• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

 

4.1Kondisi Umum Gunung Hambalang 4.1.1 Sejarah Gunung Hambalang

Gunung Hambalang merupakan salah satu hutan peninggalan Belanda yang berupa plat dan kelompok hutan yang terdiri dari kelompok hutan Hambalang Barat dan kelompok hutan Hambalang Timur. Nama Hambalang ini diberikan karena nama tersebut dinggap mudah untuk diingat banyak orang. Pada awalnya kelompok hutan ini hanya berfungsi untuk mempermudah administratif suatu wilayah karena Gunung Hambalang ini memisahkan dua wilayah yang berbeda. Namun sejak kelompok hutan Hambalang tersebut telah resmi menjadi binaan Perum Perhutani pada tahun 1973, maka fungsi hutan tersebut berubah menjadi kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Kelompok hutan yang menjadi lokasi penanaman program Pohon Asuh dan Pohon Adopsi saat ini adalah kelompok hutan Hambalang Barat (Dephut 2006).

4.1.2 Letak dan Luas Gunung Hambalang

Lokasi program Pohon Asuh dan Pohon Adopsi ini terletak di Petak 1, Kelompok Hutan Hambalang Barat, Bagian Hutan Mega Mendung, RPH Babakan Madang, BKPH Bogor, KPH Bogor dengan wilayah administratif termasuk Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Kawasan ini merupakan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Luas Gunung Hambalang sekitar 200 ha sedangkan luas lokasi program Pohon Asuh adalah 9, 80 ha (Dephut 2006).

Adapun batas-batas Gunung Hambalang yang menjadi lokasi program Pohon Asuh dan Pohon Adopsi adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Ex Perkebunan PT. Hambalang

Sebelah Timur : Petak 2 Kawasan Hutan RPH Babakan Madang, BKPH Bogor, KPH Bogor

Sebelah Selatan : Kampung Lewi Goong dan Sukamantri,Desa Karang Tengah Sebelah Barat : Kampung Karang Tengah, Desa Karang Tengah

(2)

4.1.3 Kondisi Fisik Gunung Hambalang

Sebelum dijadikan lokasi program Pohon Asuh dan Pohon Adopsi, Gunung Hambalang ini merupakan tegakan hutan yang bergerombol dengan jenis-jenis pohon yang ada adalah mahoni, pinus, kaya, antoteka, picung, nangka, durian dan lain sebagainya. Sebagian areal ditanami jenis tanaman palawija oleh masyarakat sekitar yang umumnya berupa singkong, pisang, pandan wangi dan sereh wangi. Penggarapan lahan hutan oleh masyarakat sekitar selama ini dalam pembinaan KPH Bogor, karena mayoritas masyarakat adalah petani dengan tingkat pendapatan yang rendah.

Topografi Gunung Hambalang bervariasi mulai dari datar sampai agak curam, terletak pada ketinggian sekitar 520 sampai 590 mdpl. Iklim di wilayah ini termasuk type A (Schmidt and Fergusson) dengan curah hujan rata-rata mencapai 1.200 mm/tahun, dimana curah hujan tertinggi pada umumnya terjadi pada bulan Februari dan terendah pada bulan Agustus. Suhu rata-rata daerah ini yaitu 20ºC-32ºC. Jenis tanah di kawasan ini adalah asosiasi latosol coklat dengan batuan induk adalah batuan endapan dan vulkan. Struktur tanah sarang dan sedikit berbatu. Struktur tanah sarang merupakan tanah yang gembur dan memiliki agregat yang cukup besar, memiliki mikropori dan makropori yang seimbang. Kedalaman humus agak dalam dengan fisiografi tanah vulkan dan batu lipatan (Dephut 2006).

