1 PENDAHULUAN
Teknologi pada zaman modern ini berperan penting dalam membantu kelancaran penggunanya dalam menjalankan pekerjaan. Sellberg dan Susi (2013) mengatakan bahwa teknologi sangat penting dan merupakan bagian dari sarana penunjang aktivitas pekerjaan sehingga terdapat di tempat kerja seperti komputer, informasi, dan teknologi komunikasi yang memudahkan penggunanya di lingkungan kerja. Tersedianya teknologi informasi dan komunikasi diharapkan mampu untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja karyawan. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi memiliki dampak negatif pada individu dan mengharuskannya untuk menyesuaikan perkembangan teknologi (Tarafadar, et al. 2007).
Handphone, komputer, laptop adalah beberapa contoh teknologi yang dimiliki karyawan dan
menjadi salah satu alat penunjang pekerjaan karena kecangihannya. Namun tidak semua karyawan dapat menguasai dalam penggunaannya. Hal ini akan menimbulkan stres atau yang disebut dengan “technostress”. Istilah technostress pertama kali dikemukakan oleh Brod pada tahun 1984. Technostress ialah suatu permasalahan adaptasi pada individu yang disebabkan karena individu tidak mampu untuk menangani teknologi terbaru dengan cara yang sehat (Sami dan Pangannaiah 2006).
Technostress menurut Ayyagari et al (2011) merupakan stres yang dialami individu
karena ketidakmampuan menguasai atau bekerja sama dengan teknologi informasi dan komunikasi. Kuo et al (2009) juga berpendapat bahwa individu yang mengalami technostress akan merasa tidak mampu untuk membatasi penggunaan teknologi dan ketidakmampuan individu menggunakan teknologi. Terdapat lima dimensi technostress creators yang telah diuraikan oleh Tarafdar et al. (2007) dan Ragu-Nathan et al. (2008) berupa Techno-overload,
Techno-invasion, Techno-complexity, Techno-insecurity, Techno-uncertainty.
Technostress creators dapat diatasi dengan self efficacy. Baron dan Byrne (2005)
menyatakan self-efficacy dapat digunakan untuk mengevaluasi diri agar memahami kemampuan atau kompetensi untuk mengerjakan tugas, meraih tujuan dan mengatasi rintangan. Oleh karena itu, self efficacy merupakan technostress inhibitors yang mampu menghambat terjadinya faktor technostress creators dengan keyakinan diri individu untuk dapat mengatasi dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Self efficacy mampu diterapkan individu dengan adanya faktor habit.
Habit atau kebiasaan merupakan sikap individu yang berupa suatu tindakan yang telah
2
untuk meningkatkan kemampuan individu (Verplanken dan Aarts 1999). Habit yang menjadi respon otomatis pada individu akan menyikapi suatu hal tanpa proses berfikir seperti ketika kebiasaan menggunakan komputer dalam melaksanakan tugas maupun respon otomatis penggunaan handphone untuk mengirim pesan singkat melalui aplikasi (Verplanken dan Aarts 1999). Selain itu menurut Yin et al (2014) yang mengatakan bahwa habit merupakan cara seseorang untuk mengatur apa yang dilakukan pada kehidupan sehari-hari, oleh karena itu habit dapat mencerminkan tingkat self efficacy pada individu. Penelitian ini menduga habit berperan dalam memoderasi self efficacy pada individu ketika dalam penggunaan teknologi menjadi sebuah habit, maka individu semakin yakin akan kemampuannya dalam menghadapi kesulitan dan berhasil pada penggunaan teknologi.
Habit atau kebiasaaan dalam hal ini penggunaan teknologi yang dilakukan oleh
karyawan dalam melakukan pekerjaan maka akan berdampak pula dengan kinerja karyawan tersebut. Kinerja karyawan merupakan suatu tolak ukur karyawan dalam memberikan kontribusi dalam mengimplementasikan tugas dan tanggung jawab terhadap suatu perusahaan sehingga hal tersebut merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan mencapai tujuan. Seperti yang dinyatakan oleh Rusdianti (2013) bahwa karyawan yang memberikan kontribusi kinerja yang baik merupakan harapan bagi perusahaan sehingga meningkatkan produktivitas perusahaan.
Pada penelitian Akhtari et al (2013), Okebaram dan Moses (2013), Suharti dan Susanto (2014) meneliti dampak negatif technostress bagi karyawan maupun organisasinya dengan hasil penelitian adanya dampak negatif technostress terhadap kinerja pegawai. Technostress dapat diminimalisir dengan adanya self efficacy tinggi pada diri seseorang. Pada penelitian Ferdousi dan Levy (2010) seseorang yang memiliki tingkat self efficacy yang tinggi terutama diterapkan pada sistem komputerisasi berpengaruh positif terhadap technostress. Penelitian tentang faktor penyebab technostress yaitu Akhtari et al (2013), Ayyagari (2012), Prabhakaran dan Mishra (2012, Tiemo dan Ofua (2010) dan Ragu Nathan et al (2008). Sedangkan penelitian dampak technostress telah dilakukan oleh Suharti dan Susanto (2014), Norulkamar et al (2009). Penelitian ini akan meneliti berdasarkan dari penelitian Yin et al (2014), Tarafdar et al (2007) dan Ragu Nathan et al (2008) dengan penelitian tentang pengaruh technostress creators dengan menggunakan lima faktor berdasarkan penelitian terdahulu dan menggunakan
technostress inhibitors berupa self efficacy, dan dengan penggunaan habit sebagai variabel
moderasi untuk mengetahui memperkuat atau memperlemah dampak technostress creators terhadap kinerja.
3
Penelitian ini akan dilakukan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Alasan pemilihan objek penelitian tersebut karena perusahaan ini memanfaatkan teknologi untuk menunjang pekerjaan. Salah satunya adalah penggunaan komputer. Salah satu manfaat komputer adalah sebagai media dimana tersedianya aplikasi untuk menunjang pekerjaan, yaitu aplikasi GIS (Geographic Information System) dan RO (Rekening Online) yang digunakan sejak tahun 2015. GIS adalah aplikasi pengolahan data spatial dengan menggunakan sistem komputerisasi dan peta dasar digital (basic map) bergeoferensi bumi. Tersedianya aplikasi GIS ini memudahkan karyawan dalam menampilkan dan memberikan data-data sehingga dimanfaatkan PDAM untuk collecting, editing, evaluasi dan monitoring seluruh data-data jaringan pipa dan accessories. Sedangkan RO atau rekening online adalah suatu aplikasi berbasis web yang digunakan untuk mengelola data pelanggan yang berisi informasi tentang kenaikan tarif pembayaran, informasi tentang pembuatan rekening baru dan keluhan-keluhan pelanggan yang diselesaikan karyawan melalui aplikasi RO. Seluruh karyawan pada PDAM dapat mengakses RO akan tetapi tidak semua memahami cara menggunakannya. Berkembangnya teknologi memudahkan pekerjaan karyawan menjadi lebih efektif dan efisien. Namun, teknologi juga menimbulkan dampak bagi penggunaannya yaitu membuat karyawan selalu berhadapan pada penggunaan teknologi dan dituntut untuk menguasai cara penggunaannya yang meliputi hardware maupun software. Kendala yang ditimbulkan dari ketidakmampuan karyawan menggunakan teknologi yang sebagian besar perusahaan telah memfasilitasi akan menimbulkan technostress sehingga diperlukannya penelitian mengenai hal ini di PDAM.
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dari itu peneliti ingin meneliti tentang apakah Pengaruh Technostress Creators dan Self Efficacy terhadap kinerja karyawan dengan
Habit sebagai variabel moderasi. Dengan tujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh Technostress Creators dan Self Efficacy terhadap kinerja karyawan dengan Habit sebagai
variabel moderasi. Penelitian ini juga memiliki manfaat bagi pembaca yaitu sebagai referensi pengetahuan tentang pengaruh Technostress Creators dan Self efficacy terhadap kinerja karyawan dengan Habit sebagai variabel moderasi.
4 KAJIAN PUSTAKA
Technostress Creators
Sebagai penunjang aktivitas pekerjaan, perusahaan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di tempat kerja. Hal ini menyebabkan teknologi dipergunakan oleh seluruh karyawan. Jarvenpaa (2005) mengungkapkan bahwa teknologi meliputi perangkat keras atau hardware, perangkat lunak atau aplikasi dan layanan jaringan. Sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi memudahkan karyawan sebagai penunjang aktivitas pekerjaan sehingga pemanfaatan teknologi akan dipergunakan jangka panjang pada individu dan perusahaan.
