• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLONIALISME EROPA DI ASIA TENGGARA.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOLONIALISME EROPA DI ASIA TENGGARA.docx"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN 2

A. Latar Belakang 2

B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan 3

BAB II : KEDATANGAN BANGSA EROPA DI ASIA TENGGARA 4 A. Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara 4 B. Kronologi Kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara 5 BAB III : KEBIJAKAN-KEBIJAKAN KOLONIAL EROPA DAN

PENGARUHNYA DI ASIA TENGGARA 10

A. Bidang Politik dan Ekonomi 10

B. Bidang Pendidikan 11

C. Bidang Sosial dan Budaya 12

BAB IV : PERLAWANAN TERHADAP KOLONIAL EROPA DI ASIA

TENGGARA 14

A. Reaksi Penguasa 14

B. Gerakan Sosial Pedesaan 14

BAB V : PENUTUP 16

A. Kesimpulan 16

B. Saran-saran 16

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kolonialisme memiliki arti penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain.1 Kolonialisme berasal dari kata colony. Kata ini diambil dari bahasa latin yaitu colon, yang ditujukan untuk petani, penanam atau penduduk yang tinggal di suatu daerah baru. Dalam konteks pembahasan makalah ini, kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut.

Memasuki abad ke-15, Eropa mengalami masa Renaissance, yang ditandai dengan munculnya berbagai teori dan pemikiran serta revolusi sosial. Bangsa Eropa melakukan pelayaran untuk menemukan kejayaan pada wilayah-wilayah di belahan dunia lain. Revolusi Industri pada penghujung abad ke-18 semakin mendorong kegiatan pelayaran ini. Bangsa Eropa membutuhkan lebih banyak bahan baku dan tenaga kerja untuk menunjang kegiatan perekonomian mereka, yang tersedia di Asia Tenggara.

Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang mencakup Indocina dan Semenanjung Malaya serta kepulauan di sekitarnya. Sebelum kedatangan Bangsa Eropa, Asia Tenggara telah dikenal sebagai jalur pelayaran internasional. Pelabuhan-pelabuhannya selalu ramai disinggahi para pedagang. Negara-negara berbentuk monarch (kerajaan) telah berdiri. Asia Tenggara dipengaruhi oleh kebudayaan asli, Hindu-Buddha dan Islam. Tatanan tersebut mengalami pergeseran setelah kedatangan Bangsa Eropa yang membawa serta nilai-nilai kolonial mereka.

B. Rumusan Masalah

1.Bagaimana latar belakang dan kronologi kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara?

2.Apa saja pengaruh yang dihasilkan dari penerapan kebijakan-kebijakan kolonial Eropa di Asia Tenggara?

(3)

3. Apa reaksi yang diberikan penduduk Asia Tenggara terhadap kolonialisme Bangsa Eropa?

C. Tujuan

1. Menjelaskan latar belakang dan kronologi kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara

2. Mengetahui penerapan kebijakan kolonial Eropa dan pengaruhnya di Asia Tenggara

(4)

BAB II

KEDATANGAN BANGSA EROPA DI ASIA TENGGARA

A. Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara

Jatuhnya Konstantinopel (1453) ke tangan Turki Usmani menyebabkan terputusnya jalur perdagangan di Laut Tengah antara Eropa dan Asia Barat.2 Bangsa Eropa kemudian beralih ke daerah Timur untuk mencari rempah-rempah, komoditi yang paling disukai dan dihargai mahal di Eropa.

Selain itu, sejak abad ke-15 hingga 17, Bangsa Eropa mengalami sebuah gerakan budaya yang disebut Renaissance. Kegiatan intelektual mendapatkan perhatian khusus sehingga para pemikir dan petualang bermunculan. Atas restu penguasa Spanyol, Christopher Columbus melakukan pelayaran dan sampai di Benua Amerika pada tahun 1492. Sementara itu, pada tahun 1498 Vasco de Gama berhasil menemukan jalan ke Timur melalui Tanjung Harapan.3 Kedua penjelajahan tersebut mengilhami para penguasa Eropa lainnya untuk mencari kejayaan di belahan dunia lain.

Meletusnya Revolusi Industri (1750-1850) turut mendorong terjadinya kolonialisme. Bangsa Eropa berlomba-lomba melakukan perluasan daerah-daerah sebagai tempat pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal, dan mendapatkan tenaga buruh yang murah.

Selain itu, dibukanya terusan Suez membuat jalur perdagangan Eropa bergerak sangat cepat. Terusan Suez yang dibangun atas praksara insinyur Perancis yang bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps dan diresmikan pada tahun 1869 ini menghubungkan Eropa dan Asia tanpa mengelilingi Afrika, melainkan langsung melewati Mesir dan melintasi selatan Asia. Kemudahan tersebut menjadi faktor pendukung pelayaran kapal-kapal Bangsa Eropa ke Asia Tenggara.

2 Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara, diterjemahkan oleh R.Z. Leirissa dan P. Soemitro, (Jakarta: Yayasan pustaka Obor Indonesia, cet. II, 2011), hlm. 14.

(5)

B. Kronologi Kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara 1.Indonesia

Kepercayaan yang lebih dahulu berkembang di Indonesia adalah animisme dan dinamisme dengan pemerintahan tertinggi berada di tangan ketua adat. Masuknya Hindu – Budha pada abad ke – 7 M bersamaan dengan masuknya kebudayaan India, salah satunya adalah sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Sistem kerajaan masih terus berlangsung setelah masuknya Islam pada abad ke – 13 M. Masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani, pedagang dan pelaut. Letak Indonesia yang berada di tengah-tengah lalu lintas perdagangan dunia telah memudahkan terjadinya kontak dengan kebudayaan luar.4

Gambar 1

Jalur Kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara

Kolonialisme Bangsa Eropa di Asia Tenggara bermula ketika Vasco de Gama yang sedang mencari sumber rempah baru di wilayah Timur mendengar tentang kemasyhuran Malaka. Ia kemudian mengirim utusan ke Malaka dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad Syah (1488-1528 M). Pada tahun 1511, pasukan Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque dengan kekuatan sebanyak 1200 orang dan 18 buah kapal berhasil menaklukan Malaka.

(6)

Kedatangan Spanyol di Kepulauan Maluku (1523) yang dipimpin oleh Juan Sebastian del Cano tidak diharapkan oleh Portugis. Dengan memanfaatkan dua kerajaan yang sedang berseteru, yaitu Ternate dan Tidore, Spanyol dan Portugis saling menggempur satu sama lain. Pertikaian tersebut diakhiri dengan perjanjian Saragosa. Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol pindah ke Filipina. Pada tahun 1579, Inggris di bawah pimpinan Sir Francis Drake singgah di Ternate kemudian terus ke Pulau Jawa, sebelum akhirnya berlayar meninggalkan Nusantara. Cornellis de Houtman tiba di Banten pada tahun 1596. Pada tahun 1598, para pedagang Belanda yang dipimpin Van Verre datang ke Indonesia. Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada tanggal 20 Maret 16025 untuk melanggengkan kepentingan kolonial di Indonesia sekaligus menyaingi firma dagang EIC (East Indies Company) milik Inggris.

2. Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja)

Kawasan Indocina adalah suatu kawasan yg mayoritas dihuni oleh etnis Lao (juga mendiami sebagian daratan Siam) dan Dao. Perekonomian di kawasan ini bertumpu pada sektor agraris. Wilayah ini mendapatkan pengaruh agama Buddha dari India dan Thailand.6 Selain sistem keagamaan, India juga membawa pengaruh dalam bidang sosial kemasyarakatan, hal ini terlihat dari sistem kasta dan pemerintahan yang berbentuk kerajaan.

Pierre Caunay dikenal sebagai orang pertama dari Perancis yang berhasil mencapai Hindia-Timur, tepatnya di Aceh. Perancis kemudian berlayar ke arah utara dan mendarat di Kepulauan Vietnam. Wilayah Vietnam bagian selatan (1880) dan utara (1886) yang berhasil dikuasai kemudian disatukan dengan Kamboja dan Laos. Wilayah ini disebut sebagai Indocina dengan Hanoi sebagai ibukotanya.

