• Tidak ada hasil yang ditemukan

i KARYA TULIS ILMIAH JUDUL PROGRAM PERAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "i KARYA TULIS ILMIAH JUDUL PROGRAM PERAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

i KARYA TULIS ILMIAH

JUDUL PROGRAM

PERANAN SINEOL DALAM KAPULAGA (E. cardamomum(L.) Maton) SEBAGAI AGEN ANTIINFLAMASI DAN EKSPEKTORAN

UNTUK TERAPI SUPORTIF PENDERITA ASMA PASCA ERUPSI GUNUNG BERAPI

BIDANG KEGIATAN: KTI-GT

Disusun oleh:

Lutfir Rahman Taris G0013142 Aninditya V. Putrinadia G0013030 Hepy Hardiyanti K. G0013112

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)

ii 1. Judul Kegiatan : Peranan Sineol dalam Kapulaga (E.

cardamomum (L.) Maton) sebagai Agen

Antiinflamasi dan Ekspektoran untuk

Terapi Suportif Penderita Asma Pasca

Erupsi Gunung Berapi

2. Bidang Kegiatan : KTI-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap : Lutfir Rahman Taris

b. NIM : G0013142

c. Jurusan : Pendidikan Dokter

d. Universitas : Universitas Sebelas Maret

e. Alamat Rumah : Perum. Mastrip G/5, Sumbersari, Jember

f. No Telp./HP : 085655860310

g. Alamat Email : [email protected]

4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang

5. Dosen pembimbing

a) Nama Lengkap : dr. Titis Leksanani

b) NIP :

c) Alamat Rumah : Jaten Karanganyar

Surakarta, 15 Juni 2014

Dosen Pembimbing Ketua Kelompok

dr. Titis Leksanani Lutfir Rahman Taris

NIP. NIM. G0013142

Menyetujui

Pembantu Dekan III FK UNS,

Prof. Dr. Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)

(3)

iii ABSTRAK

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, dimana terdapat sabuk vulkanik berupa pegunungan berapi yang akhir-akhir ini sering mengalami erupsi. Masyarakat di lereng gunung berapi sering mendapatkan efek buruk dari banyaknya material yang keluar saat erupsi terjadi. Timbulnya masalah kesehatan, seperti gangguan pada sistem pernapasan membuat penderita asma memiliki risiko tinggi untuk mengalami kekambuhan asma. Mereka sering diintervensi oleh penggunaan bahan kimia sebagai langkah untuk mengatasi asma, akan tetapi obat tersebut tidak selamanya menimbulkan respon positif. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang mungkin memiliki beberapa manfaat dalam bidang kedokteran. Oleh karena itu, penggunaan bahan herbal bisa menjadi alternatif pengganti obat kortikosteroid asma bagi penderita asma. Karya tulis ini bertujuan untuk mengembangkan senyawa-senyawa dari bahan herbal yang bermanfaat untuk menghasilkan terapi baru asma dan menciptakan inovasi baru terapi herbal yang terjangkau, aman, dan efektif mengatasi asma dengan efek samping yang lebih sedikit. Karya tulis ilmiah ini merupakan karya tulis tinjauan pustaka yang disusun melalui sistem deskriptif analitik. Beberapa senyawa dari bahan herbal yang dapat digunakan untuk mengatasi asma yaitu sineol dalam kapulaga (Elettaria cardamomum (L.) Maton). Hasil akhir yang diperoleh berupa sineol dalam ekstrak buah kapulaga mengandung sineol yang berperan sebagai ekspektoran yang efektif dalam mengikat partikel debu dan antiinflamasi yang dapat mengurangi sekresi mukus, sehingga dapat meminimalisir prevalensi kambuhnya asma dengan efek samping yang lebih sedikit. Penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi, dosis efektif dan efikasi ekstrak sineol, serta pengaruh terapi sineol terhadap penderita asma perlu dilakukan.

(4)

iv Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,

serta karunia-Nya, sehingga karya ilmiah yang berjudul Peranan Sineol dalam

Kapulaga (E. cardamomum (L.) Maton) sebagai Agen Antiinflamasi dan Ekspektoran untuk Terapi Suportif Penderita Asma Pasca Erupsi Gunung Berapi dapat penulis selesaikan. Ucapan terima kasih juga senantiasa penulis sampaikan kepada:

1. Universitas Sebelas Maret yang mendukung terselesaikannya karya tulis ilmiah

ini.

2. dr. Titis Leksanani selaku dosen pembimbing pembuatan karya tulis ilmiah

yang telah memberikan bimbingan dan saran.

3. Orang tua penulis yang selalu memberikan semangat dan dukungan moral.

4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Penulis berharap hasil penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat memberikan

manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mengatasi beberapa masalah yang ada

dan belum menemukan solusi. Selain itu, karya tulis ilmiah ini dapat menjadi

salah satu pertimbangan penting dalam fokus menangani penyakit asma.

Permohonan maaf kami sampaikan atas ketidaksempurnaan yang ada dalam

penyusunan karya tulis ilmiah ini. Kami berharap adanya kritik dan saran untuk

membuat karya ilmiah ini menjadi lebih baik.

Surakarta, 15 Juni 2014

(5)

v DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL …...………... HALAMAN PENGESAHAN ……….. ABSTRAK ………....……….... KATA PENGANTAR ……..……….... DAFTAR ISI …...………....

DAFTARGAMBAR………..……

DAFTAR TABEL…...………..……

I. PENDAHULUAN ………..….

A. Latar Belakang ……...………...……. B. Rumusan Masalah ……...………...…. C. Tujuan Penulisan ………... D. Manfaat Penulisan ………....……

II. TINJAUAN PUSTAKA ………...………..….

A. Asma ...…...………...……….... B. Kapulaga Sabrang (Elettaria cardamomum (L.) Maton) ...

III. METODE PENULISAN ……...………..…. A. MetodePenulisan ………...…...………….... B. Kerangka Pemikiran ………...………... IV. PEMBAHASAN ………...………...