4.1.4 Aksesibilitas

Akses untuk menuju lokasi penanaman pohon asuh melewati jalan aspal kecamatan dan desa serta perlu menyebrangi Sungai Ciherang dengan lebar ± 40 meter melalui jembatan gantung yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki, namun kondisi jembatan tersebut kini sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi sehingga akses satu-satunya adalah harus menyebrangi sungai. Dari Jakarta menuju lokasi dapat ditempuh melalui jalan tol Jagorawi keluar dari pintu tol Sentul Selatan dengan jarak kurang lebih 10 km dan waktu tempuh sekitar 30 – 45 menit (Dephut 2006).

(3)

4.1.5 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Desa yang berbatasan langsung dan masyarakatnya banyak berinteraksi dengan lokasi program pohon asuh adalah Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor terutama masyarakat Dusun Sukamantri RT 1 sampai RT 3 RW 13. Masyarakat Desa Karang Tengah telah cukup lama menggarap kawasan hutan ini yaitu sejak sekitar tahun 1975. Penggarapan kawasan hutan oleh masyarakat sekitar semakin meningkat dengan terjadinya penjualan besar-besaran tanah milik kepada pengembang (developer), sehingga kepemilikan tanah di desa tersebut rata-rata ± 0,03 ha/KK. Penggarapan lahan kawasan hutan ini menyebabkan degradasi lahan. Keterbatasan petani akan pengetahuan dan modal dalam budidaya jenis tanaman semusim menyebabkan petani menanami lahan hutan hanya dengan jenis tanaman singkong dan pisang, sehingga menyebabkan tanah di kawasan hutan tersebut semakin miskin akan unsur hara. Menurut data dan informasi dari Perhutani KPH Bogor, para penggarap di petak 1 tersebut berasal dari kampung Sukamantri, Babakan, Lewigoong dan Gelewer (Dephut 2006).

4.2Kondisi Umum Desa Penelitian 4.2.1Letak dan Luas Desa Penelitian

Berdasatkan Data Monografi Desa Karang Tengah tahun 2011, desa ini terletak di wilayah selatan Kecamatan Citeureup dengan luas wilayah sebesar 2.894 ha. Dilihat dari pembagian wilayah administratifnya Desa Karang Tengah ini terdiri dari 3 dusun, 15 RW dan 56 RT dan terbagi menjadi beberapa kampung yaitu : Wangun I, Wangun II, Wangunlandeuh, Leuwigoong, Sukamantri, Cigobang, Cimandala, Depok, Gelewer dan Babakan. Adapun mengenai batas wilayah Desa Karang Tengah adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup Sebelah Timur : Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur

Sebelah Selatan : Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang Sebelah Barat : Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang

Untuk lebih jelasnya mengenai letak Desa Karang Tengah dapat dilihat pada Gambar 3.

(4)

Gambar 3 Peta desa lokasi penelitian.

4.2.2Kondisi Fisik Desa Penelitian

Topografi lahan di Desa Karang Tengah bervariasi mulai dataran rendah, berbukit sampai dengan bergunung-gunung. Ketinggian desa ini dari permukaan laut berada pada 529 meter. Ketinggian di suatu tempat mempunyai pengaruh terhadap suhu udara. Oleh sebab itu ketinggian merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pola penggunaan lahan untuk pertanian, karena setiap jenis tanaman menghendaki suhu tertentu sesuai dengan karakteristik tanaman yang bersangkutan. Suhu udara rata-rata harian minimum adalah 20ºC dan maksimum mencapai 32ºC. Iklim di wilayah ini termasuk type A (Schmidt and Fergusson) dengan curah hujan rata-rata mencapai 1.200 mm/tahundan jumlah hari dengan curah hujan terbanyak adalah 4 hari. Jenis tanah di kawasan ini adalah asosiasi latosol coklat dengan batuan induk adalah batuan endapan dan vulkan. Struktur tanah sarang dan sedikit berbatu (Desa Karang Tengah 2011).

