KARAKTER ISLAM DALAM SEJARAH
PERGULATAN MEMPEREBUTKAN
KEKUASAAN, FILSAFAT,
IDEOLOGI, ILMU(MATEMATIKA),
DAN PENDIDIKAN*)
Makalah Dipresentasikan pada Kuliah Umum (Studium
Generale) untuk Mahasiswa Baru Tahun Akademik pada
Jurusan Pendidikan Matematika, FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
pada :
Hari/Tgl.: Kamis, 31 Oktober 213
Jam : 08.30 – 11.30 WIB
Tempat : Ruang Teater Prof. Dr.
Mahmud Yunus
Oleh:
Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA
Universitas Negeri Yogyakarta
http://powermathematics.blogspot.com http://uny.academia.edu/MarsigitHrd
*) Sebagian dari isi makalah ini telah dipresentasikan pada :
1. Seminar dan Lokakarya Kurikulum, Fakultas Agama Islam dan Filsafat UNPAB Medan
2. Seminar dan Workshop dengan Tema Membangun Karakter Bangsa dengan Pendidikan di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
KARAKTER ISLAM DALAM SEJARAH PERGULATAN
MEMPEREBUTKAN KEKUASAAN, FILSAFAT, IDEOLOGI,
ILMU (MATEMATIKA), DAN PENDIDIKAN
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta
Abstrak
A. PENDAHULUAN
Filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di semua Negara di dunia ini. Hypothetical analyses menduga bahwa tradisi filsafat pada jaman Yunani Kuno dapat dihubungkan dengan tradisi kenabian di tempat yang lain pada jaman yang sama, misalnya Musa As, Daud As dan Idris As. Konon dewa Hermein dari Yunani ada yang menganggap sebagai nabi Idris As. Tradisi filsafat Barat mengalami surut pada jaman pertengahan karena dominasi Gereja.
Revolusi Copernicus dianggap sebagai pendobrak dan awal dari filsafat modern yang ditandai munculnya tokoh-tokoh Rene Descartes, Immanuel Kant, dsb. Kaum Positivist yang dipelopori Auguste Compte melakukan antithesis terhadap filsafat Modern seraya berusaha membuangnya jauh-jauh, sambil berusaha membangun paradigm Scienticism. Ibarat sarang
lebah, gerakan Positivism inilah yang kemudian menjadi inspirasi dan basis bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan kontemporer hingga kini. Ilmu-ilmu humaniora yang meliputi Agama, Bahasa, Filsafat, Sastra, Budaya, Seni dst dianggap sebagai tidak scientific, oleh karena itu perlu diubah metodologinya dengan metode sain (seperti yang terjadi pada Kurikulum 2013). Sementara itu, dunia Islam mengembangkan metode skolastiknya sendiri dan cenderung mengambil jalannya sendiri dan berbeda dengan kecenderungan budaya kontemporer.
Metodologi seluruh pemikiran Islam salaf bersumber dari system logika Aristotelian yang diterjemahkan oleh al-Farabi ke dalam ilmu mantiq (A.M. Mulkan dalam Purwadi, 2002). Namun yang khas dari dunia Islam adalah bahwa ilmu yang diproduksi oleh sarjana muslim mempunyai visi kebenaran final. Sementara di Barat, akhir dari ilmu bersifat terbuka. Namun dunia Islam gagal dalam menunjukkan keunikan dan kekhasan ilmu-ilmu Islam dengan bukti yang obyektif . Sejarah pemikiran Islam dipenuhi sikap menolak ilmu-ilmu Barat tetapi pada saat yang sama lembaga ilmu dan pendidikan Islam selalu menempatkan ilmu-ilmu Barat sebagai dasar dan instrument yang tidak bisa ditinggalkan (ibid., vii).
Dunia Islam menghadapi tantangan besar yaitu terkategorisasinya (dikotomi) pemikiran: Islam vs Barat, akhirat vs dunia, agama vs umum, spiritual vs sekuler, hati vs otak, takdir vs ikhtiar, fatal vs vital, potensi vs fakta , final vs terbuka, absolut vs relatif , tunggal vs plural , iman vs iptek, tradisional vs modern, spiritual vs material, spiritualism vs humanism, spiritualism vs materialism, ulama vs umaroh, syurga vs neraka, pahala vs pahala dosa, agama vs kebudayaan, agama vs filsafat, mitos vs logos, kebaikan vs keburukan, habluminallah vs habluminanash, dst.
Memang secara ontologis agama dan filsafat berbeda. Agama seperti diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal dari Tuhan, sedangkan filsafat merupakan oleh pikir manusia. Agama diturunkan sebagai pedoman moral untuk manusia dengan cara memahami, menafsirkan dan mengamalkannya. Di sisi lain, filsafat merupakan olah pikir refleksif manusia sehingga memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan memahami dan menafsirkan butir-butir ajaran agama. Dengan demikian filsafat berfungsi sebagai supporting factor bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kualitas peribadatannya. Hirarkhi kemampuan manusia untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama tercermin dalam hypothetical-reflections (Marsigit, 2007-2013) sbb:
“Setingg-tinggi ilmu dan pikiran (filsafat) tidaklah mampu mengetahui segala seluk beluk hati (spiritual). Sehebat-hebat ucapan, tidaklah mampu mengucapkan semua yang dipikirkan. Sehebat-hebat tulisan, tidaklah mampu menulis semua ucapan. Sehebat-hebat perbuatan, tidaklah mampu melaksanakan semua tulisan. Maka janganlah kita mengandalkan hanya pikiran (filsafat) saja untuk memaknai spiritual (agama), melainkan bahwa gunakan dan jadikan hati kita masing-masing sebagai komandan dalam hidup kita. Sesungguhnya, di dalam hati itulah bernaung ilmu spiritualitas kita masing-masing.”
(terbuka). Interaksi keadaan karakter manusia yang tertutup dan terbuka itulah yang memungkinkan manusia untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi, atau malah terperosok ke sebaliknya ke dimensi yang lebih rendah. Keadaan struktur hirarkhis berdimensional tersebut (yang dikehandaki oleh komunitas spiritual) ditunjukkan seperti diagram berikut:
Gambar oleh Marsigit (2013)
Fungsi agama kemudian adalah memedomani agar umatnya mampu beribadat sebaik-baiknya sekaligus sebagai sumber moral (karakter), petunjuk kebenaran, bimbingan rokhani dan telaah metafisika religi.
B. PERGULATAN MEMPEREBUTKAN PARADIGMA: Islam ditengah Narasi Besar
Dalam hiruk-pikuknya kehidupan kontemporer dewasa ini, tantangan terbesar kehidupan beragama Islam termasuk pendidikan Islam adalah bagaimana melampaui pemikiran dikotomi di atas (yang saya sebut pada Bagian Pendahuluan)? Sebagian cendekiawan muslim menyarankan agar dunia Islam melakukan revitalisasi pendidikan Islam yang meliputi konsep ilmu dan pendidikan dalam Islam sebagai suatu konsep terbuka yang dapat didekati dengan metode ilmiah. Namun sebagian pemangku spiritual dengan serta merta menolaknya. Solusi yang ditawarkan oleh sebagian cendekiawan itu disebutnya hanya pemikiran dari orang luar atau orang awam saja yang tidak atau belum mengerti akidah tauhid dan syariat.
Kalam, maka motif , kepentingan, bahkan politik dapat mempengaruhi pemikiran ontologisnya. Esensi dari perbedaan tersebut adalah adanya kriteria yang berbeda diantara satu dengan yang lainnya sebagai nilai kebenaran relative menuju kebenaran absolut. Persoalan muncul jika kriteria yang berbeda ingin dipaksakan untuk mengukur (bahkan jika dengan metode ilmiahpun) keadaan golongan atau masyarakat lainnya, misalnya kriteria Barat digunakan untuk mengukur dunia Timur, atau kriteria ilmiah untuk mengukur irrasionalitasnya spiritual, atau kriteria umum (orang awam/luar) digunakan untuk mengukur yang khusus (dalam).
