• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA

LEDAK OTOT TUNGKAI

I Md Yama Ardika, I Nym Kanca, I Nym Sudarmada

Jurusan Ilmu Keolahragaan, FOK

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected], [email protected]}@undiksha.ac.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh circuit training terhadap kelincahan dan daya ledak otot tungkai. Sampel penelitian berjumlah 40 orang dari populasi 79 orang yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelincahan di ukur dengan menggunakan tes lari illinois agility dan daya ledak otot tungkai dengan tes vertical jump. Data dari kelincahan dan daya ledak otot tungkai didapatkan sebelum dan sesudah pelatihan, selanjutnya data dianalisis dengan bantuan program SPSS 16.0. Deskripsi data menunjukan terjadi peningkatan terhadap kelincahan dan daya ledak otot tungkai. Pada kelincahan kelompok perlakuan terjdai peningkatan sebesar 0,91 (pretest=19.92 dan postes=19.01) dan kelompok kontrol sebesar 0,49 (pretest=19.73 dan postes=19.27). sedangkan pada daya ledak otot tungkai terjadi peningkatan pada kelompok perlakuan sebesar 8,20 (pretest=54.55 dan postes=62.75) dan kelompok kontrol sebesar 3,75 (pretest=55.45 dan postes=59.20). Berdasarkan hasil uji t-independent variabel kelincahan diperoleh nilai signifikansi hitung lebih kecil dari nilai α (Sig < 0,05) yaitu sebesar 0,000 dan variabel daya ledak otot tungkai diperoleh nilai signifikansi hitung lebih kecil dari nilai α (Sig < 0,05) yaitu sebesar 0,00. Dengan demikian hipotesis penelitian “circuit training berpengaruh terhadap peningkatan kelincahan dan daya ledak otot tungkai” diterima. Dari hasil analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa: (1). Circuit training berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kelincahan pada siswa putra kelas X SMA Laborturium Undiksha. (2). Circuit training berpengaruh signifikan terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai pada siswa putra kelas X SMA Laborturium Undiksha. Bagi guru olahraga, pelatih, Pembina serta atlet dapat menggunakan circuit training sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kelincahan dan daya ledak otot tungkai.

Kata-kata kunci: circuit training, kelincahan, daya ledak

Abstract

This study aimed to investigated the effect on cicrcuit training agility and leg muscle power. The research sample 40 people taken from 79 population were randomly devide into two group: circuit training group and control group. Agility measured using illinois agility and leg muscle power measured using vertical jump test. Agility and leg muscle power datas were collected before and after of training and then data were analyzed with SPSS 16.0. The data description showed improvement on agility and leg muscle power component. Experimental group had increase by 0.91 (pretes is 19.92 and posttest is 19.01) on agility component, and control group had increase by 0.46 (pretes is 19.73 and posttest is 19.27) on agility component. Meanwhile for leg muscle power, the experimental group had increase by 8.20 (pretest is 54.55 and posttest is 62.75) and control group had increase by 3.75 (pretest is 55.45 and posttest is 59.20) on leg muscle power. Based on t-test result found their are effect of circuit training on afility and leg muscle power. The significant of t test: agility component sig=0.000 (Sig <0.05) and leg muscle power sig=0.000 (Sig <0.05). So then the research hypothesis “circuit training had effect on agility and power of leg muscle“ accepted. From the analysis of data and discussion is concluded that: (1). Circuit training effect the increased agility in 10th grade boys of SMA Laboratorium Undiksha. (2). Circuit training effect on the increase in power of leg muscle in 10th grade boys of SMA Laboratorium Undiksha.

(2)

2

PENDAHULUAN

Dinamika olahraga dalam masyarakat luas dengan tingkat pemahaman, jenis dan cara berlatih yang berbeda-beda sering dijumpai. Terlihat pada hari sabtu, minggu dan hari-hari libur lainya, khususnya di beberapa daerah pada setiap hari minggu pemerintah mengadakan car free day.

Di dalam peningkatan prestasi seorang atlet maka diperlukan berbagai macam pembinaan kondisi fisik. Pembinaan kondisi fisik merupakan pembinaan awal dan sebagai dasar pokok dalam mengikuti pelatihan olahraga untuk mencapai suatu prestasi.

