Index of /students/paper/skripsi/20403099 Prog BAB II

35 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

2.1 Konsep Peringatan Dini Bahaya Kebakaran

Peringatan dini (early warning) adalah suatu tanda yang memberitahukan kepada manusia bahwa akan terjadi sesuatu. Dengan demikian manusia dapat mengambil keputusan langkah-langkah selanjutnya dalam menanggapi kejadian yang akan datang. Peringatan dini memiliki berbagai macam bentuk sesuai dengan kejadiannya.

Dalam hal ini penulis membahas peringatan dini tentang bahaya kebakaran, dengan merancang sistem yang mampu mendeteksi tanda-tanda kebakaran pada sebuah ruangan dan kemudian memberitahukan kepada pemilik rumah atau bangunan melalui pesan singkat SMS bahwa telah terdeteksi tanda-tanda kebakaran.

Setelah pemilik rumah atau bangunan menerima pesan SMS, maka akan lebih memudahkan pemilik rumah atau bangunan tersebut dalam mengambil tindakan untuk mencegah agar kebakaran tidak meluas baik dengan menelpon pemadam kebakaran ataupun memberitahukan kepada petugas keamanan bahwa telah terdeteksi kebakaran pada rumah atau bangunannya.

Dengan kata lain tujuan dari konsep peringatan dini bahaya kebakaran adalah mencegah meluasnya api jika terjadi kebakaran. Sehingga dapat meminimalkan kerugian maupun kerusakan pada sebuah rumah ataupun bangunan.

2.2 Konsep Jaringan Multidrop

Konsep jaringan multidrop adalah suatu konsep jaringan komunikasi data secara serial antara satu perangkat dengan perangkat lainnya melalui sebuah saluran komunikasi data.

(2)

Dalam perancangan sistem peringatan dini bahaya kebakaran, penulis menggunakan konsep jaringan multidrop untuk komunikasi antara komputer server dengan mikrokontroller yang terpasang pada rumah atau bangunan ataupun pada lantai yang berbeda pada sebuah gedung, sehingga program aplikasi akan lebih spesifik mengetahui lokasi dari sensor-sensor yang mendeteksi tanda-tanda kebakaran.

2.3 Bahasa Pemrograman Visual Basic 6.0

Visual Basic (atau sering disingkat VB) adalah perangkat lunak untuk menyusun program aplikasi yang bekerja dalam lingkungan sistem operasi windows. Program aplikasi tersebut dapat berupa program database, program grafis dan lain sebagainya. Dalam bahasa pemrograman Visual Basic 6.0 terdapat komponen-komponen yang sangat membantu dalam pembuatan program aplikasi. Selain itu dapat pula memanfaatkan program yang mendukung seperti Microsoft Access, Microsoft Exel, Seagate Crystal Report, dan lain sebagainya dalam membuat program aplikasi menggunakan Visual Basic 6.0.

Untuk dapat menyusun dan membuat suatu program aplikasi menggunakan VB 6.0, tentunya harus mengetahui fungsi dari fasilitas–fasilitas yang tersedia dalam bahasa pemrograman VB 6.0 agar proses penyusunan dan pembuatan program aplikasi tersebut dapat berjalan dengan baik.

(3)

2.3.1 Membuat Program Aplikasi Menggunakan VB 6.0

Dalam pembuatan program aplikasi pada dari Microsoft Visual Basic 6.0, langkah pertama adalah dengan membuat sebuah project. Adapun langkah-langkah pembuatan sebuah project adalah sebagai berikut:

1. Menjalankan program Visual Basic 6.0 dengan cara mengklik Start | All Program | Microsoft Visual Basic 6.0 | Microsoft Visual Basic 6.0. atau dengan membuka Windows Explorer dengan mengklik kanan Start dan mengklik Explore. Setelah jendela explorer muncul klik akses Program Files\Microsoft Visual Studio\ VB98 dan klik ganda VB6.exe. Maka akan tampil jendela awal program VB 6.0, seperti gambar 2.1.

Gambar 2.1 Tampilan awal VB 6.0

2. Kemudian pada jendela New Project, pilih Standard.EXE lalu klik Open. Maka akan masuk pada lingkungan IDE (Integrated

(4)

Gambar 2.2 Tampilan IDE Visual Basic 6.0

3. Setelah itu bahasa pemograman Visual Basic 6.0 telah siap untuk membuat sebuah program aplikasi.

2.3.2 Menu Bar

Menu bar merupakan salah satu fasilitas yang dapat membantu user dalam membuat program aplikasi pada Visual Basic 6.0. Terdapat tigabelas pilihan menu dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda. Untuk mengunakan fasilitas menu, klik menu yang dipilih dan selanjutnya mengklik submenu yang akan digunakan.

Gambar 2.3 Menu Bar

2.3.3 Toolbar

(5)

Jumlah icon pada toolbar dapat diatur dengan mengklik Menu View | toolbars. Selanjutnya ada pilihan menambah toolbar, diantaranya Debug, Edit, Form editor, Stantard,dan Customize. Pada submenu Customize terdapat pilihan untuk mengatur toolbar yang akan digunakan. Tampilan salah satu toolbar terlihat seperti pada gambar berikut ini:

Gambar 2.4 Toolbar

2.3.4 Toolbox

Toolbox merupakan tempat icon-icon untuk objek yang digunakan dalam form pada pembuatan program aplikasi. Secara default pada toolbox hanya terdapat objek-objek seperti gambar berikut ini:

(6)

Penambahan objek-objek pada toolbox dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan user dalam pembuatan program aplikasinya, yaitu dengan klik kanan pada toolbox, lalu pilih components, sehingga akan muncul tampilan seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.6 Components

Kemudian memilih komponen-komponen kontrol/objek yang dibutuhkan dengan menklik /mencek pada kotak pilihan dan klik OK.

2.3.5 Project Explorer

Project Explorer merupakan tempat untuk melihat daftar form, modules, dan designers dengan mengklik kanan pada bagian project explorer dan pilih add, lalu pilih yang akan ditambah.Tampilan project explorer seperti pada gambar berikut ini:

(7)

Gambar 2.7 Project Explorer

2.3.6 Properties Windows

Properties Windows merupakan tempat yang digunakan untuk mengatur properti dari setiap objek kontrol. Pada properti windows ini semua objek kontrol dapat diatur sesuai dengan program aplikasi yang akan dibuat. Tampilan properties tampak seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.8 Properties windows 2.3.7 Form Layout Windows

(8)

dijalankan yaitu dengan klik pada form layout window dan mengatur sesuai dengan keinginan. Tampilan form layout windows seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.9 Form Layout

2.3.8 Form Objek

Merupakan tempat peletakan komponen kontrol/objek yang terdapat pada toolbox sesuai dengan rancangan program aplikasi. Untuk menampilkan form objek ini, klik ganda pada icon/nama form pada jendela project explorer atau dengan klik kanan pada icon/nama pilih view object. Contoh tampilan form seperti gambar berikut ini:

(9)

2.3.9 Form Kode

Form kode merupakan tempat untuk menulis kode-kode atau syntax program aplikas

.4 Komunikasi Serial

erdapat dua buah cara dalam komunikasi data, yaitu; komunikasi paralel dan komun

serial terdapat dua metode, yaitu; synchronous

dan as

puter dilakukan oleh U

i. Untuk menampilkan form kode ini, klik form pada project explorer, kemudian klik kanan pilih View Code. Tampilan form seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.11 Form Kode

2

T

ikasi serial. Perbedaaannya adalah pada saluran pengiriman bit-bit data, komunikasi serial hanya menggunakan saluran tunggal sedangkan pada komunikasi paralel menggunakan saluran paralel.

Dalam komunikasi data secara

ynchronous. Mode synchronous adalah dengan memberikan bit-bit penanda baik pada awal maupun akhir data yang akan dikirimkan. Sedangkan mode asynchronous adalah pengiriman data dengan tidak ada bit-bit penanda, sehingga data dapat dikirimkan sekaligus ataupun sebagaian dengan periode acak.

Pengaturan komunikasi serial mode asynchronous pada kom

(10)

mengubah data paralel menjadi data serial untuk dikirimkan dan menerima data serial yang kemudian diubah kembali menjadi data paralel.

Format data komunikasi serial terdiri dari parameter-parameter yang dipakai untuk menentukan bentuk data serial yang dikomunikasikan, dimana elemen-elemennya terdiri dari :

1. Kecepatan pengiriman data per bit (baud rate) 2. Jumlah bit data per karakter (data length) 3. Parity yang digunakan

4. Jumlah stop bit dan start bit

Gambar 2.12 Format Pengiriman Data Serial

2.4.1 Port Serial RS232

Standar awal pensinyalan dalam komunikasi serial adalah menggunakan RS232 yang dikembangkan oleh Electronic Industry Association and the Telecommunication Industry Association (EIA/TIA), dan sampai saat ini masih dipergunakan dalam komunikasi serial walaupun muncul standar komunikasi serial baru yaitu USB (universal Serial Bus). Standar RS232 ini hanya menyangkut komunikasi antara komputer (DTE─Data Terminal Equipment) dengan peralatan pelengkap komputer (DCE─Data Communications Equipment) seperti printer.

Standar sinyal serial RS232 memiliki ketentuan level tegangan sebagai berikut :

(11)

2. Logika ‘0’ terletak antara tegangan +3 s.d +25 V, dan disebut dengan “space”.

3. Daerah tegangan antara -3 s.d +3 V adalah level invalid, yaitu daerah tegangan yang tidak memiliki level logika pasti sehingga harus dihindari. Demikian pula untuk daerah level tegangan lebih negatif dari -25 V atau lebih positif dari +25 V juga harus dihindari karena tegangan tersebut dapat merusak jalur kendali pada RS232.

Peruntukkan port RS232 pada komputer hanya untuk satu alat (single device). Biasanya konektor RS232 dinamakan COM1 dan COM2. COM1 digunakan untuk port mouse sedangkan COM2 digunakan untuk modem. RS232 pada komputer untuk komunikasi serial menggunakan konektor dengan 9 Pin (DB-9), yang pada dasarnya hanya 3 pin yang dipergunakan, yaitu pin kirim, pin terima, dan pin ground.

