• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL BIOLOGI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL BIOLOGI INDONESIA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

Vol. 7, No. 1 Juni 2011 Akreditasi: No 816/D/08/2009 BOGOR, INDONESIA

JURNAL

BIOLOGI

INDONESIA

ISSN 0854-4425

JURNAL

BIOLOGI

INDONESIA

ISSN 0854-4425

Phylogenetic relationships within Cockatoos (Aves: Psittaciformes) Based on DNA Sequences of The Seventh intron of Nuclear β-fibrinogen gene

Dwi Astuti

1

Forest Condition Analysis Based on Forest Canopy ClosureWith Remote Sensing Approach

Mahendra Primajati, Agung Budi Harto & Endah Sulistyawati

13

Genetic Variation of Agathis loranthifolia Salisb. in West Jawa Assessed by RAPD

Tedi Yunanto, Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, & Mariyana Ulfah

25

Bird Community Structure in Karimunjawa Islands, Central Jawa

Niarsi Merry Hemelda, Ummi Syifa Khusnuzon, & Putri Sandy Pangestu

35

Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 (Nematoda : Cosmocercoidea: Kathalaniidae) Pada Leucocephalon yuwonoi (McCord et.al., 1995) Di Sulawesi Tengah, Indonesia

Endang Purwaningsih & Awal Riyanto

45

Tingkat Eksploitasi Ikan Endemik Bonti-bonti (Paratherina striata) di Danau Towuti

Syahroma Husni Nasution

53

Bentuk Sel Epidermis, Tipe dan Indeks Stomata 5 Genotipe Kedelai pada Tingkat Naungan Berbeda

Titik Sundari & Rahmat Priya Atmaja

67

Sintesis Alkil N-asetilglukosamina (Alkil-GlcNAc) dengan Enzim N-asetilheksosaminidase yang diisolasi dari Aspergillus sp. 501

Iwan Saskiawan & Rini Handayani

(2)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Jurnal Biologi Indonesia diterbitkan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia. Jurnal ini memuat hasil penelitian ataupun kajian yang berkaitan dengan masalah biologi yang diterbitkan secara berkala dua kali setahun (Juni dan Desember).

Editor Pengelola

Dr. Ibnu Maryanto Dr. I Made Sudiana Deby Arifiani, S.P., M.Sc

Dr. Izu Andry Fijridiyanto

Dewan Editor Ilmiah

Dr. Abinawanto, F MIPA UI Dr. Achmad Farajalah, FMIPA IPB

Dr. Ambariyanto, F. Perikanan dan Kelautan UNDIP Dr. Aswin Usup F. Pertanian Universitas Palangkaraya Dr. Didik Widiyatmoko, PK Tumbuhan, Kebun Raya Cibodas-LIPI

Dr. Dwi Nugroho Wibowo, F. Biologi UNSOED Dr. Parikesit, F. MIPA UNPAD

Prof. Dr. Mohd.Tajuddin Abdullah, Universiti Malaysia Sarawak Malaysia Assoc. Prof. Monica Suleiman, Universiti Malaysia Sabah, Malaysia

Dr. Srihadi Agungpriyono, PAVet(K), F. Kedokteran Hewan IPB Y. Surjadi MSc, Pusat Penelitian ICABIOGRAD

Drs. Suharjono, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Dr. Tri Widianto, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI

Dr. Witjaksono Pusat Penelitian Biologi-LIPI Alamat Redaksi

Sekretariat

d/a Pusat Penelitian Biologi - LIPI

Jl. Ir. H. Juanda No. 18, Bogor 16002 , Telp. (021) 8765056 Fax. (021) 8765068

Email : [email protected]; [email protected] Website : http://biologi.or.id

Jurnal ini telah diakreditasi ulang dengan nilai A berdasarkan SK Kepala LIPI 816/ D/2009 tanggal 28 Agustus 2009.

(3)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

KATA PENGANTAR

Jurnal Biologi Indonesia yang diterbitkan oleh PERHIMPUNAN BIOLOGI INDONESIA edisi volume 7 nomer 1 tahun 2011 memuat 15 artikel lengkap dan 1artikel tulisan pendek, empat artikeldiantaranya telah dipresentasi pada seminar ATCBC di bali 2010. Penulis pada edisi ini sangat beragam yaitu dari Departemen Kementerian Pertanian Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Fak. MIPA-Biologi Universitas Negeri Malang, Universitas Cenderawasih Jayapura, Universitas Islam Negeri Hidayatulah Jakarta, Jurusan Biologi FMIPA IPB, Program Studi Sarjana Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), ITB, Jurusan Konservasi Fakultas Kehutanan IPB, Puslit Biologi LIPI, Departmen Biologi FMIPA, University Indonesia, Puslit Limnologi LIPI-LIPI, Puslit Biologi-LIPI dan UPT Loka Konservasi Biota Laut Biak-LIPI. Topik yang dibahas pada edisi ini meliputi bidang Botani, mikrobiologi, zoologi, remote sensing.

(4)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

UCAPAN TERIMA KASIH

Jurnal Biologi Indonesia mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para pakar yang telah turut sebagai penelaah dalam Volume 7, No 1, Juni 2011: Dr. Niken T. M. Pratiwi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Dr. Tike Sartika, Balitnak, Departemen Pertanian, Ciawi Sigit Wiantoro SSi, MSc, Puslit Biologi-LIPI

Drs. Awal Riyanto, Puslit Biologi-LIPI Drs. Roemantyo, Puslit Biologi-LIPI Dr. Andria Agusta, Puslit Biologi LIPI Ir. Titi Juhaeti MSi, Puslit Biologi-LIPI Dr. Nuril Hidayati, Puslit Biologi-LIPI Ir. Heryanto MSc, Puslit Biologi-LIPI

Drh. Taufik Purna Nugraha MSi, Puslit Biologi-LIPI

(5)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

DAFTAR ISI

Phylogenetic relationships within Cockatoos (Aves: Psittaciformes) Based on DNA Sequences of The Seventh intron of Nuclear β-fibrinogen gene

Dwi Astuti

1

Forest Condition Analysis Based on Forest Canopy ClosureWith Remote Sensing Approach

Mahendra Primajati, Agung Budi Harto & Endah Sulistyawati

13

Genetic Variation of Agathis loranthifolia Salisb. in West Jawa Assessed by RAPD

Tedi Yunanto, Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, & Mariyana Ulfah

25

Bird Community Structure in Karimunjawa Islands, Central Jawa

Niarsi Merry Hemelda, Ummi Syifa Khusnuzon, & Putri Sandy Pangestu

35

Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 (Nematoda : Cosmocercoidea: Kathalaniidae) Pada Leucocephalon yuwonoi (McCord et.al., 1995) Di Sulawesi Tengah, Indonesia

Endang Purwaningsih & Awal Riyanto

45

Tingkat Eksploitasi Ikan Endemik Bonti-bonti (Paratherina striata) di Danau Towuti

Syahroma Husni Nasution

53

Bentuk Sel Epidermis, Tipe dan Indeks Stomata 5 Genotipe Kedelai pada Tingkat Naungan Berbeda

Titik Sundari & Rahmat Priya Atmaja

67

Sintesis Alkil N-asetilglukosamina (Alkil-GlcNAc) dengan Enzim N-asetilheksosaminidase yang diisolasi dari Aspergillus sp. 501

Iwan Saskiawan & Rini Handayani

81

Eritrosit dan Hemoglobin pada Kelelawar Gua di Kawasan Karst Gombong, Kebumen,Jawa Tengah

Fahma Wijayanti, Dedy Duryadi Solihin, Hadi Sukadi Alikodra, & Ibnu Maryanto

89

Kajian Hubungan Antara Fitoplankton dengan Kecepatan Arus Air Akibat Operasi Waduk Jatiluhur

Eko Harsono

99

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal Ekor Panjang Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae)

Mumpuni

121

Serapan Karbondioksida (CO2) Jenis-Jenis Pohon di Taman Buah "Mekar Sari" Bogor, Kaitannya dengan Potensi Mitigasi Gas Rumah Kaca

N. Hidayati, M. Reza, T. Juhaeti & M. Mansur

(6)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Kerang Darah (Anadara antiquata) di Perairan Pulau Auki, Kepulauan Padaido, Biak, Papua

Andriani Widyastuti

147

Giving Formulated Pellet on Javan Porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823): Effects on Feed Intake, Feed Conversion, and Digestibility in Pre-Domestication Condition

Wartika Rosa Farida & Roni Ridwan

157

Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah

Maharadatunkamsi

171

TULISAN PENDEK

Kondisi Parameter Biologi Plankton dan Ikan di Perairan Danau Sentani

Auldry F. Walukow

(7)

45 Jurnal Biologi Indonesia 7 (1): 45-52 (2011)

Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000

(Nematoda : Cosmocercoidea: Kathalaniidae) Pada Leucocephalon

yuwonoi (McCord et.al., 1995) Di Sulawesi Tengah, Indonesia

Endang Purwaningsih & Awal Riyanto Bidang Zoologi, Puslit Biologi- LIPI, Cibinong

ABSTRACT

Morphological Study of Larvae and Infection Pattern of Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 in Leucocephalon yuwonoi Mc Cord et.al., 1995 from Sulawesi. Some nematode parasites

Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 were found in alimentary tract of Leucocephalon yuwonoi, those were large in numbers in rectum and a small numbers in stomach. Both adult and larvae were collected from the host. The larvae were different on mouth structure and the shape of esophagus. An additional character, i.e two lateral branches of the anterior part of intestine, that appear along the growth of larvae were reported.