Kelincahan dan daya ledak merupakan komponen dasar biomotor yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga. Untuk dapat mencapai penampilan prestasi yang optimal. Dalam meningkatkan kelincahan dan daya ledak program pelatihan harus dilakukan secara cermat, sistematis, teratur, dan selalu meningkat, mengikuti prinsip-prinsip serta metode latihan yang akurat.

Berdasarkan hasil observasi awal melalui wawancara dengan guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (penjasorkes) menyatakan bahwa prestasi olahraga SMA Laboratorium Undiksha Singaraja belum mampu menunjukkan prestasi dibidang olahraga secara maksimal disetiap event olahraga yang diikuti.

Terkait dengan hal itu, dicoba ditawarkan suatu bentuk pelatihan yaitu

circuit training. Circuit training yaitu

pelatihan olahraga yang terdiri dari beberapa pos yang setiap pos terdapat jenis pelatihan yang berbeda-beda yang dilakukan secara sistematis. Dengan jenis pelatihan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman menyenangkan dalam pelatihan, sehingga akan berimplikasi terhadap peningkatan kelincahan dan daya ledak serta prestasi olahraga di SMA Laboratorium Undiksha Singaraja.

Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul pengaruh circuit training terhadap

kelincahan dan daya ledak otot tungkai pada siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2014/2015. Yang selanjutnya dapat memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan kemampuan kelincahan dan daya ledak otot tungkai.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh circuit

training terhadap peningkatan

kelincahan pada siswa putra kelas X di SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2014/2015..

2. Untuk mengetahui pengaruh circuit

training terhadap peningkatan daya

ledak otot tungkai pada siswa putra kelas X di SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2014/2015.

Kajian Pustaka

Ada

berbagai

definisi

tentang

pelatihan yang diberikan oleh beberapa

ahli olahraga. Para pakar fisiologi lebih

cenderung

memberikan

definisi

dari

pelatihan

ini

sebagai

usaha

untuk

memperbaiki sistem organ atau alat tubuh

dan

fungsinya

dengan

tujuan

mengoptimalkan penampilan atau kinerja

atlet. Untuk dapat meningkatkan dan

mengembangkan latihan secara maksimal,

seorang pelatih ataupun atlet harus mampu

mengetahui

dan

memahami

tentang

pedoman prinsip-prinsip dasar pelatihan.

Brooks & Fahey, 1984, Bompa: Fox et al.,

1988: Lamb, 1984, McArdle et al.,1986

(dalam Kanca, 2004:54) prinsip dasar

program pelatihan fisik adalah sebagai

berikut: a) prinsip beban berlebih, b)

prinsip tahanan bertambah, c) prinsip

pelatihan beraturan, d) prinsip kekhususan,

e) prinsip individu, f) prinsip pulih asal, g)

prinsip periodisasi pelatihan.

Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang dirancang secara sistematis dengan mengikuti karakteristik cabang olahraga, ketersediaan waktu, dan atlet yang dibina. Suatu pelatihan akan mencapai hasil yang maksimal apabila

(3)

3

pelatihan tersebut mengikuti sistematika pelatihan. Dalam penelitian ini, intensitas pelatihan yang diberikan antara 70% - 80% DNO, Dengan pertimbangan sampel penelitian ini adalah siswa yang merupakan pemula dalam aktivitas olahraga bukan atlet yang memiliki umur berkisar 15 – 16 tahun. Dalam penelitian ini frekuensi pelatihan yang digunakan adalah 3 kali seminggu yaitu selasa, kamis, dan sabtu. Lamanya pelatihan adalah selama 4 minggu atau 12 kali pelatihan diluar dari pelaksanaan tes awal (pre – test) dan tes akhir (post–test ).

