• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deteksi Nada dan Perangkat Gamelan Menggunakan Filter Adaptif Least Mean Square(LMS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Deteksi Nada dan Perangkat Gamelan Menggunakan Filter Adaptif Least Mean Square(LMS)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak—Ekstraksi nada perangkat gamelan dilakukan dengan menggunakan analisis dari domain frekuensi. Dalam pembuatan gamelan yang masih tradisional, akan dihasilkan frekuensi yang berbeda-beda antar perangkat satu dengan perangkat yang lain. Perbedaan frekuensi ini menjadi ciri khas satu gamelan dengan gamelan yang lain. Dengan mengetahui frekuensi sebuah nada, dapat diketahui nada tersebut berasal dari perangkat yang mana. Filter adaptif least mean square(LMS) adalah filter digital yang mampu menyesuaikan parameter filter terhadap sinyal yang diberikan dengan menggunakan algoritma adaptif least mean square. Sehingga filter ini dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi frekuensi dari sinyal perangkat gamelan yang beragam. Proses deteksi dimulai dengan membangkitkan sinyal referensi. Sinyal referensi selanjutnya disesuaikan dengan blind signal. Jika sinyal referensi yang telah disesuaikan tersebut mampu memfilter blind signal dan menghasilkan sinyal mendekati nol, maka frekuensi blind signal sama dengan sinyal referensi. Frekuensi tersebut selanjutnya dicocokan dengan data frekuensi dasar perangkat gamelan, maka akan diketahui nada dasar dan sumber perangkat. Sistem filter digital adaptif mampu mendeteksi frekuensi sinyal gamelan baik yang terdiri dari satu nada maupun dua nada dengan kesalahan deteksi sebesar 1 Hz.

Kata Kunci—Blind Signal, Filter Digital Adaptif, Gamelan, Least Mean Square.

I. PENDAHULUAN

AMELAN adalah seperangkat alat musik tradisional yang merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia. Berbeda dengan musik barat, aturan elemen nada pada gamelan yang meliputi resonansi, frekuensi, amplitudo dan warna nada belum memiliki standart atau patokan yang jelas. Sehingga dalam pembuatan gamelan yang masih tradisional, akan dihasilkan elemen nada yang berbeda-beda antar perangkat satu dengan perangkat yang lain[1]. Hal ini terjadi karena masing-masing pembuat gamelan mengandalkan intuisi dan kemampuan pendengarannya. Padahal intuisi dan kemampuan masing-masing manusia dapat berbeda.

Sebagain besar perangkat gamelan, berupa perangkat yang terdiri dari bilah-bilah logam. Selain itu terdapat perangkat yang terbuat dari kulit hewan dan beberapa alat tiup lain. Suara gamelan diciptakan dari pukulan palu kayu pada bilah

logam perangkat gamelan. Masing-masing bilah akan bergetar dan menghasilkan frekuensi tertentu. Frekuensi ini yang menjadi nada dari bilah tersebut[2]. Kekuatan pukulan yang berbeda akan menghasilkan spektrum/bentuk suara yang berbeda. Perubahan sifat spektrum ini juga mempengaruhi cara pemisahan suara(ekstraksi).

Pada tugas akhir ini dilakukan analisis ekstraksi sinyal gamelan. Ekstraksi dilakukan untuk mengetahui notasi yang dimainkan, jenis alat musik yang dimainkan dan alat musik mana yang dimainkan. Analisis dilakukan menerapkan filter adaptif least mean square(LMS).

II. TEORIDASAR A. Gamelan Jawa

Istilah ‘gamelan’ berasal dari kata ‘gamel’ yang berarti dipukul[3]. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa variasi gamelan. Variasi ini dipengaruhi oleh budaya yang ada disekitarnya, diantaranya gamelan jawa, gamelan bali, gamelan banyuwangi dan lain sebagainya. Hampir sebagian besar bermaca-macam variasi gamelan tersebut memiliki perangkat penyusun gamelan yang sama. Perbedaan yang mencolok terdapat pada cara memainkan alat musiknya. Pada gamelan jawa, terdapat dua jenis tangga nada yaitu tangga nada pelog dan slendro. Kedua tangga nada tersebut memiliki nada sebagai berikut :

1. Pada tangga nada pelog, terdapat tujuh nada yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 {C+ D E- F# G# A B}, dengan perbedaan interval yang cukup besar.

2. Pada tangga nada slendro terdiri dari lima nada, yaitu 1, 2, 3, 5 dan 6 {C- D E+ G A}, dengan perbedaan interval yang lebih kecil dari pelog[4].

Ciri khas dari perangkat gamelan yang lain adalah masing-masing perangkat hanya memiliki dan mewakili satu oktaf. Sebagai contoh pada keluarga balungan yang terdiri dari demung, saron dan peking. Diantara ketiga perangkat tersebut, demung menempati oktaf paling rendah. Oktaf diatasnya adalah saron dan oktaf tertinggi adalah peking. Sehingga frekuensi nadanya juga bertingkat, frekuensi saron adalah dua kali frekuensi demung. Sementara frekuensi peking dua kali frekuensi saron[5]. Data frekuensi nada dasar perangkat balungan bisa dilihat pada Tabel 1.

Deteksi Nada dan Perangkat Gamelan

Menggunakan Filter Adaptif Least Mean

Square(LMS)

Vonda Bri Valdo Ary

1

, Dr. Ir. Yoyon K Suprapto, M.Sc.

2

, dan Prof. Dr. Ir. Mauridhi Hery P, M.Eng.

3

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111

1

Mahasiswa Program Sarjana, 2209100118 ( [email protected] )

2

Dosen Pembimbing ( [email protected] )

3

Dosen Pembimbing ( [email protected] )

(2)

Dalam pembuatan gamelan, pengerajin masih mengandalakan kemampuan pendengaran tanpa menggunakan tunner untuk menyamakan nada. Sehingga akan diperoleh frekuensi yang berbeda dari perangkat gamelan yang berbeda[6]. Tabel 2 menunjukan data frekuensi dari 4 set saron yang berbeda. Dari Tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa antara satu set gamelan dengan set gamelan yang lain bisa terjadi perbedaan frekuensi meskipun hanya sedikit.

B. Estimasi Frekuensi Dengan FFT

Dalam menganalisis suara gamelan, terlebih dahulu perlu diketahui frekuensi dasar untuk masing-masing nada. Hal ini bertujuan agar terbentuk tabel frekuensi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam analisis tahap selanjutnya. Salah satu metode yang digunakan untuk melakukan mengetahui frekuensi dari sebuah sinyal adalah dengan menggunakan metode transformasi fourier.

Transformasi fourier bertujuan untuk mengubah sinyal suara yang berdomain waktu kedalam domain frekuensi. Hasil dari transformasi fourier adalah spektrum frekuensi. Spektrum frekuensi menyatakan komposisi susunan frekuensi dari suatu sinyal. Spektrum frekuensi kemudian digunakan untuk keperluan pemrosesan sinyal. Persamaan transformasi fourier dapat dilihat pada persamaan 1[7].

FT (

ω)

=

x(t)e

− jωt

dt

−∞ ∞

(1)

Dimana: FT (ω) adalah hasil dari transformasi fourier

dengan

ω

adalah komponen frekuensi. x(t) adalah sinyal masukan dari transformasi fourier dengan t adalah satuan waktu (detik).Dengan

e

− jωt

=

sin(

ω

)

− j cos(

ω

)

C. Filter Adaptif Least Mean Square(LMS)

Filter adaptif dapat melakukan penyesuaian sendiri parameternya dengan menggunakan algoritma rekursif, yang

membuat filter dapat bekerja secara optimal pada lingkungan dimana pengetahuan yang lengkap mengenai karakteristik sinyal tidak bisa diperoleh. Algoritma tersebut berawal dari kumpulan kondisi awal yg telah ditentukan sebelumnya yang tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ada[8]. Operasi pada algoritma filter adaptif terdapat dua proses yaitu: proses pemfilteran yg direncanakan untuk menghasilkan keluaran guna memberikan tanggapan barisan masukan & proses adaptif yang bertujuan untuk memberikan mekanisasi pengatur adaptif guna mengatur parameter yang digunakan didalam proses pemfilteran. Dua proses ini bekerja saling berkaitan satu sama lain[9]. Diagram filter adaptif dapat dilihat pada Gambar 1.

Blind signal d(k) diberikan pada salah satu input sistem. Selain itu pula, terdapat input lain yang berupa reference signal x(k). Sinyal x(k) selanjutnya akan difilter dan akan dihasilkan output signal y(k). Diharapkan, dengan proses filter ini, sinyal x(k) dapat menjadi sinyal y(k) yang mirip dengan sinyal d(k). Selanjutnya sinyal d(k) difilter terhadap sinyal y(k) akan diperoleh error signal e(k). Sinyal e(k) digunakan untuk memperbaiki nilai w(k) filter dengan menggunakan algoritma adaptif. W(k) ini adalah parameter filter yang nilainya terus berubah menyesuaikan nilai e(k). Jika sistem ini dilakukan berulang-ulang maka akan dihasilkan nilai e(k) yang mendekati nol.

Least Mean Square(LMS) merupakan algoritma adaptif yang digunakan untuk menentukan parameter/bobot baru dari filter. Kelebihan dari algoritma ini yaitu memiliki perfoma yang stabil dan handal dalam menghadapi kondisi sinyal yang berbeda-beda. Pada Gambar 1, algoritma least mean square(LMS) terletak pada blok diagram adaptive algoritm.

w(n

+

1)

=

w(n)

+

2

µ

e(n)x(n)

(2) Dari rumus 2 tersebut, w(n+1) adalah bobot baru dari filter[10]. Bobot tersebut diperoleh dari bobot sebelumnya w(n) yang ditambah dengan dua kali perkalian orde (µ) dengan error e(n) dan sinyal masukan x(n). Bobot w(n+1) inilah yang menjadi parameter w(n)yang baru pada filter adaptif pada Gambar 2.3. Algoritma ini yang memungkinkan filter melakukan eliminasi gangguan sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

D. Mean Square Error(MSE)

Mean Square Error(MSE) adalah salah satu cara metode untuk menghitung nilai error atau kesalahan dari sebuah sistem. Perhitungannya adalah dengan mencari nilai rata-rata dari kuadrat error. Kuadrat dari selisih antara hasil dan nilai sebenarnya disebut dengan quadratic loss funtion.

Gambar. 1. Diagram Filter Adaptif [9] Tabel1.

Frekuensi Nada Dasar Balungan [5]

Notasi Pelog Frekuensi Dasar (Hz)

Demung Saron Peking

1 301 639 1220 2 319 637 1296 3 347 798 1404 4 401 865 1651 5 433 925 1776 6 467 1009 1931 7 506 639 2108 Tabel2.

Data Frekuensi 4 Set Saron [6]

Notasi Saron Frekuensi Fundamental Gamelan (Hz) Set 1 Set 2 Set 3 Set 4 Min Max 1 528 528 504 539 504 539 2 610 610 574 610 574 610 3 703 703 688 703 688 703 5 797 792 792 799 729 799 6 915 922 909 926 909 926 1’ 1056 1056 1008 1078 1008 1078 2’ 1220 1220 1148 1220 1148 1220

(3)

MSE( ˆ

θ

)

=

E[( ˆ

θ

θ

)

2

]

(3) Dimana : θˆ adalah nilai dari hasil perhitungan. θ adalah hasil nilai keluaran yang diinginkan.

Pada tugas akhir ini, MSE dihitung dengan menghitung nilai rata-rata kuadrat sinyal keluaran. Pada persamaan 3, sinyal keluaran mewakili θˆ. Sementara itu θ diwakili oleh nilai 0. Hal ini disebabkan karena ketika filter bekerja dengan baik atau bekerja secara ideal, maka sinyal keluaran filter akan bernilai 0. Sehingga nilai keluaran yang diinginkan (θ ) adalah nol.

III. DESAINDANIMPLEMENTASI A. Metodologi Sistem

Secara garis besar, sistem yang dijalankan mengikuti diagram pada Gambar 2.

Sistem terdiri dari dua bagian, pembuatan tabel frekuensi dasar dan sistem filter digital adaptif & MSE. Pembuatan tabel frekuensi menggunakan proses FFT terhadap seluruh kemungkinan nada. Tabel Frekuensi dasar digunakan sebagai acuan dalam proses analisis.

Sistem filter digital adaptif & MSE terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan pertama membangkitkan sinyal referensi. Selanjutnya dilakukan proses filter antara blind signal dengan sinyal referensi. Dari hasil filter, dapat dihitung nilai MSE sinyal. Selanjutnya nilai MSE sinyal dianalisis dan dibandingkan terhadap tabel frekuensi, maka akan dihasilkan perkiraan nada dan perangkat.