A. Potensi Ekstrak Sineol Kapulaga sebagai Terapi Suportif

pada Asma ...

B. Mekanisme Cardamomum sebagai Bronkodilator dan

Antiinflamasi ...

C. Perbandingan Efektivitas Cardamomum dengan Obat

Bronkodilator Lain ...

D. Cara Pemanfaatan Cardamomum di Masyarakat Luas ...

V. PENUTUP ………...…………..……... A. Kesimpulan ……...………....………...

B. Saran ….………...………..……….

DAFTAR PUSTAKA ………... CURRICULUM VITAE ………...

(6)

vi Halaman

Gambar 1.

Gambar 2.

Gambar 3.

Gambar 4.

Gambar 5.

Gambar 6.

Gambar 7.

Bronkus pada Penderita Asma ...

Patogenesis Asma………...………….……... Tanaman Kapulaga ...

Struktur Zat Kimia dalam Kapulaga (Elettaria cardamomum (L.)

Maton) ...……….……... Buah Kapulaga ...

Efek Menghambat Karbasol dari Ekstrak Kasar Cardamom ...…... Perbandingan Ekstrak Kasar Cardamom Dosis 10, 20, 100 dan 0,3

mg/kg dari Salbutamol dalam Menghambat Karbasol pada Tikus ....

4

6

9

10

12

18

(7)

vii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.

Tabel 2.

Klasifikasi berdasarkaan Manifestasi Klinis sebelum Terapi ...

Bioaktivitas Zat Kimia pada Kapulaga (Elettaria cardamomum (L.)

Maton) ...………...………….……...

5

(8)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan

empat lempeng tektonik, yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia,

lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan

timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau

Sumatera-Jawa-Nusa Tenggara-Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan

vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan

gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor [1].

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

(PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,

hingga tahun 2012 Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif dengan

kurang lebih 5 juta penduduk bermukim di sekitarnya [2]. Seiring dengan

adanya pergeseran lempeng bumi, pola letusan gunung berapi pun mengalami

perubahan, banyak gunung berapi yang tidak aktif menjadi aktif dan beberapa

mengalami erupsi. Sebagai contoh yaitu Gunung Sangeang Kabupaten Bima,

Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terakhir meletus tahun 1997-1999 dan

kemudian menjadi tidak aktif, lalu pada akhir Mei 2014 menjadi aktif

kembali dan mengalami erupsi [3].

Erupsi gunung berapi dapat mencapai ribuan kilometer dimana banyak

material vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi terjadi. Material tersebut

seperti abu vulkanik yang merupakan potongan kecil kaca bercampur pasir

dan debu, gas panas, dan magma dimana material tersebut dapat

menimbulkan iritasi pada saluran napas, mata, dan kulit [4]. Pada erupsi

gunung berapi, biasanya terjadi peningkatan masalah kesehatan bagi para

penduduk di lereng gunung dan penduduk yang sistem pernapasannya sudah

terganggu, misalnya pada penderita asma, pneumonitis, dan batuk. Saat

(9)

2

sangat halus mudah sekali untuk terbang terbawa angin dan terhirup manusia

sehingga menyebabkan timbulnya alergi terhadap debu atau bahkan asma [5].

Asma biasanya diderita oleh orang-orang yang memiliki

hipersensitivitas terhadap senyawa tertentu. Pada bencana seperti ini asma

memiliki tingkat prevalensi kambuh yang cukup tinggi sekitar 72% yang

menunjukkan bahwa rangsang imun seorang penderita asma yang terpapar

material erupsi akan menurun, sehingga asma mudah kambuh. Selama ini

penatalaksanaan terhadap penderita asma adalah menggunakan inhaler (obat

pelega napas) dan obat asma terkontrol (kortikosteroid inhalasi dan sistemik)

[6].

Dalam kehidupan sehari-hari penderita asma biasanya menggunakan

inhaler jika asmanya kambuh. Dimana salah satu jenis inhaler berupa

glukokortikosteroid. Kortikosteroid inhalasi merupakan medikasi jangka

panjang yang paling efektif untuk mengontrol asma. Berbagai penelitian

menunjukkan penggunaan steroid inhalasi menghasilkan perbaikan faal paru,

menurunkan hiperresponsif jalan napas, mengurangi gejala, frekuensi, dan

berat serangan, serta memperbaiki kualitas hidup. Steroid inhalasi ditoleransi

dengan baik dan aman pada dosis yang direkomendasikan [7]. Pemberian

kortikostreroid jangka pendek tidak akan menimbulkan efek samping yang

berat bagi tubuh. Namun, pemberian kortikostreoid inhalasi yang dilakukan

dalam jangka waktu panjang (minimal 24 minggu) akan meningkatkan risiko

pneumonia kronis secara signifikan pada pasien asma [8].

Selain obat yang berasal dari bahan kimia, penggunaan obat asma

berbahan dasar tanaman juga dapat digunakan sebagai alternatif. Indonesia

yang dikenal sebagai salah satu dari tujuh negara yang keanekaragaman

hayatinya terbesar kedua setelah Brazil, tentu sangat potensial dalam

mengembangkan obat herbal yang berbasis pada tanaman obat [9]. Tanaman

merupakan sumber utama obat yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)

80% penduduk dunia masih menggantungkan kesehatannya pada pengobatan

tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tanaman [10].

Salah satu jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat asma

(10)

salah satu rempah-rempah produk Indonesia yang menjadi merupakan

komoditas ekspor [11]. Kapulaga termasuk ke dalam 9 besar rempah-rempah

utama dunia. Sebagai komoditas ekspor, dalam dunia perdagangan kapulaga

diperjualbelikan dalam bentuk buah kering maupun minyak atsiri [12].

Menurut Ila Das (2011), ekstrak buah kapulaga mengandung sineol sebagai

ekspektoran yang dapat mengikat partikel debu, antikanker, dan antiinflamasi

yang dapat mengurangi sekresi mukus, sehingga dapat meminimalisir

prevalensi kambuhnya asma dengan efek samping yang lebih sedikit [13].

