BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Strategi Produk
Produk adalah segala sesuatu yang yang ditawarkan kepada pasar untuk diambil alih, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan pasar (Kotler, 2012).
Konsep produk adalah gagasan bahwa konsumen menawarkan kualitas, kinerja dan fitur yang baik untuk membuat perbaikan produk yang berkesinambungan (Kotler, 2012).
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan (Kotler dan Keller, 2012).
2.1.1 Pengembangan Produk
Pengembangan produk meliputi manfaat yang akan ditawarkan kepada pelanggan. Manfaat ini disampaikan melalui karakteristik produk seperti ciri, desain dan kualitas. Keputusan ini sangat berpengaruh pada antusias konsumen kepada produk (Machfoedz, 2010, p62).
1. Ciri Produk
Suatu produk dapat ditawarkan dengan berbagai ciri atau karakteristik. Karakteristik merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk sebuah perusahaan dari produk buatan perusahaan lain yang menjadi pesaing. Menjadi
produsen pertama yang memperkenalkan karakteristik baru merupakan suatu cara yang paling efektif untuk bersaing. Beberapa perusahaan sangat inovatif dalam pengembangan ciri baru (Machfoedz, 2010).
Untuk mengembangkan ciri produk, perusahaan harus secara berkala melakukan survey konsumen yang telah menggunakan produknya dan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
1. Sejauh mana Anda menyukai produk ini?
2. Ciri khas produk yang mana yang paling anda sukai? 3. Apabila ditambahkan ciri pada produk ini, apa yang perlu
dikembangkan?
4. Berapa harga yang sesuai setelah dilakukan inovasi pada produk ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memperkaya daftar ide tentang karakteristik produk. Selanjutnya perusahaan dapat memanfaatkan setiap penilaian konsumen dan membandingkannya dengan biaya perusahaan.
2. Desain Produk
Cara lain untuk menjadikan suatu produk tampak lebih menarik dapat dilakukan melalui desain. Desain merupakan konsep yang lebih penting dari pada bentuk. Bentuk semata mengungkapkan sifat fisik produk yang dapat dilihat. Bentuk yang mengagumkan dapat menarik perhatian tetapi tidak
menjanjikan produk berfungsi lebih baik (Machfoedz, 2010). 3. Kualitas Produk
Kualitas merupakan sarana penting bagi pemasar atau perusahaan. Dalam pengembangan suatu produk, pemasar harus memilih tingkat kualitas yang akan mendukung posisi produk di pasar sasaran. Dalam hal ini, kualitas produk berarti kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsinya, yang meliputi daya tahan, kehandalan, presisi, kemudahan penggunaan dan perbaikan serta ciri-ciri lain yang menunjukan nilainya. Meskipun beberapa ciri tersebut dapat diukur secara objektif dari sudut pandang pemasaran, kualitas harus diukur menurut persyaratan persepsi konsumen (Machfoedz, 2010).
2.1.2 Klasifikasi Produk
Secara tradisional, pemasar mengklasifikasi produk berdasarkan ciri-cirinya yaitu daya tahan dan wujud dan penggunaan (baik konsumen ataupun industri) (Machfoedz.2010).
a. Daya Tahan dan Wujud
Berdasarkan daya tahan dan wujudnya, produk dapat dibedakan menjadi:
1. Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods) yaitu barang-barang yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan seperti Bir atau Sabun. Karena barang-barang itu dikonsumsi dengan
cepat dan sering dibeli konsumen maka strategi yang tepat adalah menyediakannya di berbagai lokasi dan mengenakan marjin yang kecil dan memasang iklan besar-besaran guna memancing orang mencobanya dan membangun preferensi.
2. Barang yang tahan lama (durable goods) adalah barang berwujud yang biasanya bertahan walaupun sudah digunakan berkali-kali misalnya lemari es, peralatan mesin dan pakaian. Produk tahan lama biasanya memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi, mempunyai marjin yang lebih tinggi dan memerlukan lebih banyak garansi dari penjual.
3. Jasa (services) adalah produk yang tidak berwujud, tidak terpisahkan dan mudah habis. Akibatnya, produk ini biasanya memerlukan pengendalian mutu, kredibilitas pemasok dan kemampuan penyesuaian lebih tinggi. Contohnya mencakup pemotongan rambut atau perbaikan barang.
b. Klasifikasi Barang Konsumen
Begitu banyak jenis produk yang dibeli konsumen dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaan belanja sebagai berikut :
1. Barang sehari-hari (convenience goods) adalah barang-barang yang biasanya dibeli pelanggan dengan cepat dan dengan upaya yang sangat sedikit. Contohnya
rokok, sabun dan majalah. Barang jauh lebih mudah dibagikan. Kebutuhan pokok (staples) adalah barang-barang yang dibeli.
2. konsumen secara teratur. Barang dadakan (impulse
goods) adalah barang yang dibeli tanpa ada
perencanaan atau upaya pencarian. Barang darurat (emergency goods) adalah barang yang dibeli pada suatu kebutuhan mendesak seperti payung pada musim hujan. Produsen barang darurat akan menempatkannya di berbagai gerai untuk memperoleh penjualan (Machfoedz, 2010).
3. Barang toko (shopping goods) adalah barang yang biasanya dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga dan gaya dalam proses pemilihan dan pembeliannya. Barang toko dapat dibagi lebih jauh yaitu barang toko homogen (homogenous shopping goods) yaitu barang yang memiliki kemiripan mutu tetapi berbeda dalam segi harga sehingga dapat menjadi alasan perbandingan dalam berbelanja. Sedangkan barang toko heterogen (heterogenous shopping goods) berbeda dari segi ciri-ciri produk dan layanan yang menyediakan berbagai jenis produk untuk memuaskan selera masing-masing orang dan harus memiliki wiraniaga yang terlatih dengan baik untuk memberikan informasi dan saran kepada pelanggan (Machfoedz, 2010).
4. Barang khusus (specialty goods) mempunyai ciri-ciri atau identifikasi merek yang unik dan karena itulah cukup banyak pembeli bersedia melakukan upaya pembelian yang khusus. Contohnya komponen stereo mobil dan peralatan fotografi. Barang khusus tidak membutuhkan orang melakukan perbandingan dan konsumen mengorbankan waktu hanya untuk mendatangi penyalur. Penyalur tidak membutuhkan tempat yang mudah dijangkau namun perlu memberitahukan lokasi (Machfoedz, 2010).
5. Barang yang tidak dicari (unsought goods) adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen seperti asuransi jiwa dan ensiklopedia. Barang ini memerlukan iklan dan dukungan penjualan pribadi (Machfoedz, 2010).
c. Klasifikasi Barang Industri
Barang-barang industri dapat diklasifikasikan berdasarkan bagaimana cara barang tersebut memasuki proses produksi dan kemahalan relatifnya (Machfoedz, 2010), yaitu:
1. Bahan baku dan bahan cadangan (materials dan parts) adalah barang yang masuk ke produk produsen tersebut yaitu bahan mentah serta bahan baku suku cadang yang diproduksi.
2. Bahan modal (capitals items) adalah barang-barang tahan lama yang memudahkan pengembangan atau
pengelolaan produk jadi.
3. Perlengkapan dan layanan bisnis (supplies dan
business service) adalah barang atau jasa yang berumur
pendek yang memudahkan pengembangan dan pengelolaan produk jadi. Perlengkapan dan layanan bisnis ada dua jenis yaitu pemeliharaan dan perbaikan operasional. Harga dan layanan merupakan pertimbangan penting karena perlengkapan telah distandarisasi dan preferensi merek tidak tinggi (Kotller dan Keller, 2012).
2.2 Business Model Canvas
Business Model Canvas adalah sebuah model bisnis menggambarkan
dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi menciptakan, memberikan dan menangkap nilai (Osterwalder, 2010).
Gambar 2.1 Template Business Model Canvas
Penjelasan dari Business Model Canvas adalah sebagai berikut:
1. Customer Segments
Pelanggan adalah inti dari semua model bisnis. Tanpa pelanggan, tidak ada perusahaan yang mampu bertahan dalam waktu lama. Untuk lebih memuaskan pelanggan, perusahaan dapat mengelompokan mereka dalam segmen-segmen berbeda berdasarkan kesamaan kebutuhan, perilaku atau atribut lain.
2. Value Propositions
Proposisi nilai adalah alasan yang membuat pelanggan beralih dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Proposisi nilai dapat memecahkan masalah pelanggan atau memuaskan kebutuhan pelanggan.
3. Channel
Saluran adalah titik sentuh pelanggan yang sangat berperan dalam setiap kejadian yang mereka alami.
4. Customer Relationship
Sebuah perusahaan harus menjelaskan jenis hubungan yang ingin dibangunnya bersama segmen pelanggan. Hubungan dapat bervariasi mulai dari yang bersifat pribadi sampai otomatis.
5. Revenue Stream
Arus pendapatan adalah urat nadinya perusahaan. Perusahaan harus bertanya kepada dirinya sendiri, untuk nilai apakah masing-masing segmen pelanggan benar-benar bersedia membayar? Jika pertanyaan tersebut terjawab dengan tepat, perusahaan harus dapat menciptakan satu atau lebih arus pendapatan dari masing-masing segmen pelanggan.
6. Key Resources
Setiap model bisnis dapat memerlukan sumber daya utama. Sumber daya ini memungkinkan perusahaan menciptakan dan menawarkan proposisi nilai, menjangkau pasar mempertahankan hubungan dengan segmen pelanggan dan memperoleh pendapatan.
7. Key Activities
Setiap model bisnis membutuhkan sejumlah aktivitas kunci, yaitu tindakan-tindakan terpenting yang harus diambil perusahaan agar dapat beroperasi dengan sukses.
8. Key Partnership
Perusahaan membentuk kemitraan dengan berbagai alas an dan kemitraan menjadi landasan dari berbagai model bisnis. Perusahaan menciptakan aliansi untuk mengoptimalkan model bisnis, mengurangi resiko atau memperoleh sumber daya mereka.
9. Cost Structure
Blok bangunan ini menjelaskan biaya-biaya terpenting yang muncul ketika mengoperasikan model bisnis tertentu, menciptakan dan memberikan nilai, mempertahankan hubungan pelanggan dan menghasilkan pendapatan, menyebabkan timbulnya biaya. Perhitungan biaya semacam ini relatif lebih mudah setalah sumber daya utama, aktivitas-aktivitas kunci dan kemitraan utama ditentukan.
2.3 Entrepreneurship
Beberapa pengertian entrepreneurship dari beberapa tokoh:
1. Peter Drucker, seorang pemikir manajemen Amerika Serikat, menyatakan bahwa yang dimaksud entrepreneurship adalah “Aktivitas yang konsisten dilakukan guna mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan”. 2. Peggy A. Lambing dan Charles R. Kuehl dalam bukunya
menyatakan entrepreneurship adalah tindakan kreatif yang membangun sebuah value dari suatu yang tidak ada.
Entrepreneurship merupakan proses untuk menangkap dan
mewujudkan peluang terlepas dari sumber daya yang ada, serta membutuhkan keberanian untuk mengambil resiko yang telah diperhitungkan.
3. S. Wijandi, entrepreneurship adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri.
4. Howard H. Stevenson, seorang dosen Harvard University, berkata: “Kewirausahaan adalah pendekatan pada manajemen yang kami definisikan sebagai berikut: mengejar peluang tanpa memperdulikan sumber daya yang saat ini ada dibawah kendali”.
Dapat disimpulkan bahwa makna dari entrepreneurship lebih mengarah kepada sebuah tindakan yang memiliki sifat keberanian, kreatif, inovatif, tahan dengan tantangan hidup, serta sanggup dalam menangkap dan mewujudkan sebuah peluang (Bygrave, 2011)
2.4
SWOT Strategy
Analisa SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini berdasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 2013).
Selain itu analisa SWOT ini juga diperlukan untuk pembuatan strategi yang cocok untuk pelaksanaan proses bisnis nantinya dengan kemampuan sumber daya-sumber daya yang ada yang disesuaikan
dengan faktor internal dan faktor eksternal tersebut. Analisis SWOT adalah alat yang berguna, yang dapat membantu membuat keputusan yang tepat dalam hubungannya dengan orang lain.
Gambar 2.2 Kuadran SWOT (bachaddiah.blogspot.com)
Digram analisis SWOT memiliki empat kuadran (Rangkuti, 2013), penjelasan empat kuadran tersebut ialah sebagai berikut:
Kuadran 1 : ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Karena perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif.
