• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (Sbsu) Dalam Memperjuangkan Hak-Hak Normatif Buruh Di PT Asia Karet Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (Sbsu) Dalam Memperjuangkan Hak-Hak Normatif Buruh Di PT Asia Karet Medan"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAR PERTANYAAN WAWANCARA:

1. Bagaimana kondisi objektif buruh khususnya yang tergabung dalam SBSU PT. Asia Karet Medan?

2. Sejauh mana tercapinya hak-hak normatif kaum buruh?

3. Kenapa buruh PT. Asia Karet Medan harus mendirikan serikat buruh dan bagaimana latar belakang lahirnya perjuangan buruh di SBSU?

4. Bagaimana keikutsertaan dan keterlibatan SBSU dalam pengambilan kebijakan baik di tingkat perusahaan maupun pemerintah?

5. Apakah SBSU bekerja sama dengan pihak-pihak terkait dalam memperjuangakan hak-hak normatif? (seperti LSM, LBH, dan organisasi lain)

6. Metode/strategi apa saja yang dilakukan SBSU dalam memperjuangakan hak-hak normatif kaum buruh?

7. Bagaimana konsistensi SBSU dalam memperjuangakan hak-hak normatif kaum buruh?

8. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh SBSU? 9. Bagaimana tingkat keberhasilan SBSU?

(2)

DAFTAR PUSTAKA

Bartono, 2005.Tirani Pasar Kerja, Resist Book, Yogyakarta

DS, Soegiri dan Cahyono Edi, 1998.Gerakan Serikat Buruh: Jaman Kolonial Belanda

Hingga Orde Baru, Hasta Mitra, Jakarta

Fakih, Mansour, 2002. Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik, Pustaka Pelajar,

Yogyakarta.

Gombert, Tobias, Sosial Demokrasi 1: Landasan Sosial Demokrasi, Fredrich Ebert,

Stiftung, Jakarta

Husni, Lalu, 2007. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia.Raja Grafindo Persada,

Jakarta

Lofland, 2003.Protes, Studi Tentang Gerakan Sosial, Insist Pres, Yogyakarta

Mirsel, Robert, 2006. Teori Pergerakan Sosial, Resist Book, Yogyakarta

Raho, Bernard, 2007. Teori Sosiologi Modern, Prestasi Pustakarya, Yogyakarta

Salim, Agus, 2002. Perubahan Sosial: Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus

Indonesia. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta

Semaoen, 2000.Penuntun Kaum Buruh. Jendela, Yogyakarta

(3)

Sumber Lain:

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Sebagai Payung Hukum Perburuhan

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Buruh

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang PPHI

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang JAMSOSTEK

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial

Catatan Mata Kuliah Pekerjaan Sosial Industri

Catatan Mata Kuliah Permasalahan Buruh

Website:

diakses pada tanggal 20 September 2014 Pukul 16.30 WIB)

16.30 WIB)

diakses pada tanggal 21 september 2014 pukul 10.00 WIB)

(4)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan obyek atau fenomena yang diteliti dengan wawancara mendalam (Siagian, 2011: 52).

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di PT Asia Karet Medan yang berada di Jl. Starban No. 62 (d/h 191-A) Medan, Sumatera Utara.Alasan penulis tertarik untuk melakukan penelitian di PT Asia Karet, karena hinggasaatinihanya SBSU yang merupakansatu-satunyaserikatburuh yang memperjuangkanhak-haknormatifburuhbersamasemuaburuh yang menjadianggota SBSU di PT. Asia Karet Medan yang menuntutkeadilandanmemperjuangkan hak-hak normatifnya.

3.3 Unit Analisis dan Informan

3.3.1 Unit Analisis

(5)

perusahaan yang nantinya mampu menggambarkan secara jelas tentang aktivitas dan model pengorganisasian untuk melihat fenomena gerakan sosial yang ada.

3.3.2 Informan

Mengingat jumlah unit analisis cukup banyak maka data diambil dari beberapa yang disajikan sebagai sumber innforman.Subjek yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian ini menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian, dalam penelitian ini informan ada dua jenis yaitu informan utama dan informan tambahan.

a. Informan utama yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan pada aktivitas organisasi yang diteliti. Yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah: Pimpinan organisasi beserta perangkat kepengurusan yang ada di Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU).

b. Informan tambahan yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam pengambilan kebijakan, tetapi aktif pada aktivitas organisasi yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan tambahan adalah representatif dari buruh di wilayah PT Asia Karet Medan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian akan digolongkan menjadi dua golongan, yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

(6)

a. Wawancara mendalam yang merupakan proses tanya jawab secara langsung ditujukan terhadap informan dilokasi penelitian dengan menggunakan panduan atau pedoman wawancara. Proses wawancara ini diawali dengan pengantar. Pada pengantar ini, secara terbuka dan jujur peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dari wawancara. Selanjutnya peneliti menyampaikan pertanyaan yang bersifat luas, dan diakhiri dengan pertanyaan terbuka.

b. Observasi yaitu mengumpulkan data tentang gejala tertentu yang dilakukan dengan mengamati, mendengar, mencatat kejadian yang berkaitan dengan penelitian di PT Asia Karet Medan.

2. Data sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, jurnal dan internet yang dianggap relevan terhadap masalah yang diteliti.

3.5 Teknik Analisa Data

(7)
(8)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah Berdirinya Organisasi

Berdirinya Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan juga didasari oleh lahirnya suatu Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) yang berkonsentrasi untuk Pabrik, Hotel, Restoran, Plaza, Apartemen, Retail, Katering, dan Pariwisata Indonesiadan Federasi ini berpusat di Jakarta. Federasi ini lahir atas beberapa sebabyang dilatarbelakangi oleh “Bahwa kebebasan untuk berpendapat, berkumpul, mendirikan dan menjalakan serikat merupakan hak asasi manusia baik secara individual maupun kolektif yang diakui secara universal.Konvensi International Labour Organitation (ILO) terutama nomor 87 dan 98 yang memberikan alas hak rugi bagi kaum pekerja unuk berseikat dan dijamin kebebasan berorganisasinya.Berpedoman pada gagasan tersebut, kami kaum pekerja hotel, restoran, plaza, apartemen, catering dan pariwisata bersepakat dengan bulat dan demokrasi untuk mendirikan Federasi Serikat Perkeja Mandiri.Melalui organisasi ini, kami bermaksud untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota khususnya dan kaum pekerja pada umumnya secara demokratis, terbuka dan setara, baik melalui perundingan dengan pihak perusahaan maupun dengan pemerintah untuk mengambil kebijaksanaan perburuhan nasionaldan regional. Organisasi ini berprinsip pada demokrasi, independensi, emansipasi, keterbukaan dan profesionalisme yang berbasis persaudaraan, kesetaraan dan solidaritas diantara kaum pekerja dalam sektor yang sama maupun sektoral.

(9)

1. Bergerak dan mengkoordinasikan bantuan saat terjadinya perselisihan perburuhan maupun konflik-konflik.

2. Menyelenggarakan pertemuan antar serikat anggota yang bertujuan untuk saling menukar pengalaman dan ide-ide baru, juga bersama-sama menyusun program kegiatan

3. Memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam pekerjaan serta meningkatkan partisipasi kaum buruh perempuan baik dalam kegiatan maupun kepengurusan organisasi.

4. Menyebarkan informasi yang menyangkut perkembangan dalam persoalan-persoalan seperti, cara menaikan posisi tawar buruh dalam perundingan, kesehatan dan keselamatan kerja, pekerjaan.

5. Melaksanakan program-program pendidikan bagi kaum buruh.

Tidak jauh berbeda dengan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan yang berdiri karena telah terjadinya perselisihan dan pelanggaran hak-hak normatif kaum buruh di PT. Asia Karet Medan, sebagaimana yang di maksud oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan lahir atas kesadaran dari kaum buruh yang sudah lama tertindas oleh sebuah sistem yang tidak berkeadilan tersebut.

(10)

berlaku. Pembentukan serikat ini atas inisiatif dari para buruh di PT, Asia Karet Medan yang berjulah 6 orang, sebagai berikut:

1. Aty Sidabutar 2. Rasidah Selian 3. Julianto Situmeang 4. Rismaida Sidabutar 5. Nurma Roida Pasaribu M 6. Purnama Saragih

Kemudian sesuai dengan kesepakatan dan keputusan bersama pada surat keputusan NO. 02/20/09/2009, menetapkan Rasidah Selian menjadi Ketua Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan yang pertama dan untuk masa bakti 2009-2014. Pembentukan serikat buruh juga dihadapi dengan kendala-kendala yang datang dari eksternal organisasi, pihak perusahaan melarang adanya serikat buruh didalam perusahaan tersebut, tak heran jika melihat adanya bentuk intimidasi sampai kepada mutasi besar-besaran, serta Pemutusan Hubungan Kerja secara sepihak (PHK) dan ancaman lainnya. Namun bentuk-bentuk intimidasi tersebut tidak mengubah tekad dan niat para inisiator serikat buruh tersebut.

4.2 Tujuan dan Funsi Organisasi

4.2.1 Tujuan Organisasi

(11)

1. Mewujudkan harkat martabat dan jaminan atas hak-hak pekerja, serta melindungi kepentingan pekerja baik dalam maupun diluar lingkungan pekerjaan.

