• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENELITIAN KARAKTERISTIK KONDISI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JURNAL PENELITIAN KARAKTERISTIK KONDISI (1)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENELITIAN

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE

DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

Penulis Syamsir 1 Makmur Selomo 1 Erniwati Ibrahim 1

1

Bagian Kesehatan Lingkungan FKM Unhas, Makassar

Alamat Koresponden Syamsir

(Bumi Sudiang Permai Blok L 21 B, Kota Makassar) Email : [email protected]

BAGIAN KESEHATAN LINGKUNGAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

(2)

JURNAL PENELITIAN

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE

DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

Penulis Syamsir 1 Makmur Selomo 1 Erniwati Ibrahim 1

1

Bagian Kesehatan Lingkungan FKM Unhas, Makassar

Alamat Koresponden Syamsir

(Bumi Sudiang Permai Blok L 21 B, Kota Makassar) Email : [email protected]

BAGIAN KESEHATAN LINGKUNGAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

(3)

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE

DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

“Characteristic of the house condition of leprosy patients in the work area of Turikale and Mandai Health centers

in the Maros Regency”

ABSTRACT

Background: Subdistrict in which we find the most leprosy patients in Maros Regency are in Turikale, Mandai,

Bantimurung and Barandasi. Numbers of leprosy patients in the year of 2009-2012 in Turikale Subdistrict are 11 MB leprosy patients and 4 PB leprosy patients. In Mandai Subdistrict there are as much as 5 MB leprosy patients.

Objectives: This study aims to identify characteristics of the house condition of leprosy patients in the work area

of Turikale and Mandai Health Centers.

Methods: This research uses an observational descriptive approach. The population in this study is the house of

leprosy patients in the work area of Turikale and Mandai Health Centers. This research uses exhaustive sampling, which examines all of the house of leprosy patients in the work area of Turikale and Mandai Health Centers.

Result: The results of this study indicate that all vents of the house of leprosy patients studied do not qualify, the

potential moisture for Mycobacterium Leprae proliferation by 10%. Natural lighting of the house of leprosy patients do not qualify as much as 50 %, the temperature of the house of leprosy patients for Mycobacterium Leprae proliferation by 30%.

Conclusion: This study concluded that characteristics of the house condition of leprosy patients in the work area

of Turikale and Mandai Health Centers largely do not qualify as to support Mycobacterium Leprae proliferation

Keyword: Leprosy patients, Characteristic of the house condition

ABSTRAK

Latar Belakang: Kecamatan yang memiliki penderita kusta terbanyak di Kabupaten Maros yaitu Turikale,

Mandai, Bantimurung dan Barandasi. Jumlah penderita Kusta pada tahun 2009-2012 di Kecamatan Turikale sebanyak 11 penderita Kusta MB dan 4 penderita Kusta PB. Kecamatan Mandai sebanyak 5 penderita Kusta MB.

Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kondisi rumah penderita Kusta di wilayah kerja

Puskesmas Turikale dan Mandai.

Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini

adalah rumah penderita Kusta yang berada di wilayah kerja di Puskesmas Turikale dan Mandai. Penelitian ini menggunakan exhaustive sampling, yaitu dengan meneliti semua rumah penderita Kusta yang berada di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai

Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan, semua ventilasi rumah penderita Kusta yang diteliti tidak memenuhi

syarat, kelembaban rumah yang berpotensi baik untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae sebesar 10 %. Pencahayaan alami rumah penderita Kusta yang tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 50 %, Suhu rumah penderita Kusta yang baik untuk perkembanganbiakan Mycobacterium leprae sebesar 30 %.

Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan, karakteristik kondisi rumah penderita Kusta di wilayah kerja

Puskesmas Turikale dan Mandai sebagian besar tidak memenuhi syarat sehingga dapat mendukung perkembanganbiakan Mycobaterium leprae.

