Makalah Kelompok XII
COVER
ALOKASI DAN PENDISTRIBUSIAN PASAR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Ekonomi Mikro Islam Dosen : Enriko Tedja Sukmana, S.Th
Disusun Oleh
Dwi Nur Rochman
1302120234
Ahmad Zaky Muzakkir
1302120213
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA JURUSAN SYARI’AH
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadirat Allah Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah sederhana ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini membahas “Alokasi Dan Pendistribusian Pasar”.
Makalah ini dibuat dalam rangka memahamkan pembaca akan makna dari perbedaan, dan diharapkan makalah ini dapat menambahkan semangat persatuan bangsa, dan memberikan pemahaman akan indahnya hidup di dalam berbagai perbedaan yang ada.
Dan pada akhirnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat kesalahan, baik dalam penulisan maupun penyampaian materi, yang pada
hakikatnya memang kesalahan itu pasti diperbuat oleh manusia, sekalipun manusia tersuci sepanjang masa Rasulullah SAW. Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat. Aamiin ya Rabbal’alamin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Pangkaraya, Mei 2014
DAFTAR ISI
COVER...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan...1
D. Metode Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
A. Pengertian Distribusi...3
B. Dampak Distribusi dalam Islam...4
C. Efisensi dan Keadilan...5
D. Tujuan Distribusi Dalam Ekonomi Islam...6
E. Konsepsi Umum Fikih Islam Mengenai Distribusi dan Redistribusi...9
BAB III PENUTUP...11
A. Kesimpulan...11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sudah menjadi kesadaran bagi kita bahwa setiap unit-unit ekonomi mesti mempunyai kaitan dengan unit ekonomi yang lain sehingga pembahasan teori ekonomi tidaklah akan dirasa lengkap apabila kita belum memberikan penjelasan bagaimna keterkaitan yang jelas antara sektor rumah tangga, sektor produksi, sektor pembiayaan, dan lain sebagainya.1
Hakikat keseimbangan yang dicapai baik pada fungsi konsumsi atau produksi dan lainnya adalah keseimbangan parsial. Ciri utama yang dapat kita rasakan adalah penggunaan asumsi yang luas(cateris paribus), yang berarti “segenap hal lainnya dianggap tetap dan tidak memengaruhi inti pembahasan.” Sehingga pada analisis parsial ini kita dapat memberikan perhatian pada satu pasar saja yang terisolasi dari pasar lainnya.2
B. Rumusan Masalah
1. Apakah distribusi dalam islam itu ? 2. Apa dampak distribusi dalam Islam ? 3. Apa efesiensi alokasi dan keadilan ?
4. Apa tujuan distribusi dalam ekonomi Islam ? 5. Apa konsep umum Islam mengenai distribusi ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan menjelaskan defenisi dari distribusi dalam Islam. 2. Mengetahui dan menjelaskan dampak distrbusi dalam Islam. 3. Mengetahui dan menjelaskan efesiensi alokasi dan keadilan
4. Mengetahui dan menjelaskan tujuan distribusi dalam ekonomi Islam. 5. Mengetahui dan menjelaskan konsep umum mengenai distribusi dalam
pandangan Islam.