Dalam literatur dikatakan bahwa technostress disebut sebagai penggunaan teknologi namun mengalami stres yang disebabkan oleh berbagai macam mobilitas pada individu, kemampuan penggunaan teknologi atau stres dalam jangka waktu yang lama karena selalu terhubung terus menerus dengan teknologi (Hung, et al. 2011). Hal ini yang dinamakan sebagai
technostress atau stres karena teknologi. Seperti yang dinyatakan oleh Kuo, et al. (2009) bahwa
individu mengalami technostress saat individu merasa tidak mampu untuk membatasi penggunaan teknologi dan ketidakmampuan individu dalam menggunakan teknologi.
Teknologi dengan beragam kegunaan yang dimanfaatkan perusahaan untuk berkomunikasi membuat pekerjaan lebih mudah dengan tuntutan koneksi terus menerus, dapat mengganggu, sistem kerja yang lebih kompleks sehingga mengakibatkan individu mengalami tingkat kecemasan yang tinggi (Hung, et al 2011). Hung et al (2011) meneliti fenomena mobile
technostress dengan mengidentifikasi technostress creators dan technostress inhibitors. Technostress creators merupakan faktor-faktor penyebab individu mengalami technostress. Hal ini telah dikemukakan oleh Tarafdar et al. (2007) dan Ragu-Nathan, et al.
(2008) terdapat lima dimensi technostress creators yaitu Techno-overload, Techno-invasion,
Techno-complexity, Techno-insecurity, Techno-uncertainty.
Techno-overload adalah suatu kondisi karyawan merasa dituntut untuk menggunakan
teknologi dan bekerja lebih cepat sehingga karyawan merasa beban pekerjaan semakin banyak.
Techno-invasion adalah suatu kondisi karyawan merasa terhubung dengan pekerjaan mereka
dimanapun kapanpun karena adanya teknologi, sehingga karyawan merasa tertekan antara pilihan kepentingan pribadi maupun masalah pekerjaan. Techno-complexity adalah suatu kondisi dimana karyawan sebagai pengguna teknologi merasa tingkat kemampuan yang
5
dimiliki tidak mampu menyeimbangkan dengan kerumitan teknologi sehingga konsekuensinya karyawan diharuskan memahami dan mempelajari teknologi. Techno-insecurity adalah dengan adanya teknologi serta keahlian karyawan lain yang lebih mampu menguasai teknologi, karyawan akan merasa cemas jika tergantikan perannya. Techno-uncertainty adalah kondisi karyawan yang harus menyesuaikan perkembangan teknologi sehingga mengakibatkan karyawan harus menyesuaikan dengan perubahan baru sehingga mengalami keresahan.
Technostress Inhibitors: Self Efficacy
Technostress Inhibitors atau penghambat terjadinya stres karena teknologi yaitu berupa Self Efficacy. Self Efficacy adalah penilaian diri mengenai kemampuan diri untuk dapat
digunakan pada situasi tertentu (Bandura 1997). Dikatakan bahwa Self efficacy merupakan
technostress inhibitors atau penghambat dari terjadinya technostress pada tingkat individu
karena ketika individu yakin mampu melakukan pekerjaan khususnya pada penggunaan teknologi di berbagai macam situasi pekerjaan, individu akan lebih cenderung mengaitkan kegagalan pada kekurangan pengetahuan tentang teknologi, keterampilan teknologi dan usaha daripada kemampuan mereka pada penggunaan teknologi di perusahaan, oleh sebab itu individu mampu mengatasi technostress terhadap dirinya.
Self Efficacy menurut Alwisol (2009) berupa persepsi diri tentang kemampuan diri
apakah dapat berfungsi dalam beragam situasi, self efficacy mencerminkan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan sesuai yang diharapkan. Self efficacy menurut Alwisol dapat diperoleh, diubah maupun ditingkatkan atau diturunkan. Pendapat lain juga dikemukakan oleh Anwar (2009) mengenai self efficacy yang berperan penting dalam mempengaruhi upaya yang dilakukan individu berupa usaha yang dilakukan untuk keberhasilan yang akan dicapai. Dalam keadaan sulit, self efficacy yang rendah akan membuat individu merasa mudah menyerah. Namun ketika self efficacy individu tinggi, maka keyakinan akan tinggi untuk berusaha lebih keras dalam mengatasi masalah.
Bandura (1997) mengemukakan tiga dimensi self efficacy yaitu level, generality, dan
streght. Dimensi level adalah standar kesulitan tugas mudah atau sulit yang dihadapi namun
individu yakin akan mampu mengatasinya sehingga akan menentukan tinggi atau rendahnya
self efficacy pada individu. Dimensi generality adalah keyakinan individu pada sejauh mana
kemampuannya dalam bermacam-macam situasi tugas. Dimensi strength adalah kekuatan keyakinan pada individu mengenai kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi permasalahan.
6 Habit
Habit atau kebiasaan secara umum merupakan kebiasaan individu untuk melakukan
suatu hal secara berulang-ulang. Habit menurut Verplanken dan Orbell (2003) adalah cara individu untuk meningkatkan kemampuan dengan membebaskannya untuk melakukan suatu hal. Secara khusus, kemampuan kebiasaan muncul dalam kondisi beban berat, seperti kelelahan, tekanan waktu, gangguan, atau informasi yang berlebihan.Verplanken et al (1994) juga berpendapat bahwa habit merupakan perilaku stabil yang didukung oleh perilaku sebelumnya (past behavior), dan melakukan suatu hal tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu sehingga dapat dikatakan bahwa hal ini merupakan hasil proses otomatis. Berdasarkan peningkatakan kemampuan individu, mengontrol perasaan dan mengatur diri, maka jika menerapkan kebiasaan dalam menggunakan teknologi di tempat kerja membuat mereka lebih bertoleransi terhadap technostress creators. Dengan cara ini, individu akan merasakan berkurangnya tekanan psikologis dan dapat merasakan efek positif menggunakan teknologi. Kebiasaan merupakan bagaimana cara mengatur kehidupan sehari-hari sehingga dapat mencerminkan identitas atau ciri khas individu (Verplanken dan Orbel 2003). Dalam pengukuran habit, terdapat tiga pendekatan (Verplanken et al., 1998). Pendekatan yang pertama yaitu melalui laporan frekuensi sebelumnya (self-reported frequency of past
behavior). Pendekatan kedua adalah pengukuran kebiasaan berdasarkan kondisi tertentu
(script-based habit measure). Pendekatakan ketiga yaitu laporan indeks kebiasaan (self-report
habit index, SRHI).
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan self-report habit index atau SRHI untuk mengukur habit. Verplanken dan Orbell (2003) mengatakan terdapat tiga dimensi dari habit yaitu frekuensi pengulangan (frequency of repetition), otomatisitas (automaticity), dan identitas (identitiy). Frekuensi pengulangan (frequency of repetition) merupakan perilaku kegiatan yang dilakukan dengan frekuensi pengulangan masa lalu atau berapa kali kegiatan dilakukan setiap hari atau setiap mingguan. Otomatisitas (automaticity) adalah ketika sebuah perilaku itu terjadi secara tidak disengaja atau tidak dapat dikendalikan dan memulainya secara tidak sadar namun secara otomatis akan menyadari bahwa individu sedang melakukan atau telah selesai melakukan. Identitas (identitiy) adalah sebuah perilaku yang dapat dipengaruhi oleh perilaku kebiasaan. Jika perilaku yang telah menjadi kebiasaan tidak dilakukan maka akan membuat individu merasa ada suatu hal yang berbeda sehingga hal ini dapat didefinisikan sebagai “typically us”.
7 Kinerja
Kinerja menurut Mangkunegara (2011) yaitu unjuk kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam pelaksanaan tugas yang dilakukan karyawan juga disesuaikan dengan kemampuan individu atau kelompok. Sedangkan pengertian kinerja yang dikemukakan oleh Hasibuan (2006) bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Wibowo (2008) yang menyatakan kinerja adalah hasil kerja dengan menghasilkan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Kinerja juga dapat digambarkan mengenai pencapaian pelaksanaan berupa kegiatan, program, atau kebijakan dalam mencapai tujuan, sasaran, misi dan visi organisasi (Mahsun 2006).
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan merupakan hasil yang dicapai karyawan baik secara kualitas maupun kuantitas untuk tercapainya tujuan organisasi. Mangkunegara (2006) mengungkapkan empat dimensi kinerja yaitu kuantitas, kualitas, tanggung jawab, dan pelaksanaan tugas.
