SKRIPSI MARKETING POLITIK PARTAI GERINDRA DALAM MENGHADAPI PEMILIHAN LEGISLATIF TAHUN 2019 DI KABUPATEN SINJAI. Disusun dan Diusulkan Oleh : FIRMAN

85 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Disusun dan Diusulkan Oleh :

FIRMAN

Nomor Stambuk : 10564 01883 14

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

i Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diusulkan Oleh :

FIRMAN

Nomor Stambuk : 10564 01883 14

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)

ii Nama Mahasiswa : Firman

Nomor Stambuk : 10564 01883 14 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyetujui,

Pembimbing I

Drs. H. Ansyari Mone, M.Pd

Pembimbing II

Fitriani Sari Handayani, S.IP.,MA

Mengetahui, Dekan

Fisipol Unismuh Makassar

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan

(4)

iii

Menguji Skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar,Nomor 0079/FSP/A.3-VIII/II/41/2020 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) dalam Program Studi Ilmu Pemerintahan di Makassar pada hari Rabu Tanggal 05 Februari 2020.

TIM PENILAI

Ketua Sekretaris

Dr.Hj.Ihyani Malik,S.Sos.,M.Si Dr.Burhanuddin,S.Sos.,M.Si

TIM PENGUJI

1. Dr.Hj.Fatmawati,M.Si (Ketua) ( )

2. Dra.Hj.ST.Nurmaeta,MM ( )

(5)

iv Nomor Stambuk : 10564 01883 14 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis / dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar,14 Februari 2020 Yang Menyatakan,

(6)

v

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Marketing Politik Partai Gerindra Dalam Menghadapi Pemilihan Legislatif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui marketing politik partai gerindra dalam menghadapi pemilihan legisltif tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.

Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif, artinya data yang dikumpulkan berasal dari hasil wawancara, observasi secara langsung, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa DPC partai Gerindra Kabupaten Sinjai melakukan marketing politik dalam menghadapai pemilihan legislative tahun 2019 melalui aktifitas politiknya dengan memasarkan program dan kandidat sebagai produk (product) partai lewat adanya penggunaan media dan sosialisasi (promotion), perhitungan dana dan citra kandidat (price), membuat strategi penyebaran di berbagai daerah di Kabupaten Sinjai lewat sejumlah kandidat Partai Gerindra (place). Selain itu, melihat dari fakta di Kabupaten Sinjai bahwa partai politik masih sangat lekat dengan figur penokohan untuk dapat mengangkat elektabilitasnya, maka dibahas pula faktor penokohan Prabowo Subianto untuk memberikan sejumlah testimoni ataupun pandangan terhadap nasib bangsa sehingga mudah mempromosikan dimedia massa.

(7)

vi

memberi berbagai karunia dan nikmat yang tiada terhitung kepada seluruh makhluknya terutama manusia. Demikian pula salam dan shalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW yang merupakan panutan dan contoh kita di akhir zaman. Dengan keyakinan ini sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Marketing politik Partai Gerindra dalam menghadapi pemilihan legislatif tahun 2019 di Kabupaten Sinjai”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang saya ajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiayah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Drs. H. Ansyari Mone, M.Pd selaku Pembimbing I dan Ibu Fitriani Sari Handayani, S.IP.,MA selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP.,M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)

vii selama menempuh perkuliahan.

5. Pihak DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai yang telah banyak memberikan informasi dan data yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

6. Saudara(i)ku anak Ilmu Pemerintahan angkatan 2014 yang sama-sama berjuang dalam meraih cita-cita serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini..

7. Secara khusus dan istimewah penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua saya, Bapak Emmang dan Ibu Tani yang telah mendidik dan membimbing saya dari kecil hingga dewasa dan selalu memberikan pengajaran yang sangat berharga.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun penulis sangat diharapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar,14 Februari 2020

(9)

viii

Abstrak ...vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi... viii

Daftar Tabel ...ix

BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang Masalah. ... 1

B. Rumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... A. Pengertian Marketing Politik... 6

B. Partai Politik. ... 16

C. Kerangka Pikir ... 24

D. Fokus Penelitian. ... 26

E. Deskripsi Fokus Penelitian. ... 26

BAB III METODE PENELITIAN... A. Waktu Dan Lokasi Penelitian. ... 29

B. Jenis Dan Tipe Penelitian. ... 29

C. Sumber Data. ... 29

D. Informan Penelitian. ... 30

E. Teknik Pengumpulan Data. ... 31

F. Teknik Analisis Data. ... 32

G. Keabsahan Data ... 33

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Objek Penelitian... 35

B. Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legisltif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai... 53

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 66

B. Saran... 68

(10)

ix

Tabel : 4.2. Daftar Calon Anggota DPRD Kabupaten Sinjai Partai Gerindra Pada Pemilihan Umum Tahun 2019...45 Tabel : 4.3. Perolehan Kursi DPRD di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan

2019... 47

Tabel : 4.4. Daerah Pemilihan Dapil. Sinjai 1 Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan ... 47

Tabel : 4.5. Daerah Pemilihan Dapil. Sinjai 2 Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan ... 48

Tabel : 4.6. Daerah Pemilihan Dapil. Sinjai 3 Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan ...49 Tabel : 4.7. Daerah Pemilihan Dapil. Sinjai 4 Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi

(11)

1

Perubahan struktur politik di Indonesia setelah jatuhnya rezim Soeharto dianggap sebagai angin segar bagi tumbuhnya demokrasi di negeri ini. Lahirnya partai-partai baru dan perubahan sistem pemilu membawa dinamika baru perpolitikan nasional.Menarik untuk dicatat, bahwa sejak tahun 2005, setahun setelah ditetapkan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten, Indonesia telah melakukan pemilihan langsung pertama untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati .

Adalah UU No. 32 tahun 2004 yang mengatur tentang pelaksanaan pemilukada secara langsung sebagai bentuk dari desentralisasi atau manifestasi otonomi daerah yang membedakan dua rezim yakni, Orde Baru dan Era Reformasi. Setelah pemberlakuan pemilihan kepala daerah secara langsung, politik elektoral di Indonesia banyak mengalami perubahan dari segi pelaksanaan, format pemilihan serta rekrutmen kandidat dalam pemilihan kepala daerah ataupun pemilu legislatif.

Perubahan sistem ini merupakan implementasi dari amandemen Undang Undang Dasar 1945 dengan tujuan untuk lebih mematangkan demokrasi secara lebih substantif dan bukan bersifat prosedural.Implikasi dari pemilihan langsung ini berdampak pada tren yang berkembang pesat di Indonesia, yakni bermunculannya konsultan politik atau lembaga survey untuk mengukur

(12)

tingkat elektabilitas serta popularitas seorang kandidat dan partai politik dalam suatu kontestasi politik.

Strategi yang diupayakan oleh konsultan politik itu dinamakan marketing politik, dimana banyak menawarkan jurus atau cara untuk memenangkan kandidat dan partai politik tertentu.

Di era multipartai seperti sekarang ini, marketing politik menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Tidak hanya bagi partai-partai baru dan relatif kecil pendukungnya yang memerlukan marketing politik guna mengontrol citra dan popularitasnya agar dapat menangguk suara yang memadai, tetapi juga partai-partai besar yang telah eksis dan mapan pun tidak bisa meremehkan kehadiran instrumen yang satu ini.

