• Tidak ada hasil yang ditemukan

IPA TERAPAN UNTUK SMK PARIWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IPA TERAPAN UNTUK SMK PARIWISATA"

Copied!
175
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

IPA TERAPAN UNTUK SMK PARIWISATA

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang

Penulis : Noor Hudallah Agus Suryanto Sri Handayani

2017

Disusun dengan huruf Times New Roman, 11 pt Milik Negara

Tidak Diperdagangkan

750.014 BAS

k

(4)

KATA PENGANTAR

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) mengamanatkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Atas dasar amanat tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Implementasi dari undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tersebut yang dijabarkan melalui sejumlah peraturan pemerintan, memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, diantaranya adalah standar sarana dan prasarana. Guna peningkatan kualitas lulusan SMK maka salah satu sarana yang harus dipenuhi oleh Direktorat Pembinaan SMK adalah ketersediaan bahan ajar siswa khususnya bahan ajar Peminatan C1 SMK sebagai sumber belajar yang memuat materi dasar kejuruan

Kurikulum yang digunakan di SMK baik kurikulum 2013 maupun kurikulum KTSP pada dasarnya adalah kurikulum berbasis kompetensi. Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik serta rumusan proses pembelajaran dan penilaian yang diperlukan oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Bahan ajar Siswa Peminatan C1 SMK ini dirancang dengan menggunakan proses pembelajaran yang sesuai untuk mencapai kompetensi yang telah dirumuskan dan diukur dengan proses penilaian yang sesuai.

(5)

kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan kurikulum yang digunakan, peserta didik diajak berani untuk mencari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Bahan ajar ini merupakan edisi ke-1. Oleh sebab itu Bahan Ajar ini perlu terus menerus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

Kritik, saran, dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya sangat kami harapkan; sekaligus, akan terus memperkaya kualitas penyajian bahan ajar ini. Atas kontribusi itu, kami ucapkan terima kasih. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada kontributor naskah, editor isi, dan editor bahasa atas kerjasamanya. Mudah-mudahan, kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan menengah kejuruan dalam rangka mempersiapkan Generasi Emas seratus tahun Indonesia Merdeka (2045).

(6)

DAFTAR ISI

Halaman:

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vi

BAB 1BESARAN FISIKA DAN PENGUKURANYA ... 1

A. Besaran dan Satuan ... 1

B. Mengkonversi Satuan Panjang, Massa dan Waktu ... 8

C. Mengkonversi Satuan Besaran Turunan ... 10

D. Mengkonversi Satuan Besaran Turunan Volume ... 10

E. Pengukuran ... 11

F. Angka Penting ... 17

G. Pengukuran dan Ketidakpastian ... 18

BAB 2 GAYA, USAHA DAN ENERGI ... 27

A. Gaya ... 27

B. Hukum Newton ... 34

C. Usaha ... 36

D. Energi ... 36

BAB 3 KEKUATAN BAHAN, TEGANGAN PERMUKAAN DAN ELASTISITAS 50 A. Karakteristik, Jenis dan Kekuatan bahan ... 50

B. Tegangan, Regangan dan Modulus Elastisitas ... 65

C. Hukum Hooke untuk Susunan Pegas ... 72

BAB 4SUHU DAN KALOR ... 78

A. Konsep Suhu dan Kalor ... 78

B. Pengaruh kalor terhadap zat ... 89

C. Perpindahan kalor ... 92

D. Perambatan Kalor ... 93

BAB 5MATERI DAN PERUBAHANNYA ... 99

A. Materi dan Klasifikasinya ... 99

B. Sifat dan Wujud Materi ... 100

C. Perubahan Materi ... 101

D. Manfaat Perubahan Materi dalam Kehidupan ... 103

BAB 6 MEDAN LISTRIK DAN MEDAN MAGNET ... 108

A. Medan Listrik ... 108

B. Medan Magnet ... 118

BAB 7POTENSIAL LISTRIK & LISTRIK SEARAH ... 137

(7)

BAB 1

BESARAN FISIKA DAN PENGUKURANYA

A.

Besaran dan Satuan

Cobalah ukur panjang, lebar, dan tinggi buku menggunakan mistar. Berapa hasilnya? Tentu hasilnya akan berbeda antara satu buku dan buku lainnya. Misalnya, setelah diukur diketahui sebuah buku memiliki panjangnya 30 cm, lebarnya 20 cm, dan tebalnya 4 cm. Panjang, lebar, dan tinggi buku yang diukur tersebut, dalam fisika merupakan contoh-contoh besaran. Sementara itu, angka 20, 15, dan 4 menyatakan besar dari besaran tersebut dan dinyatakan dalam satuan centimeter (cm). Dengan demikian, besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka, sedangkan satuan merupakan acuan yang digunakan dalam pengukuran atau membandingkan dalam suatu pengukuran besaran.

1.

Besaran

Setiap besaran memiliki satuan yang berbeda sesuai dengan yang telah ditetapkan. Besaran dalam Fisika dikelompokkan menjadi besaran pokok dan besaran turunan.

Besaran berdasarkan cara memperolehnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:

a. Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa merupakan besaran fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.

b. Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non fisika adalah Jumlah.

Besaran Fisika sendiri dibagi menjadi 2, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

1) Besaran Pokok

(8)

cahaya, dan jumlah zat. Selain itu, terdapat dua besaran tambahan yang tidak memiliki dimensi, yakni sudut datar dan sudut ruang (tiga dimensi). Satuan dan lambang satuan dari besaran pokok dapat Anda lihat pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.1 Tujuh Besaran Pokok dalam Sistem Internasional

Besaran Pokok Satuan Lambang Satuan

Panjang Meter M

Massa Kilogram kg

Waktu Secon (detik) s

Arus Listrik Ampere A

Suhu Kelvin K

Intensitas Cahaya Kandela cd

Jumlah Zat Mole mol

Tabel 1.2 Dua Besaran Tambahan dalam Sistem Internasional Besaran tambahan Satuan Lambang satuan

Sudut datar Radian Rad

Sudut ruang Steradian Sr

2) Besaran Turunan

Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari beberapa besaran pokok. Sebagai contoh, volume sebuah balok adalah panjang × lebar × tinggi. Panjang, lebar, dan tinggi adalah besaran pokok yang sama. Dengan kata lain, volume diturunkan dari tiga besaran pokok yang sama, yakni panjang. Contoh lain adalah kelajuan, yakni jarak dibagi waktu. Kelajuan diturunkan dari dua besaran pokok yang berbeda, yakni panjang (jarak) dan waktu.

Satuan dari besaran turunan biasanya diturunkan dari besaran pokoknya, misal volume satuanya m3. Namun, ada pula yang memilik satuan sendiri. Berikut tabel besaran turunan dan satunya pada tabel 1.3.

Tabel 1.3 Besaran Turunan dan Satuanya

Besaran Turunan Satuan Lambang satuan

Gaya Newton N

Energi Joule J

Daya Watt W

(9)

Besaran Turunan Satuan Lambang satuan

Frekuensi Hertz Hz

Muatan Listrik Coulomb C

Beda Potensial Volt V

Hambatan Listrik Ohm Ω

Kapasitas Kapasitor Farad F

Fluks Magnetik Weber Wb

Induksi Magnetik Tesla T

Induktansi Henry H

Fluk Cahaya Lumen ln

Kuat Penerangan Lux lx

Selain itu, berdasarkan ada tidaknya arah, besaran juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu besaran skalar dan besaran vektor.

a. Besaran skalar

yaitu besaran yang mempunyai besar dan satuan saja tanpa memiliki arah. Contoh: panjang, massa, waktu.

b. Besaran vektor

yaitu besaran yang memiliki besar (nilai), satuan dan arah. Contoh: kecepatan, gaya, perpindahan.

2.

Satuan

Ada dua macam sistem satuan yang sering digunakan dalam ilmu Fisika dan ilmu teknik, yakni sistem metrik dan sistem Inggris. Satuan dibahas dalam materi ini adalah sistem metrik. Sistem metrik kali pertama digunakan di negara Prancis yang dibagi menjadi dua bagian, yakni sistem MKS (meter, kilogram, sekon) dan CGS (centimeter, gram, sekon). Akan tetapi, satuan internasional menetapkan sistem MKS sebagai satuan yang dipakai untuk tujuh besaran pokok.

a. Penetapan Satuan Panjang

(10)

didefinisikan sebagai jarak yang sama dengan 1.650.763,73 kali riak panjang gelombang cahaya merah-jingga yang dihasilkan oleh gas kripton.

Sumber: http://fisikamagz.blogspot.co.id/

Gambar 1.1 Jarak dua goresan pada balok logam campuran dari platina dan iridium yang tersimpan di International Bureau of Weight and Measures

b.

Penetapan Satuan Massa

Kilogram standar adalah sebuah massa standar, yakni massa sebuah

silinder platina-iridium yang aslinya disimpan di Sevres dekat Paris. Di Kota

Sevres terdapat tempat kantor internasional tentang berat dan ukuran.

Selanjutnya, massa kilogram standar disamakan dengan massa 1 liter air murni

pada suhu 4°C.

