GERAK RENANG F.X. Sugiyanto
FIK Yogyakarta State University E-mail: [email protected]; HP: 081328783733
Abstract: The Effectiveness of Learning Sequences in Swimming Skills. This study aims to investigate the appropriateness and effectiveness of learning se-quences in swimming skills after the students mastered the crawl stroke. The sequences were that from the crawl stroke to the breast stroke and that from the crawl stroke to the back stroke. This study was a quasi-experimental study using the pretest-posttest group design. The population comprised students of the Faculty of Sports Sciences, Yogyakarta State University. The sample was selected using the purposive sampling technique. The results showed that the sequence from the crawl stroke to the back stroke was more efficient than that from the crawl stroke to the breast stroke in terms of the mastery of swimming skills.
Keywords: learning sequences, crawl stroke, back stroke, breast stroke
PENDAHULUAN
Dalam Kurikulum Program Studi (Prodi) Pendidikan Kepelatihan Olah-raga (PKO) Jurusan Pendidikan Kepe-latihan (PKL) Fakultas Ilmu Keolahra-gaan (FIK) Universitas Negeri Yogya-karta (UNY), salah satu di antaranya terdapat mata kuliah wajib, yaitu kete-rampilan gerak renang. Namun, dalam beberapa angkatan banyak mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah keteram-pilan gerak renang tersebut. Rata-rata mahasiswa hanya memperoleh nilai K dan beberapa di antaranya mendapat nilai D. Data nilai keterampilan gerak renang mahasiswa angkatan tahun 2004-2006 yang memperoleh nilai D sejumlah 21 mahasiswa, sedang yang mendapat K 38 mahasiswa.
Banyak faktor yang ikut mempe-ngaruhi keberhasilan mahasiswa dalam
menguasai keterampilan gerak renang. Namun, berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara pengajar renang de-ngan mahasiswa, ternyata beberapa hal yang menyebabkan mahasiswa gagal menguasai keterampilan gerak renang antara lain (1) perasaan trauma maha-siswa terhadap air karena pengalaman sebelumnya yang kurang menyenang-kan; (2) Mahasiswa sama sekali belum pernah mengenal olahraga renang se-hingga waktu yang dimiliki untuk me-nguasai keterampilan gerak renang ku-rang memadai; (3) banyak keterampilan gerak renang yang harus dikuasai da-lam satu semester, yaitu: renang gaya bebas (crawl) 100 meter, gaya dada 50 meter, menyelam sejauh 25 meter, me-nyelam di kedalaman 6-7 meter, renang menolong 25 meter, mengapung selama 30 menit; dan (4) kurikulum yang
su-dah tidak memadai sehingga perlu di-tinjauulang untuk direvisi. Seperti yang diyatakan oleh Nasution (1982:210) bah-wa pembaruan kurikulum merupakan hal biasa sebab mempertahankan kuri-kulum yang ada akan merugikan anak-anak dan fungsi kurikulum itu sendiri. Untuk itu, diperlukan pembaruan dalam pendidikan, khususnya pembe-lajaran keterampilan gerak renang guna mengubah kebiasaan lama dan model urutan (sequence) penyajian materi. Dari beberapa masalah seperti tersebut di atas, perubahan kurikulum merupakan masalah yang sangat mendesak untuk diadakan pembaharuan. Pembaharuan yang dimaksud adalah model urutan penyajian pada mata kuliah keterampil-an gerak renketerampil-ang. Selama ini, dari gaya
crawl ke gaya dada perlu ditinjau ulang,
dan dicarikan alternatif lain dengan model urutan dari gaya crawl ke gaya punggung.
Keterampilan gerak renang yang harus dikuasai oleh mahasiswa dalam satu semester materi meliputi: renang gaya bebas (crawl) sejauh 100 meter, re-nang gaya dada 50 meter, menyelam memanjang sejauh 25 meter, menyelam di kedalaman 6-7 meter, renang meno-long 25 meter, dan keterampilan meng-apung selama 30 menit. Artinya, dalam satu semester mahasiswa dinyatakan lulus jika semua materi sajian tersebut memenuhi standar nilai yang telah di-tetapkan. Dalam menetapkan kelulusan mahasiswa, mengegunakan indikator ketepatan teknik berenang dan catatan waktu yang dicapai saat ujian praktik dari semua materi sajian tersebut di atas. Nampaknya, materi yang cukup banyak yang harus dikuasai oleh
maha-siswa tersebut menghambat kelulusan pada mata kuliah keterampilan gerak renang. Selain itu, kemungkinan model urutan sajian materi renang perlu di-coba diubah disesuaikan dengan teori pembelajaran renang.
Fakta menunjukkan bahwa maha-siswa banyak yang tidak lulus mata ku-liah keterampilan gerak renang tersebut menimbulkan keprihatinan bagi peng-ajar sehingga peneliti yang sekaligus pengajarketerampilangerak renang ber-keinginan dan terdorong untuk men-coba menerapkan model pembelajaran renang yang efektif dan efisien. Model pembelajaran yang diterapkan adalah mengubah urutan penyajian, setelah mahasiswa memiliki keterampilan re-nang gaya crawl, urutan penyajian beri-kutnya yang lebih cepat dikuasai oleh mahasiswa apakah diberikan renang gaya punggung atau renang gaya dada? Selama ini, urutan penyajian setelah renang gaya crawl adalah renang gaya dada dan dilajutkan renang gaya pung-gung (crawl-dada-pungpung-gung). Namun, kenyataannya urutan materi tersebut mengakibatkanbanyak mahasiswa yang tidak lulus sehingga perlu memban-dingkan model urutan dari renang gaya
crawl ke renang gaya punggung
(crawl-punggung) dan dari renang gaya crawl ke renang gaya dada (crawl-dada). Un-tuk itu, konsep model yang dicobakan kepada mahasiswa adalah dengan pra-syarat bahwa urutan dalam pembelajar-an keterampilpembelajar-an gerak renpembelajar-ang dimulai dari renang gaya crawl terlebih dahulu. Setelah mahasiswa memiliki keteram-pilan renang gaya crawl, renang gaya punggung atau renang gaya dada yang lebih cepat dikuasai oleh mahasiswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalahnya adalah: manakah model urutan sajian yang lebih efektif (cepat) dikuasai oleh mahasiswa pada mata kuliah keterampilan gerak renang dari gaya crawl ke gaya dada atau dari gaya crawl ke gaya punggung?
Diharapkanmelaluipenelitianini da-pat diketahui model urutan yang teda-pat bagi mahasiswa dalam menguasai mata kuliah keterampilan gerak renang. Sete-lah mahasiswa menguasai renang gaya
crawl dalam waktu separuh tatap muka
yang tersedia untuk materi keterampil-angerak renang, maka yang efektif di-berikan terlebih dahulu model crawl-dada atau crawl-punggung. Dengan me-ngetahui model urutan penyajian yang tepat dan efektif dapat dimanfaatkan sebagai upaya dalam pengembangan kurikulum, khususnya untuk mata ku-liah keterampilan gerak renang. Model urutan penyajian yang dipilih ikut me-nentukan keberhasilan mahasiswa da-lam menguasai keterampilan gerak re-nang. Selain itu, mahasiswa diuntung-kan untuk menguasai keterampilan ge-rak renang dalam waktu yang relatif lebih singkat. Dengan kata lain, tingkat kelulusan mahasiswa pada mata kuliah keterampilan gerak renang menjadi le-bih baik dan lele-bih banyak.
Pengertian renang gaya crawl atau gaya rimau (the front crawl stroke) me-nurut Abdoellah dkk. (1981:278) adalah berenang dengan posisi badan mene-lungkup, lengan kanan dan kiri dige-rakkan bergantian untuk mendayung dari depan ke belakang. Tungkai dige-rakkan naik turun secara bergantian untuk mencambuk air agar menghasil-kan daya dorong ke arah depan. Arti-nya,gerakantungkai tersebut yang akan mengakibatkan laju badan perenang meluncur ke depan. Untuk lebih jelas, renang gaya crawl dapat dilihat pada Gambar 1.
