Nasib Buruh Dalam Memperjuangkan Haknya di Zaman
Orde Baru
( kasus Marsinah )
Disusun Oleh :
AKHMAD FAHRUR ROZI
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang
JL. Terusan Raya Dieng 62-64 Malang
ABSTRACT :
Hak Asasi Manusia atau HAM ( Human Rights ) adalah hak yang melekat pada diri manusia sejak manusia lahir yang tidak dapat diganggu gugat dan bersifat tetap.Pada zaman orde baru Marsinah meminta kenaikkan gaji untuk kesejahteraan karyawan dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. UU No.26 Tahun 2000 dalam pasal 8 dan pasal 9. Kasus Marsinah yang merupakan dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat, karena merupakan kasus penghilangan seseorang secarab paksa. Penindasan kepada Marsinah adalah bentuk ketakutan negara terhadap sosok-sosok yang berani berjuang dan mengobarkan semangat kebebasan, kesejahteraan dan kesetaraan. Negara menciptakan teror ketakutan kepada siapa saja dalam hal ini rakyat yang ingin melakukan aksi perlawanan
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Hak Asasi Manusia atau HAM ( Human Rights ) adalah hak yang melekat pada diri manusia sejak manusia lahir yang tidak dapat diganggu gugat dan bersifat tetap. Kita sebagai warga negara yang baik tentunya haruslah saling menghormati satu sama lain dengan tidak membedakan-bedakan ras, agama, golongan, jabatan ataupun status sosial. Hal inilah yang kemudian bisa memunculkan pelanggaran HAM seorang individu terhadap individu lain, kelompok terhadap individu, ataupun sebaliknya. Kita tidak bisa lupa dengan sosok aktifis perempuan HAM buruh yakni ‘’ Marsinah ‘’ Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp1700 menjadi Rp2250.yang terjadi pada tanggal 05 mei 1993.
Kasus Marsinah menjadi salah satu bentuk pelanggaran HAM berat yang terjadi selama pemerintahan Orde Baru disini Marsinah tidak pernah diketahui secara pasti oleh siapa ia dianiaya dan dibunuh, kapan dan di mana ia mati pun tak dapat diketahui dengan jelas. Kasus yang menimpa “ Marsinah “ ini kemudian kembali terjadi di tahun 1997 yang menimpa seorang wartawan Harian Bernas bernama Fuad M. Syarifuddin alias Udin. Pada tahun 1993 Yayasan Pusat Hak Asasi Manusia menganugerahinya ‘’ Yap Tiam Hiem Award ‘’.
memberikan informasi mengenai apa itu pelanggaran HAM diikuti seluk beluk kasus Marsinah
II. Pembahasan
Terkait Propinsi Jawa Timur Mengusulkan Kenaikan Upah Minimum. Di Indonesia kegiatan ekonomi dijalankan berdasarkan hubungan produksi kapitalis. Sistem kapitalis pada hubungan industri yaitu, buruh menjual tenaga kerja yang dimiliki kepada pemilik modal. Negara sebagai institusi kekuasaan, negara bertugas dan bekerja untuk menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk akumulasi modal dalam perindustrian. Akumulasi modal bisa didapatkan dari modal asing maupun modal domestik, akibat dari kondisi ini adalah tenaga kerja yang diberikan oleh buruh dihargai murah. tenaga kerja di Indonesia dihargai dengan harga yang relatif murah dibandingkan dengan tenaga kerja di luar negeri dikarenakan sumber daya manusia yang dimiliki orang Indonesia terbatas. Keterbatasan sumber daya manusia orang Indonesia dalam sektor pendidikan yang kurang karena tidak mempunyai biaya. Sehingga orang Indonesia setelah mendpatkan pendidikan yang dinilai cukup, seperti lulusan SD maupun SMP langsung melamar pekerjaan sebagai buruh pabrik. Buruh pabrik yang tidak memiliki keterampilan serta pengetahuan yang tinggi akibatnya mendapatkan upah yang rendah.