Kuadran 2 : meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi.
Kuadran 3 : perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi di lain pihak ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal.
Kuadran 4 : pada kuadran ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
2.5 Blue Ocean Strategy
Blue ocean strategy adalah sebuah strategi yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan untuk menciptakan demand baru yang belum diketahui atau belum tersentuh oleh pesaing bisnisnya untuk pertama kalinya.
Blue Ocean Strategy merupakan sebuah strategi untuk melepaskan
diri dari sebuah kondisi yang disebut Red Ocean Strategy (Lautan Merah), sebuah kondisi dimana terjadi persaingan yang sangat ketat untuk mendapatkan pasar yang sama dengan competitor. Hal ini menjadikan kompetisi sangat sengit karena yang terjadi pada pasar tersebut, permintaan lebih sedikit dari pada penawaran, akibatnya
persaingan dengan competitor menjadi sangat ketat dan bisa saja saling menghancurkan (Kim and mauborgne, 2013).
4 Tindakan dalam menerapkan Blue Ocean Strategy, yaitu:
1. Eliminate (Hapuskan), yaitu menghapuskan unsur-unsur yang tidak bernilai dari produk.
2. Reduce (Kurangi), yaitu mengurangi unsur-unsur yang nilainya kurang tetapi masih diperlukan.
3. Raise (Tingkatkan), yaitu meningkatkan unsur-unsur yang akan dijadikan keunggulan dari produk hingga diatas standard industry yang ada.
4. Create (Ciptakan), yaitu menciptakan hal-hal yang belum pernah ada di industri tersebut.
Table 2.1 Red Ocean vs Blue Ocean
Gambar 2.3 six principal of blue ocean strategy
(Kim. W. Chan & Mauborgne)
2.6 Business Plan
Business plan adalah pernyataan resmi dari serangkaian tujuan
bisnis. Mereka meyakini sebuah rencana yang telah dibuat mencapai tujuan. Perencanaan ini berisikan informasi tentang latar belakang organisasi atau tim untuk mencapai tujuan tersebut.
Pada business plan terdapat visi dan misi sebuah perusahaan. Visi adalah sebuah ekspresi mimpi tentang pasar atau konsumen yang menjadi target perusahaan. Visi ini memberikan sebuah alasan dibalik apa yang anda lakukan dan memperoleh argument logis atas apa yang hendak dilakukan oleh perusahaan. Sedangkan misi merupakan mendeskripsikan “apa” bisnis anda, apa yang dilakukan oleh bisnis anda dan apa yang coba untuk diraih (Miller, 2008).
Business plan memiliki sebuah tujuan memanfaatkan peluang yang
ada pada industri. Peluang adalah bagian subtansial pertama yang harus disiapkan dan mendeskripsikan peluang pasar untuk meyakinkan para
investor dan kreditor potensial bahwa terdapat peluang yang cukup
Terdapat dua strategi dalam business plan, strategi pasar dan strategi bisnis. Strategi pasar adalah sebuah strategi perusahaan anda untuk mengetahui produk yang akan memasukkan produk dan jasa ke pasar dan mendiskusikan persaingan yang akan dihadapi untuk mendapatkan peluang, sedangkan strategi bisnis adalah mengimplementasikan sterategi pasar dan mendapatkan profit (Miller, 2008).
Sebuah rencana usaha (action plan) akan membantu untuk memilah-milah proses dimaksud menjadi bagian-bagian kecil yang lebih jelas. Dengan demikian sebuah masalah bisnis yang besar dapat dilihat sebagai sebuah urutan masalah-masalah kecil (Andi, 2013).
Faktor manusia dalam suatu bisnis amat menentukan dalam tercapainya kesuksesan. Segala aspek hukum, organisasi, serta alur
human resource akan direncanakan secara matang sehingga suatu bisnis
bisa berjalan dengan baik (Miller, 2008).
Proses dalam business plan ialah proses manajemen yang ditujukan pada tempat anda untuk menunjukkan talenta manajemen perusahaan anda (Miller, 2008). Terdapat 4 proses dalam proses manajemen yaitu:
1. Menyajikan paduan yang kuat adalah bagian manajemen pada rencana bisnis untuk menyajikan satu atau dua kalimat pendahuluan untuk menuliskan biodata tiap anggota tim manajemen inti dalam satu paragraph (Miller, 2008).
2. Menulis biodata yang menarik adalah menuliskan biodata setiap individu kunci dalam tim manajemen dan harus mencakup informasi kunci yang berguna (Miller, 2008).
3. Membuat daftar adalah menyusun manajemen kunci, dewan direktur, investor strategis dan besar, dan menyusun penasihat inti untuk dilaporkan sebagai pertanggung jawaban kepada perusahaan (Miller, 2008).
4. Menyusun data adalah mengumpulkan semua biodata yang ada, dan memulai dari pemilik/president/CEO serta orang yang sangat menarik kreditor dan investor yang potensial (Miller, 2008).
2.7 Service Level Agreement (SLA)
Service Level Agreement adalah suatu kontrak tertulis yang resmi
untuk dikembangkan bersama oleh penyedia layanan dan pelanggan yang jelas mendefinisikan hubungan, tanggung jawab dan kinerja yang diharapkan dari system dan layanan informasi organisasi bagi penggunanya.
Service Level Agreement didefinisikan ukuran kinerja minimum atau
maksimum layanan yang disampaikan dapat diterima. Tujuan dari
Service Level Agreement secara eksternal adalah untuk mengontrol
kegiatan alih daya. Meskipun kegiatan alih daya tidak dilakukan di perusahaan, manajemen perusahaan bertanggung jawab atas kualitas layanannya (Zabkar, 2010).
2.8 Key Performance Indicator (KPI)
KPI merupakan indikator yang memberikan informasi sejauh mana seseorang telah berhasil mewujudkan target kerja yang telah ditetapkan.
Pengelolaan kinerja SDM secara efektif merupakan salah satu faktor terpenting dalam kemajuan bisnis perusahaan. Pengelolaan kinerja yang efektif mencakup proses pengukuran hasil kerja pegawai secara obyektif yang dilakukan melalui serangkaian indikator kinerja yang tepat.
Key Performance Indicators (KPI), sebagai salah satu indikator yang digunakan untuk penilaian kinerja SDM, diharapkan dapat digunakan sebagai proses pembinaan kinerja pegawai secara optimal, obyektif dan mampu mendorong kinerja pegawai secara berkesinambungan (prasetijo, 2013).
Menurut Antariksa (2011) pengelolaan kinerja pegawai melalui sistem KPI memberikan sejumlah manfaat positif bagi perusahaan, diantaranya adalah:
1. Melalui metode KPI maka kinerja setiap pegawai dapat dievaluasi secara lebih obyektif dan terukur, sehingga dapat mengurangi unsur subyektivitas yang sering terjadi dalam proses penilaian kinerja pegawai.
2. Melalui penentuan KPI secara tepat, setiap pegawai juga menjadi lebih paham mengenai hasil kerja yang diharapkan darinya. Hal ini akan mendorong pegawai bekerja lebih optimal untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan.
3. Melalui penetapan KPI yang obyektif dan terukur, maka proses pembinaan kinerja pegawai dapat dilakukan secara lebih transparan dan sistematis.
4. Hasil skor KPI yang obyektif dan terukur juga dapat dijadikan dasar untuk pemberian reward dan punishment pegawai. Dengan demikian, pegawai yang kinerjanya lebih bagus akan mendapat
reward, sebaliknya yang kerjanya kurang baik akan mendapat punishment.
2.9
PESTEL (Political, Economical, Social, Technological,Environmental and Legal)
The PESTEL Kerangka adalah Memonic digunakan dalam pengelolaan strategis untuk kelompok faktor lingkungan makro untuk membantu strategi mencari sumber peluang dan risiko umum. (Witcher & Chau 2010, p.91).
1. Political
Faktor politik yang berkaitan dengan peraturan pemerintah dan
masalah hukum bahwa organisasi harus mematuhi. Dari perspektif politik, organisasi harus mempertimbangkan hukum dan peraturan untuk negara mereka sendiri.
2. Economic
Faktor ekonomi berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan biaya bagi organisasi (Witcher & Chau, 2010).
3. Social
Aspek sosial meliputi kesadaran konsumen, sikap warga dan
praktik individu. Dan adalah penting bahwa eksekutif mempertimbangkan aspek ini sebagai bagian dari rencana pembangunan berkelanjutan bisnis.
4. Technological
Teknologi ini memberikan performa yang luar biasa dengan biaya maksimum dan perusahaan selalu dapat mengalihkan usahanya ke perusahaan lain yang menawarkan layanan yang lebih baik atau harga yang lebih rendah (Smith 2009, p.67).
5. Environmental
Telah mengusulkan kerangka kerja yang mungkin membantu manajer dalam membuat kasus bisnis 'bagi inisiatif keberlanjutan’. Dalam konteks kerangka itu, mereka meneliti sampel laporan keberlanjutan perusahaan untuk:
(1) Menentukan apakah perusahaan telah mengukur dampak keuangan dari inisiatif lingkungan dan sosial.
(2) Mengidentifikasi bidang-bidang tertentu yang menjadi perhatian dan hambatan untuk integrasi keberlanjutan dalam kinerja perusahaan.
(3) Memberikan bimbingan khusus mengenai bagaimana perusahaan dapat bergerak ke arah integrasi yang lebih baik dari inisiatif lingkungan dan sosial dalam proses pengambilan keputusan mereka dan operasi.
6. Legal
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah penyimpanan data sensitif pada awan yang menjamin pertimbangan etis dan privasi. Pengguna khawatir jika data sensitif yang jatuh ke tangan yang salah
2.10 Porter Five Force Analysis
Strategi adalah arah dan cakupan organisasi dalam jangka panjang, yang mencapai keunggulan dalam lingkungan yang berubah melalui konfigurasi sumber daya dan kompetensi (Team FME, 2013).
Model Porter menganggap lima kekuatan yang menentukan daya tarik pasar Anda dengan menganalisis intensitas kompetitif. Apa yang dimaksud dengan pasar tertentu yang menarik adalah profitabilitas industri keseluruhan, yang dinilai dengan melihat peluang dan risiko. Model ini dirancang untuk penggunaan di garis tingkat bisnis, sering
digunakan pada awal proses pembangunan atau ulasan (Team FME,2013).
Gambar 2.4 Five forces Analysis
(https://www.linkedin.com/today/post/article/20140704024030-7011240-five-forces-model-for-industry-analysis)
Menurut lima faktor kunci model digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi peluang potensial dan risiko adalah:
- Persaingan kompetitif : Kemampuan untuk memahami strategi dan pemasaran pesaing mereka. Sejauh mana persaingan yang ada di antara pesaing yang bervariasi antara sektor industri dan sektor pasar yang ada didalamnya. (Team FME, 2013).
- Ancaman pendatang baru : Jumlah potensi pendatang baru ke pasar sangat bervariasi dan merupakan faktor kunci yang anda butuhkan untuk mengukur. Sektor yang membutuhkan tingkat tinggi investasi dan keahlian yang jauh lebih sulit untuk organisasi baru untuk masuk ke dan menantang penyedia yang ada, yang melindungi tingkat keuntungan dari pemain yang ada (Team FME, 2013).
- Ancaman pengganti : Pengganti dapat didefinisikan sebagai produk-produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan konsumen tertentu tetapi yang tersedia di pasar lain. Produk pengganti adalah produk dari industri lain yang menawarkan manfaat bagi konsumen yang sama dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan dalam industri (Team FME, 2013).
- Daya tawar pemasok : Setiap organisasi membutuhkan bahan baku dan hal ini menciptakan hubungan pembeli-penjual antara pasar dan pemasok. Distribusi kekuasaan dalam
hubungan tersebut bervariasi, tetapi jika terletak dengan pemasok maka mereka dapat menggunakan pengaruhnya ini untuk mendikte harga dan ketersediaan. Anda perlu menilai keseimbangan kekuasaan dalam pasar Anda sendiri sebagai bagian dari dengan menggunakan model porter (Team FME, 2013).
- Daya tawar pelanggan : Organisasi Anda juga harus menilai sejauh mana pelanggan atau pembeli memiliki daya tawar. Dalam situasi di mana pelanggan memiliki posisi yang kuat mereka dapat membawa tekanan yang cukup ke pasar dan permintaan peningkatan kualitas dan/atau harga yang lebih rendah (Team FME, 2013).