DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL………..………... i
HALAMAN JUDUL………...………...…. ii
PERNYATAAN KEASLIAN………. iii
LEMBAR PERSETUJUAN……….... iv
LEMBAR PENGESAHAN………..………... v
PEDOMAN TRANSLITERASI…………..……….... vi
MOTTO………..….………....… vii
HALAMAN PERSEMBAHAN…...………... viii
ABSTRAK…………..………...….. ix
KATA PENGANTAR………...…….. x
DAFTAR ISI………..…….. xii
DAFTAR GAMBAR………..……... xv
DAFTAR TABEL……….... xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...……….…...… 1
B.
Identifikasi dan Batasan Masalah………... 8
C.
Rumusan Masalah………... 9
D.
Tujuan Penelitian……….………... 9
F.
Sistematika Pembahasan……….... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.
Perbankan Syariah………... 12
B.
Pengukuran Kinerja Perbankan Syariah………. 15
C.
Konsep Dasar Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah……….…... 18
D.
Konsep Dasar
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………. 20
E.
Penelitian Terdahulu………... 23
BAB III METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian………... 27
B.
Waktu dan Tempat Penelitian……… 27
C.
Sumber dan Tipe Data……… 28
D.
Teknik Pengumpulan Data………. 28
E.
Kerangka Operasional
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index……… 28
F.
Definisi Operasional
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………... 32
G.
Teknik Pengukuran
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………. 37
BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN
A.
Profil PT BPRS Jabal Nur……….... 42
C.
Indikator Kinerja (
Performance Indikator
) PT BPRS Jabal Nur
Berdasarkan Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………
60
D.
Kinerja (
Performance
) PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index……….
64
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Implementasi Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index untuk
Mengukur Kinerja PT BPRS Jabal Nur………...
67
B. Kinerja PT BPRS Jabal Nur
Berdasarkan Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………..
71
1. Pendidikan Individu di PT BPRS Jabal Nur………..………… 71
2. Penegakan Keadilan di PT BPRS Jabal Nur……….. 77
3. Pencapaian Kesejahteraan di PT BPRS Jabal Nur…... 91
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan………... 95
B. Rekomendasi……… 96
C. Keterbatasan Penelitian……… 97
DAFTAR PUSTAKA……….. 98
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Hierarki Tujuan Hukum Islam (dimensi dari level kebutuhan)…...
20
Gambar 3.1 Kerangka Operasional Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index Melalui
Metode Sekaran…………..……….
29
Gambar 3.2 Konsep Sekaran………...
32
Gambar 4.1 Rasio Kinerja
Educating Individual
di PT BPRS Jabal Nur……… 49
Gambar 4.2 Rasio Kinerja
Establishing Justice
di PT BPRS Jabal Nur……….
54
Gambar 4.3 Rasio Kinerja
Promoting Welfare
di PT BPRS Jabal Nur………... 58
Gambar 4.4 Grafik Indikator Kinerja
Educating Individual
di PT BPRS Jabal Nur………..
62
Gambar 4.5 Grafik Indikator Kinerja
Establishing Justice
di PT BPRS Jabal Nur………..
63
Gambar 4.6 Grafik Indikator Kinerja
Promoting Welfare
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1
Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Per Juni 2015…...
2
Tabel 3.1
Operasionalisasi Tujuan Perbankan Syariah Berdasarkan
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index………...
31
Tabel 3.2
Average Weights
Variabel Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah Index……… 38
Tabel 4.1
Rasio Kinerja PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan Maqa>
s}
id
al-Shari>
’ah Index………..
48
Tabel 4.2
Indikator Kinerja
Educating Individual
di PT BPRS Jabal Nur…..
61
Tabel 4.3
Indikator Kinerja
Establishing Justice
di PT BPRS Jabal Nur…… 62
Tabel 4.4
Indikator Kinerja
Promoting Welfare
di PT BPRS Jabal Nur……. 64
Tabel 4.5
Penilaian Kinerja PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan Maqa>
s}
id
al-Shari>
’ah Index………..
65
Tabel 5.1
Nilai
Maqa>
s}
id al-Shari>
’ah
Index Beberapa Bank Umum Syariah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perbankan merupakan salah satu lembaga yang mempunyai peran
strategis dalam menyelaraskan, menyerasikan, dan menyeimbangkan berbagai
unsur pembangunan. Peran yang strategis tersebut terutama disebabkan oleh
fungsi perbankan sebagai lembaga yang dapat menghimpun dan menyalurkan
dana masyarakat secara efektif dan efisien, yang mendukung pelaksanaan
pembangunan dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi,
dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat.
Di Indonesia terdapat dua jenis perbankan, yaitu perbankan yang
melakukan usaha secara konvensional dan perbankan yang melakukan usaha
secara syariah yang disebut dengan perbankan syariah. Perbankan syariah
menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah
(UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia semakin meningkat
sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Ketika bank
konvensional banyak mengalami
negative spread
(tingkat suku bunga
pinjaman lebih rendah daripada suku bunga tabungan) dalam bisnisnya,
sementara perbankan syariah mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi. Hal
ini menunjukkan bahwa perbankan syariah memiliki keunggulan, sehingga
mampu bertahan menghadapi keadaan yang sangat sulit bagi dunia perbankan.
11
2
Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia juga terbukti secara nyata
melalui banyaknya bermunculan institusi keuangan syariah di Indonesia.
Berdasarkan data statistik terbaru yang dipublikasikan oleh OJK (Otoritas Jasa
Keuangan) pada Juni 2015 (Tabel 1.1), Indonesia memiliki 12 Bank Umum
Syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 161 Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS).
Tabel 1.1 Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Per Juni 20152
Indikator 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Juni 2015
BUS 6 11 11 11 11 12 12
UUS 25 23 24 24 23 22 22
BPRS 138 150 155 158 163 163 161
Peningkatan jumlah perbankan syariah memberikan bukti bahwa
perbankan syariah mendapat apresiasi positif dari masyarakat Indonesia.
Perkembangan tersebut juga memberikan arti bahwa perbankan syariah telah
bertransformasi dari memperkenalkan alternatif praktik perbankan syariah
menjadi pemain utama dalam perbankan nasional. Namun, perkembangan yang
pesat tersebut menyebabkan persaingan di industri perbankan semakin ketat.
Persaingan itu tidak hanya terjadi antara perbankan konvensional dengan
perbankan syariah, namun juga merambah antarinstansi perbankan syariah
sebagai intitusi yang memiliki keistimewaan dan
market share
tersendiri.
Keadaan itu tentu menuntut perbankan syariah untuk ekstra keras dalam
meningkatkan kinerjanya. Kinerja perbankan syariah ini dapat diketahui dari
penilaian kinerja perbankan yang dilakukan secara berkala.
2
Penilaian kinerja perbankan merupakan sebuah metode yang mengukur
pencapaian suatu perbankan berdasarkan target yang telah ditentukan
sebelumnya. Hal ini penting dilakukan untuk mengontrol dan meningkatkan
kinerja perbankan selama tahun berjalan. Demikian halnya dengan perbankan
syariah. Sebagai suatu perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan,
penting bagi perbankan syariah untuk melakukan pengukuran kinerja sebagai
tolok ukur perusahaan di masa sekarang dan mendatang. Pengukuran ini
penting dilakukan karena dapat menganalisis dan mengetahui sejauh mana
pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian visi perbankan telah dilakukan.
3Pengukuran kinerja perbankan syariah selama ini masih menggunakan
cara-cara pengukuran konvensional yang sebagian besar berfokus pada
perhitungan rasio keuangan seperti
CAMELS (Capital, Asset, Management,
Earning, Liquidity, Sensivity of Market Risk)
dan
EVA (Economic Value
Added)
. Pengukuran kinerja perbankan syariah masih didasarkan pada prestasi
yang dicapai dalam aspek keuangan, pemasaran, penghimpunan dana, dan
penyaluran dana. Pengukuran kinerja keuangan memang sangat penting
dilakukan. Industri perbankan merupakan industri yang mengandalkan
kepercayaan, semakin baik kinerja keuangan sebuah bank maka bank tersebut
akan memperoleh kepercayaan yang lebih tinggi. Namun, pengukuran kinerja
perbankan yang hanya berfokus pada rasio keuangan mempunyai banyak
kelemahan. Pertama, penggunaan kinerja keuangan sebagai satu-satunya faktor
penentu kinerja perbankan dapat menyebabkan manajer hanya berfokus
mengambil tindakan jangka pendek dan mengesampingkan rencana jangka
3
4
panjang. Ke dua, pengabaian aspek pengukuran nonfinansial dan aset tak
berwujud (
intangible assets
) baik dari segi internal maupun eksternal akan
menyebabkan kekeliruan pandangan manajer perbankan di saat sekarang
bahkan juga di masa mendatang. Ke tiga, kinerja yang hanya berbasis
keuangan kurang mampu dalam mengarahkan perbankan menuju tujuan
perusahaan.
4Perbankan syariah pada dasarnya merupakan sebuah entitas bisnis dan
sekaligus merupakan sebuah fasilitas untuk mencapai tujuan syariah (maqa>s}id
al-shari>’ah
)
. Dengan demikian, perbankan syariah yang berbeda dengan
perbankan konvensional baik dari sisi teori maupun praktik, membutuhkan
perubahan paradigma dalam pengukuran kinerja. Perbankan syariah sebaiknya
tidak hanya menggunakan cara-cara pengukuran konvensional yang mengukur
kinerja yang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan profit (kinerja
keuangan). Di saat yang sama, perbankan syariah juga sebaiknya menggunakan
pengukuran berbasis syariah untuk mengevaluasi pencapaian
maqa>s}id
al-shari>’ah.
5Maqa>s}id al-shari>’ah
merupakan peraturan yang terdiri dari petunjuk dan
larangan yang diberikan Allah kepada umat manusia. Maqa>s}id al-shari>’ah juga
dapat didefinisikan sebagai kumpulan etika yang mengatur seluruh aspek
kehidupan manusia. Ruang lingkup
maqa>s}id al-shari>’ah
mencakup semua
aspek kehidupan yang terkait dengan sosial, personal, ekonomi, dan
4
Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq, “An Analysis of Islamic Banking Performance: Maqashid Index Implementation in Indonesia and Jordania”, Journal of Islamic Finance, Vol. 1, No. 1 (2012), 12.
5
intelektual.
6Perbankan syariah sebagai salah satu sendi perekonomian negara
pun seharusnya tidak terlepas dari nilai-nilai
maqa>s}id al-shari>’ah. Penggunaan
konsep
maqa>s}id al-shari>’ah
dalam konteks kinerja perbankan syariah dinilai
penting karena dengan demikian perbankan syariah dapat diukur dari sisi mana
perbankan syariah menjalani nilai-nilai syariah dan sejauh mana tujuan-tujuan
syariah dilaksanakan dengan baik. Selama ini, sebagian besar perbankan
syariah hanya menggunakan rasio-rasio keuangan konvensional sehingga tidak
memberikan evaluasi pada semua dimensi yang dimiliki oleh perbankan
syariah.
Untuk mengevaluasi pencapaian
maqa>s}id al-shari>’ah
di perbankan
syariah, Mustafa Omar Mohammed (2008) dari Malaysia telah merumuskan
suatu metode pengukuran yang berguna bagi penilaian kinerja perbankan
syariah yang sesuai dengan tujuan berdasarkan prinsip-prinsip
maqa>s}id
al-shari>’ah. Penelitian tersebut bertujuan agar ada sebuah metode pengukuran
bagi perbankan syariah yang sesuai dengan tujuan bank syariah. Penelitian
tersebut menghasilkan sebuah metode pengukuran kinerja perbankan syariah
dengan menggunakan sepuluh rasio yang disebut
maqa>s}id al-shari>’ah index
.Metode ini kemudian digunakan untuk mengukur kinerja enam perbankan
syariah yang diambil sebagai sampel, yaitu Bank Muamalat Malaysia, Islami
Bank Bangladesh, Bank Syariah Mandiri (Indonesia), Bahrain Islamic Bank,
Islamic International Arab Bank (Jordan), dan Sudanese Islamic Bank (Sudan).
Di Indonesia, upaya untuk mengembangkan
maqa>s}id al-shari>’ah index
sebagai sebuah alat ukur kinerja perbankan syariah dilakukan oleh Muhammad
6
6
Syafii Antonio (2012) serta Thuba Jazil (2013). Mereka menggunakan
pendekatan
maqa>s}id al-shari>’ah
index
sebagaimana yang dikembangkan oleh
Mustafa. Perbedaan penelitian keduanya hanya terletak pada objek penelitian.
Antonio membandingkan kinerja perbankan syariah di Indonesia dan Jordania.
Sedangkan Thuba Jazil membandingkan kinerja perbankan syariah di
Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa maqa>s}id
al-shari>’ah index
bisa menjadi alternatif penting yang dapat mengukur
seberapa baik kinerja perbankan syariah dan hasilnya dapat diimplementasikan
dalam bentuk strategi komprehensif. Dengan menggunakan
maqa>s}id
al-shari>’ah index
,
kinerja perbankan akan lebih terukur dengan benar karena tidak
hanya aspek keuangan yang diperhatikan, tetapi juga mencakup kinerja
perbankan yang terkait dengan aspek lingkungan dan sosial.
Maqa>s}id al-shari>’ah index dikembangkan berdasarkan tiga faktor utama
yaitu pendidikan individu, penegakan keadilan, dan pencapaian kesejahteraan.
Ketiga faktor tersebut sesuai dengan tujuan umum
maqa>s}id al-shari>’ah
,
yaitu
mencapai kesejahteraan dan menghindari keburukan. Penilaian kinerja
menggunakan
maqa>s}id al-shari>’ah index bersifat universal, yang seharusnya
menjadi tujuan dan dasar operasional setiap entitas bisnis, termasuk perbankan
syariah. Terlebih, pengukuran dengan metode maqa>s}id al-shari>’ah index dinilai
lebih komprehensif dan selaras dengan teori maqa>s}id al-shari>’ah
.
