RENCANA INDUK
PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH
(RIPPDA) PANTAI JIKUMERASA
Kabupaten Buru Provinsi Maluku
LAPORAN
ANTARA
PEMERINTAH KABUPATEN BURU
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya dokumen LAPORAN ANTARA sebagai dokumen awal bagi kegiatan Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.
LAPORAN ANTARA ini secara umum merupakan sebuah laporan analisa dari keseluruhan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama kurang lebih 3 (tiga bulan) pekerjaan, di mana di dalam dokumen ini kurang lebih berisikan mengenai Pendahuluan, Tinjauan Kebijakan, Pendekatan dan Metodologi Gambaran Umum Wilayah, Konsep Pembangunan Pariwisata serta Kebijakan dan Strategi Pembangunan Pariwisata sebagai dasar dari kegiatan pengembangan pariwisata daerah ini
Dalam penyusunan LAPORAN ANTARA ini, pihak konsultan menyadari kemungkinan masih adanya kekurangan dan kesalahan, untuk itu pihak konsultan mengharapkan adanya kritik dan masukan yang konstruktif dari berbagai pihak terkait sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi kegiatan selanjutnya (yaitu penyusunan LAPORAN AKHIR) sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan.
Pada akhirnya tim konsultan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian pekerjaan ini
Ambon, September 2014
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Maksud dan Tujuan ... I-1 1.2.1 Maksud Kegiatan ... I-1 1.2.2 Tujuan Kegiatan ... I-1 1.3 Sasaran Kegiatan ... I-2 1.4 Ruang Lingkup ... I-2 1.4.1 Ruang Lingkup Pekerjaan ... I-2 1.4.2 Ruang Lingkup Lokasi ... I-2 1.5 Dasar Hukum ... I-2 1.6 Sistematika Pembahasan ... I-3
BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN
2.1 Landasan Teori ... II-1 2.1.1 Pengertian Produk Pariwisata ... II-1 2.1.2 Pengertian Kebudayaan ... II-2 2.1.3 Pengertian Karakteristik Wisatawan ... II-3 2.1.4 Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata ... II-4 2.1.5 Pariwisata Berwawasan Lingkungan ... II-4 2.1.6 Kawasan Pariwisata ... II-5 2.1.7 Pemasaran Pariwisata ... II-6 2.1.8 Sistem Kepariwisataan ... II-6 2.1.9 Analisis Sediaan dan Permintaan dalam Sistem Kepariwisataan ... II-6 2.1.10 Komponen Sediaan dan Permintaan Pariwisata ... II-7 2.1.11 Obyek Wisata ... II-7 2.1.12 Sarana Pariwisata ... II-8 2.1.13 Jasa Pariwisata ... II-10 2.1.13.1 Biro Perjalanan Wisata (Tour and Travel) ... II-10 2.1.13.2 Pusat Informasi ... II-11 2.1.13.3 Penukaran uang dan fasilitas keuangan ... II 11 2.1.13.4 Penyediaan perlengkapan wisata ... II 11 2.1.13.5 Pemandu Wisata ... II 12 2.1.13.6 Pengawas Pantai ... II 12 2.1.14 Prasarana dan Sarana Lingkungan ... II 12 2.1.15 Wisata Alam ... II 13 2.1.16 Wisata Budaya ... II 13 2.1.17 Komponen Pengembangan Pariwisata ... II 14
2.1.18 Obyek dan Daya Tarik Wisata... II 15 2.1.19 Perencanaan Pariwisata ... II 16 2.1.20 Implikasi Pariwisata terhadap Perekonomian... II 17 2.1.21 Ananlisis SWOT ... II 19 2.1.22 Analisis Cluster ... II 19 2.2 Tinjauan Kebijakan ... II 20 2.2.1 Kabupaten Buru Dalam Kebijakan Penataan Ruang Nasional (RTRWN) ... II 20 2.2.1.1 Kebijakan Struktur Ruang ... II 20 2.2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional ... II 23 2.2.2 Kabupaten Buru Dalam Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Propinsi
(RTRWP) Maluku Kebijakan pembangunan provinsi Maluku tertuang dalam rencana Tata Ruang Wilayah provinsi Maluku
untuk kurun waktu 2007 – 2027. ... II 26 2.2.2.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi Maluku... II 26 2.2.2.2 Rencana Pengembangan Sistem Transportasi Wilayah... II 30 2.2.2.3 Rencana Sistem Prasarana Wilayah ... II 34 2.2.3. Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi ... II 38 2.2.3.1 Rencana Pengembangan Kawasan Lindung ... II 38 2.2.3.2 Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya ... II 40 2.2.4 Rencana Pengembangan Ekonomi ... II 42 2.2.5 Rencana Kependudukan ... II 42 2.2.5.1 Rencana Pengaturan Pertumbuhan Penduduk ... II 44 2.2.5.2 Rencana Pengaturan Penyebaran dan Kepadatan Penduduk ... II 44 2.2.5.3 Rencana Ketenagakerjaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia ... II 45 2.2.6 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kabupaten Buru ... II 45 2.2.6.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Buru ... II 45 2.2.6.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Buru ... II 52 2.2.7 Rencana Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Wilayah Kabupaten Buru ... II 54
BAB III PENDEKATAN DAN METODOLOGI
3.1 Metodologi Pendekatan ... III-1 3.1.1 Pendekatan Dasar ... III-1 3.1.2 Pendekatan Fakta dan Analisis ... III-2 3.2 Metoda Pendekatan dan Metoda Analisis ... III-4 3.2.1 Metode Pendekatan... III-4 3.2.2 Metode Pendekatan Perumusan Konsep... III-6 3.3 Metode Analisis ... III-7 3.3.1 Analisis Kualitatif (Deskriptif) ... III-7 3.2 Analisis Kuantitatif ... III-8 3.4 Metoda Pengumpulan Data ... III-8 3.4.1 Survey Data Primer ... III-8 3.4.2 Survey Data Sekunder ... III-9
BAB IV GAMBARAN UMUM
4.1 Profil Kabupaten Buru ... IV-1 4.1.1 Kondisi Geografis ... IV-1 4.1.1.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi ... IV-1 4.1.1.2 Kondisi Geomorfologi dan Hidrogeologi ... IV-2 4.1.1.3 Kondisi Fisografi dan Topografi Wilayah ... IV-3 4.1.1.4 Kondisi Kemiringan Tanah ... IV-4 4.1.1.5 Klimatologi ... IV-5 4.1.1.6 Geologi ... IV-7 4.1.1.7 Penggunaan Lahan ... IV-9 4.1.2 Sumberdaya Alam ... IV-11 4.1.2.1 Pertanian ... IV-11 4.1.2.2 Perkebunan ... IV-13 4.1.2.3 Kehutanan ... IV-15 4.1.2.4 Peternakan ... IV-15 4.1.2.5 Perikanan ... IV-15 4.1.2.6 Terumbu Karang, Mangrove dan Lamun ... IV-16 4.1.2.7 Pertambangan ... IV-17 4.2 Profil Pariwisata Pulau Buru ... IV-17 4.2.1 Kondisi Sumberdaya Wista ... IV-17 4.2.2 Kondisi Akomodasi ... IV-19 4.2.3 Kondisi Aksesibilitas ... IV-19 4.2.3.1 Kondisi Eksternal ... IV-20 4.2.3.2 Kondisi Internal ... IV-20 4.2.4 Kondisi Sarana dan Prasarana Pelengkap Pariwisata... IV-21 4.2.4.1 Lembaga Keuangan ... IV-21 4.2.4.2 Toko Cinderamata ... IV-22 4.2.4.3 Listrik dan Air Bersih ... IV-22 4.2.4.4 Pos dan Telekomunikasi ... IV-22 4.2.5 Karakteristik Wisatawan yang berkunjung ke Buru ... IV-23 4.2.6 Obyek Wisata yang Telah Berkembang ... IV-23 4.2.6.1 Telaga Namniwel ... IV-23 4.2.6.2 Pantai Jikumerasa ... IV-25
BAB V KONSEP PEMBANGUNAN PARIWISATA
5.1 Konsep Pembangunan Berkelanjutan ... V-1 5.2 Konsep Perwilayahan Dan Klaster Pengembangan ... V-6 5.3 Kawasan Wisata Terpadu & Berkelanjutan ... V-8 5.4 Pengembangan Destinasi Pariwisata Berbasis Aktivitas Wisata ... V-8 5.5 Pendekatan Kesesuaian Produk Pasar ... V-9
5.6 Konsep Manajemen Strategis ... V-10 5.7 Konsep Sinergi Stakeholders ... V-12
BAB VI KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PARIWISATA
6.1 Kebijakan & Strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata... VI-1 6.2 Kebijakan & Strategi Pembangunan Pemasaran Pariwisata ... VI-5 6.3 Kebijakan & Strategi Pembangunan Industri Pariwisata ... VI-7 6.4 Kebijakan & Strategi Pembangunan Kelembagaan ... VI-9
Tabel 2.1 Gusus Pulau, Fungsi dan Prioritas Pengembangan dan
Rencana Pengembangan Infrasrtuktur ... II-28 Tabel 2.2 Rencana Fungsi Pusat Permukiman Provinsi Maluku ... II-28 Tabel 2.3 Kawasan Andalan Kabupaten Buru... II-30 Tabel 2.4 Rencana Pemanfaatan Kawasan Lindung di Provinsi Maluku... II-39 Tabel 4.1 Luas Daerah Kabupaten Buru ... IV-2 Tabel 4.2 Suhu Udara Rata-Rata Kabupaten Buru 2013-2014 ... IV-6 Tabel 4.3 Kelembaban Udara dan Penyinaran Matahari di
Kabupaten Buru 2013-2014 ... IV-6 Tabel 4.4 Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan ... IV-6 Tabel 4.5 Kondisi Angin Kabupaten Buru ... IV-7 Tabel 4.6 Kolom Strategrafi Susunan batuan di Kabupaten Buru ... IV-8 Tabel 4.7 Hasil Pertanian Kabupaten Buru ... IV-12 Tabel 4.8 Luas Areal dan Produksi Kelapa Kabupaten Buru ... IV-13 Tabel 4.9 Luas Areal dan Produksi Kopi Kabupaten Buru ... IV-13 Tabel 4.10 Luas Areal dan Produksi Kakao Kabupaten Buru ... IV-13 Tabel 4.11 Luas Areal dan Produksi Jambu Mete Kabupaten Buru ... IV-14 Tabel 4.12 Luas Areal dan Produksi Cengkih Kabupaten Buru ... IV-14 Tabel 4.13 Luas Areal dan Produksi Pala Kabupaten Buru ... IV-14 Tabel 4.14 Populasi Ternak Kabupaten Buru ... IV-15 Tabel 4.15 Produksi Perikanan Laut Kabupaten Buru ... IV-16 Tabel 4.16 Distribusi, dan Luas Tutupan Mangrove Kabupaten Buru ... IV-16 Tabel 4.17 Potensi Pertambangan Kabupaten Buru ... IV-17 Tabel 4.18 Sebaran Obyek Wisata Kabupaten Buru ... IV-19 Tabel 4.19 Sebaran Hotel Kabupaten Buru ... IV-19 Tabel 4.20 Panjang Jalan Menurut Kewenangannya di Kabupaten Buru ... IV-21 Tabel 4.21 Panjang Jalan Menurut Jenis Perkerasannya ... IV-21 Tabel 4.22 Panjang Jalan Menurut Kondisinya ... IV-21
Gambar 2.1 Komponen Pariwisata ... II-7 Gambar 4.1 Telaga Namniwel ... IV-25 Gambar 4.2 Pantai Jikumerasa ... IV-26 Gambar 4.3 Kondisi Sekitar Desa Jikumerasa ... IV-26 Gambar 4.4 Danau Jikumerasa ... IV-27 Gambar 4.5 Sungai Jikumerasa ... IV-27 Gambar 4.6 Senja di Jikumerasa ... IV-27 Gambar 5.1 Konsep Pariwisata Berkelanjutan ... V-5 Gambar 5.2 Implementasi Konsep Pariwisata Berkelanjutan ... V-6 Gambar 5.3 Supply and Demand ... V-9 Gambar 5.4 Proses Pengembangan Daya Saing Pariwisata ... V-12
1.1 LATAR BELAKANG
Jikumerasa menyuguhkan pesona alam pantai kepada setiap orang yang ingin melepaskan kepenatan dalam rutinitas kerja, Berada di Kecamatan Namlea dengan hanya berjarak kurang lebih 10 KM dari kota namlea menjadikan Jikumerasa primadona Kabupaten Buru.
Jikumerasa sendiri masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dengan sajian rujak khas Maluku dan hamparan pasir putih serta udaranya yang sejuk sangatlah pas tatkala kita menghabiskan waktu sembari menyantap rujak, untuk menikmati Pantai Jikumerasa dapat digunakan perahu rakyat yang disediakan oleh masyarakat setempat
Kondisi kepariwisataan Jikumerasa sampai saat ini, berkembang dengan sendiri, tidak didukung dengan suatu perencanaan sehingga objek wisata yang satu dengan yang laintidak saling mendukung. Kondisi demikian akan berdampak pada perkembangan sector yang tidak seimbang pada masa yang akan datang, maka diperlukan konsep perencanaan yang benar-benar terukur. Untuk itu melalui APBD Tahun Anggaran 2014 pemerintah daerah Kabupaten Buru telah menetapkan kegiatan “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku”
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
1.2.1 Maksud Kegiatan
Maksud kegiatan ini adalah membuat konsep pengembangan sektor pariwisata di
Kecamatan Namlea Kabupaten Buru, sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengembangkan pantai Jikumerasa
1.2.2 Tujuan Kegiatan
Tujuannya adalah membangun pariwisata pantai, mendorong pemerataan
1.3 SASARAN KEGIATAN
Adapun sasaran pekerjaan ini antara lain meliputi
1. Pengembangan tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan tujuan wisata di pantai Jikumerasa beserta sarana dan parasarananya.
2. Tersusunnya RIPPDA Pantai Jikumerasa yang up to date dan baik dalam bentuk
hardcopy maupun softcopy.
1.4 RUANG LINGKUP
1.4.1 Ruang Lingkup Pekerjaan
Secara umum, ruang lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut : 1. Tahapan persiapan Survey Lapangan :
Pengumpulan berbagai buku, jurnal dan laporan yang relevansi dengan ekonomi pariwisata, budaya, arus wisatawan, sarana dan prasarana pendukung dan nantinya dapat dicocokkan dengan data lapangan.
2. Tahapan Analisa
Analisa bidang pasar wisata, analisa perencanaan dan engeneering, analisa social ekonomi, analisa bisnis dan hokum
3. Tahapan Rencana
a. Rencana pengembangan tujuan wisata
b. Rencana sarana dan prasaran
c. Rencana tahapan pelaksanaan (indikasi Program)
d. Rencana Pengelolaan
1.4.2 Ruang Lingkup Lokasi
Lokasi pekerjaan kegiatan RIPPDA yaitu berlokasi di wilayah Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku
1.5 DASAR HUKUM
Adapun dasar hukum dan literatur kebijakan yang diadikan sebagai bahan acuan dalam “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai
Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku” adalah
1. Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Buru Nomor ……. Tahun 2013 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Buru Tahun Anggaran 2014
1.6 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Dalam penyusunan Laporan Antara untuk kegiatan “Pembuatan Rencana Induk
Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku”, terdiri dari 7 (tujuh) Bab Pembahasan, yaitu
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan mengenai latar belakang kegiatan, maksud dan tujuan kegiatan, serta sasaran dan ruang lingkup dari kegiatan “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku”
2. BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN
Bab ini berisikan mengenai tinjauan kebijakan yang dijadikan sebagai acuan dan dasar pendekatan dan metodologi dalam “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku”.
3. BAB III PENDEKATAN DAN METODOLOGI
Bab ini berisikan mengenai pendekatan dan metodologi dalam melakukan “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku”
4. BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN
Bab ini berisikan tentang sekilas paparan umum tentang Kabupaten Buru sebagai lokasi dalam kegiatan “Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku” .
5. BAB V KONSEP PEMBANGUNAN PARIWISATA
Bab ini berisikan konsep pembangunan pariwisata di wilayah Pulau Buru dengan Pantai Jikumerasa sebagai vocal point dan wilayah di sekitar sebagai kawasan pendukung pariwisata sesuai dengan hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya.
6. BAB VI KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PARIWISATA
Bab ini berisikan mengenai kebijakan dan strategi pembangunan pariwisata di Pulau Buru, meliputi beberapa sektor penting yaitu destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, industri pariwisata dan kelembagaan yang terdapat di Pulau Buru (Kabupaten Buru)
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Pengertian Produk Pariwisata
Produk pariwisata menurut Burkart dan Medilik yang dikutip oleh Oka A Yoeti (1996:64) mengemukakan pengertian produk wisata sebagai berikut : ” ....The tourist product may be seen as composite product, as an amalgan of attractions, transport accommodation and of entertainment” Dalam pengertian produk tersebt diatas lebih menekankan kepada satu strata produk yang satu sama lain saling memiliki ketergantungan yang terdiri dari obyek wisata, atraksi wisata, transportasi, akomodasi, dan rekreasi hiburan umum, dimana masingmasing jenis usaha dipersiapkan oleh masing-masing perusahaan.
Sedangkan pendapat Medik dan Meddelton yang dikutip oeh Oka A. Yoeti (1996:164) mengenukakan pengertian produk pariwisata sebagai berikut : “as far as the touist concerned the product convers the complete experience from the time the leaves home to time has returns to it” Pendapat Medik dan Meddelton lebih menekankan kepada keterpaduan seluruh unsur bisnis (usaha) pariwisata yang disusun dalam satu bentuk paket wisata yang satu sama lain memiliki unsur pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan dan sejak berangkat meninggalkan rumah sampai kembali ketempat asal.
Dalam kaitan pengertian tersebut, maka produk wisata lebih cenderung kepada pengelolaan usaha-usaha pariwisata yang memilki tiga unsur penting sebagai bentuk wisata pada satu daerah tujuan wisata yaitu :
1. Atraksi dan citra pembentuk satu daerah tujuan wisata;
2. Sarana dan prasarana yang mendukung keberadaan produk wisata tersebut; 3. Aksesibilitas di suatu daerah tujuan wisata
Undang-undang No. 9 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 67 tahun 1996 membagi 3 bagian pengusahaan produk wisata kedalam bentuk pengelolaan dan jenis-jenis usaha sebagai berikut :
1. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata
a. Pengusahana obyek dan daya tarik wisata alam, ODTW alam berbentuk alam
pantai, gunung, danau dan sebagainya yang telah ditetapkan sebagai obyek dan daya tarik wisata untuk dijadikan sasaran wisata;
b. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata budaya, setiap hasil karya, karsa, cipta manusia yang membentuk berbagai jenis benda, kegiatan, seperti seni olah makanan dan minuman, seni tari, seni tembang, seni karawitan, seni musik, nilai-nilai tradisi, seni rupa, kepurbakalaan, sastra, kerajinan, bahasa, sejarah dan lain-lain sebagai usaha pemanfaatan seni budaya bangsa yang telah ditetapkan sebagai obyek dan daya tarik wisata untuk dijadikan sasaran wisata;
c. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata minat khusus merupakan usaha
pemanfaatan sumber daya alam atau potensi seni budaya seperti wisata goa, panjat tebing, diving, windsurfing, sport, pengenalan budaya suku-suku dan lain-lain untuk dijadikan sasaran wisata bagi wisatawan yang mempunyai minat khusus. 2. Usaha jasa pariwisata
Usaha jasa pariwisata yang meliputi penyediaan jasa perencanaan, jasa pelayanan dan jasa penyelenggaraan pariwisata dengan
a. Jenis usaha jasa pariwisata sebagai berikut : i. Jasa biro perjalanan wisata
ii. Jasa agen perjalanan wisata iii. Jasa impresariat
iv. Jasa konsultan pariwisata dan v. Jasa informasi pariwisata b. Usaha sarana pariwisata, dapat berupa :
i. Penyediaan akomodasi
ii. Penyediaan makanan dan minuman
iii. Penydiaan angkutan wisata iv. Penyediaan sarana wisata
v. Penyediaan sarana wisata tirta dan
vi. Penyelenggaraan kawasan pariwisata
2.1.2 Pengertian Kebudayaan
Prof. Kuncoronngrat yang dikutip oleh Djaka Soeryawan (1984:1) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan laku manusa yang diatur oleh tata laku dan harus di dapat melalui belajar tersusun dalam kebudayaan bermansyarakat. Walaupun kebudayaan meliputi seluruh kehidupan manusia (totalitas) namun lebih dikaitkan dengan beberapa aspek yang
berkaitan dengan kesenian atau hal-hal yang berkaitan dengan seni, maka kita sering berbicara tentang seni budaya sebagai bagian dari kebudayaan.
Adapun bentuk-bentuk kesenian/seni menurut Djaka Soeryawan (1984:1) : 1. Seni rupa/arsitektur
2. Seni musik/karawitan 3. Seni tari dan padalangan 4. Seni teater
5. Kepurbakalaan dan permuseuman
6. Sastra dan bahasa 7. Filsafat
Dalam perkembangannya di Indonesia kesenian pada umumnya dibagi menjadi dua bentuk yaitu yang disebut seni tadisional dan seni modern. Pada seni tradisional ditemukan kesenian-kesenian klasik, sedang dalam kesenian modern timbul seni yang disebut kontemporer. Djaka Soeryawan (1984:1) memberikan pendapat mengenai kepurbakalaan atau arkeologi adalah bahan sejarah yang tidak bertulisan diantaranya, bangunan seni pahat/patung, hasil kerajinan, alat-alat kerja, alat-alat angkutan, senjata, perhiasan, baik yang ada dipermukaan bumi atau yang terpendap dalam tanah. Benda-beda yang ada kaitannya dengan kepurbakalaan dan perkembangan sejarah kehidupan bangsa dibagi 3 kelompok yaitu:
1. Beda purbakala yaitu suatu hasil karya pada masa silam berbentuk benda; 2. Benda (peninggalan) sejarah, beda-benda yang ada kaitannya dngan sejarah 3. Benda budaya baik dilihat dari segi struktural dan lain-lain
2.1.3 Pengertian Karakteristik Wisatawan
Karakteristik wisatawan dimaksud adalah yang berkaitan dengan berbagai aspek yang melatarbelakangi perjalanan seseorang (wisatawan) sebagai penentuan dan penyediaan kebutuhan mereka dimasa mendatang sejalan dengan pengalaman mereka ke satu daerah wisata. Beberapa aspek yang perlu diketahui sehubungan dengan perjalanan adalah :
1. Asal wisatawan (negara, benua, daerah) 2. Jenis kelamin/umur
3. Jenis pekerjaan 4. Pendidikan
5. Lama kunjungan / tinggal 6. Belanja wisatawan 7. Model transportasi
8. Frekuensi kunjungan 9. Tujuan perjalanan 10. Pola konsumsi makan 11. Penghasilan wisatawan 12. Jenis cinderamata yang dibeli
2.1.4 Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata
Ambar Teguh Sulistiyani berpendapat, secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar daya yang berarti kekuatan atau kemampuan, dengan demikian maka pemberdayaan dapat dimaknai sebagai satu proses menuju berdaya atau satu proses untuk memperoleh daya/kekuatan/kemampuan atau proses pemberian daya/kekuatan/kemampuan dari pihak yang memilki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya. Inisiatif untuk mengalihkan daya/kekuatan/kemampuan, misalnya pemerintah atau agen-agen pembangunan lainnya (2004:77)
Pemberdayaan masyarakat pariwisata dimaksud adalah sebagai satu pendekatan yang mengikutsertakan dan meletakan masyarakat sebagai pelaku penting dalan berbagai kegiatan pariwisata. Dalam pemberdayaan dikenal beberapa unsur yang menjadi penggrak agar masyarakat mampu berperan aktif antara lain :
1. Partisipasi (participation) 2. Motivasi (motivation) 3. Keberanian (enourage) 4. Perlindungan (protection) 5. Kesadaran (awareness) 6. Berkembang (enabling)
2.1.5 Pariwisata Berwawasan Lingkungan
Pariwisata berwawasan lingkungan dimaksud adalah penyelenggaraan pengusahaan pariwisata alam dilaksanakan dengan memperhatikan :
1. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
2. Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan perkembangan kehidupan ekonomi,
sosial, dan budaya;
3. Nilai-nilai agama, adat istiadat, pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat;
5. Keamanan dan ketertiban masayarakat
Hal tersebut diatas ditunjang pula oleh ketentuan pasal 5 undang-undang No.5 Tahun 1990; bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan :
1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan
2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;
3. Pemanfaatan secara lestari dumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
2.1.6 Kawasan Pariwisata
Chuk Y Gee (1981:29) mengemukakan pengertian mengenai kawasan (resor) sebagai berikut : ” a resort is considered for vocation travelers, as such, it must have a full compliment of amenities, services products and recretional facilities required by guest. The development of the resort similar type of problems, economic, social, and envirovmental-ecountered ini urban development” Satu resor atau kawasan adalah merupakan satu tempat tujuan wisatawan untuk berlibur, didalamnya dilengkapi dngan berbagai fasilitas, pelayanan, produk wisata dan tempat rekreasi secara terpadu yang dibutuhkan wisatawan.
Menurut Surat Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi RI No.59/PW002?MPPT/85, yang dimaksud dengan kawasan pariwisata adalah : “Kawasan pariwisata adalah setiap usaha komersial yang lingkup kegiatannya menyediakan sarana dan prasarana untuk mengembangkan pariwisata”
Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah RI No.67 tahun 1996, tentang penyelenggaraan kepariwisataan disebutkan dalam pasal 96, kegiatan usaha kawasan pariwisata meliputi :
1. Penyewaan lahan yang telah dilengkapi dengan prasarana sebagai tempat untuk
menyelenggarakan usaha pariwisata; 2. Penyewaan fasilitas penduduk lainnya;
3. Penyediaan bangunan-bangunan untuk menunjang kegiatan usaha pariwisata dalam
kawasan pariwisata.
Kawasan wisata dapat diartikan sebagai satu bentuk tempat usaha yang berupaya menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan wisatawan menggunakannya dalam satu kesempatan dan efisiensi waktu kunjungan.
2.1.7 Pemasaran Pariwisata
Pengertian pemasaran pariwisata menurut Salah Wasahb, Phd. Yang diterjemahkan oleh Frans Gromag (1988:156) adalah sebagai berikut : Upaya-upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan oleh organisasi pariwisata nasional dan atau badan-badan usaha pariwisata pada taraf internasional, nasional dan lokal, guna memenuhi kepuasan wisatawan baik secara kelompok maupun pribadi dengan maksud meningkatkan pertumbuhan pariwisata.
2.1.8 Sistem Kepariwisataan
Secara umum untuk merumuskan sistem kepariwisataan yang dapat berfungsi dengan baik, inti dari keseluruhan proses pembangunan dan operasional pariwisata terdiri dari dua komponen utama, yaitu sisi permintaan dan sisi sediaan (Gunn, 1988:69). Sub-bab ini akan menjelaskan secara rinci mengenai sediaan dan permintaan pariwisata, terdiri atas penjelasan mengenai analisis sediaan dan permintaan dalam sistem kepariwisataan, komponen sediaan dan permintaan pariwisata, serta penjelasan mengenai input survey dan analisis dalam pengembangan pariwisata.
2.1.9 Analisis Sediaan dan Permintaan dalam Sistem Kepariwisataan
Pariwisata dapat dipandang sebagai pengalaman manusia, perilaku sosial, fenomena geografis, sumberdaya, bisnis, ataupun industri. Analisis terhadap sistem pariwisata akan dipengaruhi oleh cara pandang tersebut (Smith, 1989:2-7). Kegiatan kepariwisataan dapat dilihat dari konteks kesediaan dan permintaan yang merupakan komponen pasar kepariwisataan (Murphy, 1985:10). Permintaan adalah wisatawan dan segala sesuatu yang melekat pada diri wisatawan yang ditimbulkan oleh berbagai faktor yang kemudian membentuk apa yang disebut dengan citra wisata. Sediaan adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh wisatawan yang dibentuk oleh berbagai faktor yang kemudian hasilnya dapat dikatakan produk wisata. Murphy (1985:10) mengklasifikasikan komponen-komponen pembentuk produk wisata atas fasilitas, aksesibilitas, dan infrastruktur. Komponen pasar pariwisata ini dapat dijelaskan dalam bentuk bagan sebagaimana terlihat pada Gambar 2.1
Gambar 2.1 Komponen Pariwisata
2.1.10 Komponen Sediaan dan Permintaan Pariwisata
Ada banyak literatur yang dapat digunakan dalam merumuskan dan mengidentifikasi komponen-komponen pariwisata. Gunn mengidentifikasi komponen produk pariwisata ke dalam 4 komponen, yaitu atraksi, fasilitas pelayanan, transportasi dan promosi informasi (Gunn, 1988:71). Mill dan Morrison (1992:2) melakukan sedikit kombinasi dengan memasukkan komponen atraksi dan pelayanan ke dalam komponen ”tujuan” (Gunn, 1988:69).
2.1.11 Obyek Wisata
Dalam rangka mensurvey dan mengevaluasi obyek wisata, sangat penting untuk memahami jenis-jenis daya tarik dan aktivitas wisata yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan wisata, dan bagaiman hal ini dapat dikategorikan untuk tujuan analisis (Inskeep, 1991:76). Oleh International Council of Societies of Indusatrial Design (ICSID, 1977), ada beberapa komponen yang dapat menarik kedatangan para wisatawan ke lokasi wisata, atau menarik minat penduduk setempat untuk turut menikmati atraksi yang ditawarkan oleh obyek wisata tersebut, yaitu :
1. Berpesiar, misalnya berkeliling daerah selama berhari-hari dengan karavan, motor, mobil, sepeda, perahu, kapal pesiar, dan sebagainya.
2. Aktivitas, misalnya kegiatan berburu, menembak, memancing, berselancar, mendaki gunung, bersepeda, berperahu kano, ski air, hiking, tea-walk, dan sebagainya.
3. Struktur buatan manusia, misalnya etnis dan agama, bangunan-bangunan yang megah
dan taman-taman yang indah, arsitektur dan arkeologi, galeri dan museum, dan sebagainya.
4. Peristiwa atau acara khusus, seperti misalnya kontes olahraga, pagelaran seni dan budaya, pameran, dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata untuk periode yang singkat (Inskeep, 1991:88)
5. Fisik alam, biasanya merupakan obyek wisata alam seperti gunung, sungai, laut,
hutan, flora dan fauna, danau, pantai, lembah, kawah, dan lain-lain.
2.1.12 Sarana Pariwisata
Sarana pariwisata dalam Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Pantai Jikumerasa Namlea Kabupaten Buru, Provinsi Maluku ini meliputi :
1. Akomodasi
Informasi yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan akomodasi adalah lokasi, jumlah kamar atau jumlah unit akomodasi, kualitas pelayanan, karakteristik khusus dari fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan, rata-rata hunian kamar, rata-rata peluang menginap dalam periode 1 tahun, atau untuk periode musiman. Penilaian terhadap penyediaan akomodasi harus dilakukan baik terhadap rencana fisik dan jenis fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan maupun kualitas pelayanan (Inskeep, 1991:115).
2. Tempat-tempat Makan
Usaha penyediaan makan dan minum merupakan usaha pengelolaan, penyediaan, pelayanan makanan dan minuman, yang dapat dilakukan sebagai bagian dari penyediaan akomodasi ataupun sebagai usaha yang terdiri sendiri (UU No.9 Tahun 1990 Pasal 26). Pertimbangan yang perlu dilakukan dalam penyediaan fasilitas makanan dan minuman antara lain adalah jenis dan variasi makanan yang ditawarkan, tingkat kualitas makanan dan minuman, pelayanan yang diberikan, tingkat harga, tingkat higienis, hal-hal biasanya yang dapat menambah selera makan seseorang, serta lokasi tempat makan, biasanya dikaitkan dengan lokasi akomodasi dan rute perjalanan wisata (Inskeep, 1991:116-117). Selain itu juga masalah sebaran lokasi. Untuk memudahkan operasi penyaluran makanan, sebaiknya disediakan beberapa pusat penyediaan makanan dalam satu kawasan wisata yang melayani tempat-tempat makan di lokasi terdekat dengannya, sehingga memungkinkan bahan makanan dan minuman
dapat diantarkan dalam kondisi yang segar, lezat, dan dingin (Lawson dan Baud-Bovy, 1998:35).
3. Tempat Parkir
Perlu disediakan ruang parkir di luar jalan untuk menangani kendaraan-kendaraan yang berhenti di tempat makan, penginapan, atau tempat belanja, supaya jalan tidak padati oleh kendaraan yang parkir, terutama pada jam-jam ramai (Inskeep, 1991:317). Tempat parkir dapat berupa parkir terbuka atau parkir tertutup, dan berdasarkan letaknya, tempat parkir dapat dibuat bertingkat pada gedung parkir khusus, atau tidak bertingkat (sebidang) pada lahan yang merupakan bagian dari lahan bangunan fasilitas tertentu. Lokasi dan rancangan parkir di luar jalan harus dapat menimbulkan perhatian khusus bagi pemarkir yang akan menggunakannya (Ditjen Perhubungan Darat, 1995:116).
4. Fasilitas Perjalanan
Berbelanja merupakan salah satu aktivitas kegiatan wisata, dan sebagian pengeluaran wisatawan didistribusikan untuk berbelanja. Karenanya fasilitas terhadap aktivitas belanja perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pembangunan pariwisata, bukan hanya sebagai pelayanan wisata, namun juga sebagai obyek wisata yang memiliki daya tarik (Inskeep, 1991:86). Fasilitas dan pelayanan belanja disediakan bagi pengunjung yang ingin membell barang-barang seni, kerajinan tangan, suvenir, barang-barang khas seperti pakaian, perhiasan, dan lain-lain. Penilaian dalarn penyediaan fasilitas belanja ini perlu dilakukan terhadap ketersediaan barang-barang dan pelayanan yang memadai, lokasinya yang nyarnan dan akses yang baik, serta tingkat harga yang relatif terjangkau (Inskeep, 1991:117).
5. Sarana Pergerakan
Keterhubungan antara satu lokasi dengan lokasi lain merupakan komponen penting dalarn sistern kepariwisataan (Gunn, 1988:71). Karenanya untuk menciptakan saling keterhubungan antar berbagai tempat dalam satu kawasan wisata dan untuk memberi kernudahan dalam pergerakan dari satu tempat ke tempat lain, perlu adanya prasarana dan sarana pergerakan yang memadai. Dalam kaitannya dengan kepariwisataan, prasarana dan sarana pergerakan tersebut harus disesuaikan dengan keberadaannya di suatu lokasi wisata. Artinya, elemen-elemen pergerakan tersebut harus memiliki nilai daya tarik dan berperan dalarn mendukung aktivitas wisata. Sarana transportasi yang menarik serta mengandung nilai historis dan memiliki bentuk-bentuk khusus, dapat dijadikan sebagai obyek dan daya tarik wisata (Inskeep, 1991:90).
6. Fasilitas umum
Selain sarana yang telah disebutkan di atas, juga diperlukan fasilitas umum sebagal sarana pelengkap. Dalam studi ini fasilitas umum yang akan dikaji meliputi fasilitas-fasilitas umum yang biasa tersedia di tempat-tempat rekreasi di Indonesia, yaitu :
a. Telepon umum
b. WC umum
c. Tempat ibadah
2.1.13 Jasa Pariwisata
Jasa pariwisata, sebagaimana jasa lainnya memiliki sifat khas, yaitu tidak bisa ditimbun dan akan dikonsumsi pada saat Jasa tersebut dihasilkan (Yoeti, 1996:80). Dari sifat ini dapat pula dikatakan bahwa jasa pariwisata adalah pelayanan wisata yang diberikan kepada wisatawan. Analisis terhadap pelayanan wisata merupakan hal penting karena pengeluaran yang dihabiskan oleh wisatawan untuk membayar pelayanan memberikan input utama dalam analisa ekonomi kepariwisataan (Gunn, 1988:71). Jasa Pariwisata meliputi jasa perencanaan, jasa pelayanan, dan Jasa penyelenggaraan pariwisata (UU No. 9 Tahun 1990 Pasal 8). Komponen pelayanan jasa wisata yang akan dikaji dalam studi ini meliputi:
2.1.13.1 Biro Perjalanan Wisata (Tour and Travel)
Biro perjalanan wisata diperlukan untuk memudahkan wisatawan dalam mendapatkan layanan informasi, transportasi, dan juga pemandu wisata, sebagai suatu paket perjalanan wisata. Biro perjalanan wisata melibatkan agen-agen khusus yang menawarkan program-program tur wisata, sekaligus menangani kebutuhan wisatawan, misalnya dalam hal pelayanan transportasi, tiket perjalanan, pemesanan hotel, dan pelayanan di dalam dan di luar lingkup travel itu sendirl (Inskeep, 1991:116). Fungsi biro periklanan wisata, atau kadang disebut juga dengan agen travel, salah satunya adalah sebagai organisator. Disini agen travel berusaha menciptakan daerahdaerah tujuan baru dan mengorganisir orang-orang untuk melakukanperjalan wisata ke daerah tujuan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Tailor-made, agen travel menyiapkan suatu rencana tur atas permintaan langganannya.
2. Ready-made tour, agen travel membuat rencana tur untuk dijual kepada langganan
yang sama sekali belum dikenalnya dan dijual secara bebas.
3. Fungsi lain dan biro perjalanan wisata adalah sebagai perantara. Dalam. Hal ini travel agen berperan sebagai:
a. Sumber informasi bagi calon wisatawan tentang daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi serta sarana wisata yang tersedia di dalamnya,
b. Memberi saran pada calon wisatawan tentang macam-macam daerah tujuan dan
program yang akan diikuti,
c. Menyiapkan transportasi serta pengurusan barang-barang yang akan dibawa,
d. Memberikan pelayanan setelah sampai, di tujuan wisata seperti membantu
langganan dalam reservasi penginapan, merencanakan tur, mengantar ketempat penukaran uang dan bank bagi wisatawan asing, dan sebagainya (Yoeti,1996:119-123).
2.1.13.2 Pusat Informasi
Dalam. pengelompokan komponen-komponen pariwisata yang dibuat oleh Gunn, informasi dan promosi merupakan pelayanan yang sejalan. Dengan adanya informasi, orang dapat memberikan penilaian yang berkaitan dengan pengalaman dari perjalanan wisata yang akan mereka lakukan, dan penilaian ini akan mempengaruhi keputusan pilihan tujuan wisata mereka (Gunn, 1988:71). Karenanya untuk menarik minat orang untuk berwisata ke suatu tempat, informasi yang diberikan harus memberikan nilai promosi yang menggambarkan daya tarik obyek wisata. Untuk memudahkan promosi, dapat digunakan jenis-Jenis material promosi seperti brosur, booklets, guide-book, folder, leaflets, dan sebagainya (Yoeti, 1996:192-193). Material promosi ini juga bisa disediakan oleh biro perjalanan wisata untuk menciptakan koordinasi dan sinkronisasi antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya.
2.1.13.3 Penukaran uang dan fasilitas keuangan
Untuk pariwisata yang memiliki target pasar mancanegara, adanya fasilitas penukaran uang terntu merupakan hal penting untuk mensolusikan masalah perbekalan mata uang antar negara. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyediaan layanan penukaran uang adalah jenis mata uang yang harus disediakan. Untuk itu perlu diadakan evaluasi terhadap wisatawan mancanegara, dari negara mana saja mereka berasal (Inskeep, 1991:118).
2.1.13.4 Penyediaan perlengkapan wisata
Salah satu bagian yang cukup penting dari permintaan pariwisata adalah produkproduk dan pelayanan yang bersifat eceran. Obyek wisata seperti memancing, berkermah, atau olahraga air, memerlukan perlengkapan khusus. Dan pengunjung biasanya tidak membawa perlengkapan yang mereka butuhkan sampai mereka tiba di lokasi wisata
(Gunn, 1988:134-135). Karena itu perlu disediakan perlengkapan wisata dalam penyelenggaraan pariwisata, agar memudahkan pengunjung untuk melakukan aktivitas wisata.
2.1.13.5 Pemandu Wisata
Untuk bentuk-bentuk tertentu, dalam sistem kepariwisataan mungkin memerlukan jenis-jenis fasilitas dan pelayanan wisata khusus. Untuk tiap area dan jenis pariwisata, fasilitas dan pelayanan yang spesifik perlu diidentifikasikan (Onskeep, 1991:119). Berkaitan dengan wilayah studi yang memiliki daya tarik wisata berupa aktivitas jelajah cagar alam, diperlukan suatu jasa pemandu wisata yang berperan sebagai penunjuk jalan bagi pengunjung yang melakukan aktivitas penjelajahan tersebut.
2.1.13.6 Pengawas Pantai
Pertimbangan terhadap perlunya penyediaan pengawas pantai ini mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dalam Keputusan Dirjen Pariwisata (1991, pasal 2) yang menyatakan bahwa setiap usaha pariwisata yang memilki kawasan/resor dan obyek wisata di laut, pantai, darat termasuk danau, sungai, hotel berbintang/hotel melati yang memilki kolam renang, kesemuanya digolongkan mengandung resiko kecelakaan tinggi yang dapat menimpa wisatawan/pemakai jasa sehingga diwajibkan menyediakan tenaga pemandu keselamatan.
2.1.14 Prasarana dan Sarana Lingkungan
Prasarana yang memadai merupakan sesuatu yang penting bagi keberhasilan pengembangan pariwisata, dan pada umumnya, juga menjadi faktor kritis di negara atau wilayah yang belum berkembang, yang seringkali memiliki keterbatasan untuk infrastruktur (Heraty dalam Inskeep, 1991:119). Prasarana dasar yang melayani komunitas penduduk lokal di suatu area seringkali juga bisa melayani kegiatan pariwisata hanya dengan sedikit penambahan jumlah pelayanan. Demikian sebaliknya prasarana yang dibangun untuk kegiatan pariwisata dapat melayani kebutuhan.
Penduduk lokal secara umum (Eukeep, 1991:120). Prasarana kegiatan pariwisata yang akan dibahas dalam studi ini mencakup:
1. Jalan 2. Air bersih 3. Air buangan
5. Drainase
6. Sarana kegiatan nelayan.
2.1.15 Wisata Alam
Gunn (1994) mengutarakan wisata alam adalah kegiatan wisata dengan atraksi utamanya adalah sumberdaya alam yang terdiri dari 5 bentukan dasar alam yaitu : air, topografi, flora, fauna, dan iklim. Bentuk sumberdaya alam yang sangat umum untuk dikembangkan adalah air, seperti telaga warna, danau, laut, sungai, air terjun, dan sebagainya. Potensi alam seperti daerah yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu dan mengalami modifikasi lanskap akan sangat menarik bagi wisata. Flora dan fauna endemik yang sangat bervariatif banyak menarik wisatawan, bentuk wisata mulai dari kegiatan viewing, watching, hingga berburu (hunting) hewan. Bahkan perbedaan iklim pun dapat membuka peluang industri pariwisata.
Harold (1997) mengutarakan pariwisata alam mencakup kegiatan memasarkan bentang alam dan kehidupan liar kepada pengunjung dan wisatawan. Taman Nasional dan kawasan lindung merupakan sumber daya utama bagi pariwisata alam, yang semakin meningkat arti ekonominya, karena menghasilkan devisa dan manfaat ekonomi bagi pelestarian habitat alam dan spesies yang hidup didalamnya. Menurut Gunn (1994) peningkatan kepedulian terhadap sumberdaya alam secara universal menyebabkan timbulnya bentuk kegiatan wisata yang berbasis kepada alam. Salah satu bentuk kegiatan wisata alam tersebut adalah ekowisata atau ecotourism. Barnesetal (1992) mengutarakan kegiatan ekowisata dapat di identifikasikan sebagai penggunaan daerah alam oleh pengunjung berjumlah kecil yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dengan tujuan untuk mempelajari suatu pengalaman baru. Menurut Jacobs (1995) ekowisata adalah salah satu bentuk pendekatan kegiatan wisata yang bertujuan untuk meminimalkan kerusakan dan menggunakan pendekatan masyarakat lokal. Motivasi dalam melakukan perjalanan wisata adalah untuk kesenangan, kekuasaan, pengalaman spiritual, maupun komersial.
2.1.16 Wisata Budaya
Menurut Gunn (1994) wisata budaya adalah kegiatan wisata dengan atraksi utamanya adalah sumberdaya budaya. Kategori sumberdaya budaya meliputi tapak prasejarah, tapak bersejarah, tempat berbagai etnik dan tempat suatu pengetahuan dan pendidikan, lokasi industri, pusat perbelanjaan, dan pusat bisnis, tempat pementasan kesenian, museum, dan galeri, tempat hiburan, kesehatan, olah raga dan keagamaan.
Bentuk kegiatan wisata yang dapat dikembangkan dari sumberdaya wisata budaya antara lain dengan membuat interpretasi pengunjung dan melakukan kunjungan pada taman pra-sejarah dan perlindungan, pusat kebudayaan, taman bersejarah, festival kebudayaan, festival pendidikan, pusat konvensi, pusat kesehatan, lain sebagainya. Berdasarkan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS, 1999) warisan/peninggalan (heritage) merupakan konsep yang luas dan meliputi baik lingkungan alam dan lingkungan budaya. Konsep tersebut mencakup lanskap, tempat bersejarah, tapak dan lingkungan buatan, maupun keanekaragaman hayati, hasil koleksi, masa lalu dan kegiatan kebudayaan yang masih dilakukan, pengetahuan dan pengalaman kehidupan. Warisan merupakan hasil rekaman dan ekspresi dari suatu proses panjang pengembangan sejarah, memperlihatkan inti dari keragaman bangsa, wilayah, identitas penduduk asli dan lokal dan merupakan bagian yang integral dengan kehidupan modern. Warisan tertentu dari setiap komunitas merupakan hal tak dapat digantikan dan sangat dasar penting untuk pengembangan sekarang dan masa depan, merupakan titik referensi dinamik instrumen positif untuk pertumbuhan dan perubahan. Disebutkan pula bahwa tiga alasan melakukan kegiatan wisata budaya, yaitu : memperoleh pengalaman wkatu atau tempat, belajar, dan membagi pengetahuan dengan orang lain. Berdasarkan ICOMOS (1999) kegiatan wisata memberikan pengalaman pribadi, tidak hanya dari hasil yang diperoleh dari masa lalu tetapi juga dari kehidupan kontemporer dan masyarakat lain.
2.1.17 Komponen Pengembangan Pariwisata
Dalam pengembangan pariwisata, untuk memenuhi keinginan wisatawan agar memperoleh kepuasan dalam rangka perjalanan wisatanya, diperlukan pelayanan dan fasilitas sejak keberangkatan, ditengah perjalanan serta ditempat tujuan. Pelayanan dimaksud bisa melibatkan sektor-sektor dalam berbagai bidang, baik yang berdiri sendiri atau satu rangkaian yang mencakup berbagai bidang sehingga merupakan suatu paket atau suatu industri (pariwisata), seperti transportasi, akomodasi, restoran, katering, toko-toko cinderamata, pos, dan telekomunikasi (Kaelany HD, 2002).
Untuk itu pariwisata harus dilihat sebagai sistem keterkaitan antara komponen permintaan (demand) dan sediaan (supply). Komponen permintaan terdiri atas wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara, sedangkan komponen sediaan pariwisata terdiri atas aksesibilitas, obyek dan daya tarik wisata, fasilitas dan utilitas, keamanan, dan komponen lainnya.
Wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata terdiri dari para wisatawan menginap dan tidak menginap. Besarnya proporsi antara pengunjung yang menginap dan tidak mnginap dipengaruhi oleh aksesibilitas daerah wisata tersebut terhadap pasar/daerah asal wisatawan, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi, jumlah dan keanekaragaman obyek dan daya tarik wisata (ODTW), ketersediaan fasilitas akomodasi dan lain-lain.
Wisatawan yang berkunjung dapat juga dibagi menjadi wisatawan domestik (nusantara) dan wisatawan mancanegara. Jumlah masing-masing jenis wisatawan sangat dipengaruhi oleh karakteristik produk wisata yang dikembangkan di daerah tersebut.
Prosentase antara wisatawan mancanegara yang datang langsung kedaerah tersebut dengan yang kedatangannya melalui daerah lain dipengaruhi oleh tingkat kemudahan pencapaian daerah tersebut dari negara lain, apakah mempunyai pelabuhan udara atau pelabuhan laut sebagai pintu gerbang untuk masuk ke daerah wisata tersebut.
2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan fungsi dari jarak atau tingkat kemudahan untuk mencapai daerah wisata dengan berbagai kawasan tujuan wisatanya. Dalam pariwisata konsumen (wisatawan) harus datang ke daerah dimana terdapat produk wisata untuk mengkonsumsi produk-produk wisata tersebut terutama obyek dan daya tarik wisata. Oleh karena itu tingkat kemudahan pencapaian ke daerah wisata tersebut dari daerah dan negara lain asal wisatawan akan mempengaruhi perkembangan daerah wisata tersebut. Jarak dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi ke daerah wisata tersebut juga akan mempengaruhi jumlah kedatangan wisatawan. Kenyamanan selama perjalanan menuju daerah wisata dan kawasan tujuan wisata tersebut harus diperhatikan.
2.1.18 Obyek dan Daya Tarik Wisata
Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau mendorong seseorang meninggalkan daerah asal untuk mengunjungi suatu daerah. ODTW yang dapat dikembangkan di suatu daerah wisata tergantung pada potensi yang terdapat didalamnya antara lain berupa potensi sumber daya alam dan potensi budaya. ODTW yang akan dikembangkan bisa terdiri dari site (tapak) dan event (kegiatan).
Daya tarik wisata adalah kekuatan untuk mendatangkan wisatawan. Daya tarik merupakan padanan attraction yang dapat didasarkan pada adanya obyek-obyek wisata. Suatu
obyek mempunyai potensi menjadi daya tarik, tetapi daya tarik tersebut baru terbentuk bila obyek tadi ditunjang oleh unsur-unsur lain seperti aksesibilitas dan fasilitas penunjang (Pusat Penelitian Kepariwisataan Lembaga Penelitian ITB, 1997).
Daya tarik tidak tercipta hanya oleh suatu obyek dan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung saja, namun lingkungan dimana obyek tersebut berada sangat menentukan apakah obyek dan segala penunjangnya dapat menjadi daya tarik. ODTW dapat berupa alam, budaya, tata hidup dan sebagainya, yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi atau menjadi sasaran bagi wisatawan. Adapun yang dimaksud daya tarik wisata adalah sesuatu yang dapat dilihat atau disaksikan, seperti danau, pemandangan, pantai, gunung, candi, monumen, dan lain-lain (Yoeti, 1985). Elemen dasar dari komponen sumberdaya alam yang dapat dikembangkan menjadi ODTW terdiri atas iklim, udara, bentang alam, flora dan fauna, pantai, pantai, keindahan alam, keanekaragaman biota laut, pertanian, dan lain-lain. Berbagai ragam kombinasi dari elemen sumberdaya alam dapat membentuk suatu lingkungan yang dapat menarik wisatawan. Kualitas sumberdaya alam harus selalu dijaga untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan permintaan untuk pariwisata. Komponen atau kekayaan budaya yang memungkinkan untuk menarik wisatawan datang berkunjung ke daerah wisata meliputi kesenian, pola kehidupan sosial masyarakat, daya tarik sosial budaya yang lainnya.
2.1.19 Perencanaan Pariwisata
Menurut Gunn (1994) perencanaan wisata yang baik dapat membuat kehidupan masyarakat lebih baik, meningkatkan ekonomi, melindungi dan sensitif terhadap lingkungan, dan dapat diintegrasikan dengan komuniti dengan dampak negatif minimal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan perencanaan yang lebih baik dan terintegrasi pada semua aspek pengembangan wisata. Keberadaan suatu aset sumberdaya alam dan linkungan memberi suatu wilayah kemampuan atau peluang untuk dikembangkan sebagai daerah wisata. Penentuan kawasan wisata sangat erat dengan wilayah dari lokasi atraksi yang menjadi andalan utama tersebut, sehingga perlu dilakukan suatu cara untuk penetapannya.
Gunn (1979), diacu dalam Kelly (1998) mengutarakan komponen struktural perencanaan wisata adalah permintaan dan suplai. Permintaan merupakan besarnya permintaan oleh masyarakat untuk melakukan wisata, sedangkan suplai terdiri dari empat komponen yaitu transportasi, atraksi, pelayanan, informasi, dan promosi. Kelly (1998) mengutarakan elemen dasar yang harus diperhatikan dalam perencanaan adalah masyarakat lokal, pengunjung, dan daerah kunjungan. Masyarakat lokal selain harus dilibatkan sebagai bagian dari atraksi yang akan diberikan juga harus diperhatikan privasi mereka. Kualitas para
pengunjung lebih menjadi tolak ukur kesuksesan dari suatu daerah tujuan wisata dibanding dari kuantitas atau jumlah pengunjung. Daerah kunjungan harus memperhatikan atraksi dan pelayanan yang akan dapat meningkatkan pengalaman dan kepuasan pengunjung. Lebih lanjut dalam Gunn (1994) diutarakan bahwa perencanaan untuk wisata harus dilakukan pada tiga skala, yaitu :
1. Skala tapak (site scale), yang telah banyak dilakukan pada tapak dengan luasan
tertentu seperti resort, marina, hotel, taman dan tapak wisata lainnya.
2. Tujuan (destination scale), dimana atraksi-atraksi dan obyek wisata dikaitkan dengan keberadaan masyarakat sekitar, pemerintah daerah, dan sektor swasta yang dilibatkan. 3. Wilayah atau bahkan negara (region scale), dimana pengembangan lebih terarah pada
kebijakan tata guna lahan yang terkait dengan jaringan transportasi, sumberdaya yang harus dilindungi dan dikembangkan sebagai daerah yang sangat potensial.
Perencanaan wisata pada kawasan yang dilindungi diperlukan untuk menghindari dampak samping yang tidak diinginkan, seperti pandangan penduduk lokal mengenai kawasan tersebut ditetapkan bagi keuntungan orang asing bukan untuk mereka, rusaknya kawasan, keuntungan ekonomi tidak sesuai harapan sehingga dibuat bentuk alternatif yang tidak menjaga kelestarian kawasan, serta pembangunan tidak tepat yang dilakukan pemerintah. Pengembangan dan perencanaan di kawasan taman nasional adalah salah satu upaya untuk meningkatkan keberdaan dan pemanfaatan sumberdaya alam (Mackinnon et al, 1993).
2.1.20 Implikasi Pariwisata terhadap Perekonomian
Keberhasilan dari suatu kegiatan pariwisata salah satunya dapat dipandang dari sisi perekonomian. Artinya, sejauh mana pariwisata memberikan implikasi positif di bidang perekonomian dapat dimaksimumkan dan sejauh mana dampak negatifnya dapat diantisipasi, dikurangi bahkan dihilangkan. Adapun dampak positif yang diberikan oleh kegiatan pariwisata (Soekadijo, 1995) adalah memberikan pendapatan yang besar (devisa dan pajak) bagi suatu negara yang mengembangkan pariwisata sebagai industri. Kemudian, memberikan “multiplier effect” yang besar, misalnya : bagi pekerja transport, petani sebagai supplier sayuran dan buah-buahan serta nelayan sebagai supplier ikan yang dikonsumsi hotel, atau tempat peristirahatan lainnya, pegrajin souvenir dapat memasarkan hasil kerajinannya, dan lain-lainnya.
Bentuk-bentuk multiplier effect yang diharapkan muncul dari kegiatan pariwisata ini yaitu kegiatan yang dapat dan mampu diperani oleh penduduk disekitar kawasan wisata. Semuanya itu diartikan sebagai terciptanya lapangan kerja baru, sebagai upaya peningkatan
ekonomi dan standar hidup masyarakat lokal serta pembangunan ekonomi regional maupun nasional. Sedangkan dampak negatifnya adalah terpuruknya ekonomi suatu daerah yang menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan dalam PAD karena dipengaruhi oleh ekonomi dan keamanan global dalam suatu negara. Kemudian, ketidaksiapan suatu daerah yang memiliki banyak obyek dan daya tarik wisata (ODTW) dalam pengembangannya mengakibatkan terjadi banyak utang daerah dan kebocoran yang dipengaruhi oleh letak geografis, struktur perekonomian, ukuran negara, dan lainlain.
Pengaruh langsung dampak ekonomi pada kawasan wisata adalah pengeluaran wisatawan. Wisatawan mengeluarkan uang untuk penggunaan makanan, minum, belanja, pakaian, photografi, pertunjukan dan souvenir. Keuntungan yang ditimbulkan dengan pembangunan paiwisata adalah menyediakan lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah (Mc Intosh, 1990, Gunn, 1998). Salah satu peluang bagi masyarakat sekitar suatu obyek wisata alam adalah kesempatan kerja pada obyek wisata baik sebagai staff maupun tenaga buruh kerja. Dikembangkannya suatu obyek wisata akan memberi dampak positif bagi kehidupan perekonomian masyarakat yaitu membuka kesempatan berusaha seperti penyediaan makanan, minuman dan usaha transportasi baik tradisional maupun konvensional (Supriana, 1996). Disamping terbukanya kesempatan usaha tersebut diharapkan terjadi interaksi positif antara masyarakat dan obyek wisata alam. Peran serta masyarakat dapat terwujud oleh karena manfaatnya dapat secara langsung dirasakan melalui terbukanya kesempatan kerja dan usaha jasa wisata yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Partisipasi masyarakat sekitar obyek wisata alam dapat berbentuk usaha dagang atau pelayanan jasa baik di alam maupun di luar kawasan obyek wisata, antara lain : jasa penginapan, penyediaan/usaha warung makanan dan minuman, penyediaan toko souvenir/cindera mata dari daerah tersebut, jasa pemandu/penunjuk jalan, menjadi pengawas perusahaan/penguasaan wisata alam dan lain-lain (Supriana,1996).
Pariwisata sebagai penggerak sektor ekonomi dapat mendorong kegiatan sektorsektor ekonomi yang lain sehingga dapat menciptakan keterkaitan baik ke depan maupun ke belakang. Menurut Inskeep (1991) keuntungan ekonomi secara langsung dari pariwisata adalah sebagai katalisator pembangunan atau sektor ekonomi lain seperti pertanian, nelayan, konstruksi, kerajinan tangan, melalui suplai bahan makanan, pelayanan dan fasilitas prasarana yang lain, jasa-jasa untuk wisatawan yang disediakan secara nasional, regional, dan untuk kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan dampak ekonomi positif dari pariwisata di atas maka peranan pariwisata dapat menyumbang terhadap pembangunan daerah menurut Rosyidie (1995), pariwisata dapat menyumbang terhadap pembangunan wilayah melalui peran positif berikut :
1. Dengan meningkatkan pendapatan, pariwisata meningkatkan pemenuhan dari
kebutuhan dasar penduduk setempat, ditingkat nasional melalui perolehan devisa pariwisata mengurangi ketergantungan ekonomi luar.
2. Pariwisata mengurangi ketidakmerataan pendapatan antar wilayah.
3. Menciptakan pekerjaan dengan keramah tamahan dan sektor transportasi, pariwisata dapat mengurangi masalah pengangguran.
4. Pariwisata dapat mendorong sektor yang lain, seperti menaikkan produksi pertanian lokal, meningkatkan produksi perikanan, merangsang sektor industri dan bangunan. 5. Pariwisata meningkatkan prasarana dan sarana untuk penduduk setempat.
6. Pariwisata meningkatkan akses terhadap pusat pasar oleh jaringan jalan regional dan negara.
2.1.21 Ananlisis SWOT
Analisis SWOT merupakan analisis yang menggunakan metoda analisis deskriftif kualitatif. Dalam menganalisisnya menggunakan interpretasi dari apa-apa yang ada disuatu daerah baik dari potensi, masalah, kendala dan tantangan yang nantinya dapat membantu dalam pembuatan konsep dan rencana.
2.1.22 Analisis Cluster
Analisis cluster merupakan pengelompokan suatu obyek atau variabel menjadi satu atau beberapa kelompok yang mempunyai kesamaan dalam satu kelompok. Pengelompokan/pemisahan dilakukan berdasarkan similarity (kesamaan) antarobyek similaritiy (kesamaan) diperoleh dengan meminimalkan jarak antarobyek dalam kelompok (within cluster) dan memaksimalkan jarak antar kelompok (between cluster). Terdapat dua metode pembentukan cluster yang sering digunakan, yaitu :
1. Metode hierarki (Hierarchical Methods) 2. Metoda partisi (Partitioning Methods)
Perbedaan antara kedua metoda tersebt adalah dalam pengalokasian obyek ke dalam cluster. Pada metoda hierarki, jika suatu obyek dikelompokkan ke dalam suatu cluster, maka obyek tersebut akan berada di dalam cluster tersebut, sehingga ketika obyek tadi akan dikelompokkan dengan obyek lain, clusternya akan ikut dikelompokkan pula.
Pada metoda partisi, posisi obyek di dalam suatu cluster tidaklah tetap. Artinya, meskipun suatu obyek telah masuk ke dalam suatu cluster, obyek tersebut dapat mengalami relokasi (pengelompokkan kembali) ke dalam cluster lain apabila ternyata karakteristik awal pengelompokkan tidak akurat.
2.2 TINJAUAN KEBIJAKAN
2.2.1 Kabupaten Buru Dalam Kebijakan Penataan Ruang Nasional (RTRWN)
Arahan pembangunan nasional Indonesia ditekankan pada pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Pembangunan di sektor yang lain pada dasarnya merupakan penunjang bagi peningkatan perekonomian nasional dan peningkatan kondisi sosial masyarakat. Di bidang fisik, pembangunan fisik pada dasarnya merupakan penunjang dari arahan kedua pembangunan yang telah disebutkan yaitu pertumbuhan ekonomi dan sosial. Dengan kata lain untuk tercapainya arahan kebijaksanaan pembangunan sosial dan ekonomi perlu adanya pembangunan fisik.
Berdasarkan hal tesebut maka pembangunan fisik perlu diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Arahan pembangunan fisik nasional pada dasarnya ditekankan pada pembangunan fisik yang bersifat spasial/keruangan. Strategi nasional pengembangan pola tata ruang akan dikembangkan melalui pendekatan wilayah dengan memperhatikan sifat lingkungan alam dan lingkungan sosial di masing-masing daerah. Rencana Tata Ruang daerah yang disusun atas dasar strategi tersebut akan memegang peranan yang penting dalam koordinasi pembangunan di daerah, sehingga perlu dimantapkan dan disempurnakan serta selalu diikuti ketentuan-ketentuannya. Perencanaan tata ruang sendiri dilaksanakan dalam beberapa tingkatan sesuai dengan lingkup wilayah dan kedalaman tinjauan pemanfaatan ruang. Pada tingkat tertinggi perencanaan tata ruang dilakukan dalam ruang lingkup nasional atas dasar tinjauan pemanfaatan ruang secara makro. Hasilnya diwujudkan dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang selanjutnya diwujudkan lagi dalam lingkup wilayah yang lebih kecil hingga ke dalam ruang lingkup kawasan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur dan pola ruang.
2.2.1.1 Kebijakan Struktur Ruang
1. peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhirarki;
2. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional
Rencana struktur ruang wilayah nasional meliputi : 1. Sistem perkotaan nasional;
2. Sistem jaringan transportasi nasional; 3. Sistem jaringan energi nasional;
4. Sistem jaringan telekomunikasi nasional; 5. Sistem jaringan sumber daya air.
1. Sistem Perkotaan Nasional
Sistem perkotaan nasional terdiri atas PKN, PKW, dan PKL. PKN dan PKW ditetapkan dalam PP no 26 tahun 2008, PKL ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi berdasarkan usulan pemerintah kabupaten/kota, setelah dikonsultasikan dengan menteri. RTRWN juga mengatur penentuan wilayah-wilayah yang merupakan kawasan yang memiliki sifat strategis bagi kepentingan nasional (PKSN) seperti kepentingan ekosistem, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial budaya, kawasan lindung dan kawasan tertinggal. yaitu wilayah di perbatasan.
PKN ditetapkan dengan kriteria :
1. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan
ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional;
2. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan atau
3. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.
PKW ditetapkan dengan kriteria :
1. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan
ekspor-impor yang mendukung PKN;
2. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala provinsi atau yang melayani beberapa kabupaten; dan atau
3. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi skala provinsi atau melayani beberapa kabupaten.
1. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala kabupaten atau beberapa kecamatan;
2. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi skala kabupaten atau beberapa kecamatan.
Berdasarkan RTRWN, untuk provinsi Maluku, kota Ambon merupakan PKN dan untuk kabupaten Buru yang termasuk dalam struktur perkotaan nasional adalah di Kota Namlea (PKW) dengan tahap pengembangan II yaitu tahun 2015 – 2019 dengan program utama pengembangan dan peningkatan fungsi.
2. Sistem Jaringan Transportasi Nasional
Sistem jaringan transportasi nasional menurut RTRWN terdiri atas sistem jaringan transportasi darat, sistem jaringan transportasi laut dan sistem jaringan transportasi udara. Rencana pengembangan sistem tarnsportasi yang akan dikembangkan untuk provinsi maluku adalah jaringan jalan lintas dan penyebrangan kepulauan Maluku yang direncanakan dilaksanakan tahun 2008 – 2019.
3. Sistem Jaringan Energi Nasional, Sistem Jaringan Telokomunikasi Nasional Dan Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Sistem jaringan energi nasional terdiri dari jaringan pipa minyak dan gas bumi, pembangkit listrik dan jaringan transmisi tenaga listrik. Sistem jaringan telekomunikasi nasional terdiri dari jaringan teresterial dan jaringan satelit. Berdasarkan RTRWN kebijakan yang ditetapkan dalam pengembangan sistem energi nasional adalah pengembangan jaringan transmisi di kepulauan maluku yang direncanakan dilakukan dalam periode 2015 – 2024.
Kebijakan pengembangan sistem telekomunikasi nasional untuk provinsi Maluku adalah pengembangan jaringan pelayanan feeder dan pulau-pulau di Nusa Tenggara-Maluku Papua yang akan dilaksanakan dalam periode 2020 – 2024, pelayanan feeder di pulau-pulau Maluku- Maluku Utara- Papua Barat – Papua yang akan dilaksanakan pada periode 2015 – 2019. Sistem jaringan air nasional di provinsi Maluku terdiri dari wilayah sungai:
1. pulau Buru;
2. pulau Ambon – Seram;
3. Kepulauan Kei – Aru;
4. Kepulauan Yamdena – Wetar.
Keempat wilayah sungai tersebut memiliki fungsi strategis nasional dengan program utama konservasi sumber daya air, pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air.
2.2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional
Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang meliputi : 1. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung; 2. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya;
3. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis nasional.
1. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung Kawasan lindung nasional terdiri atas :
1. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yang
mencakup kawasan hutan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air;
2. kawasan perlindungan setempat mencakup sempadan pantai, sungai, kawasan sekitar
danau atau waduk dan ruang terbuka hijau kota;
3. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang mencakup : kawasan
suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, suaka margasatwa dan margasatwa laut, cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional dan taman nasional laut, taman wisata alam dan taman wisata laut, taman hutan raya, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;
4. Kawasan rawan bencana alam terdiri atas kawasan rawan tanah longsor, kawasan
rawan gelombang pasang dan kawasan rawan banjir;
5. kawasan lindung geologi terdiri atas kawasan cagar alam geologi, kawasan rawan
bencana alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap tanah;
6. kawasan lindung lainnya, mencakup cagar biosfer, ramsar, taman buru, kawasan
perlindungan plasma nutfah, terumbu karang, dan kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi.
Dalam kebijakan RTRWN kawasan lindung yang terdapat di Provinsi Maluku meliputi :
1. Suaka margasatwa: Pulau Baun, Pulau Kobror dan tanimbar;
2. cagar alam : Pulau Nustaram, Pulau Nuswotar, Masbait, Daab, Pulau; Larat, Bekau
Huhun, Tafermaar, Gunung Sahuwai, Masarete, Tanjung Sial; 3. Cagar alam laut: Kepulauan Aru Tenggara, Laut Banda;
4. Taman nasional Manusela;
5. taman wisata alam laut banda, p. kasa, p. Masegu dan p. Pombo.
Strategi pengembangan untuk kawasan lindung meliputi rehabilitasi dan pemantapan fungsi kawasan lindung nasional, pengembangan pengelolaan kawasan lindung nasional,
rehabilitasi dan pemantapan fungsi kawasan hutan lindung nasional, rehabilitasi dan pemantapan fungsi serta pengembangan pengelolaan kawasan taman buru nasional.
2. Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya
Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan kawasan budi daya terdiri atas kawasan peruntukan hutan produksi, hutan rakyat, pertanian, perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman dan peruntukan lainya.
Kebijakan pengembangan kawasan budi daya meliputi :
1. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya;
2. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung
dan daya tampung lingkungan.
Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya meliputi :
1. menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk
pemanfaatan sumber daya lam di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah;
2. mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta prasaran
secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;
3. mengembnagkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik, pertahanan dan
keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi;
4. mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian pangan untuk
mewujudkan ketahanan pangan nasional;
5. mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk
meningkatkan daya saing dan mewujudkan skal ekonomi, dan
6. mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi
tinggi di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan/atau landas kontinen untuk meningkatkan perekonomian nasional.
Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi :
1. membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;
2. mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan mengoptimalkan
pemanfaatan ruang secara vertikal dan kompak;
3. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% dari luas
kawasan perkotaan;
4. membatasi perkembangan kawasn terbangun di kawasan perkotaan besar dan
metropolitan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya, dan
5. Mengembangkan kegiatan budi daya yang dapat mempertahankan keberadaan
pulau-pulau kecil.
3. Kebijakan Pengembangan Kawasan strategis nasional
Kawasan strategis nasional adalah kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis
nasional dan disebut sebagai kawasan andalan. Kawasan strategis nasional
ditetapkanberdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pendayagunaan SDA dan/atau teknologi dan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Kawasan andalan terdiri atas kawasan andalan darat dan kawasan andalan laut.
Berdasarkan RTRWN di propinsi Maluku terdapat 5 kawasan andalan yaitu:
1. Kawasan seram dengan sektor unggulan pertanian, kehutanan, perkebunan, perikanan
dan pariwisata;
2. Kawasan Kei-Aru – Pulau Wetar-Pulau Tanimbar dengan sektor unggulan perikanan,
pertanian, kehutanan, perkebunan dan industri;
3. Kawasan Buru dengan sektor unggulan perkebunan, perikanan, pertanian dan
pariwisata;
4. Kawasan andalan laut Banda dan sekitarnya dengan sektor unggulan perikanan,
pertambangan dan pariwisata;
5. Kawasan andalan laut arafuru dan sekitarnya dengan sektor unggulan perikanan laut, pertambangan dan pariwisata.
Kebijakan pengembangan kawasan andalan di Pulau Buru menurut RTRWN untuk sektor perkebunan adalah pengembangan kawasan yang direcanakan pada periode 2025 – 2027. Untuk sektor perikanan berupa pengembangan kawasan yang direncanakan pada periode 2020 – 2024. Untuk sektor pertanian kebijakan pengembangan berupa pengembangan
dan kawasan yang direncanakan pada periode 2020 – 2024, dan untuk pariwisata kebijakan berupa pengembangan kawasan yang direncanakan pada periode 2015-2019.
Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional meliputi :
1. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk
mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional;
2. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara
3. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian
nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional;
4. Pemanfaatan SDA dan/teknologi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat;
5. Pelestarian dan peningkatan sosial budaya bangsa;
6. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer dan ramsar, dan
7. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat
perkembangan antarkawasan.
2.2.2 Kabupaten Buru Dalam Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Maluku Kebijakan pembangunan provinsi Maluku tertuang dalam rencana Tata Ruang Wilayah provinsi Maluku untuk kurun waktu 2007 – 2027.
2.2.2.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi Maluku
Rencana Struktur Ruang Wilayah diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan wilayah seperti sistem pusat-pusat perkotaan dan perdesaan, pusat-pusat permukiman, hirarki sarana dan prasarana wilayah, seperti sistem jaringan transportasi.
Struktur Ruang Wilayah Provinsi Maluku dilakukan berdasarkan kebijakan yang tertuang dalam RTRWN, RTRW Provinsi di sekitarnya, hasil analisis dan kecenderungan perkembangan pusatpusat kegiatan yang ada di Provinsi Maluku, wilayah pengembangan, konsep gugus pulau serta mitigasi bencana alam.