BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep terdiri dari dua kata yang harus kita mengerti yaitu pemahaman dan konsep, dua kata tersebut yang harus kita pahami terlebih dahulu sebelum kita mengartikan kata pemahaman konsep.
Berkaitan dengan istilah kata tersebut banyak para pakar yang mengartikannya, meskipun penjelasannya berbeda-beda tetapi memiliki
tujuan yang sama. Perbedaan penjelasan yang ada didasarkan dari sudut pandang masing-masing para ahli dalam melihat pemahaman tersebut. Menurut Aziz dan Rahmat (2009:195) mengartikan pemahaman dalam
konteks terapan adalah proses atau hasil dari upaya seseorang untuk mendapatkan makna dari teks tertulis atau lisan. Sedangkan dalam
kurikulum adalah proses atau hasil dari upaya siswa untuk menguasai materi yang ada dalam suatupengajaran.
Menurut Purwanto (2010:44) pemahaman atau komprehensi adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan testee mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini testee
tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan. Dari pengertian pemahaman
merupakan suatu proses kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan atau materi yang dipelajari.
Istilah konsep menurut Poerwadarminta (2007:611) adalah sebuah rancangan. hasil abstraksi yang diperoleh melalui pengamatan terhadap
sejumlah gejala. Sedangkan menurut Aziz dan Rahmat (2009:141) konsep adalah penggambaran abstrak tentang kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial.
Menurut beberapa pendapat para ahli tersebut peneliti dapat menyimpulkan konsep adalah suatu gambaran dari beberapa objek atau
kejadian yang sesungguhnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa arti dari pemahaman konsep adalah suatu proses untuk menangkap makna gambaran dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya.
2. Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut H.W Fowler (Laksmi Prihantoro, 1986:13) IPA adalah
pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama dan dedukasi.
Adapun menurut Wahyana (Triyanto,2013:136) mengatakan bahwa
IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.
Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu
pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa
ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya. a. Nilai-nilai IPA
Menurut Triyanto (2013:138) IPA mengandung nilai-nilai tertentu yang berguna bagi masyarakat. Yang dimaksud nilai disini adalah sesuatu yang dianggap berharga yang terdapat dalam IPA dan
menjadi tujuan yang akan dicapai. Nilai- nilai yang dimaksud bukanlah nilai nonkebendaan. Nilai- nilai nonkebendaan yang
terkandung dalam IPA antara lain sebagai berikut. 1) Nilai Praktis
Nilai praktis IPA adalah sesuatu yang bermanfaat dan
berharga dalam kehidupan sehari- hari. Contoh: penemuan listrik oleh Faraday diterapkan dalam teknologi hingga
melahirkan alat- alat listrik yang bermanfaat bagi kehidupan. 2) Nilai Intelektual
Metode ilmiah telah melatih keterampilan, ketekunan, dan
melatih mengambil keputusan dengan pertimbangan yang rasional dan menuntut sikap-sikap ilmiah bagi penggunanya.
Keberhasilan memecahkan masalah tersebut akan memberikan kepuasan intelektual. Dengan demikian, metode ilmiah telah memberikan kepuasan intelektual, Inilah yang dimaksud dengan
3) Nilai Sosial, budaya, ekonomi, politik
4) Nilai Kependidikan
Dengan makin berkembangnya IPA dan teknologi serta diterapkannya psikologi belajar pada pembelajaran IPA, maka
IPA diakui bukan hanya sebagai suatu pelajaran melainkan juga sebagai alat pendidikan. Artinya, pelajaran IPA dan pelajaran lainnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Nilai- nilai tersebut antara lain sebagai berikut:
a) Kecakapan bekerja dan berpikir secara teratur dan
sistematis menurut metode ilmiah.
b) Ketrampilan dan kecakapan dalam mengadakan
pengamatan, dan mempergunakan peralatan untuk
memecahkan masalah.
c) Memiliki sikap ilmiah yang diperlukan dalam memecahkan
masalah.
Dengan demikian jelaslah bahwa IPA memiliki nilai- nilai kependidikan karena dapat menjadi alat untuk
mencapai tujuan pendidikan. 5) Nilai Keagamaan
Suatu pandangan yang naif apabila dengan pembelajaran IPA akan mengurangi kepercayaan kepada Tuhan. Karena secara empiris orang yang mendalami mempelajari IPA, makin
sadar akan adanya keterkaitan di dalam alam raya ini dengan Maha Pengaturnya. Walau bagaimanapun dengan membaca
mempelajari/menerjemahkan alam, manusia makin sadar akan keterbatasan ilmunya.
b. Tujuan IPA
Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang
Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan
keteraturan alam ciptaan-Nya
b) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari
c) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan
kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat
d) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki
alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan e) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam f) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
g) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan
IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke
SMP/MTs. c. Ruang Lingkup IPA
Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut.
a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia,
hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
b) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair,
padat dan gas
c) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas,
magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana
d) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya,
dan benda-benda langit lainnya. 3. Materi Kenampakan Bumi dan Benda Langit
Menurut Wahyono & Nurachmandani (2008:113) Perubahan
Kenampakan Bumi dapat disebabkan oleh peristiwa alam dan tindakan manusia. Perubahan ini ada yang menguntungkan dan merugikan.
