Spirit Publik Volume 4, Nomor 2 Halaman: 153 - 168 ISSN. 1907 - 0489 Oktober 2008 153
PENDEKATAN PEMERINTAH KOTA DALAM MENGATASI ANAK
JALANAN DI KOTA SAMARINDA
(Implementasi Perda Kota Samarinda Nomor 16 Tahun 2002)
Local Government Approaches to Solve Beggar in Samarinda(No. 16 year 2002 Samarinda City Rules Implementations) Jauchar B.
Program Studi Ilmu Pemerintahan
FISIPOL Universitas Mulawarman Samarinda [email protected]
(ph: (0541)748662, mobile: 081347777718)
(Diterima tanggal 3 Juni 2008, disetujui tanggal 18 Juli 2008) Abstract
Beggar was an urban problems that needs serious threath from all over community. Many threatening and interference occur as an impact from the them. It makes government takes comprehensif approaches to solve this problems. The types of the approach were done by two aspects: 1) Legal system, by urban arrangement, that regulate the mechanism to contending the beggar, and 2) Developmental approach that covering from identifying by beggar endeavorment. In this process the government facing many challenges; social background, the community culture that always gives the beggar money in the public area, and the civilian migration with minimize quality and capability comes into Samarinda and then They were surrender to the condition that compelled them to the street in order to solve their family needs.
Keywords: Local Rules, Comprehensif Approaches, Beggar PENDAHULUAN
Pemerataan pembangunan yang selama ini menjadi salah satu kata kunci di semua lini pemerintahan ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Munculnya kesenjangan sosial dalam masyarakat merupakan suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri sebagai hasil dari pembangunan tersebut. Kondisi ini jelas terlihat dari ketimpangan pembangunan wilayah khususnya daerah perkotaan dan pedesaan. Munculnya pusat-pusat pemerintahan dan perekonomian di daerah perkotaan membawa pengaruh pada semakin tingginya tingkat mobilitas dan kompetisi masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan ekonominya. Tingginya tingkat kompetisi masyarakat membawa pengaruh pada beragamnya pola penghidupan masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari tingkat
status sosial dan strata ekonomi masyarakat itu sendiri.
Perkembangan perkotaan yang begitu pesat ternyata tidak hanya dirasakan oleh para orang dewasa yang harus kerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya, kondisi serupa juga harus dirasakan oleh anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu/ miskin yang terpaksa harus bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Salah satu cara yang dihadapi oleh anak dalam membantu ekonomi keluarga adalah ketika mereka terpaksa atau dipaksa oleh keluarga ataupun keadaan untuk kejalanan guna mendapatkan kebutuhan ekonomi tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena anak jalanan khususnya di daerah perkotaan merupakan suatu masalah klasik yang harus dihadapi oleh pemerintah kota dalam menata jalannya roda pemerintahan. Kondisi tersebut menjadi
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
154
masalah klasik yang harus dihadapi oleh pemerintah Kota Samarinda dalam melaksanakan pembangunan diwilayahnya.
Anak jalanan sebagai suatu permasalahan sosial kemasyarakatan khususnya masyarakat perkotaan, dalam pandangan para pakar maupun organisasi dan departemen terkait belum memiliki suatu kesamaan pendapat maupun definisi yang seragam bagi hal tersebut. Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Perda Kota Samarinda Nomor 16 Tahun 2002, Anak jalanan didefinisikan sebagai orang-orang atau anak manusia dengan batasan umur 19 tahun kebawah yang melakukan aktifitasnya di samping-samping jalan dan atau di jalan-jalan umum dalam wilayah Kota Samarinda dengan tujuan untuk meminta-minta uang baik atas kehendaknya sendiri, kelompok dan atau disuruh orang lain kepada setiap orang lain atau setiap pengemudi (sopir) atau penumpang kendaraan bermotor, yang dapat mengganggu ketentraman dan ketertiban umum. Dalam konteks ini anak jalanan jelas dipandang sebagai suatu permasalahan sosial kemasyarakatan yang memerlukan suatu metode penyelesaian yang tepat sesuai dengan harapan semua stakeholders.
Konsep anak jalanan sebagaimana dimuat dalam perda tersebut juga dapat kita identifikasi berdasarkan ciri dari anak jalanan itu. Mulandar (1996: 112) memberikan empat ciri yang melekat ketika seorang anak digolongkan sebagai anak jalanan :
1. Berada ditempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan) selama 3-24 jam sehari.
2. Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, sedikit sekali yang tamat SD).
3. Berasal dari keluarga-keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban, beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya). 4. Melakukan aktivitas ekonomi (melakukan
pekerjaan pada sektor informal).
Selain ciri khas yang melekat akan keberadaanya, anak jalanan juga dapat dibedakan dalam tiga kelompok. Surbakti dalam Suyanto (2002: 41) membagi pengelompokan anak jalanan tersebut sebagai berikut : Pertama, Children On The Street; yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalanan, namun mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka. Fungsi anak jalanan dalam kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung dan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh orang tuanya. Kedua, Children Of The Street; yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial dan ekonomi, beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tua mereka tetapi frekuensinya tidak menentu. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, lari, atau pergi dari rumah. Ketiga, Children From Families Of The Street ; yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup dijalanan, walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang-ambing dari suatu tempat ketempat yang lain dengan segala resikonya.
