• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

UNGGUL DALAM IPTEK

KOKOH DALAM IMTAQ

LAPORAN HASIL PENELITIAN

HUBUNGAN KEYAKINAN DIRI (SELF EFFICACY) DENGAN

PERILAKU PENGENDALIAN GULA DARAH PADA PASIEN

DIABETES MELITUS DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH

TAHUN 2014

DISUSUN OLEH :

DICKY BERI PRATAMA

2012727017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)

iii PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA Riset keperawatan : Februari 2014

Dicky Beri Pratama

Hubungan Keyakinan Diri (Self Efficacy) Dengan Perilaku Pengendalian Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih.

VII bab + 81 halaman + 4 Tabel + 5 lampiran

ABSTRAK

Penyakit DM sering disebut The Great Imitator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan bermacam gejala secara perlahan sehingga penderita tidak menyadari adanya perubahan seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih sering ataupun berat badan yang menurun. Prinsip penatalaksanaan pasien DM adalah mengontrol gula darah, ada lima faktor penting yang harus diperhatikan yaitu: asupan makanan, latihan fisik atau exercise, Obat-obatan, pendidikan kesehatan, monitoring. Penatalaksanaan DM bersifat individual artinya perlu dipertimbangkan kebutuhan terhadap umur pasien, gaya hidup, kebutuhan nutrisi, tingkat aktivitas, pekerjaan dan kemampuan pasien dalam mengontrol gula darah secara mandiri. Keyakinan diri (Self Efficacy) mendorong proses kontrol diri untuk mempertahankan perilaku yang dibutuhkan dalam mengelola perawatan diri pada pasien DM. Tujuan penelitian menganalisa hubungan keyakinan diri (self efficacy) dengan perilaku pengendalian gula darah. Rancangan penelitian ini Cross sectional. Jumlah sampel 78 responden dengan metode Purposive sampling. Analisa data mengunakan uji

Chi square. Hasil penelitian ini didapatkan p value = 0,001 (p value < α) dan nilai OR =

5,333, kesimpulannya ada hubungan keyakinan diri (self efficacy) dengan perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus di poliklinik penyakit dalam RSIJ Cempaka Putih. Saran bagi penderita DM hendaknya meningkatkan motivasi dan keyakinan diri agar dapat berperilaku baik dalam mengendalikan gula darah, dan pelayanan kesehatan harus memberikan motivasi untuk meningkatkan keyakinan diri pasien, dengan cara memberi support, dan menyediakan lefleat dan poster yang bersifat motivasi dan mendorong keyakinan diri pasien untuk berperilaku pengendalian gula darah

Kata kunci : Keyakinan Diri, Self efficacy, Perilaku Pengendalian GD, Diabetes Melitus. Daftar Pustaka : 25 (Antara Tahun 2007-2013)

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Dengan rahmat dan hidayahnya peneliti dapat menyelesaikan laporan penelitian ini dengan judul “Hubungan Keyakinan Diri (Self Efficacy) dengan

Perilaku Pengendalian Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Tahun 2014”. Penulisan laporan penelitian ini adalah

untuk melengkapi tugas dan memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Selama proses pembuatan laporan penelitian ini, peneliti mendapatkan banyak bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga laporan penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.

Terlaksananya laporan penelitian ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih terutama pada:

1. Bapak Muhammad Hadi, SKM, M. kep. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah dan juga selaku pembimbing II dalam penelitian ini.

(6)

v

2. Ibu Irna Nursanti, S.kp., M.Kep, Sp. Mat Selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

3. Ibu Ns. Yani Sofiani, M.kep, Sp. KMB. Selaku pembimbing I dalam penelitian ini yang selalu memberikan bimbingan dan arahan sehingga penelitian ini berjalan dengan baik.

4. Seluruh dosen dan staf pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas yang telah banyak membantu dan membimbing berjalannya penelitian ini, terutama dalam pengadaan refrensi-refrensi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

5. Jajaran Staf Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, terutama perawat poliklinik penyakit dalam RSIJ yang telah banyak membantu dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini dengan baik.

6. Ayahanda dan Ibunda yang telah membesarkan penulis dan mendidik, terimakasih atas dukungan moral serta materil yang tak henti-hentinya, dan selalu mengiringi setiap langkahku dengan doa yang tulus dan ikhlas, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dan jenjang pendidikan Sarjana.

7. Indah Putri Lestari, S.SiT yang selalu memberikan perhatian, dukungan, motivasi, doa, dan memberi semangat peneliti untuk terus berjuang sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik.

8. Teman-teman seperjuangan PSIK FIK Universitas Muhammadiyah yang saling membantu, memberi semangat, dan inspirasi, serta doa, sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.

(7)

vi

9. Terimakasih kepada sahabat-sahabatku Ome Rila Agni, Tazkia Tirta Victoria, Joni Bernata, Doni, Yosar, Shinta A.P dan teman-teman yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu dan mendoakan selama penelitian ini penelitian ini.

Dengan segenap kerendahan hati dan keterbatasan yang dimiliki, peneliti menyadari dalam penelitian ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna, untuk itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar dalam penelitian selanjutnya dapat lebih baik atau lebih sempurna.

Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada peneliti mendapatkan pahala dari Allah SWT dan penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca pada umumnya. Amiin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jakarta, Februari 2014

(8)

vii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN ... i LEMBAR PENGESAHAN ... ii ABSTRAK ... iii KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Masalah Penelitian ... 9 C. Tujuan Penelitian ... 9 D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Dan Konsep Terkait... 12

1. Diabetes Melitus... 12

a. Pengertian... 12

b. Kriteria Diabetes Melitus ... 13

c. Klasifikasi Diabetes Melitus ... 14

d. Etiologi dan Faktor Resiko ... 18

e. Patofisiologi ... 19

f. Tanda Dan Gejala Diabetes Melitus ... 22

g. Komplikasi ... 24

h. Test Diagnostik ... 29

i. Penatalaksanaan ... 33

(9)

viii

2. Perilaku Pasien Diabetes Melitus... 42

3. Keyakinan Diri (Self Efficacy) ... 43

a. Definisi... 43

b. Proses Pembentukan Keyakinan Diri (Self Efficacy) ... 46

c. Dimensi Keyakinan Diri (Self Efficacy)... 47

d. Perkembangan Keyakinan Diri (Self Efficacy) ... 48

e. Faktor Yang Berhubungan Dengan Keyakinan Diri (Self Efficacy) ... 49

f. Strategi Meningkatkan Motivasi dan Keyakinan Diri (Self Efficacy) ... 53

B. Penelitian Terkait ... 54

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep ... 55

B. Hipotesis ... 56

C. Definisi Operasional ... 57

BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian... 60

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 60

C. Populasi dan Sampel ... 61

D. Etika Penelitian ... 63

E. Pengumpulan Data ... 63

F. Metode Pengumpulan Data ... 66

G. Pengolahan Data... 66

(10)

ix

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Analisa Univariat ... 69

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Data Demografi .. 69

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Variabel ... 71

B. Analisa Bivariat... 72 BAB VI PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian ... 73 B. Hasil Penelitian ... 74 1. Analisa Univariat ... 74 2. Analisa Bivariat... 77

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 79

1. Berdasarkan Analisa Univariat ... 79

2. Berdasarkan Analisa Bivariat... 80

B. Saran... 80

DAFTAR PUSTAKA

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Melitus (DM) merupakan sekelompok penyakit metabolik dengan karakteristik peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (American Diabetes Assosiation, 2004 dalam Smeltzer & Bare, 2008). Menurut Soegondo, Soewondo dan Subekti (2009), DM terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin. Menurut American Diabetes Association (ADA, 2003) dalam Soegondo (2004), DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.

Penyakit DM sering disebut The Great Imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan bermacam keluhan dengan gejala sangat bervariasi dan secara perlahan-lahan sehingga penderita tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih sering ataupun berat badan yang menurun (Basuki, 2003). Secara umum, ada dua jenis penyakit DM, yaitu: DM tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus) yang

(12)

menggambarkan suatu kondisi defisiensi produksi insulin oleh pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin dan DM tipe 2 (noninsulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin), sehingga tidak tercapai kadar glukosa yang normal dalam darah, DM tipe 2 ini lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di dunia (Depkes RI, 2005).

Prevalensi DM di seluruh dunia mengalami peningkatan yang cukup besar. Di tahun 2003, prevalensi di daerah urban sebesar 14,7% (8,2 juta orang), sedangkan di daerah rural 7,2% (5,5 juta orang) merupakan populasi di bawah usia 20 tahun. Sehingga total prevalensi sebesar 13,8 juta jiwa (Indofamilyhealth, 2008).

Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) (2007) memprediksi penderita diabetes akan menjadi sekitar 366 juta orang pada tahun 2030. Penyumbang terbesar peningkatan angka tersebut adalah negara-negara berkembang, diantaranya India (35,5 juta orang), Cina (23,8 juta orang), Amerika Serikat (16 juta orang), Rusia (9,7 juta orang), dan Jepang (6,7 juta orang) (Arief, 2007). Sedangkan lima negara dengan prevalensi diabetes tertinggi penduduk dewasanya adalah Nauru (30,2%), Uni Emirat Arab (20,1%), Qatar (16%), Bahrain (14,9%), dan Kuwait (12,8%). Yang lebih buruk, setidaknya 50% penderita diabetes tidak menyadari kondisi mereka, dan di beberapa negara jumlahnya mencapai 80% (Arief, 2007).

