• Tidak ada hasil yang ditemukan

SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN. TahunPelajaran 2020/2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN. TahunPelajaran 2020/2021"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN

MODUL

Mata Pelajaran: Sejarah Indonesia

Kelas / Semester : X (Sepuluh) / Genap

KB. 07

TahunPelajaran 2020/2021

A.

KompetensiDasar

3.9.

Mengevaluasi upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI-Permesta, G-30-S/PKI

4.9.

Merekonstruksi upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI-Permesta, G-30-S/PKI

B.

TujuanPembelajaran

1.

Siswa mampu mengidentifikasi konflik dan pergolakan atas dasar Ideologi, kepentingan kelompok dan sistem pemerintahan

2. Siswa mampu

Menganalisis kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam upaya menyelesaikan konflik dan pergolakan atas dasar ideologi dan kepentingan yang terjadi antara tahun 1948-1965.

C.

UraianMateriPembelajaran

Dalam Modul ini akan dibahas 3 pemberontakan/gerakan disintegrasi bangsa/gerakan separatis,

yaitu pemberontakan Andi Azis, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) dan

PRRI-Permesta.

1. Pemberontkan Andi Azis

a. Latar Belakang Pemberontakan Andi Azis

Pemberontakan Andi Azis merupakan upaya perlawanan yang dilakukan oleh Andi Azis, yakni seorang mantan perwira KNIL. Kala itu, ia berusaha untuk mempertahankan keberadaan Negara Indonesia Timur (NIT) karena enggan bergabung dengan NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia. Andi Azis berpendapat bahwa para perwira APRIS harus bertanggung jawab atas gangguan keamanan yang terjadi di NIT, sebab menurut Azis, pemerintah adalah dalang dari gangguan tersebut.

Pemberontakan ini terjadi di Ujungpandang, Makassar pada 5 April 1950 diawali dengan konflik Sulawesi Selatan pada bulan yang sama. Konflik ini terjadi karena adanya ketegangan antara masyarakat yang pro federal dan yang anti federal. Sehingga, pada 5 April 1950, Pemerintah Indonesia mengutus pasukan TNI dari Jawa untuk mengamankan daerah tersebut. Tetapi, kedatangan TNI ini dianggap mengancam kelompok masyarakat yang pro federal. Akhirnya, masyarakat yang pro federal ini bergabung di bawah komando Andi Azis dan membentuk pasukan bernama “Pasukan Bebas.”

b. Tujuan Pemberontakan Andi Azis

Secara umum, tujuan ini bertujuan untuk mempertahankan NIT. Dalam aksinya, Andi Azis tidak bergerak sendiri, tetapi dibantu juga oleh Sultan Hamid II (dalang pemberontakan APRA) dan Belanda.

(2)

c. Upaya Pemerintah Menumpas Pemberontakan Andi Azis

Dalam memberantas pemberontakan ini, Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya, yakni:

1. Pada 8 April 1950, Pemerintah Indonesia memberikan ultimatum yang isinya memerintahkan Andi Azis untuk segera melaporkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Jakarta dalam waktu 4 x 24 jam.

2.Andi Azis diperintahkan untuk menarik semua pasukannya dan menyerahkan semua senjata, serta membebaskan para tawanan.

Pada kenyataan-nya, semua ultimatum di atas tidak dipenuhi oleh Andi Azis. Untuk itu, Pemerintah Indonesia pun mengirim pasukan TNI di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang. Pertempuran pun terjadi pada tanggal 26 April 1950. Dalam waktu singkat, pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh TNI di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang. Andi Azis pun ditangkap dan diadili di Yogyakarta. Namun setelah diusut lebih intensif lagi, pemberontakan ini ternyata didalangi oleh Dr. Soumokil, yakni dalang Pemberontakan RMS.

d. Nasib Negara Indonesia Timur

Pada kala itu, ada beberapa dampak Pemberontakan Andi Azis yang juga akhirnya membentuk nasib Negara Indonesia Timur. Apa saja?

1. Ir. P. D Diapri, Perdana Menteri NIT kala itu mengundurkan diri karena tidak setuju dengan pemberontakan Andi Azis.

2. Ir. Putuhena diangkat menggantikan Ir. Diapri. Ia merupakan tokoh yang pro republik.

3. Sukawati, Wali Negara NIT, pada 21 April 1950 mengumumkan jika NIT bersedia untuk gabung dengan NKRI.

2. Pemberontakan RMS

a. Jalannya Pemberontakan RMS

Apa yang dimaksud dengan Republik Maluku Selatan atau RMS ? yakni merupakan sebuah republik yang terletak diwilayah Kepulauan Maluku yang sudah diproklamasikan sejak pada 25 April 1950. Dimana pulau yang paling besarnya ialah Ambon, Lalu Seram, dan juga Buru. Pada masa itu RMS di Ambon telah dilumpuhkan oleh anggota militer Indonesia sekitar November 1950, namun tetap saja mengenai konflik yang berlangsung di Seram masih berlanjut hingga smapai pada bulan Desember tahun 1963. Sehingga adanya kekalahan di Ambon hingga menyebabkan adanya sebuah pengungsian pemerintah RMS ke Seram, yang kemudian akhirnya mendirikan suatu pemerintahan dalam pengasingan di Belanda sekitar tahun 1966. Dimana bahwa menangani alasan penggabungan antara Ambon ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa memuai sebuah dampak yang sangat buruk dan juga bisa sangat bahaya bagi masyarakat banyak di suatu hari nanti.

Maka dengan berdasarkan dari adanya bahaya tersebut sehingga bagi seluruh masyarakat agar tetap selalu mewaspadai mengenai segal kemungkinan yang dapat terjadi. Kemudian diperkirakan Pada tanggal 20 april 1950, yang mana pada saat sudah ada suatu pengajuan mosi yang mana merupakan rasa tak percaya terhadap lembaga parlemen NIT.

(3)

Adapun tujuan dari pengajuan tersebut ialah agar para anggota kabinet NIT atau Negara Indonesia Timur menaruh sepenuhnya atas jabatannya supaya dapat menyatu dan berganbung dengan wilayah NKRI.

Maka dengan adanya kegagalan yang dilakukan oleh Andi Andul Azis sehingga menjadi sebuah akhir bagi Negara Indonesia Timur. Akan tetapi, keberlangsungan pada pemberontakan tersebut tidak cuma berhenti sampai disini saja. Sebab Soumokil dengan semua para anggota yang memberikan dukungan merasa masih belum bisa menyerah agar dapat memiasahkan antara wilayah Maluku Tengah atas dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka pada saat itu juga terdengar, kelompok tersebut mulai melakukan suatu perundingan agar dapat melaksankan aksi pemberontakannya dengan bersama semua para anggota KNIL. Kemudian perundingan tersebut berlangsung di wilayah Ambon dan yang dihadiri oleh semua para pemuka dari anggota KNIL, dan kemudian Soumokil, dan Ir. Manusaman bersiasat agar dapat mengambil dan merebut daerah Maluku Selatan supaya bisa menjadi daerah mereka seutuhnya. Bahkan mereka telah siap dengan segala kemungkinan yang akan ditimbukan sekalipun jika harus, membunuh semua para anggota dewan yang terdapat di Maluku Selatan supaya dapat proklamasi kemerdekaan atas di wilayah yang akan diraihnya tersebut.

Pada saat berlangsungnya pemberontakan tersebut yang mana kelompok ini diketuai oleh Soumokil yang mana beliau merupakan salah seorang mantan dari Jaksa Agung. Dimana beliau juga mempunyai tujuan agar dapat memisahkan dengan sepenuhnya atas wilayah Maluku dari pangkuan NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia). Kemudian ketika sebelum diproklamasikannya Republik Maluku Selatan, Dimana seorang Gubernur Sembilan Serangkai yang pada kala itu mempunyai anggota pasukan KNIL dan juga Partai Timur Besar sudah lebih dulu melakukan segala bentuk yang mempropagandakan.

Hal tersebut dilaksanakan agar dapat membuat wilayah Maluku dpat terpisah atas Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun disamping itu juga dimana, Soumokil sudah sukses sepenuh membuat masyrakat merasa yakin dan kemudian ia mulai melakukan pembentukan agar dapat memperkuat terhadap daerah Maluku Tengah. Kemudian sementara itu juga bagi semua orang yang tak memberi dukungan terhadap daerah maluku tengah maka diancam dan dimasukkan ke dalam tahanan. Maka pada Akhirnya sekitar 25 April 1950, Republik Maluku Selatan mulai melakukan proklamasi.

Yang pada saat itu yang menjabat sebagai presiden ialah J.H Manuhutu dengan perdana menteri Albert Fairisal. Namun selain itu terdapat sejumlah menteri dipilih yang diantaranya ialah Mr.Dr.C.R.S Soumokil, lalu D.j Gasperz, J.B Pattiradjawane, J.Toule, S.j,H Norimarna, P.w Lokollo, H.f pieter, A.Nanholy, Z.Pesuwarissa dan Ir.J.A Manusama. Kemudian sekitar tanggal 27 April 1950 salah seorang yang bernama Dr.J.P Nikijuluw mulai dipilih dan diangkat untuk dijadikan wakil presiden dari Republik Maluku Selatan dalam bagian wilayah di luar negeri dan mempunyai kedudukan di Den Haag, Belanda. Kemudian sekitar pada tanggal 3 mei 1950, pada kala itu Soumokil menjadi pengganti Manuhutu yang berkududukan sebagai presiden Republik Maluku Selatan.

Kemudian sekitar 9 mei 1950 mulailah dilakukan sebuah pembentukan angkatan perang Republik Maluku Selatan atau disingkat (APMRS) yang diketuai oleh berpangkat panglima sersan Mayor KNIL, D.J Samson. Namun yang dijadikan kepala staff ialah sersan Mayor Pattiwale. Kemudian

(4)

sejumlah anggota staff lainnya ialah seperti sersan Mayor Aipasa, lalu sersan Mayor Pieter dan selanjutnya ialah Sersan Mayor Kastanja. Yang pada kala sistem pengangkatan atau kenaikan pangkat ialah masih dengan menerapkan sebuah sistem KNIL.

b. Upaya Penumpasan Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)

Pada saat itu pemerintah republik Indonesia berupaya mengambil jalan perdamaian agar dapat menangani pemberontakan yang telah berlangsung di wilayah Maluku tersebut. Adapun langkah serta sikap yang dilakukan oleh pemerintah ialah diantaranya ialah dengan pengiriman sebuah misi perdamaian yang diketuai secara langsung oleh berbagai tokoh yang merupakan penduduk asli Maluku yakni seperti Dr.Leimena.

Akan tetapi sangat disayangkan semua tak berjalan sesuai dengan keinginan dimana pada upaya perdamaian tersebut langsung ditolak oleh Soumokil. Kemudian selanjutnya, pemerintah akhirnya mengirimkan sebuah misi perdamaian yang berikutnya yang mana dalam misi tersebut terdiri atas dokter, lalu politikus, dan pendeta serta wartawan namun ternyata tidak juga bisa bertemu secara langsung dengan Soumokil.

Kemudian setelah semua misi perdamaian dirasa sudah ditolak, pada akhirnya mulailah dilakukan agresi militer agar dapat memberantas gerakan Republik Maluku selatan tersebut. Kemudian pada anggota pasukan tersebut dijuluki dengan sebutan Gerakan Operasi Militer (GOM) III yang diketuai langsung oleh Kolonel Alex .E Kawilarang yang mana pada saat itu masih memimpin sebagai seorang Panglima tentara dan Teritorium Indonesia Timur.

Dan kemudian operasi tersebut dimulailah sekitar tanggal 14 Juli1950. Namun bersamaan dengan hal itu, yang mana diperkirakan pada tanggal 15 Juli 1950, Negara Republik Maluku Selatan pada akhirnya mmebuat suatu pengumuman mengenai keadaan negara saat itu bahwa dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Lalu sekitar tanggal 28 September 1950, Dimana para anggota Pasukan GOM III mulai masuk dan menembus wilayah Ambon terutama mereka sudah mampu mengambil alih benteng Nieuw Victoria. Maka dengan banyaknya korban dari jatuhnya pasukan di Ambon, akhirnya membuat Republik Maluku Selatan saat itu bisa ditaklukkan. Dan kemudian pada akhirnya titik pusat pemerintahan pun mulai dipindahkan ke dalam Pulau Seram.

Diperkirakan sekitar tahun 1952, dimana pada kala itu seorang presiden dari Maluku Selatan yang bernama J.H Manuhutu telah ditangkap. Namun sementara semua para pemimpin dari Republik Maluku Selatan yang Lainnya telah berhasil melarikan diri ke daerah Belanda. Hingga pada Akhirnya semua para tokoh yang telah berhasil ditangkap kemudian diberikan sanksi berupa sebuah hukuman, antara lain ialah seperti pada penjelasan di bawah ini:

- Yang pertama ialah J.H Munhutu, merupakan seorang Presiden dari RMS dipidana hukuman 4 Tahun

- Yang kedua ialah Albert Wairisal, merupakan seorang Perdana Menteri Dalam Negeri yang dipidana selama 5 Tahun

- Yang ketiga ialah D.J Gasper, merupakan seorang Menteri Dalam Negeri yang dipidana selama 4 ½ Tahun

(5)

- Yang keempat ialah J.B Pattirajawane, merupakan seorang Menteri Keuangan yang dipidana 4 ½ Tahun

- Yang kelima ialah G.G.H Apituley, merupakan salah seorang Menteri Keuangan yang kemudian dipidana 5 ½ Tahun

- Yang keenam ialah T. Nussy, menjabat merupakan ketua Staf Tentara dari RMS yang dipidana dalam kurun 7 tahun

- Yang ketujuh ialah D.J Samson, merupakan slaah seorang Panglima Tertinggi dari RMS yang dipidana 10 Tahun

- Yang kedelapan yakni Ibrahim Oharilla, yang merupakan salah seorang Menteri Pangan yang dipidana hukuman 4 ½ Tahun

- Yang kesembilah yakni J.S.H Norimarna, merupakan slah seorang Menteri Kemakmuran dipidana selama 5 ½ Tahun

- Yang kesepuluh yakni D.Z Pessuwariza, merupakan salah seorang Menteri Penerangan yang mendapat hukuman pidana 5 ½ Tahun

- Yang kesebelas yakni Dr. T.A Pattirajawane, merupakan Menteri dari Kesehatan dipidana dalam kurun 3 Tahun

- Yang kesebelas yakni F.H Pieters, yang mana merupakan slah seorang Menteri Perhubungan dan dipidanan hukuman 4 Tahun.

3. Pemberontakan PRRI-Permesta

A. Latar Belakang Pemberontakan PRRI/PERMESTA

Awal Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan PERMESTA sebenarnya sudah muncul pada saat menjelang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949 dan pada saat bersamaan Divisi Banteng diciutkan sehingga menjadi kecil dan hanya menyisakan satu brigade. Brigade ini pun akhirnya diperkecil lagi menjadi Resimen Infanteri 4 TT I BB. Hal ini memunculkan perasaan kecewa dan terhina pada para perwira dan prajurit Divisi IX Banteng yang telah berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya bagi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu juga, terjadi ketidakpuasan dari beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatra dan Sulawesi terhadap alokasi biaya pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Kondisi ini diperparah dengan tingkat kesejahteraan prajurit dan masyarakat yang sangat rendah.

Ketidakpuasan tersebut akhirnya memicu terbentuknya dewan militer daerah yaitu Dewan Banteng yang berada di daerah Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1956. Dewan ini diprakarsai oleh Kolonel Ismail Lengah (mantan Panglima Divisi IX Banteng) bersama dengan ratusan perwira aktif dan para pensiunan yang berasal dari Komando Divisi IX Banteng yang telah dibubarkan tersebut. Letnan Kolonel Ahmad Husein yang saat itu menjabat sebagai Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB diangkat menjadi ketua Dewan Banteng. Kegiatan ini diketahui oleh KASAD dan karena Dewan Banteng ini bertendensi politik, maka KASAD melarang perwira‑perwira AD untuk ikut dalam dewan tersebut. Akibat larangan tersebut, Dewan Banteng justru memberikan tanggapan dengan mengambil alih pemerintahan Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Muloharjo, dengan alasan Ruslan Muloharjo tidak mampu melaksanakan pembangunan secara maksimal.

(6)

Selain Dewan Banteng yang bertempat di daerah Sumatra Barat, di Medan terdapat juga Dewan Gajah yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon, Panglima Tentara dan Teritorium I, pada tanggal 22 Desember 1956. Dan juga di Sumatra Selatan terbentuknya Dewan Garuda yang dipimpin oleh Letkol Barlian.

Selain itu pemberontakan ini juga disebabkan karena ada pengaruh dari PKI terhadap pemerintah pusat dan hal ini menimbulkan terjadinya kekecewaan pada daerah tertentu. Keadaan tersebut diperparah dengan pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat yang berada di dalam pemerintah pusat, tidak terkecuali Presiden Soekarno.

Selanjutnya, PRRI membentuk Dewan Perjuangan dan tidak mengakui kabinet Djuanda. Dewan Perjuangan PRRI akhirnya membentuk Kabinet baru yang disebut Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI). Pembentukan kabinet ini terjadi pada saat Presiden Soekarno sedang melakukan kunjungan kenegaraan di Tokyo, Jepang. Pada tanggal 10 Februari 1958, Dewan Perjuangan PRRI melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan berupa “Piagam Jakarta” yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Soekarno supaya “bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional, menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan…”. Tuntutan tersebut antara lain :

- Mendesak kabinet Djuanda supaya mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno.

- Mendesak pejabat presiden, Mr. Sartono untuk membentuk kabinet baru yang disebut Zaken Kabinet Nasional yang bebas dari pengaruh PKI (komunis).

- Mendesak kabinet baru tersebut diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja hingga pemilihan umum yang akan datang.

- Mendesak Presiden Soekarno membatasi kekuasaannya dan mematuhi konstitusi. Jika tuntutan tersebut di atas tidak dipenuhi dalam waktu 5×24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil kebijakan sendiri.

Setelah tuntutannya di tolak, PRRI membentuk sebuah Pemerintahan dengan anggota kabinetnya. Pada saat pembangunan Pemerintahan tersebut di mulai, PRRI memperoleh dukungan dari PERMESTA dan rakyat setempat. Pada tanggal 2 Maret 1957, di Makasar yang berada di wilayah timur Negara Indonesia terjadi sebuah acara proklamasi Piagam Perjuangan Republik Indonesia (PERMESTA) yang diproklamasikan oleh Panglima TT VII, Letkol Ventje Sumual. Pada hari berikutnya, PERMESTA mendukung kelompok PRRI dan pada akhirnya kedua kelompok itu bersatu sehingga gerakan kedua kelompok itu disebut PRRI/PERMESTA. Tokoh-tokoh PERMESTA terdiri dari beberapa pasukan militer yang diantaranya adalah Letnan Kolonel D.J Samba, Letnan Kolonel Vantje Sumual, Letnan Kolonel saleh Lahade, Mayor Runturambi, dan Mayor Gerungan.

B. Tujuan Dari Pemberontakan PRRI/PERMESTA

Tujuan dari pemberontakan PRRI ini adalah untuk mendorong pemerintah supaya memperhatikan pembangunan negeri secara menyeluruh, sebab pada saat itu pemerintah hanya fokus pada pembangunan yang berada di daerah Pulau jawa. PRRI memberikan usulan atas ketidakseimbangan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat.

(7)

Meskipun alasan yang dilakukan oleh PRRI ini benar, namun cara yang digunakan untuk mengoreksi pemerintah pusat itu salah. PRRI menuntut kepada pemerintah pusat dengan nada paksaan, sehingga pemerintah menganggap bahwa tuntutannya itu bersifat memberontak. Hal tersebut menimbulkan kesan bagi pemerintah pusat bahwa PRRI adalah suatu bentuk pemberontakan. Akan tetapi, jika PRRI itu dikatakan sebagai pemberontak, hal ini merupakan anggapan yang tidak tepat sebab sebenarnya PRRI ingin membenahi dan memperbaiki sistem pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat, bukan untuk menjatuhkan pemerintahan Republik Indonesia.

Karena ketidakpuasan PRRI terhadap keputusan pemerintah pusat, akhirnya PRRI membentuk dewan-dewan daerah yang terdiri dari Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan Dewan Garuda. Pada tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamasikan bahwa berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia dengan Syarifudin Prawiranegara sebagai perdana menterinya. Proklamasi PRRI tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia bagian Timur. Tidak lama setelah proklamasi PRRI dilakukan, pasukan gerakan PERMESTA memutuskan untuk bergabung ke dalam kelompok PRRI. Dalam rapat raksasa yang diselenggarakan di beberapa daerah, Kolonel D.J Somba menyatakan bahwa pada tanggal 17 Februari 1958, Komando Daerah Sulawesi Utara dan Sulawesi tengah menyatakan putus hubungan dengan pemerintahan pusat dan mendukung PRRI.

C. Usaha Pemerintah Untuk Menumpas Pemberontakan PRRI/PERMESTA

Terjadinya pemberontakan PRRI/PERMESTA ini mendorong pemerintahan RI untuk mendesak Kabinet Djuanda dan Nasution aupaya menindak tegas pemberontakan yang dilakukan oleh organisasi PRRI/PERMESTA tersebut. Kabinet Nasution dan para mayoritas pimpinan PNI dan PKI menghendaki supaua pemberontakan tersebut untuk segera di usnahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, untuk pimpinan Masyumi dan PSI yang berada di Jakarta sedang mendesak adanya perundingan dan penyelesaian secara damai. Namun pada akhirnya, pemerintah RI memilih untuk menindak para pemberontak itu dengan tegas. Pada akhir bulan Februari, Angkatan Udara Republik Indonesia memulai pengeboman instansi-instansi penting yang berada di kota Padang, Bukit Tinggi, dan Manado.

Pada awal bulan Maret, pasukan dari Divisi Diponogoro dan Siliwangi yang berada di bawah pimpinan Kolonel Achmad Yani didaratkan di daratan Pulau Sumatera. Sebelum pendaratan itu dilakukan, Nasution telah mengiriman Pasukan Resmi Para Komando Angkatan Darat di ladang-ladang minyak yang berada di kepulauan Sumatera dan Riau. Pada tanggal 14 Maret 1958, daerah Pecan Baru berhasil dikuasai, dan Operasi Militer kemudian dikerahkan ke pusat pertahanan PRRI. Pada tanggal 4 Mei 1958 Bukit tinggi berhasil dikuasai dan selanjutnya Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) membereskan daerah-daerah bekas pemberontakan PRRI. Pada penyerangan tersebut, banyak pasukan PRRI yang melarikan diri ke area perhutanan yang berada di daerah tersebut.

Untuk melancarkan penumpasan terhadap Pemberontakan tersebut, pemerintah membentuk sebuah pasukan Operasi Militer yang operasinya disebut Operasi Merdeka pada bulan April 1958 dan operasi tersebut di pimpin oleh Letkol Rukminto Hendradiningrat. Organisasi PERMESTA diduga

(8)

mendapatkan bantuan dari tentara asing, dan bukti dari bantuan tersebut adalah jatuhnya pesawat yang dikemudikan oleh A.L Pope (Seorang Warga negara Amerika) yang tertembak jatuh di Ambon pada tanggal 18 Mei 1958. Pada tanggal 29 Mei 1961, Achmad Husein menyerahkan diri, dan pada pertengahan tahun 1961, para tokoh-tokoh yang bergabung dalam gerakan PERMESTA juga menyerahkan diri.

D. Dampak Dari Pemberontakan PRRI/PERMESTA

Pemberontakan yang dilakukan oleh gerakan PRRI/PERMESTA ini membawa dampak besar terhadap hubungan dan politik luar negeri Indonesia. Dukungan dari negara Amerika Serikat terhadap pemberontakan tersebut membuat hubungan antara Indonesia dengan Amerika menjadi tidak harmonis. Apalagi dukungan dari Amerika Serikat terhadap PRRI/PERMESTA terbukti benar dengan jatuhnya pesawat pengebom B-26 yang dikemudikan oleh seorang pilot bernama Allen Pope pada tanggal 18 Mei 1958 di lokasi yang tidak jauh dari kota Ambon. Presiden RI, Ir. Soekarno beserta para pemimpin sipil, dan militernya memiliki perasaan curiga terhadap negara Amerika Serikat dan Negara lainnya. Malaysia yang baru merdeka pada tahun 1957 ternyata juga mendukung gerakan PRRI dengan menjadikan wilayahnya sebagai saluran utama pemasok senjata bagi pasukan PRRI. Begitu pula dengan Filipina, Singapura, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan juga mendukung gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI.

Akibat dari pemberontakan ini, pemerintah pusat akhirnya membentuk sebuah pasukan untuk menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI. Hal ini mengakibatkan pertumpahan darah dan jatuhnya korban jiwa baik dari TNI maupun PRRI. Selain itu, pembangunan menjadi terbengakalai dan juga menimbulkan rasa trauma di masyarakat Sumatera terutama daerah Padang.

E. Tokoh-Tokoh PRRI/PERMESTA

Inilah tokoh-tokoh yang ikut serta dalam melangsungkan pemberontakan PRRI/PERMESTA, tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah.

1. Letnan Kolonel Ahmad Husein 2. Mayor Eddy Gagola

3. Kolonel Alexander Evert Kawilarang 4. Kolonel D.J Somba

5. Kapten Wim Najoan 6. Mayor Dolf Runturambi 7. Letnan Kolonel Ventje Sumual 8. Letnan Kolonel Barlian

9. Letnan Kolonel Maludin Simbolon

Pejabat-Pejabat Kabinet PRRI, yakni: Mr. Syarifudin Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Keuangan. Mr. Assaat Dt. Mudo yang menjabat sebagai Menteri Dalam negeri. Dahlan Djambek sempat memegang jabatan itu sebelum Mr. Assaat tiba di Padang. Letkol Mauludin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri. Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo menjaba sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran. Moh Syafei menjabat sebagai Menteri PKK dan Kesehatan. J.F Warouw menjabat sebagai

(9)

Menteri Pembangunan. Saladin Sarumpet menjabat sebagai Menteri Pertanian dan Pemburuhan. Muchtar Lintang menjabat sebagai Menteri Agama. Saleh Lahade menjabat sebagai Menteri Penerangan. Ayah Gani Usman Menjabat Sebagai Menteri Sosial. Dahlan Djambek menjabat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi.

D.

Tugas

1. Apa yang melatarbelakangi Pemberontakan:

a. Andi Azis

b. RMS

c. PRRI-Permesta

2. Siapakah tokoh pemimpin dari pemberontakan Andi Azis, RMS dan PRRI Permesta, serta apa

tujuan dari masing-masing pemberontakan tersebut?

3. Daerah mana sajakah yang ikut dalam pemberontakan PRRI-Permesta?

4. Tuliskan nama-nama tokoh pemimpin pemberontakan Andi Azis, RMS dan PRRI-Permesta?

5. Bagaimana tindakan pemerintah Republik Indonesia dalam upaya memadamkan pemberontakan

Referensi

Dokumen terkait

Berbuat baik kepada kedua orangtua ialah dengan cara mengasihi, memelihara, dan menjaga mereka dengan sepenuh hati serta memenuhi semua keinginan mereka selama tidak

Jadi dapat dikatakan bahwa hukum Internasional adalah himpunan dari peraturan dan ketentuan – ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara Negara – Negara

Semua jenis proposal memiliki satu tujuan sama, yaitu untuk menyampaikan suatu rencana kegiatan secara rinci, sehingga kegiatan tersebut dapat diterima, mendapatkan dukungan dan izin

Ketika Danurejo II datang kepadanya, dia menyambut dengan bahasa melayu yang fasih, sementara pejabat keratin Yogyakarta yang merupakan musuh dalam selimut dari Sultan

Pada bagian ini akan diuraikan mengenai strategi penyebaran Islam dan media yang dipergunakan oleh para pedagang dan mubaligh dalam penyebaran Islam di Indonesia..

Sistem demokrasi terpimpin ini diambil oleh Presiden Soekarno karena alas an bahwa pada saat demokrasi liberal rakyat Indonesia belum siap menerima kebebasan

membangun ketahanan di bidang ekonomi melalui penataan sistem ekonomi nasional yang sehat dan berdaya saing. Sasaran pembangunan bidang ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang

Debat kompetitif dalam pendidikan tidak seperti debat sebenarnya dalam parlemen, debat kompetitif tidak bertujuan untuk menghasilkan keputusan tetapi lebih diarahkan untuk