Aktivitas marketing politik pun sudah merambah ke media massa, baik cetak, online maupun elektronik sebagai saluran utamanya. Akhir-akhir ini partai politik tidak menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, seperti fungsi komunikasi politik, sosialisasi politik, agregasi kepentingan, pendidikan politik, hampir semua fungsi ini relatif tidak dijalankan oleh partai, semuanya hanya terjebak dengan pemenuhan kepentingan partai saja, akibatnya legitimasi rakyat berkurang terhadap partai.

Ditambah dengan banyak terjeratnya elit-elit partai politik dalam kasus hukum yang mengakibatkan apatisme publik terhadap partai politik dan menimbulkan persepsi yang negatif terhadap citra partai.Sehingga berimplikasi pada tingkat kepercayaan publik berkurang kepada partai, maka partisipasi politik juga akan berkurang, outputnya banyak masyarakat ketika pemilu yang

(13)

tidak menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih atau golput, bagi rakyat memilih atau tidak sama saja, kehidupan mereka tidak akan berubah.

Betapa pentingnya menjaga hubungan baik antara partai dengan konstituen yang didalamnya tidak terlepas dari proses marketing politik. Marketing politik telah menjadi suatu fenomena, tidak hanya dalam ilmu politik, tetapi juga memunculkan beragam pertanyaan para ahli pemasaran (marketer) yang selama ini sudah terbiasa dalam konteks dunia usaha. Tentunya terdapat beberapa asumsi yang mesti dilihat untuk dapat memahami marketing politik, karena konteks dunia politik memang banyak mengandung perbedaan dengan dunia usaha, politik berbeda dengan produk retail, sehingga akan berbeda pula muatannya yang ada diantara keduanya, politik terkait erat dengan pernyataan sebuah nilai.

Pemilu legislatif yang telah diselenggarakan pada bulan april tahun 2019 yang lalu merupakan barometer bagi keberhasilan partai dalam kontestasi politik untuk meraih simpati publik. Keberhasilan partai untuk mendulang suara membutuhkan suatu strategi kongkret untuk mengakomodir pemilih yang digerakan melalui kader partai maupun simpatisan (volunteer).Sementara itu, partai gerindra dipilih bukan karena penulis adalah kader dari partai tersebut, namun lebih kepada ikatan ideologis, perilaku elit partai yang minim terkait korupsi serta partai Gerindra dianggap sebagai partai medioker yang dianggap kompetitor partai besar dan sudah mapan.Maka dari itu, penelitian ini mengulas mengenai startegi marketing politik partai gerindra yang layak mendapat perhatian serius untuk menjelaskan dampaknya terhadap partai

(14)

politik, kandidat, serta pemilih yang merupakan subjek dalam konteks politik elektoral.

Adapun yang menjadi dasar dan pendorong peneliti untuk meneliti masalah ini karena marketing politik adalah studi atau kajian yang cukup fenomenal dalam pemilu.Tidak bisa dinafikan bahwa marketing politik adalah sebuah cabang baru yang baru saja tumbuh dan berkembang ditengah canggihnya peranan teknologi informasi dan telekomunikasi (media) yang banyak dikonsumsi atau digunakan oleh masyarakat luas.Sehingga tidak aneh bila media merupakan saluran utama dalam marketing politik yang biasa digunakan oleh partai politik untuk mensosialisasikan partai dan kandidat tertentu.

Akhir-akhir ini marketing sudah banyak diterapkan dalam dunia politik, institusi politik pun membutuhkan pendekatan alternatif untuk membangun hubungan dengan konstituen dan masyarakat luas sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai“Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legisltif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai”.

(15)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana marketing politik partai gerindra dalam menghadapi pemilihan legisltif tahun 2019 di Kabupaten Sinjai?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang ditetapkan penulis, maka tujuan penelitian sebagai berikut untuk mengetahui marketing politik partai gerindra dalam menghadapi pemilihan legisltif tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.

D. Manfaaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari terlaksananya penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis ini yang diharapkan dalam penelitian ini adalah mampu memberikan pengetahuan, dapat menjadi sumber yang akurat, dan menjadi suatu acuan bagi penelitian sejenisnya mengenai disiplin ilmu pemerintahan khususnya mengenai strategi politik dalam menghadapi pemelihan legislatif.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu manfaat bagi partai politik khususnya dalam menerapkan strategi partai politik dalam menghadapi pemilihan legislatif untuk dapat lebih meningkatkan kualitas kinerja partai dan mendapatkan imagepositif oleh masyarakat serta mampu mencapai tujuan dan cita-cita suatu partai politik.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Marketing Politik

Perkembangan studi marketing politik sebagai subyek akademis dimulai dari Amerika Serikat dan Inggris, kemudian berkembang luas di berbagai negara-negara demokrasi. Substansi political marketing dijelaskan oleh Lees-Marshment dalam (Triono.2018) lebih berkonsentrasi pada hubungan antara produk politik sebuah organisasi dengan permintaan pasar.Pasar menjadi faktor penting dalam suksesnya implementasi marketing politik. Dalam prosesnya, marketing politik tidak terbatas pada kegiatan kampanye politik menjelang pemilihan umum saja,namun juga mencakup even-even politik yang lebih luas dan jika menyangkut politik pemerintahan bersifat sustainable dalam rangka menawarkan atau menjual produk politik dan pembangunan simbol, citra, platform, dan program-program yang berhubungan dengan publik dan kebijakan politik.

Marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan tools bagaimana menjaga hubungan dengan pemilih untuk membangun kepercayaan dan selanjutnya memperoleh dukungan suara (O’Shaughnessy) dalam (Novita Damayanti dan Prasetya Yoga Santoso). Selain itu O’Shaughnessy dalam Novita Damayanti dan Prasetya Yoga Santoso mengatakan marketing politik berbeda dengan marketing komersial. Marketing politik bukanlah konsep untuk “menjual” partai politik (parpol) atau kandidat kepada pemilih, namun sebuah konsep yang menawarkan bagaimana sebuah

(17)

parpol atau seorang kandidat dapat membuat program yang berhubungan dengan permasalahan aktual.

Marketing politik merupakan serangkain aktivitas yang terncana,strategis dan taktis, serta berdimensi jangka pendek dan panjang untuk menyebarluaskan makna politik kepada para pemilih.Tujuannya untuk membentuk dan menanamkan harapan, sikap,keyakinan, orientasi dan perilaku pemilih. Perilaku pemilih yang diharapkan adalah ekspresi mendukung dengan berbagai dimensinya khususnya menjatuhkan pilihan pada partai atau kandidat tertentu. (Adman, Dalam Mutiara Rahmah dan Maimun).

Newman dalam Heroe Poerwadi (2011) yang menulis Handbook of Political Marketing,mengatakan bahwa marketing politik adalah penerapan prinsip-prinsip dan prosedur marketing dalam kampanye politik oleh sejumlah individu dan organisasi. Prosedur marketing termasuk diantaranya melakukan analisis, pengembangan, eksekusi dan pengelolaan strategi kampanye sampai mengarahkan opini publik, keuntungan ideologis, kemenangan dalam proses legislasi dan referendum untuk memenuhi keinginan dari masyarakat dan konstituen. Jadi dalam marketing politik, menurut Newman, tetap mempertimbangkan identitas ideologis sebagai faktor pembeda. Sehingga creating value, positioning dan konsep “menghadirikan diri” di masyarakat tidak terlepas dari identitas nilai perjuangannya.

Jadi, inti dari political marketing adalah mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian (Personality) seorang kandidat yang berkompetisi dalam konteks Pemilihan Umum (PEMILU) kepada masyarakat luas yang akan

(18)

memilihnya.Ibham dalam M. Bobby Rahman (2015). Dalam hal ini tujuan marketing dalam politik adalah bagaimana membantu partai politik untuk lebih baik dalam mengenal masyarakat yang diwakili atau menjadi target dan kemudian mengembangkan isu politik yang sesuai dengan aspirasi mereka.

