IV. METODOLOGI PENELITIAN
Pada bagian ini dijabarkan tahapan metode yang digunakan dalam penelitian. Tahapan metode penelitian dikelompokkan dalam empat bagian. Pertama, metode analisis Input Output. Kedua, model Input Output Daerah. Ketiga, model IRIO dan analisisnya. Keempat, efisiensi ekonomi sektoral dan perubahan struktur ekonomi antar waktu.
4.1. Metoda Analisis 4.1.1. Analisis Pengganda
Keterkaitan ekonomi antarsektor di suatu pulau diukur oleh dampak pengganda output. Keterkaitan ekonomi antar-provinsi secara sektoral diukur oleh dampak pengganda output, pendapatan dan kesempatan kerja. Analisis dampak diperinci menjadi dampak awal (initial effect), dampak pengganda total (total
multiplier effect), dampak pengganda bersih (flow-on multiplier effect), dampak
pengganda balik (feedback multiplier effect) dan luberan (spill-over multiplier
effect). Seluruh dampak pengganda diturunkan dari model I-O Daerah dan model
IRIO Indonesia tahun 2005 dan tahun 2000.
Untuk menunjukkan bahwa keunggulan relatif suatu pulau dalam kegiatan ekonomi yang produktif maka digunakan angka efisiensi relatif sektoral. Angka-angka tersebut dapat dihitung dari model IRIO Indonesia 2005 dan 2000. Perlu diketahui bahwa dalam Model IRIO 2005 dan 2000 sudah terintegrasi antara model ekonomi dan data empiriknya. Model Input-Output berisi data populasi, oleh karena itu dalam analisis tidak dilakukan upaya-upaya pengujian hipotesis secara statistika.
Lokasi dari suatu aktifitas merupakan hasil dari interaksi mekanisme pasar yang menyangkut tiga komponen dasar yaitu : komoditi, tanah dan transportasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat korelasi yang nyata antara sektor transportasi dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah (Nasution, 2008). Dengan demikian, perkembangan sektor transportasi akan berpengaruh terhadap aktifitas sektor-sektor lainnya. Transportasi dapat dibagi menjadi tiga sub sektor (atau moda) yaitu transportasi darat, laut dan udara3. Dalam hal ini agar dapat diketahui posisi dari sektor transportasi terhadap sektor lainnya maka dilakukan dekomposisi dengan maksud melihat pergeseran struktur ekonomi. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan melihat posisi I-O tahun 2005 terhadap I-O tahun 2000.
4.1.2. Konstruksi Tabel I-O antar Wilayah di Indonesia 4.1.2.1 Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, yaitu tabel Input-Output antardaerah (IRIO) Indonesia tahun 2005 dan tahun 2000, PDRB setiap wilayah penelitian, PDRB sektor transportasi (darat, laut dan udara), yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data penunjang lainnya dari instansi terkait lainnya.
Tabel IRIO Indonesia tahun 2005 yang dibuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tersusun atas 30 propinsi (wilayah) dengan jumlah sektor sebanyak 35 sektor. Jenis transaksi dalam model IRIO Indonesia 2005 adalah transaksi pada harga produsen secara domestik. Dari model IRIO 2005, dapat diturunkan
3 Dalam beberapa literature, ada juga yang menambahkan transportasi perpipaan, namun dalam
penelitian ini, transportasi mengikuti pembagian yang umum digunakan di Indonesia yaitu transportasi darat, laut dan udara.
sebanyak 30 Tabel I-O daerah. Sedangkan untuk IRIO tahun 2000, disusun berdasarkan 27 propinsi, dengan sektor sebanyak 30 sektor.
Untuk menyederhanakan analisis dalam pembahasan akan diuraikan juga pembahasan berdasarkan antarpulau (wilayah). Agregasi propinsi dilakukan dengan memperhatikan konsep daerah homogen dan daerah administrasi. Berdasarkan kriteria daerah homogen dan administratif tersebut, maka disusun 5 wilayah studi yaitu : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur (Rest of Indonesia). Sektor yang ada dalam tabel IO, kemudian juga di agregasi menjadi 12 sektor yaitu : (1) Pertanian (2) Pertambangan (3) Industri (4) Listrik, gas, dan air bersih (5) Bangunan (6) Perdagangan (7) Transportasi darat, (8) Transportasi laut (9) Transportasi udara (10) Komunikasi (11) Keuangan, dan (12) Jasa-jasa Lain.
4.1.2.2. Prosedur Penyusunan Tabel Input-Output Interregional Indonesia
Secara garis besar, prosedur penyusunan Tabel I-O Multiregional adalah sebagai berikut (BPS, 2000b) :
1. Penentuan klasifikasi sector.
2. Agregasi klasifikasi sektor Tabel I-O wilayah. 3. Membangun tabel I-O region tahun 2000 dan 2005. 4. Penyusunan tabel I-O region atas dasar harga produsen. 5. Menyiapkan tabel I-O region atas harga produsen.
7. Pemisahan total ekspor masing-masing region menjadi ekspor luar negeri dan antarregion.
8. Rekonsiliasi impor dan ekspor luar negeri dari seluruh region dengan eskpor-impor luar negeri dari tabel I-O propinsi.
9. Rekonsiliasi matriks perdagangan antarregion.
10. Menyusun estimasi impor antarregion ke dalam permintaan antara dan permintaan akhir.
11. Rekonsiliasi baris dan kolom.
12. Tabel I-O Multiregional Indonesia dapat diwujudkan.
4.2. Model Input-Output Daerah 4.2.1. Kerangka Dasar
Secara sederhana model I-O daerah menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antarsatuan kegiatan ekonomi untuk suatu waktu tertentu yang disajikan dalam bentuk tabel. Isian sepanjang baris menunjukkan alokasi output dan isian menurut kolom menunjukkan pemakaian input dalam proses produksi (BPS, 2000). Sebagai model kuantitatif, model I-O mampu memberi gambaran menyeluruh tentang:
1. Struktur perekonomian yang mencakup struktur output dan nilai tambah masing-masing kegiatan ekonomi di suatu daerah,
2. Struktur input antara (intermediate input), yaitu penggunaan barang dan jasa oleh kegiatan produksi di suatu daerah,
negeri maupun barang-barang yang berasal dari impor, dan
4. Struktur permintaan barang dan jasa, baik permintaan oleh kegiatan produksi maupun permintaan akhir untuk konsumsi, investasi dan ekspor.
Model I-O pada dasarnya merupakan gambaran mengenai keterkaitan suatu sektor yang digunakan sebagai input, untuk menghasilkan output sektor itu sendiri maupun sektor lain. Dalam proses produksi, untuk menghasilkan output, suatu sektor memerlukan input baik berupa barang, jasa dan faktor produksi lainnya. Keterkaitan antara Input dan Output tersebut digambarkan dalam Kerangka Model I-O seperti tertera pada Tabel 2.
Output yang diproduksi oleh sektor 1 (X1) didistribusikan ke dua macam
pemakai. Pemakai pertama adalah sektor produksi yang terdiri dari sektor 1 sampai dengan sektor n. Sektor 1 sendiri menggunakan sebesar x11, sektor 2
menggunakan sebesar x12, sektor 3 menggunakan sebanyak x13 dan seterusnya
hingga sektor n menggunakan sebesar x1n. Bagi sektor produksi, output yang
diproduksi oleh sektor 1 tersebut merupakan bahan baku atau Input Antara (intermediate input) yang digunakan dalam proses produksi lebih lanjut.
Pemakai kedua adalah para pemakai akhir dan bagi mereka output sektor 1 digunakan sebagai Permintaan Akhir (final demand). Permintaan Akhir terdiri dari empat komponen yaitu: (1) konsumsi rumah tangga (C), (2) pembentukan modal tetap bruto atau investasi (I), (3) pengeluaran konsumsi pemerintah (G), dan (4) ekspor (X). Komponen F1 menunjukkan nilai Permintaan Akhir atas
Tabel 2. Kerangka Model Input-Output Daerah (Nasional)
Permintaan Antara Permintaan Total
Input Sektor 1 2 ... n Akhir Output
1 x11 x12 ... x1n F1 X1 Input 2 x21 x22 ... x2n F2 X2 Antara ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... - - n xn1 xn2 ... xnn Fn Xn Input Primer/NTB V1 V2 .... Vn Total Input X1 X2 .... Xn
Output suatu sektor seluruhnya habis digunakan untuk Input Antara dan Permintaan Akhir. Maka total output sektor 1 (X1) adalah sejumlah output sektor
1 yang digunakan sebagai Input Antara oleh sektor 1 sampai dengan n ditambah dengan Permintaan Akhir. Dengan demikian maka total output sektor i (Xi) adalah
jumlah output sektor i yang digunakan sebagai input antara oleh sektor j (j = 1, 2, ... n) ditambah dengan Permintaan Akhir sektor i, yang dirumuskan dalam bentuk:
n n nn n n n n X F x x x X F x x x X F x x x ... ... ... ... ... ... ... ... ... 2 1 2 2 2 22 21 1 1 1 12 11 ... (1)
Jika output suatu sektor tidak mencukupi kebutuhan untuk Input Antara dan Permintaan Akhir maka harus dilakukan impor. Sehingga struktur permintaan output dan penyediaannya menjadi:
n n n nn n n n n M X F x x x M X F x x x M X F x x x ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... 2 1 2 2 2 2 22 21 1 1 1 1 12 11 ... (2)
Persamaan permintaan dan penyediaan sektor i di atas dapat ditulis dalam bentuk notasi: n j i i i ij
F
X
M
x
1 ... (3) dimana:xij = nilai output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor j
Fi = Permintaan Akhir terhadap output sektor i
Xi = total output sektor i
Mi = total ouput sektor i yang diimpor
Merujuk pada konsep keseimbangan umum di dalam model I-O, Total Output suatu sektor harus sama dengan Total Input sektor tersebut. Itulah sebabnya Total Output sektor 1 bernilai sama dengan Total Input sektor 1 yaitu X1. Namun input yang diperlukan dalam proses produksi sektor 1 bukan hanya
Input Antara, tetapi diperlukan juga input lain yang disebut Input Primer. Input Primer disebut juga sebagai Nilai Tambah Bruto (NTB) atau gross value added yaitu balas jasa yang diterima oleh faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi. Jika dirinci, NTB terdiri lima komponen yaitu: (1) upah dan gaji, (2) surplus usaha (keuntungan), (3) depresiasi barang modal, (4) pajak tak langsung, dan (5) subsidi. Komponen V1 diartikan sebagai nilai tambah yang dihasilkan
oleh sektor 1, kemudian nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor n adalah Vn.
Dengan demikian maka total input suatu sektor adalah jumlah seluruh Input Antara dan Input Primer, yang dirumuskan dalam bentuk:
n n nn n n n n X V x x x X V x x x X V x x x ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 2 1 2 2 2 22 12 1 1 1 21 11 ... (4)
Persamaan disederhanakan menjadi: n i j j ij V X x 1 ... (5) dimana:
xij = nilai output sektor i yang digunakan sebagai input antara oleh
sektor j
Vj = Input Primer (nilai tambah) sektor j
Xj = Total Input sektor yang digunakan oleh sektor j
4.2.2. Koefisien Input dan Pengganda Output
Untuk dapat diaplikasikan, selain memerlukan tabel transaksi (sebagaimana dilukiskan pada Tabel 2) sebagai tabel dasar, model I-O juga memerlukan tabel koefisien input dan matriks kebalikan (inverse matrix) Leontief (Nazara, 2005 dan Miernyk, 1957).
Dalam analisis I-O, koefisien input menjadi sangat penting, antara lain untuk menunjukkan komponen input (baik Input maupun Input Primer) yang paling dominan, peranan penggunaan bahan baku dan energi, tingkat pemakaian jasa bank, komunikasi, transportasi dan sebagainya. Proporsi Input Antara yang berasal dari sektor i terhadap total input sektor j disebut sebagai koefisien input antara yang diperoleh dengan rumus:
j ij ij X x a ... (6) j ij ij a X x ... (7) dimana: ij
a = koefisien Input Antara (koefisien teknis) sektor i yang digunakan oleh sektor j,
xij = nilai output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor j,
Xj = Total Input sektor yang digunakan sektor j.
Secara lengkap koefisien input antara atau koefisien teknis dapat ditata ke dalam suatu matriks A dengan struktur:
nn n n n n a a a a a a a a a A ... ... ... ... ... ... ... 2 1 2 22 21 1 12 11 ... (8)
Koefisien Input Primer menunjukkan peranan dan komposisi dari upah dan gaji, surplus usaha (keuntungan), penyusutan, pajak tak langsung dan subsidi. Koefisien Input Primer dirumuskan sebagai:
j j j X V v ... (9) dimana:
Xj = Total Input yang dibutuhkan sektor j (= Total Output sektor i, untuk
i=j),
Vj = input primer (nilai tambah) sektor j,
vj = koefisien input primer.
Berdasarkan persamaan di atas, jumlah koefisien Input Antara dan koefisien Input Primer sektor j adalah satu, yaitu 1
1 j n i ij v a . Bila n i ij a 1 makin
besar maka vj menjadi kecil, demikian pula sebaliknya.
Tinggi-rendahnya koefisien Input Antara merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi proses produksi, di mana semakin rendah n
i ij
a 1
, maka proses
produksi sektor j semakin efisien. Koefisien Input Antara menggambarkan tingkat penggunaan teknologi dalam proses produksi sehingga koefisien ini
disebut juga sebagai koefisien teknis (technical coefficient). Koefisien teknis ini disebut juga sebagai kebutuhan langsung (direct requirement), karena menunjukkan kebutuhan langsung suatu sektor akan output sektor lainnya (Isard
et al., 1998).
