2.2 TINJAUAN KEBIJAKAN
2.2.6 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kabupaten Buru
2.2.6.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Buru
1. Visi, Peraturan Daerah Kabupaten Buru Nomor 27 tahun 2008 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang daerah (RPJPD) Kabupaten Buru tahun 2005 – 2025 merumuskan bahwa visi Pembangunan Kabupaten Buru 2005 – 2025 adalah mewujudkan ”Masyarakat Kabupaten Buru yang Sejahtera dan Demokratis”. Visi pembangunan Kabupaten Buru terdiri dari dua ikon penting yaitu : Pertama, Masyarakat Kabupaten Buru yang sejahtera adalah meningkatnya kualitas masyarakat, tersedianya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan masyarakat, berkurangnya kesenjangan antar kelompok dan antar wilayah, tersedianya infrastruktur serta terbinanya kekuatan-kekuatan ekonomi yang berbasis kerakyatan sert6a terkelolanya tata pemerintahan yang baik, aman, damai dan demokratis Kedua, Masyarakat Kabupaten Buru Yang demokratis adalah terciptanya kehidupan masyarakat yang
demokratis yakni berkembangnya kesadaran terhadap hak-hak masyarakat dalam kehidupan politik, masyarakat makin aktif berpartisipasi dalam mengambil inisiatif bagi pengelolaan urusanurusan publik, masyarakt mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan pendapat, melaksanakan hak politik, mengamankan dan mempertahankan negara serta mendapatkan perlindungan dan kesamaan di depan hukum, penghormatan terhadap nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat, mencintai lingkungannya termasuk sumberdaya alam lokal dan pengakuan terhadap hak ulayat.
2. Misi, Berdasarkan visi pembangunan yang telah ditetapkan maka misi pembangunan
Kabupaten buru adalah :
a. Mewujudkan Sumberdaya Manusia Berkualitas dan Kehidupan yang Damai;
b. Mewujudkan Perekonomian Daerah Yang Tangguh dan Berdaya;
c. Mewujudkan Pemerintahan yang Baik, Bersih dan Demokratis;
d. Mewujudkan Pemerataan dan Keadilan dalam Pembangunan.
3. Arah dan Sasaran Pembangunan
a. Terwujudnya Sumberdaya Manusia Berkualitas dan Kehidupan yang Damai
ditunjukan oleh:
i. Terjadinya peningkatan kualitas SDM pada berbagai bidang pendidikan formal dan non formal;
ii. Tercapainya tujuan pembangunan milenia menjelang 2025 dan
meningkatnya kualitas hidup seluruh masyarakat Buru; iii. Tercapainya Buru sehat 2025;
iv. Meningkatnya kualitas dan peran perempuan dalam berbagai sektor
pembangunan;
v. Terpenuhinya prasarana dan sarana dasar bagi seluruh masyarakat
Buru;
vi. Tercapainya keseimbangan dan penyebaran penduduk di wilayah Buru;
vii. Terwujudnya perlindungan anak dari praktek eksploitasi dan kekerasan; viii. Meningkatnya partisipasi pemuda dalam pembangunan;
ix. Meningkatnya pelayanan kesejahteraan sosial bagi Penyandang
masalah Kesejahteraan sosial;
x. Meningkatnya pembangunan masyarakt di wilayah bencana dan di
daerah rawan bencana;
xi. Meningkatnya pemanfaatan dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
b. Mewujudkan Perekonomian Daerah Yang Tangguh dan Berdaya Saing ditunjukan oleh :
i. Memacu pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,
pemerataan dan peningkatan pendapatan per kapita; ii. Menciptakan struktur perekonomian yang kokoh; iii. Memacu pertumbuhan sentra-sentra produksi; iv. Membangun infrastruktur ekonomi dan pasar;
v. Membangun moda transportasi terpadu (Trans Buru);
vi. Membangun Pusat Sumber Daya Kecamatan (PSK);
vii. Membangun prasarana dan sarana pendukung perekonomian dan
pengembangan wilayah;
viii. Melakukan penataan ruang wilayah;
ix. Menyelenggarakan pembangunan berkelanjutan berbasis kelestarian
lingkungan;
x. Menetapkan model dan regulasi pengelolaan sumberdaya alam berbasis
masyarakat;
xi. Tercapainya peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat
terutama usaha perekonomian yang berbasis sumberdaya alam yang mendorong peningkatan PDRB Kabupaten Buru secara signifikan dan dapat mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 8% pada tahun 2025;
xii. Mengembangkan pintu-pintu masuk-keluar multigate system sesuai
arahan RTRW Kabupaten Buru menjadi akses bagi keterkaitan ekonomi antar kabupaten/kota dan provinsi, terutama interaksi kegiatan ekonomi dengan kabupaten/kota dan provinsi terutama interaksi kegiatan ekonomi dengan kabupaten/kota atau provinsi yang berdekatan.
c. Terwujudnya Pemerintahan yang Baik, Bersih dan Demokratis ditunjukkan
oleh:
i. Mengoptimalisasi penerapan tata pemerintahan yang baik dan bersih
(good and clean governance) di seluruh struktur pemerintah daerah secara disiplin dan sungguhsungguh;
ii. Merubah cara pandang, perilaku dan etos kerja pada jajaran birokrasi serta berusaha mentransformasikan semangat interpreuneurship (wirausaha) ke dalam sektor publik dan birokrasi pemerintahan;
iii. Meningkatkan koordinasi pengawasan antar instansi yang berwenang terhadap penyelenggaraan pemerintahan dalam konteks pengawasan internal, eksternal dan pengawasan publik;
iv. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan
yang berorientasi profesionalisme, efisien dan efektif dalam urusan birokrasi melalui peningkatan pelayanan secara terpadu;
v. Peningkatan ketertiban masyarakat melalui penegakan supremasi
hukum (law enforcement) yang dilandasi asas sosial dan kemanusiaan, serta peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat;
vi. Peningkatan kapasitas kelembagaan partai politik dan parlemen daerah yang mendukung proses komunikasi, artikulasi, agregasi, rekruitmen dan pendidikan politik masyarakat;
vii. Pengembangan rekruitmen dan kaderisasi politik yang mendukung
redistribusi kekuatan politik secara demokratis;
viii. Peningkatan akses dan ruang publik kepada kelompok penekan
(pressure group) maupun kelompok kepentingan (interest group)untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan pembangunan dan pemerintahan;
ix. Meningkatkan proporsionalitas, partisipasi dan peran serta kaum
perempuan di dalam politik dan pemerintahan;
x. Pengembangan jaringan komunikasi antara lembaga legislatif,
eksekutif, ornop, dan kelompok-kelompok strategis lain yang mendukung pendewasaan budaya politik daerah;
xi. Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Adil ditunjukan oleh :
1. Percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah
strategis dan cepat tumbuh;
2. Pembangunan pusat pemerintahan yang berbasis pada daya
dukung wilayah;
3. Pembangunan Pusat Sumberdaya Kecamatan di seluruh wilayah
kabupaten;
4. Menyelenggarakan Desentralisasi Fiskal dalam kebijakan
5. Peningkatan kapasitas kelembagaan partai politik dan parlemen daerah yang mendukung proses komunikasi, artikulasi, agregasi, rekruitmen dan pendidikan politik masyarakat;
6. Peningkatan akses dan ruang publik kepada berbagai pihak
untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan pembangunan dan pemerintahan;
7. Peningkatan proporsionalitas, partisipasi dan peran serta kaum perempuan di dalam politik dan pemerintahan;
8. Percepatan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan
terutama kota Namlea sebagai Kota Kabupaten yang
mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan,
pembangunan dan pelayanan jasa kemasyarakatan.
A. Kebijakan Pertumbuhan sentra-sentra produksi
Arahan pembangunan untuk memacu pertumbuhan sentra-sentra produksi diarahkan pada :
1. Memetakan dan mengembangkan wilayah ke dalam beberapa sentra produksi berbasis
keunggulan komparatif berdasarkan potensi SDA dan geografis;
2. Membangun infrastruktur dan fasilitas pendukung perkembangan sentra-sentra
produksi komoditi unggulan menjadi kawasan andalan tiap daerah;
3. Menetapkan regulasi (Perda) pengelolaan sentra produksi untuk menciptakan efisiensi dalam usaha perekonomian daerah.
Kawasan-kawasan yang akan dikembangkan berdasarkan potensi SDA serta sosial budaya masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Kawasan Namlea, Namlea memiliki peranan yang penting dengan ditetapkannya
sebagai ibukota kabupaten Buru yaitu sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, sarana pelayanan umum wilayah serta kawasan permukiman perkotaan. Namlea juga merupakan pusat pergerakan barang dan jasa. Kota Namlea juga merupakan pintu gerbang kabupaten Buru karena memiliki pelabuhan sebagai sarana angkutan barang dan penumpang dari atau ke daerah lain.
2. Kawasan Waeperang, Kawasan ini merupakan kawasan pertanian terpadu antara sub
sektor pertanian lahan kering dengan peternakan dalam suatu kesatuan ekonomi terpadu Kawasan ini akan dikembangkan sebagai sentra ekonomi pertanian untuk memenuhi kebutuhan ketahanan pangan di Kabupaten Buru, juga sebagai salah satu
wilayah yang mendukung opsi kabupaten Buru sebagai lumbung pangan dan lumbungternak
3. Kawasan Waeapo, Kawasan Waeapo dengan sentra ekonomi pada Desa Waenetat di
mana pertanian tanaman pangan sebagai leading sector . Kawasan ini telah tersedia jaringan irigasi dan jaringan jalan yang menghubungkan dengan kota Kabupaten, juga didukung fasilitas telekomunikasi, penerangan serta lembaga keuangan dan perbankan.Kawasan ini juga memiliki potensi perikanan dengan tersedianya ± 600 Ha lahan untuk budidaya tambak di sepanjang daerah pesisir
4. Kawasan Teluk Kayeli, Sentra ekonomi terletak di desa Masarete dengan leading
sector perikanan didasarkan pada pertimbangan bahwa pada kawasan tersebut telah terbangun Cold Storage, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Fasilitas perikanan tersebut didukung prasarana jalan yang menghubungkan wilayah tersebut dengan kota Namlea. Selain sektor perikanan kawasan tersebut juga merupakan wilayah pengembangan sektor usaha perkebunan dan peternakan yang akan berfungsi sebagai penyangga kota Namlea
5. Kawasan Ilath-Batujungku, Kawasan Ilath – Batujungku diperuntukan sebagai
kolektor ekonomi dan sebagai titik antar moda yang menghubungkan wilayah Buru Selatan dan Buru utara Timur. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan pertanian terpadu dengan leading sektor tanaman pangan dan perkebunan dan didukung sektor peternakan Pada kawasan ini telah terbangun akses jalan dari Wamsait (Parbulu) yang menhubungkan wilayah transmigrasi melalui masarete/Kayeli – Ilath dengan jarak
tempuh 68 Km. Untuk mendukung kawasan ini direncanakan akan dibangun small
port di ilath dan didukung oleh program transmigrasi serta pembangunan irigasi pada dataran Batujungku (Sungai Waepoti) guna pembangunan lahan pertanian tanaman pangan pada Dataran Batujungku, Dataran Pela, dan Dataran Seith yang akan dijadikan wilayah penyangga Ilath sebagai titik moda angkutan Kawasan ini juga diharapkan sebagai penyangga untuk mensupplai kebutuhan perikanan di kawasan masarete/Kayeli
6. Kawasan Teluk Bara (Air Buaya), Teluk Bara dalam struktur ruang provinsi telah
ditetapkan sebagai pintu keluar dari Kabupaten Buru berdasarkan pertimbangan bahwa teluk Bara memiliki perairan yang selalu tenang sepanjang tahun dan memiliki potensi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kawasan ini juga memiliki potensi perkebunan terutama kelapa, kakao/coklat dan vanili. Teluk Bara merupakan orde regional yang menghubungkan Kabupaten Buru dengan Kabupaten Sula (Maluku
Utara) dengan rencana akan dibangun srana transportasi laut berupa pe.abuhan Ferry di teluk Bra dan karena letaknya pada ALKI SEA LINE III, maka oleh investor merencanakan akan membuka bunker minyak guna mensuplai kapal-kapal yang melintasi daerah ini.
7. Kawasan Dataran Rana, Dataran Rana memiliki potensi untuk dikembangkan
pembangkit listrik tenaga air dan agrowisata. Kawasan ini berfungasi sebagai paru-paru dan sumber air bagi Pulau Buru
B. Kebijakan Pengembangan sistem trasportasi terpadu
Dalam rangka memacu pembangunan ekonomi maka kebijakan pengembangan transportasi untuk Kabupaten Buru adalah :
1. Membangun jalan angkutan darat antar provinsi, antar kabupaten/kota dalam jaringan moda transportasi terpadu (Trans Buru), yang berhubungan dengan transportasi penyebrangan laut mendukung sistem pintu ganda secara terencana;
2. Membangun pelabuhan ekspor dan peti kemas di wilayah strategis sebagai pelabuhan
eksporimpor produk di Buru;
3. Membangun dan mengembangkan pelabuhan samudra pengujian dan sertifikasi
ekspor hasil laut dan perikanan di lokasi strategis;
4. Mengembangkan jaringan dan bandar udara strategisuntuk kepentingan ekspor
komoditi unggulan dari Buru secara langsung ke luar negeri.
C. Kebijakan Penataan Ruang dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah
Dalam RTRW Provinsi Maluku Kabupaten Buru telah ditetapkan sebagai kawasan strategis tumbuh cepat berbasis pertanian dan sebagai lumbung pangan dan lumbung ternak, dalam kebijakan pengembangan wilayah dilaksanakan melalui pendekatan Gugus Pulau (integrasi) dan pendekatan Laut Pulau (integrasi eksternal) melalui intu-pintu keluar (moda angkutan) yang berorientasi pada geografis pemasaran dengan wilayah-wilayah lain di luar provinsi Maluku.
Dalam keterkaitan internal, upaya yang akan dilakukan adalah pembangunan prasarana jalan lingkar pulau Buru dan lingkar pulau Ambalau. Jalan Lingkar Pulau Buru akan dikombinasikan dengan rencana pengembangan jaringan jalan jalur tengah (utara – selatan) dan jalur pesisir Utara Selatan – Selatan Timur (Wamsait – Kayeli – Ilath – Waetawa – Wamsisi – Namrole), ruas Lamahang – Danau Rana, Air Buaya – Danau Rana, Tifu – Danau Rana dimana Danau Rana dijadikan titik transit yang menghubungkan
wilayah-wilayah di Buru. Ruas jalan Air Buaya-Teluk Bara- Biloro untuk menghubungkan kantong-kantong produksi ke pusat pemasaran, membuka keterisolasian, mengurangi kesenjangan wilayah dan akses objek-objek wisata potensial.
Kebijakan pengembangan wilayah secara eksternal diprioritaskan pada : 1. pembangunan pelabuhan (small port) pada pintu-pintu keluar;
2. sentralisasi pertumbuhan pada pusat-pusat yang sudah ada dan pusat-pusat baru yang memiliki potensi pengembangan yang tinggi dan didukung oleh keberadaan daerah belakangnya;
3. pengembangan sistem interaksi dari pintu-pintu keluar ke pusat-pusat pertumbuhan di wilayah lain;
4. Pemanfaatan potensi sumberdaya alam bernilai tinggi dengan orientasi ekspor ke
wilayah lain.
Selain pengembangan transportasi darat/laut, pengembangan transportasi udara merupakan kebutuhan yang mendesak karena lapangan terbang yang ada (Namlea) sudah tidak memadai karena berada dalam wilayah pengembangan kota.
2.2.6.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Buru
A. Visi dan Misi,
Berdasarkan Peraturan Bupati Buru Nomor 18 tahun 2007 tentang rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Buru tahun 2007 – 20012, visi pembangunan Kabupaten Buru adalah ”Terwujudnya Kabupaten Buru Sebagai Kawasan Tumbuh cepat Berbasis Pertanian Menuju Masyarakat Sejahtera dan Demokratis”
Visi tersebut diuraikan menjadi misi dengan rincian sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas aparatur lembaga dan pemerintahan dalam melayani
masyarakat
2. Mewujudkan mutu pendidikan yang berbasis kompetensi dan sumber daya lokal serta
peningkatan peran pemuda dan olah raga
3. Meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan yang saling mendukung
4. Revitalisasi pertanian, peternakan dan perikanan
5. Memberdayakan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi rakyat, terutama
pengusaha ekonomi kecil dan menengah, serta mendorong peran koperasi dan swasta
6. Meningkatkan PAD melalui optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah
7. Menciptakan keterkaitan intra dan antar wilyah melalui pembangunan dan
8. Melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan jhidup 9. Meningkatkan kehidupan politik masyarakat yang demokratis
10. Menegakkan supremasi hukum yang menjiwai tegaknya tatanan kehidupan masyarakat yang berlandaskan keadilan
11. Menciptakan kondisi aman, damai tertib dan tenteram dalam kehidupan masyarakat 12. Memantapkan landasan kehidupan beragama sebagai kekuatan moral, spiritual dan
etika dalam kehidupan bermasyarakat
13. Mewujudkan kehidupan sosial budaya yang berkepribadian dinamis, kreatif serta mengembangkan potensi budaya lokal sebagai aset wisata
B. Arah Kebijakan Pembangunan Daerah
1. Meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar untuk mewujudkan masyarakat yang
sejahtera
2. Melaksanakan pembangunan prasarana dan sarana dasar untuk mengatasi
keterisolasian wilayah terutama wilayah pedalaman, terpencil, kawasan strategis dan cepat tumbuh
3. Mendekatkan dan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui
pengembangan pusat-pusat rujukan pelayanan kesehatan pada satuan gugus.
4. Optimalisasi fungsi organisasi dan manajemen pemerintahan dalam upaya
meningkatkan pelayanan publik
5. Membangun dan mendorong terciptanya pembangunan ekonomi wilayah yang
berbasis pertanian dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja
6. Membangun dan menata daerah perkotaan terutama kota Namlea sebagai Ibukota
Kabupaten.
7. Meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan masyarakat termasuk jangkauan
pemenuhan pelayanan di bidang sosial dan ekonomi pada wilayah-wilayah terpencil (terbelakang)
8. Mengembangkan potensi ekonomi rakyat dan potensi perekonomian daerah melalui
pengembangan kawasan-kawasan sentra produksi
9. Peningkatan dan pengembangan kualitas pendidikan jalur sekolah dan pendidikan luar sekolah sejalan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi
10. Mempersiapkan prasarana dan sarana pendukung pengembangan wilayah dalam mendukung konsep multy gate system
11. Revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai sosial budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat untuk memacu dan mendorong aktivitas, kreativitas, inovasi dan motivasi masyarakat