3.1. Luas dan Letak Desa
Desa Lubuk Beringin memiliki luas areal sekitar 2.800 hektar yang terbagi dalam dua dusun yaitu Dusun Sungai Alai dan Dusun Lubuk Beringin. Dari luasan areal tersebut, 51% atau 1.436 hektar diantaranya merupakan kawasan hutan lindung.
Berdasarkan posisi geografis, Desa Lubuk Beringin berada pada 01°42` 23`` sampai dengan 01°46`41``LS dan 1010
52` 39`` BT yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo. Desa ini terletak sekitar 50 kilometer sebelah barat Kota Muara Bungo dan berada pada lereng Gunung Kerinci serta berbatasan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Secara administratif, desa ini berbatasan langsung dengan Desa Laman Panjang di sebelah utara dan timur, Desa Senamat Ulu dan Kecamatan Pelepat di sebelah selatan dan Desa Buat di sebelah barat.
3.2. Iklim
Secara umum, tipe iklim untuk Desa Lubuk Beringin mengacu pada data tipe iklim untuk Kabupaten Bungo. Kabupaten Bungo termasuk daerah tipe hujan kelas A, yaitu 11-12 bulan per tahun memiliki curah hujan rata-rata di atas 100 mm dan hanya satu bulan yang memiliki curah hujan rata-rata kurang dari 60 mm (Rasnovi 2006). Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh ICRAF di stasiun pengukur curah hujan terdekat di Rantau Pandan, rata-rata curah hujan tahunan antara tahun 1996-2001 adalah 2.728 mm.
Suhu rata-rata untuk Kabupaten Bungo antara 27-30°C. Temperatur maksimum 32,3°C terjadi antara Bulan Mei-Oktober, sedangkan temperatur minimum 22,1°C terjadi antara Bulan Juni-September (Rachman et al. 1997). 3.3. Geologi dan Tanah
Desa Lubuk Beringin memiliki topografi datar hingga bergelombang dengan ketinggian berkisar antara 450 – 1.316 m di atas permukaan laut (dpl). Desa ini sebelum tahun 2000 masuk dalam wilayah Kecamatan Rantau Pandan
yang terbentuk dari formasi batuan granit dan andesitik lava (Rachman et al. 1997) dengan jenis tanah podsolik (BPS Bungo 2002).
3.4. Hidrologi
Desa Lubuk Beringin berada di sub daerah aliran sungai (sub-DAS) Batang Buat. Sungai Buat tersebut memiliki beberapa anak sungai yang mengalir di desa Lubuk Beringin antara lain Sungai Cino, Sungai Alai, Sungai Batu Ampar, Sungai Imun, Sungai Belakang Rumah, Sungai Pauh, Sungai Macang Manis, Sungai Lubuk Gambir dan Sungai Iden.
Sungai Buat merupakan pendukung utama kebutuhan air bagi masyarakat Desa Lubuk Beringin terutama untuk mencuci, mandi, mencari ikan dan pengairan sawah. Bahkan sungai merupakan tempat berlangsungnya kegiatan adat bagi masyarakat Desa Lubuk Beringin yaitu membuka lubuk larangan yang dilakukan setahun sekali menjelang bulan puasa. Oleh karena itu, pada beberapa tempat di aliran Sungai Buat terdapat “lubuk larangan” yang tidak boleh di ambil ikannya sebelum waktunya tiba.
Sejak tahun 2002, Sungai Buat memiliki fungsi tambahan yaitu sebagai sumber aliran listrik bagi masyarakat Desa Lubuk Beringin. Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dibuat dengan memanfaatkan aliran Sungai Buat tersebut telah dapat dinikmati oleh masyarakat secara gratis.
Meskipun secara visual kualitas air Sungai Buat masih termasuk bagus, namun beberapa masyarakat mulai mengeluhkan adanya penurunan debit dan kedalaman sungai. Masyarakat berpendapat bahwa sekitar tahun 1980an, ketika masih banyak hutan, tidak ada orang yang berani menyeberang sungai tersebut. Sekitar tahun 1998 banyak masyarakat yang membuka hutan, sehingga pada tahun 2000 terjadi banjir besar di Desa Lubuk Beringin. Saat ini, debit dan kedalaman sungai menjadi berkurang, sehingga orang dapat menyeberang dengan mudah.
3.5. Penutupan Lahan
Tipe penutupan lahan yang ada di Desa Lubuk Beringin terdiri dari hutan 1.436 hektar (51,3%), sawah 47 hektar (1,7%), kebun karet 682 hektar (24,4%), kebun kulit manis 13 hektar (0,5%) dan 567 (20,3%) hektar lahan tidur yang tidak
diolah masyarakat serta penggunaan lain sebanyak 55 hektar (2,0%) (ICDP - TNKS 2001).
Kebun karet yang terdapat di Desa Lubuk Beringin bervariasi umurnya, mulai dari 1 tahun hingga lebih dari 50 tahun. Kebun karet tua yang berumur lebih dari 50 tahun umumnya terletak di dekat pemukiman (desa), sementara kebun yang lebih muda berada jauh dari desa.
Pola penggunaan lahan di Desa Lubuk Beringin akhir-akhir ini mengalami perubahan terutama dari hutan menjadi kebun karet muda. Di daerah sekitar hutan banyak dijumpai kebun karet muda yang berumur antara 2-5 tahun.
3.6. Aksesibilitas
Desa Lubuk Beringin yang berjarak sekitar 50 kilometer dari ibu kota kabupaten dan 15 kilometer dari ibukota kecamatan, dapat ditempuh dengan kendaraan umum roda dua maupun empat melalui jalan raya Muara Buat. Dari jalan raya tersebut, desa ini berjarak 2 kilometer. Kendaraan roda empat hanya dapat masuk setengah perjalanan melalui jalan tanah, selanjutnya hanya dapat ditempuh dengan dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.
3.7. Flora dan Fauna 3.7.1. Flora
Pada agroforest karet tua di Desa Lubuk Beringin ditemukan pohon meranti (Shorea sp.) dan jelutung (Dyera costulata) yang berdiameter di atas 50 cm. Beberapa spesies pohon dari family Myrtaceae, Sterculiaceae, Elaeocarpaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Verbenaceae dan Annonaceae juga ditemukan pada agroforest karet tua. Pasak bumi (Eurycoma longifolia) yang sering dimanfaatkan sebagai obat malaria umumnya ditemukan pada tepi jalan setapak di dalam kebun karet (Prasetyo 2005).
Spesies pohon yang ditemukan pada agroforest karet berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Muntasyarah (2005) tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Spesies pohon yang ditemukan pada agroforest karet di Desa Lubuk Beringin
Nama Lokal Nama Latin Famili
Kayu Terap Artocarpus elasticus Moraceae
Cempedak Artocarpus integer Moraceae
Kayu Antui Artocarpus dadah Moraceae
Medang Senduk Endospermum diadenum Euphorbiaceae
Kelat Jambu Syzygium opaca Myrtaceae
Kayu Kelat Syzygium polyanthum Myrtaceae
Rambutan Nephelium maingayi Sapindaceae
Kayu Medang Sterculia rubiginosa Sterculiaceae
Durian Durio sp. Bombacaceae
Asam Kandis Garcinia pavifolia Clusiaceae
Benit Papawia hirta Annonaceae
Meranti Shorea parvifolia Dipterocarpaceae
Jelutung Dyera costulata Apocynaceae
Selurah Hydrocarpus kustleri Flacourtiaceae
Petai Parkia speciosa Mimosaceae
Kabau (jengkol) Archidendon jiringa Mimosaceae Medang Batu Alseodaphne umbeliflora Lauraceae
Kayu Ubi Pternandra cordata Melastomataceae Kayu Balam Merah Payena acuminata Sapotaceae Kelat Jengkeng Syzygium lineatum Myrtaceae Kelat Jangkang Syzygium picnantum Myrtaceae
Pulai Alstonia scholaris Apocynaceae
3.7.2. Fauna
Keberadaan fauna di Desa Lubuk Beringin sangat dipengaruhi oleh jenis-jenis flora yang ada. Flora berperan sebagai sumber makanan, tempat tinggal, tempat mengintai mangsa atau hanya sebagai tempat singgah bagi fauna tersebut. Prasetyo (2005) mengatakan bahwa di Desa Lubuk Beringin ditemukan fauna seperti simpai (Presbitys sp.), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), rangkong (Buceros sp.), kangkareng (Anthracoceros sp.), babi (Sus spp.), elang, berbagai jenis tupai dan berbagai jenis kelelawar (Cynopterus brachyotis, C.
minutus, C. horsfieldi, Macroglossus sobrinus, Hippocideros cineraceus, Myotis muricola).
Muntasyarah (2005) membedakan jenis-jenis fauna di Desa Lubuk Beringin berdasarkan tempat ditemukannya, yaitu hutan lindung dan kebun karet (Tabel 2.)
Tabel 2. Spesies fauna yang ditemukan di Desa Lubuk Beringin
Nama Lokal Nama Latin Hutan Kebun Karet
Kuau √
Monyet ekor panjang Macaca fascicularis √
Babi hutan Sus scrofa √ √
Simpai Presbytis melalophos √
Rusa Cervus unicolor √ √
Beruk Macaca nemestrina √
Beruang madu Helarctos malayanus √
Harimau Panthera tigris √
Kambing hutan Naemorhedus sumatraensis √
Ungko Hylobates agilis √
Kijang Muntiacus muntjak √
Kancil Tragulus javanicus √
Tupai Tupaia glis √
3.8. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat 3.8.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Desa Lubuk Beringin memiliki 89 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 386 jiwa, 181 laki-laki dan 205 perempuan. Penduduk desa ini termasuk dalam etnis Melayu Jambi dan semua memeluk agama Islam serta menganut budaya matrilineal. Sebagian besar penduduk masih memiliki hubungan kekeluargaan, kecuali beberapa orang yang datang ke desa ini karena hubungan perkawinan.
Rumah penduduk di Desa Lubuk Beringin umumnya berupa rumah panggung yang dibuat dari kayu. Hanya beberapa rumah yang bukan rumah panggung dan dibuat dari batubata. Penduduk desa masih memiliki tradisi yang sangat kuat, terutama dalam bergotong royong membangun rumah, mengerjakan sawah, mengolah padi menjadi gabah dan kegiatan peringatan hari besar agama. Bahkan, mereka mau memberikan kayu yang ditanam di kebun karetnya untuk membuat rumah tetangganya.
Meskipun menurut kategori IDT digolongkan ke dalam desa miskin (Muntasyarah 2005), namun pada kenyataannya banyak penduduk usia sekolah menengah atas dan perguruan tinggi yang menempuh pendidikan di luar Propinsi Jambi. Saat ini, hampir setiap rumah di Desa Lubuk Beringin memiliki kendaraan bermotor roda dua. Bahkan beberapa rumah memiliki lebih dari satu kendaraan.
3.8.2. Pendidikan
Masyarakat Desa Lubuk Beringin sangat memperhatikan masalah pendidikan. Meskipun saat ini hanya ada satu gedung Sekolah Dasar (SD) dan satu gedung Madrasah Ibtidaiyah, namun mereka semangat untuk belajar. Sekolah Menengah Pertama (SMP) mereka tempuh di Desa Rantau Pandan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Desa Lubuk Beringin. Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi mereka tempuh di ibukota kabupaten yaitu di Muara Bungo atau di Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
3.8.3. Mata Pencaharian dan Pendapatan
Sebagian besar (75%) masyarakat Desa Lubuk Beringin menggantungkan hidupnya pada kebun karet. Walaupun ada sekitar 15 orang yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi penghasilan utama mereka juga berasal dari kebun karet. Mengusahakan sawah mereka lakukan satu tahun sekali, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
3.8.4. Persepsi Masyarakat terhadap Sumberdaya Hutan
Masyarakat Desa Lubuk Beringin yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada kebun karet masih beranggapan bahwa sumberdaya hutan terutama kayu dan pohon buah-buahan tetap diperlukan. Kayu mereka gunakan untuk membangun rumah dan pohon buah-buahan dapat menjadi sumber penghasilan ketika pohon karet diistirahatkan dari penyadapan yaitu pada musim kemarau. Sumberdaya hutan yang mereka butuhkan mereka tanam di kebun karet atau mereka membiarkan pohon kayu dan buah-buahan tumbuh di kebun karetnya.
Saat ini mereka tidak mengambil kayu dari hutan lagi, karena mereka menyadari apabila hutan ditebang maka debit air mengecil dan kincir air pembangkit listrik tidak berputar sehingga mereka tidak mendapatkan aliran listrik.
3.8.5. Ketergantungan Masyarakat terhadap Sumberdaya Hutan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muntasyarah (2005) menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat Desa Lubuk Beringin terhadap sumberdaya hutan relatif sedikit karena sebagian besar kebutuhan hidup dapat diperoleh dari kebun karet. Selain itu, jarak pemukiman ke hutan cukup jauh, yaitu sekitar 13
kilometer dan medan yang ditempuh cukup sulit (berlereng terjal) sehingga mereka enggan pergi ke hutan.
3.9. Kondisi plot pengambilan contoh 3.9.1. Hutan Primer
Hutan primer yang diambil sebagai plot contoh adalah hamparan hutan yang merupakan kawasan hutan lindung dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), berada pada ketinggian 360 m di atas permukaan laut (dpl). Topografi lokasi berbukit. Jarak dari pemukiman sekitar 8 km. Hutan masih cukup rapat dengan basal area 52,5 m2/ha. Di sekitarnya dikelilingi oleh kebun karet muda sekitar 4 tahun. Kondisi hutan primer ditampilkan pada Gambar 1.
A B Gambar 1. Kondisi tutupan hutan primer (A) dan lantai hutan (B)
3.9.2. Agroforest karet 60 tahun jauh dari hutan
Agroforest karet 60 tahun ini terletak sekitar 1 km dari pemukiman Desa Lubuk Beringin atau sekitar 8 km dari hutan primer. Topografinya bergelombang dan berada pada ketinggian 180 m dpl. Penyiangan dilakukan setahun sekali pada lorong sadap. Di sekitarnya berupa lahan yang baru dibuka, kebun karet 30 tahun dan kebun karet muda 4 tahun. Kondisi kebun disajikan pada Gambar 2.
A B Gambar 2. Kondisi agroforest karet 60 tahun dekat hutan primer (A) dan lantai
kebun (B)
3.9.3. Agroforest karet 30 tahun dekat hutan
Agroforest karet 30 tahun berada pada ketinggian antara 187-192 m dpl, topografi rata dan berjarak sekitar antara 400-500 m dari hutan primer. Plot yang diambil berada di sekitar kebun karet muda 2 dan 4 tahun, kebun karet 18 tahun serta hutan sekunder 25 dan 30 tahun. Penyiangan dilakukan setahun sekali dengan membabat bersih tumbuhan bawah. Kondisi tutupan lahan agroforest karet 30 tahun di dekat hutan disajikan pada Gambar 3.
A B Gambar 3. Kondisi agroforest karet 30 tahun dekan hutan primer (A) dan
3.9.4. Agroforest karet 30 tahun jauh dari hutan
Agroforest karet 30 tahun ini berada pada ketinggian antara 138-154 m dpl, topografi rata dan berjarak sekitar antara 8 km dari hutan primer. Plot contoh berada di sekitar agroforest karet 60 tahun dan sawah. Penyiangan dilakukan setahun sekali dengan membabat bersih tumbuhan bawah. Kondisi tutupan lahan agroforest karet 30 tahun yang jauh dari hutan disajikan pada Gambar 4.
A B Gambar 4. Kondisi agroforest karet 30 tahun jauh dari hutan primer (A) dan
tumbuhan bawah (B)
3.9.5. Agroforest karet 13 tahun jauh dari hutan
Agroforest karet 13 tahun berada pada ketinggian antara 114–185 m dpl dengan topografi bergelombang. Jarak dari hutan sekitar 8 km dan dari pemukiman sekitar 500 m. Penyiangan dilakukan setahun sekali dengan membabat bersih tumbuhan bawah. Agroforest karet 13 tahun ini dikelilingi oleh agroforest karet 60 tahun, agroforest karet sederhana 30 tahun, kebun karet muda 1 dan 2 tahun. Kondisi tutupan lahan agroforest karet 13 tahun disajikan pada Gambar 5.
A B Gambar 5. Kondisi agroforest karet 13 tahun jauh dari hutan primer (A) dan
3.9.6. Hutan sekunder 25 tahun dekat hutan primer
Hutan sekunder tua 25 tahun berada pada ketinggian antara 223-269 m dpl dengan topografi bergelombang. Jarak dari hutan berkisar antara 500-1000 m dan tipe penggunaan lahan di sekitarnya berupa agroforest karet 18 tahun, belukar 4 tahun dan hutan sekunder muda 10 tahun. Kondisi hutan sekunder tua 25 tahun disajikan pada Gambar 6.
A B Gambar 6. Kondisi hutan sekunder 25 tahun dekat hutan primer (A) dan
tumbuhan bawah (B)
3.9.7. Hutan sekunder 13 tahun jauh dari hutan
Hutan sekunder muda 13 tahun berada pada ketinggian antara 168-170 m dpl dengan topografi bergelombang. Jarak dari hutan berkisar antara 5 km dan tipe penggunaan lahan di sekitarnya berupa agroforest karet 50 tahun, agroforest karet 4 tahun dan lahan terbuka bekas sawah. Kondisi hutan sekunder muda 10 tahun disajikan pada Gambar 7.
A B Gambar 7. Kondisi hutan sekunder 13 tahun jauh dari hutan primer (A) dan
3.9.8. Hutan sekunder 10 tahun dekat hutan
Hutan sekunder muda 13 tahun berada pada ketinggian antara 287-302 m dpl dengan topografi rata. Jarak dari hutan berkisar antara 300-500 m dan tipe penggunaan lahan di sekitarnya berupa agroforest karet 18 tahun, hutan sekunder tua 25 tahun dan belukar 4 tahun. Kondisi hutan sekunder muda 10 tahun disajikan pada Gambar 8.
A B Gambar 8. Kondisi hutan sekunder 10 tahun dekat hutan primer (A) dan