Kuantitas kerja adalah hasilkan dari aktivitas kerja yang dihasilkan karyawan. Kualitas kerja merupakan hasil kerja akhir karyawan yang memenuhi tujuan yang diharapkan perusahaan. Tanggung jawab adalah komitmen karyawan dalam kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh perusahaan. Pelaksanaan tugas adalah kemampuan karyawan dalam melakukan pekerjaannya dan bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan, peran dan fungsi.
Pengembangan Hipotesis
Pengaruh Technostress Creators terhadap kinerja
Faktor-faktor terciptanya technostress yaitu stres yang diakibatkan oleh teknologi telah dikemukakan oleh Ragu-Nathan et al (2008) berupa overload, invasion,
techno-complexity, techno-insecurity, techno-uncertainty. Technostress yang dialami oleh individu di
lingkungan pekerjaan akan berdampak pada psikologisnya. Dampak yang dialami adalah menurunnya kepercayaan diri, frustasi, kelelahan dan sulit berkonsentrasi (Okebaram dan
8
Moses, 2013). Ader (2012) mengatakan bahwa technostress akan berdampak pada lingkungan pekerjaan, kepuasan kerja serta menurunkan kinerja kerja.
H1: Technostress Creators berpengaruh terhadap kinerja.
Pengaruh Self Efficacy terhadap kinerja
Self-efficacy adalah sifat kepercayaan diri individu dengan kemampuannya untuk dapat
melakukan tugas yang diberikan (Luthans et al 2007). Individu yang percaya akan kemampuan pada diri sendiri atau yakin dengan kemampuannya cenderung lebih mudah untuk mengatasi berbagai tugas yang diberikan sehingga self efficacy dapat digunakan sebagai penghambat tingkat individu untuk mengatasi dengan cara mengontrol terhadap situasi yang menyebabkan
technostress yang berpengaruh terhadap kinerja. Pada penelitian technostress yang telah
dilakukan oleh (Shu, et al. 2011; Alleyne, 2012; Tarafdar, et al. 2014; 2015) self efficacy telah terbukti mampu melemahkan pengaruh negatif technostress dan mempengaruhi meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Karyawan yang yakin akan kemampuannya dalam menggunakan teknologi yang dimilikinya cenderung mampu untuk mengatasi berbagai perubahan maupun kerumitan dalam berkembangnya teknologi yang baru.
H2: Self efficacy berpengaruh terhadap kinerja.
Moderasi Habit terhadap Technostress Creators dan Self Efficacy terhadap kinerja
Habit atau kebiasaan mencerminkan perilaku individu yang di lakukan secara
berulang-ulang yang merupakan frekuensi dari perilaku sebelumnya dan merupakan hasil proses otomatis. Habit mampu membuat seseorang merasa bebas untuk melakukan suatu hal ketika menghadai situasi dimana individu merasa ada di dalam kondisi beban berat, seperti kelelahan atau berada dalam situasi tekanan waktu (Verplanken dan Orbell 2003). Habit dapat mengurangi perasaan negatif di lingkungan kerja karena habit mampu mengontrol perasaan dan mengatur diri menggunakan teknologi sehingga individu dapat bertoleransi terhadap
technostress creators. Semakin seseorang mampu mengatasi technostress yang ia alami maka
akan berpengaruh terhadap kinerjanya karena menurut Weil dan Rosen (1997) technostress mengakibatkan seseorang mengalami stress sehingga terjadi perubahan dalam dirinya sehingga ketika keadaan karyawan tidak baik, maka akan mempengaruhi kinerja mereka. Kinerja bagi organisasi, adalah salah satu hal dalam mencapai tujuan perusahaan (Hameed dan Waheed 2011). Jadi, karyawan yang mengalami technostress akan berpengaruh performa kinerjanya.
9
Habit juga berperan dalam memoderasi self efficacy karena dengan keyakinan individu untuk
menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan sesulit apapun dan usaha tersebut berhasil, maka individu akan menerapkan self efficacy yang tinggi secara berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan karena kebiasaan adalah bagian dari bagaimana seorang individu mengatur kehidupan sehari-hari sehingga mencerminkan identitas diri (Verplanken dan Orbell 2003). Ketika seseorang memiliki self efficacy yang tinggi pada penggunaan teknologi maka akan berpengaruh terhadap kinerjanya yang semakin meningkat karena self efficacy adalah sebagai faktor penghambat terjadinya technostress creators. Peran habit akan memperkuat antara self efficacy seseorang pada teknologi dan kinerjanya.
10
Gambar 1. Kerangka Penelitian
METODE PENELITIAN Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan proses pencarian hasil dengan menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis untuk mengetahui keterangan mengenai apa yang ingin diketahui (Kasiram 2008: 149). Penelitian ini menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti dengan penelitian lapangan.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan perusahaan daerah air minum (PDAM) kota Salatiga. Jumlah pegawai di PDAM Salatiga sebanyak 120 karyawan yang memanfaatkan teknologi khususnya teknologi mobile sebagai penunjang pekerjaan. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode saturation sampling. Saturation sampling adalah metode pengambilan sampel dengan mengikutsertakan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian. Penelitian ini akan meneliti mengenai technostress creators dan self efficacy, kinerja karyawan dan habit pada PDAM Kota Salatiga.
Metode Pengumpulan Data
Metode menggunakan kuesioner (angket) dipakai untuk mengambil data. Kuesioner merupakan alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan atau pernyataan yang diberikan kepada responden untuk dijawab yang dianggap data factual atau opini (Sugiyono, 2012: 142).
Technostress Inhibitor : Self Efficacy (X2) Kinerja (Y) Habit Teknologi (Z) Technostress Creators (X1) H3 H4
11
Kuesioner menggunakan skala likert 1-5 yang memberikan pernyataan berupa Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS).
Variabel technostress creators menurut Ragu-Nathan et al (2008); Tarafdar et al (2007); Tu et al (2005) diukur dengan lima dimensi yaitu techno-overload, techno-invasion,
techno-complexity, techno-insecurity, techno-uncertainty dengan 14 indikator. Variabel self efficacy menurut Bandura (1997) diukur dengan tiga dimensi yaitu level, generality, streght
serta tiga indikator. Variabel habit diukur dengan tiga dimensi yaitu frequency of repetition,
automaticity, dan identity serta 12 indikator. Variabel kinerja menurut Mangkunegara (2006)
terdapat empat dimensi yang dapat dijadikan alat pengukuran yaitu kuantitas, kualitas, tanggung jawab dan pelaksanaan tugas dengan 7 indikator kinerja. Operasionalisasi variabel dapat dilihat pada lampiran II.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Uji asumsi klasik digunakan sebagai persyaratan statistik yang harus dilakukan pada analisis regresi linear berganda. Beberapa tahapan uji yang dilakukan adalah uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji linearitas, uji multikolinearitas. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan Moderated Regression
Analysis (MRA) atau uji interaksi. MRA adalah uji khusus pada regresi linear berganda yang
memuat unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen) dengan rumus persamaan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X1X2 + e
Keterangan :
Y : variabel dependen a : nilai konstanta
b : nilai koefisien variabel X1: variabel independen 1
X2: variabel independen 2
X1X2: variabel moderasi (interaksi antara variabel X1 dan X2)
12 HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Uji validitas pada penelitian ini menggunakan metode Corrected Item Total
Correlations dengan membandingkan r hitung dengan r tabel menggunakan tingkat
signifikansi 0,05 dan N = 120. Rumus df = N-2 digunakan untuk mencari r tabel. Jika nilai r hitung ≥ r tabel dengan nilai r tabel sebesar 0,1793, maka item pernyataan dapat dikatakan valid. Uji reliabilitas dengan menggunakan uji Cronbach’s Alpha dimana ketika hasil dari suatu variabel dapat dikatakan reliabel jika nilai dari Cronbach’s Alpha lebih dari 0,60 (Priyatno 2014).
