• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Reklamasi Pantai Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Reklamasi Pantai Indonesia"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM REKLAMASI PANTAI (LAPANG)

REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA

Dilaksanakan dan disusun untuk dapat mengikuti ujian praktikum (responsi) mata kuliah Reklamasi Pantai

Disusun Oleh :

Nama : Muhammad Riski Aridanto NIM : H1K013050

Kelompok : 4 (Empat) Asisten : Jamalludin

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

(2)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepualauan terbesar didunia yang memiliki garis pantai

terpanjang kedua di dunia setelah Canada. Sebagian besar masyarakat pantai memiliki

tingkat pendapatan dan derajat kesejahteraan yang rendah. Hal ini merupakan ancaman

bagi kualitas lingkungan pesisir. Dengan melihat kondisi ekonomi masyarakat pesisir

yang lemah dan pertumbuhan penduduk yang pesat menuntut adanya pemenuhan

kebutuhan yang lebih besar, sehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan

sumberdaya yang ada secara berlebih. Hal ini yang mendasari adanya pembangunan di

wilayah pesisir. Seperti hal-nya pembangunan di pesisir pulau Karimunjawa yang

dimana salah satu tempat dekat dengan dermaga, terlihat bangunan menyerupai

gundukan tanah yang berguna untuk mempermudah kapal-kapal untuk bersandar. Selain

itu, juga terdapat sebuah bangunan milik Dinas Kelautan dan Perikanan di Karimunjawa

yang terletak tidak jauh dari gundukan tanah. Bangunan ini diperuntukan untuk nelayan

yang ingin melakukan usaha budidaya.

Perlu diketahui bahwa pembangunan wilayah pesisir dapat menimbulkan berbagai

macam dampak terhadap kualitas lingkungan, walaupun pihak yang memanfaatkan

wilayah tersebut mendapatkan untung. Dampak dari kurang sadaranya masyarakat akan

fungsi pesisir juga dapat menyebabkan adanya kerusakan lingkungan. Untuk

menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka kegiatan para pengguna sumberdaya

diwilayah pesisir perlu diarahkan sehingga akan timbul kesadaran akan pentingnya

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Sampai saat ini hasil pembangunan berupa gundukan tanah dan bangunan milik

Dinas Kelautan dan Perikanan masih terlihat. Penduduk setempat khususnya para

nelayan cenderung melihat keuntungan dari hasil pembangunan berupa gundukan tanah

tersebut. Karena gundukan tanah tersebut membantu dan memudahkan para nelayan

untuk menyandarkan kapal-kapalnya. Hal ini disebabkan pada tahun 80an, daerah yang

digunakan untuk kapal-kapal bersandar sekarang itu sangat dangkal, maka dahulu

apabila waktu surut datang, kapal-kapal nelayan tidak ada yang bisa bersandar.

Sehingga dengan mengeruk dan menimbun pasir merupakan solusi masalah ini, namun

hal yang perlu diperhatikan adalah kelestarian dari biota-biota yang ada hidup didaerah

tersebut.

Selain itu, hal yang berbeda dikatakan pada penduduk setempat dengan adanya

bangunan milik Dinas Kelautan dan Perikanan. Bangunan tersebut tidak membawa

dampak baik ataupun buruk untuk masyarakat. Dahulu daerah tersebut hanyalah daratan

yang langsung berhadapan dengan laut, sekitar 10 tahun yang lalu di dirikanlah

bangunan tersebut. Namun pada saat kami survey lapangan ke tempat tersebut,

bangunan tersebut tampak sepi dan tidak terdapat aktifitas yang berarti.

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui karakteristik bangunan reklamasi pantai yang ada di

(4)

II. MATERI DAN METODE 2.1 Materi

2.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum Reklamasi Pantai ini adalah alat tulis,

kamera, dan meteran.

2.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum Reklamasi Pantai ini adalah hasil

wawancara warga setempat dan dokumentasi.

2.2 Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah dengan mengkaji persepsi

masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan di Karimunjawa yang bersifat survey ke

lapangan.