Dunia Islam versus Gerakan Positivisme
Gambar oleh Marsigit (2013)
Kaum Positivisme (Auguste Compte) menganggap agama berada di wilayah primitive dan tradisional. Agama dalam hal tertentu dianggap sebagai irrasional, oleh karena itu dapat menghambat kemajuan untuk memperoleh masyarakat modern. Dengan demikian agama tidak dijadikan sentral dalam tata cara dan perikehidupan masyarakat Positisme. Selanjutnya Positivisme mengembangkan metode “sain” sebagai jawaban untuk menaklukan dunia; maka berkembanglah segala macam cabang ilmu pengetahuan berbasis sain termasuk ilmu-ilmu dasar dan ilmu alam (natureweistenssafften). Sedangkan ilmu-ilmu humaniora termasuk agama, seni, budaya, filsafat (geistesweistensafften) dipinggirkan. Kinerja kaum Positivisme begitu mengagumkan karena telah menghasilkan ilmu-ilmu baru, teknologi dan masyarakat industri. Komunitas spiritual diliputi kecanggungan dan kegamangan dalam bayang-bayang Reduksionisme untuk tidak punya pilihan lain kecuali terlibat setengah hati.
Dunia Islam dalam Bayang-bayang Kedigdayaan Sang Power Now
Gambar oleh Marsigit (2013)
Di dalam struktur dunia nya Power Now, spiritualitas dipinggirkan dan ditempatkan tidak boleh melampaui fase Tradisional. Itulah sebabnya mengapa pada jaman sekarang (kontemporer) lebih banyak fenomena bermoduskan non-agamis. Agama dipandang tidak mampu memecahkan persoalan-persoalan teknis dan pragmatis dari kehidupan kontemporer. Interaksi antara dunia spiritualitas dengan dunia Power Now dirasakan sangat tidak imbang. Toynbee sendiri, seorang penulis dari dunia kontemporer, menyatakan bahwa dalam kehidupan komtemporer sekarang ini hanya ada 2 pilihan kontradiktif yang tak terhindarkan bagi umat manusia, yaitu, pertama, menjadi “hantu” atau kedua, menjadi “robot”.
Dalam interaksinya dengan pemikir dunia kontemporer, penulis mempunyai pengalaman kedatangan matematikawan kaliber dunia (Mr X) dari Universitas paling terkenal di dunia Barat. Dia mengikuti beberapa perkuliahan yang saya ampu yaitu Pembelajaran Matematika di Universitas. Setelah selesai mengikuti beberapa hari matematikawan tersebut mengajukan pertanyaan kepada penulis dan terjadilah dialog sbb:
Mr. X: Apa hubungannya antara Matematika dengan doa? Karena saya melihat setiap perkuliahan anda selalu dibuka dengan doa dan ditutup dengan doa pula?
Penulis: Lho mengapa anda bertanya hal demikian? Apakah anda tidak percaya kepada Tuhan?
Mr. X: Bukannya saya tidak percaya. Cuma belum. Saya belum percaya kepada Tuhan. Penulis: Kenapa anda belum percaya kepada Tuhan?
Mr. X: Saya belum percaya kepada Tuhan karena saya tidak mengerti?
Penulis: Kenapa ketidak mengertianmu menyebabkan engkau tidak percaya kepada Tuhan?
Mr. X: Bagiku, pikiran adalah segalanya. Pikiranku adalah awal dari segala tindakan dan aktivitasku. Pikiranku juga awal dari keyakinanku. Maka aku hanya bertindak jika aku
Penulis: O..kalau begitu mengapa engkau datang ke Kota ku? Mengapa pula engkau datang menemuiku? Mengapa pula engkau mengikuti perkuliahanku?
Mr. X: Karena ada MOU dan ada undangan untuk saya agar saya datang ke sini. Penulis: Apakah engkau mengerti seluk beluk Kota ini?
Mr. X: O…aku tidak mengerti.
Penulis: Kanapa engkau datang ke Kota ini? Sementara engkau tidak mengerti? Mr. X: O…aku tidak tahu.
Penulis: Jadi engkau tidak tahu kemana engkau pergi?
Mr. X: O.aku tahu. O..aku tidak tahu. O..aku tahu..O I am sorry I have made you feel inconvenience.
Dalam kehidupan kontemporer, kedigdayaan sang Power Now sudah jelas mengandung arti tersingkir dan melemahnya peran dunia Islam dalam percaturan memperebutkan paradigma dunia. Dikarenakan melemahnya kedudukan dunia Islam baik secara ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan maka sesuai dengan hukum kodratnya, kedudukan yang diperoleh berkarakter sub-ordinat yaitu: lebih banyak ditentukan dari pada menentukan, lebih banyak dirugikan dari pada diuntungkan, lebih banyak diwarnai dari pada mewarnai, lebih banyak disalahkan dari pada menyalahkan, lebih banyak menjadi obyek dari pada subyek, lebih banyak tercerai berai dari pada holistic dan komprehensif, lebih banyak dipermalukan dari pada dihargai, lebih banyak dicurigai dari pada dipercaya. Kedudukan seperti itu juga membawa akibat: lebih sedikit mendapatkan akses, lebih sedikit mendapatkan hak, lebih sedikit memperoleh kesempatan dan lebih sedikit inisiatif.
Lemahnya bargaining position dunia Islam dalam kehidupan kontemporer dikarenakan dunia Islam kurang mampu mengembangkan metodologi yang kreatif, fleksibel, objektif, terukur dan saintifik. Hal demikian dikarenakan dunia Islam belum mampu mengatasi atau melampaui terkategorisasinya pemikiran dilematis sejak awal tradisi pemikirannya. Pil pahit harus ditelan oleh dunia Islam untuk menyaksikan bahwa urusan habluminanash lebih banyak ditentukan dan diurusi oleh kaum bukan Islam. Pil pahit-pil pahit yang lain berurutan juga harus siap ditelan untuk terpaksa dan tak berdaya mendengarkan tausiah sang digdaya Power Now bahwa “kehidupan sekarang ini tidak lagi memiliki cakrawala spiritualitas” Gerakan kebangkitan Islam pada pertengahan abad ini telah gagal menegakan dan menunjukan substansi dan jati dirinya dikarenakan kehilangan jati dirinya dan bergantung pada dunia eksternal dengan ketidakmampuan untuk membuat atau melakukan anti tesis dan sintesis-sintesis. Pil pahit berikutnya adalah kesaksian yang harus diberikan oleh dunia Islam yang membiarkan para prajurit sang Power Now untuk memutus dan memotong akar-akar tradisional yang merupakan ibu dari peradaban yang melahirkan pemikiran Islam, kemudian dengan seenaknya menterjemahkan dan membelokkan makna sejarah sesuai dengan kepentingannya.
Dunia Islam dan Ancaman Munculnya Agama Baru
jasa-jasanya kepada dunia Islam untuk kembali mendalami sejarah dan akar budayanya tetapi dengan syarat-syarat dipenuhinya kriteria spiritual bersama. Anehnya para cendekia Muslim seakan telah terseret untuk kalau tidak menjadi Hantu ya menjadi robot. Para koruptor Muslim itu adalah para hantu-hantu ciptaan sang Power Now. Jika enggan menjadi hantu maka tiadalah pilihan lain kecuali memposisikan dirinya sebagai robot dengan karakter: pasif, apatis, isolasi, fatalis, mengekor dan takdir semu. Dengan bayang-banyang ancaman munculnya agama baru, sang Power Now ternyata telah berhasil memproduksi banyak sekali tuhan-tuhan untuk melemahkan dunia selatan dan dunia Islam. Sex bebas, perkawinan sejenis, kaum happiest dan jetset, pornografi dan kebebasan absolut adalah ikon-ikon nya sang Power Now. Sementara ekonomi, globalisasi, dunia yang satu, kampung dunia, pasar bebas, eksploitasi, isu terorisme, hak azasi manusia, internasionalisasi, standar internasional, sekolah internasional, dan trans-gender, adalah narasi-narasi besarnya. Diperlukan kebangkitan Islam yang ekstra agar mampu terlepas dari jeratan gurita-gurita Kapitalisme, Pragmatisme, Utilitarianisme dan Hedonisme. Dunia Islam harus mampu keluar dari wilayah instrisiknya menuju wilayah ekstrinsik untuk kemudian berusaha mengembangkan jejaring sistemik yang sepadan dengan jejaring sistemik yang dikembangkan oleh sang Power Now. Negara-negara kecil tetangga Indonesia merasa lebih besar dari negara besar Indonesia dikarenakan mereka dalam kedudukannya menikmati jejaring sistemik warisan para penjajah terdahulu.
C. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN: Mungkinkah?
Ilmu Pengetahuan dalam Islam, dalam konteks sejarahnya dan pengembangannya, banyak dipengaruhi oleh Filsafat Yunani Kuno tetapi dengan berbagai catatan. Walaupun pola pikir Islam mempunyai bangunan yang mirip dengan Yunani tetapi secara ontologism terdapat perbedaan yaitu bahwa tradisi keilmuan Islam mendasarkan postulat-postulat pada Al Qur’an dan Hadist. Pada abad ke-12 M, yaitu fase di mana filsafat dan sains dihancurkan, pemikir Muslim lebih mengembangkan kesadaran mistis dan askestisme, kemudian lari dari dunia materi (kesadaran kosmis) menuju pada dunia Sufisme ortodoks; dan mencapai puncaknya pada pemikiran Ghazalianism (Imam Ghazali) (Purwadi, A., 2002). Pentakwilan secara rasional nash-nash Qur’an menjadi haram; pintu ijtihad ditutup rapat-rapat; kegiatan berfilsafat mulai dihujat dan dicurigai; dan para filsuf mulai dicap sebagai penganjur kekafiran dan kafir; untuk menyelamatkan iman Islam, maka makna agama direduksi sebatas persoalan-persoalan ritual-legal-formal semata (ibid. hal 23). Selanjutnya dikatakan bahwa segala pengetahuan yang tidak dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, dianggap sebagai jenis pengetahuan sesat dan menyesatkan, termasuk filsafat dan sain. Pada fase inilah umat Islam mulai menuju pintu gerbang awal kemunduran dan redupnya mercusuar peradabannya (ibid.). Bagaimanakah kemudian perjalanan gambaran interaksi antara pemikiran Islam dan Filsafat pada jaman kontemporer sekarang? Mengapa kelihatannya para pemikir Islam kembali merindukan hadirnya kembali filsafat ke dalam pemikirannya? Teori Filsafat yang seperti apa yang sebenarnya dikehendaki mampu menjembatani komunikasi dunia Islam dan Barat?
Perbandingan Pemikiran Islam dan Filsafat
“Filsafat adalah olah pikir refleksif. Obyek material filsafat adalah obyek kajiannya, sedangkan obyek formal filsafat adalah metodenya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Metode untuk mempelajari filsafat beraneka ragam, tetapi yang menonjol adalah hermeneutika. Alat yang digunakan untuk mempelajari filsafat adalah bahasa analog. Namun secara ontologis tidak ada batasan filsafat yang paling baik, karena definisi dan penjelasan filsafat tergantung kepada filsuf dan konteks budayanya. Tetapi disepakati bahwa dalam filsafat paling tidak terdapat 3 pilar utama yaitu ontology, epistemology dan aksiologi. Perbedaan filsafat adalah perbedaan pemikiran filsufnya. Perbedaan pemikiran filsuf adalah perbedaan obyek dan metodenya. Aliran filsafat adalah pengaruh pemikiran filsufnya. Dan karakteristik atau ciri filsafat adalah penjelasannya. Implementasi filsafat adalah di luar jangkauannya. Tidak setuju atau menolak filsafat adalah berfilsafat pula. Makro filsafat adalah dunianya. Mikro filsafat adalah subyek diri. Tiadalah sebenar-benar ada seorang filsuf, karena tidak ada seorang filsufpun yang mengaku sebagai filsuf. Karakter tertinggi dalam filsafat adalah karakter Socrates karena pengakuannya yang tidap dapat mengerti apapun. Struktur filsafat yang aku kehendaki adalah hirarkhi berdimensi: material, folmal, normatif dan spiritual. Filsafat dimulai dari pertanyaan dan diakhiri pula dengan pertanyaan. Kesimpulan pertanda belum berfilsafat. Awal dari filsafat adalah kesadaran, dan akhir dari filsafat adalah mitos. Adab berfilsafat adalah tata-cara berfilsafat; dan tata cara berfilsafat adalah filsafat itu sendiri. Kesimpulan berfilsafat adalah bahwa ternyata filsafat adalah diriku sendiri. Ternyata aku tidak dapat menemukan diriku sendiri, padahal aku tahu bahwa diriku adalah sifat-sifatku. Maka diriku bisa pikiranku bisa pula doaku. Kebenaran adalah diriku yang tertutup, sedangkan diriku yang terbuka adalah ilmuku. Ternyata aku menemukan bahwa diriku tidak sama dengan diriku, dikarenakan bujuk dan rayuan ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu adalah intuisiku, yaitu intuisi pikiran dan intuisi pengalamanku. Diriku tidak sama dengan diriku adalah kontradiksi karena itu adalah pengalaman menemukan diriku. Sedangkan diriku adalah diriku adalah identitas jika dia masih berada di dalam pikiranku, tetapi serta merta akan menjadi salah jika aku ucapkan atau aku tuliskan. Setinggi-tinggi tujuanku berfilsafat adalah sekedar menjadi saksi. Saksi adalah kuasa menyaksikan dan mengalami. Kuasa itu adalah diriku. Padahal diriku bisa apa saja (op maaf). Kemarin saya otoritarianisme sedangkan sekarang saya demokratis; kemarin saya Platonist sedang sekarang saya Aristotelianis; kemarin saya Pragmatis sedangkan sekarang saya Idealist, dst. Itulah bukti bahwa diriku adalah filsafat. Demikian juga engkau muridku adalah juga filsafat, bedanya mungkin engkau belum menyadarinya.
Syarat dan Tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
dunia Islam dan dunia Filsafat. Dengan memperkokoh posisi filsafat dalam pemikiran Islam diharapkan akan mampu sejajar dengan metode pemikiran Barat sehingga secara kritis mampu menemukan solusi persoalan komunikasi paradigm. Lebih dari itu, ketidak jelasan kriteria Barat perihal keberhasilan dan kebahagiaan hidup manusia, dapat disolusikan melalui pemikiran Islam. Dalam kedudukan seperti inilah maka pemikiran Islam beserta metode kependidikannya akan Barat. Insitusi-institusi kependidikan Islam dengan sendirinya akan mengalami revitalisasi dan akan memperoleh kedudukan sejajar bahkan terhormat dalam percaturan dunia.
D. UNIVERSALITAS ILMU UNTUK MENJAMIN PEMBENTUKAN KARAKTER
Tempat yang paling strategis dan signifikan untuk mewujudkan universalitas ilmu adalah perguruan tinggi. Dengan demikian Pendidikan Tinggi Islam mempunyai fungsi untuk menjembatani antara ilmu Islam dan non-Islam atau dunia Islam dan Barat. Perguruan Tinggi Islam atau yang bernafaskan Islam harus memulai merintis keterhubungan antara pemikiran Islam dan Barat, dan juga Islam dan Filsafat. Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) dapat menjadi wadah bagi maksud-maksud di atas. Universalitasi ilmu harus dibarengi dengan menggali paradigm-paradigma metode epistemologis yang bersesuaian dengan nilai karakter yang dikehendaki, yang meliputi peran rasionalitas atau logika, pendekatan empiris, obyektifitas, nilai agama (kegaiban), metafisika, dan norma atau etika. Pengembangan kurikulum perlu memperhatikan aspek-aspek pembentukan karakter sesuai dengan visi dan misi institusi.
Pengembangan rasionalitas dan logika harus dibarengi dengan menetapkan nilai-nilai spiritualitas sebagai landasan sekaligus tujuan. Logika Islam harus bisa mengontrol dan membatasi pengembaraan Filsafat sesuai dengan ruang dan waktunya. Hukum sebab-akibat dalam filsafat tidak serta merta dapat diterapkan seluruhnya dalam tauhid Islam. Dalam filsafat, Tuhan dipandang sebagai Causa Prima yaitu sebab pertama dan utama. Namun dalam pemikiran Islam, Causa Prima dimaknai sebagai Dzat satu-satunya yang Mengatur, Mengelola, Memelihara, dan Memerintah. Al-Qur’an dan Hadits merupakan referensi lengkap sumber filsafat baik ontology, epistemology maupun aksiologi.
priori di mana a- priori dalam Islam harus berisi iman, taqwa dan tauhid. Synthetic dalam Filsafat mengandung unsure-unsur kontradiksi sebagai hukum bukan hukum Identitas. Tetapi dalam Islam, synthetic hendaknya mengandung arti ketidak sempurnaan manusia sebagai karunia yang dikehendaki Allah SWT.
Kebenaran keherensi harus dapat diterjemahkan sebagai kebenaran karena jujur. Bahwa kejujuran juga mengandung konsisten sebagai komponennya. Kebenaran korespondensi harus dapat dimaknai sebagai “tepat sesuai dengan ruang dan waktunya” atau sopan santun terhadap ruang dan waktu. Metafisik umum adalah makna di sebalik kualitas. Maka dalam pemikiran Islam metafisika harus dapat mencapai unsur-unsur ghoib sebagai yang harus dipercaya. Ontologi atau hakikat segala sesuatu sebagai hakikat yang bebas nilai dalam Filsafat; maka dalam pemikiran Islam harus menuju kepada Maha Hakikat yaitu Allah SWT. Epistemologi sebagai pendekatan harus disesuaikan dengan tata-cara atau adabnya budaya Islam, yang sangat peduli dan menjunjung tinggi kesadaran akan adanya perbedaan dimensi, kedudukan, peran atau fungsi dari subyek atau obyeknya. Axiologi Barat perlu diselaraskan dengan aksiologi Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits. Metode spekulasi hendaknya dikendalikan dengan doa dan kepasrahan atas kehendak Tuhan. Hypothetical analyses hendaknya dikendalikan dengan iman, taqwa dan tauhid. Ikhtiar dikendalikan dengan doa. Belajar dan mengajar hendaknya sebagai sarana pengamalan beribadah. Rasa ingin tahu hendaknya dibatasi dalam konteks sosial dan budayanya. Mendidik atau membimbing siswa hendaknya dipandang sebagai amanah yang diberikan dalam kerangkan ibadah. Kompetensi peserta didik hendaknya diperoleh melalui variasi sumber baik sebagai proses maupun produk. Kompetensi dan value tertinggi diperoleh dalam jejaring sistemik hendaknya dapat dimaknai sebagi silaturakhim dan ukhuwah Islamiah. Niat dan motivasi tertinggi dapat diperoleh dengan memanjatkan doa secara khusuk. Dikembangkan kesadaran adanya Ilmu yang tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi juga berada dalam hatinya. Perubahan dimaknai sebagai sunatullah. Ketetapan dimaknai sebagai Takdir. Ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh hendaknya secara halal. Pengalaman yang dicari adalah pengalaman hidup berkarakter insan kamil. Tesis-tesis filsafat dimaknai sebagai ciptaan dan karunia yang diberikan Allah SWT; anti-tesis dapat dimaknai sebagai ikhtiar untuk memperoleh Ridla Nya; sedangkan sintesis dapat dimaknai sebagai silaturakhim.
E. PENDIDIKAN ISLAM DIBALIK BAYANG-BAYANG PENDIDIKAN UMUM
Untuk memulai memahami diri kita sendiri, marilah kita memaknai apa yang saya maksud dengan Kesadaran dan Keterpaksaan. Kita dikatakan Sadar atau Menyadari akan suatu hal jika kita mampu memahami makna tentang hal tersebut. Kesadaran merentang dari Keinginan/harapan/doa, Sikap, Pengetahuan, Ketrampilan dan Pengalaman. Jika kita melakukan perbuatan dengan tidak berlandaskan pada hal tersebut dikatakan kita dalam keadaan keterpaksaan. Untuk mengukur kesadaran kita terhadap Pendidikan Islam dibanding Pendidikan Umum , marilah kita melakukan kegiatan sebagai berikut, yaitu menyermati Peta Filsafat, Ideologi dan Paradigma Dunia sebagai berikut (adaptasi dari Paul Ernest, 1995, The Philosophy of Mathematics Education), dan diikuti dengan menyermati/membandingkan/menggolongkan aspek essentialnya.
Industrial
Trainer TechnologicalPragmatism Old Humanism ProgressiveEducator PublicEducator
Politics Radical right Conservative Conservative/ Moral value Good vs Bad Pragmatical Hierarkhy/
Paternalistics Humanity Justice/Freedom
Student Empty Vessel EmptyVessel CharacterBuilding StudentsOrientation Constructive Theory of
Ability Talent andEffort Talent TalentDevelopment Need Heremeneutics Aim of
Education Back to Basic (Arith.) Certification Transfer ofKnowledge Creativity Construct their own live Theory of
Teaching Transfer ofknowledge External Motivation Expository Hermeneutics/Construct Hermeneutics/Discussion/ Translation
hendaknya tidak bersifat parsial, tetapi bersifat komprehensif dan holistik. Mengomunikasikan Filsafat hendaknya sesuatu dengan ruang, waktu dan konteksnya. Mempelajari Filsafat hendaknya dilandasi keyakinan dan akidah spiritualitas yang kokoh. Filsafat adalah pikiran para Filsuf, maka mempelajari Filsafat adalah mempelajari pikiran para Filsuf.
Islam adalah hidayah yang diberikan Allah SWT kepada umat Nya agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan akidah Islam, manusia meyakini seluruh ajaran Islam. Iman kepada Allah SWT merupakan starting point ibadah dan pemikiran Islam. Pembentukan karakter Islamiah bertitik tolak dari akidah Islam. Karakter adalah sifat yang muncul dari keadaan suatu subjek atau objek dikarenakan keyakinan, tindakan, pengetahuan, ketrampilan atau penalamannya. Maka karakter Islamiah dapat dikembangkan sejak dari akidah Islamiah dalam lisan, hati dan amalannya. Fungsi Filsafat adalah memperjelas dan memperkaya bentuk atau formnya dan juga substansinya agar nilai karakter Islamiah dapat muncul melalui bentuk material, formal, normative dan spiritualnya.
Diperlukan komunikasi yang terbuka dan dinamis antara Agama dan Filsafat agar diperolah ruang transisi (buffer) sebagai arena interaksi sinergis untuk memilah dan memilih kriteria unsur-unsurnya. Sikap istikamah adalah karakter tingkat tinggi dalam Islam diharapkan mampu mengundang dan mempersilahkan Filsafat untuk sharing dan presentasi idea atau gagasannya demi kemslahatan bersama. Filsafat akan memandu seseorang menggapai dunia spiritualitasnya sampai batas yang diijinkan. Kecerdasan dan kebijakan berfilsafat mengarah kepada kesimpulan bahwa hanya dengannya saja, maka manusia sebagai makhluk yang banyak kekurangannya, tidaklah mungkin menjangkau aspek spiritual yang paling dalam. Epistemologi psiko-filsafati berusaha mentransfer dan memfilter nilai-nilai filosofis ke dalam nilai-nilai Islami. Ontologi Islam menjamin ilmu-ilmu Islamiah bersifat universal; oleh karena itu institusi atau lembaga kependidikan Islam merupakan garda terdepan untuk mengawal kebangkitan Islam secara akuntabel dan sustainable mengatasi persoalan dikotomi ambivalensi persoalan hidup kontemporer dikarenakan gerakan Power Now yang tidak mungkin bisa terbendung. Karakter Islamiah yang berhasil dikembangkan merupakan pilar dan anyaman bangunan paradigm yang seharusnya diperjuangkan dalam kompetisinya dengan Power Now. Jikalau Power Now mengembangkan Filsafat untuk menguasai dunia Selatan dan dunia Islam, maka hendaknya, sebaliknya, dunia Selatan dan dunia Islam mampu menggali dan mengembangkan Filsafat Islam untuk mengkritisi dan melawan Power Now. Jika terpaksapun belum bisa melawan, maka berusaha hidup berdampingan dengan sama-sama terhormat.