a. Pengaruh Pasang Surut Air Laut
Penyebab utama peristiwa pasang dan surut adalah gaya
gravitasi bulan pada bumi. Walaupun gaya gravitasi matahari juga mempengaruhi, namun pengaruhnya tidak begitu besar karena
jaraknya lebih jauh dari pada jarak bulan dengan bumi. Peristiwa pasang dan surut dapat dimanfaatkan oleh manusia. Contoh keuntungan adanya peristiwa pasang surut adalah sebagai sarana
berlabuh dan berlayar kapal pada dermaga yang agak dangkal. Untuk bahan membuat garam. Saat terjadi pasang, air laut mengisi petak
petak tempat pembuatan garam. Setelah surut, air laut yang mengandung garam tertinggal dalam petak-petak tersebut.
b. Pengaruh Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dapat mempengaruhi bentuk daratan. Daratan yang pada mulanya menghijau karena ditumbuhi pepohonan akan
menjadi hitam kelam karena bekas-bekas kebakaran. Perubahan ini juga dapat menyebabkan perubahan lingkungan.
Perubahan Kenampakan Langit, kenampakan langit yang umumnya
dapat diamati dari bumi adalah bintang, matahari, dan bulan. a. Kenampakan Bintang
maka cahaya bintang pada siang hari kalah kuat dengan cahaya matahari. Oleh karena itu bintang tidak terlihat pada siang hari. b. Kenampakan Matahari
Matahari merupakan salah satu contoh bintang karena dapat
menghasilkan cahaya sendiri. Matahari merupakan bola gas yang sangat panas serta berukuran sangat besar. Matahari adalah bintang yang paling terang apabila dilihat dari bumi.
c. Kenampakan Bulan
Saat langit cerah di malam hari tidak hujan dan tidak berawan,
ada benda langit yang terlihat terang tetapi tidak seterang matahari. Kedudukan bulan selalu berubah-ubah selama satu bulan bergantung pada kedudukan bulan saat mengelilingi matahari.
4. Model Belajar Numbered Head Together
Menurut Trianto (2009: 82) model NHT atau penomoran berpikir
bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Head Together (NHT) pertama kali
dikembangkan oleh Spenser Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sedangkan menurut Hamdani (2011:89) metode Numbered
nomor dan dibuat suatu kelompok, kemudian secara acak, guru memanggil nomor dari siswa.
a. Langkah-langkah Model Numbered Head Together
Menurut Trianto (2009:82) membagi metode NHT ke dalam
beberapa fase sebagai berikut: 1) Fase 1: Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa kedalam kelompok 3-5
orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5 (menyesuaikan jumlah anggota).
2) Fase 2: Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan
dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “Berapakah jumlah gigi orang dewasa?” atau berbentuk arahan, misalnya “Pastikan
setiap orang mengetahui 5 ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sumatera”.
3) Fase 3: Berpikir Bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya
4) Fase 4: Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa
yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
b. Kelebihan dan Kelemahan Model NHT
Menurut Hamdani (2011:90) Metode Numbered Head Together mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti berikut:
Kelebihan metode NHT adalah: 1) Setiap siswa menjadi siap semua.
2) Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang
pandai.
Kelemahan metode NHT adalah:
1) Kemungkinan nomor yang dipanggil, akan dipanggil lagi
oleh guru.
2) Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
B. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT telah banyak dilakukan.
1. Penelitian oleh I Gede Budi Astrawan (2014) Penerapan Model
Mengungkap bahwa Tes hasil tindakan siklus I diperoleh persentase ketuntasan klasikal sebesar 53,57% dan pada siklus II diperoleh
persentase ketuntasan klasikal sebesar 85,71% meningkat dari siklus I ke siklus II.
2. Penelitian oleh Yulisa Dewi, dkk (2014) Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe NHT Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa.
Mengungkap bahwa penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman konsep.
Dari hasil penelitian di atas dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan pemahaman konsep.
C. Kerangka Pikir
Dari latar belakang yang penulis uraikan dan masalah yang sering dijumpai guru dalam mengajarkan IPA adalah guru sering merasa kesulitan
pada saat penyampaiannya. Kelemahan pada guru adalah kurang tepat memilih model pembelajaran. Anak-anak yang kurang mempunyai sikap partisipasi belajar dan siswa kurang antusias untuk mengikuti pembelajaran
sehingga menyebabkan siswa tidak memahami konsep materi yang diberikan. Agar siswa tidak bosan, antusias siswa mengikuti pembelajaran
meningkat, sehingga siswa aktif dalam pembelajaran dan juga siswa memahami konsep materi yang diberikan maka cara guru dalam mengajar perlu menggunakan model yang tepat dan mendukung. Seperti menggunakan
pembelajaran yang efektif dan efisien bermakna yang menjadikan
pemahaman konsep materi siswa meningkat.
Kerangka Pikir yang diterapkan pada penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Pemahaman Konsep dalam belajar siswa