Gambar 2.13 Konektor Port Serial 9 Pin (DB-9) Berikut ini adalah tabel konfigurasi dan fungsi pin pada DB-9:

No. Pin Nama Sinyal Arah Sinyal Keterangan 1 DCD In Data Carrier Detect

2 RxD In Receiver Data

3 TxD Out Transmitter Data

4 DTR Out Data Terminal Ready

5 GND - Ground

6 DSR In Data Set Ready

(12)

8 CTS In Clear To Send

9 RI In Ring Indicator

Tabel 2.1 Konfigurasi Pin DB9

Keterangan mengenai fungsi dari saluran RS232 pada konektor DB-9 adalah sebagai berikut:

• Data Carrier Detect atau Received Line Signal Detect, saluran ini berfungsi untuk DCE memberitahukan kepada DTE bahwa pada terminal masukan ada data masuk.

• Receive Data, saluran ini digunakan oleh DTE untuk menerima data dari DCE.

• Transmit Data, saluran ini digunakan oleh DTE untuk mengirimkan data ke DCE.

• Data Terminal Ready, saluran ini digunakan oleh DTE untuk memberitahukan bahwa terminal telah siap.

• Ground, saluran untuk sinyal ground.

• Data Set Ready, saluran ini berfungsi menunjukkan bahwa DCE telah siap.

• Request To Send, melalui saluran ini DCE diminta untuk mengirim datanya oleh DTE.

• Clear To Send, melalui saluran ini DCE memberitahukan ke DTE bahwa boleh mulai mengirim data.

(13)

2.4.2 Pengalamatan Memori Port Serial

Pengalamatan memori (base address) yang digunakan oleh port serial biasanya untuk COM1 adalah 3F8h dan untuk COM2 adalah 2F8h. Alamat tersebut adalah alamat yang biasa digunakan dan sudah menjadi standar.

Setelah mengetahui base address dari port serial maka dapat pula menentukan alamat dari register-register yang digunakan untuk komunikasi melalui port serial. Berikut ini adalah tabel nama register dan alamat yang digunakan untuk komunikasi port serial.

(14)

Nama Register Alamat COM1 Alamat COM2

TX Buffer 3F8h 2F8h

RX Buffer 3F8h 2F8h

Baud Rate Divisor Latch LSB 3F8h 2F8h Baud Rate Divisor Latch MSB 3F9h 2F9h Interupt Enable Register 3F9h 2F9h Interupt Identification Register 3FAh 2FAh Line Control Register 3FBh 2FBh Modem Control Register 3FCh 2FCh

Line Status Register 3FDh 2FDh

Modem Status Register 3FEh 2FEh Tabel 2.2 Nama dan Alamat Register Port Serial Berikut ini adalah keterangan dari fungsi register-register tersebut:

• TX Buffer, digunakan untuk menampung dan menyimpan data yang akan dikirim ke port serial.

• RX Buffer, digunakan untul menampung dan menyimpan data dari DCE.

• Baud rate Divisor Latch LSB, digunakan untuk menampung byte bobot rendah untuk pembagi sinyal clock pada UART agar mendapat baud rate yang tepat.

(15)

Baud Rate (bit/detik) Angka Pembagi Tabel 2.3 Angka Pembagi Sinyal Clock pada UART

• Interupt Enable Register, digunakan untuk mengatur interupsi apa saja yang akan dilayani oleh komputer. Berikut ini adalah tabel Interupt Enable Register:

No. Bit Keterangan

0 Bernilai 1 : Interupsi akan aktif jika menerima data.

1 Bernilai 1 : Interupsi akan aktif jika register Tx dalam keadaan kosong. 2 Bernilai 1 : Interupsi akan aktif jika ada perubahan pada Line Status

Register.

3 Bernilai 1 : Interupsi akan aktif jika ada perubahan pada Modem Status Register.

4,5,6,7 Bernilai 0.

Tabel 2.4 Rincian bit pada Interupt Enable Register

(16)

No. Bit Keterangan 0 Bernilai 0 : Interupsi menunggu.

Bernilai 1 : Tidak ada interupsi yang menunggu keputusan. 1 dan 2 Bernilai 00 : Prioritas tertinggi oleh Line Status Register.

Bernilai 01 : Prioritas tertinggi oleh register Rx jika menerima data. Bernilai 10 : Prioritas tertinggi oleh register Tx jika telah kosong. Bernilai 11 : Prioritas tertinggi oleh Modem Status Register. 3,4,5,6,7 Bernilai 0

Tabel 2.5 Rincian bit pada Interupt Identification Register

• Line Control Register, digunakan untuk menentukan jumlah bit data, jumlah bit pariti, jumlah bit stop, serta untuk menentukan apakah Baud rate Divisor Latch dapat diubah. Berikut ini adalah tabel rincian bit pada Line Control Register:

No. Bit Keterangan

0 dan 1 Jumlah bit data

Bernilai 00 : Jumlah bit data adalah 5. Bernilai 01 : Jumlah bit data adalah 6. Bernilai 10 : Jumlah bit data adalah 7. Bernilai 11 : Jumlah bit data adalah 8. 2 Bit stop

Bernilai 0 : Jumlah bit stop adalah 1.

Bernilai 1 : Jumlah bit stop adalah 1,5 untuk 5 bit data dan 2 untuk 6-8 bit data.

3 Bit pariti

(17)

4 Bernilai 0 : Pariti ganjil. Bernilai 1 : Pariti genap.

5 Bernilai 0 : Bit pariti tidak ikut dikirimkan.

Bernilai 1 : Bit pariti ikut dikirimkan (stick parity). 6 Bernilai 0 : Set break control tidak diaktifkan.

Bernilai 1 : Set break control diaktifkan.

7 Bernilai 0 : Baud rate Divisor Latch tidak dapat diakses. Bernilai 1 : Baud rate Divisor Latch dapat diakses.

Tabel 2.6 Rincian bit pada Line Control Register

• Modem Control Register, digunakan untuk mengatur saluran modem terutama DTR dan saluran RST. Berikut ini adalah tabel rincian bit pada Modem Control Register:

No. Bit Keterangan

0 Bit DTR

Bernilai 0 : Saluran DTR aktif (aktif low). Bernilai 1 : Saluran DTR tidak aktif.

1 Bit RST

Bernilai 0 : Saluran RST aktif (aktif low). Bernilai 1 : Saluran RST tidak aktif.

2 Bit OUT1, digunakan sebagai penghubung ke perangkat lain, dapat berlogika low atau high. Secara normal tidak digunakan.

3 Bit OUT2, digunakan sebagai penghubung ke perangkat lain, dapat berlogika low atau high. Secara normal tidak digunakan.

4 Bernilai 0 : Loop back internal aktif. Bernilai 1 : Loop back internal aktif. 5,6,7 Bernilai 0

(18)

• Line Status Register, digunakan untuk menampung bit-bit yang menyatakan keadaan penerimaan atau pengiriman data dan status kesalahan operasi. Berikut ini adalah tabel rincian bit pada Line Status Register:

No. Bit Keterangan

0 Bernilai 1 : Menyatakan adanya data yang masuk ke buffer Rx. 1 Bernilai 1 : Data yang masuk mengalami overrun.

2 Bernilai 1 : Terjadi kesalahan pada bit pariti. 3 Bernilai 1 : Terjadi kesalahan framing. 4 Bernilai 1 : Terjadi break interupt.

5 Bernilai 1 : Menyatakan bahwa register Tx telah kosong.

6 Bernilai 1 : Menyatakan bahwa Transmitter Shift Register telah kosong. 7 Bernilai 0

Tabel 2.8 Rincian bit pada Line Status Register

• Modem Status Register, digunakan untuk menampung bit-bit yang menyatakan status dari saluran yang berhubungan dengan modem. Berikut ini adalah tabel rincian bit pada Modem Status Register:

No. Bit Keterangan

0 Bernilai 1 : Menyatakan adanya perubahan keadaan di saluran CTS. 1 Bernilai 1 : Menyatakan adanya perubahan keadaan di saluran DSR. 2 Bernilai 1 : Menyatakan adanya perubahan keadaan di saluran RI dari

low ke high.

(19)

6 Bernilai 1 : Menyatakan saluran RI sudah dalam keadaan aktif. 7 Bernilai 1 : Menyatakan saluran DCD sudah dalam keadaan aktif.

Tabel 2.9 Rincian bit pada Modem Status Register

2.4.3 Pengantarmukaan Port Serial dengan Mikrokontroller

Pada komunikasi serial pada dasarnya data yang dikirimkan adalah tegangan dan kemudian dibaca dalam bit. Besarnya level tegangan komunikasi serial (Level Tegangan RS232) adalah -25 s.d -3 V untuk logika high (1) dan +3 s.d +25 V untuk logika low (0). Hal ini sangat berbeda dengan level tegangan pada mikrokontroller (Level Tegangan TTL/CMOS) dimana untuk logika high (1) level tegangannya adalah 5 V dan untuk logika low (0) level tegangannya adalah 0 V. Oleh karena itu diperlukan sebuah pengantarmuka yang dapat menyamakan level tegangan dari komunikasi serial pada komputer dengan mikrokontroller, yaitu IC RS232 produksi MAXIM yang disebut MAX232.

(20)

Gambar 2.15 Konfigurasi Pin IC MAX232

Dengan menggunakan IC MAX232 ini maka komunikasi serial komputer melalui port serial RS232 dengan mikrokontroller dapat dilakukan.

2.5 Short Message Service (SMS)

Pada saat ini perkembangan dunia komunikasi baik berupa data maupun suara sudah tidak diragukan lagi kecanggihannya. Salah satu jenis perkembangan komuniksi yang sekarang ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah layanan

(21)

pengguna telepon seluler mengirimkan pesan terdiri dari 160 karakter (7-bit encoding) atau 140 karakter (8-bit encoding).

SMS dapat dikirimkan menggunakan mode text atau mode PDU (Protocol Data Unit. SMS dengan mode text adalah yang paling sederhana tetapi tidak dapat membawa attachment berwujud gambar ataupun nada suara. Sedangkan pada mode Protocol Data Unit (PDU), SMS tersusun atas hexadecimal octets (8-bit units) yang menyusun 160 karakter pada penyandian ASCII 7-bit atau 140 octets.

