Ekonomi Dunia yang Melambat kecuali Amerika Serikat
Amerika Serikat Indikator perekonomian menunjukkan perbaikan di tengah perlambatan global; sebagian besar peserta FOMC memperkirakan peningkatan FedFunds Rate di akhir
2015 Eropa Secara fundamental perekonomian Eropa menunjukkan tanda perbaikan, namun tertekan oleh permasalahan utang Yunani Tiongkok Ekonomi mencatat pertumbuhan terendah, paket stimulus terus digulirkan Jepang Perekonomian masih menghadapi inflasi yang rendah
Perekonomian Global
Perekonomian global diproyeksikan tumbuh melambat (OECD dan Bank
Dunia
)
Komoditas
Harga komoditas masih melanjutkan penurunan
Pertumbuhan Yang Melambat Q1 4,71%, Q2 4,67%
Pertumbuhan Ekonomi Transaksi Berjalan Utang Luar Negeri
Pertumbuhan Kredit Melambat,Ancaman Besar NPL
CAR dan Rasio Modal Inti
Kredit & DPK Perbankan
Rentabilitas dan Efisiensi Perbankan
Pertumbuhan Kredit Melambat,Ancaman Besar NPL
Non-Performing Loan
Downs risk CAD meningkat seiring permintaan domestik yg lebih rendah menurunkan impor.
Risiko inflasi berpotensi meningkat terkait nilai tukar, harga minyak, dan El-Nino.
Risiko penurunan capital inflow terkait RAR negatif dan pelemahan nilai tukar
Normalisasi Fed & US Broad appreciation
Capital
Inflow
QE Eropa & Jepang Upside Risks Downside risks RAR (-)≈
Upside Risks Downside risks
Grexit
Kepemilikan NR
PDB
Upside Risks Downside risks
Downside risks PDB PDB US Ekspor Risiko Tiongkok Harga Komoditas
Kompleksitas masalah meningkat
Tanta
n
gan Pereko
n
omian Dom
e
stik
Belanja modal Target Pajak Ekspor Kredit El Nino Upside Risks TTL & LPG BBM Nilai Tukar El Nino
Pertu
m
buhan eko
n
omi ma
s
ih termo
d
erasi…
7
Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan global, pertumbuhan ekonomi domestik
pada Q2-2015 masih
melanjutkan
moderasi. Hal ini turut berdampak pada perlambatan
kredit yang disalurkan oleh sektor perbankan.
Perlambatan ekonomi global dan volume
perdagangan dunia turut berdampak
pada moderasi pertumbuhan domestik…
Kredit perbankan juga melambat, namun laju
perlambatan selama semester 1-2015 terpantau
melandai dibandingkan pada tahun 2014…
Sumber: BPS
2,70% Pertumbuhan Kredit Porsi Kredit NPL Pertanian 1,88%; 5,89% 2,06%; -1 bps Pertambangan -1,38%; 3,61% 3,82%; 44 bps Industri Pengolahan -0,03%; 18,34% 2,26%; 24 bps Konstruksi 1,44%; 4,32% 5,54%; 11 bps Perdagangan Besar -1,54%; 19,51% 3,97%; 25 bps Rumah Tangga 0,51%; 22,68% 1,83%; 8 bps
Banking Condition Indicator
Seiring penurunan kinerja keuangan perbankan, BCI turun 13 bps menjadi 0,67 dan masih bertahan di zona kuning,
Kondisi likuiditas perbankan relatif cukup terjaga, meski mengalami penurunan dengan rasio AL/NCD dan AL/DPK di atas threshold.
19 AGUSTUS – 26 AGUSTUS 2015
Perkembangan Likuiditas Perbankan Kondisi perbankan masih dalam kondisi
normal meskipun terdapat tendensi pemburukan kinerja (ROA) seiring meningkatnya risiko kredit (NPL) perbankan.
Kin
e
rja Indu
s
tri Perb
a
nkan Ju
l
i 2015
ROA 2,29% 2,27% -2 bps 2,56% NPL Gross 14 bps 5,32% NIM 5,32% - bps BOPO 81,39% 81,40% -1 bps Pertumbuhan Kredit Rp3.833T 0,15% (mtm) 4,34% (ytd) 10,04% (yoy) Rp3.828T 1,89% (mtm) 4,18% (ytd) 10,38% (yoy) Pertumbuhan DPK Rp4.328T 0,21% (mtm) 5,21% (ytd) 14,31% (yoy) Rp4.319T 2,07% (mtm) 4,99% (ytd) 12,65% (yoy) CAR 20,28% 20,78% -31 bps
No Indikator PMK Mei-15 Jun-15 Jul-15
1 Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD)78.15% 74,14% 80,94% 2 Posisi Devisa Neto (PDN) 2.26% 2,40% 2,44% 3 Capital Adequacy Ratio CAR) 20.51% 20,28% 20,78% 4 Return on Asset (ROA) 2.45% 2,29% 2,27% 5 Non-Performing Loan (NPL) Net 1.25% 1,22% 1,29% 6 Loan-to-Deposit Ratio (LDR) 88.72% 88,46% 88,03%
IMP
A
C
T
IDENTIFIKASI
“Known-Known”
“Unknown-Unknown”
“Known-Unknown”
• Normalisasi Kebijakan Fed
• Pelemahan ekonomi China
• Krisis Yunani
• Harga minyak turun dan
tetap rendah
• Harga komoditas yang turun
• Kerentanan pasar
keuangan global,
khususnya China
• Masalah Geopolitik
Tantangan Perekonomian Global :
“Permasalahan kedepan makin kompleks”
SUMATERA
JAKARTA JAWA KALIMANTAN SULAMPUA BALI NUSRA
gPDRB negatif
Perkembangan Ekonomi Daerah :
“Pertumbuhan ekonomi daerah terkendala,
terlebih pada sebagian daerah berbasis komoditas”P
PERTUMBUHAN DAERAH JUGA MELEMAH…DALAM LAMPU
KUNING
DAN
MERAH
INDIKATOR EKONOMI
1998
2008
2015
Pertumbuhan Ekonomi (yoy) -13,10% 4,12% 4,67%
Inflasi 82,40% 12,14% 7,26%
Cadangan Devisa (USD miliar) 17,40 50,2 107,6
Nilai Tukar Rupiah 16.650 12.650 14.200
Depresiasi Rupiah (posisi terendah) 19,7% 34,86% 14,5%
IHSG 256 1.111 4.237
NPL (Non-Performing Loan Gross) 30% 3,8% 2,6%
Suku Bunga Acuan BI 60% 9,50% 7,50%
Rasio Utang Pemerintah terhadap PDB 100% 27,40% 24,7%
Total Utang Luar Negeri (Pemerintah dan
Swasta,USD miliar) 150,8 155,08 304,3
Rasio Utang LN terhadap Cadangan Devisa 8,6x 3,1x 2,8x
DARI
KRISIS
KE
KRISIS
; APAKAH SUDAH
KRISIS
ATAU MENUJU
KRISIS
“Secara aktual mayoritas
pelaku usaha di Indonesia
adalah Usaha Mikro”
Data Kementerian KUKM dan BPS 2014
Usaha Mikro 98,77 % Usaha Kecil 1,13% Usaha Meneng ah 0,09% Usaha Besar 0,01%
Usaha Mikro (Asset: < Rp 50 Juta/Omset: ≤Rp. 300 Juta Per Th), Usaha Kecil (Asset: Rp 50 Juta - 1 Milyar/Omset: Rp 300 Juta - 2,5 Milyar),
Usaha Menengah (Asset: >Rp 1 Milyar - 3 Milyar/Omset: >Rp 2,5 Milyar - 50 Milyar), dan Usaha Besar (Asset: >Rp. 3 Milyar/Omset: >Rp. 50 milyar)
UU No. 20/2008 tentang UMKM
2013
KESENJ
A
NGAN KONT
R
IBUSI PEL
A
KU U
M
K DAN U
M
B
UMiK
99,9%
UMB 0,1% KESENJANGAN KONTRIBUSI PELAKU UMK & UMB94,22%
45,49%
27,52%
TENAGA KERJA PDB INVESTASI PAJAK72,48%
54,51%
5,78%
4,00%
EKSPOR95,97%
Lu
a
s Kr
e
dit UM
K
MK
Pelaku Ekonomi Indonesia
Masih kurang optimalnya penyaluran kredit UMKMK dapat dilihat dari rasio
penyaluran kredit UMKMK terhadap total kredit hanya
19,5%
. Posisi Total
Outstanding Kredit
Per Februari 2015: Rp. 3.789 T, Outstanding Kredit UMKMK : Rp. 720,8 T.
UMKMK : 58 Juta Unit
1
2
3
Kredit UMKMK
La
t
ar Bela
k
ang Per
l
unya Penja
m
inan Kre
d
it
UMKMK : Feasible but not Bankable
Akses kepada sumber
pembiayaan menjadi salah
satu penghambat
perkembangan UMKMK.
Keterbatasan Aspek Legal
Formal
Kesulitan memenuhi
Ketentuan teknis perbankan
Mensyaratkan Agunan Fisik
3
1
MEMBUTUHKAN
PENJAMINAN
KREDIT
2
4
Sumber: Jamkrindo
Badan Kredit Desa/BKD = 5,279 Bank
Bank Perkreditan Rakyat (BPR/BPRS) = BPR 1,636, BPRS 163
Koperasi (
KSP
) = 36,485LDKP (Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan) e.g.: LPD in Bali = 1,351 unit
• Organisasi Non Pemerintah (NGO) • Self Help Group
• BMT (LKM dengan prinsip islam) Pegadaian = 4,933 cabang/kantor unit Unit Mikro Bank Komersial:
BRI Unit = 5,019 / DSP = 1,316 / Mandiri = 2,463 / BTPN = 619, bank-bank umum, bumn, swasta, asing campuran
MFIs
Bank
Non Bank
Non
Formal
Formal
Lem
b
aga Keu
a
ngan Mi
k
ro di Indo
n
esia, Persa
i
ngan Ma
k
in Ket
a
t
16
B
P
R
Kinerja Keuangan, Dana Masih Tumbuh
Keterangan Jumlah BPR
Pertumhuhan aset: 17,09%
Aset naik 518
Aset turun 81
Aset naik di atas rata-rata industri 245
Keterangan Jumlah BPR
Pertumhuhan DPK: 16,77%
DPK naik 515
DPK turun 84
DPK naik di atas rata-rata industri 256
Indikator Pertumbuhan Aset BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Pertumbuhan aset dari 599 BPR
Indikator Pertumbuhan DPK BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
B
P
R
Kinerja Keuangan, Kredit Tumbuh Seimbang
Keterangan Jumlah BPR
Pertumhuhan Kredit: 16,38%
Kredit naik 504
Kredit turun 95
Kredit naik di atas rata-rata industri 241
Keterangan Jumlah BPR
Pertumhuhan Modal: 16,98%
Modal naik 517
Modal turun 82
Modal naik di atas rata-rata industri 250
Indikator Pertumbuhan Kredit BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Pertumbuhan Kredit dari 599 BPR.
Indikator Pertumbuhan Modal *) BPR Kovensional Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
*): tier I;
B
P
R
Kinerja Keuangan, Banyak yang Labanya Naik
Keterangan
Jumlah BPR
Pertumhuhan Laba Tahun Berjalan: 0,43%
Laba naik 353
Laba turun 246
Laba naik di atas rata-rata industri 348
Keterangan
Jumlah BPR
CAR Rata-rata: 28,02%
CAR Sama atau di Atas Rata-rata 122
CAR di Bawah Rata-rata 477
CAR 8% ke Atas 597
CAR di Bawah 8% 2
Indikator Pertumbuhan Laba Tahun Berjalan BPR Kovensional Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Pertumbuhan Laba Tahun Berjalan dari 599 BPR
Indikator CAR BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
B
P
R
Kinerja Keuangan, NPL Menjadi Perhatian
Keterangan Jumlah BPR NPL Rata-rata : 4,76% NPL 5% ke Atas 164 NPL di Bawah 5% 435 NPL 5% s.d. 10% 118 NPL di Atas 10% 46 Keterangan Jumlah BPR ROA Rata-rata : 2,99%ROA di Atas Rata-rata 405
ROA di Bawah Rata-rata 194
ROA 1,5% ke Atas 524
ROA di Bawah 1,5% 74
ROA Minus (-) 29
Indikator NPL BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Posisi NPL Rata-rata dari 1.643 BPR (nasional).
Indikator ROA BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
B
P
R
Kinerja Keuangan, LDR nya Mulai Mentok
Keterangan Jumlah BPR
ROE Rata-rata : 27,95%
ROE di Atas Rata-rata 347
ROE di Bawah Rata-rata 252
ROE 8,0% ke Atas 540 ROE di Bawah 8,0% 59 ROE Minus (-) 30 Keterangan Jumlah BPR LDR Rata-rata : 79,45% LDR 78% s.d. 92% 336 LDR di Bawah 78% 198 LDR >92% s.d. <100% 61 LDR 100% ke Atas 4
Indikator ROE BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Posisi ROE Rata-rata dari 1,643 BPR (nasional).
Indikator LDR BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
B
P
R
Masih Banyak yang Belum Efisien
Keterangan
Jumlah BPR
BOPO Rata-rata : 80,30% BOPO di Bawah 92% 527 BOPO >92% s.d. <100% 40 BOPO 100% ke Atas 32Keterangan
Jumlah BPR
NIM Rata-rata: 10,10%NIM di Atas Rata-rata 383
NIM di Bawah Rata-rata 216
Indikator BOPO BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
Posisi BOPO Rata-rata dari 1.643 BPR (nasional).
Indikator NIM BPR Kovensional
Beraset Rp25 Miliar ke Atas per Desember 2014-2015
10
16
230
1379
BPR DIDOMINASI BERMODAL KECIL
SUMBER: OJK DIOLAH BIRO RISET INFOBANK
Ukuran BPR yang Kecil Membuat Tidak Efisien dalam Operasional dan
Terbatasnya Ruang Gerak (Skala Ekonomi)
UM
K
M
Kembali ke Khitah
Bank dengan wilayah operasional terbatas dengan kekuatan
modal
Memfokuskan pada penyediaan jasa perbankan kepada
UMKM baik secara formal/informal dan masyarakat
setempat (community bank) – kembali ke khittah
Melakukan pendekatan personal dalam melayani kebutuhan
nasabahnya
Proses yang relatif cepat dan prosedur yang sederhana
Kelayakan usaha merupakan pertimbangan utama dalam
pemberian kredit dengan teknologi informasi yang memadai.
Tsu n ami