Pajak Daerah sebagai Bagian Keuangan Negara
(Analisis Kritis Efektifitas Pemungutan Pajak terhadap Pendapatan
Asli Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional)
Oleh:
Audhilla Novieta Putri 16006959162
Pasca Sarjana Hukum Kenegaraan Kelas Pagi Universitas Indonesia
Abstrak
Salah satu Pendapatan Asli Daerah adalah Pajak. Provinsi DKI Jakarta yang merupakan ibukota
negara dengan kedinamisan dan moderenitas yang ditampilkan, dinilai memiliki potensi pajak
daerah tertinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia tidak terkecuali
potensi pajak parkir. Pajak parkir pada daerah DKI Jakarta memiliki implikasi terhadap
pendapatan asli daerah dan pertumbuhan ekonomi nasional. Analisis dalam tulisan ini akan
menunjukan bagaimana pajak daerah dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam taraf
nasional berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Kata kunci: Pendapatan Asli Daerah, Pajak Parkir, DKI Jakarta, Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Abstract
Taxes is one of the Local Revenue. DKI Jakarta which is the capital of the country is considered
have the highest potential of regional taxes, one of them is parking taxes. Parking taxes in DKI
Jakarta have implications for local revenue and national economic growth. The analysis in this
paper will show how the economy grows on a national level and based on the prevailing
regulations in Indonesia
Keyword: Local Revenue, Parking Taxes, DKI Jakarta, National Economic Growth
PENDAHULUAN
Pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah telah dipungut di Indonesia
era otonomi daerah dewasa ini. Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan
daerah ditetapkan dengan dasar hukum yang kuat, yaitu dengan undang-undang, khususnya
undang-undang tentang pemerintahan daerah maupun tentang perimbangan keuangan antara
pusat dan daerah.1 Pajak daerah merupakan salah satu pendapatan asli daerah (PAD) yang
merupakan ruang lingkup dari Keuangan Negara dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2003 karena PAD merupakan penerimaan daerah.
Adapun untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenangan yang
luas, nyata dan bertanggung jawab di daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan
pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta
pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah. Sumber pembiayaan pemerintah daerah
dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar
desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan (medebewind).2 Hal ini sebagaimana
asas-asas penyelenggara pemerintahan menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah.
Dalam rangka mewujudkan kemandirian keuangan daerah, terdapat dua cara yang dapat
dilakukan pemerintah daerah untuk memaksimalkan pendapatan yang berasal dari pajak daerah
dan retribusi daerah. Pertama, dengan cara menyempurnakan dan mengoptimalkan penerimaan
dari pajak daerah dan retribusi daerah yang telah ada. Kedua, dengan cara menerapkan pajak
daerah dan retribusi daerah yang baru.3 Kemudian pajak daerah sebagai salah satu pendapatan
asli daerah diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah, untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat.4
Kontribusi pendapatan asli daerah sangat penting karena merupakan sebuah indikator yang
menentukan keberhasilan dan kemandirian suatu daerah. Semakin besar pendapatan asli daerah
sebuah daerah maka ketergantungan terhadap pemerintah pusat semakin kecil. Atas dasar itu,
1Olla Meria Amalia, “Kewenangan Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung Terhadap Kenaikan Nilai Jual
Objek Pajak Bumi dan Bangunan”, Jurnal Ilmiah Hukum Administrasi Negara (Lampung: Universitas Lampung, 2014), hlm. 2.
2HAW. Widjaja, Penyelenggaraan Otonomi Daerah di Indonesia , (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.
26.
3
Achmad Lutfi, “Penyempurnaan Administrasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Volume XIV (Dept. Imu Administrasi, FISIP UI, Januari 2006), hlm. 2.
4Ahmad Yani, Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia , (Jakarta: PT. Raja
pajak dan retribusi daerah merupakan dua komponen penting dalam hal meningkatkan
kemandirian keuangan daerah.
DKI Jakarta sebagai ibu kota negara serta sebagai pusat segala aktivitas pemerintahan,
perekonomian, perdagangan, pembangunan, dan hiburan yang dipengaruhi tingginya laju
pertumbuhan penduduk DKI Jakarta menimbulkan peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang
dimiliki oleh beberapa penduduk Jakarta maupun penduduk di pinggiran DKI Jakarta seperti
Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Transportasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
masyarakat perkotaan sehingga fenomena ini akan menyebabkan kecenderungan orang untuk
menggunalan kendaraan pribadi dibandingkan angkutan umum perkotaan yang tersedia. Hal
tersebut memicu kemacetan di kota Jakarta yang menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta. Seperti memberlakukaan pajak parkir sebagai sebagai pendapatan asli
daerah.
Pencapaian target penerimaan pajak parkir apabila dikembalikan lagi ke konsep otonomi
daerah tidak terlepas dengan variasi potensi parkir yang dimiliki oleh masing-masing daerah di
Indonesia. Seperti halnya Provinsi DKI Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan
kedinamisan dan moderenitas yang ditampilkan sehingga dinilai memiliki potensi pajak daerah
tertinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia tidak terkecuali potensi
pajak parkir. Pajak parkir sebagai Pajak Daerah menurut Darwin adalah kontribusi wajib kepada
daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
undang-undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.5 Adapun pengertian Pajak Daerah menurut
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.6
Potensi pajak parkir yang ada di Provinsi DKI Jakarta tersebut dikelola menjadi sebuah
penerimaan pajak daerah dengan berlandaskan pada ketentuan yang ada. Ketentuan mengenai
pajak parkir di DKI Jakarta semenjak diberlakukannya UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002 tentang
Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2002 tentang Pajak parkir
kemudian diperbaharui kembali dengan lahirnya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah yang selanjutnya diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun
2010 tentang Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2010
tentang Pajak parkir.
Berangkat dari penjabaran diatas penulis akan menganalisis mengenai bagaimana pendapatan
asli daerah dari pemungutan pajak parkir memiliki implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi
nasional.
PEMBAHASAN
1. Objek, Subjek, Wajib Pajak dan Tarif Pajak Parkir di Provinsi DKI Jakarta
DKI Jakarta merupakan daerah setingkat provinsi yang tidak terbagi atas daerah
kabupaten/kota otonom sehingga DKI Jakarta dapat memungut pajak provinsi dan sekaligus
pajak kabupaten/kota. Salah satu pajak kabupaten/kota yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta adalah Pajak Parkir.7
Dalam membahas pemungutan pajak parkir maka harus terlebih dahulu mengetahui objek,
subjek, wajib pajak dan tarif pajak di Provinsi DKI Jakarta. Dalam Pasal 3 ayat 1 Perda 16 tahun
2010 tentang Pajak Parkir diatur bahwa yang menjadi objek pajak parkir adalah penyelenggaraan
tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun
yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor
dengan dipungut bayaran.8 Adapun tempat parkir yang berada di pinggir atau badan jalan
dipungut retribusi parkir yang diatur tersendiri dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta
nomor 3 tahun 2012 tentang Retribusi Daerah. Dalam penjelasan Pasal 3 ayat 1 tersebut
menjelaskan bahwa pengusahaan perparkiran yang termasuk objek pajak parkir meliputi jasa
pengelolaan atau jasa penyediaan tempat parkir yang disewakan atau dikerjasamakan oleh
pemilik gedung kepada pihak ketiga. Jasa pengelolaan tempat parkir adalah jasa yang dilakukan
oleh pengusaha untuk mengelola tempat parkir yang dimiliki atau disediakan oleh pemilik
tempat parkir dengan menerima imbalan dari pemilik tempat parkir, termasuk imbalan dalam
bentuk bagi hasil sedangkan jasa penyediaan tempat parkir adalah jasa penyediaan tempat parkir