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana mekanisme kapulaga (Elettaria cardamomum (L.) Maton)

sebagai terapi preventif terhadap asma?

2. Bagaimana efektifitas penggunaan kapulaga (Elettaria cardamomum (L.)

Maton) untuk pengobatan preventif asma dibandingkan dengan

penggunaan obat kimia?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui mekanisme kapulaga (Elettaria cardamomum (L.) Maton)

sebagai terapi preventif terhadap asma.

2. Mengetahui efektifitas penggunaan kapulaga (Elettaria cardamomum (L.)

Maton) untuk pengobatan preventif asma dibandingkan dengan

penggunaan obat kimia.

D. Manfaat Penulisan

1. Aspek Teoritis

Penulisan ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut terkait potensi

kapulaga sebagai terapi preventif dan suportif terhadap asma.

2. Aspek Aplikatif

Konsep ini dapat diwujudkan sebagai pilihan alternatif untuk mengurangi

angka kejadian kambuhnya asma, khususnya bagi penduduk di sekitar

(11)

BAB II

TELAAH PUSTAKA

A. Asma

1. Definisi

Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang penting dan

merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai

negara di seluruh dunia. Asma dapat bersifat ringan dan tidak

mengganggu aktifitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan

mengganggu aktifitas bahkan kegiatan harian. Produktivitas menurun

dan dapat menimbulkan disability (kecacatan), sehingga menurunkan

kualitas hidup [14].

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI,

2007), pada individu yang rentan, gejala asma berhubungan dengan

inflamasi yang akan menyebabkan obstruksi dan hiperesponsivitas dari

saluran pernapasan yang bervariasi derajatnya [15].

Gambar 1. Bronkus pada Penderita Asma

Sumber: National Heart, Lung, and Blood Institute (2007)

2. Epidemiologi

Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada

dewasa dan 10% pada anak). Prevalensi tersebut sangat bervariasi. Di

Indonesia, prevalensi asma pada anak berusia 6 - 7 tahun sebesar 3%

(12)

Center for Health Statistics atau NCHS (2003), prevalensi serangan

asma pada anak usia 0 - 17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak

4,2 juta), dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8

juta). Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada

lelaki [16].

WHO memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat

asma. Sedangkan berdasarkan laporan NCHS (2000) terdapat 4487

kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu populasi. Kematian anak

akibat asma jarang ditemukan. Dari hasil penelitian Riskesdas,

prevalensi penderita asma di Indonesia adalah sekitar 4%. Menurut

Sastrawan (2008), angka ini konsisten dan prevalensi asma bronkial

sebesar 5–15% [16].

3. Etiologi

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan asma antara lain alergen

lingkungan, infeksi saluran pernapasan karena virus, sinusitis kronis atau

rhinitis, aspirin atau obat antiinflamasi non steroid (AINS), faktor

emosional atau stres [17].

4. Klasifikasi

Tabel 1. Klasifikasi berdasarkaan Manifestasi Klinis sebelum Terapi [18]

TIPE ASMA DESKRIPSI

1 (Intermittent) Gejala kurang dari satu minggu

2 (Mild Persistent) Gejala lebih dari satu minggu, namun

tidak lebih dari sekali dalam sehari,

gejala nocturnal lebih dari 2 kali sebulan

3 (Moderate Persistent) Gejala muncul harian, gejala nocturnal

lebih dari satu kali seminggu

4 (Severe Persistent) Gejala muncul harian, gejala nocturnal

lebih sering dan aktifitas fisik menurun.

Sumber: Global Strategy for Asthma Management and Prevention (2002)

(13)

6

Peran penting peradangan memberikan fenotipe yang berbeda

sehingga mempengaruhi pengobatan yang diberikan. Dari faktor

lingkungan, reaksi alergi tetap penting. Bukti lain juga menunjukkan

peran kunci dan memperluas untuk infeksi virus pernapasan dalam

proses ini. Terjadinya asma untuk sebagian besar pasien dimulai sejak

awal kehidupan, faktor risiko dikenali termasuk penyakit atopik, mengi

berulang, dan riwayat orang tua yang menderita asma. Patofisiologi

asma adalah kompleks dan melibatkan komponen-komponen inflamasi

saluran napas serta obstruksi aliran udara [17].

Gambar 2. Patogenesis Asma [19]

Sumber: Morris MJ (2014)

6. Manifestasi Klinis

Asma dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan manifestasi

klinisnya. Pertama saat episode ringan, pasien mungkin merasa gelisah

dan sesak napas setelah melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan.

(14)

ringan, tingkat pernapasan meningkat, dan otot-otot aksesori pernapasan

tidak digunakan. Denyut jantung kurang dari 100 bpm dan pulsus

paradoksus (penurunan yang berlebihan pada tekanan darah sistolik

selama inspirasi) tidak hadir. Auskultasi dada sering terdengar wheezing

pada akhir ekspirasi dan saturasi oksihemoglobin dengan ruang udara

lebih besar dari 95% [17].

Dalam episode cukup parah, tingkat pernapasan juga meningkat.

Biasanya, otot-otot aksesori pernapasan digunakan. Denyut jantung

adalah 100-120 bpm. Wheezing ekspirasi keras dapat didengar, dan

pulsus paradoksus dapat hadir (10-20 mm Hg). Saturasi oksihemoglobin

dengan ruang udara 91-95%. Pasien mengalami episode cukup parah

yang terengah-engah saat berbicara, dan bayi telah kesulitan makan dan

lembut, menangis lebih pendek [17].

7. Diagnosis

Asma dapat didiagnosis berdasarkan seberapa baik fungsi paru

dengan alat kecil dari plastik yang disebut peak flow meter. Alat tersebut

berfungsi untuk mengetahui seberapa cepat pengeluaran udara dari

paru-paru saat ekspirasi [19].

