BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Salah satu media edukatif dalam bidang pendidikan yang memberikan

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Salah satu media edukatif dalam bidang pendidikan yang memberikan informasi dan pembelajaran pada masyarakat adalah film. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan arus distribusi informasi begitu cepat berpengaruh pada perubahan paradigm tentang film. Film bukan hanya sebagai media hiburan dan propaganda politik saja, tapi memiliki kultural dan pendidikan. Film adalah hasil proses kreatif para sineas yang memadukan berbagai unsur seperti gagasan, sistem nilai, pandangan hidup, keindahan, norma, tingkah laku

manusia, dan kecanggihan teknologi.1

Sejarah film dimulai pada tahun 1895. Ketika itu, dunia belum mengenal editing. Beberapa film memang telah sukses menarik hati masyarakat, seperti film yang berjudul La Sortie de I’Usine Lumiere (1895), The Kiss (1895), A Boxing Bout (1896), dan ternyata film-film tersebut tidak diedit. Hampir semua film ketika itu dibuat dengan teknik single shot atau tanpa cutting. Jadi, sepanjang

cerita, juru kamera merekam seluruh adegan tanpa cut.2

Dramatisasi film dirintis oleh D.W.Griffith, dengan diproduksinya film-film yang diberi narasi dan visualisasi. Karena karyanya yang dianggap sebagai

1

Teguh Trianton, Film Sebagai Media Belajar.

(2)

tonggak sejarah editing maka D.W.Griffith dikenal sebagai “bapak editing”.

Selanjutnya, pembuatan film hampir seluruhnya diikuti dengan proses editing.3

Film merupakan salah satu hasil dari karya seni. Film dokumenter merupakan film yang menceritakan sebuah kejadian nyata dengan kekuatan ide kreatornya dalam merangkai gambar-gambar menarik menjadi istimewa secara

keseluruhan.4

Penulis akan membuat sebuah film dokumenter, dimana film dokumenter

adalah satu dari banyaknya jenis film yang telah ada. Frank E. Beaver5

mengatakan film dokumenter biasanya di-shoot di sebuah lokasi nyata, tidak menggunakan aktor dan temanya terfokus pada subjek-subjek seperti sejarah, ilmu pengetahuan, sosial atau lingkungan.

Jenis dari film dokumenter beragam, seperti : dokumenter perjalanan,

dokumenter sejarah, dokumenter portet/biografi, dokumenter

perbandingan/kontradiksi, dokumenter ilmu pengetahuan, dokumenter nostalgia, dokumenter rekonstruksi, dokumenter investigasi, dokumenter eksperimen/seni,

dokumenter buku harian dan dokumenter drama.6

Penulis tertarik ingin memproduksi film dokumenter ilmu pengetahuan karena dalam film tersebut nantinya akan berisi penyampaian informasi mengenai uatu sistem berdasarkan displin ilmu tertentu dengan sub-genre film dokumenter sains. Film dokumenter sains biasanya ditunjukan untuk publik umum yang

3

Bambang Samedhi, loc.cit

4

Andi Fachrudin, Dasar-dasar Produksi Televisi, Jakarta. Kencana Prenada Media Group. 2012. Hal 316

5

Timothy Corrigan. A Short Guide to Writing about Film. New Jersey: Pearson Education. 2007. Hal 206

(3)

menjelaskan tentang suatu ilmu pengetahuan tertentu, misalny dunia binatang, dunia teknologi, dunia kebudayaan, dunia tata kota, dunia lingkungan dan dunia

kuliner.7 Dimana dokumenter juga merupakan media yang efektif untuk

memberikan pencerahan, informasi pendidikan dan wawasan tentang dunia yang kita tinggali.

Sebuah film tidak akan terlepas dari seorang editor. Editor adalah sineas professional yang bertanggung jawab mengkonstruksi cerita secara estetis dari shot yang dibuat berdasarkan skenario dan konsep penyutradaraan. Editor adalah seseorang yang melakukan penyuntingan gambar pada saat pasca produksi. Namun kini, editor sudah dilibatkan bahkan sebelum produksi dimulai. Oleh produser dan sutradara, editor diminta untuk memamparkan konsep editing apakah yang akan digunakan pada saat nanti akan melakukan penyuntingan

gambar.8

Teknik penyuntingan gambar merupakan salah satu proses tahapan dari sebuah produksi yang menentukan hasil dari sebuah teks menjadi sebuah kesatuan gambar secara utuh. Pada dasarnya, penyuntingan gambar atau editing berguna untuk memendekkan waktu, mengontrol waktu, memberikan penekanan terhadap shot tertentu dan membentuk alur cerita.

Pada film dokumenter yang akan di produksi oleh penulis bertemakan tentang kerusakan lingkungan.

Hutan tropis adalah komponen fundamental dari banyaknya ekosistem dan ekonomi masyarakat lokal. Ekosistem di hutan tropis menyediakan nilai-nilai

7

Andi Fachrudin, op.cit. hal 328

(4)

penting kepada masyarakat lokal termasuk pengendalian iklim, obat-obatan, makanan dan kayu. Spesies-spesies pohon di hutan tropis merupakan pohon yang memiliki nilai ekonomi terpenting di Asia Tenggara. Pohon-pohon tersebut yang paling banyak di eksploitasi. Hal yang terpenting, bagaimanapun spesies kayu yang diimpor secara internasional juga akan penting secara lokal karena bisa digunakan sebagai obat-obatan dan nilai-nilai budaya. Dari berbagai negara di dunia salah satunya, Indonesia, 50% bahan konstruksi dari masyarakat lokal

adalah kayu yang tumbuh di tanah mereka sendiri.9

Kalimantan adalah rumah dari 3000 jenis spesies pohon. Salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan dataran rendah adalah Ulin (Eusideroxylon zwageri Tejism. & Binn). Ulin adalah tumbuhan yang toleran karena pohon ini dapat tumbuh tanpa sinar matahari bahkan akan lebih baik jika di tanam tanpa sinar matahari. Menurut Kiyono dan Hastaniah (2010) pohon Ulin ditemukan di hutan dataran rendah yang tersebar di Kalimantan, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka dan Belitung.

Pohon ini sangat kuat dan tahan lama; dapat menahan pembusukan hingga 40 tahun, bahkan ketika kondisi tanah basah ataupun kering (Whitten, 2009). Orang lokal menggunakan pohon Ulin dalam konstruksi rumah, lantai, atap dan dinding. Karena ketahanannya yang sangat baik untuk bakteri, jamur, serangga, dan hama penggerek laut secara praktis dimanfaatkan oleh regional dan bahkan internasional untuk konstruksi berat dalam struktur maritim, konstruksi dermaga dan bangunan kapal. Penulisngnya tingkat pertumbuhan Ulin sangat lambat yaitu

9

Silviculture Development And Genetic Conservation Of Eusideroxylon Zwageri Teijs https:/openaccess.leidenuniv.nl/handle/1887/19056/01.pdf?sequence= . diakses pada 13 Oktober 2016. Hal 2

(5)

8 mm per tahun (Ashton di Irawan, 2004). Untuk menghasilkan buah memerlukan setidaknya 30 tahun. Hewan dan tumbuhan juga tergantung pada Ulin. Meijaard, E., D. Sheil, R. Nasi, dan S. A. Stanley (2006) mencatat bahwa burung enggang (Rhinoplax Vigil) membangun sarang mereka di pohon Ulin. Burung ini dilindungi oleh hukum Indonesia (Bennett et al. 1997, Bennett dan Gumal 2001). Pohon Ulin juga merupakan tempat favoit untuk membuat sarang bagi orangutan. Orangutan juga memakan daun-daun Ulin yang masih muda. Karena masalah lingkungan telah menjadi perhatian yang signifikan di dunia, khususnya hutan dan kepedulian masyarakat dalam kelangkaan Ulin (Eusideroxylon Zwageri), pemerintah merilis dua kebijakan. Kebijakan pertama, adalah untuk membatasi penggunaan dan distribusi kayu melalui Mentri Kehutanan. Kebijakan No. S 147 / Menhut-IV / 2006 di 9 Maret 2006 dan diikuti oleh Dirjen BPK Kebijakan Nomor S 669 / IV-BPHA / 2006 yang menyebutkan kayu Ulin dilarangan untuk menjual dan mendistribusikan luar Kalimantan. Namun, kebijakan tersebut adalah kontra produktif dengan kebijakan pemerintah lainnya dalam memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk menjalankan praktik tebang pilih dan konversi hutan.

Tebang pilih adalah ekstraksi praktis pohon berharga. Penebangan pohon juga dapat meninggalkan hewan rentan terhadap predator. Pohon ini telah dikategorikan sebagai pohon rentan (IUCN, 2010). Hal ini mencerminkan kerusakan pohon secara tidak langsung menghancurkan habitat bagi banyak tanaman dan spesies hewan.

Atas dasar itu semua, penulis tertarik ingin memproduksi film dokumenter ilmu pengetahuan “Tonggak” dengan sub-genre film dokumenter sains dan

(6)

dengan gaya penuturan investigasi karena nantinya akan berisi penyampaian informasi mengenai suatu sistem berdasarkan disiplin ilmu pengetahuan ekologi. Ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba mempelajari hubungan antara tumbuhan, binatang dan manusia dengan lingkungan dimana mereka hidup, bagaimana kehidupannya, dan mengapa mereka ada di tempat tersebut. Dan juga mengungkapkan peristiwa secara ekspository yaitu deskriptif dan informatif. Dengan meliputi konsep editing kompilasi dan juga teknik montage.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka adapun rumusan masalah pembuatan tugas akhir ini yaitu Bagaimana aplikasi editing dalam film dokumenter sehingga pesan dari film tersebut dapat tersampaikan kepada penonton?

1.3. Tujuan Perancangan

Dalam setiap karya ini pasti memiliki suatu tujuan yang dapat dinikmati maupun dirasakan di masyarakat, tujuan lainnya yaitu untuk mengaplikasikan rancangan editing dalam film dokumenter.

1.4. Alasan Pemilihan Judul

Alasan penulis memilih judul film dokumenter “Tonggak” karena secara harfiah artinya adalah kayu, batu, dan sebagainya. Tetapi secara filosofi yang berarti sebuah pondasi kehidupan. Dan penulis sebagai editor akan bertanggung

(7)

jawab terhadap struktur penceritaannya sehingga penulis akan mengaplikasikan teknik editing dalam film dokumenter “Tonggak”.

1.5. Manfaat Perancangan 1.5.1 Manfaat Akademis

Secara akademis khususnya bagi Fakultas Ilmu Komunikasi, penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan pengetahuan di bidang Broadcasting mengenai dokumenter televisi. Terutama dari teknik penyuntingan gambar. Serta dapat menjadi referensi bagi mahasiswa yang akan datang.

1.5.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu tayangan yang memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pohon Ulin yang statusnya hampir punah dalam bentuk tayangan dokumenter sains.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :