya pembagian pekerjaan menjadi efektif dan efesien.

Dalam setiap organisasi terdapat asas, tujuan dan anggaran dasar. Masing-masing organisasi memiliki cirikhas yang berbeda dengan organisasi lainnya. Asas, tujuan dan anggaran dasar merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam organisasi. Sehingga organisasi harus menaati dan menjalankan setiap asas, tujuan dan anggaran dasar organisasinya. Ketidakberlangsungan sebuah organisasi dikarenakan “jiwa”

13

Indriyo G dan Sudita, Nyoman. 1997. Perilaku Keorganisasian. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

14

Komang Ardana Dkk. 2008. Perilaku Keorganisasian. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu. hlm. 1.

15

(33)

dari organisasi itu sendiri tidak berjalan karena melenceng dari visi dan misi yang disepakati.

Dalam sebuah organisasi selain memiliki asas, tujuan yang termuat dalam anggaran dasar juga memiliki struktur yang akan menjalankan roda program dan tujuan di organisasi tersebut. Struktur organisasi menurut Hatch ialah mengacu pada hubungan di antara elemen-elemen sosial yang meliputi orang, posisi, dan unit-unit organisasi dimana mereka berada.16 Dijelaskan bahwa struktur organisasi menjelaskan pengaturan berbagai elemen organisasi agar berada pada tempat dan fungsi-fungsinya masing-masing, sehingga efektif untuk mencapai tujuan-tujuan dalam organisasi.

Pentingnya arti pendidikan sudah dikenal sejak masa terdahulu tidak terkecuali ketika bangsa Indonesia masih dalam situasi penjajahan kolonial. Beberapa tokoh bangsa ini menyadari betapa pentingnya pendidikan sebagai salah satu faktor berhasilnya sebuah bangsa. Pada masa lalu perlawanan tidak pernah henti dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan akan tetapi perlu diingat bahwa untuk menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas untuk melawan kolonial perlu adanya pengetahuan dan kemampuan berpikir dan semua itu didapat melalui pendidikan. Oleh sebab itu pendidikan menjadi salah satu alat perjuangan yang sangat penting dalam sebuah bangsa dalam meraih kemerdekaan. Pendidikan

16

(34)

merupakan hal yang terpenting bagi manusia, baik itu formal maupun non-formal.17 Pendidikan dinilai sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dalam kehidupan. Kemajuan suatu bangsa atau sebuah negara tidak bisa lepas dari perkembangan situasi pendidikan di negara itu sendiri. Struktur pendidikan yang baik serta penerapan yang sesuai akan menciptakan masyarakat yang cerdas dan intelek sehingga nantinya akan sangat berpengaruh dalam pembangunan suatu negara.

Tentunya tidak sembarang arah pendidikan yang diajarkan, perlunya pendidikan yang memiliki tujuan. Salah satunya ialah membentuk karakter suatu bangsa, menciptakan suatu semangat kesatuan dan rasa nasionalisme yang tinggi kepada bangsa Indonesia dalam sebuah perjuangan. Pendidikan karakter di sini ialah untuk membentuk karakter bangsa, khususnya rakyat Indonesia yang berkepribadian nasional sesuai dengan kultur bangsa Indonesia. Pembentukan karakter kebangsaan akan menciptakan rasa cinta tanah air yang besar. Hal inilah yang akan menciptakan bangsa yang besar dan merdeka.

Berdirinya sebuah negara tidak hanya sebatas membuat sebuah wilayah merdeka, tetapi juga membuat rakyat yang mengalami kesengsaran menuju kebebasan dan kemakmuran. Negara berdiri dengan tujuan dan perencanaan jangka panjang. Setelah terbentuk pada tahun 1945, negara Indonesia kemudian membuat sebuah sistem dan ketetapan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara

17

(35)

diantaranya dibidang pendidikan. Tertuang dalam rumusan pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan-tujuan terbentuknya negara Indonesia salah satunya ialah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan tujuan ini selanjutnya dimasukan ke dalam batang tubuh UUD 1945 sebagai pedoman kehidupan berbangsa di Indonesia.

Berbicara mengenai lembaga atau organisasi tidak terkecuali pendidikan pasti akan selalu berhubungan dengan sistem, dan mekanisme organisasi. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi.18 Gagalnya pelaksanaan sistem dan mekanisme dalam organisasi disebabkan banyak hal, salah satunya ialah tidak berjalannya visi dan misi bersama. Keadaan ini dapat berdampak pada situasi internal yaitu munculnya konflik dalam organisasi. Menurut Schmidt dan Kochan, konflik merupakan sebuah perselisihan atau perjuangan di antara dua pihak yang ditandai dengan menunjukan permusuhan secara terbuka dan atau menganggu dengan sengaja pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawannya. Gangguan yang dilakukan dapat meliputi usaha-usaha yang aktif atau penolakan pasif.19 Salah satu alasan terjadinya konflik ialah karena ada kepentingan dari berbagai pihak yang terkait. Kepentingan

18

Davis, Keith. 1962. Human Relations at Work, (New York, San Francisco, Toronto, London). hlm. 15-19.

19

(36)

tersebut dapat muncul karena faktor dalam organisasi ataupun di luar organisasi atau lingkungan sosial.

Suatu organisasi tidak bisa lepas kaitannya dengan lingkungan di mana organisasi itu berada. Banyak kendala yang dihadapi pada suatu organisasi dalam mempertahankan eksistensinya. Tentu saja upaya-upaya antisipatif menjadi salah satu faktor yang menjadi pertimbangan individu-individu “pengendali” organisasi dalam upaya mereka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.20 Keadaan atau situasi negara jelas mempengaruhi semua sektor kehidupan masyarakat termasuk pula organisasi. Begitu juga organisasi pendidikan tidak bisa lepas dengan pengaruh iklim di masyarakat dan situasi negara.

1.8 Metode Penelitian

Dalam penulisan karya tulis ini metode yang akan digunakan sebagai sumber yaitu pengumpulan data, analisis data, metode dan penulisan :

1.8.1 Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data yang digunakan mengunakan studi pustaka, yaitu berasal dari beberapa sumber primer, arsip-arsip yang berhubungan dengan organisasi Taman Siswa dari tahun 1959 sampai 1965. Kemudian sumber data juga berasal dari

20

(37)

beberapa buku yang berhubungan dengan Taman Siswa dan beberapa juga artikel-artikel pendukung dari internet.

1.8.2 Analisis Data

Dalam melakukan penelitian sejarah, pengumpulan data sangat dibutuhkan untuk mendukung penulisan karya tulis dari topik yang diangkat. Setelah data-data tersebut telah didapat hal yang dilakukan selanjutnya ialah melakukan analisis terhadap data tersebut sehingga dapat dijadikan data yang relevan dalam menunjang penulisan karya tulis ini.

1.9 Sistematika Penulisan

Hasil Penelitian ini termuat dalam sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I terdiri dari: Latar belakang, Identifikasi Masalah, Rumusan Permasalahan, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Metode Penelitian, serta Sistematika Penulisan.

(38)

BAB III berjudul “Bagaimana dan apa saja dinamika yang terjadi dalam organisasi Taman Siswa pada tahun 1959 sampai 1964”. Bab ini menguraikan dan menjelaskan perjalanan serta bagaimana Taman Siswa berjalan sebagai organisasi. Karena pada periode ini terjadi banyak konflik dan perpecahan dalam Taman Siswa. Selanjutnya nanti akan juga dijelaskan bagaimana penyelesaian yang dilakukan Taman Siswa untuk mengatasi konflik dan perpecahan tersebut.

BAB IV berjudul “Bagaimana keadaan Taman Siswa pada tahun 1965”. Bab ini akan membahas bagaimana situasi Taman Siswa pada tahun 1965 yang tentunya tidak bisa lepas dengan situasi nasional saat itu, sekaligus menganalisis konflik-konflik dan kebijakan-kebijakan Taman Siswa mengenai peristiwa G 30 S 1965.

(39)

23

BAB II

TAMAN SISWA SEBAGAI ORGANISASI PENDIDIKAN

2.1 Taman Siswa Sebagai Organisasi

Menurut Indriyo G. dan Sudita, Nyoman organisasi ialah suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama yang dilakukan secara teratur dan berulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.21 Sedangkan Komang Ardana mengatakan unsur-unsur yang ada dalam organisasi ialah sistem, pola aktivitas, sekelompok orang, dan tujuan.22 Setiap organisasi memiliki asas dan tujuan yang menjadi dasar berdiri dan berkembangnya sebuah organisasi selain itu asas dan tujuan sebagai pondasi kuat dalam menjalankan organisasi. Selain asas dan tujuan yang ada di sebuah organisasi, terdapat struktur dan lembaga-lembaga yang akan menjalankan roda program dan tujuan di organisasi tersebut.

Dalam sejarahnya, Taman Siswa yang berdiri pada tanggal 3 Juli 1922 pertama kali dikelola oleh Ki Hajar Dewantara. Pada tanggal 7 Agustus 1930 kepengurusan dikembangkan dengan dibentuknya sebuah badan organisasi yang

21

Indriyo G., dan Sudita, Nyoman. 1997. Perilaku Keorganisasian, edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

22

(40)

disebut Badan Persatuan Taman Siswa.23 Hal ini dikarenakan banyak berdirinya cabang-cabang Taman Siswa yang ada di luar Yogyakarta. Badan Persatuan dibentuk untuk menjalankan sistem kerja dalam perguruan Taman Siswa yang ada di seluruh Indonesia. Sesuai dengan visi dan misi terbentuknya sebuah organisasi, Taman Siswa yang merupakan sebuah badan organisasi pendidikan memiliki asas, tujuan serta sistem pendidikan. Ketiga bagian tersebut memiliki penjelasan yang lebih rinci yaitu sebagai berikut.

2.1.1 Asas Pendidikan

Dalam sebuah organisasi asas merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Asas dijadikan landasan dan tujuan dalam menjalankan sebuah organisasi. Pada perjalanannya organisasi Taman Siswa yang bergerak dibidang pendidikan memiliki asas yang dibuat sejak Taman Siswa didirikan. Asas pertama Taman Siswa bernama “Asas Taman Siswa 1922” yang terdiri dari tujuh asas yaitu kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kerakyatan, percaya pada kekuatan sendiri, menghidupi diri sendiri, dan ikhlas dalam mengabdi kepada anak didik. Seiring dengan perkembangan zaman setelah kemerdekaan, pada kongres Taman Siswa tahun 1947 diputuskan untuk merumuskan kembali pernyataan “Asas Taman Siswa 1922”. Pada

23

(41)

akhirnya dirumuskan asas yang baru yaitu “Dasar Taman Siswa 1947” atau sering

disebut dengan Pancadharma atau lima dasar pendidikan dasar-dasar Pancadharma Taman Siswa yaitu: 24

1. Kodrat Alam sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan mengandung arti bahwa pada hakekatnya manusia sebagai makhluk Tuhan adalah satu dengan alam semesta ini, karena itu manusia tidak dapat lepas dari kehendak hukum-hukum kodrat alam. Bahkan manusia akan mengalami kebahagiaan jika ia dapat menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.

2. Dasar Kemerdekaan mengandung arti bahwa kemerdekaan sebagai karunia Tuhan kepada semua Mahkluk ( Manusia ) yang memberikan kepadanya “hak untuk mengatur hidupnya sendiri” dengan selalu mengingat syarat-syarat tertib-damainya hidup bersama dalam masyarakat. Karena itu kemerdekaan diri harus berdasarkan nilai-nilai hidup yang tinggi, baik hidup individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat.

3. Dasar Kebudayaan mengandung arti keharusan memelihara nilai-nilai dan bentuk kebudayaan nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu, yang pertama dan terutama ialah membawa kebudayaan nasional kearah kemajuan yang sesuai

24

(42)

dengan kecerdasan zaman dan kemajuan dunia guna kepentingan hidup rakyat lahir batin dalam tiap zaman keadaannya.

4. Dasar Kebangsaan mengandung arti adanya rasa satu bersama bangsa sendiri dengan suka dan duka dan dalam kehendak mencapai kebahagiaan hidup lahir-batin seluruh bangsa. Dasar kebangsaan tidak boleh bertentangan dengan asas kemanusiaan. Bahkan harus menjadi sifat bentuk dan laku kemanusiaan yang nyata, dan karenanya tidak mengandung rasa permusuhan terhadap bangsa-bangsa lain.

5. Dasar Kemanusiaan mengandung arti, bahwa kemanusiaan itu ialah dharma tiap-tiap manusia yang timbul dari keluhuran akal-budinya. Keluhuran akal-budi menimbulkan rasa dan laku cinta-kasih terhadap sesama manusia dan terhadap mahkluk Tuhan seluruhnya yang bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta. Karena itu rasa laku cinta kasih itu harus tampak pula sebagai kesimpulan untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi kemajuan yang selaras dengan kehendak alam.

(43)

mengembangkan organisasi tetapi lima asas Pancadharma Taman Siswa yang telah disesuaikan dengan ketentuan yang ada tidak dapat dirubah ataupun diganggu gugat.25

2.1.2 Tujuan

Secara umum Taman Siswa melihat pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi setiap manusia. Taman Siswa menilai usaha pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa merupakan usaha mewujudkan kebudayaan, sehingga dalam organisasi Taman Siswa memiliki tujuan pendidikan yaitu:

“Membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal-budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggungjawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya”. 26

Menurut Moesman Wiryosentomo merdeka lahir batin tidak diartikan membangun manusia yang tanpa batas. Merdeka sebagai hak asasi harus diimbangi dengan kewajiban asasi ialah menaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku untuk tertib-damainya hidup bermasyarakat.27 Dalam arti lainnya tujuan pendidikan Taman Siswa secara umum mengambarkan bahwa Taman Siswa ingin

25

Lihat pasal 37 ayat 3. Majalah Pusaran Lembaran Organisasi. 1962. op.cit. hlm. 14.

26

Lihat Pasal 9 ayat 2 tentang Wujud dan Tujuan Pendidikan. Ibid. hlm. 5. 27

(44)

menciptakan anak didik tidak hanya dalam hal kecerdasan intelektual tetapi diseimbangkan dengan bekal budi pekerti yang kuat selain itu, Taman Siswa bertujuan mendidik siswa agar dapat mandiri, bertanggungjawab dan menjadi dirinya sendiri dalam kehidupan di masyarakat.

2.1.3 Sistem Pendidikan

Dalam perkembangan sebagai organisasi pendidikan, Taman Siswa memiliki sistem pendidikan yang menjadi landasan dalam usaha mendidik anak murid. Sistem pendidikan ini menjadi acuan terhadap para pamong atau guru di Taman Siswa dalam menerapkan pendidikan di Taman Siswa. Sistem pendidikan Taman Siswa memberlakukan sistem among28 yang bersendi pada dua dasar yaitu:29

1. Kodrat Alam sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.

2. Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan mengerakkan kekuatan lahir batin anak agar dapat menjadi pribadi yang kuat yang dapat berpikir dan bertenaga sendiri.

28

Among merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong yang berarti mengasuh anak. Dalam makna pendidikan ini berarti mengayomi anak didik dengan jiwa penuh pengabdian.

29

(45)

Sistem pendidikan Taman Siswa yaitu sistem among menegaskan bahwa kodrat alam merupakan syarat untuk mencapai kemajuan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya manusia memiliki akal budi dan pikiran yang menjadi kelebihan dari masing-masing manusia sejak lahir. Sehingga pada pelaksanaannya, pendidikan yang diterapkan pamong atau guru harus melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang penting bagi anak didik atau siswa. Sedangkan, kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak, sehingga dapat hidup merdeka. Hal ini dimadsudkan bahwa kecerdasan yang telah ada sejak lahir yaitu akal budi dan pikiran dapat berkembang, jika adanya kemerdekaan atau kebebasan dari setiap anak didik untuk menjadi dirinya sendiri.

(46)

2.2 Sistem Organisasi Taman Siswa

Sebuah badan organisasi tidak hanya memiliki asas dan tujuan tetapi terdapat juga badan-badan yang mengatur jalannya sistem dalam organisasi. Dalam Badan Persatuan Taman Siswa terdapat lembaga-lembaga dan badan-badan kekuasaan atau badan Pimpinan Pusat yang berperan penting di organisasi. Lembaga-lembaga, badan kekuasaan atau badan pimpinan tersebut mencakup Rapat Besar, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Pimpinan Umum, Keanggotaan, Ibu Pawiyatan dan Organisasi Keluarga Taman Siswa.

2.2.1 Rapat Besar

Rapat Besar Persatuan Taman Siswa atau sering disebut Rapat Besar merupakan badan kekuasaan tertinggi dalam persatuan Taman Siswa. Sebagai badan kekuasaan tertinggi di Persatuan Taman Siswa, Rapat Besar memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan fungsinya diantaranya:

1. Menerima, mendengarkan dan membicarakan semua laporan dan pertanggungjawaban Majelis Luhur tentang segala usaha dan kebijaksanaan Majelis Luhur serta hasil-hasil yang dicapai selama masa jabatan.

(47)

3. Menetapkan atau mengubah Peraturan Besar dengan pengecualian bahwa asas Taman Siswa yang tidak dapat diganggu gugat.

4. Menetapkan kebijakan Taman Siswa dan menentukan rencana kerja Majelis Luhur.

2.2.2 Majelis Luhur

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Pelaksana Rapat Besar dipegang oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa atau yang sering disebut Majelis Luhur adalah badan pimpinan tertinggi Persatuan Taman Siswa dalam masa dua Rapat Besar. Majelis Luhur sebagai badan kekuasaan pelaksana yang merangkap fungsi sebagai badan pekerja Rapat Besar.30 Majelis Luhur memiliki perangkat kerja yang tersusun dalam struktur organisasi. Stuktur organisasi tersebut mencakup beberapa bagian diantaranya sebagai berikut:

1. Majelis Luhur dipimpin oleh seorang Pemimpin Majelis Luhur yang disebut Ketua Umum Majelis Luhur dengan dibantu oleh wakil ketua Umum dan Kepaniteraan Umum yang disebut Panitera Umum.

2. Di bawah Ketua Umum dan Kepaniteraan Umum terdapat bagian-bagian pelaksana kerja yang dibagi-bagi sebagai berikut:

a. Bagian organisasi Majelis Luhur, dipimpin oleh Ketua Bagian Organisasi Majelis Luhur.

30

(48)

b. Bagian Pendidikan Majelis Luhur, dipimpin oleh Ketua Bagian Pendidikan Majelis Luhur.

c. Bagian Kekeluargaan Majelis Luhur, dipimpin oleh Ketua Bagian Kekeluargaan Majelis Luhur.

d. Bagian Perbedaharaan Majelis Luhur dipimpin oleh Ketua Bagian Perbedaharaan Majelis Luhur.

3. Ketua Umum, wakil Ketua Umum, Panitera Umum, Ketua Bagian Organisasi, Ketua Bagian Pendidikan, Ketua bagian kekeluargaan dan Ketua Bagian Perbendaharaan Majelis Luhur merupakan Majelis Luhur Harian. Ketua Umum menjadi Pemimpin Majelis Luhur Harian.

4. Majelis Luhur Harian31 dipilih oleh Rapat Majelis Luhur yang diadakan setelah terbentuknya Majelis Luhur.

Majelis luhur adalah badan organisasi tertinggi dalam Taman Siswa yang memiliki hak dan kewajiban dalam menjalankan fungsinya di perguruan diantaranya sebagai berikut:32

31

Majelis Luhur Harian ialah badan pelaksanaan tugas dan kekuasaan Majelis Luhur sehari-hari, yang memegang dan menjalankan segala kewajiban serta hak Majelis Luhur. Majelis Harian memiliki tanggungjawab penuh terhadap Majelis Luhur atas kinerja yang dilakukan setiap hari. Lihat pasal 46 mengenai Majelis Luhur Harian pada Majalah Pusara Lembaran Organisasi. 1962. Ibid. hlm. 17.

32

(49)

1. Memimpin Persatuan Taman Siswa dengan selalu berpedoman dengan asas dan menurut ketentuan-ketentuan sesuai dengan Peraturan Besar dan Putusan Rapat Besar.