2.5.1 Format Data SMS

Short Message Service (SMS) memiliki dua mode yaitu text dan PDU, namun yang paling umum digunakan oleh operator GSM adalah mode PDU. Karena SMS adalah suatu sistem store-and-forward sehingga sebuah SMS dari telepon seluler pengirim tidak akan secara langsung dikirimkan kepada telopon seluler penerima akan tetapi dikirmkan terlebih dahulu ke SMS-Centre masing-masing operator GSM. Hal ini menyebabkan layanan SMS tidak bersifat real time, karena ketika jaringan GSM sedang sibuk maka biasanya SMS akan terlambat terkirim. Berikut ini adalah tabel nomor SMS-Centre operator GSM yang ada di Indonesia:

No Operator No. SMS-Centre 1 Telkomsel +62811000000 2 Satelindo +62816124 3 Excelcom +62818445009 4 Indosat-M3 +62855000000

Tabel 2.10 Nomor SMS-Centre Operator GSM di Indonesia

(22)

I/O. PDU terdiri atas beberapa Header. Header untuk kirim SMS ke SMS-Centre berbeda dengan SMS yang diterima dari SMS-Centre.

2.5.2 Protocol Data Unit (PDU) SMS-Submit

Jumlah Header untuk kirim SMS ke SMS-Centre adalah delapan (8) dengan format PDU-nya adalah sebagai berikut:

Header1 Header2 Header3 Header4 Header5 Header6 Header7 Header8 SCA PDU Type MR DA PID DCS VP UDL & UD

Tabel 2.11 Format PDU untuk Kirim SMS (SMS-Submit)

Berikut ini adalah keterangan dari tabel tersebut:

1. SCA (Service Centre Address); Berisi tentang informasi elemen Service Centre. Header pertama ini terbagi menjadi tiga buah subheader yaitu:

a. Jumlah Pasangan Heksadesimal (oktet) SMS-Centre dalam bilangan heksa ditambah dengan kode nomor.

b. Kode nasional dan internasional nomor. Untuk Nasional, kode subheadernya yaitu 81, dan untuk Internstional, kode subheadernya yaitu 91.

c. No SMS-Centre, dalam pasangan heksa (oktet) yang dibalik. Jika tertinggal satu angka heksa yang tidak memiliki pasangan, angka tersebut akan dipasangkan dengan huruf F didepannya.

Berikut ini adalah tabel contoh header SCA pada SMS-Submit dengan operator Telkomsel:

SCA

Jumlah Oktet SMS-Centre Kode nomor Nomor SMS-Centre

07 91 2618010000F0

(23)

Dari tabel tersebut maka dituliskan menjadi 07912618010000F0. Akan tetapi jika menggunakan SCA yang sudah tersimpan pada kartu SIM operator GSM maka SCA dapat ditulis 00.

2. PDU Type; Ada dua tipe PDU yang umum digunakan yaitu Submit dan Deliver. Karena format untuk mengirim maka PDU Typenya bernilai 11.

3. MR (Message Reference); Secara otomatis akan diberikan oleh telepon seluler atau SMS-Gateway, sehingga biarkan saja 00.

4. DA (Destination Address); adalah nomor telepon seluler tujuan SMS yang akan dikirimkan. Sama halnya dengan SCA, header ini juga terbagi menjadi tiga subheader, yaitu:

a. Jumlah bilangan desimal nomor tujuan SMS dalam bilangan heksa. b. Kode nasional dan internasional nomor. Untuk Nasional, kode

subheadernya yaitu 81, dan untuk Internstional, kode subheadernya yaitu 91.

c. Nomor tujuan, dalam pasangan heksa (oktet) yang dibalik. Jika tertinggal satu angka heksa yang tidak memiliki pasangan, angka tersebut akan dipasangkan dengan huruf F didepannya.

Berikut ini adalah tabel contoh header DA pada SMS-Submit dengan nomor tujuan SMSnya misalkan +6285284785554:

DA

Jumlah Desimal No. Tujuan Kode nomor Nomor Tujuan

0D 91 265882745855F4

Tabel 2.13 Tabel Contoh Header DA

(24)

5. PID (Protocol Identifier); ada tiga PID yang digunakan yaitu 00h yang dikirimkan sebagai SMS, 01h yang dikirimkan sebagai telex, dan 03h yang dikirimkan sebagai fax. Oleh karena itu PID yang digunakan adalah 00.

6. DCS (Data Coding Scheme); ada dua buah skema untuk pengkodean data, yaitu: a. Skema 7 bit, ditandai dengan angka 0 dalam heksa (oktet) 00h

b. Skema 8 bit, ditandai dengan angka >0 dalam heksa (oktet) 01h s.d FFh.

Karena pada umumnya telepon seluler pada saat ini menggunakan skema 7 bit maka DCS yang digunakan adalah 00. Jika menggunakan skema 8 bit maka DCS yang digunakan adalah F6.

7. VP (Validity Period); adalah jangka waktu SMS sebelum berakhir, jika diisi dengan suatu bilangan integer yang kemudian diubah ke pasangan heksa tertentu. Bilangan yang diisikan tersebut akan mewakili jumlah waktu validitas SMS tersebut. Berikut ini adalah tabel rumus perhitungan jangka waktu validasi SMS:

Integer (INT) Jangka Waktu Validasi SMS

0-143 (INT +1) * 5 menit (berarti:5 menit s/d 12 jam) 144-167 12 jam + (INT-143) * 30 menit

168-196 (INT – 166) * 1 hari 197-255 (INT – 192) * 1 minggu

Tabel 2.14 Tabel Perhitungan Waktu Validasi SMS

Untuk memastikan bahwa SMS terkirim, sebaiknya untuk VP diisikan dengan FF. Hal ini berarti waktu validasinya adalah maksimal yaitu (255-192) * 1 Minggu sama dengan 63 minggu.

8. UDL (User Data Length) dan UD (User Data); Header kedelapan ini terbagi menjadi dua buah subheader yaitu:

(25)

b. UD, adalah isi dari SMS yang berupa pasangan heksa (oktet). Karena pada umumnya menggunakan skema 7 bit, maka untuk setiap karakter huruf data dari SMS akan menjadi 7 angka biner. Untuk menjadi pasangan heksa (oktet) maka perlu diubah menjadi data 8 bit.

Misalkan akan mengirimkan SMS dengan kata "hello”. Maka UDL-nya adalah 05. Dan UD-nya adalah E8329BFD06. Hal ini diperoleh dengan cara sebagai berikut:

Skema o l l e h

7 Bit 110 1111 110 1100 110 1100 110 0101 110 1000 8 Bit 0000 0110 1111 1101 1001 1011 0011 0010 1110 1000

Hex 0 6 F D 9 B 3 2 E 8 Tabel 2.15 Contoh Konversi Skema 7 Bit menjadi 8 Bit

Setelah semua header ditentukan, maka format PDU untuk mengirim SMS dapat dilakukan. Berikut ini adalah contoh format PDU untuk SMS-Submit, dengan nomor tujuan +6285284785554 dan isi pasan SMS adalah “hello”:

07912618010000F001000D91265882745855F40000FF05E8329BFD06

PDU SMS-Submit SCA PDU

Type

MR DA PID DCS VP UDL & UD

(26)

b7 0 0 0 0 0 1 1 1

2.5.3 Protocol Data Unit (PDU) SMS-Deliver

PDU yang diterima dari SMS-Centre berbeda formatnya dengan PDU untuk dikirimkan. Jumlah Header untuk terima SMS dari SMS Centre adalah delapan (8) dengan format PDU-nya adalah sebagai berikut:

Header1 Header2 Header3 Header4 Header5 Header6 Header7 Header8 SCA PDU Type OA PID DCS SCTS VP UDL & UD

Tabel 2.18 Format PDU untuk Terima SMS (SMS-Deliver)

Berikut ini adalah keterangan dari tabel tersebut:

(27)

a. Jumlah Pasangan Heksadesimal (oktet) SMS-Centre dalam bilangan heksa ditambah dengan kode nomor.

b. Kode nasional dan internasional nomor. Untuk Nasional, kode subheadernya yaitu 81, dan untuk Internstional, kode subheadernya yaitu 91.

c. No SMS-Centre, dalam pasangan heksa (oktet) yang dibalik. Jika tertinggal satu angka heksa yang tidak memiliki pasangan, angka tersebut akan dipasangkan dengan huruf F didepannya.

Berikut ini adalah tabel contoh header SCA pada SMS-Deliver dengan operator Telkomsel:

SCA

Jumlah Oktet SMS-Centre Kode nomor Nomor SMS-Centre

07 91 2618010000F0

Tabel 2.19 Tabel Contoh Header SCA untuk SMS-Deliver

Dari tabel tersebut maka dituliskan menjadi 07912618010000F0.

2. PDU Type; Ada dua tipe PDU yang umum digunakan yaitu Submit dan Deliver. Karena formatnya menerima dari SMS-Centre maka PDU Typenya bernilai 04. 3. OA (Originator Address); adalah nomor telepon seluler pengirim SMS yang

diterima. Sama halnya dengan SCA, header ini juga terbagi menjadi tiga subheader, yaitu:

a. Jumlah bilangan desimal nomor pengirim SMS dalam bilangan heksa. b. Kode nasional dan internasional nomor. Untuk Nasional, kode

subheadernya yaitu 81, dan untuk Internstional, kode subheadernya yaitu 91.

(28)

Berikut ini adalah tabel contoh header OA pada SMS-Deliver dengan nomor pengirim SMSnya misalkan +6285284785554:

DA

Jumlah Desimal No. Pengirim Kode nomor Nomor Pengirim

0D 91 265882745855F4

Tabel 2.20 Tabel Contoh Header OA

Dari tabel tersebut maka dituliskan menjadi 0D91265882745855F4.

4. PID (Protocol Identifier); ada tiga PID yang digunakan yaitu 00h yang dikirimkan sebagai SMS, 01h yang dikirimkan sebagai telex, dan 03h yang dikirimkan sebagai fax. Oleh karena itu PID yang digunakan adalah 00.

5. DCS (Data Coding Scheme); ada dua buah skema untuk pengkodean data, yaitu: a. Skema 7 bit, ditandai dengan angka 0 dalam heksa (oktet) 00h

b. Skema 8 bit, ditandai dengan angka >0 dalam heksa (oktet) 01h s.d FFh.

Karena pada umumnya telepon seluler pada saat ini menggunakan skema 7 bit maka DCS yang digunakan adalah 00.

6. SCTS (Service Centre Time Stamp); adalah berisi informasi dari SMS-Centre kepada penerima tentang kedatangan SMS pada Transport Layer Entity SMS-Centre. Berikut ini contoh penerimaan SMS pada 1 Januari 2009 pada Pukul:12:34:06.

Tahun Bulan Tanggal Jam Menit Detik 9 0 1 0 1 0 2 1 4 3 6 0

Tabel 2.21 Contoh SCTS

(29)

Bilangan yang diisikan tersebut akan mewakili jumlah waktu validitas SMS tersebut.

8. UDL (User Data Length) dan UD (User Data); Header kedelapan ini terbagi menjadi dua buah subheader yaitu:

a. UDL, adalah panjang dari data SMS. Dalam hal ini adalah banyaknya karakter huruf dalam isi SMS.

b. UD, adalah isi dari SMS yang berupa pasangan heksa (oktet). Karena data SMS dari SMS-Centre berbentuk 8 bit, sedangkan DCS yang digunakan adalah 7 bit maka perlu mengubahnya. Berikut ini tabel contoh mengubah data 8 bit menjadi 7 bit pada PDU SMS-Deliver:

Skema Hex 1C F2 D4

8 Bit 0001 1100 1111 0010 1101 0100 7 Bit 111 0011 110 0101 101 0100

Karakter s e T

Tabel 2.22 Konversi Data 8 bit menjadi 7 bit

Berikut ini adalah contoh format PDU SMS-Deliver:

07912618010000F0040D91265882745855F400009010102143600003D4F21C

07912618010000F0 04 0D91265882745855F4 00 00 901010214360 00 03D4F21C Tabel 2.23 Contoh PDU SMS-Deliver

Dari contoh format PDU SMS-Deliver tersebut dapat diartikan sebagai berikut:

(30)

c. Nomor pengirimnya adalah +6285284785554. d. PIDnya adalah SMS.

e. Skema encodingnya adalah 7 bit

f. Diterima pada 01-01-09 pukul 12:34:06 g. Tidak mempunyai waktu valid

h. Dengan panjang huruf adalah 3 dan berisi “Tes”

2.6 AT Command

Untuk mengirimkan pesan SMS melalui komputer diperlukan sebuah modem yang mengubah modulasi sehingga dapat menggunakan jaringan telepon. Beberapa telepon seluler dapat berfungsi sebagai modem, sehingga komputer dapat menggunakan perintah untuk mengirim SMS melalui telepon seluler tersebut. Perintah tersebut adalah AT Command.

(31)

2.6.1 Basic AT Command

Berikut ini adalah perintah-perintah dasar dari AT Command:

Command Fungsi AT… Sebagai Prefix untuk semua perintah lainnya kecuali A/.

A/ Untuk mengulang perintah sebelumnya.

ATA Untuk menerima panggilan.

ATB[n] Perintah ini digunakan untuk mengeset batas layanan untuk koneksi data, jika tidak melakukan perintah ini maka akan dalam mode standard dari modem. n dapat bernilai sebagai berikut:

7 2400bps, asynchronous 11 4800bps, asynchronous 13 9600bps, asynchronous 15 14400bps, asynchronous 25 2400bps, asynchronous ISDN 27 4800bps, asynchronous ISDN 29 9600bps, asynchronous ISDN 31 14400bps, asynchronous ISDN ATDx; Memanggil nomor telepon x.

ATD>mem<n> Memanggil nomor telepon dari memori. mem dapat bernilai sebagai berikut:

ME Memori telepon SM Memori SIM

MT Kombinasi dari kedua memori SIM dan telepon

<n> menunjukkan lokasi nomor telepon yang akan dipanggil ATDL Memanggil nomor telepon yang terakhir dihubungi.

(32)

ATH[0] Memutuskan koneksi yang ada.

ATI[n] Meminta informasi mengenai modem. Nilai n tergantung dari modem yang digunakan.

ATL[n] Mengeset volume loudspeaker.

ATM[n] Mengeset speaker untuk hidup atau mati.

ATZ Mengeset menjadi konfigurasi standar dari modem. Tabel 2.24 Beberapa Basic AT Command

2.6.2 Extended AT Command

Perintah extended AT Command adalah dengan menambahkan +Cxxx. Ada empat bentuk perintah extended AT Command:

Bentuk Perintah Perintah Keterangan

Test Command AT+Cxxx=? Modem telepon akan merespon dengan memberikan daftar parameter dan nilai yang dapat digunakan oleh perintah tersebut.

Read Command AT+Cxxx? Memberikan informasi mengenai parameter yang sedang digunakan.

Write Command AT+Cxxx=<…> Mengeset parameter yang dapat digunakan.

Execute Command AT+Cxxx Menjalankan perintah read command tanpa mengeset parameter yang dipengaruhi oleh proses internal modem telepon.

(33)

Berikut ini adalah perintah-perintah dari extended AT Command: Command Fungsi AT+CGMI Menunjukkan kode identitas manufaktur modem. AT+CGMM Menunjukkan kode model modem.

AT+CGMR Menunjukkan versi telepon.

AT+CGSN Menunjukan serial number dari telepon. AT+CHUP Mengakhiri sebuah panggilan. AT+CMGD Menghapus pesan SMS. AT+CMGF Format pasan SMS. AT+CMGL Daftar pesan SMS. AT+CMGR Membaca pesan SMS. AT+CMGS Mengirim pesan SMS.

AT+CMGW Menulis pesan SMS ke memori. AT+CSCA Alamat SMS Service Centre.

Tabel 2.26 Beberapa Perintah Extended AT Command 2.6.3 Hyper Terminal

Hyper Terminal adalah program dari windows yang dapat digunakan untuk mengetes koneksi antara komputer dengan modem telepon. Menjalankan Hyper Terminal adalah dengan Start > All Program > Accessories > Communications > Hyper Terminal. Maka akan mun ncul jendela berikut ini:

(34)

Ketikkan nama koneksi yang akan digunakan, misalkan test. Maka akan muncul jendela konfigurasi port serial yang akan digunakan seperti gambar berikut:

Gambar 2.17 Konfigurasi Port Serial.

Tentukan port serial yang digunakan untuk menghubungkan antara komputer dengan telepon seluler. Setelah itu maka akan muncul jendela properties dari port serial yang digunakan seperti gambar berikut ini:

(35)

Setelah itu maka akan muncul jendela Hyper Terminal, seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.19 Hyper Terminal

Figur

Gambar 2.6 Components
Gambar 2 6 Components . View in document p.6
Gambar 2.7 Project Explorer
Gambar 2 7 Project Explorer . View in document p.7
Gambar 2.8 Properties windows
Gambar 2 8 Properties windows . View in document p.7
Gambar 2.9 Form Layout
Gambar 2 9 Form Layout . View in document p.8
Gambar 2.10. Form Objek
Gambar 2 10 Form Objek . View in document p.8
Gambar 2.11 Form Kode
Gambar 2 11 Form Kode . View in document p.9
Gambar 2.12 Format Pengiriman Data Serial
Gambar 2 12 Format Pengiriman Data Serial . View in document p.10
Gambar 2.13 Konektor Port Serial 9 Pin (DB-9)
Gambar 2 13 Konektor Port Serial 9 Pin DB 9 . View in document p.11
Tabel 2.1 Konfigurasi Pin DB9
Tabel 2 1 Konfigurasi Pin DB9 . View in document p.12
Gambar 2.14 Pengalokasian Memori Untuk COM1
Gambar 2 14 Pengalokasian Memori Untuk COM1 . View in document p.13
Tabel 2.2 Nama dan Alamat Register Port Serial
Tabel 2 2 Nama dan Alamat Register Port Serial . View in document p.14
Tabel 2.3 Angka Pembagi Sinyal Clock pada UART
Tabel 2 3 Angka Pembagi Sinyal Clock pada UART . View in document p.15
Tabel 2.5 Rincian bit pada Interupt Identification Register
Tabel 2 5 Rincian bit pada Interupt Identification Register . View in document p.16
Tabel 2.7 Rincian bit pada Modem Control Register
Tabel 2 7 Rincian bit pada Modem Control Register . View in document p.17
Tabel 2.6 Rincian bit pada Line Control Register
Tabel 2 6 Rincian bit pada Line Control Register . View in document p.17
Tabel 2.8 Rincian bit pada Line Status Register
Tabel 2 8 Rincian bit pada Line Status Register . View in document p.18
Gambar 2.15 Konfigurasi Pin IC MAX232
Gambar 2 15 Konfigurasi Pin IC MAX232 . View in document p.20
Tabel 2.10 Nomor SMS-Centre Operator GSM di Indonesia
Tabel 2 10 Nomor SMS Centre Operator GSM di Indonesia . View in document p.21
Tabel 2.12 Tabel Contoh Header SCA untuk SMS-Submit
Tabel 2 12 Tabel Contoh Header SCA untuk SMS Submit . View in document p.22
Tabel 2.13 Tabel Contoh Header DA
Tabel 2 13 Tabel Contoh Header DA . View in document p.23
Tabel 2.14 Tabel Perhitungan Waktu Validasi SMS
Tabel 2 14 Tabel Perhitungan Waktu Validasi SMS . View in document p.24
Tabel 2.17 Skema 7 Bit
Tabel 2 17 Skema 7 Bit . View in document p.26
Tabel 2.20 Tabel Contoh Header OA
Tabel 2 20 Tabel Contoh Header OA . View in document p.28
Tabel 2.22 Konversi Data 8 bit menjadi 7 bit
Tabel 2 22 Konversi Data 8 bit menjadi 7 bit . View in document p.29
Tabel 2.24 Beberapa Basic AT Command
Tabel 2 24 Beberapa Basic AT Command . View in document p.32
Gambar 2.16 Koneksi Hyper Terminal
Gambar 2 16 Koneksi Hyper Terminal . View in document p.33
Tabel 2.26 Beberapa Perintah Extended AT Command
Tabel 2 26 Beberapa Perintah Extended AT Command . View in document p.33
Gambar 2.17 Konfigurasi Port Serial.
Gambar 2 17 Konfigurasi Port Serial . View in document p.34
Gambar 2.18 Properties Port Serial
Gambar 2 18 Properties Port Serial . View in document p.34
Gambar 2.19 Hyper Terminal
Gambar 2 19 Hyper Terminal . View in document p.35

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :