A. Batasan Fisik
Wilayah Bandung Utara merupakan wilayah inti Bandung Raya Bagian Utara yang terletak di bagian Utara Kabupaten Bandung, di Utara Kota Bandung dan Kota Cimahi dengan batas-batas seperti yang telah ditetapkan dalam SK Gubernur Jawa Barat No.181.1/SK.1624-Bapp/1982 tentang Peruntukan Lahan di Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara. Batasan fisik ini antara lain:
1. Sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh garis punggung topografi yang membentang puncak-puncak Gunung Burangrang, Masigit, Gedongan, Sunda, Tangkuban Perahu dan Manglayang.
2. Sebelah Barat dan Selatan dibatasi oleh garis tinggi 750 m di atas permukaan laut (dpl).
B. Batasan Administrasi
Wilayah Bandung Utara memiliki luas total sekitar 38548,33 ha yang secara administratif berada di dalam empat wilayah administrasi kabupaten/kota yaitu Kota Cimahi terdiri dari 2 kecamatan dan 9 kelurahan, Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 7 kecamatan dan 51 desa, Kabupaten Bandung terdiri dari 2 kecamatan dan 11 dessa, serta Kota Bandung terdiri dari 10 kecamatan dan 35 kelurahan. Kecamatan dan kelurahan/desa yang termasuk dalam kawasan Bandung Utara dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 15. Kecamatan dan Kelurahan/Desa Yang Termasuk Kawasan Bandung Utara No. Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (jiwa) Luas Wilayah (ha) Kepadatan Penduduk (Jiwa/ha) (1) (2) (3) (4) (5)
I KAWASAN BANDUNG UTARA DI KOTA CIMAHI
1.1. Cimahi Tengah 73.901 553 134 1 Padasuka 28.413 243,67 117 2 Cimahi 10.659 76,6 139 3 Setiamanah 20.358 111,67 182 4 Karangmekar 14.471 120,73 120 1.2. Cimahi Utara 114.838 1.348 85 5 Cipageran 32.512 571,25 57 6 Citeureup 23.932 325,62 73 7 Cibabat 42.756 309,68 138 8 Pasir kaliki 15.638 141,77 110
Total Kota Cimahi KBU 188.739 1.901 99
II KAWASAN BANDUNG UTARA DI KABUPATEN BANDUNG BARAT 2.1. CikaLong Wetan 12.226 1.953 6 9 Ganjarsari 5.990 1.245 5 10 Cipada 6.236 708 9 2.2. Cisarua 53.153 4.523 12 11 Cipada 4.787 689 7 12 Pasirlangu 8.138 875 9 13 Pasirhalang 4.680 163 29 14 Kertawangi 9.262 541 17 15 Jambudipa 9.524 146 65 16 Padaasih 7.252 762 10 17 Tugumukti 4.950 836 6 18 Sadangmekar 4.560 511 9
Tabel 15 (lanjutan) (1) (2) (3) (4) (5) 2.3 Ngamprah 72.381 2.347 31 19 Bojongkoneng 10.185 463 22 20 Cimanggu 5.003 611 8 21 Mekarsari 8.172 199 41 22 Cilame 16.467 376 44 23 Pakuhaji 5.354 317 17 24 Tanimulya 22.792 229 100 25 Ngamprah 4.408 151 29 2.4 Parongpong 67.529 4.465 15 26 Cihanjuang 11.864 383 31 27 Cihanjuanrahayu 6.321 184 34 28 Sariwangi 11.144 349 32 29 Ciwaruga 10.586 636 17 30 Cigugurgirang 10.212 349 32 31 Cihideung 10.792 572 19 32 Karyawangi 6.610 1.992 3 2.5 Lembang 129.869 9.207 14 33 Kayuambon 6.280 214 29 34 Lembang 13.281 322 41 35 Cikidang 5.884 693 8 36 Cikahuripan 7.457 693 11 37 Cikole 7.117 801 9 38 Gudangkahuripan 10.836 223 49 39 Jayagiri 14.834 897 17 40 Cibodas 8.348 757 11 41 Langensari 8.395 474 18 42 Mekarwangi 4.982 377 13 43 Pagerwangi 6.455 593 11 44 Sukajaya 8.021 268 30 45 Suntenjaya 6.483 1.351 5 46 Wangunsari 7.637 322 24 47 Wangunharja 6.057 839 7 48 Cibogo 7.802 384 20 2.6 Cimenyan 74.503 5.287 14 49 Cimenyan 9.760 909 11 50 Mandalamekar 4.407 207 21 51 Cikadut 6.045 399 15 52 Ciburial 8.951 822 11 53 Sindanglaya 3.999 130 31 54 Kel. Padasuka 10.080 104 97 55 Kel.Cibeunying 22.487 412 55 56 Mekarsaluyu 2.536 759 3 57 Mekarmanik 6.238 1.545 4 Total Kabupaten Bandung Barat KBU 409.661 27.781 15