Circuit training adalah suatu

program latihan yang terdiri dari beberapa latihan di setiap pos guna melatih kondisi fisik yang dilatih secara bersamaan pada atlet tersebut. Circuit training yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan 6 pos, dimana disetiap pos terdiri dari latihan yang berpusat pada lompat dan lari. Pelatihan ini membutuhkan waktu 70-80 detik untuk menyelesaikan 1 putaran sirkuit. Kelincahan adalah kemampuan tubuh untuk berpindah tempat atau mengubah arah secara cepat dan tepat tanpa kehilangan keseimbangan. Kelincahan bukan merupakan kemampuan fisik tunggal, akan tetapi tersusun dari komponen koordinasi, power, kekuatan, kelentukan dan kecepatan” (Ismaryati, 2008:42). Daya ledak ialah kemapuan suatu otot dalam melakukan kegiatan fisik dalam waktu cepat dan atau secara tiba-tiba. Menurut Widiastuti (2011:16) “daya ledak otot merupakan gabungan antara kekuatan dan kecepatan atau pengerah gaya otot maksimum”.

Otot tungkai merupakan salah satu jaringan yang ada di dalam tubuh manusia. Tungkai adalah bagian bawah tubuh manusia yang berfungsi untuk menggerakkan tubuh, seperti berjalan, berlari, melompat. Terjadinya gerakan pada tungkai tersebut disebabkan adanya otot-otot dan tulang, otot sebagai alat gerak aktif dan tulang alat gerak pasif. otot tungkai merupakan bagian dari anggota gerak bawah (ekstrimitas inferior) yang mungkkin terjadinya gerakan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Circuit training merupakan suatu

pelatihan yang banyak melibatkan otot tungkai. Untuk merubah gerakan yang tiba-tiba dan cepat dimana tubuh terdorong ke depan sejauh-jauhnya baik dengan cara melompat atau berlari dengan mengerahkan kekuatan otot tungkai secara maksimal. Diperlukan sistem gerak yang mendukung gerakan tersebut diantaranya otot-otot rangka. Otot-otot yang terlibat diantaranya adalah otot-otot rangka bagian tungkai. Beberapa unit organ tubuh akan mengalami perubahan akibat dilakukan pelatihan. Perubahan tersebut berupa efek latihan. Efeknya pada otot terutama terjadi pada unit (saraf dan otot), sinkronisasi, pelatihan silang dan sebagainya” (Nala, 1998: 48). Pelatihan juga menyebabkan peningkatan terhadap kontrol otot fleksor dan ekstensor selama gerakan yang cepat. Dengan latihan yang teratur, maka otot rangka menjadi lebih tebal, dan elastis. Otot skeletal memiliki elastisitas yang tinggi. Ada dua jenis perubahan yang bisa diinduksi di serat otot, yaitu perubahan dalam kapasitas sintesis ATP dan perubahan diameternya. Latihan ketahanan akan meningkatkan potensi oksidatif otot, sedangkan latihan kekuatan meningkatkan diameter myofibril otot. Pertambahan panjang otot rangka biasanya dihasilkan dari penambahan sarkomer pada serat otot, terutama daerah myotendinus junction.

Energi merupakan kapasitas untuk melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan. Apabila suatu pekerjaan meningkat, energi yang digunakan juga mengalami peningkatan, dengan kata lain energi yang diperlukan akan disesuaikan terhadap keadaan dan kebutuhan.

Dalam merancang suatu program pelatihan, salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah sumber energi yang digunakan dalam aktivitas pelatihan tersebut. adenosine triphosphate (ATP) merupakan bentuk energi siap pakai yang terdapat di dalam otot, namun ketersediaannya di dalam otot sebagai bahan bakar kontraksi sangat terbatas. “Ketika sebuah phospat dipecah, ADP dan Pi akan terbagi sehingga energi berhasil diciptakan” (Bompa, 2009: 21). “Jumlah

(4)

4

total ATP yang terdapat didalam tubuh setiap saat sekitar 3 ons, jumlah ini hanya dapat menyediakan energi untuk melakukan suatu latihan maksimal beberapa detik saja” (Junusul Hairy,1989: 73). “Pada dasarnya ada dua macam sistem energi yang diperlukan dalam setiap aktivitas gerak manusia, yaitu sistem energi anaerob (tanpa melibatkan oksigen) dan sistem energi aerob (melibatkan oksigen)” (Sukadiyanto, 2005: 33).

Dalam pelatuhan ini sistem ernergi yang predominan ialah sistem ernergi anaerob, karena pelatihan ini tidak memerlukan waktu yang lama, membutuhkan energi yang cepat dan dengan intensitas sedang. Pemberian

circuit training dalam satu repetisi

diharuskan untuk melakukan semua jenis pelatihan yang telah ditentukan pada setiap posnya. Beban latihan yang diberikan di setiap pos berpusat pada otot tungkai berupa melompat dan berlari secara dilakukan secara berulang-ulang akan memberikan stress pada otot tungkai sehingga otot akan mengalami adaptasi organ tubuh. Adaptasi otot yang utama yaitu hypertrophy, bertambahnya massa otot. Hypertrophy otot disebabkan bertambahnya diameter serabut otot, sedangkan jumlah serabut otot tampaknya tidak berpengaruh terhadap latihan biasa. Perkembangan hypertrophy berhubungan dengan terjaganya jumlah peningkatan jaringan protein aktin dan miosin yang mampu mengerut. Selanjutnya, kekuatan otot bertambah melalui adaptasi sistem saraf yang memungkinkan subyek yang menggerakkan jumlah unit gerak yang membesar pada suatu waktu dari pelatihan yang diberikan serta karena bertambahnya serabut otot otomatis memperbanyak sel-sel otot, dimana didalamnya terdapat penambahan mitokondria. Maka pelatihan yang diberikan dapat menyebabkan adaptasi fisiologis terhadap otot berupa

hypertrophy otot, hyperplasia otot,

meningkatnya jumlah mitokondria, kekuatan otot meningkat, serta membaiknya kerja sistem saraf otot sehingga dapat meningkatkan kelincahan dan daya ledak otot tungkai.

“Power otot tungkai memiliki dua unsur penting, yaitu kekuatan otot dan kecepatan otot dalam mengerahkan tenaga maksimal untuk mengatasi tahanan” (Harsono, 1997). Jadi semakin besar kekuatan dan kecepatan yang dimiliki otot tungkai, maka semakin besar pula power yang dimiliki otot tungkai. Kecepatan yang dimiliki otot tungkai akibat dari pelatihan yang diberikan akan mempengaruhi kelincahan dalam melakukan gerakan.

Untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan, maka jawaban sementara yang hendak dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a)

Circuit training berpengaruh signifikan

terhadap peningkatan kelincahan pada siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha tahun pelajaran 2014/2015.

b)

Circuit training berpengaruh signifikan

terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai pada siswa putra kelas XSMA Laboratorium Undiksha tahun pelajaran 2014/2015.

METODE

Dalam penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen sungguhan, dengan rancangan Penelitian “The Randomized Pre-test Post-test

Control Group Design” (Kanca I Nyoman,

2006:73). Sampel penelitian ini adalah siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun 2014/2015 yang berjumlah 40 orang dari jumlah populasi 79 orang, kemudian diberikan pre-test untuk mengukur kelincahan dengan menggunakan instrumen tes Illinois agility dan untuk mengukur daya ledak otot tungkai dengan menggunakan instrumen tes vertical jump. Berdasarkan hasil tes dan dengan t score, sampel dibagi menjadi 2 kelompok dengan teknik ordinal

pairing yaitu Kelompok 1: kelompok

perlakuan circuit training dan kelompok 2: kelompok control (pelatihan konvensional) yaitu permainan basket. Pelatihan diberikan selama 12 kali pertemuan dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu.

(5)

5

Setelah program pelatihan selesai, maka kedua kelompok diberikan post-test yang sama dengan test awal (pre-test). Teknik analisis data untuk uji normalitas sebaran data menggunakan instrument uji

kolmogorov-smirnov dengan bantuan

komputer program SPSS 16,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05. Untuk uji homogenitas varian data menggunakan analisis uji Levene dengan bantuan komputer program SPSS 16,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05. Sedangkan untuk uji hipotesis diuji dengan instrument uji-t

independent (uji t) dengan bantuan

komputer program SPSS 16,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05. Tempat pelaksanaan dalam penelitian ini adalah Lapangan basket SMA Laboraturium Undiksha Singaraja. Penelitian dilaksanakan selama

4 minggu dengan frekuensi latihannya adalah 3 kali pertemuan dalam seminggu, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan tubuh beradaptasi terhadap beban yang diberikan dalam pelatihan ini. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data hasil penelitian kelincahan dan daya ledak otot tungkai dari data

pre-test dan post-pre-test. Data pre-pre-test diambil

pada awal kegiatan penelitian yaitu sebelum sampel penelitian diberikan perlakuan, sedangkan data post-test diambil pada akhir kegiatan penelitian yaitu setelah sampel penelitian diberikan perlakuan selama 12 kali pelatihan

Tabel 4.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian Kelincahan

Variabel data Pre-test Post-test Gain Score

Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol

Jumlah Sampel 20 20 20 20 20 20 Rata-rata 19.92 19.73 19.01 19.27 0.91 0.46 Median 20.04 19.85 19.05 19.33 0.89 0.45 Modus 22.16 19.92 17.02 17.56 0.89 0.37 Nilai tertinggi 22.16 21.89 21.40 21.35 1.16 0.64 Nilai Terendah 17.74 17.84 17.02 17.56 0.67 0.28 Standar Deviasi 1.30 0.93 1.32 0.90 0.14 0.12 Varian 1.68 0.87 1.75 0.81 0.02 0.01 Rentangan 4.42 4.05 4.38 3.79 0.49 0.36

Tabel 4.2 Deskripsi Data Hasil Penelitian Daya Ledak Otot Tungkai

Variabel Data Pre-test Post-test Gain Score

Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol

Jumlah Sampel 20 20 20 20 20 20 Rata-rata 54.55 55.45 62.75 59.20 8.20 3.75 Median 54.00 55.00 61.50 59.00 8.00 4.00 Modus 57.00 55.00 66.00 57.00 9.00 4.00 Nilai tertinggi 67.00 70.00 75.00 71.00 10.00 6.00 Nilai Terendah 45.00 45.00 52.00 50.00 7.00 1.00 Standar Deviasi 6.49 6.27 6.41 5.51 1.01 1.37 Varian 42.15 39.31 41.04 30.38 1.01 1.88 Rentangan 22.00 25.00 23.00 21.00 3.00 5.00

(6)

6

Pengujian terhadap normalitas sebaran data penelitian dilakukan pada data beda (gain score) dari data variable kelincahan dan daya ledak otot tungkai pada kelompok perlakuan circuit training, dan kelompok kontrol yang menggunakan uji Kolmogorov-smirnov dengan bantuan komputer program SPSS 16,0 pada taraf signifikansi () 0,05.

Kriteria pengambilan keputusan menurut Candiasa (2004:8) yaitu jika signifikansi yang diperoleh >  (sig > 0,05), maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Sebaliknya, jika signifikansi yang diperoleh <  (sig < 0,05), maka sampel bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Dengan Instrumen Kolmogorov-Smirnov Program SPSS 16,0

Sumber Data Kolmogorov-Smirnov

Statistik Df Sig. Keterangan Kelincahan 1. Perlakuan 2. Kontrol 0,13 0,17 20 20 0,14 0,20 Normal Normal Daya Ledak Otot Tungkai

1 Perlakuan 2 Kontrol 0,19 0,17 20 20 0,07 0,12 Normal Normal

Dari hasil uji homogenitas data dilakukan terhadap data gain score

kelincahan dan daya ledak otot tungkai menggunakan instrumen uji Levene dengan bantuan program komputer SPSS 16,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05. Diperoleh nilai uji 0,051 dengan signifikansi 0,822 untuk variabel kelincahan, sedangkan pada

variabel daya ledak otot tungkai diperoleh nilai uji 1,544 dengan signifikansi 0,222. Dari hasil uji didapatkan nilai signifikansi hitung untuk kedua data tersebut lebih besar dari pada α (Sig > 0,05), dengan demikian data yang diuji berasal dari data dengan variansi homogen.

Tabel 4.4 Uji Homogenitas Kelincahan

Kelincahan Levene

Statistic df1 df2 Sig. Ket

Based on Mean 0.051 1 38 0.822 Homogen

Based on Median 0.011 1 38 0.918

Based on Median and

with adjusted df 0.011 1 29.111 0.918

Based on trimmed

(7)

7

Tabel 4.5 Uji Homogenitas Daya Ledak Otot Tungkai Daya Ledak Otot

Tungkai

Levene

Statistic df1 df2 Sig. Ket

Based on Mean 1.544 1 38 0.222 Homogen

Based on Median 1.072 1 38 0.307

Based on Median and

with adjusted df 1.072 1 33.855 0.308

Based on trimmed

mean 1.511 1 38 0.226

Pembahasan

Hasil analisis data hasil penelitian untuk variabel terikat penelitian menunjukan adanya peningkatan nilai rata-rata (mean) untuk masing-masing variabel. Dari deskripsi data variabel kelincahan seperti terlihat dari deskripsi data variabel kelincahan pada tabel 4.1 terlihat kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol mengalami peningkatan nilai rata-rata. Nilai

pre-test kelompok perlakuan untuk variabel

kelincahan memiliki rata-rata 19,92 dan rata-rata nilai post-test 19,01, dengan demikian nilai rata-rata kelompok perlakuan meningkat 0,91. Kelompok kontrol untuk variabel kelincahan mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 0,46 dari 19,73 pada saat pre-test menjadi 19,27 pada saat

post-test. Sedangkan untuk variabel daya ledak

otot tungkai juga mengalami peningkatan nilai rata-rata seperti terlihat pada tabel 4.2 terlihat kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol mengalami peningkatan nilai rata-rata. Nilai rata-rata variabel kelincahan untuk kelompok kontrol pada saat pretest sebesar 54.55 mengalami peningkatan sebesar 8.20 pada saat

postest sebesar 62.75.

Perlakuan circuit training yang dilakukan adalah pelatihan dengan frekuensi pelatihan adalah sebanyak 3 kali seminggu selama 4 minggu.

Circuit training Berpengaruh Terhadap

Kelincahan

Berdasarkan hasil uji-t independen untuk variabel kelincahan, antara gain

score kelompok perlakuan dan kelompok

kontrol didapatkan nilai thitung = 10,797

dengan nilai signifikansi = 0,000 pada taraf signifikansi 0,05. Nilai signifikansi hitung lebih kecil dari nilai α (Sig< 0,05), dengan demikian hipotesis penelitian circuit training yang signifikan berpengaruh terhadap kelincahan pada siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun 2014 diterima.

Secara teoritik hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: “Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah posisi tubuh atau arah gerakan tubuh dengan cepat ketika sedang bergerak cepat, tanpa kehilangan keseimbangan atau kesadaran orientasi terhadap posisi tubuh” (Nala, 1998: 74).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Taskin Halil (2009:1) yang berjudul effect of circuit training on the

sprint-agility and anaerobic endurance.

Dalam penelitian ini menyimpulkan circuit

training berpengaruh signifikan antara

pretest dan postest (pretest = 14.76 dan postest = 14.47), terdapat peningkatan

sebesar 0.90. Dalam penelititan Chandrasekhar dan Jesudoss (2015:1) yang berjudul effect of circuit resistance

training on motor fitness variables among college football players menyimpulkan

terdapat peningkatan yang signifikan terhadap kecepatan dan kelincahan

.

Seorang atlet agar memiliki kelincahan, yakni kemampuan untuk bergerak secepatnya dari satu titik ke titik lainnya, kemudian secara tiba-tiba mengubah arah gerakan, menghindari atau mengelilingi objek secepatnya memerlukan komponen kecepatan. Kelincahan ditentukan oleh faktor, adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelincahan

(8)

8

seseorang yaitu koordinasi, power, kekuatan, kelentukan dan kecepatan” (Ismaryati, 2008:42).

Circuit training adalah latihan fisik

yang terdiri dari beberpa pos dan disetiap pos terdiri dari pelatihan yang berbeda seperti melompat dan berlari. Dalam melakukan gerakan tersebut sistem gerak yang mendukung gerakan tersebut adalah otot-otot dan persendian. Dengan melatih otot secara sistematis dan teratur maka akan dapat meningkatkan massa otot. Meningkatnya massa otot menunjukkan bahwa kekuatan otot tersebut menjadi bertambah. Persendian pada tungkai juga sangat berperan penting untuk mengubah arah dengan cepat, dibutuhkan latihan-latihan untuk mengubah arah dengan cepat seperti latihan fleksibilitas. Meningkatnya fleksibilitas pada tungkai akan berpengaruh terhadap kelincahan .Dengan melakukan gerakan tersebut secara berulang maka kelincahannya akan semakin meningkat. Circuit Training Berpengaruh Terhadap

Daya Ledak Otot Tungkai

Berdasarkan hasil uji-t independen untuk variabel daya ledak otot tungkai, antara gain score kelompok perlakuan dan kelompok kontrol didapatkan nilai thitung =

11,702 dengan nilai signifikansi = 0,00 pada taraf signifikansi 0,05. Nilai signifikansi hitung lebih kecil dari nilai α (Sig < 0,05), dengan demikian hipotesis circuit training berpengaruh terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai diterima.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Chtara, Chaouachi, dkk (2008:1) dengan judul effect of concurrent endurance and circuit resistance training sequence on muscular strength and power

menyimpulkan pelatihan ini berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan dan daya ledak

.

Secara teoritik hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Ismaryati (2008:59) mengatakan bahwa “daya ledak menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya”. Dalam penelitian Sekhon dan

Shelkham (2014:1) yang berjudul effect of

circuit resistance training and plyometric on

muscular strength among Annamalai

University nettball player, menyimpulkan

terdapat perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol terhadap kekuatan otot.

Circuit training merupakan salah

satu model latihan berbentuk sirkuit yang terdiri dari beberapa pos. Pelatihan ini memberi perubahan secara fisiologis pada organ tubuhnya khususnya pada otot tungkai, perubahan fisiologis pada otot tungkai disebabkan oleh pemberian beban latihan dalam circuit training berpusat pada otot tungkai berupa melompat dan berlari yang dilakukan secara berulang-ulang akan memberikan stress pada otot tungkai sehingga otot mengalami adaptasi fisiologi.

Adaptasi fisiologi yang terjadi pada otot tungkai ialah meningkatnya kekuatan yang disebabkan bertambahnya massa otot (hypertrophy otot), penambahan jumlah serabut otot (Hyperplasia otot) serta penambahan jumlah mitikondria. Daya ledak otot tungkai merupakan kemampuan otot untuk berkontraksi secara cepat. Latihan dalam penelitian ini akan meberikan kemampuan dan respon fisiologis pada saat pelatihan yaitu terjadi hypertrophy (pembesaran otot), dan adapatasi persyarafan. “Terjadinya hypertrophy

disebabkan bertambahnya jumlah myofibril pada setiap serabut otot, meningkatnya kepadatan kapiler pada serabut otot dan meningkatnya jumlah serabut otot. Terjadinya adaptasi persyarafan ditandai peningkatan tehnik dan tingkat keterampilan seseorang”. (Sukadiyanto, 2005 : 91). Menurut Cahyani (2011 : 3), Perubahan struktur dapat terjadi sebagai akibat latihan kekuatan, baik di

neuromuscular junction maupun di serat

otot. Pembesaran otot, atau disebut juga hipertrofi otot dapat terjadi sebagai akibat dari latihan kekuatan otot. Pada otot yang hipertrofi terjadi peningkatan jumlah miofibril, filamen aktin dan miosin,

(9)

9

sarkoplasma, serta jaringan penunjang lainnya.

Pelatihan ini jika dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang (repetitif) dalam jangka waktu (durasi) yag lama, dengan pembebanan pelatihan yang meningkat secara progresif dan individua akan memberikan pengaruh yang positif dalam meningkatkan daya ledak otot tungkai.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Circuit training berpengaruh siginfikan

terhadap peningkatan kelincahan pada siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2014/2015.