5
D. Metode Penulisan
Adapun metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah sederhana ini yaitu:
1. Metode kepustakaan (Library Research),
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Distribusi
Distribusi atau pembagian adalah klasifikasi pembayaran-pembayaran berupa sewa, upah, bunga modal dan laba, yang berhubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh tanah, tenaga kerja, modal dan pengusaha-pengusaha. Ia adalah proses penentuan harga yang dipandang dari sudut si penerima pendapatan dan bukanlah dari sudut si pembayar biaya-biaya. Distribusi juga berarti sinonim untuk pemasaran (marketing). Kadang-kadang ia dinamakan sebagai functional distribution.3
Namun demikian, fikih klasik nampaknya hanya menerminologikan tauzii dalam kerangka pengertian etimologis saja. Secara ad hoc, belum ada pengertian
tauzii yang cukup relevan dengan terma distribusi dalam ekonomi teoritika modern. Hingga kemudian, sebagian ekonom muslim juga menulis tentang ekonomi islami dan melakukan "adaptasi" terhadap terminologi-terminologi ekonomi konvensional, seperti yang dilakukan Abdul Hamid Ghazali (1989 : 79) Muhammad Afar (1996: 32), Umer Chapra (2000: 99), dan lain-lain. Barangkali inilah pandangan mainstream ekonom muslim pada umumnya karena bagi mereka konsentrasi teoritis ilmu ekonomi manapun pasti akan membahas aspek alokasi dan distribusi sumber-sumber daya. Belakangan terminologi redistribusi (I’âdat at Tauzii’) juga digunakan oleh sebagian ekonom muslim dengan berkaca pada adanya mekanisme zakat, sedekah, kafarat, belanja wajib yang diterapkan dalam Islam.4
3Winardi, Kamus Ekonomi, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1989), h. 171. 4Dedy Supriyatman, Distribusi Pendapatan dalam Islam,
7
B. Dampak Distribusi dalam Islam
Distribusi pendapatan merupakan bagian yang penting dalam membentuk kesejahteraan. Dampak dari distribusi pendapatan bukan saja pada aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan politik. Oleh karena itu islam memberi perhatian lebih terhadap distribusi pendapatan dalam masyarakat. Maka islam memperhatikan berbagai sisi dari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya, misalnya dalam dalam jual-beli, hutang piutang, dan sebagainya. Dampak yang di timbulkan dari distribusi pendapatan yang di dasarkan atas konsep islam;
1. Dalam konsep islam perilaku distribusi pendapatan dalam masyarakat merupakan bagian dari bentuk proses kesadaran masyarakat dalam mendekatkan diri kepada Allah, oleh karena itu, distribusi dalam islam akan menciptakan kehidupan yang saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain tidak akan sempurna eksistensinya sebagai manusia jika tidak ada yang lain. Tidak ada upaya utuk membatasi optimalisasi distribusi pendapatan di dalam masyarakat dengan perbuatan-perbuatan tercela, manipulasi, korupsi, spekulasi, dan sebagainya sehingga timbul ketakutan, ketidakpercayaan, dan kecurigaan antara satu dengan yang lainnya.
2. Seorang muslim akan menghindari praktek distribusi yang menggunakan barang-barang yang merusak masyarakat misalnya minuman keras, obat terlarang, pembajakan, dan sebagainya sebagai media distribusi. Dalam islam distribusi tidak hanya di dasarkan optimalisasi dampak barang tersebuat terhadap kemampuan orang tetapi pengaruh barang tersebut terhadap perilaku masyarakat yang mengkonsumsinya.
3. Negara bertanggung jawab terhadap mekanisme distribusi dengan mengedepankan kepentingan umum dari pada kepentingan kelompok, atau golongan apalagi perorangan. Oleh karena itu sektor publik yang di gunakan untuk kemaslahatan umat jangan sampai jatuh di tangan orang yang mempunyai visi kepentingan kelompok, golongan dan kepentingan pribadi. 4. Negara mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas publik yang
8
untuk mengoptimalkan sumber daya yang berkaitan. Misalnya, sekolah akan mencetak manusia yang pandai sehingga bisa memikirkan yang terbaik dari keadaan umat manusia, rumah sakit menciptakan orang sehat sehingga bisa bekerja dengan baik, lapangan kerja mengurangi angka kriminalitas dan ketakutan dan sebagainya.5
C. Efisensi dan Keadilan
Efisiesi alokasi hanya menjelaskan bahwa bila semua sumber daya yang ada habis teralokasi, maka alokasi yang efisien tercapai. Tetapi tidak mengatakan apapun perihal apakah alokasi tersebut adil. Para ekonom konvensional berbeda pendapat tentang distribusi yang adil:
1. Konsep Egalitarian : setiap orang dalam kelompok masyarakat menerima barang sejumlah yang sama
2. Konsep Rawlsian : maksimalkan utility orang paling miskin (the least well off person)
3. Konsep Utilititarian : maksimalkan total utility dari setiap orang dalam kelompok masyarakat
4. Konsep Market Oriented : hasil pertukaran melelui mekanisme pasar adalah yang paling adil
Dalam konsep ekonomi Islam, adil adalah “tidak mendzhalimi dan tidak dizhalimi”. Bisa jadi “sama rasa sama rata” tidak adil dalam pandangan Islam karena tidak memberikan insentif bagi orang yang bekerja keras.6
Lebih dari sekedar efesinsi dan keadilan, konsep ekonomi Islam juga mendorong pada upaya membesarkan endowment (meningkatkan production possibilityfrontier) atau dalam konteks ini membesarkan Edgeworth Box. Oleh karena itu, konsep Islam adalah mendorong terjadinya positive sum game. Misalnya utility Jono naik 5, utility Kirun naik 5, kenaikan total utility 10. Jadi bukan hanya mempersoalkan bagaimana “kue” akan dibagi secara dil, namun bagaimana “kue” yang akan dibagi bertambah besar.7
5Forum anak EKIS STAIN Watampone, distribusi pendapatan dalam Islam,
https://www.facebook.com/ekis.stain.wtp?fref=nf, diakses pada tanggal 17 Mei 2014 pukul 09:47 WIB.
9
D. Tujuan Distribusi Dalam Ekonomi Islam
Ekonomi Islam datang dengan system distribusi yang merealisasikan beragam tujuan yang mencakup berbagai bidang kehidupan, dan mengikuti politik terbaik dalam merealisasikan tujuan – tujuan tersebut. Secara umum dapat kami katakana bahwa system distribusi ekonomi dalam ekonomi islam mempunyai andil bersama system dan politik syariah lainnya-dalam merealisasikan beberapa tujuan umum syariat islam. Dimana tujuan distribusi dalam ekonomi islam di kelompokkan kepada tujuan dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.8 Berikut ini
hal yang terpenting kedalam tujuan tersebut adalah : 1. Tujuan Dakwah
Yang dimaksud dakwah disini adalah dakwah kepada islam dan menyatukan hati kepadanya. Diantaranaya contoh yang paling jelas adalah bagian muallaf di dalam zakat, dimana muallaf itu adakalnya orang kafir yang diharapkan keislamannya atau dicegah keburukannya, atau orang islam yang di harapkan kuat keislamannya. Sebagaimana system distribusi dalam ghanimah dan fa’i juga memiliki tujuan dakwah yang jelas. Pada sisi lain, bahwa pemberian zakat kepada muallaf juga memiliki dampak dakwah terhadap orang yang menunaikan zakat itu sendiri. Sebab Allah berfirman pada Firman Allah QS Ali Imran: 1409
ممايييي ك
للٱ لل ۥۥ لث ححلر لو للٱ
ك تتوك هملم مم قك مك قك س
ي
مك قكفك قك ك
لد
ححلر لم لس لم
م
س
ك
يك نإت
ذكييخ
ت تييكوك ااويينممكاءك ن
ك يذتييلي همييليل م
ٱ
ٱ
ك ييلك يكلتوك س
لع
ت
ايينيل ن
ٱ لي
ك بك اهكلموتادكنم
ن
ك يمتلتظ
يظ ل ب
ٱ
ب ح
ت يم لك همليل وك ادكهكش
ٱ ءءء
م ك
لم
م نمت
١٤٠
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu
dijadikan-8M Shobur Handoko, Distribusi Menurut Ekonomi Islam,
http://kuliahobur.blogspot.com/2013/04/distribusi-menurut-ekonomi-islam_8.html, diakses pada tanggal 17 Mei 2014 pukul 09:50 WIB.
10
Nya (gugur sebagai) syuhada´. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
2. Tujuan Pendidikan
Di antara tujuan pendidikan dalam distribusi adalah seperti yang di sebutkan dalam firman Allah QS At-Taubah : 103
هت لكعك لمص
ك وك اهكبت مهتيكمزكتموك همرمهمط
ك تم ةةقكدكص
ك هتلتوكظ أ
ك مت خم
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Secara umum, bahwa distribusi dalam perspektif ekonomi islam dapat mewujudkan beberapa tujuan pendidikan, dimana yang terpenting adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan terhadap akhlak terpuji, seperti suka memberi, berderma dan mengutamakan orang lain.
b. Mensucikan dari akhlak tercela, seperti kikir, loba dan mementingkan diri sendiri (egois).10
3. Tujuan Sosial
Tujuan sosial terpenting dalam distribusi adalah sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan kelompok yang membutuhkan, dan menghidupkan prinsip solidaritas di dalam masyarakat muslim. Dapat di lihat pada Firman Allah QS Al Baqarah:273
ن
ك وعميط
ت تك يك لك هتييليل ل
لس
سس
ٱ
ت يبتييس
ك يفت ااورمص
ت
لح
أم ن
ك يذتلي ءتاركقكفم لت
ٱ
لل
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta
11
kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”
b. Menguatkan ikatan cinta dan kasih sayang diantara individu dan kelompok di dalam masyarakat
c. Mengikis sebab – sebab kebencian dalam masyarakat, dimana akan berdampak pada terealisasinya keamanan dan ketentraman masyarakat, sebagai contoh bahwa distribusi yang tidak adil dalam pemasukan dan kekayaan akan berdampak adanya kelompok dan daerah miskin, dan bertambahnya tingkat kriminalitas yang berdampak pada ketidak tentraman.11
4. Tujuan Ekonomi
Distribusi dalam ekonomi islam mempunyai tujuan – tujuan ekonomi yang penting, dimana yang terpenting diantaranya dapat kami sebutkan sperti berikut ini :
a. Pengembangan harta dan pembersihannya, karena pemilik harta ketika menginfakkan sebagian hartanya kepada orang lain, baik infak wajib maupun sunnah, maka demikian itu akan mendorongnya untuk menginvestasikan hartanya sehingga tidak akan habis karena zakat.
b. Memberdayakan sumber daya manusia yang menganggur dengan terpenuhi kebutuhannya tentang harta atau persiapan yang lazim untuk melaksanakannya dengan melakukan kegiatan ekonomi.
c. Andil dalam merealisasikan kesejahteraan ekonomi, di mana tingkat kesejahteraan ekonomi berkaitan dengan tingkat konsumsi.
Yang artinya dapat dimaknakan bahwasanya orang – orang yang
membelanjakan hartanya karena keridhoaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka kepada iman dan ibadah – ibadah yang lain, sebagai bentuk pelatihan kepadanya, sehingga setiap manusia terus tetap bertakwa kepada Allah SWT.12
E. Konsepsi Umum Fikih Islam Mengenai Distribusi dan Redistribusi
Pada dasarnya distribusi pendapatan dan kekayaan berdasarkan maslahat dan batas waktu (al hafz), sementara distribusi pendapatan dilandasi oleh
produksi, barter, dan pertimbangan-pertimbangan pasar. Sedangkan redistribusi
11Ibid.
12
berlandaskan pada pertimbangan keagamaan, moral, keluarga dan sosial (atau biasanya disebut transformasi sosial)13.
Secara garis besar, redistribusi kekayaan dan pendapatan dalam Islam dikenal melalui tujuh cara: (1) Zakat; (2) Sedekah; (3) Belanja wajib; (4) Kafarat (5) Nadzar; (6) Sembelihan; dan (7) Insentif Negara.
Yang pertama, zakat yang diwajibkan hanya atas orang-orang kaya dengan ketentuan telah mencapai nisab. Adapun target redistribusinya setidaknya meliputi tiga pihak; (1) mereka yang memerlukan materi yaitu orang-orang fakir, miskin dan yang berhutang; (2) otoritas syariah Islam, melalui para pejuang di jalan Allah; dan (3) Pegawai pada lembaga zakat. Yang kedua, sedekah atau kegiatan filantrofi yang dianjurkan oleh Islam. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Mâ naqasha mâlun min shadaqatin”14 yang menyiratkan bahwa
setidaknya nilai harta tidak akan berkurang bila disedekahkan, di samping itu fungsi sedekah juga dianggap sebagai tindak pencegahan terhadap instabilitas/bala bencana berdasakan pada sabda beliau yang lain, “Bâdirû bi as shadaqati fa inna al balâ lâ yatakhathâhâ”.15Yang Ketiga, belanja halal yang wajib baik
dikarenakan perkawinan seperti belanja untuk isteri atau dikarenakan kebutuhan seperti belanja yang dikeluarkan untuk keluarga/kerabat faqir yang diwarisi atau untuk orang yang tidak/kehabisan bekal dalam perjalanan.16 Yang keempat, kafarat
atau denda yang bentuknya bisa pembebasan hamba sahaya (untuk denda membunuh, zhihar, dan membatalkan sumpah); dalam bentuk memberikan makanan bagi orang fakir (untuk denda membatalkan sumpah, zihar bila tak mampu puasa dua bulan berturut-turut, dan denda melanggar larangan Ihram); dan dalam bentuk pemberian pakaian yang laik bagi orang fakir (denda pembatalan sumpah). Yang kelima, nadzar yaitu dalam kasus seseorang yang mewajibkan dirinya untuk melakukan perbuatan mubah karena mengagungkan Allah misalnya
13 Al Masry, Rafeq Younes, Ushûl Al Iqtishâd Al Islâmy, (Beirut: Al Daar As Syaamiyah, 1999), h. 226.
14 HR. Muslim pada Pembahasan Kebaikan dan Silaturrahmi, Bab Anjuran untuk Memaafkan. 15 Qal’aji, Mabâhist fi al Iqtishâd al Islâmy min Ushûlihî al Fiqhiyyah, (Beirut: Dar an Nafaes, 2000), h. 87.
13
dengan nadzar (‘komitmen’) untuk bersedekah, dll. Yang keenam, daging sembelihan pada hari idul Adha. Yang ketujuh, insentif Negara yang diberikan oleh pemerintah pada saat distribusi pendapatan dan kekayaan tidak adil dan adanya disparitas yang sangat besar antara yang kaya dan yang miskin.17
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Distribusi atau pembagian adalah klasifikasi pembayaran-pembayaran berupa sewa, upah, bunga modal dan laba, yang berhubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh tanah, tenaga kerja, modal dan pengusaha-pengusaha. 2. Dampak dari distribusi pendapatan bukan saja pada aspek ekonomi tetapi juga
aspek sosial dan politik. Oleh karena itu islam memberi perhatian lebih terhadap distribusi pendapatan dalam masyarakat. Maka islam memperhatikan berbagai sisi dari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya, misalnya dalam dalam jual-beli, hutang piutang, dan sebagainya.
3. Efisiesi alokasi hanya menjelaskan bahwa bila semua sumber daya yang ada habis teralokasi, maka alokasi yang efisien tercapai. Dalam konsep ekonomi Islam, adil adalah “tidak mendzhalimi dan tidak dizhalimi”. Bisa jadi “sama rasa sama rata” tidak adil dalam pandangan Islam karena tidak memberikan insentif bagi orang yang bekerja keras.
4. Secara umum dapat kami katakana bahwa system distribusi ekonomi dalam ekonomi islam mempunyai andil bersama system dan politik syariah lainnya-dalam merealisasikan beberapa tujuan umum syariat islam. Dimana tujuan distribusi dalam ekonomi islam di kelompokkan kepada tujuan dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Al Masry, Rafeq Younes, Ushûl Al Iqtishâd Al Islâmy, (Beirut: Al Daar As Syaamiyah, 1999).
Karim, Adiwarman , Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.
Qal’aji, Mabâhist fi al Iqtishâd al Islâmy min Ushûlihî al Fiqhiyyah, (Beirut: Dar an Nafaes, 2000).
Winardi, Kamus Ekonomi, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1989).
Internet
Supriyatman, Dedy, Distribusi Pendapatan dalam Islam,
http://dedy-supriatman.blogspot.com/2012/05/distribus-pendapatan-dalam-islam.html, diakses pada tanggal 17 Mei 2014 pukul 09:45 WIB.
Forum anak EKIS STAIN Watampone, distribusi pendapatan dalam Islam,
https://www.facebook.com/ekis.stain.wtp?fref=nf, diakses pada tanggal 17 Mei 2014 pukul 09:47 WIB.
Handoko, M Shobur, Distribusi Menurut Ekonomi Islam,
http://kuliahobur.blogspot.com/2013/04/distribusi-menurut-ekonomi-islam_8.html, diakses pada tanggal 17 Mei 2014 pukul 09:50 WIB.