• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOP+SUPERVISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOP+SUPERVISI"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

SOP SUPERVISI – 2012 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan SOP (Standard Operation and Procedure) Supervisi ini adalah agar terdapat suatu acuan berupa pedoman atau panduan yang berguna bagi pihak-pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pekerjaan supervisi pembangunan konstruksi SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) yang berada dalam domain pembinaan teknis oleh Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum.

Tujuannya ialah untuk mewujudkan suatu pedoman sistem pengawasan dan digunakan untuk menciptakan keseragaman operasional, yang pada akhirnya akan tercapai suatu sistem pengawasan yang terpadu, agar hasil pembangunan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan berhasil guna.

Pedoman ini dibuat untuk membantu Team Leader, Site Engineer dan Site Inspector (Pengawas Lapangan), dengan informasi mengenai uraian tugas (job description) dari masing-masing pihak, berikut tata cara pelaporan serta berbagai informasi teknis lainnya secara luas.

1.2. Pengertian Supervisi

Supervisi adalah usaha untuk mengendalikan suatu pekerjaan dari suatu perencanaan agar dapat dicapai suatu hasil yang sesuai, baik dari aspek kualitas, waktu dan pembiayaannya. Azas Pengawasan :

Suatu tindakan mengawasi, mendeteksi, membimbing dan mengarahkan kepada diri sendiri, orang lain maupun kelompok lain, tujuannya agar kebijaksanaan maupun rencana pekerjaan dapat diselenggarakan dengan efisien dan memenuhi kualitas, kuantitas serta ketepatan waktu guna menunjang kepentingan proyek, para pelaksana maupun pengawas itu sendiri. Sasaran :

a. Pencapaian tujuan pekerjaan secara kualitatif, kuantitatif serta waktu yang tepat. b. Pembinaan disiplin kerja untuk menumbuhkan dedikasi terhadap maksud dan tujuan

kerja dan segala aspeknya.

c. Mendokumentasikan hasil pengawasan dan pengamatan proyek, yang pada gilirannya dapat dikembangkan dan diolah untuk pengembangan ilmu pengetahuan sehingga lebih bermanfaat untuk mendayagunakan sumber daya yang ada.

1.3. Peranan Pengawas dalam Manajemen

Team Leader, Site Engineer dan Site Inspector (Pengawas Lapangan) mempunyai tugas yang sangat penting dalam suatu proyek. Mereka harus memastikan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan desain, yang ditunjukkan dalam gambar, serta dipersyaratkan dalam kontrak.

(2)

SOP SUPERVISI – 2012 2

Untuk mengawasi suatu pekerjaan, pengawas lapangan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang suatu pekerjaan yang diawasi, sehingga mampu mengetahui dan membedakan mana pekerjaan yang benar dan mana pekerjaan yang dikerjakan dengan tidak benar.

Pekerjaan yang tidak dikerjakan dengan baik akan menimbulkan bermacam kerusakan, misalnya: pipa akan cepat karatan bahkan mungkin akan pecah/meledak, bila tidak diperhatikan cara pemasangannya, permukaan jalan akan menjadi tidak rata atau sama sekali rusak bila timbunan di atas pipa tidak dipadatkan dengan baik dan benar atau dipadatkan dibawah standar, dan sebagainya.

Hampir sepanjang waktu pelaksanaan, yang berada dilapangan adalah Site Inspector (Pengawas Lapangan), sedangkan Site Engineer ke lapangan secara berkala saja. Karena itu, bila pengawas lapangan mendapati suatu pekerjaan yang tidak dikerjakan sebagaimana mestinya, dia harus memerintahkan kontraktor untuk memperbaikinya. Bila Kontraktor tidak mentaati perintah itu, maka pengawas lapangan harus melaporkan hal ini kepada Site Engineer yang akan menentukan tindakan selanjutnya. Hal ini menegaskan agar Pengawas Lapangan dan Site Engineer harus mempunyai banyak inisiatif dalam mengawasi suatu pekerjaan.

1.4. Acuan Normatif

Landasan hukum yang memayungi kegiatan pelaksanaan dan pengawasan pembangunan konstruksi ini antara lain:

 Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahana Daerah;

 Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

 Undang-undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

 Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;

 Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

 Permen PU No. 07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi;

 Permen PU No.18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM;

 PermenPUNo. 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen

Pekerjaan Umum;

 Permen PU No. 20/PRT/M/2007 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan SPAM;

 Permen PU No. 01/PRT/M/2010 tentang SPAM Bukan Jaringan Perpipaan;

 SNI 15-2530-1991 tentang Metode Pengujian Kehalusan Semen Portland;

 SNI 15-2531-1991 tentang Metode Pengujian Berat Jenis Semen Portland;

 SNI 15-2049-1994 tentang Semen Portland;

 SNI 03-6825-2002 tentang Metode Pengujian Kekuatan Tekan Mortar Semen Portland untuk Pekerjaan Sipil;

 SNI 03-6826-2002 tentang Metode Pengujian Konsistensi Normal Semen Portland dengan Alat Vicat untuk Pekerjaan Sipil;

 SNI 03-6827-2002 tentang Metode Pengujian Waktu Ikat Awal Semen Portland dengan Menggunakan Alat Vicat untuk Pekerjaan Sipil;

 SNI 03-1750-1990 tentang mutu dan cara uji agregat beton;

 SNI 03-2417-1991 tentang metode pengujian keausan agregat dengan mesin Abrani Los Angeles;

(3)

SOP SUPERVISI – 2012 3  SNI 03-6861.2-2002 tentang Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan Bangunan dari

Besi/Baja);

 SNI 03-1972-1990 tentang metode pengujian beton;

 SNI 03-2847-1992 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung;

 SNI 07-2529-1991 tentang metode pengujian kuat tarik baja beton;

 RSNI T-17-2004 tentang Standar Tata Cara Penanganan, Pemasangan dan Pengujian Pipa PVC untuk Penyediaan Air Minum;

 SNI 06-2550-1991 tentang metode pengujian ketebalan dinding pipa PVC untuk air minum;

 SNI 06-2551-1991 tentang metode pengujian bentuk dan sifat tampak pipa PVC untuk air minum;

 SNI 06-2552-1991 tentang metode pengambilan contoh uji pipa PVC untuk air minum;

 SNI 06-2553-1991 tentang metode pengujian perubahan panjang pipa PVC untuk air minum dengan uji tungku;

 SNI 06-2554-1991 tentang metode pengujian ketahanan pipa PVC untuk air minum terhadap metilen khlorida;

 SNI 06-2555-1991 tentang metode pengujian kadar PVC pada pipa PVC untuk air minum dengan THF;

 SNI 06-2556-1991 tentang metode pengujian diameter luar pipa PVC untuk air minum dengan pita meter;

 SNI 06-2548-1991 tentang metode Pengujian Diameter Luar Pipa PVC untuk Air Minum dengan Jangka Sorong;

 SNI 06-2549-1991 tentang metode pengujian kekuatan pipa PVC untuk Air Minum terhadap tekanan hidrostatik;

 SNI 03-6419-2000 tentang Spesifikasi Pipa PVC bertekanan berdiameter 110-315 mm untuk Air Bersih;

 SK SNI S-20-1990-2003 tentang Spesifikasi Pipa PVC untuk Air Minum;

 SNI-0084-1987 tentang fitting sambungan untuk pipa PVC

 SNI 06-4829-2005 tentang Pipa Poli Etilena Untuk Air Minum;

 SNI 19-6778-2002 tentang Metode Pengujian Sambungan Mekanik Pipa Poli Etilena (PE) pada Tekanan Internal Rendah;

 SNI 19-6779-2002 tentang Metode Pengujian Perubahan Panjang Pipa Poli Etilena (PE);

 SNI 19-6780-2002 tentang Metode Penentuan Densitas Referensi Poli Etilena (PE) Hitam dan PE tidak berwarna pada Pipa PE dan Sambungan;

 SNI 19-6781-2002 tentang Metode Pengujian Kehilangan Tekanan pada Sistem Sambungan Mekanik Pipa Polietilena (PE);

 SNI 19-6778-2002 tentang Metode pengujian tekanan internal rendah sambungan mekanik pipa poli Etilena (PE);

 SNI 06-4821-1998 tentang Metode Pengujian Dimensi Pipa Poli Etilena (PE) Untuk Air Minum;

 SNI 07-0068-1987 tentang Pipa Baja untuk konstruksi umum, mutu dan cara uji;

 SNI 0039-1987 tentang Pipa Baja Bergalvanis;

 SNI 07-0242-1989 tentang Pipa Baja tanpa kambuh, mutu dan cara uji;

 SNI 07-0822-1989 tentang Baja Karbon strip canai panas untuk pipa;

 SNI 07-1338-1989 tentang Baja karbon tempa;

 SNI 07-0949-1991 tentang Pipa Baja coal-tar enamel lapis lindung bagian luar;

 SNI 07-1769-1990 tentang penyambung pipa air minum bertekanan dari besi yang kelabu;

(4)

SOP SUPERVISI – 2012 4  SNI 07-2255-1991 tentang Pipa Baja saluran air;

 SNI 07-3080-1991 tentang pipa spigot dan socket dari besi tuang modular untuk jaringan pipa bertekanan, bagian 2;

 SNI 07- 3078-1992 tentang flensa logam – flensa besi tuang;

 SNI 07-3073-1992 tentang penyambung pipa baja tanpa pasuan berulir;

 SNI 03-6763-2002 tentang Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural yang Dibentuk dalam Keadaan Panas dengan Dilas Tanpa Kampuh;

 SNI 07-6402-2000 tentang Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural Berbentuk Bulat dan Lainnya yang Dibentuk dalam Keadaan Dingin dengan Dilas Tanpa Kampuh;

 SNI 03-2408-1991 tentang Tata Cara Pengecatan Logam;

 SNI 07-2195-1991 tentang permukaan pipa flens, dimensi;

 SNI 07-2196-1991 tentang Flensa pipa, toleransi dimensi;

 SNI 07-6398-2000 tentang tata cara pelapisan epoksi cair untuk bagian dalam dan luar pada pelapisan cair dari baja;

 SNI 07-3360-1994 tentang penyambung pipa baja dan baja paduan dengan las tumpu;

 SNI 04-0225-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000);

 SII 2527-90 (Water Supply Steel Pipe);

 ISO 6964-1986 (Polyolefin pipes and fittings – Determination ofcarbon black content by calcinations pyrolysis – Test method andbasic spesification);

 ISO 11420:1996 (Method for the assesment of the degree of carbon black dispersion in polyolefin pipes, fittings and compound’s);

 ISO 6259/1985 (Pipe for polyethylene – Part 1: Determination of tensile properties);

 ISO 3126:1974 (Plastic pipe – measurement of dimension);

 ISO 1167:1996 (Thermoplastic pipes for the conveyance of fluids –resistance to internal pressure – Test Method);

 ISO 1133:1991 (Plastic – Determination of the melt mass – flow rate (MFR) and melt volume flow rate (MVR) of thermoplastics);

 ISO 2505 -1-1994 (Thermoplastics pipe – Longitudinal reversion –part 1 : determination methods);

 ISO 3607:19977/E (Tolerances on outside diameters and wall thickenesses);

 ISO 7/1 (Pipe Threads Where Pressuretight Joins are Made on The Threads);

 ISO 1459 (Metalic croating – Protection Against Corrosion by Hot Dip Galvanzing Guilding Principles);

 ISO 1461 (Metalic Coating Hot-Dip Galvanized Coating on Fabricated Ferrous Products Requirments);

 ISO 4427 :1996 (Polyethylene pipes for water supply spesifications);

 AS / NZS 4130:97 (Polyethylene pipes for pressure aplication);

 ASTM D 3350 – 1999 (Standard spesification polyethylene plasticspipe and fittings material);

 ASTM A 283F (Flow and Intermediate tensile Strenght Carbon Steel Plates, Shapes and Bars);

 ASTM A 570 (Steel, Sheet and Strip, Carbon, Hot Rolled Structural Quality);

 ASTM Designation A 126 (Specification for Grey Iron Casting for Valves, Flanges and Pipe Fittings);  ASTM 536;  ASTM C-150;  ASTM-C 33;  ASTM C-131-55;  ASTM C 143

(5)

SOP SUPERVISI – 2012 5  AWWA C 203 (Coal-Tar Protective Coatings and Linings for Steel Water Pipelines Enamel

and Tape Hot Applied);

 AWWA C 205 (Cement Mortar Protective Lining and Coating for Steel Water Pipe 4 Inches and Larger Shop Applied);

 AWWA C 208 (Dimensions for Steel Water Pipe Fittings);

 AWWA C 210 (Liquid Epoxy Coating System for the Interior and Exterior Steel Water Pipe);

 AWWA C 500 (Gate Valve for Water and Other Liquids);

 AWWA Manual M11 (Steel Pipe Design and Installation);

 JIS 6762 – 1998 (Double wall polyethylene pipes for water supply);

 JIS G 3101 (Rolled Steel for General Structure);

 JIS G 3452 (Carbon Steel Pipes for Ordinary Piping);

 JIS G 3457 (Arc Welded Carbon Steel Pipe);

 JIS B 2311 (Steel Butt-Welding Pipe Fitting for Ordinary Use);

 JIS G 3451 (Fitting of Coating Steel Pipes for Water Service);

 JIS G 550 (Spheroidal Graphite Iron Castings);

 JIS G 5702 (Blackheart Malleable Iron Castings);

 JIS G 3454 (Carbon Steel Pipes for Pressure Service);

 JIS K 6353 (Rubber Goods Pipes for Water Works.);

 JIS standar K 6741/K 6742;  JIS-B2213;  JIS B 2011;  JIS G 3451;  ISO 2531;  BS 4772;  BS 1387-67.

(6)

SOP SUPERVISI – 2012 6

BAB II

ORGANISASI KONSULTAN SUPERVISI

2.1 Struktur Organisasi

Struktur Organisasi internal dalam manajemen proyek (supervisi) ini digambarkan pada skema dibawah ini

Gambar 1: Contoh Struktur Organisasi Tim Konsultan Supervisi-Model 1

Gambar 2: Contoh Struktur Organisasi Tim Konsultan Supervisi-Model 2

Uraian tugas dan tanggung jawab (job description) masing-masing posisi, disajikan pada butir 2.2 dibawah ini.

(7)

SOP SUPERVISI – 2012 7 2.2 Uraian Tugas (Job Description)

2.2.1 Team Leader

 Memberi bimbingan dan instruksi kepada Site Engineer, Site Inspector (pengawas Lapangan).

 Bertanggung jawab terhadap aspek teknis pekerjaan yang dilaksanakan, dengan memenuhi kualitas yang dipersyaratkan, ketepatan waktu dan anggaran biaya yang tersedia.

 Bertanggung jawab dalam ketepatan waktu untuk menyampaikan laporan bulanan (monthly progress report kepada Pemberi Tugas/ Owner dan Direktur Perusahaan.

 Berperan sebagai perwakilan Perusahaan dalam berhubungan/berkoordinasi dengan Pemberi Tugas/ Owner, serta melaporkan hasil koordinasi tersebut kepada Direktur Perusahaan.

 Bertanggung jawab dalam hal perubahan desain apabila diperlukan.

 Menciptakan format-format standar untuk kegiatan pengawasan di lapangan.

 Menjawab pertanyaan setelah menerima pertanyaan dari Owner secara tertulis ataupun lisan atas sesuatu hal yang menyangkut pekerjaan dan tembusannya disampaikan kepada Direktur Perusahaan.

2.2.2 Site Engineer

 Bertanggung jawab terhadap pengawasan pekerjaan serta kemajuan pelaksanaan pekerjaan.

 Memberi bimbingan dan instruksi kepada pengawas lapangan.

 Memastikan agar pekerjaan sesuai dengan gambar dan spesifikasi.

 Memantau dan menentukan kemajuan pelaksanaan pekerjaan yang sebenarnya.

 Melaporkan kemajuan pekerjaan setiap minggu dan setiap bulan kepada Team Leader.

 Mengadakan rapat koordinasi lapangan dengan kontraktor untuk membahas antara lain kemajuan pelaksanaan pekerjaan.

 Memeriksa apakah semua perubahan dan penyimpangan dari perencanaan, telah dicatat serta dicantumkan pada gambar pelaksanaan.

 Memeriksa Laporan Mingguan yang diberikan oleh pengawas lapangan.

 Memeriksa perhitungan kuantitas/volume pekerjaan dari kontraktor.

 Bila perlu mengeluarkan instruksi tertulis kepada kontraktor dan mengirimkan tembusannya kepada Team leader.

 Berkewajiban untuk mengadakan pertemuan/rapat koordinasi di lapangan dengan seluruh Pengawas Lapangan secara periodik dan hasilnya dilaporkan kepada Team Leader.

2.2.3 Quantity Engineer dan Quality Engineer

 Bertanggung jawab kepada Site Engineer dan berkedudukan di lokasi di mana kontraktor bekerja.

 Pengendalian terhadap mutu bahan dan pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor berdasarkan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan dalam Dokumen Kontrak.

 Mengikuti petunjuk teknis dan instruksi dari Site Engineer, serta berupaya agar Site Engineer dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan selalu mendapat informasi yang diperlukan sehubungan dengan pengendalian mutu.

 Melakukan pengawasan dan pemantauan ketat atas pengaturan personil dan peralatan laboratorium kontraktor agar pelaksanaan pekerjaan selalu didukung tersedianya tenaga dan peralatan pengendalian mutu sesuai dengan yang terdapat dalam Dokumen Kontrak.

(8)

SOP SUPERVISI – 2012 8  Melakukan pengawasan dan pemantauan atas pengaturan dan pengadaan atas

peralatan yang diperlukan.

 Melakukan pengawasan setiap hari semua kegiatan pemeriksaan mutu bahan dan pekerjaan, serta segera memberikan laporan kepada Site Engineer setiap permasalahan yang timbul sehubungan dengan pengendalian mutu bahan dan pekerjaan.

 Melakukan analisa semua hasil test, termasuk usulan komposisi campuran (Job Mix Formula), baik untuk pekerjaan aspal, soil cement, agregat dan beton, serta memberikan rekomendasi dan justifikasi teknis atas persetujuan dan penolakan usulan tersebut.

 Melakukan pengawasan atas pelaksanaan coring perkerasan jalan yang dilakukan oleh kontraktor sehingga baik jumlah serta lokasi coring dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan.

 Menyerahkan kepada Site Engineer himpunan data bulanan pengendalian mutu paling lambat tanggal 14 bulan berikutnya. Himpunan data harus mencakup semua data test laboratorium dan lapangan secara jelas dan terperinci.

 Memberi petunjuk kepada staf kontraktor, agar semua teknisi laboratorium dan staf pengendali mutu mengenal dan memahami semua prosedur dan data cara pelaksanaan test sesuai dengan yang tercantum dalam spesifikasi.

2.2.4 Site Inspector (Pengawas Lapangan)

 Memeriksa, mengawasi dan melakukan pengujian terhadap pekerjaan, material dan peralatan yang ditempatkan di lapangan, apakah sesuai dengan gambar dan spesifikasi.

 Melakukan survey yang diperlukan untuk memeriksa pekerjaan dan volume pekerjaan yang telah dilaksanakan.

 Membuat catatan/laporan harian tentang kemajuan pekerjaan dilapangan, serta selalu memberikan informasi tentang rincian pekerjaan seperti diuraikan diatas kepada Site Engineer.

 Mengharuskan kontraktor untuk melaksanakan peraturan tentang keamanan dan keselamatan kerja.

 Memantau hasil pekerjaan serta cara pelaksanaan yang dijalankan kontraktor.

 Memberi instruksi kepada kontraktor, bila cara pelaksanaan dinilai tidak benar atau membahayakan. Dalam segala hal, semua instruksi harus dicatat dalam buku harian (log

book) serta segera memberi tahu kepada Site Engineer.

 Mencatat keadaan pekerjaan serta semua perubahan dan penyimpangan dari perencanaan (pada lembar gambar Kemajuan pekerjaan).

 Menghitung kembali kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan.

 Memeriksa dan menyetujui laporan harian yang dibuat oleh kontraktor.

2.2.5 Lab Technician

 Membantu Quality engineering dalam mensurvey lokasi material yang akan digunakan dalam konstruksi terutama untuk pengerjaan pengecoran, misalnya quarry pasir atau kerikil.

 Membantu untuk memeriksakan material quarry tersebut ke laboratorium uji material untuk diuji spesifikasinya apakah sesuai dengan kriterianya.

 Membantu mengawasi pengerjaan mencetak beton precast di pabrik precast apabila beton tersebut diperlukan dalam mununjang konstruksi komponen system.

 Membantu melihat dan mengambil sample untuk job mix yang nantinya akan diperiksa di laboratorium.

 Membantu memeriksa, mengawasi dan melakukan pengujian terhadap pekerjaan, material di lapangan, apakah sudah sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak atau belum.

(9)

SOP SUPERVISI – 2012 9 2.2.6 Surveyor

 Membantu melakukan pengawasan terhadap adanya pekerjaan pengukuran ulang lokasi pekerjaan.

 Membantu melakukan pengawasan atau pengechekan terhadap bangunan yang memerlukan kedudukan/posisi yang sangat presisi.

 Membantu mendapatkan data terhadap pekerjaan tambahan yang tidak ada dalam kontrak.

 Membantu menngumpulkan data dan menghitung hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh kontraktor.

2.3 Tanggung Jawab Konsultan Supervisi

Konsultan supervisi bertanggung jawab agar kegiatan pekerjaan berlangsung dengan baik dan pelaksanaannya sesuai dengan rencana terhadap kualitas mutu, waktu yang tepat dan menggunakan biaya se-efesien mungkin. Tanggung jawab tersebut meliputi :

 Tahapan pekerjaan sesuai dengan prosedur pekerjaan yang berlaku

 Kegiatan pekerjaaan teknis sesuai dengan acuan standar/pedoman spesifikasi teknis

2.4 Kedudukan Konsultan Supervisi

Konsultan Supervisi memiliki peran yang sangat strategis dalam konteks pelaksanaan pembangunan konstruksi SPAM. Konsultan Supervisi yang ditunjuk sebagai Direksi Teknis bertugas mewakili Pengguna Jasa dalam mengawasi rangkaian tahap demi tahap pelaksanaan pembangunan konstruksi SPAM dari setiap paket kegiatan yang diawasinya. Tahap-tahap tersebut adalah:

 Review Desain dan Rapat Penjelasan (Anwijzing);  Pesiapan Lapangan;

 Pengawasan terhadap Pelaksanaan Pembangunan Konstruksi;  Commissioning Test;

Keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas konsultan supervisi dapat diukur dari:  Kualitas konstruksi;

Berkat metode pengawasan yang baik dan benar, konstruksi yang telah selesai dikerjakan oleh kontraktor, memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan kualitas konstruksi sebagaimana yang diminta dalam dokumen kontraknya kontraktor. Artinya telah tepat mutu.

 Waktu pelaksanaan pembangunan konstruksi;

Dengan pengendalian dan pengawasan yang tepat, maka penyelesaian pekerjaan pembangunan konstruksi dapat sesuai jadwal rencana, tidak mengalami keterlambatan. Artinya telah tepat waktu.

 Biaya pembangunan konstruksi;

Dengan melaksanakan pekerjaan pengawasan yang pas, maka dalam pelaksanaan paket pembangunan konstruksi SPAM tidak diperlukan adanya tambahan biaya yang berlebihan. Artinya telah tepat pembiayaannya.

Dalam gambar 3 berikut ini dapat memberikan gambaran bagan alur kedudukan Konsultan Bintek dan Konsultan Supervisi.

2.2.6 Surveyor

 Membantu melakukan pengawasan terhadap adanya pekerjaan pengukuran ulang lokasi pekerjaan.

(10)

SOP SUPERVISI – 2012 10  Membantu melakukan pengawasan atau pengechekan terhadap bangunan yang

memerlukan kedudukan/posisi yang sangat presisi.

 Membantu mendapatkan data terhadap pekerjaan tambahan yang tidak ada dalam kontrak.

 Membantu menngumpulkan data dan menghitung hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh kontraktor.

2.3 Tanggung Jawab Konsultan Supervisi

Konsultan supervisi bertanggung jawab agar kegiatan pekerjaan berlangsung dengan baik dan pelaksanaannya sesuai dengan rencana terhadap kualitas mutu, waktu yang tepat dan menggunakan biaya se-efesien mungkin. Tanggung jawab tersebut meliputi :

 Tahapan pekerjaan sesuai dengan prosedur pekerjaan yang berlaku

 Kegiatan pekerjaaan teknis sesuai dengan acuan standar/pedoman spesifikasi teknis

2.4 Kedudukan Konsultan Supervisi

Konsultan Supervisi memiliki peran yang sangat strategis dalam konteks pelaksanaan pembangunan konstruksi SPAM. Konsultan Supervisi yang ditunjuk sebagai Direksi Teknis bertugas mewakili Pengguna Jasa dalam mengawasi rangkaian tahap demi tahap pelaksanaan pembangunan konstruksi SPAM dari setiap paket kegiatan yang diawasinya. Tahap-tahap tersebut adalah:

 Review Desain dan Rapat Penjelasan (Anwijzing);  Pesiapan Lapangan;

 Pengawasan terhadap Pelaksanaan Pembangunan Konstruksi;  Commissioning Test;

Keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas konsultan supervisi dapat diukur dari:  Kualitas konstruksi;

Berkat metode pengawasan yang baik dan benar, konstruksi yang telah selesai dikerjakan oleh kontraktor, memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan kualitas konstruksi sebagaimana yang diminta dalam dokumen kontraknya kontraktor. Artinya telah tepat mutu.

 Waktu pelaksanaan pembangunan konstruksi;

Dengan pengendalian dan pengawasan yang tepat, maka penyelesaian pekerjaan pembangunan konstruksi dapat sesuai jadwal rencana, tidak mengalami keterlambatan. Artinya telah tepat waktu.

 Biaya pembangunan konstruksi;

Dengan melaksanakan pekerjaan pengawasan yang pas, maka dalam pelaksanaan paket pembangunan konstruksi SPAM tidak diperlukan adanya tambahan biaya yang berlebihan. Artinya telah tepat pembiayaannya.

Dalam gambar 3 berikut ini dapat memberikan gambaran bagan alur kedudukan Konsultan Bintek dan Konsultan Supervisi.

(11)

SOP SUPERVISI – 2012 11 KONTRAKTOR - SITE ENGINER - PELAKSANA Dit PAM DPU SATKER PKPAM/PPK - Direksi Pekerjaan - Direksi Teknis ADVISORY K. SUPERVISI - Team Leader PUSAT PROPINSI KABUPATEN LOKASI DPU - CK PDAM SKPD Kontraktual Pembinaan Verifikasi SATKER SDA Keterangan : Komando Koordinasi

BAGAN ALUR KEDUDUKAN KONSULTAN BINTEK

Gambar. 3

Asisten K. BINTEK Asisten K. BINTEK Konsultan BINTEK Konsultan BINTEK Konsultan BINTEK K. SUPERVISI - S.E - Site Inspektor

(12)

SOP SUPERVISI – 2012 12

BAB III

KOORDINASI DAN PELAPORAN

3.1

Umum

Pengawasan pelaksanaan pembangunan atau koordinasi administrasi teknis SPAM dilakukan hal-hal sebagai berikut:

3.1.1 Administrasi

a. Buat presentase kemajuan pekerjaan mingguan, bulanan,triwulan, tahunan, kemudian dibandingkan dengan perkiraan kemajuan pekerjaan yang telah dibuat sebelumnya. b. Buat revisi perkiraan kemajuan pekerjaan disesuaikan dengan pekerjaan yang telah

dapat diselesaikan sebelumnya.

c. Buat evaluasi kemajuan atau keterlambatan pelaksanaan pekerjaan.

d. Laporkan masalah-masalah yang dihadapi yang tidak dapat diselesaikan oleh pelaksana supervisi di lapangan yang dapat menyebabkan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan ke tingkat yang lebih pantas.

e. Adakan rapat evaluasi hasil pekerjaan baik dengan pelaksana pekerjaan, pemberi pekerjaan dan instansi terkait lainnya secara periodik.

f. Adakan rapat pembahasan penyelesaian masalah yang dihadapi baik di lapangan maupun yang berhubungan dengan instansi lain.

g. Untuk pekerjaan yang dananya disediakan dari bantuan Luar Negeri, pengawas harus memberi laporan tertulis mengenai kemajuan atau keterlambatan pelaksanaan pekerjaan berikut masalah yang dihadapi baik teknis maupun non teknis kepada negara pemberi bantuan.

h. Periksa, apakah as built drawing atau gambar nyata tata laksana telah sesuai dengan pekerjaan di lapangan.