(13)

Menurut WHO (2007) Indonesia masuk ke dalam sepuluh negara dengan jumlah kasus diabetes melitus terbanyak di dunia. Indonesia berada pada peringkat keempat pada tahun 2000 dengan jumlah kasus sebesar 8,4 juta orang dan diprediksi akan meningkat pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta orang (Irfiyanti Ismi, 2013)

Penderita DM dapat mengalami cacat seumur hidup, dan berisiko terhadap terjadinya penyakit lain yaitu 24 kali berisiko terjadi penyakit jantung, 25 kali berisiko terjadi kebutaan, 17 kali terjadi gagal ginjal, 5 kali terjadi gangren dan 2 kali terjadi gangguan pembuluh darah otak. Dampak lain dari penyakit DM adalah terjadinya gangguan secara psikologis akibat rendahnya penerimaan penderita di masyarakat. Hal ini terjadi karena masih ada stigma masyarakat yang menganggap penyakit DM merupakan penyakit menular (Soegondo, 2004).

DM tipe 2 merupakan penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan tetapi sangat potensial untuk dapat dicegah dan dikendalikan melalui 4 pilar pengelolaan DM yang meliputi edukasi, diet, olahraga dan terapi pengobatan. Karena DM adalah penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, maka berhasil tidaknya pengelolaan DM sangat tergantung dari pasien itu sendiri dalam mengubah perilakunya. Secara teori, proses perubahan perilaku melalui 3 tahap yaitu pengetahuan, sikap dan praktik, meskipun dalam kenyataannya tidak selalu demikian tapi sudah banyak penelitian yang membuktikan hal itu. (Notoatmodjo, dalam Rosita 2013)

Prinsip penatalaksanaan pasien DM adalah mengontrol gula darah, ada lima faktor penting yang harus diperhatikan yaitu : Asupan makanan atau managemen diet,

(14)

latihan fisik atau exercise, Obat-obatan penurun gula darah, Pendidikan kesehatan, Monitoring, perencanaan penatalaksanaan DM bersifat individual artinya perlu dipertimbangkan kebutuhan terhadap umur pasien, gaya hidup, kebutuhan nutrisi, kematangan, tingkat aktivitas, pekerjaan dan kemampuan pasien dalam mengontrol gula darah secara mandiri. Tujuan utama pengelolaan atau penatalaksanaan diabetes melitus adalah pengendalian kadar glukosa darah dengan harapan timbulnya komplikasi dapat di cegah atau di perlambat (Waspadji, 2003), empat pilar utama dalam pengelolaan diabetes melitus menurut konsenus nasional 1998 (PERKENI, 1998) adalah perencanaan makan, latihan jasmani, penyuluhan, dan obat berkasiat hipoglikemik.

Kontrol DM yang buruk dapat mengakibatkan hiperglikemia dalam jangka panjang, yang menjadi pemicu beberapa komplikasi yang serius baik makrovaskular maupun mikrovaskular seperti penyakit jantung, penyakit vaskuler perifer, gagal ginjal, kerusakan saraf dan kebutaan. Banyaknya komplikasi yang mengiringi penyakit diabetes melitus telah memberikan kontribusi terjadinya perubahan fisik, psikologis maupun sosial. ( Andersom, Dalam Sri Anani 2012).

Menurut Suyono (2006), mengingat jumlah penderita diabetes yang terus meningkat dan besarnya biaya perawatan pasien diabetes yang terutama disebabkan oleh karena komplikasinya, maka upaya yang paling baik adalah melakukan pencegahan. Menurut WHO (1994 dalam Suyono, 2006), upaya pencegahan dapat dilakukan dengan tiga tahap yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer merupakan semua aktivitas yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia

(15)

pada populasi umum misalnya dengan kampanye makanan sehat dan penyuluhan bahaya diabetes. Pencegahan sekunder yaitu upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM dengan pemberian pengobatan dan tindakan deteksi dini penyulit. Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan. (Yesi Ariani 2011)

Upaya pencegahan ini memerlukan keterlibatan semua pihak untuk mensukseskannya baik dokter, perawat, ahli gizi, keluarga dan pasien itu sendiri. Perawat sebagai edukator sangat berperan untuk memberikan informasi yang tepat pada penderita DM tentang penyakit, pencegahan, komplikasi, pengobatan, dan pengelolaan DM termasuk didalamnya memberi motivasi dan meningkatkan Self

Efficacy (Suyono, 2006; Wu et al, 2006 dalam Yesi Ariani 2011)

Keyakinan diri (Self efficacy) merupakan gagasan kunci dari teori sosial kognitif (social cognitive theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Bandura (1997) mendefenisikan efikasi diri sebagai keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan melakukan tugas-tugas tertentu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Keyakinan diri (Self Efficacy) membantu seseorang dalam menentukan pilihan, usaha untuk maju, serta kegigihan dan ketekunan dalam mempertahankan tugas-tugas yang mencakup kehidupan mereka. Menurut Pender (1996, dalam Tomey & Alligood, 2006), efikasi diri (Self Efficacy) adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan melakukan prilaku yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan yang diinginkannya.

(16)

Keyakinan diri (Self Efficacy) mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa, memotivasi diri sendiri dan bertindak. (Yesi Ariani, 2011)

Johnson (1992 dalam Temple, 2003) menyatakan bahwa keyakinan diri (Self

Efficacy) pada pasien DM tipe 2 menggambarkan suatu kemampuan individu untuk

membuat suatu keputusan yang tepat dalam merencanakan, memonitor dan melaksanakan regimen perawatan sepanjang hidup individu. Keyakinan diri (Self

Efficacy) pada pasien DM tipe 2 berfokus pada keyakinan pasien untuk mampu

melakukan prilaku yang dapat mendukung perbaikan penyakitnya dan meningkatkan manajemen perawatan dirinya seperti diet, latihan fisik, medikasi, kontrol glukosa dan perawatan DM secara umum (Yesi Ariani 2011).

Bandura (1982 dalam Kott, 2008) menegaskan bahwa seseorang yang memiliki keyakinan diri (Self Efficacy) yang kuat akan menetapkan tujuan yang tinggi dan berpegang teguh pada tujuannya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keyakinan diri (Self Efficacy) yang lemah akan berkomitmen lemah pada tujuannya, sehingga terjadi ketidakpatuhan terhadap perawatan dirinya. Keyakinan diri (Self Efficacy) mendorong proses kontrol diri untuk mempertahankan perilaku yang dibutuhkan dalam mengelola perawatan diri pada pasien DM. (Yesi Ariani, 2011)

Perilaku pasien untuk taat dalam upaya pengendalian kadar gula darah salah satunya berhubungan dengan keterpaparannya terhadap sumber informasi yakni sejauh mana penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh perawat atau tenaga medis mengenai pengetahuan dan keterampilan bagi pasien Diabetes Melitus yang bertujuan untuk

(17)

menunjang prilaku dalam peningkatan pemahaman tentang pengaturan makan dan atau aktivitas fisik pada pasien diabetes melitus sehingga komlikasi penyulit-penyulit yang mungkin timbul akibat diabetes melitus dapat di cegah (Quarratueni, 2009)

Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM. Pengendalian DM dapat dilakukan dengan diet, latihan, pemantauan, terapi dan pendidikan. Keberhasilan pelaksanaan diet dan upaya preventif DM lainnya bergantung pada perilaku penderita DM dalam menjalaninya. Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh bagaimana seseorang percaya pada kemampuannya dalam menjalani kehidupan, psikososial, dukungan keluarga dan tingkat pengetahuannya.

Kontrol DM yang buruk dapat mengakibatkan hiperglikemia dalam jangka panjang, yang menjadi pemicu beberapa komplikasi yang serius baik makrovaskular maupun mikrovaskular seperti penyakit jantung, penyakit vaskuler perifer, gagal ginjal, kerusakan saraf dan kebutaan. Banyaknya komplikasi yang mengiringi penyakit DM telah memberikan kontribusi terjadinya perubahan fisik, psikologis maupun sosial.

Pada penelitian hubungan antara perilaku pengendalian diabetes melitus dan kadar gula darah pasien rawat jalan diabetes melitus yang dilakukan oleh Sri Anani pada tahun 2012 di Cirebon menyebutkan, ada hubungan antara keteraturan konsumsi obat dengan kadar glukosa darah (p=0,032), ada hubungan antara aktivitas fisik responden dengan kadar glukosa darah (p=0,012), ada hubungan antara kebiasaan

(18)

olahraga dengan kadar glukosa (p=0,041), ada hubungan antara kebiasaan makan responden dengan kadar glukosa darah (p=0,001), dan tidak ada hubungan antara pemeriksaan di pelayanan kesehatan dengan kadar glukosa darah responden di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon (p=0,509)

Pada kesimpulan tesis hubungan antara motivasi dengan efikasi diri pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dalam konteks asuhan keperawatan di RSUP.H. Adam Malik Medan yang dilakukan oleh Yesi Ariani tahun 2011 di Medan menyebutkan mayoritas responden memiliki motivasi yang kurang baik, lebih dari setengah jumlah responden memiliki efikasi diri yang baik. tidak ada hubungan antara karakteristik demografi responden dengan efikasi diri kecuali variabel status sosial ekonomi. ada hubungan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri, ada hubungan antara depresi dengan efikasi diri. ada hubungan antara motivasi dengan efikasi diri responden di RSUP H. Adam Malik Medan. Responden yang memiliki motivasi yang baik berpeluang 3. 736 kali memiliki efikasi diri yang baik dibandingkan dengan responden yang memiliki motivasi yang kurang baik setelah dikontrol oleh variabel depresi (CI 95% OR: 1.351;10.322)

Berdasarkan catatan data kunjungan poliklinik penyakit dalam Rs. Islam Jakarta Cempaka Putih dari bulan Oktober 2012 sampai Oktober 2013 di dapatkan 28,33 % penderita diabetes melitus dari 14.754 pasien yang berobat.