Sayangnya, penelitian tentang
maqa>s}id al-shari>’ah index yang selama
ini dilakukan masih dalam batas tataran konsep dan hanya diujicobakan untuk
menilai kinerja Bank Umum Syariah. Maqa>s}id al-shari>’ah index belum pernah
Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
memang keduanya merupakan lembaga keuangan syariah jenis perbankan,
namun keduanya memiliki fokus yang berbeda. BPRS lebih berfokus untuk
melayani usaha mikro dan kecil. BPRS sangat potensial untuk membantu
membangun pertumbuhan masyarakat, umumnya di kalangan masyarakat
ekonomi menengah melalui konsumsi maupun investasi. Produk-produk yang
ditawarkan BPRS juga dapat diterima dengan lebih mudah, lebih cepat, dan
dengan biaya serta bagi hasil yang terjangkau oleh masyarakat menengah ke
bawah. Keunggulan inilah yang dimiliki oleh BPRS, sehingga peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang implementasi maqa>s}id al-shari>’ah index di
BPRS.
8
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat teridentifikasi masalah
sebagai berikut:
1.
Perkembangan perbankan yang pesat menyebabkan persaingan di industri
perbankan semakin ketat. Persaingan itu tidak hanya terjadi antara
perbankan konvensional dengan perbankan syariah, namun juga merambah
antarinstansi perbankan syariah.
2.
Pengukuran kinerja perbankan syariah pada praktiknya masih menggunakan
pengukuran kinerja berbasis konvensional yang berfokus pada kinerja
keuangan, yang tidak memberikan evaluasi pada semua dimensi yang
dimiliki perbankan syariah. Perbankan syariah seharusnya menerapkan
model pengukuran kinerja berbasis syariah yang mencakup kinerja
keuangan sekaligus kinerja dalam mencapai tujuan syariah (maqa>s}id
al-shari>’ah).
3.
Terdapat model pengukuran kinerja berbasis syariah yang telah diajukan
oleh peneliti sebelumnya, yaitu metode
maqa>s}id al-shari>’ah index. Namun
sejauh ini pengukuran kinerja dengan metode
maqa>s}id al-shari>’ah index
tersebut dilakukan hanya sebatas tataran konsep dan hanya diujicobakan
untuk menilai kinerja Bank Umum Syariah.
4.
Implementasi
maqa>s}id al-shari>’ah index untuk mengukur kinerja Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah belum pernah dilakukan.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Pengukuran kinerja perbankan syariah dilakukan dengan menerapkan
pengukuran kinerja berbasis syariah, yaitu maqa>s}id al-shari>’ah
index.
2.
Implementasi pengukuran kinerja perbankan syariah berdasarkan
maqa>s}id
al-shari>’ah
index
dilakukan di PT BPRS Jabal Nur selama periode
2010-2014.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimana implementasi maqa>s}id al-shari>’ah index untuk mengukur kinerja
PT BPRS Jabal Nur ?
2.
Bagaimana kinerja PT BPRS Jabal Nur berdasarkan
maqa>s}id al-shari>’ah
index?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Menganalisis implementasi
maqa>s}id al-shari>’ah
index untuk mengukur
kinerja PT BPRS Jabal Nur.
10
E. Kegunaan Penelitian
1. Bagi nasabah, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi
tambahan kepada nasabah lama atau calon nasabah mengenai kinerja PT
BPRS Jabal Nur melalui pendekatan maqa>s}id al-shari>’ah
index
.
2. Bagi manajer perbankan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk
melakukan perbaikan di dalam peningkatan kualitas perbankan syariah.
3. Bagi perbankan syariah di Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat
menjadi bahan informasi dan bahan evaluasi rujukan dalam pelaksanaan
maqa>s}id al-shari>’ah.
4. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi
kegiatan penelitian lain tentang pengukuran kinerja perbankan syariah serta
memberi sumbangan referensi bagi pengembangan ilmu manajemen
perbankan syariah.
5. Bagi pembaca (umum), penelitian ini diharapkan dapat memberikan
referensi tentang perbankan syariah dan pengukuran kinerja yang juga
berbasis syariah (yaitu berdasarkan maqa>s}id al-shari>’ah
index
).
F. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pemahaman mengenai penelitian ini, peneliti
membagi ke dalam enam bab yang saling berhubungan dan berurutan secara
sistematis.
Bab pertama: menguraikan latar belakang permasalahan yang menjadi
pijakan peneliti untuk melakukan penelitian, dilanjutkan dengan identifikasi
dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
dan sistematika pembahasan.
Bab ke dua: menguraikan teori tentang perbankan syariah, pengukuran
kinerja perusahaan, konsep dasar
maqa>s}id al-shari>’ah, konsep dasar
maqa>s}id
al-shari>’ah index
,
serta penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini
.
Bab ke tiga: menguraikan metode pengukuran kinerja perbankan
berdasarkan
maqa>s}id al-shari>’ah index
.
Bab ke empat: menguraikan data dan mendeskripsikan hasil penelitian
di PT BPRS Jabal Nur.
Bab ke lima: membahas dan menganalisis implementasi
maqa>s}id
al-shari>’ah index
di PT BPRS Jabal Nur serta menganalisis kinerja PT BPRS
Jabal Nur berdasarkan
maqa>s}id al-shari>’ah index.
Bab ke enam: berisi kesimpulan, rekomendasi, dan keterbatasan
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perbankan Syariah
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat. Sedangkan bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Yang dimaksud dengan prinsip
syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan
fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam
penetapan fatwa di bidang syariah.
7Prinsip utama bank syariah terdiri dari larangan riba pada semua jenis
transaksi; pelaksanaan aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan (
equality
), keadilan
(
fairness
) dan keterbukaan (
transparancy
); pembentukan kemitraan yang
saling menguntungkan; serta keuntungan yang didapat harus dari usaha dengan
cara yang halal. Selain itu ada satu ciri khas, yaitu bank syariah harus
mengeluarkan
dan
mengadministrasikan
zakat
guna
membantu
mengembangkan lingkungan masyarakat sesuai dengan prinsip syariah.
8Bank syariah memiliki fungsi sebagai berikut:
1.
Manajemen Investasi. Bank syariah dapat melaksanakan fungsi ini
berdasarkan kontrak
mud}a>rabah
atau kontrak perwakilan. Menurut kontrak
mud}a>rabah
, bank (dalam kapastitasnya sebagai
mud}a>rib
, yaitu pihak yang
melaksanakan investasi dana dari pihak lain) menerima persentase
7
UU RI No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Pasal 1 Ayat 2. 8
keuntungan hanya dalam kasus untung. Dalam hal terjadi kerugian,
sepenuhnya menjadi resiko penyedia dana (
s}ah}ib al ma>l
), sementara bank
tidak ikut menanggungnya.