Sumber: http://fisikamagz.blogspot.co.id/

(11)

c. Penetapan Satuan Waktu

Satuan waktu dalam SI adalah detik atau sekon. Pada awalnya, 1 detik atau 1 sekon didefinisikan dengan 1

86.400 hari Matahari rata-rata. Oleh karena 1 hari Matahari rata-rata dari tahun ke tahun tidak sama, standar ini tidak berlaku lagi. Pada 1956, sekon standar ditetapkan secara internasional, yakni:

1 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛 =31.556.925,9747 𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 19001

Akhirnya pada 1967, ditetapkan kembali bahwa satu sekon adalah waktu yang diperlukan atom Cesium untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.

Sumber: http://fisikamagz.blogspot.co.id/

Gambar 1.3: Atom cesium-133 memancarkan gelombang dengan frekuensi osilasi

d. Penetapan Satuan Arus Listrik

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah dalam satuan mikroAmpere (μA) seperti di dalam jaringan tubuh hingga arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit bergantung pada voltase dan resistansi sesuai dengan hukum Ohm.

(12)

Sumber: Shttps://mdesyra.wordpress.com/ Gambar 1.4: Ampere meter

e. Penetapan Satuan Suhu

Sebelum 1954, titik acuan suhu diambil sebagai titik lebur es pada harga 0°C dan titik didih air berharga 100°C pada tekanan 76 cmHg. Kemudian pada 1954, dalam kongres Perhimpunan Internasional Fisika, diputuskan bahwa suhu titik lebur es pada 76 cmHg menjadi T = 273,15 K dan titik didih air pada 76 cmHg menjadi T = 373,15 K.

Sumber: http://www.berpendidikan.com/

Gambar 1.5 Perbandingan titik didih dan titik beku pada termometer

f. Penetapan Satuan Intensitas Cahaya

(13)

Satuan kandela didefinisikan sebagai benda hitam seluas satu meter persegi yang bersuhu titik lebur platina (1.773°C). Benda ini akan memancarkan cahaya dalam arah tegak lurus dengan kuat cahaya sebesar 6 × 105 kandela.

Sumber: http://www.bikasolusi.co.id/ Gambar 1.6 Candela standar

g. Penetapan Satuan Jumlah Zat

Jumlah zat adalah besaran pokok fisika yang mengukur jumlah cuplikan zat elementer yang dapat berupa elektron, atom, ion, molekul, atau partikel tertentu. Satuan SI untuk jumlah zat ini adalah mol yang didefinisikan sebagai jumlah atom dalam elemen carbon-12 seberat 12 g. 1 mol mempunyai 6,0221415×1023 atom dari bahan murni yang diukur, yang sering dikenal sebagai bilangan Avogadro.

Sumber: https://www.sciencelearn.org.nz/ Gambar 1.7 1 Mole of Carbon

3.

Dimensi

(14)

besaran tersebut. Tujuh besaran pokok yang berdimensi dapat Anda lihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1.4 Dimensi Besaran

No Besaran Dimensi

1 Panjang [L]

2 Massa [M]

3 Waktu [T]

4 Arus Listrik [I]

5 Suhu [θ]

6 Intensitas Cahaya [J]

7 Jumlah Zat [N]

Dimensi suatu besaran menunjukkan bagaimana cara besaran tersebut tersusun oleh besaran-besaran pokok. Besaran pokok tambahan adalah sudut datar dan sudut ruang, masing-masing memiliki satuan radian dan steradian, tetapi keduanya tidak berdimensi. Contoh, besaran volume memiliki satuan m3 dimensi.

B.

Mengkonversi Satuan Panjang, Massa dan Waktu

Pada kehidupan sehari-hari saat kita di tempat kerja, di rumah, dan sebagainya adakalanya kita harus mengonversi satuan panjang, satuan massa, dan satuan waktu. Bagaimana cara mengonversi satuan-satuan tersebut?

(15)

Sumber: http://www.rumusmatematikadasar.com/ Gambar 1.8 Konversi satuan panjang

Seperti pada besaran panjang dan massa, besaran waktu juga memiliki beberapa satuan yang dapat salmg dikonversikan. Saman-satuan besaran waktu, antara lain jam, menit, dan detik.

1 jam =60 menit 1 menit = 60 sekon

Contoh 1.1 Konversi satuan. Konversikan satuan-satuan berikut! a. 5,5 km = ... m

b. 3000 cm = ... m c. 5000 g= ... kg d. 6,25 g = ... mg e. 4,5 jam = ... menit f. 360 sekon = ... menit

Jawab:

a. 5,5 km = 5,5 x 1000 = 5500 m b. 3000 cm =3000

100 = 30 m c. 5000 g = 5000

1000 = 5 kg

(16)

e. 4,5 jam = 4,5 x 60 menit = 270 menit

f.

360 sekon = 360

60 = 6 menit

C.

Mengkonversi Satuan Besaran Turunan

Contoh besaran turunan adalah luas dan volume. Bagaimana menentukan luas papan tulis? Berapakah volume air dalam suatu bak mandi yang penuh? Luas merupakan besarnya suatu daerah bidang. Luas dapat diperoleh dengan mengalikan antara dua besaran pokok panjang (panjang dan lebar atau alas dan tinggi). Karena luas merupakan turunan dari besaran panjang, maka satuannya juga diturunkan dari besaran panjang. Satuan luas yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain km², m², dan cm². Volume dapat diartikan sebagai besarnya suatu ruang. Volume suatu balok dapat diperoleh dengan cara mengalikan tiga besaran pokok panjang (panjang, lebar, dan tinggi). Satuan volume, antara lain cm³, m³, dan km³.

D.

Mengkonversi Satuan Besaran Turunan Volume

Satuan volume benda cair yang sering digunakan, yaitu m³, dm³ (liter), cm³, dan cc. Liter adalah unit pengukur volume. Hubungan antarsatuan volume adalah setiap naik satu satuan dikali dengan seribu apabila turun satu satuan dibagi dengan seribu. Hubungan antarsatuan volume adalah sebagai berikut. 1 liter = 10 desiliter = 100 centiliter = 1.000 milliliter.

Contoh 1.3

(17)

Jawab:

0,02 m³ ( 9 X 1,8-1iter) = 20.000cm³-16.200 cm³ = 3. 800 cm³

2.

Seorang petugas kebersihan mengisi bak mandi yang volumenya 1 m3 petugas kebersihan tersebut mengisi bak mandi dengan menggunakan ember kecil yang volumenya l dm3. Berapa kali petugas kebersihan harus mengangkut air dengan ember?

Jawab:

Volume bak mandi 1 m³ = 1.000 L

1dm³ = 1 L. Jadi, petugas kebersihan harus mengangkut air sebanyak 1.000 L atau 1.000 kali.

E.

Pengukuran

1. Pengukuran panjang a. Mistar (Penggaris)

Mistar atau penggaris adalah alat ukur panjang yang sering digunakan. Alat ukur ini memiliki skala terkecil 1 mm atau 0,1 cm. Mistar memiliki ketelitian pengukuran setengah dari skala terkecilnya yaitu 0,5 mm. Pada saat melakukan pengukuran dengan mistar, arah pandangan harus tegak lurus dengan dengan skala pada mistar dan benda yang diukur. Jika tidak tegak lurus akan menyebabkan kesalahan dalam pengukuran, bisa lebih besar atau lebih kecil dari ukuran aslinya.

Untuk mengukur panjang benda biasanya digunakan mistar atau penggaris. Ada beberapa jenis mistar sesuai dengan skalanya. Mistar yang skala terkecilnya 1 mm disebut mistar berskala mm, sedangkan mistar yang skala rerkecilnya 1 cm disebut mistar berskala cm. Mistar yang biasa digunakan adalah mistar berskala mm. Satu skala terkecil mistar ini adalah 1 mm atau 0,1 cm. Oleh karena itu, ketelitian mistar berskala mm adalah 1 mm atau 0,l cm.

(18)

Sumber: http://edu.anashir.com/ Gambar 1.9 Pembacaan mistar

b. Jangka Sorong

Jangka sorong juga merupakan alat pengukur panjang dan biasa digunakan untuk mengukur diameter suatu benda. Penemu jangka sorong adalah seorang ahli teknik berkebangsaan Prancis, Pierre Vernier. Jangka sorong terdiri dari dua bagian, yaitu rahang tetap dan geser (sorong). Skala panjang yang terdapat pada rahang tetap adalah skala utama, sedangkan skala pendek pada rahang geser adalah skala nonius atau vernier, diambil dari nama penemunya. Skala utama memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius memiliki panjang 9 mm dan dibagi 10 skala. Sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jadi, skala terkecil pada jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.