Key words: Nematode, Falcaustra kutcheri, infection pattern, larvae, morphology,

Leucocephalon yuwonoi, Sulawesi

PENDAHULUAN

Falcaustra Leidy, 1858 adalah

nematoda yang termasukanggota famili Kathlaniidae (Nematoda : Cosmocercoi-dea) , oleh beberapa peneliti (Yamaguti 1961, Yorke & Maplestone1926; Baylis 1929, Chabaud 1978) dianggap sebagai sinonim dari Spironoura Lane, 1914.

Semua jenis Spironoura dinyatakan

sebagai Falcaustra dengan F. falcata, sebagai tipe jenis. Cacing ini dijumpai pada 67 jenis amphibia, reptil dan ikan (Yamaguti 1961). Bursey et. al. (2000) mendeskripsi Falcaustra kutcheri dari kura-kura Leucocephalon yuwonoi yang berasal dari Semenanjung Santigi, Sulawesi, menurutnya jenis tersebut adalah jenis yang ke 22 untuk daerah oriental.

Kura-kura Hutan Sulawesi Leu-cocephalon yuwonoi dan Indotestudo

forstenii merupakan kura-kura endemik Sulawesi. Seperti hidupan liar lainnya di Sulawesi, kelestarian kura-kura jenis ini juga mendapatkan ancaman dari pemanfaatan komersial dan kehilangan habitat (Whitten et. al. 1987).

Berdasarkan paparan di atas dan sejalan dengan penelitian domestikasi kura-kura Leucocephalon yuwonoi maka dilakukan penelitian mengenai morfologi dan pola infeksi parasit Falcaustra kutcheri pada saluran pencernakan inang yang berasal dari Sulawesi Tengah.

BAHAN DAN CARA KERJA

Sampel nematoda dikumpulkan dari pembedahan sepuluh spesimen Kura-kura hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) yang mati, berasal dari tiga lokasi penampung di Sulawesi Tengah.

(8)

46

Purwaningsih & Riyanto

Ketiga lokasi tersebut adalah Bangkir (0o15’8.27" LU; 120o39’4.07" BT; 15 m

dpl) sebanyak 5 individu L. yuwonoi;

Lambonu (0o31’5.34" LU; 121o02’6.93"

BT, 75 m dpl) sebanyak 4 ekor dan Palu sebanyak 1 ekor tetapi tidak diketahui pasti asal lokasi tangkapnya. Data faktor lingkungan habitat kura-kura yang meliputi tinggi muka air (cm), kecepatan arus (m/det), DO (mg/l) dan pH diambil seiring penelitian populasi di Bangkir dan Lambonu. Pengumpulan sampel nema-toda dan data kondisi faktor lingkungan dilakukan pada tanggal 25 Mei 2004 – 1 Juni 2004.

Nematoda diambil dari organ dalam mulai dari lambung, usus halus, rektum, hati, dan emepedu. Parasit yang ditemukan difiksasi dengan alcohol hangat 70 % dan diawetkan di dalamnya. Pemeriksaan morfologi dilakukan dengan menggunakan mikroskop, sebelumnya parasit telah direndam dalam larutan alcohol 70 %-gliserin, dibuat sediaan dengan media gliserin (Kennedy 1978). Spesimen yang diamati dengan Mikroskop Elektron dipreparasi mengikuti metode Bozzola (1999) yaitu difiksasi dengan glutaraldehyd-kaksodilat dan osmium tetraoksida, dikeringkan dengan pengering beku selama 1 jam, dilapisi dengan Au dengan ketebalan sekitar 400 A°. Gambar yang disajikan dibuat dengan Mikroskop yang dilengkapi Tabung Penggambar dan dengan Alat Perekam pada Mikroskop Elektron Type JSM-5310LV yang ada di Bidang-Zoologi, Puslit Biologi-LIPI, Cibinong. Ukuran yang tertera dalam tulisan ini dalam satuan micrometer kecuali tertulis tanda lain.

Perbedaan pola infeksi cacing F

kutcheri pada saluran pencernaan

kura-kura pencernaan L. yuwonoi diuji secara

non parametrik dengan uji statistik Chi Square. Adapun perbedaan pola infeksi antar lokasi asal kura-kura dan perbe-daan faktor lingkungan seperti tinggi permukaan air, kecepatan arus, DO dan pH dari 2 lokasi habitat kura-kura L.

yuwonoi dengan uji non parametrik

Mann-Whitney. Pada uji ini lokasi Palu tidak diikutsertakan karena spesimen diperoleh dari penampung di kota Palu tanpa diketahui asal lokasi tangkap.