(4)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Syamsir

Alamat : Bumi Sudiang Permai Blok L 21 B Tempat,Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 21 Februari 1989

Agama : Islam

Suku : Bugis

Bangsa : Indonesia

Riwayat Pendidikan : :

1. SD Negeri 1 Takkalasi Tahun 1994 2. SMP Negeri 1 Balusu Tahun 2001

3. SMA Negeri 1 Soppeng Riaja Tahun 2004

4. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Tahun 2008 Organisasi :

1. Ketua Umum UKM LDK MPM Unhas (Periode 1433-1434 H/2012-2013 M)

(5)

A. Pendahuluan

Penyakit kusta apabila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita. Sebagai akibat dari masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita Kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. Bahkan, Penyakit Kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya.

Kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.8

(6)

per 10.000. Kasus yang terbaru yang ditemukan di AS utamanya berasal dari Caifornia, Florida, Hawaii, Lousiana, Texas, dan New York City, dan di Puerto Rico. Hampir seluruh kasus ini ditemukan pada para imigran dan pengungsi yang telah tertular di negara asal mereka. Meskipun demikian penyakit ini menjadi endemis di California, Hawai, Texas dan Puerto Rico.6

Tercatat 19 provinsi di Indonesia telah mencapai eliminasi Kusta dengan angka penemuan kasus kurang dari 10 per 100.000 populasi, atau kurang dari 1.000 kasus per tahun. Sampai akhir 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia dan telah diobati. Saat ini tinggal 150 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi. Sebanyak 1.500-1.700 (10%) kasus kecacatan tingkat II ditemukan setiap tahunnya. Sekitar 14.000 (80%) adalah kasus kusta MB, sedangkan sekitar 1500-1800 kasus merupakan kasus pada anak.20

Jumlah penderita kusta yang terdaftar di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 2.770 orang yaitu penderita PB (Pausi Basiler) sebanyak 839, penderita Multi Basiler (MB) sebanyak 987 orang dan penderita RFT PB sebanyak 486 orang dan RFT MB sebanyak 458 orang. pada tahun 2009 tercatat sebanyak 1.495 penderita yang terdiri dari penderita PB sebanyak 451 dan MB sebanyak 1.044 orang. Sedangkan pada tahun 2010 bila di bandingkan pada tahun sebelumnya mengalami penurunan yaitu penderita Kusta PB sebanyak 143 penderita, penderita MB sebanyak 539 penderita.8

Kuman Kusta biasanya menyerang saraf tepi kulit dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sifatnya kronis dan dapat menimbulkan masalah yang komplek. Penyebab penyakit kusta ialah suatu kuman yang disebut Mycobaterium leprae (M.Leprae). Sumber penularan penyakit ini adalah penderita kusta

(7)

diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian Timur terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderita Kusta 90% tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa persen saja yang tinggal di rumah sakit Kusta, koloni penampungan atau perkampungan Kusta. Potensi penularan penyakit Kusta di rumah tempat tinggal mereka sangat besar. Apalagi kondisi rumah penderita Kusta yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat memudahkan penularan M.Leprae.

Penularan Kusta dapat disebabkan faktor orang, tempat dan waktu. Pada sebuah Penelitian tentang gambaran perderita Kusta berdasarkan karakteristik orang, tempat dan waktu terdiagnosa dari penderita kusta di wilayah Kabupaten Demak, Jawa Tengah menunjukkan bahwa karakteristik penderita Kusta banyak yang berjenis kelamin laki-laki (59,1%), berasal dari kelompok umur 35-4 tahun (25,8%), pekerjaan petani (37,9%), pendidikan tamat SD (56,1%), penghasilan kurang dari Rp.400.000,-(80,3%), ditemukan kontak serumah (10,6%), sebagian besar penderita kusta tinggal di desa (98,5%), mempunyai kesehatan lingkungan kurang (63,6%) dan sebagian besar terdiagnosa pada bulan Desamber (22,7%).27

(8)

dapat menyebabkan penyakit yang dapat menular lewat udara tertular dengan orang serumah dengan penderita. Dengan adanya ventilasi serta digunakan sesuai peruntukannya maka sinar matahari serta udara dapat masuk maka sehingga dapat mencegah pertumbuhan bakteri. 14

Penelitian lain tentang Kusta di Kabupaten Pemalang yang merupakan daerah dengan endemik kusta tinggi (PR>1/10.000 penduduk) dengan (CDR=0,5 per 10.000 penduduk). Adapun variabel yang teliti yaitu jenis lantai rumah, luas ventilasi kamar tidur dan ruang keluarga, pencahayaan alami dalam kamar tidur dan ruang keluarga, kelembaban kamar tidur dan ruang keluarga, suhu kamar tidur dan ruang keluarga dan kepadatan hunian kamar tidur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel yang berpengaruh terhadap kejadian kusta yaitu jenis lantai rumah.22

Berdasarkan data kusta di Kabupaten Maros, kecamatan yang memiliki penderita kusta terbanyak yaitu Turikale, Mandai, Bantimurung dan Barandasi. Pada penelitian ini, kami meneliti di Kecamatan Turikale dan Mandai. Jumlah penderita Kusta pada tahun 2009-2012 di Kecamatan Turikale sebanyak 11 penderita Kusta MB dan 4 penderita Kusta PB. Kecamatan Mandai sebanyak 5 penderita Kusta MB. .

B. Bahan dan Metode

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih adalah wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros. Kedua kecamatan ini memiliki penderita Kusta yang tertinggi di Kabupaten Maros.

(9)

dikatakan cukup memadai. Dari tujuh kelurahan yang ada telah terdapat satu buah puskesmas/pustu dan satu buah rumah sakit. Keberadaan dokter praktek sebanyak 10 orang, pramedis 7 orang, bidan 13 oang dan dukun bayi yang menangani proses kelahiran sebanyak 7 orang yang tersebar di seluruh kelurahan (Turikale, 2007). Wilayah kerja Puskesmas Turikale terdiri dari 7 Kelurahan, yaitu Boribellayya, Raya, Turikale, Pettuadae, Adatongeng, Taroada, Aliri Tengngae.

Adapun batas wilayahnya yaitu :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecematan Lau dan Kecematan Bantimurung b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bantimurung dan Kecamatan Simbang c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Mandai

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecematan Maros baru dan Kecemtan Lau

Puskesmas Mandai terletak di Kecamatan Mandai. Luas Kecamatan Mandai sebesar Wilayah kerja Puskesmas Mandai terdiri

yaitu Kelurahan Hasanuddin, Kelurahan Bontoa, Desa Tenri. Adapun batas wilayahnya yaitu :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Maros Baru b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecematan Tanralili

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moncongloe dan Kabupaten Gowa d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Marusu dan Kota Makassar

(10)

Jenis Penelitian, Populasi, dan Sampel Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskrepsi tentang suatu keadaan secara objektif. Selain itu metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang.

Populasi dalam penelitian ini adalah rumah penderita Kusta yang berada di wilayah kerja di Puskesmas Turikale dan Mandai. Jumlah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale sebanyak 15 pasien. Sedangkan jumlah penderita di wilayah kerja Puskesmas Mandai sebanyak 5 pasien.

Penelitian ini menggunakan exhaustive sampling, yaitu dengan meneliti semua rumah penderita Kusta yang berada di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Manda Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan data primer dan data sekunder

1. Data Primer

Data Primer diperoleh dengan melakukan pemeriksaan kondisi rumah penderita Kusta berdasarkan variabel yang diteliti.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data primer dengan melakukan pemeriksaan kondisi rumah penderita kusta dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Untuk memudahkan pengumpulan data maka digunakan lembar observasi yang

(11)

b. Data tentang luas ventilasi rumah dibandingkan dengan luas lantainya

c. Data tentang kelembaban diperoleh dengan melakukan pengukuran menggunakan alat Hygrometer HT-3009.

d. Data tentang intensitas pencahayaan diperoleh dengan melakukan pengukuran dengan menggunakan alat Lux meter.

e. Data tentang suhu diperoleh dengan menggunakan termometer 2. Data Sekunder

Data sekunder dari Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros berupa alamat penderita Kusta.

C. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Turikale dan Mandai. Pengumpulan data dilakukan dari tanggal 1 April sampai dengan 26 Oktober 2012. Pengambian data dimulai dari jam 09:00-12:00. Cuaca saat pengambilan data cukup cerah.

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kondisi rumah penderita Kusta dengan mengukur suhu dan kelembaban dengan menggunakan alat hygrothermometer, luas ventilasi dan lantai dengan meteran, dan pencahayaan dengan

menggunakan lux meter. Bagian rumah yang diukur yaitu ruangan yang paling sering ditempati penderita Kusta saat berada dalam rumah.

(12)

wilayah kerja Puskesmas Turikale dan 2 rumah di wilayah kerja Puskesmas Mandai. Penyebab tidak semua sampel dapat didata karena alamat penderita Kusta dari puskesmas yang tidak lengkap dan beberapa penderita Kusta yang sudah pindah rumah serta ada penderita Kusta yang tidak mau didata.

Dalam penelitian ini distribusi variabel responden yang diambil adalah karakteristik dari sampel yang antara lain umur, ventilasi, suhu, kelembaban, dan pencahayaan yang distribusikan sebagai berikut :

1. Distribusi penderita Kusta berdasarkan umur

Berdasarkan data dari Puskesmas Turikale dan Mandai diperoleh distribusi penderita Kusta menurut umur menunjukkan bahwa kelompok umur yang terbanyak pada penelitian ini yaitu kelompok dewasa sebanyak 64,3 % penderita Kusta di wilayah Puskesmas Turikale dan 60 % penderita Kusta di wilayah Puskesmas Mandai.

2. Distribusi penderita Kusta berdasarkan ventilasi

(13)

3. Distribusi penderita Kusta berdasarkan suhu

Berdasarkan data hasil penelitian, diperoleh suhu udara rumah penderita Kusta di wilayah Puskesmas Turikale yang baik untuk perkembanganbiakan Mycobacterium leprae bahwa terdapat 30% sedangkan suhu yang tidak baik untuk perkembangbiakan

Mycobacterium leprae sebesar 70%. Adapun Suhu udara rumah penderita Kusta di

wilayah Puskesmas Mandai, semua tidak baik untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae.

4. Distribusi penderita Kusta berdasarkan kelembaban

Berdasarkan data dari Puskesmas Turikale dan Mandai diperoleh distribusi rumah berdasarkan kelembaban menunjukkan bahwa distribusi tertinggi untuk rumah penderita Kusta berdasarkan kelembaban yaitu kelembaban rumah yang tidak berpotensi untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae yaitu sebanyak 87,5% rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan semua rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Mandai

5. Distribusi penderita Kusta berdasarkan pencahayaan

(14)

D. Pembahasan 1. Ventilasi

Hasil penelitian yang dilakukan peneliti diperoleh hasil bahwa semua ventilasi rumah penderita Kusta di wilayah Puskesmas Turikale dan Mandai tidak memenuhi syarat karena semua luas ventilasi rumah penderita Kusta yang diteliti kurang dari 15% dari luas lantai. Selain itu, berdasarkan observasi peneliti sebagian besar rumah penderita Kusta memiliki jumlah jendela yang kecil dan sedikit, bahkan ada satu rumah penderita Kusta yang tidak memiliki jendela.

