• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PERBANDINGAN LAJU KOROSI DENGAN VARIASI CACAT COATING PADA PIPA API 5L GRADE X65 DENGAN MEDIA KOROSI NaCl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI PERBANDINGAN LAJU KOROSI DENGAN VARIASI CACAT COATING PADA PIPA API 5L GRADE X65 DENGAN MEDIA KOROSI NaCl"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PERBANDINGAN LAJU KOROSI DENGAN VARIASI

CACAT COATING PADA PIPA API 5L GRADE X65 DENGAN

MEDIA KOROSI NaCl

Ika Marcelina Sari Dewi1, Imam Rochani2, Heri Supomo3

1) Mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan 2) Staf Pengajar Jurusan Teknik Kelautan 3) Staf Pengajar Jurusan Teknik Perkapalan

ABSTRAK

Pipelines (pipa bawah laut) digunakan untuk berbagai maksud dalam pengembangan sumber daya hidrokarbon di lepas pantai. Lingkungan laut sangat korosif dan struktur yang berada di lingkungan yang korosif harus diproteksi (dilindungi) agar korosi yang terjadi bisa diperkecil. Salah satu proteksi korosi adalah dengan cara coating. Material yang digunakan adalah API 5L Grade X65 yang dibedakan jenis catnya, yaitu dengan sistem cat 3 lapis yang terdiri dari Zinc ethyl silicate-epoxy-glass flake epoxy dan system cat 4 lapis yang terdiri dari Zinc ethyl silicate-epoxy-modified epoxy-polyurethane. Pada setiap sistem cat tersebut pada permukaannya diberi cacat berupa goresan sebanyak 1 gores dan 2gores. Metode yang digunakan untuk menghitung laju korosi adalah dengan menggunakan sel 3 elektroda. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh laju korosi sebesar 0.001044 mmpy untuk sistem cat 3 lapis dengan 1 gores (2.8% cacat), 0.001495 mmpy untuk 2 gores (5.6% cacat), kenaikan laju korosinya sebesar 30.17%. Sedangkan untuk sistem cat 4 layer dengan 1 gores (2.8% cacat), laju korosi rata-rata adalah 0.000565 mmpy dan 0.000757 mmpy untuk 2 gores (5.6% cacat), kenaikan laju korosinya sebesar 25.36%. Analisa permukaan spesimen yang terkorosi digunakan foto SEM (Scanning Electron Microscope) dan didapat hasil bahwa secara morfologis permukaan daerah cacat coating yang terkorosi sudah terdapat inisial korosi.

Kata Kunci: coating, API 5L X65, gores, sel 3 elektroda, laju korosi, SEM. 1. PENDAHULUAN

Pipelines (pipa bawah laut) digunakan

untuk berbagai maksud dalam

pengembangan sumber daya hidrokarbon di lepas pantai, termasuk pipa transportasi untuk ekspor, pipa penyalur untuk mengangkut produksi dari suatu platform ke pipa ekspor, pipa pengalir untuk injeksi air atau injeksi bahan kimia, pipa pengalir untuk mengangkut produksi antarplatform, subsea manifolds dan

satellite well (sumur-sumur satelit),

pipeline bundles (Soegiono, 2007).

Secara spesifik korosi didefinisikan sebagai kumpulan dari keseluruhan proses dengan jalan dimana metal atau

alloy yang digunakan untuk material

struktur berubah bentuk dari bersifat metal menjadi beberapa kombinasi dari kondisi yang disebabkan oleh interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian korosi diartikan juga sebagai kerusakan atau keausan dari material akibat terjadinya reaksi dengan lingkungan yang didukung oleh faktor-faktor tertentu (Supomo, 2003). Pipa bawah laut yang terbuat dari baja akan sangat susah terhindarkan dari korosi, mengingat lingkungan laut sangat korosif.

(2)

Perhitungan laju korosi menggunakan metode sel tiga elektroda merupakan pengujian laju korosi dengan polarisasi dari potensial korosi bebasnya dan untuk mempercepat proses dilakukan perlakuan gores pada permukaan spesimen.