2. Mewujudkan kebebasan berkumpul dan berserikat, serta terselengaranya perundingan kolektif dan perjanjian ketenagakerjaan.

3. Meningkatkan martabat, integritas, persatuan dan solidaritas pekerja, dalam rangka memperjuangkan perbaikan kesejahteraan pekerja dan keluarga.

4. Mewujudkan hubungan yang baik antara pekerjan dan pengusaha.

(12)

4.4.2 Fungsi Organisasi

Fungsi organisasi juga termasuk dari Anggaran Dasar BAB II (Azas, tujuan, fungsi, kedaulatan, dan afiliasi) orgagnisasi Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan, yang mana tercantum pada pasal 7, sebagai berikut:

1. Menyelangarakan perundingan kolektif untuk perbaikan syarat-syarat kerja pengupahan, hubungan ketenagakerjaandan kesejahteraan pekerja, agar tercapai mufakat dalam perjanjian ketenagakerjaan.

2. Memelihara kerukunan persatuan dan solidaritas pekerja baik intuk tujuan organisasi maupun sosial.

3. Mengusahakan pendidikan dan keteramilan pekerja sehinggamemiliki pengetahuan yang cukup, dalam pekerjaan maupun organisasi.

4. Melakukan bimbingan, pembelaan dan perlindungan terhadap anggota. 5. Meyelenggarakan kegiatan sosial.

6. Turut berperan aktif memperjuangkan terwujudnya peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang menjamin penghargaan atas hak-hak dan kepentingan pekerja.

(13)

4.3 Regenerasi Organisasi

Dalam hal regenerasi organisasi bukan hanya melakukan pemilihan ketuadan mengangkat pengurus namun ada hal-hal yng dibahas mengenai mekanisme organisasi seperti misalnya menetapkan kebijakan umum organisasi, mengubah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga bila dianggap perlu.Dalam hal ini untuk di tingkatan serikat pekerja mandiri terkecil disebut dengan Musyawarah Anggota (MUSTA) yang diselengarakan minimal 3 (tiga) tahun sekali.

Musyawarah Anggota (MUSTA) merupakan kedaulatan tertinggi, yang berfungsi sebagai wadah evaluasi terhadap kinerja organisasi selama melakukan aktivitas organisasinya, sebagai wadah konsultasi terhadap permasalahan yang hadir di perbuhuran, konsolidasi maupun koordinasi untuk mencapai mufakat dan pengembangan organisasi.Solidaritas Buruh Sumatera Utara juga mengenal Musyawarah Istimewa Luar Biasa (MUSTALUB) yang didefenisikan sebagai rapat pendahuluan, dalam sidang pleno ini, akan dibahas apakah MUSTLUB pantas atau tidak untuk dilaksanakan. Musyawarah Istimewa Luar Biasa (MUSTALUB) dapat dilakukan jika sekurang-kurannya 50% ditambah 1 (satu) atau 2/3 dari jumlah kepengurusan.

Dalam Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan juga mengatur tentang penggantian pengurus antar waktu, sebagaimana tertera pada Anggaran Dasar BAB VIII Pasal 24. Penggantian pengurusan antar waktu adalah penggantian seseorang pengurus yang berhenti, diberhentikan atau mengundurkan diri dengan rincian sebgai berikut:

(14)

1.2 Apabila Wakil Ketua 1 menyatakan berhenti, diberhentikan atau mengundurkan diri secara otomati akan digantikan olen Wakil Ketua 2 atau 3 1.3 Apabila Wakil Ketua 1, Wakil Ketua 2 dan 3 menyatakan tidak sanggup maka

diadakan Musyawarah Istimewa Luar Biasa (MUSTALUB).

1.4 Musyawarah Istimewa Luar Biasa (MUSTALUB) diselenggarakan oleh Wakil Ketua 1 dan Wakil Ketua 2 dengan dibantu oleh Pengurus.

Namun pergantian kepengurusan antar waktu dapat dilakukan atas persetujuan Musyawah Anggota, berdasarkan kebutuhan organisasi.

Proses regenereasi ditingkatan pusat disebut dengan Kongres Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU), yang terhimpun dari berbagai serikat pekerja mandiri. Kongres SBSU dilaksanakan (tiga) tahun sekali, dan setiap anggota buruh sumatera utara dapat mengirimkan utusannya pada konres tersebut. Kongres Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) bertujuan untuk menetapkan kebijakan organisasi dan pedoman dasr untuk dijalankan, memilah Badan Pengurus (Presiden, beberapa Wakil Presiden, dan seorang Sekertaris Jendral), mengadakan perubahan Anggaran Dasar jika diperlukan, dan memberi keputusan untuk menerima anggota baru.

4.4 Struktur Organisasi

Struktur organisasi Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan terdiri dari berbagai elemen, sesuai dengan kebutuhan organisasi. Adapun struktur organisasi Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan yang termasuk dalam Anggaran Dasar Organisasi BAB V Keperguruan dan Wewenang Pasal 15 sebagai berikut:

(15)

3. Sekertaris 4. Wakil Sekertaris 5. Bendahara 6. Wakil Bendahara

7. Bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS) 8. Bidang Pengembangan Organisasi

9. Bidang Perempuan

10.Bidang Olah Raga dan Pengembangan Bakat 11.Bidang Rohani

Setiap bidang kegiatan anggota diangkat satu orang pengurus atau lebih, yang mana masing-masing pengurus bidang kegiatan bertanggung jawab penuh terhadap serikat pekerja. Dalam hal ini Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan juga memiliki Dewan Perwakilan Anggota yang merupakan perwakilan pekerja dari tiap-tiap outlet yang berfungsi sebagai penyambung saran dan pendapat kepada pengurusan inti.

4.4.1 struktur Kepengawasan SBSU PT. Asia Karet Medan

Adapun susunan nama-nama pengurus Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan pada periodesasi kedua dan berdasarkan hasil-hasil Musyawarah Anggota (MUSTA) adalah sebagai berikut:

Ketua : Rasidah Selian

Wakil Ketua : Aty Sidabutar

Sekertaris : Julianto Situmeang

(16)

Bendahara : Nurma Roida Pasaribu M

Wakil Bendahara : Purnama Saragih

Seksi Humas

Koordinator : Amrul Sinaga

Anggota : Arpando Tumanggor

Seksi Pengembangan Organisasi

Koordinator : Rizky Nainggolan

Anggota : Jupe Simanjuntak

Seksi Pemberdayaan Perempuan

Koordinator : Elpina Yunita Hutabarat

Anggota : Maria Nababan

Seksi Dana

Koordinator : Junaidi

(17)

Seksi Sosial

Koordinator : Masitah Bintang

Anggota : Roy Batubara

Seksi Rohani

Koordinator : Surya

(18)

4.5 Tata Laksana Keuangan Organisasi

Penerimaan keuangan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan diperoleh dari beberapa sumber yaitu: Iuran anggota, Sumbanga Anggota diluar Iuran Anggota. Hal-hal lin yang tidak mengikat untuk menambah kas keuangan Serikat. Uang iura anggota yang ditetapkan sebesar Rp. 5,000/ Bulan, yang disetoran oleh masing-masing anggota kepada kepengurusan selambat-lambatnya tanggal 20 setiap bulannya. Dan seluruh hasil penerimaan keuangan akan dimasukan kedalam rekening organisasi.

Penggolongan keuangan organisasi dalam bentuk sosial juga diatur dalam ketetuan organisasi.

1. Untuk anggota langsung yang meninggal dunia akandiberikan uang bersungkawa Rp. 500.000 dan ditambah sumbangan dari masing-masing anggota.

2. Untuk anggota yang mengalami operasi berhak mendapat uang sebesar Rp. 100.000 dan ditambah sumbangan dari masing-masing anggota.

3. Untuk anggota rawat- inap minimum 3 (tiga) hari berturut-turut sebesar Rp. 100.000

(19)

4.6 Profil Singkat PT. Asia Karet Medan

(20)
(21)

BAB V

ANALISIS DATA

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dilapangan melalui teknik wawancara mendalam dengan informan.Peneliti berhasil mengumpulkan informan sebanyak 6 informan dengan komposisi 4 orang informan utama dan 2 orang informan tambahan.Dari wawancara tersebut diperoleh latar belakang, data umum tentang latar belakang informan melaluinama, jenis kelamin, alamat, dan jabatan di organisasi tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara mendalam dan observsi langsung ke lapangan itu juga diperoleh berbagai data-data untuk dapat di analisis melalui pendekatan kualitatif.Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari data yang telah terkumpul, penulis coba membagi dalam beberapa bagian terkait dengan isu yang ingin diuraikan dengan masukan petikan wawancara dari informan serta narasi penulis tentang data-data tersebut.