2.3 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan Senin, 2 November 2015 pukul 17.30 WIB di kawasan

(5)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil

Gambar 1. Gundukan Tanah atau Tanggul (Nomor 1) dan Bangunan Dinas Kelautan dan Perikanan (Nomor 2) (Google Earth)

3.1.1 Gundukan Tanah

Tabel 1. Karakteristik Bangunan Reklamasi Pantai

No Parameter Keterangan

1

Ukuran Bangunan :

Panjang 126,9 m

Lebar 63,1 m

Tinggi 1,5-2m

2 Bentuk Bangunan Bentuk L

3 Metode Reklamasi Pengurugan

4 Bahan Baku Batu Kapur, Rubble dan Pasir

(6)

3.1.2 Bangunan Dinas Kelautan dan Perikanan

Tabel 2. Karakteristik Bangunan Reklamasi Pantai

No Parameter Keterangan

2 Bentuk Bangunan Segitiga Sama Sisi

3 Metode Reklamasi Pengurugan

4 Jumlah Dana Rp. 4.000.000.000,-

3.2 Pembahasan

3.2.1 Pulau Karimunjawa

Taman Nasional Karimunjawa terletak di utara pulau Jawa yang secara geografis

Taman Nasional Karimunjawa terletak pada koordinat 5°40’39” - 5°55’00” LS dan

110°05’ 57” - 110°31’ 15” BT. Secara administratif kawasan ini termasuk Kecamatan

Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Taman Nasional ini memiliki

luas 111.625 ha yang meliputi 110.117,30 ha kawasan perairan dan 1.507,70 ha

kawasan darat. Taman Nasional Karimunjawa merupakan satu-satunya kawasan

pelestarian alam perairan di wilayah Propinsi Jawa Tengah yang merepresentasikan

keutuhan dan keunikan pantai utara Jawa Tengah (Siregar, 2015)

Kepulauan Karimunjawa secara administratif merupakan salah satu kecamatan di

Kabupaten Jepara, terletak sekitar 50 mil di sebelah Utara kota Semarang. Luas

Wilayah kepulauan ini adalah 10.225 hektar dengan luas wilayah daratan 7.120 hektar

(7)

melelui jalur laut, kecuali pulau Karimunjawa dan kemajuan yang sudah mempunyai

jalan penghubung lewat darat (Sardiyatmo,2005)

Kawasan Taman Nasional Karimunjawa merupakan perwakilan lima tipe

ekosistem yaitu ekosistem terumbu karang, padang lamun dan rumput laut, hutan

mangrove, hutan pantai, serta hutan hujan tropis dataran rendah. Keberadaan ekosistem

tersebut sangat penting untuk menjaga kestabilan sistem hidrologi dan iklim mikro

wilayah kepulauan Karimunjawa. Hilang atau rusaknya salah satu ekosistem yang ada

akan menyebabkan ketidakseimbangan fungsi ekosistem lainnya.

3.2.2 Reklamasi Pantai di Karimunjawa

Menurut Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah

Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang

dalam rangka meningkatkan manfaat sumberdaya lahan ditinjau dari sudut lingkungan

dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Seperti

yang terjadi di kepulauan Karimunjawa, tidak sedikit di bagian pulau tersebut telah

mengalami reklamasi pantai yang di dirikan atas dasar kebutuhan masyarakat setempat.

Secara umum bentuk reklamasi ada dua, yaitu reklamasi menempel pantai dan

reklamasi lahan terpisah dari pantai daratan induk. Cara pelaksanaan reklamasi sangat

tergantung dari sistem yang digunakan. Menurut Buku Pedoman Reklamasi di Wilayah

Pesisir yang di keluarkan oleh Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau

Kecil (2005), reklamasi dibedakan atas 4 sistem, yaitu sistem timbunan, sistem polder,

sistem kombinasi antara polder dan timbunan, dan sistem drainase.

Berdasarkan hasil yang didapat di lapangan hasil pembangunan berupa gundukan

tanah awalnya hanya perairan biasa. Sedangkan bangunan DKP yang ada dilapang

awalnya hanya daratan biasa yang pada bagian ujung daratan tersebut sudah menjorok

(8)

sistem reklamasi timbunan (Siregar, 2015)

Sistem reklamasi timbunan adalah reklamasi yang dilakukan dengan cara

menimbun perairan pantai sampai muka lahan berada diatas muka air laut tinggi (High

water leverl). Sistem timbunan cocok dilakukan pada derah tropis yang mempunyai

curah hujan yang tinggi, seperti di Karimunjawa, Indonesia. Untuk reklamasi pantai

biasanya memerlukan material urugan yang cukup besar yang tidak hanya diperoleh

dari sekitar pantai saja, tetapi dapat didatangkan dari beberapa kawasan lain yang

memerlukan jasa angkutan (Siregar, 2015)

Berdasarkan hasil survey lapang dan wawacancara nelayan setempat, gundukan

tanah atau bisa juga disebut tanggul ini berbentuk huruf L. Di bagian tengah antar

daratan dengan gundukan tanah tersebut awalnya adalah daratan dangkal, namun kini

telah diurug sehingga kedalamannya bertambah. Sehingga pada saat surutpun

kapal-kapal masih bisa bersandar. Fungsi gundukan tanah atau tanggul adalah sebagai

penghalang gelombang. Sedangkan bangunan milik Dinas Kelautan dan Perikanan

diperkirakan berbentuk segitiga sama sisi yang mendatar. Terlihat dari bagian ujung

dari luas bangunan tersbut menjorok kearah laut.

Suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia pasti memiliki manfaat juga dampak

pada sekelilingnya, begitu juga dengan kegiatam reklamasi pantai. Seperti yang ada di

Karimunjawa, di suatu tempat terdapat gundukan tanah atau tanggul dan bangunan

milik pemerintah yang berdiri bersebelahan. Untuk hasil pembangunan berupa

gundukan tanah atau tanggul, masyarakat setempat khususnya nelayan cenderung

melihat keuntungan dari hasil pembangunan berupa gundukan tanah tersebut. Karena

gundukan tanah tersebut membantu dan memudahkan para nelayan untuk

menyandarkan kapal-kapalnya. Sedangkan pendirian bangunan milik Dinas Kelautan

(9)

berguna menjadi daerah yang benilai ekonomis tinggi. Selain itu, tempat ini juga di

maksudkan untuk membantu menyalurkan masyarakat untuk bisa melakukan budidaya

pada ikan seperti ikan kerapu.

Bahan baku gundunkan tanah atau tanggul adalah batu kapur, rubble dan pasir.

Proses pembuatannya dibantu dengan alat berat berupa Excavator, untuk biaya operator

Excavator yakni sebesar Rp 150.000,-/hari (Carialatberat.com, 2015). Estimasi biaya

yang dikeluarkan dalam pengerjaan tersebut sekitar 3 bulan dan sudah termasuk sewa

alat sebesar Rp 75.000.000,- . Sedangkan bahan yang digunakan untuk pondasi bangun

milik DKP yaitu pasir, batu pecah dan semen. Biaya pasir dan batu pecah per m3

sebesar Rp 100.000,00 dan di tambahan dengan biaya semen 3 ton sebesar Rp

15.000.000,00 (@Rp 5.000/kg), serta biaya sewa alat penggiling (Molen) sebesar Rp

400.000,00/hari sudah termasuk bahan bakar (Gadingjaya.com, 2015), maka

diestimasikan biaya yang dikeluarkan dalam pengerjaan tersebut selama kurang lebih

satu tahun adalah sebesar Rp 4.000.000.000,-

Kegiatan reklamasi pantai akan mengubah kondisi dan ekosistem pesisir dan

tentunya tidak akan sebaik ekosistem yang alami. Bisa dikatakan dibalik dampak positif

yang diberikan kedua bangunan, pasti ada dampak negatif yang ditimbulkan. Umumnya

dari hasil reklamasi pantai yang paling sering terkena dampak negatif yakni alam.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa apa yang menurut kita baik seperti reklamasi

pantai, belum tentu baik buat alam. Bahkan tidak menutup kemungkinan ekosistem

yang ada akan rusak. Sama seperti halnya yang terjadi di Karimunjawa, gundukan tanah

atau tanggul yang di dirikan memang menguntungkan bagi nelayan, namun disisi lain

biota-biota yang semula hidup disana akan terganggu. Mungkin karena aktifitas

perkapal, bakan bakar yang tumpah dan lain-lain. Sehingga biota atau organisme yang

(10)

Sedangkan pada bangunan milik Dinas yang bersebelahan dengan gundukan tanah

tersebut, saat survey lapangan terlihat sangat sepi dan tidak aktifitas yang berarti. Selain

itu, kondisinya pun kurang terawat, ini bisa menandakan bahwa pembangunan tersebut

sia-sia. Selain itu, biota yang dahulu hidup di daerah tersebut pun terganggu. Sehingga

harus pindah ke tempat yang lebih baik lagi (Siregar,2015)

Reklamasi pantai seharusnya diarahkan pada tujuan utama pemenuhan kebutuhan

lahan baru karena kurangnya ketersediaan lahan darat. Usaha reklamasi janganlah

semata-mata ditujukan untuk mendapatkan lahan dengan tujuan komersial belaka.

Reklamasi di sekitar kawasan pantai dan di lepas pantai dapat dilaksanakan dengan

terlebih dahulu diperhitungkan kelayakannya secara transparan dan ilmiah.

Perencanaan reklamasi harus diselaraskan dengan rencana tata ruang kota. Dan

tidak kalah pentingnya adalah dengan melihat beberapa aspek dalam kegiatan reklamasi

pantai yakni Aspek teknis meliputi hidro-oceanografi, hidrologi, batimetri, topografi,

geomorfologi, dan/atau geoteknik ; Aspek lingkungan hidup yaitu aspek yang melihat

kondisi lingkungan hidup yang meliputi kualitas air laut, kualitas air tanah, kualitas

udara, kondisi ekosistem pesisir (mangrove, lamun, terumbu karang), flora dan fauna

darat serta biota perairan ; Aspek sosial ekonomi meliputi demografi, akses publik, dan

(11)

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Kurangnya perhatian masyarakat terhadap dampak negatif yang ditimbulkan.

Mereka masih menganggap bahwa selama kenyamanan hidup mereka tidak terganggu,

dampak negatif belum merupakan ancaman.

2. Saran

Reklamasi pantai seharusnya diarahkan pada tujuan utama pemenuhan kebutuhan

lahan baru karena kurangnya ketersediaan lahan darat. Perencanaan reklamasi harus

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Cari Alat Berat. 2015. Jual dan Sewa Berbagai Alat Berat. http://www.carialatberat.com

Gading Jaya Teknik. 2015. Menyewakan : Molen Beton, Vibrator, Satmper dan

lain-lain. Bekasi. http://www.gadingjaya.com

Sardiyatmo. 2005. Kepedulian Masyarakat Pesisir Karimunjawa Terhadap Masalah

Pencemaran. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro.

Semarang

Siregar M. 2015. Dasar Hukum Pengaturan Dalam Penyelenggaraan Reklamasi Pantai

(13)

LAMPIRAN

(14)

Gambar

Gambar 1. Gundukan Tanah atau Tanggul (Nomor 1) dan Bangunan Dinas
Tabel 2. Karakteristik Bangunan Reklamasi Pantai

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menentukan koordinat, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengambil nilai ADC dari seluruh sensor hall effect dan menkonversi nilai tersebut dengan menggunakan

Usah-usaha golongan yang memegang kekuasaan seperti diterangkan mosca, di dalam masyarakat-masyarakat yang baru saja bebas dari penjajahan dan mendapat kemerdekaan

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti di lapangan sangat dibutuhkan guna memperoleh data sebanyak mungkin dan mencari keabsahan dari data yang

Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya

Asuransi Takaful Umum Cabang Pekanbaru ini harus sesuai dengan syariat islam yang menjauhi unsur gharar, maysir dan riba, agar dalam pengelolaan dana ini dapat terwujud

Oleh karena itu, untuk membuat agar nilai‐nilai yang ada di dalam PDRB mencerminkan nilai kesejahteraan yang sebenarnya dari hasil kegiatan perekonomian atau

Dalam hal ini guru PAI tidak menyia-nyiakan kegiatan ekstra yang tersedia di sekolah sebagai salah satu cara dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.

Peningkatan Langkah sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja budaya resmi dan manajemen pariwisata melalui industri kreatif di atas dapat digambarkan bahwa