PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN TABANAN
TAHUN 2015
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN TABANAN
TAHUN 2016
ii
KATA PENGANTAR
Atas Asung Kerta Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa /Tuhan Yang Maha Esa, Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2015 ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya dari rangkaian penyajian data dan informasi.
Sebagai salah satu produk Sistem Informasi Kesehatan, maka Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2015 ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada para pembaca mengenai kondisi dan situasi kesehatan di wilayah Kabupaten Tabanan pada tahun 2015
Kondisi kesehatan yang digambarkan dalam Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2015 ini disusun berdasarkan data-data yang dihimpun dari bidang-bidang dan pengelola program di jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Badan Rumah Sakit Umum (BRSU) Tabanan, pelayanan kesehatan swasta yang terdapat di Kabupaten Tabanan, serta lintas sektor terkait.
Untuk menjamin akurasi, dilakukan validasi data melalui mekanisme pemutakhiran data. Namun demikian, Profil Kesehatan ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk memperbaiki penyusunan di tahun-tahun mendatang.
Tersusunnya Profil Kesehatan ini tidak lepas dari komitmen dan kerja keras seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, untuk itu disampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan mudah-mudahan Profil Kesehatan ini bermanfaat
iii
dalam mengisi kebutuhan data dan informasi kesehatan yang terkini sesuai dengan harapan kita semua.
Tabanan, Juli 2016. Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Tabanan,
dr. I Nyoman Suratmika, M.Kes
Pembina Utama Muda
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN HUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1B. Tujuan Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan ... 3
C. Sistematika ... 3
BAB II GAMBARAN UMUM……… 5
A. Geografi ... 5
B. Keadaan Penduduk ... 6
C. Keadaan Sosial Ekonomi ... 7
D. Keadaan Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Penduduk ... 9
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ……….. 15
A. Mortalitas ... 15
B. Morbiditas ... 23
BAB IV UPAYA KESEHATAN ……… 42
A. Pelayanan Kesehatan Dasar ... 43
B. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ... 71
C. Pelayanan Kesehatan Rujukan ... 74
BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN ……… 79
A. Tenaga Kesehatan ... 79
B. Sarana Kesehatan ... 83
C. Pembiayaan Kesehatan ... 90
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ……… 93
A. Kesimpulan ... 93
B. Saran ... 95 LAMPIRAN TABEL
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 17 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pasal 168 menyebutkan bahwa untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efesien diperlukan informasi kesehatan, yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui kerjasama lintas sektor, dengan ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan pasal 169 mengatakan bahwa pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) pada pasal 2 ayat 1 mengatakan pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan administrasi kesehatan, informasi kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan serta pengaturan hokum kesehatan secata terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setingi-tingginya. Dengan demikian informasi kesehatan merupakan sub sistem yang berguna untuk mendukung subsistem lainnya, karena tidak mungkin subsistem lain dapat bekerja tanpa didukung dengan Sistem Informasi Kesehatan demikian juga sebaliknya.
Salah satu keluaran dari penyelenggaraan sistem informasi kesehatan adalah Profil Kesehatan Kabupaten, yang merupakan salah satu paket penyajian
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015
2
data/ informasi kesehatan yang relatif lengkap, berisi data/informasi tentang data umum, derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan, dan data/informasi terkait lainnya, yang diterbitkan setiap tahun.
Disamping itu berguna untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan sesuai dengan Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” dan dengan Misinya “1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; 2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; 3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; 4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik”.
Profil Kesehatan Kabupaten diharapkan dapat dijadikan salah satu media untuk memantau dan mengevaluasi hasil penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kabupaten, dan sebagai masukan bagi penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Bali. Untuk itu penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten yang berkualitas, yaitu yang dapat terbit lebih cepat, menyajikan data yang lengkap, akurat, konsisten, dan sesuai kebutuhan, menjadi harapan bersama.
Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Tahun 2015 ini mengacu pada Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota 2013 (berdasarkan data terpilah jenis kelamin) di modifikasi dengan Edisi Revisi 2014 yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Kabupaten Tahun 2015 disusun berdasarkan data/informasi yang didapatkan dari bidang-bidang dan pengelola program di jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Badan Rumah Sakit Umum (BRSU) Tabanan, pelayanan kesehatan swasta di Kabupaten Tabanan, serta data/informasi dari lintas sektor terkait.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015
3
B. TUJUAN PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TABANAN
Tujuan dari dibuatnya Profil Kesehatan ini merupakan salah satu sarana evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan standar pelayanan minimal di bidang kesehatan, dan pencapaian target indikator Millenium Development Goals bidang kesehatan, serta berbagai upaya terkait dengan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan lintas sector seperti Badan Pusat Statistik.
C. SISTEMATIKA
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menyajikan tentang tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten, maksud dan tujuan serta sistematika penyajiannya.
BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum kabupaten, letak geografis, administratif dan informasi umum lainnya yang berpengaruh terhadap kesehatan dan factor-faktor lainnya seperti kependudukan, ekonomi, pendidikan, social budaya, perilaku dan lingkungan.
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Bab ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan, seperti angka kematian, angka kesakitan, angka harapan hidup, dan status gizi masyarakat.
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang upaya kesehatan yang sesuai tujuan program pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar, pencapaian pelayanan kesehatan
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015
4
rujukan, perbaikan gizi masyarakat dan promosi kesehatan. BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan seperti pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian, sarana/fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
BAB VI SIMPULAN
Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2014 berdasarkan analisis sederhana dari masing-masing hasil pelaksanaan program kesehatan. Selain hal-hal yang sudah berhasil dicapai, juga menguraikan hal-hal yang masih dianggap kurang dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. LAMPIRAN
Pada lampiran berisi resume atau angka pencapaian program kesehatan dan 81 tabel data yang merupakan gabungan table indicator Kabupaten Tabanan dan indicator kinerja standar pelayanan minimal bidang kesehatan.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 5
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. GEOGRAFI
Kabupaten Tabanan merupakan salah satu salah satu dari 9 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali.
1. Letak Wilayah
Secara geografis Kabupaten Tabanan berada pada posisi 08014’30” sampai 08038’07“ Lintang Selatan dan 114054’52’’ sampai 115012’57” Bujur Timur. Wilayah ini cukup strategis karena berdekatan dengan Ibukota Provinsi Bali yang hanya berjarak sekitar 25 Km dengan waktu tempuh ± 45 menit dan dilalui oleh jalur arteri yaitu jalur antar propinsi. Secara administratif Kabupaten Tabanan terbagi atas 10 kecamatan dan 133 desa. Batas-batas wilayah Kabupaten Tabanan secara lengkap adalah :
1. Sebelah Utara : Kabupaten Buleleng 2. Sebelah Timur : Kabupaten Badung 3. Sebelah Barat : Kabupaten Jembrana 4. Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
2. Luas Wilayah
Luas Kabupaten Tabanan adalah 839,33 km2 atau sekitar 14,90 % dari luas Propinsi Bali (5.632,86 km2). Berdasarkan besarnya wilayah, maka Kabupaten Tabanan termasuk kabupaten terbesar kedua di Propinsi Bali setelah Kabupaten Buleleng. Keadaan topografi Kabupaten Tabanan dapat digambarkan dengan adanya dataran tinggi di bagian utara wilayah Tabanan, dan dataran rendah di bagian selatannya. Kabupaten Tabanan bagian utara merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian tertinggi berada pada puncak Gunung Batukaru, yaitu 2.276 meter dari permukaan laut, dan di bagian selatan Kabupaten Tabanan merupakan daerah pantai yang berupa dataran rendah.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 6
Bila dilihat dari penguasaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada, sekitar 62,455 Ha (74,41 %) wilayah Kabupaten Tabanan merupakan lahan pertanian, yang terdiri dari lahan sawah sebesar 22.184 Ha (26,43 %) dan 40,271 Ha (47,98 %) merupakan lahan pertanian bukan sawah, yang sebagian besar berupa perkebunan, tegal, hutan rakyat, dan lainnya (tambak, kolam, empang, dll). Sedangkan 25,59 % lahan lainnya di Kabupaten Tabanan merupakan lahan bukan pertanian, seperti jalan, pemukiman, perkantoran, sungai dan lain-lain.
3. Iklim
Curah hujan disuatu tempat dipengaruhi oleh keadaan iklim, topografi, dan pertemuan arus angin. Dari topografinya, Kabupaten Tabanan merupakan daerah pegunungan dan pantai. Hal ini mengakibatkan perbedaan suhu di masing-masing daerah di wilayah Kabupaten Tabanan, dimana perbedaan suhu tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat curah hujan.
B. KEADAAN PENDUDUK
Jumlah penduduk Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 berdasarkan hasil peoyeksi BPS sebesar 435.900 jiwa, terdiri dari 216.500 jiwa penduduk laki-laki dan 219.400 jiwa penduduk perempuan, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 519,4 jiwa per km2.
Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Kediri, dengan kepadatan sebesar 1.691,60 jiwa per km2, sedangkan Kecamatan Selemadeg Barat merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah, yaitu hanya 160,38 jiwa per km2. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur dan angka beban tanggungan dapat dilihat pada lampiran tabel 2.1
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 7
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Kabupaten/Kota Tabanan
Tahun 2015
JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI+PEREMPUAN RASIO JENIS KELAMIN
1 2 3 4 5 6 1 0 - 4 13.800 13.500 27.300 102,22 2 5 - 9 16.100 15.000 31.100 107,33 3 10 - 14 17.100 15.600 32.700 109,62 4 15 - 19 14.100 13.500 27.600 104,44 5 20 - 24 12.800 12.300 25.100 104,07 6 25 - 29 13.400 13.100 26.500 102,29 7 30 - 34 13.800 14.200 28.000 97,18 8 35 - 39 17.300 17.600 34.900 98,30 9 40 - 44 20.000 20.300 40.300 98,52 10 45 - 49 19.500 19.700 39.200 98,98 11 50 - 54 16.200 16.200 32.400 100,00 12 55 - 59 12.900 13.200 26.100 97,73 13 60 - 64 10.200 11.000 21.200 92,73 14 65 - 69 8.100 8.800 16.900 92,05 15 70 - 74 5.200 6.700 11.900 77,61 16 75+ 6.000 8.700 14.700 68,97 JUMLAH 216.500 219.400 435.900 98,68
ANGKA BEBAN TANGGUNGAN (DEPENDENCY RATIO) 45
NO KELOMPOK UMUR (TAHUN)
Sumber : BPS Kab. Tabanan Tahun 2015
Berdasarkan tabel 2.1 diatas dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk Kabupaten Tabanan menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 20,90 %, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 69,12 %, dan yang berusia tua (≥ 65 tahun) sebesar 9,98 %. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Depedency Ratio) penduduk Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 adalah sebesar 45 %. Artinya beban tanggungan cukup tinggi karena usia produktif harus menanggung kelompok usia non produktif.
C. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan total nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit di suatu wilayah dalam periode tertentu, dimana informasi tersebut berisi tentang data nilai tambah sektoral, struktur perekonomian, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. PDRB suatu daerah dapat dihitung melalui dua pendekatan, yaitu PDRB atas dasar harga konstan, dan PDRB atas dasar harga berlaku.
PDRB Kabupaten Tabanan tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tabanan, yakni PDRB atas dasar harga berlaku mencapai 6.452.645,72 juta rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan sebesar
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 8
dapat diketahui pertumbuhan perekonomian. Untuk tahun 2015 laju pertumbuhan
PDRB Kabupaten Tabanan sebesar 6,03 persen.
Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat, sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakit-penyakit tertentu. Fenomena gizi buruk dan gizi kurang sering kali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk. Merujuk pada fakta betapa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar, kwashiokor, penyakit kekurangan vitamin seperti xeropthalmia, scorbut.
Adapun kriteria Keluarga Miskin versi BKKBN yaitu :
a. Pada umumnya anggota keluarga makan kurang dari 2 (dua) kali sehari. b. Anggota keluarga tidak memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah,
bekerja/sekolah, dan berpergian.
c. Bagian lantai rumah yang terluas adalah dari tanah.
d. Anak sakit atau PUS yang ingin ber KB tidak dibawa ke sarana kesehatan.
e. Dalam seminggu keluarga tidak pernah makan daging/telur/ ikan. f. Setahun terakhir anggota keluarga tidak mendapat pakaian baru. g. Luas lantai rumah kurang 8 m2 untuk tiap penghuni
h. Anak umur 7-15 tahun belum sekolah karena faktor ekonomi.
Berdasarkan kriteria diatas maka Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tabanan pada tahun 2014 sebanyak 103.964 jiwa atau 23,85 % dari jumlah penduduk.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 9
D. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU
PENDUDUK
Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat salah satunya adalah faktor lingkungan, disamping tiga faktor lainnya seperti perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik. Faktor lingkungan akan sangat menentukan baik buruknya derajat kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan di Kabupaten Tabanan akan disajikan beberapa indikator yang terkait seperti :
1. Sarana dan Akses Air Minum Berkualitas
Pembangunan prasarana penyediaan air bersih salah satu indikator yang tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang harus kita wujudkan sebagai komitmen suatu negara agar kelestarian lingkungan hidup dengan menurunkan target hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga 2015.
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Penyelenggara air minum dapat berasal dari badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat, dan/atau individual yang melakukan penyelenggaraan penyediaan air minum. Syarat-syarat kualitas air minum sesuai dengan Permenkes No. 492/Menkes/Per/IV/2010, diantaranya adalah sebagai berikut :
Parameter mikrobiologi E Coli dan total bakteri kolform, kadar maksimum yang diperbolehkan 0 jumlah per 100 ml sampel.
Syarat fisik : tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.
Syarat kimia : Kadar besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, kesadahan maksimal 500 mg/l, pH 6,5-8,5.
Tahun 2012 secara nasional cakupan fisik air minum 95,93%, artinya kategori baik yang mencakup tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Cakupan
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 10
sarana dan akses air minum di Kabupaten Tabanan tahun 2015 adalah sebagai berikut :
Sumber : Seksi PL Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Pada gambar 2.1 diatas dapat dikatakan bahwa rata-rata cakupannya sebesar 91,29%. Cakupan yang paling tinggi adalah Puskesmas Kerambitan I 113,72 % dan yang terendah Puskesmas Kediri III 63,75%.
2. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar
Air bersih dan sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat pada tahun 2014 sebesar 87,8%, jumlah ini mengalami peningkatan menjadi sebesar 90,92% pada tahun 2015. Target tahun 2014 sebesar 80%, sehingga tahun 2014 sudah mencapai target. Namun demikian masih terdapat beberapa penduduk yang tidak mengakses jamban sehat atau masih terdapat beberapa penduduk yang tidak mengakses jamban sehat atau masih berperilaku buang air besar sembarangan (BABS). Pertambahan jumlah penduduk yang pesat dan tingginya tingkat mobilitas penduduk di Provinsi Bali tidak diikuti dengan penyediaan sarana sanitasi (jamban). Disisi lain perilaku penduduk yang masih BABS menjadi kendala yang penting untuk segera diselesaikan. Beberapa upaya
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 11
yang ditempuh dalam peningkatan akses sanitasi adalah pemicuan perubahan perilaku melelaui strategi STBM, sehingga diharapkan penduduk mau jamban sehat dan pada akhirnya mau membangun sarana sanitasinya sendiri. Kalau kita lihat capaian pemanfaatan jamban sehat untuk masing-masing Puskesmas di Kabupaten Tabanan tahun 2015, seperti gambar berikut :
Sumber : Seksi PL Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Sebagian besar cakupan akses penggunaan jamban lebih dari 80% namun ada 4 Puskesmas yang masih dibawah 80%, dan yang terendah di wilayah kerja Puskesmas Tabanan III yaitu 69,20%. Jika dirata-ratakan cakupan Kabupaten Tabanan sebesar 90,92%.
3. Rumah Sehat
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan khususnya pasal 163 ayat 2 mengamanatkan bahwa lingkungan sehat antara lain mencakup lingkungan pemukiman. Untuk melaksanakan amanat tersebut, maka penyelenggaraan penyehatan pemukiman difokuskan pada peningkatan rumah sehat. Rumah sehat adalah rumah yang memenuhi kriteria minimal : akses air minum, akses jamban sehat, lantai, ventilasi, dan pencahayaan (Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan dan Permenkes
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 12
Nomor 1077/Per/V/Menkes/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah).
Gambar 2.3
Persentase Rumah Sehat per Puskesmas di Kabupaten Tabanan Tahun 2015
Sumber : Seksi PL Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Cakupan rumah sehat Kabupaten Tabanan Tahun 2015 sebesar 77,94%, sedangkan tahun 2015 sebesar 85,76%. Jadi tahun 2015 ini mengalami peningkatan sebesar 7,83% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Cakupan tersebut diakibatkan karena beberapa indikator rumah sehat seperti ketersediaan sanitasi (jamban sehat), sarana air bersih, pengelolaan limbah, keberadaan vektor, kondisi fisik rumah seperti ventelasi dll belum sepenuhnya baik. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan sehingga diharapkan pada tahun mendatang kualitas indikator rumah sehatnya semakin membaik. Pada tahun 2015, cakupan tertinggi adalah Puskesmas Selemadeg Barat dan Baturiti I sebesar 97,36% dan yang terendah adalah Puskesmas Pupuan II sebesar 37,82%.
4. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat
Keluarga mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, karena dalam keluarga terjadi komunikasi dan interaksi antara anggota
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 13
keluarga yang menjadi awal penting dari suatu proses pendidikan perilaku. Pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini dalam keluarga dapat menciptakan keluarga yang sehat dan aktif dalam setiap upaya kesehatan di masyarakat. Untuk hal ini Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes memprogramkan rumah tangga untuk ber-PHBS.
PHBS merupakan semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat.
PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Ada 10 perilaku hidup bersih dan sehat yang harus dilakukan apabila rumah tangga dikatakan telah, melakukan PHBS seperti 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, 2) memberi ASI Ekslusif, 3) menimbang balita setiap bulan, 4) menggunakan air bersih, 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, 6) menggunakan jamban sehat, 7) memberantas jentik di rumah sekali seminggu, 8) makan buah dan syur setiap hari, 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan 10) tidak merokok di dalm rumah.
Target nasional dalam renstra Kemenkes 2010-2014 sebesar 70% tahun 2014. Hasil Riskesdas tahun 2013 rumah tangga yang ber-PHBS mencapai 32,3%. Provinsi Bali rumah tangga ber-PHBS tahun 2014 sebesar 69,95%, sedangkan Kabupaten Tabanan rumah tangga ber-PHBS tahun 2014 mencapai 72,44%. Namun pada tahun 2015 mengalami penurunan yang cukup drastis yakni 60,82%. Persentase rumah tangga ber-PHBS per Puskesmas di Kabupaten Tabanan 2015 sebagai berikut :
Profil Kesehatan Kab. Tabanan 2015 Page 14 Sumber : Seksi Promkes dan PSM Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa rata-rata rumah tangga yang sudah ber-PHBS sebesar 60,82%. Puskesmas yang cakupan tertinggi adalah Puskesmas Kediri III sebesar 91,24%, sedangkan yang terendah adalah Puskesmas Marga II sebesar 25%.
5. Desa yang Melaksanakan STBM
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program yang memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan kesehatan lingkungan. Dari 133 desa yang ada di wilayah kerja Pemerintah Kabupaten Tabanan, desa yang sudah melaksanakan STBM baru 68 desa atau 51,13%. Ini disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya tenaga fasilitator STBM yang terampil di tingkat kecamatan/desa, belum ada regulasi yang kuat untuk memberdayakan masyarakat mulai tingkat propinsi sampai desa, perlu ditingkatkannya kerja sama baik lintas program maupun lintas sektor.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 15
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Untuk menilai Derajat Kesehatan di suatu wilayah biasanya menggunakan indikator yang umum dan telah disepakati baik secara nasional maupun internasional seperti angka angka kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas). Dalam Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan ini, derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Tabanan digambarkan melalui angka kematian yang terdiri dari Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), dan Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit.
Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor-faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan faktor-faktor lainnya.
A. MORTALITAS
Mortalitas adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir (outcome) dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung.
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian.
Angka kematian yang disajikan pada bab ini adalah Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Kasar.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 16
1. Angka Kematian Neonatal (AKN)
Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah jumlah kematian bayi usia sampai 28 hari yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Cakupan AKN Kabupaten Tabanan Tahun 2015 sebesar 8,25 per 1000 kelahiran hidup. Tahun 2015 cakupan AKN mengalami penurunan dari tahun 2014 sebesar 0,43 per 1000 kelahiran hidup. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan pelayanan ANC yang berkualitas dan terpadu, meningkatkan pelaksanaan GSI-B dan P4K, meningkatkan fungsi Puskesmas dalam memberikan pelayanan neonatal esensial, peningkatan SDM kesehatan melalui peningkatan keterampilan dan pelatihan, meningkatkan fungsi keluarga dalam perawatan bayi dan balita melalui kelas ibu balita, meningkatkan pemanfaatan buku KIA.
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat bayi lahir sampai satu hari sebelum ulang tahun pertama. Dari sisi penyebabnya, kematian bayi dibedakan faktor endogen dan faktor eksogen. Kematian bayi endogen (kematian neonatal) adalah kejadian kematian yang terjadi pada bulan pertama setelah bayi dilahirkan, umumnya disebabkan oleh faktor bawaan. Sedangkan kematian eksogen (kematian post neonatal) adalah kematian bayi yang terjadi antara usia satu bulan sampai satu tahun, umumnya disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan pengaruh lingkungan.
Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate adalah jumlah kematian bayi usia 0-11 bulan yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB menggambarkan banyaknya jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu di suatu daerah.
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang sangat berguna tidak hanya terhadap status kesehatan anak, tetapi juga terhadap status penduduk secara keseluruhan dan kondisi ekonomi dimana penduduk tersebut bertempat tinggal. AKB
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 17
merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tataran kabupaten, provinsi maupun nasional. Selain itu, program-program kesehatan di Indonesia banyak yang menitikberatkan pada upaya penurunan Angka Kematian Bayi. AKB tidak hanya mencerminkan besarnya masalah kesehatan yang berkaitan dengan kematian bayi seperti akibat diare, infeksi saluran pernafasan, salah gizi, atau penyakit infeksi lainnya, akan tetapi juga mencerminkan tingkat kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan secara umum serta tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 sebesar 10,22 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami penurunan dengan Angka Kematian Bayi pada tahun 2014 yang sebesar 12,00 per 1000 kelahiran hidup. Menurut jenis kelamin, kematian bayi laki-laki lebih tinggi dari kematian bayi perempuan, yakni 32 kematian bayi laki-laki sedangkan bayi perempuan sebanyak 20 kematian bayi. Angka Kematian Bayi pada tahun 2015 menunjukkan angka tertinggi pada Puskesmas Kediri I, dimana Angka Kematian Bayi di puskesmas tersebut sebesar 7 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi 0 per 1000 kelahiran hidup dicapai oleh Puskesmas Tabanan III, Selemadeg Timur I, dan Kediri III. Gambaran perkembangan terakhir mengenai Angka Kematian Bayi dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini.
Gambar 3.1 Angka Kematian Bayi di Kabupaten Tabanan (2006-2015)
7,97 9,34 7,28 11,31 5,37 9,4 8,3 14,93 12 10,22 0 2 4 6 8 10 12 14 16 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 18
Gambar diatas memperlihatkan trend AKB Kabupaten Tabanan dari Tahun 2006-2015 bersifat fluktuasi. Untuk itu diperlukan perhatian lebih dari program terkait, karena bayi adalah kelompok usia yang paling rentan terkena dampak dari perubahan lingkungan maupun sosial ekonomi. Kejadian kematian bayi sangat berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan, yang dipengaruhi antara lain karena masih ada persalinan di rumah, status gizi ibu selama kehamilan kurang baik, rendahnya pengetahuan keluarga dalam perawatan bayi baru lahir. Untuk itu diperlukan perhatian khusus dalam memberikan pelayanan kesehatan bayi terutama pada hari-hari pertama kehidupannya yang sangat rentan karena banyak perubahan yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Gambaran AKB per Puskesmas se Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Sumber : Seksi Kesga Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Dari gambar diatas dapat dijelaskan rata-rata AKB Kabupaten Tabanan Tahun 2015 sebesar 10,22 per 1.000 kelahiran hidup. AKB tertinggi terjadi di wilayah kerja Puskesmas Selemadeg Timur II sebesar 32,79 per 1.000 kelahiran hidup, dan yang terendah yaitu di tiga Puskesmas yaitu Puskesmas Tabanan III, Puskesmas Selemadeg Timur I, dan Puskesmas Kediri III.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 19
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 (lima) tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 (lima) tahun. AKABA dapat menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi, dan kecelakaan.
Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA yaitu,
sangat tinggi dengan nilai > 140, tinggi dengan nilai 71 – 140, sedang dengan nilai 20 – 70, dan rendah dengan nilai < 20.
Berdasarkan data dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Angka Kematian Balita pada tahun 2015 sebesar 10,81 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Angka Kematian Balita pada tahun 2014, dimana Angka Kematian Balita sebesar 12,61 per 1000 kelahiran hidup. Gambaran perkembangan Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Tabanan pada tahun 2006-2015 disajikan pada gambar 3.3 berikut ini.
Sumber : Seksi Kesga Dinkes Kab. Tabanan Tahun 2015
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa data AKABA di Kabupaten Tabanan trendnya fluktuatif, dan secara umum bila dilihat dari tahun 2006 kecenderungan agak meningkat hal ini diakibatkan oleh semakin baiknya system pelaporannya dari
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 20
bawah baik dari masyarakat sampai pada tingkat kabupaten. Gambaran AKABA per Puskesmas se Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Dari gambaran diatas dapat dijelaskan bahwa rata-rata AKABA Kabupaten Tabanan Tahun 2015 sebesar 10,81 per 1000 kelahiran hidup. AKABA tertinggi terjadi di wilayah kerja Puskesmas Selemadeg Timur II dan yang terendah di Puskesmas Tabanan III, Selemadeg Timur I dan Kediri III.
4. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir berkualitas. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. AKI juga menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 21
Angka Kematian Ibu bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Angka Kematian Ibu juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait kehamilan. Angka Kematian Ibu mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas. AKI berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
Menurut laporan dari Seksi Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 adalah sebesar 58,94 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami peningkatan dari Angka Kematian Ibu pada tahun 2014 yang sebesar 41 per 100.000 kelahiran hidup. Gambaran Angka Kematian Ibu di Kabupaten Tabanan periode tahun 2005-2015 disajikan pada gambar 3.5 berikut.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 22
Pada gambar diatas terlihat trend AKI yang mengalami fluktuasi dari tahun 2005 sampai dengan 2015, bahkan AKI pada tahun 2012 mengalami peningkatan yang sangat tajam dari tahun sebelumnya dan merupakan AKI tertinggi selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Untuk itu perlu kiranya mendapat perhatian lebih dari Seksi Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana serta program terkait, karena kematian ibu dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum, pendidikan, serta pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Target AKI secara nasional sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup, maka cakupan AKI di Kabupaten Tabanan sudah mencapai target bahkan sudah cukup dibawah target nasional. Gambaran AKI per Puskesmas se Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Sumber : Seksi Kesga Dikes Kab. Tabanan 2015
Dari gambaran diatas dapat dijelaskan bahwa rata-rata cakupan AKI di Kabupaten Tabanan Tahun 2015 sebesar 58,9 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah AKI sebanyak 3 (tiga) orang yaitu di wilayah kerja Puskesmas Tabanan I, Tabanan III, dan Kerambitan I masing-masing 1 orang (1,96 per 100.000 kelahiran hidup).
5. Angka Harapan Hidup (AHH)
Angka/Umur Harapan Hidup (AHH/UHH) secara definisi adalah perkiraan rata-rata lamanya hidup yang akan dicapai oleh sekelompok penduduk dari sejak lahir. AHH dapat dijadikan salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah pada keberhasilan pembangunan kesehatan serta sosial ekonomi di suatu wilayah,
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 23
termasuk di dalamnya derajat kesehatan. Data AHH diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Selain Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Harapan Hidup (AHH) juga digunakan untuk menilai derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, baik kabupaten, provinsi, maupun negara. AHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan angka harapan hidup saat lahir. AHH Kabupaten Tabanan untuk tahun 2014 belum ada, yang ada AHH untuk tahun 2013 yang bersumber dari penghitungan IPM BPS
Pusat adalah sebesar 74,91. UHH Tahun 2014 mengalami peningkatan dari tahun
sebelumnya yaitu Tahun 2012 sebesar 74,55. (TIDAK MEMPUNYAI DATA, CARI
DI BIDANG)
B. MORBIDITAS
Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.
Tingkat kesakitan suatu negara juga mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat yang ada di dalamnya. Bahkan tingkat morbiditas penyakit menular tertentu yang terkait dengan komitmen internasional senantiasa menjadi sorotan dalam membandingkan kondisi kesehatan antar negara. Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga menghadapi transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda. Di satu sisi, kasus gizi kurang serta penyakit-penyakit infeksi, baik
re-emerging maupun new-re-emerging disease masih tinggi. Namun di sisi lain, penyakit
degeneratif, gizi lebih dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan juga meningkat. Masalah perilaku tidak sehat juga menjadi faktor utama yang harus dirubah terlebih
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 24
dahulu agar beban ganda masalah kesehatan teratasi. Angka kesakitan (Morbiditas) pada penduduk berasal dari community based data yang diperoleh melalui pengamatan (surveilans), terutama yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan melalui sistem pencatatan dan pelaporan rutin serta insidentil. Sementara untuk kondisi penyakit menular, berikut ini akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan penyakit yang memiliki potensi untuk menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pada bab ini akan disajikan gambaran morbiditas penyakit-penyakit menular dan tidak menular yang dapat menjelaskan keadaan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Tabanan sepanjang tahun 2015.
1. Pola 10 Besar Penyakit Terbanyak di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan
Angka Kesakitan pada penduduk berasal dari community based data yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan melalui sistem pencatatan dan pelaporan rutin dan isedentil. Berdasarkan pengamatan penyakit berpotensial KLB dan penyakit tidak menular yang diamati di Puskesmas dan jaringannya, terdapat suatu pola dan trend penyakit.
Berdasarkan laporan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), pola 10 besar penyakit terbanyak di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kasus terbanyak adalah penyakit Hipertensi Primer dengan jumlah total kasus sebanyak 21.204, diikuti penyakit Nasofaringitis akut (Common Cold) dengan jumlah total kasus sebanyak 13.407, selanjutnya Arthritis Lainnya dengan jumlah total kasus sebanyak 12.290. Sedangkan urutan terbawah dari 10 besar penyakit adalah Dyspepsia dengan jumlah total kasus sebanyak 4.377. Tabel 3.1 berikut menyajikan pola 10 penyakit terbanyak di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan pada tahun 2015.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 25
Tabel 3.1
Pola 10 Penyakit Terbanyak di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan
Pada Tahun 2015
No Nama Penyakit Jumlah Rangking
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Hipertensi Primer
Nasofaringitis Akut (Common Cold) Arthritis Lainnya
Penyakit Lain pada Saluran Nafas Atas Gastritis
Dermatitis Kontak Alergi Fever
Headeache (Cepalgia + Sakit Kepala) Diabetes Melitus Tipe II
Dyspepsia 21.204 13.407 12.290 8.441 7.720 5.925 5.876 4.782 4.711 4.377 I II III IV V VI VII VIII IX X Sumber : Laporan SP2TP
Dari tabel 10 besar penyakit diatas diketahui bahwa penyakit Hipertensi Primer merupakan penyakit yang mendominasi. Pada saat ini penyakit tidak menular seperti hipertensi atau penyakit darah tinggi primer merupakan penyakit yang sering terjadi di masyarakat sehinga perlu dilakukan tindakan intervensi dalam kegiatan Program PPTM (Penanggulangan Penyakit Tidak Menular) dengan memperbanyak skrining, penyuluhan kesehatan serta penyiapan logistiknya terutama obat PTM (Penyakit Tidak Menular).
2. Penyakit Menular a. TB Paru
Penyakit Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyakit infeksi pembunuh utama yang
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 26
menyerang golongan usia produktif (15 – 50 tahun) dan anak – anak serta golongan sosial ekonomi lemah.
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobanterium Tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB (BTA Positif). Kuman ini tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga organ tubuh lainnya, seperti tulang sendi, usus, kelenjar limpa, selaput otak dan lain-lain. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs).
Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case
Notification Rate (CNR), yaitu angka yang menunjukkan jumlah seluruh pasien TB
yang ditemukan dan tercatat 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecendrungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di suatu wilayah. Dismaping itu untuk mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Succes Rate) yang mengidentifikasikan persentase pasien TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan, baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien TB paru positif yang tercatat. Berikut CNR seluruh TN per Puskesmas se Kabupaten Tabanan tahun 2015
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 27
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa rata-rata CNR Kabupaten
Tabanan tahun 2015 sebesar 38,8 per 100.000 penduduk.
Succes Rate
(SR) dapat membantu dalam
mengetahui
kecendrungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada
wilayah tersebut. Berikut ini angka kesembuhan TB paru per Puskesmas
se Kabupaten Tabanan Tahun 2015.
Sumber : Seksi P2M Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Berdasarkan gambar diatas dapat dijelaskan bahwa capaian SR sebagian besar telah baik namun ada 7 (tujuh) Puskesmas yang berada di bawah rata rata kabupaten seperti Puskesmas Tabanan II, Tabanan III, Selemadeg, Selemadeg Barat, Selemadeg Timur II, Marga I dan Kediri II.
Besar kecilnya kesembuhan dipengaruhi juga oleh besar kecilnya angka drop
out, yang berimbas pada besar kecilnya angka penemuan penderita TB Multi Drug
Resisten (MDR) yang semakin merebak belakangan ini, ditambah adanya pengaruh peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS.
b. Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita terbesar di Indonesia. Sekitar 80 – 90 % dari kasus kematian Infeksi Saluran Pernafasan Atas disebabkan oleh Pneumonia. Kondisi tersebut umumnya terjadi pada
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 28
balita terutama pada kasus gizi kurang dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat (asap rokok, polusi).
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Cakupan penemuan pneumonia balita pada tahun 2015 sebesar 19,4 % dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 452 kasus, yang terdiri dari 264 kasus laki-laki dan 188 kasus perempuan. Dilihat dari Puskesmas, cakupan penemuan kasus pneumonia tertinggi adalah Puskesmas Tabanan III yakni sebesar 124,5 %, diikuti Puskesmas Tabanan II sebesar 44 %, dan Puskesmas Kerambitan II sebesar 39,4 %. Berikut ini cakupan Pneumonia per Puskesmas se Kabupaten Tabanan Tahun 2015.
Sumber : Seksi P2 Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
c. Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
Penyakit HIV/AIDS merupakan new emerging desease dan menjadi pandemi di semua kawasan beberapa tahun terakhir ini. Penyakit ini terus menunjukkan
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 29
peningkatan yang signifikan meskipun berbagai pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Makin tinggi mobilitas penduduk antar wilayah, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, serta meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui jarum suntik merupakan faktor yang secara simultan memperbesar risiko dalam penyebaran HIV/AIDS.
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus
Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi
tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain (Infeksi Oportunistik). HIV/AIDS dapat ditularkan melalui beberapa cara penularan, yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui lelaki seks dengan lelaki (LSL), penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian, dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling and Testing (VCT), Sero Survey, dan Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
Kasus HIV/AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2015 di Kabupaten Tabanan terdapat 47 kasus HIV yang terdiri dari 22 laki-laki dan 25 perempuan, dengan jumlah kasus AIDS adalah 58 kasus yang terdiri dari 30 laki-laki dan 28 perempuan, dimana terdapat 2 kasus kematian yang disebabkan AIDS yang keduanya berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan jumlah infeksi menular seksual lainnya (syphilis) adalah 0. Gambar berikut menampilkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS berdasarkan berdasarkan golongan usia di Kabupaten Tabanan Tahun 2015.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 30 Sumber : Seksi P2 Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa seberan usia yang penderita kasus HIV/AIDS adalah terjadi pada semua kelompok umur. Penderita yang terbanyak terjadi pada usia 25-49 tahun, dan yang terendah pada usia 5-14 tahun. Untuk itu perlu adanya upaya promotif dan preventif pada semua kelompok usia. Peningkatan upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan, dan diarahkan pada upaya pendekatan kesehatan masyarakat, salah satunya dengan meningkatkan upaya deteksi dini untuk mengetahui akan status HIV seseorang melalui Konseling dan Tes HIV sukarela atau Voluntary Counseling and Testing (VCT) sampai pada tingkat Puskesmas yang ada.
d. Kusta
Penyakit kusta atau sering disebut penyakit lepra adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae. Penyakit Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Penatalaksanaan yang buruk dapat menyebabkan Kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata. Tahun
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 31
2000 mempunyai arti penting bagi program pengendalian kusta. Pada tahun 2000, dunia dan khususnya negara Indonesia berhasil mencapai eliminasi penyakit kusta. Eliminasi didefinisikan sebagai pencapaian jumlah penderita terdaftar kurang dari 1 kasus per 100.000 penduduk. Dengan demikian, sejak tahun tersebut di tingkat dunia maupun nasional, kusta bukan lagi menjadi masalah kesehatan bagi manusia. Diagnosis dini dan pengobatan dengan menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) merupakan kunci utama keberhasilan mengeliminasi kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pengobatan MDT berhasil menurunkan 84,6% kasus penyakit kusta di Indonesia sejak tahun 1985 hingga akhir tahun 2011. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
1. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa.
2. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot.
3. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA positif).
Cakupan penemuan kasus baru di Kabupaten Tabanan tahun 2014 adalah 0,96/100.000 penduduk sedangkan pada tahun 2015 adalah 0,92/100.000 penduduk. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2015 cakupan penemuan kasus baru mengalami penurunan sebesar 0,04/100.000 penduduk.
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, dapat menyerang semua orang, baik laki-laki ataupun perempuan pada semua golongan umur dari bayi, anak-anak, dan orang dewasa. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah, serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. Upaya penanggulangan
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 32
penyakit malaria di Indonesia dapat dipantau dengan menggunakan indikator Annual
Parasite Incidence (API) yang telah digunakan sejak tahun 2010 untuk seluruh
provinsi di Indonesia. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah menjadi 4 strata yaitu :
1. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1.000 penduduk.
2. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – 5 per 1.000 penduduk. 3. Endemis Rendah bila API 0 – 1 per 1.000 penduduk.
4. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (daerah pembebasan malaria) atau API = 0
Pada tataran nasional, malaria masih menjadi permasalahan kesehatan yang berarti. Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Tabanan. Angka kesakitan malaria di Kabupaten Tabanan dalam kurun waktu 2005 sampai dengan 2011 menunjukkan kecenderungan penurunan, bahkan sembilan tahun terakhir (2007 sampai dengan 2015) angka kesakitan malaria di Kabupaten Tabanan adalah 0/1000 penduduk. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Tabanan bukan merupakan daerah endemis penyakit malaria. Kasus-kasus yang terjadi merupakan kasus import dari penduduk yang datang dari daerah endemis malaria. Tabel 3.2 akan menjelaskan kasus dan angka kesakitan malaria di Kabupaten Tabanan periode tahun 2006-2015.
Tabel 3.2
Jumlah Kasus Penyakit Malaria di Kabupaten Tabanan Periode Tahun 2006-2015
Tahun Kasus Malaria (+) API
2006 2 0 2007 0 0 2008 0 0 2009 0 0 2010 0 0 2011 0 0 2012 0 0 2013 0 0 2014 0 0 2015 0 0 Sumber : Bidang P2 PL
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 33
4. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi. Penyakit yang termasuk kelompok PD3I meliputi : Difteri, Pertusis, Tetanus Neoatorum, Campak, Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut).
a. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)
Polio (Poliomyelitis) merupakan penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan virus polio. Cara penularan Polio terbanyak melalui mulut ketika seseorang mengkonsumsi makanan dan minuman yang terkontamisasi lendir, dahak atau faeses penderita polio. Virus masuk aliran darah ke sistem saraf pusat menyebabkan otot melemah dan kelumpuhan, menyebabkan tungkai menjadi lemas secara akut. Kondisi inilah disebut Acute Flaccid Paralysis (AFP) atau lumpuh layuh akut.
Polio adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang system syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher, dan sakit ditungkai dan lengan. Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan. Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.000 anak usia < 15 tahun. Non Folio AFP Rate untuk Kabupaten Tabanan pada tahun 2014 adalah 5,46/100.000 anak usia < 15 tahun. (DI TABEL PROFIL JUMLAH
PENDUDUK < 15 TAHUN TIDAK ADA)
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 34
Difteri adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium Diphtheriae yang menyerang sistem pernafasan bagian atas. Gejala
awal penyakit ini adalah demam 38 ºC, pseudomembrane (selaput tipis) putih keabuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah. Dapat disertai nyeri menelan, leher bengkak seperti leher sapi (bullneck) dan sesak nafas disertai bunyi (stridor). Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan. Pada tahun 2015 di Kabupaten Tabanan tidak ada kasus.
c. Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit yang disebabkan bakteri Bardetella
Pertusis dengan gejala batuk beruntun disertai tarikan nafas hup (whoop) yang khas
dan muntah. Lama batuk bisa 1–3 bulan sehingga disebut batuk 100 hari. Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia dibawah 1 tahun dan penularannya melalui droplet atau batuk penderita. Di Kabupaten Tabanan pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus Pertusis.
d. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium Tetani, yang masuk ke tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir (umur < 28 hari) yang salah satunya disebabkan oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Penanganan Tetanus neonatorium tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah upaya pencegahan melalui pertolongan persalinan yang higienis dan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) ibu hamil serta perawatan tali pusat. Kasus TN banyak ditemukan di negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang rendah. Ciri khas dari penyakit ini adalah pada mulanya beberapa hari setelah lahir bayi menangis keras dan menyusu dengan kuat namun beberapa hari berikutnya tidak bisa menyusu. Pada tahun 2015, di Kabupaten Tabanan dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 35
e. Campak
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramixovirus.
Penularan infeksi dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi atau karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Pada tahun 2015, ada 4 (Empat) Puskesmas yang melaporkan penemuan kasus campak, yakni Puskesmas Tabanan I dengan 3 (tiga) kasus, Puskesmas Tabanan II dengan 1 (satu) kasus, Puskesmas Tabanan III dengan 4 (empat) kasus, Puskesmas Kediri II dengan 5 kasus. Dari 13 kasus campak yang ditemukan, 6 (enam) kasus merupakan jenis kelamin laki-laki dan 7 (tujuh) kasus merupakan jenis kelamin perempuan, dengan case fatality rate (CFR) = 0 %.
Sumber : Seksi Surveilan dan Epidemiologi Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 36
Penyakit menular tertentu memiliki potensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah, diantaranya adalah Demam Berdarah Dengeu (DBD), Diare, Chikungunya, Rabies, dan Filariasis. Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi.
a. Deman Berdarah Dengeu (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena penyebarannya yang cepat dan berpotensi menimbulkan kematian. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne virus, genus flavivirus, family flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes spp, Aedes Aegypti, dan Aedes Albopictus merupakan vector utama penyakit DBD.
Sepanjang tahun 2015 dilaporkan terjadi 846 kasus di Kabupaten Tabanan dengan Incidence Rate (IR) sebesar 194,1 per 100.000 penduduk dengan tidak ada kematian akibat DBD atau Case Fatality Rate (CFR) adalah 0 %. Jumlah kasus yang terjadi pada tahun 2015 ini meningkat apabila dibandingkan dengan jumlah kasus yang terjadi pada tahun sebelumnya yakni dengan 470 kasus. Jumlah kasus terbanyak ditemui di Kecamatan Kediri dengan 325 kasus, disusul kemudian oleh Kecamatan Tabanan dengan 191 kasus, dan Kecamatan Kerambitan dengan 139 kasus. Sedangkan tiga kecamatan dengan jumlah kasus paling sedikit adalah Kecamatan Pupuan dengan 12 kasus, Kecamatan Selemadeg Barat dengan 18 kasus, dan Kecamatan Baturiti dengan hanya 19 kasus. Jumlah kasus DBD menurut Puskesmas pada tahun 2015 secara rinci dapat dilihat pada tabel lampiran 21.
Adapun beberapa permasalahan dalam penanggulangan DBD di Kabupaten Tabanan antara lain :
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 37
1. Belum ada obat anti virus dan vaksin untuk mencegah DBD, maka untuk memutus rantai penularan, pengendalian vektor dianggap yang paling memadai saat ini.
2. Vektor DBD khususnya Aedes Aegypti sebenarnya mudah dikendalikan, karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan jarak terbangnya maksimum 100 meter. Tetapi karena vektor tersebar luas, maka untuk keberhasilan pengendaliannya diperlukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tidak dapat berkembang biak lagi. Untuk itu sangat memerlukan partisipasi seluruh lapisan masyarakat khususnya dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD.
3. Banyak faktor yang berhubungan dengan peningkatan kejadian DBD yang sulit atau tidak dapat dikendalikan seperti kepadatan penduduk, mobilitas, lancarnya transportasi, pergantian musim dan perubahan iklim, kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
4. Sebagian masyarakat masih minat dengan fogging. 5. Uji resistensi terhadap insektisida belum optimal
Salah satu cara untuk menekan penyebaran penyakit Deman Berdarah Dengeu (DBD) adalah dengan membasmi jentik nyamuk Aedes aegypty di dalam rumah maupun di sekitar lingkungan rumah. Gambaran Kasus DBD dan Incidene
Rate di Kabupaten Tabanan periode tahun 2007-2015 disajikan pada gambar 3.
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 38 Sumber : Seksi P2 Dikes Kab. Tabanan Tahun 2015
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah kasus DBD trend nya fluktuasi. Dilihat dari tahun 2007 s/d 2015 jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2015 sebanyak 846 kasus, dengan insiden rate 194,1%. Tahun 2015 jumlah kasus dan IR meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2014.
b. Diare
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Secara klinis penyebab Diare antara lain : infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi, dan sebab-sebab lainnya. Penyebab yang sering ditemukan di lapangan ataupun secara klinis adalah Diare yang disebabkan oleh infeksi dan keracunan. Jenis Diare ada 2 (dua) yaitu Diare Akut dan Diare Persisten (diare kronik). Diare Akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan Diare Persisten (diare kronik) adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
Penderita diare di Puskesmas setiap tahun jumlahnya cukup tinggi. Namun demikian hal ini belum dapat menggambarkan prevalensi keseluruhan dari penyakit
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 39
diare karena banyak dari kasus tersebut yang tidak terdata oleh sarana pelayanan kesehatan (pengobatan sendiri atau pengobatan di praktek swasta). Laporan Profil Kesehatan Kabupaten menunjukkan bahwa selama kurun tahun 2015 jumlah perkiraan kasus diare di Kabupaten Tabanan sebesar 9.328 kasus. Dari jumlah tersebut, jumlah kasus yang ditangani sebesar 9.073 kasus (97,3 %) yang terdiri dari laki-laki sebesar 5.177 kasus dan perempuan sebesar 4.983 kasus, dan angka kesakitan diare 214 per 1.000 penduduk. Terjadi peningkatan jumlah kasus diare dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2014 jumlah kasus diare sebanyak 9.273 kasus.
Untuk itu upaya kesehatan harus lebih ditingkatkan lagi untuk mencegah tingkat kematian akibat diare. Tingkat kematian akibat diare dapat diturunkan dengan adanya tata laksana yang tepat dan cepat, diantaranya melalui pelatihan petugas yang diintegrasikan dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Selain itu juga dapat dilakukan pengamatan tata laksana diare ke Puskesmas.
Sedangkan upaya pencegahan dan penanggulangan kasus diare dilakukan melalui penyuluhan ke masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari – hari, karena secara umum penyakit diare sangat berkaitan dengan hygiene sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga adanya peningkatan kasus diare merupakan cerminan dari perbaikan kedua faktor tersebut.
c. Rabies
Rabies (bahasa Latin: rabies, "kegilaan") atau penyakit anjing gila merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan serigala yang di dalamnya tubuhnya mengandung virus Rabies.
Virus Rabies menyebabkan peradangan akut otak pada manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Periode waktu antara terjadi kesakitan dan gejala awal
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 40
biasanya satu sampai tiga bulan, namun bisa kurang dari satu minggu atau lebih dari satu tahun, tergantung pada jarak virus untuk mencapai sistem saraf pusat, dimana gejala awal antara lain : demam dan kesemutan di lokasi paparan; kemudian diikuti dengan gerakan kekerasan, kegembiraan yang tidak terkendali; takut air atau ketidakmampuan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh serta kebingungan yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Penyakit ini bila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan atau manusia selalu diakhiri dengan kematian, sehingga mengakibatkan timbulnya rasa cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan dan kekhawatiran serta keresahan bagi masyarakat pada umumnya.
Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies, yaitu kasus GHPR (Gigitan Hewan Penular Rabies), kasus yang di vaksinasi VAR (Vaksin Anti Rabies), dan kasus Rabies yang menyebabkan kematian (Lyssa).
Pada tahun 2014 di Kabupaten Tabanan, jumlah kasus Gigitan Hewan
Penular Rabies (GHPR) sebanyak 6.318 kasus, sedangkan tahun 2015 jumlah kasus
gigitan meningkat menjadi 6.318 kasus atau 4,57%. Dari jumlah gigitan tersebut
tidak terdapat jumlah kasus penyakit rabies yang menyebabkan kematian (Lyssa).
Kasus GHPR terbanyak terjadi pada bulan Juni yaitu dengan 563 kasus, sedangkan
bulan Pebruari merupakan bulan dengan kasus GHPR paling sedikit yakni dengan
436 kasus. Gambaran kasus GHPR di Kabupaten Tabanan pada tahun 2014 disajikan
pada gambar 3.12 dibawah ini (TIDAK KEDTEMU DATA NYA DI TABEL
Profil Kesehatan Kab. Tabanan Tahun 2015 41
Walaupun jumlah kasus kematian akibat rabies di Kabupaten Tabanan pada tahun 2014 tidak ada, namun mengingat akan bahaya rabies terhadap kesehatan dan ketentraman masyarakat karena dampak buruknya selalu diakhiri kematian, serta dapat mempengaruhi dampak perekonomian khususnya bagi pengembangan daerah-daerah pariwisata seperti Bali yang tertular rabies, maka usaha pengendalian penyakit berupa pencegahan dan pemberantasan perlu dilaksanakan seintensif mungkin bahkan menuju pada program pembebasan dari rabies.
d. Filariasis
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) merupakan penyakit infeksi menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria yang terdiri dari 3 (tiga) spesies yaitu
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Filariasis ditularkan oleh
vektor nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya, kemudian di dalam tubuh manusia cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe (getah bening) sehingga akan menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital. Hingga kini filariasis masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, namun di Kabupaten Tabanan