(5)

4.2.3Aksesibilitas dan Sarana Prasarana Desa Penelitian

Jalan untuk menuju Desa Karang Tengah pada umumnya sudah dilakukan pengaspalan. Jarak desa lokasi penelitian ini cukup strategis. Jarak dengan ibukota negara RI Jakarta relatif dekat dan mudah untuk dijangkau yaitu sekitar 60 Km, dapat ditempuh melalui jalan tol Jagorawi keluar dari pintu tol Sentul Selatan. Jarak Desa Karang Tengah denga ibukota Propinsi Jawa Barat adalah ± 175 Km, sementara dengan ibukota pemerintah Kabupaten Bogor berjarak ± 25 Km. Sarana transportasi umum yang dapat dipergunakan oleh penduduk Desa Karang Tengah untuk menghubungkan masing-masing desa dengan ibukota kecamatan adalah angkot, ojek dan sepeda, dengan jumlah angkot 60 buah, ojek 505 buah dan sepeda 306 buah. Desa Karang Tengah memiliki satu kantor kepala desa dengan luas bangunan sebesar 350 meter yang telah dibangun sejak tahun 2007 (Desa Karang Tengah 2011). Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana yang dimiliki Desa Karang Tengah dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sarana dan prasarana yang terdapat di desa lokasi penelitian No (1) Sarana Prasarana (2) Jumlah (3) Keterangan (4) 1. Sarana Pendidikan : a. TPA 2 b. PAUD 1 c. TK 1 d. SD Negeri 7 e. MI 1 f. SMP Swasta 3 g. MTs 1 h. SMA Swasta 1 i. SMK 1 j. MD Swasta 11 k. Pondok Pesantren 17 2. Sarana Pemerintahan :

a. Kantor kepala desa 1

3. Sarana Keagamaan : a. Mesjid Jami 21 b. Musholla/Langgar 75 c. Majelis Ta’lim 40 d. Pondok Pesantren 17 4. Sarana Angkutan : a. Truk 16 b. Pick up 20 c. Sepeda motor 1600 d. Sedan 30

(6)

Tabel 9 (Lanjutan) No (1) Sarana Prasarana (2) Jumlah (3) Keterangan (4) e. Jeep 9 f. Angkutan umum 60 5. Sarana Pengairan : a. Kincir air 50

b. Air terjun 1 Lebar 2 m, tinggi 10 m

keatas

c. Sungai 7

6. Jembatan :

a. Jembatan beton 13 104 m, kondisi baik

b. Jembatan kayu 1 14 m,kondisi baik

7. Sarana Kesehatan : a. Rumah bersalin/BKIA 1 b. Puskesmas pembantu 2 c. Praktek dokter 2 d. Bidan praktek 1 e. Bidan desa 1 f. Dukun sunat 2 g. Dukun bayi/paraji 20 h. Pos/Klinik KB 1

Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah (2011)

4.2.4Tata Guna Lahan Desa Penelitian

Tata guna lahan di Desa Karang Tengah terdiri dari tanah sawah, tanah kering dan tanah basah. Tata guna lahan secara rinci disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Tata guna lahan di Desa Karang Tengah

No.

(1) Tata Guna Lahan (2) Luasan (Ha) (3) 1. Tanah Sawah

a. Irigasi Teknis

b. Irigasi Setengah Teknis c. Irigasi Sederhana

d. Tadah Hujan/Sawah Rendengan

240 87 15 19 19 2. Tanah Kering a. Pekarangan/Bangunan b. Tegalan/Kebun c. Ladang/Tanah Huma 10,5 11,5 12,6 3. Tanah Basah a. Balong/Empang/Kolam 2,5 Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah (2011)

(7)

