• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa dan prasangka dalam media sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bahasa dan prasangka dalam media sosial"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Sub tema : Penggunaan Bahasa Indonesia pada media sosial

Bahasa dan prasangka dalam media sosial

A.Yusdianti T. 1 A. Aryana. 1 [email protected].

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Abstrak

Dewasa ini, media sosial tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita saat ini. Media sosial adalah wadah dalam mengungkapkan pendapat dan mengekspresikan diri. Selain itu, media sosial juga memiliki peran sebagai media penyebar informasi. Dengan kegunaan media sosial sebagai penyebar informsi menjadikan media sosial dapat digunakan sebagai alat untuk memengaruhi masyarakat.

Beragamnya fungsi media sosial menjadikan bahasa media sosial menjadi bermacam-macam bergantung konteks penggunaan serta tujuan yang ingin dicapai oleh pembuat status dalam media sosial. Diantara berbagi macam jenis penggunaan bahasa Indonesia dalam media sosial, penggunaan bahasa yang mengandung prasangka menjadi menarik untuk diteliti, sebab dengan mengetahui prasangka yang terkandung di dalam bahasa yang digunakan oleh masyarakat/individu terutama di media sosial, maka akan diketahui bagaimana cara masyarakat/individu tersebut memengaruhi pembaca dengan prasangka yang dimiliknya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahasa dalam media sosial yang dianggap mengandung prasangka. penelitian ini akan berfokus pada pengidentifikasian bahasa yang mengandung prasangka dengan menggunakan teori yang terdapat dalam buku yang berjudul Prejudice in discourse karya Teun A. Van Dijk.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah teks yang diambil dari media sosial facebook. Analisis data dalam penelitian ini terdiri atas ; (1) pengumpulan data yang berupa teks, yang dianggap menunjukkan prasangka dari media sosial facebook, dan (2) mengidentifikasi teks yang telah didapatkan berdasarkan ekspresi prasangka dan perangkat retoris

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa dalam media sosial tidak terlepas dari prasangka. Tipe gaya bahasa yang cenderung digunakan diantaranya; generalisasi, kontras, repetisi, serta enumeration dan klimaks. Penggunaan gaya bahasa tersebut bertujuan untuk menyakinkan pembaca bahwa apa yang diyakini oleh penulis status di media sosial tersebut adalah benar.

Kata kunci : Wacana, prasangka, gaya bahasa, media sosial.

A. Pendahuluan

Dewasa ini, media sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia modern. Media sosial merupakan wadah dalam mengungkapkan pendapat, mengekspresikan diri, dan sebagai tempat menunjukkan eksistensi diri, sehingga dengan beragamnya hal yang dapat dilakukan dengan media sosial, maka media sosial seperti facebook, twitter, instagram, line, dll. menjadi hal yang sangat memengaruhi masyarakat saat ini.

Bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat untuk mengungkapkan gagasan. Ekspresi bahasa tersebut menggambarkan kecendrungan masyarakat ataupun individu penuturnya. Dalam media sosial, bahasa digunakan sebagai cara mengekspresikan pikiran, sehingga penggunaan bahasa di media sosial sarat akan bahasa yang bersifat emotif. Selain sarat akan bahasa emotif, penggunaan bahasa dalam media sosial juga memiliki kecenderungan bersifat propaganda. Propaganda dalam media sosial dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif dengan memanfaatkan prasangka yang berfungsi sebagai penunjang untuk memengaruhi orang-orang yang membaca suatu tulisan di media sosial.

Prasangka atau prejudice merupakan perilaku negatif atau positif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi tentang kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial. Oleh karena itu, penelitian terhadap bahasa prasangka menjadi menarik untuk dilakukan, sebab dengan mengetahui prasangka yang terkandung di dalam bahasa yang

(2)

digunakan oleh masyarakat/individu terutama di media sosial, maka akan diketahui bagaimana cara masyarakat/individu tersebut memengaruhi pembaca dengan prasangka yang dimiliknya.

Penelitian mengenai bahasa prasangka pernah dilakukan oleh Setiawati Darmojuwono dengan judul penelitian Manipulasi bahasa dan prasangka sosial dalam komunikasi . Dalam penelitian tersebut, Setiawati menyimpulkan bahwa manipulasi bahasa prasangka ditandai oleh beberapa hal, diantaranya; menggunkan kata-kata yang mengandung unsur makna emotif sehingga dapat menimbulkan emosi positif atau negatif, menggunakan kata-kata rancu maknanya/tidak jelas sehingga memungkinkan perluasan/penyempitan konsep sesuai dengan tujuan, mengaburkan konsep kata melalui eufemisme, dan menggunakan metafora sebagai cara mengungkap realitas secara tidak langsung.

Berbeda dengan penelitian di atas, penelitian ini akan berfokus pada pengidentifikasian bahasa yang mengandung prasangka dengan menggunakan teori yang terdapat dalam buku yang berjudul Prejudice in discourse karya Teun A. Van Dijk. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih penelitian dalam bidang prasangka, terutama dalam hal-hal yang menyangkut pemecahan masalah ataupun konflik yang menyangkut SARA.

B. Prasangka

Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000) pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki kualitas suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut. Selanjutnya Kartono, (1981) menguraikan bahwa prasangka merupakan penilaian yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifatnya berat sebelah dan dibarengi tindakan yang menyederhanakan suatu realitas.

Prasangka sosial menurut Papalia dan Sally, (1985) adalah sikap negatif yang ditujukan pada orang lain yang berbeda dengan kelompoknya tanpa adanya alasan yang mendasar pada pribadi orang tersebut. Lebih lanjut diuraikan bahwa prasangka sosial berasal dari adanya persaingan yang secara berlebihan antar individu atau kelompok. Selain itu proses belajar juga berperan dalam pembentukan prasangka sosial dan kesemuanya ini akan terintegrasi dalam kepribadian seseorang. Dengan demikian bila seseorang berupaya memahami orang lain dengan baik maka tindakan prasangka sosial tidak perlu terjadi.

Individu yang berprasangka pada umumnya memiliki sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang diprasangkai. Prasangka cenderung tidak didasarkan pada fakta-fakta objektif, tetapi didasarkan pada fakta-fakta yang minim yang diinterpretasi secara subjektif. Jadi, dalam hal ini prasangka melibatkan penilaian apriori karena memperlakukan objek sasaran prasangka (target prasangka) tidak berdasarkan karakteristik unik atau khusus dari individu, tetapi melekatkan karakteristik kelompoknya yang menonjol.

Menurut Sarwono (2007), prasangka orang Indonesia terdiri atas lima, yaitu; prasangka etnik, prasangka gender, prasangka agama, prasangka politik, dan prasangka seks. Prasangka etnik adalah prasangka yang didasari pada identitas etnik yang berasal dari budaya yang berbeda. Prasangka gender adalah prasangka yang didasari pada stereotipe tentang perempuan. Prasangka agama merupakan prasangka yang timbul karena adanya interpretasi terhadap agama. Prasangka politik didasari oleh pandangan politik masing-masing individu. Serta prasangka seks didasari pada anggapan atau mitos-mitos yang berkembang di dalam masyarakat mengenai seks.

C. Prasangka dalam Wacana

Van Dijk (1984: 112) dalam prejudice in discourse mengatakan bahwa ;

Cognitive processes in the expression of prejudice in talk presuppose a complex system of social constraints, rules, norms, information, and situational variables. Among other things, talk, also in interviews, requires strategies of self-presentation and persuasion.

dari kutipan di atas terlihat bahwa proses kognitif dalam (bahasa) ekspresi prasangka menunjukkan sistem sosial, aturan, norma, infomasi, dan situasi. Selain itu ekspresi prasangka juga digunakan baik dalam percakapan ataupun wawancara yang menuntut strategi untuk menunjukkan diri dan juga memengaruhi orang yang diajak berbicara.

(3)

yang bersifat negatif, seperti gosip, fitnah, dan diskriminasi verbal, masyarakat cenderung memberi tanggapan dan penilaian yang buruk pada orang melakukan pembicaraan yang bersifat negatif tersebut, sehingga untuk menghindari penilaian buruk tersebut, orang yang ingin melakukan pembicaran yang bersifat negatif melakukan beberapa strategi berbahasa. Strategi berbahasa yang dimaksud di sini adalah gaya bahasa (stilistika) dalam mengungkapkan prasangka.

Stilistika, yakni ilmu tentang gaya bahasa, menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari gaya-gaya bahasa. Sebenarnya, penggunaan dari gaya-gaya dan ilmu gaya-gaya itu secara luas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, bagaimana segala sesuatu dilakukan, dinyatakan, dan diungkapakan.

Van Dijk (1984: 133) mengatakan bahwa ;

Style is the linguistic trace of the context in a text. More or less independently of content, style allows the hearer to infer properties of the personal or social characteristics of talk. In our case, for instance, stylistic variations allow the hearer to infer evaluation and affect involved in opinions and attitudes about minorities, about the social roles of the speaker, about the definition by the speaker of the ethnic relations involved, or about the actual strategies performed during the interview.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa gaya adalah jejak linguistik dari suatu konteks yang berada di dalam teks. Gaya (bahasa) memungkinkan pendengar untuk menyimpulkan sifat karakteristik pribadi atau sosial orang yang berbicara, sehingga variasi gaya memungkinkan pendengar untuk menyimpulkan penilaian, pendapat, sikap pembicara tentang minoritas, tentang peran sosial dari pembicara, atau tentang strategi yang dilakukan oleh pembicara.

Menurut Van Dijk, strategi yang dilakukan pembicara untuk mengungkapkan prasangkanya meliputi Rhetorical operations (perangkat retoris) dan The expression of prejudice (ekspresi prasangka). The expression of prejudice terdiri atas; penunjukan kaum minoritas, penyebutan nama asal, penggunaan kata demonstratif jarak, paternalistic diminutive, serta penggunaan kata ‘yang berbeda’ (difference). Sedangkan Rhetorical operations terdiri atas; kontras (contrast), generalisasi, pernyataan yang melebih-lebihkan, litotes, repetisi, penyebutan satu per satu dan klimaks, serta perbandingan.

The expression of prejudice Contoh

penunjukan kaum minoritas Orang asing, orang cina, yahudi, dll. penyebutan nama asal Negro, Surinamese, Turks, Moroccans, dll

penggunaan kata demonstratif jarak Orang asing itu, orang turki itu, orang-orang seperti itu, dll paternalistic diminutive Penggunaan kata perempuan yang seharusnya wanita

Difference Penggunaan kata seperti; mereka mempunyai pemikiran yang berbeda, mereka mempunyai gaya hidup yang berbeda, mereka mempunyai kebiasaan yang berbeda, mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda, dll

Rhetorical operations Contoh

Kontras Suami ku bekerja, sedangkan mereka tidak

Generalisasi Semua orang asing membawa pisau

Exaggeration Orang itu sanggup makan 20 porsi makanan dalam sehari Litotes Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali

Repetisi Very often, very often, I have very good contacts with them (foreigners), very good contacts.

Enumeration and Klimaks and that was not once, and that was not twice, that was constantly.. .

Perbandingan foreigner is like a guest in our house, who also must adapt to the rules of the house.

D. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah teks yang diambil dari media sosial facebook. Analisis data dalam penelitian ini terdiri atas ; (1) pengumpulan data yang berupa teks, yang dianggap menunjukkan prasangka dari media sosial facebook, dan (2) mengidentifikasi teks yang telah didapatkan berdasarkan ekspresi prasangka dan perangkat retoris.

E. Pembahasan

(4)

Data 1 Orang liberal emang selalu CACAT LOGIKA. Salah satu contohnya adalah yang berikut ini. Plus lagi fakta bahwa dia mendukung orang kafir sebagai pemimpin, padahal sudah jelas-jelas dilarang oleh agama. Maka lahirlah OPINI ASBUN tanpa dasar sama sekali, yang tujuannya hanya untuk membela majikannya secara membabi-buta.

NB: Mari biasakan untuk tidak mencaci-maki siapapun, termasuk orang-orang yang gambarnya tercantum pada foto ini. Mari kritisi saja

pemikirannya. Belajarlah jadi orang dewasa. Terima kasih.

Jn

October 12 at 11:47am

Generalisasi :

Orang liberal emang selalu CACAT LOGIKA

Penunjukan kaum minoritas : Plus lagi fakta bahwa dia mendukung orang kafir sebagai pemimpin, padahal sudah jelas-jelas dilarang oleh agama.

Data 2 Maaf, Mulai Sekarang Saya Mendukung Ahok Oleh: @jn

Ya, mohon maaf sebesar-besarnya. Anda pasti terkejut, kaget luar biasa, benar-benar tak menduga, kecewa dan marah pada saya. Namun ini adalah pilihan saya. Pilihan yang saya ambil dengan penuh kesadaran. Saya adalah manusia, sama seperti Anda, yang berhak memilih apapun, bukan?

Ya, mulai sekarang saya mendukung Ahok. Ini bagian dari hak asasi saya sebagai manusia. Jadi Anda jangan protes

Kenapa saya mendukung Ahok?

Pertama, karena dia sudah meminta maaf. Terlepas apakah permintaan maafnya itu tulus atau hanya trik licik untuk menarik simpati publik, karena dia sadar karena posisinya makin terancam, namun yang jelas dia sudah minta maaf. Kita sebagai muslim yang baik tentu harus memaafkan, bukan?

Kedua, karena ternyata Ahok itu sangat hebat. Kenapa? Hebatnya di mana?

Tentu saja. Karena selama ini umat Islam bercerai-berai, saling menyerang hanya gara-gara urusan khilafiyah. Hanya gara-gara-gara-gara doa qunut, hanya gara-gara merayakan maulid atau tidak, tahililan atau tidak. Sulit sekali

mempersatukan umat Islam.

Namun Ahok memang benar-benar hebat. Karena dia menghina Al Maidah 51, tiba-tiba umat Islam jadi bersatu. Semangat untuk membela Islam pun menyala-nyala dengan begitu besarnya.

Ahok memang benar-benar hebat. Sebab dengan kehadirannya. kita jadi tahu siapa umat Islam yang masih punya iman, walau dalam porsi yang paling sedikit pun. Dan mana umat Islam yang masuk golongan munafik.

Umat Islam yang masih tersisa iman di dadanya, walau itu hanya secuil, walau selama ini dia masuk kategori Islam KTP, namun mereka

Kontras :

(5)

masuk di "barisan sakit hati", marah oleh hinaan Ahok, sehingga mereka pun dengan penuh semangat membela Islam.

Adapun mereka yang ngakunya ahli agama, hafal berbagai macam ayat Al Quran dan hadits, fasih ngomong agama, namun ternyata mereka tidak mau patuh pada perintah Allah lewat Al Maidah 51. Sungguh kini kita sangat paham bahwa mereka adalah golongan ORANG MUNAFIK.

Ya, itulah bukti kehebatan Ahok. Karena itulah, saya mendukung dia untuk MASUK PENJARA. Sebab mumpung umat islam sedang bersatu, sedang semangat-semangatnya untuk membela Islam, tentu saja inilah saat yang tepat untuk MEMENJARAKAN AHOK.

Setuju?

"Lho, kan udah minta maaf. Kok masih dipenjara?"

Dia kita maafkan, namun proses hukum harus tetap jalan. Sebab perbuatan nista si Ahok ini termasuk delik umum, BUKAN delik aduan. Silahkan belajar ilmu hukum agar paham. Jakarta, 12 Oktober 2016

Jn

Data 3 Salah satu ciri *hokers adalah TIDAK KONSISTEN: (generalisasi)

Ketika kemarin junjungannya masih ngotot membela diri, mereka pun sibuk menjadi "ahli tafsir dadakan" untuk membela si junjungan. Mereka ngotot mengklaim bahwa junjungannya tak bersalah.

Kini setelah junjungannya meminta maaf, eh... para ahli tafsir dadakan ini bukannya minta maaf karena terbukti mereka juga bersalah. Kini mereka malah sibuk memuji-muji sang junjungan sebagai orang yang berbesar hati, gentleman, mau meminta maaf, dan sebagainya. Padahal ya padahal:

Kita tentu masih sangat ingat, bagaimana junjungan mereka itu selalu MENCARI KAMBING HITAM atas kegagalan program-program kerjanya.

"Banjir Jakarta karena ada sabotase, karena ada kabel yang menumpuk, karena ini karena itu...." Tak pernah intropeksi diri, tak pernah meminta maaf kepada rakyat atas kegagalannya.

Tapi ini tiba-tiba meminta maaf? Huh! Itu pun minta maafnya karena terpaksa, tidak benar-benar tulus. Kalau benar-benar tulus, harusnya sejak awal dia meminta maaf. Kalau benar-benar tulus, harusnya dia minta maaf karena telah menghina Al Quran. Eh, dia justru HANYA meminta maaf karena telah bikin masyarakat ribut.

Bah! Pemimpin Macam Mana Pula Kau Ini?

Generalisasi :

Salah satu ciri *hokers adalah TIDAK KONSISTEN. Repetisi :

 Padahal ya padahal

(6)

Jn

October 11 at 2:25pm

Data 4 Pak Buni Yani dilaporkan ke polisi dengan tuduhan memposting potongan video Ahok yang berisi penghinaan terhadap Al Quran. Ini artinya: 1. Strategi PLAYING VICTIM pun dimulai. Mereka yang mulai cari gara-gara, eh mereka justru berlagak jadi korban.

2. Strategi PENGALIHAN FOKUS pun dimulai. Saya yakin, menjadikan Pak Buni Yani sebagai target bertujuan agar kita sibuk membahas beliau, dan lupa membahas AHOK sebagai PENEBAR SARA YANG SEBENARNYA. Mereka ingin agar kita lupa membicarakan Ahok yang telah menghina Al Quran.

JANGAN TERKECOH!

NB: Untuk Pak Buni Yani, JANGAN TAKUT! Saya yakin banyak yang mendukung Anda, TERMASUK SAYA.

Saya juga yakin, semakin Pak Buni Yani dizalimi, maka perlawanan umat Islam akan semakin besar.

Jn

October 8 at 7:36am

Enumeration and klimaks :

Pak Buni Yani dilaporkan ke polisi dengan tuduhan memposting potongan video Ahok yang berisi penghinaan terhadap Al Quran. Ini artinya:

1. Strategi PLAYING VICTIM pun dimulai. Mereka yang mulai cari gara-gara, eh mereka justru berlagak jadi korban.

2. Strategi PENGALIHAN FOKUS pun dimulai. Saya yakin,

menjadikan Pak Buni Yani sebagai target bertujuan agar kita sibuk membahas beliau, dan lupa membahas AHOK sebagai PENEBAR SARA YANG SEBENARNYA.

Data 5 Katanya jangan main SARA, padahal merekalah yang mulai main SARA. Katanya jangan

menebar kebencian lewat socmed. Padahal merekalah yang mulai melakukannya.

Strategi playing victim. Mereka yang mulai bikin onar, tapi mereka selalu berlagak seolah-olah merekalah korbannya. (kontras)

(Termasuk pada kasus pelecehan terhadap Al Maidah 51 oleh Ahok. Mereka mulai pakai strategi yang sama, seolah-olah Ahok yang jadi korban penzaliman. Padahal aslinya, dialah yang mulai memprovokasi). yang mulai bikin onar, tapi mereka selalu berlagak seolah-olah

merekalah korbannya.

Berdasarkan data yang ditemukan, penanda prasangka dalam wacana yang ditemukan terdiri atas: a. Generalisasi

Kalimat prasangka yang mengandung generalisasi terdapat pada data;

 Orang liberal emang selalu CACAT LOGIKA. (data 1)

 Salah satu ciri ahokers adalah TIDAK KONSISTEN. (data 3)

Penggunaan kata emang selalu dan kata salah satu ciri menunjukkan bahwa enulis status fb tersebut ingin mengeneralisasi bahwa semua orang liberal itu cacat logika, serta semua ahokers itu tidak konsisten.

b. Kontras

Kalimat prasangka yang mengandung kontras terdapat pada data;

 Terlepas apakah permintaan maafnya itu tulus atau hanya trik licik untuk menarik simpati publik. (data 2)

 Katanya jangan main SARA, padahal merekalah yang mulai main SARA. Katanya jangan menebar kebencian lewat socmed. Padahal merekalah yang mulai melakukannya .... Strategi playing victim. Mereka yang mulai bikin onar, tapi mereka selalu berlagak seolah-olah merekalah korbannya.

Penggunaan kata atau hanya, padahal, dan tapi digunakan oleh penulis status tersebut untuk menunjukkan kesalahan yang dilakukan subjek/pelaku dengan menggunakan kata-kata pengingkaran tersebut.

(7)

Kalimat prasangka yang mengandung repetisi terdapat pada data;

 Padahal ya padahal... (data 3)

 Itu pun minta maafnya karena terpaksa, tidak benar-benar tulus. Kalau benar-benar tulus, harusnya sejak awal dia meminta maaf. (data 3)

Penggunaan kata yang diulang atau repetisi pada data 3 menunjukkan bahwa penulis status ingin pembacanya menaruh perhatian pada hal yang diulang penulis, yang dalam hal ini penulis ingin menarik perhatian pembaca bahwa apakah subjek yang dibicarakan itu benar-benar tulus ataupun perilaku subjek yang dibicarakan sudah benar atau masih salah.

d. Enumeration and klimaks

Kalimat prasangka yang mengandung enumeration and klimaks terdapat pada data;

 Pak Buni Yani dilaporkan ke polisi dengan tuduhan memposting potongan video Ahok yang berisi penghinaan terhadap Al Quran. Ini artinya:

1. Strategi PLAYING VICTIM pun dimulai. Mereka yang mulai cari gara-gara, eh mereka justru berlagak jadi korban.

2. Strategi PENGALIHAN FOKUS pun dimulai. Saya yakin, menjadikan Pak Buni Yani sebagai target bertujuan agar kita sibuk membahas beliau, dan lupa membahas AHOK sebagai PENEBAR SARA YANG SEBENARNYA.

Penulis status di atas menggunakan strategi enumeration dan klimaks. Hal ini ditandai dengan pernyataan yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan alasan satu per satu. Tipe kalimat prasangka yang seperti ini bertujuan untuk meyakinkan pembaca bahwa argumen penulis status tersebut logis. Penulis dalam status di atas ingin memengaruhi pembacanya bahwa tuduhan memposting potongan video Ahok yang berisi penghinaan terhadap Al Quran hanya mempunyai dua arti yaitu munculnya strategi playing victim oleh pendukung ahok, dan yang kedua akan terjadi strategi penglihan fokus dari para pendukung ahok.

F. Simpulan

Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa, bahasa dalam media sosial tidak terlepas dari prasangka. Tipe gaya bahasa yang digunakan diantaranya; generalisasi, kontras, repetisi, serta enumeration dan klimaks. Penggunaan gaya bahasa tersebut bertujuan untuk menyakinkan pembaca bahwa apa yang diyakini oleh penulis status di media sosial tersebut adalah benar.

Daftar Pustaka

Darmojuwono, Setiawati. 2000. ‘Manipulasi Bahasa dan Prasangka Sosial dalam Komunikasi’. Jurnal WACANA, Vol. 2, hal. 32-39.

Dayakisni, Tri dan Hudainah. 2006. Psikologi Sosial. Malang : UMM Press.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra (Cetakan Pertama). Yogyakarta : CAPS. Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra : Sebuah Penjelajahan Awal (cetakan pertama). Yogyakarta :

Pustaka Pelajar.

Kartono, Kartini. 1981. Patologi Sosial Jilid I. Bandung: Rajawali Press.

Papalia, Diane E., dan Oldes, Sally Wendkos. 1985. Psychology. New York: McGraw-Hill Inc.

Sarwono, Prof.Dr.Salito Wirawan. 2007. Psikologi prasangka orang Indonesia. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Sears, David O., Freedman, Jonathan L. & L. Anne Peplau. 1991. Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Teun A. van Dijk. 1984. Prejudice in discourse. Amsterdam/Philadelphia : JOHN BENJAMINS PUBLISHING COMPANY.

Worchel, S., Cooper, R., Goethals, G. R., & Olson, J.M. 2000. Social Psychology. USA: Thomson Learning.

Referensi

Dokumen terkait

Audit merupakan suatu ilmu yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap pengendalian intern dimana bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengamanan supaya

tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam mengajar baik.. secara terpisah maupun secara terkombinasi,

notenetbook sebenarnya hampir sama dengan notebook hanya saja ukuran netbook lebih kecil dari notebook dan bisanya pebedaan yang mencolok adalah netbook

Penilaian sertifikasi dilakukan terhadap pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO kelapa sawit berkelanjutan untuk Usaha Kebun Swadaya oleh pihak ketiga yang

Sebuah sistem antrian adalah suatu himpunan pelanggan, pelayan dan suatu aturan yang mengatur kedatangan dan pemrosesan masalahnya ( Bronson,1996:308). Sebuah sistem antrian

Seluruh aksesi plasma nutfah kapas yang dikarakterisasi, memiliki deskripsi morfologi yang berbeda, meski ada kesamaan pada beberapa karakter antar spesies yang berbeda..

[r]

Peta kesukaran item-kebolehan individu juga menunjukkan tahap keupayaan individu adalah lebih tinggi berbanding dengan tahap kesukaran item bagi