Tabel 1
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
NO Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
1. Technostress Creators TC1 0,246 0,865 Valid TC2 0,672 Valid TC3 0,348 Valid TC4 0,425 Valid TC5 0,428 Valid TC6 0,435 Valid TC7 0,668 Valid TC8 0,519 Valid TC9 0,609 Valid TC10 0,322 Valid TC11 0,659 Valid TC12 0,630 Valid TC13 0,574 Valid TC14 0,583 Valid TC15 0,482 Valid 2. Self Efficacy SE1 0,328 0,603 Valid SE2 0,536 Valid SE3 0,251 Valid SE4 0,260 Valid SE5 0,536 Valid 3. Habit HBT1 0,354 0,627 Valid HBT2 0,261 Valid HBT3 0,311 Valid HBT4 0,207 Valid HBT5 0,262 Valid HBT6 0,268 Valid HBT7 0,251 Valid HBT8 0,383 Valid HBT9 0,186 Valid HBT10 0,270 Valid HBT11 0,223 Valid
13
NO Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
HBT12 0,314 Valid 4. Kinerja K1 0,200 0,616 Valid K2 0,224 Valid K3 0,208 Valid K4 0,471 Valid K5 0,501 Valid K6 0,300 Valid K7 0,378 Valid
Sumber: data olahan SPSS, 2018
Tabel di atas merupakan hasil dari uji validitas menggunakan software SPSS V.22 yang menunjukkan bahwa variabel technostress creators, variabel self efficacy, variabel habit dan variabel kinerja dinyatakan bahwa data tersebut valid karena r hitung lebih besar dari r tabel. Hasil uji reliabilitas pada variabel technostress creators, self efficacy, habit dan kinerja memiliki nilai Cronbach Alpha lebih dari 0,60 yang artinya hasil olahan data telah lolos uji reliabilitas.
Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah distrsibusi frekuensi data normal atau tidak normal. Metode yang digunakan adalah metode uji One Sample
Kolmogorof-Smirnov dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Pada hasil penelitian dengan menggunakan
SPSS V.22 diperoleh bahwa data berdistribusi normal karena hasil nilai signifikansi sebesar 0,200. (Lampiran 3)
Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui terjadi atau tidak pada ketidaksamaan variance dari residual antar pengamatan. Metode yang digunakan menggunakan uji glejser dengan meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel independen dengan tingkat kepercayaan lebih dari 0,05. Hasil dari pengolahan data menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel technostress creators sebesar 0,871 > 0,05 selanjutnya variabel Self Efficacy sebesar 0,244 > 0,05 dan kemudian pada variabel habit yaitu sebesar 0,630 > 0,05 sehingga hasil menunjukkan bahwa model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. (lampiran 4)
Uji linearitas dengan menggunakan Test For Linearity pada SPSS V.22 untuk mencari hubungan yang linear pada setiap variabel. Dapat dikatakan mempunyai hubungan yang linear apabila memiliki nilai signifikansi sebesar < 0,05. Hasil pengolahan data didapatkan hasil variabel kinerja dan technostress creators dengan hasil 0,000 < 0,05 selanjutnya untuk variabel kinerja dan self efficacy dengan hasil 0,000 < 0,05 kemudian variabel habit dan kinerja dengan
14
hasil 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel technostress creators, self
efficacy, habit dan kinerja memiliki hubungan linear. (lampiran 5)
Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan linear sempurna antara semua variabel maupun beberapa variabel bebas (Kuncoro, 2011). Dikatakan tidak terjadi multikolinearitas apabila dilihat dari hasil dengan nilai Tolerance > 0,10 dan Inflantion
Factor (VIF) < 10. Hasil uji multikolinearitas dengan menggunakan SPSS V.22 menunjukkan
bahwa nilai tolerance variabel technostress creators sebesar 0,713 > 0,10 selanjutnya variabel
self efficacy sebesar 0,638 > 0,10 kemudian variabel habit sebesar 0,792 > 0,10. Sedangkan
hasil VIF pada variabel technostress creators sebesar 1,403 < 10 variabel self efficacy sebesar 1,569 < 10 variabel habit sebesar 1,262 < 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel. (Lampiran 6)
Karakteristik Responden
Responden penelitian ini adalah karyawan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Salatiga yang berjumlah 120 orang. Pada penelitian ini terdapat lima karakteristik responden yaitu usia, jenis kelamin, lama bekerja, teknologi yang digunakan di tempat kerja, durasi penggunaan teknologi saat menjalankan pekerjaan.
Tabel dibawah menunjukkan bahwa karyawan pria yaitu sebesar 63,3 persen atau 76 orang dan karyawan wanita sebanyak 44 orang atau 36,7 persen dari 120 responden. Untuk rata – rata rentang usia karyawan yang bekerja disana yaitu 30-40 tahun dengan jumlah persentasenya 49,2 persen. Selanjutnya untuk lama bekerja karyawan yaitu antara 5 ≤ 10 tahun dengan jumlah persentase yaitu sebesar 35,8 persen. Dalam melakukan aktivitas pekerjaannya, intensitas penggunaan teknologi yang paling sering digunakan dalam tempat kerja yaitu menggunakan komputer dengan persentase sebesar 49,2 persen. Kemudian saat menggunakan teknologi di tempat kerja rata – rata dalam sehari karyawan menggunakan teknologi > 4 jam dengan persentase sebesar 68,3 persen.
Tabel 2
Karakteristik Responden
Identitas diri Distribusi Responden Jumlah
Orang Presentase Jenis Kelamin Pria 76 63,3 Wanita 44 36,7 Jumlah 120 100,0 Usia <21-25 Tahun 4 3,3 25-30 Tahun 27 22,5 30-40 Tahun 59 49,2
15 >40 Tahun 30 25 Jumlah 120 100,0 Lama Bekerja < 1 Tahun 3 2,5 1< 5 Tahun 39 32,5 5 < 10 Tahun 43 35,8 >10 Tahun 35 29,2 Jumlah 120 100,0
Teknologi yang digunakan ditempat kerja
Komputer 59 49,2
Handphone 54 45
Laptop 7 5,8
Jumlah 120 100,0
Durasi penggunaan teknologi
< 4 jam 38 31,7
>4 jam 82 68,3
Jumlah 120 100,0
Technostress Creators, Self Efficacy, Habit dan Kinerja
Skala likert digunakan untuk mengetahui rentang rata – rata jawaban dari responden pada kuesioner dari keempat variabel menggunakan rumus sebagai berikut :
Interval : Nilai Max – Nilai Min = 5 -1 = 0,8 Jumlah kelas 5
Dengan menggunakan rumus diatas diperoleh tingkat kategori variabel sebagai berikut:
Tabel 3
Tingkat Kategori Variabel
Range Keterangan 4,20 – 5,00 Sangat Tinggi 3,40 - 4,19 Tinggi 2,60 – 3,39 Sedang 1,80 – 2,59 Rendah 1,00 – 1,79 Sangat Rendah
Sumber : Olahan Excel, 2018
Tabel 4
Nilai rata – rata Technostress Creators Technostress Creators
No Pertanyaan Mean Kategori
Techno-overload
1 Dengan penggunaan RO/GIS, saya merasa terjadi
peningkatan beban pekerjaan. 3,10
Sedang 2 Saya merasa dalam memasukkan data ke dalam
komputer menyita waktu lebih banyak. 3,22
16
Technostress Creators
No Pertanyaan Mean Kategori
3 Dengan menggunakan RO/GIS, saya merasa harus maksimal dalam bekerja namun dengan waktu yang terbatas.
3,48
Tinggi
Rata – rata Techno-Overload 3,26 Tinggi
Techno-invasion
4 RO/GIS menghubungkan saya dengan pekerjaan melalui teknologi meskipun berada di luar jam kantor.
3,56
Tinggi
5 RO/GIS menghubungkan saya dengan pekerjaan meski hari libur melalui teknologi yang saya gunakan.
3,57
Tinggi
6 Saya merasa penggunaan teknologi yang berlebihan
dapat mengganggu waktu pribadi. 3,57
Tinggi
Rata – rata Techno-Invasion 3,56 Tinggi
Techno-complexity
7 Saya merasa aplikasi RO/GIS terlalu rumit sehingga
sering membingungkan. 3,28
Sedang 8 Saya memiliki keterbatasan pengetahuan tentang
penggunaan RO/GIS dalam pekerjaan. 3,53
Tinggi 9 Saya membutuhkan waktu yang lama untuk
mempelajari sistem baru pada komputer. 3,43
Tinggi
Rata – rata Techno-Complexity 3,41 Tinggi
Techno-insecurity
10 Saya merasa harus mengembangkan kemampuan dalam menguasai aplikasi RO/GIS karena takut jika digantikan dengan karyawan lain.
3,51
Tinggi
11 Saya merasa tidak percaya diri berbagi pengetahuan yang dimiliki tentang aplikasi RO/GIS karna takut karyawan lain lebih menguasai sistem aplikasi.