B. Pengaruh Parameter Filter Adaptif LMS

Filter adaptif LMS memiliki beberapa parameter yang dapat mempengaruhi kinerjanya. Parameter tersebut adalah step size(µ) dan panjang window. Parameter yang berbeda akan menghasilkan nilai kesalahan yang berbeda.

Tugas akhir ini tidak memfokuskan pada pengaruh parameter filter terhadap kinerja filter. Oleh karena itu pada tugas akhir ini, parameter-parameter tersebut menjadi variabel kontrol.

1) Pengaruh Step Size(µ)

Uji coba dilakukan dengan memvariasaikan nilai step size(µ) dan diperoleh hasil seperti pada Gambar 3.

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa MSE terendah terdapat pada saat nilai µ 0,0055. Sehingga, untuk selanjutnya nilai µ yang digunakan adalah 0,0055.

2) Pengaruh Panjang Window

Uji coba dilakukan dengan memvariasaikan panjang window dan diperoleh hasil seperti pada Gambar 4.

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa MSE terendah terdapat pada saat panjang window 6. Sehingga, untuk selanjutnya panjang window yang digunakan adalah 6 sampel.

C. Sinyal Referensi

Sinyal referensi dibangkitkan mengikuti aturan dari penelitian lain yang berkaitan dengan tuner perangkat gamelan[11]. Secara matematis, pembangkitan sinyal referensi dituliskan dengan persamaan 4.

Xp(n)=A× sin(2 × phi × (

f

fs)× x+θ ) × 0.7693e −1.03×10−5n

(4)

Sinyal ini dibentuk dengan membangkitkan sinyal sinusoidal sesuai dengan frekuensi yang diinginkan. Selanjutnya sinyal sinusoidal dilakukan modulasi terhadap standart envelope.

IV. PENGUJIANDANANALISIS A. Sinyal Masukan

Pengujian dilakukan terhadap sinyal masukan yang terdiri dari satu atau lebih nada. Sinyal masukan yang terdiri lebih dari satu nada, adalah sinyal gabungan dari dua sinyal yang digabung dengan secara alami yang telah ditentukan terlebih dahulu. Sinyal suara perangkat gamelan yang digunakan Gambar. 2. Diagram Metode Sistem

Gambar. 4. Pengaruh Panjang Window Terhadap MSE window = 6

Gambar. 3. Pengaruh Step Size(µ) Terhadap MSE µ = 0,0055

(4)

sebagai bahan uji, merupakan instrumen gamelan dari keluarga balungan yaitu saron dengan nada slendro yang direkam pada fs 48000 Hz. Sinyal masukan ini dalam sistem dianggap sebagai blind signal.

B. Tabel Frekuensi

Setiap perangkat gamelan memiliki frekuensi nada dasar yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan nilai frekuensi nada dasar, dilakukan proses FFT terhadap seluruh kemungkinan nada. Tabel 3 menunjukan data frekuensi nada dasar gamelan yang akan diuji.

Dari Tabel 3, dapat diketahui bahwa seluruh nada antara saron A dan B memiliki frekuensi yang berbeda. Terdapat selisih terkecil sebesar 2 Hz dan selisih terbesar sebesar 8 Hz.

C. Pengujian Terhadap Sinyal Satu Nada

Pengujian dilakukan terhadap sinyal Saron B nada 3 dan diperoleh hasil seperti Gambar 5.

Pada Gambar 5, terlihat grafik memiliki satu titik curam. Hal ini menunjukan bahwa bahwa sinyal memiliki satu nada penyusun. Nilai yang ditunjukan MSE terendah adalah frekuensi 722 Hz yang menunjukan frekuensi nada dasarnya. Jika dilihat pada Tabel 3, nilai tersebut sesuai dengan saron B nada 3. Hal ini menunjukan bahwa sistem dapat menendeteksi sesuai dengan nada dan perangkat yang dimasukan.

Tabel 4 menunjukan data uji coba terhadap seluruh sampel nada. Jika dibandingkan terhadap Tabel 3, terdapat selisih 1 Hz pada 4 sinyal saron A nada 5 dan 6 sinyal saron B nada 5. Hal ini terjadi karena kenaikan variasi yang digunakan pada variasi frekuensi sinyal referensi sebesar 1 Hz, sehingga ketelitian perhitungan memiliki toleransi 1 Hz.