8. Penatalaksanaan

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah untuk mencegah

gejala, meminimalkan morbiditas dari episode akut, dan mencegah

morbiditas fungsional dan psikologis. Terapi farmakologis meliputi agen

pengendali termasuk kortikosteroid inhalasi, dihirup cromolyn (Intal)

atau nedokromil (Tilade), long-acting bronkodilator, teofilin (Theo-24,

Theochron, Uniphyl), pengubah leukotrien, dan antibodi anti-IgE. Obat

bantuan termasuk bronkodilator short-acting, kortikosteroid sistemik,

dan ipratropium (Atrovent) [17].

Pengobatan farmakologis asma didasarkan pada terapi bertahap.

Obat asma harus ditambahkan atau dihapus sebagai frekuensi dan

keparahan gejala pasien berubah. Namun, hal yang paling penting

(15)

8

9. Prognosis

Kematian asma International dilaporkan setinggi 0,86 kematian

per 100.000 orang di beberapa negara. Tingkat kematian asma AS pada

tahun 2006 dilaporkan sebesar 1,2 kematian per 100.000 orang.

Kematian terutama terkait dengan fungsi paru-paru, dengan peningkatan

8 kali lipat pada pasien di kuartil terendah, tetapi angka kematian juga

telah dikaitkan dengan kegagalan manajemen asma, terutama pada orang

muda. Faktor lain yang berdampak kematian termasuk usia yang lebih

tua dari 40 tahun, kebiasaan merokok lebih dari 20-pack tahun,

eosinofilia darah, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1) dari

40-69% diprediksi, dan reversibilitas yang lebih besar [17].

B. Kapulaga Sabrang (Elettaria cardamomum (L.) Maton)

1. Klasifikasi Ilmiah [20]

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae

Class : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Family : Zingiberaceae

Genus : Elettaria

Spesies : Elettaria cardamomum (L.) Maton

2. Deskripsi

Kapulaga Sabrang merupakan kapulaga yang berasal dari Indonesia dan

berkembang di Indonesia sejak abad ke-18. Dalam perdagangan

internasional Kapulaga Sabrang dikenal sebagai true cardamon karena

kandungan minyak atsiri di dalamnya tinggi yaitu 3,5-7%, sehingga ia

pun memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kapulaga Sabrang

berkembang dan berproduksi baik pada lahan-lahan dengan ketinggian

tempat >500 mdpl (pegunungan) pada tanah bertekstur lempung berpasir

(16)

Gambar 3. Tanaman Kapulaga [22]

Sumber: CV Agri Jaya (2013)

3. Morfologi [20]

a. Terna/perdu : Tahunan, berumpun rapat, dan tingginya antara

2-4 m.

b. Batang : Semu, bulat, beruas, masif, berwarna hijau pucat,

dan di dalam tanah membentuk rimpang.

c. Daun : Tunggal, berseling, berbentuk lanset, tepi rata,

ujung runcing, pangkal meruncing, panjang

50-100 cm, lebar 5-10 cm, pertulangan melengkung,

permukaan halus, dan berwarna hijau.

d. Bunga : Majemuk, bentuk malai keluar dari pangkal

batang.

Tangkai : Pipih, panjang 20-30 cm.

Mahkota : Berbentuk membagi, putih.

Kelopak : Berbentuk corong, halus, kuning.

Benang sari : Silindris, panjang 5-7 mm, putih.

Kepala sari : Bulat, kuning.

(17)

10

cokelat.

e. Buah : Buni (bulat lonjong), diameter 1-1,5 cm,

putih/kuning kelabu, berbulu, berkumpul dalam

tandan kecil dan pendek. Bila masak, buah akan

pecah dan membelah berdasarkan ruangnya.

f. Biji : Bulat telur memanjang, diameter 2-3 mm,

berwarna cokelat sampai hitam.

g. Akar : Serabut.

4. Kandungan Kimia

Kapulaga memiliki aroma bau sedap yang berasal dari kandungan

minyak atsiri pada biji kapulaga. Minyak atsiri ini mengandung lima zat

utama, yaitu borneol (suatu terpena) yang berbau kamper seperti yang

tercium dalam getah pohon kamper, alfa-terpinilasetat yang harum seperti

bau jeruk pettigrai, limonen yang juga harum seperti bau jeruk keprok,

alfa terpinen yang harum seperti jeruk sitrun, dan cineol yang sedap agak

pedas menghangatkan seperti minyak kayu putih. Kombinasi inilah yang

membentuk aroma khas kapulaga [22].

Gambar 4. Struktur Zat Kimia dalam Kapulaga (Elettaria cardamomum

(18)

Sumber:Recent Patents on Food, Nutrition, & Agriculture Journal (2010)

Kandungan kimia dalam buahnya adalah minyak asiri

(sineolterpen dan terpineol), minyak lemak, pigmen, protein, selulosa,

gula, pati (kandunga n terbesar), silika, kalium oksalat, betakamfer,

sebinena, mirkena, mirtenal, karvona, terpinil asetat, kersik, dan mineral,

sementara kandungan dalam kulitnya yaitu 31% serat kasar [23].

Tabel 2. Bioaktivitas Zat Kimia pada Kapulaga (Elettaria cardamomum (L.)

Maton) [24]

PHYTOCHEMICALS PERSENTASE ANTI-OKSIDAN

ANTI-MICROBIAL APOPTOSIS

1,8-Cineole 30-60 Yes Yes Yes

Terpinyl acetate 20-50 Weak

Limonene 8-11.6 Yes Yes Yes

Linalyl acetate 2-5

(19)

12

Terpineol 2.5-25 Yes

Borneol 8 Yes Yes

trans-Nerolidol 1.5-3.0 Weak

Sabinene hydrate 2.8 Weak

Myrcene 1.6-3 Yes Yes

(+)- -Pinene 1.5-3 Yes Weak

-Phellandrene 0.5-3 Yes Yes

m-Cymene 0.1-0.5 Yes Yes

Methyl eugenol 0.2-0.5 Yes Yes

(+/ )-Citronellol 0.3 Weak

Terpinolene 0.5-0.75 Weak

Geraniol 0.4 Yes Yes Yes

Sumber:Recent Patents on Food, Nutrition, & Agriculture Journal (2010)

5. Khasiat

Hampir seluruh bagian dari tanaman kapulaga dapat dimanfaatkan

dalam bidang farmako sebagai obat batuk dan pencegah kekeroposan

tulang, seperti akar, batang, buah, dan bijinya [25]. Batang dan daunnya

ditumbuk halus dengan air sebagai obat gosok penyakit encok [26].

