• Tidak ada hasil yang ditemukan

UAS PENGANTAR MANAJEMEN TRANSPORTASI LOGISTIK SP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "UAS PENGANTAR MANAJEMEN TRANSPORTASI LOGISTIK SP"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

P-1

P-1

(

(

DEFINISI, HUBUNGAN MANAJEMEN TRASPORTASI DAN

DEFINISI, HUBUNGAN MANAJEMEN TRASPORTASI DAN

LOGISTIK, SEJARAH TRANSPORTASI

LOGISTIK, SEJARAH TRANSPORTASI

)

)

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

(2)

PENDAHULUAN

Manajemen Transportasi Logistik

sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. (Ricky W. Griffin)

Dimana fungsinya : Plan – Do – Check - Act

perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah sarana dan prasarana.

Permintaan Transportasi merupakan derived demand

(3)
(4)
(5)
(6)

PENDEKATAN SISTEM MANAJEMEN

Keberhasilan pengelolaan dalam organisasi didukung salah satunya oleh

sumber daya manusia dan sumber daya lainnya atau disebut unsur-unsur

(7)

TRANSPORTASI & LOGISTIK

Customer Service Goal

Transport Strategy - Modes of transport

- Carrier routing/scheduling - Shipment size/consolidation

Location Strategy

- Number, Size, and Location of Facilities

- Assignment of stocking points to sourcing points

- Assigment of demand to stocking points or sourcing points - Private/public warehousing

Inventory Strategy - Inventory Levels

- Deployment of Inventory - Control methods

Gambar : The Triangle of Logistics Decision Making

(Sumber : Ronald H. Ballou, Business Logistics Management 1999)

Keputusan dalam strategi transportasi dapat melibatkan pemilihan sarana, ukuran pengiriman, penentuan rute dan penjadwalan

Dalam sistem logistik, transportasi merupakan salah satu aktifitas yang mempengaruhi kepuasan pelanggan dan biaya. Pada banyak perusahaan, transportasi menghasilkan biaya tertinggi dalam sistem logistik, yaitu sepertiga sampai dua-per-tiga dari total biaya logistik. Oleh

karena itu dibutuhkan suatu perencanaan logistik. Perencanaan logistik menangani empat bidang masalah utama, yaitu : tingkat layanan pelanggan, lokasi fasilitas, keputusan

(8)
(9)

SEJARAH

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN

(10)

SEJARAH

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN

Tahun Temuan

3500 SM Penemuan roda, sebagai cikal bakal transportasi modern 3500 SM Kapal pertama sekali dikembangkan

2000 SM Kuda digunakan oleh manusia untuk transportasi 770 Sepatu kuda digunakan untuk pertama sekali

1492 Leonardo Da Vinci membuat lebih dari 100 gambar rancangan pesawat terbang 1620 Cornelis Drebbel membuat kapal selam pertama

1662 Blaise Pascal menciptakan bus angkutan umum pertama yang ditarik kuda melayanai trayek tetap, berjadwal dan penerapan sistem tarif

1769 Mobil pertama yang digerakkan dengan mesin uap

1783 Kapal uap praktis pertama dikembangkan oleh Marquis Claude Francois de Jouffroy d'Abbans - yang menggunakan roda kayuh 1790 Sepeda pertama sekali ditemukan dan digunakan

• Transportasi diawali dengan penemuan roda pada sekitar 3500 tahun sebelum masehi yang digunakan untuk mempermudah memindahkan suatu barang. Pada tabelberikut ditunjukkan perkembangan didalam transportasi dari jaman ke jaman.

(11)

SEJARAH

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN

Tahun Temuan

1801 Lokomotif uap pertama yang ditemukan oleh Richard Trevithick yang kemudian disempurnakan oleh George Stephensen

1858 Jean Lenoir mengembangkan mobil pertama yang digerakkan dengan mesin dengan pembakaran dalam 1867 Sepedamotor pertama yang digerakkan dengan bahan bakar

1879 Werner von Siemens merancang dan mengembangkan kereta api listrik yang pertama 1885 Bens membuat kendaraan produksi pertama

1899 Ferdinan von Zeppelin menerbangkan pesawat balon udara pertama

1903 Orville and Wilbur Wright. pada tanggal 17 Desember 1903, Wright bersaudara membuat penerbangan pertama 1908 Henry Ford menerapkan sistem produksi ban berjalan untuk pembuatan mobil secara massal

1926 Roket berbahan bakar cair pertama diluncurkan

1932 Pemerintah Jerman membangun Autobahn/Jalan Bebas Hambatan pertama

1939 Pesawat terbang jet pertama Jerman diterbangkan atas dasar desain turbin yang dibuat Hans von Ohain ditahun 1936 1942 Helicopter yang didisain dan di produksi oleh Igor Sikorsky

1947 Pesawat supersonik pertama dterbangkan

(12)

SEJARAH

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN

Kemajuan Transportasi/Pengangkutan

Sebagai akibat kebutuhan manusia untuk berpergian ke lokasi atau

tempat lain guna mencari barang yang dibutuhkan atau melakukan

(13)

PERKEMBANGAN

(14)

PERKEMBANGAN

(15)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

P-P-

2

2

(

(

DEFINISI, HUBUNGAN MANAJEMEN TRASPORTASI DAN

DEFINISI, HUBUNGAN MANAJEMEN TRASPORTASI DAN

LOGISTIK, SEJARAH TRANSPORTASI

LOGISTIK, SEJARAH TRANSPORTASI

)