Tujuan yang ingin dicapai dalam tugas akhir ini, yaitu:

1. Mengetahui nilai laju korosi pada pipa ter-coating yang terdapat goresan pada permukaannya.

2. Mengetahui morfologi permukaan daerah cacat coating dengan menggunakan foto SEM (Scanning

Electron Microscope).

Dalam tugas akhir ini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai perilaku laju korosi dan morfologi permukaan pada material yang terdapat cacat coating.

2. DASAR TEORI 2.1 Baja

Baja pada dasarnya adalah paduan besi dan karbon. Selain terdiri dari besi dan karbon, baja juga mengandung unsur lain. Sebagian berasal dari pengotoran bijih besi (misalnya belerang dan phosphor) yang biasanya kadarnya ditekan serendah mungkin. Sebagian lagi unsur yang digunakan pada proses

pembuatan besi/baja (misalnya

silikon dan mangan). Selain itu, sering kali juga sejumlah unsur paduan sengaja ditambahkan ke dalam untuk memperoleh sifat tertentu sehingga jenis baja akan beragam (Zakharov,1962).

Baja karbon menengah (Medium

Carbon Steel) yang mempunyai

kandungan karbon sebesar 0,30%-0,70% masih terdiri dari ferrit dan perlit juga, tetapi dengan perlit yang

cukup banyak. dengan kandungan perlit yang cukup banyak, baja karbon ini lebih kuat dan keras serta dapat dikeraskan akan tetapi akan membuatnya lebih getas. Baja karbon jenis ini banyak digunakan untuk konstruksi mesin, seperti poros, poros engkol, batang torak, roda gigi, pegas, dll. yang lebih

memerlukan kekuatan dan

ketangguhan yang tinggi (Zakharov, 1962).

Pipa baja API 5L grade X65 merupakan jenis pipa yang didesain khusus untuk pipa bawah laut dimana pipa jenis ini dengan spesifikasi 5L adalah menunjukan jenis yang khusus digunakan untuk

offshore pipeline. Dengan grade X65

menunjukkan pipa bawah laut ini mempunyai tegangan minimum yang di ijinkan sebesar 65.000 psi atau 448 MPa yang banyak dipakai pada struktur anjungan minyak bumi dan gas. Pipa baja API 5L grade X65 banyak digunakan pada pipa penyalur gas, air, dan minyak. Sebagai alat penyalur minyak yang efisien dan ekonomis pada dunia perminyakan.

2.2 Korosi

Korosi adalah penurunan mutu logam yang disebabkan oleh reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungan sekitarnya (Trethewey, 1991). Korosi juga dapat diartikan sebagai peristiwa alamiah yang terjadi pada bahan dan merupakan proses kembalinya bahan ke kondisi semula saat bahan ditemukan dan diolah dari alam (Supriyanto, 2007). 2.3 Jenis Korosi

(3)

Berdasarkan penyebabnya, korosi dapat dibedakan menjadi:

1. Korosi Homogen, yaitu jenis korosi yang sering dan umum

terjadi pada

konstruksi-konstruksi logam. Jenis ini biasanya dikategorikan menurut reaksi electro-chemical yang secara homogen terjadi karat ke seluruh bagian material yang terbuka.

2. Korosi Galvanik, yaitu korosi yang terjadi pada dua logam berbeda potensial dalam satu

elektrolit. Logam yang

mempunyai tahanan korosi kecil (anodik) akan terkorosi.

3. Korosi celah (crevice

corrosion), yaitu korosi yang

sering terjadi pada celah dan permukaan tertutup lainnya dari suatu logam yang terletak pada

corrosive media. Tipe korosi

jenis ini selalu dalam skala kecil dari larutan yang terperangkap lewat lubang, gasket, lap joint maupun baut.

4. Korosi Batas Butir

(intergranular corrosion), yaitu

korosi yang terjadi pada batas butir yang merupakan tempat mengumpulnya impurity atau prespitat dan lebih tegang.

5. Korosi sumuran (pitting

corrosion), yaitu korosi yang

terjadi akibat adanya sistem anoda pada logam yang terdapat konsentrasi ion Cl- yang tinggi.

6. Selective Leaching, yaitu

larutnya salah satu komponen

dari suatu paduan dan

mengakibatkan paduan yang tersisa akan menjadi berpori sehingga ketahanan korosi berkurang.

7. Korosi Erosi (erosion

corrosion), yaitu korosi yang

disebabkan oleh gerakan relatif antara fluida korosif dan permukaan metal.

8. Korosi Tegangan (stess

corrosion), yaitu korosi akibat

adanya retakan akibat tegangan tarik dan media korosif secara bersamaan.

9. Korosi Biologi, yaitu kerusakan logam oleh proses korosi sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari aktivitas

organisme hidup, baik

mikroorganisme maupun

makroorganisme. 2.4 Coating (Pelapisan)

Pelapisan adalah cara paling umum

digunakan untuk pengendalian

korosi. Pelapisan terdiri dari 2 jenis, yaitu liquid coating dan concrete

coating. Liquid coating bisa berupa

painting (cat), sedangkan concrete

coating berupa pelapisan beton,

selain untuk mencegah korosi juga dapat menambah kestabilan pipa. Konsep dasar adalah tidak adanya proses elektrokimia dalam alam,

pelapisan secara sederhana

membatasi paduan logam dari pengaruh lingkungan yang korosif. Dalam praktek, bagaimanapun, beberapa masalah muncul dan sering tidak cukup perhatian untuk

pelapisan karena kelihatannya

sederhana pada sistem pelapisan. 2.4.1 Mekanisme Cat Melawan Korosi

Cat sudah dikenal ribuan tahun yang lalu sebagai bahan protektif maupun dekoratif. Bahan utama

liquid coating (cat) terdiri dari

tiga jenis, yaitu binder, pigment, dan solvent. Tiga jenis bahan

(4)

tersebut diformulasikan sehingga

diperoleh bahan protective

berbentuk cair. Penambahan beberapa jenis additive dan

extender menyebabkan produk

mudah diterapkan, tahan

terhadap lingkungan dan

harganya terjangkau. Berikut penjelasan mengenai komponen cat :

Binder

Binder merupakan bahan cair

yang penting bagi formulasi cat karena sebagian besar cat mengandung bahan ini dan

jenis cat juga sering

ditentukan oleh jenis binder, seperti cat minyak, cat jenis

alkyd, cat jenis epoxy dan

lain-lain. Sebagian besar binder adalah suatu senyawa polimer yang berfungsi menentukan karakter dari lapisan cat.

Pigment

Pigment pada cat dasar

(primer coat) berfungsi

menghambat serangan korosi pada logam yang cara kerjanya bisa bersifat pasif, yaitu pigmen yang tidak bereaksi dengan lingkungan

akan membentuk suatu

senyawa kompleks dengan oksida logam sehingga terjadi suatu lapisan yang pasif. Pada cat akhir (top coat), pigmen pada umumnya berfungsi

sebagai bahan perupa

(decorative)

Solvent

Solvent adalah pelarut bagi cat

yang berfungsi mengatur

viskositas, melarutkan

polimer, dan memperbaiki sifat-sifat cair.

Aditive

Aditive adalah bahan yang

ditambahkan pada cat yang berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat cat, seperti mencegah

pengendapan pigmen (anti

settling agent), mencegah

terbentuknya kulit (anti

skinning), mencegah terjadinya

pemisah warna (anti floating

agent), mencegah terjadinya

keriput pada lapisan cat (anti

saging agent) dan lain-lain.

Extender

Extender adalah bahan yang

ditambahkan pada cat dengan maksud untuk mengurangi harga cat dan juga memperbaiki sifat-sifat cat. Bahan extender ini biasanya berbentuk padat yang membantu cara kerja pigmen,

misalnya senyawa CaCO3, talc,

China clay, barite, dan lain-lain.

2.4.2 Sistem Pelapisan Cat

Bagian yang terpenting pada sistem penanggulangan korosi dengan lapis lindung cat adalah pada proses persiapan permukaan baja yang akan dicat, karena

lebih dari 60% tingkat

keberhasilan sistem

penanggulangan korosi dengan bahan ini adalah terletak pada tingkat keberhasilan dan tingkat kekasaran permukaan baja. Cat paling mahal sekalipun tidak menjamin akan memberikan perlindungan korosi yang baik

apabila cara persiapan

permukaan tidak dilakukan dengan benar. Selain itu pemilihan jenis cat yang sesuai untuk lingkungannya merupakan factor yang penting pula ditinjau dari segi system proteksi dan pertimbangan ekonomi.