1.Konsep Dasar Pemasaran Politik (Political Marketing)

Penggunaan metode marketing dalam bidang politik dikenal sebagai pemasaran politik (political marketing). Dalam pemasaran politik, yang ditekankan adalah penggunaan pendekatan dan metode pemasaran untuk membantu politikus dan partai politik agar lebih efisien serta efektif dalam membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Hubungan ini diartikan secara luas, dari kontak fisik selama periode kampanye sampai dengan komunikasi tidak langsung melalui pemberitaan di media massa.

Political marketing adalah konsep permanen yang harus dilakukan terus menerus oleh kandidat atau kontestan politik dalam membangun kepercayaan dan image publik. Political marketing harus dilihat secara komprehensif diantaranya: Political marketing lebih dari sekedar komunikasi politik; Political marketing diaplikasikan dalam seluruh proses organisasi politik, tidak hanya sebatas kampanye politik akan tetapi sampai pada tahap bagaimana memformulasikan produk politik melalui pembangunan simbol, image, platform, dan program yang ditawarkan; political marketingmenggunakan konsepmarketingsecara luas, tidak hanya terbatas pada teknikmarketing, namun juga sampai strategi marketing, dari

(19)

tekni publikasi menawarkan ide, program dan desain produk sampai ke market intellegent serta pemrosesan informasi; political marketing banyak disiplin ilmu dalam pembahasannya, seperti sosiologi dan psikologi. Misalnya produk politik merupakan fungsi dari pemahaman sosiologis mengenai simbol dan identitas. Sedangkan faktor psikologisnya, kedekatan emosional dan karakter seorang pemimpin sampai keaspek rasionalitas platform partai dan konsep political marketing bisa diterapkan dalam berbagai situasi politik, mulai dari pemilihan umum sampai ke proses pelobian di parlemen. (Firmanzah, 2012).

2. Peran dan Fungsi Marketing Politik (Political Marketing) a.Distribusi Informasi Politik

Marketing Politik mempunyai peran dan fungsi menyampaikan segala bentuk informasi berkenaan dengan kegiatan politik, seperti proses dan tahapan pemilihan umum, kontestan-kontestan politik yang berpartisifasi serta program kampanye yang diusung oleh peserta kontestasi. Tim sukses dalam hal ini adalah sebagai informan yang seyogyanya menyampaikan hal-hal yang berkenaan dengan kepentingan politik, sehingga masyarakat sebagai calon pemilih mendapatkan informasi dan memahami proses kegiatan politik, calon-calon yang akan mereka pilih, serta program pembangunan yang akan digulirkan. Melihat realita sosial hari ini dalam hal politik masyarakat lebih cenderung memilih calon karena pemberianya bukan karena penilaian secara kualitasnya. Sehingga baik kontestan maupun tim sukses harus lebih

(20)

banyak lagi memberikan informasi tentang calon yang diusung, sampaikan kualitas individunya, program-program yang akan digulirkanya, atau bahkan inovasi pembangunan yang dikampanyekannya.

b.Edukasi Politik

Masyarakat dalam kapasitas sebagai calon pemilih wajib hukumnya mengerti tentang kepentingan politik yang sedang berlangsung, baik pilkada, pilpres dan pileg. Marketing politik mempunyai peran sebagai sarana pemberian pemahaman politik kepada masyarakat. Kontestan atau setidaknya tim sukses harus memposisikan diri sebagai pihak yang dapat mengedukasi masyarakat tentang politik dan kepentinganya, seperti halnya calon-calon yang akan mereka pilih, backgroundnya seperti apa, kualitasnya bagaimana dan rekam jejak (track record)nya seperti apa dan bagaimana. Ketika hal ini sudah tercipta, maka akan terbentuk secara alami kelompok masyarakat sebagai pemilih yang cerdas, bukan pemilih yang asal-asalan, asal ada uang nyoblos, asal ada sembako milih. Sehingga indikasi terjadinya praktek-praktekmoney politicataublack campaigndapat terminimalisir.

c. Kesadaran Politik

Sebagai mana kita ketahui, bahwa politik adalah kepentingan dan tanggung jawab bersama, baik penyelenggara, kontestan, tim sukses maupun pemilih. Politik bukan hanya kepentingan segelintir orang, kelompok elit atau kelompok yang berkuasa. Tapi semua komponen masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap

(21)

kepentingan dan kesuksesan gelaran pesta demokrasi dalam hal ini kegiatan politik. Marketing Politik yang disampaikan oleh kontestan atau tim suksesnya membantu memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang hak dan tanggung jawab serta kepentingan politik. Oleh karenanya masyarakat secara perlahan menyadari tentang kewajibanya dalam keterlibatan politik. Tetapi yang jadi permasalahan dilapangan adalah bagaimana salahnya kontestan atau tim sukses dalam upaya mengajak konsituen, bukanya memberi penyadaran dengan hal-hal yang positif tapi lebih cenderung mengiming-imingi dengan feedback yang sifatnya sesaat. Maka harus disadar betul oleh kontestan maupun tim sukses bahwa masyarakat sebagai pemilih butuh disuguhkan dengan ajakan-ajakan partisipatif yang baik bukan sifatnya sogokan sepertimoney politic.

d. Partisipasi dan keterlibatan Politik

Peranan dan fungsi Marketing Politik yang terakhir adalah mendorong partisipasi masyarakat dalam kepentingan politik. Kontestan atau tim sukses harus berupaya mem-push konsituennya agar secara aktif dapat terlibat dalam gelaran politik seperti kegiatan kampanye dan pelaksanaan pemilihan. Dengan adanya dorongan baik dari penyelenggara, kontestan atau tim sukses serta tokoh masyarakat maka tingkat partisipasi masyarakat akan mencapai angka yang besar. Problem hari ini adalah semakin menurunya tingkat partisipasi dari masyarakat pada gelaran pemilukada, sehingga butuh kerja ekstra bagi pihak penyelenggara, kontestan, tim sukses dan kelompok lainya yang membantu secara aktif

(22)

dalam prosesi pemilukada agar tingkat keterlibatan masyarakat dapat ditingkatkan. (Firmanzah, 2012).

3. Konsep Marketing Politik Menurut Harris & Lock

Marketing mix politicpada dasarnya merupakan suatu turunan dari 4P yang terdapat dalam konsep pemasaran dalam dunia bisnis. Menurut Lock & Harris,marketing politik berkaitan dengan anggota partai, media, para pemilih, dan sumber pendanaan calon. Menurut Harris & Lock dalam “Political marketing-vive ladifference”, konsep marketing haruslah disesuaikan dengan konteks politik.

Karena marketing politik dalam dunia bisnis sangat berbeda dengan marketing politik, kerena menurut Harris & Lock kondisi pemilihan umum memang berbeda dengan konteks dunia usaha pada umumnya. Dalam hal ini image citra politik yang dilihat tidak hanya sekedar untuk menarik perhatian masyarakat tetapi harus berdasarkan isu partai politik atau calon kandidat. Sehingga persepsi masyarakat tidak kabur dalam menilai karakteristik partai politik atau dan kandidat dan memilih calon kandidatnya.

Marketing politik Harris & Lock diidentifikasi kedalam 4P‟s, yaitu Product (produk), Promotion (promosi), price (harga), place (penempatan).Berdasarkan hal tersebut, Lock & Harris mengidentifikasi marketing politik dalam 4P (Ria Andriani.2015) :

1) Product(Produk)

Produk dalam pemasaran politik berarti partai, kandidat, dan gagasan-gagasan yang akan disampaikan. Produk ini berisi konsep,

(23)

identitas ideologi, program, serta kebijakan. Selain itu produk juga akan menghasilkan suatu isu politik yang menghasilkan image partai. Produk dapat berupa personal character, platform partai, serta janji-janji kampanye.

2) Promotion(Promosi)

Promosi merupakan upaya periklanan, kehumasan dan promosi untuk sebuah partai yang diolah sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Dalam hal ini, pemilihan media perlu dipertimbangkan.Promosi dapat berupaadvertisingataupun kampanye. 3) Price(Harga)

Marketing politik pada harga ini mempertimbangkan tiga bentuk nilai yaitu nilai ekonomi, psikologi dan juga citra nasional.Nilai ekonomi berarti semua biaya yang dikeluarkan partai selama periode kampanye.Psikologis mengacu pada harga persepsi psikologis yang dapat berupa rasa nyaman pemilih dengan latar belakang, etnis, agama dan juga pendidikan.Sedangkan citra nasional yaitu suatu kondisi pemilih merasa kandidat tersebut dapat memberikan citra positif dan juga dapat menjadi kebanggaan negara.Price dapat berupa biaya kampanye dan juga lobi-lobi politik.

(24)

4) Place(penempatan)

Penempatan merupakan cara hadir/ distribusi sebuah partai dan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan para pemilih. Ini berarti sebuah partai harus dapat memetakan struktur serta karakteristik masyarakat baik secara geografis maupun demografis.

4 .Tujuan Marketing dalam Politik

Tujuan marketing dalam politik adalah membantu partai politik untuk menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat yang diwakili atau yang menjadi target, kemudian mengembangkan program kerja atau isu politik yang sesuai dengan aspirasi mereka, dan mampu berkomunikasi secara efektif dengan masyarakat. Marketing tidak bertujuan untuk masuk kewilayah politik, dalam arti menjadi cara pendistribusian kekuasaan atau untuk menentukan keputusan politik.

Bagi marketing, semua hal tersebut sudah diputuskan (given), dan yang menjadi masalah bagi marketing dalam politik adalah mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Di luar masalah itu, marketing niscaya marketing dapat berkontribusi dalam politik, terutama teknik marketing untuk pengumpulan informasi tentang semua hal yang terkait dengan isu dan masalah politik. Melalui konsep dan metode riset pasar, misalnya, dunia politik dapat melakukan proses pencarian, pengumpulan, analisis data, dan informasi yang didapat dari masyarakat luas.

(25)

Marketing telah menawarkan perspektif alternative yang dapat digunakan oleh politikus untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat luas. Marketing yang selama ini dikembangkan dalam dunia bisnis dan iklim kompetisi dirasa semakin dibutuhkan oleh dunia politik. Terlebih lagi dengan semakin meningkatknya kompetisi dan persaingan diantara partai-partai politik untuk memperebutkan hati dan rasionalitas pemilih. Hal ini, membuat keberpihakan pemilih kepada suatu partai menjadi lebih sulit diduga. Partai politik yang bisa memenangkan pemilih, relatif menawarkan sesuatu yang berbeda dan lebih baik dibandingkan dengan partai politik lainnya.

Untuk bisa berbeda dan lebih baik, dunia politik sebagai praktik sosial harus membuka diri terhadap pendekatan-pendekatan baru, karena dinamika dan interaksi sosial memang kompleks, sehingga dibutuhkan banyak sekali pendekatan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh tentang cara berfungsinya masyarakat. Marketing diyakini dapat menjembatani dua pihak yang saling berinteraksi, yaitu partai politik dan masyarakat. Focus dalam hal ini adalah sikap partai politik terhadap masyarakat, dan bukan sebaliknya, sebab partai politik adalah entitas sosial yang terorganisasi dan memiliki perangkat organisasi untuk mencapai tujuannya, sementara masyarakat lebih terfragmentasi. Inisiatif seharusnya diambil oleh system sosial yang terorganisir dibandingkan dengan system sosial yang tidak terorganisir.

(26)

B. Partai Politik

Partai politik dalam pendefinisiannya sangat berbeda-beda dalam yang dikemukakan oleh pakar.Menurut Lapalombara dan Myron Weiner dalam Dwi Nofiani (2015) ada tiga teori yang mencoba menjelaskan asal usul partai politik.Pertama,teori kelembagaan yang melihat ada hubungan antara parlemen awal dan timbulnya parpol. Kedua, teori situasi historik yang melihat timbulnya parpol sebagai upaya suatu sistem politik untuk mengatasi krisis yang ditimbulkan dengan perubahan masyaraka tsecara luas.Ketiga, teori pembangunan yang melihat parpol sebagai produk modernisasi sosial ekonomi. Sigmund Neumann dalam Debora Sanur Lindawati (2014) mendefinisikan partai politik sebagai “organisasiartikulatif yang terdiri atas pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat,yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintah dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat,dengan beberapa lain kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.Dengan demikian partai politik merupakan perantara besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembagalembaga pemerintah yang resmi dan yang mengkaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas.

Partai politik merupakan sarana bagi warga Negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan Negara Budiarjo dalam Richard Samatara (2009) Partai politik pertama sekali lahir di Negara-negara Eropa Barat dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu

(27)

diperhatikan serta diikut sertakan dalam proses politik. Dalam literatur ilmu politik terdapat beragam definisi tentang partai politik misalnya, Carl J. Friedrich dalam Richard Samatara (2009) menuliskan:Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut ataumempertahankan kekuasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan mengikutiberdasarkan penguasaan ini memberikan kemanfaatan kepada anggota partainya.

Partai politik dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang teroarganisir, yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai (values), atau cita-cita yang sama. (Miriam Budiarjo dalam Khoiron dan Ahmad Siboy). Dengan pengertian tersebut dapat diterjemahkan bahwa setiap partai politik pasti mempunyai cita-cita yang sama dari seluruh pengurus dan kadernya masing-masing. Tujuan umum dari partai tentu untuk mendapatkan kekuasaan, dukungan (voters) di dalam proses politik yaitu pemilu. Dengan mendapatkan dukungan politik (voters), yang banyak partai politik akan mendapatkan kekuasaan konstitusional dan menjadi tujuan akhir dari sebuah partai didirikan.

Menurut Carl Friedrich juga mendefinisikan tentang partai politik dalam Dwi Nofiani (2015), memberi batasan partai politik sebagai sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan kekuasaan itu akan memberikan kegunaan materiel dan ideal kepada anggota-anggotanya. Sementara itu, Soltau memberikan definisi partai

(28)

politik sebagai sekelompok warga Negara yang sedikit banyak terorganisasi, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih, bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan menjalankan kebijaksanaan umum mereka.Ada satu unsur yang kurang mendapat perhatian dari keduanya, yaitu ideologi atau nilai-nilai politik yang hendak diperjuangkan.Ideologi partai, selain berfungsi sebagai dasar dan tujuan partai, juga berfung sisebagai identitas dan karena itu sebagai pemersatu partai politik yang bersangkutan.Hanya saja kadar ideology suatu partai dengan partai lain mungkin berbeda-beda.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa partai politik merupakan sekelompok anggota yang terorganisasi secara rapi dan stabil yang disatukan dan didorong oleh suatu ideologi tertentu, yang berusaha mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan lewat pemilihan umum guna melaksanakan kebijaksanaan umum yang mereka susun.Kebijaksanaan umum partai tersebut merupakan hasil pemaduan berbagai kepentingan yang hidup dalam masyarakat, sedangkan cara mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan guna melaksanakan kebijaksanaan umum itu adalah lewat pemilihan umum.

1. Fungsi Partai

Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi yang memiliki banyak partai dalam pemilihan umumnya. Di Indonesia, fungsi partai politik adalah sebagai wahana bagi negara untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kehidupan bernegara dan memperjuangkan kepentingan dihadapan

(29)

penguasa. Selain itu, partai politik di dalam sebuah negara demokrasi juga berfungsi sebagai suatu sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik, sarana rekrutmen politik, dan juga sebagai sarana pengatur konflik (Budiardjo,dalam Ria Andriani.2015 ).

Fungsi partai politik di Indonesia juga diatur dalam Undang-Undang No.2 Tahun 2008 ,pasal 12 (Cangara, dalam Ria Andriani.2015). Fungsi partai politik yakni menjadi sarana untuk :

1) Pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Republik Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2) Penciptaan iklim yang kondusif serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa untuk mensejahterakan masyarakat.

3) Penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat secara konstitusional dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan Negara. 4) Partisipasi politik warga Negara Indonesia.

5) Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

2. Pemasaran Politik (Political Marketing)

Pemasaran politik adalah sebuah konsep baru yang belum begitu lama dikenal dalam kegiatan politik. Ini merupakan konsep yang diintroduksi dari penyebaran ide-ide sosial di bidang pembangunan dengan meniru cara-cara pesan komersial, tetapi orientasinya lebih banyak pada tataran penyadaran

(30)

,sikap, dan perubahan perilaku untuk menerima hal-hal baru. Cara penyebaran seperti ini dilihat dari konteks dan orientasinya disebut “pemasaran sosial” yang secara substantif tidak jauh berbeda dengan istilah penyuluhan, sosialisasi dan kampanye (Cangara dalam Ria Andriani.2015).

Hermawan Kertajaya dalam Yesi Elsandra dan Yofina Mulyati (2013). Dalam hal partai politik, ketika peserta pemilu hanya 3 partai, pemasaran belum menjadi sesuatu yang sangat penting. Apa lagi saat itu pemenang pemilu selalu dapat ditebak sebelum hasil pemilu diumumkan. Untuk memenangkan persaingan dalam dunia politik yang saat ini terdiri dari multi partai maka pemasaran menjadi penting artinya bagi setiap partai politik.

Menurut Adman Nursal dalam Ria Andriani (2015), political marketing merupakan serangkaian aktivitas terencana, strategis namun juga taktis dalam menyebarkan makna politik terhadap masyarakat. Political marketing juga meliputi unsur-unsur berupa strategi pemasaran, bauran politik, dan proses pemasaran.

Marketing politik adalah konsep permanen yang harus dilakukan terus menerus oleh kandidat atau kontestan politik dalam membangun kepercayaan danimagepublik(Butler & Collins dalamRia Andriani.2015). Political marketingharus dilihat secara komprehensif diantaranya:

1) Political marketinglebih dari sekedar komunikasi politik

2) Political marketingdiaplikasikan dalam seluruh proses organisasi politik, tidak hanya sebatas kampanye politik akan tetapi sampai pada tahap

(31)

bagaimana memformulasikan produk politik melalui pembangunan simbol,image,platform, dan program yang ditawarkan.

3) Political Marketing menggunakan konsep marketing secara luas, tidak hanya terbatas pada teknik marketing, namun juga sampai strategi marketing, dari teknik publikasi menawarkan ide dan program dandesain produk sampai kemarket intellegentserta pemprosesan informasi.

4) Political marketing banyak disiplin ilmu dalam pembahasannya, seperti sosiologi dan psikologi. Misalnya produk politik merupakan fungsi dari pemahaman sosiologis mengenai simbol dan identitas. Sedangkan faktor psikologisnya, kedekatan emosional dan karakter seorang pemimpin sampai keaspek rasionalitasplatformpartai

5) Konsep political marketing bisa diterapkan dalam berbagai situasi politik,mulai dari pemilihan umum sampai ke proses pelobian diparlemen.

Strategi political marketing yang tepat pada akhirnya akan memutuskan preferensi politiknya terhadap suatu kandidat politik yang diusung dengan memberikan suaranya pada saat pemilihan, dengan tujuan akhir atas riset politik, polling, survey dan jugapolitical marketing. Dalam pemasaran politik, yang ditekankan adalah penggunaan pendekatan dan metode marketing untuk membantu politikus atau para aktor politik (individual maupun partai) agar lebih efisien serta selektif dalam membangun komunikasi dua arah dengan konstituen dalam masyarakat.

(32)

Konstituen dan masyarakat inilah pada akhirnya yang akan menentukan kemenangan calon dalam pemilu. Dalam dunia politik pemasaran, politik disini digunakan untuk menyampaikan pesan politiknya berupa ide, platform partai dan ideologi kepada masyarakat selama pemilihan umum (Morrison, dalam Ria Andriani.2015).

3. Partai Gerindra

Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Deklarasi di dalamnya termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NKRI tahun 1945Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Deklarasi di dalamnya termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NKRI tahun 1945.

(33)

Visi dan Misi Partai Gerindra 1. Visi

Visi Partai Gerindra adalah menjadi partai politik yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya dan berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang ekonomi.

2. Misi

1) Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

2) Mendorong pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pemertaan hasil-hasil pembangunan bagi seluruh warga bangsa dengan senantiasa berpegang teguh pada kemampuan sendiri.

3) Membentuk tatanan sosial dan politik mayarakat yang kondusif untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraan rakyat.

4) Menegakkan supremasi hukum dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah dan persamaan hak didepan hukum serta melindungi seluruh

(34)

warga negara Indonesia secara berkeadilan tanpa memandang suku, agama, ras dan atau latar belakang golongan.

5) Merebut kekuasaan pemerintahan secara konstitusional melalui Pemilihan Legislatif atau Pemilihan Presiden untuk menciptakan lapisan kepemimpinan nasional yang kuat disetiap tingkat pemerintaha

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir adalah penjelasan sementara terhadap sesuatu gejala yang menjadi objek penting penelitian. Kerangka pikir ini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan atau terkait.

Kerangka pikir ini merupakan buatan kita sendiri, bukan dari buatan orang lain dalam hal ini, bagaimana cara kita berargumentasi dalam merumuskan kesimpulan masalah yang saya teliti Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legislatif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.Argumentasi itu harus membangun kerangka berpikir sering timbul kecenderungan bahwa pernyataan-pernyataan yang disusun tidak merujuk kepada sumber keputusan, hal ini disebabkan karena sudah habis dipakai dalam menyusun kerangka teoritis. Dalam hal menyusun suatu kerangka berpikir, sangat diperlukan argumentasi ilmiah yang dipilih dari teori-teori yang relevan atau saling terkait. Agar argumentasi kita diterima oleh sesama ilmuwan, kerangka berpikir harus disusun secara logis dan sistematis.

(35)

Berdasarkan uraian diatas, maka kerangka berpikir tersebut dapat dibuat sebgai berikut:

.

Bagan Kerangka Pikir

Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan legislatif Tahun 2019

di Kabupaten Sinjai

Marketing Politik (Menurut Lock & Harris)

1. Product(Produk) 2. Promotion(Promosi) 3. Price(Harga)

4. place(Penempatan)

Keputusan masyarakat sinjai dalam memilih legislatif Partai Gerindra di sinjai tahun 2019

(36)

D. Fokus Penelitian

Fokus Penelitian yaitu Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legislatif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.Dalam hal ini Partai Gerindra melakukan marketing politik berupa produk,promosi,harga dan penempatan untuk mencapai suara dalam pemilihan legislatif di Kabupaten Sinjai tahun 2019.

E. Dekskripsi Fokus Penelitian

Definisi fokus penelitian adala pemusatan fokus kepada intisari penelitian yang akan dilakukan. Hal tersebut harus dilakukan dengan cara ekplisit agar kedepannya dapat meringankan peneliti sebelum turun atau melakukan observasi/pengamatan. Fokus penelitian merupakan garis terbesar dalam jantungnya penelitian mahasiswa, sehingga observasi dan analisa hasil penelitian bakal menjadi lebih terarah. Adapun fokus penelitian saya, yaitu :

1. Produk

Produk Partai Gerindra memiliki banyak produk yang ditawarkan dalam berbagai macam konsep. Kemudian Partai Gerindra juga memiliki keberpihakan dengan rakyat kecil. Partai ini selalu ingin menjadi garda terdepan apabila berbicara mengenai kebijakan yang pro pada masyarakat. Sehingga platform yang diandalkan oleh partai ini adalah bagaimana dapat menjadi penawar bagi kesulitan masyarakat saat ini untk mencapai Indonesia sejahtera.

(37)

2. Promosi

Promosi merupakan upaya periklanan, kehumasan dan promosi untuk sebuah partai yang diolah sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, pemilihan media perlu dipertimbangkan. Promosi dapat berupa iklan ataupun kampanye. Pada bagian promosi, Gerindra menunjukkan strategi utama untuk melakukan promosi dan serangan udara dari televisi sebagai strategi umum dan salah satu kelebihan Gerindra mengandalkan sosok Prabowo Subianto untuk memberikan sejumlah testimoni ataupun pandangan terhadap nasib bangsa.

3. Harga

Harga yaitu secara ekonomis Gerindra sinjai menyampaikan dana yang dikeluarkan partai untuk Pemilu di Kabupaten Sinjai sebesar Rp.198.230.834 dan gerindralah partai yang paling tinggi biaya kampanyenya Gerindra menyampaikan dana yang dikeluarkan partai Partai juga mengakomodasi kaos, atribut dan bendera partai. Dana untuk kampanye caleg sepenuhnya diakomodasi oleh caleg itu sendiri.

4. Penempatan

Caleg dari Partai Gerindra sinjai pada daerah pemilihan melakukan strategi penyebaran yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerahnya. Strategi tersebut disesuaikan dengan melihat dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

(38)

Gerindra sinjai fokus dalam mengatur strategi penyebaran dalam lingkup yang telah ditetapkan dan benar-benar menerapkan sosialisasi kepada wakil-wakil daerah dalam penyebaran informasi dan program yang akan disampaikan kepada masyarakat. Strategi penyebaran ini dilakukan hingga mencapai titik batas wilayah dapil caleg masing-masing.

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini memakan waktu 2 bulan dimulai dari tanggal 01 Juni sampai dengan 01 Agustus 2019. Adapun lokasi penelitian ini berada di Kantor DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian kualitatif, artinya data yang dikumpulkan berasal dari hasil wawancara, observasi secara langsung, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya.

2. Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yaitu merupakan penelitian yang menggambarkan secara jelas tentang Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legislatif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai.

C. Sumber Data

1. Data primer, data ini adalah data yang diperoleh penulis melalui hasil wawancara yang berhubungan dengan Marketing Politik Partai Gerindra dalam Menghadapi Pemilihan Legislatif Tahun 2019 di Kabupaten Sinjai. 2. Data sekunder merupakan suatu data yang diperoleh melalui media dengan

maksud untuk melengkapi data primer seperti buku, artikel, internet, atau jurnal ilmiah yang saling berkaitan dari objek yang di teliti sehingga penelitian lebih akurat.

(40)

D. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah orang yang dianggap bisa dan mampu memberikan informasi yang terkait dengan data yang dibutuhkan. Pemilihan inforaman dilakukan dengan cara Purposive sampling yaitu salah satu tehnik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Dimana pertimbangan tertentu ini adalah orang yang di anggap penling tahu tentang masalah yang akan diteliti. Dalam menentukan sampel yang harus dilakukan yaitu memilih dari salah satu orang atau lebih, dan ketika belum bisa menjelaskan data atau inforamasi secara sistematis, maka dari itu peneliti kemudian mencari orang yang dimana dianggap lebih memahami informasi yang diberikan sebelumnya sehingga dapat melengkapi data yang di inginkan.Sehingga adapun yang menjadi informan ada ada tabel berikut :

Tabel 3.1. Informan Penelitian

No Nama Inisial Jabatan Jumlah

1. Ir. H. Sukardi SK Ketua DPD Partai Gerindra Kabupaten Sinjai 1 2. Bulmawati, S.Sos BW Sekretaris DPD Partai Gerindra Kabupaten Sinjai 1 3. Nurfa Damayanti ND

Caleg Partai Gerindra

Dapil III Kabpaten Sinjai 1 4. Saenal

Zulkarnain SZ Pengamat Politik Sinjai 1

5. Nasing NS Tokoh Masyarakat 1

(41)

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dan informasi sebagai bahan melakukan penilaian terhadap strategi pemasaran potensi unggulan. Data dan informasi tersebut dapat diperoleh melalui dua teknik antara lain:

1. Teknik pengumpulan data primer yaitu data yang diperoleh melalui langsung ke lokasi penelitian (field research) untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hal ini dilakukan dengan cara:

a. Metode observasi lapangan

Observasi dimaksudkan untuk mengamati data empiris di lapangan serta melakukan pencatatan. langsung mendatangi kantor DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai.

b. Metode wawancara

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya-jawab secara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dan berhadapan langsung dengan informan yang dianggap mengerti mengenai permasalahan yang diteliti.

c. Metode dokumentasi.

Metode ini akan dilakukan dengan cara mendatangi kantor DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai.

(42)

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder yaitu data yang diperlukan untuk mendukung data primer. Pada penelitian ini data sekunder yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data-data yang diperoleh melalui buku-buku ilmiah, tulisan, karangan ilmia yang berkaitan dengan penelitian.

b. Dokumentasi yaitu dengan menggunakan catatan-catatan yang ada di lokasi penelitian serta sumber-sumber yang relevan dengan obyek penelitian.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh dari lapangan dari observasi lapangan dan dari para informan. Ada tiga unsur utama dalam proses analisis data penelitian kualitatif,

1. Reduksi data adalah bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek dan membuang hal-hal yang tidak penting sehigga kesimpulan penelitian dapat dilaksanakan. Jadi laporan lapangan sebagian bahan disingkat dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan, juga mempermudah peneliti untuk mecari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan.

2. Sajian data adalah susunan informasi yang memungkinkan dapat ditariknya suatu kesimpulan penelitian. Penyajian data dalam bentuk gambaran, skema,

(43)

dan tabel mungkin akan berguna mendapatkan gambaran yang jelas serta memudahkan dalam penyusunan kesimpulan penelitian. Pada dasarnya, sajian data dirancang untuk menggambarkan suatu informasi secara sistematis dan mudah dilihat serta dipahami dalam bentuk keseluruhan sajiannya.