3,05
Sedang
12 Saya merasa cemas apabila hadirnya karyawan baru yang lebih menguasai teknologi khususnya penggunaan aplikasi RO/GIS.
3,37
Sedang
Rata – rata Techno-Insecurity 3.31 Tinggi
Techno-uncertainty
13 Saya merasa kesulitan ketika terjadi pembaharuan aplikasi RO/GIS sehingga memerlukan waktu untuk memahaminya.
3,61
Tinggi
14 Saya merasa kesulitan ketika terdapat perubahan
teknologi. 3,56
Tinggi 15 pergantian software dan hardware tanpa adanya
pelatihan dapat menghambat pekerjaan saya. 4,04
Tinggi
Rata – rata Techno-Uncertainty 3,74 Tinggi
Rata – rata Technostress Creators 3,46 Tinggi
17
Hasil pada tabel technostress creators menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada pernyataan “Pergantian software dan hardware tanpa adanya pelatihan dapat menghambat pekerjaan saya” dengan memperoleh rata-rata jawaban 4,04 dari 120 responden. Nilai rata-rata terendah yaitu dari pertanyaan “Saya merasa tidak percaya diri berbagi pengetahuan yang dimiliki tentang aplikasi RO/GIS karna takut karyawan lain lebih menguasai sistem aplikasi.” yaitu memperoleh nilai sebesar 3,05 yang termasuk dalam kategori sedang. Secara keseluruhan nilai rata – rata dari 15 pertanyaan di variabel technostress creators sebesar 3,46 yang menunjukkan bahwa technostress creators dalam kategori tinggi.
Tabel 5
Nilai rata – rata Self Efficacy Self Efficacy
No Pertanyaan Mean Kategori
Level
1 Saya yakin atas kemampuan saya menggunakan
RO/GIS untuk menyelesaikan tugas. 4,05 Tinggi
Rata – rata Level 4,05 Tinggi
Generality
2 Saya dapat mengatasi berbagai macam tugas dengan
menggunakan komputer. 3,95 Tinggi
3 Saya mampu untuk merencanakan dan mengatur diri dalam penggunaan komputer untuk menggunakan
RO/GIS. 3,72 Tinggi
Rata – rata Generality 3,83 Tinggi
Strength
4 Saya yakin dapat bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dengan memanfaatkan teknologi
di tempat kerja. 3,65 Tinggi
5 Saya yakin mampu untuk menggunakan komputer agar memudahkan saya menjalankan tuntutan
pekerjaan yang harus dicapai 3,95 Sangat tinggi
Rata – rata Strength 3,80 Tinggi
Rata – rata Self Efficacy 3,89 Tinggi
Sumber : Data Olahan Ms. Excel, 2018
Pada tabel self efficacy hasil menunjukkan nilai rata – rata tertinggi pada pertanyaan “Saya yakin atas kemampuan saya menggunakan RO/GIS untuk menyelesaikan tugas.” dengan rata – rata jawaban dari 120 responden sebesar 4,05. Nilai rata – rata keseluruhan dari 5
18
indikator pertanyaan pada variabel self efficacy sebesar 3,89 dimana artinya adalah variabel
self efficacy termasuk dalam kategori tinggi. Tabel 6
Nilai rata – rata Habit Habit
No Pertanyaan Mean Kategori
Frequency of repetition
1 Saya sering menggunakan aplikasi RO/GIS di tempat
kerja. 3,88 Tinggi
2 Saya menggunakan aplikasi RO/GIS sebagai rutinitas
pekerjaan. 3,80 Tinggi
3 Saya telah menggunakan aplikasi RO/GIS untuk waktu
yang lama. 3,80 Tinggi
Rata – rata Frequency of repetition 3,83 Tinggi Automaticity
4 Saya selalu menggunakan komputer untuk menyelesaikan
tugas dan dilakukan secara otomatis 3,86 Tinggi
5 Saat saya akan mengerjakan tugas, secara tidak langsung
akan menggunakan komputer. 3,95 Tinggi
6 Saya akan menggunakan teknologi
(handphone/komputer/laptop) tanpa perlu
mempertimbangankan terlebih dahulu.
3,61 Tinggi
7 Saya akan merasa kesulitan jika tidak menggunakan
teknologi (handphone/komputer/laptop) di tempat kerja. 3,87 Tinggi 8 Secara tidak sadar saya selalu menggunakan teknologi
(handphone/komputer/laptop) saat menjalankan pekerjaan.
3,87 Tinggi
9 Saya merasa kesulitan jika tidak memanfaatkan teknologi
(handphone/komputer/laptop). 4,08 Tinggi
10 Saya menggunakan teknologi
(handphone/komputer/laptop) sesuai keinginan saya. 3,59 Tinggi
Rata – rata Automaticity 3,83 Tinggi
Identity
11 Saya merasa ada perbedaan ketika tidak menggunakan teknologi (handphone/komputer/laptop) dalam menyelesaikan tugas saya.
3,88 Tinggi
12 Penggunaan teknologi (handphone/komputer/laptop) di
tempat kerja merupakan perilaku kebiasaan saya. 3,98 Tinggi
Rata – rata Identity 3,93 Tinggi
Rata – rata Habit 3,86 Tinggi
Sumber : Data Olahan Ms. Excel, 2018
Pada tabel di atas merupakan hasil rata – rata dari variabel habit. Hasil tertinggi adalah pertanyaan “Saya merasa kesulitan jika tidak memanfaatkan teknologi (handphone/komputer/laptop)” yaitu dengan perolehan sebesar 4,08 dari 120 responden. Nilai
19
rata-rata variabel habit dari keseluruhan indikator yaitu 12 indikator menunjukkan hasil 3,85 yang artinya variabel habit termasuk dalam kategori tinggi.
Tabel 7
Nilai rata – rata Kinerja Kinerja
No Pertanyaan Mean Kategori
Kuantitas
1 Volume tingkat pencapaian kerja yang saya kerjakan telah
sesuai hasil yang diinginkan. 3,91 Tinggi
Rata – rata kuantitas 3,91 Tinggi
Kualitas
2 Saya menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan 3,74 Tinggi
3 Saya melakukan suatu pekerjaan dengan cermat,
perhitungan dan teliti. 3,80 Tinggi
Rata – rata kualitas 3,77 Tinggi
Pelaksanaan tugas
4 Saya memiliki kemampuan yang dapat diterapkan dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan. 3,22 Tinggi
5 Pengetahuan yang saya miliki mampu menguasai tugas yang dikerjakan dengan hasil yang baik
3,28 Tinggi
Rata – rata pelaksaan tugas 3,25 Tinggi
Tanggung jawab
6 Saya melaksanakan tugas dengan baik. 4,04 Tinggi
7 Saya menyelesaikan tugas dengan baik. 3,57 Tinggi
Rata – rata tanggung jawab 3,80 Tinggi
Nilai rata – rata kinerja 3,68 Tinggi
Sumber : Data Olahan Excel, 2018
Dari tabel di atas telah menunjukkan hasil rata -rata dari variabel kinerja. Perolehan nilai rata-rata tertinggi dari pertanyaan “Saya melaksanakan tugas dengan baik” yaitu sebesar 4,04 yang artinya nilai tersebut dalam kategori tinggi. Dari keseluruhan indikator variabel kinerja memperoleh nilai rata – rata sebesar 3,68 sehingga variabel kinerja termasuk dalam kategori tinggi.
Uji Hipotesis
Pengaruh Technostress Creators terhadap Kinerja dan Habit sebagai Variabel Moderasi
Uji analisis regresi linier sederhana digunakan dalam penelitian ini yang berfungsi untuk melihat apakah pengaruh technostress creators terhadap kinerja yang merupakan
20
hipotesis pertama dalam penelitian. Uji regresi linier sederhana dengan menggunakan SPSS V.22.
Tabel 8
Koefisien Regresi Linier Sederhana Technostress Creators terhadap Kinerja
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.127 .137 8.203 .000 TechStress .730 .039 .864 18.682 .000
a. Dependent Variable: Kinerja
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh persamaan regresi linier sederhana antara variabel
technostress creators (X1) dan Kinerja (Y) sebagai berikut :
Y = 1,127 + 0,730 X
Dari persamaan regresi linier sederhana diperoleh nilai koefisien dari variabel
technostress creators adalah positif. Dapat disimpulkan bahwa technostress creators memiliki
pengaruh yang positif terhadap kinerja. Jika nilai signifikansi variabel lebih kecil dari 0,05 maka variabel tersebut dapat dikatakan memiliki pengaruh. Dilihat dari hasil nilai signifikansi dari variabel technostress creators yaitu sebesar 0,000 < 0,05 yang dapat dikatakan bahwa variabel technostress creators memiliki pengaruh terhadap kinerja.
Tabel 9 Koefisien Korelasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .864a .747 .745 .269
a. Predictors: (Constant), TechStress
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Dari hasil tabel di atas menunjukkan hasil nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,747. Hasil tersebut menunjukkan presentase dari pengaruh variabel technostress creators terhadap kinerja sebesar 74,7 %.
Setelah melakukan uji regresi linier sederhana maka tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu uji MRA atau analisis regresi moderasi. Dilakukannya MRA untuk menguji hipotesis yang ketiga yaitu mengetahui bagaimana Habit memoderasi antara Technostress Creators terhadap Kinerja. Uji analisis regresi moderasi dilakukan dengan menggunakan alat bantu SPSS V.22 sebagai berikut :
21 Tabel 10 Tabel MRA Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .362 1.374 .264 .793 TechStress .708 .422 .838 1.679 .096 Habit .237 .354 .168 .668 .505 TCxHBT -.005 .108 -.030 -.047 .962
a. Dependent Variable: Kinerja
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Pada tabel di atas diperoleh persamaan regresi moderasi sebagai berikut : Y = 0,362 + 0,708 X1 + 0,237 X3 - 0,005 x1*x3
Hasil di atas menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari hasil interaksi antara
Technostress Creators terhadap kinerja dan dimoderasi oleh Habit sebesar 0,962 > 0,05 yang
artinya bahwa variabel tersebut tidak memoderasi dari pengaruh variabel independen dengan variabel dependen karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa
Habit merupakan variabel yang tidak memoderasi interaksi antara Technostress Creators
terhadap kinerja.
Pengaruh Self Efficacy terhadap Kinerja dan Habit sebagai Variabel Moderasi
Uji analisis regresi linier sederhana digunakan dalam penelitian ini yang berfungsi untuk melihat apakah pengaruh self efficacy terhadap kinerja yang merupakan hipotesis kedua dalam penelitian. Uji regresi linier sederhana dengan menggunakan SPSS V.22.
Tabel 11
Koefisien Regresi Linier Sederhana Self Efficacy terhadap Kinerja
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.565 .293 5.347 .000 SEfficacy .540 .075 .552 7.198 .000
a. Dependent Variable: Kinerja
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh persamaan regresi linier sederhana antara variabel
self efficacy (X2) dan Kinerja (Y) sebagai berikut :
Y = 1,565 + 0,540 X
Dari persamaan regresi linier sederhana diperoleh nilai koefisien dari variabel Self
22
positif terhadap Kinerja. Ketika karyawan menerapkan Self Efficacy maka semakin tinggi Kinerja karyawan. Dilihat dari nilai signifikansi dari variabel Self Efficacy yaitu sebesar 0,000 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel Self Efficacy memiliki pengaruh terhadap kinerja.
Tabel 12 Koefisien Korelasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .552a .305 .299 .447
a. Predictors: (Constant), SEfficacy
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Dari hasil tabel di atas menunjukkan hasil nilai koefisien determinasi (R2) sebesar
0,305. Hasil tersebut menunjukkan persentase dari pengaruh variabel Self Efficacy terhadap Kinerja sebesar 30,5%.
Setelah melakukan uji regresi linier sederhana maka tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu uji MRA atau analisis regresi moderasi. Dilakukannya MRA untuk menguji hipotesis yang keempat yaitu mengetahui bagaimana Habit memoderasi antara Self Efficacy terhadap kinerja. Uji analisis regresi moderasi dilakukan dengan menggunakan alat bantu SPSS V.22.
Tabel 13 Tabel MRA Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2.899 3.226 .899 .371 SEfficacy -.131 .869 -.134 -.151 .881 Habit -.263 .854 -.187 -.308 .759 SExHBT .152 .227 .850 .668 .506
a. Dependent Variable: Kinerja
Sumber : Data olahan SPSS, 2018
Pada tabel di atas diperoleh persamaan regresi moderasi sebagai berikut : Y = 2,899 - 0,131 X2 + 0,263 X3 + 0,152 x2*x3
Hasil di atas menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari hasil interaksi antara Self
Efficacy terhadap kinerja dan dimoderasi oleh Habit sebesar 0,506 > 0,05 yang artinya bahwa
variabel tersebut tidak memoderasi dari pengaruh variabel independen dengan variabel dependen karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa Habit merupakan variabel yang tidak memoderasi interaksi antara Self Efficacy terhadap kinerja.
23 PEMBAHASAN
Hasil pada variabel Technostress Creators menunjukkan bahwa technostress yang terjadi di PDAM Kota Salatiga termasuk dalam kategori tinggi. Hal tersebut ditunjukkan ketika terdapat perubahan software dan hardware yang digunakan karyawan tanpa adanya pelatihan membuat karyawan berfikir dapat menghambat aktivitas pekerjaannya. Perkembangan teknologi membuat karyawan merasa harus menyesuaikan perubahan pada teknologi yang digunakan sehingga karyawan resah apabila tidak menguasai dan tidak diimbangi dengan pelatihan. Dari keresahan tersebut merupakan salah satu faktor penyebab technostress yaitu
techno-uncertainty yang telah dikemukakan oleh Tarafdar et al (2007) dan Ragu-Nathan et al
(2008).
Pada variabel Self Efficacy menunjukkan hasil rata - rata Self Efficacy karyawan PDAM Kota Salatiga dalam menggunakan teknologi termasuk dalam kategori tinggi. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari karyawan yang yakin atas kemampuannya dalam menggunakan RO/GIS untuk menyelesaikan tugas. Hasil tersebut menunjukkan bahwa karyawan menerapkan Self Efficacy yang tinggi sehingga dapat meningkatkan upaya untuk mengatasi kesulitan khususnya dalam menggunakan RO/GIS yang merupakan aplikasi yang digunakan oleh karyawan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Anwar (2009) mengenai Self
Efficacy yang berperan penting dalam mempengaruhi upaya yang dilakukan individu berupa
usaha yang dilakukan agar tercapainya keberhasilan dalam mengatasi masalah dengan menerapkan Self Efficacy yang tinggi.
Variabel Habit menunjukkan bahwa karyawan PDAM Kota Salatiga menggunakan teknologi dan menjadikan sebuah perilaku kebiasaan sehingga hasil menunjukkan bahwa rata – rata habit termasuk dalam kategori tinggi. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari kesulitan karyawan jika tidak memanfaatkan teknologi baik berupa handphone, komputer maupun laptop sebagai sarana penunjang pekerjaan.
Pada variabel Kinerja menunjukkan hasil rata -rata Kinerja karyawan PDAM termasuk dalam kategori tinggi. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh karyawan dengan baik. Hasil tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hasibuan (2006) tentang kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan dengan didasarkan kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu sehingga kinerja karyawan yang baik dapat membantu untuk mencapai tujuan organisasi.
24
Penelitian ini memiliki empat hipotesis. Hasil penelitian dari hipotesis pertama yaitu diterima yang artinya bahwa terdapat pengaruh technostress creators terhadap kinerja. Hasil uji analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa technostress creators berpengaruh positif terhadap kinerja. Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ader (2012) yang menyebutkan bahwa technostress akan berdampak pada lingkungan pekerjaan, kepuasan kerja serta menurunkan kinerja kerja. Penggunaan teknologi oleh karyawan PDAM Salatiga sebagai sarana penunjang pekerjaan membuat karyawan selalu berhadapan dengan teknologi dengan hasil menunjukkan rata – rata technostress creators pada karyawan tinggi akan tetapi
technostress creators tidak mengganggu kinerja karyawan PDAM. Dalam hal ini karyawan
mampu menggunakan dan mengontrol penggunaan teknologi dengan baik sehingga tidak menganggu kinerjanya. Hal ini sesuai dengan penelitian Thompson et al (1991) yang menyebutkan bahwa ketika seorang individu maupun organisasi dapat memanfaatkan teknologi dengan baik, maka teknologi akan membantu dalam meningkatkan kinerja pada individu maupun organisasi.