(5)

Jenis cat yang digunakan pada spesimen ada 2 tipe, yaitu:

Tabel 1 Pengapikasian cat pada spesimen

2.5 Laju Korosi

Laju korosi adalah tebal material yang hilang tiap satuan waktu yang disenabkan oleh adanya. Satuan laju korosi disini bermacam macam

sesuai satuan yang akan

digunakan.dengan mm/th (standar internasional) atau mill/year (mpy, British). (Supriyanto, 2007). Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan laju korosi pada logam, metode tersebut adalah kehilangan berat, mengukur dimensi dan densitas arus korosi. Pengujian laju korosi dengan sel 3 elektroda (pengujian laju korosi yang dipercepat) dengan polarisasi dari potensial korosi bebasnya dapat

dihitung dengan menggunakan

persamaan Faraday sebagai berikut:

CPR = K D n i a . . mmpy ………. (1) dengan:

K = Konstanta (0.129 untuk mpy, 0.00327 untuk mmpy)

a = Berat atom logam terkorosi (gram)

i = kerapatan arus (μA/cm2)

n = jumlah elektron valensi logam terkorosi

D = Densitas logam terkorosi (gram/cm3)

2.6 Sel 3 Elektroda

Sel tiga elektroda adalah perangkat laboratorium baku untuk penelitian kuantitatif terhadap sifat-sifat korosi

bahan-bahan. Sesungguhnya ini

merupakan versi yang sempurna dari sel korosi basah. Komponen sel 3

elektroda adalah sebagai berikut :

a. Elektroda kerja (working

electrode). Ini sebutan yang

diberikan kepada elektroda yang diteliti.

b. Elektroda pembantu (auxiliary

electrode). Sebutan ini

diberikan kepada elektroda kedua yang dimaksudkan khusus untuk mengangkut arus

dalam rangkaian yang

terbentuk dalam penelitian. c. Elektroda acuan. Elektroda ini

dimaksudkan sebagai titik dasar yang sangat mantap

untuk mengacukan

pengukuran-pengukuran

potensial elektroda kerja. Arus

yang mengalir melalui

elektroda ini harus

sekecil-kecilnya sehingga dapat

diabaikan.

Cat Tipe 1 (Top Coat Putih) Cat Tipe 2 (Top Coat Coklat) Coat Generic Type (Binder) Coat Generic Type (Binder) 1 st Coat (Primer) Zinc Ethyl Silicate 1 st Coat (Primer) Zinc Ethyl

Silicate 2 nd Coat (Tie-Coat) Epoxy 2 nd Coat (Tie-Coat) Epoxy

3 rd Coat

(Intermediete) Modified Epoxy

3 rd Coat

(Intermediete) - Top Coat (Finish Coat) Polyurethane Top Coat (Finish

Coat)

Glass Flake Epoxy

(6)

3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 3.1 Pengujian Laju Korosi

Dalam penelitian ini tiap spesimen pada tiap jenis cat dilakukan 2 jenis cacat coating, yaitu 1 goresan dan 2 goresan

dan masing-masing dilakukan

pengulangan sebanyak 3 kali. Sehingga terdapat 12 jenis spesimen.

Dimensi goresan pada spesimen dapat dilihat pada Gambar 2. Kedalaman gores 2 mm dengan diameter endmill 3 mm. Proses pembuatan goresan dengan menggunakan mesin CNC.

Gambar 2 Dimensi Goresan pada

permukaan spesimen

Dari Gambar 2 tersebut, prosentase cacat coating terhadap seluruh permukaan spesimen dapat dihitung sebagai berikut:

L. Permukaan spesimen = 100 cm2

L. Permukaan cacat coating = 2.8 cm2

%cacat coating (1 gores) = = 2.8% %cacat coating(2 gores) =

= 5.6%

Pengujian laju korosi dengan

menggunakan metode elektrokimia

dengan sel 3 elektroda. Susunan alatnya dapat dilihat pada Gambar 3. Ketiga jenis elektroda terhubung pada potentiostat

yang kemudian juga terhubung pada komputer.

Gambar 3 Peralatan Elektrokimia dalam pengukuran laju korosi sel 3 elektroda Pada penelitian ini yang berperan menjadi elektroda kerja adalah spesimen uji, elektroda acuan adalah Ag/AgCl dan elektroda tambahan adalah platina dengan diameter 1 mm. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4. Elektrolit yang digunakan adalah NaCl dengan salinitas 35. Elektroda Kerja Elektroda Acuan Elektroda Tambahan Elektroda Kerja Elektroda Acuan Elektroda Tambahan

Gambar 4 Spesimen yang telah terhubung dengan potentiostat didalam larutan NaCl

(7)

Tabel 2 Data hasil pengujian dengan menggunakan sel 3 elektroda

Analisa laju korosi dibantu dengan menggunakan software Echem version 2.0. Output yang didapat dari Echem adalah berupa nilai V (tegangan listik) dan I (arus listrik). Kemudian arus yang didapat dibagi dengan luas permukaan spesimen sehingga di dapat nilai kerapatan arus. Setelah didapat nilai kerapatan arus, kemudian dijadikan dalam bentuk log. Kemudian dari nilai tegangan listrik (mV) dan log kerapatan

arus (µA/cm2) diplotkan seperti pada

pengeplotan Tafel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5. Data yang digunakan adalah spesimen C1A (sistem coating 3 layer dengan 1 goresan)

Gambar 5 Grafik hasil analisis Tafel untuk spesimen C1A

Pada Gambar 5, terdapat dua garis melengkung yaitu daerah anodik dan daerah katodik. Pada kedua daerah ini dibuat trendline untuk mengetahui persamaan garisnya. Untuk daerah anodik

persamaan garisnya adalah y1 = - 1.8825x

– 2.4175 dan untuk daerah katodik

persamaan garisnya adalah y2 = 1.0263x -

0.22. Persamaan tersebut diperoleh dengan menggunakan Microsoft Excel. Trendline daerah anodik ditentukan pada daerah di mana arus turun tanpa naik lagi sedangkan trendline daerah katodik ditentukan pada daerah di mana arus naik tanpa turun lagi. Oleh karena laju oksidasi dan laju reduksi sama maka persamaan garis ini adalah ekivalen. Perpotongan garis terhadap sumbu y

dinyatakan sebagai Icorr sedangkan

perpotongan terhadap sumbu x

dinyatakan sebagai Ecorr. Nilai Icorr yang diperoleh untuk tiap spesimen dirata-rata

sehingga didapat Icorr rata-rata, kemudian

disubsitusikan pada persamaan (1) untuk mendapatkan nilai laju korosi.

(8)

Setelah dilakukan perhitungan Icorr dan

laju korosi pada semua spesimen, didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 3 Hasil perhitungan laju korosi pada semua spesimen

Persentase kenaikan laju korosi pada tiap jenis coating adalah:

Untuk sistem coating 3 lapis:

= 30.17%

Untuk sistem coating 4 layer: =

=

x 100%

= 25.36%

Arus korosi dan laju korosi memiliki hubungan yang linear. Pada saat benda uji dimasukkan pada larutan elektrolit maka akan terjadi aliran elektron dari anoda ke katoda. Semakin banyak aliran elektron dari anoda ke katoda maka arus yang dihasilkan

menjadi lebih tinggi. Semakin tinggi arus yang dihasilkan maka laju korosi juga semakin tinggi.

3.2 Analisis foto SEM (Scanning Electron Microscope)

Mikroskop Pemindai Elektron (SEM) adalah jenis mikroskop elektron untuk memindai gambar permukaan suatu sample padat dengan menggunakan sinar elektron berenergi tinggi dalam pola pemindai pixel. Mikroskop Pemindai Elektron (SEM) menggunakan hamburan elektron dalam membentuk bayangan elektron berinteraksi dengan atom-atom yang membentuk sampel menghasilkan sinyal yang berisi informasi tentang topografi permukaan sampel, komposisi dan sifat-sifat lain seperti konduktivitas listrik. SEM menghasilkan bayangan dengan resolusi yang tinggi (< 5 nm), maksudnya adalah pada jarak yang sangat dekat tetap dapat menghasilkan perbesaran yang maksimal (hingga satu juta kali) tanpa memecah gambar. Jenis sinyal yang dihasilkan oleh SEM termasuk elektron sekunder, Elektron terhambur (BSE), karakteristik sinar-X, cahaya (cathodoliminescence), arus spesimen dan pancaran elektron.

Spesimen yang digunakan untuk foto SEM adalah diambil dari spesimen yang nilai laju korosinya paling besar untuk tiap jenis cat. Sehingga terdapat 2 buah spesimen yang

akan dilakukan pengamatan pada

permukaannya dengan menggunakan SEM, yaitu spesimen C2B dan P2C. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6. Pemilihan spesimen foto SEM didasarkan pada hasil laju korosi yang diperoleh dari perhitungan. Ukuran spesimen foto mikro adalah ± 3x2x1 cm agar muat pada chamber mesin foto SEM.

(9)

(a) C2B 500x (d) P2C 500x

(b) C2B 1000x (e) P2C 1000x

(c) C2B 2500x (f) P2C 2500x

Gambar 6 Morfologi permukaan spesimen daerah cacat coating yang terkorosi

Gambar 6 menunjukkan morfologi dari spesimen C2B dan P2C dengan menggunakan foto SEM dalam beberapa perbesaran. Nampak pada permukaan kedua spesimen belum terdapat indikasi

terjadinya korosi sumuran setelah

dilakukan pengujian laju korosi. Bila dilihat dari hasil laju korosi yang relatif sangat kecil, oleh sebab itu produk korosinya belum terlihat. Selain itu fungsi waktu juga mempengaruhi, semakin lama waktu pengamatan maka nilai laju korosinya akan semakin besar pula, selain itu produk korosi dapat diamati secara visual. Hal tersebut akan diikuti oleh adanya

perubahan morfologi permukaan,

perubahan morfologi tersebut bisa berupa lubang atau retakan. Secara umum, Gambar

6 menunjukkan bahwa morfologi

permukaan spesimen sudah tidak smooth, hal ini merupakan inisiasi timbulnya kerusakan pada permukaan akibat proses

korosi. Apabila proses ini dilanjutkan, semakin lama akan terlihat produk korosi yang lebih jelas.

4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Nilai laju korosi untuk sistem coating 3 lapis dengan persentase cacat coating 2.8% (1 gores) adalah 0.001044 mmpy, untuk persentase coating sebesar 5.6% (2 gores) adalah 0.001495 mmpy, sedang nilai laju korosi untuk sistem coating 4 lapis dengan persentase cacat coating 2.8% (1 gores) adalah 0.000565 mmpy, untuk persentase cacat coating sebesar 5.6% adalah 0.000757 mmpy.

Untuk sistem coating 3 lapis, kenaikan cacat coating sebesar 50% nilai laju korosinya naik sebesar 30.17% sedang untuk sistem coating 4 lapis, kenaikan cacat coating sebesar 50% nilai laju korosinya naik sebesar 25.36%.

2. Berdasarkan hasil foto SEM (Scanning Electron Microscope), secara morfologi permukaan daerah cacat coating yang terkorosi sudah ada inisial korosi.

4.2 Saran

1. Untuk penelitian selanjutnya apabila menggunakan software Echem untuk perhitungan laju korosi, nilai scan rate bisa diperkecil, sekitar 0.1 mV/s.

2. Pada saat melakukan percobaan menggunakan sel 3 elektroda, usahakan jarak elektroda kerja dan

(10)

elektroda acuan tidak terlalu jauh dan pada jarak yang tetap namun tidak saling bersinggungan.

3. Untuk analisa yang lebih lengkap, dapat dilakukan foto SEM-EDX untuk mengetahui unsur-unsur yang ada dan XRD untuk mengetahui senyawa produk korosi.

4. Variasi cacat coating bisa

dibedakan bentuknya. 5. DAFTAR PUSTAKA

API . 2004. Spesification 5L Forth Second edition, Spesification for line pipe . Washington : API Published Service. ASTM .(2002). ASTM A370-02 Standart

Test Methods and Difinition For Mechanical Testing Of Steel Product.

Washington :API Published Service Callister, W. D. 2007. “Material Science and Engineering An Introduction 7ed”, Wiley. Ersandi, Nicky. 2009. Tugas Akhir. “Studi

Ekonomis Pengaruh Post Weld Heat Treatment terhadap Umur Pipa”. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Fansuri dan N. Martianingsih. 2011. “Modul Pelatihan Instrumentasi: Scanning Electron Microscope”. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Fontana, Mars G, 1986, Corrosion

Engineering Third Edition, New

York : Mc Graw- Hill.

Fu, A.Q and Y.F. Cheng. 2009. Jurnal. “Effect of Alternating Current on Corrosion of a Pipeline Steel in a Chloride-Containing

Carbonate/Bicarbonate Solution”.

Canada : University of Calgary.

http://id.wikipedia.org/wiki/Densitas-Logam http://corrosion-doctors.org

http://nhml.com/Scanning-Electron-Microscope

Kusumo, Eko. 2009. Tugas Akhir. “Studi

Pengaruh Scratch Permukaan

Terhadap Laju Korosi pada Pelat Baja Karbon Rendah”. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Nurdin, Isdiriani dkk. 2005. Jurnal. “Inhibisi Korosi Baja dalam Air

Kondensat Terkontaminasi CuCl2

Menggunakan Natrium Fosfat”.

Jakarta: LIPI.

Rahayu, Novita Dwi. 2010. Tugas Akhir. ”Studi Laju Korosi pada Pipa Bawah Laut API 5L Grade X65 dengan Variasi Kecepatan Media”. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Soegiono. 2006. Pipa Laut. Surabaya:

Airlangga University Press.

Supriyanto. 2007. Tugas Akhir. “Pengaruh Konsentrasi Larutan NaCl 2% dan 3,5% Terhadap Laju Korosi Pada Baja

Karbon Rendah”. Universitas

Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. Supomo, Heri 2003. Buku Ajar Korosi. Jurusan Teknik Perkapalan FTK – ITS Surabaya

Trethewey, K. R. & Chamberlain, J. 1991.

Korosi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Utama.

Tarigan, P. 2007. Modul Materi Pelatihan

”Coating Inspector Muda”. Bandung:

PT. Corrosion Care Indonesia.

Zakharov, B. 1962. Heat Treatment of

Referensi

Dokumen terkait

PT Iskandar Indah Printing Textile telah mengeluarkan biaya-biaya yang ditujukan untuk kegiatan pengendalian kualitas agar produk yang dihasilkan perusahaan berkualitas,

Hal ini ditujukan untuk memperkuat pengembangan agroindustri kelapa sawit di tingkat hilir melalui pengolahan bahan baku berbasis kelapa sawit menjadi berbagai

komponen campuran harus keluar dari kolom. Area setiap peak yang mencul dihitung. Area-area peak tersebut dikoreksi terhadap respon detektor untuk jenis senyawa

Rumah Sakit Baptis Batu sehingga semua kegiatan dapat memperoleh hasil yang optimal.Secara garis besar operasional bagian keuangan meliputi Penerimaan Uang dari pasien dan

Kri- teria inklusi penelitian adalah murid sekolah dasar (usia 6-12 tahun) di SDN Pegangsaan II/07, Jakarta Utara; laki-laki atau perempuan; guru wali kelas (tetap maupun

Pengguna menjalankan perangkat lunak pada Google Glass Pengguna mengakses modul data pasien pada panel menu Pengguna mengambil citra wajah pasien menggunakan kamera dan

1) Mualim jaga tidak memasukkan koreksi untuk ENC pada ECDIS yang sedang digunakan pada saat itu yang berasal dari NAVTEX. Sehingga Mualim jaga berikutnya tidak mengetahui

Secara umum peningkatan produksi suatu usahatani dapat merupakan indikator keberhasilan dari usahatani yang bersangkutan, namun demikian tingginya produksi suatu