• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arttikel Birokrasi HAM dan Konsep negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Arttikel Birokrasi HAM dan Konsep negara"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel

Realisasi Pelayanan Publik, Hak Asasi Manusia dan

Konsep Negara Hukum di Era Reformasi

Oleh : Rosy Indra Bimantara K6413064

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRAK

Artikel mencoba menampilkan beberapa kajian berupa Pelayanan Publik, Hak Asasi Manusia dan Konsep Negara Hukum di Era Reformasi negara Indonesia. Penulis berupaya menjelaskan dan merealisasikan kajian-kajian di atas dalam bentuk argumentasi. Kajian yang akan di jelaskan nanti, merupakan teori-teori seperti teori Birokrasi atau Pelayanan Publik,Hak Asasi Manusia dan juga Konsep Negara Hukum. Di samping teori,beberapa argumentasi dan kenyataan yang ada juga di jelaskan. Pengkajian dan kegiatan merealisasikan ini bertujuan mencari informasi dan berupaya menjelaskan kenyataan yang ada. Proses selanjutnya adalah beragumentasi terhadap kajian yang telah ada dan di paparkan kenyataan dari masing-masing kajian nya.

PENDAHULUAN

(2)

Masalah pelayanan publik, hak asasi manusia dan konsep negara hukum masih dipertanyakan,prosedur yang di jalankan apakah sudah baik dan tepat. Penegakan dan pembatasan terhadap HAM juga masih menjadi problem. Banyak kaum miskin dan lemah tak dapat memenuhi hak-haknya. Keadilan dan penegakan hukum juga menjadi faktor hilangnya hak-hak tadi. Indonesia yang di katakan negara hukum nyatanya belum bisa bersikap adil dan terbuka kepada seluruh rakyat. Kejadian ini menyebabkan timbulnya pertanyaan terhadap reformasi,realisasi pelayanan publik,HAM dan hukum masih sangat jauh dari harapan rakyat.

Mengingat ha-hal di atas seharusnya kita bersikap kritis dan berpendapat agar kelak problema-problema di atas terselesaikan. Dengan adanya artikel ini,bisa di mengerti bahwa sudah ada sikap kritis terhadap permasalahan di atas,untuk lebih jelasnya mari kita simak pada pembahasan nantinya.

PEMBAHASAN

Era reformasi menjadi tonggak lahirnya suatu perubahan. Setelah masa Orde Baru usai, penguatan hak dan demokrasi lebih terlihat. Di mulai dari pemilihan presiden pada tahun 1999 yang kala itu bapak Abdulrahman Wahid terpilih menjadi presiden RI. Lambat laun perbaikan-perbaikan pun di lakukan,misalnya amandemen UUD 1945 di tahun 1999,2000,2001,dan 2002. Era reformasi membawa harapan besar masyarakat kala itu. Setelah 32 tahun di bawah kepemimpinan Soeharto yang nyaris tak ada ruang untuk berekspresi. Kasus korupsi,kolusi dan nepotisme mewabah saat itu,tak ada yang berani untuk melawan. Akhirnya tahun 1998 mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR-MPR RI untuk menjatuhkan Soeharto. Dan akhirnya Soeharto pun turun dari Kursi Istana. Era reformasi yang di harapkan lebih baik namun kenyataan yang ada masih banyak kekurangan yang terlihat. Dari pelayanan publik,hak asasi manusia dan konsep negara hukum.

Teori yang pertama yaitu pelayanan publik atau birokrasi. Menurut Max Weber, birokrasi ada lah suatu hierraki yang di tetapkan secara jelas dimana pemegang kantor mempunyai fungsi yang sangat spesifik dan mengaplikasikan atau menerapkan aturan universal dalam semangat impersonalitas yang formalistik1. Sudah jelas bahwa pelayanan

publik berfungsi untuk menerapkan aturan yang universal yang formalistik. Di era reformasi ini, untuk birokrasi pemerintah lebih banyak memberikan kepercayaan dan pemberdayaan

(3)

kepada daerah agar mampu berperintah dan berotonomi mengatasi persoala-persoalan di daerahnya2.

Birokasi saat ini menuai banyak perhatian khususnya prosedur dan pelaksanaanya. Di samping itu tujuan pelayanan publik pada dasarnya untuk memuaskan masyarakat. Saya beragumen bahwa pelayanan publik tercermin dengan baik jika :

- Transparansi, yaitu terbuka, mudah, dapat di akses oleh semua kalangan dan memadai dalam penyediaannya.

- Akuntabilitas, yaitu dapat di pertanggungjawabkan pelaksanaannya menurut UU yang berlaku

- Partisipatif, yaitu bisa mendorong peran serta dan mendorong masyarakat beraspirasi.

- Keseimbangan Hak dan Kewajiban, yaitu memperhatikan keadilan antara pemberi dan penerima jasa pelayanan publik.

Yang kedua mengenai Hak Asasi Manusia, setiap manusia mempunyai hak yang sama, hak asasi merupakan suatu anugerah yang di berikan oleh Tuhan kepada manusia yang sifatnya melekat dan di bawa sejak lahir.

Negara menjamin pemenuhan hak asasi manusia dan manusia bersedia toleran terhadap berbagai perbedaan yang ada. Kebebasan dan kesetaraan terwujud dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Negara menjamin hak hidup, hak kebebasan, dan hak milik semua orang dari ancaman dan gangguan pihak manapun. Negara membuat undang-undang dan mengangkat hakim-hakim, mengadili para pelanggar undang-undang dan menjatuhkan hukuman berdasarkan undang-undang yang di buat negara sesuai persetujuan rakyat. Semua warganegara mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum, mempunyai hak yang sama dalam perlindungan hukum, dan mempunyai hak pilih yang sama,satu orang satu suara. Tidak ada inidividu atau kelompok masyarakat yang dapat menyatakan bahwa mereka berhak memerintah dan mengambil keputusan yang mengikat rakyat, tanpa persetujuan dari rakyat3.

Kenyataan yang ada saat ini, pemenuhan hak-hak tadi masih sangat jauh dari harapan, hak partisipasi politik misalnya, banyak warga yang merasa hak pilih dan di pilih nya tidak di hargai. Kasusnya misal, dalam daftar pemilih tetap tidak tercantum namanya,ini mungkin saja ada keslahan dari petugasnya atau lainnya. Dari hal tersebut membuktikan bahwa hak asasi manusia pada masa reformasi masih ada problema atau permasalahan. Argumen kali ini, bahwasannya hak asasi manusia merupakan pemberian dari Tuhan,maka dari itu,tidak ada seorang pun yang boleh mengambil hak orang lain,negara dan pemerintah menjadi pelindung

(4)

hal tersebut. Hak manusia tak hanya meliputi hak untuk hidup, hak lainnya di atur dalam UUD 1945 pasal 28A-28J. Ini membuktikan pemerintah dan negara berperan untuk perlindungan hak tadi. Kasus-kasus yang terjadi haruslah menjadi bahan untuk kedepannya lebih baik. Agar Hak Asasi Manusia kedepannya lebih baik dan memang seharusnya itu tugas pemerintah,negara dan orang / bangsa Indonesia.

Yang ketiga adalah realisasi dari konsep negara hukum, Negara Indonesia adalah negara hukum4. Sudah jelas dalam UUD 1945 bahwasannya Indonesia adalah negara hukum.

Dalam negara hukum kekuasaan negara terikat pada hukum. Tidak semua negara hukum adalah negara demokrasi, karena negara bukan demokrasi juga bisa taat pada hukum. Tetapi negara hukum adalah keharusan dalam demokrasi, artinya negara demokrasi haruslah sekaligus negara hukum. Sebab dalam negara demokrasi semua warganegara setara, yang satu tidak lebih tinggi atau lebig rendah dari yang lain. Dalam keadaan seperti ini, interaksi antar warga masyarakat, antar masyarakat dan negara, dan antar berbagai lembaga negara, harus di atur dalam hukum yang di buat bersama oleh rakyat melalui wakil-wakilnya,dan harus di jalankan oleh lembagayang berwenang sesuai dengan aturan hukum, dan diberlakukan kepada semua pihak secara sama, tanpa diskriminasi5. Dalam negara hukum

yang demokratis berlaku prinsip supremasi hukum, berarti semua pejabat negara, baik di pilih melalui pemilu atau di angkat, harus bertindak berdasarkan hukum dalam menjalankankekuasaan yang telah di tentukan. Semua pejabat negara memikul pertanggungjawaban hukum, yaitu pertanggungjawaban pada pengadilan atas pelanggaran hukum yang di lakukannya. Hubungan antara negara dan masyarakatdi tentukan oleh hukum. Hak-hak rakyat telah ada sebelum negara ada, dan fungsi negara hanya menjamin terpenuhinya hak tersebut dan bukan menciptakannya6. Hukum yang ada haruslah membela

rakyat bukan kepentingan penguasa atau pejabat. Menurut Stahl, konsep negara hukumyang di sebut dengan istilah rechtstaat mencakup elemen penting, yaitu7 :

1. Perlingdungan hak asasi manusia 2. Pembagian kekuasaan

3. Pemerintahan berdasarkan Undang-Undang 4. Peradilan tata usaha negara.

Prinsip-prinsip negara hukum selalu berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat dan negara. Prof. Utrecht membedakan dua macam negara hukum,yaitu negara

4 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 , Pasal 1 ayat 3

5 Lihat Merphin Panjaitan, 2013, Logika Demokrasi, Jakarta, penerbit Permata Aksara, halaman 128 6 Merphin Panjaitan, 2013, Logika Demokrasi, Jakarta, penerbit Permata Aksara, halaman 129

(5)

hukum formil atau negara hukum klasik dan negara hukum materil atau negara hukum modern. Negara hukum formil menyangkut pengertian hukum yang bersifat formil dan sempit, yaitu dalam arti peraturan perundang-undangan tertulis terutama. Tugas negara adalah melaksanakan peraturan perundang-undangan tersebut untuk menegakan ketertiban. Tipe negara tradisional ini di kenal dengan istilah negara penjagaa malam. Negara hukum materil mencakup pengertian yang lebih luas termasuk keadilan di dalamnya. Tugas negara tidak hanya menjaga ketertiban dengan melaksanakan hukum, tetapi juga mencapai kesejahteraan rakyat sebagai bentuk keadilan (welfarestate). Berdasarkan berbagai prinsip negara hukum yang telah di kemukakan tersebut dan melihat kecenderungan perkembangan negarahukum modern yang melahirkan prinsip-prinsip penting baru untuk mewujudkan negara hukum, maka terdapat dua belas prinsip pokok sebagai pilar-pilar utama yang menyangga berdirinya negara hukum. Kedua belas prinsip tersebut adalah sebagai berikut8:

 Supremasi hukum

 Berfungsi sebagai sarana mewujudkan tujuan berbegara

 Transparansi dan kontrol sosial

Konsep negara hukum saat ini masih menuju kearah perbaikan,perbaikan demi perbaikan di lakukan. Kepastian hukum juga saat ini sudah cukup baik, dan jika pemerintah atau negara lebih mementingkan kesejahteraan rakyat maka tujuan hukum, keadilan dan kemanfaatan akan tercapai. Saat ini masih terdengar bahwa hukum itu tumpul ke penguasa dan tajam ke rakyat bawah . Hal ini mestinya harus di tanggapi dengan serius agar penguasa tidak sewenang-wenang dan rakyat bawah tidak menjadi korbannya. Teori lain menyatakan bahwa negara dan hukum adalah saling berpengaruh dapat di jelaskan dalam teori kedaulatan Negara (Staatssouvereiniteit) dan teori kedaulatan Hukum (Rechtssouvereiniteit). Menurut teori kedaulatan Negara, negaralah yang di anggap sebagai sumber dari segala kekuasaan dalam suatu wilayah negara, sedang menurut teori kedaulatan Hukum, pada pokoknya juga

(6)

negara tunduk pada hukum,maka hukumlah yang dianggap berdaulat, di atas negara9.

Menurut Prof. Mr.H. Krabbe, Teori Kedaulatan Hukum itu dimana Hukum hanyalah apa yang memenuhi rasa keadilan dari orang terbanyak yang di tundukan padanya. Suatu peraturan perundang yang tidak sesuai dengan rasa keadilan dari jumlah terbanyak orang, tidak dapat mengikat10

Argumen kali ini, Jika semua komponen bekerja dengan baik, tak ada satu pun yang di rugikan, pemerintah harusnya tegas dalam masalah hukum dan rakyat haruslah menjaga kestabilan dan ketertiban bernegara. Selain itu, pemerintah juga harus menguatkan fungsi yudikatif, karena dengan penguatan tersebut kepastian hukum bisa tercapai.

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas, realisasi dari pelayanan publik, HAM dan konsep negara hukum sudah cukup baik, apabila semua komponen berusaha bekerja semaksimal mungkin makanya hasilnya pun baik. Pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama dalam

9 Lihat Hassan Suryono, 2005, Ilmu Negara, Surakarta, Penerbit UNS Press, halaman 63

(7)

penegakan hukum, penguatan HAM, untuk pelayanan publik sendiri pemerintahlah yang bertugas memperbaikinya. Selain itu masyarakat juga harus menghormati orang lain atau bertoleransi, agar pemenuhan hak setiap tercapai. Negara merupakan tempat dimana rakyat bernaung, bekerja, saling berinteraksi, dalam hal ini pemerintah atau negara wajib memnuhi kebutuhan setiap warganya, dan berusaha melaksanakan apa yang di harapkan masyarkat. Masyarakat pun juga bisa ikut andil dalam pengambilan keputusan agar kedepannya problema yang ada bisa terlesaikan dan cita-cita akan reformasi yang lebih baik bisa tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimly. 2011. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi. Jakarta. Sinar Grafika

Kansil, C.S.T. Drs. SH. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Mustofa, Delly. Dr. M.Si. 2013. Birokrasi Pemerintahan. Bandung. Alfabeta Panjaitan, Merphin. 2013. Logika Demokrasi. Jakarta. Permata Aksara Suryono, Hassan. 2005. Ilmu Negara. Surakarta. UNS Press

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Meskipun upaya mem-branding UMKM di Kecamatan Sumpiuh sudah dilaksanakan dengan seringnya pemberitaan lewat media massa, beroperasinya stasiun radio Komunitas Peduli Sumpiuh

Simetris di sini berarti untuk setiap pasangan bilangan, kedua titik yang mewakili bilangan itu terletak pada jarak yang sama dari titik nol, tetapi

Sama dengan hal di atas penduduk yang bersekolah tidak termasuk dalam angkatan kerja tetapi mereka sewaktu-waktu dapat menjadi tenaga kerja yang potensial, dengan demikian semakin

Sulawesi Barat dan Provinsi Sulawesi Tengah; Rapat Fasilitasi 2 segmen Batas antar Provinsi dan 3 Segmen Batas antar Kabupaten; Terselesaikannya permasalahan disegmen batas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tentang Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Pendekatan Problem Based Learning (PBL) menggunakan KD pembelajaran IPA 3.3

Neither is PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, its affiliated companies, employees, nor agents are liable for errors, omissions, misstatements, negligence, inaccuracy contained