HASIL

Morfologi

Nematoda yang ditemukam adalah

F. kutcheri, secara rinci ukuran pada

penelitian ini dan berdasarkan Bursey

et.al (2000) dapat dilihat pada Tabel 1.

Beberapa tingkat pertumbuhan larva dan dewasa yang ditemukan, dipertelakan di bawah ini.

Larva tingkat 1 : Selain lebih pendek

6094 (6034-6188) daripada dewasa 14720 (8.390-14.720)), larva memiliki beberapa perbedaan dengan dewasa. Pada ujung anterior belum nampak adanya pelebaran, secara keseluruhan alat mulut belum berkembang antara lain lubang mulut sangat kecil, papila pada bibir belum tampak panjang, akan tetapi amphid sudah terlihat jelas pada Gambar 1 (7) dan Gambar 2 (11). Esophagus berupa saluran silindris yang ujungnya berupa bulbus berbentuk elip dengan ukuran lebar 62 tinggi 95, percabangan

(9)

47 Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri

intestine belum terlihat pada Gambar 1 (2, 6).

Larva tingkat 2: Panjang badan

bertambah menjadi 7410 (7740-7080), alat mulut sudah semakin berkembang dengan terlihatnya stoma yang lebih besar seperti pada Gambar 2 (12), papila bibir mulai jelas, dan nampak lebih panjang yang terlihat pada Gambar 1(8). Esopha-gus sudah terbentuk seperti pada cacing dewasa yaitu berujung bulbus bulat kecil yang diikuti dengan bulbus bulat besar seperti pada Gambar 1(3). Percabangan pada intestine sudah mulai tumbuh dengan ditandai semacam pembengkaan pada calon tempat percabangan (Gambar 1(3))

Larva tingkat 3 : Badan bertambah

panjang 8100 (7500-8700). Bentuk ujung anterior masih sama dengan larva sebelumnya, yaitu belum ada pelebaran pada ujung anterior (Gambar 1 (9)), bentuk mulut semakin mirip mulut cacing dewasa, stoma nampak membesar, papilla semakin panjang seperti terlihat pada Gambar 1(9) dan Gambar 2 (13). Esophagus berkembang seperti cacing dewasa, yang paling menonjol adalah pertumbuhan percabangan intestine mulai jelas, terdapat penonjolan pada bagian dimana cabang nantinya terbentuk, sehingga intestin dibawahnya nampak mengecil (Gambar. 1(4))

Dewasa :Panjang total cacing jantan

10678 (10.360-13.140), betina 14720 (8.390-14.720). Kutikula beranulasi, ujung anterior melebar (Gambar 1(1) dan (10)), stoma berbentuk segi tiga, bibir 3, masing-masing dengan 2 papila yang

panjang, amphid pada bibir sub median, dinding rongga mulut berkutikula tebal, menonjol kearah anterior di depan bibir membentuk lekukan (Gambar 2 (14)) lingkar syaraf anterior, lubang ekskretori dekat bulbus esophagus, esophagus berbentuk tubuler, yang berakhir dengan 2 bulbus yang berukuran kecil (Gambar.1 (5), di bagian atas dan besar di bagian bawah, dilengkapi dengan katup pada bagian bulbus dari esophagus. Cacing dewasa memiliki percabangan lateral di 1/5 anterior intestine pada dewasa jantan dan betina (Gambar 1(5) Ekor mengecil ke arah posterior dan berujung runcing baik pada jantan maupun betina.

Pola Infeksi

Distribusi F. kutcheri pada inang L. yuwonoi dan kondisi faktor lingkungan

habitat dapat dilihat pada Tabel 2. Jumlah inang yang mengandung nematoda adalah 6 dari 10 inang yang diperiksa. Jumlah individu F. kutcheri yang

ditemukan pada saluran pencernakan inang cukup bervariasi yaitu dari 28 hingga 2112 (Tabel 2). Cacing paling sering ditemukan pada rektum dan usus halus masing-masing sebanyak 66,6 %, cacing ditemukan pada kedua habitat ini secara bersamaan pada setiap individu inang yang terinfeksi. Di lambung hanya ditemukan pada 1 ekor inang dengan jumlah 28 individu cacing.

PEMBAHASAN

Morfologi

Ciri morfologi F. kutcheri yang

ditemukan sama dengan jenis yang dideskripsi oleh Bursey et.al 2000.

(10)

48

Purwaningsih & Riyanto

T abel 1. Ukuran rata-rata F . kutcheri berdasarkan Bursey et.al.

, 2000 dan penelitian sekarang.