Pada sebuah penelitian tentang Kusta di Pulau Barrang Lompo dan Pulau Lumu-lumu Kota Makassar menunjukkan bahwa ventilasi rumah yg tidak memenuhi syarat disebabkan karena ukuran ventilasi rumah responden yang kecil dan jumlahnya sedikit sehingga udara tidak dapat bertukar dan masuk kedalam ruangan. Selain itu, diketahui bahwa responden juga jarang membuka seluruh ventilasinya pada saat pagi hari dan membukanya pada saat udara mulai terasa panas. Hal inilah yang menyebabkan kuman yang dikeluarkan oleh penderita dapat tinggal lebih lama dalam ruangan atau kamar sehingga orang yang sehat sangat memungkinkan terjangkit penyakit kusta.23

(15)

Rumah yang sehat harus memungkinkan pertukaran udara dengan luar rumah. Karena itu, rumah harus dilengkapi dengan ventilasi yang cukup. Ventilasi menjadi persyaratan mutlak suatu rumah sehat karena fungsinya yang sangat penting. Pertama, untuk menjaga agar udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Dampak ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat maka ruangan mengalami kekurangan O2 dan bersamaan

dengan itu kadar CO2 yang bersifat racun meningkat. Kedua, aliran udara yang terus

menerus dapat membebaskan udara dalam ruangan dari bakteri-bakteri pathogen. Dampak ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat maka mengakibatkan berkembang biaknya bakteri-bakteri termasuk M.Leprae yang dapat tertular melalui udara

M.Leprae dikeluarkan oleh penderita Kusta pada saat berbicara, batuk dan

bersin sebesar 110.000 basil sehingga apabila sirkulasi udara tidak baik maka dapat memudahkan penularan M.Leprae melalui udara masuk ke hidung orang serumah dengan penderita. Apalagi terpapar dalam jangka waktu yang lama.

Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri-bakteri patogen termasuk kuman tuberkulosis.

17

(16)

2. Suhu

Berdasarkan data hasil penelitian, diperoleh suhu udara rumah penderita Kusta di wilayah Puskesmas Turikale yang baik untuk perkembanganbiakan Mycobacterium leprae bahwa terdapat 30% rumah.

Penelitian tentang Mycobacterium leprae menunjukkan bahwa adanya korelasi antara suhu dengan penularan kuman penyakit seperti Mycobacterium leprae yaitu dua kali lebih berisiko dibandingkan dengan suhu rumah yang memenuhi tidak syarat kesehatan.10

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum basil M.Leprae pada temperatur 27-30 oC (Amiruddin, 2003). Selain itu dalam Permenkes (2011), faktor iklim sangat penting bagi Mycobacterium leprae dalam bertahan hidup di luar tubuh manusia. Suhu yang optimal Mycobacterium leprae dapat tumbuh dengan baik yaitu suhu 27 ºC – 30 ºC.

Seseorang serumah dengan penderita Kusta yang kondisi suhu rumahnya baik untuk perkembangkan basil M.Leprae maka peluang untuk tertular sangat besar. Apalagi frekuensi paparan yang lama dan terus menerus akan mempercepat penularan basil M.Leprae.

(17)

sebanyak 8 responden atau sebesar 15.7% adalah beresiko rendah tertular kusta melalui kontak fisik. Kontak fisik yang sering dilakukan responden adalah kontak kulit dan berbicara dengan penderita.26

3. Kelembaban

Kelembaban udara didalam ruangan dipengaruhi oleh luas ventilasi dan banyaknya cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan. Kurangnnya ventilasi udara akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena rendahnya cahaya matahari yang masuk dan terjadinya proses penguapan cairan dari kulit penyerapan. Sehingga dapat mempengaruhi kelembaban dalam ruangan.24

Berdasarkan observasi peneliti, sebagian besar rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai memiliki jumlah ventilasi lebih dari 5 ventilasi dengan luas yang cukup besar sehingga intensitas cahaya matahari yang masuk dalam ruangan cukup baik. Sehingga kondisi kelembaban rumah penderita Kusta yang diteliti sebagian besar memenuhi syarat.

Sebuah penelitian lain tentang gambaran lingkungan rumah tangga penderita Kusta di Kabupaten Bulukumba menunjukkan bahwa tingkat kelembaban rumah yang tidak berpotensi untuk perkembangan Mycobacterium leprae lebih besar dibandingkan yang berpotensi untuk perkembangan Mycobacterium leprae. Rumah yang tidak berpotensi untuk perkembangan Mycobacterium leprae sebesar 60,9% sedangkan rumah yang berpotensi untuk perkembangan Mycobacterium leprae sebesar 39%.24

(18)

ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara. Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme.17

Hal didukung sebuah penelitian tentang penderita Kusta di Kecamatan Tamalate Kota Makassar menunjukkan bahwa dari 51 orang responden terdapat 50 responden atau sebesar 98% yang kelembaban rumahnya berpotensi untuk perkembangbiakan kuman kusta.26

4. Pencahayaan

Hasil penelitian yang dilakukan peneliti diperoleh hasil bahwa distribusi rumah penderita Kusta berdasarkan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 37,5 % rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan semua rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Mandai. Selain itu, pengamatan peneliti pada pencahayaan rumah penderita Kusta yang diteliti, beberapa terlihat gelap. Padahal rumah yang ditempati harus cahaya yang masuk ke dalam rumah dalam jumlah yang cukup. Jika ruangan dalam rumah kurang cahaya, maka udara dalam ruangan akan menjadi media bibit-bibit penyakit. Cahaya matahari harus masuk dalam rumah karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah. Oleh karena itu, rumah yang cukup sehat seyogyanya harus mempunyai jalan masuk yang cukup (jendela).

(19)

mycobacterium tuberculosa akan mati dalam waktu 2 jam oleh sinar matahari; oleh

tinctura iodii selama 5 menit dan juga oleh ethanol 80% dalam waktu 2-10 menit serta

mati oleh fenol 5% dalam waktu 24 jam. Menurut Atmosukarto & Soeswati (2000), rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari

Rumah yang memiliki pencahyaan yang kurang dapat menunjang perkembangbiakan basil M.Leprae keluar dari penderita Kusta melalui kulit dan mukosa hidung. Mukosa hidung melepaskan paling banyak M.Leprae dimana mampu melepaskan 10 miliar organisme hidup perhari dan mampu hidup lama diluar tubuh manusia sekitar 7-9 hari di daerah tropis.

.

E. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Bedasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Kondisi ventilasi udara rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros menunjukkan bahwa semua ventilasi rumah penderita Kusta yang diteliti tidak memenuhi syarat.

2. Kelembaban rumah penderita Kusta menunjukkan bahwa kelembaban rumah yang tidak berpotensi untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae yaitu 87,5% rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan semua rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Mandai

(20)

37,5 % rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan semua rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Mandai. Sedangkan rumah penderita Kusta berdasarkan pencahayaan yang memenuhi syarat sebanyak 50 % rumah di wilayah kerja Puskesmas Turikale.

4. Suhu rumah penderita penyakit Kusta wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros menunjukkan bahwa suhu udara rumah penderita Kusta di wilayah Puskesmas Turikale yang baik untuk perkembanganbiakan Mycobacterium leprae bahwa terdapat 30% sedangkan suhu yang tidak baik untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae sebesar 70%. Adapun Suhu udara rumah penderita Kusta di

wilayah Puskesmas Mandai, semua tidak baik untuk perkembangbiakan Mycobacterium leprae

Saran

Adapun saran pada penelitian tentang karakteristik kondisi rumah penderita Kusta di wilayah kerja Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros sebagai berikut

1. Data Kusta di puskesmas harus lengkap sehingga apabila ada penelitian tentang Kusta dapat memudahkan peneliti

2. Dinas kesehatan harus memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait penularan Kusta di rumah sehingga mencegah penularan basil M.Leprae di rumah

3. Semoga penelitian dapat dilanjutkan untuk mengetahui faktor – faktor lain yag dapat menularkan penyakit Kusta

(21)

F. Ucapan Terima Kasih

(22)