Tabel 15 (lanjutan)
(1) (2) (3) (4) (5)
III KAWASAN BANDUNG UTARA DI KABUPATEN BANDUNG
3.1 Cilengkrang 31.399 2.973 11 58 Girimekar 6.982 287 24 Jatiendah 10.558 129 82 59 Melatiwangi 3.186 120 27 60 Cipanjalu 4.369 1.990 2 61 Ciporeat 3.608 260 14 62 Cicalengkrang 2.696 187 14 3.2 Cileunyi 79.681 1.294 62 Cibiru Hilir 2.075 146 14 63 Cibiru Wetan 10.689 394 27 64 Cinunuk 26.079 138 189 65 Cimekar 14.025 144 97 66 Cileunyi Kulon 13.162 149 88 67 Cileunyi Wetan 15.726 323 49 Total Kabupaten Bandung KBU 111.080 4.267 26
IV KAWASAN BANDUNG UTARA DI KOTA BANDUNG 4.1 Sukasari 60.396 628 96 68 Sarijadi 9.722 157 62 69 Sukarasa 23.229 123 189 70 Geger Kalong 22.589 168 134 71 Isola 4.856 180 27 4.2 Sukajadi 102.736 571 180 72 Sukawarna 11.120 89 125 73 Sukagalih 12.197 130 94 74 Cipedes 21.441 52 412 75 Pasteur 17.795 119 150 76 Sukabungah 17.380 49 355 77 sukaraja 22.803 132 173 4.3 Cidadap 42.967 612 70 78 Ledeng 9.085 189 48 79 Ciumbuleuit 14.482 298 49 80 Hegarmanah 19.400 126 154 4.4 Coblong 73.538 612 120 81 Dago 21.830 258 85 82 Lebaksiliwangi 3.745 100 37 83 Sekeloa 25.368 117 217 84 Lebak Gede 12.735 103 123 85 Cipaganti 9.860 34 290 4.5 Cibeunying Kaler 31.210 303 103 86 Cigadung 19.470 264 74 87 Neglasari 11740 39,19 300 4.6 Cibeunying Kidul 32.246 153 211 88 Pasir Layung 16.413 125 131 89 Sukapada 15.833 27,77 570
Tabel 15 (lanjutan) (1) (2) (3) (4) (5) 4.7 Cicadas 31.442 465 68 90 Mandalasari 16.120 205 79 91 Karang Pamulang 15.322 260 59 4.8 Arcamanik 18.855 263 72 92 Sidangjaya 18.855 263 72 4.9 Ujung Berung 24.196 460 53 93 Pasirwangi 8.641 111 78 94 Pasir Jati 8.110 123 66 95 Pasanggrahan 7.445 225 33 4.10 Cibiru 23.190 531 44 96 Cisurupan 5.795 221 26 97 Palasari 9.394 217 43 98 Pasir Biru 8.001 93 86
Total Kota Bandung KBU 440.776 4.598 96
Total KBU 1.150.256 38.547,33 30 Sumber: Dinas Tarukim Prov Jawa Barat (2004 )
C. Kondisi Fisik Dasar 1. Topografi
KBU merupakan daerah perbukitan gunung berapi dengan ketinggian 720 – 1300 m di atas permukaan laut, dengan curah hujan berkisar antara 2000 – 3000 mm per tahun. Pembagian wilayah berdasarkan ketinggian dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Luas Kawasan Bandung Utara Berdasarkan Ketinggian No. Ketinggian (m dpl) Luas (ha) Persentase (%)
1 750 – 1000 9655,26 25,05
2 1000 – 1500 23383,17 60,66
3 1500 – 2000 5509,90 14,29
Jumlah 38548,33 100
Sumber: Dinas Tarukim Prov Jawa Barat (2004 )
Kemiringan lereng perbukitan Bandung Utara bergelombang sampai terjal, dengan persen kemiringan antara 0 sampai 40 % dan semakin ke Utara akan didapati lereng yang lebih curam. Lereng yang layak untuk permukiman dan gedung
(layak bangun) sekitar 30 % dari luas wilayah KBU. Kondisi kemiringan dan luas masing-masing kemiringan dapat dilihat Tabel 17.
Tabel 17. Luas Kawasan Bandung Utara Berdasarkan Kemiringan No. Kemiringan (%) Luas (ha) Persentase (%)
1 0 – 8 5118,58 13,28 2 8 – 15 7990,79 20,73 3 15 – 25 3955,28 10,26 4 25 – 40 8413,55 21,83 5 40 13070,13 33,91 Jumlah 38548,33 100
Sumber: Dinas Tarukim Prov Jawa Barat (2004 )
2. Geologi
Batuan yang membentuk KBU terdiri dari batuan yang berasal dari kegiatan Gunung api Kuarter (G. Sunda dan G. Tangkuban Perahu), antara lain tufa, breksi gunung api, trass, endapan lahar, dan lava. Lapisan-lapisannya sering membaji, melensa dengan ketebalan masing-masing bervariasi, yang umumnya miring ke Selatan, Barat Daya, atau Tenggara dengan sudut 70 – 200 yang selanjutnya menyusup di bawah endapan danau.
Pada bagian permukaan, batuan-batuan tersebut lapuk menjadi tanah dengan ketebalan bervariasi antara 0,50 m – 4,00 m. Sifat fisik batuan bervariasi antara keras (lava dan breksi vulkanik) hingga lunak dan gembur (tanah pelapukan) dengan permeabilitas bervariasi antara 10-2 sampai 10-7 cm/detik atau dari permeabel hingga impermeabel. Adapun suatu wilayah dapat dikategorikan mempunyai sifat permeabel atau mampu menyerapkan air hujan ke dalam tanah jika nilai koefisien permeablitasnya 10-4 cm/detik. Secara lengkap kondisi geologi dan luas sebaran masing-masing jenis batuan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Luas Kawasan Bandung Utara Berdasarkan Jenis Batuan No. Jenis Batuan Luas (ha) Persentase (%)
1 2 3 4 5 6 A AE B C CE D 19650,00 2011,33 884,76 6491,54 5568,03 3942,66 50,97 5,22 2,3 16,84 14,44 10,23 Jumlah 38548,33 100 Keterangan:
A = Tufa Pasiran didominasi abu vulkanik, endapan kipas aluvial dan batuan api klasik
B = Aliran lava dominan
C = Hasil gunung api tak teruraikan D = Endapan aliran massa
E = Breksi volkanik, aliran lava dan aglomerat
AE = Tufa Pasiran didominasi abu vulkanik, endapan kipas aluvial, batuan gunung api, klastik Breksi volkanik, aliran lava dan aglomerat
CE = Hasil gunung api tak teruraikan, breksi volkanik, aliran lava dan aglomerat. Sumber: Dinas Tarukim Prov Jawa Barat (2004 )
3. Potensi Bencana Alam
Potensi bencana alam yang ada di wilayah Bandung Utara antara lain:
(1) Longsoran Tebing. Longsorang Tebing sangat potensial terjadi di sepanjang tebing-tebing sungai dan lereng-lereng terjal mengingat banyak jenis tanah yang gembur dan lepas. Beberapa kejadian longsoran yang pernah terjadi antara lain di Lembang, Dago Utara, dan G. Manglayang.
(2) Aliran Lahar. Bahaya aliran lahar yang berpotensi menimbulkan bencana bagi wilayah Bandung Utara berasal dari G. Tangkuban Perahu. Apabila terjadi letusan, diduga aliran laharnya akan memasuki Sungai Cimahi dan Sungai Cikapundung. Luas Wilayah Bandung Utara yang termasuk bahaya aliran lahar adalah sekitar 5.805,58 ha atau sekitar 15 % dari luas Wilayah Bandug Utara. (3) Erosi. Erosi dapat terjadi pada seluruh permukaan wilayah Bandung Utara
tempat yang telah mengalami erosi berat, yang diindikasikan oleh sudah tidak adanya Horizon A dari tanah, Horizon B dan C sudah tersingkap, bahkan kadang batuan dasar juga sudah mulai tampak. Erosi yang cukup potensial dan cukup besar di wilayah Bandung Utara akan menyebabkan terjadinya pendangkalan dan penyempitan Sungai Citarum, dan akhirnya menyebabkan banjir.
(4) Gempa Bumi. Sepanjang sejarah, bencana gempa bumi di wilayah Bandung Utara tidak begitu menonjol. Namun demikian tetap perlu diwaspadai mengingat dekatnya jarak gunung api (gempa vulkanik), dan terletak di wilayah aktif secara tektonik (gempa tektonbik). Tanah yang gembur dan lereng yang terjal berpotensi sebagai longsoran akibat gempa bumi.
(5) Gerakan Tanah. Di wilayah Bandung Utara terdapat zona gerakan tanah seluas 12.802,93 ha.
Dengan berbagai kemungkinan bencana seperti tersebut di atas, maka kegiatan pembangunan di wilayah Bandung Utara harus memperhatikan faktor bencana tersebut, agar suasana kehidupan aman dan tenang bagi masyarakat yang berada di kawasan tersebut dapat tercapai.
4. Hidrologi
Air Tanah
Berdasarkan hasil survei periode Mei-Agustus 1993 yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, secara umum wilayah Cekungan Bandung dibagi menjadi lima zona konsevasi air tanah, yaitu:
(1) Zona Konservasi Air Tanah I. Zona ini merupakan wilayah yang secara teknis hidrogeologis sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan pengambilan air tanah untuk semua peruntukan kecuali air minum dan air rumah tangga pada semua kedalaman. Khusus untuk keperluan industri, pengambilan baru air tanah hanya diperbolehkan dengan membuat sumur bor baru sebagai sumur pengganti. Pada zona ini kedudukan air tanah makin menurun mencapai kedalam 81 m bmt (di bawah permukaan tanah), dengan penurunan mencapai 6,61 m/tahun. Wilayah yang termasuk zona ini meliputi seluruh Kota Bandung, kecuali Kecamatan Rancasari, wilayah Kabupaten abandung meliputi Kecamatan
Dayeuh Kolot, Cimahi Selatan, Cimahi Utara, Cimahi Tengah, Margaasih dan Majalaya.
(2) Zona Konservasi Air Tanah II. Pada zona ini untuk keperluan industri disarankan menyadap cadangan air tanah pada akuifer kedalaman lebih dari 150 m bmt, dengan debit pengambilan kurang dari 150 liter/menit. Akuifer kedalaman kurang dari 150 m bmt diperlukan untuk keperluan air minum dan rumah tangga. Kedudukan muka air tanah kelompok akuifer 35 – 150 m bmt pada zona ini umumnya telah menurun berkisar antara 1,68 m hingga 7,19 m/tahun. Wilayah yang termasuk zona ini meliputi Kecamatan Rancasari, Cileunyi, Cikeruh, Rancaekek, Cicalengka, Cikancung, Ciparay, Banjaran, Pameungpeuk, Margahayu, Katapang, dan Soreang.
(3) Zona Konservasi Air Tanah III. Zona ini merupakan wilayah dengan cadangan air tanah masih dapat dikembangkan, untuk keperluan industri disarankan menyadap air tanah akuifer lebih dari 80 m bmt dengan debit pengambilan kurang dari 200 l/menit. Air tanah pada akuifer kedalaman kurang 80 m bmt diperuntukan bagi konsumsi air minum dan rumah tangga. Wilayah yang termasuk zona ini meliputi Kecamatan Bojongsoang, Ciparay, Paseh, dan Cilengkrang.