La rv a tk 1 ja nt an be tina ja nta n be tina 106 78 147 20 6094( 60 34-8100 (10.36 0-(8 .390-14.72 0) (6034-61 88) (7500 -8700) L eba r m ak sim um -570( 450-66 0) 558( 370-65 0) 270( 280-290) 355( 345-365) 393( 380-465) Fa ri ng 128 12 8 178( 170-18 5) 195( 190-20 0) 108( 105-110) 118( 110-125) 135( 130-145) 500 38 3 383( 350-42 0) 403( 370-42 0) 235( 210-260) 255( 250-260) 325( 320-330) P or us e ks kr etor i 1326 122 4 1328( 117 0-1382( 129 0-810( 800-820) 865( 800-930) 1020( 950 -1090) Es opha gu s 142 8 1830( 175 0-1982( 131 0-1170( 11 30-1235( 1220-1465( 1360 -1570) B ulbus (p x l) P anja ng e kor 919 148 0 1155( 92 0-1521( 123 1-818( 775-860) 855( 820-890) 988( 940 -1036) -500 0 -6051( 440 -Te lu r 196( 192-20 0) x 197( 171-223) 195( 180 -210) x 210( 200-220) U jung p os te rior -vu lv a 122 x 64 -113( 110-114 ) x 71( 70-72 ) -P anja ng B ada n 13000 185 00 7410( 7740- 7080) Uju ng a nterio r- li ngkar s yaraf 281 x 242 280 x 268 255( 250-260) x 270( 260-28 0) 275( 250-280 ) x 295 ( 280-31 0) 150( 130-153 ) x 163( 170-172) K a rak ter m o rf om etri k Uk u ra n ra ta -ra ta p ada st adi u m (m icro m eter) Dew asa (Bu rsey et .a l . 2000 ) De wa sa (P en elitia n ini) L arv a tk 2 L ar va tk 3

(11)

49 Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri

Perbedaan kecil terdapat pada ukuran beberapa bagian badan (Tabel 2). Panjang cacing ini sedikit lebih kecil sedangkan ekor, esophagus dan spikula sedikit lebih panjang dari deskripsi asli F.

kutcheri. Perbedaan pada ukuran pada

kedua F. kutcheri ini, diduga merupakan

variasi morfologi karena perbedaan lokasi ditemukannya cacing ini. Perbe-daan morfologi yang lain adalah adanya 2 cabang intestin pada sekitar 1/5 anterior dari keseluruhan panjang intestin. Pada deskripsi asli cabang ini tidak disebutkan, apakah memang tidak ada atau terlewat dari pengamatan.Mengingat bahwa jenis

inang dan lokasi yang sama dari F.

kutcheri ini, maka kemungkinan bentuk

tersebut ada. Nematoda yang ditemukan terdiri dari dewasa dan berbagai stadium larva, dari pengamatan beberapa stadium larva dapat diperkirakan tahapan pertumbuhan cacing dihubungkan dengan pertumbuhan dari cabang lateral dari intestin. Percabangan pada intestin yang umum pada nematoda terdapat pada bagian pangkal, yang sering disebut sebagai divertikula. Cabang ini biasanya hanya 1, mengarah ke anterior atau posterior. Dua cabang intestin pada F.

kutcheri yang diteliti ini, merupakan

bentuk yang tidak lazim, karena letaknya Gambar 1. Bagian-bagian dari cacing Falcaustra kutcheri

Keterangan:

1. Bagian anterior cacing jantan, tampak lateral (400 μ), 2 Larva tingkat 1, esophagus-intestin, tampak lateral (100 μ), 3 Larva tingkat 2, esophagus- intestin, tampak lateral (100 μ), 4 Larva tingkat 3, esophagus-intestin, tampak lateral (100 μ), 5 Dewasa, esophagus-intestin, tampak lateral (100 μ), 6 Larva tingkat 1, anterior, tampak lateral (100 μ), 7 Mulut larva tingkat 1, lateral (25 μ), 8 Mulut larva tingkat 2, lateral (25 μ), 9 Mulut larva tingkat 3, lateral (25 μ), 10 Mulut dewasa, lateral (25 μ)

(12)

50

Purwaningsih & Riyanto

jauh dari cabang intestin yang biasa ditemukan pada nematoda.

Bagian mulut yaitu stoma dan papila

F. kutcheri yang diteliti ini, ukuran

menjadi semakin besar seiring dengan pertumbuhan, pada larva yang berbeda dengan dewasa adalah pada ukuran stoma beserta alat mulutnya. Bulbus esophagus berbentuk oval dan tidak memiliki prebulbus seperti pada stadium yang lebih lanjut. Belum adanya bentuk prebulbus pada tingkat larva ini sama seperti laporan dari Moravec et.al. (1995,

dan menurutnya larva ini adalah larva stadium 3. yang ditemukan pada cacing larva tingkat 2, larva tingkat 3, kemung-kinan merupakan larva stadium 4 dan pra-dewasa. F kutcheri, memiliki ciri

tahapan larva yang lebih khas, dengan adanya cabang lateral intestine yang pertumbuhannya selaras dengan pertum-buhan larva, sehingga dapat digunakan

Gambar 2. Bagian dari mulut Falcaustra kutcheri yang dilihat menggunakan mikroskop

elektron

Keterangan:

(11) Mulut larva tingkat 1, photo dengan mikroskop elektron, (12) Mulut larva tingkat 2 (13) Mulut larva tingkat 2 (14) Mulut dewasa, (photo dengan mikroskop elektron) (16 μ)

sebagai ciri untuk mengetahui tingkat pertumbuhan larva.

Pola infeksi

F. kutcheri, nampaknya paling

sesuai di habitat usus halus dan rektum, hal ini ditandai dengan ditemukannya cacing dewasa dalam jumlah banyak rata-rata 424,7+642,83 pada rektum dan 95,5+94,03 pada usus, serta persentase jumlah organ yang terinfeksi yaitu masing-masing 66,6% pada organ rektum dan usus halus (Tabel2). Holmes (1976) mengemukakan bahwa pada habitat yang paling sesuai akan ditemukan prevalensi yang lebih tinggi dan jumlah individu parasit yang lebih banyak. Pada lambung hanya diperoleh cacing dari 1 ekor inang dengan jumlah yang sedikit (28). Cacing ditemukan baik pada rektum dan usus halus secara bersamaan pada setiap individu inang yang

(13)

51 Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri

terinfeksi. Keadaan tersebut menanda-kan bahwa F. kutcheri merupamenanda-kan cacing saluran pencernaan yang tidak spesifik pada satu habitat saja, tetapi dapat hidup di beberapa bagian usus. Namun demikian ada kemungkinan bahwa ditemukannya cacing di lambung hanya kebetulan saja, karena prevalensi-nya rendah dan jumlah cacing sedikit. Temuan ini diperkuat oleh hasil uji Chi square yang menujukkan bahwa prevalensi cacing pada rektum, usus halus dan lambung berbeda sangat nyata (X2= 5639,876; df= 2; p=0,000).

Fenomena infeksi cacing F. kutcheri pada kura-kura L. yuwonoi ini menun-jukkan fenomena yang berbeda dengan infeksi nematoda pada tikus yang dilaporkan oleh Purwaningsih & Dewi (2007) yang lebih banyak ditemukan di lambung daripada di organ lain.

Hasil uji Mann-Whitney menunjuk-kan tidak ada perbedaan faktor lingkungan antara lokasi Bangkir dan Lambonu (Kecepatan arus, Bangkir 0,23 vs Lambonu 0,23 [p=0,661]; DO, Bangkir 3,18 vs Lambonu 3,51 [p= 1,000]; pH, Bangkir 7 vs 5,36 [p=1,000]; TMA, Bangkir 26,88 vs 20,00 [p=0,661]). Adapaun hasil uji Mann-Whitney antara lokasi Bangkir dan Lambonu menunjuk-kan hal serupa yaitu tidak ada perbedaan pola infeksi di kedua lokasi (p=0,609). Hasil ini mengindikasikan bahwa pola infeksi cacing pada saluran pencernaan L. yuwonoi tidak dipengaruhi oleh asal lokasi tangkap maupun keempat faktor lingkungannya.

KESIMPULAN

Morfologi larva F. kutcheri terutama pertumbuhan percabangan

Tabel 2. Pola infeksi dan Kondisi habitat F.kutcheri pada Leucocephalon yuwonoi (n=10).

No. Asal inang

Jumlah cacing per habitat

inang TMA (cm) KA (m/det) DO (mg/l) pH Lambung Usus halus Rektum 1 Bangkir - - - 26,88+17,96 (7,5-50) 0,23+0,15 (0,1-0,4) 3,18+2,27 (0-5,25) 7+0,8 (6-7,1) 2 Bangkir - - 3 Bangkir - 231 680 4 Bangkir 28 73 2112 5 Bangkir - 175 511 6 Lambonu - 105 453 20+13,54 (0-30) 0,23+0,17 (0,0-0,4) 3,5+2,36 (0-4,9) 5,36+3,59 (0-7,5) 7 Lambonu 214 165 8 Lambonu - - - 9 Lambonu - - - 10 Tidak diketahui (Penampung di Palu) - 157 326 Tidak diketahui Tidak diketahui Tidak diketahui Tidak diketahui Prevalensi per habitat (%) 0,1 66,6 66,6

Total kepadatan per

habitat 28 955 4247

Rerata 28 159,2 707,8

Keterangan: TMA= tingi permukaan air, KA= kecepatan arus, DO=Kandungan oksigen terlarut, pH= Kadar keasaman air

(14)

52

Purwaningsih & Riyanto

lateral intestine, dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan tingkat pertumbuhan larva. Cacing jenis ini paling banyak ditemukan di rektum dan usus halus, dengan jumlah paling banyak ada di rektum.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapkan terima-kasih kepada bapak Achmad Saim dan Mulyadi (Teknisi Herpetologi MZB) yang telah membantu dalam melakukan koleksi sampel nematoda. Penelitian ini dibiayai oleh DIPA LIPI dalam program Kompetitif subprogram IX pada tahun 2004.

DAFTAR PUSTAKA

Baylis, HA.1929. The Fauna of British India including Ceylon and

Burma. Nematode I. Taylor and

Francis, London.

Bozzola,JJ. & LD.Russel 1992. Elektron Microscopy. Principle and

Techniques For Biologist. Jones

and Bartllet , Boston.

Bursey, CR., SG. Platt & TR. Raiwater. 2000. Falcaustra kutcheri n.sp.

(Nematoda: Kathlaniidae) from

Geoemyda yuwonoi (Testudines:

Emydidae) from Sulawesi,

Indone-a. J. Parasitol 86(2): 344-349.

Chabaud, AG.1978. Keys to genera of the Superfamilies Cosmocer-coidea, Seuratoidea, Heterakoi-dea, and Subuluroidea dalam CIH Keys to the Nematode Parasites of Vertebrates No 6. CAB-London Chitwood, B.G. and M.B. Chitwood. 1977.

Introduc-tion to Nematology. University

Park Press- London.

Holmes, JC. 1976. Host selection and its consequences in. Ecological aspect of Parasitology. Editor.

C.R. Kennedy. North Holland

Publishing Company-Amsterdam. Kennedy, MJ. 1979. Basic Methods

for spesimens preparation in Parasitology. IDRC Manuscript

Report. New-York 44 pp.

Moravec, F., C. Vivas-Rodriguez, T. Scholz, J. Vargas-Vazgues, E. Mendosa-Franco, J. Schitter-Soto, &. Gonzales-Solis. 1995. Nemato-des parasitic in fishes of cenotes (=sinkholes) of the Peninsula of Yucatan, Mexico Part-2. Larvae.

Fol. Parasit. 42: 199-210.

Purwaningsih, E. & K. Dewi. 2007. Nematoda pada tikus suku Muridae dan pola infeksinya di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Berita Biologi 8(6):

509-514

Whitten, AJ., M. Mustafa & GS. Henderson.1987. The Ecology of Sulawesi. Gadjah Mada

Univer-sity Press. Yogyakarta, Indonesia:

Yamaguti, S. 1961. Systema Helminthum III. Nematodes Parasites of

Vertebrates. Interscience

Publi-sher- London.

Yorke, W & PA. Maplestone, 1926. The Nematode Parasite of Vertebra-tes. P.Blakiston’s Son and Co,

Philadelphia.

Memasukkan: Agustus 2010 Diterima: Januari 2011

(15)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

PANDUAN PENULIS

Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah disusun dengan urutan: JUDUL (bahasa Indonesia dan Inggris), NAMA PENULIS (yang disertai dengan alamat Lembaga/ Instansi), ABSTRAK (bahasa Inggris, maksimal 250 kata), KATA KUNCI (maksimal 6 kata), PENDAHULUAN, BAHAN DAN CARA KERJA, HASIL, PEMBAHASAN, UCAPAN TERIMA KASIH (jika diperlukan) dan DAFTAR PUSTAKA.

Naskah diketik dengan spasi ganda pada kertas HVS A4 maksimum 15 halaman termasuk gambar, foto, dan tabel disertai CD. Batas dari tepi kiri 3 cm, kanan, atas, dan bawah masing-masing 2,5 cm dengan program pengolah kata Microsoft Word dan tipe huruf Times New Roman

berukuran 12 point. Setiap halaman diberi nomor halaman secara berurutan. Gambar dalam bentuk grafik/diagram harus asli (bukan fotokopi) dan foto (dicetak di kertas licin atau di scan). Gambar dan Tabel di tulis dan ditempatkan di halam terpisah di akhir naskah. Penulisan simbol α,

β, χ, dan lain-lain dimasukkan melalui fasilitas insert, tanpa mengubah jenis huruf. Kata dalam bahasa asing dicetak miring. Naskah dikirimkan ke alamat Redaksi sebanyak 3 eksemplar (2 eksemplar tanpa nama dan lembaga penulis).

Penggunaan nama suatu tumbuhan atau hewan dalam bahasa Indonesia/Daerah harus diikuti nama ilmiahnya (cetak miring) beserta Authornya pada pengungkapan pertama kali.

Daftar pustaka ditulis secara abjad menggunakan sistem nama-tahun. Contoh penulisan pustaka acuan sebagai berikut :

Jurnal :

Hara, T., JR. Zhang, & S. Ueda. 1983. Identification of plasmids linked with polyglutamate production in B. subtilis. J. Gen. Apll. Microbiol. 29: 345-354.