Dalam politik perburuhan terdapat aturan hubungan antara buruh, modal dan negara. Suatu negara membutuhkan modal yang besar untuk membangun perindustrian yang maju, setelah membangun perindustrian dibutuhkan buruh sebagai tenaga kerja untuk menjalankan industri. Pembangunan dalam sektor industri membutuhkan biaya yang besar. Biaya untuk pembangunan suatu indurti pabrik membutuhkan bantuan dana baik dari dalam negeri maupun luar negeri.Sehingga kerja sama antara luar negeri juga diperlukan untuk penanaman modal bagi suatu pembanguna pabrik. Setelah perindustrian terbangun dan beroperasi maka pabrik membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan produk yang akan dihasilkan oleh suatu pabrik tersebut. Negara berhubungan dengan lembaga-lembaga militer, polisi, Depnaker (Departemen Tenaga Kerja), Pemda (yang tergabung dalam Muspida dan Muspida) untuk menjalankan pengoperasian industri. DPD Tingkat 1 mengusulkan agar dikeluarkan Surat Keputusan untuk kenaikan upah minimum.
mengalami kenaikan. Beban kerja yang ditanggung oleh buruh tidak sebanding dengan upah yang diterima. Apabila buruh menerima upah yang lebih rendah maka buruh tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu pemerintah DPD memeperhatikan nasib buruh. Tidak semua buruh menerima upah yang layak. Buruh yang tidak menerima upah sebagaimana mestinya mengadukan nasibnya ke DPR dengan tujuan mendapatkan upah yang sebanding. Jika upah yang diterima masih tidak sesuai dengan apa yang dilakukan buruh, buruh akan melakukan aksi unjuk rasa. Upah minimum yang diterima buruh tidak mencukupi, sehingga pemerintah menaikan upah minimum buruh pabrik sebesar 20 persen.
Kenaikan sebesar 20 persen yang terdapat pada Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Gubernur Jatim menjadi bom waktu kasus pemogokan. Kasus pemogokan terjadi di berbagai daerah dan beberapa pabrik seperti yang terjadi di PT. CPS. Para buruh menerima upah yang sedikit dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Parah buruh memperjuangkan hak-haknya dengan cara melakukan demonstrasi dan mogok kerja. Demonstrasi atau unjuk rasa buruh pabrik merupakan suatu tindakan protes kekecewaan kaum buruh terhadap perlakukan pemilik modal yang sewenang-wenang terhadap upah. Surat Edaran yang diukeluarkan oleh Gubernur Jawa Timur bertujuan untuk membantu perbaikan nasib para pekerja. Namun, Surat Edaran menjadi pemicu gejolak pemogokan buruh pabrik. Pemogokan buruh semakin meningkat akibat dikeluarkan Surat Edaran. Meningkatnya pemogokan adalah karena sikap para pengusaha yang kurang memperhatikan para pekerjanya. Oleh karena itu, para pengusaha diharapkan segera mempunyai inisiatif untuk menaikkan upah pekerja. Sikap pengusaha atau pemilik modal hanya mementingkan diri sendiri dan perusahaannya saja.
yang diterima menjadi Rp 2.250. Dengan kenaikan upah yang diterima maka buruh bisa memenuhi kebutuhannya. Upah juga merupakan hak yang diterima oleh buruh setelah melakukan kewajibannya, yaitu bekerja
Hasil Perjuangan Marsinah
Dalam perundingan yang diawasi oleh aparat negara tersebut, dihasilkan 11 kesepakatan yang menyatakan bahwa:
1. Upah minimum tetap diberlakukan dengan Keputusan Menteri No. 50/Men/1992, dan kekurangan tunjangan tetap yakni uang makan dan uang transport sebesar Rp 550 yang sampai saat ini belum diberikan pada saat hari libur resmi nasional dan cuti tahunan, akan diberikan sesuai dengan masa kerja dan ketentuan yang berlaku mulai pada 1 Maret 1992, dan pelaksanaannya dimuali pada 15 Mei 1993. 2. Penghitungan upah lembur sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Kep. Men. No 72/Men/1984). 3. Pembayaran upah bagi karyawan wanita yang mengambil cuti haid diberikan sesuai dengan besar upah yang diterima. 4. Keikutsertaan dalam program ASTEK ke JAMSOSTEK akan menunggu petunjuk dan pelaksanaan lebih lanjut. 5. Jumlah THR sampai saat ini belum diatur dalam Peraturan Pemerintah akan tetapi besarnya THR diberikan sesuai dengan kemampuan perusahaan yang telah diatur dalam Kesepakatan Kerja Bersama yang ada di perusahaan. 6. Uang makan dan uang transport sudah masuk dalam satu kesatuan upah sebagai tunjangan tetap. 7. Keberadaan PUK SPSI yang ada di perusahaan tetap diakui keberadaannya, dan akan difungsikan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang ada. Pelaksanaan reformasi kepengurusan menunggu sampai masa baktinya habis. 8. Uang cuti hamil akan diberikan sesuai dengan aturan yang ada (secara tepat waktu).
9. Karyawan yang telah lepas dari masa percobaan, disamakan hak-haknya dengan karyawan yang lain. Tetapi penentuan besar kecilnya upah dan tunjangan lainnya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 10. Sehubungan dengan unjuk rasa ini (pemogakn kerja), pengusaha dimohon untuk tidak mencari-cari kesalahan karyawan. 11. Pihak karyawan berjanji tidak akan melakukan aksi pemogokan lagi untuk masa yang akan datang, dan segala permasalahn perselisihan Hubungan Industrial Pancasila akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan berpijak pada asas musyawarah untuk mencapai mufakat dan selanjutnya karyawan sanggup kerja kembali.
Sadjono kepada buruh- buruh PT. CPS yang ada di luar perundingan, dan salinannya dibagikan di ruang perundingan kepada para wakil buruh.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia terakait kasus Marsinah mengenai Pelanggaran Hak Asasi Manuisa tercantum dalam UU No. 39 Tahun 1999 Pasal 1 Angka 6 yang dimaksud dengan Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian Pelanggaran HAM merupakan sebuah bentuk tindakan pelanggaran hak-hak yang dimiliki setiap individu maupun kelompok ataupun institusi terhadap hak asasi yang dimilikinya tanpa ada dasar atau alasan yang rasional.
Jenis – jenis Pelanggaran HAM berat dan Pelanggaran HAM biasa terdapat kasus pelanggaran HAM yang bersifat HAM berat tercantum dalam UU No. 26 Tahun 2000 dalam pasal 8 dan pasal 9,yakni meliputi :
1. Pembunuhan massal (genosida) ; Genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, etnis, dan agama dengan cara : a) membunuh anggota kelompok, b) mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota-anggota, c) kelompok, d) menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan, e) secara fisik baik seluruh atau sebagiannya, f) memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok atau, g) memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain
pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan,pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasaan seksual lain yang setara; h) penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, efnls, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah di,akui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional; i) penghilangan orang secara paksa; atau j) kejahatan apartheid.
Kasus tersebut berawal dari unjuk rasa buruh yang dipicu surat edaran gubernur setempat mengenai penaikan UMR. Namun PT. CPS, perusahaan tempat Marsinah bekerja memilih bergeming. Kondisi ini memicu geram para buruh. Senin 3 Mei 1993, sebagian besar karyawan PT. CPS berunjuk rasa dengan mogok kerja hingga esok hari. Ternyata menjelang selasa siang, manajemen perusahaan dan pekerja berdialog dan menyepakati perjanjian. Intinya mengenai pengabulan permintaan karyawan dengan membayar upah sesuai UMR. Sampai di sini sepertinya permasalahan antara perusahaan dan pekerja telah beres.
Namun esoknya 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo untuk diminta mengundurkan diri dari CPS. Marsinah marah dan tidak terima, ia berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut ke pengadilan. Beberapa hari kemudian, Marsinah dikabarkan tewas secara tidak wajar. Mayat Marsinah ditemukan di gubuk petani dekat hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Posisi mayat ditemukan tergeletak dalam posisi melintang dengan kondisi sekujur tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda keras, kedua pergelangannya lecet-lecet, tulang panggul hancur karena pukulan benda keras berkali-kali, pada sela-sela paha terdapat bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul dan pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah.
Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah “direkayasa”.
Kasus kematian Marsinah menjadi misteri selama bertahun-tahun hingga akhirnya kasusnya kadaluarsa tepat tahun ini. Mereka yang tertuduh dan dijadikan kambing hitam dalam kasus ini pun akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Agung. Di zaman Orde Baru, atas nama stabilitas keamanan dan politik, Negara telah berubah wujud menjadi sosok yang menyeramkan, siap menculik, mengintimidasi dan bahkan menghilangkan secara paksa siapa saja yang berani berteriak atas nama kebebasan menyuarakan aspirasi.
Dari uraian analisa yang sudah dipaparkan diatas, dalam kasus pejuang buruh perempuan dalam memperjuangkan hak ( Marsinah ) disini dapat tergambar dengan jelas bahwa adanya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh seseorang aparat negara yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku ( UU No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ). Dan tindakan dari aparat tersebut sangat bertentangan dengan Undang-Undang, kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh Negara wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakan, dan memajukan hak asasi manusia karena dalam kasus ini adanya unsur pembunuhan, penyiksaan, serta penghilangan orang secara paksa dan tindakan seperti ini tidak manusiawi dan tidak pantas dilakukan karena hak asasi manusia yang dimiliki setiap orang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun. Dalam mengusut kasus Marsinah dalam hal ini Pemerintah dan Aparat penegak hukum memberi hukuman yang seadil-adilnya sesuai tindakan yang dilakukannya baik dalam keadaan sengaja maupun tidak sengaja yang bertujuan untuk memberi efek jerah kepada pelaku pembunuhan Marsinah dan tidak ada korban lagi.
Marsinah tersebut diatas, tidak serta merta menghentikan tuntutan masyarakat luas bahkan internasional melalui ILO, yang senantiasa menutut pemerintah RI untuk tetap berupaya mengusut tuntas kasus Marsinah yang dalam catatan ILO kasus tersebut pada awalnya
III. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
http://www.omahmunir.com/pages-10-kasus-marsinah.htmlhttp://buser.liputan6.com/read/ 52757/marsinah-dan-misteri-kematiannya
http://fuad-myers.blogspot.com/2011/11/analisa-kasus-pelanggaran-ham-berat.html http://sarubanglahaping.blogspot.com/2013/10/analisis-kasus-pembunuhan-marsinah.html Http://www.Yudhe.Com/8-Kasus-Besar-Yang-Tetap-Menjadi-Misteri-Di-Indonesia/
http://ubpeacemaker.blogspot.com/2011/11/memahami-ham-marsinah-pahlawan-kaum.html http://abunavis.wordpress.com/2007/12/11/marsinah-dalam-representasi-media-analisis-semiotika-berita-kasus-marsinah-pada-majalah-tempo-1993-1994/
http://hukum.kompasiana.com/2014/05/01/refleksi-21-tahun-kasus-marsinah-650551.html http://www.tempo.co/read/news/2012/05/08/173402558/Kasus-Marsinah-Sulit-Diungkap-Lagi
http://www.scribd.com/doc/24532924/STUDI-KASUS-MARSINAH#scribd
http://www.arahjuang.com/2014/05/08/marsinah-dan-perjuangan-buruh-sepanjang-masa/ Undang-Undang No. 26 Tahun2000 tentang ‘’ Pengadilan Hak Asasi Manusia ‘’