• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KINERJA PERBANKAN SYARIAH : IMPLEMENTASI MAQASHID AL SHARI’AH INDEX DI PT BPRS JABAL NUR.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS KINERJA PERBANKAN SYARIAH : IMPLEMENTASI MAQASHID AL SHARI’AH INDEX DI PT BPRS JABAL NUR."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL………..………... i

HALAMAN JUDUL………...………...…. ii

PERNYATAAN KEASLIAN………. iii

LEMBAR PERSETUJUAN……….... iv

LEMBAR PENGESAHAN………..………... v

PEDOMAN TRANSLITERASI…………..……….... vi

MOTTO………..….………....… vii

HALAMAN PERSEMBAHAN…...………... viii

ABSTRAK…………..………...….. ix

KATA PENGANTAR………...…….. x

DAFTAR ISI………..…….. xii

DAFTAR GAMBAR………..……... xv

DAFTAR TABEL……….... xvi

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang...……….…...… 1

B.

Identifikasi dan Batasan Masalah………... 8

C.

Rumusan Masalah………... 9

D.

Tujuan Penelitian……….………... 9

(8)

F.

Sistematika Pembahasan……….... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.

Perbankan Syariah………... 12

B.

Pengukuran Kinerja Perbankan Syariah………. 15

C.

Konsep Dasar Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah……….…... 18

D.

Konsep Dasar

M

aqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………. 20

E.

Penelitian Terdahulu………... 23

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian………... 27

B.

Waktu dan Tempat Penelitian……… 27

C.

Sumber dan Tipe Data……… 28

D.

Teknik Pengumpulan Data………. 28

E.

Kerangka Operasional

M

aqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index……… 28

F.

Definisi Operasional

M

aqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………... 32

G.

Teknik Pengukuran

M

aqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………. 37

BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN

A.

Profil PT BPRS Jabal Nur……….... 42

(9)

C.

Indikator Kinerja (

Performance Indikator

) PT BPRS Jabal Nur

Berdasarkan Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………

60

D.

Kinerja (

Performance

) PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan

Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index……….

64

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Implementasi Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index untuk

Mengukur Kinerja PT BPRS Jabal Nur………...

67

B. Kinerja PT BPRS Jabal Nur

Berdasarkan Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………..

71

1. Pendidikan Individu di PT BPRS Jabal Nur………..………… 71

2. Penegakan Keadilan di PT BPRS Jabal Nur……….. 77

3. Pencapaian Kesejahteraan di PT BPRS Jabal Nur…... 91

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan………... 95

B. Rekomendasi……… 96

C. Keterbatasan Penelitian……… 97

DAFTAR PUSTAKA……….. 98

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Hierarki Tujuan Hukum Islam (dimensi dari level kebutuhan)…...

20

Gambar 3.1 Kerangka Operasional Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index Melalui

Metode Sekaran…………..……….

29

Gambar 3.2 Konsep Sekaran………...

32

Gambar 4.1 Rasio Kinerja

Educating Individual

di PT BPRS Jabal Nur……… 49

Gambar 4.2 Rasio Kinerja

Establishing Justice

di PT BPRS Jabal Nur……….

54

Gambar 4.3 Rasio Kinerja

Promoting Welfare

di PT BPRS Jabal Nur………... 58

Gambar 4.4 Grafik Indikator Kinerja

Educating Individual

di PT BPRS Jabal Nur………..

62

Gambar 4.5 Grafik Indikator Kinerja

Establishing Justice

di PT BPRS Jabal Nur………..

63

Gambar 4.6 Grafik Indikator Kinerja

Promoting Welfare

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1

Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Per Juni 2015…...

2

Tabel 3.1

Operasionalisasi Tujuan Perbankan Syariah Berdasarkan

Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index………...

31

Tabel 3.2

Average Weights

Variabel Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah Index……… 38

Tabel 4.1

Rasio Kinerja PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan Maqa>

s}

id

al-Shari>

’ah Index………..

48

Tabel 4.2

Indikator Kinerja

Educating Individual

di PT BPRS Jabal Nur…..

61

Tabel 4.3

Indikator Kinerja

Establishing Justice

di PT BPRS Jabal Nur…… 62

Tabel 4.4

Indikator Kinerja

Promoting Welfare

di PT BPRS Jabal Nur……. 64

Tabel 4.5

Penilaian Kinerja PT BPRS Jabal Nur Berdasarkan Maqa>

s}

id

al-Shari>

’ah Index………..

65

Tabel 5.1

Nilai

Maqa>

s}

id al-Shari>

’ah

Index Beberapa Bank Umum Syariah

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perbankan merupakan salah satu lembaga yang mempunyai peran

strategis dalam menyelaraskan, menyerasikan, dan menyeimbangkan berbagai

unsur pembangunan. Peran yang strategis tersebut terutama disebabkan oleh

fungsi perbankan sebagai lembaga yang dapat menghimpun dan menyalurkan

dana masyarakat secara efektif dan efisien, yang mendukung pelaksanaan

pembangunan dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi,

dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat.

Di Indonesia terdapat dua jenis perbankan, yaitu perbankan yang

melakukan usaha secara konvensional dan perbankan yang melakukan usaha

secara syariah yang disebut dengan perbankan syariah. Perbankan syariah

menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah

(UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia semakin meningkat

sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Ketika bank

konvensional banyak mengalami

negative spread

(tingkat suku bunga

pinjaman lebih rendah daripada suku bunga tabungan) dalam bisnisnya,

sementara perbankan syariah mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi. Hal

ini menunjukkan bahwa perbankan syariah memiliki keunggulan, sehingga

mampu bertahan menghadapi keadaan yang sangat sulit bagi dunia perbankan.

1

1

(13)

2

Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia juga terbukti secara nyata

melalui banyaknya bermunculan institusi keuangan syariah di Indonesia.

Berdasarkan data statistik terbaru yang dipublikasikan oleh OJK (Otoritas Jasa

Keuangan) pada Juni 2015 (Tabel 1.1), Indonesia memiliki 12 Bank Umum

Syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 161 Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah (BPRS).

Tabel 1.1 Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Per Juni 20152

Indikator 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Juni 2015

BUS 6 11 11 11 11 12 12

UUS 25 23 24 24 23 22 22

BPRS 138 150 155 158 163 163 161

Peningkatan jumlah perbankan syariah memberikan bukti bahwa

perbankan syariah mendapat apresiasi positif dari masyarakat Indonesia.

Perkembangan tersebut juga memberikan arti bahwa perbankan syariah telah

bertransformasi dari memperkenalkan alternatif praktik perbankan syariah

menjadi pemain utama dalam perbankan nasional. Namun, perkembangan yang

pesat tersebut menyebabkan persaingan di industri perbankan semakin ketat.

Persaingan itu tidak hanya terjadi antara perbankan konvensional dengan

perbankan syariah, namun juga merambah antarinstansi perbankan syariah

sebagai intitusi yang memiliki keistimewaan dan

market share

tersendiri.

Keadaan itu tentu menuntut perbankan syariah untuk ekstra keras dalam

meningkatkan kinerjanya. Kinerja perbankan syariah ini dapat diketahui dari

penilaian kinerja perbankan yang dilakukan secara berkala.