Pengertian renang gaya punggung (the back crawl stroke) adalah berenang dengan posisi badan terlentang, lengan kanan dan kiri digerakkan secara ber-gantian untuk mendayung. Tungkai di-gerakkan naik turun secara bergantian untuk mencambuk air agar mendapat-kan daya dorong ke depan sehingga tu-buh perenang dapat meluncur ke de-pan. Gerakan renang gaya punggung dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Renang Gaya Punggung Renang gaya dada (the breast stroke)
sering juga disebut renang gaya katak, karena renang gaya dada mirip sekali dengan gerakan katak waktu berenang. Renang gaya dada adalah berenang de-ngan kedua tade-ngan harus didorongkan ke muka secara bersama-sama dari arah dada pada saat atau di bawah permuka-an air, lalu dikembpermuka-angkpermuka-an ke samping dan dibawa ke belakang kembali de-ngan serempak dan simetris. Posisi ba-dan telungkup ba-dan kedua bahu sejajar
dengan permukaan air. Selanjutnya, ke-dua kaki ditarik bersama-sama ke arah badan, lutut ditekuk dan terbuka agar siap menendang air ke belakang untuk mendapatkan daya dorong ke depan. Sesudah itu, dilanjutkan dengan kedua kaki digerakkan melingkar ke luar dan dirapatkan kembali. Semua gerak kaki harus dilakukan secara serempak, sime-tris dan dalam bidang yang sama datar, seperti terlihat pada Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Renang Gaya Dada Setelah mencermati gambar 1 dan 2
nampak sekali bahwa ada kesamaan gerak, hanya saja yang berbeda pada posisinya yaitu telungkup untuk gaya
crawl dan telentang untuk gaya
pung-gung. Untuk gerakan tungkai dan le-ngan memiliki kesamaan guna men-dorong badan agar dapat melaju ke
de-pan dengan cepat. Dengan demikian, diduga model urutan dari gaya crawl ke gaya punggung mahasiswa lebih cepat menguasainya karena ada transfer ke-terampilan pada gerakan lengan dan tungkai.
Selanjutnya, jika dibandingkan an-tara Gambar 1 (crawl) dan Gambar 2
(punggung) dengan Gambar 3 (dada), nampak sekali perbedaan gerakan pada lengan dan tungkai. Untuk Gambar 3 (dada), memerlukan koordinasi gerak lengan dan tungkai yang lebih kom-pleks daripada renang gaya crawl dan punggung. Selain itu, perubahan dari gaya crawl ke gaya dada tidak terjadi transfer keterampilan gerak pada gerak-an lenggerak-an dgerak-an tungkai. Denggerak-an demi-kian, diduga model urutan dari gaya
crawl ke gaya dada lebih lambat (lama)
dikuasai oleh mahasiswa dikarenakan tidak terjadi transfer keterampilan pada gerakan lengan dan tungkai.
Fenomena yang berkembang di ma-syarakat bahwa belajar berenang akan lebih mudah dengan mengajarkan re-nang gaya dada (gaya katak) terlebih dahulu sebelum gaya crawl atau se-baliknya,darigaya crawl terlebih dahulu baru gaya dada. Hal itu terbukti bahwa para pelatih (guru) renang di beberapa les privat di kolam renang umumnya menerapkan model dari gaya crawl ke gaya dada. Bahkan, beberapa pengajar keterampilan gerak renang dari FIK UNY pun masih ada yang berpendapat seperti itu. Para pengajar keterampilan gerak renangFIKUNY menerapkan mo-del tersebut bukan tanpa dasar, sebab dalam Kurikulum 2002 FIK UNY, mata kuliah keterampilan gerak renang de-ngan kode IKF230 silabusnya menerap-kan model urutan penyajian dari gaya dada ke gaya crawl atau dari gaya crawl ke gayadada(Kurikulum2002FIK UNY, 2006:35). Pada dasarnya, kedua model sajian tersebut tidak seluruhnya salah karena pada awal abad ke-19 yang di-ajarkan di sekolah-sekolah umum dan yang dipakai dalam perlombaan adalah
renang gaya katak saja. Oleh karena yang diajarkan di sekolah-sekolah ha-nya renang gaya katak saja, maka re-nang gaya ini dinamakan juga dengan renang gaya sekolah (schoolslag) (Tjiang dan Tarigan, 1962:55).
