• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Sejarah Penurunan dan Penulisan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Sejarah Penurunan dan Penulisan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan suatu pedoman hidup bagi umat muslim di muka bumi ini. Oleh karena itu, umat muslim diwajibkan mengikuti peraturan-peraturan yang ada di dalamnya. Dan Al-Qur’an itu memiliki sejarah yang menakjubkan, dan proses penulisannya itu sangatlah sulit dirasakan oleh para sahabat. Dengan jerih payah merekalah Al-Qur’an itu tetap ada di muka bumi ini. Dan penulis pun ingin mengingatkan kembali kepada kita semua sejarah yang berharga itu dengan membuat makalah yang sederhana namun bermanfaat ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah sejarah turunnya Al-Qur’an itu? 2. Bagaimanakah proses turunnya Al-Qur’an itu?

3. Bagaimanakah sejarah penulisan Al-Qur,an itu pada zaman nabi Muhammad SAW? 4. Bagaimanakah sejarah penulissan Al-Qur’an itu pada zaman Khulafaur Rasyidin?

C. Tujuan Penulisan

(2)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Turunnya Al-Qur’an (Nuzul Qur’an)

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada rasul kita Muhammad saw. untuk membimbing manusia. Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Qur’an pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam samawi yang dihuni oleh para malaikat. Tentang kemuliaan umat Muhammad.

Menurut para ulama ahli tarikh, Al-quran itu diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan saat Muhammad berusia 40 tahun, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi. Pada saat itu Muhammad sedang berkhalwat dan bertahannuts di gua Hira, tiba-tiba datanglah malaikat Jibril memeluknya dengan erat lalu menyuruh beliau untuk membaca. “Bacalah!” Kata Jibril. “Aku tidak pandai membaca” sahut Muhammad. Jibril menyuruh membaca kepada beliau sampai tiga kali, tetapi beliau hanya dapat menjawab: “Aku tidak pandai membaca”. Akhir-nya Jibril membacakan ayat-ayat yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5. Inilah ayat-ayat Al-Quran yang pertama diturunkan. Setelah itu nabi lansung pulang ke rumah dan dan berkata pada Khadijah “Sellimuti aku, selimuti aku”. lalu Siti Khadijah pun menyelimuti nabi, dan Siti Khadijah melihat nabi sangat ketakutan dan sangat dingin.

Adapun alasan alquran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan ialah firman Allah sendiri dalam Surat Al-Anfal ayat 41:

ِناَعْمَجْلا

“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pahlawan”

(3)

medan Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Ayat-ayat Al-Quran yang di turunkan itu tidak sekaligus melainkan berangsur-angsur menurut keadaan tempat, waktu dan kebutuhan. Setiap ayat-ayat Al-Quran diturunkan, nabi membacakannya di hadapan para sahabatnya

B. Proses Turunnya Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185:

ِناَق ْرُفْلاَو ىَدُهْلا َنِم ٍتاَنّيَبَو ِسالنلِل ىًدُه ُنَآ ْرُقْلا ِهيِف َلِزْنُأ يِذللا َناَضَمَر ُرْهَش

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya permulaan Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia, dan mengandung penjelasan-penje-lasan tentang petunjuk itu, juga sebagai pembeda antara yang hak dan yang bathil” (Q.S. Al-Baqarah:185)

Dan firman-Nya,

   

“Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam lailatul qadar”. (Q.S. Al-Qadar:1)

Kedua ayat di atas tidak bertentangan, karena lailatul qadar itu hanya ada di dalam bulan Ramadhan saja. Tetapi zhahir ayat-ayat itu yang bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah, dimana Al-Qur’an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun. Dalam hal ini, para ulama terbagi kepada beberapa madzhab pokok.

a. Madzhab pertama: Pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, kemudian dipegang oleh jumhur ulama, bahwa “Yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an dalam kedua firman di atas ialah turunnya Al-Al-Qur’an sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia untuk menunjukkan kepada para malaikat-Nya bahwa betapa besar masalah ini. Selanjutnya Al-Qur’an diturunkan kepada nabi saw. secara bertahap selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya sejak beliau diutus hingga wafatnya. Selama tiga belas tahun beliau tinggal di Mekkah, dan selama itu pula wahyu turun kepadanya. Sesudah hijrah, beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun”.