Matriks koefisien teknis merupakan dasar untuk perhitungan dampak pengganda (multiplier effect) yang menjadi salah satu inti dari analisis model I-O. Dampak pengganda diawali dengan mensubstitusikan persamaan (7) ke dalam persamaan (1). Sehingga diperoleh gugus persamaan berikut:
n n n nn n n n n n n X F X a X a X a X F X a X a X a X F X a X a X a ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 2 2 1 1 2 2 2 2 22 1 21 1 1 1 2 12 1 11 ... (10) Jika susunan persamaan pada persamaam (10) disederhanakan ke dalam catatan matriks, maka diperoleh:
AX + F = X ... (11) X - AX = F ... (12) (I - A)X = F ... (13) maka besarnya output dapat dihitung sebagai pengaruh induksi permintaan akhir adalah:
X = (I - A)-1 F ... (14) dimana:
X = matriks Total Output berukuran n x 1 I = matriks identitas berukuran n x n
A = matriks koefisien input berukuran n x n
Matriks identitas berguna untuk memudahkan manipulasi matematis. Suatu matriks jika dikalikan dengan matriks identitas akan menghasilkan matriks itu sendiri. Persamaan (14) inilah yang menjadi inti dari model I-O, sedangkan (I-A)-1 disebut Matriks Kebalikan Leontief yang berfungsi sebagai pengganda output (output multiplier). Kenaikan permintaan akhir suatu sektor tidak hanya berpengaruh langsung terhadap kenaikan total output sektor itu sendiri tetapi juga sektor lainnya. Besar kecilnya dampak kenaikan total output akibat kenaikan permintaan akhir tergantung dari elemen-elemen matriks (I-A)-1. Jika ke dalam persamaan (11) dimasukkan impor (M), maka persamaan tersebut menjadi:
AX + F = X + M ... (15) X = (I - A)-1 (F-M) ... (16) Pada persamaan (16) dengan (F-M) tertentu tingkat output yang diperlukan dapat diestimasi. Namun perlu diketahui bahwa persamaan (16) hanya berlaku untuk analisis model I-O yang disusun dalam transaksi total. Jika transaksi dalam suatu model I-O adalah transaksi domestik, maka persamaan (16) menjadi
X = (I - Ad)-1 Fd ... (17) Dimana:
Ad = matriks Koefisien Teknis transaksi domestik, yaitu tanpa komponen impor dengan ukuran n x n dan
Matriks (I-Ad)-1 adalah matriks pengganda output yang sangat sesuai digunakan untuk mengukur perubahan output domestik karena terjadi perubahan pada permintaan akhir atas output domestik.
4.2.3 Pengganda Pendapatan dan Kesempatan Kerja
Matriks Kebalikan Leontief dapat digunakan untuk mengukur dampak perubahan permintaan akhir terhadap pendapatan melalui income multiplier dan kesempatan kerja melalui employment multiplier. Suatu perusahaan tidak hanya membeli bahan baku dari perusahaan lainnya, melainkan juga dari masyarakat dalam bentuk tenaga kerja. Balas jasa dari tenaga kerja ini berupa upah dan gaji. Jadi kenaikan output berpengaruh langsung terhadap kenaikan pendapatan tenaga kerja (upah dan gaji) dan tambahan kebutuhan tenaga kerja.
4.2.3.1. Pengganda Pendapatan
Komponen pendapatan merupakan salah satu unsur dari Input Primer atau NTB yaitu berupa upah dan gaji. Oleh sebab itu koefisien pendapatan merupakan rasio komponen upah dan gaji terhadap total input (atau total output). Hubungan linier antara perubahan output dan perubahan pendapatan akan memberikan bahwa implikasi jika permintaan akhir berubah, maka output berubah dan pada akhirnya pendapatan pun akan berubah. Besar-kecilnya dampak pendapatan bergantung pada pengganda pendapatan (income multiplier), yang dirumuskan sebagai : 1 d ) A (1 V M ... (18) dimana:
(I-Ad)-1 = matriks Pengganda Output, dan
V = matriks Koefisien Pendapatan berukuran n x n.
Matriks V merupakan matriks diagonal, dengan demikian Pengganda Pendapatan diperoleh dari perkalian matriks diagonal koefisien pendapatan dengan Pengganda Output (matriks Inverse Leontief). Kemudian dampak perubahan Permintaan Akhir terhadap perubahan pendapatan ( M) menjadi:
d ΔF 1 ) d A V(I ΔM ... (19)
4.2.3.2. Pengganda Kesempatan Kerja
Pengganda ini digunakan untuk melihat penambahan kesempatan kerja baru akibat peningkatan Permintaan Akhir di suatu sektor tertentu. Pengganda tenaga kerja dirumuskan sebagai:
1 ) d A L(I E ... (20) dimana:
E = matriks Pengganda Tenaga Kerja dan
L = matriks Koefisien Tenaga Kerja yaitu berisi rasio tenaga kerja terhadap total input tiap sektor.
Matriks L adalah matriks diagonal dengan komponennya diperoleh dengan rumus: j X j TK jj l ... (21) dimana:
TKj = jumlah Tenaga Kerja sektor j
Xj = Total Input sektor j
Perubahan jumlah Tenaga Kerja ( E) yang dibutuhkan akibat perubahan Permintaan Akhir domestik dirumuskan sebagai berikut:
d F 1 ) d A L(I E ... (22)
4.3 Model Input-Output Antardaerah (IRIO) 4.3.1. Kerangka Dasar
Dalam melakukan analisis ekonomi, penggunaan model I-O nasional belum dapat memperlihatkan peranan dari masing-masing daerah dan adanya saling ketergantungan antardaerah. Oleh karena itu, penjabaran model I-O nasional menjadi beberapa model I-O daerah dan harus dikembangkan lebih lanjut menjadi suatu model I-O agar dapat menganalisa adanya saling ketergantungan lintas daerah. Atas dasar itulah maka model I-O satu daerah berkembang menjadi model I-O antardaerah atau Interregional Input-Output (IRIO), yang di dalam aplikasinya bisa berwujud model I-O antarprovinsi atau antar wilayah (BPS, 2000a).
Sebagai alat analisis, model IRIO sangat bermanfaat untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik masing-masing daerah (pulau/wilayah) dan bentuk saling ketergantungan antardaerah. Dengan demikian, bentuk saling ketergantungan ini menjadi masukan bagi perumus kebijakan ekonomi di tingkat regional. Perumusan tersebut terkait upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang mempertimbangkan potensi masing-masing daerah (pulau) dan mengukur spesialisasi daerah yang diarahkan untuk mendukung tujuan pembangunan nasional yang mengacu pada usaha peningkatan produktifitas (BPS, 2000b).
Secara konseptual, model IRIO merupakan alat analisis ekonomi regional yang dapat diintegrasikan ke dalam subsistem perencanaan nasional dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan potensi ekonomi regional yang
berbeda di setiap propinsi atau wilayah. Melalui pendekatan model model IRIO dapat direkam beberapa indikator ekonomi yang antara lain meliputi aspek: 1. Peranan dan potensi daerah menurut lokasinya, seperti daerah Timur
Indonesia.
2. Konsentrasi industri menurut daerah yang memperlihatkan sebaran industri menurut ragam kegiatan lapangan usahanya.
3. Tingkat saling ketergantungan antardaerah, baik yang mencakup sektor-sektor produksi, seperti penyediaan bahan baku maupun yang berkaitan dengan sektor-sektor pengguna, seperti penyediaan barang/jasa permintaan akhir (final demand).
4. Hubungan perdagangan lintas daerah yang dapat menjadi pola dasar bagi perumusan kebijakan ekonomi lintas sektoral yang mengacu kepada terciptanya mekanisme aktivitas distribusi barang yang memberikan nilai tambah optimal bagi sektor perdagangan.