Teori yang baru menyatakan bahwa urutan dalam belajar berenang sudah tidak lagi mengikuti urutan dari gaya dada ke gaya crawl atau sebaliknya se-perti tersebut di atas. Counsilman (1977: 144) menyatakan bahwa renang gaya rimau (gaya crawl) merupakan persya-ratan untuk memahami atau mempela-jari ke tiga gaya renang berikutnya, ya-itu: renang gaya punggung, gaya kupu-kupu (gaya dolphin), dan renang gaya dada. Hal senada juga dinyatakan oleh The Canadian Redcroos Society (1974: 48-64) bahwa model urutan sajiannya, yaitu: renang gaya rimau, gaya pung-gung, dan renang gaya dada. Colwin (1977: 45-69) berpendapat bahwa dalam mempelajari keterampilan gerak renang dimulai dari gaya rimau, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada. Dari ke tiga pendapat tersebut, dike-tahui bahwa gaya rimau merupakan gaya yang harus dipelajari terlebih da-hulu sebelum mempelajari ketiga gaya renang yang lain. Selanjutnya, renang gaya dada merupakan gaya yang ter-akhir untuk dipelajari oleh para pere-nang pemula.
Pada dasarnya, renang gaya dada ada dua macam, yaitu (1) gaya tradi-sional (the traditional style); dan (2) renang gaya dada yang seperti gaya
dolphin (the dolphin style breast stroke)
(Maglischo, 1982:129). Renang gaya tra-disional banyak digunakan oleh penang-perenang Amerika. Ciri-ciri
re-nang gaya dada yang tradisional adalah posisi badan rata-rata air dengan ping-gul tetap pada atau dekat permukaan air dan bahu seluruhnya terletak dalam air. Pernapasan dilakukan dengan cara mengangkat dan menurunkan kepala sehingga posisi rata-rata air dari badan dan kaki tidak terganggu.
Renanggaya dada yang seperti gaya
dolphin (the dolphin style breast stroke) di
mana posisi pinggul lebih rendah, dan bahu di bawa ke luar permukaan air ke-tika mengambil napas. Gaya ini banyak digunakan oleh perenang Eropa Timur. Howard Firby menyebut renang gaya ini dengan istilah renang gaya dada alamiah (the natural style breast stroke). Gaya dada yang akan dipelajari adalah gaya dada yang menyerupai gaya
dol-phin. Oleh karena itu, apabila seseorang
telah menguasai gaya dolphin, orang ter-sebut tidak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari renang gaya dada.
Berdasarkan kajian teori tersebut, maka yang dapat dianggap sebagai re-nang dasar adalah gaya crawl (rimau) dan gaya punggung. Selanjutnya, apa-bila renang gaya crawl dan gaya pung-gung diajarkan berurutan akan banyak memperoleh keuntungan karena ada-nya kemiripan pada gerakan lengan dan tungki dari kedua gaya tersebut. Maglischo (1982:169) menyatakan bah-wa sudah sejak abah-wal dari perlombaan-perlombaan renang, renang gaya pung-gung merupakan kebalikan dari versi
gayacrawl(gaya rimau). Keyakinan
bah-wa gaya punggung benar-benar meru-pakan kebalikan dari gaya crawl diper-kuat oleh teori daya angkat (lift theory) yang diterapkan pada mekanika dari kedua gaya tersebut, di mana kesamaan
di antara kedua gaya itu sama persis.
The Canadian Red Cross Society (1974:56)
beranggapan bahwa gaya punggung adalah salah satu gaya yang mudah di-pelajari dan diajarkan. Di samping itu, pada renang gaya punggung tidak ada masalah dalam pernapasan karena da-pat dilakukan secara alamiah. Gerakan lengan dari kedua gaya tersebut memi-liki kesamaan, yaitu menggerakkan le-ngan kanan dan kiri secara bergantian saat mendayung air. Gerakan tungkai pada gaya crawl dapat menggunakan pukulan flutter kick, demikian juga pada gayapunggung, hanya pada gaya pung-gung agak lebih dalam.
Dilihat dari gerak tungkai kedua gaya renang (crawl dan punggung) ter-sebut sudah sangat menguntungkan. Jika seorang perenang belajar pukulan tungkai gaya crawl, otomatis orang ter-sebut juga sudah belajar gerak tungkai untuk gaya punggung. Kondisi seperti itu yang menyebabkan para perenang lebih efisien dalam belajar berenang dilihat dari segi waktu belajar. Namun demikian, ada satu kesulitan dalam be-lajar gaya punggung, yaitu timbulnya perasaan takut perenang pada waktu meletakkan kepala ke belakang karena perenang tidak dapat melihat ke depan secara langsung. Faktanya, kesulitan ini tidak besar pengaruhnya bila diban-dingkan dengan keuntungan-keuntung-an ykeuntungan-keuntung-ang diperoleh dalam menguasai ke-terampilan gerak renang gaya pung-gung. Beberapa keuntungan tersebut ti-dak akan didapat apabila model urutan penyajian keterampilan gerak renang dari gaya crawl ke gaya dada.
Berdasarkan kajian teoretik di atas, model urutan penyajian keterampilan
renang setelah gaya crawl akan lebih efektif bila dilanjutkan dengan gaya punggung daripada setelah gaya crawl dilanjutkan dengan gaya dada. Hal ini dikarenakanpukulantungkai pada gaya
crawl mirip dengan pukulan tungkai
pada gaya punggung, yang berbeda ha-nya posisi badanha-nya telungkup untuk gaya crawl dan telentang untuk gaya punggung. Oleh karena itu, seorang yang menguasai pukulan tungkai gaya
crawl otomatis ada transfer
keteram-pilan yang lebih tinggi dalam mempe-lajaripukulan tungkaigaya punggung. Dengan demikian, model gaya crawl ke gaya punggung akan mempersingkat waktu seseorang dalam mempelajari keterampilan berenang gaya punggung. Dengan jumlah tatap muka yang ter-batas dan keterampilan yang dipelajari
cukup banyak (enam macam keteram-pilan), maka model urutan penyajian dari gaya crawl ke gaya punggung lebih menguntungkan bagi mahasiswa dalam menguasai keterampilan gerak renang. METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu
(quasi-experi-mental) dengan pretest-posttest group design. Penelitian kuasi eksperimen ini
menggunakan dua kelompok, yaitu ke-lompok kontrol dan keke-lompok ekspe-rimen. Kelompok kontrol adalah urutan pembelajaran renang gaya crawl-dada, sedangkan kelompok eksperimen ada-lah urutan pembelajaran renang gaya
crawl-punggung.Selanjutnya, desain
pe-nelitiannya digambarkan sebagai beri-kut.
KELOMPOK PRE-TEST PERLAKUAN POST-TEST
Kontrol O crawl-dada (X1) O
Eksperimen O crawl-punggung (X2) O
Sebelumdiberiperlakuan, kedua ke-lompok tersebut terlebih dahulu dites awal (pretest) dengan berenang gaya
crawl sejauh 25 meter untuk
menentu-kan tingkat keterampilan berenang se-tiapsampel.Selamadiberiperlakuan, ke-duakelompokselalu dipantau oleh
judg-esatausebagaibentukdarites akhir
(post-test) untuk mengetahui tingkat
kecepat-an sampel dalam menguasai keteram-pilan renang dari gaya crawl ke gaya da-da atau da-dari gaya crawl ke gaya pung-gung. Bentuk tesnya adalah berenang dengangayadada untuk kelompok kon-trol dan gaya punggung untuk kelom-pok eksperimen, keduanyamenempuh jarak sejauh 25 meter.
Populasi penelitian adalah mahasis-wa FIK UNY. Teknik pengambilan sam-pel secara purposive sampling. Artinya, sampel bertujuan karena penentuan sampel didasarkan atas adanya tujuan tertentu atau dengan pertimbangan ter-tentu (Arikunto, 1996:127; Sugiyono, 2007:112-113 dan 124). Pertimbangan yang dipakai dalam menentukan sam-pel adalah (1) mahasiswa Prodi PKO kelas A dan B yang mengambil mata kuliah keterampilan gerak renang pada semester genap (Februari-Juni 2007); (2) mahasiswa belum pernah mengambil mata kuliah keterampilan gerak renang sebelumnya (bukan mahasiswa yang mengulang); dan (3) mahasiswa
meme-nuhi syarat dan dikelompokkan berda-sarkan hasil tes renang gaya crawl.
Terdapat 74 mahasiswa yang meng-ikuti mata kuliah keterampilan gerak renang. Dengan dibantu 3 orang judges, mahasiswa tersebut dites keterampilan renang gaya crawl sejauh 25 meter. Tu-juan tes untuk mengelompokkan ting-kat keterampilan mahasiswa dalam be-renang, hasilnya terdapat 3 tingkat ke-terampilan yaitu: kelompok baik, se-dang, dan kelompok kurang terampil. Dari 74 mahasiswa tersebut yang me-menuhi syarat menguasai renang gaya
crawl sejumlah 65 mahasiswa, sedang 9
mahasiswa dinyatakan belum dapat be-renang gaya crawl. Jumlah sampel ke-lompok keterampilan baik 26 mahasis-wa, kelompok sedang 23 mahasismahasis-wa, dan kelompok yang berketerampilan kurang 16 mahasiswa.
Alat yang digunakan untuk me-ngumpulkan data antara lain blanko daftar hadir mahasiswa, alat tulis, dan dosen ahli (3 orang pengajar renang) sebagai judges. Definisi operasional ke-terampilangerakrenang adalah kemam-puan mahasiswa untuk mengkoordi-nasikan gerak tungkai, lengan, dan per-nafasan saat berenang pada gaya re-nang yang diujikan (dada atau pung-gung) dalam menempuh jarak 25 meter. Selanjutnya, setiap kali pertemuan, se-tiap kelompok selalu diamati oleh
judg-es untuk mengetahui tingkat kecepatan
penguasaan mahasiswa terhadap rampilan renang gaya dada dan kete-rampilan renang gaya punggung. Dari hasil pengamatan (pantauan) tersebut akan dapat diketahui setelah berapa kali pertemuan mahasiswa dapat
me-nguasai setiap gaya (dada atau pung-gung) tersebut pada jarak 25 meter. HASIL DAN PEMBAHASAN
Jalannya penelitian, pada pertemu-an pertama menentukpertemu-an kriteria sam-pel. Dengan dibantu oleh tiga orang
judges, 74 mahasiswa dites keterampilan
berenang gaya crawl sejauh 25 meter. Hasilnya 65 mahasiswa memenuhi sya-rat sebagai sampel penelitian, sedang 9 mahasiswa dinyatakan belum dapat be-renang gaya crawl. Berdasarkan hasil tes ada tiga kelompok klasifikasi keteram-pilan berenang, yaitu: kelompok baik 26 mahasiswa, kelompok sedang 23 siswa, dan kelompok kurang 16 maha-siswa. Dari setiap kelompok baik, se-dang, dan kurang tersebut masing-ma-sing dijadikan 2 kelompok dengan cara belah dua (split-half), yaitu genap-ganjil. Selanjutnya, dengan cara random satu kelompok diberi pelajaran renang gaya
crawl-dada, dan satu kelompok lagi
di-beri pelajaran renang gaya crawl-pung-gung.
Pada pertemuan kedua dan seterus-nya, setiap kelompok diajar oleh se-orang dosen dengan materi sajian ke-terampilan renang gaya punggung, dan satu kelompok lagi diajar oleh dosen yang berbeda dengan materi sajian ke-terampilan renang gaya dada. Setiap kelompok diberika alokasi waktu untuk setiap tatap muka selama 100 menit. Maksimal tatap muka dilakukan se-banyak 12 kali pertemuan.
Materi yang disajikan untuk renang gaya punggung adalah: (1) meluncur; (2) pukulan tungkai gaya punggung; (3) pukulan (kayuhan) lengan gaya pung-gung; (4) latihan pernapasan; dan (5)
la-tihan kombinasi renang gaya pung-gung. Selanjutnya, materi yang disaji-kan untuk renang gaya dada adalah: (1) meluncur; (2) gerak pukulan tungkai gayadada; (3) pukulan (gerakan) lengan gaya dada; (4) latihan pernapasan; dan (5) latihan kombinasi renang gaya dada. Proses perlakuan untuk kedua gaya (dada dan punggung) pada semua ke-lompok yang memiliki keterampilan baik, sedang, dan kurang terampil. Se-tiap tatap muka diamati tingkat kece-patan penguasaan keterampilan bere-nang. Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata untuk kelompok keterampilan
berenang baik yang diajar dengan gaya crawl ke gaya punggung, terbukti dalam
1 kali pertemuan sudah dapat me-nguasai renang gaya punggung untuk berenang sejauh 25 meter. Rata-rata untuk kelompok baik yang diajar dengan renang gaya crawl ke gaya dada, dapat menguasai renang gaya dada memer-lukan waktu minimal 4 kali pertemuan.