5.1 Latar Belakang Perjuangan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia

Karet Medan

(22)

Perjuangan SBSU berangkat dari beberapa permasalahan yang berkaitan dengan dimensi hukum yang berlaku, yang mengatur tentang ketenagakerjaan.Dari beberapa informasi yang didapatkan ada beberapa pelangaran-pelangaran hukum yang terjadi pada buruh di PT. Asia Karet Medan, dan pelangaran yang terjadi adalah menyangkut hak-hak normatif kaum buruh. Beberapa kondisi juga disampaikan oleh ketua SBSU periode pertama Rasidah Selian sebagai berikut:

“Permasalahan yang terjadi pada buruh PT. Asia Karet Medan adalah tingkat

kesejahtraan buruh yang tidak terpenuhi, terjadinya pelanggaran-pelanggaranhak normatif

seperti: upah rendah, jam kerja dtambah, libur dan cuti tidak sesuai ketentuan, uang servis

tidak didapatkan, dan larangan pendirian Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT.

Asia Karet Medan yang berkeduduka di perusahaan serta penolakan terhadap draft

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang dilakukan oleh pihak buruh.

Permasalahan yang disampaikan oleh Rasidah Selian jelas membuktikan bahwa telah terjadinya penggaran hukum ketenagakerjaan.Dalam hal ini pihak perusahaan telah melakukan bentuk-bentuk pelanggaran hukum dengan berbagai ketentuan.Dapat disimpulkan bahwa perusahaan telah melanggar hak-hak normatif buruh sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang mengatur tentang ketenagakerjaan. Hak normatif diklarifikasikan menjadi bebarapa bagian yaitu yang bersifat ekonomis (seperti upah, THR), yang bersifat politis (membentuk serikat buruh, menjadi atau tidak menjadi anggota serikat buruh, mogok kerja), yang bersifat medis (keselamatan dan kesehatan kerja), yang bersifat sosial (cuti, nikah/kawin, libur resmi, dan lain-lain)

(23)

diarahkan pada pencapaian kebutuhan hidup layak” ayat 3 “upah minimum sebagaimana

yang dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan

Rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota” dalam hal ini

upah merupakan indikator penting dalam menentukan tingkat kesejahtraan buruh. Namun persoalah upah tidak hanya berbicara pada penentuan UMKS sajanamun ada skala pengupahan yang juga tidak dijalankan oleh pihak pengusahayang berlandaskan pada pemerhatian golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetisi. Dalam paparannya Nurma Roida Pasaribu M selaku Bendahara SBSU juga memaparkan bebarapa kondisi yang terjadi.

“Hak-hak normatif kaum buruh tidak terpenuhi olehperusahan seperti upah di bawah UMKS., cuti hanya diberian sedikit dan dipersulit, lembur tidak mendapat upah,

kesehatan buruh setelah Tahun 2010 diambil alih oleh perusahaan pengelolaanya

namun tidak memenuhi standar kesehatan, mendirikan serikat buruh perusahaan

tidak setuju dengan anggapan serikat buruh adalah orang lain.

(24)

disampaikan oleh Nurma Roida Pasaribu M, perusahaan telah mengabaikan kesehatan dan keselamatan kerja para buruh.

Rismaida Sidabutar selaku Wakil Sekertaris SBSU mengungkapkan:

“Pengusaha tidak mau adanya serikat didalam perusahaan, buruh diberi upah dibawah UMKS, mempekerjakan wanita hamil tua ditempat yang berbahaya seperti

boiler, petugas parker, PHK sepihak tanpa uang pesangon, tanpa adanya sura

peringatan 1,2,3.”

Para buruh bersikeras kepada perusahaan utuk mendirikan serikat buruh yang berdomisili didalam perusahaan, namun perusahaan tetap menolak adanya serikat buruh yang berdiri dalam perusahaan. Sehingga serikat buruh yang didirikan para buruh hanya terdaftar di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja ( Disnaker) Kota Medan. Pelanggaran atas pembentukan serikat buruh merupakan strategi dari perusahaan untuk memperlemah gerak buruh, namun dari perspektif hukum larangan untuk mendirikan serikat buruh merupakan hak secara politis yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Pasal 27 ayat (2) dan pasal 28, serta melanggar ketentuan yang telah diatur oleh Undang-Undang No 21 Tahun 2000 “siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk,

menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota

dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan

cara melakukan PHK, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan atau melakukan

mutasi, melakukan intimidasi dalam bentuk apapun.”

(25)

yang berkedudukan di perusahaan, sebagai sarana untuk melakukan konsolidasi terhadap agenda-agenda perubahan sosial kaum buruh. Pendirian Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan menjadi sebuah kebulatan tekad dari kaum buruh yang bersumber pada Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medanmenjelaskan bahwa:

“Berdirinya serikat buruh untuk memperjuangkan hak-hak normatif kaum buruh

dan menegaskan pada perusahaan bahwa buruh adalah aset utama perusahaan,

oleh karena itu perusahaan harus menjalankan kewajiban nya sesuai dengan

Undang-Undang yang ada.

Pendirian serikat buruh diharapkan menjadi embrio baru terhadap kehidupan buruh, agar gerakan sosial yang dilakukan para buruh lebih terorganisir baik secara diplomatis maupun tekanan kepada perusahaan.Namun pendirian serikat buruh di perusahaan mendapat kecaman dan protes dari pihak perusahaan.Pihak perusahaan tidak sepakat jika buruh mendirikan serikat buruh didalam perusahaannya, sehingga terjadilah bentuk-bentuk pelanggaran yang sifatnya politisdari pihak perusahaan.Pihak perusahaan semakin melakukan eksplotasi terhadap kaum buruh, terutama kepada buruh yang tergabung di dalam Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan.Dalam hal ini Rasidah Selian menjelaskan beberapa bentuk kecaman dari pihak perusahaan.

“Adanya mutasi ketempat yang bukan keahlian buruh tersebut, sehingga membunuh

karakter buruh, membuat pekerja tidak betah bekerja sehingga adanya pengunduran

diri, serta adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak oleh

perusahaan karena tergabung dalam SBSU.”

(26)

karena memang memperebutkan suatu aset yang bernilai.Pihak perusahaan sebagai pemilik modal bersikeras dengan karakter feodalismenya, sementara buruh tetap menginginkan sebuah kedaulatan dan kesejahtraan buruh yang telah dilingungi oleh Negara melalui aturan-aturan hukum yang berlaku. Perusahaan semakin ganas dalam melakukan tekanan kaum buruh, tak heran jika terjadi mutasi kerja besar-besaran terhadap buruh khusunya yang tergabung Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan, banyak anggota SBSU yang dimutasikan ke tempat yang tidak sesuai dengan keahliannya, bahkan pemutasian ke tempat yang menurun secara jembatan. Jika dilihat dari aspek hukum yang berlaku ini sebenarnya melanggar ketentuan hukum, karena membunuh karakter para buruh dalam bekerja sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja yang pada akhirnya juga berakibat fatal terhadap kesalhan kerja, sehing pihak perusahaan lebih mudah menyalahkan para buruh ketika melakukan kesalahan kerja.

Ketentuan yang mengatur adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahin 2003 Pasal 32 ayat (1) dan (2) yang berbunyi “Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi” dan ”Penempatan tenaga

kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan

keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemapuan dengan memperhatikan harkat ,

martabat, hak asasi, dan perlindunga hukum.” Namun pada nyatanya masih juga terjadi

(27)

Adanya anggapan dari perusahaan bahwa yang tergabung dalam Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan adalah orang luar, maka bentuk-bentuk feodalisme dari perusahaan berujung kepada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak oleh perusahaan tanpa ada alasan yang jelas. Beberapa pengurus SBSU menjadi korban dalam PHK tersebut dengan berbagai alasan, kepengurusan SBSU dibawah kepemimpinan Rasidah Selian adalah PHK masal pertama yang dilakukan oleh perusahaan, oleh sebab itu digantikan oleh Aty Sidabutar pada periodesasi keduayang akan melanjutkan SBSU. Tapi ternyata mendapat perlakuan yang sama beberapa kepengurusan dan para buruh yang tergabung dalam SBSU turut di PHK oleh perusahaan. Bentuk-bentuk PHK yang dilakukan oleh perusahaan juga bermacam-macam, beberapa buruh di PHK tanpa surat PHK dari perusahaan, kemudian adanya skorsing tanpa batas waktu dan akhirnya dilakukan PHK oleh perusahaan.

Ironisnya lagi buruh yang melakukan mogok kerja juga turut di PHK dengan alasan mogok kerja, sekitar ± 150 buruh di PHK karena mogok kerja.Inilah merupakan feodalisme yang dilakukan oleh perusahaan kepada buruh dalam memperjuangkan hak normatifnya.Padahal mogok kerja merupakan hak dari buruh untuk dilakukan ketika gagalnya suatu perundingan terhadap kedua belah pihak. Dan dalam hal ini aturan tentang mogok kerja juga di atur oleh Undang-Undang Nomor 13Tahun 2003 yaitu pasal 137 “mogok kerja sebagai hak dasar pekerja/buruh dan serikat pekerja/buruh dilakukan secara

sah, tertib, dan damai sebagai akibat gagal nya perundingan “ dan ketentuan lainya yang

menyangkut aturan-aturan protes mogok kerja dalam pasal setelahnya.