Sumber: Sumber: http://edu.anashir.com/ Gambar 1.10 Jangka sorong

(19)

b

Sumber: http://edu.anashir.com/

Gambar 1.11 Skala jangka sorong

Cara mengukur panjang benda menggunakan jangka sorong ditunjukkan oleh Gambar 1.11 (b). Ditunjukkan pada gambar tersebut skala utama (sku) adalah 62 skala dan skala nonius (skn) adalah 4 skala. Sehingga panjang benda yang diukur dibaca dengan cara berikut:

Panjang benda = sku . 1 mm + skn . 0,1 mm = 62 . 1 mm + 4 . 0,1 mm = 62 mm + 0,4 mm = 62,4 mm

c. Mikrometer Sekrup

(20)

Sumber: http://edu.anashir.com/ Gambar 1.12 Mikrometer sekrup

Pada mikrometer sekrup di atas, ditunjukkan bahwa sku = 9 skala dan skn = 43 skala, maka panjang benda yang diukur dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut:

Panjang benda = (sku . 0,5 + skn . 0,01) mm = (9 . 0,5 + 43 . 0,01) mm = (4,5 + 0,43) mm

= 4,93 mm 2. Pengukuran Massa

a. Timbangan Pasar

Timbangan yang banyak digunakan di pasar. Terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian tempat benda dan bagian anak timbangan. Berkapasitas ukur maksimal 15-20 kg dan bisa dibawa dengan tangan.

Sumber: https://fjb.m.kaskus.co.id/ Gambar 1.13 Timbangan pasar

b. Neraca Dua Lengan

(21)

Sumber: https://ukurkadarair.com/ Gambar 1.14 Neraca dua lengan c. Timbangan Gantung

Timbangan jenis ini banyak di jumpai di pasar-pasar, kapasitas ukur maksimal 100 s.d. 150 kilogram. Cara menimbangnya yaitu dengan membungkus benda dalam wadah karung (bisa yang lain) kemudian di kaitkan dengan pengait yang ada di timbangan gantung.

Sumber: https://www.tokopedia.com/ Gambar 1.15 Timbangan gantung d. Neraca Ohaus

(22)

Neraca Ohaus terdiri dari tiga lengan, sehingga sering disebut juga neraca tiga lengan. Neraca ini mempunyai tiga buah lengan, yaitu lengan pertama yang berskala ratusan gram, lengan kedua yang berskala puluhan gram, dan lengan ketiga yang berskala satuan gram. Neraca ini mempunyai ketelitian sampai dengan 0,1 gram. Neraca O Hauss dengan tiga buah lengan ini terdiri atas:

• lengan 10 gram • lengan 100 gram • lengan 500 gram

Sumber: https://untuksemua101.blogspot.co.id/

Gambar 1.16 Neraca ohaus

Ilustrasi cara membaca neraca Ohaus untuk mengukur massa benda. Berikut ini cara mengukur massa menggunakan neraca Ohaus:

Sumber: http://www.e-sbmptn.com/ Gambar 1.17 Pembacaan neraca ohaus

Untuk membaca hasil pengukuran, mulailah dari angka di lengan 500 g, 100 gram dan terakhir 10 gram. Pada contoh di atas, lengan 500 gram berada di tengah, ada kemungkinan di model lain, lengan 500 gram ada di belakang atau malah di depan. Hasil pengukuran pada contoh di atas:

(23)

F.

Angka Penting

Angka penting adalah angka hasil pengukuran yang terdiri dari angka pasti (eksak) dan angka taksiran. Angka pasti diperoleh dari penghitungan skala alat ukur, sedangkan angka taksiran yaitu angka hasil pengukuran yang diperoleh dengan memperkirakan nilainya. Nilai ini muncul karena yang terukur terletak diantara skala terkecil alat ukur. Dalam setiap pengukuran hanya diperbolehkan memberikan satu angka taksiran.

Semua angka-angka hasil pengukuran adalah bagian dari angka penting. Namun, tidak semua angka hasil pengukuran merupakan angka penting. Berikut ini merupakan aturan penulisan nilai dari hasil pengukuran.

➢ Semua angka bukan nol merupakan angka penting. • 548 memiliki 3 angka penting

• 1,871 memiliki 4 angka penting

➢ Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting. • 2,022 memiliki 4 angka penting.

➢ Angka nol yang terletak di sebelah kanan tanda koma dan angka bukan nol termasuk angka penting.

• 4,500 memiliki 3 angka penting.

➢ Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol, baik yang terletak di sebelah kiri maupun di sebelah kanan koma desimal, bukan angka penting.

• 0,63 memiliki 2 angka penting • 0,008 memiliki 1 angka penting. 1. Penjumlahan dan Pengurangan

Operasi penjumlahan dan pengurangan angka-angka penting, hasilnya hanya boleh mengandung satu angka taksiran (angka yang diragukan).

Contoh:

(24)

6,950 x 103 = 6,950 x 103  0 angka taksiran +

54,350 x 103 = dibulatkan 54,4 x 103, karena hanya boleh mengandung satu angka dan dalam notasi ilmiah di tulis 5,44 x 104 c. Kurangi 578,39 m dengan 312 m

578,39  9 angka taksiran 312  2 angka taksiran -

266,39  266 m karena hanya boleh mengandung satu angka taksiran d. Kurangi 5,4 x 102 m dengan 165 m

540 m  4 angka taksiran

165  5 angka taksiran -

375  280 karena hanya boleh mengandung saatu angka taksiran

Agar jelas banyak angka pentingya, maka ditulis dalam bentuk notasi ilmiah 2,8 x 102 m.

G.

Pengukuran dan Ketidakpastian

Saat melakukan pengukuran mengunakan alat, tidaklah mungkin kita mendapatkan nilai yang pasti benar, melainkan selalu terdapat ketidakpastian. Apakah penyebab ketidakpastian pada hasil pengukuran? Secara umum penyebab ketidakpastian hasil pengukuran ada tiga, yaitu kesalahan umum, kesalahan sistematik, dan kesalahan acak.

1.

Kesalahan Umum

Kesalahan umumadalah kesalahan yang disebabkan keterbatasan pada pengamat saat melakukan pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena kesalahan membaca skala kecil, dan kekurangterampilan dalam menyusun dan memakai alat, terutama untuk alat yang melibatkan banyak komponen.

2.

Kesalahan Sistematik

(25)

a.

Kesalahan Kalibrasi

Kesalahan kalibrasi terjadi karena pemberian nilai skala pada saat pembuatan atau kalibrasi (standarisasi) tidak tepat. Hal ini mengakibatkan pembacaan hasil pengukuran menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya. Kesalahan ini dapat diatasi dengan mengkalibrasi ulang alat menggunakan alat yang telah terstandarisasi.

b.

Kesalahan Titik Nol

Kesalahan titik nol terjadi karena titik nol skala pada alat yang digunakan tidak tepat berhimpit dengan jarum penunjuk atau jarum penunjuk yang tidak bisa kembali tepat pada skala nol. Akibatnya, hasil pengukuran dapat mengalami penambahan atau pengurangan sesuai dengan selisih dari skala nol semestinya. Kesalahan titik nol dapat diatasi dengan melakukan koreksi pada penulisan hasil pengukuran.

c.

Kesalahan Komponen Alat

Kerusakan pada alat jelas sangat berpengaruh pada pembacaan alat ukur. Misalnya, pada neraca pegas. Jika pegas yang digunakan sudah lama dan aus, maka akan berpengaruh pada pengurangan konstanta pegas. Hal ini menjadikan jarum atau skala penunjuk tidak tepat pada angka nol yang membuat skala berikutnya bergeser.

d.

Kesalahan Paralaks

Kesalahan paralaks terjadi bila ada jarak antara jarum penunjuk dengan garis-garis skala dan posisi mata pengamat tidak tegak lurus dengan jarum.

3.

Kesalahan Acak

Kesalahan acak adalah kesalahaan yang terjadi karena adanya fluktuasifluktuasi halus pada saat melakukan pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena adanya gerak brown molekul udara, fluktuasi tegangan listrik, lkitasan bergetar, bising, dan radiasi.

a.

Gerak Brown Molekul Udara

(26)

b.

Fluktuasi Tegangan Listrik

Tegangan listrik PLN atau sumber tegangan lain seperti aki dan baterai selalu mengalami perubahan kecil yang tidak teratur dan cepat sehingga menghasilkan data pengukuran besaran listrik yang tidak konsisten.

c.

Lintasan yang Bergetar

Getaran pada lintasan tempat alat berada dapat berakibat pembacaan skala yang berbeda, terutama alat yang sensitif terhadap gerak. Alat seperti seismograf butuh tempat yang stabil dan tidak bergetar. Jika lintasannya bergetar, maka akan berpengaruh pada penunjukkan skala pada saat terjadi gempa bumi.

d.

Bising

Bising merupakan gangguan yang selalu kita jumpai pada alat elektronik. Gangguan ini dapat berupa fluktuasi yang cepat pada tegangan akibat dari komponen alat bersuhu.

e.

Radiasi latar belakang

Radiasi gelombang elektromagnetik dari kosmos (luar angkasa) dapat mengganggu pembacaan dan menganggu operasional alat. Misalnya, ponsel tidak boleh digunakan di SPBU dan pesawat karena bisa mengganggu alat ukur dalam SPBU atau pesawat. Gangguan ini dikarenakan gelombang elektromagnetik pada telepon seluler dapat mengasilkan gelombang radiasi yang mengacaukan alat ukur pada SPBU atau pesawat.