3. Kesimpulan merupakan hasil akhir dari reduksi data dan penyajian data. Kesimpulan penelitian perlu diverifikasi agar mantap dan benar-benar bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.(Sugiyono: 2013)

G. Kebsahan Data

Penelitian metodologi kualitatif pengabsahan data menggunakan metode triagulasi, dimana metode ini merupakan pengecekan akan kebenaran data dengan menggunakan teknik pengumpulan data lainnya serta pengecekan pada waktu yang berbeda. Triagulasi terdiri atas tiga bagian, antara lain :

1. Triagulasi sumber data

Dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda dalam metode kualitatif yang dilakukan dengan membandingkan data hasil pengamatan dan hasil pengamatan dengan hasil wawancara 2. Triagulasi metode

Dilakukan untuk menguji sumber data, memiliki tujuan untuk mencari kesamaan data dengan metode yang berbeda.

(44)

3. Triagulasi waktu

Triagulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data peneliti melakukan wawancara dengan informan dalam kondidsi waktu yang berbeda untuk menentukan kreadibilitas data.

(45)

35 1. Gambaran Umum Kabupaten Sinjai

a. Sejarah Kabupaten Sinjai

Terbentuknya Kabupaten Sinjai memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada awalnya terdapat beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan yang tergabung dalam federasi Tellu Limpoe dan Kerajaan– kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Limpoe. Tellu limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir pantai yakni Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti, serta Pitu Limpoe adalah kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.

Watak dan karakter masyarakat tercermin dari sistem pemerintahan demokratis dan berkedaulatan rakyat. Komunikasi politik di antara kerajaan-kerajaan dibangun melalui landasan tatanan kesopanan Yakni Sipakatau yaitu Saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsep “Sirui Menre’ Tessirui No’ yakni saling menarik ke atas, pantang saling menarik ke bawah, mallilu sipakainge yang bermakna bila khilaf saling mengingatkan.Sekalipun dari ketiga kerajaan tersebut tergabung ke dalam Persekutuan Kerajaan Tellu Limpo’E namun pelaksanana roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya masing-masing tanpa ada pertentangan dan peperangan yang terjadi diantara mereka.Bila ditelusuri

(46)

hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada di kabupaten Sinjai di masa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekeluargaan yang dalam Bahasa Bugis disebut Sijai artinya sama jahitannya.

Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari Lamassiajeng Raja Lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya “Pasija Singkerunna Lamati Bulo-Bulo” artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau digelar dengan Puanta Matinroe Risijaina.

Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya Benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikan di Balangnipa yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Sinjai.Disamping itu, benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe, karena didirikan secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan yakni Lamatti, Bulo-bulo, dan Tondong lalu dipugar oleh Belanda melalui perang Manggarabombang.Agresi Belanda tahun 1859–1561 terjadi pertempuran yang hebat sehingga dalam sejarah dikenal nama Rumpa’na Manggarabombang atau perang Mangarabombang, dan tahun 1559 Benteng Balangnipa jatuh ke tangan belanda.

Tahun 1636 orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya Belanda unntuk memecah belah

(47)

persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di suilawesi Selatan. Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan peran terhadap kerajaan Gowa.Peristiwa ini terjadi tahun 1639. Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap perpegan teguh pada Perjanjian Topekkong. Tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Der Capellan datang dari Batavia untuk membujuk I Cella Arung Bulo-Bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengisinkan Belanda Mendirikan Loji atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolah dengan tegas.

Tahun 1861 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, takluknya wilayah Tellulimpoe Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten. Tanggal 24 pebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi Celebes, dimana Sinjai bersama-sama beberapa kabupaten lainnya berstatus sebagai Onther Afdeling Sinnai terdiri dari beberapa adats Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng.

Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengaan kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yakni tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi sebuah kabupaten berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 1959.Dan pada

(48)

tanggal 17 Pebruari 1960 Abdul Latief dilantik menjadi Kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang Pertama.

Hingga saat ini Kabupaten Sinjai telah dinahkodai oleh 7 (tujuh) orang putra terbaik yakni :

1. Mayor Abdul Lathief Tahun 1960 – 1963 2. Andi Azikin Tahun 1963 – 1967

3. Drs. H. Muh. Nur Thahir Tahun 1967 – 1971

4. Drs. H. Andi Bintang Tahun 1971 – 1983 (2 Periode)

5. H. A. Arifuddin Mattotorang, SH Tahun 1983 – 1993 (2 Periode) 6. H. Muh. Roem, SH, M.Si Tahun 1993 – 2003 (2 Periode)

7. Andi Rudiyanto Asapa, SH, LLM Tahun 2003 – 2013 (Periode) 8. Sabirin Yahya, S.Sos Tahun 2013-2018

Dengan motto Sinjai Bersatu Kabupaten sinjai terus maju dan berkembang menuju masa depan yang cerah. Sumber:www.sinjai.go.id b. Letak Geografis dan Administrasi

Secara geografis, wilayah Kabupaten Sinjai terletak di bagian timur Provinsi Sulawesi Selatan, dengan potensi sumberdaya alam yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan, disamping memiliki luas wilayah yang relatif luas. Kabupaten Sinjai secara astronomis terletak 50 2’ 56” -50 21’ 16” Lintang Selatan (LS) dan antara 1190 56’ 30” - 1200 25’ 33” Bujur Timur (BT), yang berada di Pantai Timur Bagian Selatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan batas-batas sebagai berikut :

(49)

· Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone;

· Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba; dan · Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Gowa.

Secara administrasi Kabupaten Sinjai terdiri dari 9 (sembilan) kecamatan, dan sebanyak 80 (delapan puluh) desa/kelurahan. Kabupaten Sinjai terletak arah timur dari Kota Makassar dengan jarak 233 Km dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk lebih jelasnya, wilayah administrasi Kabupaten Sinjai, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel : 4.1. Luas Wilayah Menurut Kabupaten Sinjai Dirinci Tiap Kecamatan

NO. Nama Kecamatan

Luas Wilayah Km² Presentase (%) Jumlah Kel. / Desa 1 Sinjai Barat 135,53 16,53 9 2 Sinjai Borong 66,97 8,17 8 3 Sinjai Selatan 131,99 16,10 11 4 Tellulimpoe 147,30 17,96 11 5 Sinjai Timur 71,88 8,77 13 6 Sinjai Tengah 129,70 15,82 11 7 Sinjai Utara 29,57 3,61 6 8 Bulupoddo 99,47 12,13 7 9 P. Sembilan 7,55 0,92 4 JUMLAH 819,96 100 80

(50)

2. Gambaran Umum Partai Gerindra a . Sejarah Partai Gerindra

Partai Gerindra berdiri pada tanggal 6 Februari 2008. Partai Gerindra ini merupakan singkatan dari Partai Gerakan Indonesia Raya. Bermula dari Keprihatinan, Partai Gerindra lahir untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan.

Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Deklarasi di dalamnya termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Deklarasi di dalamnya termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945.

(51)

Sementara kondisi yang sedang berjalan, justru memaksakan demokrasi di tengah himpitan kemiskinan, yang hanya berujung pada kekacauan. Gagasan pendirian partai pun kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Rupanya, tidak semua setuju ada pula yang menolak, dengan alasan bila ingin ikut terlibat dalam proses politik sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada. Kebetulan, Prabowo adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla adalah wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Mana mau Jusuf Kalla memberikan jabatan Ketua Umum Golkar kepada Prabowo?” kata Fadli Perdebatan cukup panjang dan alot telah selesai, akhirnya disepakati perlu ada partai baru yang benar-benar memiliki manifesto perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Pematangan konsep partai pada Desember 2007, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS (Institute for Policy Studies) di Bendungan Hilir, berkumpulah sejumlah nama. Selain Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi, Haris Bobihoe, Sufmi Dasco Ahmad, Muchdi Pr, Widjono Hardjanto dan Prof Suhardi. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai yang akan dibentuk. “Pembahasan dilakukan siang dan malam,” kenang Fadli.