Sistem filter digital adaptif tidak hanya menunjukan frekuensi penyusun sinyal, namun juga mampu memberi informasi keberadaan noise. nilai MSE dari sinyal

menunjukan noise dari sinyal input.

D. Pengujian Terhadap Sinyal Dua Nada

Pengujian dilakukan terhadap gabungan saron A nada 6 dan saron B nada 1 dan diperoleh grafik seperti pada Gambar 6.

Pada Gambar 6, dapat dilihat bahwa terdapat dua titik curam error pada grafik. Hal ini menunjukan bahwa terdapat dua frekuensi dominan yang ada pada sinyal. Kedua frekuensi tersebut adalah frekuensi 544 Hz dan 969 Hz. Jika dibandingkan dengan Tabel 3, frekuensi 969 Hz sesuai dengan nilai frekuensi saron A nada 6. Sementara frekuensi 544 Hz yang ditemukan memiliki nilai yang sama dengan frekuensi saron B nada 1. Kedua nada tersebut menunjukan nilai frekuensi yang sama dengan hasil FFT.

Pada Gambar 6 juga dapat diketahui bahwa sinyal yang dianalisis mengandung noise, hal ini bisa dilihat dari ripple yang terjadi pada grafik, misalnya nilai MSE disekitar frekuensi 757 Hz. Ripple ini dapat mempengaruhi kinerja dari sistem deteksi nada dan perangkat pada tugas akhir ini, karena ripple bisa dideteksi sebagai frekuensi dominan.

E. Pengaruh Panjang Sampel Terhadap Sistem

Pada penelitian ini juga dilakukan analisis terkait pengaruh panjang sampel sistem yang dilakukan. Pada uji coba sebelumnya, panjang sampel yang diujikan tidak dibatasi, sehingga panjang sampel yang digunakan sesuai dengan panjang sampel hasil rekaman.

Uji coba dilakukan terhadap sinyal saron B nada 3 dan memvariasikan panjang sinyal tersebut sebesar 1000 sampel hingga seluruh sampel dengan kenaikan sebesar 2000 sampel. Dari uji coba diperoleh Gambar 7. Dapat dilihat bahwa nilai MSE menaik saat panjang sampel 1000 hingga 5000 sampel. Selanjutnya nilai MSE turun saat panjang sampel antara 5000 hingga 50000 sampel. Nilai MSE relatif stabil saat panjang Tabel3.

Data Frekuensi Saron yang Diuji

Nada Slendro Frekuensi Dasar (Hz) Saron A Saron B 1 551 544 2 629 627 3 716 722 5 837 829 6 969 961 Tabel4.

Hasil Deteksi Frekuensi Saron

Gambar. 5. Hasil Filter Terhadap Sinyal Satu Nada f = 722 Hz

Gambar. 6. Hasil Filter Terhadap Sinyal dengan Dua Nada f = 544 Hz

f = 969 Hz f = 757 Hz

(5)

sampel yang digunakan sebesar lebih dari 50000 sampel.

Selanjutnya dilakukan analisis terhadap empat macam panjang sinyal input. Yaitu panjang sinyal 1000, 5000, 50000 dan seluruh sampel.

Dari Gambar 8, diperoleh grafik MSE yang tidak beraturan. Dari grafik tersebut, terlihat bahwa nilai MSE terendah terjadi pada frekuensi 813 Hz. Nilai ini jauh dari nilai frekuensi yang sebenarnya yaitu sebesar 722 Hz. Selain itu, terlihat bentuk grafik yang tidak beraturan sehingga sulit dilakukan analisis berapa nada penyusun sinyal input.

Gambar 9 adalah grafik hasil dari sistem yang menggunakan 5000 sampel. Dari grafik tersebut, dapat dilihat grafik yang terbentuk memiliki ripple namun masih dapat menunjukan nilai frekuensi dari MSE terendah. Pada grafik tersebut, MSE terendah terdapat pada frekuensi 725 Hz.

Frekuensi ini berbeda dengan frekuensi yang seharusnya yaitu sebesar 722 Hz, sehingga terdapat kesalahan sebesar 3 Hz.

Gambar 10 adalah grafik hasil dari sistem yang menggunakan data input sebesar 50000 sampel. Dari grafik tersebut, terlihat grafik yang terbentuk dapat menunjukan nilai frekuensi dari MSE terendah. Pada grafik tersebut, MSE terendah terdapat pada frekuensi 722 Hz. Frekuensi ini sesuai dengan frekuensi yang seharusnya yaitu sebesar 722 Hz.

Gambar 11 adalah grafik hasil dari sistem yang menggunakan data input seluruh sampel. Dari grafik tersebut, dapat dilihat grafik yang terbentuk dapat menunjukan nilai frekuensi dari MSE terendah. Pada grafik tersebut, MSE terendah terdapat pada frekuensi 722 Hz. Frekuensi ini sesuai dengan frekuensi yang seharusnya yaitu sebesar 722 Hz.

Bentuk grafik pada Gambar 10 mirip dengan grafik pada Gambar 11. Hal ini menujukan bahwa sistem sudah dapat bekerja dengan baik ketika sampel input sebesar 50000 sampel atau lebih.

Selain analisa terkait MSE, juga dilakukan analisis berkaitan dengan waktu komputasi. Panjang sampel yang digunakan mempengaruhi waktu komputasi dari sistem. Hal ini dapat dilihat pada data berikut :

1. Data input 1000 sampel membutuhkan waktu komputasi sebesar 25,78 s

2. Data input 5000 sampel membutuhkan waktu komputasi sebesar 58,3881 s

3. Data input 50000 sampel membutuhkan waktu komputasi sebesar 453,2152 s

4. Data input 417133 semua sampel membutuhkan waktu komputasi sebesar 3562,8559 s

Gambar. 11. Hasil Sistem dengan Menggunakan Seluruh Sampel f = 722 Hz Gambar. 7. Pengaruh Panjang Sampel Sinyal Input terhadap Sistem

panjang sampel 5000

panjang sampel 50000

Gambar. 8. Hasil Sistem dengan Menggunakan 1000 Sampel f = 813 Hz

Gambar. 9. Hasil Sistem dengan Menggunakan 5000 Sampel f = 725 Hz

Gambar. 10. Hasil Sistem dengan Menggunakan 50000 Sampel f = 722 Hz

(6)

Selain itu untuk waktu masing-masing iterasi untuk setiap satu frekuensi sinyal referensi, membutuhkan waktu seperti pada Gambar 12. Dapat dilihat bahwa semakin panjang sampel yang digunakan sebagai sinyal input, waktu yang dibutuhkan akan bertambah semakan lama secara linier.

V. KESIMPULAN

Dari penelitian tugas akhir ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Untuk blind sinyal yang terdiri dari satu nada, filter digital adaptif least mean square(LMS) dapat mendeteksi frekuensi sesuai perhitungan yang diperoleh dari sistem FFT. Dengan tingkat kesalahan sebesar 1 Hz.

2. Untuk blind sinyal yang terdiri dari dua nada, frekuensi yang diperoleh filter digital adaptif least mean square(LMS) menunjukan nilai yang sama dengan frekuensi yang diperoleh dari FFT.

3. Hasil deteksi frekuensi dengan menggunakan filter adaptif least mean square(LMS) dapat mendeteksi nada dan perangkat dari set gamelan yang berbeda, dengan membandingkan hasil frekuensi tersebut terhadap tabel frekuensi. Agar proses deteksi berhasil, harus terdapat perbedaan frekuensi antar perangkat yang berbeda minimal 2 Hz untuk nada yang sama.

4. Agar sistem filter digital adaptif least mean square(LMS) berjalan dengan baik, dibutuhkan sinyal input dengan panjang sampel 50000 atau lebih.

DAFTARPUSTAKA

[1] Sumariksa, I Putu Arya. “Proses Pembuatan Bilah” <URL : jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/artikel/article/view/860/1495 >, diakses tanggal 15 Desember 2013

[2] Putra, Arief Rahmandani. “Gamelan” <URL : http://118.96.136.184:33150/timwebinti/gen2/arief/karawitan.html>, diakses tanggal 15 Desember 2013

[3] Utomo, Wahyu B. “Sejarah Gamelan dan Makna” <URL :

http://kitunjungseta.blogspot.com/2012/04/sejarah-gamelan-makna.html>diakses tanggal 15 Desember 2013

[4] Utomo, Yunanto Wiji. “PERTUNJUKAN GAMELAN – Orkestra a la Jawa” <URL :

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/performance/gamelan-show/>, diakses tanggal 15 Desember 2013.