F. Wajah dan Raport Pendidikan Indonesia (di tinjau dari usaha mempromosikan pendidikan yang lebih demokratis)
itu ya Demokrasi Pancasila, maka kita bisa melakukan analisis deduktif, bahwa visi demikian seyogyanya menjiwai segenap aspek berkehidupan berkebangsaan dan berkenegaraan Indonesia. Maka visi pendidikan nasional juga harus bernafaskan demokrasi Pancasila, walaupun kelihatannya hal yang demikian juga mungkin terdapat segmen masyarakan yang masih agak gamang.
Tetapi baiklah, asumsikan bahwa kita memang tidak gamang bahwa pendidikan nasional seharusnya mempunyai visi demokrasi Pencasila, maka kitapun bisa melakukan analisis deduktif yaitu bahwa setiap aspek implementasi pada bagian dan subbagian pendidikan nasional juga harus dijiwai oleh semangat Demokrasi Pancasila. Jika kita secara konsisten bisa melakukan kegiatan analisis demikian maka hasil-hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk refleksi diri kita seperti apakah wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional kita? Gambaran tentang diri wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional akan tampak lebih jelas lagi manakala kita melakukan analisis hal yang sama untuk kasus-kasus yang paralel diluar sistem Demokrasi Pancasila. Yang terakhir tentunya semata-mata digunakan sebagai cross-check agar analisis bersifat obyektif dan hasilnya bersifat valid. Kegiatan analisis demikian setidaknya dilandasi beberapa asumsi dasar sebagai berikut.
Suatu sistem yang sehat adalah sistem yang mempunyai:1) obyek material dan obyek formal sekaligus, 2)struktur yang jelas dan bersifat terbuka yang menggambarkan bentuk wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki secara jelas pula,3)hubungan yang jelas antara komponen dalam struktur, 4) konsisten antara hubungan yang satu dengan yang lain baik hubungan secara substantial maupun hubungan secara struktural, 5) didukung oleh pelaku-pelaku dan komponen yang sesuai baik secara hakikinya, pendekatannya maupun ditinjau dari aspek kemanfaatannya, 6)peluang bagi segenap komponen yang ada untuk saling belajar dan dipelajari, 7) bersifat kompak dan komprehensif, 8) menggambarkan perjalanan sejarah waktu lampau, sekarang dan yang akan datang, 9) serta menampung semua aspirasi dan keterlibatan subyek dan obyek beserta segala aspeknya. Dengan berbekal visi yang ada, pendekatan analisis, dan ideal dari suatu sistem yang baik, dan referensi yang ada, marilah kita mencoba melihat dan merefleksikan bentuk tubuh pendidikan nasional kita.
1) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang keilmuan seyogyanya mempromosikan kreativitas serta merupakan bagian dari pengembangan masyarakat pada umumnya. Sementara pendidikan nasional kita belum mencapai keadaan demikian. Pandangan keilmuan yang ada masih bersifat ego of the body of knoledge, ego of the structure of knowledge, dan ego of the structure of knowledge. Pada point ini, maka analisis saya, jika diwujudkan dalam bentuk angka, baru memberikan nilai 4 (empat) pada rentang 10.
2) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang value haruslah menuju ke keadilan dan kemerdekaan berpikir serta mendorong pengembangan aspek-aspek humanity. Praktek pendidikan kita masih terjebak pada dikotomi baik-buruk, tetapi kita kurang terampil mengisi interval di dalamnya. Praktek pendidikan cenderung semakin bersifat pragmatis dalam konteks hirarkhi paternalistik. Hirarkhi paternalistik itu akan lebih baik jika dia bersifat idealistic hierarchy paternalistic. Untuk poin ini saya memberi angka 5 (lima)
kesejahteraan semua warga. Sementara system pendidikan kita cenderung tersedot oleh magnet dari market oriented dalam konteks hierarkhy-hierarkhy. Akibatnya nuansa pragmatis semakin menggejala bersamaan dengan erosinya nilai-nilai idealis para pelakunya. Untuk point ini saya memberi nilai 5 (lima)
4) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita harus mendorong mendorong partisipasi subyek pendidikan. Sementara di grass-root kita menemukan bahwa ketakberdayaan subyek didik dan dominasi pendidik secara terstruktur dan bersifat masif. Untuk point ini saya memberi nilai 3 (tiga)
5) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong mengembangkan aspek budaya masyarakat dan mengfungsikan pendidikan sebagai system pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Kebutuhan masyarakan hendaknya diartikan secara mendalam dan seluas-luasnya, termasuk paradigma bahwa subyek didik itulah sebenar-benar yang membutuhkan pendidikan.Untuk point ini saya menilai 3 (tiga) 6) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka tujuan pendidikan seyogyanya meliputi usaha-usaha mengembangkan masyarakat dan kehidupan seutuhnya secara komprehensif. Implementasi seyogyanya secara komprehensif dan konsisten. Untuk ini saya menilai 7 (tujuh)
7) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan komunikasi multi arah dan kemandirian. Untuk point ini saya menilai 5 (lima)
8) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan sebagai konteks praktik kependidikan. Untuk poin ini saya menilai 4 (empat).
9) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mengembangkan sistem evaluasi yang bersifat terbuka dan berbasis pada pelaku pendidikan. Evaluasi pendidikan hendaknya berdasar kepada catatan atau portfolio yang menunjukkan tidak hanya hasil tetapi juga proses. Evaluasi pendidikan juga hendaknya bersifat komprehensif dengan mengukur mencatat semua aspek kemampuan pelaku. Untuk point ini saya memberi nilai 4 (empat).
10) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan aspek multi budaya sebagai kakayaan yang perlu dikembangkan. Otonomi daerah dan desentralisasi perlu ditempatkan dalam kedudukan yang proporsional. Untuk poin ini saya menilai 6 (enam)
Rata-rata penilaian saya terhadap sistem pendidikan kita dilihat dari segi promosi pendidikan yang bersifat demokratis adalah
(4+5+5+3+3+7+5+4+4+6)/10 = 5 (lima)
baik secara substansial maupun pada implementasinya. Sistem pendidikan kita belum menggambarkan wajah dan tubuh yang konsisten bagi dipromosikannya pendidikan yang lebih demokratis. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor baik yang mandasar maupun oleh para pelaku kependidikannya. Namun, masih terdapat harapan besar agar sistem pendidikan kita kedepan mampu memberikan nuansa pendidikan yang demokratis.
G. Matematika Murni , Matematika Sekolah dan Pendidikan Matematika
Berikut adalah kesimpulan sementara hasil diskusi dengan beberapa Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil:
Marsigit Dr MA, Lecturer at Yogyakarta State University, concludes the following: "I am sad to find that most of math teachers around the world are unable to differentiate between adults and young math. That's why from time to time, at every educational context, there are always bad news of math teaching practices in term of students' participation and motivation. Hereby I wish to blame the currently educational systems including recruitment system of math teachers and the system they are prepared to be a math teachers.In the big countries or in the West, this circumstances is very significant. Therefore, I wish also to blame the currently state that Pure Math and Pure Sciences have been too deep and too far intervening Math Teaching; because significantly, they do not able to perform their accountability in their involvement in Math teaching. Further, I may label the Pure Math and Pure Science as a Golden Kids of contemporary Power Now; in which not only big countries but also the small ones are now in the state of emergency, confusing, hegemonic, and not in a healthy interaction each other.The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions (Pure Math, Pure Science through their system and the teachers inside) in the name of technology and contemporary life. That's why we then found that there are more and more unpredictable phenomena reflecting the students' under pressure by their adults. I wish to call Math teachers who still have their empathy to their young generation to think critically and to do anything to change the situation. Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions."