)

(16)

FUNGSI DAN MANFAAT

(17)

FUNGSI DAN MANFAAT

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN

(18)

PERANAN

(19)

PERANAN

(20)

PERANAN

(21)

FUNGSI

(22)

JENIS-JENIS

(23)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

P-P-

3 DAN 4

3 DAN 4

(

(

TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI

TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI

)

)

(LOKASI INDUSTRI

(LOKASI INDUSTRI

)

)

(24)
(25)

Dalam kaidah manufaktur atau industri terdapat 3 variabel biaya yang sering digunakan untuk memaksimalkan manfaat atau keuntungan perusahaan atau industri yaitu:

(26)

Industri juga dapat digolongkan berdasarkan pemilihan lokasi industri yaitu sebagai berikut:

(27)

Suatu kegiatan yang produktif akan memilih lokasi yang dapat memperoleh input secara efisien. Input tersebut tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga berbentuk jasa, seperti jasa prasarana dan sarana, institusi pendukung, maupun kualitas sumberdaya manusia (Maryunani, 2003).

FAKTOR- FAKTOR PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(28)

FAKTOR- FAKTOR PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(29)

FAKTOR- FAKTOR PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(30)

FAKTOR- FAKTOR PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(31)

FAKTOR- FAKTOR PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

Pertimbangan utama dalam menentukan alternatif lokasi industri yaitu ditekankan pada biaya transportasi yang rendah. Pada prinsipnya beberapa teori lokasi tersebut untuk memberikan masukan bagi penentuan lokasi optimum, yaitu lokasi yang terbaik dan menguntungkan secara ekonomi. Berikut ini merupakan teori-teori yang

(32)

THEORY OF INDUSTRIAL LOCATION (TEORI LOKASI

INDUSTRI) DARI ALFRED WEBER

Teori ini dimaksudkan untuk menentukan suatu lokasi industri dengan mempertimbangkan risiko biaya atau ongkos yang paling minimum, dengan asumsi sebagai berikut:

(33)

THEORY OF INDUSTRIAL LOCATION (TEORI LOKASI

INDUSTRI) DARI ALFRED WEBER

(a) : apabila biaya angkut hanya didasarkan pada jarak.

(34)

Lemon Water adalah suatu produk minuman ringan yang saat ini sangat digemari masyarakat. Untuk membuat 1 botol (1Liter) lemon water

dibutuhkan 1 Liter Air & 0,25 Kg Buah Lemon

Diketahui ada seorang investor yang akan membangun sebuah pabrik produk minuman ringan (Lemon Water), dan terdapat beberapa pilihan alternatif

lokasi antara lain : di pusat kota Thirsty Town, Lemon Field, Mountain Spring, ataupun di pinggiran kota (titik x dan y). Rencana kapasitas produksi

sebanyak 1.000 botol/hari, dengan kebutuhan tenaga kerja 50 orang.

Thirsty Town yaitu lokasi dimana market penjualan produk minuman (Lemon Water) berada. Adapun permintaan konsumen di Thirsty Town sebesar 1.000 botol per-hari. Selain menjadi market penjualan produk minuman (Orange Water), Thirsty Town merupakan tempat pemukiman tenaga kerja.

Lemon Field yaitu lokasi dimana tersedia buah lemon, yaitu bahan baku produk minuman (Lemon Water), disana tersedia persediaan bahan baku

(buah lemon) yang melimpah karena merupakan ladang tanaman buah lemon.

Mountain Spring yaitu lokasi dimana tersedia dengan sangat melimpah bahan baku air yang digunakan untuk membuat minuman (Lemon Water).

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(35)

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(36)

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(THEORY OF INDUSTRIAL LOCATION (TEORI LOKASI INDUSTRI) DARI ALFRED WEBER )

Kereta Api (Rel KA/Y) Truk (Jalan Raya/X)

Buah Lemon Rp. 300 per Kg/Km Rp. 400 per Kg/Km

Air Rp. 100 per L/Km Rp. 200 per L/km

Produk (Orange Water) Rp. 350 per Botol/Km Rp. 450 per Botol/Km

(37)

Moda transportasi yang dapat digunakan adalah Kereta api atau

Truk ( dipilih salah satu ). Dengan biaya transportasi sebagai

berikut :

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(THEORY OF INDUSTRIAL LOCATION (TEORI LOKASI INDUSTRI) DARI ALFRED WEBER )

Kereta Api (Rel KA/Y) Truk (Jalan Raya/X)

Buah Lemon Rp. 300 per Kg/Km Rp. 400 per Kg/Km

Air Rp. 100 per L/Km Rp. 200 per L/km

Produk (Orange Water) Rp. 350 per Botol/Km Rp. 450 per Botol/Km

Tenaga Kerja Rp. 350 per Orang/ Km Rp. 450 per Orang/ Km

Dimanakah sebaiknya lokasi pabrik harus dibangun dan berapa biaya

transportasi yang harus dikeluarkan setiap hari, dengan

mempertimbangan biaya transportasi terendah menggunakan teori

weber “Least Cost Theory” ?