Hasil penelitian hipotesis kedua menunjukkan bahwa hipotesis tersebut dapat diterima yang artinya bahwa terdapat pengaruh self efficacy terhadap kinerja. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan SPSS V.22 menunjukkan bahwa self efficacy berpengaruh positif terhadap kinerja. Penerapan self efficacy pada karyawan PDAM Salatiga termasuk dalam kategori tinggi sehingga hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengurangi
technostress creators pada karyawan karena menurut Hung et al (2011) self efficacy dapat
digunakan sebagai technostress inhibitors. Ketika self efficacy pada karyawan tinggi akan berpengaruh terhadap kinerja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Stajkovic dan Luthans (1998) dan Judge et al (2007) yang membuktikan terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi diri dengan kinerja.
Pada model penelitian ini, hipotesis ketiga dan keempat menjelaskan bahwa variabel
Habit merupakan variabel yang dapat memoderasi antara Technostress Creators dan Self Efficacy terhadap Kinerja. Hasil penelitian yang dilakukan dengan uji analisis regresi moderasi
(MRA) menunjukkan bahwa pada hipotesis ketiga variabel Habit tidak memoderasi Technostress Creators karena hasil menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,962 yaitu lebih dari 0,05. Sedangkan pada hipotesis keempat variabel Habit tidak memoderasi Self Efficacy karena hasil menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,506 yaitu lebih dari 0,05. Habit tidak memoderasi karena hasil menunjukkan technostress creators dan self efficacy yang tinggi pada karyawan justru akan menyebabkan niat untuk menggunakan teknologi menjadi berkurang dan
25
habit tidak diterapkan oleh karyawan. Hasil ini diperkuat oleh penelitian De Bruijn et al (2007) dalam studi tentang konsumsi buah, niat dalam mengkonsumsi buah tujuh kali lebih kuat pada tingkat kebiasaan yang lemah dan sebaliknya, niat mengkonsumsi buah akan menurun apabila tingkat kebiasaan yang tinggi dalam mengkonsumsi buah. Selain itu pada penelitian yang dilakukan oleh Maddux (1997) dan Ekkekakis et al (2008) dalam meneliti rutinitas olahraga memperkuat teori bahwa olahraga yang giat dapat berpotensi seseorang akan menghindarinya karena sifatnya yang berat.
Dilihat dari karakteristik responden menunjukkan bahwa lama bekerja karyawan dalam rentang waktu 5 sampai 10 tahun dan lebih dari sepuluh tahun memiliki persentase sebesar 35,8% dan 29,2%. Dalam hal ini pengalaman kerja karyawan memiliki pengaruh terhadap kinera karena karyawan menjadikan pengalaman kerja menjadi acuan dalam memposisikan dirinya secara tepat dalam berbagai kondisi terutama dalam menggunakan teknologi sehingga menjadikan habit tidak dapat memoderasi langsung terhadap kinerja. Hal ini didukung oleh penelitian Sutrisno (2009) yang menyatakan tentang pengalaman kerja merupakan suatu wadah karyawan dapat menempatkan diri dalam segala kondisi, berani dalam mengambil resiko, menghadapi segala tantangan dengan penuh tanggung jawab serta mempunyai pengalaman berkomunikasi dengan baik untuk tetap menjaga produktivitas, kinerja dan menjadikan seseorang berkompeten dalam bidangnya.
PENUTUP Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh Technostress
Creators dan Self Efficacy terhadap kinerja karyawan dengan habit sebagai variabel moderasi
di Perusahaan Daerah Air Minum Kota Salatiga. Berdasarkan penjelasan dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa hasil analisis terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
technostress creators dan self efficacy terhadap kinerja karyawan. Namun pada variabel habit
sebagai variabel moderasi tidak dapat memoderasi pengaruh antara technostress creators dan
self efficacy terhadap kinerja. Implikasi
Pada penelitian ini terhadap dua implikasi, yaitu implikasi terapan yang berisi saran yang ditujukan kepada perusahaan, serta implikasi teoritis yang dapat menguatkan teori.
26 Implikasi Terapan
Pada hasil penelitian yang telah dilakukan, technostress creators pada karyawan menunjukkan nilai rata – rata tinggi. Pernyataan pergantian software dan hardware tanpa adanya pelatihan dapat menghambat pekerjaan karyawan menjadi pernyataan yang paling banyak dipilih pada jawaban kuesioner. Sebaiknya, bagi karyawan apabila terjadi upgrade pada
software dan hardware teknologi yang digunakan di tempat kerja tetap meyakinkan diri
mampu menanganinya. Dan bagi perusahaan diperlukannya instruksi jika terdapat upgrade
software dan hardware terhadap karyawan dalam skala kecil terlebih dahulu kemudian
diperkenalkan kepada seluruh karyawan dan diadakannya pelatihan.
Analisis telah dilakukan dan hasil menunjukkan variabel self efficacy dengan nilai rata – rata tinggi. Sebaiknya karyawan tetap mempertahankan self efficacy yang tinggi dalam menggunakan teknologi karena dapat dijadikan media untuk mengurangi maupun menghambat terjadinya technostress creators.
Pada variabel Habit, pernyataan karyawan merasa kesulitan jika tidak memanfaatkan teknologi (komputer/handphone,laptop) di tempat kerja menunjukkan rata – rata paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi bagi karyawan merupakan suatu kewajiban yang dilakukan bagi dirinya sebagai penunjang pekerjaan sehingga bagi perusahaan tetap mempertahankan penyediaan fasilitas teknologi untuk karyawan.
Pada Variabel kinerja, pernyataan melaksanakan tugas dengan baik menjadi kategori rata – rata paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja karyawan menurut persepsi penilaian dirinya telah dilakukan dengan baik walaupun pada hasil technostress creators pada karyawan tergolong tinggi akan tetapi tidak mempengaruhi kinerjanya.
Implikasi Teoritis
Pada hasil penelitian ini, technostress creators berpengaruh positif terhadap kinerja. Namun hasil tidak sejalan dengan penelitian Ader (2012) yang menyebutkan technostress
creators akan berdampak dalam menurunkan kinerja kerja. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kinerja karyawan PDAM tidak terpengaruhi oleh technostress yang tinggi karena hasil kinerja karyawan masuk dalam kategori tinggi. Self efficacy berpengaruh terhadap kinerja. Didukung oleh penelitian Stajkovic dan Luthans (1998) dan Judge et al (2007) yang menyatakan terhadap pengaruh positif antara efikasi diri dengan kinerja. Setelah dilakukan penelitian, habit tidak memoderasi pengaruh antara technostress creators dan self efficacy karena pengalaman kerja yang tinggi pada karyawan PDAM lebih mendukung kinerja. Sejalan
27
dengan Sutrisno (2009) bahwa pengalaman kerja dapat dijadikan acuan meningkatkan produktivitas dan kinerja.
Keterbatasan Penelitian dan Saran Penelitian yang Akan Datang
Pada penelitian ini terdapat keterbatasan penelitian yaitu pada pengukuran variabel kinerja karyawan diukur berdasarkan persepsi sehingga saran penelitian selanjutnya kinerja karyawan dapat dinilai dan diukur oleh atasan maupun rekan kerja . Hasil penelitian menunjukkan habit tidak memoderasi, maka saran penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel habit sebagai variabel interverning.
DAFTAR PUSTAKA
Ader, O.A. 2012. Techno-Stress (http://www.directeasv.com/viewoaDer/65795.html 2002-2012).
Akhtari, P., Mohseni, M., Naderi, M., Akhtari, A., dan Torfi, A. 2013. The effect of organizational environment on technostress of employees. Case study: Shahid Tondguyan Petrochemical Company (Control Room Section). International Journal of
Conceptions on Management and Social Sciences. Vol. 1 No.1. pp.9-14.
Alleyne, Demonte C. 2012. A Quantitative Model Examining The Effect of Technostress in Professionals. UMI Dissertation Publising. Doctoral diss., Universitas Walden, Amerika Serikat.
Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian. Malang : UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah. Anwar, A. I. D. 2009. Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara
Ayyagari, R., Grover, V., Purvis, R. 2011. Technostress: Technological Antecedents and Implications. MIS Quarterly, 35 No.4, pp.1-10.
Bandura, Albert. 1997. Self Efficacy. New York: Ademic Press
Baron, R.A. & Byrne, D. 2005. Psikologi social (Edisi ke 10). Jakarta: Erlangga.