Buku :

Chaplin, MF. & C. Bucke. 1990. Enzyme Technology. Cambridge University Press. Cambridge. Bab dalam Buku :

Gerhart, P. & SW. Drew. 1994. Liquid culture. Dalam : Gerhart, P., R.G.E. Murray, W.A. Wood, & N.R. Krieg (eds.). Methods for General and Molecular Bacteriology. ASM., Washington. 248-277.

Abstrak :

Suryajaya, D. 1982. Perkembangan tanaman polong-polongan utama di Indonesia. Abstrak Pertemuan Ilmiah Mikrobiologi. Jakarta . 15 –18 Oktober 1982. 42.

Prosiding :

Mubarik, NR., A. Suwanto, & MT. Suhartono. 2000. Isolasi dan karakterisasi protease ekstrasellular dari bakteri isolat termofilik ekstrim. Prosiding Seminar nasional Industri Enzim dan Bioteknologi II. Jakarta, 15-16 Februari 2000. 151-158.

Skripsi, Tesis, Disertasi :

Kemala, S. 1987. Pola Pertanian, Industri Perdagangan Kelapa dan Kelapa Sawit di Indonesia.[Disertasi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Informasi dari Internet :

Schulze, H. 1999. Detection and Identification of Lories and Pottos in The Wild; Information for surveys/Estimated of population density. http//www.species.net/primates/loris/ lorCp.1.html.

(16)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Eritrosit dan Hemoglobin pada Kelelawar Gua di Kawasan Karst Gombong, Kebumen,Jawa Tengah

Fahma Wijayanti, Dedy Duryadi Solihin, Hadi Sukadi Alikodra, & Ibnu Maryanto

89

Kajian Hubungan Antara Fitoplankton dengan Kecepatan Arus Air Akibat Operasi Waduk Jatiluhur

Eko Harsono

99

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal Ekor Panjang Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae)

Mumpuni

121

Serapan Karbondioksida (CO2) Jenis-Jenis Pohon di Taman Buah "Mekar Sari" Bogor, Kaitannya dengan Potensi Mitigasi Gas Rumah Kaca

N. Hidayati, M. Reza, T. Juhaeti & M. Mansur

133

Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Kerang Darah (Anadara antiquata) di Perairan Pulau Auki, Kepulauan Padaido, Biak, Papua

Andriani Widyastuti

147

Giving Formulated Pellet on Javan Porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823): Effects on Feed Intake, Feed Conversion, and Digestibility in Pre-Domestication Condition

Wartika Rosa Farida & Roni Ridwan

157

Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah

Maharadatunkamsi

171

TULISAN PENDEK

Kondisi Parameter Biologi Plankton dan Ikan di Perairan Danau Sentani

Auldry F. Walukow

Gambar

Tabel 1. Ukuran rata-rata F. kutcheri berdasarkan Bursey et.al., 2000 dan penelitian  sekarang
Gambar 2.  Bagian dari mulut Falcaustra kutcheri yang dilihat menggunakan mikroskop elektron

Referensi

Dokumen terkait

Rencana anggaran biaya operasional kegiatan Seminar Nasional Kelayakan Usaha Pertanian diperoleh dari kontribusi peserta seminar, kontribusi Laboratorium Sosial Ekonomi,

Pada Tugas Akhir ini dilakukan pengukuran, pengujian serta menganalisa perubahan tilting antena BTS terhadap penerimaan sinyal mobile station yang berada pada jarak yang

Akibat dari penggunaan SIMRS yang tidak berjalan sepenuhnya di semua unit ruangan di RSUD Praya, maka data dan informasi dari SIMRS RSUD Praya juga belum

Pengaruh peradaban Majapahit yang ditemukan di Bima dan Dompu berupa tinggalan material dan non material. Dalam bentuk material, tinggalannya berupa 1) Artefak yang dipahat

Hasil tersebut masih dapat dikatakan baik dan sesuai dengan pendapat Aminasari (2009) yang menyatakan bahwa motilitas semen yang telah didinginkan pada suhu 5°C tidak

Hal tersebut disebabkan karena pada kenyataanya, karbon yang diserap oleh lamun selain bentuk karbondioksida juga dalam bentuk bikarbonat tergantung dari nilai keasaman

Penelitian ini akan mengkaji diplomasi dan negosiasi Komisi Eropa untuk memperjuangkan CAP dalam perundingan perdagangan pertanian di tingkat WTO dan akan menggunakanThree Level

(e) Pembahasan dan konsolidasi rancangan rencana kegiatan sebagai bahan konsultasi dengan DPRD komisi terkait. 2) Diskusi dengan DPRD untuk mengkomunikasikan Rancangan