3. Filipina

Suku pertama yang mendiami Filipina adalah Suku Negrito, kemudian terusir oleh orang-orang Austronesia yang dikenal sebagai pemburu ulung. Mereka tumbuh menjadi kerajaan maritim sejak abad ke-10 M. Kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Filipina antara lain Kerajaan Butuan, Cebu, Tondo. Sebagian besar 5Ibid., hlm. 234.

(7)

Masyarakat Filipina melakukan perdagangan dengan berbagai negara seperti Cina, Thailand, India, Jepang, dan Indonesia.

Sebagai konsekuensi perjanjian Saragosa, Spanyol hengkang dari Maluku dan menuju ke Filipina. Orang Spanyol pertama yang menginjakkan kaki di Filipina adalah Ferdinand Magellan. Miguel Lopez de Legazpi mendirikan pemukiman dari Pulau Cebu (1565) hingga Teluk Manila di Pulau Luzon (1571).7

Pada tahun 1896 Amerika yang dipimpin oleh presiden Mc Kinely berhasil menaklukan daerah jajahan Spanyol yang berujung pada penandatanganan perjanjian damai pada tanggal 10 Desember 1899 di Paris. Pada tahun 1901 Amerika resmi mendirikan kekuasaan di Filipina dan terus berkuasa hingga tahun 1942.

4. Malaysia

Malaka sebagai cikal bakal Malaysia merupakan suatu kerajaan yg didirikan oleh Parameswara pada abad ke – 14 M dengan Islam sebagai agama resmi. Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Penduduk yang tinggal di pesisir dan pelabuhan berprofesi sebagai pedagang. Pada masa kejayaanya, Malaka berperan sebagai pusat penyebaran Islam dan mampu menangkal serangan dari Siam.

Inggris mendirikan daerah koloni di Semenajung Malaya pada tahun 1786. Sebelumnya, tanah melayu pernah dikuasai Belanda pada tahun 1641. Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824 membagi kekuasaan Inggris dan Belanda. Nusantara menjadi milik Belanda sementara daerah Melayu dikuasai oleh Inggris.

Pada tahun 1867 Inggris dipercaya untuk menengahi konflik antara Raja Melayu dan Cina. Akhirnya, Perjanjain Pangkor ditandatangani dan mengakibatkan perluasaan kekusaan Inggris ke negeri-negeri Melayum yaitu Perlak, Pahang, Selangor dan Negeri Sembilan.

(8)

5. Myanmar

Myanmar sebelum kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara adalah sebuah kerajaan dengan nama Burma. Burma mencapai puncak kejayaannya pada masa Anawratha.8 Kebanyakan masyarakat Burma adalah penganut Hindu dengan mata pencaharian sebagai petani.

Kolonialisme Bangsa Eropa di Myanmar terjadi akibat kekalahan perang Burma melawan Inggris pada 1824–1885. Myanmar dijadikan salah satu provinsi wilayah kolonial Inggris dengan Yangoon sebagai ibukotanya (1886). Memasuki abad ke-20, kesadaran nasional mulai terbentuk dengan didirikannya perkumpulan pemuda Buddhis. Pada tahun 1942 Myanmar jatuh ke tangan Jepang sebagai dampak dari Perang Pasifik.

6. Singapura

Singapura sebelum penjajahan Eropa merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya yang dikembangkan sebagai kota laut. Selanjutnya, Singapura berada dalam gengaman Kesultanan Malaka.9 Mayoritas penduduk Singapura adalah bangsa Cina yang awalnya datang untuk berdagang, sebagian dari mereka memeluk Islam karena pengaruh dari Kesultanan Malaka, sementara yang lainnya tetap mempertahankan agama Konghuchu.