Khasiat kapulaga terbesar diperoleh pada bijinya, selain memberikan efek

farmakologis, biji kapulaga juga dapat dimanfaatkan sebagai aromatikum

dan bumbu dalam berbagai masakan [27].

Gambar 5. Buah Kapulaga [28]

(20)

Biji yang diambil dari tumbuhan sebelum buah masak dikeringkan

terlebih dahulu dan dikenal sebagai semen cardamomi, kemudian diolah

menjadi berbagai macam obat. Biji kapulaga memiliki efek melancarkan

dahak (ekspektoran), mengatasi tenggorokan gatal-gatal, influenza,

mengatasi radang amandel dan radang lambung, memperlancar

pengeluaran gas dari perut (karminatif), mencegah masuk angin,

menyembuhkan encok, mencegah mual dan mengurangi demam, lelah,

serta kejang otot [20]. Selain itu, biji yang dikunyah dapat dipakai sebagai

obat asma, batuk, dan pengharum mulut [25].

6. Proses Ekstraksi

a. Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat

maupun cair dengan bantuan pelarut. Ekstraksi merupakan proses

pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstraksi dapat dilakukan

dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan

pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran

[29].

Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen

kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan

pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut,

perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian

berdifusi masuk ke dalam pelarut [30].

b. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan adalah biji dan buah kapulaga sabrang.

Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, gelas beker, botol

flakon, botol gelap, tabung efendorf, gelas ukur, cawan petri, pipet

tetes, pipet ukur, labu didih, labu erlenmeyer, gelas benda, gelas

penutup, jarum ose, jarum preparat, pinset, pisau, mikropipet, tip,

mikroskop, blender elektrik, pemanas, bunsen, magnetic stirer,

inkubator, autoklaf, vortex mixer, colony counter, oven, kamera foto,

(21)

14

alat kromatografi gas (Hewlett Pacard5890 Series II, USA),

seperangkat alat GC-MS (Shimadzu QP-5000, Jepang) [30].

c. Cara Pembuatan

1) Pembuatan serbuk buah kapulaga

Buah kapulaga segar yang cukup umur dicuci bersih, dan

dikeringkan di bawah sinar matahari tidak langsung dengan

ditutup kain selama 3 hari. Buah diblender menjadi serbuk dan

disimpan dalam wadah tertutup untuk mengurangi penguapan

minyak atsiri. Serbuk akan digunakan untuk distilasi minyak atsiri

dan pembuatan ekstrak kasar [31, 32].

2) Pembuatan serbuk biji dan buah kapulaga

Buah utuh dan buah yang telah dikeringkan dikupas kulitnya

sehingga diperoleh biji. Biji kemudian diblender secara terpisah

menjadi serbuk dan disimpan dalam wadah tertutup untuk

mengurangi penguapan minyak atsiri. Serbuk akan digunakan

untuk distilasi minyak atsiri dan pembuatan ekstrak kasar [31,

32].

3) Pembuatan ekstrak kasar

Serbuk dari biji dan buah kapulaga masing-masing dilarutkan

dalam metanol (50 g bahan/50 ml metanol), dikocok, dan

dibiarkan selama 24 jam. Ekstrak kasar kemudian disaring dan

(22)

METODE PENULISAN

A. Metode Penulisan

Jenis penulisan karya tulis ini adalah jenis tulisan deskriptif analitik, dimana

penulis menggambarkan serta menganalisa kandungan dalam kapulaga yang

dapat dimanfaatkan sebagai ekspektoran. Karya tulis ini menggunakan

analisis data secara induktif yang menyangkut empat komponen, yaitu:

a. Pengumpulan Data dan Informasi

Jenis data yang diperoleh berupa data sekunder yang bersifat kualitatif

maupun kuantitatif dengan bersumber dari berbagai referensi atau

literatur yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas. Kriteria

inklusi yang digunakan adalah artikel, jurnal, buku, serta hasil penelitian

atau pemaparan para ahli, sedangkan kriteria eksklusi adalah artikel yang

berupa opini tanpa menyertakan nama penulis. Data yang dikumpulkan

adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yang digunakan

yaitu data berupa kata-kata dan gambar. Data kuantitatif yang digunakan

berupa angka kejadian penyakit (insidensi) dan kandungan gizi yang

terdapat pada kapulaga. Data diperoleh melalui internet, jurnal ilmiah,

buku ajar, dan berbagai sumber terpercaya dengan kata kunci: kapulaga

(Elettaria cardamomum), asthma, dan erupsi gunung berapi.

b. Pengolahan Data dan Informasi

Pengolahan data dalam karya ilmiah ini menggunakan reduksi data yaitu

memilih data-data yang penting, membuat kategori, membuang yang

tidak dipergunakan, menginterpretasi, menyimpulkan, dan

menggabungkan menjadi satu kesatuan. Penulisan karya ilmiah ini

dengan metode studi pustaka yang didasarkan atas hasil studi terhadap

berbagai literatur yang telah teruji validitasnya, berhubungan satu sama

lain, relevan dengan kajian tulisan, serta mendukung uraian atau analisis

(23)

16

c. Analisis dan Sintesis

Setelah data yang diperlukan terkumpul, dilakukan penganalisisan data

dengan menyusun secara sistematis dan logis. Pemecahan masalahnya

dengan mengadakan studi silang antara datadata yang terkumpul

didasarkan dengan metode deskriptif dan analisis antara data terkumpul.

Metode dasar yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini yaitu

metode eksposisi yang merupakan pemaparan dari suatu mekanisme,

dengan tulisan yang bersifat deskriptif, menggambarkan tentang potensi

kapulaga sebagai ekspektoran.

d. Penulisan Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka pada gagasan tertulis ini mengikuti sistematika

yang baku berdasarkan metode Vancouver.

B. Kerangka Pemikiran

Faktor pencetus (alergen, stress, obat, infeksi)

Reaksi antigen antibodi

(24)

ANALISIS DAN SINTESIS

A. Potensi Ekstrak Sineol Kapulaga sebagai Terapi Suportif pada Asma

Senyawa alami 1,8-cineol dikenal sebagai eucalyptol yang merupakan

konstituen utama pada kapulaga yang bersifat anti-inflamasi, sehingga dapat

diterapkan untuk mengobati penyakit saluran napas atas dan bawah [33].

B. Mekanisme Cardamomum sebagai Bronkodilator dan Antiinflamasi

Efek bronkodilatasi Cardamomum sudah diuji pada tikus dimana

hasilnya Cardamomum dapat menghambat efek bronkospasm dari karbasol

seperti pada salbutamol, obat bronkodilatasi standar [34]. Ekstrak kasar

cardamom menyebabkan relaksasi karbasol dan K+ penginduksi kontraksi

seperti verapamil dan antagonis Ca2+ yang digunakan sebagai kontrol positif

[35]. Cardamomum memiliki efek bronkodilatasi melalui blokade saluran

Ca2+ [36]. Antagonis kalsium tersebut efektif digunakan dalam penanganan

asma [37]. Selain itu cardamomum memiliki efek antiinflamasi dengan

menghambat enzim cyclooxygenase-2 (COX-2). COX-2 adalah enzim yang

dapat diinduksi dalam makrofag yang bertanggung jawab untuk merangsang

produksi prostaglandin (PG) yang tinggi selama inflamasi dan respons imun.

COX-2 dapat meningkatkan respon untuk merangsang faktor pertumbuhan

menimbulkan angiogenesis [38, 39, 40].

Mekanisme peningkatkan angiogenesis dimulai melalui peningkatan

siklus proliferasi sel yang memicu peningkatan proses desak antar sel. Proses

desak antar sel yang meningkat akan memicu pengeluaran phospholipase A2

dan memacu pengeluaran asam arakhidonat. Selanjutnya, asam arakhidonat

dipengaruhi oleh COX-2 (Cyclooxigenase-2) untuk diubah menjadi

prostaglandin yang akan menyebabkan sekresi angiopoitin 2. Hal ini

(25)

18

C. Perbandingan Efektivitas Cardamomum dengan Obat Bronkodilator Lain

Ekstrak kasar cardamomum mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,

saponin, sterol, dan tannin. Dalam penelitiannya Khan dkk, menggunakan

ekstrak cardamomum dengan dosis 10, 30, dan 100 mg/kg didapatkan efek

bronkodilatasi yang lebih baik dalam menghambat bronkospasme yang

diinduksi oleh carbechol dan kalium, dibandingkankan dengan salbutamol,

obat standar dengan dosis 0,3 mg/kg (gambar 6). Daya hambat cardamomum

terhadap carbachol dapat dilihat pada gambar 7 [36].

Gambar 6. Efek Menghambat Karbasol dari Ekstrak Kasar Cardamom [36]

Sumber: Bangladesh J Pharmacol (2011)

Gambar 7. Perbandingan Ekstrak Kasar Cardamom Dosis 10, 20, 100 dan 0,3

mg/kg dari Salbutamol dalam Menghambat Karbasol pada Tikus [36]

(26)

D. Cara Pemanfaatan Cardamomum di Masyarakat Luas

Dewasa ini masyarakat luas mulai memilih pengobatan herbal yang

dirasa mempunyai efek samping yang lebih rendah dibandingakan dengan

terapi dengan bahan-bahan kimia. Terapi suportif dengan kapulaga

diharapkan mampu menurunkan angka kejadian asma yang terjadi pada

orang-orang yang tinggal di lereng gunung berapi terlebih lagi saat pasca

erupsi. Peningkatan kejadian asma pasca erupsi dikarenakan debu-debu

vulkanik yang timbul saat letusan gunung berapi berterbangan dan dapat

masuk ke saluran pernafasan, sehingga memicu terjadinya peradangan yang

berujung pada asma [42].

Oleh karena itu penulis mengenalkan ekstrak sineol pada kapulaga

sebagai ekspektoran dan antiinflamasi yang dapat mengurangi risiko

terjadinya asma tersebut. Selama ini kapulaga dikenal sebagai salah satu jenis

rempah-rempah yang bermanfaat sebagai bumbu dapur dengan berbagai

manfaat antara lain baik untuk kesehatan perut, kesehatan jantung, dan dapat

meredakan batuk. Pada karya tulis ini penulis mengolah kapulaga menjadi

suatu ekstrak yang dapat dimanfaatkan untuk terapi suportif dengan cara

(27)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kandungan sineol dalam ekstrak buah kapulaga bersifat ekspektoran dan

antiinflamasi.

2. Kandungan sineol dalam ekstrak buah kapulaga dapat dijadikan suatu

terapi preventif terhadap terjadinya asma bagi para penduduk lereng

gunung berapi.

3. Kandungan sineol dalam ekstrak buah kapulaga dapat dijadikan suatu

terapi suportif bagi para penderita asma pasca erupsi gunung berapi.

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi sineol dalam

kapulaga sabrang sebagai modalitas terapi penderita asma.

2. Perlu dilakukan penelitian mengenai dosis efektif dan seberapa besar

efikasi ekstrak sineol kapulaga sebagai modalitas terapi penderita asma.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek samping yang

(28)

1. Bappenas. Negeri Cincin Api: Anugerah dan Bencana. [Online]. 2007 [sitasi

2014] Didapat dari: URL: http//www.bappenas/go.id/

2. Kementerian ESDM Badan Geologi. Peningkatan status G. Sangeang dari

WASPADA menjadi SIAGA. [Online]. 2013 [sitasi 2014] Didapat dari:

URL: http://www.vsi.esdm.go.id/

3. Kurniawan H. Gunung Sangeang meletus, sebaran dampak sampai ke

Australia. [Online]. 2014 [sitasi 2014] Didapat dari: URL:

http://www.mediacenter.or.id/reports/view/755#.U5vv6ihq_iM

4. Van den Berg B, Grievink L, Gutschmidt K, et al. The public health

dimension of disasters-health outcome assessment of disasters. Prehospital

Disaster Med (23). 2008. pp. 55-59.

5. Gudmundsson G. Respiratory health effects of volcanic ash with special

reference to Iceland. A review. Clin Respir J (5). 2011. pp. 2-9.

6. Heru. Asthma symptoms improvement in moderate persistent asthma patients

with gastroesophageal reflux disease (GERD): The role of proton-pump

Inhibitor. Med J Indones (17). 2008. pp: 169-174.

7. Basso et al. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma di Indonesia. 2005.

8. Sonal Singh, Aman V. Amin, Yoon K. Loke. Long-term Use of Inhaled

Corticosteroids and the Risk of Pneumonia in Asthma. Arch Intern Med 169

(3). 2009. pp. 219-229 .

9. Radji M. Peranan bioteknologi dan mikroba endofit dalam pengembangan

obat herbal. Jurnal Ilmu Kefarmasian 2 (3). 2005. pp. 113-126.

10. Depkes RI. Tanaman Obat Keluarga. [Online]. 2008 [sitasi 2014]. Didapat

dari: URL:

http://www.depkes.go.id/downloads/tanaman%20obat%20keluarga.pdf

11. Suratman E, Djauhariya, dan Sudiarto. Plasma nutfah kapulaga. Buletin

(29)

22

12. Fachriyah E. dan Sumardi. Identifikasi minyak atsiri biji kapulaga

(Amomum cardamomum). Jurnal Sains dan Matematika 15 (2). 2007. pp:

83-87.

13. Ilha Das. Khasiat dan Manfaat Adas. 2011.

14. WHO. Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan

kesehatan. [Online]. 2007 [sitasi 2014]. Didapat dari: URL:

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/69707/14/WHO_CDS_EPR_2007.6_

ind.pdf

15. National Heart, Lung, and Blood Institute. Asthma diagnosis and

management Giudelines. 2007.

16. UPI. Epidemiologi asma. [Online]. 2010 [sitasi 2014]. Didapat dari: URL:

forum.upi.edu.

17. Michael J Morris. Asthma. American Association for Respiratory Care,

American College of Chest Physicians, American College of Physicians, and

Association of Military Surgeons of the US. 2014.

18. GSAMP. Asthma treatment. Asthma symptoms and severity. Recommended

guidelines for determination of asthma severity based on clinical symptoms,

exacerbations, and measurements of airway function. 2002.

19. Eleanor Bull dan David Price. Asthma Human. CSF Medical

Communication. 2005.

20. Redaksi Flora. Terapi herba, buah, sayuran : Flu burung dan demam berdarah

2. Jakarta: PT. Duta Prima; 2005. p. 128.

21. Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan Badan Penyuluhan Dan

Pengembangan Sumber Daya Manusia Kehutanan Kementerian Kehutanan.

Kapulaga (Amomum cardomomum). [Online]. 2012 [sitasi 2014 Juni 1].

URL:

http://bp2sdmk.dephut.go.id/pusluh/attachments/article/190/LEAFLET-KAPULAGA.pdf

22. Wardini TH dan A. Thomas. Elettaria cardamomum (L.) Maton. Bogor:

(30)

23. Syukur C dan Hernani. Budidaya tanaman obat komersial. Jakarta: Penebar

Swadaya; 2001.

24. Asha Acharya, Ila Das, Sushmita Singh, dan Tapas Saha. Chemopreventive

properties of indole-3-carbinol, diindolylmethane and other constituents

of cardamom against carcinogenesis. Recent Patents on Food, Nutrition, &

Agriculture Journal (2). 2010. pp. 166-177

25. Bioactiva. Kapulaga: Ciri khas dan manfaatnya. [Online]. 2011 [sitasi 2014

Mei 29]. URL: http://www.bioactiva.co.id

26. Budi HS. Kapulaga. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 1988. pp. 11-13.

27. Tjitrosoepomo G. Taksonomi tumbuhan obat-obatan. Yogyakarta:

Gajahmada University Press; 2005. p. 447.

28. CV Agri Jaya. Kapulaga jenis sabrang. [Online]. 2013 [sitasi 2014]. Didapat

dari: URL: http://cvagrijaya.com/sejarah-kapulaga/kapulaga-jenis-sabrang/

29. Suyitno. Petunjuk laboratorium rekayasa pangan. Pengembangan Pusat

Fasilitas Bersama AntarUniversitas XVII. PAU Pangan dan Gizi.

Yogyakarta: UGM; 1989.

30. Harborne JB. Metode fitokimia: Penuntun cara modern menganalisa

tumbuhan. Bandung: ITB; 1996.

31. Setyawan AD. Status taksonomi genus alpinia berdasarkan sifat-sifat

morfologi, anatomi, dan kandungan kimia minyak atsiri. BioSmart1; 1999.

pp. 31-40.

32. Supriadi, C. Winarni, dan Hernani. Potensi daya antibakteri beberapa

tanaman rempah dan obat terhadap isolat Ralstonia solanacearumasal jahe.

Hayati 6 (2). 1999. pp. 43-46.

33. Juergens U et al. Anti-inflammatory activity of 1,8-cineole (eucalyptol) in

bronchial asthma. Eur J Med Res 97. 2008. pp. 250–256.

34. Barnes PJ. Drugs for asthma. Br J Pharmacol (147). 2006. pp. S297-S303.

35. Fleckenstein A. Specific pharmacology of calcium in myocardium, cardiac

pacemakers and vascular smooth muscle. Annu Rev Pharmacol Toxicol

(31)

24

36. Arif-ullah Khan, Qaiser JK, dan Anwarul HG. Pharmalogical basis for the medicinal

use of cardamom in asthma. Bangladesh J Pharmacol (6). 2011. pp. 34-37.

37. Ann Mary T, Harman Eloise, Chesrown Sarah, Hendeles Leslie. Efficacy of

calcium channel blockers as maintenance therapy for asthma. British Journal

Pharmacol, 2001;53, 243-249

38. Hill RP dan Tannock IF. Introduction cancer biology. In Tannock IF, Hill RP

(eds): The basic science of oncology third edition. New York: McGraw-Hill

Health Professions Division. 1998. pp. 1–5

39. Gallo OG, Masini EM, Bianchi S, Bruschini L, Paglierani M, dan Franchi A.

Prognostic significance of prognostic significance of cycloocygenase-2

pathway and angiogenesis in head and neck squamous cell carcinoma. Human

Path (33). 2002. pp. 708714.

40. Kirkpatrick K dan Ogunkolade W. The mRNA expression of

cyclo-oxygenase-2 (COX-2) and vascular endothelial growth factor (VEGF) in

human breast cancer. 2002.

41. Chao DT, Korsmeyer SJ. Bcl-2 family regulators of cell death. Ann Rev.

Immunology (16). 1998. pp. 393419.

(32)

1. Ketua

a. Nama Lengkap : Lutfir Rahman Taris

b. NIM/Prodi/Angkatan : G0013142/ Pend. Dokter/2013

c. Tempat Tanggal Lahir : Jember, 10 Maret 1995

d. No. HP/Email : 085655860310/[email protected]

e. Alamat : Gg. Antariksa 29 RT 3/17, Ngoresan, Jebres

f. Karya Ilmiah :

1) Silver Nanoparticles (Ag NPs) 120 nm, Solusi Permasalahan Multi

Drug Resistant (MDR) pada Terapi Infeksi Neisseria gonorrheae

2) Micro-Lag: Microencapsulation of Lactobacillus gasseri BNR17 as new

biotherapeutic intervention for antiobesity

g. Penghargaan Ilmiah :

-2. Anggota 1

a. Nama Lengkap : Aninditya Verinda Putrinadia

b. NIM/Prodi/Angkatan : G0013030/ Pend. Dokter/2013

c. Tempat Tanggal Lahir: Kudus, 21 Mei 1996

d. No. HP/Email : 085647444488/[email protected]

e. Alamat : Gg. Cahaya V Ngoresan 04/22, Jebres

f. Karya Ilmiah :

1) Pemanfaatan Tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum) untuk

Mengatasi HIV/AIDS Menuju Indonesia Sehat Tahun 2030

2) Pemanfaatan Beras Hitam Bernutrisi Tinggi Sebagai Detoksifikan

Penyakit

3) Pemberdayaan Ekonomi Anak Jalanan melalui Kerjasama ILP2MI dan

Kementerian Sosial

4) Eating Behaviour of Street Food as Risk Factor of Typhoid Fever in

(33)

5) ROTAKUMA SEDASI HUSEKA (Roti Tawar Kulit Manggis Selai

Daun Sirsak Penghambat Umur Sel Kanker)

6) Pengembangan Potensi Lectin dan Xanthone dari Bahan Herbal sebagai

Terapi Ajuvan pada Infeksi HIV

7) Controlling Leptin, Ghrelin, and PYY Hormones by Consuming High

Protein during Breakfast to Prevent the Risk of Obesity

8) Potensi Terapi Molekuler Berbasis CPT1A dengan Vektor SIN

Lentivirus sebagai Terapi Obesitas

g. Penghargaan Ilmiah :

1) Finalis 10 Besar Scientific Paper IMSTC 2014

2) Juara II Scientific Poster IMSTC 2014

3) Finalis 10 Besar LKTI Agritech Exhibition UNHAS 2014

4) Juara II Scientific Paper AMSC Thailand 2014

5) Semi Finalis Review Article INAMSC 2014

6) Finalis 10 Besar LKTI Medjonson UMY 2014

3. Anggota 2

a. Nama Lengkap : Hepy Hardiyanti Kusumaningtyas

b. NIM/Prodi/Angkatan : G0013112/ Pend. Dokter/2013

c. Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 13 September 1995

d. No. HP/Email : 085728065064/[email protected]

e. Alamat : Mertoudan RT 02/09 Mojosongo

f. Karya Ilmiah :

1) Pemanfaatan Nugget Bunga Turi sebagai Upaya untuk Mewujudkan

Kedaulatan Pangan dengan Mengoptimalkan Sumber Pangan Lokal

2) Potensi Pura Mangkunegara sebagai Cagar Budaya Menurut Remaja

Kota Surakarta

3) Pemanfaatan Moringa oliefera sebagai Alat Kontrasepsi Alami

4) Penghargaan Ilmiah :

1) Juara II LKTI Nasional Tingkat SMA/SMK Universitas

Gambar

Gambar 1. Bronkus pada Penderita Asma
Tabel 1. Klasifikasi berdasarkaan Manifestasi Klinis sebelum Terapi [18]
Gambar 2. Patogenesis Asma [19]
Gambar 3. Tanaman Kapulaga [22]
+5

Referensi

Dokumen terkait

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH1. Urusan Pemerintahan

In 2013, the International Civil Aviation Organization (ICAO), the UN body responsible for setting standards for international lights, pledged to cap aviation greenhouse gas

PENERAPAN PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE SCRIPT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SEKOLAH DASAR Universitas

[r]

The anatomy and diameter of the ostium, the status of the mucous membrane of the frontal sinus and recess, and the nature of the pathology may have an impact on the outcome of

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil analisi dapat dikemukakan dalam penelitian ini: (1)Terdapat pengaruh yang signifikan dari Efikasi Diri terhadap Hasil Belajar

Bangsa Indonesia adalah sebagai asal dari nilai-nilai Pancasila, sehingga Pancasila itu pada hakikatnya nilai-nilai yang merupakan unsur-unsur Pancasila digali

 Bank Rakyat Indonesia dan Bank Expor Impor Bank ini berasal dari De Algemene Volkscrediet Bank, kemudian di lebur setelah menjadi bank tunggal dengan nama Bank Nasional