2. Circuit training berpengaruh signifikan

terhadap daya ledak otot tungkai pada siswa putra kelas X SMA Laboratorium Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2014/2015.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, hal-hal yang dapat disarankan sebagai berikut: 1. Bagi para guru olahraga, pelatih,

pembina serta atlet disarankan untuk menggunakan circuit training sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kelincahan dan Daya ledak otot tungkai. 2. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan

penelitian sejenis disarankan untuk menggunakan variabel dan sampel penelitian yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN

Candiasa, Made. 2004. ”Program SPSS” Bahan Pelatihan Komputer dan

Multimedia Pada Jurusan Ilmu

Keolahragaan Undiksha Singaraja.

Chadrasekhar,

S.

Jayasingh

Albert.

Jesudoss. J Samuel. 2015. Effect of

Circuit Resistance Training on Motor

Fitness Variables Among College

Football Players. Asian Journal of

Multidisciplinary Research (AMJR),

ISSN 2395-1702 Volume 1 Issue 2.

Chtara. dkk. 2008. Effect of Concurrent

Endurance And Circuit Resistance

Training

Sequence

on

Muscular

Strength And Power Development.

Journal of Strength and Conditioning

Research, ISSN 1037-1045, Volume

4 Issue 22.

Hairy, Junusul. 1989. Fisiologi Olahraga

Jilid

I.

Jakarta:

Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Dikti

LPTK.

Ismaryati. 2008. Tes dan Pengukuran

Olahraga. Surakrta. LPP UNS dan

UNS Pres.

Kanca, I Nyonman. 2006. Metodelogi

Penelitian Keolahragaan.

Singaraja. Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNDIKSHA.

Nala, Ngurah. 1988. Kesegaran Jasmani. Denpasar: Yayasan Ilmu Faal Widhya Laksana.

Shelvam, P. V dan Sekhon, Baljit Singh.

2014. Effect of Circuit Resistance

Training

And

Plyometric

on

Muscular

Strength

Among

Annamalai

University

Nettball

Player. International Journal of

Science and Research (IJRS), ISSN

2319-7064, Volume 3 Issue 8.

Sudarsono, Nani Cahyani. 2006. Pengaruh

Latihan

Terhadap

Otot.

Jurnal

Fisioterapi Indonusa Vol. 8 No. 2,

Oktober 2006.

Sukadiyanto. (2005). Pengantar Teori dan

Metodologi

Melatih

Fisik.

Yogyakarta: FIK Uiversitas Negeri

Yogyakarta.

Taskin, Halil. 2009. Effect Of circuit

training on the sprint-agility and

anaerobic endurance. Journal of

(10)

10

Strength and Conditioning Research;

Sep 2009; 23, 6; ProQuest Nursing

& Allied Health Source pg. 1803.

Widiastuti. 2011. Tes dan Pengukuran

Olahraga. Jakarta: PT Bumi Timur

Jaya.

Gambar

Tabel 4.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian Kelincahan

Referensi

Dokumen terkait

peningkatan daya tahan otot tungkai dan kelincahan pada pemain futsal Beka. United Futsal Academy dan sebagai sumber informasi bagi pemerintah

Berdasarkan pada pengertian tentang daya ledak secara umum tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa daya ledak otot tungkai merupakan kemampuan otot atau sekelompok

1) Berdasarkan penelitian tampak bahwa, ada sumbangan indeks massa tubuh, daya ledak otot lengan, daya ledak otot torsio togok dan daya ledak otot tungkai. Secara simultan

Sehubungan dengan pendekatan dalam peningkatan daya ledak otot dan kelincahan, maka penelitian ini mengambil judul “pengaruh latihan lateral bound terhadap daya

Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi didapatkan sebesar 49,9% maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh kecepatan, daya ledak otot tungkai, dan panjang tungkai

Bagi Pelatih Dapat mengetahui hubungan signifikan antara daya ledak otot tungkai, kekuatan otot perut dan kelentukan sendi panggul terhadap kecepatan tendangan mawashi geri, sehingga

PENGARUH LATIHAN KALISTENIK TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Mahasiswa Program Studi

0 PENGARUH DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI, KELENTUKAN PINGGANG, DAN KESEIMBANGAN TERHADAP KEMAMPUAN TENDANGAN SABIT ATLET PENCAK SILAT PAT BAN BU PEKANBARU TESIS Oleh AGUSTAR FADILAH UMAR