Setelah kedatangan Bangsa Eropa di Asia Tenggara, Singapura menjadi wilayah yang secara sengaja dikembangkan oleh Inggris sebagai pelabuhan. EIC (East Indies Company) mendanai pembangunan tersebut. Raffles tiba di Singapura pada tanggal 29 Januari 1819. Ia menjumpai sebuah perkampungan Melayu kecil di muara Sungai Singapura yang diketuai oleh seorang Temenggung Johor. Pulau itu dikelola oleh Kesultanan Johor tetapi keadaan politiknya tidak stabil. Pewaris Sultan Johor, Tengku Abdul Rahman dikendalikan oleh Belanda dan Bugis. Pada

8 George Coedas , Asia Tenggara Masa Hindu Budha, terj. Winarsih, (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), hlm. 208.

(9)

tanggal 15 Februari 1942 Singapura jatuh ke tangan Jepang setelah Arthur Ernest Perchival menyerah terhadap Jepang.

7. Brunei Darussalam

Pada abad ke-6 M, Brunei dikenal sebagai tempat persinggahan para pelaut dari Cina, India dan Arab. Brunei yg dalam catatan Cina dikenal dengan Po – lo Po – Ling merupakan daerah taklukan Majapahit dan kemudian pada tahun 1369 memproklamirkan diri sebagai kerajaan yg merdeka.10 Brunei kemudian bergabung dengan kesultanan Johor. Mayoritas penduduk Brunei berprofesi sebagai pedagang dan tinggal di pesisir, sebagiannya lagi berprofesi sebagai petani. Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Brunei.

Penjajahan Inggris di Brunei dimulai ketika James Brooke menduduki Serawak dan menyerang Brunei pada tahun 1839 sehingga Brunei kehilangan kekuasaannya atas Serawak. Pada tanggal 19 Desember 1846, pulau Labuan dan sekitarnya diserahkan kepada James Brooke.

Brunei menyatakan berkuasa penuh atas wilayahnya dan mendirikan kerajaan berdaulat pada tahun 1959, namun urusan luar negeri tetap diserahkan kepada Inggris. Setelah menandatangani perjanjian persahabatan pada 4 Januari 1979 dengan Inggris, Brunei menyatakan kemerdekaanya pada tanggal 1 Januari 1984.

(10)

BAB III

KEBIJAKAN-KEBIJAKAN KOLONIAL EROPA DAN PENGARUHNYA DI ASIA TENGGARA

A. Bidang Politik dan Ekonomi 1. Penetapan Undang-Undang

Bangsa Eropa enggan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara. Sebaliknya, mereka berusaha mengalahkan kerajaan-kerajaan tersebut atau membuat undang-undang yang harus diikuti oleh wilayah jajahannya. Contohnya adalah serangan yang dilakukan Belanda kepada kerajaan Buleleng setelah kapalnya dirampas dalam hukum tawan karang (1844).

2. Pendirian Kongsi Dagang

Umumnya Kerajaan Eropa mengumpulkan para wirausahawan dalam sebuah kongsi dagang. Perkumpulan ini dapat berperan sebagai tangan kanan pemerintah kolonial dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi dan penyedia kas. Kongsi dagang Belanda, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) bersitegang dengan EIC (East Indies Company) milik Inggris dalam memperebutkan pengaruh di Asia Tenggara.

Dalam rangka mengukuhkan kekuasaannya di Indonesia, VOC merumuskan dan menetapkan berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:

a. Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdagangan

b. Melaksanakan politik devide et impera11dalam rangka untuk menguasai

kerajaan-kerajaan di Indonesia

c. Untuk memperkuat kedudukannya, perlu mengangkat seorang Gubernur Jenderal

(11)

d. Melaksanakan sepenuhnya Hak Oktroi12 yang diberikan pemerintah Belanda.

e. Membangun pangkalan/markas VOC yang semula di Banten dan Ambon, dipindah ke Jayakarta (Batavia)

f. Melaksanakan Hongitochten13

g. Adanya verplichte leverantie (penyerahan wajib) dan cultuurstelsel (tanam paksa)

Adapun dampak yang dihasilkan dari penerapan kebijakan-kebijakan tersebut adalah:

a. Berkurangnya Wibawa dan Pengaruh Penguasa Lokal

Pemerintah kolonial menetapkan Gubernur Jenderal sebagai pemimpin tertinggi di Hindia-Belanda sehingga para penguasa lokal menjadi bawahan dari Bangsa Eropa. Pegawai-pegawai Eropa terus ditambahkan dalam jajaran pemerintahan dan bupati digaji dengan uang. 14 Hal tersebut merupakan usaha pemerintah kolonial untuk memangkas loyalitas vertikal antara penguasa lokal dan para pegawainya. Selain itu, tubuh pemerintahan lokal semakin lemah akibat perpecahan yang ditimbulkan oleh politik devide et impera kolonial.

b. Meningkatnya Kemiskinan di Kalangan Rakyat Jajahan

Pada masa pemerintahan Van den Bosch sejak 1830, dimulai suatu periode yang disebut cultuurstelsel, pajak diharuskan dibayar dalam bentuk kerja di perkebunan sebagai pengganti pajak tanah. Rakyat mengorbankan tanah pertanian mereka dan bekerja keras untuk membayar pajak kepada pemerintah kolonial di samping memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, rakyat masih harus membagi hasil pertanian kepada mandor-mandor yang ditunjuk untuk mengawasi pekerjaan mereka.

12 Hak-hak istimewa yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada VOC, yang terdiri dari: a) monopoli perdagangan, b) mencetak dan mengedarkan uang, c) mengangkat dan memberhentikan pegawai, d) mengadakan perjanjian dengan para raja, e) memiliki tentara untuk mempertahankan diri, f) memiliki benteng, g) menyatakan perang dan damai, h) mengangkat dan memberhentikan penguasa setempat.

13 Disebut juga sebagai Pelayaran Hongi, yaitu adalah suatu bentuk pelayaran yang dilakukan oleh pemerintahan VOC Belanda yang bertujuan menjaga keberlangsungan monopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku dan sekitarnya, dengan menggunakan armada perahu kora-kora mengejar pelaku penyelundupan rempah-rempah dan menangkap kapal asing lainnya.

(12)

B. Bidang Pendidikan

1. Sistem Pendidikan Formal

Bangsa Eropa memperkenalkan sistem laporan, absensi, jadwal harian, dan pendidikan berjenjang.

2. Pengajaran Bahasa dan Pemikiran Eropa

Melalui sekolah-sekolah yang didirikan oleh Bangsa Eropa, penduduk Asia Tenggara dididik dengan pengajaran ala Eropa dan berbagai pemikirannya. Umumnya pengajaran diberikan dalam bahasa Eropa tersebut. Sebagai contoh pada sekolah yang didirikan Belanda di Indonesia menggunakan bahasa pengantar berupa Belanda serta Inggris. Sementara untuk bahasa pergaulan digunakan bahasa Melayu atau bahasa daerah masing-masing.

C. Bidang Sosial dan Budaya

1. Tersebarnya agama Kristen di Asia Tenggara

Penyebaran agama didukung oleh kolonial Eropa dengan pemberian bantuan kepada misionaris dan subsidi untuk pembangunan sekolah-sekolah misi. Salah satu negara yang mendapatkan pengaruh Kristen yang cukup kental di Asia Tenggara adalah Filipina. Katolik adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Filipina, mencapai 82,9% dari total 104,256,076 penduduk.15

2. Pembangunan Benteng dan Kota

Bangsa Eropa banyak mendirikan benteng sebagai strategi pertahanan di Asia Tenggara, salah satunya Benteng Malborough yang merupakan peninggalan EIC (East Indies Company) di Bengkulu. Bentuk penataan kota juga disesuaikan dengan kepentingan kolonialisme. Kota Malang dan Magelang dimanfaatkan oleh kolonial

15Central Intelligence Agency (US), “PHILIPPINES”, diakses dari

(13)

Belanda sebagai Garnizun16, sementara Tawangmangu dijadikan sebagai tempat peristirahatan.17

3. Stratifikasi Sosial

Bangsa Eropa mengelompokkan warga negara berdasarkan keturunan atau tempat kelahiran. Sebagai contoh di Filipina terjadi pembagian warga negara sebagai berikut: 1) Orang Spanyol yang lahir di Spanyol, 2) Orang Spanyol yang lahir di Amerika atau Filipina, dan 3) Penduduk Filipina non-Spanyol. Sebagai perbandingan, pemerintah kolonial Belanda membagi masyarakat Indonesia menjadi tiga golongan, yaitu: 1) Orang Belanda dan Eropa lainnya, 2) Orang Indo-Eropa dan Timur Asing (Cina, Arab, India), dan 3) Orang Bumiputera, yang terdiri dari pegawai pemerintahan Indonesia di bawah kolonial dan rakyat jelata. Sistem stratifikasi sosial tersebut, selain dipengaruhi oleh keturunan juga berdasarkan pembagian kerja dan kontribusi modal terhadap pemerintah kolonial.

16 ‘Garnizun’ secara harafiah berarti kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap dalam sebuah kota atau benteng. Jadi Kota Garnizun secara harafiah bisa berarti: sebuah kota dimana terdapat kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap di kota tersebut.

(14)

BAB IV

PERLAWANAN TERHADAP KOLONIAL EROPA DI ASIA TENGGARA

A. Reaksi Penguasa

Campur tangan Bangsa Eropa seringkali menjadi penyulut perpecahan dalam badan istana, sehingga kekuatan dan kewibawaan kerajaan berkurang. Tak jarang lebih dari satu pemerintahan kolonial mengusik kedaulatan sebuah kerajaan. Hal ini menyulut perlawanan dari kalangan penguasa lokal. Perlawanan ini contohnya terjadi pada saat kolonialisme Inggris di Burma.

Inggris membantu Alaungpaya untuk menyatukan Burma dengan harapan agar Burma bisa berfungsi sebagai benteng menghadapi Perancis di Indocina. Sewaktu pemerintahan Raja Thibaw (1878), terjadi persekutuan antara Birma dengan Perancis. Merasa memiliki cukup dukungan, Burma menasionalisasi firma dagang Inggris di wilayahnya, sehingga Inggris mengancam Thibaw. Setelah Thibaw menolak ultimatum Inggris, maka Inggris menyerbu Mandalay. Thibaw ditangkap dan diasingkan ke India. Maka, sejak tahun 1886 Burma menjadi wilayah jajahan Inggris.

B. Gerakan Sosial di Pedesaan

Bangsa Eropa memperkenalkan sistem mekanis yang mengatur pekerjaan setiap orang berdasarkan undang-undang tertulis. Penerapan sistem administrasi modern diikuti dengan sistem perpajakan. Dua kebijakan ini dinilai sebagai ancaman terhadap sistem tradisional yang sudah berkembang di masyarakat, sehingga menimbulkan perlawanan dari kalangan petani di pedesaan.

1. Pemberontakan Petani di Malaysia

(15)

menaklukkan perlawanan tesebut karena ketimpangan penggunaan teknologi dan senjata antara kedua belah pihak.18

2. Pemberontakan Petani di Filipina

Pemberontakan petani di Filipina berkobar pada tahun 1890-an, dipimpin oleh Guarda de Honor. Pusat pemberontakannya terletak di Barrio Cabaruan. Gerakan Guarda ini berhasil mengumpulkan pengikut ribuan jumlahnya, dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi pada petani yang banyak diperlakukan tidak adil oleh tuan tanah, yang dilindungi oleh Spanyol.

Pemberontakan petani di Filipina tersebut berakhir pada 1901 setelah pasukan Amerika Serikat melumpuhkan kekuatan mereka. Sisa-sisa pengikut Guarda yang masih sekitar 25.000 orang di Cabaruan dibubarkan oleh pemerintah kolonial Amerika Serikat, yang menggantikan kekuasaan Spanyol di Filipina pada tahun 1898.

(16)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kedatangan Bangsa Eropa dipicu oleh keadaan dunia Internasional dan dalam negeri Eropa itu sendiri. Setelah Turki Usmani menguasai perdagangan Laut Tengah, maka Bangsa Eropa harus mencari daerah lain untuk mendapatkan komoditi rempah-rempah. Pandangan mereka tertuju pada dunia Timur, termasuk Asia Tenggara. Penjelajahan Bangsa Eropa ini didasari oleh semangat Renaissance dan keinginan untuk mendapatkan kejayaan di belahan dunia lain.

Kebijakan yang diterapkan pemerintah kolonial Eropa menggeser tatanan nilai yang telah mapan di Asia Tenggara. Bangsa Eropa memperkenalkan corak pemerintahan yang berbeda bahkan cenderung mengerdilkan wibawa penguasa lokal. Melalui pendidikan dan pergaulan, bahasa dan agama yang dianut oleh Bangsa Eropa tersebar bahkan dijadikan bahasa resmi dan agama mayoritas oleh beberapa negara di Asia Tenggara. Sejumlah peninggalan fisik berupa benteng, peralatan perang, dan tata kota masih dapat disaksikan hingga sekarang.

Pada awalnya, kedatangan kedatangan Bangsa Eropa disambut baik oleh raja-raja yang berkuasa di Asia Tenggara. Mereka memandang Bangsa Eropa layaknya mitra dagang. Namun akhirnya terjadi benturan kepentingan antara Bangsa Eropa dengan penguasa-penguasa Asia Tenggara. Selain itu, muncul suara-suara yang menuntut kesejahteraan hidup dari kalangan petani pedesaan.

B. Saran-saran

1. Dalam mempelajari sejarah kolonialisme Bangsa Eropa di Asia Tenggara tidak cukup berpedoman dengan satu referensi saja. Penulis mendorong pembaca untuk mencari dan menelaah referensi lainnya agar mendapatkan wawasan yang lebih luas.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

(US), Central Intelligence Agency. PHILLIPINES. [Online] [Cited: Desember 10, 2017.] https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/rp.html.

Agusniyami. Filipina dari Masa Kerajaan sampai Masa Kolonialisme dan Kemerdekaan. [Online] [Cited: November 8, 2017.] http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/07/filipina-dari-masa-kerajaan-sampai-masa.html.

Evans, Grant. 2005. Budaya dan Masyarakat Laos. jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 2005.

Handinoto. Kebijakan Politik dan Ekonomi Pemerintah Kolonial Belanda yang Berpengaruh Pada Morfologi (Bentuk dan Struktur) Beberapa Kota di Jawa. Universitas Kristen Petra : Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan .

Hussain, Nik Haslinda Nik. Sejarah Perjuangan Tok Janggut atau Haji Mat Hassan, 1915 di Kelantan. Universiti Sains Malaysia : Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan.

Nusantara, Kerajaan. Kesultanan Brunei Darussalam. [Online] [Cited: Desember 9, 2017.] http://www.kerajaannusantara.com/id/brunei-darussalam/sejarah .

Poesponegoro, Marwati Djonoed and Notosusanto, Nugroho. 1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1984.

Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara. [trans.] R. Z. Leirissa and P. Soemitro. Cet. II. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.

Tim Penyusun. 2008.Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Gambar

Gambar 1

Referensi

Dokumen terkait

Negara-negara yang berada di wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Timor

Dari berbagai pandangan bahwa Negara dan bangsa adalah sekelompok manusia memiliki cita-cita bersama yang mengikat warga Negara menjadi satu kesatuan, memiliki sejarah hidup

Negara-negara yang berada di wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Timor

Sejarah kultural, baik dari segi agama bahasa dan budaya, minoritas muslim Muangthai yang tinggal di Thailand selatan, merupakan bagian dari bangsa Melayu, apalagi tempat

Inggris sebagai contoh, telah memberikan izin resmi kerajaan kepada pembajak kapal yang dikenal dengan nama privateer untuk membajak kapal-kapal dagang dari negara

Sedangkan lima belas website universitas yang diambil dari lima negara di Eropa yaitu; Inggris (Oxford University, Cambridge University, dan UCL), Denmark (Aalborg

Ke-dua perkembagan mutakhir hukum keluarga Islam di beberapa Negara Asia Tenggara seprti di Malaysia, Singapura, Thailandd dan Filipina dipengaruhi oleh tuntutan Umat Islam utuk

Peneliti memilih Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand sebagai subjek penelitian dengan menggunakan teknik non-probability sampling karena kelima negara tersebut