5.5.1 Lemahnya Peran Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Medan

(28)

Permasalan yang terjadi pada buruh Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan bukan hanya persoalan yang tidak memberikan hak-hak normatif tersebut.Salah satu faktor penyebabnya dalah lemah nya sebuah peran Pemerintah dalam hubungan Industrial, yang mana lembaga pemerintah yang diamankan untuk melakukan perngawasan terhadap urusan hubungan industrial adalah Dinas Sosial dan Tenaga Kerja. Dalam hal ini terlihat kelas bahwa konflik-konflik yang terjadi antara pihak perusahaan dan pihak buruh akibat lemah nya penguasaan oleh Disnaker, jika dilihat dari peran dan fungsi Disnaker yang mengacu pada Undag-Undang Nomor 13 Tahun 2003 pasal 134 dan 135 menyebutkan bahwa pemerintah (Disnaker) berkewajiban mengawasi, mengevaluasi dan menindak perusahaan yang tidak melaksanakan perundang-undangan khususnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dalam hal ini jelas bahwa Pemerintah melalui lembaga khususnya mempunyai tanggung jawab penuh terhadap persoalan buruh yang menyangkut kedaulatan dan kesejahteraan buruh. Jika dilihat dari peran dan fungsinya tentang mengawasi dan mengevaluasi hubungan industrial, seharusnya permasalahan yang menyangkut tentang hak-hak normatif kaum buruh seperti PT. Asia Karet Medan tidak akan terjadi. Paparan tentang lemahnya peran Disnaker terhadap kaum buruh juga disampaikan oleh Rismaida Sidabutar:

“Pengaduan-pengaduan ke Disnaker Kota Medan untuk permasalahan yang ada di

PT. Asia Karet Medan, tetapi tidak berjalan, dalam hal pengawasan juga tidak

berjalan”

(29)

Disnaker adalah memperkecil angka pengangguran yang ada, tapi dalam kasus ini justru Disnaker melakukan pembenaran terhadap kasus PHK secara sepihak yang terjadi di perusahaan. Kondisi seperti ini sangat jelas membuktikan bahwa lemahnya peran Disnaker dalam melakukan penyelesaian perselisihan hubungan industrial, indikasinya bahwa adanya keberpihakan pemerintah terkait terhadap pemilik modal yang notabeneya adalah pihak perusahaan.Dalam perspektif hukum, hukum sebagai aturan bertujuan untuk menciptakan stabilitas dalam hubungan kerja.Bagi buruh sendiri hukum itu bertujuan sebagai proteksi, baik dalam soal upah untuk kehidupan yang layak, kebebasan untuk berserikat serta proteksi untuk pemenuhan hak-hak normatif lain kaum buruh. Dalam kontekss ini sebenarnya kaum buruh menginginkan peran dari lembaga pemerintah untuk melakukanproteksi penuh terhadap nasib kaum buruh, dengan aturan-aturan hukum yang menyangkut kebebasan berserikat dan Undang-Undang tentang ketenagakerjaan.

5.2 Peran Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet

Medan dalam Memperjuangkan Hak-Hak Normatif Buruh.

Dalam hal ini peran Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan hanya memilikikonsentrasi penuh terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di perusahaan tersebut, mengingat juga bahwa SBSU adalah serikat buruh yang berdomisili didalam sebuah perusahaan. Namun bukan berarti SBSU tidak menyikapi kasus-kasus yang terjadi di sektor perburuhan lainnya, melainkan hanya perbedaan konsentrasi dari peranannya.Sedikit banyak SBSU juga mempengaruhi terhadap sektor buruh lainnya, dengan berbagai aktifitas gerakan sosial yang dilakukannya.

(30)

untuk registrasi di Disnaker Kota Medan, walaupun pihak perusahaan tidak menganggap serikat tersebut dan terjadinya intimidasi terhadap buruh yang tergabung di dalam serikat buruh.

Perjuangan buruh awalnya dimulai dari bentuk-bentuk negosiasi kepada pihak perusahaanm terkait beberapa permasalahan yang dirasakan oleh kaum buruh. Negosiasi yang dilakukan dengan mengajukan draft Perjanjian Kerja Bersama (PKB) kepada pihak perusahaan, beberapa isi draft tersebut adalah tuntutan para buruh mengenai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di PT. Asia Karet Medan, namun pihak perusahaan melakukan penolakan terhadap PKB tersebut dengan alasan perusahaan memiliki aturan sendiri. Agenda-agenda pengajuan draft PKB itu diadakan SBSU dalam Musyawarah Bifartite (forum komunikasi dam konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial disuatu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh) yang dilakukan oleh SBSU kepada perusahaan sebagai agenda perjuangan buruh dalam bentuk negosiasi. Beberapa kali SBSU berupaya dengan segala tekanan yang ada namun menemui jalan buntu.Ditambah lagi bentuk-bentuk intimidasi dari pihak perusahaan yang semakin merajalela, bukan hanya mutasi tapi sampai pada PHK secara sepihak terhadap buruh yang tergabung didalam SBSU. Kebuntuan kaum buruh dalam cara negosiasi menjadikan buruh melakukan cara perjuangan yang lebih besar, bukan hanya dalam tataran diplomasi saja melainkan melekatkasn suatu tekanan dengan gerakan sosial kaum buruh.

Perjuangan SBSU juga diklarifikasikan kedalam bebrapa bagian seperti yang disampaikan Amrul Sinaga sebagai aktivis buruh yang ikut berjuang bersama SBSU;

“sudah merupakan kewajiban buruh untuk menuntut hak-haknya, dan perjuangan

(31)

telah di PHK , yang kedua adalah untuk hak-hak normatif buruh yang masih bekerja

di perusahaan”

Buruh yang di PHK sangat bervariatif dalam konteks ini, beberapa buruh di PHK karena tergabung dalam SBSU, dan beberapa burh di PHK karena mogok kerja.Perjuangan terhadap buruh yang masih bekerja adalah penuntutan terhadap upah layak sesuai dengan UMKS dan skala upah, hak-hak sosial kaum buruh, dan bebagai tuntutan lainya.SBSU juga melakukan pengaduan ke Disnaker Kota Medan terhadap kasus-kasus yang ada.Permohonan penyidikan pidana kejahatan dan pelanggaran ketenagakerjaan merupakan fokus yang dilakukan SBSU kepada Disnaker, karena mengevaluasi dan melakukan pengawasan merupakan peran besar dari Disnaker tersebut.SBSU buka hanya menyampaikan bebrapa laporan pengaduan kepada pihak Disnaker, melainkan melakukan tekanan dan gugatan agar pihak disnaker melakukan pertemuan anatara SBSU, perusahaan dan Disnaker.Dalam hal ini dengan tujuan agar Disnaker melihat secara objektif kondisi perburuhan di PT. Asia Karet Medan tersebut.Tergetnya adalah Disnaker menindak tegas beberapa pelanggara yang terjadi, serta malakukan keberpihakan kepada nasib buruh yang terkena ancaman dari pihak perusahaan.

5.2.1 Diskusi, Konsolidasi dan Afiliasi

(32)

akan peraturan yang mengatur tentang perburuhan, dan adanya rasa ketakutan dari pihak buruh itu sendiri untuk melakukan perlawanan.

Rasidah Selian menyampaikan bahwa

“Diskusi dan konsolidasi merupakan kekuatan uang dibangun untuk diri sendiri dan

SBSU, dan kami secara terus menerus membangun pemahaman kepada kaum buruh,

penguatan basis-basis yang ada serta mencari buku-buku yang berkaitan dengan

buruh dan Undang-Undang tentang perburuhan, agar buruh bergerak sesuai dengan

peraturan dan Undang-Undang yang ada.”

Beberapa proses itulah yangdilakukan oleh kaum buruh untuk memulai kaum sosialnya yang lebih besar, jika dilihat dari perspektif Marxist, gerakan sosial dianggap sebagai gejala yang positif yang kemunculannya disebabkan oleh karena terjadi proses eksploitasi dan dominsai satu kelas terhadap kelas lain. Singkatnya gerakan sosial ini adalah perjuangan kelas yang lahir karena adanya kesadaran kelas. Diskusi-diskusi yang dilakukan oleh SBSU berlangsung disela-sela waktu tertentudan ditempat yang berpindah-pindah, karena SBSU juga menyadari pentingnya peningkatan kualitas buruh dari segi pemahaman dan keilmuar agar cukup kuat untuk melewati proses birokrasi yang rumit. SBSU buka hanya melakukan diskusi-diskusi untuk melakukan proses penyadaran kelas, melainkan sekaligus mengkonsolidasikan seluruh elemen-elemen buruh yang ada. Mengingat juga jumlah buruh cukup banyak di PT.Asia Karet Medan tersebut dan ditempat kerja yang berbeda-beda juga.

(33)

menhindari adanya penyusup atas suruhan perusahaan yang masuk kedalam barisam gerakan SBSU, karena beberapa buruh pernah dipanggil oleh perusahaan dan ditawarkan hal-hal yang menggiurkan dengan caatatan keluar dari SBSU serta membubarkanya.

SBSU tidak hanya melakukan proses konsolidasi ditataran internal mereka saja, tetapi SBSU menyadari untuk membangun kekutan politik yang lebih besar lagi dengan beralifiliasi dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) seperti, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS), Bantuan Hukum Sumatera Utara (BAKUMSU), Kelompok Kajian Sosial Perkotaan (KKSP), Yayasan Kolektif Medan. Beberapa organisasi ini lah yang mendapingi SBSU dalam melakukan advokasi dan strategi perjuangan terhadap kasus yang ada. Hal ini juga dipaparkan oleh Aty Sidabutar:

”SBSU dalam perjuangannya beralifiliasi dengan beberapa organisasi lain,

termasuk serikat buruh lain, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), KONTRAS, KKSP,

Yayasan Kolektif Medan, BAKUMSU, dan organisasi Mahasiswa Himpunan

Mahasiswa Islam (HMI Komisariat FISIP USU)”

(34)

pemberi kuasa yang serahkan kuasanya kepada ti advokasi sehubungan telah terjadinya penggaran ketentuan normatif ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud oleh hukum perburuhan. Tim advokasi ini terdiri dari beberapa aktivis yang berkonsentrasi dibidang hukum dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yaitu, T.R Arif Faisal, SH, Husni Thamrin Simatupang, SH, M Taufik Umar Dhani Harahap, SH, Diah Susilowati, SH, merekalah sebagai yang diberi kuasa oleh SBSU yang akan melakukan proses advokasi pengaduan dan pendampingan terhadap berjalan proses hukum.

Perjuangan dengan proses hukum terus berjalan namun SBSU juga tidak hanya fokus dalam hal itu, SBSU juga melakukan tekanan-tekanan politiknya dengan berbagai agenda sosial. Pembentukan koalisi untuk pembelaan pejuan organisasi buruh tertindas di PT. Asia Karet Medan pun dibentuk untuk melakukan tekanan politiknya dalam bentuk protes sosial. Koalisi ini terdiri dari beberapa koalisi seperti Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) PT. Asia Karet Medan, KONTRAS, SAHdaR. Koalisi ini uga membuat berbagai pernyataan yang berisikan beberapa tuntutan kaum buruh, yang digunakan sebgai media kampanye kepada pihak-pihak terkait agar pelaggaran-pelanggaran oleh pihk perusahaan menjadi sorotan publik melaui media masa.

(35)

bentuk tekanan terhadap perusahaan PT. Asia Karet Medan bahwa pergerakan yang dilakuka SBSU cukup berpengaruh dan kuat.

Keterlibatan Organisasi Mahasiswa dalam perjuangan SBSU merupakan agenda perluasan gerakn sosial kaum buruh, yang mana Mahasiswa memiliki peran yang sangat strategis dan punya sejarah dalam reformasi. Himpunan Masiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP USU ikut berafiliasi dalam perjuangan tersebut, keterlibatan organisasi mahasiswa ini mampu memberi sumbangsih pemikiran secara teoritis kepada kaum buruh da melakukan proses pendampingan dalam perjalanan panjang kaum buruh. Hal ini juga dikarenakan mahasiswa dikenal dengan Agent of change (pembawa perubahan), jadi sudah selayaknya mahasiswa ikut kedalam gerakan-gerakan kerakyatan tanpa ada kepentingan sedikitpun.Dalam gerakan sosial memiliki karakter bahwa agenda tersebut harus memiliki kelompok yang teratur, terdapat pembagian peran dan perbedaan hirarki hak serta tanggung jawab diantara partisipan.Inilah yang mendasari aliansi perjuangan buruh untuk lebih mengkonsolidasikan diri agar lebih terorganisir dan suara mereka didengarkan untuk menekan pihak yang berwenan untuk melakuka tujuan (perubahan).

5.2.2 Gerakan Sosial Kaum Buruh

(36)

pemerintah dan perusahaan.Gerakan sosial yang lahir dalam bentuk aks-aksi yang cukup bervariatif cukup berpengaruh dalam perjuangan kaum buruh.

Pada awalnya para kaum buruh melakukan aksi demonstrasi di PT. Asia Karet Medan menuntut hak-hak mereka sebagai buruh diberikan, namun pihak perusahaan juga tidak mejalankan kewajibannya. Kemudian kaum buruh menggelar aksi yag serupa ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan, hal yang sama juga dialami oleh kaum buruh yang tergabung dalam SBSU. Inilah yang memicu gerakan sosial menjadi lebih besar lagi, hal ini seperti yang disampaikan oleh Aty Sidabutar:

“Karena perusahaan tidak menjalankan kewajibannya kami bergerak melakukan

aksi di depan PT Asia Karet medan dan Disnaker Kota Medan, namun tidak ada

respon, dan kami pun melakukan mogok kerja, sekitar 250 buruh mogok kerja

masal, tetapi perusahaan mengambil tindakan PHK secara sepihak. Di PHK tapi

hak-hak buruh tidak diberikan”

(37)

kerja akan mengganggu stabilitas sistem perusahaan. Dan keinginan awal dari para buruh adalah untuk memberikan efek jera kepada perusahaan, bukan untuk berhenti bekerja diperusahaan tersebut.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak inilah yang mendapat protes keras dari beberapa kalangan, terutama yang tergabung didlama koalisi pembelaan pejuan organisasi buruh tertindas. Sikap tegas juga dilakukan oleh SBSU, kaum buruh menginap didepan halaman kantor DPRD Kota Medan. Mereka memasang tenda dan melengkapi berbagai perlengakapan untuk menginap cukup lama.Amrul Sinaga mengungkapkan:

“Menginap di kantor DPRD Kota Medan dengan alasan, karena rakyat tidak

mempunyai posisi tawar, dan harus menciptakan sebuah kondisi yang menjadi

persoalan publik, menjadi inspirasi kami dengan SBSU untuk menginap dihalaman

depan kantor DPRD Kota Medan dengan harapan menciptakan efek jera bagi

pelanggaran hak-hak normatif buruh”

(38)

Keputusan untuk menginap didepan kantor DPRD Kota Medan dimanfaatkan para buruh untuk menarik perhatian semua pihak, agar persoalan ni benar-benar menjadi persoalan besar yang terwacanakan ke publik. Para kaum buruh juga meminta kepada anggota dewan untuk mengambil sikap tegas terhadap persoalan ini. Selama menginap didepan kantor DPRD Kota Medan, pihak buruh selalu melakukan aksi yang ditujukan kepada anggota dewan agar persoalan ini segera disikapi yang bersangkutan. Beberapakali pertemuan dengan anggota dewan pun dilakukan, Komisi B DPRD Kota Medan adalah komosi yang menangani permasalahan perekonomian. Dalam hal ini pertemuan dilakukan di DPRD Kota Medan untuk menanggapi pengaduan yang disampaikan oleh pihak SBSU, beberapa pihak terkait diundang untuk hadir antara lain, Pimpinan/ pengusaha PT. Asia Karet Medan, BPJS Ketenagakerjaan Kota Medan (karena buruh PT. Asia Karet Medan, tidak diikutsertakan oleh pihak perusahaan delalam Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan), SBSU PT.Asia Karet Medan, mewakili karyawan yang telah di PHK secara sepihak. Dalam beberapa kali pertemuan tidak menunjukkan sikap tegas dari DPRD Kota Medan, kaum buruh hanya mendapatkan beberapa rekomendasi yang lemah sifatnya, serta menunjukan adanya unsur-unsur yang tidak mendengarkan aspirasi rakyat.

Semanagat dan militansi SBSU adalah salah satu kekuatan kunci dalam meneruskan perjuangan yang sering mendapat jalan buntu ini. Perjuangan yang dilakukan SBSU bisa bertahan cukup lama dan menjadi sorotan serikat buruh lain, karena pasca terjadinya PHK kaum buruh masih bisa bertahan hingga 2 tahun lamanya, seperti yang disampaikan Rismaida Sidabutar dalam paparanya:

“Kami menginap di halaman depan kantor DPRD Kota Medan dimulai dari Juli

2012 sampai pertengahan tahun 2014, dan sempat menginap beberapa hari

(39)

Waktu yang cukup lama inilah yang menjadi sejarah perjuangan SBSU, dalam kuru waktu yang cukup lama banyak bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukan, walaupun beberapa kaum buruh mencari pekerjaan lain karena terhimpit kebutuhan ekonomi. Tetapi tidak melumpuhkan sendi-sendi perjuangan yang ada, para buruh dengan sistem yang mereka ciptakan sendiri tetap mengis berbagi aktivitas di posko perjuangan mereka. Dalam aksi demonstrasi yang dilakukan SBSU didepan kantor Disnaker Kota Medan, tidak mendapat respon senhingga memaksakan buruh yang telah berafiliasi dengan berbagai organisasi untuk menginap dihalaman kantor Disnaker Kota Medan.

Selain aksi menginap ddidepan kantor DPRD Kota Medan dan Disnaker Kota Medan, SBSU juga melakukan aksi ke berbagai instansi pemerintah seperti Pemerintah Kota Medan (Pemko Medan) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprosu). Dalam hal ini kaum buruh menyampaikan beberapa tuntutan dan tidak membuah kan hasil. Dimana perusahaan tidak memberikan hak-hak kaum buruh sertalemahnya peran pemerintah dalam hal ini menyebabkan terjadinya gerakan sosial kaum buruh. Bahkan ketika kaum buruh melakukan berbagai bentuk aksi menginap di depan kantor DPRD Kota Medan, pihak perusahaan dan pemerintah tidak memperdulikan apa yang mereka laukukan maka terjadilah unrest, (muncul kekacauan, sikap frustasi, merasakan ketidakadilan), pada tahap ini ketika aspirasi yang disampaikan oleh pihak buruh PT.Asia Karet Medan tidak membuahkan hasil, mereka merasa bahwa terjadi kteidakadilan pada diri mereka karena perusahaan dan pemerintah tidak menanggapi aspirasi mereka. Kekacauan dan frustasi membuat kaum buruh untuk berfikir lebih keras lagi, formalization, (pelembagaan/organisasi pergerakan), untuk melakuakan sebuah gerakan, tentu harus didukung oleh berbagagi organisasi lainnya.Maka dalam tahap ini SBSU melakukan afiliasi dengan organisasi lainya.