(38)

Perhitungan :

Dalam 1 hari (Produksi 1000 Botol ), bahan baku yang dibutuhkan untuk

produksi adalah :

Air = 1000 x 1 L = 1000 L

Lemon = 1000 x 0,25 Kg = 250 Kg

Biaya Transportasi yang dikeluarkan perusahaan per hari bila Lokasi Pabrik

di Kota Z :

Biaya Transportasi ( Z ) = (Kebutuhan Air/hari

x

Biaya transportasi air

x

Jarak dari kota Sumber Air ke kota Z )

+

(Kebutuhan Lemon/hari

x

Biaya

transportasi lemon

x

Jarak dari kota Sumber Lemon ke kota Z )

+

(Kebutuhan Tenaga Kerja/hari

x

Biaya transportasi tenaga kerja

x

Jarak dari

kota Sumber tenaga kerja ke kota Z ) + (Total Produk didistribusikan/hari

x

Biaya transportasi produk

x

Jarak dari kota Z ke kota tujuan distribusi)

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(39)

Dengan menggunakan transportasi darat (truck)

Biaya Transportasi yang dikeluarkan perusahaan per hari bila Lokasi

Pabrik di Kota Thirsty Town :

Biaya Transportasi (Thirsty Town ) = (1000

x

Rp.200

x

5)

+

(250

x

Rp.400

x

5)

+

(50

x

Rp.450

x

0) + (1000

x

Rp.450

x

0)

= Rp.1.000.000 + Rp.500.000 + Rp.0 + Rp.0

= Rp. 1.500.000

Dengan menggunakan transportasi Kereta Api

Biaya Transportasi yang dikeluarkan perusahaan per hari bila Lokasi

Pabrik di Kota Thirsty Town :

Biaya Transportasi (Thirsty Town ) = (1000

x

Rp.100

x

6)

+

(250

x

Rp.300

x

7)

+

(50

x

Rp.350

x

0) + (1000

x

Rp.350

x

0)

= Rp.600.000 + Rp.525.000 + Rp.0 + Rp.0

= Rp. 1.125.000

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(40)

CONTOH KASUS

TEORI PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI

(THEORY OF INDUSTRIAL LOCATION (TEORI LOKASI INDUSTRI) DARI ALFRED WEBER )

Lokasi Total Biaya

Thirsty Town Rp1.125.000 Lemon Field Rp3.272.500 Mountai Spring Rp2.730.000 Y1 Rp1.317.500

Lokasi Total Biaya

Thirsty Town Rp1.500.000 Lemon Field Rp3.362.500 Mountai Spring Rp2.862.500 X1 Rp2.072.500 X10 Rp2.245.000 X11 Rp2.517.500 X12 Rp2.690.000

Dengan menggunakan transportasi Kereta Api

Dengan menggunakan transportasi Darat (Truck)

(41)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

P-P-

5,6,7

5,6,7

(TRANSPORTASI MAKRO

(TRANSPORTASI MAKRO

)

)

(42)
(43)
(44)

TRANSPORTASI/PERANGKUTAN

“Terciptanya suatu

sistem

transportasi/pergeraka

n yang aman, efisien,

efektif, nyaman,

murah, dan sesuai

lingkungan (termasuk

safety)”

Bergerak

(45)

SISTEM TRANSPORTASI MAKRO

SISTEM KEGIATAN

SISTEM PERGERAKAN

SISTEM JARINGAN

(46)

SISTEM TRANSPORTASI MAKRO

Sistem Kegiatan:

Mengatur tata ruang/tata guna lahan disuatu wilayah (Nasional,

Propinsi, Kabupaten/Kota).

Sistem Pergerakan:

Pergerakan akan timbul dengan adanya penataan ruang untuk

kegiatan-kegiatan tertentu.

Sistem Jaringan:

Digunakan sebagai prasarana penghubung atau fasilitas

pergerakan.

Sistem Lembaga:

Digunakan untuk mengelola semua keterkaitan antar sistem

(47)

SISTEM KELEMBAGAAN

SISTEM KEGIATAN SISTEM KEGIATAN LEVEL

(48)
(49)

PERENCANAAN TRANSPORTASI

Suatu proses yang tujuannya mengembangkan sistem

transportasi yang memungkinkan manusia dan barang

bergerak atau berpindah tempat dengan aman dan murah

(50)

WILAYAH PERENCANAAN

WILAYAH PERENCANAAN

PAST

NOW

FUTURE

SHORT

MIDDLE

LONG

(51)

AKSESIBILITAS

Kemudahan suatu tempat untuk dicapai

(Semakin tinggi aksesibilitas maka semakin mudah daerah itu

dicapai)

Ke-3 = Rp.40.000

Diketahui: Ke-1 = 60 km

Ke-2 = 50' Ke-3 = Rp.8.000

Diketahui: Ke-1 = 20 km

Ke-2 = 60' Ke-3 = Rp.10.000

Diketahui: Ke-1 (l) = Jarak

(52)

EKONOMI & TRANSPORTASI

Negara

berkembang:

produk akan

terbebani biaya

untuk

transportasi

sebesar

30–

40%

, dari harga

barang.

Negara maju:

biaya

transportasi

berkisar antara

10%

.

Bahan baku, Pemasaran

30 - 40 %

(53)

MOBILITAS

Kemudahan seseorang untuk bergerak.