[5] Suprapto, K., Puspito D., Tjahjanto Aris., Usagawa, Tsuyoshi ., “Onset Detection using Adaptive Cross-correlation for Automatic Transcription on Multi Gamelan Instruments”, Computation Laboratory, Institute Technology of Sepuluh Nopember ITS, Surabaya, May, 2010

[6] Suprapto, Yoyon K,” Ekstraksi Suara Saron Berbasis Spectral- Density Menggunakan Filter Multidimensi ”

[7] Ludeman, C. Lonnie. “Fundamentals of Digital Signal Processing”, John Wiley & Sons, 1986.

[8] Haykin, Simon. Introduction: The LMS Filter (Algoritm). Wiley-Interscience.2003.

[9] Bilcu, Radu Ciprian. On Adaptive Least Mean Square FIR Filters: New Implementation and Applications. Finland : Thesis Tampere University of Technology. 2004.

[10] Suprapto, Yoyon K. Segmentation of Identical and Simultaneously Played Traditional Music Instruments using Adaptive LMS. IPTEK ITS XXX. 2009.

[11] Pradhana, Vincentius E. dan Suprapto, Yoyon K., “Portable High Performance Gamelan Tuner using Adaptive Waveform Pattern Matching”, TICA 2012 Paper, Tokyo, Desember 2012.

Penulis bernama lengkap Vonda Bri Valdo Ary. Teman – temannya biasa memanggil dengan nama Vonda. Pria ini lahir di Blitar tepatnya tanggal 10 Desember 1991. Riwayat pendidikannya dimulai dari TK Pertiwi 1 Talun pada tahun 1995 sampai 1997, kemudian dilanjutkan ke SD Talun 4 pada tahun 1997 sampai 2003, lalu berlanjut ke SMP Negeri 1 Wlingi pada tahun 2003 sampai 2006, kemudian di SMA Negeri 1 Talun pada tahun 2006 sampai 2009, dan sempat mengenyam bangku kuliah di Jurusan Teknik Elektro ITS sejak tahun 2009 sampai tahun 2014. Ketika kuliah di Jurusan Teknik Elektro, penulis mengambil bidang studi Teknik Komputer dan Telematika dan sempat terdaftar sebagai asisten Laboratorium B201. Pria yang bertinggi badan 174 cm ini mempunyai motto hidup yaitu, lakukan yang terbaik dan nikmatilah.

Gambar

Tabel 4 menunjukan data uji coba terhadap seluruh sampel  nada. Jika dibandingkan terhadap Tabel 3,  terdapat  selisih 1  Hz pada 4 sinyal saron A nada 5 dan 6 sinyal saron B nada 5
Gambar 9 adalah grafik hasil dari sistem yang  menggunakan 5000 sampel. Dari grafik tersebut, dapat dilihat  grafik yang terbentuk memiliki ripple  namun masih dapat  menunjukan  nilai frekuensi dari MSE terendah

Referensi

Dokumen terkait

usahatani di lahan kering yang terkendala dengan keterbatasan ketersediaan air antara lain: (1) memanfaatkan curah hujan dan irigasi suplemen dengan komoditas yang

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis varian (Anava 2 arah) dan uji pasca dengan menggunakan uji scheffe pada taraf signifikansi

Hal ini menjelaskan bahwa hukum yang berjalan dalam transaksi jual-beli ini dapat berupa lebih dari satu hukum, yakni hukum yang dibuat oleh pemerintah yang berupa

Berdasarkan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahawa tingkat risiko terhadap gangguan musculoskeletal terdapat 2 responden yang berisiko sedang dan mayoritas

Dengan telall dimulainya penggunaan elemen bakar Uranium Silisida 2,96 gr U/cc pacta teras RSG-GAS dan dengaJl ada11ya rencana penggunaan bal1an bakar silisida dengan

Dikarenakan banyak hal yang mempengaruhi Prestasi Belajar maka dalam penelitian ini peneliti membatasi pada dua faktor yaitu Keaktifan Siswa Sebagai Pengurus

Penelitian ini menggunakan data primer yang diambil dari alat ukur berupa kuesioner dan instrumen pengungkap tingkat ( Rating Scale ). Instrumen tersebut bertujuan mengungkap

Pada saat mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas fisik yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi yang tinggi, yang memungkinkan anak akan berlaku liar