2.
Investasi. Bank syariah menginvestasikan dana yang ditempatkan pada
dunia usaha (baik dana modal maupun dana rekening investasi) dengan
menggunakan alat-alat investasi yang konsisten dengan syariah. Rekening
investasi dapat dibagi menjadi tidak terbatas (
unrestricted
mud}a>rabah
) atau
terbatas (
restricted
mud}a>rabah
).
3.
Jasa-jasa keuangan. Bank syariah dapat juga menawarkan berbagai jasa
keuangan lainnya berdasarkan upah (
fee based
) dalam sebuah kontrak
perwakilan atau penyewaan.
4.
Jasa sosial. Konsep bank syariah mengharuskan bank tersebut
melaksanakan jasa sosial, bisa melalui dana pinjaman kebijakan (
qardh
),
zakat, atau dana sosial yang sesuai yang sesuai dengan ajaran Islam. Lebih
jauh lagi, konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank Islam
memainkan peran dalam pengembangan sumber daya insani dan
menyumbang dana bagi pemeliharaan serta pengembangan lingkungan
hidup.
9Perbankan syariah menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah
(BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS). BPRS adalah salah satu jenis bank yang diizinkan beroperasi dengan
sistem syariah di Indonesia. Aturan hukum mengenai BPRS pertamakali diatur
9
14
dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 yang kemudian diperbarui oleh
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI).
Dalam sistem perbankan nasional, BPRS adalah bank yang didirikan untuk
melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Sektor UMK ini yang menjadikan
BPRS berbeda pangsa pasarnya dengan Bank Umum/Bank Umum Syariah.
BPRS terfokus untuk melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang
menginginkan proses mudah, pelayanan cepat dan persyaratan ringan. BPRS
memiliki petugas yang berfungsi sebagai armada antar jemput setoran dan
penarikan tabungan/deposito termasuk setoran angsuran pembiayaan.
Pelayanan ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat UMK yang
cenderung tidak bisa meninggalkan usaha kesehariannya di pasar/toko/rumah.
Prinsip syariah dalam BPRS diberlakukan untuk transaksi pendanaan
(tabungan dan deposito) maupun pembiayaan (pinjaman). BPRS mengelola
dana masyarakat dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem bagi hasil,
masyarakat penyimpan dana akan mendapatkan bagi hasil secara fluktuasi
karena sangat bergantung kepada pendapatan yang diperoleh BPRS. Untuk itu,
perlu disepakati nisbah (porsi) di awal transaksi. Setiap tabungan maupun
deposito yang disimpan di BPRS mendapat jaminan dari Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS), sepanjang sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga
masyarakat akan tetap merasa aman untuk menyimpan dananya di BPRS.
yang diajukan oleh masyarakat kepada BPRS. Selain itu, BPRS juga bisa
melakukan praktik pegadaian yang dikelola dengan sistem syariah.
Usaha-usaha BPRS:
1. Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk :
a. Tabungan berdasarkan prinsip
wad}i>’ah
atau
mud}a>rabah
.
b. Deposito berjangka berdasarkan prinsip
mud}a>rabah
.
2. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan
berdasarkan :
a. Prinsip jual beli (
mura>bahah, istisna’, salam
)
b. Prinsip sewa menyewa (
ija>rah
)
c. Prinsip bagi hasil (
mud}a>rabah
,
musha>rakah
)
d. Prinsip kebajikan (
qardh
)
3. Menempatkan dana dalam bentuk giro, tabungan, deposito pada bank
syariah lain.
4. Melakukan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan UU Perbankan
dan prinsip syariah.
B. Pengukuran Kinerja Perbankan Syariah
16
dan dibandingkan secara relatif dengan tujuan, standar, hasil-hasil yang lalu,
dan organisasi lain.
Pengukuran kinerja merupakan seperangkat manajemen untuk
menentukan seberapa jauh tujuan perusahaan telah tercapai, untuk
mengevaluasi kinerja bisnis, manajer, divisi, dan tiap-tiap individu dalam
perusahaan, serta memprediksi ekspektasi perusahaan di masa mendatang.
Pengukuran kinerja juga dapat diartikan sebagai tindakan pengukuran
yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada
perusahaan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan
balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu
rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian-penyesuaian
atas aktivitas perencanaan dan pengendalian. Sebelum melakukan pemilihan
ukuran-ukuran kinerja atau disebut sebagai indikator kinerja kunci (
key
performance indicators
), perlu dilakukan evaluasi sistem pengukuran agar
menjamin efektivitas sepanjang waktu. Salah satu aspek pentingnya alat ukur
kinerja perusahaan, yaitu dapat dipakai oleh pihak manajemen sebagai dasar
untuk melakukan pengambilan keputusan dan mengevaluasi kinerja
manajemen serta unit-unit yang terkait di lingkungan organisasi perusahaan.
membandingkannya dengan perusahaan lain yang menjadi tolok ukur, serta
mengevaluasi seberapa efektif keputusan yang telah diambil yang berpengaruh
terhadap bank.
10Pengukuran kinerja perbankan syariah juga membantu Dewan
Pengawas Syariah dan regulator yang lain untuk memahami kinerja perbankan
dan untuk memastikan bahwa hanya informasi yang jelas dan transparan yang
tersedia dan digunakan. Pengukuran kinerja perbankan syariah juga membantu
para investor untuk mengidentifikasi peluang dan resiko investasi serta
memastikan bahwa pendanaan yang diambil adalah pilihan yang tepat.
Informasi yang digunakan untuk pengukuran kinerja perusahaan dibagi
menjadi dua kategori:
1.
Informasi Finansial
Pengukuran laporan finansial dinilai berdasarkan anggaran yang
telah dibuat. Pengukuran dilakukan dengan menganalisis variasi antara
kinerja aktual dan anggaran. Dalam sistem perbankan, untuk menentukan
kondisi atau kinerja suatu bank biasanya menggunakan analisis CAMELS
(
Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity, Sensitivity of Market
Risk
).
2.
Informasi Nonfinansial
Informasi nonfinansial juga bisa menjadi tolok ukur. Informasi
non-finansial dapat meningkatkan kepercayaan dalam proses manajemen
quality
control
.
10
18
Teknik pengukuran kinerja yang komprehensif yang telah
dikembangkan oleh beberapa perusahaan yang mencakup baik informasi
finansial maupun nonfinansial adalah
Balance Scorecard
yang meliputi
empat aspek, yaitu perspektif finansial, kepuasan pelanggan, efisiensi proses
internal, serta pembelajaran dan perkembangan.