(52)

Pembentukan partai pun terus dilakukan secara maraton. Nama Gerindra muncul, diciptakan oleh Hashim sendiri. Sedangkan lambang kepala burung garuda digagas oleh Prabowo Subianto. Terpanggil untuk memberikan amal baktinya kepada negara dan rakyat Indonesia, atas Rahmat Allah Yang Maha Esa, kami yang bertanda tangan di bawah ini mendeklarasikan berdirinya Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai Gerakan Indonesia Raya adalah partai rakyat yang mendambakan Indonesia yang bangun jiwanya, dan bangun badannya. Partai Gerakan Indonesia Raya adalah partai rakyat yang bertekad memperjuangkan kemakmuran dan keadilan di segala bidang.

b. Visi dan Misi Partai Gerindra 1. Visi

Visi Partai Gerindra adalah menjadi partai politik yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya dan berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang ekonomi.

(53)

2. Misi

a) Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

b) Mendorong pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pemertaan hasil-hasil pembangunan bagi seluruh warga bangsa dengan senantiasa berpegang teguh pada kemampuan sendiri.

c) Membentuk tatanan sosial dan politik mayarakat yang kondusif untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraan rakyat. d) Menegakkan supremasi hukum dengan mengedepankan azas

praduga tak bersalah dan persamaan hak didepan hukum serta melindungi seluruh warga negara Indonesia secara berkeadilan tanpa memandang suku, agama, ras dan atau latar belakang golongan.

e) Merebut kekuasaan pemerintahan secara konstitusional melalui Pemilihan Legislatif atau Pemilihan Presiden untuk menciptakan lapisan kepemimpinan nasional yang kuat disetiap tingkat pemerintaha.

(54)

c. Tujuan dan Fungsi Partai Gerindra 1. Tujuan Partai Gerindra

a) Mempertahankan dan mengamalkan pancasila serta menegakkan Undang-Undang 1945, sebagaimana ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945. 1) Mempertahankan dan mengamalkan pancasila serta menegakkan Undang-Undang 1945, sebagaimana ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945.

b)Berjuang untuk memperoleh kekuasaan politik secara konstitusional guna mewujudkan pemerintahan, sebagaimana dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. c) Menciptakan masyarakat adil dan makmur, merata material dan

spiritual berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d) Mewujudkan kedaulatan rakyat daaam rangka mengembangkan kehidupan demokrasi, yang menjunjung tinggi kejujuran dan menghormati kebenaran, hukum dan keadilan.

e) Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada kekuatan bangsa, yang mengarahkan pada kedaulatan dan kemandirian bangsa.

(55)

2. Fungsi Partai Gerindra

a) Sarana pembentukan dan pembangunan karakter bangsa.

b) Mendidik dan mencerdaskan rakyat agar bertanggung jawab menggunakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

c) Menghimpun, merumuskan dan memperjuangkan aspirasi rakyat dalam meumuskan dan menetapkan kebijakan negara.

d) Menghimpun, membangun dan menggerakkan kekuatan rakyat untuk membangun masyarakat pancasila.

e) Melakukan komunikasi politik dan partisipasi politik warga negara. f) Menghimpun persamaan sikap politik dan kehendak untuk mencapai cita-cita dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur, material dan spiritual berdasarkan pancasilan dan Undang-Undang Dasar 1945.

g) Mempertahankan, mengemban, mengamalkan dan membela pancasila serta berorientasi pada program pembangunan di segala bidang.

h) Menyerap, menampung, menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat serta meningkatkan kesadaran politik rakyat dan menyiapkan kader-kader dengan memperhatikan kesetaraan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

(56)

d. Struktur Kepengurusan Partai Gerindra

Susunan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra

Ketua Dewan Pembina : Letjen Tni (Purn) H. Prabowo Subianto

Ketua Dewan Penasehat : Mayjen Tni (Purn) Dr.Haryadi Darmawan

Ketua Dewan Pakar : Dr. Ir. Burhanuddin Abdullah, MA Ketua Umum : Letjen Tni (Purn) H. Prabowo

Subianto

Ketua Harian : Laksdya Tni (Purn) Moekhlas Sidik, MPA

Wakil Ketua Harian : Widjono Hardjanto, SH Wakil Ketua Umum Bidang Politik

Dalam Negeri, Hubungan Antar Partai dan Pemerintahan

: Fadli Zon.SS,M.Sc

Wakil Ketua Umum Bidang Buruh dan Ketenagakerjaan

: Fx. Arief Poyuono, SE

Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri

: Murphy Hutagalung MBA

Wakil Ketua Umum Bidang

Pembangunan Pertanian Kehutanan Kelautan dan Energi

: Edhy Prabowo MM.MBA

(57)

UMKM dan Ekonomi Kreatif

Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Keanggotaan

: Widjono Hardjanto SH

Wakil Ketua Umum Bidang Penggalangan Massa

:

Ferry Joko Yuliantono SE.AK. M.Si

Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi : Rahmawati Soekarno Putri Wakil Ketua Umum Bidang

Kaderisasi dan Informasi Strategis

: Sugiono

Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi :

: Ir. Sufmi Dasko Ahmad SH.MH

Wakil Ketua Umum Bidang Pemuda dan Olahraga

: Purnomo

Sekretaris Jenderal : : H. Ahmad Muzani

Bendahara Umum : : Thomas A. Muliatna Djiwandono MA

(58)

Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Partai Gerindra: Ketua Haji La Tinro La Tunrung

Sekretaris Ny. Ir. Hj. Apiaty Kamaluddin Amin Syam, M.Si

Bendahara Ir. A.M. Kilat Karaka Penasehat Drs. H. ANDI SOETOMO, M.S

Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Sinjai Partai Gerindra: Ketua Ir. H. Sukardi

Sekretaris Bulmawati, S.Sos

Bendahara Ir. H. A. Hasanuddin Malkab Penasehat H. Andi Bahar Paduppa, S.Sos

Tabel : 4.2.Daftar Calon Anggota DPRD Kabupaten Sinjai Partai Gerindra Pada Pemilihan Umum Tahun 2019

No

Urut Nama Calon Legislatif Daerah Pemilihan

1 Sukardi

Dapil I

Sinjai Utara, Bulupoddo, dan Pulau IX

2 Mappiare

3 Kalmawati, S.ST.

4 Satria Ramli, S.E., M.M. 5 Drs. Lukman H . Arsal, M.Si. 6 Murniati , S.Pd.

7 SuhartinI, S.E.

8 Sinar Alam, S.H., M.H.

9 Andi Ridwan D. A. Palevi Asapa, S.Kom.

(59)

1 Jamaluddin

Dapil II

Sinjai Timur dan Tellulimpoe 2 Ardiansyah Haris, S.Sos., M.M.

3 Kartini, S.Sos. 4 Saifuddin 5 A. Saudi Moeri, S.Pd. 6 Wulandari 7 Harlina 8 Muhammad Aris 1 Nurfa Damayanti Dapil III

Sinjai Selatan dan Borong 2 Bulmawati, S.Sos.

3 Mappatoba 4 Baharuddin L

5 Ramlah A. Syahiruddin 6 Ir. Muhammad Jamil, M.P. 7 Amiruddin, A.Ma.

1 Saleng

Dapil IV

Sinjai Tengah dan Sinjai Barat

2 Abdul Halid 3 Sudarmi, S.P. 4 Andi Rosdiati AR 5 Sumarlin, S.E.

6 Fachriandi Matoa, S.E.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :