4.1 PROFIL KABUPATEN BURU
4.1.1 Kondisi Geografis
4.1.1.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi
Pulau Buru (9.599 km2), panjang (140 km) dan lebar (90 km) dengan puncak bukit/gunung tertingginya adalah Kan Palatmada (2.429 m). Terdapat 3 (tiga) blok pegunungan yang masing-masing dipisahkan oleh struktur kelurusan lembah. Pada bagian barat tapak Kan Palatmada dengan ketinggian diatas 2000 m,dimana dibatasi oleh lembah depresi Sungai Nibe - Danau Rana dan Sungai Wala. Pada blok tengah dengan ketinggian diatas 1000 m yang dibentuk oleh Teluk Kajeli dan Lembah Apu, Blok selatan dibentuk oleh Lembah Kalua dengan gunung Batabual (1.731 m).
Pulau Buru membentuk Kubah Kerak mikro kontinen yang terdiri dari 4 (empat) cekungan yaitu:
1. Cekungan Manipa disebelah selatan dengan kedalaman 4.360 m, dengan bentuk
kerucut gunung api bawah laut;
2. Cekungan antara Pulau Buru dan Pematang Luymes dengan kedalaman 5.330 m;
3. Cekungan Banda Utara yang muncul dibawah permukaan laut dengan kedalaman
5.290 m disebelah barat Pulau Buru;
4. Cekungan Buru berada disebelah utara Pulau Buru dengan kedalaman maks 5.319 m.
Kabupaten Buru terletak antara 2°25 LS dan 3°55 LS dan antara 125°70 BT dan 127°21 BT. Kabupaten Buru dibatasi oleh Laut Seram di sebelah utara, Kabupaten Buru Selatan disebelah selatan, Laut Buru di sebelah barat dan Selat Manipa di sebelah Timur. Keberadaanya diantara tiga kota penting di Indonesia Timur (Makasar, Manado/Bitung dan Ambon) dan dilalui Sea Line III, telah menempatkan Kabupaten Buru pada posisi yang strategis.
Kabupaten Buru mempunyai luas sekitar 7.594,98 Km². Sebagian besar wilayahnya berada pada pulau Buru. Bila ditinjau dari luasnya menurut kecamatan, maka kecamatan terbesar adalah Kecamatan Air Buaya (4.534 Km² atau 59,70% dari luas kabupaten), kemudian diikuti oleh Kecamatan Waeapo (1.232 Km² atau 16,22% dari luas kabupaten) dan
terkecil terdapat pada Kecamatan Bata Bual (292,60 Km² atau 3,85% dari luas kabupaten). Untuk lebih jelasnya mengenai luas kecamatan lainnya dapat dilihat pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Luas Daerah Kabupaten Buru
4.1.1.2 Kondisi Geomorfologi dan Hidrogeologi
Kondisi Geomorfologi Pulau Buru dan Pulau-pulau kecil lainnya yang termasuk kedalam Kabupaten Buru dikontrol oleh geologi regional Provinsi Maluku, dimana wilayah ini merupakan ujung Barat Busur Kepulauan Non Magmatik dari Lingkaran Sirkam Pasifik. Oleh karena ituKepulauan Buru dapat di kelompokan kedalam beberapa satuan Geomorfologi seperti berikut :
1. Satuan Geomorfologi Perbukitan / Pegunungan Lipatan Patahan yang menempati
wlayah bagian tengah Kabupaten Buru;
2. Satuan Geomorfologi Punggungan Homoklin yang meliputi wilayah bagian Utara dan
Selatan Kepulauan Buru;
3. Satuan Geomorfologi Lembah dan Bantaran Sungai yang mengikuti lembah
sungai-sungai besar juga menjadi wilayah permukiman
Kondisi Hidrogeologi Pulau Buru dan Pulau-pulau kecil lainnya yang termasuk kedalam Kabupaten Buru adalah sebagai berikut :
1. Pola Aliran Sungai
Sebagaimana telah dijelaskan didepan, sungai sebagai unsur geografi yangada di Kabupaten Buru (28 sungai) mempunyai pola aliran ; dendritik (menurun), Parallel, Trellis, Rektanguler, dan radier mengalir menuju pantai do ontrol oleh struktur geologi (patahan, ekahan, dan sistem perlipatan batuan) yang terdapat di wilayah ini. Tingkat kerapatan sungai sangat intensif, dimana hampir seluruh wilayah Kabupaten Buru tertutup oleh pola aliran sungai baik yang bersifat permanen maupun intermittent. Berdasarkan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka kondisi pola aliran sungai dapat di bagi kedalam 4 (empat) arah aliran sungai yaitu
b. DAS Namloa yang mengalir kearah Timur dengan tingkat kecepatan tinggi – sangat tinggi;
c. DAS Leksula yang mengalir kearah Selatan dengan tingkat Kecepatan sedang
– tinggi;
d. DAS Labuan Leko yang mengalir kearah Barat dengan tingkat Kecepatan
rendah – sedang. 2. Zona Air Tanah
Dari kondisi tersebut di atas dan di dukung oleh kontrol batuan dan struktur geologi, maka secara umum neraca air tanah menunjukkan terapat 2 (dua) zona air tanah yaitu :
a. Zona air tanah rendah, yang pada umumya menempati peunggung pemisah air
morfologi ("morphological water devided") sebagai pemisah daerah tangkapan hujan ("catchment area") keempat wilayah DAS tersebut diatas, serta pada 2(dua) punggung yang terdapat di selatan daerah studi.
b. Zona air tanah sedang – tinggi menempati hampir seluruh wilayah studi, yang mengelilingi Pulau Buru. Kawasa ini dapat tercapai jika sistem vegetasi tetap terjaga, sehingga tingkat peresapan ("recharged") dapat di pertahankan, dan "surface run off" dapat dicegah dan diperkecil.
3. Hidro Oceanografi
Sesuai dengan kondisi geografisnya Kabupaten Buru dikeleingi oleh Laut Seran di Utara danLaut Banda di Selatan\, dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan sebagai Kabupaten yang berada di dalam Provinsi Kepualuan Maluku. Oleh karena itu pada bagian Utara dan Selatan berada pada posisi gapura energi gelombang yang tinggi pada musim Barat maupun musim Timur, dengan arus Laut dari Selatan yang sangat kuat pada nusim Tiur yang berlangsung Juni sampai September.
Berdasarkan kondisi tersebut dan sesuai dengan posisi Pulau Buru yang berada di Busur Luar Kepulauan Non Magmatik, maka Laut Seram di Utara dan Laut Banda di Selatan merupakan 2 (dua) palungLaut dalam (Samudera) yang sangat mempegaruhi wilayah ini, dengan kondisi batimetri yang sangat dalam. Disisi lain Pulau Buru memiliki potensi Sumber daya perikanan yang tinggi di dukung keberadaan di jalur ALKI III menghubungkan Timur – Barat dan Utara seperti telah dijelaskan dimuka.
4.1.1.3 Kondisi Fisografi dan Topografi Wilayah
Bentuk wilayah Kabupaten Buru dikelompokkan berdasarkan pendekatan fisiografi (makro relief), yaitu Dataran, Pantai, Perbukitan dan Pegunungan termasuk di dalamnya
Dataran Tinggi (plateau / Pedmont) dengan kelerengan yang bervariasi. Kabupaten Buru didominasi oleh kawasan pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam dengan kemiringan lereng > 40 % yang meliputi luas 15,43% dari keseluruhan luas daerah ini. Jenis kelerengan lain yang mendominasi kawasan ini adalah elevasi rendah berlereng bergelombang dan agak curam serta elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak curam dengan penyebaran lereng di bagian Utara dan Barat rata-rata berlereng curam terutama di sekitar Gunung Kepala Madan. Sedangkan di bagian Timur terutama di sekitar Sungai Waeapo merupakan daerah elevasi rendah dengan jenis lereng landai sampai agak curam.
Sedangkan secara geomorfologis, bentangalam di Kabupaten Buru dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) bentangalam yaitu bentangalam asal vulkanik yang dicirikan dengan adanya topografi bergunung-gunung dan lereng terjal, bentangalam asal denudasional yang membentuk rangkaian pegunungan dan perbukitan berbentuk kubah, bentangalam asal solusial dan bentangalam asal fluvial yang cenderung membentuk topografi datar pada lembah-lembah sungai. Kabupaten Buru merupakan salah satu kawasan diluar busur Banda (jalur gunung api) dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik. Dalam peta sketsa geologi Pulau Buru dan Seram, diuraikan bahwa secara umum ditemukan 3 (tiga) material utama penyusun Pulau Buru. Tiga Formasi dimaksud berada pada bagian Selatan, Utara dan Formasi deposisi di bagian Timur Laut, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Batuan Sedimen di bagian selatan yang kebanyakan dijumpai pada tempat-tempat
dengan permukaan air yang dangkal
2. Batuan metamorfik yang mirip dengan tipe batuan benua yang meliputi filit, batu
sabak, sekis, arkose serta greywacke meta yang dominan berada pada bagian Utara Pulau Buru
3. Endapan batuan sedimen berumur Neogen bagian atas ditemukan pada bagian Timur
Laut sekitar kawasan Wae Apu tersusun dari endapan Aluvium dan Kolovium berupa bongkahan, kerikil, lanau, konglomerat, lumpur dan gambur. Sedangkan di sepanjang pantai Utara terdapat jalur endapan pantai dan Aluvio-kolovium yang diselingi dengan terumbu karang angkatan (uplifted coral reef).
4.1.1.4Kondisi Kemiringan Tanah
Bentuk wilayah Kabupaten Buru dikelompokkan berdasarkan pendekatan fisiografi (makro relief), yaitu Dataran, Pantai, Perbukitan dan Pegunungan termasuk di dalamnya Dataran Tinggi (plateau / Pedmont) dengan kelerengan yang bervariasi. Kabupaten Buru
didominasi oleh kawasan pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam dengan kemiringan lereng > 40 % yang meliputi luas 15,43% dari keseluruhan luas daerah ini. Jenis kelerengan lain yang mendominasi kawasan ini adalah elevasi rendah berlereng bergelombang dan agak curam serta elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak curam dengan penyebaran lereng di bagian Utara dan Barat rata-rata berlereng curam terutama di sekitar Gunung Kepala Madan. Sedangkan di bagian Timur terutama di sekitar Sungai Waeapo merupakan daerah elevasi rendah dengan jenis lereng landai sampai agak curam.
Sedangkan secara geomorfologis, bentangalam di Kabupaten Buru dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) bentangalam yaitu bentangalam asal vulkanik yang dicirikan dengan adanya topografi bergunung-gunung dan lereng terjal, bentangalam asal denudasional yang membentuk rangkaian pegunungan dan perbukitan berbentuk kubah, bentangalam asal solusial dan bentangalam asal fluvial yang cenderung membentuk topografi datar pada lembah-lembah sungai.
Kabupaten Buru merupakan salah satu kawasan diluar busur Banda (jalur gunung api) dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik. Dalam peta sketsa geologi Pulau Buru dan Seram, diuraikan bahwa secara umum ditemukan 3 (tiga) material utama penyusun Pulau Buru. Tiga Formasi dimaksud berada pada bagian Selatan, Utara dan Formasi deposisi di bagian Timur Laut, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Batuan Sedimen di bagian selatan yang kebanyakan dijumpai pada tempat-tempat
dengan permukaan air yang dangkal
2. Batuan metamorfik yang mirip dengan tipe batuan benua yang meliputi filit, batu
sabak, sekis, arkose serta greywacke meta yang dominan berada pada bagian Utara Pulau Buru
3. Endapan batuan sedimen berumur Neogen bagian atas ditemukan pada bagian Timur
Laut sekitar kawasan Wae Apu tersusun dari endapan Aluvium dan Kolovium berupa bongkahan, kerikil, lanau, konglomerat, lumpur dan gambur. Sedangkan di sepanjang pantai Utara terdapat jalur endapan pantai dan Aluvio-kolovium yang diselingi dengan terumbu karang angkatan (uplifted coral reef).
4.1.1.5 Klimatologi
Suhu udara rata-rata di Kabupaten Buru pada tahun 2013-2014 adalah berkisar 23,3°C - 30,7°C, sedangkan suhu udara maksimum terjadi pada Desember (32, 4°C),serta suhu udara minimum terjadi pada Agustus (22,0°C) Tingkat kelembaban udara relatif tinggi rata-rata 81,3 % yang terkait dengan radiasi matahari rata-rata 68,8%, curah Hujan pada tahun
2013-2014 berkisar antar 0,0 mm (Oktober) sampai 323,3 mm (Januari) dan kecepatan angin berkisar antara 8 – 34 knot. Tercatat bahwa di daerah ini terjadi curah hujan selama 7 bulan (Januari–Juli), dan bulan kering (Agustus- Desember).
Tabel 4.2 Suhu Udara Rata-Rata Kabupaten Buru 2013-2014
Tabel 4.3 Kelembaban Udara dan Penyinaran Matahari di Kabupaten Buru 2013-2014
Tabel 4.5 Kondisi Angin Kabupaten Buru
Iklim di Wilayah Kepulauan Maluku dipengaruhi oleh iklim tropis dan iklim musim yang disebabkan oleh kondisi Pulau Maluku yang terdiri dari pulau-pulau dan dikelilingi oleh lautan. Berdasarkan data klimatologi dari Badan Meteorologi dan Geofisika Ambon, maka suhu rata-rata di Provinsi Maluku adalah 26,8oC dengan curah hujan 186,3 mm.
4.1.1.6 Geologi
Kondisi Geologi di Kabupaten Buru adalah sebagai berikut :
1. Satuan Litostratigrafi Kabupaten Buru disusun oleh Batuan Metamorfosa / malihan,
yang dituutp oleh batuan sedimen baik selaras maupun tidak selaras di atasnya, sertabatuan terobosan / intrusi yang memotong batuan metamorfosa dan batuan sedimen` diatasnya. Untuk melihat susunan stratigrafis Kabupaten Buru dapat dilihat pada Tabel berikut.
2. Struktur Geologi, Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa batuan tertua di Pulau Buru adalah Kompleks metamorfosa / malihan regional dinamotermal yang berumur Pra Tersier (Permo). Poros Lipatan (antiklin dan sinklin) yangberarah Baratlaut – Tenggara menunukanbahwa tekanan gaya Kompressoal berasal dari Timur laut – Barta daya untuk batuan yang berumur Pra Tersier. Kemudian pda tersier pola arah umum perlipatan menjadi Timur – Barat, yang berarti bahwa arah gaya Kompressional berarah Uatar – Selatan, hal ini menunjukan adanya rotasi dari Pra Tersier ke Tersier.
Sesar Normal/Turun Tensional dan pasangan (shear Fault" tersebut diatas dan ditambah denga tingkat rekahan yang sangat intensif menjadi faktor pengontrol pola dan genetika aliran sungai di wilayah ini (Lihat Gambar berikut)
Gambar 2.1 Sejarah Tektonik Pembentukan Struktur Geologi Kabupaten Buru (Pulau Buru) dan Sekitarnya
Demikian maka Kabupaten Buru cukup rawan akan terjadinya pesoalan tanahyang dipicu oleh gempa tektonikyan gsangat intensif di wilayah ini. Hal ini akan dianalisis lebih lanjut di dldalam pemantauan zona resiko bencanaalam selanjutnya.
4.1.1.7 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Buru dengan luas wilayah daratan 458,055.53 Ha sebagian besar masih merupakan Hutan Primer dengan luas 274,746.81 Ha atau 59.98 %, dan semak belukar seluas 105,798.74 Ha atau 23.10 %, sedangkan sisanya berupa penggunaan lahan yang lain yang cukup luas yaitu lahan terbuka seluas 26.697,54 Ha (5.83 %) serta sawah seluas 8.337,35 Ha atau sekitar 1.82 %. Kawasan perkebunan yang ada hanya seluas 7.624,76 Ha (1.66 %) dan ladang/tegalan ada 6.476,36 Ha atau 1.41 %. Kawasan permukiman yang
terdiri dari perkampungan seluas 1.841,75 Ha dan perkotaan juga dengan luas 62,53 Ha atau sebesar 0.41 % dari total luas wilayah daratan Kabupaten Buru.
Hutan Primer merupakan kawasan penggunaan lahan yang paling luas yaitu mempunyai luas kira-kira 274.746,81 Ha atau sekitar 59.98 % dari luas total wilayah daratan Kabupaten Buru yang tersebar di semua kecamatan. Penyebaran hutan ini yang mempunyai prosentase terbesar terdapat di Kecamatan Air Buaya seluas 128.821,00 atau 28.12 % dan Waeapo seluas 94.064,83 Ha (20.54 %). Untuk kecamatan yang lainnya hanya mempunyai luasan kurang dari 10 %.
Hutan Sekunder yang ada di Kabupaten Buru sangat kecil dan bahkan hanya terkonsentrasi di Kecamatan Batabual, dimana luas dari lahan ini hanya sekitar 2,321.56 Ha atau setara dengan 0.51 % dari luas wilayah daratan Kabupaten Buru. Hutan Mangrove yang terdapat di Kabupaten Buru relative kecil hanya berkisar 4.145,07 Ha atau 0.90 %. Hutan Mangrove ini tersebar di 4 wilayah kecamatan, Kecamatan Waplau tidak terdapat ekologi hutan mangrove. Penyebaran mangrove yang paling besar terdapat di Kecamatan Waeapo seluas 2.976,55 Ha atau 0.65 % selanjutnya disusul oleh Kecamatan Air Buaya, Namlea dan Batabual masing-masing 659.72 Ha (0.14 %), 441.29 Ha ( 0.10 %) dan 67.51 Ha (0.01 %).
Hutan Mangrove ini pada umumnya tersebar pada daerah rawa-rawa yang masih terjaga ekosistemnya Hutan Gambut yang ada di Kabupaten Buru sangat kecil dan bahkan hanya terkonsentrasi di Kecamatan Batabual, dimana luas dari lahan ini hanya sekitar 272.00 Ha atau setara dengan 0.06 % dari luas wilayah daratan Kabupaten Buru.
Belukar/Semak merupakan salah satu penggunaan lahan yang kurang produktif, dimana penggunaan lahan ini mempunyai luasan kurang lebih 105.798,74 Ha atau 23.10 % dari wilayah daratan kabupaten. Belukar/semak ini tersebar di semua kecamatan dengan area sebaran yang terluas berada di Kecamatan Waeapo seluas 58.401,56 Ha atau 12,75 %, kemudian diikuti oleh Kecamatan Wapalu dan Kecamatan Namlea masing-masing 28.083,62 Ha (6.13 %) dan 9.563,87 Ha (2.09 %). Sedangkan di Kecamatan Air Buaya dan Batabual kurang dari 5 % luasannya. Perkebunan merupakan salah satu penggunaan lahan yang perlu dikembangkan, dimana penggunaan lahan ini mempunyai luasan kurang lebih 7.624,76 Ha atau 1.66 % dari wilayah daratan kabupaten. Perkebunan ini hanya tersebar di 3 kecamatan, yaitu kecamatan Wapalu, Air Buaya dan Kecamatan Waeapo. Sebaran yang terluas berada di Kecamatan Waplau seluas 4.916,76 Ha atau 1.07 %, kemudian diikuti oleh Kecamatan Air Buaya dan Kecamatan Waeapo masing-masing 1.673,55 Ha (0.37 %) dan 1.034,45 Ha (0.23 %). Ladang/Tegalan yang telah dikembangkan di wilayah ini sangat kecil karena hanya 1.41 % saja atau seluas 6.476,79 Ha. Kegiatan usaha yang dilakukan untuk ladang/tegalan hanya
terdapat di 3 kecamatan saja. Lahan unstuck ladang/tegalan yang telah diusahakan terluas hanya sekitar 3.289,39 Ha atau 0.72 % dari luas kabupaten yaitu di Kecamatan Air Buaya, selanjutnya Kecamatan Batabual seluas 2.269,75 Ha atau 0.50 %, serta 917.22 Ha atau 0.20 % berada di Kecamatan Waeapo.
Sawah yang sudah diusahakan di Kabupaten Buru juga relative kecil sekitar 1.82 % atau seluas 8.337,35 Ha. Pengembangan sawah sampai saat ini hanya terdapat di 4 kecamatan yaitu Air Buaya, Batabual, Waeapo dan Waplau dengan luas masing-masing yaitu 3.658,19 Ha (0.80 %), 916,34 Ha (0.20 %), 3.438,06 Ha (0.75 %) dan 324,77 Ha (0.07 %). Di kecamatan Waeapo merupakan lokasi pengembangan persawahan yang paling luas di Kabupaten Buru. Lahan terbuka merupakan penggunaan lahan yang terlantarkan dimana lahan dibuka kemudian tidak ada usaha untuk pemanfaatan penggunaannya. Lahan terbuka ini biasanya ditelantarkan dan ditumbuhi tanaman semacam rumput-rumputan. Penggunaan lahan ini tersebar di semua kecamatan. Total dari lahan terbuka ini adalah 26.697,54 Ha atau 5.83 % dengan area yang terluas terdapat di Kecamatan Namlea seluas 10.630,26 Ha atau 2.32 % sedangkan yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Wapalu yaitu 1.539,48 Ha atau 0.34 %.
Permukiman yang ada di Kabupaten Buru tersebar merata di semua kecamatan. Pemukiman ini tersebar secara berkelompok dan sebagian lagi tersebar secara berpencar. Kelompok-kelompok pemukiman yang ada pada umumnya terkonsentrasi di kawasan pantai dan sepanjang jalan lintas kabupaten. Luas dari pemukiman ini 1.904,28 Ha atau 0.41 % dan kecamatan yang terluas untuk areal permukiman ada di Kecamatan Namlea yaitu 522,30 Ha (0.11 %) sedangkan yang paling sedikit penyebaran pemukimannya terdapat di Kecamatan Batabual hanya 94.47 Ha atau setara 0.02 %.