4.2.5Kondisi Sosial Ekonomi Desa Penelitian Kependudukan/Demografi

Jumlah penduduk yang berada di Desa Karang Tengah dapat dilihat pada Tabel 11 yang dapat menggambarkan sumberdaya manusia yang tersedia dan perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan. Sedangkan sumberdaya yang produktif dapat digambarkan dari struktur umur penduduk yang dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 11 Data kependudukan berdasarkan jenis kelamin No (1) Jenis Kelamin (2) Jumlah Penduduk (orang) (3) Persentase (%) (4) Jumlah KK (orang) (4) 1. Laki-laki 7.839 51,50 3.405 2. Perempuan 7.381 48,50 Total 15.220 100

Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah (2011)

Struktur umur penduduk berkaitan dengan angkatan kerja yang sebagian besar berasal dari golongan produktif, yaitu usia 15 – 60 tahun. Dengan demikian, potensi angkatan kerja dapat dideteksi melalui jumlah pendududuk usia produktif. Secara umum seluruh lokasi penelitian memiliki sumberdaya/angkatan kerja yang potensial, hal ini dapat dilihat dari cukup besarnya jumlah kelompok umur 19 – 55 tahun yang termasuk ke dalam usia produktif.

Tabel 12 Struktur umur penduduk di Desa Karang Tengah No

(1)

Struktur Umur (tahun) (2)

Jumlah Penduduk (jiwa) (3) 1. 0 - 6 2.823 2. 7 - 18 3.856 3. 19 - 55 7.390 4. 56 - 79 912 5. > 79 50 Total 15.031

(8)

Gambar 4 Persentase struktur umur penduduk Desa Karang Tengah. Penduduk Desa Karang Tengah pada umumnya beragama Islam dimana pengaruh tokoh agama (ajengan) terhadap masyarakat cukup tinggi. Selain agama Islam terdapat pula penganut agama Kristen Protestan dan Kristen Khatolik. Jumlah penduduk berdasarkan agama dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.

Tabel 13 Jumlah penduduk berdasarkan agama No

(1)

Agama (2)

Jumlah Penduduk (jiwa) (3) Persentase (%) (4) 1. Islam 15.194 99,86 2. Kristen Protestan 16 0,11 3. Kristen Khatolik 6 0,03 Total 15.216 100

Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah (2011)

Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk di Desa Karang Tengah pada umumnya dapat dikatakan rendah. Hal ini dapat dilihat mayoritas penduduknya sebesar 39,57 % hanya dapat menempuh pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar (SD) bahkan masih terdapatnya penduduk yang buta huruf. Tingkat pendidikan yang relatif rendah ini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, diantaranya letak desa yang relatif jauh dari pusat kota, kurangnya pemahaman akan pentingnya pendidikan serta tingkat pendapatan yang rendah. Tingkat pendidikan di desa lokasi penelitian disajikan pada Tabel 14.

19% 26% 49% 6% 0% 0  ‐ 6 tahun 7  ‐18 tahun 19 ‐55 tahun 56 ‐79 tahun > 79 tahun

(9)

Tabel 14 Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan No

(1)

Pendidikan/Tamat (2)

Jumlah Penduduk (jiwa) (3)

1. Belum Sekolah 1.011

2. Tidak Tamat Sekolah 1.061

3. SD/Sederajat 2.554 4. SLTP/Sederajat 1.226 5. SLTA/Sederajat 500 6. Akademi/Sederajat 51 7. Buta Huruf 51 Total 6.454

Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah (2011)

Gambar 5 Persentase jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan.

Mata Pencaharian

Berdasarkan Data Monografi Desa Karang Tengah (2011), kondisi geografis di lokasi penelitian dapat mempengaruhi mata pencaharian penduduknya. Kondisi alam Desa Karang Tengah yang berbukit dan memiliki tanah yang subur memungkinkan usaha pada sektor pertanian. Keadaan alam seperti ini berbanding lurus dengan mata pencaharian penduduk yang sebagian besar adalah sebagai petani, baik petani sawah maupun petani ladang. Jenis produksi pertanian yang dominan dari Desa Karang Tengah adalah pisang dan singkong, sehingga terdapat pula industri kecil pengolahan tepung singkong. Selain itu ada pula buruh tani atau petani

16% 16% 39% 19% 8% 1% 1% Belum Sekolah

Tidak Tamat Sekolah

SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Akademi/Sederajat

(10)

yang mempunyai pekerjaan lainnya disamping kegiatan bertaninya seperti mengojek atau beternak. Penduduk yang beternak umumnya memelihara ternak seperti kerbau, ayam dan kambing. Jenis mata pencaharian lainnya yang banyak dilakukan penduduk Desa Karang Tengah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yaitu sebagai Pedagang. Hanya sebagian kecil dari penduduknya yang bekerja sebagai pegawai negeri, guru, TNI maupun POLRI. Desa Karang Tengah ini juga memiliki Home Industri sebanyak 6 buah sehingga dapat menyerap tenaga kerja. Pada Tabel 15 akan dijelaskan secara rinci mengenai jenis mata pencaharian lainnya di Desa Karang Tengah.

Tabel 15 Mata pencaharian penduduk di Desa Karang Tengah No

(1)

Jenis Pekerjaan (2)

Jumlah Penduduk (jiwa) (3) 1. PNS, Guru/TNI/POLRI 36 2. Petani 1.937 3. Buruh Tani 1.252 4. Pengusaha 350 5. Pengrajin 156 6. Industri Kecil 46

7. Buruh Industri Kecil 107

8. Pertukangan 300 9. Pedagang 391 10. Pengemudi 256 11. Jasa 209 12. Pensiunan 24 Total 5064

Sumber : Data Monografi Desa Karang Tengah 2011

Gambar 6 Persentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian.

1% 38% 25% 7% 3% 1% 2% 6% 8% 5% 4% 0% PNS, Guru/TNI/POLRI Petani Buruh Tani Pengusaha Pengrajin Industri Kecil

Buruh Industri Kecil

Pertukangan Pedagang Pengemudi

Gambar

Gambar 3  Peta desa lokasi penelitian.
Tabel 9  Sarana dan prasarana yang terdapat di desa lokasi penelitian
Tabel 11  Data kependudukan berdasarkan jenis kelamin
Gambar 4  Persentase struktur umur penduduk Desa Karang Tengah.  Penduduk Desa Karang Tengah pada umumnya beragama Islam  dimana pengaruh tokoh agama (ajengan) terhadap masyarakat cukup tinggi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Istilah yang sama untuk tebangan B.1 dari kelas hutan tidak produktif (TK) dan tanaman Acacia mangium bertumbuhan kurang (TABK) adalah persiapan rehabilitasi,

Selain itu jalan tersebut juga dimanfaatkan pengunjung KHDTK Cikampek dari luar daerah untuk sekedar menikmati alam hutan KHDTK Cikampek (Pusprohut Litbang 2010).. 4.4.3 Rumah

Sesuai dengan peta tanah Provinsi Kalimantan Barat, jenis tanah yang terdapat pada areal pengusahaan hutan PT Suka Jaya Makmur hampir seluruhnya terdiri atas tanah podsolik

Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat sebagian besar merupakan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang memiliki tipe Hutan Huajan Tropika Basah (Low Land Tropical Rain Forest) didominasi

Hutan kota yang terdapat di kawasan BSD City terdiri dari bentuk mengelompok atau bergerombol seperti Taman Kota 1 dan Taman Kota 2, bentuk menyebar seperti

Merupakan titik yang paling jauh batas tepi hutan terdekat (Gambar 2) namun tidak terlalu jauh dari lahan huma yang terbuka lebar yaitu pada jarak sekitar 14 meter dari pinggir

255/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Sebagai kawasan Hutan Tesso Nilo yang terletak di kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu Provinsi Riau seluas 38.576

Masyarakat Desa Lubuk Beringin yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada kebun karet masih beranggapan bahwa sumberdaya hutan terutama kayu dan pohon buah-buahan