Tidak ada gunanya Aksesibilitas yang terlalu tinggi apabila

(54)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(PERMINTAAN ATAS JASA TRANSPORTASI)

KARAKTERISTIK DASAR DARI DEMAND TRANSPORT

A. BAHWA DEMAND TRANSPORTASI ADALAH DERIVED DEMAND ARTINYA: PERMINTAAN TERHADAP TRANSPORTASI ADALAH PERMINTAAN

TURUNAN (TIDAK LANGSUNG); SEBELUM MUNCUL PERMINTAAN TERHADAP TRANSPORTASI HARUS ADA PERMINTAAN TERHADAP SESUATU YANG MENDAHULUINYA

B. BAHWA JASA TRANSPORTASI TIDAK DAPAT DISIMPAN, ARTINYA ORANG MEMBELI JASA TRANSPORTASI PADA SAAT IA MEMBUTUHKANNYA, JIKA KEGIATAN PRODUKSI HARUS DILAKUKAN BERSAMAAN DENGAN

AKTIVITAS KONSUMSINYA.

(55)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(MODEL PERMINTAAN)

Tidak hanya tergantung pada ongkos dan jenis alat angkutnya, tetapi

(56)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(MODEL PERJALANAN)

Ada 2:

1. Untuk perjalanan luar kota

(57)

JENIS PERGERAKAN

Eksternal ke/dari Internal

Intra Zona

Eksternal ke Eksternal

Eksternal ke/dari Internal

Intra Zona

(58)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

Oleh Gerald Kraft (Sistem Analisis Research Corp)

Yi: untuk memperkirakan jumlah pejalan per tahun untuk setiap moda perjalanan.

(59)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

Model kebutuhan berurutan

RAMALAN

TATA GUNA LAHAN

PEMBANGKIT PERJALANAN

DISTRIBUSI PERJALANAN

PEMILIHAN MODA

(60)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

RAMALAN TATA GUNA LAHAN

RAMALAN TATA GUNA LAHAN

SECARA IDEAL PARA PERENCANA DAN INSINYUR TRANSPORTASI

INGIN MEMBERIKAN PERKIRAAN TERHADAP POLA KEGIATAN MANUSIA DI DALAM DAERAH PERKOTAAN UNTUK MASA-MASA MENDATANG,

TERUTAMA PADA TAHUN TERTENTU YANG HENDAK DIRAMALKAN a)INTENSITAS PENGEMBANGAN LAHAN AKAN BERKURANG APABILA MAKIN JAUH DARI PUSAT KOTA.

b)KERAPATAN LAHAN YANG SUDAH TERPAKAI AKAN BERKURANG APABILA MAKIN JAUH DARI PUSAT KOTA.

c)PROPORSI LAHAN YANG DISEDIAKAN UNTUK BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN AKAN SELALU STABIL.

(61)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

(TRIPS GENERATION)

(TRIPS GENERATION)

MODEL INI

MODEL INI DIGUNAKAN UNTUK MEMPERKIRAKAN JUMLAH DIGUNAKAN UNTUK MEMPERKIRAKAN JUMLAH

PERJALANAN DARI SETIAP ZONA DALAM JUMLAH PERJALANAN YANG PERJALANAN DARI SETIAP ZONA DALAM JUMLAH PERJALANAN YANG AKAN BERAKHIR DI SETIAP ZONA UNTUK SETIAP MAKSUD

AKAN BERAKHIR DI SETIAP ZONA UNTUK SETIAP MAKSUD PERJALANAN.

PERJALANAN.

MODEL INI BERDASARKAN: MODEL INI BERDASARKAN: 1.

1.KARAKTERISTIK TATA GUNA LAHANKARAKTERISTIK TATA GUNA LAHAN 2.

(62)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

(TRIPS GENERATION)

(TRIPS GENERATION)

TERDAPAT 2 MAKSUD PERJALANAN : TERDAPAT 2 MAKSUD PERJALANAN :

1.PERJALANAN BERDASARKAN RUMAH (HOME BASE TRIP) DIMANA TEMPAT ASAL DAN TUJUAN PERJALANAN ADALAH DARI ATAU MENUJU RUMAH

2.ZONA TARIKAN (ATTRACTION ZONA)

(63)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

MODEL PEMBANGKIT PERJALANAN

(TRIPS GENERATION)

(TRIPS GENERATION)

TERDAPAT 2 MAKSUD PERJALANAN : TERDAPAT 2 MAKSUD PERJALANAN :

1.PERJALANAN BERDASARKAN RUMAH (HOME BASE TRIP) DIMANA TEMPAT ASAL DAN TUJUAN PERJALANAN ADALAH DARI ATAU MENUJU RUMAH

2.ZONA TARIKAN (ATTRACTION ZONA)

ZONA PRODUCTION (PRODUCTION ZONA)

KE

TRIP ATTRACTION DARI

(64)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

METODE UTK MEMPERKIRAKAN PEMBANGKIT

PERJALANAN

1.ANALISIS KLASIFIKASI SILANG/ANALISIS KATEGORI

2.ANALISIS REGRESI

AD 1: ANALISIS KLASIFIKASI SILANG

ADALAH UNTUK MEMPREDIKSI 2 TRIP RATE DENGAN MELIHAT KATEGORI. DASAR PENGKATEGORIAN ADALAH : KARAKTERISTIK POKOK YANG MEMPUNYAI RELEVANSI DENGAN JUMLAH TRIP YANG TERGENERATE.

AD 2: ADALAH MENGKORELASIKAN VARIABEL DEPENDENT DAN

INDEPENDENT

Y = axi + bx2 + cx3 + dx4

(65)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

Y == JUMLAH PERJALANAN UNTUK MAKSUD TERTENTU YANG JUMLAH PERJALANAN UNTUK MAKSUD TERTENTU YANG DIBANGKITKAN PADA ZONA I

DIBANGKITKAN PADA ZONA I

HI

HI == JUMLAH RT DI ZONA IJUMLAH RT DI ZONA I

CI

CI == JUMLAH MOBIL YANG DIPUNYAI SELURUH RT DI ZONAJUMLAH MOBIL YANG DIPUNYAI SELURUH RT DI ZONA

WI

(66)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

DISTRIBUSI PERJALANAN (TRAFFIC DISTRIBUTION)

DISTRIBUSI PERJALANAN (TRAFFIC DISTRIBUTION)

TUJUAN UTAMA DISTRIBUSI PERJALANAN ADALAH

MENDISTRIBUSIKAN ATAU MENGALOKASIKAN JUMLAH PERJALANAN YANG BERASAL DARI SETIAP ZONA DAN DI ANTARA SELURUH ZONA TUJUAN YANG MEMUNGKINKAN.

TAHAPAN PERAMALAN LL INI DIBENTUK LANGSUNG DARI HASIL

PEMBANGKIT PERJALANAN

MODEL YANG DIPAKAI UNTUK MERAMALKAN DISTRIBUSI

PERJALANAN

dj

Oi

Berapa banyak

(67)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

PEMILIHAN MODA (MODA CHOICE)

PEMILIHAN MODA (MODA CHOICE)

APABILA JUMLAH PERJALANAN TOTAL DARI MASING-MASING APABILA JUMLAH PERJALANAN TOTAL DARI MASING-MASING TEMPAT ASAL KE SETIAP TEMPAT TUJUAN TELAH DIPERKIRAKAN TEMPAT ASAL KE SETIAP TEMPAT TUJUAN TELAH DIPERKIRAKAN UNTUK SETIAP MAKSUD PERJALANAN, LANGKAH SELANJUTNYA UNTUK SETIAP MAKSUD PERJALANAN, LANGKAH SELANJUTNYA ADALAH MEMPERKIRAKAN JUMLAH PENUMPANG YANG AKAN ADALAH MEMPERKIRAKAN JUMLAH PENUMPANG YANG AKAN MENGGUNAKAN SETIAP MODA YANG TERSEDIA

MENGGUNAKAN SETIAP MODA YANG TERSEDIA

PEMILIHAN MODA DIHIPOTESISKAN AKAN TERGANTUNG DARI PEMILIHAN MODA DIHIPOTESISKAN AKAN TERGANTUNG DARI KARAKTERISTIK MODA YANG MENCERMINKAN BIAYA YANG

KARAKTERISTIK MODA YANG MENCERMINKAN BIAYA YANG DISAMARATAKAN DALAM MENGGUNAKAN MODA TERSEBUT. DISAMARATAKAN DALAM MENGGUNAKAN MODA TERSEBUT.

dj

Oi

(68)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

DIAGRAM KEPUTUSAN

DIAGRAM KEPUTUSAN

PEMILIHAN MODA (MODA CHOICE)

PEMILIHAN MODA (MODA CHOICE)

(69)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

PENENTUAN LALU LINTAS (TRAFFIC ASSIGNMENT)

PENENTUAN LALU LINTAS (TRAFFIC ASSIGNMENT)

TAHAP TERAKHIR DARI ESTIMASI PERMINTAAN JUMLAH PERJALANAN ADALAH PENENTUAN PERJALANAN YANG AKAN DIBUAT DI ANTARA SETIAP PASANG

ZONA, DENGAN MODA TERTENTU, PADA RUTE TERTENTU DI DALAM JARINGAN LALU LINTAS YANG ADA.

INI TERUTAMA MERUPAKAN SUATU PERSOALAN PADA MODA UNTUK JALAN INI TERUTAMA MERUPAKAN SUATU PERSOALAN PADA MODA UNTUK JALAN RAYA DI MANA BIASANYA TERDAPAT BANYAK RUTE YANG DAPAT DITEMPUH

RAYA DI MANA BIASANYA TERDAPAT BANYAK RUTE YANG DAPAT DITEMPUH

OLEH SESEORANG YANG MENGADAKAN PERJALANAN.

OLEH SESEORANG YANG MENGADAKAN PERJALANAN.

PJ JARINGAN ANGKUTAN BIASANYA JUMLAH RUTE ALTERNATIF LEBIH PJ JARINGAN ANGKUTAN BIASANYA JUMLAH RUTE ALTERNATIF LEBIH

SEDIKIT, BAHKAN PADA BANYAK KASUS HANYA TERDAPAT SATU JALUR GERAK

SEDIKIT, BAHKAN PADA BANYAK KASUS HANYA TERDAPAT SATU JALUR GERAK

SAJA YANG MENGHUBUNGKAN DUA ZONA

SAJA YANG MENGHUBUNGKAN DUA ZONA

KOPO

(70)

KEBUTUHAN TRANSPORTASI

(

MODEL KRAFT : SARC

)

ASUMSI YANG BIASA DIAMBIL DALAM PENENTUAN PERJALANAN ADALAH BAHWA PERJALANAN AKAN MEMILIH JALUR GERAK DENGAN WAKTU TEMPUH YANG MINIMUM (T)

PUNCAK KESIBUKAN LALU LINTAS PERKOTAAN

PUNCAK KESIBUKAN LALU LINTAS PERKOTAAN

SALAH SATU HAL PENTING PADA LALU LINTAS PERKOTAAN ADALAH

TERDAPATNYA VARIASI VOLUME YANG BESAR, ENTAH KITA MELIHATNYA SEPANJANG SATU HARI ATAU HARI-HARI DALAM SATU MINGGU.

(71)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(72)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(

(KRITERIA KINERJA TRANSPORTASI

KRITERIA KINERJA TRANSPORTASI

)

)

(73)

KRITERIA KINERJA TRANSPORTASI

Untuk mengukur tingkat keberhasilan operasi transportasi ada beberapa

parameter/indikator yang bisa di ukur secara kualitatif maupun

(74)
(75)
(76)
(77)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

ANGGI WIDYA PURNAMA, S.T.,M.T

(

(

TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI

TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI

)

)

(METODE TRANSPORTASI

(METODE TRANSPORTASI

)

)

(78)
(79)
(80)
(81)
(82)

METODE PEMECAHAN

Matriks:

Keterangan:

Ai

= Daerah asal sejumlah i

Si

= Supply, Ketersediaan barang yang diangkut di i daerah asal

Tj

= Tempat tujuan sejumlah j

dj

= Permintaan (

demand

) barang di sejumlah j tujuan

xij = Jumlah barang yang akan diangkut dari Ai ke Tj

cij = Besarnya biaya transport untuk 1 unit barang dari Ai ke Tj

Biaya transport = cij . xi

(83)

METODE NWC

(

NORTH WEST CORNER

)

Merupakan metode untuk menyusun tabel awal dengan cara

mengalokasikan distribusi barang mulai dari sel yang terletak pada

sudut paling kiri atas.

Aturannya:

1) Pengisian sel/kotak dimulai dari ujung kiri atas.

2) Alokasi jumlah maksimum (terbesar) sesuai syarat sehingga layak

untuk memenuhi permintaan.

3) Bergerak ke kotak sebelah kanan bila masih terdapat suplai yang

cukup. Kalau tidak, bergerak ke kotak di bawahnya sesuai

demand

.

(84)

METODE NWC

(

NORTH WEST CORNER

)

Contoh Soal:

Suatu perusahaan mempunyai 3 pabrik produksi dan 5 gudang

penyimpanan hasil produksi. Jumlah barang yang diangkut tentunya

tidak melebihi produksi yang ada sedangkan jumlah barang yang

disimpan di gudang harus ditentukan jumlah minimumnya agar gudang

tidak kosong.

(85)

METODE NWC

(

NORTH WEST CORNER

)

Prosedur Penyelesaian:

-

Isikan kolom mulai kolom di kiri atas (north west) dengan

mempertimbangkan batasan persediaan dan permintaannya.

(86)

METODE NWC

(

NORTH WEST CORNER

)

Biaya total:

Z = (50) 400 + (80) 400 + (70) 500 + (60) 100 + (60) 300 + (40) 800 = 1.430.000

400

400

500

100

(87)

METODE INSPEKSI

(

ONGKOS

TERKECIL)

Merupakan metode untuk menyusun tabel awal

dengan cara pengalokasian distribusi barang dari

sumber ke tujuan mulai dari sel yang memiliki biaya

distribusi terkecil

Aturannya

1. Pilih sel yang biayanya terkecil

2. Sesuaikan dengan permintaan dan kapasitas

3. Pilih sel yang biayanya satu tingkat lebih besar dari

sel pertama yang dipilih

(88)

METODE INSPEKSI

(

ONGKOS

TERKECIL)

Biaya Total = (800 x 30) + (400 x 40) + (400 x 40) + (60 x 200) + (60 x 500) + (60 x 200) = 1.100.000

800

400

200

(89)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

Metode VAM lebih sederhana penggunaanya, karena

tidak memerlukan closed path (jalur tertutup).

Metode VAM dilakukan dengan cara mencari selisih

biaya terkecil dengan biaya terkecil berikutnya untuk

setiap kolom maupun baris. Kemudian pilih selisih

biaya terbesar dan alokasikan produk sebanyak

mungkin ke sel yang memiliki biaya terkecil. Cara ini

dilakukan secara berulang hingga semua produk

(90)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

Prosedur Pemecahan:

(1) Hitung perbedaan antara dua biaya terkecil dari setiap baris dan

kolom.

(2)

Pilih baris atau kolom dengan nilai selisih terbesar, lalu beri

tanda kurung. Jika nilai pada baris atau kolom adalah sama, pilih

yang dapat memindahkan barang paling banyak.

(3)

Dari baris/kolom yang dipilih pada (2), tentukan jumlah barang

yang bisa terangkut dengan memperhatikan pembatasan yang

berlakubagi baris atau kolomnya serta sel dengan biaya terkecil.

(4)

Hapus baris atau kolom yang sudah memenuhi syarat

sebelumnya (artinya suplai telah dapat terpenuhi).

(91)

METODE VAM

(92)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(93)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(94)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(95)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(96)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(97)

METODE VAM

(

VOGEL APPROKXIMATION METHOD

)

(98)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(PERMINTAAN

(PERMINTAAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(99)
(100)
(101)

FAKTOR-FAKTOR PERMINTAAN DAN

PEMILIHAN PEMAKAI JASA

(102)

SATUAN UKURAN PERMINTAAN JASA

TRANSPORTASI

Permintaan jasa transportasi diukur dalam berat muatan atau

Permintaan jasa transportasi diukur dalam berat muatan atau

jumlah penumpang yang dipindahkan melalui jarak.

(103)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PERMINTAAN JASA TRANSPORTASI

Pada dasarnya permintaan akan jasa angkutan dipengaruhi oleh

harga jasa angkutan itu sendiri ( P

o

) dan jasa angkutan lain

(P

1

,P

2

,....P

n

) serta tingkat pendapatan ( Y ), maka secara umum

fungsi permintaan jasa angkutan dirumuskan;

Maka secara umum fungsi permintaan jasa angkutan dirumuskan;

(104)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

(105)

ELASTISITAS PERMINTAAN DAN

PENDAPATAN

Perjalanan santai ( Leisure travel ) sangat peka terhadap

perubahan pendapatan pribadi, akibat dr kenaikan pedapatan akan

menyebabkan 2 hal yaitu;

(106)

ELASTISITAS PERMINTAAN DAN

PENDAPATAN

Contoh :

Apabila pendapatan naik 3%, menyebabkan terjadi kenaikan permintaan

6 %, maka elastisitas pendapatan = +2.

(107)

ELASTISITAS PERMINTAAN DAN

PENDAPATAN

Tingkat kepekaan permintaan terhadap perubahan harga, atau yang

disebut Elastisitas Permintaan dapat dihitung :

% Perubahan Permintaan

Elastisitas Harga (Permintaan) = % Perubahan Perubahan harga/tarif

Koefesien elastisitas (harga) permintaan selalu negatif karena antara

harga dan permintaan selalu berjalan berlawanan arah.

Contoh :

(108)

ELASTISITAS PERMINTAAN DAN

PENDAPATAN

(109)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(P

(P

ENAWARAN

ENAWARAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(110)

PENAWARAN JASA TRANSPORTASI/

ANGKUTAN

(111)
(112)
(113)
(114)
(115)
(116)
(117)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

(PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PERAMALAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(

(

PERAMALAN

PERAMALAN

TRANSPORTASI)

TRANSPORTASI)

(118)
(119)
(120)
(121)
(122)

TRIP GENERATION

(BANGKITAN DAN TARIKAN PERGERAKAN)

Bangkitan pergerakan merupakan tahapan pemodelan yang

memperkirakan jumah pergerakan yang berasal dari suatu

zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang

tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona..

Bangkitan lalulintas mencakup :

- Lalulintas yang meninggalkan suatu lokasi

- Lalulintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi

Hasil keluaran dari perhitungan bangkitan dan tarikan

(123)

TRIP DISTRIBUTION

(SEBARAN PERGERAKAN)

Pola sebaran arus lalulintas antara zona asal i ke zona

tujuan d adalah hasil dari dua hal yang terjadi secara

bersamaan .

Lokasi dan intensitas tata guna lahan akan menghasilkan

arus lalulintas, interaksi antara dua buah tata guna lahan

akan menghasilkan pergerakan manusia dan/atau barang.

Contohnya :

pergerakan dari rumah (pemukiman) ke tempat bekerja

(kantor, industri, pertokoan) yang terjadi setiap hari.

(124)

PEMILIHAN RUTE

Untuk angkutan umum, rute ditentukan berdasarkan moda

transportasi (bus dan kereta api mempunyai rute yang tetap

Untuk kendaraan pribadi diasumsikan bahwa orang akan

memilih moda transportasinya dulu, baru rutenya.

Pemilihan rute tergantung pada alternatif terpendek,

(125)

ARUS LALU LINTAS

Arus lalulintas berinteraksi dengan sistem jaringan

transportasi.

Jika arus lalulintas meningkat pada ruas jalan tertentu,

waktu tempuh pasti bertambah (karena kecepatan

menurun).

Arus maksimum yang dapat melewati suatu ruas jalan

disebut kapasitas ruas jalan.

Kapasitas ruas jalan perkotaan biasanya dinyatakan

dengan kendaraan (Satuan Mobil Penumpang).

Kemacetan semakin meningkat apabila arus begitu

(126)
(127)
(128)
(129)

HUBUNGAN TIMBAL-BALIK ANTAR SUB SISTEM DALAM

SISTEM TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI

(130)
(131)

CONTOH :

PENDEKATAN KLASIFIKASI SILANG UNTUK PENGEMBANGAN MODEL BANGKITAN PERJALANAN BERDASARKAN RUMAH DENGAN ATRIBUT PEMILIKAN KENDARAAN, TINGKAT PENDAPATAN DAN JUMLAH ANGGOTA KELUARGA.

Pemilikan

kendaraan Jml.anggota keluarga

Tingkat pendapatan

Rendah Menengah Tinggi

0 4 atau lebih1-3 3,44,9 3,75,0 3,85,1

1 4 atau lebih1-3 5,26,9 7,38,3 10,28,0

2 atau lebih 1-3 5,8 8,1 10,0

4 atau lebih 7,2 11,8 12,9

Keterangan :

Tingkat pendapatan Rendah = Rp. (0 – 300.000) per bulan

Menengah = Rp. (300.000 – 1.000.000) per bulan Tinggi = Rp. 1.000.000 atau lebih per bulan

Jumlah rumah

tangga Pemilikan kendaraan Pendapatan Ukuran rumah tangga

50 0 rendah 1-3

20 0 menengah 1-3

10 0 Rendah 4 atau lebih

50 1 Rendah 1-3

50 1 Rendah 4 atau lebih

100 1 Menengah 4 atau lebih

40 2 atau lebih Tinggi 1-3 100 2 atau lebih menengah 4 atau lebih 150 2 atau lebih tinggi 4 atau lebih

Analisis kategori bangkitan

pergerakan untuk 18 kategori

maka dapat dihitung jumlah bangkitan perjalanan dari zona tersebut adalah :

(50x3,4)+(20x3,7)+(10x4,9)+(50x5,2)+(50x6,9)+(100x8,3) +(40x10)+(100x11,8)+(150x12,9)=

5.243 pergerakan. Data jumlah

keluarga dengan tiga faktor

(132)

PERAMALAN PERMINTAAN TRANSPORTASI

(133)

PERAMALAN PERMINTAAN TRANSPORTASI

(134)

ANALISIS REGRESI

Dimana :

Y

= variabel tidak bebas

X

= variabel bebas

A

= intersep atau konstanta

B

= koefisien regresi

(135)

ANALISIS REGRESI

CONTOH : PERHITUNGAN BANGKITAN DENGAN METODE REGRESI

Dalam suatu kajian bangkitan pergerakan telah didapatkan data bangkitan perjalanan dan data kepemilikan kendaraan dari 8 zona seperti pada tabel dibawa....Buatlah model bangkitan perjalanan dengan analisis regresi linier !

Nomor zona Bangkitan

perjalanan Kepemilikan kendaraan

1 500 200

1 500 200 100000 40000

2 300 50 15000 2500

3 1.300 500 650000 250000

4 200 100 20000 10000

5 400 100 40000 10000

6 1.200 400 480000 160000

7 900 300 270000 90000

8 1.000 400 400000 160000

Jumlah 5.800 2.050 1.975.000 722.500

(136)

ANALISIS REGRESI

CONTOH : PERHITUNGAN BANGKITAN DENGAN METODE REGRESI

maka akan didapatkan nilai B = 2,48 dan A = 89,86 sehingga

persamaannya menjadi

(137)

PENGANTAR MANAJEMEN

PENGANTAR MANAJEMEN

TRANSPORTASI LOGISTIK

TRANSPORTASI LOGISTIK

(BIAYA, TARIF ANGKUTAN, DAN PEMBENTUKAN HARGA)

(BIAYA, TARIF ANGKUTAN, DAN PEMBENTUKAN HARGA)

(138)

KONSEP BIAYA

Biaya merupakan faktor yang menentukan dalam

transportasi untuk penetapan tarif, alat kontrol agar dalam

pengoperasian mencapai tingkat efektivitas dan efisien

Biaya Sebagai Dasar Penentuan Tarif Jasa Transportasi

Tingkat tarif transportasi didasarkan pada biaya pelayanan

yang terdiri dari:

•Biaya langsung.

•Biaya tidak langsung.

(139)

KONSEP BIAYA

(140)
(141)
(142)
(143)

HARGA JASA ANGKUTAN

(PER TON-KM PER JAM)

Untuk membandingkan secara kuantitatif harga-harga jasa angkutan

digunakan istilah perton-kilometer per jam rata-rata. Bertujuan untuk

menentukan beberapa harga jasa angkutan guna mengangkut satu ton

sejauh satu kilometer dalam waktu sekian jam dengan diperhitungkan nilai

rata-rata.

Contoh pengangkutan dengan truk :

Kapasitas angkutan truk sebesar 5 ton sekali jalan yang mengangkut muatan

sejauh 500 km dalam waktu 10 jam seharga Rp 25.000,00 kita akan

memperoleh perincian

sebagai berikut:

(144)

HARGA JASA ANGKUTAN

(PER TON-KM PER JAM)

(145)

HARGA JASA ANGKUTAN

(PER TON-KM PER JAM)

(146)
(147)

BIAYA JASA ANGKUTAN

Contoh kalkulasi biaya per ton kilometer per jam jasa

angkutan truk satu tahun:

Biaya

overhead

per tahun

Kapasitas angkutan terjual

Gambar

Gambar  : The Triangle of Logistics Decision Making(Sumber : Ronald H. Ballou, Business Logistics Management 1999)

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai lembaga independent dalam bidang pendidikan, pelatihan, konsultasi, penelitian, dan pengembangan logistik dan supply chain, Supply Chain Indonesia (SCI)

Manajamen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) berdampak pada sistem logistik komoditi cabai di Pasar Tradisional Pinasungkulan Manado, dimana dengan rantai pasokan yang

-Manajemen rantai pasok atau supply Chain Management (SCM) adalah serangkaian kegiatan yang meliputi koordinasi, penjadwalan, dan pengendalian terhadap pengadaan,

Hasil penelitian rantai pasok berjaring (network supply chain) dan pengendalian persediaan beras organik ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi rantai pasok

Manajamen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) berdampak pada sistem logistik komoditi cabai di Pasar Tradisional Pinasungkulan Manado, dimana dengan rantai pasokan yang

Hal yang dikelola di Rantai Pasok/Supply Chain  3 Hal yang dikelola :  aliran barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik, setelah produksi

Penerapan LOGISTIK 4.0 Dalam Manajemen Rantai Pasok Beras Perum BULOG: Sebuah Gagasan Awal Tajuddin Bantacut dan Rahmat Fadhil Penerapan LOGISTIK 4.0 Penerapan LOGISTIK 4.0 dalam

Sistem Dinamik Spasial untuk Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Logistik pada Rantai Pasok