Rata-rata untuk kelompok
keterampil-an sedketerampil-ang yketerampil-ang diajar dengketerampil-an renketerampil-ang
gaya crawl ke gaya punggung memerlu-kan waktu minimal 3 kali pertemuan agar dapat menguasai renang gaya punggung dalam menempuh jarak se-jauh 25 meter. Rata-rata untuk kelompok
sedang yang diajar dengan renang gaya crawl ke gaya dada memerlukan waktu
minimal 6 kali pertemuan agar dapat menguasai renang gaya dada menem-puh jarak sejauh 25 meter.
Rata-rata untuk kelompok yang
ku-rang terampil diajar renang gaya crawl ke
gaya punggung memerlukan waktu mi-nimal 7 kali pertemuan baru dapat me-nguasai renang gaya punggung untuk berenang sejauh 25 meter. Rata-rata
un-tuk kelompok kurang terampil diajar de-ngan renang gaya crawl ke gaya dada memerlukan waktu minimal 12 perte-muan baru dapat menguasai renang gaya dada untuk menempuh jarak 25 meter.
Berdasarkan proses jalannya peneli-tian seperti tersebut di atas, setelah ma-hasiswa menguasai keterampilan re-nang gaya crawl, ditemukan beberapa bukti.(1)Kelompokmahasiswayang me-miliki keterampilan renang gaya crawl baik, dalam 1 kali pertemuan sudah da-pat menguasai renang gaya punggung, sedangkan untuk menguasai renang ga-ya dada mahasiswa memerlukan 4 kali pertemuan. (2) Kelompok mahasiswa yang memiliki keterampilan renang ga-ya crawl sedang, dalam 3 kali pertemu-an sudah dapat menguasai renpertemu-ang gaya punggung, sedangkan untuk mengua-sai renang gaya dada mahasiswa me-merlukan waktu 6 kali pertemuan. (3) Kelompok mahasiswa yang memiliki keterampilan renang gaya crawl kurang terampil, dalam 7 kali pertemuan baru dapat menguasai renang gaya pung-gung, sedangkan untuk menguasai re-nang gaya dada mahasiswa memerlu-kan waktu 12 kali pertemuan.
Berdasarkan hasil penelitian di atas terbukti bahwa model urutan pelajaran renang dari gaya crawl ke gaya pug-gung lebih efisien daripada model urut-an pelajarurut-an renurut-ang gaya crawl ke gaya dada. Hal ini dikarenakan gerak pukul-an tungkai pada gaya crawl sama de-ngan gerak pukulan tungkai pada re-nang gaya punggung. Demikian juga pada gerakan lengan untuk kedua gaya (crawl dan punggung) memiliki kesa-maan gerak. Dengan demikian, kedua
gaya (crawl dan punggung) memiliki kesamaan gerak tungkai dan lengan, seddang perbedaannya terletak pada posisinya, yaitu telungkup untuk gaya
crawl dan terlentang untuk gaya
pung-gung. Dengan demikian dalam belajar renang antara gaya crawl dan gaya punggung terjadi transfer keterampilan gerak pada gerak tungkai dan lengan. Karena terjadi transfer keterampilan ge-rak tungkai dan lengan pada gaya crawl dan punggung, maka model urutan re-nang dari gaya crawl ke gaya punggung waktu yang diperlukan lebih singkat daripada model urutan dari gaya crawl ke gaya dada.
Pada model urutan renang gaya
crawl yang dilanjutkan renang gaya
dada tidak terjadi transfer keterampilan gerak tungkai dan lengan. Gerak pukul-an tungkai pada renpukul-ang gaya dada sa-ngat berbeda dengan gerak pukulan tungkai pada renang gaya crawl. Demi-kian juga perbedaan terletak pada ge-rakan lengan antara renang gaya dada dan renang gaya crawl. Artinya, setelah menguasai renang gaya crawl, jika di-lanjutkan dengan urutan renang gaya dada tidak akan terjadi transfer kete-rampilan pada gerak tungkai dan le-ngan. Akibatnya, mahasiswa agar dapat berenang gaya dada harus belajar ke-terampilan gerak yang baru, yaitu gerak pukulan tungkai dan lengan yang ber-bedadengan gaya crawl. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat me-nguasai renang gaya dada setelah mem-pelajari renang gaya crawl.