Keberadaan anak jalanan diperkotaan pada akhirnya akan problem pemerintah kota ketika hal tersebut dihadapkan pada penghapusan pekerja anak dan segala aktivitas yang dapat mengganggu pertumbuhan anak
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
155 sebagai konsekuensi dari ratifikasi konvensi
ILO No. 138 dengan UU. No 20/1999 tentang batas usia minimum anak diperbolehkan kerja, serta konvensi ILO 182 dengan UU.No. 1/2000 tentang penghapusan pekerjaan terburuk untuk anak. Motif ekonomi yang menjadi salah satu alasan mengapa anak harus kejalanan jelas merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pekerja anak itu sendiri. Kebijakan pemerintah kota dalam menangani keberadaan anak jalanan akan menjadi kunci dalam upaya membatasi atau bahkan menghapuskan anak jalanan itu sendiri demi masa depan bangsa.
Terdapat berbagai tipe model kebijakan yang biasa digunakan pengambil kebijakan dalam mengatasi suatu perma-salahan publik. Dunn (2000: 231-241) melihat bahwa model kebijakan (Policy models) merupakan representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu. Model kebijakan merupakan penyederhanaan sistem masalah (masses) dengan membantu mengurangi kompleksitas dan menjadikannya dapat dikelola oleh para analis kebijakan. Beberapa model kebijakan yang biasa digunakan ; model deskriptif, model normatif, model verbal, model simbolis, model prosedural dan model sebagai pengganti dan perspektif.
Berbagai upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah kota dalam usaha mengatasi anak jalanan diperkotaan dilaksanakan dengan melibatkan semua unsur yang terkait baik instansi pemerintah, International Labour Organization (ILO) maupun organisasi kemasyarakatan non pemerintah (NGO) yang fokus dalam upaya pendampingan dan perlindungan pekerja anak. Sementara itu
Twikromo (1999: 247) melihat bahwa setidaknya ada dua pendekatan yang lazim digunakan dalam menanggulangi masalah anak jalanan yaitu: Pertama, Penanggulangan preventif. Biasanya dibawa kesituasi formal, cara semacam ini cenderung dilaksanakan di dalam kelas dengan jumlah peserta yang cukup besar, seperti situasi formal yang mana bimbingan, latihan dan pendekatan bisa diselenggarakan secara individual di jalan-jalan, dan Kedua, Penanggulangan represif. Dilakukan secara terorganisir dan instansi pemerintah untuk mengurangi atau mencegah meluasnya pengaruh masalah anak jalanan seperti razia. Upaya penanggulangan secara respresif biasanya dilaksanakan oleh pemerintah kota ketika melihat aktifitas anak jalanan telah mengganggu ketertiban umum/ perkotaan.
Pendekatan yang dilaksanakan sebagai upaya mengurai persoalan anak jalanan diperkotaan tentunya memerlukan perhatian pemerintah kota dalam bentuk kebijaksanaan pemerintahan yang sejalan dengan tujuan pembangunan perkotaan itu sendiri tanpa harus mengorbankan aspek pembangunan lainnya. Carl J. Friedrich dalam Soenarko (2005: 42) melihat bahwa kebijaksanaan pemerintah adalah suatu arah tindakan yang diusulkan pada seseorang, golongan, atau pemerintah dalam suatu lingkungan dengan halangan-halangan dan kesempatan-kesempatannya, yang diharapkan dapat memenuhi dan mengatasi halangan tersebut dalam rangka mencapai suatu cita-cita atau mewujudkan suatu kehendak serta suatu tujuan.
Kebijakan pemerintah kota dalam menangani anak jalanan selaras dengan amanat Pasal 55 UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang meliputi: (1)
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
156
Pemerintah wajib menyelenggarakan peme-liharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga. (2) Penyelenggaraan pemeliharaan sebagaimana dimaksud diatas dapat dilakukan oleh lembaga masyarakat. (3) Untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat, sebagaimana dimaksud ayat (2), dapat mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak terkait. Dan (4) Dalam hal penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pengawasannya dilakukan oleh menteri sosial.
Upaya untuk mengurangi atau bahkan menghapuskan anak jalanan di Kota Samarinda sebagaimana amanat Perda No 16 Tahun 2002 dan memberikan perlindungan secara maksimal kepada anak bukan lagi menjadi tanggung jawab dari pemerintah kota semata, akan tetapi akan melibatkan semua stakeholders yang ada. Kondisi jelas menjadi penting karena pertumbuhan pembentukan anak jalanan tidak hanya didominasi oleh suatu faktor saja, akan tetapi terdapat tiga aspek yang berperan dalam pembentukan anak jalanan : Pertama, lingkungan sosial yang meliputi ; lingkungan keluarga (orang tua, saudara kandung), teman sekerja, lingkungan sekolah, dan hubungan dengan masyarakat. Kedua, lingkungan budaya ; kebanyakan keluarga anak jalanan adalah keluarga lapisan bawah yang tinggalnya di daerah kumuh, bagi mereka yang masih tinggal dengan orang tua mendapatkan dorongan untuk berjualan sehingga mereka dapat membantu keadaan ekonomi sehari-hari. Ketiga, aspek pribadi meliputi ; motivasi mereka menjadi anak jalanan, bentuk kehidupan yang mereka jalani,
harapan dan kekecewaan, aspirasi dan masalah-masalah yang dihadapi.
Keberadaan Peraturan Daerah sebagai dasar penanganan anak jalanan di Kota Samarinda perlu untuk diimplementasikan oleh semua stakeholders. Implementasi kebijakan dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi setelah suatu program dirumuskan, serta apa dampak yang timbul dari program kebijakan itu. Disamping itu, implementasi kebijakan tidak hanya terkait dengan persoalan administratif, melainkan juga mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap proses implementasi kebijakan tersebut.(Putra, 2003: 84)
Persoalan anak jalanan sebagai suatu masalah perkotaan yang muncul dalam berbagai dimensi kehidupan kemasyarakatan jelas tidak dapat diabaikan begitu saja. Hal ini terkait dengan posisi anak jalanan yang seyogyanya mendapatkan perlindungan secara penuh dari keluarga dan pemerintah justru menjadi suatu permasalahan klasik yang harus dihadapi pemerintah Kota Samarinda. Arah kebijakan maupun pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah kota dalam menangani anak jalanan di kota ini menjadi suatu yang menarik untuk diangkat dalam topik penelitian ilmiah. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa Kota Samarinda sebagai Ibukota Kalimantan Timur merupakan daerah dengan income perkapita yang relatif cukup tinggi.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang tentang anak jalanan dan berbagai pendekatan yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
157 membatasi atau bahkan menghapuskan anak
jalanan diperkotaan khususnya di Kota Samarinda, maka dalam penelitian ini dirumuskan rumusan masalah penelitian: Bagaimana pola pendekatan pemerintah kota dalam mengatasi anak jalanan di Kota Samarinda ?
Sementara itu tujuan penelitian yang akan dicapai adalah: untuk mengetahui berbagai upaya dan pola pendekatan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Samarinda dalam mengatasi permasalahan anak jalanan sebagai imbas permbangunan perkotaan di Samarinda dan memberikan uraian tentang pencapaian dari hasil kebijakan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah kota terhadap anak jalanan.
METODOLOGI PENELITIAN
Guna menjawab rumusan masalah penelitian dan mencapai tujuan penelitian untuk memberikan suatu gambaran menyeluruh tentang pola pendekatan pemerintah kota dalam mengatasi anak jalanan, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Dengan pendekatan penelitian ini penulis akan memberikan uraian dan gambaran tentang fakta-fakta dan realitas yang ada dilapangan sehingga akan memberikan gambaran tentang fenomena penelitian yang dihadapi.
Adapun lokasi penelitian adalah pada kantor instansi/ dinas yang terkait secara langsung dengan penanganan anak jalanan di Kota Samarinda yang meliputi; Kantor Kesejahteraan Sosial (Kesos) dan Pemakaman, serta Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yakni dua lembaga yang secara langsung berkaitan dengan upaya
penang-gulangan dan penertiban anak jalanan di Kota Samarinda.
Sumber data penelitian di kategorikan dalam dua sumber yaitu: Pertama, Data Sekunder yang merupakan hasil dari penelusuran kepustakaan dan kajian-kajian terhadap hasil-hasil penelitian dan dokumen-dokumen terkait. Kedua, Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber penelitian. Adapun Teknik Pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi, pengamatan, studi kepustakaan, dan wawancara oleh penulis dengan key informan maupun informan penelitian yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Adapun key informan dalam penelitian ini ditentukan sebanyak 2 orang yaitu Kepala Kantor Kesos dan Pemakaman, dan Kepala Bagian Tata Usaha Satpol PP Kota Samarinda. Selanjutnya berdasarkan informasi dari key informan tersebut ditarik informan penelitian sebanyak 6 Orang dengan total sebanyak 8 orang.
Data-data dan temuan penelitian selanjutnya akan dirumuskan menjadi suatu laporan hasil penelitian dengan menggunakan analisis kualitatif dimana data-data yang diperoleh selanjutnya akan diinterpretasikan atau ditafsirkan secara logis dan komprehensif sehingga akan memberikan suatu gambaran yang menyeluruh tentang pendekatan pemerintah kota dalam mengatasi anak jalanan di Samarinda khususnya pada implementasi dari Perda No 16 Tahun 2002 Tentang Penertiban dan Penanggulangan Pengemis, Anak Jalanan dan Gelandangan Dalam Wilayah Kota Samarinda.
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
158
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Anak Jalanan Di Kota Samarinda Kehidupan anak jalanan dengan berbagai karakteristiknya menjadi ciri khas yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lain. Image negatif yang selama ini melekat pada anak jalanan menjadi fokus perhatian dari semua pihak yang konsen terhadap upaya pengembangan dan pembinaan anak jalanan tersebut. Lingkungan kerja / pergaulan anak jalanan yang jauh dari keluarga dan senantiasa berhadapan dengan kerasnya hidup membuat mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan lingkungannya. Kondisi tersebut juga menjadi suatu pemandangan sehari-hari tentang anak jalanan di Kota Samarinda. Sebaran anak jalanan yang ada di Kota Samarinda (tepian) tersentralisasi di pusat-pusat perkotaan seperti: Perempatan lampu merah di jantung kota (Perempatan Jenderal Ahmad Yani-Merak-Cenderawasih, Perem-patan Mall Lembuswana, Pertigaan Kusuma bangsa, Perempatan Juanda dan Perempatan Agus Salim), pusat-pusat perbelanjaan tradisional (pasar pagi, pasar segiri, pasar merdeka, pasar kedondong), tempat-tempat ibadah (depan mesjid raya, islamic center).