Adanya banyak faktor yang menyebabkan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam suatu pengukuran, menjadikan kita tidak mungkin mendapatkan hasil pengukuran yang tepat benar. Oleh karena itu, kita harus menuliskan ketidakpastiannya setiap kali melaporkan hasil dari suatu pengukuran. Untuk menyatakan hasil ketidakpastian suatu pengukuran dapat menggunakan cara penulisan x = (xo ± Δx),

dengan x merupakan nilai pendekatan hasil pengukuran terhadap nilai benar, xo

(27)

1) Ketidakpastian pada Pengukuran Tunggal

Pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan sekali saja. Pada pengukuran tunggal, nilai yang dijadikan pengganti nilai benar adalah hasil pengukuran itu sendiri. Sedangkan ketidakpastiannya diperoleh dari setengah nilai skala terkecil instrumen yang digunakan. Misalnya, kita mengukur panjang sebuah benda menggunakan mistar.

Sumber: http://edu.anashir.com/ Gambar 1.18 Mistar ukur

Pada gambar 1.18, ujung benda terlihat pada tanda 15,6 cm lebih sedikit. Berapa nilai lebihnya? Ingat, skala terkecil mistar adalah 1 mm. Telah kita sepakati bahwa ketidakpastian pada pengukuran tunggal merupakan setengah skala terkecil alat. Jadi, ketidakpastian pada pengukuran tersebut adalah sebagai berikut.

𝑥 =

1

2 ∗ 1𝑚𝑚 = 0,5𝑚𝑚 = 0,05𝑐𝑚

Karena nilai ketidakpastiannya memiliki dua desimal (0,05 mm), maka hasilpengukurannyapun harus kita laporkan dalam dua desimal. Artinya, nilai x harus kita laporkan dalam tiga angka. Angka ketiga yang kita laporkan harus kita taksir, tetapi taksirannya hanya boleh 0 atau 5. Karena ujung benda lebih sedikit dari 15,6 cm, maka nilai taksirannya adalah 5. Jadi, pengukuran benda menggunakan mistar tersebut dapat kita laporkan sebagai berikut.

Panjang benda (l)

l = x0 ± Δx

= (15,6 ± 0,05) cm

(28)

statistik ini berarti ada jaminan 100% bahwa panjang benda terdapat pada selang 15,60 cm sampai 15,7 cm atau (15,60 ≤ x ≤ 15,70) cm.

2) Ketidakpastian pada pengukuran berulang

Agar mendapatkan hasil pengukuran yang akurat, kita dapat melakukan pengukuran secara berulang. Lantas bagaimana cara melaporkan hasil pengukuran berulang? Pada pengukuran berulang kita akan mendapatkan hasil pengukuran sebanyak N kali. Berdasarkan analisis statistik, nilai terbaik untuk menggantikan nilai benar x0adalah nilai ratarata dari data yang diperoleh (x0). Sedangkan untuk nilai ketidakpastiannya (Δx ) dapat digantikan oleh nilai simpangan baku nilai rata-rata sampel. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

x0 = hasil pengukuran yang mendekati nilai benar

Δx = ketidakpastian pengukuran

N = banyaknya pengkuran yang dilakukan

Pada pengukuran tunggal nilai ketidakpastiannya (Δx) disebut ketidakpastian mutlak. Makin kecil ketidakpastian mutlak yang dicapai pada pengukuran tunggal, maka hasil pengukurannya pun makin mendekati kebenaran. Nilai ketidakpastian tersebut juga menentukan banyaknya angka yang boleh disertakan pada laporan hasil pengukuran. Bagaimana cara menentukan banyaknya angka pada pengukuran berulang?

Cara menentukan banyaknya angka yang boleh disertakan pada pengukuran berulang adalah dengan mencari ketidakpastian relatif pengukuran berulang tersebut. Ketidakpastian relatif dapat ditentukan dengan membagi ketidakpastian pengukuran dengan nilai rata-rata pengukuran. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

𝒌𝒆𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊𝒂𝒏 𝒓𝒆𝒍𝒂𝒕𝒊𝒇 =

∆𝒙

𝒙 ∗ 𝟏𝟎𝟎%

(29)

dalam laporan hasil pengukuran berulang. Aturan banyaknya angka yang dapat dilaporkan dalam pengukuran berulang adalah sebagai berikut:

a.

ketidakpastian relatif 10% berhak atas dua angka

b.

ketidakpastian relatif 1% berhak atas tiga angka

c.

ketidakpastian relatif 0,1% berhak atas empat angka

Rangkuman

➢ Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka.

➢ Satuan merupakan acuan yang digunakan dalam pengukuran atau membandingkan dalam suatu pengukuran besaran.

➢ Berdasarkan cara menghitungnya besaran dibagi menjadi dua, besaran fisika dan besaran non fisika.

➢ Besaran fisika dibagi menjadi besaran pokok dan besaran turunan.

➢ Satuan internasional menetapkan sistem MKS sebagai satuan yang dipakai untuk tujuh besaran pokok.

➢ Dimensi suatu besaran menunjukkan bagaimana cara besaran tersebut tersusun oleh besaran-besaran pokok.

➢ Angka penting adalah angka hasil pengukuran yang terdiri dari angka pasti (eksak) dan angka taksiran. Angka pasti diperoleh dari penghitungan skala alat ukur, sedangkan angka taksiran diperoleh dari setengah skala terkecil.

➢ Secara umum penyebab ketidakpastian hasil pengukuran ada tiga, yaitu kesalahan umum, kesalahan sistematik, dan kesalahan acak.

UJI KOMPETENSI

A. Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang

tepat!

1.

Diantara kelompok besaran berikut, yang termasuk kelompok besaran pokok dalam system Internasional adalah …

a. Suhu, volume, massa jenis dan kuat arus b. Kuat arus, panjang, waktu, dan massa jenis c. Panjang, luas, waktu dan jumlah zat

(30)

2.

Perhatikan tabel berikut!

Pasangan yang benar adalah... a. 1 dan 2

b. 1 dan 3 c. 2 dan 3 d. 2 dan 4 e. 3 dan 5

3.

Kelompok besaran di bawah ini yang merupakan kelompok besaran turun adalah … a. Panjang lebar dan luas

b. Kecepatan, percepatan dan gaya c. Kuat arus, suhu dan usaha d. Kecepatan, berat dan suhu

e. Intensitas cahaya, banyaknya mol dan volume

4.

Sebuah sepeda motor bergerak dengan kecepatan sebesar 72 km/jam jika dinyatakan dalam satuan Internasional (SI), maka kecepatan sepeda motor adalah …

a. 36 ms-1 d. 20ms-1

b. 30 ms-1 e. 15 ms-1

c. 24 ms-1

5.

Rumus dimensi momentum adalah...

a. MLT-3

b. ML -1T-2 c. MLT-1

d. ML -2T2

(31)

6.

Ketidakpastian yang ada pada pengukuran tunggal ditetapkan sama dengan setengah skala terkecil dari alat ukur yang digunakan. Jika kita menggunakan mistar atau penggaris, maka ketidakpastiannya adalah sama dengan ...

a. 0,05 cm c. 0,01 cm

b. 0,1 cm d. 1 cm

7.

Jika hasil pengukuran yang dihasilkan dengan mistar adalah 4,35 cm, maka penulisan laporan hasil pengukuran yang benar adalah ...

a. (4,35 ± 0,1) cm d. (4,35 ± 0,04) cm b. (4,35 ± 0,01) cm (4,35 ± 0,5) cm c. (4,35 ± 0,05) cm

8.

Suatu benda berbentuk bola kecil diukur diameternya menggunakan mikrometer skrup seperti terlihat pada gambar di bawah ini. cara membaca skala mikrometer skrup Bacaan skala yang tepat dari pengukuran diameter benda tersebut adalah

a. 5,31 mm d. 8,41 mm

b. 8,31 mm e. 7,31 mm

c. 6,31 mm

9.

Sebuah benda diukur dengan jangka sorong. Jika skala pada pengukuran ditunjukkan pada gambar di bawah ini, maka panjang benda tersebut adalah

a. 6,66 cm b. 5,64 cm c. 6,65 cm

(32)

B.

Jawablah soal-soal di bawah ini dengan singkat dan tepat!

1. Sebuah perahu menyeberangi sungai yang lebarnya 180 meter dan kecepatan arus airnya 4 m/s. Bila perahu di arahkan menyilang tegak lurus sungai dengan kecepatan 3 m/s, maka setelah sampai diseberang perahu telah menempuh lintasan sejauh...

2. Vektor F1 = 20 N berimpit sumbu x positif, Vektor F2 = 20 N bersudut 120° terhadap F1 dan F3 = 24 N bersudut 240° terhadap F1. Resultan ketiga gaya pada pernyataan di atas adalah...

3. Seorang siswa ingin mengukur keliling sebuah kamar berbentuk persegi panjang dan berdasarkan pengukuran yang ia lakukan diperoleh panjang kamar 4,13 meter dan lebar 8,2 meter. Keliling kamar tersebut berdasarkan aturan angka penting adalah ...

4. Seorang murid menimbang serbuk NaCl sebanyak 45,87 gram. Jika serbuk tersebut dibagi ke dalam tiga wadah dengan jumlah yang sama besar, masing-masing wadah akan mendapat bagian sebanyak ....

5. Carilah dimensi dari besaran turunan berikut! a. Dimensi dari gaya

(33)

BAB 2

GAYA, USAHA DAN ENERGI

A.

Gaya

1.

Pengertian Gaya

Gaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari biasanya adalah gaya langsung. Artinya, sesuatu yang memberi gaya berhubungan langsung dengan yang dikenai gaya. Selain gaya langsung, juga ada gaya tak langsung. Gaya tak langsung merupakan gaya yang bekerja di antara dua benda tetapi kedua benda tersebut tidak bersentuhan. Contoh gaya tak langsung adalah gaya gravitasi. Pada bagian ini kita akan mempelajari beberapa jenis gaya, antara lain, gaya berat, gaya normal, gaya gesekan, dan gaya sentripetal.

Gaya merupakan dorongan atau tarikan yang dapat merubah kecepatan, bentuk dan arah benda.

Sumber: http://nyaikelcycle.blogspot.co.id/

Gambar 2.1 Bersepeda memberikan gaya langsung (dorongan) terhadap sepeda

Gaya digolongkan menjadi dua yaitu:

a. Gaya Sentuh

Gaya sentuh adalah gaya yang timbul jika benda bersentuhan dengan benda lain.

(34)

Sumber: https://happychusnuraafi.wordpress.com/

Gambar 2.2 Gaya sentuh

b. Gaya Tak Sentuh

Gaya tak sentuh adalah gaya yang timmbul sekalipun benda tidak bersentuhan

dengan benda linya. Contohnya: gaya gravitasi, gaya listrik, gaya magnet.

Sumber: https://happychusnuraafi.wordpress.com/

Gambar 2.3 Gaya tak sentuh

2. Penggambaran gaya

Gaya dapat dilukiskan dengan anak panah.

A B

Gambar 2.4 Gambar Gaya

Keterangan:

A = titik pangkal

B = ujung panah

AB = panjang panah = besar gaya

(35)

Simbol gaya = F (berasal dari kata Force)

Satuan gaya dalam SI = N = Newton

Gaya termasuk besaran vektor (besaran yang memiliki besar/nilai dan arah). Alat

untuk mengukur gaya = dynamometer atau nama lainya neraca pegas.

a. Perpaduan gaya/ resultan gaya (R atau Fr)

➢ Resultan dari dua gaya atau lebih yang segaris dan searah yang bekerja pada

sebuah benda, adalah penjumlahan gaya-gaya tersebut.

➢ Resultan dari dua gaya yang segaris dan berlawanan arah yang bekerja pada

sebuah benda , adal selisih kedua gaya tersebut.

➢ Resultan dari dua gaya yang bekerja saling tegak lurus pada sebuah benda adalah

memenuhi persamaan pytagoras.

Secara Gambar:

Gambar 2.5 Resultan Gaya

R = F1 + F2

Arah = Searah F1 dan F2

R = F1 - F2 Atau R = F1 + (- F2)

Arah + Searah F1

Keadaan Seimbang terjadi jika resultan gaya yang bekerja pada sebuah

benda

sama dengan nol. sebuah benda yang dikenai gaya dapat mengalami perubahan

sebagai berikut, di antaranya:

➢ Perubahan arah gerak

➢ Perubahan kecepatan

➢ Perubahan bentuk

➢ Perubahan posisi/kedudukan

(36)

1.

Gaya Berat

Pada kehidupan sehari-hari, banyak orang yang salah mengartikan antara massa dengan berat. Misalnya, orang mengatakan “Doni memiliki berat 65 kg”. Pernyataan orang tersebut keliru karena sebenarnya yang dikatakan orang tersebut adalah massa Doni. kita harus dapat membedakan antara massa dan berat.

Massa merupakan ukuran banyaknya materi yang dikandung oleh suatu benda. Massa (m) suatu benda besarnya selalu tetap dimanapun benda tersebut berada, satuannya kg. Berat (w) merupakan gaya gravitasi bumi yang bekerja pada suatu benda. Satuan berat adalah Newton (N). Hubungan antara massa dan berat dijelaskan dalam Hukum II Newton. Misalnya, sebuah benda yang bermassa m dilepaskan dari ketinggian tertentu, maka benda tersebut akan jatuh ke bumi. Jika gaya hambatan udara diabaikan, maka gaya yang bekerja pada benda tersebut hanyalah gaya gravitasi (gaya berat benda). Benda tersebut akan mengalami gerak jatuh bebas dengan percepatan ke bawah sama dengan percepatan gravitasi. Jadi, gaya berat (w) yang dialami benda besarnya sama dengan per antara massa (m) benda tersebut dengan percepatan gravitasi (g) di tempat itu. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

w = m × g

Keterangan: w = gaya berat (N) m = massa benda (kg)

g = percepatan gravitasi (ms-2)

Sumber: https://fisikareview.wordpress.com/tag/gaya-berat/ Gambar 2.6 Gaya berat

2.

Gaya Normal

Diketahui bahwa benda yang dilepaskan pada ketinggian tertentu akan jatuh bebas. Bagaimana jika benda tersebut di letakkan di atas meja, buku misalnya? Mengapa buku tersebut tidak jatuh? Gaya apa yang menahan buku tidak jatuh?

(37)

bersentuhan antara dua permukaan benda, yang arahnya selalu tegak lurus dengan bidang sentuh. Jadi, pada buku terdapat dua gaya yang bekerja, yaitu gaya normal (N) yang berasal dari meja dan gaya berat (w). Kedua gaya tersebut besarnya sama tetapi berlawanan arah, sehingga membentuk keseimbangan pada buku. Ingat, gaya normal selalu tegak lurus arahnya dengan bidang sentuh. Jika bidang sentuh antara dua benda adalah horizontal, maka arah gaya normalnya adalah vertikal. Jika bidang sentuhnya vertikal, maka arah gaya normalnya adalah horizontal. Jika bidang sentuhya miring, maka gaya normalnya juga akan miring. Arah gaya normal selalu tegak lurus dengan permukaan bidang

Sumber: https://fisikareview.wordpress.com/tag/gaya-berat/ Gambar 2.7 Arah gaya normal tegak lurus dengan bidang

3.

Gaya Gesekan

Jika kita mendorong sebuah almari besar dengan gaya kecil, maka almari tersebut dapat dipastikan tidak akan bergerak (bergeser). Jika kita mengelindingkan sebuah bola di lapangan rumput, maka setelah menempuh jarak tertentu bola tersebut pasti berhenti. Mengapa hal-hal tersebut dapat terjadi? Apa yang menyebabkan almari sulit di gerakkan dan bola berhenti setelah menempuh jarak tertentu?

Gaya yang melawan gaya yang kita berikan ke almari atau gaya yang menghentikan gerak bola adalah gaya gesek. Gaya gesek adalah gaya yang bekerja antara dua permukaan benda yang saling bersentuhan. Arah gaya gesek berlawanan arah dengan kecenderungan arah gerak benda.

(38)

Untuk benda yang bergerak di udara, gaya geseknya bergantung pada luas permukaan benda yang bersentuhan dengan udara. Makin besar luas bidang sentuh, makin besar gaya gesek udara pada benda tersebut sedangkan untuk benda padat yang bergerak di atas benda padat, gaya geseknya tidak tergantung luas bidang sentuhnya.

Gaya gesekan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gaya gesekan statis dan gaya gesekan kinetis. Gaya gesek statis (fs) adalah gaya gesek yang bekerja pada benda selama benda tersebut masih diam. Menurut hukum I Newton, selama benda masih diam berarti resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut adalah nol. Jadi, selama benda masih diam gaya gesek statis selalu sama dengan yang bekerja pada benda tersebut. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

𝑓

𝑠,𝑚𝑎𝑘𝑠

= 𝜇

𝑠

𝑁

Keterangan:

f

s =

gaya gesekan statis maksimum (N)

μ

s =

koefisien gesekan statis

Gaya gesek kinetis (fk) adalah gaya gesek yang bekerja pada saat benda

dalam keadaan bergerak. Gaya ini termasuk gaya dissipatif, yaitu gaya dengan

usaha yang dilakukan akan berubah menjadi kalor. Perbandingan antara gaya

gesekan kinetis dengan gaya normal disebut koefisien gaya gesekan kinetis (ms).

Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

𝑓

𝑘

= 𝜇

𝑘

𝑁

Keterangan:

f

k

= gaya gesekan kinetis (N)

μ

k

= koefisien gesekan kinetis

4.

Gaya Sentripetal

(39)

f

s

Gambar 2.9 Gaya Sentripetal

Pada Hukum II Newton dinyatakan bahwa gaya merupakan

perantara massa benda dan percepatan yang dialami benda tersebut. Sesuai

hukum tersebut, hubungan antara percepatan sentripetal, massa benda, dan

gaya sentripetal dapat dituliskan sebagai berikut.

𝐹

𝑠

= 𝑚 × 𝑎

𝑠

,

karena

𝑎

𝑠

=

𝑣

2

𝑟

= 𝜔

2

𝑟

maka

𝐹

𝑠

= 𝑚

𝑣2

𝑟

= 𝑚𝜔

2

𝑟

Keterangan:

Fs = gaya sentripetal (N) M = massa benda (kg) V = kecepatan linear (m/s) r = jari-jari lingkaran (m) ω = kecepatan sudut

Gaya sentripetal pada gerak melingkar berfungsi untuk merubah arah gerak benda. Gaya sentripetal tidak mengubah besarnya kelajuan benda. Setiap benda yang mengalami gerak melingkar pasti memerlukan gaya sentripetal. Misalnya, planet-planet yang mengitari matahari, elektron yang mengorbit inti atom, dan batu yang diikat dengan tali dan diputar adalah contoh gaya sentripetal.

B.

Hukum Newton

1.

Hukum I Newton

Jika resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol (∑F = 0), maka

benda dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan. Hukum I newton disebut uga

hukum kelembaman. Contoh: permainan tarik tambang dengan gaya yang sama besar.

(40)

Sumber: http://www.pakmono.com/

Gambar 2.10 Contoh hukum newton i

2.

Hukum II Newton

Percepatan sebuah benda yang bergerak berbanding lurus dengan gaya yang

bekerja dan berbanding terbalik dengan massa benda.

a = F/m

F = gaya

m = Massa benda

a = percepatan benda

Sumber: http://dienchephalon.blogspot.co.id/

Gambar 2.11 Mobil kiri lebih cepat lajunya, karena bermassa lebih kecil

3.

Hukum III Newton

Besar gaya yang diberikan oleh sebuah benda terhadap benda lain, sama dengan

besar gaya yang diberikan pada benda terseut tetapi arahnya berlawanan.

Hukum III Newton disebut juga dengan hukum aksi reaksi, dengan aturan:

F aksi = - F reaksi

Ciri ciri hukum Aksi Reaksi:

(41)

• Arah kedua gaya berlawanan (ditandai (-)),

• Bekerja pada dua benda.

Sumber: http://ojhoblogaddress.blogspot.co.id/

Gambar 2.12 Bola yang dilempar ke tanah akan dipantulkan kembali

C.

Usaha

Sesuatu dikatakan memiliki usaha apabila memenuhi syarat berikut: 1. Ada gaya yang bekerja

2. Mengalami perpindahan

Dengan demikianusaha didefinisikan sebagai sejumlah gaya yang bekerja pada suatu benda sehingga menyebabkan benda berpindah sepanjang garis lurus dan searah dengan arah gaya.

Apabila suatu benda yang dikenai gaya namun tidak mengalami perpindahan dapat diartikan usaha yang bekerja pada benda adalah nol.

Besar usaha dinyatakan dengan persamaan berikut:

𝑾 = 𝑭. ∆𝒙

Keterangan:

W = usaha yang dilakukan pada suatu benda

F = gaya yang bekerja pada suatu benda

(42)

Sumber: https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?

Gambar 2.13 Melakukan usaha ketika mengangkat kotak berat setinggi dada

Satuan untuk usaha adalah Joule (J) di mana nilainya adalah:

1 J = 1 N x 1 m = 1 Nm.

Pada kasus tersebut, gaya yang bekerja pada suatu benda searah dengan perpindahan benda tersebut. Bagaimana apabila gaya yang bekerja pada benda itu tidak searah dengan arah perpindahannya (membentuk sudut tertentu)?

Bila gaya yang bekerja pada suatu benda tidak searah dengan arah perpindahan benda itu, maka usaha yang dilakukan akan menjadi lebih kecil. Perhatikan Gambar 2.14. Usaha yang dilakukan pada suatu benda apabila gaya yang bekerja pada benda itu tidak searah dengan arah perpindahannya secara matematis dinyatakan sebagai berikut:

Keterangan:

𝑎 = sudut antara arah gaya dana rah perpindahannya.

Gambar 2.14: Gaya yang tidak searah dengan perpindahan

(43)

Contoh:

Seseorang menarik sebuah vacuum cleaner dengan gaya 50 N dan gaya tersebut membentuk sudut 30° dengan arah perpindahannya. Perpindahan yang dialami oleh vacuum cleaner itu adalah 8 meter. Berapakah besar usaha yang dilakukan oleh orang itu? (abaikan kehadiran gaya gesekan!)

Diketahui: F = 50 N

cos α = 30° Δx = 8 m

Ditanya: W = ? Jawab:

= 50 N (cos300).8m

= 50.1 2√3.8 = 200 √3 joule

D.

Energi

Apa yang dimaksud dengan energi? Secara sederhana, energi merupakan kemampuan melakukan usaha. Definisi yang sederhana ini sebenarnya kurang tepat atau kurang valid untuk beberapa jenis energi (misalnya energi panas atau energi cahaya tidak dapat melakukan kerja). Definisi tersebut hanya bersifat umum. Secara umum, tanpa energi kita tidak dapat melakukan kerja. Sebagai contoh, jika kita mendorong sepeda motor yang mogok, usaha alias kerja yang kita lakukan menggerakan sepeda motor tersebut. Pada saat yang sama, energi kimia dalam tubuh kita menjadi berkurang, karena sebagian energi kimia dalam tubuh berubah menjadi energi kinetik sepeda motor.

(44)

Sumber: http://www.pakmono.com/

Gambar 2.15 Salah satu bentuk energi (kemapuan melakukan usaha)

1.

Bentuk Energi

Konsep bentuk energi tidak terlepas dari perubahan energi, karena yang berubah adalah bentuk energi. Air yang mendidih karena dipanaskan mampu menggerakkan baling-baling kertas. Dalam peristiwa ini terjadi perubahan dari energi termal pada air menjadi energi kinetik (gerak) pada gerakan baling-baling kertas. Dari peristiwa ini dapat memahami bahwa ada bentuk energi termal (panas) dan bentuk energi kinetik. Contoh peristiwa yang lain yaitu jika seseorang meletakkan bola di tempat yang lebih tinggi, kemudian bola tersebut menggelinding ke bawah. Pada saat bola berada di tempat yang tinggi dan diam, ia memiliki energi potensial dan ketika bola bergerak energi potensial berubah menjadi energi kinetik. Peristiwa ini dapat diamati pada gambar berikut.

Gambar 2.16 Bentuk energi

a. Energi Kinetik

(45)

bahwa energi kinetik merupakan energi yang dimiliki benda karena gerakannya atau kecepatannya.

Gambar 2.17 Energi kinetik

Agar benda dipercepat beraturan sampai bergerak dengan laju v maka pada benda tersebut harus diberikan gaya total yang konstan dan searah dengan arah gerak benda sejauh s. Untuk itu dilakukan usaha atau kerja pada benda tersebut sebesar W = F. S , dengan F = m a. Karena benda memiliki laju awal vo, laju akhir vt dan bergerak sejauh s, maka untuk menghitung nilai percepatan a, kita menggunakan persamaan vt2 = vo2 + 2 .a. s.

a =

v

t2

2s

− v

02

Dilakukan subtitusi nilai percepatan a ke dalam persamaan gaya F = m a, untuk menentukan besar usaha:

W= F.s = (ma)(s) = (m)( 𝑣𝑡2−𝑣02 2𝑠 )s W= m (𝑣𝑡2−𝑣02

2𝑠 ) = 1

2m (𝑣𝑡2− 𝑣02) W= 1

2m𝑣𝑡2- 1

2m𝑣02 (persamaan1) W= 1

2m𝑣𝑡2 vo = 0

Persamaan ini menjelaskan usaha total yang dikerjakan pada benda. Karena W = EK, maka kita dapat menyimpulkan bahwa besar energi kinetik translasi pada benda tersebut adalah:

W = EK = ½ mv2 persamaan 2

(46)

Persamaan 3menyatakan bahwa usaha total yang bekerja pada sebuah benda sama dengan perubahan energi kinetiknya. Pernyataan ini merupakan prinsip usaha-energi. Prinsip usaha energi berlaku jika W adalah usaha total yang dilakukan oleh setiap gaya yang bekerja pada benda. Jika usaha positif (W) bekerja pada suatu benda, maka energi kinetiknya bertambah sesuai dengan besar usaha positif tersebut (W). Jika usaha (W) yang dilakukan pada benda bernilai negatif, maka energi kinetik benda tersebut berkurang sebesar W. Dapat dikatakan bahwa gaya total yang diberikan pada benda di mana arahnya berlawanan dengan arah gerak benda, maka gaya total tersebut mengurangi laju dan energi kinetik benda. Jika besar usaha total yang dilakukan pada benda adalah nol, maka besar energi kinetik benda tetap (laju benda konstan).

b. Energi Potensial

Istilah potensial memiliki kata dasar “potensi”, yang dapat diartikan sebagai kemampuan yang tersimpan. Secara umum, energi potensial diartikan sebagai energi yang tersimpan dalam sebuah benda atau dalam suatu keadaan tertentu. Energi potensial, karena masih tersimpan, sehingga baru bermanfaat ketika berubah menjadi energi lain misalnya pada air terjun, energi potensial diubah menjadi energi kinetik sehingga dapat menggerakan turbin yang kemudian akan digunakan untuk menghasilkan energi listrik.