(40)

pemberian uang pesangon kaum buruh karena adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak oleh perusahaan.

5.3 Konsistensi Perjuangan SBSU PT. Asia Karet Medan

Perjuangan yang dilakukan SBSU substansinya adalah berorientasi pada perubahan sosial disektor perburuhan, hal ini dikarenakan bentuk-bentuk eksploitasinya dan dominasi satu kelas terhadap kelas lain. Perubahan yang di cita-citakan oleh kaum buruh dapat terjadi dengan lambat,sedang atau keras tergantung situasi (fisik, buatan, atau sosial) yang mempengaruhinya. Sama halnya seperti perjuangan tersebut, baik secara internal maupu eksternal. SBSU dapat dikatakan cukup maksimal dalam melakukan perjuangan, mulai dari penyaran kelas, konsoloidasi, afiliasi terhadap organisasi lain dan melkukan gerakan sosialnya. Keterhambatan perjuangan SBSU yang dikarenakan oleh lemahnya peran pemerintah dalam mengintervensi perusahaa agar memenuhi hak-hak normatif kaum buruh, seperti yang dipaparkan Rismaida Sidabutar:

“Pemerintah lamban dalam menyikapi persoalan ini, sehingga perusahaan juga

tidak merespon tuntutan kami, adanya indikasi pemerintah berpihak pada

perusahaan dan uang, pengadilan menjatuhkan putusan PHK terhadap mogok

kerja, dan perusahaan memanipulasi data kerja ke pengadilan”

(41)

menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. Ketika buruh di PHK mereka pasti mencari pekerjaan lain demi keberlangsungan hidup.

Beberapa aktivitas gerakan sosial yang berlangsung lama dari SBSU terhadap instansi terkai menyebabkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) menyikapi persoalan ini.Hal ini juga dikarenakan pihak SBSU dan koalisi untuk pebelaan pejuang organisasi buruh terindas di PT. Asia Karet Medan selalu melakukan pengaduan dan penyampaian informasi ke KOMAS HAM.Tim dari Komnas HAM yang dating ke Medan membuat pertemuan dan mengundang beberapa pihak terkait.Pertemuan yang dilaksanakan di Hotel Danau Toba Medan tersebut pada awalnya tidak ada kesepakatan, karena perbedaan pandangan dan data-data dari kedua belah pihak.Pada pertemuan selanjutnya melaui kesepakatan yang di afiliasi Komnas HAM, masa kerja yang sesuai, sebagian sudah dibayarkan hak normatifnya yaitu pesangon sesuai ketentuan. Penjelasan ini dikatakan oleh Aty Sidabutar:

“Komnas HAM yang datang melakukan pertemuan dengan SBSU, dan pada

akhirnya dalam pertemuan yang diafiliasi oleh Komnas HAM tersebut, masa kerja

yang sesuai datanya, sebagian telah dibayarkan oleh perusahaan, dan kami masih

konsisten sampai tercapainya hak-hak normatif kaum buruh.”

Inilah titik terang dari keberhasilan konsistensi perjuangan SBSU, walaupun belum semua pesangon dibayarkan, tetapi itu semua dalam proses. Dikarenakan adanya perselisihan data kerja yang nantinya akan diputuskan di pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Inilah butuh sebuah konsistensi dari SBSU untuk melakukan pengawalan terhadap putusan pengadilan agar semua pesangon sesuai dengan ketentuan Undang-Undang bisa dibayarkan.

(42)
(43)

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Pelanggaran-pelanggaran ketentuan hak-hak normatif ketenagakerjaan sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang yang mengatur tentang Hukum Perburuhan, oleh pihak PT. Asia Karet Medan, yang dikelasifikasikan menjadi beberapa bagian yang bersifat politis (membentuk serikat buruh, menjadi atau tidak menjadi anggota serikat buruh, mogok kerja), yang bersifat ekonomis (seperti upah, THR), yang bersifat sosial (cuti kawin/nikah, libur resmi, dan lain-lain).

2. Pimpinan perusahaan membuat kebijakan yang sangat sewenang yaitu kebijakan

mutasi beberapa buruh dari perusahaan PT.Asia Karet kantor pusat Medan Polonia Jl. Starban No. 62 Medan ke PT.Asia Karet cabang Klambir V kabupaten Deli Serdang terkait dengan dibentuknya SBSU di PT. Asia Karet Medan dan mogok kerja massal yang dilakukan kaum buruh dalam hal penuntutan hak normatif.

3. Perjuangan kaum buruh berorientasi pada pemenuhan hak-hak normatif buruh untuk kedaulatan dan kesejahteraan buruh, perjuangan yang dilakukan Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) berangkat dari situasi yang tidak berkeadilan terhadap kaum buruh dimana adanya bentuk-bentuk eksploitasi dan intimidasi dari perusahaan.

(44)

Sumatera Utara (SBSU) dengan strategi yang dilakukan dan dengan gerakan-gerakan sosial yang dilakakan SBSU selama beberapa tahun mendapat titik terang dengan pembayaran pesangon bagi buruh yang di PHK.Penuntutan yang pada awalnya pemenuhan hak-hak normatif kaum buruh selama bekerja berubah menjadi penuntutan hak normatif pasca Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak (PHK).

6.2 Saran

Disnaker Kota Medan dalam hal ini selaku pemerintah harus memberikan sanksi tegas terhadap pengusaha PT. Asia Karet Medan, memberlakukan Undang–Undang Ketenagakerjaan secara tegas dan tidak ada unsur keberpihakan terhadap pengusaha. Melakukan pemerhatian ekstra terhadap persoalan buruh agar terciptanya kedaulatan dan kesejahteraan buruh serta efektivitas penyelesaian perselisihan hubungan industrial, yang mengacu pada penegakan aturan hukum yang berlaku di sektor perburuhan.

Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) terus melakukan regenerasi organisasi agar proses perjuangan berkelanjutan, karena tanpa adanya suatu proses kaderisasi dalam suatu organisasi maka akan lemah dan mengalami kehancuran organisasi. SBSU harus tetap memilki semangat dan militansi perjuangan sampai pada terciptanya sebuah situasi yang berkeadilan pada pemenuhan kehidupan buruh, dengan melakukan evaluasi terhadap perjuangan-perjuangan selama ini agar adanya peningkatan semangat juang dan terciptanya sebuah formulasi baru yang lebih efektif dan berpengaruh.

(45)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

2.1.1 Pengertian Buruh

Istilah buruh sudah sangat populer dalam dunia perburuhan/ketenagakerjaan, selain istilah ini sudah dipergunakan sejak lama bahkan mulai zaman penjajahan Belanda juga karena peraturan perundang-undangan yang lama (sebelum Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan) menggunakan istilah buruh. Pada zaman penjajahan Belanda yang dimaksud dengan buruh adalah pekerja kasar seperti kuli, tukang, mandor yang melakukan pekerjaan kasar, orang-orang ini disebut sebagai “Blue Collar”.Sedangkan yang melakukan pekerjaan dikantor pemerintah maupun swasta disebut sebagai “Karyawan/Pegawai” (White Collar).Pembedaan yang membawa konsekuensi pada perbedaan perlakuan dan hak-hak tersebut oleh pemerintah Belanda tidak terlepas dari upaya untuk memecah belah orang pribumi.

(46)

selaras dengan Undang-Undang yang lahir sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 yang menggunakan istilah Serikat Pekerja/Buruh.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 3 memberikan pengertian Pekerja/Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk apapun. Pengertian ini agak umum namun maknanya lebih luas karena dapat mencakup semua orang yang bekerja pada siapa saja baik perorangan, persekutuan, badan hukum atau badan lainnya dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk apapun. Penegasan imbalan dalam bentuk apapun ini perlu karena upah selama ini diidentikkan dengan uang, padahal ada pula buruh/pekerja yang menerima imbalan dalam bentuk barang (Husni,2007: 35).

2.1.2 Pengertian Organisasi/Serikat Buruh

(47)

kepentingan pekerja/buruh serta melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja/buruh memuat beberapa prinsip dasar yaitu:

1. Serikat buruh, dibentuk atas kehendak bebas/pekerja tanpa tekanan atau campur tangan pengusaha, pemerintah dan pihak manapun.

2. Jaminan bahawa setiap pekerja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/buruh.

3. Basis utama serikat pekerja/buruh ada di tingkat perusahaan, serikat buruh yang ada dapat mengembangkan diri dalam Federasi Serikat Pekerja/Buruh. Demikian halnya dengan Federasi Serikat Pekerja/Buruh dapat menggabungkan diri dalam Konfederasi Serikat Pekerja/Buruh.