Berdasarkan latarbelakang di atas, peneliti merasa tertarik ingin melakukan penelitian “Hubungan Keyakinan Diri (Self Effycacy) dengan prilaku pengendalian

(19)

gula darah pada pasien Diabetes Melitus di poliklinik penyakit dalam RS Islam Jakarta Cempaka Putih”

B. Masalah Penelitian

Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas peneliti menyimpulkan bahwa angka kejadian diabetes sangat tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya, dan banyak komplikasi atau penyulit yang timbul pada penderita diabetes melitus. Pada pasien diabetes melitus perlu melakukan pengendalian terhadap kadar gula darahnya, sehingga komplikasi atau penyulit-penyulit yang mungkin timbul dapat di cegah, maka pada penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang hubungan Keyakinan diri (Self Effycacy) dengan prilaku pengendalian gula darah pada pasien Diabetes Melitus di poliklinik penyakit dalam RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan Keyakinan diri (Self Efficacy) dengan perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik responden berupa usia, jenis kelamin, dan pekerjaan pada pasien diabetes melitus di poliklinik penyakit dalam RS Islam Jakarta Cempaka Putih

b. Untuk mengetahui keyakinan diri (Self Efficacy) pada pasien diabetes melitus di poliklinik penyakit dalam RS Islam Jakarta Cempaka Putih

(20)

c. Untuk mengetahui perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus di poliklinik penyakit dalam RS Islam Jakarta Cempaka Putih

d. Untuk Mengetahui Hubungan antara keyakinan diri (Self Efficacy) dengan perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi profesi keperawatan, dan sebagai masukan bagi perawat untuk memahami pentingnya efikasi diri dan perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes mellitus dan memberikan pendidikan kesehatan pada pasien diabetes melitus sehingga dapat mencegah dan meminimalkan komplikasi atau penyulit-penyulit yang mungkin timbul.

2. Bagi pasien dan keluarga

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pasien dalam melakukan pengendalian kadar gula darah, serta memberikan informasi kepada keluarga sehingga dapat memberikan motivasi kepada anggota keluarganya yang menderita diabetes melitus untuk melakukan pengendalian kadar gula darah secara optimal.

3. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat berguna bagi peneliti sehingga peneliti dapat mengetahui lebih lanjut hubungan keyakinan diri (Self Efficacy) dengan perilaku

(21)

pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus baik di lingkungan kerja, keluarga maupun masyarakat, dan menambah pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian, serta dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya.

(22)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan di uraikan konsep dasar yang melandasi penelitian yang dilakukan tentang hubungan keyakinan diri (Self Efficacy) dengan perilaku pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus di poliklinik penyakit dalam RS. Islam Jakarta Cempaka Putih.

A. Teori Dan Konsep Terkait 1. Diabetes Melitus

a. Pengertian

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang di tandai peningkatan glukosa darah (hiperglikemi), disebabkan karena ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan insulin (Tarwoto dkk, 2012)

Diabetes melitus adalah kelompok penyakit metabolik dikarakteristikkan dengan tingginya tingkat glukosa dalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya ( American

Diabetes Association (ADA), expert committee on the diagnosis and classification of diabetes mellitus, 2003; dikutip dari e-book Smeltzer, S, &

(23)

Diabetes melitus adalah penyakit kronik, progresif yang dikarakteristikan dengan ketidakmampuan tubuh untuk melakukan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein awal terjadinya hiperglikemia (kadar gula yang tinggi dalam darah). (Black & Hawk, 2009)

b. Kriteria DM

Menurut Asosiasi Diabetes Amerika (ADA) tahun 1997 dalam Tarwoto, dkk tahun 2012 untuk menentukan diagnosa dan kriteria DM, memenuhi 2 diantara 3 kriteria sebagai berikut :

1) Adanya tanda dan gejala DM ditambah kadar gula darah acak atau random lebih atau sama dengan 200 mg/dl

2) Gula darah puasa atau fasting blood sugar (FBS) lebih besar atau sama dengan 126 mg/dl (puasa sekurangnya 8 jam)

3) Hasil Glukosa Toleran Test (GTT) lebih besar atau sama dengan 200 mg/dl, 2 jam sesudah beban.

Sedangkan pre diabetes mellitus

1) Impaired Glucose Tolerance (IGT) jika hasil pemeriksaan 2 jam sesudah beban glukosa >140 s.d <200 mg/dl

2) Impaired Fasting Glucose (IFG), jika hasil pemeriksaan glukosa darah puasa >110 s.d <126 mg/d

(24)

Tabel 2.1 Kadar glukosa darah dalam mendiagnosa DM Kadar glukosa darah (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM Sewaktu Plasma vena <100 mg/dl 100-199 mg/dl ≥200 mg/dl Darah kapiler <90 mg/dl 90-199 mg/dl ≥200 mg/dl Puasa Plasma vena <100 mg/dl 100-125 mg/dl ≥126 mg/dl Darah kapiler <90 mg/dl 90-99 mg/dl ≥100 mg/dl

Sumber : PERKENI,2006 dalam Tarwoto, dkk tahun 2012

c. Klasifikasi Diabetes Melitus

Menurut WHO dan American Diabetes Associaation penyakit diabetes melitus diklasifikasikan menjadi :

1) Diabetes melitus tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) yaitu diabetes melitus yang bergantung insulin. Diabetes tipe ini terjadi pada 5% sampai dengan 10% penderita DM. pasien sangat tergantung insulin melalui penyuntikan untuk mengeendalikan gula darah

Diabetes tipe 1 disebabkan karena kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Hal ini berhubungan dengan kombinasi antara

(25)

faktor genetik, immunologi dan kemungkinan lingkungan, seperti virus. Bagaimana proses terjadinya kerusakan sel beta ini tidak jelas. Ketidakmampuan sel beta menghasilkan insulin mengakibatkan glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat di simpan dalam hati dan tetap berada dalam darah sehingga menimbulkan hiperglikemia (Tarwoto, dkk, 2012)

Peningkatan gula darah yang tinggi lebih dari 180 mg/100 ml, menyebabkan glukosa keluar melalui urin (glukosuria), hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ginjal menyerap kembali glukosa (reabsorpsi) yang telah di filtrasi melebihi ambang batas filtrasi glukosa oleh glumerolus. Ketika glukosa yang melebihi disekresi disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan karena tubulus ginjal tidak mereabsorpsi air secara optimal, keadaan ini disebut dieresis osmotic, sebagai akibat kebanyakan urin yang diproduksi maka akan mengalami peningkatan berkemih (poluria) serta rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme, protein dan lemak dan menurunkan simpanan/cadangan makanan, mengakibatkan kelaparan sel dan mrangsang selera makan (polifagia).

2) Diabetes mellitus tipe 2 atau Non Insulin Dependen Diabetes Melitus (NIDDM) yaitu DM yang tidak tergantung pada insulin kurang lebih 90% - 95% penderita DM adalah diabetes tipe ini. Diabetes melitus tipe 2 terjadi akibat penurunan sesitivitas terhadap insulin (resistensi insulin)

(26)

atau akibat penurunan produksi insulin. Normalnya insulin terikat oleh reseptor khusus pada permukaan sel dan mulai terjadi rangkaian reaksi termasuk metabolisme glukosa. Pada diabetes tipe 2 reaksi dalam sel kurang efektif karena kurangnya insulin yang berperan dalam menstimulus glukosa masuk ke jaringan dan pengaturan pelepasan glukosa di hati. Adanya insulin juga dapat mencegah pemecahan lemak yang menghasilkan badan keton (Tarwoto dkk, 2012)

Diabetes melitus tipe 2 banyak terjadi pada usia dewasa lebih dari 45 tahun, karena berkembang lambat dan terkadang tidak terdeteksi, tetapi jika gula darah tinggi baru dapat dirasakan seperti kelemahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, proses penyembuhan luka yang lama, infeksi vagina, kelainan penglihatan.

Faktor resiko DM tipe 2 :

a) Usia di atas 45 tahun, jarang DM tipe 2 terjadi pada usia muda b) Obesitas, berat badan lebih dari 120% dari berat badan ideal c) Riwayat keluarga dengan DM tipe 2

d) Riwayat adanya gangguan toleransi glukosa (IGT) atau gangguan glukosa puasa (IFG)

e) Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg atau hiperlipidemia, kolesterol atau trigkiserida lebih dari 150 mg/dl

(27)

g) Polycystic ovarian syndrome yang diakibatkan resistensi dari insulin. Pada keadaan ini wanita tidak terjadi ovulasi ( keluarnya sel telur dari ovarium), tidak terjadi mentruasi tumbuhnya rambut secara berlebihan, tidak bisa hamil.