3.1.2. Di lapangan

a. Awasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi SPAM agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku, yaitu untuk pekerjaan:

 bangunan penangkap air

 perlindungan dan penampung mata air

 sumur bor, sumur dangkal dan sumur dalam

 unit produksi

 unit transmisi

 unit distribusi

 unit reservoir

 jembatan-jembatan, syphon dan perlintasan-perlintasan

 bangunan penunjang

b. Awasi penyediaan bahan sesuai spesifikasi yang disyaratkan. c. Awasi tata cara pengerjaan sesuai standar yang berlaku:

 pekerjaan sipil: beton, pondasi, pasangan, kayu, besi baja

 pekerjaan perpipaan yaitu pengadaan dan pemasangan pipa baja, pipa PVC, pipa GIP, pipa DCIP

 pekerjaan elektrikal dan mekanikal

(13)

SOP SUPERVISI – 2012 13

d. Perhatikan agar kuantitas, kontinuitas dan kualitas air yang dihasilkan oleh sistem yang dibangun sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan kebutuhan masyarakat.

e. Perhatikan agar kemajuan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan estimasi yang telah dibuat sebelumnya, periksa apakah pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan detail rencana teknik.

g. Tahap menyelesaikan suatu sistem pekerjaan harus disetujui dan ditandatangani oleh pihak pelaksana dan pengawas lapangan untuk mempermudah penyelesaian administrasinya.

h. Selesaikan masalah yang dihadapi di lapangan, jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan ditempat, catat masalah tersebut dan bicarakan penyelesaiannya dengan pihak-pihak terkait yang berwenang.

i. Setiap ada keterlambaan pekerjaan dalam suatu item pekerjaan, maka harus dikejar pada kemajuan minggu berikutnya.

Pengawas perlu menyetujui hal-hal berikut ini:

a. Material yang akan disuplai oleh penyedia barang/jasa Pemborongan harus diajukan kepada pengawas untuk mendapat persetujuan.

b. Penyedia barang/jasa pemborongan harus menyerahkan detail pekerjaan termasuk detail pengelasan bersamaan dengan gambar kepada pengawas untuk mendapat persetujuan.

c. Penyedia barang/jasa pemborongan dapat melakukan perubahan perhitungan, detail, maupun gambar namun harus mengemukakan alasan dan usulan perubahannya secara tertulis.

d. Pengawas berhak untuk memerintahkan kepada penyedia barang/jasa pemborongan untuk membongkar pekerjaannya bila ternyata hasil uji tidak baik, karena kelalaian penyedia barang/jasa pemborongan. Sedangkan perubahan yang mengakibatkan penambahan biaya, akan menjadi tanggungan penyedia barang/jasa pemborongan.

3.2.

Koordinasi

3.2.1. Rapat

Koordinasi diperlukan untuk mengawal pelaksanan pekerjaan berjalan sesuai dengan yang diinginkan dimana sarananya adalah melalui kegiatan rapat dan koordinasi ini dihadiri oleh unsur-unsur yang terlibat didalamnya. Beberapa forum rapat yang perlu diselenggarakan selama proses pembangunannya antara lain :

Pre-construction meeting (PCM)

- Dilakukan setelah keluarnya Surat Perintah Mulai Kerja.

- Dihadiri oleh unsur-unsur proyek pengguna jasa, pembantu teknis pengguna jasa (konsultan supervisi) dan penyedia jasa.

- Materi rapat yang diagendakan antara lain : . lokasi proyek

. isi pekerjaan

. system pelaksanaan pekerjaan . rencana kerja

. prosedur pelaksanaan

. metoda pelaksanaan pekerjaan . penyerahan lapangan

- Hasil rapat dicatat dalam bentuk berita acara / notulen rapat yang ditandatangani oleh ketiga unsur diatas

(14)

SOP SUPERVISI – 2012 14 Rapat Mingguan / Bulanan

- pelaksanaannya dilaksanakan setiap minggu atau setiap bulan, waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan.

- dihadiri oleh ketiga unsur yang terlibat, yaitu pengguna jasa, konsultan supervisi dan penyedia jasa.

- materi rapat yang dibahas : . progress fisik yang dicapai

. Identifikasi masalah dan hambatan serta solusinya . rencana kerja / pelaksanaan minggu berikutnya

- Hasil rapat dicatat dalam notulen rapat yang ditandatangani oleh ketiga unsur diatas.

Rapat Khusus

- dilaksanakan sewaktu-waktu apabila timbul masalah yang harus segera diselesaikan - dihadiri oleh ketiga unsur proyek

- materi rapat

. masalah atau hambatan yang dihadapi . solusi pemecahan masalah yang efektive

- Hasil rapat dicatat dalam notulen rapat yang ditandatangani oleh ketiga unsur diatas.

3.2.2. Surat Menyurat

Surat menyurat dilakukan untuk sesuatu yang ingin disampaikan yang isinya bersifat resmi seperti antara lain :

 Permasalahan yang dirasa penting disampaikan kepada pihak-pihak terkait dengan proyek, yang ditembuskan kepada satker atau Dit.PAM-CK.

 Hal-hal tertentu seperti konsultan supervisi telah menegur kontraktor secara berturut-turut 2 (dua) kali dengan surat instruksi lapangan, tetapi tidak diindahkan oleh kontraktor, surat ini ditembuskan ke satker.

 Bilamana konsultan supervisi telah mengirim surat resmi sebanyak 2 (dua) kali dan tetap tidak mendapatkan tanggapan dari kontraktor, maka konsultan supervisi dapat menyetop pekerjaan tersebut dengan mengirim surat ketiga, dan segera melapor kepada satker.

3.2.3. Buku Tamu

Di kantor lapangan / direksi keet disediakan Buku Tamu yang nantinya dapat diisi oleh tamu yang datang ke lokasi proyek, dengan tujuan :

 Mendata tamu-tamu penting yang datang.

 Mengomentari terhadap kegiatan pekerjaan yang sedang berlangsung.

 Memberi masukan untuk perbaikan bila dirasa perlu oleh tamu tersebut.

 Sebagai referensi bagi direksi proyek bahwa kegiatan pekerjaan ini sudah diselenggarakan dengan baik atau tidak.

 Sebagai bahan informasi untuk melakukan perbaikan kinerja.

3.3.

Jenis Laporan

Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, diperlukan beberapa macam laporan untuk mengetahui jalannya pelaksanaan yang berlangsung.

Tujuan utama laporan adalah:

a. Mencatat fakta-fakta tentang aspek kualitas, kuantitas, harga dan waktu yang digunakan, untuk mencegah kesulitan dalam pembicaraan mengenai fakta-fakta ini di kemudian hari.

(15)

SOP SUPERVISI – 2012 15

b. Mencatat fakta-fakta tentang pelaksanaan pekerjaan untuk dapat melakukan rekonstruksi beberapa bagian pekerjaan bila diperlukan.

c. Mencatat banyaknya material, seperti beton, pipa, pasir, dan sebagainya, yang diogunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, untuk menentukan nilai akhir kontrak. d. Mencatat semua perubahan dalam pelaksanaan di atas gambar asli, untuk dapat

membuat gambar sesuai pelaksanaan (as built drawing).

Kontraktor harus membuat laporan / dokumen berikut ini, yang harus diperiksa oleh pengawas lapangan/site inspector serta disetujui oleh Site Engineer, yaitu:

 Jadwal pelaksanaan.

 Laporan harian.

 Laporan Mingguan.

 Tagihan berdasarkan kemajuan proyek.

 Laporan hasil pengujian.

Adapaun catatan-catatan berikut ini harus ditangani oleh Pengawas Lapangan (site

inspector) dengan bimbingan dari site engineer, yaitu: Buku catatan harian (log book)

 Lembat gambar pelaksanaan pekerjaan beserta perubahannya. o Site Engineer harus membuat dokumen-dokumen berikut ini:

 Kemajuan pekerjaan.

Catatan tentang keadaan sebelum pelaksanaan pekerjaan (mutual check 0% atau biasa disebut MC-0)

Perintah-perintah (instruksi) dari Team Leader

 Pengesahan/persetujuan dari laporan yang dibuat oleh kontraktor yang telah diperiksa oleh Pengawas Lapangan.

o Team Leader, berdasarkan informasi dari Site Engineer dan Site Inspector (Pengawas Lapangan) akan membuat / mengurus:

 Catatan Rapat

 Surat menyurat

 Perintah perubahan

 Catatan tentang claim dari kontraktor

Persetujuan atas laporan dari Site Engineer,

3.4

Laporan oleh Kontraktor

3.4.1 Jadwal Pelaksanaan.

Jadwal untuk pekerjaan (Time Schedule) harus dibuat oleh kontraktor, sesuai dengan waktu yang diberikan di dalam kontrak. Jadwal ini harus diperiksa oileh Site Engineer, bila diperlukan, diperbaiki, kemudian disetujui oleh Team Leader.

Site Engineer harus memeriksa apakah kemajuan pekerjaan masih sesuai dengan waktu

pelaksanaan yang telah ditetapkan. Bila terjadi ketidak sesuaian, kontraktor harus diberitahu dan diperbaiki seperlunya.

3.4.2 Laporan Harian

Laporan harian harus dibuat oleh kontraktor dan diperiksa oleh Site Inspector (Pengawas Lapangan). Proyek/Konsultan akan menyediakan format khusus laporan harian.