Berdasarkan fakta dan hasil peneli-tian ini, mulai nampak titik permasalah-an ypermasalah-ang menyebabkpermasalah-an mahasiswa ypermasalah-ang
mengambil mata kuliah keterampilan gerak renang banyak yang tidak lulus. Hal itu disebabkan oleh model urutan yang selama ini dijalankan menyim-pang secara teori transfer keterampilan gerak (transfer of skill). Model urutan yang selama ini dijalankan adalah dari gaya crawl ke gaya dada. Padahal dari hasil penelitian ini terbukti bahwa mo-del urutan dari gaya crawl ke gaya punggung memerlukan waktu yang lebih singkat untuk semua tingkat kete-rampilan (baik, sedang, dan kurang). PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan be-berapa tinjauan yang telah dikaji, dapat disimpulkan bahwa bagi mahasiswa untuk menguasai mata kuliah keteram-pilan gerak renang, model urutan sajian renang dari gaya crawl ke gaya pung-gung lebih efektif (cepat) daripada dari gaya crawl ke gaya dada.
Guna membantu percepatan kelu-lusan mahasiswa pada mata kuliah ke-terampilan gerak renang yang merupa-kan mata kuliah wajib lulus, maka di-sarankanpenelitian ini populasinya per-lu diperbesar lagi. Untuk itu, perper-lu dila-kukan penelitian yang sama pada prodi lain yang ada di lingkungan FIK UNY.
Implikasi dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan infor-masi dan pertimbangan untuk meng-adakan perubahan kurikulum keteram-pilan gerak renang di FIK UNY. De-ngan cara mengubah model urutan pe-nyajian dari gaya crawl ke gaya dada yang selama ini dipakai, diubah dengan model urutan penyajian dari gaya crawl ke gaya punggung. Dengan perubahan model urutan penyajian tersebut
di-harapkan kegagalan para mahasiswa untuk menguasai keterampilan gerak renang semakin berkurang. Artinya, di-harapkan semakin banyak mahasiswa yang lulus mata kuliah keterampilan gerak renang di masa mendatang de-ngan menerapkan model sajian dari gaya crawl ke gaya punggung.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini, penulis meng-ucapkan banyak terima kasih kepada Redaktur dan segenap pengurus Jurnal
Cakrawala Pendidikan yang telah
mem-berikan mimbar bagi komunikasi ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdoellah, Arma, dkk. 1981. Olahraga
Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Sastra Budaya.
Ary, Donald, Jacobs, Lucy Cheser., Razavieh, Asghar. 1982. Pengantar
Penelitian Dalam Pendidikan.
(terje-mahan dari Arief Furchan). Sura-baya: Usaha Nasional.
Colwin, Cecil. 1977. An Introduction to
Swimming Coaching. Vanier City,
Ottawa, Ontario: Canadian Ama-teur Swimming Association. Counsilman, James E. 1977. Competitive
Swimming Manual for Coaches and Swimmer. Bloomington, Indiana:
Counsilman Co., Inc.
Hadi, Sutrisno. 1965. Sendi-Sendi
Ekspe-rimen. Yogyakarta: Yayasan
Pe-nerbitan FIP-IKIP Yogyakarta de-ngan bantuan Dep. PTIP Jakarta. Maglischo, Ernest W. 1982. Swimming
Faster. California State University,
Chicago: Mayfield Publishing Company.
Nasution S. 1982. Asas-Asas Kurikulum. Bandung: Penerbit Jemmars. Sugiyanto, F. X. 2008. “Pengembangan
Urutan (Sequence) Pengajaran Re-nang Gaya Crawl ke Gaya Dada dengan Gaya Crawl ke Gaya Punggung terhadap Penguasaan Keterampilan Gerak Renang”,
La-poran Penelitian. Yogyakarta: FIK
UNY.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
Pen-didikan:PendekatanKuantitatif,
Kua-litatif, dan R & D. Bandung:
Alfa-beta.
Suharsimi, Arikunto. 1996. Prosedur
Pe-nelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
The Canadian Red Cross Society. 1974.
National Instructor Guide and Refe-rence. Toronto, Ontario, Canada:
M4Y 1H6.
Tjiang, Ong Sioe dan Tarigan, Serta. 1962. Renang. Jakarta-Kota: Keng Po.
Universitas Negeri Yogyakarta. 2006.
Kurikulum 2002 Fakultas Ilmu Ke-olahragaan. Yogyakarta: FIK-UNY.