DAFTAR PUSTAKA

1. Amiruddin, D. 2003. Ilmu Penyakit Kusta. Hasanuddin University Press. Makassar 2. Anonim. 2011. Peta Kecamatan di Kabupaten Maros. (Online),

http://desnantara-tamasya.blogspot.com/2011/10/peta-kecamatan-kecamatan-di-kabupaten_03.html

[diakses 26 November 2012]

3. Aw a l u d di n . 2 0 0 4 . Beberapa Faktor Risiko Kontak dengan Penderita Kusta dan Lingkungan yang Berpengaruh terhadap Kejadian Kusta pada Anak (Studi Kasus terhadap Penderita Kusta pada Anak di Puskesmas wilayah Kabupaten Brebes). Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

4. BSN, 2004. Pengukuran intensitas penerangan di tempat kerja. Badan Standarisasi Nasional

5. Cahyanti, T. 2010. Kenali Penyakit Kusta Lebih Dekat. (Online)

http://puskesmaskutasatu.com/artikel/kenali%20penyakit%20kusta%20lebih%20dekat.h tm [ diakses 12 Mei 2013]

6. Chin, J., Kandun, N.I (penterjamah). 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Kusta Edisi 17. Ditjen PPM-PL

7. Departemen Kesehatan RI. 1989. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta: Depkes RI

8. Dinkes Sul-sel. 2011. Pelatihan Program P2 Kusta bagi Dokter UPK Provinsi Sulawesi

Selatan. (Online),

http://dinkes-sulsel.go.id/new/index.php?option=com_content&task=view&id=621&Itemid=1

[diakses 19 September 2011]

9. Ditjen PP&PL Depkes RI. 2010. Kusta, (Online), (http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=16&menuType=1&SubID= 2&DetId=452 [diakses 19 September 2011]

10.Fatimah, S. 2008. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja, Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari). (Online) Semarang: Program Pascasarjana Universitas Dipenogoro

11.Hiswani. 2001. Kusta Salah Satu Penyakit Menular Yang Masih di Jumpai di Indonesia. (Online) Medan: Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara [15 September 2011]

12.Kecamatan Turikale. 2007. Profil Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. (Online),

http://bontoa.maroskab.go.id/kondisi-geografis-kecamatan-bontoa [diakseskan 26 November 2012 ]

13.Keman. S. 2005. Kesehatan Perumahan Dan Lingkungan Pemukiman. Bagian Kesehatan Lingkungan FKM Universitas Airlangga

14.Makinan, A. 2012. Karakteristik Lingkungan Fisik Rumah Penderita Kusta Di Wilayah Puskesmas Nuangan Kecamatan Nuangan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. (Online), http://ejurnal.fikk.ung.ac.id/index.php/PHJ/article/view/183 [diakses 10 desember 2012]

15.News Medical. 2012. Apa Kusta ?. (Online) http://www.news-medical.net/health/What-is-Leprosy-%28Indonesian%29.aspx [diakses 12 Mei 2013]

(23)

17.Nurhidayah, I. Lukman, M dan Rakhmawati, W. 2007. Hubungan Antara Karakteristik Lingkungan Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis (TB) pada Anak di Kecematan Paseh Kabupaten Sumedang. Skripsi tidak diterbitkan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran: Bandung

18.Pudjiastuti, L, Rendra, S, Santosa, H. 1998, Kualitas Udara Dalam Ruang. Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

19.Puskesmas Tanjungreja Kudus. 2013. (Online)

http://www.puskesmastanjungrejo.web.id/index.php?option=com_content&view=articl e&id=81:apa-penyakit-kusta-itu-&catid=79:penyakit-diare [diakses 12 Mei 2013] 20.Puskom Publik Sekjen Kementerian Kesehatan RI, 2011. Menkes Canangkan Tahun

Pencegahan Cacat Akibat Kusta (Online),

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1391-menkes-canangkan-tahun-pencegahan-cacat-akibat-kusta.html [diakses 15 maret 2012]

21.Peraturan Menteri Kesehatan., 2011. Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah. (Online).

h p://www.hukor.depkes.go.id/?dokumen=global&search=1&field=produk_hukum.tentang&t arget1=pedoman%20penyehatan%20udara%20dalam%20ruang%20rumah&exact=[diakses 10 desember 2012]

22.Raharjati, E. G. 2009. Hubungan Karakteristik Rumah dengan Kejadian Kusta (Morbus Hansen) pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. (online). http://eprints.undip.ac.id/30630/1/3716.pdf [diakses 10 desember 2012]

23.Samad, A.S., 2012. Gambaran Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Kusta di Pulau Barrang Lompo dan Pulau Lumu-Lumu Kota Makassar. FKM Unhas: Makassar 24.Suryanto, M. 2012. Gambaran Kondisi Lingkungan Rumah Tangga dan Pengetahuan

Penderita Kusta di Kabupaten Bulukumba. FKM Unhas: Makassar

25.Susanto, N. 2006. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecacatan Penderita Kusta (Kajian di Kabupaten Sukoharjo). Yogyakatra : Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

26.Utama, D. A,. 2012. Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Penderita Kusta di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. FKM Unhas: Makassar

27.Watjito. 2003. Studi Epidemiologi Deskriptif Penderita Kusta di Wilayah Kabupaten Demak Tahun 2003. Skripsi tidak diterbitkan.

(24)

Lampiran

Tabel 1

Distribusi Penderita Kusta Berdasarkan Umur di Wiayah Puskesmas Turikale dan Mandai Kabupaten Maros Tahun 2012

Kelompok Umur (Tahun)

Distribusi Rumah Berdasarkan Kategori Suhu di Wilayah Kerja Puskesmas Turikale

(25)

Tabel 3

Distribusi Rumah Berdasarkan Kategori Kelembaban di Wilayah Kerja Puskesmas Turikale

dan Mandai Kabupaten Maros Tahun 2012

Tidak baik untuk perkembangan

Mycobacterium leprae ( < 70 % RH atau > 90

% RH )

7 87,5 2 100

Jumlah 8 100 2 100

Sumber: data primer

Tabel 4

Distribusi Rumah Berdasarkan Kategori Pencahayaan di Wilayah Kerja Puskesmas Turikale

Gambar

Tabel 1 Distribusi Penderita Kusta Berdasarkan Umur di Wiayah Puskesmas
Tabel 4 Distribusi Rumah Berdasarkan Kategori Pencahayaan

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 6.9 Diagram Bar Proporsi Jenis Kelamin Penderita Penyakit Kusta Berdasarkan Status Akhir Pengobatan Yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Kusta Pulau Sicanang

Distribusi Proporsi Penderita Stroke Rawat Inap Berdasarkan Sisi Tubuh Yang Mengalami Kelumpuhan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2002-2006 .... Distribusi Proporsi Penderita

TujuanPenelitian, Untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah (bahan bangunan rumah, ventilasi, pencahayaan dan kepadatan hunian) dengan kejadian penderita

Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Berdasarkan Derajat Dehidrasi menunjukkan bahwa bayi penderita gastroenteritis yang mengalami dehidrasi ringan, terbanyak

Distribusi Penderita Sinusitis Maksilaris Kronis di Poliklinik THT Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012 Berdasarkan Keluhan Utama.. Distribusi

Berdasarkan distribusi kategorisasi data variabel perilaku kepemilikan psikologik, diperoleh bahwa dari 30 subjek pada rumah tidak berpagar di perumahan tidak berpagar

Distribusi Proporsi Penderita Trauma kapitis craniotomy Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Umum Materna Medan Tahun 2008-2009 ... Distribusi

Jumlah Kasus Baru Rawat Jalan Kusta Rumah Sakit Sumberglagah Provinsi Jawa Timur Berdasarkan Tahun 2015 – 2018 Berdasarkan Gambar 2, dapat diketahui bahwa penderita kusta laki laki