3) Diabetes karena malnutrisi

Golongan diabetes ini terjadi akibat malnutrisi, biasanya pada penduduk yang miskin, diabetes tipe ini dapat ditegakkan jika ada 3 gejala dari gejala yang mungkin yaitu :

a) Adanya gejala malnutrisi seperti badan kurus, berat badan kurang dari 80% berat badan ideal

b) Adanya tanda-tanda malabsorpsi makanan c) Usia antara 15-40 tahun

d) Memerlukan insulin untuk regulasi DM dan menaikkan berat badan e) Nyeri perut berulang

4) Diabetes sekunder yaitu DM yang berhubungan dengan keadaan atau penyakit tertentu, misalnya penyakit pankreas (pancreatitis, neuplasma, trauma/pancreatectomy), endokrinopati (akromegali cushing syndrome, pheochromacytoma, hyperthyroidism), obat-obatan atau zat kimia (glukokortikoid, hormone tiroid, dilantin, nicotinic acid), penyakit infeksi seperti konginetal rubella, infeksi cytomegalovirus, serta syndrome genetic diabetes seperti syndrome down.

(28)

5) Diabetes melitus gestasional yaitu DM yang terjadi pada masa kehamilan, dapat didiagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa, terjadi pada kira-kira 24 minggu kehamilan. Individu dengan DM gestasional 25% akan berkembang menjadi DM.

d. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab penyakit ini belum diketahui secara lengkap dan kemungkinan faktor penyebab dan faktor resiko penyakit DM diantaranya :

1) Riwayat keturunan dengan diabetes, misalnya pada DM tipe 1 diturunkan sebagai sifat heterogen, multigenik. Kembar identik mempunyai resiko 25% - 50%, sementara saudara kandung beresiko 6% dan anak beresiko 5%. (Black, 2009)

2) Lingkungan seperti virus (cytomegalovirus. mumps, rubella) yang dapat memicu terjadinya autoimun dan menghancurkan sel-sel pankreas, obat-obatan dan zat kimia seperti alloxan, streptozotocin, pentamidine.

3) Usia diatas 45 tahun.

4) Obesitas, berat badan lebih dari atau sama dengan 20% berat badan ideal.

5) Etnik, banyak terjadi pada orang Amerika keturunan Afrika, Asia 6) Hipertensi, tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90 mg/dl. 7) HDL kolestrol lebih dari atau sama dengan 35 mg/dl, atau trigiserida

lebih dari 250 mg/dl.

8) Riwayat gestasional DM (Smeltzer, 2004) 9) Kebiasaan diet

(29)

10) Kurang olahraga

11) Wanita dengan hirsutisme atau penyakit policistik ovari.

e. Patofisiologi

Diabetes melitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang kronik dan bersifat sistemik dengan karakteristik peningkatan gula darah/glukosa atau hiperglikemia yang disebabkan menurunnya sekresi atau aktivitas dari insulin sehingga mengakibatkan terhambatnya metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.

Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah dan sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sel dan jaringan. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikosumsi. Makanan yang masuk sebagian digunakan untuk kebutuhan energi dan sebagian lagi disimpan dalam bentuk glikogen dihati dan jaringan lainnya dengan bantuan insulin. Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel beta pulau langerhans pankreas yang kemudian produksinya masuk dalam darah dengan jumlah sedikit kemudian meningkat jika terdapat makanan yang masuk. Pada orang dewasa rata-rata diproduksi 40-50 unit, untuk mempertahankan gula darah tetap stabil antara 70-120 mg/dl.

Insulin disekresi oleh sel beta, satu antara empat sel pulau langerhans pankreas. Insulin merupakan hormon anabolik, hormone yang dapat membantu memindahkan glukosa dari darah ke otot, hati dan sel lemak.

(30)

Pada diabetes terjadinya terjadi berkurangnya insulin atau tidak adanya insulin berakibat pada gangguan tiga metabolisme yaitu menurunnya penggunaan glukosa, meningkatnya mobilisasi lemak dan meningkat penggunaan protein.

Pada DM tipe 2 masalah adalah berhubungan dengan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Resistensi insulin menunjukan penurunan sensitifitas jaringan pada insulin. Normalnya insulin mengikat reseptor khusus pada permukaan sel dan mengawali rangkaian reaksi meliputi metabolisme glukosa . Pada DM tipe 2, reaksi intraseluler dikurangi, sehingga menyebabkan efektivitas insulin menurun dalam menstimulasi penyerapan glukosa oleh jaringan pada pengaturan pembebasan oleh hati. Mekanisme pasti yang menjadi penyebab utama resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada DM tipe 2 tidak diketahui, meskipun faktor genetik berperan utama.

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah penumpukan glukosa dalam darah, peningkatan sejumlah insulin harus disekresi dalam mengatur kadar glukosa darah dalam batas normal atau sedikit lebih tinggi kadarnya. Namun, jika sel beta tidak dapat menjaga dengan meningkatkan kebutuhan insulin, mengakibatkan kadar glukosa meningkat, dan DM tipe 2 berkembang.

(31)

1) Menurunnya penggunaan glukosa

Pada diabetes sel-sel membutuhkan insulin untuk membawa glukosa hanya sekitar 25% untuk energi. Kecuali jaringan saraf, eritrosit dan sel-sel usus, hati dan tubulus ginjal tidak membutuhkan insulin untuk transport glukosa. (M Black, 2009). Sel-sel lain seperti jaringan adipose, otot jantung membutuhkan insulin untuk transfort glukosa. Tanpa adekuatnya jumlah insulin, banyak glukosa yang tidak dapat digunakan. Dengan tidak adekuatnya insulin maka glukosa darah menjadi tinggi (hiperglikemia), disisi lain pengeluaran glukosa melalui urin (glukosaria), menyebabkan diuretik osmotik dan meningkatnya jumlah air yang dikeluarkan, hal ini beresiko terjadi defisit volume cairan. (Black, 2009)

2) Meningkatnya metabolisme lemak

Pada diabetes tipe 1 lebih berat dibandingkan pada tipe 2, metabolisme yang dipecah untuk energi terjadi jika cadangan glukosa tidak ada. Hasil metabolisme lemak adalah keton. Keton akan terkumpul dalam darah, dikeluarkan lewat ginjal dan paru. Derajat keton dapat diukur dari darah dan urin. Jika kadarnya tinggi, indikasi diabetes tidak terkontrol.

Keton mengganggu keseimbangan asam basa tubuh dengan memproduksi ion hidrogen sehingga pH menjadi turun dan asidosis metabolik dapat terjadi. Pada saat keton dikeluarkan sodium juga ikut keluar sehingga sodium menjadi rendah dan berkembang menjadi

(32)

asidosis. Sekresi keton juga mengakibatkan tekanan osmotik sehingga meningkatkan kehilangan cairan. Jika lemak sebagai sumber energi utama, maka lipid tubuh dapat menigkat dan resiko atherosklerosis juga meningkat.

Meskipun gangguan sekresi insulin dikarakteristikan pada DM tipe 2, terdapat sediaan insulin yang cukup untuk mencegah terpecahnya lemak dan terkumpulnya produksi keton tubuh. Karena itu tipe DKA (diabetik ketoasidosis) tidak terjadi pada DM tipe 2. Tidak terkontrolnya DM tipe 2 dapat saja terjadi menyebabkan masalah akut hipertensi HHNS

(Hyperglycemic Hyperosmolar Nonketotic Syndrome).

3) Meningkatnya penggunaan protein

Kurangnya insulin berpengaruh pada pembuangan protein. Pada keadaan normal insulin berfungsi menstimulasi sintesis protein, jika terjadi ketidakseimbangan asam amino dikonversi menjadi glukosa di hati sehingga kadar glukosa menjadi tinggi.

f. Tanda Dan Gejala Diabetes Melitus

1) Sering kencing/miksi atau meningkatnya frekuensi buang air kecil (poliuria)

Adanya hiperglikemia menyebabkan sebagian glukosa dikeluarkan oleh ginjal bersama urin karena keterbatasan kemampuan filtrasi ginjal dan kemampuan reabsorpsi dari tubulus ginjal. Untuk mempermudah

(33)

pengeluaran glukosa maka diperlukan banyak air, sehingga frekuensi miksi menjadi meningkat.

2) Meningkatnya rasa haus (polidipsia)

Banyaknya miksi menyebabkan tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), hal ini merangsang pusat haus yang mengakibatkan peningkatan rasa haus. 3) Meningkatnya rasa lapar (polipagia)

Meningkatnya katabolisme, pemecahan glikogen untuk energi menyebabkan cadangan energi berkurang, keadaan ini menstimulasi pusat lapar.

4) Penurunan berat badan

Penurunan berat badan disebabkan karena banyaknya kehilangan cairan, glikogen dan cadangan trigliserida serta massa otot.

5) Kelainan pada mata, pnglihatan kabur

Pada kondisi kronis, keadaan hiperglikemia menyebabkan aliran darah menjadi lambat, sirkulasi kevaskular tidak lancar termasuk pada mata yang dapat merusak retina serta kekeruhan pada lensa.

6) Kulit gatal, infeksi kulit, gatal-gatal disekitar penis dan vagina. Peningkatan glukosa darah mengakibatkan penumpukan pula pada kulit sehingga menjadi gatal, jamur dan bakteri mudah menyerang kulit 7) Ketonuria

Ketika glukosa tidak lagi digunakan untuk energi. maka digunakan asam lemak untuk energi, asam lemak akan dipecah menjadi keton yang kemudian berada pada darah dan dikeluarkan melalui ginjal.

(34)

Kurangnya cadangan energi, adanya kelaparan sel, kehilangan potassium menjadi akibat pasien mudah lelah dan letih.

9) Terkadang tanpa gejala

Pada keadaan tertentu, tubuh sudah dapat beradaptasi dengan peningkatam glukosa darah.

g. Komplikasi

Pasien dengan DM beresiko terjadi komplikasi baik bersifat akut maupun kronis diantaranya :

1) Komplikasi akut

a) Koma hiperglikemia disebabkan kadar gula sangat tinggi biasanya terjadi pada NIDDM

b) Ketoasidosis atau keracunan zat keton sebagai hasil metabolisme lemak dan protein terutama pada IDDM

c) Koma hipoglikemia akibat terapi insulin yang berlebihan atau tidak terkontrol

2) Komplikasi Kronis

Menurut laporan UKPDS, Komplikasi kronis paling utama adalah Penyakit kardiovaskuler dan strone, Diabetic foot, Retinopati, serta nefropati diabetika, dengan demikian sebetulnya kematian pada diabetes terjadi tidak secara langsung akibat hiperglikemianya, tetapi berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. Apabila dibandingkan dengan orang normal, maka penderita DM 5 x lebih besar untuk timbul gangren, 17 x

(35)

lebih besar untuk menderita kelainan ginjal dan 25 x lebih besar untuk terjadinya kebutaan. Selain komplikasi-komplikasi yang disebutkan di atas, penderita DM juga memiliki risiko penyakit kardio-sebrovaskular seperti stroke, hipertensi dan serangan jantung yang jauh lebih tinggi daripada populasi normal.

Hiperglikemia merupakan peran sentral terjadi komplikasi pada DM. Pada keadaan hiperglikemia, akan terjadi peningkatan jalur polyol, peningkatan pembentukan protein glikasi non enzimakti serta peningkatan proses glikosilasi itu sendiri, yang menyebabkan peningkatan stress oksidatif dan pada akhirnya menyebabkan komplikasi baik vaskulopati, retinopati, neuropati ataupun nefropati diabetika. Komplikasi kronis ini berkaitan dengan gangguan vaskular, yaitu:

a) Komplikasi mikrovaskular

Mikroangiopati (kerusakan pada saraf - saraf perifer) pada organ-organ yang mempunyai pembuluh darah kecil seperti pada :

(1) Retinopati diabetika

Kecurigaan akan diagnosis DM terkadang berawal dan gejala berkurangnya ketajaman penglihatan atau gangguan lain pada mata yang dapat mengarah pada kebutaan. Retinopati diabetes dibagi dalam 2 kelompok, yaitu Retinopati non proliferatif dan Proliferatif. Retinopati non Proliferatif merupakan stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneurisma, sedangkan retinoproliferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh

(36)

darah kapiler, jaringan ikat dan adanya hipoksia retina. Pada stadium awal retinopati dapat diperbaiki dengan kontrol gula darah yang baik, sedangkan pada kelainan sudah lanjut hampir tidak dapat diperbaiki hanya dengan kontrol gula darah, malahan akan menjadi lebih buruk apabila dilakukan penurunan kadar gula darah yang terlalu singkat.

(2) Nefropati diabetika

Diabetes melitus tipe 2, merupaka penyebab nefropati paling banyak, sebagi penyebab terjadinya gagal ginjal terminal. Kerusakan ginjal yang spesifik pada DM mengaikibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul-molekul besar seperti protein dapat lolos ke dalam kemih (mis. Albuminuria). Akibat nefropati diabetika dapat timbul kegagalan ginjal yang progresif. Nefropati diabetik ditandai dengan adanya proteinuri persisten ( > 0.5 gr/24 jam), terdapat retinopati dan hipertensi. Dengan demikian upaya preventif pada nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol tekanan darah.

b) Komplikasi Makrovaskular

Penyakit kardiovaskuler/ stroke/ dislipidemia, penyakit pembuluh darah perifer hipertensi. Timbul akibat aterosklerosis dan pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak ateroma. Makroangioati tidak spesifik pada diabetes, namun pada DM

(37)

timbul lebih cepat, lebih seing terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis menunjukan bahwa angka kematian akibat penyakit, kardiovaskular dan penderita diabetes meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Hiperinsulinemia kini dikenal sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular.

(1) Penyakit Jantung Koroner

Berdasarkan studi epidemiologis, maka diabetes merupakan suatu faktor risiko koroner. Ateroskierosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita diabetes. Akibat gangguan pada koroner timbul insufisiensi koroner atau angina pektoris (nyeri dada paroksismal serti tertindih benda berat dirasakan didaerah rahang bawah, bahu, lengan hingga pergelangan tangan) yang timbul saat beraktifiras atau emosi dan akan mereda setelah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual. Akibat yang paling serius adalah infark miokardium, di mana nyeri menetap dan lebih hebat dan tidak mereda dengan pembenian nitrat. Namun gejala-gejala ini dapat tidak timbul pada penderita diabetes sehigga perlu perhatian yang lebih teliti.

(2) Stroke

Aterosklerosis serebri merupakan penyebab mortalitas kedua tersering pada penderita diabetes. Kira-kira sepertiga penderita stroke juga menderita diabetes. Stroke lebih sering timbul dan dengan prognosis yang lebih serius untuk penderita diabetes.

(38)

Akibat berkurangnya aliran atrteri karotis interna dan arteri vertebralis timbul gangguan neurologis akibat iskemia, berupa: Pusing, sinkop, Hemiplegia: parsial atau total, Afasia sensorik dan motorik, Keadaan pseudo-dementia

(3) Penyakit pembuluh darah

Proses awal terjadinya kelainan vaskuler adalah adanya aterosklerosis, yang dapat terjadi pada seluruh pembuluh darah. Apabila terjadi pada pembuluh darah koronaria, maka akan meningkatkan risiko terjadi infark miokart, dan pada akhirnuya terjadi payah jantung. Kematian dapat terjadi 2-5 kali lebih besar pada diabetes dibanding orang normal. Risiko ini akan meningkat lagi apabila terdapat keadaan-keadaan seperti dislipidemia, hipertensi atau merokok. Pada diabetes, penyakit pembuluh darah perifer biasanya terlambat didiagnosis yaitu bila sudah mencapai fase IV. Faktor faktor neuropati, makroangiopati dan mikroangiopati yang disertai infeksi merupakan faktor utama terjadinya proses gangrene diabetik. Pada penderita dengan gangrene dapat mengalami amputasi, sepsis, atau sebagai faktor pencetus koma, ataupun kematian.

c) Neuropati

Umumnya berupa polineuropati diabetika, kompikasi yang sering terjadi pada penderita DM, lebih 50 % diderita oleh penderita DM. Manifestasi klinis dapat berupa gangguan sensoris, motorik, dan

(39)

otonom. Proses kejadian neuropati biasanya progresif di mana terjadi degenerasi serabut-serabut saraf dengan gejala-gejala nyeri atau bahkan baal. Yang terserang biasanya adalah serabut saraf tungkai atau lengan.

h. Test Diagnostik

Pasien tanpa keluhan/gejala klinis diabetes melitus yang khas, maka diagnosis diabetes melitus hanya dapat di tegakkan bila hasil pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, atau glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl, serta didapatkan hasil yang serupa pada pemeriksaan ulangan pada hari yang lain, yaitu pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, atau glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl, atau hasil HbA1C ≥ 8 % (Yullizar Darwis, 2005)

Untuk menentukan penyakit DM disamping mengkaji tanda dan gejala yang dialami pasien juga yang penting adalah dilakukan test diagnostic diantaranya :

1) Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah

Dalam pemeriksaan kadar glukosa darah dikenal beberapa jenis pemeriksaan, antara lain pemeriksaan glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, glukosa darah 2 jam sesudah makan, pemeriksaan glukosa darah ke-2 pada tes toleransi glukosa oral (TTGO), pemeriksaan glukosa kurva harian, dan pemeriksaan HbA1c (Yulizar Darwis 2005)

(40)

a) Pemeriksaan glukosa darah sewaktu

Dilakukan setiap waktu pada pasien dalam keadaan tanpa puasa, spesimen dapat berupa serum, plasma, atau darah kapilar. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu plasma dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaring dan memastikan diagnosis DM, sedangkan pemeriksaan gula darah yang berasal dari darah kapilar hanya untuk pemeriksaan penyaring. Tes ini mengukur glukosa darah yang diambil kapan saja tanpa memperhatikan waktu makan. Kreteria KGDS dari alat Accu-chek

active dikategorikan baik bila berkisar 110- < 145 mg/dl, sedang 145-179

mg/dl, dan buruk >180 mg/dl.

b) Pemeriksaan glukosa puasa

Pada pemeriksaan ini, pasien harus berpuasa 10-12 jam sebelum pemeriksaan. Spesimen dapat berupa serum, plasma, atau darah kapilar. Tujuan pemeriksaan gula darah puasa adalah untuk menentukan jumlah glukosa darah pada saat puasa.

Pemeriksaan glukosa darah puasa plasma dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaring, memastikan diagnostik, dan memantau pengendalian, sedangkan pemeriksaan yang berasal dari darah kapilar hanya untuk pemeriksaan penyaring dan memantau pengendalian. Glukosa darah puasa terganggu (GDPT) bila pada pemeriksaan didapat nilai sebesar 110-125 mg/dl.

(41)

c) Pemeriksaan glukosa darah 2 jam sesudah makan

Standarisasi pemeriksaan ini sulit dilakukan karena makanan yang di konsumsi baik jenis maupun jumlahnya tidak dapat dibakukan dan sulit mengawasi pasien dalam tenggang waktu 2 jam untuk tidak makan dan minum. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau pengendalian diabetes melitus

d) Pemeriksaan glukosa jam ke 2 pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) Tes toleransi glukosa oral merupakan pemeriksaan yang lebih sensitive dari tes toleransi glukosa oral dilakukan dengan pemberian larutan karbohidrat sederhana. Pada pemeriksaan ini pasien tidak makan 12 jam sebelum test dan selama test hanya boleh minum air, tidak boleh merokok, ngopi atau minum teh selama pemeriksaaan (untuk mengukur respon tubuh terhadap karbohidrat), sedikit aktivitas, kurangi stress (keadaan banyak aktivitas dan stress menstimulasi ephineprine dan kortisol dan berpengaruh terhadap peningkatan gula darah melalui peningkatan glukoneogenesis).

e) Pemeriksaan glukosa kurva harian

Dilakukan pada pemantauan pengendalian diabetes melitus yang berkaitan dengan obat-obat hipoglikemi yang diberikan. Biasanya pemeriksaan dilakukan 3-4 kali dalam sehari, sebelum makan sore dan sebelum makan malam. Kekerapan melakukan pemeriksaan ini tergantung berat dan sifat diabetes serta jenis obat (Ylizar Darwis, 2005)

(42)

f) Pemeriksaan glukosa urin

Pemeriksaan ini kurang akurat karena hasil pemeriksaan ini banyak dipengaruhi oleh berbagai hal misalnya karena obat-obatan seperti aspirin, vitamin C dan beberapa antibiotik, adanya kelainan ginjal dan pada lansia dimana abang ginjal meningkat. Adanya glukosuria menunjukan bahwa ambang ginjal terhadap glukosa terganggu.

g) Pemeriksaan keton urin

Badan keton merupakan produk sampingan proses pemecahan lemak, dan senyawa ini akan menumpuk pada darah dan urin. Jumlah keton yang besar pada urin akan merubah pereaksi pada strip menjadi keunguan. Adanya ketonuria menunjukan adanya ketoasidosis.

h) Pemeriksaan hemoglobin glikat (HbA1c)

Test ini mengukur presentasi glukosa yang melekat pada hemoglobin. Pemeriksaan ini menunjukan kadar glukosa darah rata-rata selama 120 hari sebelumnya, sesuai dengan usia eritrosit. HbA1c digunakan untuk mengkaji kontrol glukosa jangka panjang sehingga dapat memprediksi resiko komplikasi. Hasil HbA1c tidak berubah karena pengaruh kebiasaan makan sehari sebelum test. Pemeriksaan HbA1c dilakukan untuk diagnosis dan pada interval tertentu untuk mengevaluasi penatalaksanaan DM, direkomendasikan oleh ADA adalah < 7%. (ADA, 2003 dalam Black & Hawk, 2005; Ignativicius & Workman, 2006).

(43)

i. Penatalaksanaan DM

Tujuan utama pengelolaan atau penatalaksanaan diabetes melitus adalah pengendalian kadar glukosa darah dengan harapan timbulnya komplikasi dapat di cegah atau di perlambat (Waspadji, 2003), empat pilar utama dalam pengelolaan diabetes mellitus menurut konsenus nasional 1998 (PERKENI, 1998) adalah perencanaan makan, latihan jasmani, penyuluhan, dan obat berkasiat hipoglikemik.

Tujuan penatalaksanaan pasien DM adalah :

1) Menormalkan fungsi dari insulin dan menentukan kadar glukosa darah 2) Mencegah komplikasi vaskuler dan neurophati

3) Mencegah terjadinya hipoglikemia dan ketoasidosis

Prinsip penatalaksanaan pasien DM aladah mengontrol gula darah, ada lima faktor penting yang harus diperhatikan yaitu :

1) Asupan makanan atau managemen diet 2) Latihan fisik atau exercise

3) Obat-obatan penurun gula darah 4) Pendidikan kesehatan

5) Monitoring

Perencanaan penatalaksanaan DM bersifat individual artinya perlu dipertimbangkan kebutuhan terhadap umur pasien, gaya hidup, kebutuhan

(44)

nutrisi, kematangan, tingkat aktivitas, pekerjaan dan kemampuan pasien dalam mengontrol gula darah secara mandiri.

1) Perencanaan makan atau Managemen diet

Prinsip perencanaan makan adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetes melitus dan melakukan modifikasi diet dengan memperhatikan gaya hidup, pola kebiasaan makan, status ekonomi dan lingkungan. Diabetes harus dapat melakukan perubahan pola makan secara konsisten. Salah satu manfaat pengaturan makan adalah untuk meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga akhirnya dapat menurunkan kadar glukosa darah (Suebardi & Yunir dalam Sudoyo, 2006)

Komposisi nutrisi pada diet DM adalah kebutuhan kalori, karbohidrat, lemak, protein dan serat. Untuk menentukan status gizi dipakai rumus

body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh (IMT) yaitu :

ܤܯ ܫܽݐܽݑ ܫܯ ܶ =(்஻ (௠ ))୆୆ (୩୥)మ

Ketentuan :

 BB kurang = IMT < 18.5  BB normal = IMT 18.5-22.9  BB lebih = IMT > 23  BB dengan resiko = IMT 23-24.9  Obes I = IMT 25-29.9  Obes II = IMT > 30.0

(45)

2) Latihan Jasmani

Latihan jasmani dianjurkan untuk dilakukan secara teratur (3-5 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai CRIPE

(continous, rhythmical, interval, progressive, endurancetraining).

Latihan jasmani yang teratur menyebabkan kontraksi otot meningkat dan resistensi insulin berkurang (Ilyasa dalam Suegondo, 2007), pasien dengan kadar glukosa darah >250 mg/dl, tidak dianjurkan untuk latihan jasmani karena akan meningkatkan kadar glukosa darah dan benda keton (Soebardi & Yunir dalam Sudoyo, 2006)

3) Obat

Pada dasarnya pengelolaan diabetes melitus tanpa dekompensasi metabolik dimulai dengan pengaturan makan, disertai dengan kegiatan jasmani yang cukup selama beberapa waktu. Bila setelah itu kadar gula darah masih belum dapat memenuhi kadar sasaran metrabolik yang diinginkan, pasien diberikan obat hipoglikemi oral (OHO) atau suntikan insulin sesuai dengan indikasi (PERKENI, 1998).

Obat anti hipoglikemi umumnya hanya digunakan untuk mengobati beberapa individu dengan diabetes melitus tipe-2, obat obatan ini menstimulasi pelepasan insulin dari sel beta pankreas atau pengambilan glukosa oleh jaringan perifer (soewondo P, 2002)

(46)

4) Penyuluhan (edukasi diabetes)

Bila dilihat dari empat pilar pengelolaan diabetes melitus tingkat kepatuhan diabetes dalam mengatur perencanaan makan, pengobatan dan latihan jasmani, intinya adalah bagaimana diabetes memahami, menyadari dan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga dapat hidup lebih berkualitas. Pada intinya seorang edukator memberikan penyuluhan dengan tujuan dapat meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, mengubah prilaku, meningkatkan kepatuhan dan meningkatkan kualitas hidup klien diabetes melitus (suewondo P, 2002).

j. Pengendalian Kadar Gula Darah

pengendalian kadar gula darah yang baik dan optimal diperlukan untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. Untuk menyatakan kadar glukosa darah yang terkontrol, tidak hanya tergantuung pada hilangnya gejala diabetes melitus saja, tetapi harus dengan pemeriksaan kadar glukosa darah. Diabetes melitus yang terkendali baik, tidak hanya kadar glukosa darahnya saja yang baik, tetapi meliputi pula status gizi, tekanan darah, kadar lipit maupun HbA1c (Soewondo, 2002)

1) Kadar Glukosa Darah

Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan komplikasi kronik, maka untuk dapat mencegah komplikasi-komplikasi yang timbul tersebut diperlukan pengendalian gula darah

(47)

yang baik. Diabetes melitus terkendali dapat dilihat dari glukosa darah, kadar lipit, tekanan darah dan HbA1c seperti tercantum :

Tabel 2.2

Kriteria pemantauan pengendalian diabetes mellitus

Baik Sedang Buruk Glukosa darah puasa ( plasma

vena, mg/dl)

80- 109 110- 125 ≥ 126

Glukosa darah 2 jam pp (plasma vena, mg/dl) 80-144 145-179 ≥ 180 HbA1c < 6,5 6,5-8 >8 Kolestrol total (mg/dl) < 200 200-239 ≥ 240 Kolestrol LDL (mg/dl) < 100 100-129 ≥ 130 Trigliserida (mg/dl) < 150 150-199 ≥ 200 IMT (kg/m2) 18,5-22,9 23-25 >25 Tekana darah ( mmHg) <130/80 130/80-140/90 >140/90

(Yulizar Darwis, Pedoman Pereriksaan Laboratorium untuk Penyakit Diabetes Melitus ;2005)

(48)

2) Faktor-faktor yang berhubungan dengan terkendalinya kadar glukosa darah

a) Faktor Internal

(1) Penyakit dan stress

Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan individu untuk merespon atau melakukan tindakan. Stress yang muncul ketika ada ketidakcocokan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuan yang dimiliki, (Slye, dalam Potter & Perry, 2005). Diabetes yang mengalami stress dapat merubah pola makan, latihan, penggunaan obat yang biasanya dipatuhi diabetes dan hal ini menyebabkan terjadinya hiperglikemia (Smeltzer & Bare, 2002)

(2) Obesitas

Obesitas artinya berat badan yang berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan ideal. Rumus untuk menentukan berat badan ideal adalah sebagai berikut : ( TB dalam cm -100)-10%. Hal ini berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2 (Sukarji dalam Suegondo, S, et al, 2007). Individu dengan diabetes melitus tipe 2 diketahui sebanyak 80% diantaranya adalah obesitas, obesitas menyebabkan reseptor insulin pada target sel di seluruh tubuh kurang sensitive dan jumlahnya berkurang sehingga insulin dalam darah tidak dapat dimanfaatkan (Ilyas dalam Soegondo, 2007)

(49)

(3) Makanan/ asupan makan

Kadar gula darah sebagian tercantum pada apa yang dimakan dan oleh karenanya sewaktu makan diperlukan adanya keseimbangan diet. Mempertahankan kadar gula darah agar mendekati nilai normal dapat dilakukan dengan asupan makan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ( Sukarji, 2002)

Pada penelitian hubungan antara perilaku pengendalian diabetes melitus dan kadar gula darah pasien rawat jalan diabetes melitus yang dilakukan oleh Sri Anani pada tahun 2012 di Cirebon menyebutkan adanya hubungan dengan kebiasaan makan pasien dengan terkendalinya gula darah pasien. Hal ini di tunjukkan dengan besarnya nilai p = 0,001

(4) Jumlah latihan fisik / olahraga

Manfaat latihan fisik atau olahraga sebagai terapi diabetes melitus telah cukup lama dikenal sebagai salah satu upaya penanggulangan penyakit DM di samping obat dan diit (Darmono, 2002). Latihan fisik dapat meningkatkan sensitifitas jaringan terhadap insulin.

Resiko latihan jasmani pada diabetes yang mendapatkan terapi insulin, hipoglikemia disertai kadar insulin yang berlebihan merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian, sebelum

(50)

melakukan latihan jasmani, di anjurkan penyuntikan insulin di daerah abdomen, bila insulin di suntikkan di lengan atau paha akan besar kemungkinan terjadi hipoglikemia karena peningkatan hantaran insulin melalui darah akibat pemompaan oleh otot pada saat kontraksi. Latihan jasmani yang dikerjakan dalam waktu lama dan dalam keadaan metabolik yang tak terkendali, akan menyebabkan peningkatan pelepasan glukosa darah dari hati, disertai produksi benda-benda keton (Yunir Em, 2009)

(5) Perawatan baik dengan tablet maupun dengan insulin

Cara kerja obat hipoglikemik oral pada umumnya merangsang sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin atau mengurangi absorbsi glukosa dalam usus, sehingga dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Perencanaan makan merupakan pengobatan utama, tetapi bila hal ini bersama latihan jasmani ternyata gagal, maka diperlukan penambahan obat oral. Obat hipoglikemik oral diberikan agar diabetes melitus dapat terkontrol dengan baik (Soegondo, 1995 dalam Qurratuaeni, 2009)

b) Faktor Eksternal (1) Pendidikan

Pendidikan bagi pasien diabetes melitus berhubungan dengan perilaku pasien dalam melakukan pengendalian terhadap kadar glukosa darah agar tetap stabil. Hasil atau perubahan perilaku

(51)

dengan cara ini membutuhkan waktu yang lama, namun hasil yang dicapai bersifat tahan lama karena didasari oleh kesadaran sendiri (Notoatmodjo, 2005).

(2) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, dan sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang ( Notoatmodjo. S, 2007) Diabetes melitus akan mampu melakukan pengendalian kadar glukosa darah dengan baik jika didasari dengan pengetahuan mengenai penyakit diabetes melitus, baik tanda dan gejala maupun penanganannya.

(3) Kedekatan dan keterpaparan terhadap sumber informasi

Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi. Mempengaruhi kemampuan, semakin banyak sumber informasi yang diperoleh maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Notoadmodjo, 2003).

Salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam meningkatkan kualitas kesehatannya adalah terjangkaunya informasi yaitu tersedianya informasi-informasi tekait dengan

(52)

tindakan yang akan di ambil seseorang. Pada pasiean diabetes melitus, dengan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi mengenai pengendalian kadar gula darah dapat memfasilitasi terjadinya tindakan untuk melakukan pengendalian kadar gula darah mereka.

2. Perilaku Pasien Diabetes Melitus

Perilaku pasien untuk taat dalam upaya pengendalian kadar gula darah, salah satunya berhubungan dengan keterpaparnya terhadap sumber informasi, yakni sejauh mana penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh perawat atau tenaga medis mengenai pengetahuan dan keterampilan bagi pasien DM yang bertujuan untuk menunjang perilaku dalam peningkatan pemahaman tentang pengendalian kadar gula darah, salah satunya seperti pemahaman tentang pengaturan makan dan aktifitas fisik pada pasien DM sehingga komplikasi dapat di cegah (Quarratueni, 2009)

Pada penelitian hubungan antara perilaku pengendalian diabetes melitus dan kadar gula darah pasien rawat jalan diabetes melitus yang dilakukan oleh Sri Anani pada tahun 2012 di Cirebon menyebutkan Ada hubungan antara keteraturan konsumsi obat dengan kadar glukosa darah (p=0,032), ada hubungan antara aktivitas fisik responden dengan kadar glukosa darah (p=0,012), ada hubungan antara kebiasaan olahraga dengan kadar glukosa (p=0,041), ada hubungan antara kebiasaan makan responden dengan kadar glukosa darah (p=0,001), dan tidak ada hubungan antara pemeriksaan di pelayanan kesehatan

(53)

dengan kadar glukosa darah responden di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon (p=0,509).

Perilaku pengendalian gula darah berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sri Nuryani (2011) menyatakan perilaku pengelolaan DM mencakup tentang perilaku diit, perilaku olahraga, perilaku kepatuhan makan obat, perilaku mengontrol gula darah dan tekanan darah serta kontrol penyakit diabetes, perilaku perawatan diri, perilaku pemeriksaan mata, perilaku kesadaran mencari informasi terkait diabetes melitus dan perilaku merokok.

3. Keyakinan diri (Self Efficacy)

a. Definisi

Pender (1996 dalam Tomey & Alligood, 2006) menegaskan bahwa efikasi diri mengacu pada keyakinan seseorang akan kemampuan diri dalam mengatur dan melakukan tindakan/kegiatan yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan yang diinginkan. perilaku dipengaruhi oleh proses kognitif melalui masukan dan berbagai sumber informasi efikasi, pengaruh keberhasilan, regulasi perilaku dan motivasi untuk melakukan berbagai tugas yang berhubungan dengan perilaku (Temple, 2003).

Bernal, Whoolley, Schenzul & Dickinson (2000 dalam Yesi Ariani 2011), menyebutkan keyakinan diri (Self Efficacy) merupakan persepsi individu akan kemampuannya untuk melakukan tugas spesifik dengan sukses. Keyakinan diri (Self Efficacy) merupakan jalan untuk melihat hubungan

(54)

antara bagaimana seseorang berfikir tentang tugas–tugas dan cara menyelesaikan tugas–tugas tersebut

Schwarzer (1992 dalam Jerusalem dan Schwarzer, 1993), menyebutkan bahwa efikasi diri secara umum (general self efficacy) merefleksikan suatu keyakinan diri yang optimis bahwa seseorang mampu menyelesaikan tugas yang sulit atau menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi dalam berbagai situasi. Keyakinan diri (Self Efficacy) memfasilitasi penyusunan tujuan, alternatif tindakan dalam upaya untuk mengatasi hambatan yang mungkin terjadi. Keyakinan diri (Self Efficacy) merupakan sebuah konstruksi yang bersifat operasional sehingga sangat relevan untuk diterapkan dalam praktek klinik dan perbaikan perilaku.

Menurut Johnson (1992 dalam Temple, 2003). Keyakinan diri (Self Efficacy) pada pasien diabetes menggambarkan suatu kemampuan individu untuk membuat suatu keputusan yang tepat dalam merencanakan, memonitor dan melaksanakan regimen perawatan sepanjang hidup individu. Hal senada juga disampaikan oleh Stipanovic (2002) bahwa efikasi diri merujuk pada keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk memonitor, hubungan antara merencanakan, melaksanakan, dan mempertahankan perilaku perawatan diri untuk mengontrol diabetes yang dideritanya.

Bandura (1982 dalam Kott, 2008) menegaskan bahwa seseorang yang memiliki efikasi diri yang kuat akan menetapkan tujuan yang tinggi dan

(55)

berpegang teguh pada tujuannya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki efikasi diri yang lemah akan berkomitmen lemah pada tujuannya. Efikasi diri mendorong proses kontrol diri untuk mempertahankan perilaku yang dibutuhkan dalam mengelola perawatan diri pada pasien DM. Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa efikasi diri (self

efficacy) merupakan suatu keyakinan individu akan kemampuan dirinya

untuk melakukan tugas–tugas perawatan diri dan berusaha untuk mencapai tujuannya dengan baik. Secara khusus, efikasi diri pada pasien diabetes dalam pendekatan intervensi keperawatan difokuskan pada keyakinan klien akan kemampuannya untuk mengelolah, merencanakan, memodifikasi perilaku sehingga memiliki kualitas hidup yang baik.

Teori Bandura bahwa orang cenderung menghindari tugas dan situasi yang mereka percaya melebihi kemampuan mereka, sementara mengejar orang-orang yang mereka merasa kompeten untuk melakukan. Dalam contoh ini, self efficacy lebih besar perilaku manajemen diri yang lebih besar secara signifikan diprediksi sehubungan dengan pengujian diet, olahraga, gula darah, dan obat-obatan mengambil. Temuan studi ini konsisten dengan banyak sebelumnya studi yang telah menunjukkan bahwa peringkat

self-efficacy tertentu yang prediktor signifikan dari perilaku DSM (Nelson,

McFarland, & Reiber, 2007; Wang & Shiu, 2003; Wu et al, 2007, dalam O.A. Al-Khawaldeh et al )

(56)

b. Proses Pembentukan Keyakinan Diri (Self Efficacy)

Menurut Bandura (1994) Keyakinan Diri (Self Efficacy) terbentuk melalui empat proses, yaitu: kognitif, motivasional, afektif dan seleksi yang berlangsung sepanjang kehidupan.

1) Proses Kognitif

Keyakinan diri (Self Efficacy) mempengaruhi bagaimana pola pikir yang dapat mendorong atau menghambat perilaku seseorang. Sebagian besar individu akan berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu tindakan, seseorang dengan keyakinan diri (Self Efficacy) yang tinggi akan cenderung berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan memiliki komitmen untuk mempertahankan perilaku tersebut.

2) Proses Motivasional

Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan melakukan perilaku yang mempunyai tujuan didasari oleh aktifitas kognitif. Berdasarkan teori motivasi, perilaku atau tindakan masa lalu berpengaruh terhadap motivasi seseorang. Seseorang juga dapat termotivasi oleh harapan yang diinginkannya. Disamping itu, kemampuan seseorang untuk mempengaruhi diri sendiri dengan mengevaluasi penampilan pribadinya merupakan sumber utama motivasi dan pengaturan dirinya.

(57)

3) Proses Afektif

Efikasi diri juga berperan penting dalam mengatur kondisi afektif. Keyakinan seseorang akan kemampuannya akan mempengaruhi seberapa besar stress atau depresi yang dapat diatasi, seseorang yang percaya bahwa dia dapat mengendalikan ancaman/masalah maka dia tidak akan mengalami ganggauan pola pikir, namun seseorang yang percaya bahwa dia tidak dapat mengatasi ancaman maka dia akan mengalami kecemasan yang tinggi. Efikasi diri untuk mengontrol proses berpikir merupakan faktor kunci dalam mengatur pikiran akibat stress dan depresi.

4) Proses Seleksi

Ketiga proses pengembangan efikasi diri berupa proses kognitif, motivasional dan afektif memungkinkan seseorang untuk membentuk sebuah lingkungan yang membantu dan mempertahankannya. Dengan memilih lingkungan yang sesuai akan membantu pembentukan diri dan pencapaian tujuan.

c. Dimensi Keyakinan Diri (Self Efficacy)

Menurut Bandura (1997) keyakinan diri (Self Efficacy) terdiri dari 3 dimensi, yaitu:

1) Magnitude

Dimensi ini berfokus pada tingkat kesulitan yang dihadapi oleh seseorang terkait dengan usaha yang dilakukan. Dimensi ini berimplikasi pada

(58)

pemilihan perilaku yang dipilih berdasarkan harapan akan keberhasilannya.

2) Generality

Generalitas berkaitan dengan seberapa luas cakupan tingkah laku yang diyakini mampu dilakukan. Berbagai pengalaman pribadi dibandingkan pengalaman orang lain pada umumnya akan lebih mampu meningkatkan efikasi diri seseorang.

3) Strength (Kekuatan)

Dimensi ini berfokus pada bagaimana kekuatan sebuah harapan atau keyakinan individu akan kemampuan yang dimilikinya. Harapan yang lemah bisa disebabkan karena adanya kegagalan, tetapi seseorang dengan harapan yang kuat pada dirinya akan tetap berusaha gigih meskipun mengalami kegagalan.

d. Perkembangan Keyakinan Diri (Self Efficacy)

Bandura (1994) menyatakan bahwa keyakinan diri (Self Efficacy)

berkembang secara teratur sesuai tumbuh kembang, usia, pengalaman dan perluasan lingkungan. Bayi mulai mengembangkan keyakinan diri (Self

Efficacy) sebagai usaha untuk melatih pengaruh lingkungan fisik dan sosial.

Mereka mulai mengerti dan belajar mengenai kemampuan dirinya, kecakapan fisik, kemampuan sosial dan kecakapan berbahasa yang hampir secara konstan digunakan dan ditujukan pada lingkungan. Awal dari perkembangan

(59)

keyakinan diri (Self Efficacy) dipusatkan pada orang tua kemudian dipengaruhi oleh saudara kandung, teman sebaya dan orang dewasa lainnya.

Pada usia sekolah, proses pembentukan keyakinan diri (Self Efficacy) secara kognitif terbentuk dan berkembang termasuk pengetahuan, kemampuan berpikir, kompetisi dan interaksi sosial baik sesama teman maupun guru. Pada usia remaja, efikasi diri berkembang dari berbagai pengalaman hidup, kemandirian mulai terbentuk dan individu belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Pada usia dewasa, efikasi diri meliputi penyesuaian pada masalah perkawinan, menjadi orang tua, dan pekerjaan. Sedangkan pada masa lanjut usia, efikasi diri berfokus pada penerimaan dan penolakan terhadap kemampuannya, seiring dengan penurunan kondisi fisik dan intelektualnya.

e. Faktor yang Berhubungan dengan keyakinan diri (Self Efficacy) Berikut faktor-faktor yang berhubungan dengan efikasi diri, yaitu: 1) Usia

DM tipe 2 merupakan jenis DM yang paling banyak jumlahnya yaitu sekitar 90-95% dari seluruh penyandang DM dan banyak dialami oleh dewasa diatas 40 tahun. Hal ini disebabkan retensi insulin pada DM tipe 2 cenderung meningkat pada lansia (40-65 tahun), riwayat obesitas dan adanya faktor keturunan (Smeltzer & Bare, 2008). Penelitian Wang dan Shiu (2004 dalam Wu, et al., 2006) menemukan bahwa ada hubungan antara faktor demografi dengan aktifitas perawatan diri pasien DM

Gambar

Tabel 2.1 Kadar glukosa darah dalam mendiagnosa DM Kadar glukosa darah (mg/dl) Bukan DM Belum pastiDM DM Sewaktu Plasma vena &lt;100 mg/dl 100-199mg/dl ≥200 mg/dl Darah kapiler &lt;90 mg/dl 90-199mg/dl ≥200 mg/dl Puasa Plasma vena &lt;100 mg/dl 100-125mg/d
Tabel 3.1 Definisi operasional N

Referensi

Dokumen terkait

Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Perkotaan Indonesia.. Maj

Perbedaan ukuran kamar pulpa pada pasien diabetes melitus (1) dan non- diabetes melitus (2) ditinjau dari radiografi periapikal.. BAB 5

Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus dalam Majalah Kedokteran Indonesia.. Diabetes Melitus Gangren, Ulcer, Infeksi,

Gardiani (2014) melakukan penelitian tentang Kualitas Diet, Sosio- Demografi dan Dukungan Keluarga Hubungannya dengan Pengendalian Gula Darah pada Penyandang Diabetes

Bila diabetes melitus gestasional tidak terdiagnosis, maka pemeriksaan gula darah Bila diabetes melitus gestasional tidak terdiagnosis, maka pemeriksaan gula darah diulang pada

"Penurunan gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II melalui senam kaki diabetes", MEDISAINS, 2018 Publication docshare.tips Internet Source ejournal3.undip.ac.id Internet

Gambar 2 Pemeriksaan Gula Darah dan Tekanan Darah Self Management Penderita Diabetes Melitus DM Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar self management

Ordinal 2 Kadar gula darah GDP Kadar glukosa di dalam darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 sebelum dan sesudah diberi konseling gizi menggunakan media box diet diabetes melitus