(4)

permulaan turunnya Al-Qur’an itu dimulai pada lailatul qadar di bulan Ramadhan. Kemudian sesudah itu, turun secara bertahap sesuai dengan berbagai peristiwa yang mengiringinya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian, Al-Qur’an hanya satu macam cara turun, yaitu turun secara bertahap kepada Rasulullah saw., sebab yang demikian inilah yang dinyatakan Al-Qur’an dalam surah Al-Isra’ ayat 106:

        

“Dan Al-Qur’an telah Kamiturunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami me-nurunkannya bagian demi bagian”. (Q.S. Al-Isra’:106)

c. Madzhab ketiga, Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada dua puluh tiga malam kemuliaan (lailatul qadar), yang pada setiap malamnya selama malam-malam kemuliaan itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sepanjang tahun. Madzhab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufassir. Dan pendapat ini tidak mempunyai dalil. Adapun madzhab kedua yang diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dengan dalil-dalil yang shahih dan dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan madzhab per-tama yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Pendapat yang kuat ialah; Al-Quranul Karim itu diturunkan dua kali.

Pertama, diturunkan sekaligus pada lailatul qadar ke baitul izzah di dunia.

Kedua, diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.

d. Madzhab keempat, ada juga sebagian ulama yang berpandangan bahwa Al-Qur’an turun pertama-tama secara berangsur-angsur ke lauhul mahfuz berdasarkan firman Allah Ta’ala, “tiada lain ia adalah Al-Qur’an yang mulia di Lauh Mahfuz……..” Kemudian setelah itu ia turun dari Lauh Mahfuz turun secara serentak ke Baitul Izzah. Selanjutnya, ia turun sedikit demi sedikit. Dengan demikian, ini berarti turun dalam tiga tahap.

C. Sejarah Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Nabi Muhammad SAW

(5)

dan penghayatan, kedua, pengumpulan dalam catatan berupa penulisan kitab. Berkaitan dengan kondisi Nabi yang ummi, maka perhatian utama beliau adalah menghafal dan menghayati ayat-ayat yang diturunkan. Ibnu Abbas meriwayatkan, karena besarnya konsentrasi Rasul kepada hafalan, hingga ketika wahyu belum selesai disampaikan Malaikat Jibril, Rasulullah menggerak-gerakkan bibirnya agar dapat menghafalnya. Karena itu, turunlah ayat:

         

          

janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk memebaca Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tangan Kamilah me-ngumpulkannya di (dadamu)dan membacakannya. Maka ikutilah bacaan itu. Ke-mudian, sesungguhnya atas tangan Kamilah penjelasannya”. (Q.S. Al-Qiya-mah/75: 16-19)

(6)

Rasulullah saw. menunjuk beberapa orang sahabatnya yang dapat menulis dan membaca untuk menuliskan wahyu,antara lain khulafaur Rasyidin, Mu’awiyah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Khalid bin Walid. Para penulis wahyu itu bertugas menuliskan wahyu dan meletakkan urutan-urutannya sesuai dengan petunjuk Nabi (tauqifi) berdasarkan petunjuk Allah melalui malaikat jibril. Semua ayat-ayat Al-Qur’an yang telah ditulis di hadapan Nabi pada benda yang bermacam-macam kulit atau krtas (ruq’ah), tulang unta atau domba (katfun), lembaran-lembaran punggung unta (qatbun), pelepah kurma, dan sebagainya, itu disimpan di rumah Nabi dalam keadaan yang masih terpencar-pencar, ayat-ayatnya belum dihimpun dalam satu mushaf/suhuf. Di samping itu para penulis wahyu secara pribadi membuat pula naskah dari tulisan ayat-ayat Al-Qur’an bagi kepentingan pribadi masing-masing.

D. Sejarah Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Khulafaur Rasyidin 1. Pada Masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq

(7)

Al-Qur’an di masa nabi pada suatau pertempuran di sumur Ma’unah dekat kota Madinah.

Oleh karena itu Umar bin Khattab khawatir akan gugurnya para sahabat penghapal Al-Qur’an yang masih hidup, maka ia datang kepada Abu Bakar me-musyawarahkan hal ini. Dalam buku-buku Tafsir dan Hadits percakapan yang ter-jadi pada Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit mengenai pengupulan Al-Qur’an diterangkan sebagai berikut:

Umar berkata kepada Abu Bakar: “Dalam peperangan Yamamah para saha-bat yang hapal Al-Qur’an telah banyak yang gugur. Saya khawatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. sehingga banyak ayat-ayat Al-Qur’an itu perlu dikumpulkan”.

Abu Bakar menjawab: “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?”

(8)

dari daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hapal Al-Qur’an.

Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an itu Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Sekalipun beliau hapal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Qur’an yang sangat penting bagi umat Islam itu, masih memandang perlu mencocokkan hapalan atau catatan sahabat-sahabat lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Dengan demikian Al-Qur’an seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatnya dengan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Abu Bakar. Mushaf ini tetap di tangan Abu Bakar sampai ia meninggal, kemudian dipindahkan ke rumah Umar bin Khattab dan tetap ada disana selama pemerintahannya. Sesudah beliau wafat, mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafshah putri Umar istri Rasulullah, sampai masa pengumpulan dan pe-nyusunan Al-qur’an di masa Khalifah Utsman.

2. Pada Masa Khalifah Umar bin Khattab

Pada masa ini tidak ada perubahan yang signifikan yang berhubungan dengan kodifikasi Al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena khalifah kedua ini bertugas melanjutkan apa yang telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu mengembangkan misi untuk menyebarkan Islam dan mensosialisasikan ajaran Islam yaitu Al-Qur’an ke berbagai wilayah daulah islamiyah baru yang dikuasai. Salah satu yang dilakukan khalifah ini adalah dengan mengirim para sahabat yang menguasai Al-Qur’an seperti Mu’az bin Jabal, Ubaidah bin Shamith, dan Abu Darda.

3. Pada Masa Khalifah Utsman bin Affan

(9)

perluasan daerah Islam di luar jazirah arab yang otomatis bahasa asli mereka bukan bahasa Arab.

Kemudian kelihatanlah tanda-tanda bahwa perbedaan tentang bacaan Al-Qur’an ini kalau dibiarkan, akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin. Orang yang mula-mula memperhatikan hal ini adalah seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman. Ketika beliau ikut dalam pertempuran menaklikkan Armenia dan Azerbaiyan, dalam perjalanan, ia mendengar pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan beberapa ayat Al-Qur’an, dan pernah mendengar perkataan seorang Muslim kepa-da temannya: “Bacaan saya lebih baik dari bacaanmu”.

Keadaan ini mengagetkan Huzaifah, maka di waktu dia telah kembali ke Madinah, segera ditemuinya Utsman bin Affan, dan diceritakannya apa yang dili-hatnya mengenai pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan Al-Qur’an itu seraya berkata: “Susullah umat Islam itu sebelum mereka berselisih tentang Al-Qur’an, sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani”. Lalu Utsman mengirim surat kepada Hafshah yang isinya: “Kirimkanlah kepada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an, kami akan menyalinnya dan setelah ditulis, kami akan mengembalikannya kepada anda”. Hafshah pun meminjamkan shuhuf yang dipegangnya untuk disalin panitia yang telah dibentuk Utsman, di antaranya: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash, Abdurrahman bin Al-Haris. Maka pengumpulan yang dilakukan oleh Utsman adalah penyalinannya dalam satu huruf untuk mempersatukan kaum Muslimin dalam satu mushaf.

(10)

Pengiriman mushaf dikirim ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman, sehingga perselisihan di antara mereka dapat diredam. Dan mushaf ini dikenal dengan Mushaf Utsmani. Mushaf yang ditulis atas perintah Utsman tidak memiliki syakal (harakat) dan tanda titik (nuqath). Baru ada tanda baca pada masa Ali bin Abi Thalib. Hal ini menimbulkan masalah ketika banyak orang non-Arab yang memeluk Islam, mereka merasa kesulitan membaca mushaf itu.

4. Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pada masa Utsman bin Affan belum memiliki harakat dan tanda baca, maka diadakanlah penyempurnaanya pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini Al-Qur’an sudah diberi harkat dan tanda baca. Secara berangsur-angsur terus disempurnakan. Tercatat tiga nama yang disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali meletakkan tanda titik pada mushaf ini, yaitu Abu Al-aswad Ad-Du’ali, Yahya ibn Ya’mar (45-129 H), dan Nashr ibn “Ashim Al-Laits (w. 39 H), sedangkan orang yang pertama kali meletakkanhamzah, tasydid, ar-raum, dan al-isyam adalah Al-Khalil ibn Ahmad A-Farahidi Al-Azdi yang diberi kunyah Abu ‘Abdurrahman.

Penyempurnaan tulisan Al-Qur’an terus dilakukan, hal ini terbukti dengan adanya perin-tah Khalifah Al-Walid (86-96 H) kepada Khalid ibn Abi Al-Hayyaj yang terkenal keindahan tulisannya untuk menulis di Bundaqiyyah pada tahun 1530 M, tetapi ketika dikeluarkan, penguasa gereja mengeluarkan pemusnahan kitab suci agama Islam ini. Terakhir Al-Qur’an dicetak di Hamburgh (Jerman) pada tahun 1113 H.

(11)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Al-Qur’an itu diturunkan pada 17 Ramadhan, ketika Rasulullah sedang berkhalwat di gua Hira. Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar ke baitul izzah dunia, lalu diturunkan ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun. Adapun Al-Qur’an itu ditulis kedalam mushaf-mushaf dikarenakan dengan kekhawatiran sahabat akan hilangnya Al-Qur’an. Karena sering terjadi peperang-an yang menghilangkan nyawa para penghapal Al-Qur’an. Penulisannya terbagi menjadi dalam dua priode yaitu priode Rasulullah dan priode para Khulafaur Rasyidin.

B. Saran

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Dra. Asnil Ritonga Aidah, MA, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Medan, Cita Pustaka Media Perintis, 2009

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terje-mahannya, 1971

Drs. Sirojuddin Mashuri, Drs. A. Fudlali, Pengantar Ilmu Tafsir,Bandung, Angka-sa Bandung,1987

Syaikh Al-Qhaththan Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta, 2006

(13)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, Karunia, serta Taufik dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Sejarah Penuurunan dan Penulisan Al-Qur’an ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya, dan juga kami berterima kasih pada Bapak Agusri Fauzan, MA selaku Dosen Mata Kuliah Hukum Ekonomi Syariah IAIN Bengkulu yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sejarah penurunan dan penulisan Al-Qur’an. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang yang membacanya. Akhir kata penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan Penulisan ... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Turunnya Al-Qur’an (Nuzul Qur’an) ... 2 B. Proses Turunnya Al-Qur’an Qur’an ... 3 C. Sejarah Penulisan Al-Quran Pada Masa Nabi Muhammad SAW .... 5 D. Sejarah Penulisan Al-Quran Pada Masa Khulafaur Rasyidin ... 6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 11 B. Kritik dan saran ... 11

(15)

MAKALAH

SEJARAH PENURUNAN DAN PENULISAN

AL-QUR’AN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Ekonomi Syariah

Oleh :

AMINAH

Dosen Pengampuh : Bapak Agusri Fauzan, MA

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan: (1) Sejarah Tanah Api Abadi Mrapen yaitu disebabkan adanya dua faktor, yaitu faktor politis dan faktor sosial;

Setelah era Soeharto atau orde baru berakhirpun Masa kapitalisme belum berakhir di negara Indonesia, bahkan berlanjut dan mulai merambah pada bidang- bidang

Pertama, ditinjau dari faktor eksternal, faktor yang sangat berpengaruh bagi emiten sukuk dalam menerbitkan sukuk dipasar modal yaitu adanya kelebihan likuiditas

Namun belum banyak bukti yang dapat dikemukakan tentang kegemilangan masa lalu peradaban Aceh, yang menurut beberapa penelitian para ahli disebabkan oleh beberapa faktor,

Hal ini disebabkan oleh 4 faktor utama, yaitu tidak adanya fasilitas lengkap pengurusan jenazah, pelatihan praktek pengurusan jenazah belum pernah dilakukan,

Kemiskinan secara asal penyebabnya terbagi menjadi 2 macam. Pertama adalah kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor adat atau

Ketertarikan untuk dijadikan tema penulisan adalah: pertama, belum adanya yang membahas pemikiran Badiuzzaman Said Nursi dalam bentuk skripsi di Departemen

poliklinik, belum adanya daftar singkatan yang ditetapkan sebagai acuan dalam penulisan terminologi medis, dan sudah adanya Standar Operasional Prosedur (SOP)