4. Serikat pekerja/buruh dapat dibentuk berdasarkan sektor usaha, jenis pekerjaan, atau bentuk lain sesuai dengan kehendak pekerja/buruh.

5. Serikat pekerja/buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/buruh yang telah terbentuk memberitahukan secara tertulis kepada kantor DEPNAKER setempat untuk dicatat.

6. Siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi atau tidak menjadi anggota dan atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/buruh.

(48)

2.1.3 Pengertian Pengusaha/Perusahaan

Istilah majikan juga sangat populer sebagaimana halnya dengan istilah buruh karena sebelum Undang-Undang nomor 13 Tahun 2003 menggunakan istilah majikan.Majikan adalah orang atau badan hukum yang mempekerjakan buruh. Istilah majikan juga kurang sesuai dengan konsep Hubungan Industrial Pancasila karena istilah majikan selalu berkonotasi sebagai pihak yang selalu berada diatas sebagai lawan dari pekerja/buruh, padahal antara buruh dan majikan secara yuridis merupakan mitra kerja yang mempunyai kedudukan yang sama. Karena itu lebih tepat dan sesuai bila disebut dengan istilah Pengusaha.

Perundang-undangan yang lahir kemudian seperti UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS Ketenagakerjaan, UU Nomor 25 Tahun 1997 tentang ketenagakerjaan menggunakan istilah Pengusaha. Dalam pasal 1 angka 5 UU no. 13 Tahun 2003 menjelaskan pengertian Pengusaha yakni:

1. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri.

2. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.

3. Orang pereorangan, perskutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, 2 yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

(49)

1. Segala bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak, milik orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk apapun.

2. Usaha-usaha sosial atau usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain (pasal 1 angka 6). (Husni,2007: 35-37).

2.1.4 Pengertian Peranan

Menurut Levinson sebagaimana dikutip oleh Soejono Soekamto, Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang apat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peran meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan sosial.

2.2 Teori Perubahan Sosial

Aguste Comte (1798-1857) dalam membahas teori perubahan sosial (social change theory) membagi dalam dua konsep penting, yaitu Social Statics (bangunan struktural) dan

Social Dynamics (dinamika struktural).Bangunan struktural merupakan hal-hal yang mapan,

(50)

dengan demikian bukanlah pembedaan yang menyangkut masalah faktual, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai masalah pembedaan teoritik.

Dinamika sosial merupakan hal-hal yang berubah dari suatu waktu ke waktu lain, yang dibahas adalah dinamika sosial dari struktur yang berubah dari waktu ke waktu. Dinamika sosial adalah daya gerak dari sejarah tersebut, yang setiap tahapan evolusi manusia mendorong kearah tercapainya keseimbangan baru yang tinggi dari suatu masa (generasi) kemasa berikutnya. Struktur dapat digambarkan sebagai Hierarchy masyarakat yang memuat pengelompokan masyarakat kedalam kelas-kelas tertentu (elite, middle, dan lower class).Sedangkan dinamika sosial adalah proses perubahan kelas-kelas masyarakat itu dari

suatu masa ke masa lain (Salim, 2002: 10).

Dinamika sosial yang paling menonjol pada masa August Comte adalah upaya mengganti gagasan-gagasan lama dengan konsep-konsep positif dan ilmiah yang merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan.Perubahan sosial ada pada dinamika struktural (social dynamic), yaitu perubahan pada dinamika atau isu perubahan sosial yang meliputi bagaimana kecepatannya, arahnya, bentuk, agennya, serta hambatan-hambatannya.

(51)

2.3.1 Teori Gerakan Sosial

Gerakan sosial (social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial

Teori pergerakan sosial dalam buku Robert Mirsel mendefenisikan Gerakan sosial sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tidak terlembaga (non institutionalised) yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi sebuah perubahan didalam sebuah masyarakat (Mirsel, 2006:6). Namun defenisi ini sendiri tidak luput dari kontroversi, tetapi tampaknya ada sebuah kesepakatan diantara para pakar sosiologi gerakan kemasyarakatan tentang hal tersebut.Sehingga dapat dipandang sebagai titik pangkal yang berguna bagi analisa selanjutnya.Keyakinan dan tindakan-tindakan yang tidak terlembaga mengandung arti bahwa mereka tidak diakui sebagai sesuatu yang berlaku dan diterima umum secara luas dan sah dalam sebuah msyarakat. Akan tetapi, diantara pengikut dan pendukung sebuah gerakan sosial, keyakinan ini didefenisikan secara positif, konsensus ini merupakan salah satu dari sejumlah karakteristik yang membuat sebuah gerakan sosial berbeda dari perilaku kriminal dan bentuk-bentuk kriminal lainnya.Gerakan Sosial ditandai dengan kondisi yang penuh kegelisahan karena perasaan ketidakpuasan terhadap kehidupan sehari-hari dan adanya keinginan serta harapan untuk dapat meraih tatanan kehidupan yang lebih baru dilakukan secara bersama-sama. Merupakan pernyataan dari Herbert George Blumer seorang sosiolog Amerika.

(52)

1 Kelompok yang teratur, terdapat pembagian kerja dan pembedaan hirarki hak serta tanggung jawab diantara para partisipan.

2 Banyak gerakan sosial yang keanggotaannya bersifat kecil, tetapi kemudian berkembang (memiliki potensi) menjadi besar untuk menambah jumlah keanggotaannya menjadi lebih besar.

3 Merupakan sarana yang tidak terlembaga untuk mencapai suatu tujuan. Dan dalam hal ini upaya pergerakan sosial cenderung menggunakan cara nonkonvensional agar suara mereka didengarkan dan menekan pihak yang berwenang untukmelakukan tujuan (perubahan).

4 Gerakan sosial tidak memiliki tujuan yang terbatas, dan bukan untuk kepentingan sekelompok orang tertentu dengan tujuan perbaikan pokok dalam masyarakat.

5 Bisa saja gerakan sosial timbul dari aksi kolektif yang tanpa perencanaan, tetapi bisa dari kebetulan semata-mata

2.3.1 Pendekatan melalui Teori Marxist dan Neo-Marxisme

.

Pada masyarakat ekonomi/industri gerakan sosial dan revolusi berasal dari kontradiksi struktural utama antara kapital dan buruh.Aktor-aktor utama dalam gerakan sosial kelas sosial yang saling bersiteru didefenisikan berdasarkan kontradiksi sistematik fundamental ini. Akan tetapi mereka juga dianggap sebagai aktor historis dan mereka pasti akan menyadari peran dan takdir sejarah mereka.

(53)

yang kontradiktif.Singkatnya, gerakan sosial adalah perjuangan kelas yang lahir karena

adanya kesadaran kelas

Marx akhirnya melahirkan suatu tanggapan bahwa faktor buruh merupakan penentu exchange value.Itulah yang merupakan dasar dari The Labour theory of Value.Penemuan

Marx tentang nilai adalah bagaimana menggunakan buruh sebagai alat untuk menetapkan ratio exchange, yaitu buruh menjadi alat untuk mengukur nilai suatu komoditi (Fakih, 2002:

10). Selanjutnya marx menganalisis ‘commodity labour power’-nya sendiri, baginya komoditi mempunyai dua aspek, yakni aspek kegunaannya dan bisa diperdagangkan (exchangeability). Tapi Marx menemukan kandungan Labour Power didalamnya yang membuat komoditi mengandung use value yang menghasilkan surplus. Use value terdapat dalam produk kapitalis yang diproduksi oleh buruh. Salaah satu syarat menjual ‘tenaga kerja’ sebagai komoditi adalah, buruh tak ada hak untuk mengklaim produk yang diciptakannya.Maka mobil yang dihasilkan pabrik menjadi milik pabrik yang memiliki ‘budak’ yakni buruh dan manajemen.Marx menemukan rahasia utama kapitalisme bahwa profit sudah diperoleh sebelum produk dilempar ke pasar, yakni profit bukan diperoleh dari perdagangan, tetapi sebelum komoditi dijual, yakni ketika produksi. Sumber profit itu dicuri dari surplus value yakni perbedaan nilai anatara tenaga kerja yang dijual buruh, dan nilai produk pada waktu akhir produksi. ‘Appropriation of Surplus Value’ atau penghisapan surplus value dari buruh oleh struktur kapitalisme melalui pemilik modal itulah yang disebut sebagai eksploitasi (Fakih, 2002: 10).

(54)

buruh tidak memperoleh upah yang sama dengan nilai barang/jasa yang diproduksi. Dengan demikian, pemilik modal selalu dapat mengakumulasi lebih banyak modal (Gombert: 23).

2.3.2 Teori Fungsionalisme Struktural

Fungsionalisme struktural adalah salah satu paham atau perspektif didalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain. Perubahan yang terjadi pada salah satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan perubahan pada bagian lain. Perkembangan fungsionalisme didasarkan atas model perkembangan sistem organisme yang didapat dalam biologi (Theodorson dalam Raho, 2007: 48). Asumsi dasar teori ini adalah bahwa semua elemenatau unsur kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Elemen-elemen masyarakat antara lain adalah ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, keluarga, kebudayaan, adat-istiadat, dan lain-lain. Masyarakat normal akan berjalan normal kalau masing-masing elemen atau institusi menjalankan fungsinya dengan baik. Kemacetan salah satu institusi akan menyebabkan kemacetan pada institusi lain dan pada gilirannya akan menciptakan kemacetan pada masyarakat secara keseluruhan (Raho, 2007: 49).

Pokok persoalan untuk para pendukung teori ini adalah bagaimana masyarakat memotivasi dan menempatkan orang-orang kedalam posisi-posisi yang tepat didalam sistem stratifikasi. Disini ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni:

1. Bagaimana masyarakat membangkitkan didalam individu-individu yang tertentu keinginannya untuk menduduki posisi tertentu.

(55)

persyaratan-persyaratan yang dituntut oleh posisi itu atau bagaimana ia menjalankan tugas-tugas sesuai dengan posisinya itu (Raho, 2007: 49-50).

2.3.3 Teori Konflik

Teori konflik adalah suatu perspektif didalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

Pada dasarnya pandangan teori konflik tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori fungsionalisme struktural karena keduanya sama-sama memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian.Perbedaan antara keduanya terletak pada asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu.Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Sedangkan bagi teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya (Raho, 2007: 71-72).

Menurut Karl Marx, hakekat kenyataan sosial adalah konflik. Konflik adalah satu kenyataan sosial yang bisa ditemukan dimana-mana. Bagi Marx, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai. Jenis dari konflik sosial ini bisa bermacam-macam yakni konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa (Raho, 2007: 73). Dalam proses produksi kaum kapitalis (pemilik modal) dan kaum ploretariat (buruh) terlibat dalam konflik yang tak terelakkan.

(56)

mendapatkan upah yang sebesar-besarnya. Oleh karena keuntungan dan upah berasal dari sumber yang sama maka konflik menjadi tidak terhindarkan.

Satu-satunya cara yang ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang tidak adil itu ialah dengan melakukan revolusi. Tetapi revolusi itu bisa terjadi kalau ada dua hal.Pertama, kaum proletariat (buruh) harus menyadari diri sebagai orang-orang yang tertindas.Kesadaran menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan (konsientisasi).Kedua, mereka harus mengelompokkan diri dalam suatu wadah yakni organisasi buruh.Secara individual, buruh sulit untuk memperjuangkan perbaikan nasibnya.Tetapi lewat organisasi mereka bisa memperjuangkan tuntutannya.Marx menyadari betapa sulitnya tingkat kesadaran yang diinginkan. Tetapi pada suatu waktu, dengan penyebaran informasi yang terus-menerus (propaganda), mereka akan menyadari bahwa merekalah yang menentukan masa depan mereka sendiri (Raho, 2007: 77).

Jonathan Turner berusaha merumuskan kembali teori konflik. Dia mengatakan konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih. Dia menjelaskan sembilan tahap menuju konflik terbuka:

a. Sistem sosial terdiri dari unit-unit atau kelompok yang saling berhubungan satu sama lain.

b. Didalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan.

(57)

d. Pertanyaan atas legitimasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah sistem alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka.

e. Kesadaran itu menyebabkan mereka secara emosional terpancing untuk marah. f. Kemarahan tersebut seringkali meledak begitu saja atas cara yang tidak

terorganisir.

g. Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang.

h. Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.

i. Akhirnya kelompok terbuka bisa terjadi antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa. Tingkatan kekerasan didalam konflik itu sangat tergantung pada kemampuan masing-masing pihak untuk menangani, mengatur, dan mengontrol konflik tersebut

2.4 Kesejahteraan Sosial

2.4.1 Pengertian kesejahteraan sosial

Sampai saat ini belum ada sebuah batasan kesejahteraan sosial yang dapat diterima secara umum. Hal ini nampaknya sudah menjadi fitrah dari ilmu sosial apa saja, termasuk ilmu kesejahteraan sosial. Para cendekiawan ilmu kesejahteraan sosial atau praktisi pekerjaan sosial merumuskan batasannya sendiri-sendiri sehingga terdapatlah beraneka ragam defenisi.

(58)

Sosial”.Midgley (dalam Suud, 2006: 5) menjelaskan bahwa suatu keadaan sejahtera secara sosial tersusun dari tiga unsur sebagai berikut. Pertama, setinggi apa masalah-masalah sosial dikendalikan, kedua, seluas apa kebutuhan-kebutuhan dipenuhi dan ketiga, setinggi apa kesempatan-kesempatan untuk maju tersedia. Tiga unsur ini berlaku bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas dan bahwa seluruh masyarakat.

Perserikat Bangsa-bangsa (PBB), sebagai lembaga yang lebih bersifat praktis dari pada akademis, mengemukakan pada tahun 1959 bahwa kesejahteraan sosial adalah suatu kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan membantu penyesuaian timbalbalik antara individu-individu dengan lingkungan sosial mereka. Tujuan ini dicapai secara seksama melalui teknik-teknik dan metode-metode dengan maksud agar supaya memungkinkan individu-individu, kelompok-kelompok maupun komunitas memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan memecahkan masalah-masalah penyesuaian diri mereka terhadap perubahan pola-pola masyarakat, serta melalui tindakan kerja sama untuk memperbaiki kondisi-kondisi ekonomi sosial (Suud, 2006: 6-7).

Dalam konteks kesejahteraan sosial Khan (dalam Suud, 2006: 10-11) merumuskan pelayanan sosial sebagai: program-program yang disediakan oleh selain kriteria pasar untuk menjamin pemenuhan suatu tingkat kebutuhan dasar seperti kesejahteraan, pendidikan, kesejahteraan, untuk meningkatkan kehidupan komunal dan keberfungsian sosial, untuk memfasilitasi akses terhadap pelayanan-pelayanan lembaga-lembaga pada umumnya, dan untuk membantu mereka dalam kesulitan dan pemenuhan kebutuhan.

(59)

Orientasi ilmu kesejahteraan sosial, yaitu suatu arah kerja kemana perkembangan sedang terjadi.Menurut T.Sumarnonugroho (dalam Suud, 2006: 23-24) paling tidak ada tiga orientasi ilmu kesejahteraan sosial yang dalam prakteknya dapat terjadi pertautan antar ketiganya. Masing-masing adalah:

1. Orientasi akademik, mengemban tugas memprediksikan dan memecahkan masalah secara teoritis. Ilmu kesejahteraan sosial diharapkan menunjukan kompetensinya membina teori-teori, baik dalam mengembangkan meta teori (pembinaan dan pengembangan teori tentang teori dan hipotesa teori) mapun teori praktek (penciptaan model-model pemecahan masalah).

2. Orientasi klinis, mengemban tugas mengarahkan tinjauan teoritik dan prediksi ilmu pada sistem klien, mencakup kegiatan diagnosa klien dan keterlibatan terhadap pemecahan masalah. Sejak awal perkembangan ilmu kesejahteraan sosial dan profesi pekerjaan sosial mengedepankan orientasi ini.

(60)

2.4 Kerangka Pemikiran

Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) melaksanakan suatu peranan yang sangat penting dalam menyelesaikan masalah-masalah buruh dan memperjuangkan hak-hak normatif buruh di PT Asia Karet yang disebabkan oleh ketidakadilan dari sebuah sistem kapitalisme dan neoliberalisme.SBSU juga memberikan kesadaran kolektif bagi kaum buruh dalam melakukan suatu perjuangan yang berorientasi pada kesejahteraan dan kedaulatan kaum buruh. Berbagai metode organisasi dilakukan oleh Solidaritas Buruh Sumatera Utara (SBSU) dalam mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial, bukan hanya sekedar membangun sebuah wacana perjuangan terhadap kelas buruh tetapi melakukan sebuah tindakan yang strategis agar tercapainya cita-cita buruh,

Referensi

Dokumen terkait

Bahkan, usaha kuliner yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini, menghidupkan suasana malam di sekitar Universitas Sumatera Utara, Medan.Oleh karena itu, observasi ini

Permasalahan dalam skiripsi ini adalah di Desa Panyabungan Tonga ada beberapa agen tanah yang melakukan penjualan tanah yang kepemilikannya belum sempurna, karena agen

Namun, di beberapa aspek hukum dalam prakteknya terdapat hal-hal yang tidak adil yang disebabkan karena antara warga negara yang satu dan warga negara yang lain

Konsep perlawanan yang dilakukan oleh SBMI tersebut juga adalah sebuah dinamika yang terjadi dalam sebagian besar kalangan buruh, bahwa semakin banyak pihak buruh yang tidak

Buku ini sangat membantu penulis dalam melakukan penelitian mengenai kondisi kesehatan para buruh perkebunan hingga dibangun rumah-rumah sakit di beberapa perkebunan

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan fungsi advokasi DPD Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992 (DPD SBSI 1992) dalam memperjuangkan hak-hak

Penelitian ini menggunakan teori konflik menurut Lewis Coser dalam melihat konflik realistis yang dialami oleh buruh dan teori katup penyelamat dalam melihat SBSI

SBSI 1992 merupakan organisasi yang dibentuk oleh Muchtar Pakpahan karena organisasi buruh pada saat itu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dinilai