7 Gambaran Umum Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta, lib.ui.ac.id/file, diakses 7 Desember 2017.
yang dilakukan oleh pemilik tempat parkir dan/atau pengusaha kepada pengguna tempat parkir,
dengan dipungut bayaran.9
Sementara itu, menurut Perda 16 tahun 2010 yang tidak termasuk objek pajak parkir adalah
penyelenggaraan tempat parkir oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, perkantoran yang
hanya digunakan untuk karyawannya sendiri, serta kedutaan, konsulat dan perwakilan negara
asing dengan asas timbal balik. Kemudian penyelenggaraan penitipan kendaraan bermotor
dengan kapasitas sampai dengan 10 (sepuluh) kendaraan roda 4 (empat) atau lebih dan kapasitas
sampai dengan 20 (dua puluh) kendaraan roda 2 (dua) serta penyelenggaraan tempat parkir yang
semata-mata digunakan untuk usaha memperdagangkan kendaraan bermotor.10
Subjek pajak parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan parkir kendaraan
bermotor.11 Sementara, wajib pajak parkir ada!ah orang pribadi atau Badan yang
menyelenggarakan tempat parkir.12 Besaran pajak parkir yang harus dibayarkan didasarkan pada
tarif yang berlaku yaitu 20% dikalikan dengan dasar pengenaan pajaknya yaitu jumlah
pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat parkir termasuk
potongan harga parkir dan parkir cuma-Cuma yang diberikan kepada penerima jasa parkir.13
Mengenai besarnya pajak yang terutang dapat dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak
parkir yaitu 20% dengan satu kendaraan perjam. Tarif ini diberlakukan sama untuk setiap objek
parkir. Contoh tarif pajak parkir di suatu pusat perbelanjaan sebesar Rp.3000,-, untuk setiap jam
pertama akan ditambah Rp. 1000,- dijam berikutnya. Cara perhitungan pajak yang didapatkan
oleh Dinas Pendapatan Daerah untuk satu mobil perjamnya adalah :
Pendapatan = Tarif Pajak x tiap kendaraan perjam
20% x 3000,-
Pendapatan = Rp.600,-
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pajak parkir adalah sebagai berikut:
9 Pejelasan Pasal 3 ayat (1) Perda DKI Jakarta No 16 Tahun 2010.
10 Pasal 3 ayat (2) Perda DKI Jakarta No 16 Tahun 2010 penjelasannya bahwa Apabila penyelenggaraan dan
pengelolaan tempat parkir yang dimiliki oleh pemerintah pusat maupun daerah diserahkan kepada pihak ketiga (pihak swasta) dan memungut bayaran maka hal ini termasuk ke dalam objek pajak parkir. Demikian pula penyelenggaraan tempat parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri namun memungut bayaran baik harian maupun bulanan/langganan maka penyelenggaraan parkir ini termasuk objek pajak parkir.
1) Wajib pajak yang telat membayar.
2) Wajib pajak yang telah membayar tetapi tidak menyetorkan.
3) Wajib pajak yang seharusnya sudah dapat dinyatakan sebagai wajib pajak tetapi wajib
pajak tersebut tidak melapor.14
2. Hambatan Pemungutan Pajak Parkir Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah
Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengatur masalah anggaran pendapatan dan
belanja daerahnya. DKI Jakarta sebagai sebuah daerah khusus yang harus mandiri di berbagai
bidang. Dalam kaitannya dengan daerah khusus, DKI Jakarta harus mampu mengelola keuangan
daerah dan juga menggali potensi bagaimana agar keuangan daerah khususnya adalah
Pendapatan Asli Daerah DKI Jakarta dapat mencapai hasil yang maksimal. Mekanisme dalam
melaksanakan pemungutan pajak parkir, terdapat beberapa hambatan. Hambatan-hambatan ini
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal dari kendala yang dihadapi dalam
mengoptimalisasi pajak parkir yaitu kurangnya kepatuhan dari wajib pajak dalam melaksanakan
kewajibannya sehingga diperlukan pengawasan yang lebih intensif, kemudian kurang optimalnya
penerapan law enforcement yang menyebabkan wajib pajak tidak patuh dalam melaksanakan
kewajibannya, serta masih ada penyedia atau penyelenggara tempat parkir diluar badan jalan
yang masih belum mendaftar sebagai wajib pajak, Sistem pemungutan pajak yang berlaku yaitu
self assessment system membuat wajib pajak sering kali menunggak dikarenakan dirasakan lebih
merepotkan serta membinggungkan untuk Wajib pajak.15
Sedangkan faktor internal yaitu hambatan SDM Pegawai Dinas Pajak, dalam hal teknologi
informasi (IT) Dinas Pelayanan Pajak (DPP) DKI Jakarta juga menemukan hambatan dalam
pelayanan pajaknya. Oleh karena itu DPP DKI Jakarta saat ini sedang fokus dalam membangun
sistem online yang semakin memudahkan Wajib Pajak dalam menunaikan kewajiban
perpajakannya dan membantu perbaikan pengelolaan database Wajib Pajak (WP).16 Namun
dalam penerapan Online System yang kurang memadai sehingga memperlambat proses
administrasi, sehingga kurang optimalnya pelayanan administrasi pajak yang diberikan
dikarenakan jumlah pegawai yang masih tergolong kecil dibandingkan dengan wajib pajak.
14 Dinda Lasdwihati, ”Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah
Kota Bekasi”, Artikel Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, hlm 17.
15 Ika Sugiharti dan Dahlia Sari, Analisis Potensi dan Kendala Serta Optimalisasi Pajak Parkir terhadap Penerimaan
Pajak Daerah di Provinsi DKI Jakarta, terdapat dalam http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2015-09/S47289-Tika%20Sugiharti, diakses 7 Desember 2017.
Pelaporan kewajiban perpajakan melalui online system tersebut diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Gubernur (pergub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan
Online System atas Pelaporan Data Transaksi Usaha Wajib Pajak Pajak Hotel, Pajak Restoran
Pajak Hiburan dan Pajak Parkir serta Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 224
Tahun 2012 tentang Pembayaran dan Pelaporan Transaksi Usaha Pajak Hotel, Pajak Restoran
Pajak Hiburan dan Pajak Parkir Melalui Online System. Dalam kedua pergub tersebut diatur
bahwa perangkat dan sistem informasi pajak daerah yang dimiliki oleh Dinas Pelayanan Pajak
(DPP) DKI Jakarta dihubungkan secara online system dengan perangkat dan sistem informasi
usaha pada wajib pajak yang salah satunya adalah wajib pajak parkir.17
3. Kaitan Pajak Parkir, PAD dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Peningkatan PAD akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Adanya kenaikan PAD
akan memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah menjadi lebih baik daripada
pertumbuhan ekonomi daerah sebelumnya. Kenaikan PAD juga dapat mengoptimalkan dan
meningkatkan aktivitas pada sektor-sektor yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi, seperti
sektor industri dan perdagangan, sektor jasa, dan sektor-sektor lainnya. Jika ternyata PAD
berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, maka terdapat kemungkinan kuat bahwa DAU dan
DAK juga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi karena nilai DAU dan DAK pada
umumnya lebih besar dibandingkan kontribusi PAD.
Salah satu persoalan pembangunan dasawarsa ini adalah usaha untuk mengurangi jumlah
penduduk miskin. Karena selain alasan kemanusiaan, mengatasi masalah kemiskinan merupakan
usaha untuk menghindari biaya pembangunan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sudah
banyak teori, model dan strategi pembangunan yang diutarakan para ahli untuk mengatasi
masalah kemiskinan, namun hingga saat ini masalah kemiskinan tetap menjadi masalah penting
di negaranegara berkembang. Di Indonesia, kebijakan mengatasi permasalahan kemiskinan juga
sudah dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi fenomena yang terjadi justru menunjukkan bahwa
jumlah masyarakat miskin tidak berkurang. Ini membuktikan bahwa dalam pengelolaan
pendapatan masih terjadi kesenjangan pengalokasian sektor-sektor yang memberikan kontribusi
pada pembangunan sehingga hasil pembangunan yang dilakukan selama ini belum memberikan
17 http://bprd.jakarta.go.id/sosialisasi-tata-cara-penghitungan-pajak-parkir-sesuai-pergub-1022013/, diakses 7
kemakmuran yang merata. Jika setiap daerah mampu mengoptimalkan dan mengelola
pendapatannya sendiri, maka akan terjadi peningkatan pada berbagai potensi di sektor
masing-masing yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu daerah tersebut akan menekan
tingkat pengangguran di daerahnya dan mengurangi jumlah kemiskinan yang ada di daerah.
Untuk mengoptimalkan dan mengelola PAD yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi
dan selanjutnya berimbas pada penekanan tingkat pengangguran dan mengurangi kemiskinan,
maka diperlukan pengelolaan alokasi anggaran sebagai salah satu strategi pengelolaan
pendapatan. Strategi alokasi anggaran ini bisa mendorong dan mempercepat pertumbuhan
ekonomi sekaligus menjadi alat mengurangi kesenjangan / ketimpangan regional.18
Pengangguran berhubungan erat dengan ketersediaan lapangan kerja, ketersediaan lapangan keija
berhubungan dengan belanja pembangunan. Dengan demikian, strategi pengoptimalan dan
pengelolaan anggaran akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi potensi
sektor-sektor pembangunan. Pertumbuhan ekonomi akan menekan tingkat pengangguran dan
mengurangi jumlah kemiskinan di daerah.
Peningkatan PAD akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Adanya kenaikan PAD
akan memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah menjadi lebih baik daripada
pertumbuhan ekonomi daerah sebelumnya. Kenaikan PAD juga dapat mengoptimalkan dan
meningkatkan aktivitas pada sektor-sektor yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi, seperti
sektor industri dan perdagangan, sektor jasa, dan sektor-sektor lainnya. Salah satu tujuan utama
dari desentralisasi fiskal adalah terciptanya kemandirian daerah. Pemerintah daerah diharapkan
mampu menggali sumber– sumber keuangan lokal, khususnya melalui PAD. Jika PAD
meningkat maka dana yang dimiliki oleh pemerintah daerah akan lebih tinggi.
KESIMPULAN
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa, pajak parkir yang diterapkan di DKI
Jakarta dapat meningkatkan PAD. Apabila PAD berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, maka
terdapat kemungkinan kuat bahwa DAU dan DAK juga berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan ekonomi karena nilai DAU dan DAK pada umumnya lebih besar dibandingkan
kontribusi PAD. Dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 disebutkan bahwa ruang
lingkup keuangan negara adalah sebagai berikut:
a. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan
pinjaman;
b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan
membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan Negara;
d. Pengeluaran Negara;
e. Penerimaan Daerah;
f. Pengeluaran Daerah;
g. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang,
surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk
kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah;
h. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
Pendapatan Asli daerah termasuk ke dalam Penerimaan Daerah yaitu dalam huruf e Pasal 2
tersebut diatas. Pajak parkir dapat meberikan dampak langsung terhadap PAD, PAD
dioptimalkan untuk menjalankan administrasi di daerah dan dapat berimplikasi langsung
terhadap kemajuan masyarakat, pembangunan infrastruktur dan mendorong pertumbuhan
ekonomi daerah. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi daerah ini akan mendorong pula
pertumbuhan ekonomi nasional pula karena apabila dilihat dari analisis diatas suatu daerah
memiliki posisi fundamental dalam perkembangan suatu negara. Apabila suatu daerah dapat
mandiri dan dapat mensejahterakan daerahnya sendiri maka implikasinya terhadap negara adalah
adanya perkembangan ekonomi pada taraf nasional dan perekonomian yang merata di semua
Daftar Pustaka
Buku
Darwin. 2010. Pajak dan Retribusi Daerah. Jakarta: Mitra Wacana Media.
HAW. Widjaja. 2005. Penyelenggaraan Otonomi Daerah di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kuncoro. Mudrajad, 2003, Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Yani. Ahmad. 2009, Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Jurnal
Amalia. Olla Meria Amalia. 2014. “Kewenangan Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung Terhadap Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan”. Jurnal Ilmiah Hukum Administrasi Negara. Lampung: Universitas Lampung.
Lasdwihati. Dinda. “Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi”. Artikel Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
Lutfi. Achmad. 2006. “Penyempurnaan Administrasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. Jurnal
Ilmu Administrasi dan Organisasi, Volume XIV. Dept. Imu Administrasi, FISIP UI.
Peraturan
Gambaran Umum Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta, lib.ui.ac.id/file
Perda Prov. DKI Jakarta No. 16 Tahun 2010 Tentang Pajak Parkir,
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Internet
http://bprd.jakarta.go.id/prospek-pajak-daerah-tahun-2016/