Befort, N., dan Hattrup, K., 2003. Valuing Task and Contextual Performance: Experience, Job
Roles, and Ratings of The Importance of Job Behavios. Applied H.R.M Research,
Volume 8, Number 1
Chen, Y.F., 2009. Job Stress and Performance: A Study of Police Officers in Central Taiwan. Social Behavior and Personality Vol 37 No 10
De Bruijn, G.J., Kremers, S.P.J., De Vet, E., De Nooijer, J., Van Mechelen, W., & Brug, J. 2007. Does habit strength moderate the intention-behaviour relationship in the Theory of Planned Behaviour? The case of fruit consumption. Psychology and Health, 22, 899-916. Ekkekakis, P., Hall, E. E., & Petruzello, S.J. 2008. The relationship between exercise intensity and affective responses demystified: To crack the old nut, replace the 40-year-old nutcracker!. Annals of Behavioral Medicine, 35, 136-149.
Ferdousi, B. dan Levy, Y. 2010. Development and Validation of a Model Investigate the Impact
of Individual Factor on Instructors Intention to Use Learning System, Journal of E-Learning and E-Learning Objects, Volume 6:2010.
Goodhue, D.L. 1995. Task Technology Fit and Individual Performance. MIS Quarterly. pp. 1827-1844.
28
Hameed, A. dan Waheed, A. 2011. Employee Development and Its Affect on Employee Performance A Conceptual Framework. International Journal of Business and Social
Science. Vol. 2. No. 13. pp.224-229.
Hasibuan, Malayu S.P. 2006 Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Haji Masagung. Hung, W.H., Chang, L.M., and Lin, C.H. 2011. “Managing the risk of overusing mobile phones in the working environment: A study of ubiquitous technostress, “the 15th PACIS,
Brisbane, Australia.
Jarvenpaa, S.L., and Lang, K.R. 2005. Managing the paradoxes of mobile technology. Information Systems Management, 22(4), 7-23.
Judge, T, A., Jackson, C, L., Shaw, J, C., Scott, B, A., and Rich, B, L. 2007. Self-efficacy and work-related performance : The integral role of individual differences. Journal of Applied
Psychology, 92 (1) :107-127.
Kasiram, Mohammad. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif-Kualitatif. Malang: UIN Malang Press.
Kuncoro, Mudrajad. 2011. Metode kuantitatif: Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Kuo, L.H., Chen, L.M., Yang, H.J., Yang, H.H., Yu, J.C., and Wen-Chen, H.2009. "Assessing mobile technostress," the 8th WSEAS International Conference on Telecommunications and Informatics, pp. 37-42.
Luthans, F., Avey, J. B. Avolio, B.J., Norman, S. M. & Combs, G. M. 2007. Positive psychological capital: Measurement and Relationship With Performance and Satisfaction. Personnel Psychology, 60, pp. 541-572.
Maddux, J.E. 1997. Habit, health, and happiness. Journal of Sport and Exercise Psychology, 19, 331-346.
Mahsun, M. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2006. Perencanaan dan Pengembangan Manajemen Sumber
Daya Manusia, Pen. PT Refika Aditama
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Motowidlo, S. J., Borman, W. C., and Schmit, M. J., 1997. A Theory of Individual Differences
in Task and Contextual Performance. Human Performance, 10.
Muis, Moh. Priadana, Sidik Saludin. 2009. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta: GRAHA ILMU.
Okebaram, and Sunday Moses. 2013. Minimizing The Effects of Technostress in Todays Organization. International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering
Volume 3, Issue 11.
Priyatno, D. 2014. SPSS 22 : Pengolahan Data Terpraktis. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta. Ragu-Nathan, T.S., Tarafdar, M., Ragu-Nathan, B.S., and Tu, Q. 2008. The consequences of
technostress for end users in organization: Conceptual development and empirical validation. Information Systems Research. Vol. 19. No. 4. pp. 417-433.
Rusdianti, E. 2013. Membangun Pertautan Syariah Kitannya dengan Peningkatakan Kinerja Karyawan Perbankan Syariah di Kota Semarang. Disertasi Tidak Dipublikasikan: Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Diponegoro.
29
Sellberg, C. dan Susi, T. 2013. Technostress in the Office: A Distributed Cognition Perspective
on Human-technology Interaction. Cognition, Technology & Work, DOI
10.1007/s10111-013-0256-9
Sami, L.K. dan Pangannaiah. 2006. Technostress: A Literature Survey on the Effect of Information Technology on Library Users. Emerald Group Publishing Limited, 55 (7), 429-439.
Shu, Qin, Qiang Tu, dan Kanliang Wang. 2011. The Impact of Computer Self Efficacy and Technology Depence on Computer-Related Technostress: A Social Cognitive Theory Perspective. International Journal of Human-Computer Interaction, 27(10), pp. 923-939. Stajkovic, A. D., & Luthans, F. 1998. Self-efficacy and work-related performance: A meta
analysis. Psychological Bulletin, 124, 240-261.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sutrisno Edy. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia, Kencana, Jakarta.
Tarafdar, Monideepa., Tu, Qiang., Ragu-Nathan, B. S., dan Ragu-Nathan, T. S. 2007. The
Impact of Technostress on Role Stress and productivity. Journal of Management Information Systems. Vol. 24. No. 1. pp. 301-328.
Thompson, R. L., Higgins, C. A. & Howell, J. M. 1991. Personal computing: toward a conceptual model of utilization’, MIS Quarterly, vol. 15, no. 1,pp. 124-143.
Verplanken, B. dan Aarts, H. 1999. Habit, attitude, and planned behavior: Is habit an empty construct or an interesting case of goal-directed automaticity? In W. Stroebe & M. Hewstone (Eds.), European Review of Social Psychology, Vol. 10,pp. 101-134.
Verplanken, B., Aarts, H., Knippenberg, A., dan Knippenberg, C. 1994. “Attitude Versus General Habit: Antecedents of Travel Mode Choice”. Journal of Applied Social Psychology. 24(4). 285-300
Verplanken, B., Aarts, H., Knippenberg, A., dan Moonen, A. 1998. “Habit versus Planned Behaviour: a Field Experiment”. British Journal of Social Psychology. 37(1). 111-128 Verplanken, B., dan Orbell, S. 2003. Reflections on past behavior: A self-report index of habit
strength. Journal of Applied Social Psychology, 33(6), 1313-1330.
Weil, M., dan Rosen, L. 1997. Technostress: Coping with technology @Work @Home @play: New York: Wiley.
Wibowo. 2008. Manajemen Kinerja. Jakarta. Penerbit: Rajagrafindo Persada.
Widiyanto, E. 2006. Hubungan antara Self-Efficacy dengan efektivitas komunkasi pada receptionist hotel. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Hlm 25. Wood, W., Quinn, J.M., and Kashy, D.A. 2002. Habits in everyday life: Thought, emotion, and
action. Journal of Personality and Social Psychology, 83(6), 1281-1297
Yin, Pengzhen. Davison, Robert, M. Bian, Yiyang. Wu, Ji. Liang . 2014. The Sources and
30
Lampiran 1. Tabel State of The Art
Judul Variable X Variabel Y Hasil
An Empirical Analysis of Correlation Between Technostress and Job Satisfaction: A Case of KPK, Pakistan.
Peneliti : Asad Khan, Hamid Rehman, Dr. Shafiq-ur-Rehman. Technostress (techno-overload, techno-invasion, techno-uncertainity) Kepuasan kerja
hasil penelitian ini menunjukkan negatif dan signifikan secara statistik korelasi antara pencipta
technostress dengan
kepuasan kerja di antara pustakawan universitas KPK Pakistan Pengaruh Faktor Penyebab Technostress terhadap Kinerja Pegawai dengan dukungan Organisasi sebagai Moderating Variabel.
Peneliti : Endah Nur Fitriyani Technostress (techno-overload, techno-invansion, techno-complexity, techno-insecurty, techno-uncertainty) dan dukungan organisasi. Kinerja karyawan
Factor techno-overload dan techno-uncertainty secara signifikan berdampak negative terhadap kinerja. Factor techno-invasion, techno-complexity, dan techno-insecurty tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Dukungan organisasi(variable moderasi) berpengaruh signifikan terhadap factor techno-invasion dan techno-complexity. Pengaruh Faktor Beban
kerja, Kompetensi Teknologi Otomasi terhadap
Technostressdan kinerja pada karyawan di Bagian Engineering Peneliti : Agung Susanto Workload atau beban kerja (X1) Tingkat Kompetensi Teknologi (X2) Technostress Kinerja
Beban kerja dan kompetensi teknologi otomasi berpengaruh secara signifikan terhadap technostress.
Technostress berperan sebagai interverning variable dalam hubungan antara pengaruh beban kerja terhadap kinerja karyawan.