5. Keseimbangan antar industri (antar sektor) di berbagai daerah yang perlu terus ditata secara terencana agar aktivitas industri secara nasional bisa menghasilkan produktivitas tinggi.
Dalam buku Kerangka Teori dan Analisis Model Input-Output (BPS, 2000) model IRIO didefinisikan sebagai suatu daftar transaksi kegiatan ekonomi antarsektor dan antardaerah pada suatu negara selama satu periode tertentu. Untuk memahami ide dasar tentang model IRIO, pada Tabel 3, disajikan struktur model yang hanya melibatkan dua daerah dan sektor.
Model IRIO di atas memperlakukan transaksi impor tidak bersaing (non
dipisahkan dengan nilai transaksi dari output yang diimpor dari luar negeri. Adapun maksud dari simbol-simbol pada Tabel 3, adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Kerangka Dasar Model IRIO untuk Dua Daerah
Permintaan Antara Permintaan Akhir Daerah A: Sektor Daerah B: Sektor Daerah A Daerah B Ekspor ROR*) Total Output 1 … n 1 …. n Input Daerah-A sektor-1 ……….. sektor-n AA ij X AB ij X AA i F AB i F A i E XAi Antara Daerah-B sektor-1 ……….. sektor-n BA ij X XBBij FiBA BB i F B i E X iB Impor ROR XMAj XMBj FMA FMB Total Input Primer A j V VBj Total Input XAj XBj
Keterangan: *) ROR = Rest of the Region, atau Daerah-daerah Lainnya
AA ij
X = input antara yang berasal dari sektor i daerah A, digunakan oleh
sektor j di daerah A,
BA ij
X = input antara yang berasal dari sektor i daerah B, digunakan oleh
sektor j di daerah A,
AB ij
X = input antara yang berasal dari sektor i daerah A, digunakan oleh
sektor j di daerah B,
BB ij
X = input antara yang berasal dari sektor i daerah B, digunakan oleh
sektor j di daerah B,
MA j
X = nilai impor input antara oleh kegiatan sektor j di daerah A,
MB j
X = nilai impor input antara oleh sektor j di daerah B,
A j
V = input primer (nilai tambah bruto) yang diciptakan oleh kegiatan
sektor j di daerah A,
B j
V = input primer (nilai tambah) yang diciptakan oleh kegiatan sektor j
di daerah B,
A j
X = total input untuk kegiatan sektor j di daerah A,
B j
AA i
F = nilai Permintaan Akhir terhadap ouput sektor i di daerah A, yang
berasal dari daerah A,
AB i
F = nilai Permintaan Akhir terhadap output sektor i di daerah B, yang
berasal dari daerah A,
BA i
F = nilai Permintaan Akhir terhadap output sektor i di daerah A, yang
berasal dari daerah B,
BB i
F = nilai Permintaan Akhir terhadap output sektor i di daerah B, yang
berasal dari daerah B,
MA
F = nilai impor untuk permintaan akhir daerah A,
MB
F = nilai impor untuk permintaan akhir daerah B,
A i
E = nilai ekspor output sektor i dari daerah A,
B i
E = nilai ekspor output sektor i dari daerah B,
A i
X = nilai output sektor i dari daerah A dan
B i
X = nilai output sektor i dari daerah B,
Dari notasi-notasi di atas terdapat hubungan identitas total input di daerah A sebagai berikut: i A j V MA j M ) BA ij X AA ij (X A j X ... (23) i B j V MB j M ) BB ij X AB ij (X B j X . ... (24)
Selanjutnya hubungan identitas alokasi output di daerah A dan B masing-masing adalah: j A i E AB i F AA i F ) AB ij X AA ij (X A i X ... (25) j B i E BB i F BA i F ) BB ij X BA ij (X B i X ... (26)
Agar model IRIO ini seimbang, maka diperlukan syarat:
A i X A j X dan B i X B j X , untuk i=j ... (27)
4.3.2 Koefisien Teknis dan Perdagangan dalam Model IRIO
Koefisien input langsung dalam daerah A dan B masing-masing diperoleh dengan rumus:
A j X AA ij x AA ij a dan B j X BB ij x BB ij a , untuk i,j =1,2,…,n ... (28) dimana: AA ij a
= koefisien input sektor i dari daerah A digunakan untuk sektor j di daerah A
BB ij
a
= koefisien input sektor i dari daerah B digunakan untuk sektor j di aderah B
AA ij
x
= penggunaan input sektor i dari daerah A oleh sektor j di daerah A,
BB ij
x
= penggunaan input sektor i dari daerah B oleh sektor j di daerah B,
A j
X = total penggunaan input sektor j atau output sektor j di daerah A dan
B j
X = total penggunaan input sektor j atau output sektor j di daerah B,
Kemudian rumus untuk mencari AB ij
a dan BA
ij
a , yang mencerminkan koefisien
input langsung antardaerah diperoleh dengan rumus:
B j X AB ij x AB ij a dan A j X BA ij x BA ij a ... (29) Koefisien AB ij a dan BA ij
a , kadang-kadang disebut sebagai trade coefficient atau
koefisien perdagangan antardaerah. Koefisien AB ij
a mengandung arti nilai output
dari sektor i yang berlokasi di daerah A yang digunakan sebagai input untuk menghasilkan satu satuan uang output sektor j di daerah B.
Dalam hubungannya dengan model model IRIO dua daerah maka matriks koefisien teknis (A) yang sebenarnya tersusun atas empat blok, yaitu:
BB BA AB AA A A A A A ... (30) dimana: AA nn AA n AA n AA AA AA n AA AA a a a a a a a a ... ... ... ... ... ... ... ... A 2 1 22 21 1 12 11 AA , BB nn BB n BB n BB n BB BB BB n BB BB a a a a a a a a a ... ... ... ... ... ... ... A 2 1 2 22 21 1 12 11 BB , AB nn AB n AB n AB n AB AB AB n AB AB a a a a a a a a a ... ... ... ... ... . ... ... A 2 1 2 22 21 1 12 11 AB dan BA nn BA n BA n BA n BA BA BA n BA BA a a a a a a a a a ... ... ... ... ... ... ... A 2 1 2 22 21 1 12 11 BA .
4.4 Dampak Pengganda Output, Pendapatan dan Kesempatan Kerja
Untuk menghitung ukuran keterkaitan ekonomi antarsektor dan antardaerah terlebih dahulu harus ditemukan Matriks Inverse Leontief yang diperoleh dengan operasi (I A) 1. Matriks ini sangat penting dan menempati
posisi sentral dalam hampir semua analisis model I-O.
Dalam analisis model I-O, transaksi yang bersifat eksogen adalah Permintaan Akhir (F). Artinya penentuan besarnya komponen-komponen lain dalam model I-O seperti nilai output, input, impor, Nilai Tambah Bruto dan lain-lain, ditentukan oleh Permintaan Akhir. Besarnya nilai output akibat Permintaan Akhir dirumuskan sebagai:
F 1 A) (I X ... (31) dimana:
B A
x x
X = vektor output berukuran 2n x 1, sedangkan
B f
A f
F = Vektor Permintaan Akhir berukuran 2n x 1, dan
I = matriks identitas berukuran 2n x 2n
1 A)
(I = matriks Kebalikan Leontief berukuran 2n x 2n
Selanjutnya, andaikan M adalah Matriks Pengganda (multiplier) Output, sehingga:
1 A) (I
M ... (32)
sedangkan dampak (effect) perubahan output akibat terjadinya perubahan. Permintaan Akhir dirumuskan dengan:
F M
ΔX ... (33) dimana:
X = vektor dampak perubahan output berukuran 2n x 1; M = Matriks pengganda output berukuran 2n x 2n
F = Vektor perubahan Permintaan Akhir berukuran 2n x 1
Struktur matriks pengganda output untuk model IRIO, yang terdiri dari dua (2) daerah dan n sektor, yang dilambangkan oleh matriks M (Miller, 1985) adalah: BB nn BB n AB nn AB n BB n BB n BA nn BA n BB BB BA n BA AB n AB n AA nn AA n AB AB AA n AA BA n BA AA n AA m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m M ... .... ... | ... ... ... ... | ... ... ... ... | ... .... | .... .... .... .... | ... .... ... .... | .... .... .... 1 1 2 1 2 12 11 1 11 2 1 2 12 11 1 12 1 11 1 11 ... (34)
Makna elemen-elemen matriks M adalah angka pengganda output antarsektor antardaerah. Berikut adalah contoh interpretasi elemen-elemen matriks M:
AA
m11 besarnya penciptaan output pada sektor 1 di daerah A, akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 1 di daerah A,
AA
m12 besarnya penciptaan output pada sektor 1 di daerah A, akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A,
AB n
m 2
besarnya penciptaan output pada sektor n di daerah A, akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah B,
BA n
m 2 besarnya penciptaan output pada sektor n di daerah B, akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A dan
BB n
m1 besarnya penciptaan output pada sektor 1 di daerah B, sebagai
akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor n di daerah B.
4.4.1. Dampak Pengganda Total atau Dampak secara Nasional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan nilai output di seluruh sektor dalam perekonomian nasional akibat perubahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di suatu daerah. Dampak pengganda ini dirumuskan sebagai: n i BA ij m n i AA ij m A j O 1 1 ... (35) dimana: A j
O penambahan nilai output sektor j secara nasional akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir atas output sektor j daerah A.
4.4.2. Dampak Pengganda Intraregional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan nilai output di seluruh sektor di suatu daerah sebagai akibat dari perubahan satu satuan uang permintaan akhir atas output sektor j di daerah itu. Dampak pengganda ini dirumuskan sebagai:
n i AA ij m AA j O 1 ... (36) dimana : AA j
O = Penambahan nilai output seluruh sektor daerah A akibat tambahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di A.
4.4.3. Dampak Pengganda Interregional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan nilai output di satu daerah akibat perubahan satu satuan uang permintaan akhir di daerah lain. Jika permintaan akhir terhadap output sektor j di A mengalami kenaikan sebesar satu satuan uang, maka besarnya dampak output yang muncul di daerah B sebesar:
n i m BA j O ijBA 1 ... (37) Dimana: BA j
O = penambahan nilai output seluruh sektor di B akibat penambahan permintaan akhir satu satuan uang atas output sektor j di A.
4.4.4. Dampak Pengganda Sektoral
Adalah angka yang menunjukkan besarnya dampak perubahan nilai output sektor i di seluruh daerah, sebagai akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di suatu daerah. Jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu satuan uang terhadap output sektor j di A, maka dampaknya sebesar:
BA ij m AA ij m A ij O ... (38) dimana: A ij
O = perubahan nilai output pada sektor i di seluruh daerah akibat penambahan permintaan akhir satu satuan uang output sektor j di A.
4.4.5. Dampak Balik
Kenaikan permintaan akhir yang terjadi di daerah A memberikan dampak pada kenaikan output di daerah B. Kemudian kenaikan output di daerah B pada gilirannya berdampak balik pada kenaikan output di daerah A. Besarnya kenaikan nilai output di daerah A sebagai akibat dampak limpahan yang terjadi di daerah B disebut sebagai dampak balik untuk daerah A. Besarnya dampak balik sebagai selisih antara pengganda total yang diperoleh dari model IRIO dan pengganda total yang diperoleh dari model I-O daerah tunggal, yang dirumuskan sebagai:
n i ij p n i AA ij m B A j O 1 1 ... (39) simana: A j O
B = dampak balik nilai output bagi daerah A akibat penambahan
permintaan akhir sebesar satu satuan uang atas output sektor j di A.
ij
p
= elemen matriks P, yang mana matriks P adalah
1
) (I AAA
P adalah matriks pengganda output dari model I-O daerah tunggal A.
Umumnya dampak balik dinyatakan dalam persen yang diperoleh dengan rumus:
100 1 1 1 x m p m n i AA ij n i ij n i AA ij ... (40) 4.4.6. Dampak Bersih
Dampak bersih (Flow-on effect) adalah dampak total dikurangi dampak awal. Besarnya dampak awal sama dengan besarnya stimulus yang dimasukkan ke dalam perekonomian. Dalam hal ini besarnya stimulus sama dengan besarnya kenaikan permintaan akhir. Besarnya dampak bersih dirumuskan sebagai:
1 1 1 n i BA ij n i AA ij A j N m m O ... (41) dimana: A j N
O = dampak bersih perubahan output semua sektor di seluruh daerah
akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir sektor j di A.
Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa Permintaan Akhir terhadap output suatu sektor di suatu daerah berpengaruh terhadap penciptaan output pada sektor itu dan sektor-sektor lainnya di daerah itu dan daerah lainnya. Hubungan inilah digunakan untuk mengukur keterkaitan ekonomi antarsektor dan antardaerah. Sebagai gambaran vektor output X yang digunakan untuk menghitung dampak output memiliki struktur sebagai berikut:
B n B A n A x x x x X .... ... 2 1 ... (34)
di mana elemen
x
iA danx
iB adalah output sektor i masing-masing di daerah A dan B.Sedangkan struktur vektor Permintaan Akhir F sebagai berikut:
B n B A n A BB BA BB BA AB n AA n AB AA f f f f f f f f f f f f F ... ... ... ... ... ... 1 1 2 2 1 1 1 1 ... (35)
di mana elemen
f
iA danf
iBmasing-masing mewakili total Permintaan Akhir terhadap output sektor i yang terjadi di daerah A dan B.4.4.7. Dampak Pengganda Pendapatan
Pengganda pendapatan adalah suatu angka yang menggambarkan besarnya penambahan pendapatan sebagai akibat terjadinya penambahan satu satuan uang Permintaan Akhir, yang diperoleh dari rumus:
1 ] [I A V Z ... (42) di mana:
Z = matriks pengganda pendapatan,
[I-A]-1 = matriks Kebalikan Leontief dan
V = matriks koefisien pendapatan (rasio upah dan gaji terhadap
total input).
Matriks V yang berupa matriks diagonal dengan struktur sebagai berikut:
BB nn BB AA nn AA AA v v v v v V ... 0 0 0 0 ... 0 0 | 0 ... 0 ... ... ... | ... ... ... ... 0 | 0 ... 0 .... 0 0 | .... 0 .... 0 0 | 0 . .... .... 0 0 | 0 .... 0 0 .... 0 0 0 11 22 11 ... (43)
Sedangkan elemen diagonal matriks V diperoleh dengan formula:
A j A j AA jj X V v , B j B j BB jj X V v ... (44)
Kemudian matriks pengganda pendapatan Z memiliki struktur sebagai berikut:
BB nn BB n AB nn AB n BB n BB n BA nn BA n BB BB BA n BA AB n AB n AA nn AA n AB AB AA n AA BA n BA AA n AA z z z z z z z z z z z z z z z z z z z z z z z z Z ... .... ... | ... ... ... ... | ... ... ... ... | ... .... | .... .... .... .... | ... .... ... .... | .... .... .... 1 1 2 1 2 12 11 1 11 2 1 2 12 11 1 12 1 11 1 11 ... (45)
Adapun makna dari elemen-elemen dalam matriks Z adalah angka Pengganda pendapatan antarsektor antardaerah. Contoh interpretasi elemen matriks Z adalah:
AA
z11 = besarnya penciptaan pendapatan pada sektor 1 di daerah A,
sebagai akibat dari penambahan Permintaan Akhir terhadap output sektor 1 di daerah A,
AA
z12 = besarnya penciptaan pendapatan pada sektor 1 di daerah A,
sebagai akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A,
AB n
z 2 = besarnya penciptaan pendapatan pada sektor n di daerah A,
sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah B,
BA n
z 2 = besarnya penciptaan pendapatan pada sektor n di daerah B,
sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A dan
BB n
z1 = besarnya penciptaan pendapatan pada sektor 1 di daerah B,
sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor n di daerah B,
Jika dalam VjA dan B j
V hanya mengandung komponen upah dan gaji,
maka elemen matriks Z dalam persamaan (45) bermakna pengganda pendapatan (income multiplier) rumah tangga. Matriks Z berisi struktur pengganda pendapatan antarsektor dan antardaerah. Pembahasan pengganda pendapatan ke depan didasarkan pada asumsi bahwa Z sebagai pengganda pendapatan rumah tangga.
4.4.8. Dampak Pengganda Pendapatan Total atau Secara Nasional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya dampak perubahan pendapatan di seluruh sektor perekonomian nasional sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir suatu sektor di suatu daerah. Dampak pengganda ini dirumuskan sebagai: n i BA ij z n i AA ij z A j H 1 1 ... (46)
dimana: A j
H = dampak perubahan pendapatan secara nasional akibat penambahan
satu satuan uang permintaan akhir atas output sektor j di daerah A.
Dampak Pengganda Intraregional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya dampak perubahan pendapatan seluruh sektor di suatu daerah sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir atas output sektor j di daerah itu. Besarnya dampak dirumuskan sebagai: n i AA ij z AA j H 1 ... (47) dimana: AA j
H = dampak penambahan pendapatan dari seluruh sektor di daerah A sebagai akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di A.
Dampak Pengganda Interregional (Spill-Over Effects)
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan pendapatan di suatu daerah sebagai akibat penambahan permintaan akhir di daerah lain. Besarnya dampak dirumuskan sebagai:
n i z BA j H ijBA 1 ... (48) dimana: BA j
H = penambahan pendapatan seluruh sektor di daerah B akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di A.
Dampak Pengganda Sektoral
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan pendapatan sektor i di seluruh daerah, sebagai akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir
output sektor j di suatu daerah. Jika terjadi kenaikan permintaan akhir sebesar satu satuan uang terhadap output sektor j di A, maka dampaknya sebesar:
BA ij z AA ij z A ij H ... (49) dimana: A ij
H = dampak perubahan pendapatan pada sektor i di seluruh daerah sebagai akibat dari penambahan permintaan akhir satu satuan uang output sektor j di A.
Dampak Balik
Besarnya dampak balik sebagai selisih antara pengganda total yang diperoleh dari model IRIO dan pengganda total yang diperoleh dari model I-O daerah tunggal, yang dirumuskan sebagai:
n i ij q n i AA ij z A j D H 1 1 ... (50) dimana: A j H
D = dampak balik pendapatan bagi daerah A akibat penambahan
permintaan akhir satu satuan uang output sektor j di A,
ij
q = elemen matriks Q baris i kolom j, di mana matriks Q adalah:
Q = 1 ) ( ˆ AA A I
V , adalah matriks pengganda pendapatan dari model I-O
daerah tunggal A.
Umumnya dampak balik dinyatakan dalam persen yang diperoleh dengan rumus:
100 1 1 1 x z q z n i AA ij n i ij n i AA ij ... (51) Dampak Bersih
Dampak bersih adalah dampak total dikurangi dampak awal. Besarnya dampak awal pengganda pendapatan suatu sektor adalah proporsional dengan
besarnya stimulus yang disuntikkan ke dalam perekonomian. Jika besarnya stimulus sama dengan satu satuan uang, maka dampak awalnya sama dengan koefisien input primer upah dan gaji sektor itu.
Besarnya dampak bersih dirumuskan sebagai:
A j V n i BA ij z n i AA ij z A j N H 1 1 ... (52) dimana: A j H
N = dampak bersih pendapatan semua sektor di seluruh daerah
akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir sektor j di A.
Besar-kecilnya angka pada elemen matriks Z menunjukkan besar-kecilnya keterkaitan sektoral antardaerah dalam penciptaan pendapatan sebagai akibat dari penambahan permintaan akhir sektoral di suatu daerah. Hal ini berarti penambahan permintaan akhir terhadap output suatu sektor di suatu daerah dapat menciptakan pendapatan bukan hanya di daerah dan pada sektor pemicu saja, akan tetapi dapat memunculkan pendapatan pada sektor-sektor lain di daerah itu sendiri dan daerah-daerah lainnya. Sekali lagi, hubungan inilah yang berperan dalam keterkaitan ekonomi antarsektor dan antardaerah.
4.4.9 Dampak Pengganda Kesempatan Kerja
Angka pengganda kesempatan kerja menggambarkan besarnya penambahan tenaga kerja yang dibutuhkan akibat terjadinya penambahan Permintaan Akhir, yang diperoleh dari rumus:
1 ) (I A L E ... (53) dimana:
E = matriks Pengganda Tenaga Kerja, (I-A)-1 = matriks Kebalikan Leontief dan
L = matriks Koefisien Tenaga Kerja sebagai rasio antara jumlah fisik tenaga kerja dan total nilai input.
Matriks L yang berupa matriks diagonal dengan struktur sebagai berikut:
BB nn BB AA nn AA AA l l l l l L ... 0 0 0 0 ... 0 0 | 0 ... 0 ... ... ... | ... ... ... ... 0 | 0 ... 0 .... 0 0 | .... 0 .... 0 0 | 0 . .... .... 0 0 | 0 .... 0 0 .... 0 0 0 11 22 11 ... (54)
Sedangkan elemen diagonal matriks Lˆdiperoleh dengan formula:
A j A j AA jj X L l , B j B j BB jj X L l ... (55) dimana: A j
L = tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor j di daerah A dan
B j
L = tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor j di daerah B.
Kemudian matriks pengganda tenaga kerja E memiliki struktur sebagai berikut:
BB nn BB n AB nn AB n BB n BB n BA nn BA n BB BB BA n BA AB n AB n AA nn AA n AB AB AA n AA BA n BA AA n AA e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e E ... .... ... | ... ... ... ... | ... ... ... ... | ... .... | .... .... .... .... | ... .... ... .... | .... .... .... 1 1 2 1 2 12 11 1 11 2 1 2 12 11 1 12 1 11 1 11 ... (56)
Adapun makna dari elemen-elemen dalam matriks E adalah angka Pengganda Tenaga Kerja antarsektor antardaerah. Contoh interpretasi elemen-elemen E:
AA
e11
= besarnya penciptaan kesempatan kerja sektor 1 di daerah A, sebagai akibat dari penambahan Permintaan Akhir terhadap output sektor 1 di daerah A,
AA
e12
= besarnya penciptaan kesempatan kerja sektor 1 di daerah A, sebagai akibat dari penambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A,
AB n
e 2
= besarnya penciptaan kesempatan kerja sektor n di daerah A, sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah B,
BA n
e 2
= besarnya penciptaan kesempatan kerja sektor n di daerah B, sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor 2 di daerah A dan
BB n
e1
= besarnya penciptaan kesempatan kerja sektor 1 di daerah B, sebagai akibat dari tambahan Permintaan Akhir sektor n di daerah B.
Dampak Pengganda Total atau secara Nasional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan kesempatan kerja di seluruh sektor perekonomian nasional sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir suatu sektor di suatu daerah. Dampak pengganda ini dirumuskan sebagai: n i BA ij e n i AA ij e A j E 1 1 ... (57) dimana: A j
E = dampak perubahan kesempatan kerja secara nasional akibat
penambahan satu satuan uang permintaan akhir terhadap output sektor j di daerah A.
Dampak Pengganda Intraregional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan kesempatan kerja di seluruh sektor di suatu daerah sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir atas output sektor j di daerah itu. Besarnya dampak dirumuskan sebagai:
n i AA ij e AA j E 1 ... (58) dimana: AA j
E = dampak penambahan kesempatan kerja dari seluruh sektor di daerah A sebagai akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir output sektor j di A.
Dampak Pengganda Interregional
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan kesempatan kerja di suatu daerah sebagai akibat penambahan permintaan akhir di daerah lain. Besarnya dampak dirumuskan sebagai:
n i e BA j E BA ij 1 ... (59) dimana: BA j
E = penambahan kesempatan kerja di seluruh sektor di daerah B
sebagai akibat penambahan permintaan akhir satu satuan uang atas output sektor j di A.
Dampak Pengganda Sektoral
Adalah angka yang menunjukkan besarnya perubahan kesempatan kerja sektor i di seluruh daerah sebagai akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir atas output sektor j di suatu daerah. Jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu satuan uang terhadap output sektor j di A, maka dampaknya sebesar:
BA ij e AA ij e A j E ... (60) dimana: A j
E = penambahan kesempatan kerja pada sektor i di seluruh daerah
akibat penambahan permintaan akhir sebesar satu satuan uang atas output sektor j di A.
Dampak Balik
Besarnya dampak balik sebagai selisih antara pengganda total yang diperoleh dari model IRIO dan pengganda total yang diperoleh dari model I-O daerah tunggal, yang dirumuskan sebagai:
n i ij q n i AA ij e A j D E 1 1 ... (61) dimana: A j E
D = dampak balik kesempatan kerja bagi daerah A akibat
penambahan permintaan akhir satu satuan uang output sektor j di A dan
ij
q = elemen matriks Q, yang mana matriks Q adalah
1
) (
ˆ I AAA
L
Q yaitu matriks pengganda kesempatan kerja dari model I-O daerah tunggal A.
Umumnya dampak balik dinyatakan dalam persen yang diperoleh dengan rumus:
100 1 1 1 x e q e n i AA ij n i ij n i AA ij ... (62) Dampak Bersih
Besarnya dampak awal pengganda kesempatan kerja suatu sektor adalah proporsional dengan besarnya stimulus yang disuntikkan ke dalam perekonomian. Jika besarnya stimulus sama dengan satu satuan uang, maka dampak awalnya sama dengan koefisien tenaga kerja. Besarnya dampak bersih dirumuskan sebagai: A jj n i BA ij n i AA ij A l e e j E N 1 1 ... (63) dimana A j N
E = dampak bersih kesempatan kerja pada semua sektor di seluruh
daerah akibat penambahan satu satuan uang permintaan akhir atas output sektor j di A.
4.5. Efisiensi Sektoral
Besarnya nilai tambah bruto suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut menghasilkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Angka efisiensi sektoral pada dasarnya adalah perbandingan antara nilai tambah bruto dan nilai output dalam proses produksi suatu sektor (Samadhana, 1999). Rumus efisiensi sektoral ( ):
A A j A j A j X X V . A . / V ... (64) dimana A
j = efisiensi sektoral sektor j di daerah A, A
j
V = nilai tambah bruto sektor j di daerah A,
A
V. = total nilai tambah di daerah A,
A j
X = nilai ouput sektor j di daerah A dan
A
X. = total nilai output di daerah A.
4.6. Perubahan Struktural Ekonomi
Perkembangan ekonomi suatu negara atau wilayah dapat dilihat melalui perubahan struktur perekonomian di negara atau wilayah tersebut, terutama selama proses industrialisasi. Selama proses industrialisasi, perubahan struktur terkait dengan perpindahan dari sektor pertanian (primer) ke sektor industri (sekunder) dan jasa (tersier) (Tambunan, 2009). Menurut Daryanto (1999), perubahan struktur ekonomi atau seringkali juga disebut sebagai transformasi struktural dapat didefinisikan sebagai perubahan bobot relatif dari suatu komponen penting yang secara aggregatif merupakan indikator ekonomi, seperti pendapatan nasional (output) dan tenaga kerja. Chenery (1960, 1980), Chenery dan Syrquin (1975) mendefinisikan perubahan struktur sebagai suatu perubahan dalam ekonomi yang berkaitan dengan komposisi permintaan perdagangan,
produksi dan faktor faktor lain yang diperlukan secara terus menerus untuk meningktkan pendapatan masyarakat melalui pendapatan perkapita. Dengan demikian pembangunan ekonomi disuatu wilayah dapat dilihat dari pendapatan perkapita masyarakat yang mengalami peningkatan secara terus menerus dan disertai terjadinya perubahan fundamental dalam struktur ekonomi.
Struktur ekonomi menurut Thakur (2011), dapat didefinisikan sebagai komposisi dari bermacam macam komponen dari agregat makro, yang dapat mengalami perubahan relatif terhadap waktu dan terkait dengan perputaran arus pendapatan. Kawaz dan Qasem (2003), menyebutkan bahwa istilah struktur mengacu kepada komposisi internal sistem, yaitu sistem ekonomi, atau hubungan interaktif antara komponen sistem. Perubahan struktural sesuai dengan terkait dengan hal tersebut, mengacu pada perubahan dalam komposisi internal seperti dan atau pola saling ketergantungan. Kuznets (1959) mendefinisikan struktur sebagai kerangka dari suatu hubungan yang terkait satu dengan yang lainnya, dan setiap bagian mempunyai peran yang berbeda tetapi memanfaatkan satu dengan yang lainnya untuk mencapai suatu tujuan yang sama.
Terminologi struktur sendiri merujuk pada komposisi (susunan) dari suatu sistem ekonomi seperti pertanian, pertambangan dan lain lainnya. Perubahan struktur dengan demikian dapat dikatakan sebagai perubahan internal dalam komposisi struktur ekonomi kare sebagai na adanya suatu interaksi dari komponen komponen struktur tersebut.
Penggunaan tabel input-output dapat memberikan manfaat yang berbeda, yaitu : prospektif, deskriptif, dan taksonomi (Haddad, et al, 2002). Malecki
(1991), menjelaskan bahwa terdapat beberapa tipe tujuan dari analisis input-output, yaitu:
1. menyediakan kumpulan disagregasi multiplier yang dapat digunakan untuk meramal aktivitas ekonomi;
2. input-output memperkenankan untuk mengidentifikasi cluster dari keterkaitan industri dan sektor kunci;
3. input-output mencoba untuk memprediksi pola pembangunan ekonomi melalui pendekatan struktur fundamental ekonomi.
Jensen, Hewings dan West (1987) menyatakan bahwa tabel input-output dari satu perspektif digunakan untuk tujuan taksonomi, sedangkan dalam perspektif yang lebih luas lagi merupakan kumpulan dari spatio-temporal
“photographs” di mana menunjukkan suatu perekonomian yang ukurannya
berbeda (sektoral dan spasial). Dalam studi ini, akan dilihat photographs struktur perekonomian wilayah di Indonesia.
Penggunaan teknik input output dalam analisis perubahan struktural dapat dianalisa melalui Dekomposisi Perubahan Output (decomposition of output
changes) atau Decomposition Structural Analysis (DSA). Penggunaan teknik
Dekomposisi Perubahan Output (DPO) , pada awalnya dikembangkan oleh Chenery dan Syrquin (1979) dan diterapkan dalam rangka menguji pola pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan strategi pembangunan. Beberapa study dengan menggunakan DPO telah di lakukan oleh Martin dan Holland (1992), di Amerika Serikat; Zakariah dan Ahmad (1999) di Malaysia; Chung dan Kim (2000) di Korea; Savona dan Lorenz (2006) di China,
Mohammadi dan Bazzazan (2007) di Iran dan Yamakawa dan Peters (2011) di Norwegia. Metoda Dekomposisi Perubahan Output tersebut juga sudah digunakan dalam studi di Indonesia antara lain oleh Akita dan Hermawan (2000), Daryanto (2000) dan Hayashi (2005).
Menurut Chenery dan Syrquin (1975), ada empat faktor yang umum memepengaruhi pertumbuhan produk suatu sektor dari sisi demand (demand
side), yaitu :
1. Ekspansi permintaan domestik atau domestik Final Demand (DFD) yaitu merupakan penjumlahan dari dampak langsung (direct effect demand) bagi produk suatu sektor dan dampak tidak langsung (indirect effect demand) dari kenaikan permintaan domestik untuk produksi sektor-sektor lainnya terhadap sektor tersebut
2. Ekspansi ekspor (EE), yaitu merupakan dampak total (total effect) dari kenikan jumlah ekspor terhadap produksi suatu sektor.
3. Substitusi impor (IS) yaitu dampak total dari kenaikan proporsi permintaan disetiap sektor yang dipenuhi oleh produksi domestik terhadap output suatu sektor.
4. Perubahan teknologi (TC ) yaitu merupakan dampak total dari suatu sektor akibat perubahan koefisien input output dalam perekonomian
Metoda dekomposisi dari sumber sumber pertumbuhan dikemukakan oleh Chenery pada tahun 1960 (Chung dan Kim, 2000; Mohamadi dan Bazzazan, 2007) dengan menggunakan Input Output nasional. Mempertimbangkan bahwa pada kenyataannya suatu wilayah tidak dapat berdiri sendiri dengan suatu
keterisolasian serta interaksi antar wilayah yang memainkan peranan penting dalam pertumbuhan suatu wilayah, maka Akita (1999, 2002), mengembangkan formula yang dikenal sebagai Extended Growth Factor Decomposition.
Titik awal dalam menganalisa sumber sumber pertumbuhan adalah keseimbangan dari kerangka input-output. Dalam Input-Output analysis, total penawaran (supply) terdiri dari gross domestic output (X) dan import (M). Disisi lain, total permintaan (demand) terdiri dari intermediate demand (W) dan final
demand, dimana final demand dapat dibagi lagi menjadi domestic final demand
(D) dan export (E). Dengan demikian maka keseimbangan tersebut dapat ditulis sebagai berikut : M E D W X ...(65)
Seperti diketahui bahwa import merupakan fungsi dari total demand, sehingga impor rasio (m) adalah besarnya impor terhadap total demand
1 1 1 1 W D M m
Dengan mempertimbangkan bahwa didalam penelitian ini dilakukan terhadap lima wilayah maka metoda extended growth factor decomposition dapat dijelaskankan sebagai berikut:
) 66 ....( Z J S R L Z J S R L ZZ ZJ ZS ZR ZL JZ JJ JS JR JL SZ SJ SS SR SL RZ RJ RS RR RL LZ LJ LS LR LL ZZ ZJ ZS ZR ZL JZ JJ JS JR JL SZ SJ SS SR SL RZ RJ RS RR RL LZ LJ LS LR LL Z J S R L M M M M M E E E E E F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A X X X X X ) 67 ....( ... ... ... ... ... ... ... / 1 KK i K j n j KK ij K i K i
M
a X Fm
) 69 ...( ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ Z J S R L zz Z JZ ZS ZR ZL JZ JJ J JS JR JL SZ SJ SS S SR SL RZ RJ RS RR R RL LZ LJ LS LR LL L Z J S R L ZZ Z ZJ ZS ZR ZL JZ JJ J JS JR JL SZ SJ SS S SR SL RZ RJ RS RR R RL LZ LJ LS LR LL L Z J S R L E E E E E F p F F F F F F p F F F F F F p F F F F F F p F F F F F F p X X X X X A p A A A A A A p A A A A A A p A A A A A A p A A A A A A p X X X X X E F F P A A P I X ˆ a b 1 ˆ a b atau E F F P B X ˆ a b , dimana ˆ a b 1 A A P I B Z J S R L X X X X X X , Z J S R L E E E E E E , Z J S R L P P P P P P ˆ 0 0 0 0 0 ˆ 0 0 0 0 0 ˆ 0 0 0 0 0 ˆ 0 0 0 0 0 ˆ ˆ , ZL JL SL RL LL a F F F F F F , ZZ ZJ ZS ZR JZ JJ JS JR SZ SJ SS SR RZ RJ RS RR LZ LJ LS LR b F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F dan ZZ JJ SS RR LL a A A A A A A 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 , 0 0 0 0 0 ZJ ZS ZR ZL JZ JS JR JL SZ SJ SR SL RZ RJ RS RL LZ LJ LS LR b A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A 0 X X X t 0 0 0 0 0 ˆ ˆF F E B PF F E P Bt t ta tb t a B a a t a F F F 0 , b b t b F F F 0 , AND E Et E0 0 0 0 0 0 0 0 ˆ ˆ ˆ ˆ F F E B P P F B B PF F E P B X t t a b t t a t a b Karena Bt B0 Bt B0 1 Bt 1B0