Diskusi selengkapnya masih dapat diakses pada link berikut:
http://www.linkedin.com/groupAnswers?
viewQuestionAndAnswers=&discussionID=276248584&gid=33207&commentID=167136771& trk=view_disc&fromEmail=&ut=2uA5P9sed83RY1
Pada diskusi yang lain, saya uraikan sbb: Marsigit Dr MA said:
mostly recommend is an adherence to rigor and correctness in mathematics instruction.".
My question to pure mathematician is about their legitimation to serve, revise, and recommend curriculum for primary and secondary math teaching? This is what I called as intervention to other subject. If they talk about their own math teaching in University, there will not be a problem. If they are doing research in primary and secondary math teaching, it will be good. As you know that such activities as you stated e.g. serving, revising and recommending the primary and secondary curriculum have very-very huge impacts at the implementation in primary and secondary math teaching learning processes. My Further question is, if they force to do so, then what is really their motive? I suspect that pure mathematician perceive primary and secondary math educ as the best area for doing their business. Further, I also wish to say that most of pure mathematician lack of understanding on philosophical, theoretical, psychological ground of primary and secondary math education. As I also put a concern on your notions " The curriculum is mostly fixed. What is changed from time-to-time is the set of priorities, the order and grade level for new topics, and the scope of the testing. Most university math educators believe substantially on current pedagogical theories to educate their students. elements containing in your notions " These notions indicate a problematic understanding and vision of primary and secondary math. I totally disagree with your last notions.”
http://powermathematics.blogspot.com/2012/09/linkedin-groups-math-math-education.html
Referensi selengkapnya penulis cantumkan pada web berikut: http://uny.academia.edu/MarsigitHrd
Demikian uraian saya, semoga bermanfaat.
Terimakasih
Referensi:
1. Budiman, F.B., 2003, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Yogyakarta: Kanisius 2. Ernest P., 1995, Philosophy of Mathematics Education
3. Fukuyama, F., 1999, The End of Hostory and The Last Man, New York: Penguin Book 4. Huxley, A., 1945, Filsafat Perenial, New York: Harper & Row Publisher
5. KKNI
6. Kurikulum 2013
7. Purwadi, A., 2002, Teologi Filsafat Sain, Malang: UMM-Press Lampiran:
Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika
Oleh Marsigit
Guru Matematika:
Wahai muridku, engkau kelihatan berbeda dan kelihatan cerdas. Sekiranya aku ditugaskan untuk menjadi Guru Matematika di kelasmu maka apakah permintaan-permintaanmu kepadaku?
Murid:
Aku menginginkan agar pelajaran matematika itu menyenangkan bagi diriku, memberi semangat kepadaku, dan bermanfaat bagiku.
Aku juga ingin bahwa pelajaran matematika itu mudah aku pelajari.
Aku harap engkau juga menghargai pengetahuan-pengetahuan yang sudah aku miliki.
Aku ingin juga bahwa pelajaran matematika itu mempunyai keindahan, sesuai dengan norma dan nilai agama.
Aku ingin agar persoalanku sehari-hari dapat digunakan dalam belajar matematika.
Ketahuilah wahai guruku bahwa rasa senang itu juga milikku, walaupun engkau juga berhak mempunyai rasa senang.
Tetapi menurutku, rasa senang itu tidaklah engkau berikan kepadaku, melainkan harus muncul dari dalam diriku sendiri.
Engkau tidaklah bisa memaksa diriku menyenangi matematika, kecuali hanya dengan keikhlasanku.
Aku juga ingin engkau agar memberi kesempatan kepada diriku agar aku bisa mempersiapkan psikologis diriku dalam mengikuti pelajaran matematika.
Ketahuilah wahai guruku, bahwa diriku dan diri teman-temanku semua itulah yang sebenar-benarnya melakukan persiapan.
Itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai Apersepsi.
Maka berilah kami semua tanpa kecuali untuk melakukan kegiatan-kegiatan agar kami bisa melaukan Apersepsi, dan tidak hanya engkau ceramahi atau engkau hanya bertanya kepada sedikit siswamu yang duduk di depan.
Aku juga berharap agar pelajaran matematika itu engkau persiapakan sebaik-baiknya agar aku dapat melakukan berbagai aktivitas di kelas.
Aku juga memohon agar engkau bersikap adil, tidak pilih kasih. Jika nilaiku jelek, janganlah engkau remehkan diriku, tetapi jika nilaiku terbaik maka janganlah terlalu disanjung-sanjung.
Menurutku, belajar matematika itu adalah hak dari setiap murid-muridmu di kelas. Oleh karena itu mohon agar perhatianmu jangan hanya yang duduk di bagian depan saja, melainkan harus meliputi semuanya.
Aku juga memohon agar engkau tidak bersikap otoriter. Tetapi aku mohon agar engkau dapat bersikap demokratis.
Oleh karena itu, aku mohon agar engkau jangan terlalu banyak bicara apalagi terkesan menggurui.
Berikanlah kami beraneka ragam aktivitas matematika.
Karena jika engkau terlalu banyak bercerita dan mengguruiku maka sebenar-benar diriku merasa tersinggung dan kasihan terhadap dirimu karena engkau terkesan sombong.
Aku juga mohon agar engkau tidak hanya bercerita, tetapi hendaknya memberikanku kesempatan untuk beraktivitas.
berlatih di situ, sekaligus aku akan mempunyai catatan dan informasi-informasi.
Aku mohon agar LKS yang engkau siapkan bukan sekedar kumpulan soal,
melainkan dapat menjadi sarana bagiku untuk belajar mandiri maupun kelompok.
Kata Pamanku, LKS merupakan sarana yang sangat strategis bagi guru agar mampu melayani kebutuhan belajar matematika siswa-siswanya yang beraneka ragam kemampuan.
Aku mohon juga agar engkau jangan menilai aku hanya dari test saja, tetapi tolonglah agar penilaianmu terhadap diriku itu bersifat komprehensif, lengkap meliputi proses kegiatanku dan juga hasil-hasilku.
Aku juga menginginkan dapat menampilkan karya-karyaku.
Aku sungguh merasa jemu jika engkau hanya menggunakan metode ceramah saja.
Wahai guruku, seberapakah engkau menyadari betapa kecewanya murid-muridmu ketika sudah engkau minta untuk unjuk jari bertanya, tetapi engkau hanya
menunjuk satu saja diantara kami. Padahal hal itu engkau lakukan setiap hari dan dari waktu ke waktu. Menurut Pamanku, ini disebabkan karena pengelolaan kelas yang belum bagus.
Aku dan teman-temanku juga merasa tidak begitu nyaman, jika engkau selalu bertanya dengan kalimat panjang dan kalimat terbuka, kemudian menyuruhku untuk menjawab secara koor/choir. Seakan-akan engkau telah memperlakukan diriku hanya sebagai obyek pelengkap kalimat-kalimatmu. Sungguh guru hal yang demikian telah membuat diriku telah tidak berdaya dihadapanmu. Lagi-lagi
menurut Pamanku, metode mengajar yang demikian perlu segera diubah.
Oleh karena itu aku memohon agar engkau menggunakan berbagai variasi metode mengajar, variasi penilaian, variasi pemanfaatan sumber belajar.
Aku juga menginginkan agar engkau mampu menggunakan teknologi canggih seperti website dalam pembelajaranmu. Kenapa guru, aku belajar matematika musti menunggu hari Selasa, padahal pada hari Selasa yang telah aku tunggu-tunggu terkadang engkau tidak dapat mengajar dikarenakan mendapat tugas yang lebih penting. Aku sangat kecewa akan hal ini.
Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat Website yang memungkinkan aku belajar matematika setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung dengan keberadaanmu. Aku juga ingin bertanya persoalan matematika kepadamu setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung keberadaanmu. Menurut Pamanku, itu semua bisa dilayani jika engkau membuatkan Wbsite atau Blog untuk murid-muridmu.
Aku ingin engkau menunjukkiku di mana sumber-sumber belajar matematika yang baik.
modul-modul pembelajaran, apalagi jika engkau dapat pula membuat buku-buku teks pelajaran matematika untukku.
Aku juga menginginkan engkau dapat memberi kesempatan kepadaku untuk memperoleh keterampilan matematika.
Aku ingin agar matematikaku bermanfaat tidak hanya untuk diriku tetapi juga untuk orang lain.
Aku juga menginginkan masih tetap bisa berkonsultasi denganmu di luar jam pelajaran.
Pak Guru, aku ingin sekali tempo juga belajar di luar kelas. Kelihatannya belajar diluar kelas udaranya lebih segar dan menyenangkan.
Tiadalah seseorang di muka bumi ini selain diriku sama dengan diriku. Oleh karena itu dalam pelajaran matematika itu nanti aku berharap agar engkau dapat
mengenalku dan mengerti siapa diriku.
Tetapi aku juga mengetahui bahwa diri yang lain juga saling berbeda satu dengan yang lain.
Maka sesungguh-sungguhnya dirimu sebagai guru akan menghadapi murid-muridmu sebanyak empat puluh ini, juga sebanyak empat puluh macam yang berbeda-beda.
Oleh karena itu aku memohon agar engkau jangan hanya menggunakan metode tunggal dalam mengajarmu, supaya engkau dapat membantu belajarku.
Menurutku, untuk melayani sebanyak empat puluh siswa-siswa yang berbeda-beda ini, maka tidaklah bisa kalau engkau hanya menggunakan metode mengajar
tradisional atau ceramah.
Menurut bacaan di internet dan menurut Pamanku, maka untuk dapat melayani siswa-siswamu yang beraneka ragam, maka engkau perlu mengembangkan RPP yang flesibel, perlu membuat LKS dan yang penting lagi adalah engkau sebagai guruku harus mempercayai bahwa jika diberi kesempatan maka muridmu ini mampu mempelajari matematika.
Itulah yang aku ketahui bahwa engkau harus lebih berpihak kepada kami.
Keberpihakan engkau kepada kami itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai student centered.
Mohon agar engkau lebih sabar menunggu sampai aku bisa mengerjakan
matematika. Usahakanlah agar matematika itu menjadi miliku, maka janganlah aku hanya diberi kesempatan untuk melihat atau menonton saja.
Yang betul-betul perlu belajar matematika itu adalah diriku.
Maka jikalau engkau mempunyai alat peraga, maka biarkan aku dapat menggunakannya dan jangan hanya engkau taruh di depan saja.
Aku bahkan dapat mempelajari matematika lebih efektif jika belajar bersama-sama dengan teman-temanku.
Oleh karena itu wahai guruku, maka dalam pelajaran matematika itu nanti berikan kami kesempatan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok.
Tetapi jika engkau telah menyuruhku belajar dalam kelompok, maka berikanlah aku waktu yang cukup untuk berdiskusi dan janganlah engkau terlalu banyak
memberikan petunjuk dan ceramah lagi ketika aku sedang bekerja dalam kelompok.
Karena hal demikian sangat mengganggu konsentrasiku dan terkesan engkau menjadi kurang menghargai kepada murid-muridmu.
Aku juga mohon agar engkau memberikan kesempatan kepada diriku untuk membangun konsepku dan pengertianku sendiri.
Wahai guruku, ketahuilah bahwa aku juga ingin menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku juga dapat menarik kesimpulan dari tugas-tugasmu mengerjakan matematika.
Ketahuilah wahai guruku bahwa kesimpulan-kesimpulan dari tugas-tugasmu itu sebenarnya adalah milikku.
Oleh karena itu janganlah engkau sendiri yang menyimpulkan tetapi berikan kesempatan kepadaku agar aku juga bisa menemukan rumus-rumus matematika.
Rumus yang aku temukan sendiri itu sebenar-benarnya akan bersifat lebih awet dan langgeng dari pada hal demikian hanya sekedar pemberianmu.
Maka jika aku sudah susah-susah melakukan kegiatan kearah menemukan rumus, sementara pada akhirnya malah engkau yang menyimpulkan, maka sebetulnya aku menjadi marah kepadamu.
Janganlah engkau membuat pesan ganda kepada diriku. Janganlah engkau memberi hukuman kepadaku dengan menyuruh aku untuk mengerjakan sebanyak-banyak soal. Karena bagiku, hukuman adalah jelek sedangkan mengerjakan soal adalah baik.
Jangan pula engkau pura-pura memberi soal yang sangat sulit kepadaku padahal engkau sesungguhnya bermaksud untuk menghukumku.
Aku memohon agar engkau mempercayaiku. Kepercayaanmu kepadaku itu
Aku akan bangga jika guruku suatu ketika dapat muncul di kegiatan seminar baik secara nasional maupun internasinal. Wahai guruku, gunakanlah data-dataku, hasil-hasilku, dan proses belajarku sebagai data penelitianmu. Menurut Pamanku, jika engkau mampu menggunakan data-data dikelas mengajarmu, maka engkau akan menghasilkan karya ilmiah setiap tahunnya.
Wahai guruku, aku juga bangga dan ingin membaca karya-karya ilmiahmu. Setidaknya hal demikian juga akan memotivasi diriku.
Wahai guruku yang baik hati, aku merasa dari waktu ke waktu terdapat perubahan dalam diriku. Aku juga melakukan percobaan atau eksperimen mencari cara belajar yang baik. Kelihatannya aku belum menemukan cara belajar yang terbaik bagi diriku. Tetapi aku dapat menyimpulkan bahwa cara belajarku haruslah dinamis, fleksibel, dan kreatif menyesuaikan dengan kompetensi yang harus aku kuasai. Oleh karena itu sungguh aneh jika engkau guruku hanya mengajar diriku dengan metode yang sama dari waktu ke waktu.
Permintaan terakhirku adalah apakah bisa engkau Guruku, untuk kami yang beraneka ragam, berilah kesempatan untuk mempelajari matematika yang
beraneka ragam pula, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun kami semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan engkau selenggarakan.
Demikian guru permohonanku, saya minta maaf atas banyaknya permintaanku karena sesungguhnya permintaanku itu telah aku kumpulkan dalam jangka waktu yang lama. Sampai aku menunggu ada seorang guru yang bersifat terbuka untuk menerima permohonan dan saran dari muridnya.
Sekali lagi mohon maaf guruku. Mohon doa restunya. Amin
Guru Matematika:
Astagfirullah al adzimu....ya Allah ya Robi ampunilah segala dosa-dosaku.
Wahai muridku, aku tidak bisa berkata apapun dan aku merasa terharu mendengar semua permintaanmu itu.
Mulutku seakan terkunci mendengar semua permintaan dan penuturanmu itu.
Tubuhku tergetar dan keringat dingin membasahi tubuhku.
Aku tidak mengira bahwa diantara murid-muridku ada murid yang secerdas kamu.
Aku tidak mengira bahwa jika aku beri kesempatan dan aku beri sarana
yang aku pikirkan dewasa ini.
Setelah mendengar semua permintaanmu, aku menjadi tahu betapa tidak mudah menjadi Guru Matematika bagimu.
Setelah mendengar permintaanmu, aku menjadi ragu tentang kepastianku.
Setelah mendengar permintaanmu, aku merasa malu dihadapanmu.
Setelah mendengar permintaanmu, aku merasakan betapa diriku itu bersifat sangat
egois.
Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa aku telah berbuat sombong dihadapanmu.
Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa malas diriku itu.
Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat tidak adil terhadapmu.
Selama ini aku telah berbuat aniaya terhadap dirimu karena aku telah selalu menutupi sifat-sifatmu, aku selalu menutupi potensi-potensimu, aku selalu mendominasi inisiatifmu, aku selalu menimpakan kesalahan pada dirimu, dan sebaliknya aku selalu menutupi kesalahanku.
Selama ini aku telah berpura-pura menjadi manusia setengah dewa dihadapanmu.
Dihadapanmu, aku telah menampilkan diriku sebagai manusia sempurna yang tiada cacat, serba bisa, serba unggul, serba hebat, tiada gagal, wajib digugu, dan wajib ditiru.
Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat munafik di depanmu, karena aku selalu menyembunyikan keburukan-keburukanku sementara aku menuntumu untuk menunjukkan
kebaikan-kebaikanmu.
Oh muridku hanyalah tetesan air mataku saja yang telah mengalir merenungi menyadarai bahwa KERAGUANKU terhadap praktek pembelajaran matematika ternyata benar adanya.
Ternyata yang aku lakukan selama ini lebih banyak mendholimi murid-muridku.
Wahai orang tua berambut putih salahkan jika aku berusaha membimbing murid-muridku?
Orang Tua Berambut Putih:
memberdayakan siswa? Saya khawatir jangan-jangan niatmu membimbing, tetapi yang terjadi sebetulnya justeru membuat siswamu tidak berdaya.
Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Orang tua berambut putih, salahkan jika aku mewajibkan murid-muridku untuk belajar giat?
Orang Tua Berambut Putih:
Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat belajar itu adalah kebutuhan dan kesadaran siswa, dan bukanlah kewajiban dan perintah-perintahmu. Saya khawatir jangan-jangan dibalik kegiatanmu mewajib-wajibkan dan perintah-perintah kepada siswamu itu, sebetulnya terselip sifat egoismu.
Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika aku mengajar dengan cepat dan tergesa-gesa untuk memberi bekal sebanyak-banyaknya kepada siswa. Apalagi beban kurikulum yang banyak
sementara waktunya terbatas.
Orang Tua Berambut Putih:
Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat pendidikan itu adalah kegiatan jangka panjang. Cepat dan tergesa-gesa itu artinya tidak teliti dan memaksa. Maka tiadalah gunanya engkau dipundakmu membawa segunung pengetahuanmu untuk engkau tuangkan kepada siswamu sementara siswa-siswamu meninggalkan dirimu. Sebaliknya jika siswamu telah berdaya, merasa senang, menyadari dan
memerlukan mempelajari matematika, maka sedikit saja engkau memberinya, maka mereka akan meminta dan mencari yang lebih banyak lagi.
Guru Matematika:
Subhanallah....baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika saya menggunakan metode tunggal saja yaitu metode ekspositori?
Orang Tua Berambut Putih:
Metode ekspositori atau ceramah itu metode yang sudah kadaluwarsa, tidak
mampu lagi melayani kebutuhan siswa dalam belajarnya. Metode ekspositori selalu sajalah merupakan siklus dari kegiatan: menerangkan, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, dan menerangkan kembali, demikian seterusnya. Selamanya ya seperti itu. Itu hanya cocok jika paradigma mengajarmu adalah paradigma lama yaitu trasfer of learning. Jaman sekarang dan kecenderungan internasional, metode yang dikembangkan adalah multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel.
Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian bagaimanakah caranya aku melayani kebutuhan siswa-siswaku
Orang Tua Berambut Putih:
Tidaklah mungkin engkau mampu melayani kebutuhan belajar murid-muridmu, jika engkau tidak merubah paradigmamu.
Guru Matematika:
Paradigma seperti apa sehingga saya mampu melayani siswa-siswaku mempelajari matematika?
Orang Tua Berambut Putih:
Hijrahlah, berubahlah, bergeraklah. Ubahlah paradigmamu:
-dari transer of knowledge menjadi to facilitate
-dari directed-teaching menjadi less directed-teaching
-dari menekankan kepada teaching menjadi menekankan kepada learning -dari metode tunggal menjadi metode jamak
-dari metode yang monoton menjadi metode yang dinamis dan fleksibel -dari textbook oriented menjadi problem-based oriented
-dari UNAS oriented menjadi process-product oriented -dari cepat dan tergesa-gesa menjadi sabar dan menunggu -dari mewajibkan menjadi menyadarkan
-dari tanya jawab menjadi komunikasi dan interaksi -dari otoriter menjadi demokrasi
-dari penyelesaian tunggal menjadi open-ended -dari ceramah menjadi diskusi
-dari klasikal menjadi klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan individual -dari guru sebagai aktor menjadi siswa sebagai aktor
-dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa -dari mencetak menjadi menembangkan
-dari guru menanamkan konsep menjadi siswa membangun atau menemukan konsep
-dari motivasi eksternal menjadi motivasi internal -dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara
-dari siswa duduk dan menunggu menjadi siswa beraktivitas -dari siswa pasif menjadi siswa aktif
-dari kapur dan papan tulis saja menjadi media dan alat peraga -dari abstrak menjadi kongkrit
-dari inisiatif guru menjadi inisiatif siswa
-dari contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa
-dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan oleh siswa -dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa -dari konvensional menuju teknologi
-dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu -dari hasil yang tunggal menjadi hasil yang plural
Guru Matematika:
Subhanallah ...ya Allah ya Rab ampunilah segala dosa-dosaku. Baru kali ini aku menyadarinya.
Orang Tua Berambut Putih:
Selama ini mengajarmu berpola atau berprinsip: "untuk siswa-siswa yang
bermacam-macam kemampuan, engkau hanya mengajarinya matematika yang sama, dalam waktu yang sama, dengan tugas yang sama, dengan metode mengajar yang sama, dan mengharapka hasil yang sama, yaitu hasil yang sama dengan apa yang engkau pikirkan". Itulah sebenar-benar metode mengajar Tradisional yang tidak mampu lagi dipertahankan. Berubah dan berubahlah segera...
Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian akau harus mengubah pola mengajarku yang bagaimana?
Orang Tua Berambut Putih:
Jika engkau menginginkan mampu menerapkan metode pembelajaran inovatif, maka terapkanlah prinsip:"untuk siswa yang berbeda-beda, seyogyanya
mempelajari matematika yang berbeda dan bermacam-macam, walau memerlukan waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan metode yang berbeda-beda pula, alat yang berbeda-beda pula, serta hasil yang boleh berbeda, yaitu boleh berbeda dengan apa yang engkau pikirkan"
Guru Matematika:
Subhanallah ...baru kali ini aku menyadarinya.
Apakah yang dimaksud teknologi atau alat agar aku mampu melayani kebutuhan siswa belajar matematika?
Orang Tua Berambut Putih:
LKS sementara ini dianggap sebagai teknologi atau alat yang sangat strategis. Namun jangan salah paham, LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu atau
menemukan rumus matematikanya. Maka seorang guru harus menembangkan sendiri LKS nya. Tiadalah orang lain mengetahui kebutuhan guru ybs. Maka tidaklah bisa mengadakan LKS hanya dengan cara membeli. Itu betul-betul salah dan tidak proesional.
Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kenapa musti siswa harus belajar dengan berdiskusi dalam kelompoknya.
Orang Tua Berambut Putih:
Hakekat ilmu itu diperoleh dengan cara berinteraksi antara obyektif dan subyektif, antara teori dan praktek, antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, ..dst. Maka diskusi kelompok itu sebenarnya adalah sunatullah.
Guru Matematika:
Subahanallah...baru kali ini aku menyadarinya. Terimakasih orang tua berambut putih.
kromo terhadap perlakuan pedagogis belajar matematika, yang telah merasa cukup dan puas terhadap ilmu dan pengetahuanku selama ini.
Permohonan ampunku yang terus menerus kiranya belum cukup untuk menghapus dosa-dosaku.
Ya Allah ya Rab semoga Engkau masih bersedia melindungi dan meridai pekerjaan-pekerjaanku.