Rutinitas anak jalanan ditempat-tempat umum tersebut bermotif ekonomi. Mereka turun kejalanan demi mendapatkan penghasilan ekonomi atau bahkan sekedar belas kasihan dari pengguna tempat-tempat umum tersebut dengan sumbangan ala kadarnya. Berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian dari para pengguna
fasilitas umum tersebut seperti; penjual koran, pedagang asongan, tukang semir sepatu, pengamen, guide pengemis tua, dan bahkan mengemis yang dilakukan secara langsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kasi Pelayanan dan Bantuan Sosial diperoleh bahwa: Karakteristik anak jalanan di Samarinda pada dasarnya menunjukkan ciri tersendiri. Hal ini dimaksudkan bahwa dari cara bekerja dijalanan dapat diidentifikasikan berda-sarkan asal mereka yakni: yang berasal dari Madura, Jawa, Buton dan Sulawesi (suku pendatang) pada umumnya bekerja dijalanan sebagai pengemis, guide pengemis tua dan pengamen , sementara untuk mereka yang penduduk lahir dan berdomisili di Samarinda dengan keluar-ganya (Banjar) biasanya bekerja sebagai penjual koran, pedagang asongan dan tukang semir sepatu.(Hasil wawancara, September 2008)
Data mengenai jumlah anak jalanan di Kota Samarinda masih belum seragam. Hal ini disebabkan karena anak jalanan sebagai suatu permasalahan perkotaan kedatangannya sangat sulit untuk diprediksi melalui suatu angka mutlak. Persoalan pendataan jumlah anak jalanan disebabkan oleh latar belakang dan proses munculnya anak jalanan tersebut. Dengan pertimbangan tersebut maka acuan yang digunakan oleh penulis setelah berkoordinasi dengan Kantor Kesos dan Pemakaman Kota Samarinda adalah dengan menggabungkan jumlah anak jalanan yang dibina oleh dua Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada pembinaan anak jalanan yakni: LSM/ Yayasan Citra Bangsa dan Yayasan Sosial Anak Jalanan
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
159 Lentera Mahakam Samarinda
(YASSALAM) data dari kedua lembaga
tersebut adalah :
Tabel 1. Anak Jalanan Di Kota Samarinda Dalam Binaan Lembaga Swadaya Masyarakat No Jenis Kelamin Yayasan Citra Bangsa Yassalam Total
1 Laki-Laki 103 132 235
2 Perempuan 47 10 57
Total 150 142 292
Sumber Data : Yayasan Citra Bangsa dan Yassalam, September 2008 Jumlah anak jalanan yang menjadi
binaan dari lembaga swadaya masyarakat merupakan fakta nyata yang harus diterima oleh pemerintah Kota Samarinda ditengah upaya pemerintah mengurangi / membatasi dan bahkan menghapuskan anak jalanan di Kota Samarinda sebagaimana diamanatkan undang-undang perlindungan anak. Anak jalanan yang dibina oleh lembaga Kantor Kesos dan Pemakaman yang bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat bertempat tinggal merata di hampir seluruh kecamatan yang ada di Kota Samarinda. Sementara itu tingkat pendidikan anak jalanan yang ada di Kota Samarinda rata-rata berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dan bahkan terdapat beberapa diantara mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal karena keuangan keluarga.
Profesi sebagai anak jalanan yang disandang oleh anak-anak ini menjadi suatu beban psikologis yang harus dihadapi, apalagi dalam posisi mereka yang masih dalam masa pertumbuhan. Berbagai kemungkinan untuk mendapatkan perlakuan kasar, penyiksaan atau pelecehan seksual menjadi suatu masalah klasik yang sewaktu-waktu dapat menimpa anak jalanan ini. Untuk Kota Samarinda pemunculan anak jalanan diluar alasan ekonomi keluarga ternyata juga ditemukan beberapa fakta menarik dimana anak jalanan yang ada ternyata memiliki suatu
organisasi yang dikoordinir oleh seorang kordinator. Hasil wawancara dengan anggota Satpol PP diperoleh bahwa: Terdapat beberapa kasus yang ditemui ketika hasil razia menemukan/ menangkap anak jalanan yang sering ternyata mereka tidak berjalan sendiri-sendiri atau dengan alasan ekonomi keluarga belaka (kemiskinan). Akan tetapi terdapat bebe-rapa anak jalanan yang akan diuruskan/ ditanggung oleh koordinator mereka ketika harus berurusan dengan pihak berwajib dan pada kesempatan lain terdapat indikasi bahwa terdapat anak jalanan yang merupakan korban penjualan manusia yang dipekerjakan di jalanan.(Hasil wawancara, September 2008)
Kondisi ekonomi keluarga (kemis-kinan) yang menjadi alasan bagi anak jalanan di Kota Samarinda untuk turun kelapangan dapat dikatakan cukup beralasan. Berdasarkan pemantauan yang dilaksanakan oleh penulis di lingkungan anak jalanan terlihat bahwa pada umumnya lingkungan keluarga anak jalanan yang ada di Kota Samarinda berada di pinggiran-pinggiran kota dengan jumlah saudara rata-rata antara 5-6 orang atau bahkan lebih. Hal ini diperparah dengan latar belakang sosial ekonomi kedua orang tua mereka yang karena pendatang masih sangat sulit untuk dapat beradaptasi dengan kehidupan Kota Samarinda. Sementara bagi penduduk
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
160
Samarinda kondisi orang tua yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau hanya pekerja musiman merupakan alasan utama mengapa mereka harus turun ke jalanan demi membantu ekonomi keluarga.
2. Arah Kebijakan Pemerintah Kota Dalam Menangani Anak Jalanan
Munculnya anak jalanan erat kaitannya dengan latar belakang ekonomi dan sosial keluarga mereka. Kemiskinan struktural yang dialami oleh keluarga anak jalanan dianggap sebagai pemicu utama munculnya anak jalanan. Sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh kepala keluarga (baik ayah maupun ibu) berimbas pada upaya pemberdayaan seluruh anggota keluarga untuk berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini tidak saja pada sekedar pemenuhan kebutuhan sandang pangan, akan tetapi jauh lebih dari itu yang terkait dengan kebutuhan untuk bisa eksis dalam kerasnya roda kehidupan perkotaan. Semua anggota keluarga mempunyai tanggung jawab yang sama untuk secara bersama-sama meningkatkan status ekonomi keluarga dengan kegiatan produktif guna menghasilkan tambahan demi ekonomi keluarga.
Faktor kemiskinan sebagaimana diuraikan penyebabnya lebih kepada faktor kemiskinan struktural. Kondisi ini bisa saja dialami oleh semua warga masyarakat yang tidak mampu mengikuti arah dan kompetisi perkotaan dengan berbagai dinamikanya. Selain faktor tersebut penyebab lain munculnya anak jalanan di perkotaan adalah: sikap mental yang tidak mendukung berupa sikap malas bekerja keras ataupun
implementasi yang kurang tepat dari nasehat orang tua akan makna “berbakti pada orang tua”. Dalam tataran ini anak dipandang sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga, sehingga seorang anak dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan sumber dana demi membantu ekonomi keluarga.
a. Penanggulangan Anak Jalanan Melalui Implementasi Peraturan Daerah (Perda No 16 Tahun 2002)
Upaya mencegah atau menangani anak jalanan di beberapa kota mengalami kendala dari aspek peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak atau belum tersedianya suatu peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang mekanisme penang-gulangan anak jalanan beserta implikasinya menjadi alasan klasik ketika pemerintah daerah akan mengurus anak jalanan tersebut. Pola pendekatan yang dimiliki dianggap relatif kurang mumpuni ketika tidak mendapat dukungan berupa peraturan perundang-undangan yang jelas. Undang-Undang tentang perlindungan anak belum secara spesifik memberikan arah penanganan dan penanggulangan permasalahan anak jalanan yang dihadapi.
Sebagai salah satu bentuk keseriusan pemerintah kota dalam menangani masalah anak jalanan di kota ini, maka pemerintah daerah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda membuat suatu aturan main tentang penertiban dan penanggulangan anak jalanan yang termuat dalam Perda No 16 Tahun 2002
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
161 tentang Penertiban dan Penanggulangan
Pengemis, Anak Jalanan dan Gelandangan dalam Wilayah Kota Samarinda. Dengan adanya payung hukum tersebut menjadi acuan bertindak bagi instansi terkait yang secara langsung berurusan dengan anak jalanan tersebut.
Perda No. 16 Kota Samarinda dengan jelas memberikan aturan tentang cara penanggulangan, mekanisme pembinaan maupun sanksi yang jelas bagi mereka yang mengakibatkan munculnya anak jalanan. Hasil wawancara dengan seksi pelayanan dan bantuan sosial diperoleh bahwa: Dengan adanya perda menjadi modal berharga bagi lembaganya untuk meyusun suatu rencana kegiatan dalam rangka penanggulangan dan penertiban anak jalanan. (Hasil wawancara, September 2008). Selain itu keberadaan Peraturan daerah juga secara otomatis membuat instansi terkait seperti Satpol PP untuk turut berperan dalam rangka pencegahan dan penanganan terhadap anak jalanan tersebut.
b. Strategi Penanggulangan Anak Jalanan Melalui Identifikasi dan Pengembangan Kelompok Sasaran
Pandangan yang berkembang dalam masyarakat tentang posisi anak dalam keluarga tentunya menjadi masalah bagi pemerintah Kota Samarinda yang berkomitmen untuk menghapuskan anak jalanan di kota tepian. Guna mengatasi permasalahan anak jalanan, pemerintah Kota Samarinda melalui instansi terkait (Kantor Kesos dan Pemakaman, Dinas Pendidikan, dan Satpol PP) mengem-bangkan tiga strategi pengembangan
yang diharapkan mampu mengakomodir berbagai segmen usia yang ada dalam anak jalanan. Ketiga strategi yang dilakukan adalah :
1. Pengembangan pendidikan formal/ non formal.
2. Pengembangan kemampuan permo-dalan.
3. Pengembangan kelembagaan eko-nomi kerakyatan.
Strategi pertama berupa pengem-bangan pendidikan formal/ non formal lebih diajukan pada anak-anak jalanan usia sekolah (5-9 tahun dan 10-14 tahun) yaitu agar mereka tetap dapat melanjutkan sekolahnya dan berada dalam lingkungan sekolah dan keluarga. Dalam strategi ini instansi terkait tidak hanya bekerja sendiri, akan tetapi juga menjalin kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang fokus dalam bidang pendampingan dan perlindungan anak. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah Kota Samarinda yang terkait langsung dengan upaya pembinaan bagi anak jalanan usia sekolah yang terkena razia merupakan alasan utama dalam membina kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sipil dalam membantu pemerintah kota untuk secara bersama-sama membina dan menjaga ketentraman dan ketertiban umum di Kota Samarinda.
Hasil wawancara dengan Kasie Pelayanan dan bantuan sosial diperoleh bahwa: rehabilitasi terhadap anak jalanan yang terjaring dalam razia yang dilaksanakan oleh aparat terkendala oleh
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
162
minimnya sarana rehabilitasi anak-anak jalanan tersebut. Seyogyanya bagi anak jalanan yang terjaring razia harus direhabilitasi dalam suatu tempat yang layak, sehingga mereka merasakan mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak pada umumnya. Sementara sampai saat ini Kantor Kesos dan Pemakaman yang memiliki tanggung jawab utama terhadap anak jalanan belum memiliki gedung rehabilitasi khusus bagi anak jalanan. (Hasil wawancara, September 2008). Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah daerah dalam rangka mengembalikan anak jalanan ke sekolah (baik formal maupun informal) dan lingkungan keluarga dilaksanakan tanpa melalui rehabilitasi awal yang memadai di Kantor Kesos dan Pemakaman Kota Samarinda yang seharusnya memberikan bimbingan lebih jauh dalam upaya penyadaran kepada anak jalanan.
Minimnya rehabilitasi bagi anak jalanan terungkap dari hasil wawancara dengan penyidik Satpol PP Kota Samarinda yang menyebutkan: Bagi anak jalanan yang terjaring dalam razia yang dilaksanakan oleh Satpol PP dan instasi terkait tidak mendapatkan perlakuan khusus dalam hal penanganannya. Mereka yang terjaring dalam razia yang dilaksanakan selanjutnya di data lebih lanjut oleh penyidik untuk mengetahui latar belakang mereka. Setelah menjalani penyidikan anak jalanan yang terjaring dalam razia dititipkan di tahanan Satpol PP bersama tahanan lainnya yang
memiliki usia jauh lebih tua dibandingkan mereka. Adapun masa penahanan bagi anak jalanan yakni 2-3 hari sebelum diserahkan ke Kantor Kesos dan Pemakaman.(Hasil wawancara, September 2008).
Sebagai tindaklanjut dari data yang diperoleh dari Satpol PP akan keberadaan anak jalanan selanjutnya menjadi bahan bagi Kantor Kesos dan Pemakaman, serta Dinas Pendidikan untuk mengembangkan strategi pertama dalam rangka mendorong anak jalanan usia sekolah untuk kembali ke sekolah baik melalui pendidikan formal maupun informal (kegiatan belajar mandiri melalui Paket A ataupun Paket B)
Strategi kedua terkait dengan kemampuan permodalan ditujukan pada anak-anak jalanan yang sudah drop out dari sekolah dan usia sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah. Melalui strategi ini anak-anak jalanan diberi latihan keterampilan dan permodalan baik secara kelompok maupun perorangan. Upaya pengembangan strategi ni dilaksanakan dengan pola kemitraan dengan lembaga-lembaga terkait yang memiliki kompetensi dalam bidang usaha tertentu. Usia anak jalanan yang mendapatkan program ini terutama bagi mereka yang berusia antara 16-19 tahun. Hal ini dilaksanakan dengan asumsi bahwa mereka akan segera memasuki masa remaja yang berarti pola pikir mereka diharapkan dapat berkembang untuk beralih berwirausaha dan tidak lagi berada dijalanan.
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
163 Implementasi strategi pengembangan
kemampuan permodalan dilaksanakan melalui suatu pelatihan dan bimbingan pengembangan bakat dan keterampilan bagi anak jalanan. Materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut diantaranya ; Kebijakan Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial, Kesuksesan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, hubungan antar manusia, manajemen wirausaha, keterampilan perbengkelan, dan cara pembudidayaan keramba ikan air tawar. Materi yang diberikan dimaksudkan untuk memberikan bekal dari awal kepada anak jalanan tata cara berinteraksi dalam masyarakat yang beretika, dan sesuai dengan norma kesopan santunan yang jauh berbeda dengan pola kehidupan yang meraka dapatkan dijalanan. Sementara materi keterampilan disesuaikan dengan lingkungan dan bakat minat dari anak jalanan tersebut.
Pendekatan yang dilaksanakan terhadap anak jalanan ini lebih diprioritaskan pada cara-cara persuasif sehingga secara sadar merasakan perlunya keterampilan bagi mereka supaya tidak kembali lagi kejalanan. Bagi mereka yang telah memiliki keterampilan yang memadai dan berkomitmen untuk meninggalkan kehidupan jalanan, pemerintah kota berupaya memfasilitasi dalam penyaluran ke lapangan pekerjaan seperti perbengkelan maupun usaha mandiri lainnya dengan jaminan Kantor Kesos dan Pemakaman. Sementara bagi mereka yang memiliki keluarga dan
mempunyai potensi untuk mengembangkan keterampilannya dalam lingkungan keluarga, maka pemerintah kota berupaya untuk memberikan bantuan berupa permodalan usaha kecil dengan pengawasan yang ketat dan tetap dalam pantauan Kantor Kesos dan Pemakaman Kota Samarinda. Strategi ketiga adalah pengembangan kelembagaan ekonomi kerakyatan. Anak-anak jalanan yang semula berusaha secara individu didorong agar mau berusaha secara berkelompok maupun perorangan. Pembentukan kelompok maupun jenis usaha yang akan dilaksanakan hendaknya muncul dari aspirasi mereka sendiri. Peran Institusi pemerintah maupun lembaga-lembaga pemberdayaan dilaksanakan terbatas pada upaya pendampingan dan monitoring saja. Hal ini dimaksudkan untuk tidak memberikan penekanan kepada anak bimbingan sehingga keterlibatan mereka dalam kelompok murni karena kesamaan visi dan sehingga terjalin suasana kondusif dalam melaksanakan usaha-usahanya.
Jenis kelompok usaha bersama yang didorong untuk dikembangkan bagi anak jalanan diantaranya : kelompok usaha jualan sembako, menjahit, asesoris tubuh, jualan rokok, minuman dan makanan ringan, keramba ikan nila, servis sepeda motor, aksesoris HP/ jual pulsa. Kelompok usaha yang dikembangkan ini diupayakan tumbuh dan mampu dikelola dengan baik meskipun dengan modal usaha yang seadanya.
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
164
Selain strategi pengembangan yang secara langsung diarahkan pada anak jalanan maka pemerintah kota juga mengembangkan enam tahapan lebih lanjut dalam mengatasi anak jalanan di Kota Samarinda. Adapun tahapan tersebut adalah :
1. Tahap sosialisasi program kepada masyarakat.
2. Melaksanakan razia terhadap anak jalanan, dalam melaksanakan kegiatan ini pemerintah Kota Samarinda didampingi oleh para relawan dari LSM, Orsos, dan Lembaga Perlindungan Anak. 3. Melakukan Assesment (penelusuran).
Pada tahap ini para relawan melakukan pengidentifikasian terhadap anak-anak jalanan untuk memperoleh data yang selengkap-lengkapnya tentang anak jalanan. 4. Tahap inisiasi. Setelah diperoleh
data/ identitas anak jalanan tersebut, maka dilakukan tahap inisiasi dimana anak jalanan diberi pengertian, diberi motivasi, dan diberikan penyadaran bahwa pilihan hidup menjadi anak jalanan itu sangat tidak baik dan berbahaya serta meyakinkan bahwa kondisi mereka bisa diperbaiki. Tahap inisiasi dapat dilakukan di rumah singgah atau tempat lain yang dapat difungsikan.
5. Penyaluran. Dalam tahapan ini pemerintah kota melaksanakannya melalui beberapa cara yakni :
a. Anak-Anak jalanan usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun yang masih memiliki tempat tinggal dan orang tua dikembalikan pada
orang tuanya dan untuk kelanjutan pendidikannya dicarikan orang tua asuh.
b. bagi anak-anak jalanan yang berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu/ yatim piatu/ berasal dari luar daerah dan berusia 5-9 tahun dan 10 -11 tahun disalurkan ke panti-panti asuhan/ yayasan dan tetap melan-jutkan sekolah yang biayanya diperoleh dari subsidi pendidikan pemerintah kota maupun propinsi. c. Anak-anak jalanan usia 10 -14 tahun dan 15 -19 tahun yang telah drop out dari sekolah disalurkan ke lembaga keterampilan swasta atau BLKI untuk memperoleh keterampilan berusaha.
d. Anak-anak jalanan pengedar list/ daftar sumbangan yang dikoordinir perorangan atau lembaga sosial tertentu dikembalikan pada orang tuanya dengan ancaman sanksi pada mereka yang mempekerjakan anak tersebut.
6. Tahapan pemberdayaan
a. Anak-anak jalanan yang berprofesi sebagai pedagang asongan dan penjual loper koran digabung dalam suatu kelompok usaha berupa kios yang dikelola secara bersama dengan modal-modal kecil dari mereka dan dibantu tambahan dari pengusaha dan pemerintah Kota Samarinda. b. Pemerintah kota menyediakan
suatu lokasi hiburan dimana anak-anak jalanan yang berprofesi
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
165 sebagai pengamen dapat
melakukan kegiatan mengum-pulkan uang. Lokasi atau tempat hiburan ini merupakan pusat rekreasi.
c. Pemerintah daerah bekerjasama dengan pengelola tempat pencucian mobil, lapangan tenis, lapangan golf, mempekerjakan anak-anak jalanan sebagai pencuci kendaraan, pemungut bola atau apapun yang dapat dikerjakan anak-anak tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama (kurang lebih 2-3 jam) dan setelah itu mereka dapat kembali ke rumah/ sekolah.
d. Distributor koran/ majalah dapat mempekerjakan anak-anak jalanan tersebut untuk mengantarkan koran pada langganannya.
Bentuk pendekatan dan pengem-bangan anak jalanan oleh pemerintah kota dilaksanakan dengan melibatkan semua stakeholders. Upaya tersebut dilaksanakan dengan asumsi bahwa permasalahan anak jalanan merupakan suatu realitas perkotaan yang memerlukan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Penanganan anak jalanan dengan mekanisme pengembangan dan strategi identifikasi secara dini pada akhirnya diharapkan mampu menemukan akar dan solusi tepat dalam mengatasi anak jalanan di Kota Samarinda.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Upaya Pemerintah Kota Dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
Upaya pemerintah kota dalam mengatasi anak jalanan di Kota Samarinda harus berhadapan dengan lingkungan masyarakat dengan berbagai unsur penopangnya. Dukungan peraturan perundang-undangan serta kebijakan penanggulangan maupun pemberdayaan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota masih harus disinergikan dengan kondisi sosial kemasyarakatan di daerah ini. Berbagai faktor yang selama ini dianggap sebagai persoalan klasik yang memunculkan anak jalanan memerlukan perhatian serius sehingga efektifitas dari kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi upaya pemerintah kota dalam menanggulangi permasalahan anak jalanan diantaranya :
1. Faktor lingkungan sosial.
Lingkungan sosial merupakan salah satu aspek yang dapat mendorong seorang anak untuk menjadi anak jalanan. Hal-hal yang terkait dengan lingkungan sosial masyarakat tersebut adalah : a. Anak jalanan yang turun ke jalan
karena adanya desakan ekonomi keluarga sehingga justru orang tua yang menyuruh anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan ekonomi keluarga.
b. Rumah tinggal yang kumuh membuat ketidakbetahan anak berada di rumah sehingga perumahan yang kumuh menjadi salah satu faktor pendorong untuk anak turun ke jalan.
c. Rendahnya pendidikan orang tua menyebabkan mereka tidak
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168
166
mengetahui peran dan fungsi sebagai orang tua dan juga tidak mengetahui hak-hak anak. Sehingga eksploitasi anak bisa saja muncul kapan saja termasuk dengan mengarahkan anak untuk menjadi anak jalanan.
d. Peran lembaga sosial kemasyarakatan belum maksimal berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk menangani masalah anak jalanan. 2. Budaya Masyarakat.
Upaya pemerintah kota dalam menanggulangi permasalahan anak jalanan di Kota Samarinda harus berbenturan dengan suatu kebiasaan masyarakat yang telah membudaya yakni kerelaan memberikan sejumlah uang kepada anak yang ada di jalanan. Hal yang membedakan Kota Samarinda dengan daerah-daerah lainnya tidak terletak pada sekedar kerelaan tersebut, akan tetapi jumlah nominal uang yang diberikan kepada anak jalanan yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Kondisi ini kemudian menjadi alasan mengapa anak betah untuk tinggal dan mencari nafkah di jalanan
3. Faktor Migrasi.
Ketertarikan sebagian masyarakat untuk mencari penghidupan yang lebih layak di daerah lain menyebabkan perpindahan penduduk dengan kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai. Kedatangan warga pendatang di Kota Samarinda ternyata tidak selamanya sesuai dengan yang diharapkan, munculnya anak jalanan ternyata merupakan hasil dari migrasi
tersebut. Beberapa kelompok keluarga yang gagal dalam berkompetisi pada akhirnya berpikir untuk memaksimalkan semua potensi sumber daya yang mereka miliki termasuk dengan mendorong anak mereka untuk menjadi anak jalanan.
Ketiga faktor tersebut menjadi suatu realita yang tidak dapat dihindari oleh pemerintah kota ketika akan mengatasi anak jalanan di Kota Samarinda. Berbagai strategi pendekatan yang dilaksanakan perlu untuk diupayakan sehingga kebijakan yang diambil tidak hanya pada anak jalanannya, akan tetapi akan menyangkut semua aspek yang melatarbelakangi munculnya anak jalanan.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan : 1. Upaya mengatasi anak jalanan di Kota
Samarinda dilaksanakan melalui beberapa pendekatan diantaranya : ketersediaan peraturan daerah dan pendekatan kebijakan mulai dari tahap identifikasi sampai penanganan masalah anak jalanan secara serius.
2. Pola pendekatan yang dilaksanakan terhadap anak jalanan berupa pendekatan persuasif melalui mekanisme pengembangan kemampuan diri dan pendekatan preventif yakni dengan melaksanakan razia anak jalanan sebagai upaya langsung dalam mengurangi atau bahkan menghapuskan keberadaan anak jalanan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan anak jalanan di Kota Samarinda meliputi faktor lingkungan sosial, budaya
JAUCHAR – Pendekatan Pemerintah dalam Mengatasi Anak Jalanan di Kota Samarinda
167 masyarakat dan migrasi masyarakat dari
suatu daerah dengan tujuan akhir Kota Samarinda.
4. Keberadaan anak jalanan sebagai suatu permasalahan perkotaan perlu untuk mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, terutama bagi instansi / dinas pemerintahan yang terkait dalam pengambilan kebijakan mengenai anak jalanan. Hal ini perlu dikembangkan dengan tetap mengacu pada pola kemitraan dan kerjasama antar lembaga.
DAFTAR BACAAN
Anonim, 2008. UU RI Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak. Jakarta :
Asa Mandiri.
, 2008. UU RI Nomor 4 Tahun 1979
Tentang Kesejahteraan Anak. Jakarta :
Asa Mandiri.
Anonim, 2002. Perda Kota Samarinda Nomor 16
Tahun 2002 Tentang Penertiban dan Penanggulangan Pengemis, Anak Jalanan dan Gelandangan Dalam Wilayah Kota Samarinda. Lembaran
Daerah Kota Samarinda No. 16 Tahun 2002 Seri D Nomor 10. Samarinda. Dunn, William N. 2000. Pengantar Analisis
Kebijakan Publik. Edisi kedua.
Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Putra, Fadillah. 2003. Paradigma Kritis Dalam
Studi Kebijakan Publik. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Mulandar, Surya. 1996. Dehumanisasi Anak
Marjinal ; Berbagai Pengalaman Pemberdayaan. Bandung. Yayasan Akatiga.
Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya.
Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (ed). 1989.
Metode Penelitian Survai. Jakarta. LP3ES
Soenarko. 2005. Public Policy: Pengertian Pokok
Untuk Memahami dan Analisa Kebijaksanaan Pemerintah. Surabaya.
Airlangga University Press.
Sugiono, 2006. Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alfabeta.
Suyanto, Bagong dan Sri Sanituti Hariadi. 2002.
Krisis & Child Abuse. Surabaya :
Airlangga University Press.
Widjaja, A.W. 1989. Anak Jalanan. Jakarta : Badan koordinasi Kegiatan Kesejahteraan DKI Jakarta & Jurusan Psikologi UI.
Spirit Publik Vol. 4, No. 2, Oktober 2008 Hal. 153 – 168