2

(14)

Penilaian kinerja perbankan merupakan sebuah metode yang mengukur

pencapaian suatu perbankan berdasarkan target yang telah ditentukan

sebelumnya. Hal ini penting dilakukan untuk mengontrol dan meningkatkan

kinerja perbankan selama tahun berjalan. Demikian halnya dengan perbankan

syariah. Sebagai suatu perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan,

penting bagi perbankan syariah untuk melakukan pengukuran kinerja sebagai

tolok ukur perusahaan di masa sekarang dan mendatang. Pengukuran ini

penting dilakukan karena dapat menganalisis dan mengetahui sejauh mana

pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian visi perbankan telah dilakukan.

3

Pengukuran kinerja perbankan syariah selama ini masih menggunakan

cara-cara pengukuran konvensional yang sebagian besar berfokus pada

perhitungan rasio keuangan seperti

CAMELS (Capital, Asset, Management,

Earning, Liquidity, Sensivity of Market Risk)

dan

EVA (Economic Value

Added)

. Pengukuran kinerja perbankan syariah masih didasarkan pada prestasi

yang dicapai dalam aspek keuangan, pemasaran, penghimpunan dana, dan

penyaluran dana. Pengukuran kinerja keuangan memang sangat penting

dilakukan. Industri perbankan merupakan industri yang mengandalkan

kepercayaan, semakin baik kinerja keuangan sebuah bank maka bank tersebut

akan memperoleh kepercayaan yang lebih tinggi. Namun, pengukuran kinerja

perbankan yang hanya berfokus pada rasio keuangan mempunyai banyak

kelemahan. Pertama, penggunaan kinerja keuangan sebagai satu-satunya faktor

penentu kinerja perbankan dapat menyebabkan manajer hanya berfokus

mengambil tindakan jangka pendek dan mengesampingkan rencana jangka

3

(15)

4

panjang. Ke dua, pengabaian aspek pengukuran nonfinansial dan aset tak

berwujud (

intangible assets

) baik dari segi internal maupun eksternal akan

menyebabkan kekeliruan pandangan manajer perbankan di saat sekarang

bahkan juga di masa mendatang. Ke tiga, kinerja yang hanya berbasis

keuangan kurang mampu dalam mengarahkan perbankan menuju tujuan

perusahaan.

4

Perbankan syariah pada dasarnya merupakan sebuah entitas bisnis dan

sekaligus merupakan sebuah fasilitas untuk mencapai tujuan syariah (maqa>s}id

al-shari>’ah

)

. Dengan demikian, perbankan syariah yang berbeda dengan

perbankan konvensional baik dari sisi teori maupun praktik, membutuhkan

perubahan paradigma dalam pengukuran kinerja. Perbankan syariah sebaiknya

tidak hanya menggunakan cara-cara pengukuran konvensional yang mengukur

kinerja yang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan profit (kinerja

keuangan). Di saat yang sama, perbankan syariah juga sebaiknya menggunakan

pengukuran berbasis syariah untuk mengevaluasi pencapaian

maqa>s}id

al-shari>’ah.

5

Maqa>s}id al-shari>’ah

merupakan peraturan yang terdiri dari petunjuk dan

larangan yang diberikan Allah kepada umat manusia. Maqa>s}id al-shari>’ah juga

dapat didefinisikan sebagai kumpulan etika yang mengatur seluruh aspek

kehidupan manusia. Ruang lingkup

maqa>s}id al-shari>’ah

mencakup semua

aspek kehidupan yang terkait dengan sosial, personal, ekonomi, dan

4

Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq, “An Analysis of Islamic Banking Performance: Maqashid Index Implementation in Indonesia and Jordania”, Journal of Islamic Finance, Vol. 1, No. 1 (2012), 12.

5

(16)

intelektual.

6

Perbankan syariah sebagai salah satu sendi perekonomian negara

pun seharusnya tidak terlepas dari nilai-nilai

maqa>s}id al-shari>’ah. Penggunaan

konsep

maqa>s}id al-shari>’ah

dalam konteks kinerja perbankan syariah dinilai

penting karena dengan demikian perbankan syariah dapat diukur dari sisi mana

perbankan syariah menjalani nilai-nilai syariah dan sejauh mana tujuan-tujuan

syariah dilaksanakan dengan baik. Selama ini, sebagian besar perbankan

syariah hanya menggunakan rasio-rasio keuangan konvensional sehingga tidak

memberikan evaluasi pada semua dimensi yang dimiliki oleh perbankan

syariah.

Untuk mengevaluasi pencapaian

maqa>s}id al-shari>’ah

di perbankan

syariah, Mustafa Omar Mohammed (2008) dari Malaysia telah merumuskan

suatu metode pengukuran yang berguna bagi penilaian kinerja perbankan

syariah yang sesuai dengan tujuan berdasarkan prinsip-prinsip

maqa>s}id

al-shari>’ah. Penelitian tersebut bertujuan agar ada sebuah metode pengukuran

bagi perbankan syariah yang sesuai dengan tujuan bank syariah. Penelitian

tersebut menghasilkan sebuah metode pengukuran kinerja perbankan syariah

dengan menggunakan sepuluh rasio yang disebut

maqa>s}id al-shari>’ah index

.

Metode ini kemudian digunakan untuk mengukur kinerja enam perbankan

syariah yang diambil sebagai sampel, yaitu Bank Muamalat Malaysia, Islami

Bank Bangladesh, Bank Syariah Mandiri (Indonesia), Bahrain Islamic Bank,

Islamic International Arab Bank (Jordan), dan Sudanese Islamic Bank (Sudan).

Di Indonesia, upaya untuk mengembangkan

maqa>s}id al-shari>’ah index

sebagai sebuah alat ukur kinerja perbankan syariah dilakukan oleh Muhammad

6

(17)

6

Syafii Antonio (2012) serta Thuba Jazil (2013). Mereka menggunakan

pendekatan

maqa>s}id al-shari>’ah

index

sebagaimana yang dikembangkan oleh

Mustafa. Perbedaan penelitian keduanya hanya terletak pada objek penelitian.

Antonio membandingkan kinerja perbankan syariah di Indonesia dan Jordania.

Sedangkan Thuba Jazil membandingkan kinerja perbankan syariah di

Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa maqa>s}id

al-shari>’ah index

bisa menjadi alternatif penting yang dapat mengukur

seberapa baik kinerja perbankan syariah dan hasilnya dapat diimplementasikan

dalam bentuk strategi komprehensif. Dengan menggunakan

maqa>s}id

al-shari>’ah index

,

kinerja perbankan akan lebih terukur dengan benar karena tidak

hanya aspek keuangan yang diperhatikan, tetapi juga mencakup kinerja

perbankan yang terkait dengan aspek lingkungan dan sosial.

Maqa>s}id al-shari>’ah index dikembangkan berdasarkan tiga faktor utama

yaitu pendidikan individu, penegakan keadilan, dan pencapaian kesejahteraan.

Ketiga faktor tersebut sesuai dengan tujuan umum

maqa>s}id al-shari>’ah

,

yaitu

mencapai kesejahteraan dan menghindari keburukan. Penilaian kinerja

menggunakan

maqa>s}id al-shari>’ah index bersifat universal, yang seharusnya

menjadi tujuan dan dasar operasional setiap entitas bisnis, termasuk perbankan

syariah. Terlebih, pengukuran dengan metode maqa>s}id al-shari>’ah index dinilai

lebih komprehensif dan selaras dengan teori maqa>s}id al-shari>’ah

.

Sayangnya, penelitian tentang

maqa>s}id al-shari>’ah index yang selama

ini dilakukan masih dalam batas tataran konsep dan hanya diujicobakan untuk

menilai kinerja Bank Umum Syariah. Maqa>s}id al-shari>’ah index belum pernah

(18)

Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

memang keduanya merupakan lembaga keuangan syariah jenis perbankan,

namun keduanya memiliki fokus yang berbeda. BPRS lebih berfokus untuk

melayani usaha mikro dan kecil. BPRS sangat potensial untuk membantu

membangun pertumbuhan masyarakat, umumnya di kalangan masyarakat

ekonomi menengah melalui konsumsi maupun investasi. Produk-produk yang

ditawarkan BPRS juga dapat diterima dengan lebih mudah, lebih cepat, dan

dengan biaya serta bagi hasil yang terjangkau oleh masyarakat menengah ke

bawah. Keunggulan inilah yang dimiliki oleh BPRS, sehingga peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang implementasi maqa>s}id al-shari>’ah index di

BPRS.

(19)

8

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat teridentifikasi masalah

sebagai berikut:

1.

Perkembangan perbankan yang pesat menyebabkan persaingan di industri

perbankan semakin ketat. Persaingan itu tidak hanya terjadi antara

perbankan konvensional dengan perbankan syariah, namun juga merambah

antarinstansi perbankan syariah.

2.

Pengukuran kinerja perbankan syariah pada praktiknya masih menggunakan

pengukuran kinerja berbasis konvensional yang berfokus pada kinerja

keuangan, yang tidak memberikan evaluasi pada semua dimensi yang

dimiliki perbankan syariah. Perbankan syariah seharusnya menerapkan

model pengukuran kinerja berbasis syariah yang mencakup kinerja

keuangan sekaligus kinerja dalam mencapai tujuan syariah (maqa>s}id

al-shari>’ah).

3.

Terdapat model pengukuran kinerja berbasis syariah yang telah diajukan

oleh peneliti sebelumnya, yaitu metode

maqa>s}id al-shari>’ah index. Namun

sejauh ini pengukuran kinerja dengan metode

maqa>s}id al-shari>’ah index

tersebut dilakukan hanya sebatas tataran konsep dan hanya diujicobakan

untuk menilai kinerja Bank Umum Syariah.

4.

Implementasi

maqa>s}id al-shari>’ah index untuk mengukur kinerja Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah belum pernah dilakukan.

(20)

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

Pengukuran kinerja perbankan syariah dilakukan dengan menerapkan

pengukuran kinerja berbasis syariah, yaitu maqa>s}id al-shari>’ah

index.

2.

Implementasi pengukuran kinerja perbankan syariah berdasarkan

maqa>s}id

al-shari>’ah

index

dilakukan di PT BPRS Jabal Nur selama periode

2010-2014.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1.

Bagaimana implementasi maqa>s}id al-shari>’ah index untuk mengukur kinerja

PT BPRS Jabal Nur ?

2.

Bagaimana kinerja PT BPRS Jabal Nur berdasarkan

maqa>s}id al-shari>’ah

index?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.

Menganalisis implementasi

maqa>s}id al-shari>’ah

index untuk mengukur

kinerja PT BPRS Jabal Nur.

(21)

10

E. Kegunaan Penelitian

1. Bagi nasabah, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi

tambahan kepada nasabah lama atau calon nasabah mengenai kinerja PT

BPRS Jabal Nur melalui pendekatan maqa>s}id al-shari>’ah

index

.

2. Bagi manajer perbankan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk

melakukan perbaikan di dalam peningkatan kualitas perbankan syariah.

3. Bagi perbankan syariah di Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat

menjadi bahan informasi dan bahan evaluasi rujukan dalam pelaksanaan

maqa>s}id al-shari>’ah.

4. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi

kegiatan penelitian lain tentang pengukuran kinerja perbankan syariah serta

memberi sumbangan referensi bagi pengembangan ilmu manajemen

perbankan syariah.

5. Bagi pembaca (umum), penelitian ini diharapkan dapat memberikan

referensi tentang perbankan syariah dan pengukuran kinerja yang juga

berbasis syariah (yaitu berdasarkan maqa>s}id al-shari>’ah

index

).

(22)

F. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah pemahaman mengenai penelitian ini, peneliti

membagi ke dalam enam bab yang saling berhubungan dan berurutan secara

sistematis.

Bab pertama: menguraikan latar belakang permasalahan yang menjadi

pijakan peneliti untuk melakukan penelitian, dilanjutkan dengan identifikasi

dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

dan sistematika pembahasan.

Bab ke dua: menguraikan teori tentang perbankan syariah, pengukuran

kinerja perusahaan, konsep dasar

maqa>s}id al-shari>’ah, konsep dasar

maqa>s}id

al-shari>’ah index

,

serta penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini

.

Bab ke tiga: menguraikan metode pengukuran kinerja perbankan

berdasarkan

maqa>s}id al-shari>’ah index

.

Bab ke empat: menguraikan data dan mendeskripsikan hasil penelitian

di PT BPRS Jabal Nur.

Bab ke lima: membahas dan menganalisis implementasi

maqa>s}id

al-shari>’ah index

di PT BPRS Jabal Nur serta menganalisis kinerja PT BPRS

Jabal Nur berdasarkan

maqa>s}id al-shari>’ah index.

Bab ke enam: berisi kesimpulan, rekomendasi, dan keterbatasan

(23)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perbankan Syariah

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat

dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf

hidup rakyat. Sedangkan bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan

kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Yang dimaksud dengan prinsip

syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan

fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam

penetapan fatwa di bidang syariah.

7

Prinsip utama bank syariah terdiri dari larangan riba pada semua jenis

transaksi; pelaksanaan aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan (

equality

), keadilan

(

fairness

) dan keterbukaan (

transparancy

); pembentukan kemitraan yang

saling menguntungkan; serta keuntungan yang didapat harus dari usaha dengan

cara yang halal. Selain itu ada satu ciri khas, yaitu bank syariah harus

mengeluarkan

dan

mengadministrasikan

zakat

guna

membantu

mengembangkan lingkungan masyarakat sesuai dengan prinsip syariah.

8

Bank syariah memiliki fungsi sebagai berikut:

1.

Manajemen Investasi. Bank syariah dapat melaksanakan fungsi ini

berdasarkan kontrak

mud}a>rabah

atau kontrak perwakilan. Menurut kontrak

mud}a>rabah

, bank (dalam kapastitasnya sebagai

mud}a>rib

, yaitu pihak yang

melaksanakan investasi dana dari pihak lain) menerima persentase

7

UU RI No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Pasal 1 Ayat 2. 8

(24)

keuntungan hanya dalam kasus untung. Dalam hal terjadi kerugian,

sepenuhnya menjadi resiko penyedia dana (

s}ah}ib al ma>l

), sementara bank

tidak ikut menanggungnya.

2.

Investasi. Bank syariah menginvestasikan dana yang ditempatkan pada

dunia usaha (baik dana modal maupun dana rekening investasi) dengan

menggunakan alat-alat investasi yang konsisten dengan syariah. Rekening

investasi dapat dibagi menjadi tidak terbatas (

unrestricted

mud}a>rabah

) atau

terbatas (

restricted

mud}a>rabah

).

3.

Jasa-jasa keuangan. Bank syariah dapat juga menawarkan berbagai jasa

keuangan lainnya berdasarkan upah (

fee based

) dalam sebuah kontrak

perwakilan atau penyewaan.

4.

Jasa sosial. Konsep bank syariah mengharuskan bank tersebut

melaksanakan jasa sosial, bisa melalui dana pinjaman kebijakan (

qardh

),

zakat, atau dana sosial yang sesuai yang sesuai dengan ajaran Islam. Lebih

jauh lagi, konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank Islam

memainkan peran dalam pengembangan sumber daya insani dan

menyumbang dana bagi pemeliharaan serta pengembangan lingkungan

hidup.

9

Perbankan syariah menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah

(BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

(BPRS). BPRS adalah salah satu jenis bank yang diizinkan beroperasi dengan

sistem syariah di Indonesia. Aturan hukum mengenai BPRS pertamakali diatur

9

(25)

14

dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 yang kemudian diperbarui oleh

Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI).

Dalam sistem perbankan nasional, BPRS adalah bank yang didirikan untuk

melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Sektor UMK ini yang menjadikan

BPRS berbeda pangsa pasarnya dengan Bank Umum/Bank Umum Syariah.

BPRS terfokus untuk melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang

menginginkan proses mudah, pelayanan cepat dan persyaratan ringan. BPRS

memiliki petugas yang berfungsi sebagai armada antar jemput setoran dan

penarikan tabungan/deposito termasuk setoran angsuran pembiayaan.

Pelayanan ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat UMK yang

cenderung tidak bisa meninggalkan usaha kesehariannya di pasar/toko/rumah.

Prinsip syariah dalam BPRS diberlakukan untuk transaksi pendanaan

(tabungan dan deposito) maupun pembiayaan (pinjaman). BPRS mengelola

dana masyarakat dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem bagi hasil,

masyarakat penyimpan dana akan mendapatkan bagi hasil secara fluktuasi

karena sangat bergantung kepada pendapatan yang diperoleh BPRS. Untuk itu,

perlu disepakati nisbah (porsi) di awal transaksi. Setiap tabungan maupun

deposito yang disimpan di BPRS mendapat jaminan dari Lembaga Penjamin

Simpanan (LPS), sepanjang sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga

masyarakat akan tetap merasa aman untuk menyimpan dananya di BPRS.

(26)

yang diajukan oleh masyarakat kepada BPRS. Selain itu, BPRS juga bisa

melakukan praktik pegadaian yang dikelola dengan sistem syariah.

Usaha-usaha BPRS:

1. Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk :

a. Tabungan berdasarkan prinsip

wad}i>’ah

atau

mud}a>rabah

.

b. Deposito berjangka berdasarkan prinsip

mud}a>rabah

.

2. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan

berdasarkan :

a. Prinsip jual beli (

mura>bahah, istisna’, salam

)

b. Prinsip sewa menyewa (

ija>rah

)

c. Prinsip bagi hasil (

mud}a>rabah

,

musha>rakah

)

d. Prinsip kebajikan (

qardh

)

3. Menempatkan dana dalam bentuk giro, tabungan, deposito pada bank

syariah lain.

4. Melakukan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan UU Perbankan

dan prinsip syariah.

B. Pengukuran Kinerja Perbankan Syariah

(27)

16

dan dibandingkan secara relatif dengan tujuan, standar, hasil-hasil yang lalu,

dan organisasi lain.

Pengukuran kinerja merupakan seperangkat manajemen untuk

menentukan seberapa jauh tujuan perusahaan telah tercapai, untuk

mengevaluasi kinerja bisnis, manajer, divisi, dan tiap-tiap individu dalam

perusahaan, serta memprediksi ekspektasi perusahaan di masa mendatang.

Pengukuran kinerja juga dapat diartikan sebagai tindakan pengukuran

yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada

perusahaan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan

balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu

rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian-penyesuaian

atas aktivitas perencanaan dan pengendalian. Sebelum melakukan pemilihan

ukuran-ukuran kinerja atau disebut sebagai indikator kinerja kunci (

key

performance indicators

), perlu dilakukan evaluasi sistem pengukuran agar

menjamin efektivitas sepanjang waktu. Salah satu aspek pentingnya alat ukur

kinerja perusahaan, yaitu dapat dipakai oleh pihak manajemen sebagai dasar

untuk melakukan pengambilan keputusan dan mengevaluasi kinerja

manajemen serta unit-unit yang terkait di lingkungan organisasi perusahaan.

(28)

membandingkannya dengan perusahaan lain yang menjadi tolok ukur, serta

mengevaluasi seberapa efektif keputusan yang telah diambil yang berpengaruh

terhadap bank.

10

Pengukuran kinerja perbankan syariah juga membantu Dewan

Pengawas Syariah dan regulator yang lain untuk memahami kinerja perbankan

dan untuk memastikan bahwa hanya informasi yang jelas dan transparan yang

tersedia dan digunakan. Pengukuran kinerja perbankan syariah juga membantu

para investor untuk mengidentifikasi peluang dan resiko investasi serta

memastikan bahwa pendanaan yang diambil adalah pilihan yang tepat.

Informasi yang digunakan untuk pengukuran kinerja perusahaan dibagi

menjadi dua kategori:

1.

Informasi Finansial

Pengukuran laporan finansial dinilai berdasarkan anggaran yang

telah dibuat. Pengukuran dilakukan dengan menganalisis variasi antara

kinerja aktual dan anggaran. Dalam sistem perbankan, untuk menentukan

kondisi atau kinerja suatu bank biasanya menggunakan analisis CAMELS

(

Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity, Sensitivity of Market

Risk

).

2.

Informasi Nonfinansial

Informasi nonfinansial juga bisa menjadi tolok ukur. Informasi

non-finansial dapat meningkatkan kepercayaan dalam proses manajemen

quality

control

.

10

(29)

18

Teknik pengukuran kinerja yang komprehensif yang telah

dikembangkan oleh beberapa perusahaan yang mencakup baik informasi

finansial maupun nonfinansial adalah

Balance Scorecard

yang meliputi

empat aspek, yaitu perspektif finansial, kepuasan pelanggan, efisiensi proses

internal, serta pembelajaran dan perkembangan.

11

C. Konsep Dasar

M

Maqa

M

M

aqa

aqa>>>>ssss}}}}id

aqa

id

id

id al

al----Sh

al

al

Sh

Sh

Shari

ari

ari

ari>’>’>’>’ah

ah

ah

ah

1. Pengertian

M

M

Maqa

M

aqa

aqa>>>>ssss}}}}id

aqa

id

id al

id

al----Sh

al

al

Sh

Shari

Sh

ari

ari>’>’>’>’ah

ari

ah

ah

ah

Secara etimologi

maqa>s}id al-shari>’ah

terdiri dari dua kata, yaitu

maqa>s}id

dan

shari>’ah

.

Maqa>s}id

adalah bentuk jamak dari

maqs}ud

yang

berarti kesengajaan atau tujuan. Adapun

shari>’ah

artinya jalan menuju air

atau sumber kehidupan.