2. Menentukan kebijakan-kebijakan yang belum ditentukan dalam Peraturan Besar atau putusan Rapat Besar yang kemudian dipertanggungjawabkan kepada Rapat Besar.

3. Mewakili Persatuan Taman Siswa di luar lingkungan perguruan misalnya dalam hubungan dengan masyarakat, pemerintah dan instansi negara lainnya.

4. Mengatur pengeluaran dan pemasukan organisasi dalam hal finansial.

Selain Rapat Besar dan Majelis Luhur Taman Siswa memiliki cabang-cabang diberbagai daerah di Indonesia. Cabang-cabang ini memiliki sistem organisasi dengan cakupan wilayah hanya di tiap-tiap cabang masing-masing. Tiap cabang memiliki badan yang sistem organisasinya berkerja hampir sama dengan pusat yaitu Rapat Cabang yang merupakan Badan kekuasaan tertinggi dalam sebuah cabang Taman Siswa serta ada Majelis Cabang yang merupakan Pimpinan Tertinggi dalam cabang Taman Siswa.

2.2.3 Ibu Pawiyatan

(50)

nilai lebih dibandingkan dengan perguruan-perguruan lainnya yang ada di seluruh Indonesia. Salah satu hal yang menjadi kelebihan dari perguruan ini selain nilai sejarah yaitu fungsi dari Ibu Pawiyatan yang diatur dalam Peraturan Besar Taman Siswa yang diantaranya:33

1. Sebagai sumber cita-cita Taman Siswa dalam hal pendidikan dan kebudayaan. 2. Sebagai contoh wujud nyata pelaksanaan sistem pendidikan Taman siswa. 3. Sebagai pusat penelitian sistem pendidikan dan kebudayaan di Taman Siswa.

Sesuai dengan fungsinya tersebut maka Ibu Pawiyatan langsung berdiri di bawah Pimpinan Pemimpin Umum yang dibantu oleh Majelis Luhur dalam hal pelaksanaan pendidikan dan kebudayaan.

2.2.4 Organisasi-Organisasi Keluarga Taman Siswa

Dalam Perguruan Taman Siswa terdapat organisasi-organisasi kecil yang disebut sebagai organisasi keluarga Taman Siswa. Organisasi-Organisasi Keluarga Taman Siswa dibentuk oleh anggota-anggota Taman Siswa sendiri. Organisasi-Organisasi Keluarga Taman Siswa tersebut ialah organisasi Wanita Taman Siswa, Persatuan Pelajar Taman Siswa, Ikatan Keluarga Taman Siswa, Ikatan Keluarga Wali Murid. Dalam kelembagaan Taman Siswa, organisasi-organisasi keluarga diatur sesuai Peraturan Besar yang berlaku.

33

(51)

2.2.5 Pemimpin Umum

Setelah meninggalnya Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 Pemimpin Umum Taman Siswa adalah Nyi Hajar Dewantara.34 Kedaulatan dan kewenangan Pemimpin Umum sangat besar dalam Taman Siswa hal ini dapat terlihat dari hak dan kewajiban Pemimpin Umum yang menyatakan bahwa:35

1. Pemimpin Umum adalah Nyi Hajar Dewantara.

2. Pemimpin Umum berkewajiban menjaga kemurnian asas Taman Siswa.

3. Pemimpin Umum tidak bertanggungjawab tentang organisasi kepada Rapat Besar. 4. Pemimpin Umum memiliki hak leluasa yang dapat dipergunakan bila keadaan

luar biasa atau tidak dapat dikendalikan oleh Majelis Luhur.

5. Jika menurut Pemimpin Umum keadaan dipandang telah menyimpang dari asas Taman siswa, Pemimpin Umum dapat menunda pelaksanaan atau membatalkan putusan Majelis Luhur atau Rapat Besar.

2.2.6 Keanggotaan

Sebuah organisasi memerlukan seorang pemimpin yang dapat membawa organisasi kepada tujuan bersama. Tetapi pemimpin dan badan organisasi tidak dapat

34

Sebelumnya Pemimpin Umum ialah Ki Hajar Dewantara tetapi setelah meninggal, Nyi Hajar Dewantara mengantikan posisi Pemimpin Umum. Lihat pasal 70 ayat 1 yang tertulis :”Pemimpin Umum adalah Nyi Hajar Dewantara”. Ibid. hlm. 27.

35

(52)

berjalan tanpa adanya anggota. Anggota merupakan elemen terpenting dalam sebuah organisasi. Anggota merupakan aset berharga yang berpengaruh dalam menentukan kemajuan sebuah organisasi. Jika Pemimpin Umum Taman Siswa memiliki kewenangan yang cukup besar begitu pula dengan anggota perguruan Taman Siswa. Kedaulatan di Taman siswa terletak di tangan anggota perguruan yang dilaksanakan dalam dua kategori yaitu: secara langsung yang berarti melalui proses rapat anggota di masing-masing cabang dan secara tidak langsung yaitu melalui Majelis badan pimpinan atau perwakilan.36 Dalam Taman Siswa keanggotaan dibagi menjadi dua macam, yaitu :37

1. Anggota Perguruan ialah orang-orang yang berkerja dalam Taman Siswa dan anggota persatuan Taman Siswa ialah semua Perguruan Taman Siswa yang ada di seluruh Indonesia.

2. Anggota Keluarga ialah terdiri dari dua macam yaitu keluarga biasa dan keluarga besar. Keluarga biasa ialah keluarga dari orang yang bekerja di Taman Siswa atau orang yang menjadi anggota suatu badan di Taman siswa termasuk orang tua murid/wali dan murid. Sedangkan keluarga besar ialah para alumni siswa Taman siswa ataupun mereka yang berperan besar dalam perkembangan dan kemajuan Taman Siswa.

36

Lihat pasal 16 mengenai Kedaulatan Badan Kekuasaan Dan Badan-Badan Pimpinan. Ibid. hlm. 7.

37

(53)

2.3 Hubungan Taman Siswa Dan Pemerintah Indonesia

Sejak Perguruan Taman Siswa didirikan, Taman Siswa telah mendedikasikan diri untuk melawan penjajah melalui pendidikan dengan menciptakan masyarakat Indonesia yang terdidik. Setelah kemerdekaan dan terbentuknya negara Republik Indonesia, Taman Siswa tetap melaksanakan asas dan tujuan mereka yaitu membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir-batin, luhur akal-budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggungjawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya.38 Dalam hal ini diartikan bahwa Taman Siswa yang merupakan alat perjuangan bangsa pada masa kolonial setelah kemerdekaan tetap berbakti kepada bangsa Indonesia melalui jalur pendidikan nasional. Hal ini tercermin dalam beberapa peran serta Taman Siswa khususnya Ki Hajar Dewantara dan anggota-anggota Taman Siswa lainnya dalam pengembangan pendidikan di tanah air.

Ki Hajar Dewantara yang merupakan Ketua Umum Taman Siswa diangkat menjadi menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dalam Kabinet Pertama R.I (15 September-14 November 1945), kemudian berlanjut menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.39 Selain Ki Hajar Dewantara, Sarmidi Mangoesarkoro40 juga

38

Kalimat di atas merupakan cita-cita pendidikan dalam anggaran besar Taman Siswa. Buku Peringatan 60 Tahun Taman Siswa 1922-1982. 1982. Yogyakarta: Percetakan Taman Siswa. hlm. 254.

39

(54)

berperan aktif khususnya pada permulaan revolusi sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan kemudian Menteri P P dan K dalam Kabinet Hatta (Agustus 1949 sampai September 1950).41

Memasuki era tahun 1950an eksistensi Taman Siswa dibidang pendidikan terlihat jelas, khususnya peran Ki Hajar Dewantara. Peran Ki Hajar Dewantara di antaranya mengenai pembentukan Undang-Undang Pokok Pendidikan yang saat itu langsung diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Undang-undang ini kemudian disetujui dan menjadi Undang-Undang No.4 tahun 1950 tentang dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran dan organisasi sekolah-sekolah.42 Kemudian selanjutnya muncul Undang-Undang No.4/1950 jo no.12/ 1954 yang mengatur pengakuan secara hukum tentang keberlangsungan perguruan swasta yang ada di Indonesia salah satunya Taman Siswa. Taman Siswa sebagai lembaga swasta yang di zaman kolonial selalu mendapat rintangan dan hambatan dari pihak pemerintah jajahan, setelah kemerdekaan selalu mempelopori dalam memperjuangkan kedudukan perguruan

40

Sarmidi Mangoesarkoro merupakan tokoh lain selain Ki Hajar Dewantara yang sangat berperan saat Taman Siswa berdiri pertama kali. Sarmidi Mangoesarkoro salah satu tokoh di Taman Siswa yang menuangkan rumusan, pemikiran dan pelaksana cita-cita Taman Siswa.

41

Abdurrachman Surjomihardjo. 1986. Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. loc.cit.

42

(55)

swasta sebagai hasil perjuangannya adalah pengakuan resmi dari pemerintah tentang kedudukan perguruan swasta berdasarkan hukum.43

Peran Taman Siswa kembali terlihat pada saat konferensi Pendidikan Kesenian yang diadakan di Taman Siswa pada tanggal 13-18 Mei 1954. Dalam kegiatan tersebut acara diakhiri oleh kata sambutan dari Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Mr.Moh Yamin yang salah satu isinya menyampaikan bahwa Pemerintah mengajukan beberapa permintaan kepada Taman Siswa untuk :44

1. Dalam bulan Oktober yang akan datang (tahun 1954, red), pemerintah akan mengadakan kongres bahasa Indonesia di Medan, dan Taman Siswa supaya ikut memperhatikan kongres tersebut.

2. Taman Siswa supaya menyediakan dua atau tiga orangnya untuk ditempatkan oleh pemerintah sebagai atase kebudayaan pada kedutaaan RI di luar negeri. Hingga kini atase kebudayaan itu hanya ada di London, Roma dan Mesir.

3. Taman Siswa supaya menyampaikan perumusan tentang dasar nasional kesenian kepada pemerintah untuk dipertimbangkan. Juga pemerintah akan memberikan bantuan kepada seniman-seniman dikalangan Taman Siswa yang berkeinginan

43

Buku Peringatan 60 Tahun Taman Siswa 1922-1982. op.cit. hlm. 251. 44

(56)

melanjutkan dan memperluas pendidikan ke luar negeri. Fellowship dan Scholarship45 pemerintah yang terbagi-bagi.

Pernyataan di atas menunjukan kepercayaan besar pemerintah Indonesia saat itu kepada Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan yang bersifat nasional untuk berperan dalam mewujudkan pendidikan berskala nasional.

Pada tahun 1958 pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pemberian dana pendidikan kepada sekolah swasta. Pemerintah menetapkan untuk mengganti peraturan yang lama dengan peraturan yang baru. Kebijakan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1958 tentang pemberian sokongan kepada sekolah nasional partikelir. Sebelumnya ketentuan dari pemberian sokongan atau pemberian bantuan terhadap sekolah partikelir berdasarkan UU No.4 tahun 1950 J No. 12 tahun 1954.46

Peraturan lama mengenai pemberian bantuan masih mengunakan sistem ordinasi pemerintahan Hindia Belanda, oleh karena itu peraturan tersebut dirubah karena tidak relevan lagi dengan keadaan Indonesia yang telah merdeka. Selain itu Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1958 memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada usaha nasional sekolah-sekolah partikelir dibidang pendidikan dan pengajaran

45

Echols, John M dan Hassan Shadily. 2000. Kamus Inggris-Indonesia. Cetakan XXIV. Jakarta: PT Gramedia. Hlm. 237 dan 504. ,Fellowship berarti persahabatan atau beasiswa sedangkan scholarship memiliki arti beasiswa atau kesarjanaan.

46

(57)

agar lebih dapat maju dan berkembang ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini Taman Siswa menyerahkan sepenuhnya kebijakan di atas kepada pemerintah dan tetap mengikuti langkah-langkah serta semua keputusan yang diambil demi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kebijakan mengenai peraturan pemerintah tentang subsidi terhadap sekolah swasta memberikan gambaran bahwa pemerintah dan lembaga pendidikan swasta memiliki hubungan yang baik, salah satunya hubungan Taman Siswa dengan pemerintah Indonesia. Semua itu merupakan wujud timbal-balik pemerintah atas peran sekolah partikelir terhadap perkembangan pendidikan nasional di Indonesia.

2.4 Latar Belakang Sosial Politik Tahun 1959-1965

(58)

Setelah Belanda mengakhiri agresi militer di tanah air pada tahun 1949, Indonesia mendapat kedaulatan penuh sebagai sebuah negara untuk mengatur kehidupannya sendiri. Pada tahun 1950 negara Republik Indonesia akhirnya membentuk sebuah sistem pemerintahan demokrasi yang pertama yang disebut dengan Demokrasi Liberal atau Demokrasi Parlementer. Sistem pemerintahan Demokrasi Liberal berlandaskan Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950 (UUDS 1950) yang diatur oleh ketetapan Undang-Undang No. 7 tanggal 15 Agustus 1950. Demokrasi Liberal merupakan sebuah Pemerintahan yang dijalankan oleh suatu Dewan Menteri (kabinet) yang dipimpin seorang Perdana Menteri yang bertanggungjawab kepada parlemen (DPR). Presiden dan Wakil Presiden memiliki kekuasaan yang cukup besar pada sistem ini.

(59)

telah terjadi instabilitas pemerintah secara terus menerus, timbulnya separatisme baik dengan latar belakang kedaerahan ataupun ideologi terjadi perbedaan-perbedaan pandangan yang meluas dan makin menajam.47

Keadaan yang tidak stabil kemudian membuat UUDS tahun 1950 dianggap tidak relevan lagi, akhirnya Pemerintahan memutuskan untuk membentuk sebuah sistem yang baru di tanah air. Pada hari kamis tanggal 19 Februari 1959 Dewan Menteri telah mengambil keputusan-keputusan dengan suara yang bulat mengenai pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dalam rangka kembali ke UU Dasar 1945.48 Dalam rumusan keputusan-keputusan tersebut menjelaskan Tentang Undang-undang Dasar 1945 diyakini mencakup kepribadian dan nilai demokrasi sesuai kepribadian bangsa Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 lebih menjamin terlaksananya prinsip Demokrasi Terpimpin, UUD 1945 menjamin pemerintahan yang stabil selama lima tahun dengan kekuasan DPR yang berkurang dan Presiden memiliki hubungan dengan kekuasan tertinggi dan ada ditangan MPR. Adanya hubungan antara Demokrasi Terpimpin dengan kebijakan Ekonomi Terpimpin didasarkan pasal 33, kemudian sistem dan menyempurnakan UU dasar dalam UU dasar 1945 lebih

47

Sartono Kartodirdjo dkk. 1977 . Sejarah Nasional Indonesia, I-VI. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 81.

48

(60)

fleksibel yang akan dilakukan oleh MPR (pasal 37 UUD 1945), Undang-undang Dasar dipertahankan sebagai keseluruhan.49

Pada bulan Juli sesuai keputusan Presiden RI No. 75/1959 akhirnya negara Indonesia memberlakukan sistem pemerintahan yang disebut Demokrasi Terpimpin. Dalam Demokrasi Terpimpin, Indonesia kembali mengunakan UUD 1945 serta membentukan MPRS dan DPAS. Demokrasi Terpimpin mengunakan sistem yang pemegang utama kekuasaan adalah presiden. Setelah diberlakukannya sistem Demokrasi Terpimpin pemerintahan yang baru mengeluarkan garis-garis besar haluan negara yang menjadi acuan dalam hidup berbangsa dan bernegara yaitu Manifesto Politik. Dewan Pertimbangan Agung dalam Sidang II sesuai dengan keputusan No. 3/Kpts/Sd /II/59 memutuskan untuk menjadikan Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 sebagai Garis Besar Haluan Negara.

Demokrasi Terpimpin berjalan dari tahun 1959 sampai 1966. Dalam perkembangannya banyak terjadi perubahan sentral di pemerintahan dan terjadinya dinamika sosial politik pada masa ini. Sesuai dengan kebijakan dekrit Presiden tahun 1959 dan penetapan Manifesto politik yang kedepannya menjadi Manipol-Usdek50

49

Ibid. 50

(61)

sama-sebagai Garis Besar Haluan Negara, Indonesia banyak menciptakan kebijakan-kebijakan baru diberbagai sektor di pemerintahan dan masyarakat. Kebijakan-kebijakan tersebut meliputi Kebijakan-kebijakan ekonomi, sosial, budaya, politik bahkan pendidikan.

Perubahan di sektor pendidikan salah satunya terjadi pada tujuan pendidikan nasional. Tidak dapat dipungkiri perubahan arah politik negara mempengaruhi situasi pendidikan nasional. Sebelum masa Demokrasi Terpimpin, tujuan pendidikan nasional diatur dalam UU.No.4/1950 atau UU.No. 12/1954 yang menetapkan bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran nasional adalah:

“Membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejateraan dan tanah air”.51

Tetapi setelah memasuki era Demokrasi Terpimpin, pengaruh Manipol-Usdek yang sangat kuat mempengaruhi pengambilan kebijakan mengenai tujuan pendidikan nasional saat itu. MPRS selaku badan eksekutif negara mengadakan sidang MPRS

samar ini menjadi semakin rumit karena ditambhkannya kata USDEK, yang berarti Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia. Lihat Ricklefs. M.C. 1981. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah mada University Press. hlm. 403.

51

(62)

pada tahun 1960 dan akhirnya mengeluarkan kebijakan baru mengenai tujuan pendidikan nasional. TAP MPRS No.II/MPRS/1960 pada Bab II pasal 5 berbunyi:

”Menyelenggarakan Kebijaksanaan dan sistem pendidikan nasional menuju arah pembentukan tenaga-tenaga ahli dalam pembangunan sesuai dengan syarat-syarat manusia Sosialis Indonesia yaitu berwatak Luhur”.52

Ketetapan ini diperkuat oleh kebijakan sebelumnya yaitu pada tahun 1959 oleh Departemen Kementerian Pendidikan dan Pengajaran. Melalui Menteri Muda Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yaitu Prijono mengeluarkan instruksi No.1 yaitu melaksanakan Sapta Usaha Tama yang berisikan tentang:53 pertama, penertiban aparatur dan usaha Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Kedua, menggiatkan Kesenian dan Olahraga. Ketiga, mengusahakan “Usaha Halaman”. Kempat, mengharuskan penabungan. Kelima, mewajibkan usaha-usaha Koperasi. Keenam, mengadakan kelas masyarakat. Ketujuh, membentuk regu kerja SLA dan universitas.

Kebijakan pemerintah mengenai pendidikan tidak berhenti pada tahun 1959 dan 1960 tetapi berlanjut hingga tahun 1961. Prijono melalui instruksi No.2 pada tanggal 17 Agustus 1961 mengeluarkan tiga hal yaitu: pertama, menegaskan

52

Abd.Rachman Assegaf 2005. Politik Pen

Referensi

Dokumen terkait

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN DINAMIKA KELOMPOK BERBASIS KEBERAGAMAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SIKAP NASIONALISME SISWA SMA N 1..

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa penggunaan model PBM berpengaruh dalam meningkatkan secara signifikan KBK siswa pada aspek mengemukakan alasan

Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan adalah (1) dalam proses belajar mengajar penggunaan media citra penginderaan jauh pada pokok bahasan fenomena dinamika biosfer

Hasil penelitian, penerapan metode ceramah menggunakan LKS khususnya pada mata pelakaran IPS Geografi kompetensi dasar Dinamika Penduduk pada siswa kelas VIII SMP

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA POKOK BAHASAN DINAMIKA HIDROSFER UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X SAINS 4

Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan adalah (1) dalam proses belajar mengajar penggunaan media citra penginderaan jauh pada pokok bahasan fenomena dinamika biosfer

penelitian tindakan bimbingan dan konseling dengan judul “ Peningkatan Motivasi Siswa Dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Melalui Dinamika Kelompok (Permainan)

1) Perubahan yang terjadi secara sadar, individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau individu merasakan telah terjadi suatu perubahan