11C. Konsep Dasar
M
Maqa
M
M
aqa
aqa>>>>ssss}}}}id
aqa
id
id
id al
al----Sh
al
al
Sh
Sh
Shari
ari
ari
ari>’>’>’>’ah
ah
ah
ah
1. Pengertian
M
M
Maqa
M
aqa
aqa>>>>ssss}}}}id
aqa
id
id al
id
al----Sh
al
al
Sh
Shari
Sh
ari
ari>’>’>’>’ah
ari
ah
ah
ah
Secara etimologi
maqa>s}id al-shari>’ah
terdiri dari dua kata, yaitu
maqa>s}id
dan
shari>’ah
.
Maqa>s}id
adalah bentuk jamak dari
maqs}ud
yang
berarti kesengajaan atau tujuan. Adapun
shari>’ah
artinya jalan menuju air
atau sumber kehidupan.
Sedangkan secara terminologi, pengertian
maqa>s}id al-shari>’ah
yang
dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain:
a.
Al-Ghaza>li>
Penjagaan terhadap maksud dan tujuan syariah adalah upaya mendasar
untuk bertahan hidup, menahan faktor-faktor kerusakan, dan mendorong
terjadinya kesejahteraan.
12b.
Al-Sha>t}ibi>
Maqa>s}id
terbagi menjadi dua: yang pertama, berkaitan dengan maksud
Tuhan selaku pembuat
shari>’ah
dan yang ke dua, berkaitan dengan
maksud
mukallaf
.
1311
Antonio, “An Analysis of Islamic Banking...”, 14.
12Al-Ghaza>li, S}ifa> al-Ghali>l (Baghdad: Mat}ba’ah al-Irs}a>d, 1971), 159.
c.
Al-Fa>si>
Maqa>s}id al-shari>’ah
merupakan tujuan pokok
shari>’ah
dan rahasia dari
setiap hukum yang ditetapkan oleh Tuhan.
d.
Al-Raysu>ni>
Maqa>s}id al-shari>’ah
merupakan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh
shari>’ah
untuk dicapai demi kemaslahatan manusia.
14Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
maqa>s}id
al-shari>’ah
merupakan tujuan dibalik ditetapkannya hukum atau aturan dalam
agama Islam.
Shari>’ah
merupakan suatu sistem etika dan nilai-nilai moral
yang melingkupi semua aspek kehidupan (seperti sosial, politik, dan
ekonomi. Karena syariah ditujukan untuk seluruh umat, maka dasar
maqa>s}id
al-shari>’ah
adalah untuk mencapai kemaslahatan (
mas}lah}ah
)
dan
menghindari kerusakan (
mafsadah
).
2. Kerangka
M
M
Maqa
M
aqa
aqa
aqa>>>>ssss}}}}id
id
id al
id
al----Sh
al
al
Sh
Shari
Sh
ari
ari
ari>’>’>’>’ah
ah
ah
ah
Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dan menjauhi kerusakan,
para ahli
us}u>l fiqh
membagi
maqa>s}id al-shari>’ah
dalam tiga level kebutuhan,
yaitu kebutuhan
d}aru>riyya>t
,
h}ajiyya>t
, dan
tah}si>niyya>t
. Oleh
al-Ghaza>li>
,
d}aru>riyya>t
diklasifikasikan ke dalam lima unsur pokok, dengan mengatakan:
“Tujuan utama syariah adalah untuk mendorong kesejahteraan
manusia, yang terletak pada perlindungan terhadap keimanan (
di>n
),
jiwa (
nafs
), akal (
aql
), keturunan (
nas}l
), dan harta (
ma>l
) mereka. Apa
saja yang menjamin terlindunginya lima perkara ini berarti
memenuhi kepentingan publik dan itu dianjurkan, dan apa saja yang
14Ah}mad al-Raysu>ni, Nadhariyah al-Maqas}id Inda al-Ima>m al-Sha>t}ibi>
20
menciderai lima perkara ini berarti melawan kepentingan publik, dan
membuangnya itu dianjurkan.”
15Dengan demikian,
al-Ghaza>li> menekankan penjagaan terhadap lima
maqa>s}id
,
yaitu penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta
benda. Beberapa ahli menambahkan unsur ke enam, yaitu penjagaan
[image:31.595.114.521.251.522.2]terhadap kehormatan (Gambar 2.1).
Gambar 2.1 Hierarki Tujuan Hukum Islam16
D. Konsep Dasar
MMMMaqaaqa
aqa
aqa>>>>ssss}}}}id
id
id
id al
al----Sh
al
al
Sh
Sh
Shari
ari
ari>’>’>’>’ah Index
ari
ah Index
ah Index
ah Index
Maqa>s}id al-shari>’ah
adalah tujuan ditetapkannya hukum Islam. Secara
umum, semua ahli sependapat bahwa tujuan ditetapkannya hukum Islam adalah
untuk meraih kebaikan (
promote welfare
/
jalb al-mas}a>lih}
) dan menghindari
keburukan (
avoid vices/
dar al-mafa>sid
).
Namun terdapat perbedaan pendapat tentang tujuan khusus dari
ditetapkannya hukum Islam. Misalnya,
Ibn A>s}u>r
menyebutkan bahwa tujuan
15
Mohammad Abu Hurayra, “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”, Global Journals Inc. (USA), Vol. 15, Issue 1, Version 1 (2015), 10.
16
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems Approach (London: The International Institute of Islamic Thought, 2007), 2.
Tujuan Hukum Islam (Level Kebutuhan)
Kebutuhan pokok (d}aru>riyya>t)
Kebutuhan komplementer
(h}ajiyya>t)
Kebutuhan mewah (tah}si>niyya>t)
Penjagaan
agama Jiwa Akal Keturunan
Harta Benda
khusus syariah harus mencakup penjagaan terhadap tatanan, dorongan terhadap
kesejahteraan manusia, pencegahan terhadap keburukan, penegakan keadilan,
dan pemeliharaan stabilitas dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
17Sementara,
Al-Fa>si> memasukkan dalam klasifikasinya tujuan khusus
syariah seperti mereformasi pola pikir manusia, membangun dunia, mengatur
kebaikan untuk semua, penjagaan terhadap tatanan dan sistem kehidupan,
penegakan keadilan, dan memanfaatkan sumber daya alam.
18Sedangkan Abu> Zahrah
menyebutkan
tiga tujuan khusus syariah yang
harus dituju, yaitu:
a.
Membersihkan manusia agar menjadi sumber kebajikan bagi kelompok dan
masyarakatnya, yaitu dengan tidak menjadi sumber kejahatan bagi mereka.
b.
Menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam, baik keadilan internal antara
mereka maupun keadilan eksternal antara mereka dengan umat-umat yang
lain. Dalam Islam, keadilan merupakan tujuan paling tinggi. Ia meliputi
wilayah yang beragam, baik dalam hukum, peradilan, pembuktian,
muamalah, maupun keadilan sosial yang memiliki lingkup yang luas.
c.
Mewujudkan kemaslahatan yang hakiki dalam semua aspek hukum. Adapun
kemaslahatan yang hakiki dikembalikan kepada lima hal, yaitu agama, jiwa,
akal, keturunan, dan harta benda.
19Pendapat
Abu> Zahrah
inilah yang menurut Mustafa paling sesuai
dengan tujuan perbankan syariah. Sehingga Mustafa menerapkan tujuan khusus
17T}ahir Ibn A>s}u>r, Maqas}id al-Shari>’ah al-Isla>miyah (Yordan: Da>r al-Nafa>’is, 2001), 57. 18
Thuba Jazil and Syahruddin, “The Performance Measures of Selected Malaysian and Indonesian Islamic Banks Based on the Maqashid al-Shari’ah Approach”, IIUM, Vol. 7 No. 2, (Sya’ban 1434, 2013), 284.
22
syariah yang diajukan
Abu> Zahrah
ini untuk mengukur kinerja perbankan
syariah. Berdasarkan pendapat
Abu> Zahrah
, dapat disimpulkan bahwa tujuan
perbankan syariah berdasarkan
maqa>s}id al-shari>’ah
adalah:
a.
Pendidikan individu (
educating individual/
tahdhi>b al-fard
)
b.
Penegakan keadilan (
establishing justice/
iqa>mah al-‘adl
)
c.
Pencapaian kesejahteraan (
promoting welfare/jalb al-
mas}lah}ah
)
Ketiga variabel yang digagas oleh
Abu> Zahrah
tersebut merupakan
embrio
maqa>s}id al-shari>’ah index
di perbankan syariah.
Educating the
individual
pada tujuan
pertama maksudnya adalah peningkatan pengetahuan
dan keterampilan bagi tiap individu sehingga nilai spiritualnya meningkat.
Perbankan syariah harus melakukan program pendidikan dan pelatihan yang
mengedepankan nilai-nilai moral. Perbankan syariah juga harus menyediakan
informasi kepada
stakeholder
bahwa produk-produk yang ditawarkan adalah
berdasarkan syariah.
Tujuan yang kedua adalah keadilan (
justice
). Perbankan syariah harus
memastikan kejujuran dan keterbukaan pada semua transaksi dan aktivitas
bisnis. Perbankan syariah juga harus memastikan bahwa semua kontrak harus
bebas dari ketidakadilan seperti
maysir, gharar
,
dan
riba>
.
Tujuan yang ketiga
adalah kesejahteraan (
welfare
). Perbankan syariah harus mengembangkan
proyek investasi dan pelayanan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
untuk mendefinisikan secara operasional ketiga tujuan perbankan syariah ke
dalam item-item yang terukur sehingga membentuk sebuah index pengukuran
yang disebut
maqa>s}id al-shari>’ah index
.
E. Penelitian Terdahulu
Evaluasi kinerja perbankan syariah dengan
maqa>s}id al-shari>’ah index
pertamakali dilakukan oleh Mustafa Omar Mohammed, dkk. (2008) melalui
sebuah penelitian yang berjudul “
The Performance Measures of Islamic
Banking Based on the Maqashid Framework”
. Konsep
maqa>s}id al-shari>’ah
index
dikembangkan dengan metode SA
W (
The Simple Additive Weighting
).
Ada enam perbankan syariah yang diambil sebagai sampel, yaitu Bank
Muamalat Malaysia, Islamic Bank Bangladesh, Bank Syariah Mandiri
(Indonesia), Bahrain Islamic Bank, Islamic International Arab Bank (Jordan),
dan Sudanese Islamic Bank (Sudan). Keenam perbankan syariah tersebut
diteliti dalam periode 2000-2005.
24
Berdasarkan ranking, didapatkan bahwa IIABJ Jordan menduduki peringkat
pertama, disusul oleh BSM Indonesia, Bahrain Islamic Bank, Islamic Bank
Bangladesh, Bank Muamalat Malaysia, dan terakhir Sudanese Islamic Bank.
20Di penelitian lain yang berjudul “
Testing the Performance Measured
Based on Maqashid al-Shariah (PMMS) Model on 24 Selected Islamic and
Conventional Banks
”, Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib
(2009) menganalisis kinerja perbankan syariah selama periode 2000-2005 dan
membandingkannya dengan perbankan konvensional. Metode analisis yang
digunakan adalah
Mann-Withney U-Test
dan SAW (
The Simple Additive
Weighting
). Terdapat dua model yang digunakan, pertama yaitu PMMS yang
terdiri dari 10 rasio dengan variabel yang mengacu pada teori
maqa>s}id
al-shari>’ah
Abu> Zahrah
sebagaimana disebutkan sebelumnya. Model kedua yaitu
model CBPM, yang terdiri dari tiga rasio keuangan, yaitu
Return on Assets
(ROA),
Net Interest Income
(NII), dan
Liquidity
(LIQ).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perbankan syariah yang
diukur dengan model PMMS untuk variabel
maqa>s}id al-shari>’ah
menduduki
peringkat yang lebih tinggi daripada perbankan konvensional. Sedangkan
untuk model CBPM, kinerja perbankan syariah untuk variabel ROA dan NII
lebih rendah daripada perbankan konvensional. Namun, kinerja perbankan
syariah untuk variabel LIQ lebih tinggi daripada perbankan konvensional.
Dengan kata lain, perbankan syariah memiliki rasio likuiditas yang lebih tinggi
daripada perbankan konvensional.
2120
Mustafa Omar Mohammed, “The Performance Measures...”, 6. 21
Penelitian yang mengevaluasi kinerja perbankan syariah dengan
menggunakan pendekatan
maqa>s}id al-shari>’ah index
dan SAW
(Simple
Additive Weighting
) juga dilakukan oleh Muhammad Syafii Antonio, dkk.
(2012) melalui penelitian yang berjudul “
An Analysis of Islamic Banking
Performance: Maqashid Index Implementation in Indonesia and Jordania
”
yang dilakukan dalam periode 2008-2010. Penelitian Antonio menggunakan
empat perbankan syariah sebagai sampel, dua bank berasal dari Indonesia yaitu
BSM (Bank Syariah Mandiri) dan BMI (Bank Muamalat Indonesia), serta dua
bank berasal dari Jordania yaitu IIABJ (Islamic International Arab Bank
Jordan) dan JIB (Jordan Islamic Bank).
Dari sepuluh rasio yang menjadi indikator kinerja, Antonio dkk. hanya
menggunakan 8 rasio dalam penelitian mereka. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perbankan syariah di Indonesia dan Jordania memiliki kinerja yang
berbeda. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada satu bank pun
yang memiliki nilai tinggi pada semua indikator kinerja yang berdasarkan
konsep
maqa>s}id al-shari>’ah
.
Walaupun demikian, BMI menunjukkan nilai yang
paling tinggi dibandingkan ketiga bank lainnya.
22Penelitian serupa juga dilakukan oleh Thuba Jazil dan Syahruddin
(2013) dalam penelitian yang berjudul “
The Performance Measures of Selected
Malaysian and Indonesian Islamic Banks Based on the Maqashid al-Shariah
Approach
”. Penelitian Thuba Jazil menggunakan pendekatan PMMS, dengan
sampel tiga bank Islam di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI),
Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank Mega Syariah (BMS) serta tiga bank
22
26
Islam di Malaysia yaitu RHB Islamic Bank, CIMB Islamic Bank, dan Bank
Islam Malaysia selama periode 2007-2011.