(4) Zona Konservasi Air Tanah IV. Zona ini merupakan wilayah resapan utama air tanah cekungan Bandung. Pengambila air tanah di wilayah ini dilarang pada semua kedalaman kecuali untuk keperluan air minum dan rumah tangga penduduk setempat. Wilayah yang termasuk zona ini adalah sebagian Kecamatan Cisarua, Cimahi Utara, Ngamprah, Parongpong dan Lembang.
(5) Zona Konservasi Air Tanah V. Zona ini merupakan wilayah dengan cadangan air tanah yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut baik menyadap air tanah dari akuifer dangkal maupun dalam, dengan debit kurang dari 250 l/menit. Penyadapan air tanah pada akuifer kedalaman kurang dari 60 m bmt terutama diperutukan bagi keperluan air minum dan rumah tangga. Zona ini tersebar di seluruh kecamatan.
Dari 38548,33 ha lua KBU, zona V merupakan zona Luas masing-masing zona terluas yakni 29180,84 ha (75,70%), kemudian diikuti oleh zona III dan IV seluas 7114,99 ha (18,46%, zona I seluas 1796,58 ha (4,66%) dan zona II seluas 455,92 ha (1,18%). Adapun sebaran luas zona konservasi di KBU dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Zona Konservasi Air Tanah di Kawasan Bandung Utara No. Zona Konservasi Luas (ha) Persentase (%)
1 2 3 4 Zona I Zona II
Zona III dan IV Zona V 1796,58 455,92 7114,99 29180,84 4,66 1,18 18,46 75,70 Jumlah 38548,33 100 Sumber: Dinas Tarukim Prov Jawa Barat (2004 )
Air Permukaan dan Mata Air
KBU merupakan daerah tangkapan air dan salah satu Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sebagai Sub DAS. Adapun Sub DAS tersebut berasal dari rangkaian pegunungan yang ada di KBU yang terdiri dari rangkaian pegunungan di bagian Barat yaitu Gunung Burangrang, Gunung Masigit, Gunung Gedogan, Gunung Lembungan, Gunung Wayang sampai Gunung Tangkuban Perahu; rangkaian pegunungan ke arah Timur mulai dari Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Keramat, Gunung Lingkung sampai Gunung Bukit Tunggul. Disamping itu juga berasal dari bukit-bukit yang ada di antara rangkaian pegunungan tersebut. DAS tersebut berada di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Secara rinci Sub DAS yang terdapat di KBU tersebut dapat dilihat pada Tabel 21.
Mata air adalah air tanah yang tertekan keluar yang menjadi air permukaan. Kualitas mata air pada umumnya masih baik, belum terpengaruh oleh bahan-bahan yang berbahya. Di KBU mata air pertama (bagian paling Utara) muncul di daerah Utara Cisarua dengan debit lebih dari 40 liter/detik. Mata air berikutnya muncul di daerah sekitar Lembang sampai Dago. Di daerah ini mata air dimanfaatkan
seluruhnya untuk irigasi sehingga tidak ada limpasan. Berdasarkan data dari PDAM Kabupaten Bandung sampai saat ini telah tercatat jumlah mata air yang ada di KBU sebanyak 175 mata air dengan total debit 6115 liter/detik. Sedangkan menurut data dari DPU Cipta Karya Jabar mata air yang terdapat di KBUsekitar 49 buah dengan debit kurang dari 5 l/detik ada 29 buah, 5 – 20 l/detik ada 18 buah, dan 2 buah ber debit lebih besar dari 20 l/detik.
Tabel 20. Luas Sub DAS Hulu Citarum di Kawasan Bandung Utara Berdasarkan Wilayah Administrasi dan Status Kawasan Hutan
No. Sub DAS
Hulu Sungai dan Ketinggian (m) dpl Kab/ Kota Luas DAS Kawasan Hutan Luar Kawasan
Hutan Total Luas
ha % ha % ha % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1. Cimahi Rangkaian Pegunungan Sebelah Barat: Gunung Burangrang, G. Masigit, G.Gedogan, G.Lembungan dan G.Tangkuban Perahu (750 – 2000) Kota Cimahi 1680 35 3120 65 4800 100 2. Cibeureum Rangkaian Pegunungan Sebelah Barat: Gunung Burangrang, G. Masigit, G.Gedogan, G.Lembungan dan G.Tangkuban Perahu (750 – 2000) Kab. Bandung 950 8,1 10770 91.9 11720 100
Tabel 20 (lanjutan) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 3. Cikapun-dung Rangkaian Pegunungan Sebelah Timur: Gunung Tangkuban Perahu, G. Keramat, G. Lingkung, dan G. Bukit Tunggul (1100 – 2100) Kab. Bandung Kota Bandung Kab. Subang Kab.Su-medang 3574 53 57 186 9,3 0,1 0,1 0,5 23411 11.299 0 0 60,7 29,3 0 0 26985 11.352 57 186 70,0 29,4 0,1 0,5 Jumlah 3870 9,8 34710 90,0 38580 100 4. Cidurian Drainase bukit kecil Kab. Bandung 150 2,90 5030 97,10 5180 100 5. Cikeruh Drainase bukit kecil Kab. Su-medang 4180 22,8 2 14140 77,18 18320 100 Sumber: PT Perhutani ( 2002 ) 5. Ekosistem
KBU yang meliputi wilayah seluas 38.548 ha, bukan merupakan wilayah yang homogen. Ada karakter dan fungsi yang beranekaragam, karena itu tidak cukup dikelola dengan satu kaidah. Perlu ada pembedaan dan pembagian ruang menurut karakter dan fungsinya berdasarkan kaidah masing-masing. Berdasarkan hal tersebut, keseluruhan KBU dibedakan dalam beberapa mintakat (zoning), guna memperjelas dan mempertajam permasalahan, serta guna menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing mintakat tersebut.
KBU dibedakan dalam lima mintakat yang didasarkan pada (1) karakter morfologinya, (2) sifat tanah dan batuan, dan (3) fungsi dan perannya terhadap tata air di kawasan bahawannya. Adapun kelima mintakat tersebut adalah:
(1) Mintakat Cekungan Lembang. Sebagian mintakat ini lerengnya kecil. Hasil endapan Gunung Tangkuban Perahu yang subur, peresapan relatif tinggi, hulu daerah aliran sungai Cikapundung, dipisahkan dengan cekungan Bandung oleh patah Lembang dan deretan Gunung Lembang sampai Gunung Manglayang, di
sebelah Timur dibatasi oleh Bukit Tunggul. Mintakat ini mempunyai hubungan tata air dengan cekungan Bandung diduga hanya melalui sungai Cikapundung. Oleh adanya patahan dan batuan tua G Sunda yang memisahkannya dengan cekungan Bandung, banyak yang berpendapat resapan pada cekungan Lembang ini tidak mencapai cekungan Bandung. Adapula yang berpendapat bahwa air yang meresap tersebut menerobos di bawah atau di celah-celah batuan tua Gunung Sunda. Produktivitas pertanian di mintakat ini cukup tinggi.
(2) Mintakat Manglayang. Mitakat ini merupakan wilayah di puncak Gunung Manglayang ke arah kakinya di sebelah Barat dan Selatan. Berbukit-bukit, tidak terlalu subur, dan peresapan relatif rendah. Mempunyai keterkaitan tata air dengan kawasan bawahnya terutama melalui air permukaan. Produktivitas pertanian tidak terlalu tinggi.
(3) Mintakat Pakar-Ciburial. Terletak di sebelah Selatan patahan Lembang bagian Timur, di Selatan bukit yang membujur dari Bukit Jarian sampai Gunung Lembang. Ini merupakan daerah berbukit, tingkat resapan rendah, produktivitas pertanian rendah, erosi tinggi. Hubungan tata air dengan kawasan bawahnya terutama melalui air permukaan. Sumber air juga terbatas karena hanya beras; dari perbukitan dengan resapan yang rendah.
(4) Mintakat Tangkuban Perahu. Meliputi keseluruhan aluvial yang berasal dari endapan vulkanik Tangkubanperahu. Merupakan lereng-lereng panjang, subur dengan tingkat resapan yang relatif tinggi. Mintakat ini mempunyai hubungan tata air dengan kawasan bawahnya yaitu Bandung dan Cimahi melalui peresapan mapun permukaan. Produktivitas pertanian tinggi, tetapi invasi permukiman pada kawasan ini juga tinggi. Kondisi morfologinya memungkinkan dapat dilakukan pembangunan dengan skala relatif besar.
(5) Mintakat Burangrang. Merupakan kawasan dari puncak sampai kaki Gunung Burangrang. Sedikit berbukit, bagian atasnya (pada elevasi 900 m ke atas) merupakan daerah dengan produktivitas yang tinggi. Peresapan diduga cukup tinggi. Karena itu dengan daerah bawahnya (Padalarang) mempunyai hubungan tata air melalui air permukaan dan diduga melalui resapan.
D. Kondisi Penggunaan Lahan
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No. 181.1/SK.1624-Bapp/1982 tertanggal 3 Nopember 1982 tentang “Peruntukan Lahan di Wilayah Inti Bandung Raya bagian Utara”, nampak bahwa KBU diarahkan pada pengembangan pertanian tanaman keras (kina, karet, kebun buah-buahan) dengan mempertahankan fungsi hutan yang ada. Secara rinci arahan penggunaan lahan di KBU dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Distribusi Penggunaan Lahan di Kawasan Bandung Utara
Penggunaan Lahan Luas (ha) Persen (%)
Hutan PPA Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Produksi/Perkebunan Perkebunan/Kebun Campuran Kebun Campuran Kebun Campuran/Hortikultura Hortikultura
Aneka Pertanian dan Non Pertanian
55,62 14.725,44 6.384,69 5.314,49 6.266,10 615,82 17,2 1.090,40 4.078,59 0,14 38,2 16,56 13,79 16,26 1,6 0,04 2,83 10,58 Jumlah 38.548,35 100
Sumber: Dinas Tarukim Provinsi Jawa Barat, 2004
Dari data pada Tabel 21 tersebut, arahan penggunaan lahan di KBU diperuntukan bagi hutan baik itu PPA, hutan lindung maupun hutan produksi seluas 25.480,24 ha (68,69 %), dan peruntukan lahan untuk pertanian tanaman keras dan hortikultura seluas 7.989,52 ha (20,73 %), dan peruntukan aneka pertanian non tanaman keras dan non pertanian, baik permukiman perkotaan maupun perdesaan serta peruntukan lainnya seluas 4.078,59 ha (10,58 %).
Berdasarkan arahan penggunaan lahan berdasarkan SK Gubernur tersebut di atas, maka pengembangan di KBU juga tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan non hutan dan non pertanian tanaman keras yakni untuk permukiman dan lingkungan khusus, seperti untuk kegiatan pariwisata, rekreasi dan ilmiah. Penggunaan lahan untuk permukiman dilakukan dengan mekanisme perijinan yang lebih ketat.
(1) Hutan
Hutan yang ada di KBU mencakup areal seluas 15.710,32 ha, terdiri dari hutan produksi tetap dan hutan terbatas seluas 12.897,1142 ha yang dikelola oleh Perhutani dan hutan Cagar Alam seluas 2.812,90 ha yang dikelola oleh PHPA. Sebagian besar hutan yang ada di KBU berada sebelah Utara dengan ketinggian lebih dari 2000 m dpl dan atau yang mempunyai kelerengan > 40 %.
Selain hutan produksi dan Cagar Alam, di KBU terdapat hutan lindung seluas 7.244,32 ha. Hutan seluas ini mengalami pengurangan dari SK Gubernur di atas seluas 7.481,12 ha. Pengurangan ini karena sebagian dikonversi menjadi Cagar Alam dan sebagian lagi dikarenakan adanya perambahan hutan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Kegiatan perambahan hutan yang dilakukan oleh penduduk dan mengubah peruntukannya menjadi ladang dan perkampungan banyak terjadi di daerah Maribaya, Cimenyan dan Cilengkrang. Perubahan fungsi lahan oleh pengembang dilakukan dengan membebaskan lahan-lahan pertanian dan perkampungan pada kawasan bawahnya. Pembebasan ini menyebabkan terjadinya pergeseran penduduk ke kawasan atasnya dengan pertimbangan harga lahan yang lebih murah. Pergeseran ini pun juga menyebabkan petani yang tergeser mendekati kawasan hutan dan mulai memanfaatkan lahan hutan untuk berbagai kegiatan perladangan, sehingga menimbulkan kerusakan hutan.
(2) Perkebunan
Kegiatan perkebunan yang ada di KBU menempati seluas 2.164 ha, tersebar di tiga mintakat (zona), yaitu:
Mintakat Burangrang yaitu berada di Kecamatan Cikalong Wetan seluas 9 55 ha dengan jenis tanaman teh dan segaian kecil kina.
Mintakat Tangkuban Perahu yaitu berada di Kecamatan Parongpong dan Kecamatan Cisarua yang menempati areal seluas seluas 236 ha dengan tanaman teh.
Mintakat Cekungan Lembang yang berada di Kecamatan Ujung Berung seluas 973 ha dengan jenis tanamn teh dan kina.
Keberadaab perkebunan teh dan kina yang dikelola PTP ini diperkirakan masih akan bertahan cukup lama, mengingat HGU kegiatan perkebunan mempunyai jangka waktu yang cukup lama yaitu 30 tahun serta merupakan pemasok hasil holtikultura dan agrowisata.
(3) Tegalan dan Kebun Campuran
Penggunaan lahan pada peruntukan tanaman keras. Ladang dan kebun campuran mengalami peningkatan dibanding dengan ketentuan SK Gubernur dari seluas 7.989,52 ha menjadi seluas 9.605,20 ha pada tahun 1997 dengan ciri sebagai lahan kering yang didominasi oleh oleh tanaman keras, terutama buah-buahan. Perubahan pola tanaman ini, disebabkan penanaman tanaman semusim pada lahan kering ini kesulitan mengalami supllai air, terutama pada saat musim kemarau.
(4) Pertanian Non Tanaman Keras
Lahan pertanian non tanaman keras di KBU menempati areal seluas 3.487,2 ha, yang terdiri dari lahan basah dan lahan kering. Kegiatan pertanian lahan basah sudah dilengkapi dengan irigasi baik irigasi teknis maupun semi teknis dengan jenis tanaman padi, sayuran dan palawija dengan sistembergilir. Sedangkan pertanian lahan kering umumnya ditanami tanaman sayuran, dan palawija dengan sistem bergilir, yang umumnya mengandalkan air hujan.
Luas lahan pertanian ini umumnya mengalami kecenderungan untuk alih fungsi menjadi daerah terbangun, baik berupa permukiman perdesaan, permukiman terorganisir (perumahan), villa, resort dan hotel. Kecenderungan ini dikarenakan lahan-lahan pertanian yang ada di KBU tidak semua dimiliki oleh penduduk setempat, tetapi juga oleh penduduk kota atau investor. Karena penduduk kota umumnya berfikir lebih rasional, maka apabila lahan pertaniannya dianggap kurang menguntungkan maka ada kecenderungan untuk diubah menjadi daerah terbangun yang lebih menguntungkan, seperti hotel, resort atau kawasan permukiman, baik dilakukan sendiri maupun dijual kepada pihak lain.
Perubahan lahan pertanian di daerah perkotaan dan pinggiran kota menjadi perumahan atau daerah terbangun lainnya merupakan sesuatu yang umum terjadi
di berbagai wilayah. Keberadaan lahan pertanian di daerah perkotaan, menempatkan posisi lahan pertanian perkotaan menjadi hal yang aneh dalam terminology pejabat, program dan pelaksanaan, sehingga penegakan hukum terhadap keamanan keberadaan lahan pertanian perkotaan menjadi tidak konsisten dengan keberadaan kebijakan dan regulasi yang tidak jelas, sikap pejabat yang kurang tegas, kontradiksi kebijakan antar instansi, sehingga dalam proses untuk mendapatkan lahan formal menjadi susah dan kekurangan koherensi atau kebijakan dan legislasi lintas sektoral (Flynn-Dapaah, 2002). Oleh karena itu, keberadaan lahan pertanian di KBU, lebih rentan terhadap pengalihan fungsi pemanfaatan lahan daripada lahan lainnya, selain karena umumnya merupakan lahan milik, juga umumnya memiliki aksesibilitas yang lebih baik, dan secara ekonomi menunjukkan produktivitas yang semakin menurun.
(5) Perumahan
Perubahan pemanfaatan lahan yang sangat mencolok selama kurun waktu mulai diberlakukannya SK Gubernur No. 181 tahun 1982 hingga tahun 1997 terjadi pada pemanfaatan untuk daerah terbangun. Perkembangannya lebih mengarah KBU menjadi daerah perkotaan yang ditandai dengan banyaknya terbangun berbagai Villa, perumahan, resor dan hotel. Kondisi ini lebih disebabkan karena sudah dikuasainya lahan-lahan pertanian oleh penduduk kota baik perorangan maupun oleh para pengembang.
Selain itu, kebutuhan pembangunan rumah tinggal yang dilakukan oleh penduduk setempat hingga tahun 1997 telah mencapai 4.222 ha yang berkembang seiring dengan perkembangan jumlah penduduknya. Pembangunan perumahan ini dikembangkan secara individu dan tumbuh secara alami membentuk perkampungan atau perdesaan. Pertumbuhan pembangunan perumahan oleh penduduk ini sulit dikendalikan oleh instansi terkait karena tanpa disertai proses perijinan yang seharusnya, dan dilakukan berdasarkan lahan yang dimilikinya.
Daerah permukiman yang tumbuh secara alami ini sebagian besar berada di wilayah mintakat Burangrang (Cikalong Wetan dan Padalarang), Mintakat
Cekungan Lembang, Mintakat Tangkuban Perahu (Cimahi, Cisarua dan Parongpong), serta Wilayah Mintakat Kota Bandung (Mintakat Ciwangi, Ciburial dan Manglayang) yang bekembang akibat desakan kebutuhan perumahan.
Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi akibat pesatnya pertumbuhan perumahan terorganisir yang dikembangkan oleh developer selama kurun waktu tahun 1986 hingga tahun 1997. Ijin lokasi yang telah dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan dan Bappeda Kabupaten Bandung sebanyak 105 ijin lokasi yang telah menempati areal seluas 3.611 ha. Dari 105 ijin lokasi tersebut 56 ijin yang meliputi 460 ha sudah selesai dibangun, 26 ijin mencakup seluas 460 ha dalam proses konstruksi dan pemasaran, sedang 23 ijin mencakup luas 2.265 ha belum dibangun. Sebagian besar lahan yang dibangun ini berada di aral pertanian tanaman keras dan non tanaman keras.
E. Kondisi Sosial Ekonomi
Berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang KBU pada tahun 1998, jumlah penduduk KBU mencapai 833.398 jiwa dengan rata-rata kepadatan penduduk 23 jiwa/ha. Kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Sukajadi (193 jiwa/ha) dan Kecamatan Cibeunying Kidul (180 jiwa/ha), sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Cikalong Wetan (6 jiwa/ha) dan Kecamatan Cilengkrang (8 jiwa/ha).
Kecenderungan pertumbuhan penduduk di KBU terus meningkat yang mana pada tahun 2010 (RUTR KBU) penduduk KBU diperkirakan akan mencapai 1.219.414 jiwa dengan kepadatan rata-rata 31 jiwa/ha. Kepadatan penduduk ini semakin meningkat terutama di Kecamatan Cimahi Utara, Padalarang dan Cimenyan dengan jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Cimenyan 181 563 jiwa dan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Padalarang yaitu 5.215 jiwa. Pertumbuhan dan peningkatan kepadatan penduduk di KBU menjadi persoalan penting berkaitan dengan perlindungan kawasan.
Penduduk KBU sebagian besar bermatapencaharian pada sektor pertanian, sedangkan sentra-sentra perekonomian (perdagangan dan distribusi hasil pertanian) berada pada simpul-simpul kota seperti Kota Lembang dan Kota Cimahi. Perkembangan perekonomian KBU maupun kondisi ekonomi masyarakat, pada saat ini dipengaruhi juga oleh perubahan pemanfaatan lahan.
F. Kondisi Jaringan Jalan
Kondisi sistem jaringan jalan di KBU dan sekitarnya menunjukkan poros Utara-Selatan yang berpotongan dengan poros Barat-Timur, diikuti bentuk radial konsentrik untuk sistema jaringan di Selatan. Hal ini diakibatkan oleh kondisi fisik wilayah yang cukup berat untuk kawasan Utara. Dari segi dimenasi jalan dan fungsi jalan, di KBU merupakan jalan arteri primer dan kolektor primer. Sementara itu di setiap perdesaan telah terbangun jalan desa yang menghubungkan antar dusun dan antar dusun, dengan demikian maka kondisi infrastruktur jalan dapat dikategorikan baik. Kemudian dengan jaringan yang cukup rapat telah membuka akses ke berbagai tempat, sehingga dari segi aksesibilitas di KBU cukup tinggi.
G. Karekteristik Biofisik Kawasan Bandung Utara
Bila melihat kondisi fisik dasar KBU yang diuraikan di atas, KBU memenuhi karakteristik daerah hulu DAS sesuai dengan karakteristik yang digolongkan Ramdan
et al (2003) yang dicirikan oleh topografi bergelombang, berbukit dan gunung; rawan
terhadap erosi (termasuk rawan bencana) dan penutupan lahan didominasi hutan. Karakteristik lain adalah tanah umumnya marginal dan pengolahan tanah masih bersifat ekstensif dan merupakan lahan kering; tidak sesuai dengan karakteristik yang ditetapkan Ramdan et al (2003) tersebut. Sedangkan dari faktor sosial ekonomi, KBU telah memiliki karakteristik daerah hilir DAS, seperti infrastruktur yang sudah baik, aksesibilitas tinggi, tingkat pendidikan penduduk tinggi, orientasi pasar, lahan banyak dimiliki pribadi, tenaga kerja upahan, tingkat kesejahteraan relatif tinggi, serta teknologi juga sudah kompleks. Secara lebih rinci keterpenuhan karakteristik biofisik
dan sosial ekonomi KBU terhadap karakteristika sebagai Bagian Hulu DAS menurut Ramdan et al (2003) dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 22. Perbandingan Karakteristik Faktor Biofisik Antara DAS di Bagian Hulu dan Hilir Menurut Ramdan et al (2003) dengan Kondisi KBU
Faktor
Karakteristik Menurut Ramdan
et al (2003) Kondisi KBU
Daerah Hilir Daerah Hulu Kondisi Kawasan Keterpenuhan
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Faktor Biofisik
Topografi Datar Bergelombang,
berbukit dan gunung
Bergelombang, berbukit dan gunung
Memiliki karakteristik Daerah Hulu Penutupan
lahan
Bukan hutan Didominasi hutan
Hutan (46,05 %), perkebunan (5,58%) dan bukan hutan dan kebun (53,95 %) Memiliki karakteristik Daerah Hulu Kesuburan tanah Umumnya subur (akibat sedimentasi) Umumnya marjinal Umumnya subur (akibat daerah vulkanik) dan merupakan daerah pertanian tanaman sayuran, padi dan palawija Memiliki karakteristik daerah hilir Pengolahan tanah Intensif dan umumnya telah beririgasi baik Bersifat ekstensif dan pertanian lahan kering Bersifat intensif, sebagian lahan basah beririgasi dan sebagian lahan kering tadah hujan
Memiliki karakteristik daerah hilir
2. Faktor Sosial Ekonomi
Infrastruktur Baik Jelek Baik dengan
memiliki jalan raya menghubungkan Kota Bandung dan Kab. Subang dan Jakarta
Memiliki karakteristik daerah hilir
Aksesibilitas Tinggi Rendah Tinggi dimana seluruh desa dapat diakses kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat
Memiliki karakteristik daerah hilir
Tingkat pendidikan
Tinggi Rendah Penduduk sebagian
besar pendidikan SLTP ke atas
Memiliki karakteristik daerah hilir
Tabel 22 (lanjutan) (1) (2) (3) (4) (5) motif produksi Berorientasi pasar
Subsisten Para petani berorientasi pasar, karena merupakan sentra-sentra sayuran di Jawa Barat Memiliki karakteristik daerah hilir kepemilika n lahan
Lahan miliki Lebih banya lahan pemerintah
Sebanyak 46,05 % merupakan lahan pemerintah berupa kawasan hutan, dan HGU Memiliki karakteristik daerah hulu budaya Adanya pencampuran budaya Jarang terjadi pencampuran budaya Telah berkembang sebagai daerah permukiman baru perluasan metropolitan Bandung, dan telah tumbuh mejadi daerah wisata, sehingga telah terjadi pencampuran budaya Memiliki karakteristik daerah hilir tenaga kerja
Upahan Berasal dari keluarga Karena sistem pertanian khususnya sayuran dilakukan secara intensif, maka tenaga kerja pertanian banyak menggunakan sistem upahan Memiliki karakteristik daerah hilir tingkat ke-sejahteraan
Relatif tingg Rendah Sebagian besar penduduk masuk kategori keluarga sejahtera 1 ke atas Memiliki karakteristik daerah hilir teknologi Sudah kompleks Masih sederhana Industri yang berkembang adalah pariwisata, pertanian on farm serta tempat berbagai fasilitas penelitian dan pendidikan Memiliki karakteristik daerah hilir keterlibat-an LSM
Sedikit Banyak Masih dominan
pemerintah
Memiliki karakteristik daerah hilir
Berdasarkan data pada Tabel 22, KBU sebagai daerah hulu DAS memenuhi karakteristik sebagai daerah hulu DAS dari faktor biofisik hanya dari aspek topografi dan penutupan lahan, sedangkan dari aspek biofisik lainnya dan faktor sosial ekonomi sebagian besar wilayah KBU sudah memiliki karakteristik daerah hilir DAS. Selain karena aspek potensi lokasi yang dimiliki KBU seperti kesuburan tanah, kesejukan udara, panorama yang indah serta aksesibilitas yang baik ke Pusat Kota Bandung; KBU telah diperlakukan sebagai daerah hilir melalui dukungan politik dan arah kebijakan Pemerintah Daerah dengan menjadikan KBU sebagai daerah perluasan pertumbuhan Metropolitan Bandung. Berdasarkan hal tersebut, maka penyelesaian masalah yang dihadapi di wilayah ini pada hakekatnya tidak hanya terbatas dalam upaya perlindungan kawasan lindung, khususnya dalam pelestarian tata air, namun juga masalah kelembagaan yang terkait dengan pengelolaan pembangunan di KBU.