GANGGUAN RASA NY
GANGGUAN RASA NYAMAN :
AMAN : NYERI
NYERI
OLEH : AGUSTINUS ARA, S.kep. NsOLEH : AGUSTINUS ARA, S.kep. Ns A
A.. KKOONNSSEEP P DDAASSAAR R NNYYEERRII 1
1.. PPEENNDDAAHHUULLUUAANN
Sensasi nyeri adalah hasil akhir dari suatu seri mekanisme yang kompleks dan Sensasi nyeri adalah hasil akhir dari suatu seri mekanisme yang kompleks dan ter
terintintegraegrasi si pada pada selseluruuruh h levlevel el sisistestem m sarsaraf af mulmulai ai dardari i perperifeifer r lallalu u melmelewaewati ti medmedulaula spi
spinalnalis is hinhingga gga ke ke strstruktuktur ur tertertintinggi ggi yaiyaitu tu otaotak. k. NyeNyeri ri mermerupaupakan kan sensensassasi i yanyang g tidtidak ak menyenangkan dari pengalaman emosional yang dapat diinduksi oleh berbagai macam menyenangkan dari pengalaman emosional yang dapat diinduksi oleh berbagai macam keja
kejadiadian n yayang ng dapadapat t menmenimimpa pa manmanusiusia. a. akiakibat bat kerkerusausakan kan jarjaringingan an yayang ng nyanyata ta ataatauu potensial
potensial rusak. rusak. Meski Meski demikian, demikian, perkembangan perkembangan ilmu ilmu pengetahuan pengetahuan kita kita mengenaimengenai fisiologi nyeri pada tahun-tahun terkhir ini telah membawa kita pada terminologi lain fisiologi nyeri pada tahun-tahun terkhir ini telah membawa kita pada terminologi lain yang lebih relevan.
yang lebih relevan.
Sherrington pada 1!!, telah memperkenalkan istilah "nosisepsi# yakni bentuk Sherrington pada 1!!, telah memperkenalkan istilah "nosisepsi# yakni bentuk stimulasi yang dapat membangkitkan nosiseptor dan alur nyeri. Nosisepsi sebenarnya stimulasi yang dapat membangkitkan nosiseptor dan alur nyeri. Nosisepsi sebenarnya merupakan alur nyeri yang dimulai dari transduksi, transmisi, modulasi, sampai persepsi merupakan alur nyeri yang dimulai dari transduksi, transmisi, modulasi, sampai persepsi nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau yang berpotensi rusak. $ada bentuk yang nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau yang berpotensi rusak. $ada bentuk yang sed
sederherhana ana dardari i ororganganisaisasi si iniini, , nosnosiseisepsi psi dapadapat t dikdikataatakan kan sebsebagaagai i aktaktiviivitas tas eleelektrktrik,ik, kimiawi, dan sinaptik pada neuro aferen sensorik. $ada level tertinggi dapat digambarkan kimiawi, dan sinaptik pada neuro aferen sensorik. $ada level tertinggi dapat digambarkan sebagai respon yang
sebagai respon yang diorgdiorganisasanisasikan pada ikan pada level batang level batang otak menuju otak menuju kardikardiovaskulovaskuler,er, hormonal, dan respon lain terhadap nyeri. Menurut Sherrington, nyeri adalah refleks hormonal, dan respon lain terhadap nyeri. Menurut Sherrington, nyeri adalah refleks nos
nosiseiseptiptif f dengdengan an komkomponponen en fisfisik. ik. NosNosiseiseptoptor r adaladalah ah neuneuron ron spespesifsifik ik perperifeifer r yanyangg respon
responnya nya selekselektif tif terhaterhadap dap stimstimulus ulus noksinoksius, us, sehingsehingga ga memimemiliki liki kemamkemampuan puan untuk untuk membedakan antara input sensorik nyeri dan bukan nyeri.
membedakan antara input sensorik nyeri dan bukan nyeri.
2
2.. AANNAATTOOMMII
Saraf-saraf aferen sensorik memiliki badan sel unipolar yang berlokasi pada akar Saraf-saraf aferen sensorik memiliki badan sel unipolar yang berlokasi pada akar gangli
ganglion on dorsdorsalis dan alis dan dikladiklasifisifikasikkasikan an menurmenurut ut ukuran serabutnyukuran serabutnya a menjamenjadi di tiga gruptiga grup utama %&, ', ( ). *rup & lebih jauh disubklasifikasikan menjadi empat subgrup % &+, utama %&, ', ( ). *rup & lebih jauh disubklasifikasikan menjadi empat subgrup % &+, &,&, & ) %tabel 1). &feren sensoris yang berespon terhadap
serabut bermielin berkaliber kecil % & ) atau serabut halus tidak bermielin % ( ) yang berasal dari epidermis dan reseptif internal, termasuk periosteum, sendi, otot, dan visera.
/ebanyakan serabut & dan ( merupakan ujung-ujung saraf bebas. 0alaupun keduanya peka terhadap rangsang noksius, namun keduanya memiliki perbedaan, baik receptor
maupun neurotransmiter yang dilepaskan pada presinaps di kornu posterior. eceptor nosiseptor & memiliki kecepatan konduksi yang sangat cepat dan hanya peka terhadap stimulus mekanik dan termal, sehingga disebut mechanothermal nociceptors . Nosiseptor & mentransmisikan "nyeri awal# yang ditandai dengan sensasi deskriminatif yang dapat dilokalisir dan berlangsung hanya pada saat stimulus diberikan. Sedangkan serabut ( dengan kecepatan konduksi lambat peka terhadap stimulus no2ious, yang meliputi mekanik, termal, dan kimiawi. 3leh karena itu serabut ( disebut juga sebagai polymodal nociceptors. Nosiseptor ini memediasi sensasi " nyeri kedua ", yang digambarkan sebagai sensasi difus, menetap, dan membakar yang lambat dirasakan dan berlangsung setelah stimulus diakhiri. Serabut & memasuki kornu dorsalis melalui akar dorsalis dan traktus Lissauer’s ,berakhir predominan pada lamina 4 Rexed’s % 5ona marginal ), 44 % substansia gelatinosa ),6 % nukleus proprius ), dan 7 % kanalis sentralis ). Sama halnya, serabut ( memasuki kornu dorsalis bersinaps dengan second-order neurons, di lamina 4,44, dan 6. 8idak seperti serabut &, lebih dari 9!: serabut ( memasuki kornu dorsalis melalui akar ventral.
Saraf-saraf aferen primer menghasilkan satu atau lebih asam amino eksitasi % ;&&s ) seperti glutamat dan aspartat, atau neurotransmiter peptida, yang meliputi substansi $, neurokinin, calcitonin gene-related peptide % (*$ ), cholecystokinin % ((/ ), somatostatin, dan bombesin. ;&&s memediasi depolarisasi cepat durasi pendek dari second-order neurons. Sebaliknya, neurotransmiter peptida menghasilkan depolarisasi tertunda dan berlangsung lama. Neurotransmiter yang dilepaskan oleh & di presinaps adalah glutamat, sedangkan serabut ( selain melepaskan asam glutamat juga
substansi $ %neurokinin) yang merupakan polipeptida.
Kornu Posterior
/ornu dorsalis adalah sebuah pusat organisasi yang lebih tinggi dari suatu konvergensi saraf dan berbagai proses yang melibatkan transmisi noksius dan modulasi.
8ermasuk di dalamnya ujung-ujung terminal serabut saraf aferen primer % first-order neurons ) dan sel-sel penerima dimana a2on-a2on ini bersinaps % second-order neuron ). Second-order neuron berperan dalam mengintegrasikan input aferen, mempengaruhi fasilitasi dan inhibisi dari interneuron dan proyeksi saraf desending. /emampuan yang secara simultan memproses stimulus noksius dan non-noksius ini mendukung teori gate control dari modulasi nyeri yang digambarkan oleh Melzack dan Wall. Second-order neuron yang ditemukan pada kornu dorsalis memiliki dua tipe, yaitu nociceptive-specific neurons %NS) %yang berespon ekslusif terhadap impuls nosiseptif dari & dan serabut () dan ide dynamic range neurons %0<) %yang berespon terhadap kedua stimulus noksius dan non-noksius ). $ada level dermatom neuron 0< menerima input aferen dari kulit, otot, sendi, nosiseptor veseral, yang menyebabkan fenomena konvergensi organ dan nyeri alih. Stimulasi frekuensi rendah dari serabut ( menyebabkan meningkatnya perangsangan neuron 0< secara gradual sampai mencapai titik yang mendekati perangsangan kontinus, yang disebut fasilitasi sentral atau!ind-up", yang memperbesar transmisi aferen. $enelitian saat ini menyatakan bahwa reseptor #-methyl- $-aspartic acid % NM<& ) bertanggung jawab dalam !ind-up". 8idak seperti reseptor
+-amino-%-hydroxy-&-methyl-'-isoxazole propionic acid %&M$& ), yang diaktivasi oleh ;&&s dan menghasilkan depolarisasi cepat, aktivasi reseptor NM<& lebih komplit, memerlukan adanya glutamat endogen agonis, glisin, dan perpindahan Mg=>-dependent
channel block. *abungan antara glutamat dan peptida algesik %neurokinin atau takikinin ), termasuk substansi $, dan neurokinin & mampu menggeser blokade Mg=>
-dependent, menghasilkan suatu depolarisasi lambat dan lama dari second-order neuron. &kson-akson dari NS dan 0< dapat pula bersinaps melalui internuncial neurons dengan sel-sel kornu ipsilateral anterolateral % preganglionik saraf simpatis ) atau neuron somatomotor, atau menyebar langsung ke batang otak, otak tengah, dan thalamus melalui traktus spinothalamik dan spinoretikular.
Jalur asending
'eberapa traktus spinal asending terlibat dalam transmisi nosiseptif dari kornu dorsalis ke target-target supraspinal, yang meliputi traktus spinotalamikus, spinoretikular,
spinomesensefalik, sistem post sinaptik spinomedulari kornu dorsalis, dan sistem multisinaptik propriospinal asending. <ari semua sistem ini, traktus spinotalamikus merupakan jalur terpenting dari transmisi impuls nosiseptif. Second-order neuron pada lamina 4 dan 6 menyebar langsung ke talamus lateral dan medial. 8raktus spinotalamikus dibagi menjadi dua yaitu ? traktus neospinotalamikus dan paleospinotalamikus. 8raktus neospinotalamikus terdiri atas second-order neuron kornu dorsalis yang diproyeksikan ke talamus lateral %neotalamus), yang membawa impuls nosiseptif langsung ke korteks somatosensoris. 8raktus ini berperan dalam melokalisir dan mendiskriminasikan informasi nosiseptif, dan responnya berupa penarikan diri dari stimulus noksius. Sebaliknya, traktus paleospinotalamus menuju ke sistem aktivasi retikular, peria@uaduktal, hipotalamus,dan paleotalamus %talamus medial). $aleotalamus tidak
mengatur somatotopikal, dan sel-selnya diproyeksikan ke korteks frontal dan limbik. 4mpuls nosiseptif yang diproyeksikannya menyebabkan respon sirkulasi, respirasi, endokrin, dan respon emosi.
Kontrol Nyeri Desending
&ktivitas nosiseptif di medula spinalis dan jalur asending dimodulasi oleh beberapa pusat yang lebih tinggi, yaitu koteks serebri, hipotalamus, talamus, dan batang otak %peria@uaduktal, nuklei raphe,locus coeruleusAsubcoeruleus). 'atang otakAmid(rain nuclei, yang menyediakan kontrol nyeri desending, juga berperan sebagai penerus sinaps ke korteks, hipotalamus dan talamus. &kson-akson eferen dari peria@uaduktal diproyeksikan ke formasio retikularis medula kemudian bersinaps di kornu dorsalis untuk menghambat second-order neuron NS dan 0< . 8erdapat beberepa neurotransmitter penting pada peria@uaduktal yang memodulasi aktivitas nosiseptif, yaitu opioid endogen
%enkefalin, endorfin, dinorfin), -amino(utiric acid %*&'&), dan norepineprin. <alam kornu dorsalis medula spinalis, opioid endogen, baik yang berasal dari neuron desending atau dari interneuron lokal, mempengaruhi aktivitas dari first dan second-order neuron. 3pioid menghambat pelepasan kalium substansi $ dan glutamat dari neuron aferen primer %=1), dan efeknya dihilangkan oleh nalokson. 3leh karena B!: reseptor opioid %C)
terdapat pada ujung terminal neuron aferen, maka efek utamanya adalah menghambat pelepasan neurotransmitter algesik presinaptik. Sedangkan efeknya pada post sinaptik
3. DEFENISI NYERI
Menurut 4&S$ A 4nternational &ssociation of the Studyof $ain, Nyeri adalah " an unpleasant sensory and emotional e2perience associated with actual or potential tissue damage or described in terms of such damage "%suatu pengalaman sensori dan emosi yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau yang potensial rusak atau digambarkan seolah-olah ada kerusakan jaringan). <ari definisi diatas dapat kita simpulkan sebagai berikut ?
1. Nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan =. Nyeri merupakan pengalaman yang melibatkan emosi
9. Nyeri terjadi sebagai akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata %nyeri akut) D. Nyeri dapat timbul akibat adanya jaringan yang berpotensi rusak
E. Nyeri dapat timbul tanpa adanya jaringan yang rusak, tetapi menggambarkan seolah-olah ada jaringan yang rusak % nyeri kronik ).
4. PENYEBAB NYERI
'ebeberapa jenis reseptor hanya dapat dirangsang oleh stimulus tertentu sehingga dari sudut reseptor nyeri tersebut penyebab nyeri dapat dibagi atas ?
a. eseptor Nyeri Mekanis %Mechanical $ain eseptor)
8rauma jaringan %operasi) ? trauma langsung pada reseptor ? produksi mediator kimia.
;dema ? penekanan jaringan
$enyumbatan pada lumen ? distensi
8umor ? penekanan dan kerusakan jaringan Spasme otot ? tegang stimulus pada reseptor
b. eseptor nyeri termal %thermal pain receptor )
/ombustio %luka bakar)? kerusakan jaringan menyebabkan rangsangan langsung pada reseptor
c. eseptor nyeri khemis %)hemical *ain Receptor+ 4skemia jaringan ? akumulasi asam laktat A 5at kimia lainya.
Spasme otot ? nyeri sekunder terhadap stimulasi mekanik yang menyebabkan iskemik jaringan.
5. KLASIFIKASI NYERI
'erdasarkan waktu timbulnya nyeri maka nyeri dapat dibagi = ? a. Nyeri cepat %Fast $ain) ? tajam, akut, elektrik.
8erjadi dalam waktu !,1 detik bila terjadi stimulasi.
<iakibat oleh kerusakan jaringan yang nyata. (ontoh ? bila kulit teriris benda tajam
&kan hilang seirama dengan proses penyembuhannya %/imiawi, panas, mekanik, pembedahan A trauma)
Gmumnya terjadi selama kurang dari H bulan I biasanya kurang dari 1 bulan
<apat sembuh secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan. (ontoh ? jari yang tertusuk biasanya sembuh dengan cepat.
$ada kasus dengan kondisi J berat, seperti fraktur ekstremitas, dibutuhkan pengobatan nyeri menurun sejalan penyembuhan tulang.
Fast pain dihantarkan melalui saraf &-delta
b. Nyeri Kambat %Slow pain) L nyeri membakar %burning pain)
Kambat terjadi beberapa detik atau lebih setelah terjadi stimulus Nyeri yang menetap melampaui batas penyembuhan normal %9 bulan atau lebih)
Nyeri yang timbul setelah penyembuhan usai %post hepatic Neuralgia, phantom pain)
Nyeri yang konstan atau intermitten yang menetap 'erlangsung H bulan keatas
Nyeri ini terjadi mis? pada kerusakan jaringan kulit atau jaringan dalam I dapat berlangsung lama.
Nyeri timbul tanpa penyebab yang jelas %low back pain, nyeri kepala)
Nyeri yg didasari kondisi kronik %osteoartritis, reumathoid, arthritis, dll)
Slow pain dihantarkan oleh serabut saraf tipe (
Nyeri kronis dapat terjadi pada kanker , tentang nyeri ini biasanya dapat diidentifikasi.
Nyeri (a sering timbul kompresi saraf perifer atau meningens atau akibat kerusakan pada struktur ini setelah suatu pembedahan, kemotraphi, radiasai atau pertumbuhan I infiltrasi tumor
'erdasarkan awitan, nyeri dapat dibagi atas ? a. Nyeri akut
Nyeri akut biasanya awitan tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi. al ini menarik perhatian pada kenyataan bahwa nyeri ini benar-benar terjadi. Nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya penyembuhan, nyeri terjadi. Nyeri terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan. Gntuk tujuan defenisi, nyeri akut adalah nyeri yang berlangsung beberapa detik hingga enam bulan. (edera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan. Sebagai contoh ? jari yang tertusuk biasanya sembuh dengan cepat, dan nyeri hilang dengan cepat, biasanya beberapa detik atau beberapa menit. $ada kasus yang lebih berat seperti fraktur ekstremitas, pengobatan dibutuhkan, dan nyeri menurun sejalan dengan penyembuhan tulang. %'runner I Suddarth, hal =1=)
b. Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik. Nyeri kronik dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronik sering didefenisikan sebagai nyeri yang
berlangsung selama enam bulan atau lebih. Nyeri kronik dapat terjadi pada kanker.
6. EFEK DARI NYERI
a. Pada n!"# a$%&
<engan tanpa melihat sifat, pola atau penyebab nyeri, nyeri yang tidak diatasi secara adekuat mempunyai efek yang membahayakan. Selain merasa ketidaknyamanan dan mengganggu, nyeri akut yang tidak reda dapat mempengaruhi system pulmonary, cardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin dan imunologik.
'. Pada n!"# $"(n#$
Sama halnya dengan nyeri akut, yang mempunyai efek negatif. Nyeri kronik juga memiliki efek yang merugikan. Supresi fungsi imun yang berkaitan dengan nyeri kronik dapat meningkatkan pertumbuhan tumor. Nyeri kronik sering mengakibatkan depresi dan ketidakmampuan.
). MEKANISME NEUROFISIOLOGI NYERI
&ntara stimuli nyeri sampai dirasakannya sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi %nociception).
&da empat proses yang jelas terjadi pada suatu nosisepsi, yakni ?
a. Proses Transduksi (transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli
nyeri %noxious stimuli) dirubah menjadi aktifitas listrik yang akan diterima ujung ujung saraf %nerve ending ). Stimuli ini dapat berupa stimuli
fisik %tekanan), suhu %panas) atau kimia %substansi nyeri).
b. Proses Transmisi (transmission),
dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. 4mpuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf & delta dan
serabut saraf ( sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron ke dua. <ari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somatosensoris di korteks serebri
melalui neuron ke tiga. <imana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri
c. Proses Modulasi (modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Oadi merupakan proses acenden yang dikontrol oleh otak.
Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorphin,dan serotonin, memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. /ornu posterior ini dapat diibaratkan sebagai pintu yang dapat tertutup atau terbuka untuk menyalurkan impuls nyeri. $eristiwa tertutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. $roses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subjekstif orang per orang.
d. Persepsi ( perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
B. ASUHAN KEPERA*ATAN PASIEN DENGAN NYERI
1. PENGKA+IAN
$engkajian kepada individu dengan nyeri termasuk deskripsi verbal tentang nyeri, juga factor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi nyeri %pengalaman masa lalu tentang nyeri, ansietas, usia) dan respon individu terhadap strategi pereda nyeri
a. Keluhan nyeri dan riwayat
Faktor penyebabAmemperberatAmeringankan /ualitas Kokasi 4ntensitasAkeganasan. 0aktuAlamanya seranganAdurasi <engan pendekatan $ P S 8 1. Provocating (pencetusmemperberat,meringankan)
Presipitasi!
Nyeri dada setelah aktifitas Nyeri abdomen setelah makan
Faktor lingkungan? panasAdingin ;mosi yang meningkat
"ang memperberat
/etakutan /elelahan
"ang meredakan nyeri
*erakan ---- kurang bergerak 4stirahat
$engerahan tenaga --- dibatasi 3bat-obatan
8rial I error --- dipercayai oleh pasien
#. $uality
$erawat perlu membantu klien untuk menggambarkan nyeri bila klien mengalami kesulitan, misalnya ? apakah nyeri terbakar, tumpul, tajam, tertusuk, berdenyut, tertimpa beban tumpul.
%. &egion (lokasipen'alaran)
Kokasi nyeri dapat berasal dari bagian tubuh ? viseral %organ dalam), nyeri somato %permukaanAsuperficial, dalam %ototAtulang) dan seluruh bagian tubuh %generalisasi)
. everityskala (keganasanintensitas)
<ijabarkan dalam sebuah skala nyeri dengan deskripsi ? NS L Numeric ating Scale
! 1! L tdk nyeri, ringan, sedang, sangat nyeri,sangat nyeri I tdk dpt dikontrol
! D L tdk nyeri, ringan, sedang, parah, mengganggu ! 9 L tdk nyeri, ringan, sedang, parah
8dk ada nyeri nyeri hebat
'erbentuk garis horisontal 1! cm. /lien diminta untuk menunjuk titik pada garis tersebut kemudian perawat mengukurnya.
<ijabarkan 6<S L 6erbal <icription Scale
8dk ringan sedng hebat sangat paling
Nyeri hebat hebat
*. Time (waktulamanya serangan)
0aktu pertama kali terjadi
Kamanya berlangsung %menit, jam, hari bulan)
4nterval nyerinya ---- misQ uA menilai kemajuan persalinan
4rama %terus-menerus, hilang-timbul, periode bertambahAberkurang)
b. &espon klien terhadap nyeri
• &espon +isiologik
$erubahan fisiologis involunter merupakan indikator nyeri yang paling akurat dibandingkan dengan laporan verbal pasien. espon fisiologik tersebut seperti peningkatan frekuensi nadi, pernapasan, pucat, dan berkeringat adalah indikator perangsangan saraf otonom. Frekuensi jantung dapat menurun terhadap nyeri akut dan meningkat setelah nyeri hilang.
• &espon prilaku
6okal ? menangis, berteriak, merintih, bicara terengah-engah.
;kspresi wajah ? menyeriangai, mengatupkan gigi, menghindar uA kontak, melotot, menggigit.
*erakan tubuh ? gelisah, immobilisasi, otot tegang, mengusap-usap, membuat posisi tertentu
4nteraksi sosial ? menghindar uA bicara, terpusat pd aktivitas uA mengurangi nyeri, perhatian thd lingkungan kurang.
2. DIAGNOSA KEPERA*ATAN
a. *angguan rasa nyaman ? nyeri...berhubungan dengan trauma mekanik, kimia atau termal
b. /oping individu tidak efektif berhubungan dengan antisipasi stres dari nyeri
3. PEREN,ANAAN
'eberapa prinsip melakukan intervensi keperawatan ?
a. Mengidentifikasi tujuan penatalaksanaan nyeri
8ujuan yang diidentifikasi didiskusikan bersama pasien. 'ebepara pasien menginginkan peredaan nyeri total, namun kenyataan pada banyak orang bahwa harapan ini tidak realistik.8ujuan lain adalah menurunkan intensitas, durasi, atau frekuensi dari nyeri dan menurunkan efek negatif yang ada pada pasien.
<alam menentukan tujuan perlu mempertimbangkan faktor beratnya nyeri, sesuai penilaian pasien, antisipasi efek yang membahayakan dari nyeri, durasi nyeri.
b. Mampu membina hubungan perawat pasien dan memberikan penyuluhan
<ua tindakan keperawatan yang menjadi dasar penatalaksanaan nyeri adalah ? %1) hubungan perawat pasien dan %=) penyuluhan pada pasien tentang nyeri dan cara meredakannya. ubungan perawat pasien yang positip penting dalam komunikasi dan penyuluhan yang efektif. /epercayaan adalah satu elemen penting dalam hubungan ini.
c. Mampu memberikan perawatan fisik
Nyeri dapat mengganggu aktivitas kehidupan sehari- hari yang la5im atau melakukan pertawatan diri. /arenanya penting artinga untuk membantu pasien yang mengalami nyeri. $asien akan merasa nyaman ketika kebutuhan fisiknya terpenuhi. $emberian perawatan fisik juga memberikan kesempatan pada perawat untuk melakukan pengkajian secara lengkap dan mengidentifikasi masalah yang memperberat nyeri. Sentuhan fisik yang sesuai dan lembut selama perawatan dapat menenangkan dan menyenangkan.
d. Mampu menangani kecemasan pasien
/ecemasan dapat mempengaruhi respon pasien terhadap nyeri. $asien yang mengantisipasi nyeri dapat menjadi lebih cemas. 3rang yang mengalami nyeri
akan menggunakan strategi yang dipelajari sebelumnya untuk mengurangi nyeri. Mengajarkan pasien tentang sifat dari pengalaman nyeri yang akan dilalaminya dan cara-cara untuk menurunkan nyeri sering mengurangi kecemasan. /adang apa yang dijelaskan tentang tindakan pereda nyeri dan efektifitasnya juga dapat menyebabkan kecemasan pasien meningkat.
<engan melihat keemapt prinsip diatas maka ada dua tujuan penting yang harus dicapai dalam intervensi keperawatan antaranya ?
Mengurangi dan mengatasi nyeri
Meningkatkan koping individu untuk mengurangi kecemasan
4. TINDAKAN KEPERA*ATAN
D#a-n(a $!/!"a0a&an 1 :
a. Rakinkan pasien bahwa anda mengetahui nyeri yang dialami pasien adalah nyata dan akan membantunya untuk mengurangi nyeri tersebut.
asionalnya ? keyakinan pasien terhadap perawat akan membantu mengurangi kecemasan klien dan meningkatkan toleransi terhadap nyeri
b. /aji karakteristik nyeri %$,P,,S dan 8)
asionalnya ? membantu mengevaluasi nyeri dan mengidentifikasi sumber multipel yang dapat meredakan nyeri.
c. 4dentifikasi dan dorong pasien untuk menggunakan strategi penurunan nyeri yang pernah digunakan sebelumnya.
asionalnya ? mendorong penggunaan strategi peredaan nyeri yang familiar dan dapat diterima pasien.
d. &jarkan pasien strategi tambahan ? distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing dan stimulasi kutaneus.
asionalnya ? menggunakan strategi ini sejalan dengan pemberian analgesik dapat menghasilkan peredaan nyeri yang efektif.
e. /olaborasi terapi dengan dokter untuk pemberian analgesik asionalnya ? analgesik dapat menghambat transmisi nyeri D#a-n(a $!/!"a0a&an 2 :
a. /aji strategi koping pasien dan faktor-faktor yang menyebabkan koping yang tidak efektif.
asional ? memberikn dasar untuk mengkaji, intervensi dan memungkinkan pasien dan perawat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mengganggu koping yang efektif.
b. &jarkan pasien cara yang sesuai dan aman menggunakan analgesik
asional ? memberikan pasien suatu alternatif dan strategi koping yang aman.
c. 'antu pasien mengidentifikasi dan menggunakan strategi koping yang efektif
asional ? $engandalan strategi koping yang tidak efektif sebelumnya menunjukan kebutuhan mengidentifikasi strategi koping yang lebih efektif.
d. 'antu pasien untuk merencanakan dan ikut serta dalam aktivitas
asionalnya ? mengalihkan perhatian %distraksi) terhadap rasa nyeri dengan aktivitas yang ditoleransi.
5. EVALUASI DAN DOKUMENTASI
;valuasi dilakukan terhadap intervensi yang telah diberikan apakah telah mencapai tujuan perawatan atau belum. ;valuasi dilandaskan pada kriteria evaluasi yang ditetap sebagai indikator pencapaian tujuan intervensi.
a. /emampuan mengatasi nyeri ?
&da laporan nyeri berkurang
4ntensitas dan durasi nyeri berkurang
espon fisiologis dan fisik tidak menunjukan adanya nyeri
Mampu melakukan teknik penanganan nyeri secara efektif.
b. /oping lebih efektif
Mampu memperagakan penggunaan strategi koping yang efektif.
/ecemasan pasien berkurang
Mampu menghindari koping yang tidak efektif %merokok, alkohol, penggunaan obat-obatan dan agresif)
Segala aktivitas perawatan mulai dari pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi dicatat dalam lembaran catatan keperawatan.
P/T-K-1. 'runner dan Suddarth, =!!=, /eperawatan Medikal 'edah, edisi T, ;*( , Oakarta.
=. *uyton dan all, 1B, Fisiologi kedokteran, edisi , ;*(, Oakarta.
9. Meliala Kukas, =!!B, Nyeri dan permasalahannya, 'agian saraf umah Sakit <r Sardjito, Fakultas /edokteran Gniversitas *ajah Mada, Rogjakarta.
D. $erry I $otter, =!!T, Fundamental of Nursing,
E. 8antra & usni, =!!B, Mekanisme dasar nyeri, 'agian anastesiologi dan unit penanganan intensif Fakultas /edokteran Gniversitas asanuddin Makassar disajikan dalam Simposium penanganan nyeri, Makasar