(16)

SOP SUPERVISI – 2012 16  Waktu kegiatan: hari, tanggal

 Aktifitas pekerjaan yang dilaksanakan pada waktu tertentu. Di dalam pelaksanaan, ini disebutkan bagian yang dikerjakan itu, untuk posisi apa; misalnya pemasangan pipa diameter 100 mm di jalan Nangka dengan panjang sekian meter. Atau pekerjaan sipil; misalnya pengecoran dinding reservoir dgn volume 30 m3 beton K-225, dan sebagainya.

 Jumlah tenaga kerja yang dilibatkan. Tenaga yang dicatat adalah tenaga yang terlibat pada waktu itu, keahlian dan jumlahnya dicatat di laporan harian ini.

 Jenis bahan yang didatangkan berikut volumenya. Semua material yang disediakan oleh kontraktor harus dicatat, termasuk barang yang disediakan oleh pemberi Tugas/Proyek juga harus dicatat di laporan harian ini.

 Peralatan yang digunakan; Hanya alat yang digunakan yang dicatat, nama jenis alat dan banyaknya alat yang dicatat.

 Kondisi cuaca pada waktu itu.

 Catatan lain: misalnya ada perubahan jalur pipa atau ada perubahan desain dicatat pada laporan harian ini.

3.4.3 Laporan Mingguan

Laporan Mingguan dibuat oleh Kontraktor dan harus diperiksa oleh Site Engineer setelah konsultasi dengan Site Inspector (Pengawas Lapangan)Proyek / Konsultan menyediakan format khusus laporan mingguan.

Di dalam laporan mingguan dicantumkan kemajuan dari semua bagian pekerjaan yaitu:

Butir-butir dari BOQ (Bill of Quantity) sesuai volume dalam kontak.

 Persentase dari jumlah nilai kontrak untuk setiap butir pekerjaan.

 Banyaknya dan persentase pelaksanaan pekerjaan dari minggu sebelumnya.

 Banyaknya dan persentase pelaksanaan dalam minggu ini.

 Banyaknya dan persentase pelaksanaan di akhir minggu ini.

3.4.4 Tagihan berdasarkan kemajuan pekerjaan.

Kemajuan pekerjaan yang ditagihkan harus dibuat oleh kontraktor dan diperiksa oleh Site

Engineer dan Administrator kontrak. Site Engineer harus memeriksa apakah kemajuan yang

ditagihkan sesuai dengan kenyataan.

Persentase dari butir-butir pekerjaan dalam tagihan, tidak boleh melebihi, tetapi dapat kurang dari kemajuan yang sesungguhnya. Untuk menentukan ini harus dikonsultasikan dengan pengawas lapangan dan di cross check dengan catatan yang dibuat pengawas lapangan.

Bila kemajuan pekerjaan terlah diperiksa, serta tagihan pada bagian ini telah dinyatakan benar, Tagihan akan diberikan kepada administrator proyek, yang selanjutnya dapat dibayarkan seperti yang diatur dalam perjanjian kontrak.

Jadi Site Engineer bertanggung jawab untuk memeriksa kuantitas dan administrator kontrak untuk memeriksa harga, perhitungan dan pengesahan berdasarkan spesifikasi kontrak. Proses penagihan bisa berbeda berdasarkan instansi yang berbeda.

3.4.5 Laporan Hasil Pengujian.

Untuk beberapa bagian pekerjaan, perlu dilakukan pengujian, misalnya untuk kualitas beton karakteristik yang disyaratkan yang akan dilaksanakan harus ada rencana campuran beton (Mix Design), begitu pula hasil beton yang dipakai harus membuat benda uji (kubus, misalnya) pada waktu pelaksanaan, atau juga pemadatan kembali bekas galian.

Pengawas Lapangan (Site Inspector) harus memerikas apakah pengujian-pengujian ini dilakukan sesuai dengan spesifikasi teknik kontrak dan dengan cara yang benar.

Evaluasi dari hasil pengujian akan dikerjakan oleh Site Engineer bersama dengan Team

(17)

SOP SUPERVISI – 2012 17

3.5

Laporan oleh Pengawas Lapangan (Site Inspector)

3.5.1 Pengawas Lapangan (Site Inspector) harus membuat buku harian (log book) yang akan digunakan untuk memeriksa laporan harian dan mingguan yang dibuat kontraktor.

Site Engineer harus memeriksa buku harian ini setiap minggu.

Butir – butir yang harus ditulis dalam buku harian tersebut antara lain:

 Tanggal

 Nomor gambar

 Bagian gambar

 Lokasi

o Tanggal, nomor gambar, yang bersangkutan dan lokasi dari pekerjaan, harus dicantumkan.

 Tenaga kerja di lapangan.

o Jumlah pekerja dari kontraktor yang bekerja di lapangan pada hari tertentu harus dicatat termasuk keahliannya masing-masing.

 Peralatan di lapangan.

o Peralatan yang disediakan oleh kontraktor harus dicatat, termasuk kondisinya dan jumlahnya. Kebutuhan peralatan harus disediakan dengan kebutuhan jenis pekerjaan , bila kekurangan, pengawas lapangan harus meminta kontraktor untuk menambah jumlahnya.

 Keadaan cuaca

o Keadaan cuaca dicatat kondisinya cuaca baik, cuaca hujan gerimis, cuaca hujan lebat dengan mencantumkan waktu lamanya.

 Kedatangan material dilapangan.

o Sangat penting untuk mencatat semua material yang disediakan oleh Penyedia Jasa/Kontraktor. Untuk kontrak pemasangan pipa, perlu dicantumkan panjang pipa, alat tambahan (accessories) berikut kodenya. Begitu juga material yang diadakan oleh kontraktor.

 Uraian Pekerjaan.

o Dalam lembar ini harus ditulis uraian pekerjaan secara garis besar dari pekerjaan yang dikerjakan pada hari pelaporan, juga semua instruksi kepada kontraktor.

3.5.2 Lembar gambar pelaksanaan

Untuk sebagian kontrak dihitung berdasarkan harga satuan yang ditawarkan kontraktor di dalam BOQ dan kuantitas pada BOQ yang diambil dari gambar rencana. Setelah pelaksanaan pada bagian tertentu dari kontrak selesai, semua kuantitas dari BQQ akan dihitung kembali dan kuantitas ini akan digunakan untuk menentukan besarnya kontrak sesungguhnya. Sangat penting untuk menghitung kembali semua butir-butir yang tertulis dalam BOQ, Pengawas Lapangan harus mencatat perhitungan kembali pada gambar yang bersangkutan. Jadi pengawas Lapangan harus punya 2 (dua) gambar di Lapangan yaitu 1 (satu) gambar untuk dibawa-bawa ke Lapangan/tempat pelaksanaan pekerjaan yaitu untuk memonitor pelaksanaan sesuai dengan gambar rencana, gambar ini disebut gambar kerja dan 1 (satu)

gambar lagi untuk menandai pekerjaan yang telah dilaksanakan berikut perubahan yang

disetujui oleh Konsultan Pengawas (Team Leader), maupun atas permintaan dari Pemberi Tugas dan gambar ini disebut gambar Kemajuan.

(18)

SOP SUPERVISI – 2012 18

3.6.

Laporan oleh Site Engineer.

3.6.1. Laporan Kemajuan

Site Engineer harus memeriksa kemajuan pekerjaan untuk mengesahkan tagihan dari kontraktor. Prosedur pengesahan sudah diuraikan diatas.

Site Engineering menyiapkan Draft Laporan Kemajuan Bulanan (Monthly Progres Report) berdasarkan data dari laporan mingguan yang disiapkan oleh Pengawas Lapangan. Draft laporan ini kemudian disampaikan kepada Team Leader untuk diperiksa dan diperbaiki seperlunya, selanjutnya diserahkan kepada Pemberi Tugas sebagai laporan kewajiban Supervisi sesuai kontrak.

3.6.2 Instruksi Lapangan

Site Engineer dapat memberi perintah/instruksi tertulis kepada kontraktor dan tembusannya kepada Team Leader.

(19)

SOP SUPERVISI – 2012 19

BAB IV

KONSTRUKSI SPAM

4.1.

Pekerjaan Sipil

Pekerjaan sipil dalam pelaksanaan konstruksi SPAM perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Persyaratan bahan b. Syarat pelaksanaan

4.1.1. Persyaratan Bahan

Persyaratan bahan dalam pelaksanaan pekerjaan sipil terdiri dari:

a. Semen yang digunakan adalah semen portland dengan persyaratan standar Indonesia NI-8 atau ASTM C-150, dan disimpan pada tempat yang memudahkan pekerjaan dan terlindung dari kelembapan dan hujan sesuai SNI 15-2049-1994 tentang semen portland. b. Agregat beton berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu dan sesuai dengan spesifikasi agregat beton menurut ASTM-C 33 dengan ukuran agregat beton terbesar adalah 2,5 cm sesuai SNI 03-1750-1990 tentang mutu dan cara uji agregat beton.

c. Agregat kasar untuk beton harus terdiri dari butir-butir yang kasar,keras tidak berpori dan berbentuk kubus atau bila terdapat butir-butir yang pipih jumlahnya tidak boleh melampaui 20% dari jumlah berat seluruhnya, serta harus bersih dari zat-zat organis, zat-zat reaktif alkali atau substansi yang merusak beton.

d. Agregat kasar tidak boleh mengalami pembubukan hingga melebihi 50% kehilangan berat menurut tes mesin Los Angeles ASTM C-131- 55 sesuai SNI 03-2417-1991 tentang metode pengujian keausan agregat dengan mesin Abrani Los Angeles.

e. Agregat halus harus dapat menggunakan pasir alam atau pasiryang dihasilkan dari mesin pemecah batu yang harus bersih dari bahan organis, lumpur, zat-zat alkali dan substansi yang merusak beton.

f. Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton.

g. Air untuk pembuatan beton dan perawatan beton harus bersih, tidak mengandung minyak, zat-zat yang dapat merusak betondan baja.

h. Baja tulangan harus memenuhi persyaratan tegangan leleh dengan karakteristik sebagai berikut:

 fy = 240 MPa (BJTP-24) untuk baja tulangan dengan diameter lebih kecil dari 12 mm

 fy = 400 MPa (BJTD-40) untuk baja tulangan dengan diameter lebih besar dari 12 mm, dan harus menggunakan tulangan berprofil (ulir)

 fy = 500 MPa untuk tulangan Wire Mesh

Spesifikasi struktur baja harus mengikuti SNI 03-6764-2002 mengenai Spesifikasi Baja Struktural dan SNI 03-6861.2-2002 tentang Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan Bangunan dari Besi/Baja). Selengkapnya pada lampiran 1 (Pemeriksaan Bahan dan Pelaksanaan Pekerjaan Beton)

Sedangkan pengelasan struktur baja dilaksanakan berdasarkan SNI 07-0242.1-2000 tentang Spesifikasi Pipa Baja yang Dilas dan Tanpa Sambungan dengan Lapis Hitam dan Galvanis Panas, SNI 07-6402-2000 tentang Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural Berbentuk Bulat dan Lainnya yang dibentuk dalam Keadaan Dingin dengan Dilas Tanpa Kampuh, dan SNI 03-6763-2002 tentang Spesifikasi Tabung BajaKarbon Struktural yang Dibentuk dalam Keadaan Panas dengan Dilas Tanpa Kampuh.

(20)

SOP SUPERVISI – 2012 20

a. Setiap baja yang akan difabrikasi harus mempunyai cap pabrikan dan merek dagang serta harus disimpan dan ditangani sehingga baja tersebut tidak mendapatkan tegangan berlebihan atau rusak.

b. Pekerjaan baja tidak boleh didiamkan terlalu lama di lapangan sehingga merusak cat. c. Pemotongan baja dapat dilakukan dengan cara pengguntingan,shearing, cropping, atau

flame cutting.

d. Pemotongan dengan flame cutting secara manual diperbolehkan jika ada persetujuan dengan pengawas.

e. Cacat pada permukaan seperti goresan dapat dihilangkan dengan gerinda, sedangkan penggunaan las untuk menutupi cacat tidak diizinkan.

f. Pengelasan dan pembautan secara silang harus melalui persetujuan. g. Lubang dan bagian yang akan dilas harus bebas dari cat.

h. Pengepasan terhadap lubang tidak boleh menimbulkan distorsi kebagian yang lain atau dengan melebarkan lubangnya, namun bila lubang yang tidak dapat dipaskan tanpa memperbesarnya harus melalui persetujuan khusus.

i. Semua hasil pengelasan baja harus diuji dan disetujui oleh pengawas yang andal, yang berhak meminta suatu pengujian non destruktif jika diperlukan.

j. Selama tidak ditentukan lain dalam gambar, maka semua fillet weld harus berukuran 6 mm dan semua butt welds haruslah butt weld yang tertanam penuh.

k. Setiap potongan pekerjaan baja harus ditandai dengan jelas dan sesuai dengan marking diagram sebelum dihantar, dan harus awet agar memudahkan pekerjaan ereksi.

l. Perlakuan terhadap permukaan dan pengecatan sebelum dansetelah pengangkutan ke lapangan harus sesuai berdasarkan SNI03-2408-1991 tentang Tata Cara Pengecatan Logam.

m. Semua pekerjaan baja harus diproteksi terhadap timbulnya karat.

n. Sebelum penyedia barang/jasa pemborongan memulai kegiatan ereksi baja di lapangan, penyedia barang/jasa pemborongan harus memeriksa bahwa hasil pengukuran dan level dari tumpuan perletakan dan pondasi beton, permukaan balok, dan sebagainya telah sesuai dengan gambar yang diberikan dan harus melaporkan semua perbedaan yang terjadi kepada pengawas. Jadwal pengangkutan dan kegiatan ereksi harus merinci mulai dari kegiatan pengadaan, fabrikasi, pengangkutan, pemasangan, ereksi, dan pengecatan. Penyedia barang/jasa pemborongan harus menyediakan peralatan besar yang sesuai, alat pengangkat, alat penopang, alat penunjang, dan lainnya yang disetujui oleh pengawas dan menjamin pengamanannya sehingga tidak membuat lemah sruktur atau mengurangi keandalan struktur baja tersebut.

4.1.2. Syarat Pelaksanaan

Syarat pelaksanaan pekerjaan sipil antara lain adalah sebagai berikut:

a. Beton harus dibuat dari campuran semen, agregat dan air dengan perbandingan tepat sehingga didapat kekuatan tekan yang sesuai.

b. Rasio air dan semen maksimum 0,52 dalam berat.

c. Kekentalan beton untuk jenis konstruksi berdasarkan pengujian dengan ASTM C 143 sesuai SNI 03-1972-1990 tentang metode pengujian beton. Dengan menggunakan kerucut abrams, merupakan kerucut terpancung dengan diameter atas 10 cm dan diameter bawah 20 cm serta tinggi 30 cm. Diletakan pada bidang rata/datar yang tidak menyerap air. Kemudian diisi dengan adukan beton, sambil ditekan ke bawah pada penyokong-penyokongnya. Adukan beton diisikan dalam 3 lapis dengan perkiraan tebal yang sama, setiap lapis ditusuk-tusuk 10 kali dengan tongkat baja dengan diameter 16 mm dan panjang 60 cm dengan ujung dibulatkan. Setelah bidang atasnya disipat rata, maka dibiarkan ½ menit. Selama waktu itu pula, adukan beton yang jatuh disekitar kerucut disingkirkan. Kemudian kerucut ditarik vertikal terhadap tinggi secara

(21)

pelan-SOP SUPERVISI – 2012 21

pelan dan hati-hati. Segeralah setelah penurunan puncak kerucut terhadap tingginya semula diukur. Hasil pengukuran ini disebut slump dan merupakan ukuran dari kekentalan adukan beton tersebut.

d. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, terlebih dahulu melaksanakan percobaan di laboratorium sebagai persiapan dari percobaan pendahuluan sampai didapatkan perbandingan-perbandingan bermutu untuk beton yang dipakai.

e. Setiap ada perubahan-perubahan jenis bahan-bahan, harus diadakan percobaan di laboratorium untuk mendapatkan mutu beton yang diperlukan.

f. Benda uji yang dibuat dalam percobaan ini dan prosedur percobaan harus sesuai dengan SNI 03-2847-1992 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.

g. Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk beton selama sedikitnya 1,5 menit sesudah semua bahan, kecuali air dalam jumlah yang penuh ada dalam mixer.

4.2.

Pekerjaan Perpipaan

Semua bahan, peralatan, cara pelaksanaan dan pemasangan pekerjaan perpipaan harus sesuai dengan standar/peraturan yang berlaku sebagai berikut:

A. Pipa PVC

a. Standar Tata Cara Penanganan, Pemasangan dan Pengujian Pipa PVC untuk Penyediaan Air minum sesuai dengan RSNI T-17-2004 tentang Standar Tata Cara Penanganan, Pemasangandan Pengujian Pipa PVC untuk Penyediaan Air Minum. b. Spesifikasi pipa PVC mengikuti standar SNI 03-6419-2000 tentang Spesifikasi Pipa PVC

bertekanan berdiameter 110-315mm untuk Air Bersih dan SK SNI S-20-1990-2003 tentang Spesifikasi Pipa PVC untuk Air Minum.

c. Pipa PVC yang berada di atas tanah/ekspose menggunakan kelas AW PN 10 kg/cm2 sesuai JIS standar K 6741/K 6742.

d. Fitting sambungan untuk pipa PVC harus sesuai dengan standar SNI-0084-1987 dan bila tidak disebutkan dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) maka sistem sambungan menggunakan sistem rubber ring joint.

e. Ulir valve harus sesuai dengan ISO 7/1 Pipe threads where pressure tight joint are made in the thread.

f. Seluruh katup udara (air valve) sesuai dengan standar flange JIS-B2213

g. Badan katup dan flange terbuat dari cast iron dan mengikuti Specification for Grey Iron Casting for Valves, Flanges and Pipe Fittings kelas B (ASTM Designation A 126) atau ductile Iron (ASTM 536). Flange harus mengikuti standard JIS-B 2213.

h. Gate valve perunggu harus didesain dan dibuat sesuai dengan JIS B 2011 atau ketentuan lain yang disetujui.

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hingga proses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

B. Pipa Baja

a. Pipa baja kelas medium sesuai dengan standar BS 1387-67.

b. Fabrikasi pipa baja harus sesuai dengan AWWA C 200 atau SNI-07-0822-1989 atau SII 2527-90 atau JIS G 3452 dan JIS G 3457.

c. Desain pipa dan instalasi sesuai dengan AWWA Manual M11 (Steel Pipe Design and Installation).

d. Dimensi fitting pipa baja sesuai dengan AWWA C 208 (Dimensions for Steel Water Pipe Fittings).

(22)

SOP SUPERVISI – 2012 22

e. Ketebalan dinding minimum dan diameter luar dinding fitting harus sesuai standar berikut ini:

 Fitting dengan diameter 125 mm atau lebih kecil menggunakan standar JIS B 2311

 Fitting dengan diameter 150 mm atau lebih besar menggunakan standar JIS B 2311 (sampai dengan 500 mm) dan JIS G 3451 atau AWWA C 208.

f. Dimensi pipa flens mengikuti SNI 07-2195-1991 tentang permukaan pipa flens, dimensi, dan SNI 07-2196-1991 tentang Flensa pipa, toleransi dimensi.

g. Pelapisan epoksi cair sesuai SNI 07-6398-2000 tentang tata cara pelapisan epoksi cair untuk bagian dalam dan luar pada pelapisan cair dari baja.

h. Penyambungan pipa baja sesuai SNI 07-3360-1994 tentang penyambung pipa baja dan baja paduan dengan las tumpu.

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hinggaproses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

C. Pipa Polietilena (PE)

a. Pipa Poly Ethylene (PE) sesuai dengan SNI 06-4829-2005 tentang Pipa Polietilena Untuk Air Minum dan semua flange sesuai dengan JIS standar (Pipa PE termasuk High Density Polyethylene/HDPE)

b. Spesifikasi pipa PE sesuai ISO 4427:1996 (Polyethylene pipesfor water supply spesifications).

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hingga proses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

D. Pipa Ductile

a. ISO 2531 b. BS 4772

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hingga proses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

E. Pengujian pipa air minum mengacu pada standard yang digunakan untuk uji material.

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hingga proses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

F. Pengujian kebocoran dilaksanakan selama dua jam dimana pipa harus beroperasi pada tekanan normal, dan pemasangan pipa dapat diterima bila nilai kebocoran lebih kecil atau sesuai dengan nilai kebocoran yang ditetapkan standar AWWA.

Uraian petunjuk teknis pengadaan, penanganan dan pengangkutan, pemasangan hingga proses desinfeksi tertera pada Lampiran 3.

G. Bila pada pengujian terhadap pipa yang terpasang terjadi kebocoran lebih besar dari standard AWWA, penyedia barang/jasa pemborongan harus memperbaiki sambungan hingga kebocoran terjadi dalam batas yang dikehendaki.

H. Jika penimbunan sebagian dikehendaki karena masalah gangguan lalu lintas atau keperluan lainnya, penyedia barang/jasa pemborongan harus mengerjakannya dan melakukan perlindungan pada semua pipa, aksesoris dan peralatan terhadap kerusakan maupun kotoran yang menyumbat.

(23)

SOP SUPERVISI – 2012 23 I. Pengawas lapangan bertugas untuk mengawasi penyedia barang/jasa pemborongan apakah semua pekerjaan sudah memenuhi spesifikasi yang ditentukan pada dokumen tender.

Standar pemasangan perpipaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan berikut ini:

a. Pengiriman komponen sistem terutama pengangkutan pipa di lokasi dilaksanakan sesuai SNI RSNI T-17-2004 tentang Standar Tata Cara Penanganan, Pemasangan dan Pengujian Pipa PVC untuk Penyediaan Air Minum, atau untuk jenis pipa lain menggunakan standar lain berlaku;

b. Pipa-pipa air harus dipasang bebas dari kantong-kantong udara dan lurus-lurus;

c. Seluruh panjang pipa utuh harus dipakai kecuali jika panjang yang terpasang lebih pendek daripada panjang pipa;

d. Pipa yang ditempatkan di atas tanah sedapat mungkin harus didukung secara merata dan material yang langsung berhubungan dengan pipa harus bersih atau bebas dari batu besar atau bahan-bahan yang merusak pipa;

e. Pipa dan sambungannya harus dilaksanakan secara seksama untuk menjamin lancarnya aliran air terutama sekali pada saluran pembuangan air kotor dan juga untuk memudahkan pengontrolan dari sistem;

f. Ujung-ujung pipa yang terbuka kadang-kadang harus ditutup selama jangka waktu pelaksanaan untuk menghindarkan kotoran atau lumpur yang akan masuk kedalam pipa;

g. Tes yang akan menguji apakah seluruh sistem telah dapat bekerja dengan baik harus dilaksanakan sebelum penyelesaian pekerjaan akhir.

4.3.

Pekerjaan Mekanikal

Pekerjaan mekanikal adalah pengadaan dan pemasangan alat-alat penggerak yang mencakup pompa, kompresor, blower, genset, termasuk alat-alat pendukung dan aksesorisnya, yang perlu diuji dipabrik sebelum dikirim ke lapangan, antara lain mencakup: a. Pengujian bagian hisap dan tekan (suction and discharge)

b. Pengujian kapasitas/aliran c. Pengujian putaran

d. Pengujian daya elektro motor e. Pengujian putaran elektro motor f. Pengujian tahanan isolasi elektro motor

g. Pengujian pengamanan elektro motor terhadap hubungan pendek (short circuit fault protection)

Khusus mengenai pompa, dalam perencanaannya sudah sesuai dengan standar internasional atau standar khusus dari pabrikan yang mengacu pada standar internasional.

1. pompa telah tercopling/dilengkapi dengan elektro motor dalam keadaan baik yang disertai dengan sertifikat jaminan pabrik;

2. elektro motor harus mempunyai efesiensi sekurang-kurangnya 80% dalam pemakaian beban penuh, serta cos phi minimal 85%;

3. elektro motor harus dirancang untuk daerah tropis, dan suku cadang mudah didapat; 4. antara pompa dan elektro motor dihubungkan dengan flexible coupling dan center line,

tidak mudah aus, tahan lama dan mudah dalam instalasinya;

5. base frame (kerangka dasar) atau dudukan harus dibuat khusus, jika dari baja harus tahan korosi dan dicat dengan khusus anti karat.

(24)

SOP SUPERVISI – 2012 24

Pengujian terhadap pekerjaan pemasangan peralatan mekanikal adalah sebagai berikut:

A. Genset

1. periksa pemasangan alat ME apakah sesuai dengan spesifikasi atau tidak;

2. periksa sambungan sumber energi, apakah dalam kondisi sesuais pesifikasi atau tidak;

3. periksa sumber energi sebelum dijalankan sesuai ketentuan; 4. jalankan sumber energi yang digunakan;

5. periksa tegangan dan arus yang dihasilkan dari sumber energi tersebut; 6. periksa jaringan listrik dan panel.

B. Pompa

1. periksa pemasangan pompa sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan; 2. periksa sambungan energi dengan pompa sesuai spesifikasi atau tidak; 3. jalankan pompa-pompa;

4. perhatikan tekanan air yang dapat dibaca pada manometer;

5. apabila sudah naik melebihi tekanan kerja pompa, buka katup perlahan-lahan sampai diperoleh tekanan yang dikehendaki.

4.4.

Pekerjaan Elektrikal

Semua bahan, peralatan, cara pelaksanaan dan pemasangan pekerjaan elektrikal harus sesuai dengan peraturan-peraturan sebagai berikut:

a. SNI 04-0225-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL2000)

b. Peraturan terakhir dari “Peralatan listrik dan bangunan” yang diterbitkan IEE dan NEC c. Persyaratan-persyaratan yang sesuai dengan British Standard Associasion (BS)

d. Persyaratan terakhir dari Japan Industrial Standard (JIS) e. Persyaratan dari German Standard (VDE) dan DIN f. Persyaratan dari PLN dan Departemen Tenaga Kerja

Seluruh instalasi sebelum dialiri daya listrik harus terlebih dahulu diadakan tes Megger yang terdiri dari:

a. Pengujian tahanan isolasi instansi listrik, adalah minimum 10 MegaOhm didasarkan atas peraturan yang berlaku dimana pengujian tahanan isolasi dilakukan dengan menggunakan Megger 500 volt putaran tangan dengan kondisi semua titik lampu dan saklar harus dalam keadaan terbuka dan pengujian dilakukan setiap kali untuk setiap grup.

b. Pengujian tahanan tanah, adalah maksimum 5 Ohm dan dilaksanakan setelah penanaman pentanahan (grounding) dengan alat uji tahanan tanah elektronik.

Pengujian terhadap pekerjaan pemasangan peralatan elektrikal adalah sebagai berikut: 1. Periksa seluruh jenis bahan, ukuran, diameter sambungan peralatan elektrikal dengan

beban, apakah seluruh sudah sesuai dengan spesifikasi atau tidak;

2. Jalankan generator set bila sumber energi menggunakan genset, periksa apakah listrik yang dihasilkan dapat dialirkan ke beban sesuai dengan spesifikasi atau tidak;

(25)

SOP SUPERVISI – 2012 25

BAB V

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN PENGAWASAN

5.1.

Persiapan

5.1.1. Penyerahan Lapangan

a. Pengguna jasa wajib menyerahkan seluruh/sebagian lapangan kepada penyedia jasa/Kontraktor sebelum diterbitkannya surat perintah mulai kerja.

b. Sebelum penyerahan lapangan, pengguna jasa bersama-sama penyedia jasa melakukan pemeriksaan lapangan berikut bangunan, bangunan pelengkap dan seluruh aset milik pengguna jasa yang akan menjadi tanggung jawab penyedia jasa/Kontraktor, untuk dimanfaatkan, dijaga dan dipelihara.

c. Hasil pemeriksaan lapangan dituangkan dalam berita acara serah terima lapangan yang ditandatangani kedua belah pihak.

d. Keterlambatan penyerahan seluruh/sebagian lapangan oleh pengguna jasa kepada penyedia jasa dapat mengakibatkan perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan atau kompensasi akibat kerugian penyedia jasa/Kontraktor.

5.1.2. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)

a. Pengguna jasa harus menerbitkan SPMK segera setelah dilakukan serah terima lapangan, selambat-lambatnya 14 (empatbelas) hari sejak tanggal penandatanganan kontrak.

b. Dalam hal SPMK akan diterbitkan oleh pengguna jasa sebelum kontrak ditandatangani (untuk penanganan darurat akibat bencana alam), maka untuk menerbitkan SPMK tersebut pengguna jasa dalam pernyataan dimulainya pekerjaan.

5.1.3. Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak (PCM/Pre Construction Meeting)

a. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah diterbitkannya SPMK, pengguna jasa harus menyelenggarakan rapat persiapan pelaksanaan kontrak yang dilakukan oleh direksi pekerjaan, Konsultan Supervisi, unsur perencanaan dan penyedia jasa/Kontraktor. b. Tujuan penyelenggaraan rapat persiapan pelaksanaan kontrak adalah untuk

menghasilkan kesepakatan-kesepakatan atas beberapa materi yang dapat menimbulkan masalah dalam pelaksanaan pekerjaan.

c. Materi yang perlu dibahas dalam rapat adalah: 1). Pasal-pasal dalam dokumen kontrak, perihal:

a). asuransi pekerjaan; b). pekerjaan tambah kurang; c). penyelesaian perselisihan; d). pemeliharaan pekerjaan; e). kompensasi;

f). denda;

g). pemutusan kontrak;

h). dan lain-lain yang dinilai perlu

2). Tata cara penyelenggaraan pekerjaan, perihal: a). organisasi kerja;

b). tata cara pengaturan pekerjaan; c). jadwal pelaksanaan pekerjaan;

d). jadwal pengadaan bahan, mobilisasi peralatan dan personil; e). penyusunan rencana pemeriksaan lapangan;

(26)

SOP SUPERVISI – 2012 26

f). sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana kerja;

g). penyusunan program mutu; h). dan lain-lain yang dinilai perlu.

d. Hasil rapat persiapan pelaksanaan kontrak dituangkan dalam berita acara.

5.1.4. Pembuatan Shop Drawing Oleh Kontraktor

Penyedia Jasa/Kontraktor harus membuat gambar kerja sebelum pekerjaan dilaksanakan dan harus diperiksa dan mendapatkan persetujuan/tandatangan dari Konsultan Supervisi, baik untuk pekerjaan sementara maupun permanen.

5.1.5. Pembersihan Lapangan

Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah membersihkan area proyek dari benda-benda yang ada disekitarnya yang dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan, diantaranya: batu-batuan, semak belukar, tanaman dan pohon.

5.1.6. Pengukuran Lapangan Oleh Kontraktor dan Pembuatan Bouwplank Oleh Kontraktor

Untuk mendapatkan bentuk posisi bangunan pekerjaan yang tepat dan akurat perlu dilakukan pengukuran lapangan yang ukurannya sesuai dengan data perencanaan untuk mendukungnya dipasang patok atau papan yang disebut bowplank.

5.2.

Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Pembangunan Konstruksi

Ada tiga tahap pengendalian mutu:

1). Pengendalian mutu bahan baku (tanah, pasir, batu, semen, aspal, dan lain-lain) 2). Pengendalian mutu bahan olahan (campuran beton, campuran aspal, dan lain-lain) 3). Pengendalian mutu pekerjaan terpasang (timbunan tanah, pondasi beton, lapisan

hotmix, dan lain-lain)

5.2.1. Pengendalian mutu dan cacat mutu

a. Pengendalian mutu wajib dilakukan oleh penyedia jasa selama pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan dokumen kontrak (spesifikasi teknis)

b. Direksi teknis/Konsultan Supervisi wajib memeriksa mutu hasil pekerjaan dan memberitahu penyedia jasa bila terdapat cacat mutu dalam pekerjaan. Direksi teknis/Konsultan Supervisi dapat memerintahkan penyedia jasa untuk menguji hasil pekerjaan yang dianggap terdapat cacat mutu.

c. Apabila direksi teknis/ konsultan Supervisi memerintahkan penyedia jasa untuk melaksanakan pengujian dan ternyata hasil pengujian memperlihatkan adanya cacat mutu, maka biaya pengujiandan perbaikan menjadi tanggung jawab penyedia jasa. Apabila dari hasil pengujian tidak ditemukan cacat mutu, maka biaya pengujian dan perbaikan menjadi menjadi tanggung jawab pengguna jasa.

d. Setiap kali pemberitahuan cacat mutu oleh direksi teknis, penyedia jasa harus memperbaiki dalam waktu sesuai yang tercantum dalam surat pemberitahuan tersebut. Apabila penyedia jasa tidak memperbaiki dalam waktu yang telah ditentukan, maka direksi pekerjaan dapat meminta pihak ketiga untuk memperbaiki cacat mutu tersebut dengan biaya dibebankan kepada penyedia jasa.

e. Cacat mutu harus diperbaiki sebelum penyerahan pertama pekerjaan (PHO) dan selama masa pemeliharaan. Penyerahan pertama pekerjaan dan masa pemeliharaan dapat diperpanjang sampai cacat mutu selesai diperbaiki.

(27)

SOP SUPERVISI – 2012 27 5.2.2. Pekerjaan Bangunan Broncaptering

a. Pastikan SIPA (Surat Izin Pengambilan Air) yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat telah tersedia.

b. Pastikan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Broncaptering telah diperoleh Pengguna Jasa. c. Pastikan tata letak, bentuk dan dimensi bangunan broncaptering sesuai dengan gambar

rencana yang ada dan spesifikasi teknis bahan/material harus sesuai dengan RKS.

d. Pelaksanaan pembangunan konstruksi broncaptering harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar aliran air dari mata air tidak terhalang atau terganggu oleh apapun yang dapat mengakibatkan berpindahnya titik-titik sumber air.

e. Lakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan bangunan broncaptering, dan perbandingkan antara progres rencana dalam Kurva-S dengan progres aktual .

f. Periksa kualitas konstruksi dan kerapian pekerjaan bangunan broncaptering, dan pastikan telah memenuhi syarat sebagaimana diminta dalam RKS.

g. Pastikan As Built Drawing yang disusun oleh Penyedia Jasa/Kontraktor tela sesuaidengan kondisi nyata di akhir pekerjaan.

5.2.3. Pekerjaan Bangunan Intake

a. Pastikan titik lokasi pengambilan air/intake tidak berada di daerah yang rawan secara teknis. Artinya, tidak berada di meander sungai, lokasi rawan longsor, dan rawan tergerus banjir bandang.

b. Pastikan adanya hasil penyelidikan tanah untuk lokasi di sekitar bangunan intake yang akan dibangun.

c. Pastikan tata letak, jenis, bentuk, dimensi bangunan intake telah sesuai dengan gambar rencana yang ada, dan spesifikasi teknis bahan/material harus sesuai dengan RKS.

d. Lakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan bangunan intake, dan perbandingkan antara progres rencana dalam Kurva-S dengan progres aktual .

e. Periksa kualitas konstruksi dan kerapian bangunan intake telah memenuhi syarat sebagaimana diminta dalam RKS.

f. Pastikan debit air yang masuk kedalam bangunan intake telah sesuai dengan debit rencana.

g. Pastikan As Built Drawing yang disusun oleh Penyedia Jasa/Kontraktor telah sesuai dengan kondisi nyata di akhir pekerjaan.

5.2.4. Pekerjaan Pompa Intake

a. Pastikan tata letak, bentuk dan dimensi bangunan rumah pompa intake telah sesuai dengan gambar rencana yang ada, dan spesifikasi teknis bahan/material harus sesuai dengan RKS.

b. Pastikan spesifikasi teknis masing-masing pompa intake yang akan dipasang telah sesuai dengan spesifikasi teknis yang tertuang dalam RKS.

c. Pastikan terdapat sekurang-kurangnya satu unit pompa intake cadangan dengan spesifikasi teknis yang sama persis dengan pompa intake yang akan dipasang di lokasi tersebut. Apabila tidak terdapat pompa cadangan yang dimaksud, maka Konsultan Supervisi harus segera memberikan laporan tentang hal ini kepada Pengguna Jasa. d. Pastikan pemasangan pipa hisap dan pipa tekan telah sesuai dengan gambar rencana. e. Tatacara pemeriksaan dan pengawasan terhadap pekerjaan mekanikal dan elektrikal

sebagaimana tertuang dalam sub-bab 4.3. dan 4.4. diatas.

f. Lakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan pompa intake, dan perbandingkan antara progres rencana dalam Kurva-S dengan progres aktual .

g. Periksa kualitas dan kerapian pekerjaan pemasangan pompa intake, dan pastikan telah memenuhi syarat sebagaimana diminta dalam RKS.

Gambar

Gambar 1:  Contoh Struktur Organisasi Tim Konsultan Supervisi-Model  1

Referensi

Dokumen terkait

Mengawasi Pembangunan Rumah Resetlement Waduk Bendo sesuai Daftar Kuantitas dan Harga, spesifikasi teknis, gambar rencana dan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang

Rencana teknis pemb ongkaran terdiri atas konsep d a n gambar rencana pemb ongkaran, gambar detail pelaksanaan pemb ongkaran, rencana kerja da n syarat- syarat (RKS) pemb ongkaran,

menyiapkan bahan penyusunan rencana program kerja dan petunjuk teknis di Sub Koordinator Pembangunan Sarana dan Prasarana Olah Raga;.. menyiapkan bahan

Pekerjaan Bangunan ( pelaksanaan konstruksi bangunan, sesuai dengan spesifikasi material dan bahan yang akan dilampirkan oleh pihak pertama pada saat

Jasa Pengujian adalah salah satu pendukung pelaksanaan konstruksi yang memenuhi mutu bahan bangunan dan rancang bangun sesuai dengan spesifikasi teknis yang

Rencana teknis yang merupakan proposal teknis yang lengkap dengan skenario peristiwa bencana, penanggungjawab kegiatan serta anggaran biaya pelaksanaan kegiatan.. Proposal

Proyek pembangunan Depo Lokomotif di Pulu Brayan menjadi bahan pembahasan yang fokus pada manajemen konstruksi, termasuk rencana anggaran dan metode pelaksanaan konstruksi.. SNI 2016

Dokumen tersebut berisi rencana pembangunan tembok penahan tanah dengan spesifikasi teknis dan gambar