Berdasarkan
maqa>s}id al-shari>’ah index
, BMI menduduki kinerja yang
paling baik. Sedangkan kinerja terendah adalah CIMB Islamic Bank. Namun
demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada satu bank pun
yang memiliki nilai tinggi pada semua indikator kinerja. Dengan demikian,
perbankan syariah harus didorong untuk meninjau kembali tujuan dan ukuran
kinerja mereka agar sesuai dengan konsep
maqa>s}id al-shari>’ah
.
23Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
terletak pada objek dan periode penelitian. Penelitian ini menganalisis kinerja
PT BPRS Jabal Nur sebagai objek penelitan. Sedangkan periode penelitian
dilakukan dalam kurun 2010-2014. Model
maqa>s}id al-shari>’ah index
yang
digunakan seluruhnya mengadopsi model
maqa>s}id al-shari>’ah index
yang
digagas oleh Mustafa.
23
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian yang berjudul “Analisis Perbankan Syariah
(Implementasi
Maqa>s}id al-Shari>’ah Index
di PT BPRS Jabal Nur)” ini adalah:
1.
Maqa>s}id al-shari>’ah
index
dapat diimplementasikan untuk mengukur kinerja
PT
BPRS
Jabal
Nur.
Namun
PT
BPRS
Jabal
Nur
tidak
mengimplementasikan semua indikator yang disebutkan dalam
maqa>s}id
al-shari>’ah index
.
Dalam
maqa>s}id al-shari>’ah index
yang pertama (
educating
individual
), PT BPRS Jabal Nur hanya menjalankan indikator subsidi
pendidikan & pelatihan serta publikasi, sedangkan indikator penelitian tidak
dijalankan. Dalam
maqa>s}id al-shari>’ah index
yang ke dua (
establishing
justice
), PT BPRS Jabal Nur menjalankan semua indikator
maqa>s}id
al-shari>’ah index
, yaitu pengembalian/pembagian secara adil, distribusi
fungsional, dan produk bebas bunga. Sedangkan dalam
maqa>s}id al-shari>’ah
index
yang ke tiga (
promoting welfare
), PT BPRS Jabal Nur hanya
menjalankan indikator profitabilitas atau rasio laba dan redistribusi
pendapatan atau rasio zakat, sedangkan indikator investasi di sektor riil
tidak disebutkan. Kendala dalam mengimplementasikan
maqa>s}id al-shari>’ah
index
untuk mengukur kinerja PT BPRS Jabal Nur adalah adanya faktor
96
2.
Nilai
maqa>s}id al-shari>’ah
yang dicapai PT BPRS Jabal Nur bersifat
fluktuatif. Pada tahun 2010, nilai
maqa>s}id al-shari>’ah index
PT BPRS Jabal
Nur mencapai 0.28301. Perolehan ini meningkat pada tahun 2011 menjadi
0.30293. Perolehan ini juga terus meningkat pada tahun 2012 menjadi
0.31376. Namun pada tahun 2013, nilai
maqa>s}id al-shari>’ah index
PT BPRS
Jabal Nur mengalami penurunan hingga mencapai 0.30309. Perolehan ini
juga menurun pada tahun 2014 menjadi 0.30255. Sedangkan nilai rata-rata
maqa>s}id al-shari>’ah index
PT BPRS Jabal Nur pada tahun penelitian 2010 –
2014 adalah sebesar 0.30107. Nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan
dengan nilai
maqa>s}id al-shari>’ah index
yang dicapai oleh Bank Syariah
Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia yang dilakukan oleh peneliti
sebelumnya.
B. Rekomendasi
Berdasarkan analisis dan pembahasan pada penelitian ini, terdapat
beberapa hal yang perlu direkomendasikan oleh peneliti, yaitu:
2.
Untuk mendukung ketersediaan data dalam penghitungan dan pengukuran
maqa>s}id al-shari>’ah index
, tiap praktisi di industri perbankan syariah
diharapkan menyiapkan laporan yang menyajikan data yang berhubungan
dengan indikator-indikator dalam
maqa>s}id al-shari>’ah index
.
3.
Untuk penelitian lebih lanjut, diharapkan dapat meningkatkan kualitas
penelitian ini dengan menambah objek penelitian serta menggunakan data
yang lengkap sesuai dengan indikator-indikator
maqa>s}id al-shari>’ah index
.
Penambahan data primer melalui pembagian kuesioner pada atasan,
karyawan, dan nasabah juga dapat meningkatkan kualitas penelitian ini.
C.
Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah:
1.
Objek yang digunakan dalam penelitian hanya satu, yaitu PT BPRS Jabal
Nur.
98
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Nurul Muammar.
Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap
Kemampuan Zakat Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah.
Semarang: IAIN Walisongo, 2010.
Ah}mad al-Raysu>ni.
Nadhariyah al-Maqas}id Inda al-Ima>m al-Sha>t}ibi>.
Beirut:
al-Ma’had al-‘A>li> li al-Fikr al-Isla>mi>, t.th.
Ahmed Mohamed Badreldin. “Measuring the Performance of Islamic Banks by
Adapting Conventional Ratios”. German University in Cairo Working
Paper, No. 16, October 2009.
Arif Pujiyono. “Posisi dan Prospek Bank Syariah dalam Dunia Usaha Perbankan”.
Jurnal Dinamika Pembangunan, Vol. 1 No 1, Juli, 2004.
Bambang Rianto Rustam.
Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia
.
Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013.
Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa Dewan Syariah Nasional No.
87/DSN-MUI/XII/2010 tentang Metode Perataan Penghasilan (
Income Smoothing
)
Dana Pihak Ketiga.
Erlinda Ragawanti, Bambang Swasto S., dan Arik Prasetya. “Pengaruh
On the Job
Training
dan
Off the Job Training
terhadap Kinerja Karyawan”. Jurnal
Administrasi Bisnis, Vol. 8 No. 2, 2014.
Ezry Fahmy Eddy Yusof, et.al..
Islamic Finance: Debt Versus Equity Financing
in the Light of Maqasid al-Shari’ah.
IIUM, MPRA Paper No. 20722,
February 2010.
(al) Ghaza>li.
S}ifa> al-Ghali>l.
Baghdad: Mat}ba’ah al-Irs}a>d, 1971.
Ikatan Bankir Indonesia.
Memahami Bisnis Bank Syariah.
Jakarta: PT Gramedia
Pustaka, 2014.
Imam Wahyudi, dkk.
Manajemen Risiko Bank Islam.
Jakarta: Salemba Empat,
2013.
Jasser Auda.
Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems
Approach.
London: The International Institute of Islamic Thought, 2007.
Khusnul Fauziah dan Prabowo Yudho J. “Analisis Pengungkapan Tanggungjawab
M. Houssem.
Shari’a-Based Ethical Performance Measurement Framework
.
Universite Paris, Chair for Ethics and Financial Norms, 2012.
Mohammad Abu Hurayra. “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic
Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”.
Global
Journals Inc. (USA)
, Vol. 15, Issue 1, Version 1 2015.
Muh}ammad Abu> Zahrah.
Us}ul al-Fiqh.
Kairo: Da>r al-Fikr al A>rabi, t.th.
Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq. “An
Analysis
of
Islamic
Banking
Performance:
Maqashid
Index
Implementation in Indonesia and Jordania”. Journal of Islamic Finance,
Vol. 1 No. 1, 2012.
Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib.
Testing the Performance
Measured Based on Maqashid al-Shariah Model on 24 Selected Islamic
and Conventional Banks.
Malaysia: IIUM, 2009.
_____, Dzuljastri Abdul Razak, dan Fauziah Md. Taib.
The Performance
Measures of Islamic Banking Based on the Maqasid Framework.
Malaysia: IIUM, 2008.
Otoritas Jasa Keuangan.
Statistik Perbankan Syariah
Juni 2015.
Jakarta: OJK,
2015.
Shahul Hameed, et.al..
Alternative Disclosure & Performance Measures for
Islamic Banks
. Malaysia: IIUM, 2004.
(al) Sha>t}ibi.
Al-Muwa>faqa>t fi Us}ul al-Shari>’ah.
Beirut: Da>r al-Ma’rifah, t.th.
Sheila Nu Nu Htay & Syed Ahmed Salman. “Practice of Profit Equalization
Reserve and Investment Risk Reserve by Islamic Banks”. International
Journal of Research in Social Sciences, Vol. 2 No.2, June 2013.
Sri Hermuningsih. “Pengaruh Profitabilitas,
Growth Opportunity
, Struktur Modal
terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia”.
Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan,
Oktober, 2013.
Siti Manisah Ngalim dan Abdul Ghafar Ismail. “An Islamic Vision Development
Based Indicators in Analysing the Islamic Banks Performance: Evidence
from Malaysia, Indonesia, and Selected GCC Countries”. IRTI Working
Paper, No. 02, 2014.
T}ahir Ibn A>s}u>r.
Maqas}id al-Shari>’ah al-Isla>miyah
. Yordan: Da>r al-Nafa>’is, 2001.
98
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Nurul Muammar.
Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap
Kemampuan Zakat Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah.
Semarang: IAIN Walisongo, 2010.
Ah}
mad al-Raysu>
ni.
Nadhariyah al-Maqas}
id Inda al-Ima>
m al-Sha>
t}
ibi>
. Beirut:
al-Ma’had al-‘A>
li>
li
al-Fikr al-Isla>
mi>
, t.th.
Ahmed Mohamed Badreldin. “Measuring the Performance of Islamic Banks by
Adapting Conventional Ratios”. German University in Cairo Working
Paper, No. 16, October 2009.
Arif Pujiyono. “Posisi dan Prospek Bank Syariah dalam Dunia Usaha Perbankan”.
Jurnal Dinamika Pembangunan, Vol. 1 No 1, Juli, 2004.
Bambang Rianto Rustam.
Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia
.
Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013.
Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa Dewan Syariah Nasional No.
87/DSN-MUI/XII/2010 tentang Metode Perataan Penghasilan (
Income Smoothing
)
Dana Pihak Ketiga.
Erlinda Ragawanti, Bambang Swasto S., dan Arik Prasetya. “Pengaruh
On the Job
Training
dan
Off the Job Training
terhadap Kinerja Karyawan”. Jurnal
Administrasi Bisnis, Vol. 8 No. 2, 2014.
Ezry Fahmy Eddy Yusof, et.al..
Islamic Finance: Debt Versus Equity Financing
in the Light of Maqasid al-Shari’ah.
IIUM, MPRA Paper No. 20722,
February 2010.
(al) Ghaza>
li. S}
ifa>
al-Ghali>
l. Baghdad: Mat}
ba’ah al-Irs}
a>
d, 1971.
Ikatan Bankir Indonesia.
Memahami Bisnis Bank Syariah.
Jakarta: PT Gramedia
Pustaka, 2014.
Imam Wahyudi, dkk.
Manajemen Risiko Bank Islam.
Jakarta: Salemba Empat,
2013.
Jasser Auda.
Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems
Approach.
London: The International Institute of Islamic Thought, 2007.
Khusnul Fauziah dan Prabowo Yudho J. “Analisis Pengungkapan Tanggungjawab
M. Houssem.
Shari’a-Based Ethical Performance Measurement Framework
.
Universite Paris, Chair for Ethics and Financial Norms, 2012.
Mohammad Abu Hurayra. “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic
Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”.
Global
Journals Inc. (USA)
, Vol. 15, Issue 1, Version 1 2015.
Muh}
ammad Abu>
Zahrah. Us}
ul
al-Fiqh. Kairo: Da>
r al-Fikr al A>
rabi, t.th.
Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq. “An
Analysis of Islamic Banking Performance: Maqashid Index
Implementation in Indonesia and Jordania”. Journal of Islamic Finance,
Vol. 1 No. 1, 2012.
Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib.
Testing the Performance
Measured Based on Maqashid al-Shariah Model on 24 Selected Islamic
and Conventional Banks.
Malaysia: IIUM, 2009.
_____, Dzuljastri Abdul Razak, dan Fauziah Md. Taib.
The Performance
Measures of Islamic Banking Based on the Maqasid Framework.
Malaysia: IIUM, 2008.
Otoritas Jasa Keuangan.
Statistik Perbankan Syariah
Juni 2015.
Jakarta: OJK,
2015.
Shahul Hameed, et.al..
Alternative Disclosure & Performance Measures for
Islamic Banks
. Malaysia: IIUM, 2004.
(al) Sha>
t}
ibi. Al-Muwa>
faqa>
t fi Us}
ul al-Shari>
’ah. Beirut: Da>
r al-Ma’rifah, t.th.
Sheila Nu Nu Htay & Syed Ahmed Salman. “Practice of Profit Equalization
Reserve and Investment Risk Reserve by Islamic Banks”. International
Journal of Research in Social Sciences, Vol. 2 No.2, June 2013.
Sri Hermuningsih. “Pengaruh Profitabilitas,
Growth Opportunity
, Struktur Modal
terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia”.
Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan,
Oktober, 2013.
Siti Manisah Ngalim dan Abdul Ghafar Ismail. “An Islamic Vision Development
Based Indicators in Analysing the Islamic Banks Performance: Evidence
from Malaysia, Indonesia, and Selected GCC Countries”. IRTI Working
Paper, No. 02, 2014.
T}
ahir Ibn A>
s}
u>
r. Maqas}
id al-Shari>
’ah al-Isla>
miyah. Yordan: Da>
r al-Nafa>
’is, 2001.
Thuba Jazil and Syahruddin. “The Performance Measures of Selected Malaysian