Dalam pengertian yang lebih sempit, yakni dalam kajian mekanika, energi potensial adalah energi yang dimiliki benda karena kedudukan atau keadaan benda tersebut. Berikut akan dipaparkan dua contoh energi potensial yang mengacu pada pengertian ini, yakni energi potensial gravitasi dan energi potensial pegas.

Energi potensial gravitasi adalah energi yang dimiliki suatu benda karena kedudukannya (ketinggiannya) terhadap suatu bidang acuan tertentu. Semakin tinggi benda di atas permukaan tanah, makin besar energi potensial yang dimiliki benda tersebut.

Dengan demikian, energi potensial (EP) gravitasi sebuah benda merupakan hasil kali gaya berat benda (mg) dan ketinggiannya (h).

h = h1 – h0

EP = mgh

(47)

di atas titik acuan tertentu. Biasanya kita tetapkan tanah sebagai titik acuan jika benda mulai bergerak dari permukaan tanah atau gerakan benda menuju permukaan tanah.

Jika digabungkan 2 persamaan yang telah diketahui

Persamaan ini menyatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh gaya yang menggerakan benda dari h0 ke h1 (tanpa percepatan) sama dengan perubahan energi

potensial benda antara h0 dan h1. Setiap bentuk energi potensial memiliki hubungan dengan

suatu gaya tertentu dan dapat dinyatakan sama dengan energi potensial gravitasi. Secara umum, perubahan energi potensial yang memiliki hubungan dengan suatu gaya tertentu, sama dengan usaha yang dilakukan gaya jika benda dipindahkan dari kedudukan pertama ke kedudukan kedua. Dalam makna yang lebih sempit, bisa dinyatakan bahwa perubahan energi potensial merupakan usaha yang diperlukan oleh suatu gaya luar untuk memindahkan benda antara dua titik, tanpa percepatan.

c. Energi Mekanik

Jika pada suatu sistem hanya bekerja gaya-gaya dalam yang bersifat konservatif (tidak bekerja gaya luar dan gaya dalam tak konservatif),maka energi mekanik sistem pada posisi apa saja selalu tetap (kekal). Artinya energi mekanik sistem pada posisi akhir sama dengan energi mekanik sistem pada posisi awal.

Jadi energi mekanik dapat dirumuskan: Em = EP + EK

Contoh:

(48)

Ditanya: v2 = ……. ? Jawab:

Energi mekanik adalah jumlah energi potensial dan energi kinetik EM = EP + EK

Jadi, kecepatan benda pada saat mencapai ketinggian 1 m dari tanah adalah 10 m/s.

2.

Perubahanya Energi

Energi merupakan konsep yang sangat abstrak. Energi tidak memiliki massa, tidak dapat diamati, dan tidak dapat diukur secara langsung. Akan tetapi kita dapat merasakan perubahannya. Kita dapat beraktivitas sehari-hari karena tubuh kita memiliki energi. Sumber energi utama di alam ini adalah matahari.

(49)

Sebagai penyebab berubahnya benda-benda, energi mengalami perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain. Misalnya, pada api unggun terjadi perubahan energi kimia yang ada di dalam kayu menjadi energi cahaya dan energi panas.

Sumber: http://edukasifisikasmp.blogspot.co.id/ Gambar 2.18 Api unggun sebagai perubahan energi

Rangkuman

➢ Gaya merupakan dorongan atau tarikan yang dapat merubah kecepatan, bentuk dan arah benda.

➢ Gaya Sentuh adalah gaya yang timbul jika benda bersentuhan dengan benda lain . Contoh: gaya gesek, gaya tarik, dan gaya dorong

➢ Gaya tak sentuh adalah gaya yang timmbul sekalipun benda tidak bersentuhan dengan

benda linya . Contohnya: gaya gravitasi, gaya listrik, gaya magnet.

➢ Gaya termasuk besaran vektor (besaran yang memiliki besar/nilai dan arah). Alat untuk

mengukur gaya = dynamometer atau nama lainya neraca pegas.

➢ Resultan gaya menjumlahkan gaya searah dan mengurahi dengan gaya yang berlawanan

arah.

➢ Hukum Newton

Hukum I Newton (Hukum Kelembaman)ΣF=0 Hukum II Newton  F=m.a

Hukum III Newton aksi=reaksi

➢ Usaha adalah sejumlah gaya yang bekerja pada suatu benda sehingga menyebabkan benda berpindah sepanjang garis lurus dan searah dengan arah gaya.

(50)

EK= ½ mv2

➢ Energi Potensial adalah energi yang dimiliki oleh benda terhadap posisi acuan(ketinggian)

EP=m.g.h

➢ Hukum kekekalan Energi

“Jika pada suatu sistem hanya bekerja gaya-gaya dalam yang bersifat konservatif (tidak bekerja gaya luar dan gaya dalam tak konservatif),maka energi mekanik sistem pada posisi apa saja selalu tetap (kekal). Artinya energi mekanik sistem pada posisi akhir sama dengan energi mekanik sistem pada posisi awal”.

EM = EK + EP

UJI KOMPETENSI

A. Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang

tepat!

1. Balok mengalami gaya tarik F1 = 15 N ke kanan dan gaya F2 ke kiri. Jika benda tetap diam berapa besar F2?

A. 15 N B. 20 N C. 22 N D. 25 N E. 10 N

(51)

A. 5 N B. 10 N C. 15 N D. 17 N E. 20 N

3. Balok B massanya 2 kg ditarik dengan gaya F yang besarnya 6 Newton. Berapa percepatan yang dialami beban?

A. 2 m/s2 B. 3 m/s2 C. 4 m/s2 D. 5 m/s2 E. 7 m/s2

4. Balok B dengan massa 2 kg mengalami dua gaya masing-masing F1 = 25 N dan F2 = 20 N seperti ditunjukkan pada gambar. Berapa percepatan balok B?

A. 5 m/s2 B. 5.5 m/s2 C. 6 m/s2 D. 6.5 m/s2 E. 7.5 m/s2

(52)

gravitasi ditempat itu 10 ms-2, maka tentukan percepatan dan waktu yang diperlukan balok untuk sampai di lantai!

A. 6 m/s2 B. 4 m/s2 C. 5 m/s2 D. 7 m/s2

E. 8 m/s2

6. Sebuah balok bermassa 4 kg berada di atas permukaan licin dalam keadaan diam. Jika balok tersebut mengalami percepatan 2 m/s2 dalam arah horizontal, maka usaha yang dilakukan terhadap balok selama 5 detik adalah...

A. 400 Joule B. 200 Joule C. 360 Joule D. 300 Joule

E. Tidak ada opsi yang benar

7. Tono menarik sebuah meja dengan kemiringan 37o terhadap arah horizontal seperti gambar di bawah. Jika gaya Tono sebesar 100 N berhasil memindahkan meja tersebut sejauh 5 meter, maka usaha yang dilakukan Tono adalah...

A. 400 Joule D. 250 Joule

B. 300 Joule E. 500 Joule

C. 355 Joule

8. Besar usaha yang dilakukan oleh mesin terhadap sebuah mobil bermassa 1 ton yang mula-mula diam sehingga bergerak dengan kecepatan 5 m/s adalah...

A. 1000 Joule D. 12.500 Joule

B. 1500 Joule E. 25.000 Joule

(53)

9. Sebuah bola bermassa 200 gram dilempar vertikal ke atas dari permukaan tanah dengan kecepatan awal 10 m/s. Pada titik maksimum usaha yang dilakukan oleh gaya berat adalah....

A. 50 J D. 5 J

B. 20 J E. 2,5 J

C. 10 J

10. Usaha yang diperlukan untuk memindahkan sebuah benda bermassa 10 kg melalui bidang miring licin dengan kemiringan 53o seperti gambar di bawah adalah...

A. 1000 J B. 800 J C. 600 J D. 400 J E. 100 J

B. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan singkat dan tepat!

1. Benda bermassa m = 10 kg berada di atas lantai kasar ditarik oleh gaya F= 12 N ke arah kanan. Jika koefisien gesekan statis antara benda dan lantai adalah 0,2 dengan koefisien gesekan kinetis 0,1 tentukan besarnya:

a) Gaya normal

b) Gaya gesek antara benda dan lantai c) Percepatan gerak benda

2. Anggap lereng bukit rata dan memiliki koefisien gesek 0,125. Percepatan gravitasi bumi 10 m/s2 dan sin 53o = 0,8, cos 53o = 0,6. Tentukan nilai dari:

a) Gaya normal pada balok

(54)

3. Sebuah bola bermassa 500 gram dijatuhkan dari atas gedung setinggi 2 m. Besar usaha selama perpindahan bola tersebut adalah....

4. Sebuah benda 2 kg bergerak pada permukaan licin dengan kecepatan 2 m/s. Jika pada benda dilakukan usaha sebesar 21 Joule, maka kecepatan benda tersebut akan berubah menjadi....

(55)

BAB 3

KEKUATAN BAHAN, TEGANGAN PERMUKAAN

DAN ELASTISITAS

A.

Karakteristik, Jenis dan Kekuatan bahan

1.

Bahan alam

Bahan alam merupakan bahan baku prorduk yang diperoleh dan digunakan secara langsung dari bahan alam, oleh karena itu produk akhir yang menggunakan bahan baku ini akan memiliki sifat yang sama dengan bahan asalnya, yang termasuk dalam kelompok ini antara lain kayu, batu, karet, kulit, keramik, celulosa dan lain-lain.

Sumber: https://www.tneutron.net/seni/bahan-keramik-plastis/ Gambar 3.1 Bahan tersedia di alam

2.

Bahan-bahan Tiruan

(56)

Leo Baekeland seorang Belgia tahun 1907 dan dipatenkan dengan nama Baklite. Molekul yang kita sebut sebagai “Polymer” yang berarti, material plastik yang terbentuk dari ikatan rantai atom-atom serta terdiri atas “beberapa unit” ikatan rantai atom-atom tersebut. Oleh karena itu proses pengikatan dengan molekul-molekul kecil ini dikenal sebagai “Polymerization”.

Contoh dari bahan jenis ini ialah Polythene yakni Polymer yang terdiri atas 1200 atom Carbon pada setiap 2 atom Hydrogen sehingga memiliki tegangan serta keuletan yang tinggi.dan pada beberapa jenis plastic memiliki regangan yang besar yang dakibatkan oleh rantai ikatan yang panjang.

a. Thermoplastics

Thermoplastics dapat mencair melalui proses pemanasan dan dapat diubah bentuknya melalui pencetakan sebagaimana yang dilakukan pada bahan seperti Polythene, Polystyrene, Poly Vinyl Cloride (PVC), Nylon, Perspex, Propylene dan lain-lain.

Sumber: http://www.sespoly.com/products/tpo-thermoplastic-olefin/ Gambar 3.2: Thermoplastic polyolefin

b. Thermosetting

(57)

penambahan kapur barus pada Cellulose nitrate yang menghasilkan suatu zat yang perdagangan diketahui sebagai celluloid dan dapat dicetak melalui pemanasan.

Sifat-sifat mekanik dari bahan-bahan plastic dapat diperbaiki dengan penguatan oleh bahan tambah (filler material), serat fibre, serbuk gergaji, sampah kertas, majun dan lain-lain dapat meningkatkan tegangannya, serat asbes dapat meningkatkan ketahanan panasnya dan untuk resistensi arus listrik dapat digunakan mica. Bahan pelapis digunakan lembaran platic (Plastic-impregnated paper) dengan lapisan Cotton untuk pemakaian pada penguatan panel. Atau lapisan kayu untuk memperbaiki performanya. Serat penguat plastik (Fibre-reinforced) dicoba untuk meningkatkan tegangan dari keadaan rapuh dan lembek. Fibre-glass telah digunakan sejak beberapa tahun yang lalu sebagai bahan pembuat body perahu, body kendaraan dan lain-lain. Penambahan unsur Carbon menjadikannya sebagai bahan composite yang ringan namun memiliki tegangan yang tinggi.

Sumber: https://kikimiqbalsoft.blogspot.co.id/ Gambar 3.3 Beberapa produk jenis thermosetting

c. Karet Sintetis (Synthetic-rubbers)

Karet alam diproduksi dari cairan latex atau getah pohon karet polymer yang panjang dengan rantai molekul yang berserakan. Karet alam memiliki kedua sifat yakni elastic dan thermoplastic, deformasi permanen dapat terjadi apabila diregang secara perlahan dengan peningkatan temperatur. Charles Goodyer (1839) mengolahnya dengan mencampurkan latek dengan sulphur dan menghasilkan karet dengan sifat yang lebih kenyal dan elastic lembut serta tahan terhadap temperatur tinggi dan dikembangkan menjadi Faberik Vulcanizing sebagai mana yang kita kenal saat ini sebagai pabrik ban (manufacture of tyre).

(58)

muncul karena adanya kebutuhan karet dengan kualitas yang lebih tinggi serta kebutuhan harga karet yang lebih kompetitif. Saat ini lebih dari 20 jenis karet sintetis / karet sintetik terdapat di pasaran dunia, terbuat dari bahan baku yang berasal dari minyak bumi, batu bara, minyak, gas alam, dan asetilena. Karet-karet sintetis ini biasa disebut dengan kopolimer, yaitu polimer yang terdiri dari lebih dari satu ikatan monomer

The American-developed syntetic rubber, GR-S, yang merupakan polymer hasil pencampuran antara Butadiene dengan styrene, bahan ini memiliki sifat dan karakteristik yang sama dengan karet alam dengan harga yang lebih murah juga digunakan di pabrik ban (manufacture of tyre), alas kaki (foot wear), pipa karet (hosepipe) sabuk konveyor serta isolasi kabel. Neoprene ialah jenis lain dari karet sintetis yang memiliki sifat sama dengan karet alam dengan sifatnya yang sangat tahan terhadap minyak nabati dan oli mineral serta tahan terhadap temperature tinggi. Neoprene merupakan bahan yang relative mahal, pemakaiannya adalah sebagai bahan pipa, sabuk konveyer serta lapisan kabel. Butyl-rubber merupakan co-polymer dari isobutylene dan isoprene, bahan ini sangat stabil terhadap bahan kimia dan temperratur tinggi, harganya sedikit lebih murah dari karet alam namun kurang tahan, kendati demikian karret ini tidak tembus udara dan gas dan digunakan sebagai bahan innertube, tubeless tyre, air bag peralatan olah raga, cetakan diapragma juga digunakan sebagai bahan hose, lapisan tangki serta sabuk konveyor (Conveyor belts).

Sumber: https://www.merdeka.com/ Gambar 3.4 Produk synthetic-rubbers

3.

Pemakaian Umum Bahan-bahan Plastic

Poly Vinyl Cloride

(PVC)

(59)

mempertahankan bentuknya PVC sangat cocok digunakan pada berbagai bahan tuangan (moulding). Sifatnya yang plexible dari PVC sangat baik digunakan sebagai pelapis permukaan serta pelapis bocor. PVC juga digunakan sebagai bahan pipa, saluran dan kotak kabel, safety helmet serta bahan pelapis tangki bahan kimia.

a. Polytetraflouroethylene (PTFE atau Teflon) Teflon sangat kenyal dan flexible serta unggul dalam ketahanan panas dimana Teflon tidak dapat terbakar, tidak dapat diserang oleh berbagai reaksi bahan pelarut serta bahan isolator listrik yang baik, koefisien gesek yang rendah dengan harga yang relatif murah. Pemakaian: Sebagai bantalan (bearing), pipa-pipa bahan baker, gasket dan pita, serta peralatan bahan kimia dimana PTFE sangat tahan terhadap pengruh bahan kimia.

b. Polyamides (Nylons) sangat kuat dan ulet namun flexible, tahan terhadap abrasi serta dimensi yang stabil, Nylon dapat meredam air dan bahan pelarut secara umum, memiliki sifat yang baik sebagai bahan isolasi listrik (electrical insulation). Polyamides (Nylons) akan memburuk jika ditempatkan ditempat terbuka. Pemakaian: Nylon digunakan sebagai bahan roda gigi, Valves, kelengkapan alat listrik, handle, knob, bearing, Cams, Shock absorber, Combs, pembalut dan pembungkus obat, jas hujan, serabut sikat, nat dan textile.

c. Phenol formaldehyde (Bakelite) Pada keadaan mentah Phenolic sangat rapuh, oleh karenannya dapat bercampur dengan bahan serat untuk meningkatkan kekuatannya dan akan diperoleh diversifikasi sifat dari sifat asaalnya tergantung pada komposisi bahan tambah. Benda yang dibuat dari bahan ini akan rapuh jika bentuk/ukuran benda sangat tipis. Bakelite menyerap air namun tahan terhadap alcohol, oli serta bahan-bahan pelarut lainnya. Pembentukannya tidak melalui pencairan melainkan dipadatkan pada temperature 2000C. Pemakaian: Peralatan listrik, tombol, handle, box radio, mebel (furniture), Vacumm Cleaner part, kamera, asbak rokok, kelengkapan kelistrikan automotive dan pemakaian lainnya seperti hiasan, ornamen, bahan pelapis bahkan roda gigi,bantalan peralatan aircraft juga peralatan kesehatan, pelapis kopling dan rem kendaraan.

Gambar

Gambar 1.2  Duplikat massa standar yang disimpan di national institute of standard technology
Gambar 1.6  Candela standar
Gambar 1.9  Pembacaan mistar
Gambar 1.11 (b). Ditunjukkan pada gambar tersebut skala utama (sku) adalah 62 skala
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan adanya efektifitas dalam pembelajaran pengukuran arus, tegangan dan hambatan listrik menggunakan job sheet berbasis media interaktif ini

Resistor atau disebut juga dengan hambatan adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menghambar dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian

Adalah larutan yang masih mampu melarutkan secara sempurna bila ditambah zat terlarut. Contoh: larutan garam tak jenuh, dimana air masih mampu melarutkan garam yang