Sedangkan secara terminologi, pengertian

maqa>s}id al-shari>’ah

yang

dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain:

a.

Al-Ghaza>li>

Penjagaan terhadap maksud dan tujuan syariah adalah upaya mendasar

untuk bertahan hidup, menahan faktor-faktor kerusakan, dan mendorong

terjadinya kesejahteraan.

12

b.

Al-Sha>t}ibi>

Maqa>s}id

terbagi menjadi dua: yang pertama, berkaitan dengan maksud

Tuhan selaku pembuat

shari>’ah

dan yang ke dua, berkaitan dengan

maksud

mukallaf

.

13

11

Antonio, “An Analysis of Islamic Banking...”, 14.

12Al-Ghaza>li, S}ifa> al-Ghali>l (Baghdad: Mat}ba’ah al-Irs}a>d, 1971), 159.

(30)

c.

Al-Fa>si>

Maqa>s}id al-shari>’ah

merupakan tujuan pokok

shari>’ah

dan rahasia dari

setiap hukum yang ditetapkan oleh Tuhan.

d.

Al-Raysu>ni>

Maqa>s}id al-shari>’ah

merupakan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh

shari>’ah

untuk dicapai demi kemaslahatan manusia.

14

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa

maqa>s}id

al-shari>’ah

merupakan tujuan dibalik ditetapkannya hukum atau aturan dalam

agama Islam.

Shari>’ah

merupakan suatu sistem etika dan nilai-nilai moral

yang melingkupi semua aspek kehidupan (seperti sosial, politik, dan

ekonomi. Karena syariah ditujukan untuk seluruh umat, maka dasar

maqa>s}id

al-shari>’ah

adalah untuk mencapai kemaslahatan (

mas}lah}ah

)

dan

menghindari kerusakan (

mafsadah

).

2. Kerangka

M

M

Maqa

M

aqa

aqa

aqa>>>>ssss}}}}id

id

id al

id

al----Sh

al

al

Sh

Shari

Sh

ari

ari

ari>’>’>’>’ah

ah

ah

ah

Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dan menjauhi kerusakan,

para ahli

us}u>l fiqh

membagi

maqa>s}id al-shari>’ah

dalam tiga level kebutuhan,

yaitu kebutuhan

d}aru>riyya>t

,

h}ajiyya>t

, dan

tah}si>niyya>t

. Oleh

al-Ghaza>li>

,

d}aru>riyya>t

diklasifikasikan ke dalam lima unsur pokok, dengan mengatakan:

“Tujuan utama syariah adalah untuk mendorong kesejahteraan

manusia, yang terletak pada perlindungan terhadap keimanan (

di>n

),

jiwa (

nafs

), akal (

aql

), keturunan (

nas}l

), dan harta (

ma>l

) mereka. Apa

saja yang menjamin terlindunginya lima perkara ini berarti

memenuhi kepentingan publik dan itu dianjurkan, dan apa saja yang

14Ah}mad al-Raysu>ni, Nadhariyah al-Maqas}id Inda al-Ima>m al-Sha>t}ibi>

(31)

20

menciderai lima perkara ini berarti melawan kepentingan publik, dan

membuangnya itu dianjurkan.”

15

Dengan demikian,

al-Ghaza>li> menekankan penjagaan terhadap lima

maqa>s}id

,

yaitu penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta

benda. Beberapa ahli menambahkan unsur ke enam, yaitu penjagaan

[image:31.595.114.521.251.522.2]

terhadap kehormatan (Gambar 2.1).

Gambar 2.1 Hierarki Tujuan Hukum Islam16

D. Konsep Dasar

MMMMaqa

aqa

aqa

aqa>>>>ssss}}}}id

id

id

id al

al----Sh

al

al

Sh

Sh

Shari

ari

ari>’>’>’>’ah Index

ari

ah Index

ah Index

ah Index

Maqa>s}id al-shari>’ah

adalah tujuan ditetapkannya hukum Islam. Secara

umum, semua ahli sependapat bahwa tujuan ditetapkannya hukum Islam adalah

untuk meraih kebaikan (

promote welfare

/

jalb al-mas}a>lih}

) dan menghindari

keburukan (

avoid vices/

dar al-mafa>sid

).

Namun terdapat perbedaan pendapat tentang tujuan khusus dari

ditetapkannya hukum Islam. Misalnya,

Ibn A>s}u>r

menyebutkan bahwa tujuan

15

Mohammad Abu Hurayra, “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”, Global Journals Inc. (USA), Vol. 15, Issue 1, Version 1 (2015), 10.

16

Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems Approach (London: The International Institute of Islamic Thought, 2007), 2.

Tujuan Hukum Islam (Level Kebutuhan)

Kebutuhan pokok (d}aru>riyya>t)

Kebutuhan komplementer

(h}ajiyya>t)

Kebutuhan mewah (tah}si>niyya>t)

Penjagaan

agama Jiwa Akal Keturunan

Harta Benda

(32)

khusus syariah harus mencakup penjagaan terhadap tatanan, dorongan terhadap

kesejahteraan manusia, pencegahan terhadap keburukan, penegakan keadilan,

dan pemeliharaan stabilitas dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

17

Sementara,

Al-Fa>si> memasukkan dalam klasifikasinya tujuan khusus

syariah seperti mereformasi pola pikir manusia, membangun dunia, mengatur

kebaikan untuk semua, penjagaan terhadap tatanan dan sistem kehidupan,

penegakan keadilan, dan memanfaatkan sumber daya alam.

18

Sedangkan Abu> Zahrah

menyebutkan

tiga tujuan khusus syariah yang

harus dituju, yaitu:

a.

Membersihkan manusia agar menjadi sumber kebajikan bagi kelompok dan

masyarakatnya, yaitu dengan tidak menjadi sumber kejahatan bagi mereka.

b.

Menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam, baik keadilan internal antara

mereka maupun keadilan eksternal antara mereka dengan umat-umat yang

lain. Dalam Islam, keadilan merupakan tujuan paling tinggi. Ia meliputi

wilayah yang beragam, baik dalam hukum, peradilan, pembuktian,

muamalah, maupun keadilan sosial yang memiliki lingkup yang luas.

c.

Mewujudkan kemaslahatan yang hakiki dalam semua aspek hukum. Adapun

kemaslahatan yang hakiki dikembalikan kepada lima hal, yaitu agama, jiwa,

akal, keturunan, dan harta benda.

19

Pendapat

Abu> Zahrah

inilah yang menurut Mustafa paling sesuai

dengan tujuan perbankan syariah. Sehingga Mustafa menerapkan tujuan khusus

17T}ahir Ibn A>s}u>r, Maqas}id al-Shari>’ah al-Isla>miyah (Yordan: Da>r al-Nafa>’is, 2001), 57. 18

Thuba Jazil and Syahruddin, “The Performance Measures of Selected Malaysian and Indonesian Islamic Banks Based on the Maqashid al-Shari’ah Approach”, IIUM, Vol. 7 No. 2, (Sya’ban 1434, 2013), 284.

(33)

22

syariah yang diajukan

Abu> Zahrah

ini untuk mengukur kinerja perbankan

syariah. Berdasarkan pendapat

Abu> Zahrah

, dapat disimpulkan bahwa tujuan

perbankan syariah berdasarkan

maqa>s}id al-shari>’ah

adalah:

a.

Pendidikan individu (

educating individual/

tahdhi>b al-fard

)

b.

Penegakan keadilan (

establishing justice/

iqa>mah al-‘adl

)

c.

Pencapaian kesejahteraan (

promoting welfare/jalb al-

mas}lah}ah

)

Ketiga variabel yang digagas oleh

Abu> Zahrah

tersebut merupakan

embrio

maqa>s}id al-shari>’ah index

di perbankan syariah.

Educating the

individual

pada tujuan

pertama maksudnya adalah peningkatan pengetahuan

dan keterampilan bagi tiap individu sehingga nilai spiritualnya meningkat.

Perbankan syariah harus melakukan program pendidikan dan pelatihan yang

mengedepankan nilai-nilai moral. Perbankan syariah juga harus menyediakan

informasi kepada

stakeholder

bahwa produk-produk yang ditawarkan adalah

berdasarkan syariah.

Tujuan yang kedua adalah keadilan (

justice

). Perbankan syariah harus

memastikan kejujuran dan keterbukaan pada semua transaksi dan aktivitas

bisnis. Perbankan syariah juga harus memastikan bahwa semua kontrak harus

bebas dari ketidakadilan seperti

maysir, gharar

,

dan

riba>

.

Tujuan yang ketiga

adalah kesejahteraan (

welfare

). Perbankan syariah harus mengembangkan

proyek investasi dan pelayanan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat.

(34)

untuk mendefinisikan secara operasional ketiga tujuan perbankan syariah ke

dalam item-item yang terukur sehingga membentuk sebuah index pengukuran

yang disebut

maqa>s}id al-shari>’ah index

.

E. Penelitian Terdahulu

Evaluasi kinerja perbankan syariah dengan

maqa>s}id al-shari>’ah index

pertamakali dilakukan oleh Mustafa Omar Mohammed, dkk. (2008) melalui

sebuah penelitian yang berjudul “

The Performance Measures of Islamic

Banking Based on the Maqashid Framework”

. Konsep

maqa>s}id al-shari>’ah

index

dikembangkan dengan metode SA

W (

The Simple Additive Weighting

).

Ada enam perbankan syariah yang diambil sebagai sampel, yaitu Bank

Muamalat Malaysia, Islamic Bank Bangladesh, Bank Syariah Mandiri

(Indonesia), Bahrain Islamic Bank, Islamic International Arab Bank (Jordan),

dan Sudanese Islamic Bank (Sudan). Keenam perbankan syariah tersebut

diteliti dalam periode 2000-2005.

(35)

24

Berdasarkan ranking, didapatkan bahwa IIABJ Jordan menduduki peringkat

pertama, disusul oleh BSM Indonesia, Bahrain Islamic Bank, Islamic Bank

Bangladesh, Bank Muamalat Malaysia, dan terakhir Sudanese Islamic Bank.

20

Di penelitian lain yang berjudul “

Testing the Performance Measured

Based on Maqashid al-Shariah (PMMS) Model on 24 Selected Islamic and

Conventional Banks

”, Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib

(2009) menganalisis kinerja perbankan syariah selama periode 2000-2005 dan

membandingkannya dengan perbankan konvensional. Metode analisis yang

digunakan adalah

Mann-Withney U-Test

dan SAW (

The Simple Additive

Weighting

). Terdapat dua model yang digunakan, pertama yaitu PMMS yang

terdiri dari 10 rasio dengan variabel yang mengacu pada teori

maqa>s}id

al-shari>’ah

Abu> Zahrah

sebagaimana disebutkan sebelumnya. Model kedua yaitu

model CBPM, yang terdiri dari tiga rasio keuangan, yaitu

Return on Assets

(ROA),

Net Interest Income

(NII), dan

Liquidity

(LIQ).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perbankan syariah yang

diukur dengan model PMMS untuk variabel

maqa>s}id al-shari>’ah

menduduki

peringkat yang lebih tinggi daripada perbankan konvensional. Sedangkan

untuk model CBPM, kinerja perbankan syariah untuk variabel ROA dan NII

lebih rendah daripada perbankan konvensional. Namun, kinerja perbankan

syariah untuk variabel LIQ lebih tinggi daripada perbankan konvensional.

Dengan kata lain, perbankan syariah memiliki rasio likuiditas yang lebih tinggi

daripada perbankan konvensional.

21

20

Mustafa Omar Mohammed, “The Performance Measures...”, 6. 21

(36)

Penelitian yang mengevaluasi kinerja perbankan syariah dengan

menggunakan pendekatan

maqa>s}id al-shari>’ah index

dan SAW

(Simple

Additive Weighting

) juga dilakukan oleh Muhammad Syafii Antonio, dkk.

(2012) melalui penelitian yang berjudul “

An Analysis of Islamic Banking

Performance: Maqashid Index Implementation in Indonesia and Jordania

yang dilakukan dalam periode 2008-2010. Penelitian Antonio menggunakan

empat perbankan syariah sebagai sampel, dua bank berasal dari Indonesia yaitu

BSM (Bank Syariah Mandiri) dan BMI (Bank Muamalat Indonesia), serta dua

bank berasal dari Jordania yaitu IIABJ (Islamic International Arab Bank

Jordan) dan JIB (Jordan Islamic Bank).

Dari sepuluh rasio yang menjadi indikator kinerja, Antonio dkk. hanya

menggunakan 8 rasio dalam penelitian mereka. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa perbankan syariah di Indonesia dan Jordania memiliki kinerja yang

berbeda. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada satu bank pun

yang memiliki nilai tinggi pada semua indikator kinerja yang berdasarkan

konsep

maqa>s}id al-shari>’ah

.

Walaupun demikian, BMI menunjukkan nilai yang

paling tinggi dibandingkan ketiga bank lainnya.

22

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Thuba Jazil dan Syahruddin

(2013) dalam penelitian yang berjudul “

The Performance Measures of Selected

Malaysian and Indonesian Islamic Banks Based on the Maqashid al-Shariah

Approach

”. Penelitian Thuba Jazil menggunakan pendekatan PMMS, dengan

sampel tiga bank Islam di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI),

Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank Mega Syariah (BMS) serta tiga bank

22

(37)

26

Islam di Malaysia yaitu RHB Islamic Bank, CIMB Islamic Bank, dan Bank

Islam Malaysia selama periode 2007-2011.

Berdasarkan

maqa>s}id al-shari>’ah index

, BMI menduduki kinerja yang

paling baik. Sedangkan kinerja terendah adalah CIMB Islamic Bank. Namun

demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada satu bank pun

yang memiliki nilai tinggi pada semua indikator kinerja. Dengan demikian,

perbankan syariah harus didorong untuk meninjau kembali tujuan dan ukuran

kinerja mereka agar sesuai dengan konsep

maqa>s}id al-shari>’ah

.

23

Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

terletak pada objek dan periode penelitian. Penelitian ini menganalisis kinerja

PT BPRS Jabal Nur sebagai objek penelitan. Sedangkan periode penelitian

dilakukan dalam kurun 2010-2014. Model

maqa>s}id al-shari>’ah index

yang

digunakan seluruhnya mengadopsi model

maqa>s}id al-shari>’ah index

yang

digagas oleh Mustafa.

23

(38)

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan penelitian yang berjudul “Analisis Perbankan Syariah

(Implementasi

Maqa>s}id al-Shari>’ah Index

di PT BPRS Jabal Nur)” ini adalah:

1.

Maqa>s}id al-shari>’ah

index

dapat diimplementasikan untuk mengukur kinerja

PT

BPRS

Jabal

Nur.

Namun

PT

BPRS

Jabal

Nur

tidak

mengimplementasikan semua indikator yang disebutkan dalam

maqa>s}id

al-shari>’ah index

.

Dalam

maqa>s}id al-shari>’ah index

yang pertama (

educating

individual

), PT BPRS Jabal Nur hanya menjalankan indikator subsidi

pendidikan & pelatihan serta publikasi, sedangkan indikator penelitian tidak

dijalankan. Dalam

maqa>s}id al-shari>’ah index

yang ke dua (

establishing

justice

), PT BPRS Jabal Nur menjalankan semua indikator

maqa>s}id

al-shari>’ah index

, yaitu pengembalian/pembagian secara adil, distribusi

fungsional, dan produk bebas bunga. Sedangkan dalam

maqa>s}id al-shari>’ah

index

yang ke tiga (

promoting welfare

), PT BPRS Jabal Nur hanya

menjalankan indikator profitabilitas atau rasio laba dan redistribusi

pendapatan atau rasio zakat, sedangkan indikator investasi di sektor riil

tidak disebutkan. Kendala dalam mengimplementasikan

maqa>s}id al-shari>’ah

index

untuk mengukur kinerja PT BPRS Jabal Nur adalah adanya faktor

(39)

96

2.

Nilai

maqa>s}id al-shari>’ah

yang dicapai PT BPRS Jabal Nur bersifat

fluktuatif. Pada tahun 2010, nilai

maqa>s}id al-shari>’ah index

PT BPRS Jabal

Nur mencapai 0.28301. Perolehan ini meningkat pada tahun 2011 menjadi

0.30293. Perolehan ini juga terus meningkat pada tahun 2012 menjadi

0.31376. Namun pada tahun 2013, nilai

maqa>s}id al-shari>’ah index

PT BPRS

Jabal Nur mengalami penurunan hingga mencapai 0.30309. Perolehan ini

juga menurun pada tahun 2014 menjadi 0.30255. Sedangkan nilai rata-rata

maqa>s}id al-shari>’ah index

PT BPRS Jabal Nur pada tahun penelitian 2010 –

2014 adalah sebesar 0.30107. Nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan

dengan nilai

maqa>s}id al-shari>’ah index

yang dicapai oleh Bank Syariah

Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia yang dilakukan oleh peneliti

sebelumnya.

B. Rekomendasi

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada penelitian ini, terdapat

beberapa hal yang perlu direkomendasikan oleh peneliti, yaitu:

(40)

2.

Untuk mendukung ketersediaan data dalam penghitungan dan pengukuran

maqa>s}id al-shari>’ah index

, tiap praktisi di industri perbankan syariah

diharapkan menyiapkan laporan yang menyajikan data yang berhubungan

dengan indikator-indikator dalam

maqa>s}id al-shari>’ah index

.

3.

Untuk penelitian lebih lanjut, diharapkan dapat meningkatkan kualitas

penelitian ini dengan menambah objek penelitian serta menggunakan data

yang lengkap sesuai dengan indikator-indikator

maqa>s}id al-shari>’ah index

.

Penambahan data primer melalui pembagian kuesioner pada atasan,

karyawan, dan nasabah juga dapat meningkatkan kualitas penelitian ini.

C.

Keterbatasan Penelitian

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

1.

Objek yang digunakan dalam penelitian hanya satu, yaitu PT BPRS Jabal

Nur.

(41)

98

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Nurul Muammar.

Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap

Kemampuan Zakat Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah.

Semarang: IAIN Walisongo, 2010.

Ah}mad al-Raysu>ni.

Nadhariyah al-Maqas}id Inda al-Ima>m al-Sha>t}ibi>.

Beirut:

al-Ma’had al-‘A>li> li al-Fikr al-Isla>mi>, t.th.

Ahmed Mohamed Badreldin. “Measuring the Performance of Islamic Banks by

Adapting Conventional Ratios”. German University in Cairo Working

Paper, No. 16, October 2009.

Arif Pujiyono. “Posisi dan Prospek Bank Syariah dalam Dunia Usaha Perbankan”.

Jurnal Dinamika Pembangunan, Vol. 1 No 1, Juli, 2004.

Bambang Rianto Rustam.

Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia

.

Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013.

Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa Dewan Syariah Nasional No.

87/DSN-MUI/XII/2010 tentang Metode Perataan Penghasilan (

Income Smoothing

)

Dana Pihak Ketiga.

Erlinda Ragawanti, Bambang Swasto S., dan Arik Prasetya. “Pengaruh

On the Job

Training

dan

Off the Job Training

terhadap Kinerja Karyawan”. Jurnal

Administrasi Bisnis, Vol. 8 No. 2, 2014.

Ezry Fahmy Eddy Yusof, et.al..

Islamic Finance: Debt Versus Equity Financing

in the Light of Maqasid al-Shari’ah.

IIUM, MPRA Paper No. 20722,

February 2010.

(al) Ghaza>li.

S}ifa> al-Ghali>l.

Baghdad: Mat}ba’ah al-Irs}a>d, 1971.

Ikatan Bankir Indonesia.

Memahami Bisnis Bank Syariah.

Jakarta: PT Gramedia

Pustaka, 2014.

Imam Wahyudi, dkk.

Manajemen Risiko Bank Islam.

Jakarta: Salemba Empat,

2013.

Jasser Auda.

Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems

Approach.

London: The International Institute of Islamic Thought, 2007.

Khusnul Fauziah dan Prabowo Yudho J. “Analisis Pengungkapan Tanggungjawab

(42)

M. Houssem.

Shari’a-Based Ethical Performance Measurement Framework

.

Universite Paris, Chair for Ethics and Financial Norms, 2012.

Mohammad Abu Hurayra. “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic

Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”.

Global

Journals Inc. (USA)

, Vol. 15, Issue 1, Version 1 2015.

Muh}ammad Abu> Zahrah.

Us}ul al-Fiqh.

Kairo: Da>r al-Fikr al A>rabi, t.th.

Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq. “An

Analysis

of

Islamic

Banking

Performance:

Maqashid

Index

Implementation in Indonesia and Jordania”. Journal of Islamic Finance,

Vol. 1 No. 1, 2012.

Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib.

Testing the Performance

Measured Based on Maqashid al-Shariah Model on 24 Selected Islamic

and Conventional Banks.

Malaysia: IIUM, 2009.

_____, Dzuljastri Abdul Razak, dan Fauziah Md. Taib.

The Performance

Measures of Islamic Banking Based on the Maqasid Framework.

Malaysia: IIUM, 2008.

Otoritas Jasa Keuangan.

Statistik Perbankan Syariah

Juni 2015.

Jakarta: OJK,

2015.

Shahul Hameed, et.al..

Alternative Disclosure & Performance Measures for

Islamic Banks

. Malaysia: IIUM, 2004.

(al) Sha>t}ibi.

Al-Muwa>faqa>t fi Us}ul al-Shari>’ah.

Beirut: Da>r al-Ma’rifah, t.th.

Sheila Nu Nu Htay & Syed Ahmed Salman. “Practice of Profit Equalization

Reserve and Investment Risk Reserve by Islamic Banks”. International

Journal of Research in Social Sciences, Vol. 2 No.2, June 2013.

Sri Hermuningsih. “Pengaruh Profitabilitas,

Growth Opportunity

, Struktur Modal

terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia”.

Buletin

Ekonomi Moneter dan Perbankan,

Oktober, 2013.

Siti Manisah Ngalim dan Abdul Ghafar Ismail. “An Islamic Vision Development

Based Indicators in Analysing the Islamic Banks Performance: Evidence

from Malaysia, Indonesia, and Selected GCC Countries”. IRTI Working

Paper, No. 02, 2014.

T}ahir Ibn A>s}u>r.

Maqas}id al-Shari>’ah al-Isla>miyah

. Yordan: Da>r al-Nafa>’is, 2001.

(43)

98

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Nurul Muammar.

Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap

Kemampuan Zakat Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah.

Semarang: IAIN Walisongo, 2010.

Ah}

mad al-Raysu>

ni.

Nadhariyah al-Maqas}

id Inda al-Ima>

m al-Sha>

t}

ibi>

. Beirut:

al-Ma’had al-‘A>

li>

li

al-Fikr al-Isla>

mi>

, t.th.

Ahmed Mohamed Badreldin. “Measuring the Performance of Islamic Banks by

Adapting Conventional Ratios”. German University in Cairo Working

Paper, No. 16, October 2009.

Arif Pujiyono. “Posisi dan Prospek Bank Syariah dalam Dunia Usaha Perbankan”.

Jurnal Dinamika Pembangunan, Vol. 1 No 1, Juli, 2004.

Bambang Rianto Rustam.

Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia

.

Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013.

Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa Dewan Syariah Nasional No.

87/DSN-MUI/XII/2010 tentang Metode Perataan Penghasilan (

Income Smoothing

)

Dana Pihak Ketiga.

Erlinda Ragawanti, Bambang Swasto S., dan Arik Prasetya. “Pengaruh

On the Job

Training

dan

Off the Job Training

terhadap Kinerja Karyawan”. Jurnal

Administrasi Bisnis, Vol. 8 No. 2, 2014.

Ezry Fahmy Eddy Yusof, et.al..

Islamic Finance: Debt Versus Equity Financing

in the Light of Maqasid al-Shari’ah.

IIUM, MPRA Paper No. 20722,

February 2010.

(al) Ghaza>

li. S}

ifa>

al-Ghali>

l. Baghdad: Mat}

ba’ah al-Irs}

a>

d, 1971.

Ikatan Bankir Indonesia.

Memahami Bisnis Bank Syariah.

Jakarta: PT Gramedia

Pustaka, 2014.

Imam Wahyudi, dkk.

Manajemen Risiko Bank Islam.

Jakarta: Salemba Empat,

2013.

Jasser Auda.

Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law-A Systems

Approach.

London: The International Institute of Islamic Thought, 2007.

Khusnul Fauziah dan Prabowo Yudho J. “Analisis Pengungkapan Tanggungjawab

(44)

M. Houssem.

Shari’a-Based Ethical Performance Measurement Framework

.

Universite Paris, Chair for Ethics and Financial Norms, 2012.

Mohammad Abu Hurayra. “Achievement of Maqasid-al-Shari’ah in Islamic

Banking: An Evaluation of Islami Bank Bangladesh Limited”.

Global

Journals Inc. (USA)

, Vol. 15, Issue 1, Version 1 2015.

Muh}

ammad Abu>

Zahrah. Us}

ul

al-Fiqh. Kairo: Da>

r al-Fikr al A>

rabi, t.th.

Muhammad Syafii Antonio, Yulizar D. Sanrego, dan Muhammad Taufiq. “An

Analysis of Islamic Banking Performance: Maqashid Index

Implementation in Indonesia and Jordania”. Journal of Islamic Finance,

Vol. 1 No. 1, 2012.

Mustafa Omar Mohammed dan Fauziah Md. Taib.

Testing the Performance

Measured Based on Maqashid al-Shariah Model on 24 Selected Islamic

and Conventional Banks.

Malaysia: IIUM, 2009.

_____, Dzuljastri Abdul Razak, dan Fauziah Md. Taib.

The Performance

Measures of Islamic Banking Based on the Maqasid Framework.

Malaysia: IIUM, 2008.

Otoritas Jasa Keuangan.

Statistik Perbankan Syariah

Juni 2015.

Jakarta: OJK,

2015.

Shahul Hameed, et.al..

Alternative Disclosure & Performance Measures for

Islamic Banks

. Malaysia: IIUM, 2004.

(al) Sha>

t}

ibi. Al-Muwa>

faqa>

t fi Us}

ul al-Shari>

’ah. Beirut: Da>

r al-Ma’rifah, t.th.

Sheila Nu Nu Htay & Syed Ahmed Salman. “Practice of Profit Equalization

Reserve and Investment Risk Reserve by Islamic Banks”. International

Journal of Research in Social Sciences, Vol. 2 No.2, June 2013.

Sri Hermuningsih. “Pengaruh Profitabilitas,

Growth Opportunity

, Struktur Modal

terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia”.

Buletin

Ekonomi Moneter dan Perbankan,

Oktober, 2013.

Siti Manisah Ngalim dan Abdul Ghafar Ismail. “An Islamic Vision Development

Based Indicators in Analysing the Islamic Banks Performance: Evidence

from Malaysia, Indonesia, and Selected GCC Countries”. IRTI Working

Paper, No. 02, 2014.

T}

ahir Ibn A>

s}

u>

r. Maqas}

id al-Shari>

’ah al-Isla>

miyah. Yordan: Da>

r al-Nafa>

’is, 2001.

Thuba Jazil and Syahruddin. “The Performance Measures of Selected Malaysian

Gambar

Tabel 1.1 Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Per Juni 2015 2
Gambar 2.1 Hierarki Tujuan Hukum Islam16

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat yang diperoleh bagi beberapa pihak dari penelitian menegenai perbandingan kinerja keuangan perbankan konvensional dengan perbankan. syariah adalah sebagai

Pengukuran kinerja profitabiltas setiap perbankan syariah yang dihitung dengan menggunakan metode Comparative Performance Index (CPI) sedangkan pengukuran kinerja

Mengingat industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sedang tumbuh, ditambah dengan isu pengukuran kinerja sosial yang makin marak, maka penelitian ini mencoba untuk

ANALISIS GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA MAQASHID SYARIAH PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

Dalam penelitian Yusnita (2019) pengukuran kinerja bank syariah menggunakan islamicity performance index memiliki hasil bahwa nilai Profit Rating Ratio

Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menggunakan seluruh rasio kinerja yang ada dalam metode Islamicity Performance Index termasuk didalamnya penelitian

Nilai Indikator Kinerja IK Maqashid Syariah Menghitung Indikator Kinerja IK bank syariah berdasarkan masing-masing kinerja, yakni delngan cara menjumlahkan perkalian antara bobot dari

Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah, standar konsep baku pengukuran kinerja perbankan syariah berbasis maqasid syariah masih belum tersusun secara legal, serta konsep yang